28

A. Tinjauan Kasus 1. Pengkajian Pengkajian pada bayi dan ibu bayi dilakukan pada tanggal 18 Januari 2013 Pukul 08.00 Wita di Ruang Perinatal RSUD Badung dengan metode observasi, wawancara, pemerikasaan fisik dan dokumentasi (rekam medis). 1) Pengumpulan Data a) Identitas 1) Bayi Nama Umur/Tgl/Jam Lahir Jenis Kelamin Nomor RM 2) Orang Tua Nama Umur Pendidikan Pekerjaan Agama Status Perkawinan Alamat Lengkap No. Telepon : By. SU : 7 hari/ 11 Januari 2013/ Pk. 10.15 Wita : Laki-laki : 101632 Ibu : Ny. SU : 34 tahun : SMP : IRT : Islam : Sah : Dusun Batur Ubung : 085737490225 Ayah Tn. SM 40 tahun SMA Swasta Islam Sah

29

b) Alasan Dirawat 1) Keluhan Utama masuk Perinatal Ibu bayi mengatakan anaknya kuning sejak 2 hari yang lalu. 2) Riwayat Penyakit Sekarang Ibu bayi mengatakan pada tanggal 15 Januari 2013 kulit anaknya mulai tampak kuning dan BAB anaknya mulai berwarna kehijauan. Sampai tanggal 17 Januari 2013, Ibu bayi akhirnya mengajak anaknya ke Poliklinik Anak RSUD Badung pada pukul 08.30 wita. Di Poliklinik anak diperoleh hasil pemeriksan fisik berupa berat badan baru lahir 3900 gram, berat badan di poliklinik 3800 gram, S = 37oC. Berdasarkan dokumentasi di Poliklinik, bayi berumur 6 hari, lahir tanggal 11 Januari 2013. Dari hasil pemeriksaan dokter, bayi di diagnosa dengan diagnosa medis hiperbilirubin dan bayi memerlukan perawatan intensive di NICU. Terapi yang diperoleh di poliklinik : Obat oral : Luminal 10mg Bayi di rawat inap di NICU, dari hasil pemeriksaan fisik diperoleh BB = 3800gram, S = 36,8oC, HR = 130 x/menit, RR = 45 x/menit. Terapi yang didapat di NICU : Fototerapi 2x24 jam Obat oral : Luminal 2x10 mg 3) Riwayat Prenatal • Anak ke 3, masa gestasi 38 minggu 6 hari. • Riwayat ANC di Puskesmas, frekuensi 8 kali, TT 2 kali. • Kehamilan direncanakan : Ibu bayi mengatakan kehamilannya tidak direncanakan.

30

• Penyulit selama masa prenatal : Ibu bayi mengatakan tidak ada pnyulit selama masa kehamilan. • Konsumsi obat dan suplemen yang didapatkan : suplemen penambah darah, vitamin B6, kalsium. • Perilaku/kebiasaan ibu yang memperburuk kesejahteraan janin : tidak ada. • Riwayat penyakit ibu : tidak ada. • Riwayat pengobatan ibu : tidak ada. 4) Riwayat Intranatal • Penolong : dokter, tempat lahir : RSUD Badung, Jam : 10.15 Wita. • Jenis persalinan: SC Indikasi : jalan lahir sempit

• Keadaan bayi : segera menangis • Inisiasi menyusui dini : Ibu bayi mengatakan telah memberi ASI sejak bayinya lahir. • Tali pusat : segar • Plasenta : komplit, tidak ada kelainan. 5) Kedudukan anak dalam keluarga Nama (Inisial) RY Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan  Keadaan sekarang Sehat  Sakit Mati

Umur

Ket.

12 th

SP

8 th

31

SU

7 hr

Hiperbili rubin

6) Faktor Resiko Infeksi • Mayor : tidak ada • Minor : tidak ada 7) Keadaan saat ini • Gerak • Tangis • Warna Kulit : aktif : keras : terlihat kuning

8) Pemeriksaan Umum BB = 3700 gram, PB = 45cm, LK = 35cm, LD = 33cm HR = 128x/menit, S = 37,2oC, RR = 60x/menit 9) Pemeriksaan Fisik (Head to toe) • Kepala Bentuk simetris, tidak terdapat chepal hematoma ataupun caput suksedanium, rambut hitam lebat, tidak ada kelainan. • UUB Datar • Mata Bentuk simetris, sklera berwarna putih, tidak ada pengeluaran cairan dari mata. • Hidung

jumlah jari 10. tidak ada sianosis. tidak ada pengeluaran sekret. • Telinga Bentuk simetris. bentuk normal. tidak ada bendungan vena jugularis. tidak terpasang NGT.32 Tidak ada sekret keluar dari hidung. tidak ada kelainan. • Anus Ada lubang anus • Ekstremitas Tangan : simetris. tidak ada retraksi dada. • Abdomen Tidak ada distensi. tidak ada pembesaran kelenjar tiroid. . tidak ada kelainan. tali pusat sudah putus. Kaki : simetris. tidak ada kelainan. jumlah jari 10. • Mukosa dan Bibir Mukosa bibir lembab. tidak ada kelainan. • Leher Tidak ada pembengkakan pada kelenjar limfe. tidak ada kelainan. tidak ada sianosis. • Dada Bentuk simetris. warna bibir merah muda. • Punggung Tidak terjadi spina bifida. tulang punggung tidak gibus. • Genetalia Bayi laki-laki tanpa kelainan. tidak ada kelainan. tidak ada kelainan.

Ruangan 1.82 mg/dL Bilirubin direct 1.33 • Kulit Turgor elastis. ikterus.25 (H) .10 mg/dL 0-0. Perinatal Kamis/ 17 Januari 2013 Pemeriksaan kadar Bilirubin bilirubin darah 16. 10) Refleks Glabela (+) Rooting (+) Sucking (+) Swallowing (+) Tonik neck (+) Moro (+) Grasping (+) Steping (+) Babinski (+) 11) Pemeriksaan Penunjang Hari/Tgl/ Jam Jenis Pemeriksaan Laboratorium Hasil Pemeriksaan total Nilai Normal 0-1 (H) No.

