PROGRAM KELAS KARYAWAN PROGRAM MAGISTER MANAJEMEN

PAPER MATA K UL IA H MA NAJEME N SUM BE R DAYA M AN USI A

“Outsource Employee” Sebuah Fenomena Perbudakan dalam Lingkungan Kerja di Indonesiakah?

OLEH :
ARNALDO LUHUT PARMONANGAN 55108110051 FEBRUARI 2009
1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Saat peringatan Hari Buruh 1 Mei lalu, banyak serikat buruh yang menolak sistem tenaga kerja outsourcing. Kenapa kok outsourcing ditolak? Mari kita lihat contoh-contoh outsourcing yang aku temui, sebut saja namanya Somad, seorang lulusan S1 dari Universitas Negeri Terkenal di Indonesia. Sebagai seorang sarjana baru, dia mencari apa saja pekerjaan asalkan halal. Lalu dia diterima bekerja di sebuah bank nasional yang cukup kondang. “Keren sih, kerja di bank nasional. Pagi berangkat dari rumah, dengan baju yang licin dan terkesan profesional,”cerita Dimas yang tinggal di Jogja. Tetapi sebenarnya dia bukan karyawan dari bank tersebut, hanya bekerja di bank itu. Status Dimas adalah tenaga outsourcing dari PT YX yang dipekerjakan di bank nasional tersebut. Tugas dia adalah sederhana, yaitu memasukkan data-data transaksi nasabah. Gajinya sih standar karyawan di Jogja, satu juta lebih dikit. Baru seminggu di bank tersebut, Dimas memutuskan keluar. Kenapa? “Berat resikonya. Kalau aku salah memasukkan transaksi, maka aku yang mesti menggantinya. Padahal transaksinya puluhan sampai ratusan juta. Sementara masih ada kemungkinan error di sistem komputernya,”ucap Somad. Selain soal resiko pekerjaan yang tidak sesuai dengan gajinya, Dimas juga memikirkan soal karir. Dengan statusnya tenaga outsourcing, maka selamanya dia akan berada di posisi itu. Tidak ada kenaikan karir, seandainya prestasinya cemerlang. Dan dari cerita pada seniornya, untuk mengakali UU Tenaga Kerja, maka setiap 2 tahun sekali mereka para outsourcer itu akan di-PHK atau tidak diperpanjang kontraknya. Bila tidak ada masalah apa-apa atau punya relasi baik dengan atasan, lalu sebulan kemudian akan dikontrak kembali. Perusahaan aman dari tuntutan hukum UU Tenaga Kerja, si karyawan menurut tak berdaya, di tengah susahnya lapangan kerja. Dalam UU no 13/2001 tentang Tenaga Kerja, memang tidak ada kata outsourcing, yang ada istilah “pekerjaan untuk waktu tertentu”. Istilah ini sebenarnya lebih tepat untuk menggambarkan tenaga kontrak. Sementara outsourcing lebih bermakna, suatu pekerjaan yang tetap / terus menerus namun menggunakan tenaga dari luar perusahaan. Namun

2

orang kebanyakan sering mencampuradukkan istilah tenaga kontrak dan tenaga outsourcing (bahasa Indonesianya apa ya?) Pada pasal 59 UU no 13/2001 dikatakan : 1. Perjanjian kerja untuk waktu tertentu hanya dapat dibuat untuk pekerjaan tertentu yang menurut jenis dan sifat atau kegiatan pekerjaannya akan selesai dalam waktu tertentu, yaitu : a. pekerjaan yang sekali selesai atau yang sementara sifatnya b. pekerjaan yang diperkirakan penyelesaiannya dalam waktu yang tidak terlalu lama dan paling lama 3 (tiga) tahun. c. pekerjaan yang bersifat musiman; atau d. pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru, kegiatan baru, atau produk tambahan yang masih dalam percobaan atau penjajakan. 2. Perjanjian kerja untuk waktu tertentu tidak dapat diadakan untuk pekerjaan yang bersifat tetap. 3. Perjanjian kerja untuk waktu tertentu dapat diperpanjang atau diperbaharui 4. Perjanjian kerja waktu tertentu yang didasarkan atas jangka waktu tertentu dapat diadakan untuk paling lama 2 (dua) tahun dan hanya boleh diperpanjang 1 (satu) kali untuk jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun. Pada pekerjaan-pekerjaan tertentu yang memang hanya membutuhkan waktu temporer/musiman, jelas sistem kontrak adalah menguntungkan. Misalnya menjadi konsultan, sales girl promotion, dll. Tetapi yang bahaya dari perkembangan sekarang ini , pekerjaan yang sifatnya tetap pun diperlakukan seperti tenaga kontrak. Misalnya tenaga keamanan gedung, petugas kebersihan, sampai posisi seperti teller, customer service, dll. Begitu juga yang terjadi di kalangan buruh manufaktur, mereka sekarang umumnya hanya diperlakukan sebagai buruh kontrak. Setelah 2 tahun di PHK, yang dipekerjakan lagi sebulan kemudian. Keuntungan bagi perusahaan jelas besar. Dengan status buruh/karyawan kontrak maka jauh lebih mudah bila PHK. Pesangonnya tidak besar, karena masa kerjanya selalu terhitung maksimal 2 tahun, walaupun si buruh sudah bekerja di pabrik tersebut selama 10 tahun. Lebih menyedihkan lagi pada sistem outsourcing yang diterapkan untuk kalangan karyawan, terutama di sektor jasa (petugas keamanan, kebersihan, teller, dll).

3

Seperti pada kasus Dimas di atas, karena mereka bekerja sebagai tenaga outsourcing, maka perusahaan tempat mereka bekerja tidak perlu memasukkan tunjangan-tunjangan seperti kesehatan, kecelakaan, pendidikan dsbnya. Para tenaga outsourcing hanya menerima gaji pokok, tanpa jenjang karir dan sewaktu-waktu mudah di-PHK (security job). Tentu ini mengusik rasa keadilan. Karena itulah serikat-serikat buruh di Indonesia menolak diberlakukannya sistem outsourcing. Karena sistem ini menghilangkan banyak hal, mulai dari jenjang karir, keamanan pekerjaan, tunjangan-tunjangan (kesehatan, pendidikan, masa kerja). Juga para serikat buruh tidak menolak sistem kontrak, sejauh diterapkan dengan benar, yaitu benar-benar untuk pekerjaan yang sifatnya temporer/musiman. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis memfokuskan masalah yang akan diteliti sebagai berikut : 1. apakah outsourcing tersebut dan bagaimana implementasinya di Indonesia? 2. keuntungan maupun kelemahan apa sajakah bila menggunakan outsourcing di Indonesia? 3. apakah Implikasi yang ditimbulkan oleh Outsourcing terhadap pertumbuhan Ekonomi di Indonesia? C. Tujuan Penelitian Sehubungan dengan rumusan masalah diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk : 1. mengetahui apa yang dimaksud dengan outsourcing dan bagaimana penerapannya di Indonesia. 2. mengetahui keuntungan dan kelemahan dari bisnis outsourcing di Indonesia. 3. mengetahui kesimpulan dan saran apa sajakah mengenai Implikasi outsourcing bagi Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia. D. Manfaat Hasil Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain : Sebagai bahan informasi kepada para pembaca yang ingin mengetahui tentang dunia outsourcing di

4

Indonesia terutama dalam hal keuntungan menggunakan tenaga outsourcing pada Perusahaan-perusahaan di Indonesia dan juga kerugian yang di derita para pegawai outsourcing karena mereka merasa sama saja apabila mereka loyal ataupun tidak loyal kepada Perusahaan tempat mereka bekerja dan juga sebagai bahan banding bagi penelitian yang relevan di kemudian hari untuk peneliti selanjutnya.

5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Outsourcing berasal dari bahasa Inggris yang berarti "alih daya". Outsourcing mempunyai nama lain yaitu "contracting out" merupakan sebuah pemindahan operasi dari satu perusahaan ke tempat lain. Hal ini biasanya dilakukan untuk memperkecil biaya produksi atau untuk memusatkan perhatian kepada hal lain. Di negara-negara maju seperti Amerika & Eropa, pemanfaatan Outsourcing sudah sedemikian mengglobal sehingga menjadi sarana perusahaan untuk lebih berkonsentrasi pada core businessnya sehingga lebih fokus pada keunggulan produk servisnya. Dalam pengertian umum, istilah outsourcing (Alih Daya) diartikan sebagai contract (work) out seperti yang tercantum dalam Concise Oxford Dictionary, sementara mengenai kontrak itu sendiri diartikan sebagai berikut: “ Contract to enter into or make a contract. From the latin contractus, the past participle of contrahere, to draw together, bring about or enter into an agreement.” (Webster’s English Dictionary). Pengertian outsourcing (Alih Daya) secara khusus didefinisikan oleh Maurice F Greaver II, pada bukunya Strategic Outsourcing, A Structured Approach to Outsourcing: Decisions and Initiatives, dijabarkan sebagai berikut : “Strategic use of outside parties to perform activities, traditionally handled by internal staff and respurces.” Menurut definisi Maurice Greaver, Outsourcing (Alih Daya) dipandang sebagai tindakan mengalihkan beberapa aktivitas perusahaan dan hak pengambilan keputusannya kepada pihak lain (outside provider), dimana tindakan ini terikat dalam suatu kontrak kerjasama. Beberapa pakar serta praktisi outsourcing (Alih Daya) dari Indonesia juga memberikan definisi mengenai outsourcing, antara lain menyebutkan bahwa outsourcing (Alih Daya) dalam bahasa Indonesia disebut sebagai alih daya, adalah pendelegasian operasi dan manajemen harian dari suatu proses bisnis kepada pihak luar (perusahaan jasa outsourcing). Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Muzni Tambusai, Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang mendefinisikan pengertian outsourcing (Alih Daya) sebagai memborongkan satu bagian atau beberapa bagian kegiatan perusahaan yang tadinya dikelola sendiri kepada 6

perusahaan lain yang kemudian disebut sebagai penerima pekerjaan. Dari beberapa definisi yang dikemukakan di atas, terdapat persamaan dalam memandang outsourcing (Alih Daya) yaitu terdapat penyerahan sebagian kegiatan perusahaan pada pihak lain. Pengaturan Outsourcing (Alih Daya) dalam Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan sebagai dasar hukum diberlakukannya outsourcing (Alih Daya) di Indonesia, membagi outsourcing (Alih daya) menjadi dua bagian, yaitu: pemborongan pekerjaan dan penyediaan jasa pekerja/buruh. Pada perkembangannya dalam draft revisi Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan outsourcing (Alih Daya) mengenai pemborongan pekerjaan dihapuskan, karena lebih condong ke arah sub contracting pekerjaan dibandingkan dengan tenaga kerja. Untuk mengkaji hubungan hukum antara karyawan outsourcing (Alih Daya) dengan perusahaan pemberi pekerjaan, akan diuraikan terlebih dahulu secara garis besar pengaturan outsourcing (Alih Daya) dalam UU No.13 tahun 2003. Dalam UU No.13/2003, yang menyangkut outsourcing (Alih Daya) adalah pasal 64, pasal 65 (terdiri dari 9 ayat), dan pasal 66 (terdiri dari 4 ayat). Pasal 64 adalah dasar dibolehkannya outsourcing. Dalam pasal 64 dinyatakan bahwa: Perusahaan dapat menyerahkan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lainnya melalui perjanjian pemborongan pekerjaan atau penyediaan jasa pekerja/buruh yang dibuat secara tertulis.” Pasal 65 memuat beberapa ketentuan diantaranya adalah: penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lain dilaksanakan melalui perjanjian pemborongan pekerjaan yang dibuat secara tertulis (ayat 1); pekerjaan yang diserahkan pada pihak lain, seperti yang dimaksud dalam ayat (1) harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : • • • • dilakukan secara terpisah dari kegiatan utama; dilakukan dengan perintah langsung atau tidak langsung dari pemberi pekerjaan; merupakan kegiatan penunjang perusahaan secara keseluruhan; tidak menghambat proses produksi secara langsung. (ayat 2)

