You are on page 1of 9

CASE REPORT SESSION

ULKUS KORNEA

Disusun oleh : Hesti Nurmala Rizqi Melissa Marselina 1301-1210-0059 1301-1210-0048

Preseptor: Antonio Kartika I, dr., SpM., M.Kes

Bagian Ilmu Penyakit Mata Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung 2011 IDENTITAS UMUM

kemudian diberi obat tetes mata Norton dan keluhannya hilang selama beberapa hari. Dua bulan yang lalu saat pasien bertani. dan rasa silau saat melihat cahaya di sangkal. Riwayat penyakit mata pada keluarga disangkal. gatal. dan silau saat melihat cahaya. Riwayat pemakaian kacamata dan operasi mata disangkal. obat-obatan dan debu disangkal. pasien kemasukan padi pada mata kanannya. dan rasa mengganjal pada mata kanan. Ijih Umur : 40 tahun Jenis kelamin : Perempuan Alamat : Desa kutamane. Keluhan ini semakin lama semakin memburuk sampai sekarang pasien hanya dapat melihat dengan mata kirinya.Nama : Ny. Saat itu pasien mengeluh mata kanannya menjadi merah. keluar cairan kental berwarna kekuningan. Keluhan nyeri. lalu tiba-tiba memburuk saat pasien berhenti menggunakan obat. Atas keluhannya pasien berobat ke mantri. Karawang Pekerjaan : Petani Pendidikan : SD Tgl pemeriksaan: 2 maret 2011 ANAMNESIS Keluhan Utama penurunan pengelihatan Anamnesis Khusus Sejak ± 2 bulan yang lalu. PEMERIKSAAN FISIK Status Generalis Kesadaran : Composmentis Status Oftalmologikus . pasien merasa pengelihatannya menurun pada mata kanannya. Riwayat DM dan hipertensi disangkal. gatal. nyeri. Riwayat alergi makanan. Keluhan disertai dengan mata merah merata.

kekuningan) keruh. 3 mm RC (+/tidak dapat dinilai) sinekie (-) jernih N baik OS Diagnosis Kerja Ulkus kornea OD e.Pemeriksaan Subjektif Visus OD OS : 1/∞. sekret + (kental.c suspek keratomikosis Usulan Pemeriksaan • Tes fluoresin • Tes Fistel • Sediaan apus (gram dan KOH) . light projection baik dari semua arah : 5/5 Pemeriksaan Objektif Pemeriksaan Posisi bola mata Gerakan bola mata Duksi Versi Palpebra Superior Palpebra Inferior Silia Konjungtiva : Tarsus Superior Tarsus Inferior Konjungtiva Bulbi Kornea Bilik mata depan Pupil Iris Lensa TIO edema ptosis tenang krusta (-) hiperemis tenang Hiperemis. melting tidak dapat dinilai tidak dapat dinilai tidak dapat dinilai tidak dapat dinilai N OD orthotropia baik baik tenang tenang krusta (-) tenang tenang tenang jernih sedang bulat. reguler.

• Kultur dan resistensi apus kornea Penatalaksanaan • Ketokonazol 2 x 400 mg • Natamicyn tiap 1 jam gtt 1 OD • Cyclon 6 x gtt 1 OD • Atropin 2 x gtt I OD Prognosis Quo ad vitam Quo ad functionam : ad bonam : ad bonam TINJAUAN PUSTAKA ANATOMI & HISTOLOGI KORNEA Diameter kornea rata-rata adalah 11.) : Epitelium ( epitel gepeng berlapis berkeratin) terdiri dari : • selapis sel basal : epitel kolumnar • 2-3 lapis wing cells • 2 lapis sel permukaan : epitel gepeng berlapis berkeratin yang aktif beregenerasi • mikrovili di atas sel permukaan • epithelial stem cells di limbus superior dan inferior yang berfungsi :  untuk epitelialisasi (mencegah terbentuknya jaringan parut di epitel kornea)  sebagai sawar untuk mencegah pertumbuhan epitel konjungtiva ke dalam kornea Lapisan Bowman merupakan lapisan avaskuler dari kornea yang akan membentuk jaringan parut bila terjadi lesi .5 mm (vertikal) dan 12 mm (horizontal). Kornea tersusun atas 5 lapisan (Gambar 1.