Data Subjektif Data Objektif Interpretasi . SU Umur 7 Hari dengan Hiperbilirubin di Ruang Perinatal RSUD Badung Tanggal 18-21 Januari 2013 No.34 2) Analisa Data TABEL I Analisa Data Asuhan Keperawatan Pada By.

- Risiko hipertermia 3. - - Risiko kekurangan volume cairan 3) Rumusan Masalah Keperawatan a) Kerusakan integritas kulit b) Risiko hipertermia c) Risiko kekurangan volume cairan 4) Analisa Masalah a) P = Kerusakan integritas kulit E = Peningkatan kadar bilirubin . - − Kulit terlihat kuning.10 mg/dL 2.28 mg/dL − Kadar bilirubin direct 1. − Kadar bilirubin total Kerusakan integritas kulit 16.35 1.

bayi terlihat terus tidur. S = 37. RR = 60x/menit. kadar bilirubin total 16.10 mg/dL. b) P = Risiko hipertermia E = Efek fototerapi Faktor risiko : HR = 128x/menit. kadar bilirubin direct 1. Proses terjadinya : meningkatnya kadar bilirubin dalam darah mengharuskan pasien memperoleh fototerapi dengan intensitas sinar tinggi. Akibat jika tidak ditanggulangi : terjadi efek patologis pada sawar otak.2oC. paparan suhu yang tinggi memungkinkan terjadinya gangguan termoregulasi pada tubuh bayi yang masih rentan terhadap lingkungan luar. RR = 60x/menit.2oC. Proses terjadinya : meningkatnya kadar bilirubin dalam plasma menyebabkan terakumulasinya bilirubin di jaringan sehingga akan tampak kulit berwarna kekuningan. mukosa bibir lembab. Akibat jika tidak ditanggulangi : kekurangan volume cairan ini memungkinkan tubuh kehilangan . turgor kulit elastis.36 S = Kulit terlihat kuning. pasien mendapat fototerapi selama 2 x 24 jam. peningkatan caiarannya. S = 37.28 mg/dL. Akibat jika tidak ditanggulangi : hipertermia c) P = Risiko kekurangan volume cairan E = Pemaparan sinar dengan intensitas tinggi Faktor resiko : HR = 128x/menit. kulit teraba hangat. Proses Terjadinya : pemaparan sinar dengan intensitas tinggi dari fototerapi memungkinkan terjadinya gangguan termoregulasi pada tubuh bayi sehingga dapat terjadi peningkatan IWL.

Pk. Jumat/ 18 Januari 2013/ Risiko hipertermia berhubungan dengan Pk.10 mg/dL. kadar bilirubin total 16.15 wita kekurangan volume cairan berhubungan dengan Pemaparan sinar dengan intensitas tinggi 2.15 wita efek fototerapi Jumat/ 18 Januari 2013/ Risiko 3. kadar bilirubin direct 1.15 wita dengan peningkatan kadar bilirubin ditandai dengan kulit terlihat kuning. . kadar bilirubin direct 1. Dx Kep Hari/Tgl/Jam Diagnosa Keperawatan Jumat/ 18 Januari 2013/ Kerusakan integritas kulit berhubungan 1.37 5) Diagnosa Keperawatan TABEL II No. kadar bilirubin total 16. PERENCANAAN a) Prioritas Masalah Keperawatan (berdasarkan Kebutuhan Maslow) 1) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan peningkatan kadar bilirubin ditandai dengan kulit terlihat kuning. 2.28 mg/dL. 08. 08.28 mg/dL.10 mg/dL. 08. Pk.

38 2) Risiko hipertermia berhubungan dengan efek fototerapi. 3) Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan pemaparan sinar dengan intensitas tinggi. .

Kulit tidak berwarna kuning. SU Umur 7 Hari dengan Hiperbilirubin di Ruang Perinatal RSUD Badung Tanggal 18-21 Januari 2013 No.39 b) Rencana Keperawatan TABEL III Rencana Keperawatan Pada By. kulit sampai keadaan kulit setiap 4-8 jam. Hari/Tgl/ Jam Jumat.20 Diagnosa Keperawatan Tujuan & Kriteria hasil Intervensi Rasional Paraf Kerusakan integritas kulit Setelah diberikan tindakan Mandiri : berhubungan ditandai dengan DO : kulit terlihat kuning kadar bilirubin total dengan keperawatan selama 3x24 kerusakan integritas kulit teratasi hasil : 1. 18 Januari 2013. Monitor warna dan 1. Pk. dengan kriteria peningkatan kadar bilirubin jam diharapkan masalah 1. 1. 08. jingga yang semakin menandakan bilirubin darah dalam . Warna kekuningan pekat konsentrasi indirek tinggi.

Kolaboratif : 4. Ubah posisi setiap 2 2.10 mg/dL.25 mg/dL). 4. bilirubin . Tidak timbul lecet 2. Jaga membantu kebersihan kulit dan memberi rasa nyaman dan menghindari kulit bayi meengelupas atau bersisik. Kulit yang bersih dan lembab 3.28 mg/dL kadar bilirubin direct 2. dan kelembaban kulit/ Memandikan pemijatan bayi. Untuk untuk kadar kadar kembali bila terlalu lama. mencegah dekubitus 1. atau irtasi pada kuit akibat penekanan kulit yang terlalu lama. Kadar bilirubin total normal (0-1 mg/dL). jam. Kadar bilirubin direct normal (0-0. Menghindari yang terlalu adanya lama penekanan pada kulit sehingga terjadinya bayi. 3.40 16. Kolaborasi 4. 3. mencegah pemajanan sinar yang pemeriksaan bilirubin.