7

Perusahaan lain (yang diserahkan pekerjaan) harus berbentuk badan hukum (ayat 3); perlindungan kerja dan syarat-syarat kerja pada perusahaan lain sama dengan perlindungan kerja dan syarat-syarat kerja pada perusahaan pemberi pekerjaan atau sesuai dengan peraturan perundangan (ayat 4); perubahan atau penambahan syarat-syarat tersebut diatas diatur lebih lanjut dalam keputusan menteri (ayat 5); hubungan kerja dalam pelaksanaan pekerjaan diatur dalam perjanjian tertulis antara perusahaan lain dan pekerja yang dipekerjakannya (ayat 6) hubungan kerja antara perusahaan lain dengan pekerja/buruh dapat didasarkan pada perjanjian kerja waktu tertentu atau perjanjian kerja waktu tidak tertentu (ayat 7); bila beberapa syarat tidak terpenuhi, antara lain, syaratsyarat mengenai pekerjaan yang diserahkan pada pihak lain, dan syarat yang menentukan bahwa perusahaan lain itu harus berbadan hukum, maka hubungan kerja antara pekerja/buruh dengan perusahaan penyedia jasa tenaga kerja beralih menjadi hubungan kerja antara pekerja/buruh dengan perusahaan pemberi pekerjaan (ayat 8). Pasal 66 UU Nomor 13 tahun 2003 mengatur bahwa pekerja/buruh dari perusahaan penyedia jasa tenaga kerja tidak boleh digunakan oleh pemberi kerja untuk melaksanakan kegiatan pokok atau kegiatan yang berhubungan langsung dengan proses produksi, kecuali untuk kegiatan jasa penunjang yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi. Perusahaan penyedia jasa untuk tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi juga harus memenuhi beberapa persyaratan, antara lain : 1. adanya hubungan kerja antara pekerja dengan perusahaan penyedia jasa tenaga kerja; 2. perjanjian kerja yang berlaku antara pekerja dan perusahaan penyedia jasa tenaga kerja adalah perjanjian kerja untuk waktu tertentu atau tidak tertentu yang dibuat secara tertulis dan ditandatangani kedua belah pihak; 3. perlindungan upah, kesejahteraan, syarat-syarat kerja serta perselisihan yang timbul menjadi tanggung jawab perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh; 4. perjanjian antara perusahaan pengguna jasa pekerja/buruh dan perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh dibuat secara tertulis. Penyedia jasa pekerja/buruh merupakan bentuk usaha yang berbadan hukum dan memiliki izin dari instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan. Dalam hal syarat-syarat diatas tidak terpenuhi (kecuali mengenai ketentuan perlindungan

8

kesejahteraan), maka demi hukum status hubungan kerja antara pekerja/buruh dan perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh beralih menjadi hubungan kerja antara pekerja/buruh dan perusahaan pemberi pekerjaan. Penentuan Pekerjaan Utama (Core Business) dan Pekerjaan Penunjang (Non Coree Business) dalam Perusahaan sebagai Dasar Pelaksanaan Outsourcing. Berdasarkan pasal 66 UU No.13 Tahun 2003 outsourcing (Alih Daya) dibolehkan hanya untuk kegiatan penunjang, dan kegiatan yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi. R.Djokopranoto dalam materi seminarnya menyampaikan bahwa : “Dalam teks UU no 13/2003 tersebut disebut dan dibedakan antara usaha atau kegiatan pokok dan kegiatan penunjang. Ada persamaan pokok antara bunyi UU tersebut dengan praktek industri, yaitu bahwa yang di outsource umumnya (tidak semuanya) adalah kegiatan penunjang (non core business), sedangkan kegiatan pokok (core business) pada umumnya (tidak semuanya) tetap dilakukan oleh perusahaan sendiri. Namun ada potensi masalah yang timbul. Potensi masalah yang timbul adalah apakah pembuat dan penegak undang-undang di satu pihak dan para pengusaha dan industriawan di lain pihak mempunyai pengertian dan interpretasi yang sama mengenai istilah-istilah tersebut.” Kesamaan interpretasi ini penting karena berdasarkan undang-undang ketenagakerjaan outsourcing (Alih Daya) hanya dibolehkan jika tidak menyangkut core business. Dalam penjelasan pasal 66 UU No.13 tahun 2003, disebutkan bahwa : ”Yang dimaksud dengan kegiatan penunjang atau kegiatan yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi adalah kegiatan yang berhubungan di luar usaha pokok (core business) suatu perusahaan.Kegiatan tersebut antara lain: usaha pelayanan kebersihan (cleaning service), usaha penyediaan makanan bagi pekerja/buruh catering, usaha tenaga pengaman (security/satuan pengamanan), usaha jasa penunjang di pertambangan dan perminyakan, serta usaha penyediaan angkutan pekerja/buruh.” Interpretasi yang diberikan undang-undang masih sangat terbatas dibandingkan dengan kebutuhan dunia usaha saat ini dimana penggunaan outsourcing (Alih Daya) semakin meluas ke berbagai lini kegiatan perusahaan.

9

Konsep dan pengertian usaha pokok atau core business dan kegiatan penunjang atau non core business adalah konsep yang berubah dan berkembang secara dinamis. Oleh karena itu tidak heran kalau Alexander dan Young (1996) mengatakan bahwa ada empat pengertian yang dihubungkan dengan core activity atau core business. Keempat pengertian itu ialah : 1. Kegiatan yang secara tradisional dilakukan di dalam perusahaan. 2. Kegiatan yang bersifat kritis terhadap kinerja bisnis. 3. Kegiatan yang menciptakan keunggulan kompetitif baik sekarang maupun di waktu yang akan datang. 4. Kegiatan yang akan mendorong pengembangan yang akan datang, inovasi, atau peremajaan kembali. Interpretasi kegiatan penunjang yang tercantum dalam penjelasan UU No.13 tahun 2003 condong pada definisi yang pertama, dimana outsourcing (Alih Daya) dicontohkan dengan aktivitas berupa pengontrakan biasa untuk memudahkan pekerjaan dan menghindarkan masalah tenaga kerja. Outsourcing (Alih Daya) pada dunia modern dilakukan untuk alasan-alasan yang strategis, yaitu memperoleh keunggulan kompetitif untuk menghadapi persaingan dalam rangka mempertahankan pangsa pasar, menjamin kelangsungan hidup dan perkembangan perusahaan. Outsourcing (Alih Daya) untuk meraih keunggulan kompetitif ini dapat dilihat pada industri-industri mobil besar di dunia seperti Nissan, Toyota dan Honda. Pada awalnya dalam proses produksi mobil, core business nya terdiri dari pembuatan desain, pembuatan suku cadang dan perakitan. Pada akhirnya yang menjadi core business hanyalah pembuatan desain mobil sementara pembuatan suku cadang dan perakitan diserahkan pada perusahaan lain yang lebih kompeten, sehingga perusahaan mobil tersebut bisa meraih keunggulan kompetitif. Dalam hal outsourcing (Alih Daya) yang berupa penyediaan pekerja, dapat dilihat pada perkembangannya saat ini di Indonesia, perusahaan besar seperti Citibank banyak melakukan outsource untuk tenaga-tenaga ahli, Sehingga interpretasi outsource tidak lagi hanya sekadar untuk melakukan aktivitas-aktivitas penunjang seperti yang didefinisikan dalam penjelasan UU No.13 tahun 2003. Untuk itu batasan pengertian core business perlu

10

disamakan lagi interpretasinya oleh berbagai kalangan. Pengaturan lebih lanjut untuk halhal semacam ini belum diakomodir oleh peraturan ketenagakerjaan di Indonesia. Perusahaan dalam melakukan perencanaan untuk melakukan outsourcing terhadap tenaga kerjanya, mengklasifikasikan pekerjaan utama dan pekerjaan penunjang ke dalam suatu dokumen tertulis dan kemudian melaporkannya kepada instansi ketenagakerjaan setempat. Pembuatan dokumen tertulis penting bagi penerapan outsourcing di perusahaan, karena alasan-alasan sebagai berikut : 1. Sebagai setempat; 2. Sebagai pedoman bagi manajemen dalam melaksanakan outsourcing pada bagianbagian tertentu di perusahaan; 3. Sebagai sarana sosialisasi kepada pihak pekerja tentang bagian-bagian mana saja di perusahaan yang dilakukan outsourcing terhadap pekerjanya; 4. Meminimalkan risiko perselisihan dengan pekerja, serikat pekerja, pemerintah serta pemegang saham mengenai keabsahan dan pengaturan tentang outsourcing di Perusahaan. bentuk kepatuhan perusahaan terhadap ketentuan tentang ketenagakerjaan dengan melakukan pelaporan kepada Dinas Tenaga Kerja

11

BAB III METODOLOGI PENELITIAN Obyek penelitian diambil dari beberapa sumber yang diambil penulis dari Google Search yaitu, di : 1. PT Pertamina – dengan KPS-KPSnya 2. PT Jamsostek – dalam Jaminan Pelayanan Kesehatan (JPK) dan Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dengan RS yang dirujuk 3. PT PLN – dalam penyediaan sumber daya listrik dengan perusahaan pembangkit listrik (Indonesia Power), juga dalam penyediaan sistem billing tagihan, pembuatan, perawatan dan perbaikan jaringan PLN. 4. PT TELKOM - dalam penyediaan sistem billing tagihan, dan juga pembuatan, perawatan dan perbaikan jaringan telepon serta sistem transmisi/panel satelit. 5. Perusahaan Penerbangan – dalam Ticketing, Catering, Cargo dan Perawatan Pesawat. 6. BANK BNI 46, dalam kasus kelebihan pegawai yang dikatakan oleh IMF Alasan pemilihan obyek penelitian di ke-6 obyek diatas karena perusahaan perusahaan diatas telah lebih dulu menggunakan tenaga outsourcing di lini usahanya. Cikal bakal penggunaan tenaga outsourcing di Indonesia yaitu terbentuk karena proyek – proyek perusahaan tersebut adalah hal baru bagi Indonesia dan perlu adanya suatu kepastian hukum yang mengaturnya yaitu dengan dikeluarkannya beberapa UU maupun Perpu karena di dalamnya bersinggungan dengan Alih teknologi dari negara lain. Ambil contoh peraturan yang mengaturnya, yaitu : 1. Pengelolaan sumber daya MIGAS didasarkan pada Pasal 33 (2) & (3) UUD 1945:. a. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara; b. Bumi & air serta kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara & digunakan sebesar-besar kemakmuran rakyat.