Fungsi kornea sebagai media refraksi hanya dapat diperoleh bila kornea tidak mengalami gangguan sifat tembus cahayanya. Sifat tembus cahaya dari kornea dapat terganggu jika terdapat : lesi lapisan endotel kornea Sifat tembus cahaya dari endotel disebabkan sifat lapisan stromal kornea yang deturgesens (keadaan dehidrasi relatif jaringan kornea).Stroma • membentuk 90% lapisan kornea • tersusun atas fibrin kolagen reguler Membran Descemet Endotelium • tersusun atas selapis sel heksagonal • memegang peranan penting dalam menjaga deturgesens kornea • lambat beregenerasi Gambar 1. Lapisan Kornea FISIOLOGI KORNEA Kornea berfungsi sebagai membran pelindung dan merupakan salah satu media refraksi. Lesi endotel . Sifat deturgesens ini dipertahankan oleh pompa bikarbonat aktif pada endotel dan oleh fungsi sawar epitel dan endotel.

Moraxella liquefaciens. Keratitis atau ulkus kornea yang disebabkan oleh jamur ini biasanya terdapat pada pasien yang memiliki riwayat trauma mata oleh tumbuh-tumbuhan atau adanya riwayat pemakaian kortikosteroid topikal yang tidak terkendali. • Jamur (Candida. Staphylococcus epidermidis.menyebabkan defek yang lebih berat daripada lesi epitel karena hilangnya mekanisnme dehidrasi dan rendahnya kemampuan endotel untuk beregenerasi. lesi lapisan epitel kornea Lesi epitel hanya menyebabkan edema lokal sesaat stroma kornea yang akan menghilang dengan epitelialisasi. Staphylococcus epidermidis. Moraxella liquefaciens. Etiologi Ulkus kornea dapat disebabkan oleh : • Bakteri  bakteri patogen murni (Streptococcus pneumoniae dan Pseudomonas aeruginosa) (Staphylococcus epidermidis. bakteri tidak akan menimbulkan infeksi dan radang kornea. ulkus kornea akan meninggalkan parut yang ketebalannya sesuai dengan dalam dan luasnya stroma yang digantikan oleh jaringan parut. Serratia marcescens. Streptococcus viridans) merupakan bakteri yang merupakan flora normal pada konjungtiva. Aspergillus) Keratitis ini sering juga disebut keratomikosis. • Virus (Virus Herpes Simples. Virus Varisela Zoster) • Parasit • Reaksi Autoimun • Trauma • Defisiensi vitamin A Diagnosis Tanda & Gejala . Fusarium. Streptococcus viridans)  bakteri oportunistik (Staphylococcus epidermidis. Setelah penyembuhan. ULKUS KORNEA Definisi Ulkus kornea merupakan defek pada epitel dan telah mencapai bagian stroma. dimana dalam keadaan biasa dan tak terdapat kerusakan epitel kornea. Mycobacterium fortuitum. Mycobacterium fortuitum. Serratia marcescens.

