You are on page 1of 4

PANDUAN PRAKTEK KLINIS NAMA PENYAKIT: MENINGITIS TUBERKULOSIS RUMAH SAKIT PELABUHAN JAKARTA NO. DOKUMEN PPK.

PERIODE 2012 - 2014 1. Pengertian NO REVISI 00 KSM IK. ANAK Meningitis tuberculosis adalah radang selaput otak yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Biasanya jaringan otak ikut terkena sehingga disebut sebagai meningoensefalitis tuberkulosis. Angka kejadian tertinggi pada usia 6 bulan sampai 2 tahun. Angka kematian berkisar antara 10-20%. Sebagian besar memberikan gejala sisa, hanya 18 % pasien yang normal secara neurologis dan intelektual. Anak dengan meningitis tuberkulosis bila tidak diobati akan meningal dalam waktu 3-5 minggu.  Riwayat demam yang lama/kronis, dapat pula berulang akut.  Kejang, deskripsi kejang (jenis, lama, frekuensi, interval) kesadaran setelah kejang  Penurunan kesadaran  Penurunan berat badan (BB) anoreksia, muntah, sering batuk dan pilek.  Riwayat kontak dengan pasien tuberculosis dewasa  Riwayat imunisasi BCG Manifestasi klinis dibagi menjadi 3 stadium :  Stadium I (inisial) Pasien tampak apatis, iritabel, nyeri kepala, demam, malaise, anoreksia, mual, dan muntah. Belum tampak manifestasi kelainan neurologi.  Stadium II Pasien tampak mengantuk, disorientasi, ditemukan tanda rangsang meningeal, kejang, deficit neurologis fokal, paresis nervus cranial, dan gerakan involunter (tremor, koreoatetosis, hemibalismus).  Stadium III Stadium II disertai dengan kesadaran semakin menurun sampai koma, ditemukan tanda-tanda peningkatan TIK, pupil terfiksasi, pernapasan, ireguler disertai peningkatan suhu tubuh, dan ekstremitas spastis.  Pada funduskopi dapat ditemukan papil yang pucat, tuberkel HALAMAN: 1/2

2. Anamnesa

3. Pemeriksaan fisik

3 4. dan gula darah. Kreteria diagnosis 5.1 Pemeriksaan meliputi darah perifer lengkap. maupun hidrosefalus. 7. Leukosit darah tepi sering meningkat (10.4. ………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… Diagnosis pasti bila ditemukan M. dan adanya nodul pada koroid. ………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………… 7. (bila memungkinkan) 7.2 6. laju endap darah.1 4.000 sel/mm³).12 Foto rontgen dada dapat menunjukkan gambaran penyakit tuberculosis.13 Uji tuberkulin dapat mendukung diagnosis. 7.1 6. infark. cloudy atau santokrom. rasio glukosa LCS dan darah dibawah normal.  Jikia hasil pemeriksaan LCS yang pertama meragukan. Diagnosis 6.  Pemeriksaan BTA (basil tahan asam) dan kultur M. Lakukan pemeriksaan parut BCG dan tanda-tanda infeksi tuberculosis di tempat lain.3 pada retina.000-20. sering ditemukan hiponatremia dan hipokioremia karena sekresi antidiuretik hormone yang tidak adekuat.  Protein meningkat diatas 100 mg/dl sedangkan glukosa menurun dibawah 35 mg/dl.1 Medikamentosa Dosis obat antituberkulosis adalah sebgai berikut : 8. 7. 8.4 5. Pemeriksaan Penunjang 7. 7. enzyme-linked Immunosorbent assay (ELISA) dan latex particle agglutination dapat mendeteksi kuman Mycobacterium di cairan serebro spinal.14 Elektroensefalografi (EEG) dikerjakan jika memungkinkan dapat dapat menunjukkan perlambatan gelombang irama dasar.1 6. Diagnosis Banding 4. Terapy .Tbc tetap dilakukan. 7. tuberkuloma.4 Ct scan dan MRI dapat menunjukan lesi parenkim pada daerah basal otak.  Jumlah sel meningkat antar 10-250 sel/mm³ dan jarang melebihi 500 sel/mm hitung jenis predominan sel limfosit walaupun pada stadium awal dapat dominan polimorfonuklear.tuberkulosis pada pemeriksaan apus LCS/kultur.2 4.3 Pemeriksaan polymerase chain reacton (PCR). pungsi lumbal ulangan dapat memperkuat diagnosis dengan interval dua minggu.2 Pungsi lumbal :  Liquor serebrospinal (LCS) jernih.