12

2. Dalam rangka pelaksanaannya telah diundangkan UU No. 40/Prp tahun 1960 tentang Pertambangan MIGAS yang memuat ketentuan: a. Pertambangan & kekayaan alam yang terkandung dalam bumi (MIGAS) hanya diusahakan oleh negara dan dalam hal ini oleh perusahaan negara semata-mata; b. Menteri dapat menunjuk pihak lain sebagai kontraktor untuk perusahaan negara tersebut apabila diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan yang belum dapat atau tidak dapat dikerjakan sendiri. 3. Selanjutnya ketentuan tersebut diatas dituangkan dalam UU No. 8/1971 tentang Perusahaan Pertambangan Minyak & Gas Bumi Negara (PERTAMINA); 4. Sifat usaha pencarian MIGAS adalah: a. Padat modal; diperlukan modal yang sangat besar untuk mencari & memproduksi MIGAS; b. Resiko tinggi; resiko kegagalan yang sangat tinggi dalam pencarian MIGAS berbanding terbalik dengan biaya yang dibutuhkan; c. Berteknologi tinggi 5. Sadar akan terbatasnya dana, teknologi dan sumber daya yang dimiliki, sejalan dengan Pasal 12 UU PERTAMINA dalam rangka mengembangkan kegiatan sektor hulu, PERTAMINA mengadakan kontrak kerjasama dengan para pengusaha minyak asing dalam bentuk Kontraktor Production Sharing (KPS). 6. Sistem KPS ini terus berkembang dengan mengakomodasikan tidak saja kepentingan investor tetapi juga kepentingan nasional, terutama pembagian keuntungan yang lebih layak & peningkatan kadar peran nasional dalam pengadaan material, jasa & tenaga kerja. 7. Saat ini sistem KPS diterapkan oleh banyak negara produsen minyak lain.

Tetapi disini penulis lebih menitik beratkan obyek penelitian kepada Bank BNI 46 agar ruang lingkupnya lebih sempit, dikarenakan keterbatasan waktu dan biaya yang dikeluarkan penulis untuk mendapatkan data penelitian. Maka dapat dikatakan tujuan

13

penelitian adalah mengetahui sejauh mana variabel bauran X1, X2, X3 berpengaruh terhadap Y, pada permasahan Bank BNI 46. 1. (Y) : Pro & Kontra bisnis outsourcing. 2. X1 : Keuntungan menggunakan outsourcing 3. X2 : Kerugian menggunakan outsourcing 4. X3 : Implikasinya terhadap Pertumbuhan Ekonomi

X1

X2

Y

X3

A. Keuntungan Menggunakan Outsourcing (X1) Dari pengertian tentang Outsourcing, dapat dikatakan di negara maju bisnis outsourcing udah bukan lahan baru lagi, ia sudah muncul sejak tahun 1900-an. Namun di negara berkembang outsourcing baru unjuk gigi sejak dua dekade silam. Outsourcing hadir karena adanya keinginan dari perusahaan (perusahaan pengguna/pemesan – user/principal) untuk menyerahkan sebagian kegiatan perusahaan kepada pihak lain (perusahaan outsourcing) agar ia dapat berkonsentrasi penuh pada proses bisnis perusahaan (core business). Biar lebih kompetitif tujuannya. Karena itu, pekerjaan yang di-outsourcing-kan bukanlah pekerjaan yang berhubungan langsung dengan inti bisnis perusahaan, melainkan pekerjaan penunjang (staff level ke bawah), meski terkadang ada juga posisi manajerial yang di-outsourcing-kan, namun tetap saja hanya untuk pekerjaan dalam tenggat waktu tertentu (proyek). Dengan ‘membagi tugas’ kepada perusahaan lain 14

itu, perusahaan pengguna outsourcing merasa mendapatkan keuntungan dari ‘kerjasama’ tersebut, karena ia tidak perlu pusing-pusing memikirkan dan mengurus pekerjaanpekerjaan penunjang sehingga bisa fokus dalam bisnis operasional perusahaan. Dan hal itulah yang banyak membuat perusahaan beralih ke outsorcing. Buktinya, pertumbuhan bisnis outsourcing global tercatat mencapai 30% per tahunnya. Dari situ kita bisa lihat, betapa perusahaan-perusahaan pengguna outsourcing itu sudah mempercayakan sebagian proses bisnisnya pada perusahaan outsourcing dalam hal perekrutan SDM. Karena outsourcing sudah merupakan hal yang tidak baru lagi di dunia maupun di Indonesia sendiri, karena beberapa faktor, yaitu : 1. TREND OUTSOURCING, yaitu : a. Merupakan kebutuhan dari kondisi saat ini, contohnya adalah untuk penghasil consumer goods yang memberikan semua bagian non-corenya kepada pihak lain: b. Bukanlah hal baru yang dipraktekkan tetapi merupakan praktek yang sudah dilakukan beberapa perusahaan yang berhasil dalam effisiensi yang juga dicirikan dengan minimnya masalah-masalah perburuhan; c. Outsourcing murni akan memberikan nilai tambah dari lepasnya masalah hubungan industrial, remunerasi, benefits dan hal-hal lain yang sifatnya melekat pada pekerja karena produk jasalah yang diambil dari sifat kerjanya; d. Perubahan dari kondisi sekarang menuju outsourcing merupakan langkah effisiensi yang sangat strategis untuk kelancaran usaha yang ada pada saat ini; 2. TUJUAN PROGRAM OUTSOURCING: a. Melaksanakan anjuran Pemerintah dalam mengembangkan kemitraan agar perusahaan tidak menguasai kegiatan industri dari hulu ke hilir; b. Meningkatkan pemerataan kesejahteraan masyarakat terutama di daerah sub-urban; c. Mendorong terjadinya proses pendidikan & alih teknologi dalam bidang industri & managemen pengelolaan pabrik;

15

d. Mengurangi kegiatan pemusatan industri di perkotaan yang dapat menimbulkan gangguan kerawanan sosial, keamanan & konflik perburuhan. 3. MAMFAAT OUTSOURCING a. BAGI PEMERINTAH: 1) Mengembangkan & mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat dan pertumbuhan ekonomi nasional; 2) Pembinaan & pengembangan kegiatan koperasi & UKM; 3) Mengurangi beban Pemerintah kota dalam penyediaan fasilitas umum (transportasi, listrik, air & pelaksanaan ketertiban umum). b. BAGI MASYARAKAT & PEKERJA: 1) Aktivitas industri di daerah akan mendorong kegiatan ekonomi penunjang dilingkungan masyarakat (pasar, warung, sewa rumah/kamar, transportasi dll); 2) Mengembangkan infrastruktur sosial masyarakat, budaya kerja, disiplin & peningkatan kemampuan ekonomi; 3) Mengurangi pengangguran & mencegah terjadinya urbanisasi; 4) Meningkatkan kemampuan & budaya berusaha dilingkungan masyarakat. 4. BAGI INDUSTRI: a. Mengurangi beban keterbatasan lahan untuk pengembangan perusahaan di kawasan industri; b. Meningkatkan fleksibilitas dalam pengembangan produk baru & penyesuaian dengan perkembangan teknologi, sehingga perusahaan dapat berkonsentrasi untuk mengembangkan produk baru & teknologi; c. Produk yang sudah stabil & menggunakan teknologi lama bisa dikembangkan di perusahaan mitra (outsourcing); d. Meningkatkan daya saing perusahaan dengan effisiensi penggunaan fasilitas & teknologi yang berkembang pesat. 5. ALASAN UNTUK OUTSOURCING: 16

a. Fokus pada core bisnis; b. Perampingan organisasi; c. Peningkatan produktivitas; d. Pekerjaan musiman; 6. KAPAN OUTSOURCING DIBUTUHKAN: a. Cara kerja yang sudah tidak efisien; b. Operation cost yang tinggi; c. Secara kualitas kemampuan kurang bersaing; d. Daya kompetisi rendah. Padahal, perusahaan-perusahaan pengguna outsourcing itu banyak yang merupakan perusahaan besar, yang sebenarnya sudah sangat kredibel menangani hal-hal semacam perekrutan. Seperti: Telkomsel, PT Pembangunan Jaya (Ancol), Unilever, Bank Niaga, Bank Mandiri, Bank ABN Amro, dll. Mengenai adanya ketidakpercayaan pada sistem outsourcing, Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia, Sjukur Santo, mencoba memberikan pandangannya mengenai ketidaknyaman para fresh grad untuk mencari pekerjaan lewat perusahaan outsourcing. Beliau mengatakan, hal tersebut mungkin saja terjadi karena hingga kini masih ada saja perusahaan outsourcing yang berlaku tidak adil terhadap karyawannya. Di lain pihak, Iftida Yasar selaku CEO PT Persaels dan Ketua Umum Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI) straight to the point mengatakan kalau ada perusahaan outsourcing yang berlaku ‘aneh’ seperti itu, sudah bisa dipastikan perusahaan tersebut adalah perusahaan outsourcing gadungan, yang hanya mencari kesempatan di atas kesempitan. Perusahaan-perusahaan ini ‘ngerjain’ job seekers dengan cara yang bermacam-macam. Mereka yakin, karena kita sangat butuh pekerjaan maka kita akan melakukan apa saja asal bisa dapat pekerjaan. Selain itu, ketidaktahuan kita akan hak-hak pekerja juga bisa menjadi celah bagi kita untuk dibodohi. (persaels)