yang disebabkan karena adanya kontraksi iris yang mengalami inflamasi. gunakan iluminasi difus dengan filter kobalt biru. sehingga tidak dijadikan sebagai pemeriksaan rutin. Penderita sering memicingkan matanya karena sakit dan silau. Pemeriksaan Laboratorium Etiologi dari ulkus kornea dapat diketahui melalui pemeriksaan laboratorium. Bahan kerokan tersebut kemudian dibuat sediaan apus yang diberi pewarnaan Gram dan Giemsa atau dengan tes KOH untuk menemukan bakteri atau jamur penyebab keratitis. menggunakan ujung kapas halus yang disentuhkan pada kornea. Pada keratitis yang disebabkan oleh virus. perbedaannya adalah pada tes ini tidak dilakukan pembilasan. V1 :  Nyeri. Setelah diberi larutan Fluorescein 0. Tes ini positif jika pada lubang perforasi terdapat aliran yang berwarna hijau. tes sensibilitas kornea ini menurun dibandingkan dengan mata normal. Bahan pemeriksaan adalah kerokan dari infiltrat ataupun pinggir ulkus kornea yang diambil dengan spatula. sebagian bahan kerokan dibuat biakan/kultur bakteri ataupun jamur. Selain itu bahan kerokan juga diambil dari forniks konjungtiva yang merupakan tempat berkumpulnya mikroba yang menjadi penyebab radang.5-2%. . Pemeriksaan untuk identifikasi virus secara teknik lebih rumit dan mahal. dasarnya sama dengan tes fluoresin.  Lakrimasi  Mata merah akibat injeksi silier • Gejala akibat terhalangnya media refraksi : penurunan tajam penglihatan • Gejala lain :  Melihat lingkaran di sekeliling cahaya karena edema kornea Pemeriksaan Khusus Tes fluoresin dapat memperlihatkan bagian epitel kornea yang rusak. terutama palpebra superior  Fotofobia. Caranya hampir sama dengan tes fluoresin. Pemeriksaan sensibilitas kornea. maka jika disinari dengan sinar kobalt biru akan tampak lesi berwarna hijau. namun pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi adanya perforasi kornea. Setelah ditetesi dengan Fluorescein 0. Tes Fistel. atur cahaya pada slit lamp.5-2% dan dibilas dengan NaCl fisiologis. yang diperberat dengan pergerakan palpebra. Pada waktu yang sama. Keratitis atau ulkus yang disebabkan oleh jamur jika diperiksa maka pada pemeriksaan kerokan apus kornea atau hipopion dari kamera okuli anterior dengan pewarnaan giemsa akan ditemukan bentuk dan unsur hifa atau bentuk ragi.• Gejala akibat rangsangan ujung saraf bebas N. Kemudian lakukan sedikit penekanan pada bola mata.

Pemeriksaan fluoresin menjadi pemeriksaan penunjang yang digunakan untuk memperlihatkan adanya defek jaringan pada kornea. Hal ini akan mengganggu sintesis membran tersebut sehingga komponen- . Pada Melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik. Penatalaksanaan Suspek etiologi dari ulkus kornea pada kasus ini disebabkan oleh jamur. maupun hipertensi. Pasien menggunakan obat tetes mata yang mengandung steroid. yang menekan proses inflamasi pada mata. Hal ini ditunjang oleh adanya riwayat kemasukan padi pada mata kanan pasien pada saat bekerja di sawah. diabetes. Antifungal golongan azole merupakan antifungal yang bekerja dengan cara menghambat sintesis sterol yang diperlukan untuk pembentukan membran sel dari jamur. Keratokonjungtivitis adalah diagnosa banding kasus ini. Keluhan ini timbul setelah mata kanannya kemasukan padi saat bekerja di sawah. maka penanganan yang harus segera diberikan adalah mengendalikan dan meredakan proses infeksi dan peradangan : • Agen antimikroba penyebabnya • Steroid topikal atau obat-obat imunosupresif Obat ini diperlukan untuk mengendalikan peradangan dan membatasi terjadinya jaringan parut pada kornea. karena akan terjadi perluasan penyakit. kami mengambil diagnosis Ulkus kornea et causa susp. Penderita tidak memeiliki riwayat alergi. Pada inspeksi ditemukan bahwa pada konjungtiva bulbi terdapat injeksi siliaris serta terdapat infiltrat dengan batas tidak tegas. kemudian keluhan menjadi lebih buruk. Keluhan diawali oleh bengkak. Golongan azole dan natamycin merupakan pilihan pertama bagi kebanyakan ulkus kornea mikotik. keratomikosis. Namun pemberian kortikosteroid merupakan kontra indikasi terutama pada keratitis yang disebabkan oleh jamur. Infiltrat luas dengan batas tidak tegas tersebut mengindikasikan ulkus yang disebabkan oleh jamur.Penatalaksanaan Bila diagnosa keratitis telah ditegakkan. nyeri dan gatal. Antifungal yang dipilih pada kasus ini adalah golongan azole dan natamycin. serta produksi cairan berlebih pada mata kanan penderita. PEMBAHASAN Diagnosis Keluhan utama pada pasien adalah penurunan pengelihatan. Maka pemberian obat antifungal merupakan terapi utamanya. Berdasarkan anamnesis tersebut diagnosis banding yang diperoleh adalah diagnosis banding mata merah dengan penglihatan yang terganggu. Etiologi dari ulkus ini dapat dipastikan dengan sediaan apus gram dan KOH. Pemeriksaan fisik menunjukkan bahwa terdapat penurunan visus OD menjadi LP.