. 2. Frekuensi jantung normal 160x/menit) 60x/menit). 18 Januari 2013. Pk. paparan sinar dengan pernapasan normal (40- mempengaruhi denyut jantung dan respirasi. Mempertahankan suhu tubuh 37.41 Setelah diberikan tindakan 2. Mandiri : fototerapi berhubungan dengan efek 1. Monitor denyut stabil (suhu dapat sebagai respon terhadap pemajanan radiasi dan konveksi. 2.20 Risiko fototerapi. dalam denyut batas (120dan normal (36. Fluktuasi tubuh pada suhu terjadi sinar. Pantau kulit neonatus dan suhu inti setiap 2 jam atau lebih sering sampai aksila). 1.2oC).5- normal dihentikan. Jumat. Peningkatan suhu tubuh dapat terjadi karena akibat tinggi akan dehidrasi intensitas sehingga jantung. 2. dan respirasi. 08. sehingga denyut respirasi aspek peningkatan jantung penting dan yang merupakan harus di waspadai. hipertermia keperawatan selama 3x24 jam diharapkan risiko hipertermia tidak terjadi dengan kriteria hasil : 1.

keadaan sehingga mengetahui umum bayi memungkinkan pengambilan yang terjadi keabnormalan tanda-tanda vital. Intake yang cukup dan 3. Monitor output. intake dan output yang seimbang dengan intake cairan dapat tubuh normal. Cek tanda-tanda vital setiap 2-4 jam sesuai yang dibutuhkan. Untuk 4. Suhu normal dalam batas mencegah .42 3. cepat tindakan ketika suatu dalam 5. membantu dalam batas mempertahankan suhu 4.

cepat membantu menurunkan antipiretik jika demam.43 terjadinya peningkatan 5. 18 Januari 2013. Pertahankan suhu tubuh 36. Kolaboratif : 7. timbang 2. keperawatan selama 3x24 jam tidak diharapkan terjadi risiko dengan kekuangan volume cairan Mandiri : kriteria hasil : 1. haluan cairan. lampu dan sementara bila terjadi berikan ekstra minum. pajanan suhu tubuh. Pantau masukan dan 1. 6. Jumat. Mengetahui . menyebabkan pemberian 7. Mengurangi sinar sementara. Peningkatan kehilangan air melalui evaporasi dapat dehidrasi. jika lakukan 6.50C-37. cairan berhubungan dengan pemaparan sinar dengan intensitas tinggi.20C demam kompres. Antipiretik demam bayi. Matikan kenaikan suhu. Kolaborasi Setelah diberikan tindakan Risiko kekurangan volume 3.

Perhatikan tanda.20 1.2oC. meningkatkan dehidrasi bila jadwal pemberian makan yang sering tidak di pertahankan). DJ: 120-160 x/menit. sering dan urine menandakan kehijauan serta kehijauan HR dan pernapasan meningkat 4. RR : 40-60 x/menit ). . respirasi dalam batas normal (S : 36. Kaji reflek hisap bayi. vital tanda-tanda ( suhu. fontanel tertekan. 4. mukosa kering. Pantau tanda- turgor tanda kulit. kulit hangat atau kering dengan turgor buruk. 2. Turgor menurun. fototerapi. Tugor kulit elastis.44 Pk. kemampuan hisap bayi. 3. 3. Suhu. Bayi dapat tidur lebih lama hubungannya dalam dengan resiko 3. denyut jantung. Membran lembab. mukosa berat badan bayi setiap hari. 08. suhu meningkat adalah dehidrasi. dan mata cekung). HR. 5. 2. pernapasan) setiap 4 jam.tanda dehidrasi(mis: penurunan haluaran urine.537. Defeksi encer.

Kolaboratif : 7. atau dehidrasi oral/menyusui reflek hisap adekuat. . 6.45 5. 6. Berikan parenteral indikasi. Mungkin perlu untuk memperbaiki mencegah berat. Kolaborasi dalam pemberian obat luminal. Beri minum per bila 7. keefektifan fototerapi dengan pemecahan dan ekskresi bilirubin. cairan per sesuai 8. Perhatikan warna dan frekuensi defekasi dan urine. sehingga kembali 8. Menjamin keadekuatan intake. Membantu keefektifan fototerapi defekasi normal.

46 .

08. 3 Dx. Mengobservasi warna dan keadaan DO : Warna kulit terlihat kemerahan. 1 1. berkeringat. SU Umur 7 Hari dengan Hiperbilirubin di Ruang Perinatal RSUD Badung Tanggal 18-21 Januari 2013 No. 08.5oC DO : BB = 3700 gram melakukan DO : Bayi menangis saat dimandikan. pemijatan pada bayi Pk. Dx. Memandikan dan DO : S = 36.1 Januari 2013. Menimbang berat badan bayi 4. 1 Hari/Tgl/Jam Jumat. Mengkaji refleks hisap bayi . Diagnosa Keperawatan Tindakan Keperawatan Evaluasi Respon Nama Perawat/Paraf 18 Dx. Mengobservasi suhu tubuh 3. IMPLEMENTASI TABEL IV Pelaksanaan Keperawatan Pada By. tidak ada lecet dan kulit teraba hangat.20 No. 1. 2.47 3.2 Dx. Pk.30 5.

2. tidak ada lecet. Memberikan Pasi kulit. 2. 3 14. warna 9. 1. Warna kulit kemerahan dan berkeringat. Berkolaborasi luminal.40 Dx. Memantau tanda-tanda dehidrasi DO : refleks hisap bayi kuat DO : Pasi masuk 60cc melalui dot DO : Fontanel teraba datar. 12.3 Dx. HR = 130 x/menit. Mengobservasi warna dan frekuensi Dx. kulit teraba hangat. Memberikan Pasi 11. DO : luminal 10 gram masuk lewat oral tanpa muntah atau tanda-tanda alergi.2. DO : Fontanel teraba datar. DO : BAB = 20 cc. Memberikan Pasi 7.25 Dx. 10. 14.00 Dx. mukosa bibir 8. turgor elastis.48 Dx. defekasi dan urin lembab. dalam pemberian feses hijau kehitaman. 3 Pk.3 Dx. 11. Mengobservasi warna dan keadaan Dx. kulit teraba hangat. 3 Pk. 3 Pk. Memantau tanda-tanda dehidrasi.3 12. DO : Pasi masuk 50cc melalui dot DO : S = 36. mukosa bibir . mata tidak cekung. BAK = 20 cc. RR = 48 x/menit.30 Pk. 11. 3 6. turgor elastis. DO: 13.00 Dx. kulit teraba hangat. 1.7oC.2 Pk. Mengobservasi tanda-tanda vital. 08.