B. Kerugian Menggunakan Outsourcing (X2)

17

Pada prinsipnya outsourcing employee atau pekerja outsource atau pekerja kontrak adalah tenaga kerja yang diperbantukan didalam suatu perusahaan berskala menengah keatas tentunya dengan segala atribut kompetensinya, tetapi keberadaan mereka tidak terdapat didalam struktur organisasi perusahaan tersebut. Nah kemudian pertanyaannya, berada dimanakah mereka ?, siapa yang menggaji mereka ?, bertanggung jawab kepada siapakah hasil pekerjaan mereka ?, aturan-aturan pekerjaan siapakah yang harus dipenuhi dan dipatuhi oleh mereka ? kemudian bagaimana recruitment mereka ? dan masih banyak lagi pertanyaan dibenak saya dan juga mungkin dipemikiran sahabat tentang outsourcing employee ini. Saya akan mencoba memberikan informasi tentang hal ini kepada sahabat berdasarkan pengalaman saya sendiri yang pernah mengalami kondisi seperti ini. Sebenarnya apa sih keuntungan yang didapat oleh suatu perusahaan yang menggunakan jasa tenaga kerja outsourcing ini ? Dua kalimat sakti bisa menjawab pertanyaan ini yaitu efisiensi cost pengeluaran rutin dan minimalisasi resiko perusahaan. Efisiensi cost pengeluaran rutin diantaranya adalah : 1. Pengeluaran gaji atau salary, tentu saja sangat jauh berbeda gaji yang diterima oleh karyawan yang “diakui” perusahaan dengan outsourcing employee dengan beban kerja yang rata-rata harus dipikul oleh outsource employee lebih besar dari karyawan yang “diakui” oleh perusahaan. Secara umum perbandingan atau selisih gaji yang diterima outsorce employee paling besar 1/4 dari gaji karyawan yang “diakui” perusahaan. Tentunya dengan asumsi segala atribut kompetensi, pengalaman, dan skill keduanya sama. Jadi apabila karyawan yang “diakui” perusahaan tersebut mendapat gaji Rp. 1000,000,- dengan posisi yang sama, kompetensi yang sama, pokoknya semua sama deh, maka outsorce employee hanya mendapat Rp. 250.000,- saja. Dari hal ini dapat kita bayangkan berapa banyak yang dapat dihemat perusahaan dengan 1 item ini saja. 2. Tunjangan tetap dan tunjangan tidak tetap, seluruh tunjangan tetap dan tidak tetap yang diterima sangat-sangat jauh perbedaannya yang penjelasannya hampir persis sama dengan point 1 diatas

18

3. Bonus/reward, bisa dikatakan outsource employee tidak bisa mendapatkan bonus apa-apa dari hasil pekerjaannya yang luarbiasa baik dibandingkan dengan karyawan yang “diakui” perusahaan yang berlimpah-limpah bonus 4. Fasilitas-fasilitas perusahaan, termasuk didalamnya kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan dan kegiatan perusahaan seperti family gathering, perlombaan memperingati hut perusahaan dan lain sebagainya. keterlibatan outsource disini barangkali hanya sebagai pekerja yang maaf –kasar — dan bukan sebagai penikmat dalam artian sebenarnya. 5. Dan masih banyak lagi efisiensi cost yang bisa dihemat oleh perusahaan yang menggunakan jasa outsource ini. Berikutnya, perusahaan juga dapat melakukan minimalisasi resiko perusahaan, seperti : 1. Resiko hukum dan perundangan 2. Resiko ketidakpuasan atas keputusan yang dikeluarkan perusahaan 3. Resiko pertanggungjawaban atas kecelakaan kerja 4. Resiko non teknis atas keputusan yang harus dikerjakan oleh outsource 5. dan banyak lagi resiko yang dapat diminimalisasikan oleh perusahaan Jika saya berdiri diposisi perusahaan, tentulah saya mendapat porsi keuntungan yang besar dalam menjalankan roda perusaahan, tapi pada kenyataannya saya berada pada posisi dimana saya adalah bagian dari pekerja outsource. Nah, kemudian jika kita bertanya bagaimana perasaan bila berada diposisi tersebut, maka saya akan menjawab bahwa saya mengalami apa yang saya namakan neo slavery diperusahaan tempat saya bekerja. Saya tidak mengulas ulang tentang bagaimana pendapatan yang saya terima, tapi ini nantinya akan ada hubungannya dengan pendapatan. Yang akan saya ungkapkan adalah bagaimana pengkebirian ide, motivasi, pengkerdilan citra diri, dan “peng-underestimatenya kemampuan, serta terbentuknya feodalisme baru dilingkungan kerja saya. Bagaimana tidak sahabat, dimulai dari rekrutment yang samasekali tidak jelas batasan kopetensi yang diuji, dan kemudian kopetensi pengujinya — yang belakangan baru ketahuan kualitas sebenarnya si penguji ini — Kemudian yang menguji itu samasekali

19

tidak dari perusahaan tempat kita menginduk, tetapi perusahaan yang menggunakan jasa kita [sampai saat ini saya belum melihat aturan yang jelas mengenai hal tersebut]. Yang jelas bagi saya adalah lo punya backing kuat, lo masuk, walaupun didalam hasil rekrutment seseorang tersebut dinilai belum layak digunakan. Kemudian yang jelas juga bagi saya adalah prinsip like and dislike dalam hal penentuan penerimaan tenaga outsource. Kemudian, sangat tidak jelasnya kontrak kerja yang disodorkan kepada pekerja outsource, apakah angka-angka yang tertera tersebut sesuai dengan komitmen perusahaan pemakai jasa ? Ditempat saya bekerja lagi-lagi belakangan diketahui bahwa hasil keringat kita dipotong rata-rata 30% untuk kepentingan perusahaan induk, menyebalkan bukan? Masih dalam lingkup kontrak kerja, banyak pasal-pasal dalam kontrak kerja yang benar-benar tidak menunjukkan azas keadilan atau win-win solusion. Pertanyaannya adalah, kenapa saya mau menandatangani kontrak kerja tersebut ? Jawabannya sederhana sahabat, karena saya pada waktu itu belum tahu dan belum pernah bekerja sebagai pegawai kontrak. Bukan alasan saya membutuhkan uang — walaupun hal itu juga memotivasi saya untuk bekerja – Begitu banyak ide yang menurut saya begitu membangun dan mendinamisasikan etos kerja yang tinggi yang kemudian ditolak mentah-mentah hanya karena ide tersebut keluar dari kepala seorang pekerja outsource, dan kemudian dengan doktrin-doktrin perilaku membentuk karakter kerja “penjilat” bagi umumnya pekerja outsource dilingkungan kerja saya. Feodalisme, itu barangkali idiom yang tepat mengenai hubungan antara pegawai yang “diakui” dengan outsource di perusahaan saya. Dalam sistem feodal, kita akan mengenal yang namanya majikan dan budak. Majikan hanya mengenal kebaikan, budak harus keburukan, jika majikan salah, maka budak sebagai kambing hitamnya, jika budak salah ya disiksa atau diperlakukan semena-mena. Dan dizaman Indonesia menghirup udara segar kemerdekaan seperti saat ini, sangat banyak perilaku-perilaku perbudakan baru yang bermunculan, baik itu yang menimpa tenaga kerja yang samasekali tidak mempunyai skills sampai tenaga kerja yang mempunyai pengalaman dan skills

20

C. Implikasi Outsourcing terhadap Pertumbuhan Ekonomi (X3) Implikasi yang dapat terjadi akibat Outsourcing yaitu : 1. Akan terjadi restrukturisasi kegiatan industri secara nasional yang akan mengakibatkan keresahan dikalangan UKM; UKM akan kehilangan kesempatan untuk berusaha karena semua kegiatan industri akan dipusatkan di perusahaan induk; Berkurangnya kesempatan kerja karena perusahaan harus menggunakan teknologi tinggi untuk meningkatkan efisiensi; Hambatan terhadap perkembangan ekonomi secara nasional. 2. Permasalahan hubungan industrial yang biasa dihadapi di lapangan. Dilibatkannya Perusahaan Pemberi Pekerjaan oleh pekerja kontraktor / kontraktor dalam perselisihan hubungan industrial mereka; Ikut campurnya oknum karyawan Perusahaan Pemberi Pekerjaan dalam penentuan pemilihan pekerja kontraktor secara langsung; Terlibatnya Perusahaan Pemberi Pekerjaan (oknum karyawan) dalam penentuan remunerasi kontraktor; Proteksi kedaerahan pekerja lokal yang berlebihan; Penyelesaian perselisihan hubungan industrial dicampur-adukan dengan masalah sosial; Pemaksaan penyelesaian masalah perburuhan dengan cara politis; Kurangnya antisipasi kemungkinan terjadinya perselisihan; Perburuhan dalam kontrak dokumen.

21

BAB IV PEMBAHASAN

Pro-Kontra Outsourcing (Y)
Praktik bisnis outsourcing yang telah lama dilakukan negara-negara maju kini mulai berkembang di Indonesia, meskipun masih lebih tepat disebut "labor contracting" ketimbang outsourcing yang sebenarnya. Kegiatan mensubkontrakkan pekerjaan ini oleh sebagian kalangan dianggap sebagai bentuk perbudakan baru atau memperlemah posisi pekerja. Inilah solusi terhadap tingkat pengangguran yang begitu tinggi saat ini dan kebutuhan perusahaan untuk benar-benar kompetitif. Di mana letak pro-kontranya? Setiap kali membicarakan istilah outsourcing, maka hal yang pertama kali teringat adalah kasus pegawai kontrak yang terjadi di Bank BNI. Para pegawai kontrak Bank BNI berdemo di Bank BNI, DPR, dan kantor pusat Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans). Kondisi ini, tak pelak, mempengaruhi operasional Bank BNI. Puncaknya tahun 2003 lalu, Pemerintah, dalam hal ini Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) bertindak sebagai mediator pertemuan tripartit (pemerintah, perusahaan, dan pekerja). Pertemuan itu menghadirkan Direktur Utama Bank BNI waktu itu Saefuddien dan wakil para pekerja. Hasilnya, seperti yang tersiar di berbagai media massa, pertemuan tersebut gagal menghasilkan kesepakatan. Betapa panasnya suasana pertemuan itu terlihat dari dikejarnya mobil Saefuddien oleh wakil para pekerja yang bertindak emosional. Badan mobil tersebut digedor-gedor, dan mereka meminta Saefuddien untuk turun. Beruntung, mobil yang ditumpangi Saefuddien berhasil meloloskan diri. Dan, pertemuan tersebut berakhir tanpa penyelesaian. Mediasi oleh Depnaker pun gagal. Lantas, apa yang sesungguhnya terjadi di Bank BNI? Awalnya adalah ketika tahun 2000, IMF menilai Bank BNI kelebihan pegawai. Hasil ini diperoleh setelah konsultan bisnis Booz Allen Hamilton yang diminta melakukan studi oleh IMF mengeluarkan rekomendasinya. Bila Bank BNI ingin tetap bertahan dan tidak ditutup, IMF meminta Bank BNI untuk mengurangi jumlah pegawai. Hingga 2001, Bank BNI berkutat dalam melakukan rightsizing. Tetapi, perkembangan yang terjadi pada unit-unit bisnis Bank BNI,