ulkus yang terjadi terletak di bagian sentral dari kornea sehingga jaringan parut yang terbentuk pun akan mengganggu penglihatan dari pasien dan tajam penglihatan pasien tidak akan mencapai visus 6/6. sehingga dapat mengurangi gejala fotofobia. Prolaps iris juga dapat menjadi komplikasi. Pemberiannya diberikan per oral dan topikal agar obat dapat mencapai tempat infeksi.komponen penting dalam sel jamur keluar dari dalam sel. Komplikasi yang lain. menyebabkan terjadinya ruptur pembuluh darah sehingga mengakibatkan perdarahan intraokular. Komplikasi Ulserasi superfisial dapat sembuh dengan derajat yang berbedabeda. ulkus kornea tersebut dapat sembuh. . Melalui pembentukan sikatriks penonjolan tersebut dapat menghilang atau dapat menetap sebagai keratektasia sekunder. apabila perforasi ulkus yang terjadi besar. dan meneran saat BAB. Selain itu diberikan juga natamycin. namun oleh karena defeknya sudah mengenai bagian stroma dari kornea maka ulkus tersebut akan menimbulkan jaringan parut. Proses inflamasi yang terjadi pada ulkus kornea dapat menyebabkan akumulasi sel-sel radang yang mengakibatkan penyumbatan aliran aqueous humor sehingga mengarah pada terjadinya glaukoma sekunder. sedangkan quo ad functionam ad malam. Natamycin merupakan antifungal yang bekerja dengan cara berikatan dengan membran sel dari jamur. bersin. Hal ini akan mengganggu permeabilitas membran tersebut sehingga komponen-komponen penting dalam sel jamur keluar dari dalam sel. Pasien juga diberikan obat siklopegik topikal untuk mengistirahatkan iris dan badan siliar. dapat terjadi perforasi dari ulkus oleh karena pengerahan tenaga secara tiba-tiba oleh pasien seperti. Pada pasien ini. Prognosis Prognosis quo ad vitam kasus ini adalah ad bonam. Ulkus kornea yang mencapai membran Descemet dapat menyebabkan terjadinya komplikasi berupa descemetocele yang dapat menetap dikelilingi oleh cincin sikatriks atau ruptur. Dengan pengobatan yang diberikan. tapi ulserasi yang terlalu dalam dapat menyebabkan kehilangan jaringan yang mengarah pada penipisan jaringan kornea yang terkena sehingga terjadi penonjolan karena pengaruh dari tekanan intraokular. batuk. Apabila terjadi perforasi akan mengakibatkan penurunan tekanan intraokuler yang tiba-tiba. Tindakan tersebut dapat meningkatkan tekanan darah yang bermanifestasi pada peningkatan tekanan intraokuler sehingga terjadi perforasi. Kedua obat ini mekanisme kerjanya berbeda sehingga dapat memberikan efek sinergisme.