Berkolaborasi luminal. 20. 3 Dx. 21. RR = 48 x/menit. warna feses hijau kehitaman. 3 15. Memberikan kompres air hangat. Mengobservasi tanda-tanda vital. 17. 2 Dx. 24. 23.00 Pk.3 Pk.15 20. dalam 23.4o C DO : Bayi terlihat kepanasan.00 Dx. HR = 130 x/menit.00 Dx.30 Dx. 17. 17. 25. 3 Pk. Memberikan Pasi 21. 2. DO : S = 37. 2. 18. Mengobservasi warna dan frekuensi defekasi dan urin 19. 22. 16. Dx. 2.3 Dx. Mengobservasi suhu tubuh. mata tidak cekung.00 Dx.00 24.00 Pk. Memberikan Pasi DO : S = 37oC.2. 1.3oC DO : Bayi tertidur DO : Luminal 10 mg masuk melalui oral tanpa muntah atau tanda-tanda alergi.49 Pk.2 Pk. 1. Mengobservasi suhu tubuh Dx. 1. 15. 15. pemberian DO : Pasi masuk 60cc melalui dot DO : Pasi masuk 20cc melalui dot DO : Luminal 10 mg masuk melalui oral . 16. Mengobservasi tanda-tanda vital dalam lembab. BAK = 30 cc. DO : BAB = 30 cc. 2 Dx.3 Pk.2 Dx.50 Pk. Berkolaborasi luminal.3 Pk. DO : Pasi masuk 60cc melalui dot pemberian DO : S = 37. Menghentikan fototerapi sementara waktu.

defekasi dan urin. HR = 148 x/menit. 06. 1.7oC.00 19 Dx. DO : kulit terlihat kemerahan. 35.45 Dx. . 1. warna dan frekuensi tanpa muntah atau tanda-tanda alergi. 06. DO : Pasi masuk 20cc melalui dot. DO : Pasi masuk 60cc melalui dot. kulit teraba panas. 34. 01. 3 Dx. Dx. Memberikan Pasi 29.2. RR = 40 x/menit.15 Pk.00 Pk. turgor elastis.3 Dx. Memantau warna dan frekuensi defekasi dan urin. warna urin jernih.2 kulit. Mengobservasi warna dan keadaan Dx. 3 Dx. Mengobservasi suhu tubuh. Memberikan kompres air hangat. 2 Pk. Memantau Dx. 03. Memantau tanda-tanda dehidrasi. tidak ada lecet dan teraba panas. Menghentikan fototerapi sementara lembab. Januari 2013. HR = 149 x/menit. mata tidak cekung. berkeringat. DO : Fontanel teraba datar. RR = 50 x/menit. 3 Sabtu.00 Pk. 27. Memberikan Pasi 28. 1. 2 DO : Bayi terlihat kepanasan. mukosa bibir 32. 33. Pk.2.3 26. waktu. DO : BAK = 80 cc. 06. 3 31. DO : S = 37oC. Mengobservasi tanda-tanda vital 30.50 Dx. DO : S = 37.

1. 38.00 Dx. feses hijau kekuningan. 1. 41. 40.45 Dx. BAK = 35 cc. 08. Mengobservasi tanda-tanda vital. 1. 3 Pk.51 Dx. Memantau tanda-tanda dehidrasi. BAK = 20 cc. warna 44. Memantau warna dan frekuensi DO : S = 37oC DO : BB = 3680 gram DO : Bayi terlihat tenang defekasi dan urin. 1 Dx. DO : BAB = 20 cc. Mengobservasi warna dan keadaan DO : Pasi masuk 60cc melalui dot. 3 Dx.2 36. 2.00 Pk.2oC melakukan DO : BAB = 35 cc. Memandikan dan DO : Bayi lebih sering tertidur.2 Dx.3 Dx. Pk. Mengobservasi suhu tubuh. 3 DO : Kulit tidak tampak kemerahan atau kuning. Memberikan Pasi 45. 07. Memberikan Pasi 37. warna feses hijau kehitaman. 07. 39. 3 Pk.2 Pk. 43. 3 Dx. DO : Refleks hisap baik.45 Dx. Dx.00 . pemijatan pada bayi. tidak ada lecet. teraba hangat. DO : S = 37. Menimbang berat badan. kulit. 42. Mengkaji refleks hisap. 09. 10.

Memantau warna dan frekuensi DO : S = 36. 1. RR = defekasi dan urin. 18. DO : Pasi masuk 40cc melalui dot. Berkolaborasi luminal. 51. Memberikan Pasi 49. mukosa bibir lembab.5oC. Memantau dalam pemberian DO : Fontanel teraba datar. 3 46. 17. HR = 132 x/menit.2.3 Dx. 1. DO : Pasi masuk 60cc melalui dot. 2. kulit teraba hangat.00 Dx.3 Dx. Berkolaborasi luminal.3 Dx. 15.00 Pk. 48. 11.30 Pk. Memberikan Pasi dalam pemberian DO : BAB = 15 cc. 1.00 Dx. 2. 19.12. 1. BAK = 15 cc. DO : Luminal 10 mg masuk melalui oral tanpa muntah atau tanda-tanda alergi.3 Dx.9oC. Mengobservasi tanda-tanda vital. 47. 13. 2. mata tidak cekung.00 54. HR = 142 x/menit.3 Dx. Mengobservasi tanda-tanda vital. DO : S = 36. Pk.2. RR = 50 x/menit.2 Pk. DO : S = 37oC. 3 defekasi dan urin. DO : Luminal 10 mg masuk melalui oral tanpa muntah atau tanda-tanda alergi. warna dan frekuensi Pk.00 Dx.2. . Dx.52 Pk.00 Dx. Mengobservasi warna dan keadaan kulit. 52. turgor elastis. 3 Pk.3 53. 50. warna feses hijau kekuningan. DO : Pasi masuk 30cc melalui dot. HR = 129 x/menit. RR = 49 x/menit.