22

mengharuskan Bank BNI menambah tenaga kerja namun bukan permanen sifatnya. Para pegawai tersebut dikontrak oleh Bank BNI melalui Koperasi Swadharma milik Karyawan dan Pensiunan Bank BNI. Dengan demikian, pegawai tersebut bekerja di Bank BNI, bukan karyawan Bank BNI melainkan karyawan koperasi. Dalam salah satu klausul perjanjian kerja antara si karyawan kontrak dengan Koperasi disebutkan, pegawai kontrak akan diangkat menjadi pegawai tetap Bank BNI bila ada formasi dan mereka lulus seleksi. Bila lulus, mereka menjadi pegawai tetap Bank BNI, dan jika tidak lulus, tetap menjadi karyawan Koperasi. Inilah pangkal soalnya. Terbatasnya jumlah karyawan kontrak yang bisa diterima menyebabkan sebagian besar karyawan kontrak tetap berstatus karyawan kontrak. Kondisi ini terasa menyakitkan bagi karyawan kontrak yang telah bekerja beberapa tahun dan berharap satu hari kelak mereka diangkat menjadi karyawan tetap. Mereka berontak setelah sadar tidak lagi berpeluang menjadi karyawan tetap Bank BNI. Pihak Bank BNI merasa, karyawan kontrak itu memaksakan kehendaknya di luar perjanjian kerja yang telah disepakati sejak awal. Sementara, karyawan kontrak menilai, manajemen Bank BNI telah berlaku tidak adil. Rendahnya kemampuan manajerial koperasi terhadap karyawan kontrak ini ikut memperburuk situasi. Itu sebabnya, lebih dari 6 bulan lalu, Koperasi memutuskan mendirikan perusahaan khusus menangani outsourcing tenaga kerja Bank BNI dengan nama PT Persona Prima Utama (PPU), yang mengambil-alih pengelolaan karyawan kontrak Bank BNI dari Koperasi Swadharma. "Dengan demikian, seluruh urusan terkait dengan karyawan kontrak, kini menjadi tanggung jawab perusahaan ini," ujar Basanto Purno, Direktur Utama PPU, kepada Human Capital. Persoalan pegawai kontrak di Bank BNI itu membuka mata banyak pihak tentang praktik outsourcing tenaga kerja yang ternyata telah berlangsung di Indonesia. Kendati yang ditonjolkan lebih kepada ekses negatif dari kegiatan outsourcing. Media massa memang lebih tertarik memberitakan sisi negatif pegawai kontrak di Bank BNI. "Itu karena media berprinsip good news doesn't sell," ujar Eddy S. Tjahja, Managing Director JobsDB.com, media sumberdaya manusia (SDM) berbasis Internet. Kenyataannya, kasus pegawai

23

kontrak di Bank BNI itu berdampak besar terhadap pengembangan praktik outsourcing di Indonesia. Hal ini diakui oleh Iftida Yasar, Presiden Direktur Persaels, sebuah perusahaan jasa bidang outsourcing. "Kasus Bank BNI itu menjadi referensi buruk bagi penerapan kegiatan outsourcing secara profesional. Padahal, kejadian itu hanya kasus saja karena waktu itu manajemen outsourcing masih ditangani koperasi." Saat Bank BNI menerapkan sistem pegawai kontrak itu, praktik outsourcing tenaga kerja masih relatif baru di Indonesia. Toh manajemen Koperasi Swadharma Bank BNI mengambil hikmah dari kasus tersebut dengan mendirikan PT PPU sebagai wadah professional dalam mengelola pegawai kontrak, khususnya untuk Bank BNI. Terbukti sejak manajemen pegawai kontrak diambil-alih PPU, tutur Direktur PPU I.K. Eko Sumarno, tidak ada lagi masalah besar muncul ke permukaan. KENAPA HARUS OUTSOURCING? (X1) Praktik outsourcing sebetulnya bukan hal baru di dunia. Sebelum Perang Dunia II, Kerajaan Inggris telah menerapkan hal ini dengan merekrut serdadu Gurkha yang terkenal dengan keberaniannya. Saat Perang Dunia II berlangsung, 1945-1950, Amerika Serikat adalah negara yang paling banyak menerapkan outsourcing untuk keperluan perang. Praktik outsourcing kemudian berkembang luas di perusahaan multinasional sejalan dengan perlunya mereka beroperasi secara efisien dan focus terhadap bisnis mereka. Perancis kini merupakan negara yang paling berkembang dalam menerapkan outsourcing. Hampir seluruh perusahaan Perancis, dalam berbagai skala, menerapkan praktik outsourcing dalam menjalankan usaha. Ada banyak hal yang mendorong berkembangnya kegiatan outsourcing. Alasan utama, tentu saja, untuk efisiensi usaha. Pakar manajemen Charles T. Fote, misalnya, mengatakan untuk bisa efisien, perusahaan jangan mengerjakan semua hal sendiri. Selain lebih efisien, praktik outsourcing juga mengurangi panjang dan rumitnya mata rantai kendali manajemen usaha. Tanpa outsourcing, perusahaan akan semakin tambun sehingga tidak lincah bergerak. Di sisi lain, perusahaan juga harus semakin fokus pada bidang-bidang yang dinilainya strategis, seperti dikatakan pakar manajemen Al Ries. Fokus pada bidang keahlian utamanya dan tidak lari kemana-mana, termasuk mengurusi hal-hal tetek bengek. Prinsip ini juga sejalan dengan keyakinan bahwa ada jenis pekerjaan tertentu yang memerlukan

24

penanganan khusus oleh tenaga-tenaga ahli tertentu. Dalam industri rekayasa global, umpamanya, praktik outsourcing untuk tujuan ini diterapkan secara meluas dalam industri pesawat terbang, otomotif, dan permesinan industri. Industri tersebut menyerahkan pendesainan pesawat, mobil, atau mesin kepada perusahaan khusus desain. Rancang-bangun mobil murah Maleo yang rencananya diproduksi Indonesia di era Habibie dilaksanakan oleh sebuah perusahaan Australia, yang juga mengerjakan hal yang sama untuk perusahaan otomotif lainnya. Perusahaan otomotif Jepang menyerahkan sebagian besar pekerjaannya kepada industri komponen yang memenuhi standar mereka. Selanjutnya, seluruh komponen itu dirakit di perusahaan otomotif tersebut. Perusahaan otomotif tersebut hanya focus pada desain dan pengembangan rancangbangun, memproduksi komponen tertentu, merakit, dan memasarkan mobil-mobil yang telah ditempeli merek mereka. Tengok pula apa yang dilakukan pemilik merek sepatu olahraga terkemuka di dunia macam Nike, Adidas, Fila, dan sebagainya. Mereka hanya fokus pada pengembangan desain sepatu, mendistribusikan, memasarkan, dan mengelola merek. Sedangkan kegiatan produksinya diserahkan kepada perusahaan-perusahaan lain yang tersebar di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Mereka memberikan order produksi kepada perusahaan-perusahaan yang mampu memberikan biaya dan mutu produksi terbaik. Dalam definisi umum, praktik semacam ini termasuk kegiatan global outsourcing, yaitu mensubkontrakkan produksi ke banyak perusahaan di dunia. Kegiatan bisnis semacam ini sering juga disebut global sourcing, mereknya sama namun diproduksi di banyak negara. Perusahaan perminyakan termasuk yang paling banyak melakukan kegiatan outsourcing, baik di dunia maupun di Indonesia. Kegiatan yang disubkontrakkan tidak hanya bidang transportasi, konsumsi, atau asuransi, tetapi meluas ke berbagai hal strategis lainnya. Mulai dari survei seismic untuk mencari cadangan minyak dan gas hingga kegiatan eksplorasi serta eksploitasi. Mereka menyewa rig untuk eksploitasi migas lepas pantai, dan menyerahkan perawatan peralatan kepada ahli dari Schlumberger, misalnya. Langkah Pertamina memperkenalkan praktik Kontraktor Production Sharing (KPS) sejak tahun 70-an, sejatinya juga tergolong kegiatan outsourcing. Di situ, KPS diberi hak mengelola

25

blok-blok migas tertentu sebagai mitra Pertamina. Kecuali karena beberapa alasan di atas, tidak dapat dipungkiri, ada juga perusahaan multinasional yang menerapkan outsourcing dalam upaya menekan biaya buruh atau tenaga kerja. Praktik global outsourcing yang terjadi pada industri sepatu maupun industri TPT (tekstil dan produk tekstil) - dua industri yang sering disebut sebagai sunset industry karena selalu mencari lokasi dengan biaya produksi termurah - tergolong pada kategori di atas. Merek-merek global itu selalu mencari negara-negara dengan biaya buruh murah untuk basis produksi. Produk akhirnya dijual dengan dolar, yang harganya bisa 10 kali lipat dari harga pembelian merek tersebut dari para produsen. Sementara, gaji tenaga kerja tetap dibayar mengikuti standar minimum macam UMR (Upah Minimum Regional) atau UMP (Upah Minimum Propinsi). Namun demikian, melimpahnya pasokan tenaga kerja dibandingkan lapangan kerja yang tersedia, menyebabkan para tenaga kerja tidak memiliki pilihan lain, selain menerima fakta tersebut. Itu pulalah yang terjadi di Indonesia, saat pengangguran makin menjadijadi pasca krisis ekonomi 1997. Dewasa ini, tingkat pengangguran telah mencapai 44 juta orang lebih akibat lambatnya penciptaan lapangan kerja baru dan terus bertambahnya tenaga kerja baru. Artinya, rata-rata di setiap rumah tangga, yang bekerja penuh hanya satu orang saja. Sisanya menganggur. Hukum ekonomi menyebut fakta ini sebagai seller's market, di mana pasokan buruh terlalu besar dibandingkan permintaan, sehingga harga buruh cenderung tertekan. Dalam kondisi yang memprihatinkan ini, outsourcing sangat membantu mengurangi pengangguran tersebut. Para pekerja bisa mendapatkan pekerjaan, meskipun dalam bentuk kontrak kerja dalam jangka waktu tertentu (PKWT/Perjanjian Kerja Waktu Tertentu). Upah yang diterima bahkan bisa lebih besar untuk pekerjaan tertentu karena sifatnya kontrak. Pilihan bagi pencari kerja adalah, menerima semua kondisi ini atau tetap menjadi pengangguran. "Saya kira, pilihan pertama jauh lebih baik," tukas Kemalsjah Siregar, Managing Partner Firma Hukum Kemalsjah Chemby Avriline. Dengan bekerja, lanjutnya, karyawan bisa bersosialisasi dengan baik dan mengasah keterampilannya. Jika ada lowongan yang sesuai dan bisa memberikan gaji serta fasilitas yang diharapkan, ia