3 …………………………………………………………………………………………. mengurangi spastisitas. dapat dilakukan konsultasi ke Departemen Rehabilitasi Medik untuk mobilisasi bertahap.8. Suportif Jika keadaan umum pasien sudah stabil.2 8. Prednisone diberikan dengan dosis 1-2 mg/kg/hari selama 6-8 minggu. natrium urin > 30 mEq/L (30 mmol/L) tanpa adanya tanda-tanda dehidrasi atau hipovolemia. Perlu dilakukan pemantauan terhadap asidosis metabolic pada pemberiain asetazolamid.3-0.1 ………………………………………………………………………………………….. . jumlah cairan dapat dikembalikan ke cairan rumatan jika kadar natrium serum kembali normal. Pemantauan pasca rawat Pemantauan darah tepid an fungsi hati setiap 3-6 bulan untuk mendeteksi adanya komplikasi obat tuberkulostatik.4 8. dosis maksimal 2000 mg/hari  Etambutol 15-20 mg/kgBB/hari. Edukasi 9.  Pirazinamid 15-30 mg/kgBB/hari. 9.. terutama jika natrium serum < 130 mEq/L (130 mmol/L). Adanya peningkatan tekanan TIK yang tinggi dapat diberikan deksamethason 6 mg/m² setiap 4-6 jam tatu dosis 0. Diagnosis SIADH ditegakkan jika terdapat kadar natrium serum yang < 135 mEq/L (135 mmol/L). dosis maksimal 600 mg/hari. dosis maksimal 300 mg/hari  Rifampisin 10-20 mh/kgBB/hari. serta mencegah kontraktur. dosis maksimal 1000 mg/hari atau streptomisin IM 20-30 mg/kg/hari dengan maksimal 100 mg/hari. osmolaritas serum < 270 mOsm/kg.6 Isoniazid (INH) 10-20 mg/kgBB/hari.5 8. Beberapa ahli hanya merekomendasikan tindakan VP-shunt jika terdapat hidrosefalus obstruktif dengan gejala ventrikulomegali disertai peningkatan tekanan intraventrikel atau edema periventrikuler.3 8. 9. Bedah : Hidrosefalus terjadi pada 2/3 kasus dengan lama sakit ≥ 3 minggu dan dapat diterapi dengan asetazolamid 30-50 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis.2 ………………………………………………………………………………………….5 mg/kg/hari. osmolaritas urin > 2 kali osmolaritas serum.. Perlu diapantau adanya komplikasi SIADH. Kortikosteroid diberikan untuk menurunkan inflamasi dan edema serebral.  9. Beberapa ahli merekomendasikan pembatasan jumlah cairan dengan memakai cairan isotonic.

antara lain keadaan khusus pasien.B) (…………………………………………) . Jakarta. Sp.2 ………………………………………………………………………………………… 11.1 ………………………………………………………………………………………… 11.. dan keterbatasan sumber daya. modifikasi tersebut harus dicatat dalam rekam medis.9. S.3 ………………………………………………………………………………………… Penyangkalan (Disclaimer) : Modifikasi terhadap PPK hanya dapat dilakukan atas dasar keadaan yang memaksa untuk kepentingan pasien. Henry Boyke.4 ………………………………………………………………………………………….…………………… Ketua Komite Medik Ketua KSM……… (dr. Kepustakaan 11. kedaruratan. 10. Prognosis 11.