warna . DO : Pasi masuk 20cc melalui dot. 2. RR = 49 x/menit. tidak ada lecet. Memberikan Pasi 64.3 Dx. 2.30 Pk. 1.00 defekasi dan urin. 24. Memberikan Pasi 58. tidak ada lecet. 1. 2.2. teraba hangat.00 Dx. DO : Pasi masuk 30cc melalui dot.00 Pk. 63. 2. 1. BAK = 45 cc.00 20 Dx. DO : Kulit tidak tampak kemerahan atau kuning. DO : BAB = 20 cc. 03. Mengobservasi warna dan keadaan kulit. Mengobservasi tanda-tanda vital. DO : Luminal 10 mg masuk melalui oral tanpa muntah atau tanda-tanda alergi. DO : Kulit tidak tampak kemerahan atau kuning. 3 Pk. Januari 2013. 21. 3 56. teraba hangat.3 Dx.00 Pk. Memberikan Pasi 62. HR = 131 x/menit. 01. DO : S = 36. Memantau Dx. Berkolaborasi luminal. BAK = 20 cc. 61.2 Dx.00 Dx. 65.2 Pk. 23. 22. 3 Dx. DO : S = 36.53 55. Memberikan Pasi 57.3 Minggu.3 warna dan frekuensi defekasi dan urin. Dx. 05. 59. Mengobservasi suhu tubuh Pk. DO : BAB = 45 cc.3 Dx. 22. Pk.00 Pk. Mengobservasi tanda-tanda vital 60. warna feses hijau kekuningan.7oC pemberian DO : Pasi masuk 60cc melalui dot.8oC. Memantau warna dan frekuensi dalam 44 x/menit.

Memandikan dan melakukan feses kekuningan.1.3 Dx. Mengobservasi suhu tubuh. 1. Menimbang berat badan.2 Dx. DO : Bayi tidak terlihat kuning lagi.00 . DO : Kulit tidak tampak kemerahan atau 76.15 Dx. 1 Pk. Mengobservasi warna dan keadaan kulit. 1 Dx.00 Dx. HR = 132 x/menit. mata tidak cekung. Dx. 3 Pk. 71. 3 66. teraba hangat. DO : S = 36.30 Pk. turgor elastis. 3 Dx. 2. Mengobservasi tanda-tanda vital. DO : Fontanel teraba datar.00 Dx. kulit teraba hangat.54 Pk. 74. 70. 09. 67.2.3 pemijatan pada bayi. 3 Dx. DO : BAB = 20 cc. BAK = 20 cc. 08.15 Dx. RR = 48 x/menit. 06. DO : Pasi masuk 40cc melalui dot. Memantau tanda-tanda dehidrasi. fototerapi. Memberikan Pasi 68. DO : S = 36.00 Dx. 12. Pk. tidak ada lecet. 69. Memberikan Pasi 75. warna feses kekuningan.3 Dx.2. 72. 2. 1.3 Pk. Mengkaji refleks hisap. 10. 3 Pk. 11. mukosa bibir lembab. bayi telah mendapat defekasi dan urin. 1. warna feses kekuningan. 07. Memantau warna dan frekuensi kuning.8oC DO : BB = 3700 gram DO : Bayi terlihat tenang. 73.6oC. Berkolaborasi dalam penghentian DO : Pasi masuk 30cc melalui dot.2 Dx.

18.30 Pk. mukosa bibir . kulit teraba hangat. Dx.55 77. DO : Pasi masuk 60cc melalui dot. Memberikan Pasi dan frekuensi DO : S = 37oC. 2. Memberikan Pasi DO : Fontanel teraba datar. DO : BAB = 30 cc.2.00 Dx. Memantau warna defekasi dan urin. warna feses kekuningan. 3 Dx. 1.3 Dx.2 84. 80.5oC.3 Dx. HR = 138 x/menit. 79. 3 Pk. 14. DO : Refleks hisap sangat baik dan kuat. Memberikan Pasi 83. BAK = 30 cc. DO :BAK = 40 cc. tidak ada lecet.30 Pk.3 Dx. 1. 81. DO : Kulit tidak tampak kemerahan atau kuning. Memantau tanda-tanda dehidrasi. HR = 142 x/menit. 1.3 Pk.00 Dx. turgor elastis.00 Dx.3 Dx. 88. 3 Dx. Memberikan Pasi Pk. dan frekuensi fototerapi selama 2x24 jam. 87. RR = 46 x/menit. 82. Mengobservasi tanda-tanda vital.2. 2.2. 85. Mengobservasi warna dan keadaan kulit. DO : Pasi masuk 60cc melalui dot.1. 1. DO : S = 36. Mengobservasi tanda-tanda vital. 17. 15. Mengobservasi warna dan keadaan kulit.3 Dx. Mengobservasi tanda-tanda vital. 20. teraba hangat.2 78. 2. Memantau warna defekasi dan urin.00 Pk. 86. RR = 48 x/menit.12. warna feses kekuningan.

96. DO : Kulit tidak tampak kemerahan atau kuning. 2. Mengobservasi tanda-tanda vital. 3 Dx. mata tidak cekung.3 91. DO : Pasi masuk 30cc melalui dot. DO : BAK = 40 cc. Memantau warna dan frekuensi Pk. 3 Dx. HR = 140 x/menit. 08.00 Senin. DO : S = 37oC. Menimbang berat badan. 98. 08. RR = 50 x/menit. Mengobservasi suhu tubuh. 1.3 89.3 Pk. pemijatan pada bayi. 2. RR = 48 x/menit. Mengobservasi warna dan keadaan kulit. Dx. 1. 90.2.3 DO : Pasi masuk 40cc melalui dot.8oC.3 94.00 Pk. Memantau warna defekasi dan urin. teraba hangat. 01. tidak ada lecet. 99.00 Pk. DO : S = 37oC. 100. Mengobservasi tanda-tanda vital. warna urin jernih. Memberikan Pasi 92.2 Dx. 1. BAK = 20 cc. 21 Dx.00 Pk. RR = 38 x/menit. 23. DO : S = 36. 97. 1 Dx. 1. melakukan DO : S = 36.8oC.2. 24. HR = 142 x/menit. DO : Pasi masuk 50cc melalui dot. 2.20 Dx. dan frekuensi lembab. Memberikan Pasi 95. Memandikan dan Pk. 07. Mengkaji refleks hisap DO : Pasi masuk 60cc melalui dot. HR = 144 x/menit. Dx. 06.00 Dx.56 Pk.00 Dx.2. Januari 2013. Mengobservasi tanda-tanda vital.2 DO : BAB = 20 cc. 3 Dx. 1. RR = 39 x/menit. 22.3 Dx. . HR = 138 x/menit.00 Pk. warna feses kekuningan. 93.