26

bisa melamar untuk mengisi lowongan tersebut. Daripada jadi pengangguran dan tinggal di rumah, jelas ini sebuah pilihan yang jauh lebih baik. "Manfaat utama outsourcing akan sangat dirasakan oleh para lulusan baru yang kesulitan untuk memasuki dunia kerja," kata Ismaila Tyastanto, Managing Director PT HITSS Sumberdaya Nusantara Konsultan, sebuah perusahaan jasa outsourcing. Kebanyakan perusahaan pemberi jasa outsourcing (user) mencari tenaga kerja berusia muda untuk menangani bidang pekerjaan tertentu. Selain gajinya lebih murah, anak-anak muda itu masih mudah dididik, haus pengalaman, dan bisa bekerja keras. Perusahaan tidak merasa rugi jika harus memberikan pelatihan pembekalan bagi mereka dalam mengerjakan tugasnya secara profesional. Melalui perusahaan jasa outsourcing, mereka bisa bekerja di perusahaan-perusahaan besar, meskipun bukan menjadi karyawan perusahaan besar itu. Dalam situasi normal, peluang bekerja di perusahaan besar itu belum tentu tersedia. Apalagi, setelah krisis ekonomi, perusahaanperusahaan kini sangat berhati-hati menambah karyawan. Mereka ingin seramping mungkin dan terhindar dari kompleksitas aturan ketenagakerjaan. Konsekuensi dari penambahan karyawan permanen tidak hanya menyangkut gaji dan fasilitas, tetapi juga dana pensiun dan jenjang karir. Oleh sebab itu, mereka menyiasati kebutuhan tenaga kerja akibat tuntutan perkembangan usaha diisi melalui outsourcing. Tidak semua kalangan internal perusahaan menerima praktik outsourcing ini dengan tangan terbuka. Serikat Pekerja (SP) dan karyawan tetap, misalnya, cenderung menolak gagasan outsourcing ini. Mereka khawatir praktik ini akan mengancam posisi karyawan tetap dan mengacaukan system remunerasi perusahaan. "Karyawan tetap merasa was-was, setiap saat mereka bisa saja diganti karyawan outsourcing atau bila bagiannya di-outsource ke luar," ujar seorang karyawan senior sebuah bank yang enggan disebutkan namanya. Kekhawatiran ini, agaknya, terlalu berlebihan. Kalaupun bagian dia dioutsource ke luar, perusahaan juga tidak semenamena. Misalnya departemen atau divisi teknologi informasi. Bila disubkontrakkan kepada perusahaan penyedia jasa secara penuh, mulai dari peralatan hingga SDMnya, ada satu perjanjian yang menyebutkan seluruh karyawan departemen/divisi tersebut harus diambil-alih oleh perusahaan jasa penerima outsourcing. "Otomatis, mereka berubah status menjadi karyawan kami, dengan sistem remunerasi yang bersaing," ungkap

27

Andreas R. Diantoro, Managing Director Hewlett-Packard Indonesia. HP Indonesia menerima outsourcing peralatan TI (PC, server, mainframe, printer, dan lainnya) berikut pengelolaannya kepada perusahaan-perusahaan yang beroperasi di sini. Jasa penyewaan ini untuk produk PC disebut dengan seat management. Selain menyediakan piranti keras, pengelolaan dan perawatan peralatan dilakukan sepenuhnya oleh orang-orang HP. "Ini akan membuat biaya operasional dan investasi perusahaan bisa ditekan," tambahnya. Tentang tuduhan praktik outsourcing sebagai bentuk perbudakan baru atau modern? "Itu jelas tidak berdasar," tukas Iftida, Ismaila, dan Hasanuddin Rahman. Meski mengaku ada juga perusahaan outsourcing yang nakal, mereka menilai tuduhan itu muncul dari orang yang tidak paham tentang manajemen bisnis. Sebelum bekerja, pekerja maupun perusahaan telah membuat kesepakatan yang jelas dan saling menguntungkan. "Lagi pula, sebagian besar perusahaan jasa outsourcing dimiliki atau dikelola oleh orang-orang yang telah lama bergerak di bidang SDM sehingga tidak mungkin mereka semena-mena," ungkap mereka. KONTROVERSI PERATURAN (X2) Sejatinya, Indonesia belum memiliki Undang-Undang atau Peraturan Hukum yang secara jelas mewadahi kegiatan outsourcing. Menurut Purbadi Hardjoprajitno, SH., dari Firma Hukum Purbadi Associates, satu-satunya referensi hukum tentang outsourcing adalah UU N0. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 64, 65, dan 66. UU itu tidak menyebutkan outsourcing, melainkan hanya tentang perjanjian pemborongan pekerjaan dan penyediaan jasa tenaga kerja. Dengan demikian, sebuah perusahaan bisa memborongkan sebagian pekerjaan atau pekerjaan tertentu kepada perusahaan pemborong pekerjaan. Atau menyerahkan tenaga pengelola kepada perusahaan jasa penyedia tenaga kerja. Meski tidak letterlijk menyebut outsourcing, kedua hal itu kiranya bermakna outsourcing. Walaupun begitu, terdapat sejumlah kerancuan pada pasal-pasal tentang kegiatan outsourcing dalam UU No. 13 tersebut, jika praktik pemborongan pekerjaan dan tenaga kerja itu dianggap sama dengan outsourcing. Pasal 65 menyebutkan, pekerjaan yang dapat diserahkan kepada perusahaan lain harus memenuhi syarat-syarat berikut: dilakukan terpisah dari kegiatan utama, dilakukan dengan perintah langsung/tidak

28

langsung dari pemberi pekerjaan, merupakan kegiatan penunjang perusahaan secara keseluruhan, dan tidak menghambat proses produksi secara langsung. Pasal 66 menjelaskan, pekerja/buruh dari perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh tidak boleh digunakan oleh pemberi kerja untuk melaksanakan kegiatan pokok atau kegiatan yang berhubungan langsung dengan proses produksi (core business), kecuali untuk kegiatan jasa penunjang atau kegiatan yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi (dalam penjelasan Pasal 66 disebutkan, antara lain, cleaning service, catering, satpam, usaha jasa penunjang di pertambangan dan perminyakan, angkutan pekerja). Benang merah dari kedua pasal itu adalah adanya batasan jenis-jenis kegiatan yang boleh diborongkan dengan yang tidak. Di sinilah muncul ketidakjelasan atau kerancuan penafsiran tentang UU tersebut. S. Lumban Gaol, Direktur Persyaratan Kerja Depnakertrans, menegaskan, ada perbedaan mendasar antara outsourcing dalam dunia bisnis dengan pengalihan pekerjaan dan tenaga kerja kepada pihak lain dalam UU Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003 itu. "Dalam dunia bisnis, semua pekerjaan bisa dioutsourcing, sedangkan dalam UU Ketenagakerjaan pekerjaan yang bisa diborongkan kepada pihak lain adalah pekerjaan yang sifatnya penunjang, bukan pekerjaan pokok atau core business," ujarnya. Ia memberi contoh, pekerjaan teller di perbankan termasuk pekerjaan pokok, karena kegiatan perbankan akan terhenti secara keseluruhan kalau pekerjaan teller terhenti atau terganggu. Oleh karena itu, menurutnya, pekerjaan teller tidak bisa diborongkan atau diserahkan kepada pihak lain. Bila pihaknya menemukan pelanggaran, maka Depnakertrans akan memaksa perusahaan bersangkutan merekrut karyawan tersebut menjadi karyawannya. "Tidak ada sanksi pidana atas pelanggaran ini. Tapi demi hukum, dengan sendirinya karyawan itu harus menjadi karyawan perusahaan tersebut," jawabnya. Menurut DR. H. Hasanuddin Rahman, Ketua DPN Apindo Bidang Hubungan Industrial Advokasi, ketidakjelasan utama UU tersebut adalah soal definisi core business sebuah perusahaan. "Pemerintah dan pelaku usaha memang belum sepaham tentang banyak hal dari kegiatan outsourcing," katanya serius. UU tersebut menilai core business terkait dengan proses produksi. Sementara kemajuan jaman menyebabkan kegiatan produksi atau core business itu bergeser.

29

Seperti produsen mobil Toyota di Jepang, sebagian besar pengerjaan produknya diserahkan kepada perusahaan lain. Di Indonesia, pabrik-pabrik otomotif juga menuju ke sana. Paling-paling mereka hanya memproduksi komponen penting macam mesin, transmisi, dan axle. Sisanya diserahkan pengerjaannya kepada perusahaan komponen. Bila UU itu diterapkan, praktik bisnis global ini tidak cocok dan menjadi terlarang. Bagaimana dengan bisnis jasa? Sami mawon. Teller dan layanan nasabah di perbankan, misalnya, termasuk kegiatan core business. Tapi, jika perusahaan menetapkan fungsi teller bukan merupakan core business karena bisa digantikan oleh mesin ATM dan delivery channel lainnya, maka jabatan-jabatan tersebut kini mulai di-outsourcing ke perusahaan lain karena perusahaan merasa tidak efisien lagi mengelolanya. Praktik ini dilakukan oleh bank-bank global ataupun bank-bank besar lokal. Bagi perbankan global, hal ini sudah menjadi praktik bisnis global sehingga mereka tinggal mengadopsinya di Indonesia. Bahkan, dalam bisnis kartu kredit, proses bisnisnya banyak yang dioutsourcing ke perusahaan lain. Mereka mengandalkan karyawan outsourcing untuk mengelola bisnis, pemasaran, penagihan, dan layanan nasabah. N. Krisbiyanto, GM Human Resources PermataBank, menangkap kesan adanya kekeliruan penafsiran berbagai pihak - termasuk pemerintah - saat ini terhadap praktik outsourcing. "Yang terjadi di Indonesia sebetulnya baru pada taraf contracting, belum sampai ke outsourcing," ujarnya serius. Padahal, menurut Kris�- begitu sapaan akrabnya - dua hal itu sangat berbeda. Kris mungkin benar. Apa yang tertulis di UU Indonesia lebih berbau contracting ketimbang outsourcing. Dalam kegiatan contracting, perusahaan pemberi kerja berperan penuh dalam kontrol proses bisnis dan atas kualitas kerja. Sementara perusahaan penyedia jasa hanya menyediakan tenaga kerja dan mengikuti standard proses bisnis. Secara definisi, menurut Kris, outsourcing adalah suatu pendelegasian dari satu atau beberapa proses bisnis kepada pihak luar di mana pihak tersebut akan melakukan proses administrasi dan proses manajemen tertentu berdasarkan definisi dan ukuran kinerja tertentu, yang telah disepakati bersama dalam satu kontrak kerja antara pemberi kerja dan penyedia jasa.

