Lokakarya Nasional Pengembangan Sukun

Sukun yang lama terabaikan, kini mulai diperhitungkan dalam mendukung ketahanan pangan. Lokakarya yang membahas pemanfaatan sukun telah digelar di Surabaya 31 Juli 2002 lalu.

ndang-undang No. 7 Tahun 1996 tentang pangan menyiratkan banyaknya pilihan jenis bahan pangan yang dapat dikonsumsi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan gizi. Terpenuhinya gizi

U

hidrat, protein, dan lemak. Tanam-an ini juga mempunyai daya adap-tasi terhadap lingkungan yang luas sehinggga dapat dijadikan sebagai tanaman konservasi lahan. Sukun mempunyai multifungsi.

Agar pengembangan sukun berhasil maka pengusahaannya harus memenuhi skala komersial dan didukung dengan industri pengolahan. Oleh karena itu, perlu dibentuk kelompok kerja (task force) pengembangan sukun tingkat nasional yang bertanggung jawab dalam perencanaan, penelitian, sosialisasi, dan pengembangannya. Anggota kelompok kerja terdiri atas para pakar, birokrat, dan pihak swasta yang memiliki komitmen tinggi terhadap pengembangan sukun. Pengenalan berbagai produk hasil olahan sukun juga diperlukan sehingga masyarakat tertarik dengan bahan ma-

Tampilan buah sukun yang kini mulai dilirik untuk memperkokoh ketahanan pangan (kiri) serta alat pengupas dan perajang multiguna AMU-1,untuk mendukung industri pengolahan sukun (kanan).

masyarakat menandai kita telah menjalankan salah satu program yang diamanatkan dalam World Food Summit yang diadakan pada tanggal 10-13 Juni 2002, yaitu program aksi untuk menurunkan angka kekurangan pangan dari 800 juta jiwa menjadi tinggal 50% pada tahun 2015.Pengembangan sukun merupakan ekspresi niat kita untuk berusaha meningkatkan peran buah itu dalam peningkatan ketahanan pangan nasional dan global, kegiat-an agribisnis, dan pelestarian sum-ber daya lahan. Sukun merupakan buah masa depan dan telah diketahui mempunyai lebih dari 250 kultivar. Buah itu dapat mensubstitusi beras dan terigu karena mengandung karbo-

Di Karibia, buah dijadikan bahan makanan pokok, serta sebagai bahan makanan ringan dan obat-obatan. Batangnya dapat dijadikan bahan bangunan kualitas tinggi. Guna menindaklanjuti Lokakarya Nasional Pengembangan Sukun ini, Menteri Pertanian menginstruksikan agar daerah, khususnya Jawa Timur pada tahun 2003 memasukkan program pengembangan sukun. Demikian pula Badan Litbang Pertanian pada tahun 2003 mengalokasikan dana penelitian tentang sukun, serta akan mengirimkan penelitinya ke Karibia atau Liberia untuk mempelajari aspek-aspek tentang sukun guna mengembangkan dan memberi nilai tambah dalam agribisnis sukun.

kanan yang berasal dari buah itu. Penelitian agar lebih ditekankan pada pemanfaatan sukun untuk konservasi lahan, karakterisasi koleksi plasma nutfah dan penciptanya kultivar-kultivar unggul baru, teknologi perbenihan dan budi daya yang efisien, perlindungan tanaman dari gangguan hama dan penyakit dengan teknologi yang ramah lingkungan, serta penanganan pascapanen (Kusumah Effendie).

1

Tabel 1. Tindak lanjut Lokakarya Pengembangan Sukun Jenis kegiatan Alokasi anggaran pengembangan sukun tahun 2003 Alokasi anggaran penelitian tanaman sukun tahun 2003 Pengiriman peneliti ke Karibia/Liberia untuk mempelajari aspek-aspek tentang sukun Pembentukan kelompok kerja sukun untuk merencanakan dan merealisasikan programnya Penyusunan dan realisasi promosi pengenalan berbagai produk hasil olahan sukun Pelaksana Propinsi potensial sukun, terutama Jawa Timur Badan Litbang Pertanian Badan Litbang Pertanian Keterangan Sudah dimulai Balitbu tahun 2001 Direncanakan 3 orang Balitbu berbeda disiplin ilmu -

Ditjen Hortikultura Puslitbanghorti Swasta

Puslitbanghorti Direktorat Tanaman Buah -

Pemanfaatan plasma nutfah untuk Balit Buah menghasilkan kultivar unggul, Balit Pascapanen teknik perbenihan dan budi daya efisien, pengendalian hama dan penyakit yang ramah lingkungan, dan penanganan pascapanen

Untuk informasi lebih lanjut hubungi: Balai Penelitian Tanaman Buah Jln. Raya Solok Aripan Km 8 Kotak Pos 5, Solok 27301 Telepon : (0755) 20137 Faksimile : (0755) 20592 E-mail : rif@padang.wasantara.
net.id

2