DO : S = 36. RR = 39 x/menit.8oC.6oC DO : BB = 3800 gram DO : Bayi terlihat tenang dan tidak rewel. 101. D O : Refleks hisap sangat baik dan kuat. DO : BAK = 40cc. mukosa bibir lembab. tidak tampak kemerahan atau kuning.57 Dx. DO : Pasi masuk 60cc melalui dot. 3 defekasi dan urin. HR = 144 x/menit. turgor elastis. mata tidak cekung. kulit teraba hangat. DO : Kulit kembali kesemula. Memantau tanda-tanda dehidrasi. tidak ada lecet. warna urin jernih. DO : Fontanel teraba datar. DO : S = 36. 3 Dx. teraba hangat. .

tidak ada lecet. Pk. P:Lanjutkan keperawatan. RR = 40 x/menit.2 tercapai. 3 belum tercapai. 1.10 mg/dL. 08. 1. A : Tujuan no. masalah kerusakan integritas kulit belum teratasi. Hari/Tgl/ Jam Diagnosa Keperawatan S:- Evaluasi Respon Nama Perawat/Paraf Sabtu. efek S:O : S = 37oC.28 kadar O : Kulit tidak tampak kemerahan atau kuning. Pk. 19 Risiko Januari 2013.20 integritas kulit berhubungan dengan peningkatan ditandai dengan kulit terlihat kuning.20 hipertermia berhubungan dengan fototerapi. SU Umur 7 Hari dengan Hiperbilirubin di Ruang Perinatal RSUD Badung Tanggal 18-21 Januari 2013 No.58 4. 2. teraba hangat kadar bilirubin A :Tujuan no. HR = 149 x/menit. semua tindakan bilirubin direct 1. 08. 19 Kerusakan Januari 2013. tujuan no. 1. kadar bilirubin total mg/dL. 2. 4 tercapai. Sabtu. 16. EVALUASI TABEL V Catatan Perkembangan Keperawatan Pada By. Risiko .

10 mg/dL.59 hipertermia tidak terjadi. S = 37oC. 20 Januari 2013. Sabtu. teraba hangat. mukosa bibir lembab. tujuan no. 19 Risiko Januari 2013. 1. kondisi pasien. RR = 40 x/menit. turgor elastis. mata tidak cekung. 3 belum tercapai. P : Lanjutkan pengawasan. Pk. kadar bilirubin total mg/dL.2. masalah kerusakan integritas kulit belum teratasi. minum banyak. 5.3 tercapai. A : Tujuan no. 16. kulit A : Tujuan no. 1. 2. 08. 4 tercapai. fontanel teraba datar. pertahankan 4. Minggu. 08. 3. tidak ada lecet. : Lanjutkan semua tindakan bilirubin direct 1. Risiko hipertermia keperawatan. HR = 149 x/menit. dengan intensitas O : Refleks hisap baik.20 kekurangan volume cairan S : berhubungan dengan pemaparan sinar tinggi. Minggu.20 Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan peningkatan kadar bilirubin ditandai dengan terlihat kuning. .28 kadar P S:O : Kulit tidak tampak kemerahan atau kuning. pertahankan kondisi pasien. P : Lanjutkan pengawasan. Risiko kekurangan volume cairan tidak terjadi. Pk.

3 tercapai.2. HR = 132 x/menit. S = 36. 08. efek S:O : S = 36. pertahankan kondisi pasien. pertahankan kondisi pasien. 1. 20 Januari 2013. minum banyak. mukosa bibir lembab. P : Lanjutkan pengawasan. Risiko kekurangan volume cairan tidak terjadi.6oC. Risiko P : Lanjutkan pengawasan. 6. RR = 48 x/menit. Risiko hipertermia tidak terjadi. S:O : Refleks hisap sangat baik dan kuat. RR = 48 x/menit.20 kekurangan volume cairan berhubungan dengan pemaparan sinar tinggi. intensitas . 1.60 20 Januari 2013. Pk. A : Tujuan no.2 tercapai. turgor elastis.6oC. 08. fontanel teraba dengan datar.20 berhubungan dengan fototerapi. HR = 132 x/menit. A : Tujuan no. mata tidak cekung. Pk. Minggu.

masalah kerusakan integritas kulit belum teratasi. 21 Risiko Januari hipertermia 2013. tujuan no. HR = 144 x/menit.20 dengan S:O : S = 36. Pk. SU Umur 7 Hari dengan Hiperbilirubin di Ruang Perinatal RSUD Badung Tanggal 18-21 Januari 2013 No. 08. 4 tercapai.61 TABEL VI Evaluasi Keperawatan Pada By.10 mg/dL. 08. P : Lanjutkan keperawatan. kadar bilirubin total mg/dL.20 integritas kulit berhubungan dengan peningkatan ditandai dengan kulit terlihat kuning.28 kadar O : Kulit kembali kesemula. Hari/Tgl/ Jam Diagnosa Keperawatan S:- Evaluasi Respon Nama Perawat/Paraf Senin. 2. tidak ada lecet. 1. 3 belum tercapai. RR = 39 x/menit. tidak tampak kemerahan atau kuning. Senin. berhubungan efek Pk. 16. 1. 2. kadar bilirubin A : Tujuan no. 21 Kerusakan Januari 2013. teraba hangat. semua tindakan bilirubin direct 1. .8oC.

62 fototerapi.2.20 Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan pemaparan sinar tinggi. pertahankan kondisi pasien. turgor elastis. mata tidak cekung. Risiko kekurangan volume cairan tidak terjadi. A : Tujuan no. Risiko hipertermia tidak terjadi. 3.3 tercapai. dengan intensitas S: O : Refleks hisap sangat baik dan kuat. Pk. 1. P : Lanjutkan pengawasan. pertahankan kondisi pasien. 1. P : Lanjutkan pengawasan. RR = 39 x/menit. mukosa bibir lembab. minum banyak.8oC. S = 36. . 21 Januari 2013.2 tercapai. HR = 144 x/menit. 08. A: Tujuan no. Senin. fontanel teraba datar.

63 .

2009. kerusakan integritas kulit lebih diprioritaskan karena masalah aktual dapat memperparah kondisi pasien. dan risiko kekurangan volume cairan. Dalam aplikasi atau penerapan di tempat praktek. menetapkan kriteria evaluasi dan merumuskan intervensi. kadar bilirubin total 16. membuat rencana keperawatan yang terdiri dari menetapkaan sasaran (goal) daan tujuan (objektif). Risiko hipertermia sebagai diagnosa keperawatan kedua muncul karena efek dari fototerapi yang harus dijalani pasien. Untuk mendapat gambaran yang jelas maka kesenjangan yang terjadi akan diuraikan dalam setiap komponen proses keperawatan.10 mg/dL. Dalam perencanaan ada dua tahap yaitu menentukan prioritas masalaah keperawatan. Dari data tersebut ditemukan 3 masalah keperawatan yang sudah sesuai teori. Ke-3 diagnosa yang muncul diantaranya kerusakan integritas kulit. Perencanaan Perencanaan merupakan tahap ke-2 proses keperawatan. Pengkajian Pengkajian merupakan tahap awal proses keperawatan yang sangat penting untuk melaksanakan langkah-langkah selanjutnya. Saat pengkajian baik keluarga pasien tampak sangat kooperatif dalam menanggapi pertanyan yang diberikan. dan risiko kekurangan volume cairan.64 BAB III PEMBAHASAN Pada bab ini akan dibahas tentang kesenjangan antara teori dan kasus yang terjadi di lapangan pada pasien hiperbilirubin. A. Perencanaan keperawataan di buat berdasarkan diagnosa keperawatan berdasarkan masalah yang paling penting atau berdasarkan masalah yang memerlukan tindakan medis segera (Deswani.28 mg/dL. konjungtiva ikterus. Salah satu data pendukungnya adalah kulit pasien sering teraba sedikit panas ketika menjalani fototerapi. B. risiko hipertermia. Data yang diperoleh dari pasien dengan diagnosa medis hiperbilirubin adalah masalah kerusakan integritas kulit. Pada pengkajian pasien dengan hiperbilirubin ditemukan data yaitu : kulit terlihat kuning. risiko hipertermia. . kadar bilirubin direct 1. hal 60). Dari ketiga masalah tersebut. Diagnosa keperawatan yang ketiga adalah risiko kekurangan volume cairan.

Pelaksanaan tindakan keperawatan dalam kasus sudah sesuai dengan prioritas. C. Ada juga beberapa hambatan lain yang ditemukan dalam pelaksanaan asuhan keperawatan diantaranya tidak semua rencana tindakan dapat dilaksanakan sesuai waktu seperti mengobservasi tanda-tanda vital. Evaluasi Evaluasi merupakan tahap terakhir akhir dari proses keperawatan untuk pencapaian tujuan. Jadi apabila hiperbilirubin dapat diatasi maka ketiga masalah keperawatan yang muncul kemungkinan besar akan dapat teratasi. Berdasarkan prioritas masalah keperawatan yang pertama yaitu kerusakan integritas kulit. Evaluasi terakhir dilaksanakan tanggal 21 Januari 2013 dimana tujuan no. kolaborasi dalam pemberian antipiretik dan kolaborasi dalam pemberian cairan parenteral. Pelaksanaan Pelaksanaan keperawatan merupakan aplikasi dari rencana keperawatan yang telah disusun sebelumnya. dimana tujuan dari pelaksanaan ini adalah memenuhi kebutuhan pasien secara optimal dan mengatasi masalah keperawatan yang muncul.65 yang mencetus munculnya risiko ini adalah efek dari fototerapi menyebabkan pasien sering berkeringat sehingga banyak cairan keluar. hal ini juga memperhatikan kebutuhan pasien akan kenyamanan. serta ada rencana keperawatan yang tidak dapat dilaksanakan yaitu pemeriksaan laboratorium untuk mengobservasi kadar bilirubin dalam darah. catatan perkembangan didokumentasikan pmulai tanggal 19-20 Januari 2013. 2 dan 3 belum tercapai karena ketika di evaluasi belum ada indikasi dari dokter untuk . hal ini dikarenakan kondisi pasien yang harus di jaga ketat untuk mengetahui perubahan-perubahan yang dialami tubuh pasien akibat dari penyakitnya. Hal ini tidak dilaksanakan karena tidak ada indikasi dari dokter yang merawat. D. tetapi ada beberapa dalam pelaksanaan tindakan keperawatan pada pasien dengan risiko hipertermia yang didahulukan. Dimana evaluasi dinilai perhari untuk menilai keefektifan pemberian asuhan keperawatan. Pada pembahasan ini evaluasi yang dimunculkan adalah catatan perkembangan dan evaluasi akhir yang sudah sesuai dengan kriteria waktu yang telah ditentukan.

Diagnosa terakhir yaitu risiko kekurangan volume cairan. Sementara untuk masalah keperawatan yang sudah teratasi masih perlu pengawasan tetap untuk mempertahankan kondisi yang semaksimal mungkin. Evaluasi terakhir dilaksanakan tanggal 21 Januari 2013 dimana semua tujuan tercapai dan risiko hipertermia tidak terjadi.66 melakukan pemeriksaan kadar bilirubin darah. . Pada diagnosa kedua yaitu risiko hipertermia. Evaluasi terakhir dilaksanakan tanggal 21 Januari 2013 dimana semua tujuan tercapai dan risiko kekurangan volume cairan tidak terjadi. Masalah keperawatan yang belum teratasi harus tetap ditindak lanjuti di Ruangan sesuai dengan rencana yang ditentukan pada evaluasi. catatan perkembangan didokumentasikan pmulai tanggal 19-20 Januari 2013. catatan perkembangan didokumentasikan pmulai tanggal 19-20 Januari 2013.

Evaluasi yang dapat dilaksanakan . rencana tindakan serta rasional yang sudah sesuai dengan teori. Kesimpulan Penulis telah mendapat gambaran umum tentang asuhan keperawatan pada Bayi SU dengan hiperbilirubin sampai ditemukan 3 masalah keperawatan pada bayi. dan pemberian cairan parenteral tidak dapat dilaksanakan. pemberian antipiretik. Dari pelaksanaan penulis menemukan adanya masalah dimana untuk rencana pemeriksaan laboratorium. SU sudah sesuai dengan teori yaitu dari masing-masing masalah keperawatan penulis telah dapat membuat prioritas masalah menurut kebutuhan Maslow dan rencana tujuan. hal ini karena tidak ada indikasi dari dokter.67 BAB IV PENUTUPAN Berdasarkan uraian diatas penulis dapat menarik kesimpulan dan memberikan saran-saran sebagai berikut : A. Masalah keperawatan yang muncul pada By.

3. pelaksanaan daan evaluasi penulis tidak menemukan hambatan yang berarti walaupun penulis kekurangan literature atau sumber-sumber mengenai hiperbilirubin.68 pada By. Kepada perawat ruangan supaya melanjutkan proses keperawatan kepada pasien untuk mempercepat proses penyembuhan pasien melaksanakan kolaboratif dalam pemeriksaan laboratorium yang lebih lengkap sebagai pendukung dalam pemberian asuhan keperawatan yang tepat. 2. Sementara dua diagnosa lainnya sudah teratasi tetapi masih memerlukan pengawasan berlanjut. dokter dan pasien serta keluarga yang sangat kooperatif. Hambatan di atas dapat dilalui berkat kerjasama yang baik antara perawat ruangan. B. SU diharapkan agar tetap melaksanakan program keperawatan. Kepada keluarga By. Dalam pengkajian. perencanaan. serta pelaksanaan tindak lanjut nantinya disesuaikan dengan rencana yang telah ditentukan pada evaluasi. Saran Dari kesimpulan diatas penulis mengemukakan saran yang sekiranya dapat bermanfaat. Kepada institusi supaya melengkapi literature guna menunjang kepustakaan dalam penulisan studi kasus dan memperpanjang waktu pelaksanaan dalam pembuatan studi kasus. SU yaitu satu masalah berupa kerusakan integritas kulit yang di derita pasien tersebut belum teratasi. . Adapun saran dari penulis yaitu : 1. pengobatan dan selalu berpartisipasi dalam mempertahankan kondisi pasien.

69 DAFTAR PUSTAKA .

Proses Keperawatan dan berpikir kritis. Maryuani. Nanda. Asuhan Keperawatan dan Penyakit Pada Neonatus.. Aziz. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. 2009. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Lynda Juall. Daonna L. Jakarta : Salemba Medika Carpenito. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. 2006. 2000. Jakarta : EGC Mansjoer.. Doenges. 2006. dkk. Jakarta : Trans Info Media. Saccharin. 2009. Prawiroharjo. Jakarta : Yayasan Bima Pustaka. 1999. Jakarta : EGC. Rossa M. Arif. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia : Aplikasi Konsep dan Proses Keperawatan. Sarwono. 2005-2006. Panduan Diagnosa Keperawatan Definisi dan Klarifikasi.70 Alimul. Rencana Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. 2004. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid 2. Anik dan Nurhayati. 2008. Jakarta : Salemba Medika Deswani. Prinsip Keperawatan Pediatrik Edisi 2.Jakarta : EGC. Marilynnt. . A. 2004. Jakarta : Media Aesculapius. Wong.

Diagnosa keperawatan Resiko Hipertermia berhubungan dengan Efect Fhototherapy 3. Persiapan 1) Persiapan pasien • • • • Memperkenalkan diri Menjelaskan tujuan Menjelaskan langkah / prosedur yang akan dilakukan Pasien disiapkan pada posisi yang sesuai 2) Persiapan lingkungan Menutup pintu atau jendela atau memasang sampiran .71 Lampiran 1 Laporan Analisa Kegiatan Keperawatan Nama Kelompok Tanggal : Kelompok I : 18 January 2013 1. Diagnosa Medis : Hiperbilirubin 2. Nama Pasien c. Ruang dirawat : BY SU : Perinatologi RSUD Badung b. Persiapan alat. Identitas Pasien a. Tindakan keperawtan yang dilakukan Memberi kompres hangat 4. prosedur kerja dan rasional tindakan a.

Pasien berontak menumpahkan air 2) Tujuan tindakan . R/ untuk menurunkan suhu tubuh dengan perlahan melalui proses konduksi 6) Ganti air secara teratur bila air sudah dingin R/ mempertahankan air supaya tetap hangat 7) Bereskan alat dan cuci tangan R/ memberi kenyamanan dan proteksi diri 5. dahi. Analisa Materi Kegiatan 1) Bahaya yang mungkin terjadi dan pencegahannya .Anjurkan kepada keluarga pasien memberi banyak minum .Untuk menurunkan suhu tubuh pasien 3) Identifikasi tindakan keperawatan lainnya yang didapatkan untuk mengatasi masalah diatas . Prosedur kerja 1) Cuci tangan R/ mencegah infeksi nosokomial 2) Ukur suhu tubuh pasien R/ untuk mengetahui panas tubuh pasien 3) Pasang penghalas dibawah bagian tubuh yang akan dikompres R/ agar bed tidak basah 4) Basahi kain atau washlap dengan air hangat R/ untuk memulai tindakan yang akan dilakukan 5) Letakkan kain / washlap yang telah dibasahi pada daerah axila.Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat analgetik dan antibiotik 6. dan lipatan paha.72 3) Persiapan alat • • • • Baskom berisi air hangat Penghalas Kain / waslap Termometer b. Evaluasi hasil kegiatan .

Evaluasi diri Kurang komunikasi .73 Suhu : 370 C 7.