30

Untuk mengatasi ketidakjelasan peraturan ini, diperlukan peraturan pelaksana yang menyempurnakan UU No. 13 2003 itu berupa Keputusan Menteri Tenaga Kerja (Kepmenaker). Salah satu kemungkinan, menurut Drs. S. Sianturi, Ketua P4 Pusat, adalah dengan memberikan batasan mana pekerjaan yang tergolong core business dan mana yang tidak untuk seluruh jenis industri. Atau membuat daftar jabatan/posisi yang termasuk core dan yang tidak. "Bisa pula dengan memberikan kebebasan bagi masingmasing perusahaan atau paling tidak masing-masing subsektor untuk merumuskan sendiri pekerjaan yang tergolong core dan non-core," ujarnya. Mewakili kalangan pengusaha, Hasanuddin Rahman juga meminta pemerintah untuk menyerahkan sepenuhnya kepada perusahaan untuk menentukan kegiatan yang dioutsourcing dan yang tidak. "Perusahaanlah yang paling tahu tentang jenis kegiatan yang perlu di-outsourcing dan mana yang tidak. Yang penting, perusahaan melakukannya tanpa merugikan siapapun," tukas Ketua Tim Perumus RUU Ketenagakerjaan Apindo/Kadin Indonesia itu. Hal senada disampaikan Sofjan Wanandi, Ketua Umum Apindo. "Kita semua harus realistis. Ekonomi masih sulit, sementara peraturan ketenagakerjaan begitu banyak dan ada yang tumpang tindih. Bagi perusahaan, outsourcing adalah pilihan yang tidak terhindarkan," tegasnya serius. Di tengah persaingan bisnis yang menajam, perusahaan punya hak untuk melakukan strategi bisnis yang memungkinkan mereka untuk bertahan dan berkembang. Tanpa kehadiran perusahaan yang sehat dan berkembang, penciptaan lapangan kerja sulit terwujud. Tanpa dukungan karyawan prefesional, perusahaan juga sulit berkembang. Keduanya berkaitan erat satu sama lain. Hanya saja, menurut Ismaila, pemerintah tidak perlu terlalu jauh ikut campur tangan mengatur bisnis outsourcing. "Di manapun, pemerintah yang terlalu mengatur hasilnya malah tidak baik," tegasnya. Salah satu ekses dari UU Ketenagakerjaan, para pegawai Depnakertrans kerap memata-matai dan menginterogasi pegawai kontrak di berbagai perusahaan. Niat baik Depnakertrans untuk melindungi kepentingan pekerja seringkali menimbulkan masalah, khususnya mengganggu ketenangan bekerja para karyawan

31

perusahaan tersebut. Dikhawatirkan tindakan seperti ini menimbulkan ekses lain, seperti upaya pemerasan, suap-menyuap, dan sejenisnya. Eddy S. Tjahja malah mempertanyakan apakah praktik outsourcing sudah saatnya untuk diatur. "Bisnis ini masih terlalu kecil untuk disebut sebuah industri di Indonesia. Pengaturan kiri-kanan justru membuat bisnis ini tidak berkembang," tambahnya. Pengaturan yang terlalu rigid akan menyulitkan dalam pelaksanaannya karena semakin kompleksnya manajemen perusahaan, berkembangnya bentuk-bentuk baru pengelolaan pekerjaan yang tidak dikenal sebelumnya, baik karena kompetisi maupun globalisasi bisnis melalui kehadiran perusahaan multinasional. Nafas dari peraturan yang dibuat pemerintah tentu untuk melindungi kepentingan berbagai pihak, khususnya tenaga kerja. Tidak seperti di luar negeri, Drs. S. Sianturi berpendapat, praktik outsourcing di Indonesia lebih banyak dilakukan untuk menekan biaya tenaga kerja. Hal itu terlihat dari hubungan kerja yang selalu dalam bentuk kontrak, upah lebih rendah, jaminan sosial dalam batas minimal, tidak adanya job security, dan tidak adanya jaminan pengembangan karir. Pendapat yang lebih kritis disampaikan oleh Yanuar Nugroho, Direktur The Business Watch Indonesia. "Outsourcing mengaburkan bentuk hubungan industrial yang tidak menguntungkan buruh. Ada beberapa hak buruh yang terpangkas dan bila ada perselisihan, terjadi saling lempar tanggung jawab antara perusahaan pemberi pekerjaan dengan perusahaan penyalur tenaga kerja," ungkapnya. Yanuar menilai, konsekuensi terbesar dari outsourcing adalah munculnya job insecurity. Selain mereka bekerja hanya selama masa kontrak yang relative pendek, ketidakpastian pekerjaan juga muncul selama masa kontrak kerja berlangsung. "Meski dalam keadaan sakit, si pekerja akan tetap masuk kerja karena takut kontraknya tidak diperpanjang." Kritik semacam ini perlu menjadi masukan bagi perusahaan pemberi kerja maupun perusahaan penerima kerja melalui outsourcing. Anggapan bahwa outsourcing sebagai bentuk perbudakan baru atau perbudakan modern harus direspons secara bijak. UU No. 13 2003 telah menggarisbawahi bahwa perlindungan dan syarat kerja karyawan kontrak minimal sama dengan yang berlaku di perusahaan pemberi pemborongan pekerjaan. Maknanya jelas.

32

Karyawan outsourcing yang ditempatkan di satu perusahaan harus memperoleh gaji dan fasilitas yang sama dengan karyawan tetap level yang sama di perusahaan itu atau minimal mendapatkan hak-haknya sesuai dengan peraturan yang berlaku. Pelanggaran atas ketentuan ini harus secepatnya dikoreksi. Bagaimanapun, para karyawan kontrak adalah asset utama perusahaan jasa outsourcing. "Kesejahteraan mereka perlu diperhatikan agar mereka bekerja secara sungguh-sungguh," Finny Widiyanti, Senior Manager PT Solusi Mitra Kerja, mengingatkan. Bila klien puas, kontrak kerja dengan perusahaan jasa outsourcing itu tentu akan terus diperpanjang. Hal itu juga menyebabkan kontrak kerja terhadap karyawan kontrak terus diperpanjang. SEBUAH KENISCAYAAN (X3) Satu hal yang pasti, praktik bisnis outsourcing sudah menjadi keniscayaan bagi perusahaan. Di negara maju macam Amerika, dari hari ke hari semakin banyak fungsi organisasi yang disubkontrakkan kepada perusahaan lain yang lebih pakar dan efisien di bidangnya. Fungsi dan proses bisnis di bidang teknologi informasi (TI) diserahkan kepada perusahaan TI raksasa seperti IBM dan HP yang lebih ahli di bidangnya. Kedua raksasa ini melayani outsourcing penuh di bidang TI, mulai dari perangkat keras, lunak, hingga SDM, melalui IBM Services dan HP Services. Fungsi dan proses bisnis audit diserahkan kepada perusahaan audit terkemuka seperti PricewaterhouseCopper, Ernst & Young, Deloitte, dan banyak lagi. Oleh perusahaan audit raksasa ini, pengerjaan audit yang bersifat teknis dioutsourcing lagi kepada perusahaan audit yang lebih kecil. Begitu pula fungsi dan proses bisnis manajemen SDM yang disebut dengan HR Outsourcing�meliputi pengelolaan gaji dan layanan informasi SDM. Nilai total outsourcing proses bisnis (Business Process Outsourcing) bidang SDM di Amerika diperkirakan tumbuh dari US,5 miliar menjadi US miliar tahun ini. Sungguh sebuah nilai yang sangat besar. Belakangan, outsourcing proses bisnis di bidang pelatihan dan pembelajaran juga semakin menjadi tren. Apakah dunia kiamat dengan meluasnya praktik outsourcing ini? Tentu saja tidak. Bahkan di negara Jepang sekalipun, yang dikenal dengan filosofi kerja seumur hidup (lifetime employment), praktik outsourcing meluas pula diterapkan. Jaman terus berubah

33

dengan berbagai konsekuensinya. Hari ini, kita mungkin masih belum siap dan merasa tidak nyaman dengan status pegawai kontrak itu. Beberapa tahun lagi, semuanya bisa saja berubah seiring dengan berubahnya paradigma dunia kerja. Bagi profesional berprestasi, status karyawan kontrak itu bukanlah sesuatu yang perlu dirisaukan. Apa yang perlu dilakukan kini adalah sosialisasi praktik outsourcing ini secara benar. Sosialisasi itu harus dilakukan pemerintah bekerjasama dengan para pelaku bisnis. Sosialisasi terbaik tentunya melalui pemberian contoh positif oleh perusahaan jasa outsourcing dalam mengelola karyawan kontrak. Kecuali itu, sosialisasi perlu untuk memberikan gambaran bahwa outsourcing tidak hanya untuk pegawai rendahan atau kelas asisten manajer. Auditsi, sebuah perusahaan jasa outsourcing di Indonesia, bahkan melayani pula outsourcing hingga level Presiden Direktur atau Chief Executive Officer (CEO). Sebuah perusahaan besar asing kini sedang mencari CEO untuk dikontrak 2 tahun dengan gaji US.000 plus bonus US.000 per bulan (total US.000 per bulan). Penghasilan yang sangat besar untuk ukuran Indonesia, bukan? Sosialisasi perlu juga dilakukan kepada perusahaan-perusahaan pemakai jasa outsourcing agar mereka memahami betul filosofi dasar dari kegiatan outsourcing ini, yaitu untuk mendapatkan biaya yang efektif (cost effective). Ada perusahaan yang salah kaprah menerapkan prinsip cost effective ini dengan benar-benar menekan biaya. Padahal, prinsip itu bermakna mengeluarkan biaya yang tepat guna. "Perusahaan harus melihat mana biaya tetap yang bisa diubah menjadi biaya variabel," tutur Ismaila. Baik Iftida maupun Ismaila meminta perusahaan untuk bertindak bijak dengan mau membayar sedikit lebih mahal sehingga kualitas yang diperoleh user jauh lebih bagus. "Kalau maunya murah-murah melulu, hasilnya juga tidak akan bagus," tukas mereka di tempat terpisah. Kemauan berbagai pihak untuk terus menyempurnakan pelaksanaan praktik outsourcing diyakini akan mempercepat perkembangan bisnis outsourcing secara profesional. Tahun ini, eksekutif Persaels Farid Aidit memperkirakan kebutuhan karyawan outsourcing baru sekitar 15.000 pegawai. "Setidaknya hal ini bisa membantu penyerapan tenaga kerja dan mengurangi pengangguran," tukasnya.

34

Terobosan dalam penciptaan lapangan kerja baru memang perlu diambil pemerintah mengingat tingkat pengangguran yang terus bertambah dan berkurangnya kesempatan kerja di sektor formal sejak 2001 hingga 2003. Pemerintah sendiri, menurut Direktur Ketenagakerjaan dan Analisis Ekonomi Bappenas Dr. Ir. Bambang Widianto, MA., menilai perlunya diterapkan Flexible Labor Market Policies, antara lain, dengan outsourcing. Kebijakan tersebut bertujuan untuk menciptakan kesempatan kerja di sector yang relatif modern, memungkinkan perpindahan pekerja dari pekerjaan dengan produktivitas rendah ke pekerjaan yang memiliki produktivitas lebih tinggi, dan mempertahankan atau meningkatkan kesejahteraan bagi mereka yang masih berada di sektor informal. Di tengah keterpurukan perekonomian saat ini, tidak banyak pilihan yang tersedia bagi angkatan kerja. Mereka dihadapkan pada pilihan bekerja dengan kondisi yang kurang memuaskan atau tetap menganggur. Tumbuhnya bisnis outsourcing professional diharapkan memperbaiki pilihan sulit itu.

35

BAB V KESIMPULAN & SARAN Kesimpulan Outsourcing (Alih daya) sebagai suatu penyediaan tenaga kerja oleh pihak lain dilakukan dengan terlebih dahulu memisahkan antara pekerjaan utama (core business) dengan pekerjaan penunjang perusahaan (non core business) dalam suatu dokumen tertulis yang disusun oleh manajemen perusahaan. Dalam melakukan outsourcing perusahaan pengguna jasa outsourcing bekerjasama dengan perusahaan outsourcing, dimana hubungan hukumnya diwujudkan dalam suatu perjanjian kerjasama yang memuat antara lain tentang jangka waktu perjanjian serta bidang-bidang apa saja yang merupakan bentuk kerjasama outsourcing. Karyawan outsourcing menandatangani perjanjian kerja dengan perusahaan outsourcing untuk ditempatkan di perusahaan pengguna outsourcing. Karyawan outsourcing selama ditempatkan diperusahaan pengguna jasa outsourcing wajib mentaati ketentuan kerja yang berlaku pada perusahaan outsourcing, dimana hal itu harus dicantumkan dalam perjanjian kerjasama. Mekanisme Penyelesaian perselisihan ketenagakerjaan diselesaikan secara internal antara perusahaan outsourcing dengan perusahaan pengguna jasa outsourcing, dimana perusahaan outsourcing seharusnya mengadakan pertemuan berkala dengan karyawannya untuk membahas masalah-masalah ketenagakerjaan yang terjadi dalam pelaksanaan outsourcing. Dewasa ini outsourcing sudah menjadi trend dan kebutuhan dalam dunia usaha, namun pengaturannya masih belum memadai. Sedapat mungkin segala kekurangan pengaturan outsourcing dapat termuat dalam revisi UU Ketenagakerjaan yang sedang dipersiapkan dan peraturan pelaksanaanya, sehingga dapat mengakomodir kepentingan pengusaha dan melindungi kepentingan pekerja. SARAN

Memilih Perusahaan Outsourcing
Pilih perusahaan outsourcing yang dapat berperan sebagai konsultan. Perusahaan outsourcing yang profesional akan mampu memberikan opini dan alternatif solusi bagi masalah yang berkaitan dengan rekrutmen, seleksi, penentuan profile 36

karyawan, penerapan disiplin sampai dengan pemutusan hubungan kerja. Selain mematuhi hukum yang berlaku, perusahaan outsourcing yang baik juga harus bisa berperan sebagai advisor yang dapat memberikan pandangan bagi langkah dan kebijakan yang diambil oleh perusahaan pengguna sehingga dapat terhindar dari potensi kerugian di masa mendatang. Jangan memilih perusahaan outsourcing yang meluluskan apa saja keinginan perusahaan pengguna. Sebagai advisor, perusahaan outsourcing harus mampu memberikan gambaran di muka mengenai peraturan yang berlaku, keamanan, kemampuan perusahaan, efektifitas, efesiensi kerja dan mana yang harus dilakukan oleh perusahaan pengguna dan mana yang harus dilakukan oleh perusahaan outsourcing. Pilih perusahaan-perusahaan outsourcing yang dapat berperan sebagai "administrasi expert". Pilih penyedia jasa outsourcing yang dapat menjaga kualitas kerjanya dengan selalu memberikan jasa yang tepat waktu dan dapat diukur, serta mempunyai sistem kerja yang teratur. Proses administrasi meliputi bagian rekrutmen dan seleksi, pendataan karyawan, penggajian dan kelengkapan adminsitrasi yang tersimpan baik seperti data karyawan misalnya. Jangan menjatuhkan pilihan pada perusahaan yang tidak mampu membantu dalam proses admisnistrasi, karena buat apa memilih mitra kerja yang tidak mampu meringankan beban perusahaan. Adanya pembagian peran yang jelas. Perusahaan pengguna adalah pihak yang paling mengetahui tentang pekerjaan apa yang akan dilimpahkan pada penyedia jasa outsourcing dan bagaimana hasil yang diharapkan dapat dilakukan oleh perusahaan outsourcing tersebut. Untuk itu sebelum melimpahkan pekerjaan pada penyedia jasa outsourcing, perusahaan pengguna diharapkan dapat memberikan penjelasan dengan lengkap tentang cakupan pekerjaan, karakteristik pekerjaan dan kompetensi teknik yang diharapkan dari calon karyawan outsource beserta perencanaan karir dan kompensasi yang diberikan. Pilih Perusahaan yang dapat berperan sebagai "Culture Developer". Perusahaan outsourcing harus mampu memahami kebutuhan perusahaan pengguna dalam mendapatkan kandidat pekerja yang memiliki kesamaan cara pandang meskipun masih bersifat potensial. Profile kandidat yang tepat dapat diberikan jika perusahaan

37

outsourcing diberi gambaran yang jelas profile karyawan seperti apa yang dianggap mampu bekerja sesuai dengan lingkungan perusahaan pengguna. Perusahaan outsourcing yang mempunyai pengalaman dapat memadukan keinginan klien dengan data kandidat yang ada agar kandidat yang dikirimkan nantinya tidak akan ditolak oleh perusahaan pengguna. Untuk itu dibutuhkan keterbukaan dan diskusi yang dalam serta keterlibatan perusahaan pengguna dalam menentukan profile kandidat. Buat Service Level Agreement yang lengkap Di dalam service Level Agreement sebaiknya dituangkan bagaimana bentuk tanggung jawab kedua belah pihak, ekspektasi kedua belah pihak, alur kerja, cara kerja, peninjauan performa dari perusahaan outsourcing, serta komitmen lainnya yang perlu dicantumkan.

38

DAFTAR PUSTAKA 1. Wirawan, Rubrik Hukum Teropong,Apa yang dimaksud dengan sistem outsourcing?, http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0504/31/teropong/komenhukum.htm 2. Artikel “Outsource dipandang dari sudut perusahaan pemberi kerja”, http://www.apindo.or.id, diakses tanggal 4 Agustus 2006 3. Pasal 64 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 TentangKetenagakerjaan, 4. Paket Kebijakan Perbaikan Iklim Investasi memuat hal-hal yang dituntut untuk dilakukan revisi dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 yaitu : Pemutusan Hubungan Kerjam Perjanjian kerja Waktu Tertentu, Perhitungan Pesangon, Ijin tenaga Kerja Asing dan istirahat panjang. 5. Nur Cahyo, Pengalihan Pekerjaan Penunjang perusahaan dengan Sistem Outsourcing (Alih Daya) Menurut Undang-undang No. 13 tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan (Studi Kasus pada Asuransi Astra Buana), Tesis Magister Hukum FHUI, Depok, 2006, hal.56. 6. Chandra Suwondo, Outsourcing; Implementasi di Indonesia, Elex Media Computindo, Jakarta, hal 2. 7. Muzni Tambusai, Pelaksanaan Outsourcing (Alih Daya) ditinjau dari aspek hukum ketenagakerjaan tidak mengaburkan hubungan industrial, http://www.nakertrans.go.id/arsip berita/naker/outsourcing.php. 29 Mei 2005. 8. Tulisan yang mengkhususkan membahas outsourcing (Alih Daya) yang berupa penyediaan jasa pekerja/buruh, sedang outsourcing (Alih Daya) berupa pemborongan pekerjaan hanya akan diulas sekilas dari segi definisi, dan dalam kaitan dengan core business. Dalam UU No.13 Tahun 2003, istilah outsourcing (Alih Daya) dapat diartikan sebagai pemborongan pekerjaan dan penyediaan tenaga kerja, namun pada rancangan UU Tenaga Kerja yang baru (yang kini sedang dikaji ulang), pengertian outsourcing (Alih Daya) tampaknya akan disempitkan menjadi penyediaan jasa pekerja, sementara pemborongan pekerjaan diartikan sebagai sub-kontrak. 9. Draft Revisi Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, diakses dari Sabar Sianturi, pembicara pada Seminar tentang Outsourcing (Alih Daya) dan Permasalahannya, 12 April 2006, Hotel Aryaduta, diselenggarakan oleh PPM. 10. Pasal 66 ayat (1) UU No.13 tahun 2003 39

11. Pasal 66 ayat (2) UU No.13 Tahun 2003 12. Pasal 66 ayat (3) UU No.13 Tahun 2003 13. Pasal 66 ayat (4) UU No.13 Tahun 2003 14. R.Djokopranoto, Outsourcing (Alih Daya) dalam No.13/2003 tentang Ketenagakerjaan (Perspektif Pengusaha), Materi Seminar disampaikan pada Seminar Outsourcing: Process and Mangement, World Trade Center Jakarta,13-14 oktober 2005, hal.5. 15. Berdasarkan informasi dari Bapak Ali Nursal, General Manager PT.Outsourcing (Alih Daya) Indonesia 16. Pelaporan dokumen tentang pekerjaan utama dan pekerjaan penunjang diatur pada Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor : 220/MEN/X/2004 Tentang Syarat-Syarat Penyerahan Sebagian Pelaksanaan Pekerjaan Kepada Perusahaan Lain. 17. Pasal 65 ayat (2) UU No.13 tahun 2003 18. Pasal 66 ayat 2) butir a,b dan c UU No.13 tahun 2003 19. Mengenai PKWT dan PKWTT lihat pasal 56-60 UU No.13 Tahun 2003 20. Berdasarkan informasi dari Bpk. Yayan Hernayanto, Corporate Legal, PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, 4 Agustus 2006.

40

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful