ATAS NAMA ALLAH YANG MAHA PENGASIH YANG MAHA PENYAYANG firmnNya yang maha tinggi: “istri-istrimu

adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Na. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman.” Mengenainya ada enam permasalahan: 1. firmnNya yang maha tinggi: “istri-istrimu adalah ladang bagimu...”para imam meriwayatkan – sedang lafadz menurut muslim – dari Jabir bin Abdullah ia berkata: orang yahudi pernah mengatakan: jika seseorang mensetubuhi istrinya dari dubur kedalam kubulnya maka anaknya akan julin (ahwal), lalu ayat “istriistrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai” turun. Dalam satu riwayat dari al Zuhriy menambahkan: jika ia mau telungkup (mujabbiyah) atau jika mau tidak telungkup, hanya saja bahwa itu pada tempat yang satu. Diriwayatkan fisimamin wahidin dengan huruf siin, itu dikatakan al Turmudziy.i Al Bukhariyii meriwayatkan dari Nafi’ ia mengatakan: Ibn Umar jikaia membaca al Qur’an ia tidak berkata-kata hingga ia selesai darinya, lalu pada suatu hari saya menyimaknyaiii, lalu ia membaca surat Al Baqarah hingga berhenti pada suatu tempat Ia berkata: apakah kamu tahu mengenai apa ia turun? Saya jawab: tidak, ia berkata: ia turun mengenai ini dan ini, lalu ia berlalu”. Dan dari abdushshamad ia mengatakan: bapak membacakan hadis padaku ia bersabda: membacakan hadis padaku Ayub, dari nafi’ dari Ibn Umar: “maka datangilah ladangmu sesuka kakimu” ia mengatakan: mendatanginya pada ... al Humaidi mengatan yaitu vagina. Abu daud meriwayatkan dari ibn Abbas ia mengatakan: “bahwa ibn Umar – semoga Allah mengampuninya – ragu, kehidupan cara begini adalah dari golongan anshar, mereka itulah para penyembah berhala, disamping cara hidup ini dari yahudi, dan mereka itulah ahli kitab. Mereka beranggapan mereka memiliki kelebihan atas mereka dalam hal ilmu, maka mereka itu dijadikan anutan pada mayoritas perbuatan mereka, dan diantara permasalahan ahli kitab

adala mereka hanya mensetubuhi istrinya dengan cara berbaring, dan itu hal yang sangat intim pada perempuan, dan kehidupan ini dari orang anshor yang mereka ambil hal itu dari perbuatan mereka, dan kehidupan ini dari bangsa Quraisy yang nyatakan para istri sebagai yang munkar (tidak taat); mereka menikmati para istri baik menghadap, membelakangi maupun terlentang, lalu saat orang-orang muhajirin tiba di madinah serta yang pria dari kalangan mereka menikahi sebagian wanita anshor, lalu ia melakukan begitu kepada mere, maka si wanita mengingkarinya, sambil berkata: kami hanya disetubuhi dengan cara berbaring, lakukanlah begitu, jika tidak jauhilah aku, hingga urusan keduanya menyebar (syariya)? Lalu hal itu sampai pada Nabi saw., maka Allah azza wa jalla menurunkan: “maka datangilah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai” yaitu sambil menghadap, membelakangi dan terlentang, yakni pada tempat keluar anak itu. Al Turmudziy meriwayatkan dari Ibn Abbas ia berkata: Umar datang kepada Rasulullah saw. Lalu ia berkata: “wahai rasulullah, celaka aku! Beliau bertanya: “apa yang membuatmu celaka?” ia menjawab: saya merubah tidurku pada malam ini, ia mengatakan: rasulullah saw. Tak menjawab apapun padanya; ia mengataka: lalu diwahyukan pada rasulullah saw. Ayat ini: “istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai” “hadapilah, belakangilah tapi hati hati pada dubur dan waktu haid”. Ia mengatakan ini hadis hasan sahih. An Nasaiy meriwayatkan dari Abi Nadlar bahwa ia berkata pada Nafi’ maula ibn Umar: terkadang saya banyak mengatakan padamu bahwa kamu berkata dari ibn Umar: bahwa ia memberikan fatwa untuk mensetubuhi istri-istri dari dubur mereka. Nafi’ menjawab: “mereka berdusta atasku! Tapi saya akan beritakan padamu bagaimana masalah sebenarnya: bahwa Ibn Umar pada menyerahkan mushaf pada Ali dan saya ada dipinggirnya hingga sampai :”istri-istrimu adalah ladang bagimu”; ia berkata: “Nafi; tahukah kamu apa masalah ayat ini? Sungguhnya kami bangsa Quraisy mensetubuhi istri seperti yang sujud, lalu saat kami masuk madinah dan kami menikahi istri anshar, kami menemukan dari mereka seperti yang kami inginkan dari istri-istri kami; lalu jika mereka tak menyukainya dan mereka merasa angkuh, dan perempuan anshar itu hanya disetubuhi dengan cara berbaring, maka Allah menurunkan : “istri-istrimu adalah ladang bagimu,

maka datangilah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai” 2. ayat ini teks mengenai pembolehan seluruh kondisi dan gaya jika menyetubuhi pada tempat tumbuh; yaitu: sesukamu, baik dari belakang, dari depan, duduk, terlentang dan berbaring; sedangkan persetubuhan pada selain tempat keluar (anak) maka itu tidak boleh. Penyebutan tempat tumbuh (hartsun) menunjukan pada bahwa persetubuhan selain tempat keluar anak itu haram. Kata “hartsun” adalah tasybih; karena mereka itu tempat ditanamnya keturunan, maka kata “hartsun” memberikan bahwa pembolehan itu tidak ada kecuali pada vagina (farji) saja karena itulah tempat menanam. Tsa’lab bersenandung: “bagi kita rahim itu laksana yang ditanami” “tanggung jawab kita menanam padanya dan tanggung jawa Allah menumbuhkannya” Maka vagina istri laksana bumi, air mani laksana benih, dan anak laksana tumbuhan, maka kata ‘hartsun’ (tanaman) dengan makna ‘muhtaratsun’ (tempat menanam). Kata hartsu ditunggalkan karena masdar (gerund), seperti yang dikatan: rajulun shaumun, qaumun shaumun. 3. firmanNya yang maha tinggi: “sesukamu” maknanya menurut mayoritas ulama dari kalangan sahabat, tabiin dan para imam fatwa: dari arah manapun, depan dan belakang, sepert yang kami sampaikan barusan. Kata “Annaa” terkadang ada sebagai pertanyaan dan berita dari urusan yang memiliki beberapa arah maka secara kebahasaan itu lebih umum dari “kaifa”, “aina”, dan “mataa”. Ini merupakan penggunaan bangsa arab pada kata “annaa”. Orang-orang mentafsirkan “annaa” dalam ayat ini dengan kata-kata ini. Itu ditafsirkan oleh Syibawaih dengan “kaifa” dan “dari mana”, secara berbarengan.sekelempok yang mentafsirkan dengan “aina” berpandangan bahwa mensetubuhi pada dubur itu boleh. Dan diantara yang dinisbatkan pada pendapat ini: Sa’ad ibn al Musayab, Nafi’, Ibn Umar, Muhamad ibn Ka’b al Quradziy, Abdulmalik ibn al Majisyun, itu dihikayatkan dari imam Malik dalam kitabnya yang dinamai “kitabussirr”. Penganut imam malik yang cemerlang dan guru-guru besarnya mengingkari kitab itu, dan Imam Malik lebih agung dari pada kitab sirr miliknya itu, pendapat ini ada dalam kitab utbiyyah.

Ibnu Arabiy menuturkan bahwa ibn Sya’ban menyandarkan pendapat ini pada sekelompok besar dari sahabat dan tabi’in, dan pada imam Malik dari riwayat yang sangat banyak dalam kitab “Jima’ul Niswan wa Ahkamil Qur’an”. Al Kiya al Thabariy meriwayatkan: diriwayatkan dari muhamad ibn Ka’b al Quradziy bahwa dia tidak menganggap hal itu berbahaya; ia menta’wilkan mengenai itu firman Allah azza wa jalla:                                     

165. Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, 166. Dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas". Dan ia mengatakan perkiraannya: kamu meninggalkan seperti itu dari istri-istri kalian, sekiranya seperti itu dari istri-istri tidak dibolehkan maka itu tak benar, dan yang dibolehkan dari tempat lain tidak semisal dengannya, sehingga dikatakan kamu melakukan hal itu dan meninggalkan semacamnya dari yang dibolehkan. Al Kiya mengatakan: ini mengenainya ada penganalisaan, karena maknanya: kalian meninggalkan istri-istri yang dicipatakan tuhan kalian untuk kalian yaitu peredam syahwat kalian yang ada pada mereka; dan kelezatan bersetubuh yang terperoleh dengan keduanya secara serempak, maka pencercaaan pada makna ini boleh. Dan dalam firmanNya yang maha tinggi: “maka jika mereka suci, datangilah mereka dari arah yang diperintahkan Allah pada kalian” serta firmanNya: datangilah ladang kalian” yang menunjukan bahwa hanya pada tempat keluar, dan itu dikhususkan pada tempat melahirkan. Saya katakan: Inilah yang benar dalam masalah ini. Abu Umar ibn Abulbarr menuturkan bahwa ulama tak berselisih mengenai rotak (ratqau) yang yang tidak menyampaikan pada mensetubuhinya itu aib yang ditolak, kecuali sesuatu yang datang dari Umar ibn Abdul Aziz dari segi yang tidak kuat bahwa dia tidak menolak ratqa dan juga yang lainnya, sedangkan para fakar fiqh semuanya bersebrangan dengan hal itu; karena yang diraba itu yang

dimaksud dengan nikah, dan dalam kesepakatan mereka atas ini ada dalil bahwa dubur bukan tempat persetubuhan, sekiranya itu tempat untuk persetubuhan tak akan ditolak yang tidak menyampaikan pada persetubuhan bersamanya (istri) pada vagina. Dan dalam kesepakatan mereka juga bahwa bagi yang mandul yang tak melahirkan anak tak ditolak. Yang sahih mengenai masalah ini yang telah kami jelaskan. Dan hal yang dihubungkan kepada Malik dan pengikutnya dari masalah ini adala batil dan mereka terbebas dari itu semua; karena pemboleh persetubuhan khusus pada tempat tananm; berdasarkan firmanNya yang maha tinggi: “datangilah ladang kalian”, karena hikmah dalam penciptaan pasangan adalah memperbanyak keturunan, maka selain tempat lahir tak diperoleh kepemilikan nikah, inilah yang benar. Penganut Abu Hanifah mengatakan: bahwasannya menurut kami semburit laki-laki sama dalam hukum, karena kotoran dan sakit dalam lubang belakang itu lebih banyak dari pada darah haid, maka itu lebih keji. Sedangkan lubang kencing itu bukan lubang rahim. Ibn Arabi dalam Kitab Qobasnya mengatakan: “guru besar Imam fakhrul islam Abu Bakar Muhamad ibn Ahmad ibn al Hasan pakar fikih saat itu dan imamnya mengatakan pada kita: ‘Vagina itu menyerupai sesuatu dengan 35; sambil ia mengeluarkan tangannya mengakadkannya (‘aqidan biha). Dan ia mengatakan: tempat kencing itu dibawah yang tiga puluh, sedangkan tempat penis dan haid yang tercakup oleh yang lima. Allah mengharamkan vagina saat menstruasi karena najis yang muncul, maka lebih layak dubur haram sebab najis yang senantiasa ada. Malik mengatakan pada Ibn Wahb dan Ali ibn Ziyad; saat ia memberitahukannya bahwa orang-orang di Mesir menggosipkannya bahwa ia membolehkan hal itu, maka ia lari dari hal tersebut dan segera mendustakan si pengutip; ia mengatakan: “mereka telah berdusta atas namaku, mereka berdusta atasku, mereka berdusta atasku! Kemudian ia berkata: bukankah kalian bangsa Arab? Bukankan Allah berfirman: “istri-istri kalian adalah ladang untuk kalian”? apakah ada tanaman kecuali dalam tempat tumbuh?!. Yang dijadikan dalil oleh yang menentang yaitu bahwa firmanNya azza wa jalla: ‫نى شئتم‬ ّ ‫ أ‬Mencakup pada beberapa tempat dengan

hukum keumumanny, itu tidak bisa dijadikan hujjah, karena itu dikhususkan dengan yang telah kami sebutkan, dan dengan beberapa hadis sahih, hasan serta yang populer yang diriwayatkan dari Rasulullah saw. Oleh dua belas sahabat dengan beberapa matan yang berbeda, semuanya menyatakan haramnya mensetubuhi perempuan pada duburnya; dituturkan oleh ahmad ibn Hanbal dalam musnadnya, abu daud, an Nasai, al Tirmidziy dan yang lainnya. Dan itu telah dikumpulkan oleh Abu al Faraj ibn al Juziy dengan beberap jalurnya dalalm satu juz yang ia namakan “tahrimul mahalil makruh”. Dan karya guru kita Abul abbas juga dalam satu juz mengenai itu yang ia namakan “idzharul idbari man ajazal watha fil adbar”. Saya katakan inilah yang benar yang diikuti dan yang sahih dalam masalah ini, tak semestinya bagi yang iman pada Allah dan hari akhir untuk menempuh yang meleset ini berdasarkan kekeliruan seorang yang alim setelah sahih darinya. Dan kita telah diperingatkan mengenai kekeliruan orang berilmu. Yang bersebrangan dengan hal ini dan pengkafiran yang melakukannya telah diriwayatkan dari Ibn Uma; inilah yang laik baginya ra. Begitu juga Nafi menganggap dusta orang yang memeberitakan hal itu darinya; seperti yang dituturkan oleh an Nasai; dan itu telah dikemukakan. Dan itu diingkari oleh imam Malik dan dianggap dosa besar, dan menganggap berdusta orang yang menghubungkan hal itu kepadanya. Ad Darimiy Abu Muhamad dalam musnadnya meriwayatkan dari said ibn Yasar Abil Hubab ia mengatakan : ‘saya bertanya kepada Ibn Umar: apa yang anda katakan mengenai istri-istri manakala saya melakukan tahmidl kepada mereka?’ ia bertanya : ‘apa itu tahmidl’? saya katakan padanya ‘dubur’; lalu ia menjawab: ‘apakah itu pernah dilakukan oleh seorangpun dari kalangan muslim! Saya mengisnadkan dari Khuzaimah ibn Tsabit: saya mendengar rasulullah saw. Bersabda: “wahai manusia, sesungguhnya Allah tak akan malu mengenai kebenaran, jangan kalian setubuhi perempuan dari dubur mereka”. Beliau bersabda: “siapa yang mensetubuhi istri pada duburnya, Allah tak memandangnya pada hari kiamat” Abu Daud At Thayalisiy dalam musnadnya meriwayatkan dari Qatadah, dari Amr ibn Syu’aib, dari bapaknya dari Abdullah ibn Amr, dari Nabi saw. Beliau bersabda: “itu adalah sodomi kecil” yaitu mensetubuhi perempuan dari duburnya.

Diriwayatkan dari Thawus bahwa ia berkata: “permulaan perbuatan kaum Lut itu mensetubuhi perempuan pada dubur mereka”. Ibn Mundzir mengatakan: “Jika sesuatu tetap dari rasul saw. Maka yang selainnya tak dibutuhkan” 4. firmanNYa: ‫ وقدموا لنفسكم‬yaitu: dahulukanlah yang bermanfaat untuk kalian pada hari esok, maka objeknya dibuang, dan itu telah dijelaskan dalam firmanNya yang maha tinggi: 110:‫ )وما تقدموا لنفسكم من خير تجدوه عندالله )البقرة‬maka maknanya maka dahulukanlah untuk diri kalian kepatuhan, dan amal salih. Katanya: mencari anak dan keturunan; karena anak merupakan kebaikan dunia dan akhirat, karena terkadang ia menjadi penolong dan penyelamat”. Katanya itulah menikah pada istri-istri yang terhormat; agar anaknya itu salih serta suci. Katanya itulah mengedepankan yang lebih, seperti sabda Nabi saw. : “siapa yang mengedepankan tiga hal dari anak maka ia tak mencapai al hintsa, serta tak tersentuh api neraka kecuali penghalalan pembagian”. Hadits. Dan itu akan ada dalam surat “Maryam” insya Allah ta’ala. Ibn Abas dan Thawus mengatakan: yaitu: dahulukanlah mengingat Allah ketika bersetubuh, seperti yang disabdakan Beliau saw. “apabila salah seorang diantara mereka mensetubuhi istrinya maka ia katakan: ‘atas nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari syetan, dan jauhkanlah syetan dari yang engkau karuniakan kepada kami’ maka bahwasanny jika ditakdirkan seorang anak diantara keduanya, selamanya ia tak akan dimadlaratkan syetan”. Dikeluarkan oleh Muslim. 5. firmanNya yang maha tinggi: ‫ واتقوا الله‬peringatan ‫واعلموا أنكم ملقوه‬ khabar yang menuntut sangat dalam peringatan, yaitu: maka dialah yang membalas kalian atas kebaikan dan dosa. Ibn Uyainah meriwayatkan dari Amr ibn Dinar ia mengatakan: saya mendengar Said ibn Jubair dari Ibn Abas ia berkata: saya mendengar rasulullah saw. Bersabda sambil berkhutbah: “sesungguhnya kalian akan menemui Allah dalam keadaan telanjang serta berjalan tanpa alas kaki” kemudia rasulullah saw. membacakan ‫واتقواالله واعلمواأنكم ملقوه‬ . Dikeluarkan oleh Muslim dengan hal yang senada.

6. firmanNya yang maha tinggi: ‫ وبشرالمؤمنين‬penjinak bagi pelaku kebaikan dan pencari sunah-sunah petunjuk. FIRMANNYA:                           224. Jangahlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertakwa dan Mengadakan ishlah di antara manusia[139]. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

[139] Maksudnya: melarang bersumpah dengan mempergunakan nama Allah untuk tidak mengerjakan yang baik, seperti: demi Allah, saya tidak akan membantu anak yatim. tetapi apabila sumpah itu telah terucapkan, haruslah dilanggar dengan membayar kafarat. Mengenainya ada empat permasalahan: 1. ulama mengatakan: saat Allah menyuruh infaq, bergaul dengan para yatim dan istri dengan hubungan kekeluargaan yang indah maka ia menfirmankan: kalian jangan terhalang melakukan suatu kebaikanpun dengan dalih bahwa kami telah bersumpah telah melakukan seperti ini. Dengan hal yang senada ibn Abas, an Nakhoi, Mujahid ar Rabi’ dan selain mereka mengatakan. Said ibn Jubair mengatakan: “seseorang bersumpah untuk tak melakukan kebaikan dan silaturahim serta berbuat kemaslahatan diantara manusia, lalu dikatakan kepadanya: ‘berbuat baiklah’, lalu ia menjawab: saya telah bersumpah. Sebagian pentakwil mengatakan: maknanya: kalian jangan bersumpah karena Allah sambil berdusta bahwa kalian menghendaki kebaikan, takwa dan kemaslahatan, maka tak perlu perkiraan “‫ ”ل‬setelah "‫ "أن‬. Katanya: maknanya kalian jangan banyak bersumpah atas nama Allah, karena itu merusak hait, karena inilah Dia berfirman: ‫واحفظوا‬ 89:‫ )أيمنكم )المائدة‬dan mencerca yang banyak bersumpah, maka ia berfirman: "10:‫ )ول تطع كل حلف مهين )القلم‬orang arab terpuji sebab sedikit sumpah, hingga salah seorang penyair mereka mengatakan:

“yang sedikit bersumpah yang memelihara janji, dan jika terlanjur keluar sumpah darinya ia tepati”. Dan berdasarkan ini" ‫"أن تبروا‬ maknanya: sedikitlah bersumpah untuk kebaikan dan takwa yang ada di dalamnya, karena banyaknya itu keluar dari pelanggar sumpah dan minim memelihara hak Allah swt, inilah takwil yang baik. Malik ibn Anas: sampai padaku bahwasannya bersumpah atas nama Allah dalam segala hal. Katanya: maknanya: janganlah kalian jadikan sumpah sebagai pencampur adukan ‫ مبتذلة‬dalam setiap yang hak dan yang batil. Az Zujaj dan yang lainnya mengatakan: makna ayat seseorang jika dituntut melakukan pekerjaan yang baik ia berdalih atas nama Allah, lalu ia berkata: saya telah bersumpah, maka dia itu tak bersumpah. Al Qutabiy mengatakan Maknanya: Jika Kalian bersumpah untuk tidak menyambungkan kekeluargaan kalian dan bersedekah serta berbuat kemaslahatan, dane pada hal serupa yang termasuk pintupintu kebaikan, maka hendaknya ia menghapus sumpah. Saya katakan ini yang baik berdasar yang telah kami jelaskan, dan itulah yang ditunjukan oleh sebab turunnya, berdasarkan yang akan kami jelaskan dalam persalahan setelah ini. 2. Katanya: diturunkan sebab ash Shiddiq; karena ia bersumpah untuk tidak berinfaq pada misthah saat ia berbicara mengenai Aisyah ra, seperti yang ada dalam hadis ifk – dan penjelasannya akan tiba dalam surat “an Nuur” – dari Ibn Juraij. Katanya: diturunkan mengenai as shidiq juga saat ia bersumpah untuk tidak makan bersama tamu. Katanya: diturunkan mengenai Abdulah Ibn Rawahah saat ia bersumpah untuk tidak berbicara kepada Basyir ibn an Nu’man sedangkan ia itu khitannya pada saudara perempuannya, allahlah yang lebih tahu. 3. firmanNya ‫ عرضة ليمنكم‬yaitu dinasabkan; dari al Jauhariy. Si Anu ‘Urdlah’ hal itu, atau ‘urdlah’ untuk hal itu, yaitu: yang menemaninya, yang menguatan hal itu. Dan ‘urdlah’: kepentingan. Mengatakan:

“allah berfirman sungguh aku telah mempermudah dengan bala tentara” “mereka itulah para penolong urdlahnya pertemuan” Si anu urdlah bagi manusia: mereka senantiasa berada padanya. Saya jadikan si anu urdlah karena hal ini, yaitu saya menegakan untuknya, dan dikatakan: urdlah dari syiddah dan quwah, diantaranya perkataan mereka pada istri: urdlah lin nikah, jika ia laik untuknya, dan kuat baginya, dan bagi si anu urdlah: yaitu: kuat berjalan dan berperang, Ka’ab ibn Zuhair mengatakan:

Abdulah ibn al Zubair mengatakan:

Yang lainnya mengatakan:

Aus ibn Hajar mengatakan:

Maknanya: kalian jangan menjadikan sumpah atas nama Allah sebagai kekuatan untuk dirimu sendiri, dan sebagai alasan dalam rangka menghalangi dari kebaikan. 4. firmanNya yang maha tinggi: “kaliaan berbuat baik dan bertakwa” mubtada, sedang khabarnya dibuang, yaitu: kebaikan dan ketakwaan dan kemaslahatan itu lebih utama dan laik, seperti “kepatuhan dan ucapan yang baik” [muhamad:21]. Dari az Zujaj dan an Nuhas. Katanya: mahalnya nasab, yaitu: kalian jangan terhalangi oleh sumpah atas nama Allah untuk kebaikan, takwa dan berbuat baik. Dari al Zujaj juga. Katanya: maf’ul min Ajlih.

Katanya: maknanya untuk tidak berbuat baik; maka membuang " ‫"ل‬, seperti firmanNya yang maha tinggi: " :‫يبين الله لكم أن تضلوا ]النساء‬ 176], yaitu: ‫لتضلوا‬, itu dikatakan oleh at Tabariy dan an Nuhas. Dan cara yang ke empat dari berbagai cara nasab: karena makruh untuk berbuat baik, kemudian dibuang, itu dituturkan oleh an Nuhas dan al Mahdawiy. Dan katanya itu dalam kondisi khafadl berdasarkan pendapat al Khalil dan al Kisaiy, perkiraannya: ‫فى أن تبروا‬, kata ‫فى‬ disembunyikan itudikhafadlkan denganya. Dan dia maha mendengar, yaitu: pada ucapan-ucapan hambahambanya. Maha mengetahui pada niat mereka. firmnNya yang maha tinggi: 225 ‫ل يؤاخذكم الله باللغو فى أيمنكم ولكن يؤاخذكم بماكسبت قلوبكم والله غفور حليم‬ Mengenainya ada empat permasalahan:

1. firmanNya yang maha tinggi ‫ باللغو‬adalah mashdar kata ,‫لغا يلغو لغوا‬
‫ي يلغي لغا‬ َ ِ‫ولغ‬: jika ia membawakan yang tak perlu dalam perkataan, atau hal yang tak ada nilai kebaikannya, atau yang dosanya ditimpakan”. Dalam hadis: “jika kamu berkata pada temanmu sedangkan imam sedang khutbah pada hari jum’at: diamlah, maka kamu telah sia-sia”. Bahasa Abu Hurairah: “maka telah sia-sia”. Penyair mengatakan:

Yang mengatakan:

Engkau tak disiksa sebab kesia-siaan yang kamu katakan Jika engkau tak menyengaja aneka akad rencana

2. ulama berselisih mengenai sumpah yang merupakan kesia-siaan,
ibn Abas mengataka: itu perkataan seorang dalam perkataannya yang sempit dan tergesa-gesa dalam percakapan: tidak demi Allah, ya demi Allah; tanpa maksud untuk sumpah.

Al Maruziy mengatakan: laghwul yamin yang disepakati ulama bahwa itu laghwun adalah ucapan seseorang: tidak demi Allah, dan ya demi Allh; dalam percakapan dan perkataannya tanpa meyakini dan menghendakinya. Ibn Wahb meriwayatkan dari Yunus dari ibn Syihab bahwa Urwah menceritakannya bahwa Aisyah istri Nabi saw. Berkata: sumpahsumpah yang sia-sia itu yang ada dalam mira, senda gurau, canda dan percakapan yang tak dikehendaki hati. Dalam bukhari dari Aisyah ra. Ia mengatakan: firmannya: ‫ ل يؤاخذكم الله باللغو فى أيمنكم‬mengenai ucapa seseorang: tidak demi Allah, ya demi Allah. Katanya: allaghwu yang digunakan dalam bersumpah berdasarkan dugaan, lalu ia melanggarnya, itu dikatakan Malik; itu dihikayatkan ibn al Qasim darinya, dan dengan hal itu sejumlah dari salaf berpendapat. Abu Hurairah mengatakan: Jika seseorang bersumpah atas sesuatu yang ia tak menduga kecuaali ia padanya, lalu jika ia tidak begitu, maka itulah sia-sia, dan padanya tak ada kafarat di dalamnya, dan seumpanya dari Ibn Abas. Diriwayatkan bahwa mengambil kembali ucapan di hadapan rasulullah saw. Dan mereka melontarkan (ucapan) dihadapan beliau; lalu salah seorang mereka bersumpah: aku telah melakukan aku telah salah wahi “A”, lalu tiba-tiba permasalahannya bersebrangan dengan hal itu, lalu seseorang berkata: dia telah melanggar sumpah wahai utusan Allah, lalu Nabi saw. Bersabda: “sumpah yang melontarkan ucapan adalah laghwun tak ada pencidraan dan kafarat mengenainya”. Malik mengatakan dalam al Muwatha’: hal terbaik yang saya dengar mengenai itu bahwa laghwu sumpah orang atas sesuatu yang ia yakini bahwa hal itu demikian, kemudian didapati sebaliknya, maka tak ada kafarat dalam hal itu. Dan yang bersumpah terhadap sesuatu dan ia tahu bahwa dalam sesuatu itu ada dosa serta dosa untuk diridlai pada seseorang, atau beralangan pada makhluk, atau sebabnya terampas harta, maka ini lebih besar daripada adanya kafarat padanya; kafarat hanyalah bagi yang bersumpah untuk tidak melakukan sesuatu yang diperbolehkan melakukannya kemudian ia melakukannya, atau untu melakukannya kemudian ia tidak melakukannya, seperti: jika ia bersumpah untuk tidak menjual pakaiannya dengan harga sepuluh dirham, kemudian ia menjual

dengan seperti itu, atau ia bersumpah ia akan memukul anaknya, kemudian ia tidak memukul anaknya. Diriwayatkan dari Ibn Abas – jika sahih darinya – ia mengatakan: “sumpah yang sia-sia kamu bersumpah sedangkan kamu marah, dikatakan Thawus. Ibn Abas meriwayatkan bahwa rasulullah saw. Bersabda: “tak ada sumpah dalam keadaan marah” Said ibn Jubair mengatakan: “ itu pengharaman yang halal; lalu ia mengatakan: hartaku haram bagiku jika saya melakukan seperi begitu, atau yang halal bagiku haram, itu dikatakan oleh Makhul ad Dimasyqiy, dan juga malik, kecuali mengenai istri, karena ia memestikan haram mengenainya; kecuali ia dikeluarkan oleh yang bersumpah dengan hatinya. Katanya itu adalah sumpah untuk kedurhakaan, dikatakan oleh Said ibn Musayab, Abu Bakar ibn Abdurahman, Urwah dan Abdulah ibna Zubair, seperti ia bersumpah akan meminum Khamr, atau memutuskan tali persaudaraan, maka kebaikannya adalah meninggalkan pekerjaan itu, dan tak ada kafarat baginya, dalil mereka adalah hadis Amr ibn Syu’aib,dari bapaknya, dari kakeknya, bahwa Nabi saw. Bersabda: “barang siapa yang bersumpah pada suatu janji, lalu ia melihat yang lainnya lebih baik darinya maka hendaklah ia meninggalkannya, karena meninggalkannya adalah kafarat, dikeluarkan oleh ibn Majah dalam sunannya, dan juga itu akan ada dalam surat “almaidah”. Zaid ibn Aslam mengatakan: “sumpah yang sia-sia do’a seseorang pada dirinya sendiri: “semoga Allah membutakan penglihatannya”, semoga Allah melenyapkan hartanya”, dia seorang yahudi, dia musyrik, dia terlaknat jika melakukan seperti ini. Mujahid: keduanya adalah orang yang sedang jual beli, salah satunya berkata: ‘demi Allah saya tak akan menjual seperti itu padamu’ dan yang satunya lagi berkata ‘demi Allah saya tak akan membeli yang seperti ini darimu. An Nakha’i mengatakan: itu seorang yang bersumpah untuk tidak melakukan sesuatu, kemudian dia lupa lalu melakukannya”. Ibn Abas dan ad Dahak juga mengatakan, “sumpah yang sia-sia adalah yang dikifarati, yaitu: jika kamu mengkafarati sumpah, itu gugur dan menjadi sia-sia, dan Allah tak mengadzabnya sebab pengkafaratannya dan kembalinya pada yang lebih baik. Ibn abdul

bar menghikayatkan satu pendapat: bahwa yang sia-sia sumpah yang terpaksa. Ibn Arabi mengatakan: “sumpah disertai lupa; tak diragukan siasianya; karena itu muncul tidak sejalan dengan maksudnya, maka itu murni sia-sia. Saya katakan, “sedangkan sumpah yang terpaksa dengan kekuatannya”. Hukum sumpah yang terpaksa insya Allah akan ada dalam surat an Nahl. Ibn Arabi mengatakan: “sedangkan ynag mengatakan: ‘bahwa itu sumpah yang durhaka; maka itu batal, karena yang bersumpah untuk meninggalkan kedurhakaan sumpahnya menjadi ibadah, dan yang bersumpah melakukan kedurhakaan sumpahnya menjadi kedurhakaan, dan katakan padanya, “jakan lakukan, kifaratilah”, jika terlanjur melakukan dosa maka ia berdosa karena keterlanjurannya’ dan baik dalam sumpahnya. Sedangkan yang mengatakan: bahwa itu do’a seseorang pada dirinya sendiri: jika tidak seperti itu maka turun seperti ini, maka itu perkataan yang sia-sia, dalam cara pengkafaratannya, tetapi itu jadi dalam tujuan, makruh, dan acapkali disiksa karenanya; karena Nabi saw. Bersabda: salah seorang mereka hendaknya tak berdo’a pada dirinya sendirim, maka acapkali ia mendapati satu waktu dimana tak seorangpun berdoa pada Allah sesuatupun keculi ia memberikannya padanya”. Sedangkan yang mengatakan itu sumpah yang marah, maka itu dibantah oleh sumpahnya Nabi saw saat marah agar tidak memikul al asy’ariyin, dan dian menanggung mereka dan mengkafarati sumpahnya. Itu akan ada dalam surat “bara’ah”. Ibn Arabi mengatakan: sedangkan yang mengatakan: ‘bahwa itu sumapah yang dikafarati, maka tak dihubungkan padanya yang ia hikayatkan. Dan juga itu dianggap lemah oleh ib Athiyah, dan ia berkata: Allah azza wa jallaa telah mengangkat pengambilan secara mutlak mengenai kesia-siaan, maka hakikatnya tak ada dosa dan kafarat di dalamnya, sedang pengambilan dalam sumpah itu dengan siksa akhirat dalam sumpah yang dusta lagi salah dan mengenai yang ia tinggalkan kafaratnya dari yang di dalamnya ada kafarat dan dengan siksaan dunia mengenai kemestian kafarat, maka pendapat bahwa itu sumpah yang dikafarati lemah, karena pengambilan telah ada padanya, dan pengkhususan bahwa pengambilan bahwa itu diakhirat saja bersifat hukum.

3. FiramanNya yang maha tinggi: ‫ فى أيمانكم‬kata ‫ اليمان‬bentuk jamak
dari kata ‫ يمين‬dan itu bermakna sumpah, asalnya adalah bahwa bangsa arab jika bersumpah atau berakad maka seseorang mengambil tangan kanan yang bersumpah dengan tangan kanannya, kemudian itu terus-menerus hingga sumpah dan janji dengan sendirinya dinamakan ‫يمين‬. Katanya kata ‫ يمين‬berwazan ‫ فعيل‬dari kata ‫ اليمن‬yaitu berkah, itu dinamai Allah dengan itu; karena sesungguhnya itu memelihara aneka hak. Kata ‫يمين‬ dimaskulinkan dan difemininkan, dan dijamakan: ‫ أيمان‬dan ‫من‬ ُ ‫أي‬, Zahir mengatakan: Lalu sumpah-sumpah dikumpulkan dari kami dan kamu.. Ditempat sumpah yang ditetesi ( ‫ )تمور‬darah

4. firmanNya yang maha tinggi: ‫ ولكن يؤاخذكم بما كسبت قلوبكم‬seperti
firmanNya 89 :‫ ]ولكن يؤاخذكم بما عقدتم اليماو ]المائدة‬disana ada pembahasan yang memadai, insya Allah ta’ala. Zaid ibn Aslam mengatakan: firmanNya yang maha tinggi: ‫ ولكن يؤاخذكم بما كسبت قلوبكم‬itu mengenai seseorang yang berkata:dia musrik jika melakukan, yaitu: ini sia-sia, kecuali ia menghendaki musyrik dengan hatinya dan melakukannya. Dan ‫غفور‬ ‫ حليم‬dua sifat yang layak dengan melemparkan siksaan yang disebutkan; karena itu bab ‫ رفق‬dan pelapangan.

firmnNya yang maha tinggi ‫للذين يؤلون من نسائهم تربص أربعة أشهر فإن فاءو فإن الله غفور رحيم‬ 227 ‫ وإن عزمواالطلق فإن الله سميع عليم‬226 Pada ayat tersebut ada dua puluh empat permasalah: 1. firmanNya yang maha tinggi: ‫ للذين يؤلنون‬kata ‫ يؤلون‬makananya mereka bersumpah, bentuk masdarnya ‫ إلوة‬,‫ ألوة‬,‫ ألية‬,‫إيلء‬. Ubay dan Ibn Mas’ud membaca: “ ‫”للذين يقسمون‬. Dan diketahui bahwa kata ‫ يقسمون‬adalah penafsiran kata "‫"يؤلون‬. ّ ‫ وتألى تأ‬,‫آلى يؤلى إيلء‬ Dibaca: "‫ "للذين الوا‬dikatakan: ‫ وائتلى‬,‫ليا‬ ‫ائتلء‬, yaitu: sumpah, diantaranya:                        

                               

Penyair mengatakan:

yang lainnya mengatakana:

Ibn Duraid mengatakan:

abdulah ibn Abas mengatakan: sumpah orang jahiliyah setahun dua tahun, dan lebih lama dari itu, dengan hal itu ia bermaksud menyakiti perempuan pada masa paceklik, lalu ia memberi waktu bagi mereka empat bulan, maka barang siapa yang melakukan ila lebih sedikit dari itu; maka itu bukan hukum iila. Saya katakan: nabi telah melakukan ila dan mencerai, sebab ilanya permintaan nafkah istri-istrinya pada hal yang ia tidak miliki, seperti itulah dalam shahih muslim. Katanya Zainab mengembalikan pemberiannya, lalu rasulullah saw marah, maka ia melakukan ila pada sebagian mereka, dituturkan oleh Ibn Majah. 2. Ila memestikan setiap yang dimestikan oleh cerai, makan yang merdeka, budak dan yang mabuk mesti baginya Ila, seperti itu juga yang dungu dan anak angkat jika ia telah dewasa dan bukan yang gila, dan begitu juga ‫ الخصي‬jika dia tidak ‫مجبوبا‬, orang tua jika padanya masih ada sisi semangat da hasrat ( ‫)رمق‬. Pendapat Syafi’i mengenai yang majbub jika dia mengila, maka dalam satu pendapat: tidak ada ila baginya, dan dalam ungkapan: ilanya sah [dan itu cukup dengan lisan]. Yang pertama yang paling sahih dan paling dekat kepada al kitab dan sunah rasulullah saw. Karena tebusan itu yang menggugurkan sumpah; dan harta rampasan perang dengan satu ungkapan tidak menggugurkannya; jika sumpah yang terhalang dari pelanggaran sumpah tetap, maka hukum ila tetap ada.

Mengila bagi yang bisu cukup dengan isyrat yang difahami dari penulisan, atau isyarat yang terfahami serta mesti untuknya., dan begitu juga mereka non arab jika mengila para istri-isttrinya. 3. Ulama berselisih mengenai sumpah yang sebabnya terjad ila, sebagian kaum mengatakan: ila tidak terjadi kecuali dengan sumpah atas nama Allah saja; berdasarkan sabda beliau saw: barang siapa bersumpah maka bersumpahlah karena Allah, atau diamlah”. Dan dengan ini Syafi’i berpendapat dalam yang baru. Ibnu Abas mengatakan, “setiap sumpah yang menghalangi bersetubuh maka itulah ila”, dengan ini Sya’bi, an Nakhoi, Malik, penduduk Hijaj, Sufyan ats-Tsauriy, penduduk Irak, dan Syafi’i dalam pendapat yanglain, Abu Tsaur, Abu Ubaid, Ibn Mundzir dan Qadli Abu Bakar ibn Arabi berpendapat. Ibn Abdulbar mengatakan: “setiap sumpah yang pelakunya tidak bisa bersetubuh dengan istrinya karena sumpah tersebut kecuali ia melanggarnya, maka dengan hal tersebut ia melakukan ila; jika sumpahnya lebih lama dari empat bulan, maka setia yang bersumpah atas nama allah atau atas salah satu sifatNya, atau ia mengatakan: saya bersumpah atas nama Allah, saya bersaksi atas nama Allah, atau wajib bagiku perjanjian Allah, tanggungan, janji dan jaminannya, maka itu memestikannya melakukan ila”. Lalu apabila ia mengatakan: saya bersumpah atau saya bermaksud, tapi dia tidak menyebutkan “atas nama Allah”, maka katanya: dia tidak termasuak yang melakukan ila, kecula jika ia menghendaki “atas nama Allah” dan meniatkannya. Dan siapa yang mengatakan: “bahwa itu sumpah masuk kedalamnya, penjelasannya akan tiba dalam “al maidah” insya Allah. Lalu apabila dia bersumpah berpuasa untuk tidak mensetubuhi istrinya, ia mengatakan: “jika saya mensetubuhimu maka saya wajib puasa satu bulan atau satu tahun, maka ia pelaku ila. Begitu juga setiap yang wajib baginya seperti haji, cerai, memerdekakan, sembahyang, atau sedekah. Dasar mengenai kalimat ini adalah keumuman firmanNya yang maha tinggi “bagi mereka yang mengila” dan ia tidak merinci, maka bila ia meng-ila dengan sedekah, memerdekakan budak yang tertentu atau tidak tentu, maka wajib baginya ila. 4. Jika ia bersumpah atas nama Allah tidak mensetubuhiny, dan ia mengecualikan lalu dia berkata: jika Allah menghendaki, maka jika

terjadi begitu maka ia melakukan ila, tapi jika ia mensetubuhinya maka tidak wajib kafarat dalam satu riwayat ibn Qasim dari Malik. Ibn Al Majisyun mengatakan dalam Kitab “al Mabsuth”: “dia bukan yang melakukan ila, itulah pendapat pakar fikih mesir; karena ia menjelaskan pengecualikan bahwa dia tidak berencana untuk melakukan. Dan bentuk yang diriwayatkan oleh ibn Qasim berdasarkan bahwa pengecualian itu tak menghalalkan sumpah, tetapi itu berdamapak pada gugurnya kafarat, berdasarkan penjelasannya dalam “al Maidah yang akan tiba. Maka manakala sumpahnya tetap terjadi, maka wajib baginya hukum ila sekalipun tak wajib kafarat baginya. 5. Apabila ia bersumpah atas nama nabi, malaikat, atau ka’bah untuk tidak mensetubuhinya; atau ia mengatakan:”dia yahudi, nasrani, atau pezina jika ia mensetubuhinya, maka ini bukan yang melakukan ila, itu dikatakan Malik dan yang lainnya. Al baji mengatakan: “makna itu menurutku bahwa ia menyatakannya bukan berdasarkan cara sumpah, sedangkan jika menyatakannya berdasarkan bahwa dia melakukan ila dengan yang dikatakannya atau selainnya, maka dalam “al Mabsuth” bahwa ibn Qasim ditanya mengenai seseorang yang berkata pada istrinya: “tidak ada sambutan, dengan itu ia menghendaki ila maka ia pelaku ila, ia berkata: Malik mengatakan: setiap ungkapan yang dimaksudkan cerai maka ia bercerai, ini dan cerai sama”. 6. Ulama berselisih mengenai ila yang disebutkan dalam al Qur’an, ibn Abas mengatakan: itu bukan pelaku ila sehingga ia bersumpah untuk tidak menyentuhnya selamanya. Sekelompok mengatakan: jika ia bersumpah untuk tidak mendekati istrinya satu hari atau kurang atau lebih, kemudian ia tidak mensetubuhinya selama empat bulan, maka darinya telah menegakan ila, ini diriwayatkan dari ibn Mas’ud, an Nakha’i, Ibn Abi Laila, al Hakam, Hamad ibn Abi Sulaiman, Qatadah, dan dengan ini Ishaq berpendapat. Ibn Mundzir mengatakan: “pendapat ini diingkari sebagian besar ahli ilmu”. Mayoritas ulam mengatakan: “ila adalah ia bersumpah untuk tidak mensetubuhi lebih dari empat bulan, lalu apabila ia bersumpah untuk empat bulan atau dibawahnya, ia tidak termasuk pelaku ila, menurut mereka itu sumpah murni; jika ia mensetubuhinya pada

masa ini maka tak wajib apapun baginya seperti sumpah-sumpah yang lainnya, ini pendapat Malik, Syafi’i, Ahmad dan Abu Tsaur. Ats Tsauriy dan ulama Kufah mengatakan: “Allah menjadikan masa menunggu dalam ila selama empat bulan seperti menjadikan masa menunggu yang meninggal empat bulan sepuluh hari, dan dalam masa menunggu (haid) tiga kali suci, maka setelahnya tidak ada masa menunggu (lagi). Mereka mengatakan: “maka setelah masa menunggu mesti gugurnya ila, dan tidak gugur kecuali dengan tebusan, dan itu menjima di dalam masa menunggu, dan cerai setelah habis empat bulan. Malik dan syafi’i keduanya mengatakan: “Allah menjadikan bagi si pelaku ila empat bulan, maka itu keseluruhannya untuknya tidak ada ada penentangan pada istrinya terhadapnya pada waktu itu; sebagaimana bahwa hutang yang ditangguhkan pemiliknya tak berhak menuntutnya kecuali setelah habis tempohnya. Bentuk pendapat ishaq – dalam minimal masa pelakunya itu menjadi pelaku ila jika ia tidak mensetubuhinya – adalah analogi pada yang bersumpah melebihi empat bulan, maka ia itu pelaku ila; karena ia bermaksud menyengsarakan dengan sumpahnya, makna ini ada dalam masa yang sangat singkat. 7. Mereka berselisih bahwa yang bersumpah untuk tidak mensetubuhi istriny lebih dari empat bulan, lalu empat bulan itu batal dan istrinya tidak menuntutnya, maka ia (istrinya) tidak mengangkatnya kepada pemerintah untuk menyepakatinya, baginya tak wajib apapun menurut Malik, para pengikutnya dan mayoritas ahli madinah. Diantara ulama kita ada yang mengatakan: “baginya wajib cerai rujuk sebab habis masa empat bulan. Diantara mereka dan yang lainny ada yang berpendapat: “baginya mesti cerai bain sebab habisnya masa empat bulan. Yang sahih yang dipegang oleh Malik dan pengikutna, yaitu bahwa pelaku ila tidak mesti baginya cerai sehingga disepakati oleh pemerintah sebab tuntutan istrinya padanya untuk menebus, lalu ia merujuk istrinya dengan bersetubuh, mengkafarati sumpahnya atau menjatuhkan talak, dan ia tidak dibiarkan sehingga ia menebus atau mencerai. Tebusan: persetubuhan pada yang mungkin bersetubuhnya. Sulaiman ibn Yasar mengatakan: “sembilan belas orang sahabat nabi saw. Berdiam diri mengenai ila, Malik mengatakan: masalah itu

menurut kami, dan dengan itu al Laitsi, Syafi’i, Ahmad, Ishaq, dan Abu Tsaur berpendapat, dan itu dipilih oleh Ibn Mundzir. 8. Dan masa meng-ila sejak hari bersumpah, bukan dari hari pertengkarannya dengan istrinya, dan diajukannya kepada hakim, lalu jika istrinya bertengkar dengannya dan tidak meridlai dengan terhalangnya dari persetubuhan, Pemerintah memutuskan untuknya empat bulan sejak hari ia bersumpah, lalu jika ia bersetubuh, maka ia telah menebus hak istrinya, dan mengkafarati sumpahnya, dan jika ia tidak menebus maka ia telah bercerai dengan cerai rujuk. Malik mengatakan: jika ia merujuk maka tak sah merujuknya sehingga ia mensetubuhinya pada masa menunggu. Al Abhariy mengatakan: “hal itu karena cerai hanya terjadi untuk melenyapkan kemadlaratan, maka saat ia tidak mensetubuhinya maka kemadlaratan tetap ada, maka tak ada artinya untuk rujuk kecuali ia memiliki alangan yang menghalanginya dari persetubuhan, maka rujuknya sah; karena kemadaratan telah lenyap, dan keterhalangannya dari bersetubuh bukan karena madlarat, tapi itu semata-mata karena alangan. 9. Ulama berselisih mengenai ila bukan dalam kondisi marah, Ibn Abas mengatakan: “tak ada ila kecuali sebab marah, dan itu diriwayatkan dari Ali ibn Abi Talib ra. Dalam yang mashur darinya, dan itu dikatakan Al Laitsi, as Sya’biy, al Hasan, dan Atha, semuanya mengatakan: ila hanya ada berdasarkan bentuk kemarahan, kejelekan dan kesesusahan dan perbantahan (muanakidah) untuk tidak mensetubuhinya pada parjinya untuk memadlaratkannya, baik dalam kandungan itu memaslahatkan anak ataupun tidak, maka apabila bukan karena marah, itu bukan ila. Ibn Sirin mengatakan: “baik sumpah dalam kondisi marah maupun bukan itu ila, itu dikatakan Ibn Mas’ud ats Tsauriy,Malik, Penduduk Iraq, Syafi’i dan pengikutnya serta Ahmad, kecuali Malik yang mengatakan selama tak menghendaki demi memaslahatkan anak. Ibn Mundzir mengatakan: “inilah yang paling sahih; karena mereka saat menyepakati bahwa dzihar, cerai, dan semua sumapah itu sama baik dalam kondisi marah maupun rela, maka ila juga seperti itu.

Saya katakan: itu ditunjukan oleh keumuman al Qur’an, dan pengkhususan kondisi marah membutuhkan pada suatu dalil, dan itu tak diambil dari bentuk yang mesti. Allahlah yang lebih tahu. 10. Ulama kita mengatakan: “siapa yang terhalang dari mensetubuhi istrinya tanpa sumpah yang ia berikan kepadanya demi memadlaratkannya maka ia disuruh untuk mensetubuhinya, lalu jika ia menentang maka ia diposisikan karena penentangannya untuk memadlaratkannya, antara dia dan istrinya dipisahkan tanpa menentukan waktu. Dan katanya ditentukan masa ila. Dan katanya: pada orang itu tidak masuk ila dalam hal menjauihi istrinya dan sekalipun itu berlaku beberapa tahun tidak mensetubuhinya, tapi ia dinasihati dan diperintahkan untuk takwa kepada Allah swt. Mengenai agar ia tidak mempertahankannya demi kemadlaratan. 11. Mereka berselisih mengenai yang bersumpah untuk tidak mensetubuhi istrinya hingga ia menyapih anaknya; agar itu tidak memadaratkan anaknya dan ia tak menghendaki kemadlaratan untuknya, hingga terhenti masa menyusui, maka menurut Malik bagi istrinya tak berhak menuntutnya; demi kemaslahatan anak. Malik mengatakan: telah sampai padaku bahwa Ali ibn Abi Talib ditanya mengenai hal itu, lalu ia tak memandangnya sebagai ila. Dan dengan hal itu Syafi’i berpendapat dalam salah satu pendapatnya, dan pendapat yang lain itu pelaku ila, dan tak ada perhitungan dengan menyusui anak. Denga dengan itu Abu Hanifah berpendapat. 12. Malik, Syafi’i, Abu Hanifah serta para pengikut mereka, al Auza’iy, dan Ahmad ibn Hanbal berpendapat pada bahwasannya ia itu bukan pelaku ila yang bersumpah untuk tidak mensetubuhi istrinya dalam rumah ini atau di kamar ini; karena ia menemukan cara untuk mensetubuhinya di selain tempat itu. Ibn Abi Laila dan Ishaq mengatakan: “jika ia meninggalkannya empat bulan maka itu ditegakan sebagai ila, tidakkah kamu lihat bahwa dia didiamkan pada empat bulan, lalu jika dia bersumpah untuk tidak mensetubuhinya di kotanya atau di negerinya, maka ia itu pelaku ila menurut Malik, dan ini semata-mata ada di perjalanan yang terbebani biaya dan beban bukan kebunnya atau ladangnya yang dekat. 13. firmanNya ‫ من نسائهم‬padanya termasuk mereka yang merdeka, kafir dzimmiy, dan budak belian jika mereka dinikahi. Hamba sahaya dimestikan ila karena istrinya; syafi’i, ahmad dan

abu tsaur mengatakan: “ila-nya seperti ila yang merdeka, dan hujah mereka dzahirnya firmanNya yang maha tinggi: ‫للذين يؤلون‬ ‫ من نسائهم‬maka itu untuk seluruh istri. Ibn mundzir mengatakan: “dan dengan hal itu saya berpendapat, dan malik az zuhri, atha ibn abi rabah, ishaq mengatakan waktuya dua bulan”. Al hasan dan an nakha’i mengatakan: “ilanya dari istrinya yang budak dua bulan, dan dari yang merdeka empat bulan, dan dengan hal itu abu hanifah berpendapat.” Sya’biy mengatakan: “ila hamba sahaya setengah ila yang merdeka. 14. Malik dan pengikutnya, abu hanifah dan pengikutnya, al auza’iy, an nakha’i dan yang lainnya mengatakan: yang disetubuhi maupun yang tidak sama saja dalam hal kemestian ila pada keduanya. Az zuhriy atha dan ats tsauriy mengatakan: “tidak ada ila kecuali setelah disetubuhi”. Malik mengatakan: “tak ada ila dari yang kecil belum balig, maka jika ia meng-ilanya lalu ia balig, maka ila mesti sejak hari balignya”. 15. Sedangkan kafir dzimmiy; ila-nya tak sah, sebagaimana dzihar dan cerainya tidak sah, dan hal itu karena sesungguhnya nikahnya orang musyrik – menurut kami – bukan nikah yang sah, itu hanyalah kepemilikan yang meragukan bagi mereka, dan karena mereka tak dibebani syari’at maka wajib bagi mereka beberapa kafarat sumpah, lalu apabila mereka diajukan kepada kita dalam hukum ila maka bagi hakim kita tak seyogyanya menghukumi diantara mereka, dan mereka diberangkatkan kepada hakim mereka, tapi jika mereka melakukan hal itu dengan cara kedzaliman diantara merek; maka hukumilah dengan hukum islam; seperti apabila seorang muslim meninggalkan mensetubuhi istrinya untuk memadaratkan istrinya tanpa ada sumpah. 16. firmanNya ‫ تربص أربعة أشهر‬kata ‫ تربص‬bermakna tenang dan terakhir, bentuk pembalikan dari kata ‫ ;تصبر‬penyair mengatakan:

Kegunaan pemberian waktu empat bulan berdasarkan yang dituturkan Ibn abas dari masyarakat jahiliyah seperti yang telah dikemukakan, maka Allah menolak hal itu, dan menjadikan bagi

suami masa empat bulan dalam mendidik istri dengan pisah ranjang, berdasarkan firmanNya yang maha tinggi: " ‫واهجروهن فى‬ 34 :‫ ]المضاجع" ل]النســاء‬nabi melakukan ila kepada istri-istrinya untuk mendidik mereka selama satu bulan. Dan katanya: empat bulan adalah yang punya suami tak sanggup untuk bersabar darinya lebhi darinya. Diriwayatkan Bahwa Umar ibn khatab ra. Pernah berkeliling di madinah, lalu ia mendengar seorang perempuan bersenandung:

Lalu esok harinya, umar memanggil perempuan itu, lalu bertanya padanya: “dimana suamimu?” ia menjawab: “engkau kirim ke iraq! Lalu ia memanggil istri-istri, lalu ia bertanya pada mereka mengenai perempuan: berapa ukuran kamu sabar mengenai suamimu? Lalu mereka menjawab: dua bulan, dan kesabarannya meminim pada tiga bulan, dan lenyap kesabarannya pada empat bulan, maka umar menjadikan masa perang seseorang itu empat bulan, jika telah berlalu empat bulan ia menarik tentara, dan mengirimkan kaum yang lain, dan ini – allahlah yang lebih tahu – memperkuat pengkhususan masa meng-ila dengan empat bulan. 17. FirmanNya: ‫ فإن فاءو‬maknanya: mereka kembali, diantaranya (9 :‫ ]حتى تفئ إلى أمر الله( ]الحجرات‬diantaranya dikatakan untuk bayangan setelah tergelincir matahari : ‫ئ‬ ٌ ‫ ;ف‬karena ia kembali dari sisi masyrik ke sisi magrib, dikatakan: " ‫فاء يفئ فيئة‬ ‫"فيوءا‬. Sungguh ia itu ‫( سريع الفيئة‬cepat pulang), ia (suhaim) mengatakan:

18. Ibn mundzir mengatakan: “setiap yang diyakini ahli ilmu bersepakat bahwa kembali bersetubuh bagi yang tak memiliki alangan; tapi bila ia memiliki alangan karena sakit, terpenjara atau semacam itu; maka permintaan rujuknya sah, yaitu istrinya, lalu jika hilang alangan dengan datangnya dari perjalanan atau

sembuhnya dari sakitnya, atau keluarnya dari penjara, lalu ia tidak mau bersetubuh, maka keduanya dipisahkan jika masanya telah habis, itu dikatakan Malik dalam kitab al mudawanah dan al mabsuth. Abdul malik mengatakan: “itu menjadi cerai bain karenanya pada hari habis masanya, lalu jika alangannya benar dengan kembali jika istrinya memungkinkannya, maka dihukumi dengan benarnya pada yang telah lalu; lalu jika ia mendustakan kembali yang ia akui dengan menolak saat ia mampu padanya, maka urusannya dimasukan pada kedustaan dan permusuhan kepadanya, dan hukum-hukum disetujui berdasarkan yang wajib pada waktu itu. Satu kelompok mengatakan: “jika ada bukti yang jelas terhadap kembalinya pada kondisi beralangan maka itu boleh baginya, itu dikatakan al hasan, ikrimah, an nakha’i, dan dengan itulah al auza’iy berpendapat. An nakha’iy juga mengatakan: kembali sah dengan ucapan dan saksi saja, dan hukum ila gugur, apakah kamu berpandangan jika ia tidak menyebarkan persetubuhan? Ibn Athiyah mengatakan: “pendapat ini dikembalikan jka ia tidak bersetubuh pada bab kemadlaratan. Ahmad ibn hanbal mengatakan: “jika ia memiliki alangan ia kembali dengan hatinya, dengan ini abu qilabah berpendapat. Abu hanifah mengatakan: “ jika ia tak mampu bersetubuh, maka ia mengatakan: saya telah kembali kepadanya”. Al kiya al tabariy mengatakan: “abu hanifah mengatakan mengenai yang melakukan ila sedangkan ia sakit dan antaranya dan antara istrinya ada masa empat bulan, sedangkan ia ratqa atau kecil atau dia itu impoten: sesungguhnya jika ia kembali dengan lisannya, dan masa berlalu dan alangan ada, maka itu kembali yang sah, syafi’i bersebrangan dengnnya pada salah satu madzhabnya. Satu kelompok mengatakan:kembali tidak ada kecuali dengan bersetubuh pada kondisi ada alangan maupun tidak; seperti itulah yang dikatakan Said ibn Jubair, ia mengatakan: dan begitu juga jika ia diperjalanan ataupun di penjara. 19. malik, syafi’i, abu hanifah serta pengikut mereka, dan mayoritas ulama mewajibkan kafarat pada yang melakukan ila jika ia kembali dengan mensetubuhi istrinya. Al hasan mengatakan: “takwajib kafarat untuknya”, dan dengan itu an nakha’iy

berpendapat; an nakha’iy mengatkan: “mereka mengatakan: jika ia kembali maka tak ada kafarat baginya”. Ishaq mengatakan: “sebagian ahli takwil mengatakan mengenai firmanNya: ‫فإن فاءوا‬ yaitu pada sumpah yang mereka langgar, itu satu madzhab mengenai sumpah bagi sebagian tabiin mengenai sumpah atas kebaikan atau takwa, atau pintu kebaikan yang hendak tidak ia lakukan, lalu pada kenyataannya ia melakukannya maka tak wajib kafarat atasanya, dan argument untuk itu adalah firmanNya yang maha tinggi ‫ فإن فاءو فإن الله غفور رحيم‬dan ia tak menuturkan kafarat; dan juga karena sesungguhnya ini terjadi pada bahwa sumpah serapah yang disumpahkan atas kemaksiatan, dan meninggalkan persetubuhan pada istri itu maksiat”. Saya katakan: terkadang dijadikan dalil untuk pendapat ini dari sunah dengan hadis amr ibn Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya dari rasulullah saw. Beliau bersabda: “barang siapa yang bersumpah atas suatu sumpah, lalu ia memandang bahwa yang lainnya lebih baik darinya, maka tinggalkanlah karena meninggalkannya itu kafarat untuknya”. Dikeluarkan oleh Ibn Majah dalam sunannya. Dan penjelasan tambahan untuk hal ini akan ada dalam ayat tentang sumpah insya Allah. Argument mayoritas ulama adalah sabda beliau saw. “barang siapa yang bersumpah atas suatu sumpah, lalu ia meliahat yang lainnya lebih baik darinya, maka lakukanlah yang lebih baik itu, dan kafaratilah tentang sumpahnya”. 20. Jika ia mengkafarati sumpahnya maka gugur ila darinya. Itu dikatakan ulama kita. Dalam hal tersebut ada dalil mendahulukan kafarat atas pelanggaran dalam madzhab ini, dan itu kesepakatan dalam masalah ila, dan dalil bagi abu hanifah dalam masalah sumpah; karena ia tidak berpandangan boleh mendahulukan kafarat atas pelanggaran sumpah. Itu dikatakan ibn Arabi. 21. Saya katakan: dengan ayat ini, Muhamad ibn al hasan berhujah atas terlarang bolehnya kafarat sebelum pelanggaran sumpah, lalu dia mengatakan: “manakala Allah menghukumi orang yang melakuakan ila denga salah satu hukum yaitu kembali atau azimah cerai; seandainya bole mendahulukan kafarat atas pelanggaran sumpah maka ila batal tanpa kembali atau azimah cerai, karena sesungguhnya jika ia melanggar sumpah maka tak wajib apapun sebab pelanggaran atas sumpah itu, dan saat yang sumpah tak wajib apapun sebab pelanggaran sumpahnya maka ia bukan pelaku ila, dan dalam pembolehan mendahulukan kafarat

ada pengguguran hukum ila tanpa yang disebutkan Allah, dan itu bersebrangan dengan al Kitab. 22. Allah yang maha tinggi berfirman: ‫وإن عزمواالطلق فإن الله‬ ‫ سميع عليم‬azimah adalah rencana yang pasti aka sesuatu, dikatakan: ‫ واعتزاما‬,‫ عزمانا‬,‫ وعزيما‬,‫عزما و عزيمة‬ ُ ‫ يعزم‬,‫عزم عليه‬ dan kalimat ‫ن‬ ُ ‫عزم‬, yaitu saya bersumpah atasmu. ّ ‫ت عليك لتفعل‬ Syamir mengatakan azimah dan al ‘uzmu hal yang akan engkau lakukan engkau akadkan atas dirimu sendri. Kata ‫ الطلق‬dari kata ‫ – طلقت المرأة تطلق‬berdasarkan wazan ‫نصر‬ ‫ طلقا‬- ‫ينصر‬, maka ia itu ‫ طالق‬dan juga ‫طالقة‬. Al a’sya mengatakan:

ُ ‫ – ط‬denga harakat dlamah – seperti ‫ظم‬ ُ ‫ظم يع‬ ُ ‫ع‬, Boleh juga ‫لقت‬ tapi itu diinkari al Akhfasy. Cerai adalah melepas akad pertikahan, asalnya ‫النطلق‬, dan yang dicerai itu yang dikosongkan, dan cerai itu kekosongan, dikatanan: ‫ ناقة طالق‬,‫نعجة طالق‬, yaitu: bebas ditinggalkan ditempat mengembala, tak ada pengikat dan pengembala atasnya, dan ‫بعير‬ ‫ق‬ ٌ ُ ‫طُل‬, dengan domah huruf tha dan lamnya: tidak diikat, bentuk jamaknya ‫ حبس فلن فى السجن طلقا‬,‫( أطلق‬seseorang dipenjarakan di penjara tanpa diikat, yang cerai dari unta adalah: yang ditinggalkan oleh pengembalanya sendiri yang ia tidak menggiringnya ketempat air, dikatakan: ‫استطلق الراعى ناقة لنفسه‬ (si pengembala membiarkan untanya untuk dirinya sendiri). Lalu perempuan yang kosong pertaliannya dengan kata yang digunakan untuk menamai kambing atau unta yang dibiarkan urusannya. Katanya itu diambil dari kata ‫طلق الفرس‬, yaitu keberangkatan tidak dihalangi dengan cambukan, lalu perempuan yang kosong disebut ‫طالق‬, ia tak terhalangi dirinya setelah ia terhalang. 23. Pada firmanNya: ‫ وإن عزموا الطلق‬ada argumen pada bahwa ia tidak dicerai sebab habisnya masa empat bulan, seperti yang dikatan Malik, selama tidak terjadi ungkapan perceraian setelah masa itu, dan juga karen itulah Dia berfirman : “maha mendengar”, yang mendengar menuntut yang didengar setelah habisnya. Abu hanifah mengatakan: “ia maha mendengar” kepada ilanya “maha tahu” pada rencananya yang ditunjukan oleh berlalunya empat

bulan. Suhail ibn abi salih meriwayatkan dari bapaknya ia berkata: saya bertanya pada dua belas orang dari sahabat rasulullah saw mengenai seseoarang yang meng-ila istrinya, maka semuanya mengatakan: “tak ada kewajiban apapun atasnya sehingga habis masa empat bulan, lalu ditetapkan, maka jika ia kembali dan jika tidak ia bercerai. Qadli ibn Arabi mengatakan: “penegasan permasalahan bahwa perkiraan ayat menurut kami: Kepada orang-orang yang meng-ilaa' isterinya diberi tangguh empat bulan (lamanya). Kemudian jika mereka kembali (kepada isterinya) setelah habis waktunya, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan jika mereka ber'azam (bertetap hati untuk) talak, maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sedangkan perkiraannya menurut mereka: Kepada orang-orang yang meng-ilaa' isterinya diberi tangguh empat bulan (lamanya). Kemudian jika mereka kembali (kepada isterinya) pada waktunya, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan jika mereka ber'azam (bertetap hati untuk) talak dengan tidak kembali pada waktunya, ia menghendaki masa menunggu padanya , maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ibn Arabi: “inilah kemungkinan yang sama, dan karena samanya para sahabat diam mengenainya. Saya katakan jika kemungkinan itu sama maka pendapat ulama Kufah lebih kuat, dengan analogi pada yang diberi masa menunggu dengan bulan dan suci, karena itu semua masa yang dibuat Allah swt, lalu dengan berakhirnya maka berakhir ishmah, dan dijelaskan tanpa perselisihan, dan bagi suaminya tak ada jalan padanya kecuali dengan izinnya, maka begitu juga ila, sehingga seandainya ia lupa kembali dan berakhir masa, maka terjadilah cerai, Allahlah yang lebih tahu. 24. firmanNya: ‫ وإن عزموا الطلق‬dalil atas bahwasannya hamba sahaya sebab sumpah kepemilikan padanya tidak ada ila, karena baginya tak ada cerai, allahlah yang lebih tahu. firmnNya yang maha tinggi                                      

firmanNya: “Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'” mengenainya ada lima permasalahan: 1. firmanNya: dan mereka (istri-istri) yang dicerai saat allah menuturkan ilaa dan terkadang cerai itu terjadi padanya maka Dia menjelaskan hukum perempuan setelah cerai. Dalam kitab Abu Daud dan an Nasa’iy dari ibn Abas ia berkata mengenai firman Allah yang maha tinggi: “Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'” ayat, dan itu bahwa seseorang jika ia mencerai istrinya maka ia yang paling berhak padanya sekalipun ia mencerainya tiga kali, lalu itu dihapus dan Dia berfirman: " ‫ "الطلق مرتان‬cerai itu dua kali. Kata “mereka yang dicerai” kata umum, tapi yang dimaksud khusus pada yang sudah disetubuhi, dan dikecualikan yang dicerai sebelum disetubuhi dengan ayat (dalam surat) al ahzab: “maka tak ada hak iddah yang kamu hitung untukmu yang wajib atas mereka (para istri) [49] berdasarkan yang akan tiba, dan begitu juga yang sedang mengandung dengan firmanNya:”Dan perempuanperempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya...” [at thalaq: 4] Yang dimaksud dengan “Aqra” adalah pembersihan, berbeda dengan masa menunggu yang ditinggal wafat yang merupakan ibadah. Allah menjadikan iddh anak kecil yang belum haid dan orang dewasa yang sudah monopous berdasarkan yang akan datang. Satu kaum mengatakan: “bahwa keumuman dalam cerai mencakup mereka kemudian dihapus, dan itu lemah, ayat itu hanyalah mengenai yang haid saja, dan itu kebiasaan perempuan, dan padanya sebagian besar perempuan. 2. firmanNya yang maha tinggi: ‫ يتربصن‬menunggu berdasarkan yang sudah dikemukakan. Ini berita, tapi yang dimaksud perintah; seperti firmanNya: 233. Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya [al Baqarah:233] dan “seseorang mengumpulkan pakaiannya”, “cukup bagimu satu dirham” yaitu kamu harus cukup dengan satu dirham; ini adalah ungkapan ahli bahasa tanpa ada perselisihan diantara mereka dalam hal yang dituturkan (oleh) ibn asy syajariy.

Ibn Arabi: “ini salah, itu hanyalah berita mengenai hukum syara’; maka jika ditemukan yag dicerai tak menunggu maka itu tak termasuk syara’, dan tak mesti karena hal itu adanya berita Allah yang maha tinggi berserbrangan denga pemberi beritanya. Katanya maknanya hendaknya mereka menunggu, lalu lam dibuang.

3. Mayoritas orang membaca: ‫ء‬ ٍ ‫رو‬ ٌ ُ‫ ف‬yang jadi ُ ُ‫ ق‬berdasarkan wazan ‫عول‬ lamnya adalah hamzah, diriwayatkan dari nafi’ ‫و‬ ُ ُ‫ ق‬dengan kasrah ٍ ‫ر‬ huruf wau yang ditasydidkan tanpa hamzah, al hasan membaca: ٌ ‫و‬ ْ َ‫ق‬dengan fathah huruf qaf dan sukun huruf ra serta tanwin. ٍ ‫ر‬ Kata ‫روء‬ ُ ‫را‬ ُ ‫ر‬ ُ ُ‫ ق‬bentuk jamak kata ‫رؤ‬ ُ ْ‫ اق‬dan ‫ء‬ َ ْ‫أق‬, bentuk tunggalnya ‫ء‬ ْ َ‫ق‬ dengan dlamah huruf qaf, itu dikatakan al ashmu’i, Abu zaid mengatakan dengan fathah huruf qaf. Keduanya mengatakan: ‫أقرأت‬ ‫ المرأة‬kalau ia haid; maka ia itu ‫ مقرئ‬dan ‫ أقرأت‬yaitu suci. Al akhfasy mengatakan: “ ‫ أقرأت المرأة‬jika ia menjadi yang punya haid; maka jika ia haid kamu katakan: ‫ قرأت‬tanpa alif; dikatakan ‫ة أو حيضتين‬ ً ‫ت المرأة حيض‬ ِ ‫قرأ‬. Dan ‫ت حاجتك‬ ْ ‫ أقرأ‬yaitu dekat, dari al Jauhariy. Abu Amr ibn Ala mengatakan: “dikalangan arab ada yang menamakan haid itu ‫رءا‬ ْ ‫ ق‬dan diantara mereka ada yang menamakan suci ‫رءا‬ ْ ‫ق‬, dan diantara mereka ada yang menggabungkan keduanya; maka haid dan suci dinamakan ‫رءا‬ ْ ‫ق‬, itu dituturkan an Nuhas. 4. Ulalma berselisih mengenai ‫أقراء‬, penduduk kufah mengatakan: itu adalah haidl, dan itu pendapat Umar, Ali, Ibn Masu’d, Abu Musa, Mujahid, Qatadah, Ad Dahak, Ikrimah dan as Sudiy. Penduduk hijaj mengatakan: itu suci, itu adalah pendapat Aisyah, Ibn Umar, Zaid bin Tsabit, Az Zuhriy, Aban ibn Utsman dan Syafi’i. Maka siapapun yang menjadikan ‫رءا‬ ْ ‫ ق‬sebagai nama bagi haid maka ia menamainya dengan itu; karena berkumpulnya darah di rahim, dan siapapun yang menamakannya suci maka karena berkumpulnya di tubuh, dan yang menegaskan padamu asal dalam ‫رءا‬ ْ ‫ ق‬ini adalah waktu; dikatakan: ‫ هبت الريح لقرئها وقارئها‬yaitu pada waktunya, penyair mengatakan:

Maka dikatakan haidl memiliki waktu, dan suci memiliki waktu; karena keduanya kemabali pada waktu yang diketahui, dan Al a’sya mengatakan mengenai suci:

Yang lain mengatalakn tentang haidl:

Yaitu bahwa dia itu mencercanya, maka dia memiliki darah seperti darah haidl. Satu kaum mengatakan: “itu diambil dari kata ‫قرء الماء فى الحوض‬, yaitu kumpulnya, diantaranya ‫ القرآن‬karena berkumpulnya makna, dan katanya karena huruf-hurufnya yang terkumpul, dan dikatakan: ّ ‫ ما قرأ الناقة سلى ق‬yaitu tak berkumpul pada mulutnya, da Amr ibn ‫ط‬ Kutsum mengatakan:

Maka seolah-olah rahim mengumpulkan darah pada waktu haid, dan tubuh mengumpulkannya pada waktu suci. Abu amr ibn Abdulbar mengatakan: perkataan yang mengatakan:”bawa ‫ القرء‬diambil dari perkataan mereka: ‫قريت الماء‬ ‫ ;فى الحوض‬bukan apa-apa, karena kata ‫ قرء‬itu mahmuz, sedangkan ini tidak mahmuz. Saya katakan ini yang sahih dengan pengutipan ahli bahasa: al jauhariy dan yang lainnya. Dan nama untuk air itu adalah ‫رى‬ ً ِ‫ق‬ dengan kasrah qaf yang maqshur. Katanya: “‫القرء‬, keluar baik dari suci kepada haidl, maupun dari haidl kepada suci; dan berdasarkan hail ini syafi’i mengatakan dalam satu pendapat: ‫ القرء‬pindah dari suci kepada haidl. Dan ia tidak menganggap keluar dari haidl kepada suci sebagai ‫قرءا‬. Dan itu dengan hukum istihqaq mesti ‫قرءا‬, dan makna firmanNya “Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'”yaitu: tiga putaran, tiga kali pindah,

sedangkan yang dicerai tersifati dua kondisi saja, terkadang pindah dari suci kepada haidl, dan terkadang dari haidl kepada suci, maka makna ungkapan lurur dalam penunjukannya pada suci dan haid secara serempak, maka itu menjadi kata benda yang ambigu. Atau dikatakan: jka tetap bahwa qaru itu perpindahan, maka keluarnya dari haidl kepada suci sama sekali tak dimaksud oleh ayat, karena itulah cerai pada waktu haidl bukan cerai yang sunnah serta diperintah, itulah cerai karena iddah; karena cerai untuk iddah selama dalam suci, dan hal itu menunjukan pada adanya qaru diambil dari perpindahan. Jika cerai dalam keadaan suci itu sunnah, maka perkiraan ungkapan; maka iddahnya tiga kali perpindahan, permulaannya perpindahan dari suci yang padanya terjadi cerai dan yang merupakan perpindahan dari haidl kepada suci tidak dijadikan satu qar’u; karena bahasa tidak menunjuk padanya, tapi kita mengetahui dengan dalil yang lain bahwa Allah swt. Tak menghendaki perpindahan dari haidl kepada suci, lalu apabila salah satunya keluar dari yang dimaksud, maka tersisa yang lainnya – yaitu perpindahan dari suci kepada haidl –menjadi yang dikehendaki, maka berdasarkan ini iddahnya tiga kali perpindahan: yang pertamanya suci, dan berdasarkan ini mungkin menyempurnakan tiga qaru yang sempurna, jika cerai terjadi pada kondisi suci, dan itu tidak dimungkan pada pada majaz dengan cara apapun. Al kiya at tabariy mengatakan: “ini pembahasan yang sangat dalam mengenai puncak pengarahan pada madzhab syafi’i, dan dalam hal itu mungkin disebutkan sesuatu yang pemahamannya jauh dari kedalaman hukum-hukum syariat, dan itu bahwa perpindahan dari suci kepada haidl dijadikan satu qaru hanyalah untuk penunjukannya pada kosongnya rahim, karena yang sedang hamil biasanya tidak haidl; maka haidlnya tanda atas rahimnya yang kosong, sedangkan perpindahan dari haidl kepada suci bersebrangan dengannya, karena yang haidl boleh jadi hamil di penghujung haidlnya, dan bila terus menerus masa hamil dan anak menguat maka darahnya terhenti, karena itulah bangsa arab merasa terpuji sebab istri-istrinya yang hamil pada kondisi suci, Aisah memuji rasulullah saw.dengan ungkapan penyair:

Yaitu bahwa ibunya tidak menghamilkannya pada sesisa haidlnya. Karena inilah bagi ulama dan ahli bahasa tak berhak menakwilkan kata al qaru. ُ ‫قرأت المرأة‬: yaitu jika ia haidl atau suci, Mereka mengatakan: ‫قرءا‬ dan ‫ قرأت‬juga: jika dia hamil. Mereka sepakat bahwa ‫ القرء‬itu waktu, maka apabila kamu katakan: “Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali waktu”, ayat menjadi ditafsirkan dalam hitungan yang dimungkinkan pada yang dihitung, maka mesti mencari penjelasan untuk yang dihitung dari yang lainnya, maka dalil kita firmanNya yang maha tinggi: 1:‫ ]فطلقوهن لعدتهن ]الطلق‬dan tak ada perselisishan bahwa diperintah cerai pada waktu suci, maka itu mesti menjadi yang muktabar dalam iddah, karena Dia berfirman: ‫ فطلقوهن لعدتهن‬yaitu waktu yang kamu hitung, kemudian Dia berfirman: 1:‫ ]وأحصوا العدة ]الطلق‬Dia menghendaki yag dihitung orang yand dicerai, yaitu suci yang pada waktu itu ia dicerai; Beliau saw. Bersabda pada umar: suruhlah dia dan hendaknya ia merujuknya, kemudian pertahankanlah hingga suci, kemudian haid, kemudian suci, maka itulah iddah yang allah perintahkan perempuan dicerai padanya”. Dikeluarkan oleh Muslim dan yang lainnya. Inilah teks mengenai bahwa waktu suci adalah yang dinamai iddah, yaitu yang pada waktu tersebut perempuan dicerai. Dan tak ada pereselisihan bahwa yang mencerai dalam keadaan haidl tidak terhitung iddah dengan haidl itu, dan yang mencerai pada saat suci maka itu terhitung dengan suci itu menurut mayoritasa ulama, karena hal itulebih utama. Abu bakar ibn abdurahman mengatakan: “ kami tak menemukan seorangpun dari pakar fikh kita kecuali mengatakan dengan perkataan aisyah mengenai bahwa qaru itu suci. Maka jika seseorang mencerai dalam keadaan suci yang ia tidak mensetubuhinya pada saat itu, ia menghitung dengan yang tersisa darinya sekalipun sesaat dan sekejap, kemudian ia menghadapi suci yang kedua setelah haid yang pertama, kemudian yang ketiga setelah haid yang kedua, maka jika ia melihat darah haidl yang ketiga maka ia halal bagi suaminya, dan keluar dari masa iddah. Lalu jika orang yang mencerai mencerai pada masa suci yang ia telah menjamahnya pada masa tersebut, maka mesti baginya cerai

dan ia telah menyakiti, dan hitunglah dengan suci tersebut yang tersisa. Az zuhri mengatakan mengenai perempuan yang dicerai pada sebagian masa sucinya: ia dihitung dengan tiga kali suci selain sisa suci tersebut. Abu umar mengatakan: “saya tak mengetahui seorangpun yang mengatakan al aqra itu suci; ia mengatakan ini pada selain Ibn Syihab az zuhriy; karena ia mengatakan: “ia menghanguskan suci yang padanya ia dicerai, kemudian menghitung dengan tiga kali suci; karena Allah azza wa jalla berfirman: “tiga quru’”. Saya katakan: berdasarkan pendapatnya perempuan yang dicerai tidak halal sehingga ia memasuki haidl yang ke empat, sedangkan pendapat ibn al qasim, malik dan mayoritas pengikutnya, syafi’i, dan ulama madinah mengatakan: “bahwa perempuan yang dicerai apabila ia melihat tetesan darah haidl yang pertama dari haidl yang ketiga ia keluar dari ikatan, dan itu madzhab zaid ibn tsabit, aisyah, dan ibn umar, dan dengan itu ahmad ibn hanbal berpendapat, dan pada hal itulah daud ibn ali dan pengikutnya bermadzhab. Argument bagi az zuhriy bahwa nabi saw mengizinkan cerai yang suci tanpa jima, dan ia tidak mengatakan awal dan akhirnya. Asyhab mengatakan: ishmah dan waris tak terputus sehingga nyata bahwa itu darah haidl; agar tidak menjadi darah penolakan dari darah haidl. Ulama kufah berargumen dengan sabda beliau saw pada fatimah binti Abi Hubaisy saat darah berhenti: “itu hanyalah keringat, perhatikanlah, jika datang qaru mu kamu jangan salat, dan jika qaru mu berlalu bersucilah, kemudian salatlah dari satu qaru kepada yang lainnya”. Dia yang maha tinggi berfirman: Dan
perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuanperempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), Maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; [ath-thalaq:4].

Dia menjadikan yang monopause ditempat yang haid; maka itu menunjukan bahwa itu adalah iddah, dan menjadikan pengganti darinya bulan jika itu tidak ada. Umar berkata dihadapan para sahabat:iddahnya hamba sahaya dua kali haid, setengah iddah perempuan merdeka, dan seandainya saya bisa untuk menjadikannya satu setengah haidl tentu saya lakukan; dan tak seorangpun mengingkarinya. Dan itu menunjukan bahwa itu

kesepakatan dari mereka; itulah pendapat sepuluh sahabat, diantara mereka empat khalifah, cukuplah bagimu yang mereka katakan! Dan firmanNya yang maha tinggi:

Menunjukan pada hal itu; karena makna menunggu tiga quru’, ia menghendaki sempurna, dan ini tak mungkin kecuali berdasarkan ungkapan kita bahwa al aqra itu haid; karena yang mengatakan: ‘bahwa itu suci membolehkan untuk menghitung dengan dua kali setengah suci; karena bahwasannya jika dia mencerai pada saat suci ia (perempuan) menghitung padanya dengan sesisa suci tersebut sebagai satu quru. Sedangkan menurut kami ia memulai dari awal haidl hingga nama itu benar, maka jika seseorang mencerai istrinya dalam keadaan suci yang ia tidak mensetubuhinya pada saat itu, ia menghadapi satu haid, kemudian satau haidl, kemudian satua haidl; jika ia bersuci dari yang ketiga ia keluar dari masa iddah. Saya katakan, ‘ini ditolak oleh firmanNya yang maha tinggi:

Ia mengukuhkan nya pada “delapan hari” karena hari itu mudzakar, begitu juga quru, maka itu menunjukan bahwa itulah yang dimaksud. Abu hanifah sejalan dengan kami bahwa jika ia (perempuan) dicerai dalam keadaan haidl sesungguhnya ia tida menghitung denga haidl saat ia dicerai, dan(juga) bukan dengan suci yang setelahnya, tapi ia haya menghitung dengan haidl setelah suci tersebut. Sedangkan menurut kami ia menghitung suci tersebut, berdasarkan yang telah kami jelaskan. Ahli bahasa membolehkan mereka meredaksikan dari sebagian dengan kata jamak; seperti Dia berfirman: , yang dimaksud dua bulan setengah, begitu juga firmanNya: tiga kali quru”. Allahlah yang lebih tahu.

Sebagian yang mengatakan dengan haidl mengatakan: “jika ia suci dari yang ketiga, iddahnya habis setelah mandi, dan rujuk batal. Itu dikatakn Said ibn jubair, thawur, ibn syubrumah dan al auza’iy. Seorang kawan mengatakan: “jika seorang perempuan berlalu (terlewat) mandi dua puluh tahun; maka suaminya berhak merujuk selama belum mandi. Diriwayatkan dari ishaq ibn rahawaih bahwa ia berkata: “jika perempuan tha’ana pada haid yang ketiga, lenyap dan terputus rujuknya suami, hanya saja bahwa tak halal baginya untuk nikah sehingga ia mandi dari haidnya. Senada itu diriwayatkan dari Ibn Abas; itu pendapat yang lemah, berdasarkan dalil firman Allah yang maha tinggi:

Berdasarkan yang akan tiba. Sedangkan yang dituturkan syafi’i bahwa substansi perpindahan dari suci kepada haidl dinama quru; maka faidahnya meringankan iddah bagi perempuan, dan hal itu apabila ia mencerai istri pada penghujung waktu sucinya lalu memasuki haid maka ia menghitungnya satu quru, dan dengan substansi perpindahan dari suci yang ketiga terputuslah ishmah dan ia hala. Allahlah yang lebih tahu. 5. Mayoritas ulama berpendapat bahwa iddah hamba sahaya yang sedang haidl dari cerai suaminya dua kali haidl. Diriwayatkan dari ibn sirin bahwa ia mengatakan: “saya tak melihat iddah hamba sahaya kecuali seperti iddah perempuan merdeka, hanya saja sudah berlalu sunah mengenai itu, maka sesungguhnya sunnah lebih layak untuk diikuti. Alasham abdurahman ibn kisan, daud ibn ali dan sekelompok pengikut dzahir mengatakan: “bahwa ayat-ayat mengenai idah cerai dan wafat dengan beberapa bulan dan quru itu umu pada hak amat dan perempuan merdeka; maka iddah perempuan merdeka dan hamba sahaya sama. Ulama mayoritas berargumen dengan sabda belau saw. “cerai hamba sahaya dengan dua cerai, dan iddahnya dengan dua haid”. Diriwayatkan oleh ibn jaraij dari Mudzahir ibn aslam,dari bapaknya, dari al qasim ibn muhamad, dari aisyah ia mengatakan: rasulullah saw. Bersabda: “cerai hamba sahaya denga dua tala dan quruny

dua kali haidl” maka dihubungkan padanya cerai dan idah serempak; hanya saja mudzahir ibn aslam menyendiri dengan hadis ini dan dia itu lemah. Diriwayatkan dari ibn Umar: sipapaun diantara keduanya itu budak cerainya berkurang; sekelompok ulama berpendapat denganya. firmanNya: “tidak boleh mereka Menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya” mengenainya ada dua permasalahan: 1. firmanNya: “tidak boleh mereka Menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya” yaitu dari haidl; itu dikatakan oeh ikrimah, az zuhriy dan an nakha’i. Katanya hamil; itu dikatakan oleh Umar dan ibn abas. Mujahid mengatakan: serempak haid dan hamil: ini berdasarkan bahwa yang hamil itu haid. Makna yang dimaksud dari ayat bahwasannya manakala berpuatar urusan iddah pada haidl dan suci dan tidak ada yang menelaah pada keduanya kecuali dari pihak perempuan, maka pendapat yang dijadikan adalah pendapatnya jika ia mengaku berhenti iddah atau tidaknya, dan jadikanlah mereka itu yang amanah akan hal tersebut; itulah tuntutan firmanNya yang maha tinggi: “tidak boleh mereka Menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya”. Sulaiman ibn yasar mengatakan: “kita tidak diperintah untuk membuka perempuan lalu melihat farji mereka, tetapi itu diwakilkan kepada mereka karena mereka amanah”. Makna larangan dari menyembunyikan adalah laarngan memadlaratkan suami dan melenyapkan haknya, jika perempuan yang dicerai mengatakaan: “saya haid; padahal dia tidak haid, ia telah melenyapkan haknya untuk rujuk, dan jika ia mengatakan: saya tidak haid; padahal ia haid, maka ia telah mewajibkan nafakah yang (sejatinya) tak wajib baginya maka ia telah memadlararkannya. Atau ia bermaksud membohongkannya dalam meniadakan haid agar ia tidak dirujuk hingga iddah habis dan syara’ memutuskan haknya, dan begitu juga yang hamil menyembunyikan hamilnya, agar ia memutuskan haknya dari rujuk. Qatadah mengatakan: “kebiasaan mereka (istri kafir quraisy) di jaman jahiliyah menyembunyikan kehamilan agar mereka dapa melekatkan anak kepada suami yang baru, maka mengenai hal itu turun ayat ini.

Dihikayatkan bahwa seseorang dar Asyja’ mendatangi rasulullah saw lalu ia berkata: “wahai rasulullah, saya telah mencerai istriku padahal ia itu hamil, dan saya tak tenang ia menikah, lalu anakku menjadi milik orang lainl maka Allah menurunkan ayat ini, dan perempuan itu dikembalikan kepada al asyja’iy.

2. Ibnul mundzir mengatakan: “setiap yang saya hafal mengenainya termasuk ahli ilmu mengatakan, ‘jika perempuan berkata pada sepuluh hari: saya haidl tiga kali haid dan iddahku habis; sesungguhnya dia tidak dapat dipercaya dan itu tak diterima darinya, kecuali ia katakan: saya benar-benar telah menggugurkan dan bentuknya telah jelas. Mereka berselisih mengenai masa iddah yang pada masa tersebut perempuan dapat dipercaya; malik mengatakan: jika ia mengatakan: iddahku telah berlalu pada sepanjang habis iddah yang ada pada semisalnya; ucapannya diterima; tapi jika ia memberitahukan iddah pada masa jarang adanya; ada dua pendapat: dalam al mudawawanah ia mengatakan: jika mengatakan: “saya haid tiga kali haid dalam sebulan, ia dibenarkan jika ia dibenarkan perempua, dengan pendapat itu Syuraih mengatakan, ali ibn abi thalib berkata padanya: “qaluuna. Yaitu: kamu benar dan bagus. Dan ia berkata dalam kitab muhamad: jangan dipercaya kecuali pada satu setengah bulan. Dan senada itu pendapat Abu Tsaur; abu tsaur mengatakan: “yang paling sedikit mengenai hal itu pada empat puluh tujuh hari, dan hal itu bahwa minimal masa suci lima belas hari, dan minimal haidl sehari. An Nu’man mengatakan: jangan dipercaya pada yang kurang dari enam puluh hari; dan dengan itulah Syafi’i berpendapat. firmanNya yang maha tinggi: “jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat.” Ini ancaman yang besar lagi keras untuk menegaskan haramnya menyembunyikan, dan mewajibkan pelaksanaan amanah dalam memberitahukan tentang rahim dengan kenyataan yang sebenarnya, yaitu: maka jalan yang diberi amanah agar tidak menyembunyikan kebenaran; firmanNya “jika mereka beriman pada Allah” bukan berdasarkan bahwa ia membolehkan bagi yang tak beriman menyembunyikan; karena hal itu tak halal bagi yang diberi amanah, itu seperti ungkapanmu: ‘jika engkau saudaraku maka engkau jangan menganiayaku, yaitu: maka

seyogyanya keimanan kepadanya ‫أن يحجز‬mu; karena ini tidak termasuk pekerjaan ahli iman. firmanNya: “dan suami-suaminya mengenainya ada sebelas permasalahan: 1. berhak merujukinya”

FirmanNya:(‫ )وبعولتهن‬kata ‫ البعولة‬bentuk jamak kata ‫البعل‬, yatu suami; dinamakan ‫ بعل‬karena tingginya diatas istri sebab keistrian yang dimilikinya; diantaranya firmanNya yang maha tinggi: ( ‫أتدعون‬ 125:‫ ]بعل( ]الصفات‬yaitu: tuhan, karena tingginya kerububiyahan, dikatakan: ‫عولة‬ ُ ُ ‫عل و ب‬ ْ َ ‫ب‬, seperti dikatakan dalam bentuk jamak kata ‫ ذكر و ذكورة‬:‫ ذكر‬dan dalam menjamakan kata ‫ فحل و فحول‬: ‫ فحل‬huruf ha ini penambah yang menguatkan pada kemuanatsan jamak, dan itu menyalahi aturan tidak dijadikan analogi, dan yang dijadikan perhitungan dalam hal itu adalah as sama’; maka tak dikataka dalam kata ‫ لعب‬menjadi ‫لعوبة‬. Dan katanya: itu ha ta’nists yang masuk pada wazan ‫فعولز‬. Kata ‫ البعولة‬juga masdar kata ‫ وبعل‬.‫بعل‬ ‫ – الرجل يبعل‬seperti kata ‫منع يمنع – بعولة‬, yaitu: menjadi pasangan. Dan ‫ المباعلة والبعال‬Yaitu bersetubuh, diantranya sabda beliau saw. Untuk hari-hari tasyriq: “sesungguhnya itu merupakan hari makanmakan, minum dan bi’al” dan itu telah dikemukakan. Maka laki laki pasangan perempuan, dan perempuan pasangan laki-laki. ‫باعل‬ ‫مباعلة‬: yaitu apabila ia menyetubuhinya. Dan si “a” pasangan ini; yaitu yang memilinya dan mengurusnya. Dan itu memiliki tempat yang sangat banyak yang insya Allah akan datang. merujuknya atas dua cara: yang pertama merujuk pada masa iddah berdasarkan hadis ibn Umar, dan merujuk setelah iddah berdasarkan hadis Ma’qil, jika ini adanya demikian dalam ayat ada dalil atas pengkhususan yang dicakup oleh umum mengenai hal yang dinamai; karena firmanNy: “Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru' ” itu umum mengenai yang dicerai tiga dana yang dibawahnya, tak ada perbedaan mengenainya. Kemudian firmanNya: “dan suami-suami mereka itu yang paling berhak” adalah hukum khusus mengenai yang cerainya dibawah tiga kali. Ulama sepakat bahwa yang merdeka jika ia mencerai istrinya yang merdeka serta ia disetubuhi terlebih dahulu, baik talak satu maupun dua, sesungguhnya ia yang paling berhak untuk merujuknya selama masa iddahnya belum habis sekalipun si perempuan tidak mahu, tapi jika ia (si perempuan) tidak dirujuk oleh yang mencerai hingga iddahnya habis maka ia lebih berhak dengan dirinya sendiri dan ia menjadi yang lain darinya; ia tidak

2. firmanNya: “yang lebih berhak merujuk mereka” yaitu untuk

halal baginya kecuali dengan khitbah dan nikah yang baru dengan wali dan saksi, bukan berdasarkan sunah rujuk, inilah kesepakatan para ulama. Almuhallab mengatakan: “setiap yang merujuk pada masa iddah; maka sesungguhnya ia tidak dimestikan oleh satu halpun dari hukum-hukum nikah selain saksi atas rujuk saja, dan ini kesepakatan para ulama; berdasarkan firmanNya yang maha tinggi: “Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, Maka rujukilah mereka dengan
baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang

maka Allah menuturkan saksi dalam rujuk, dan tidak menuturkannya dalam nikah dan (juga) tidak dalam cerai.
saksi yang adil di antara kamu [Q.S. at Thalaaq:2]

Ibn mundzir mengatakan: “mengenai yang telah kami sebutkan dari kitab Allah beserta kesepakatan ahli ilmu cukup menyebutkan yang diriwayatkan pada permulaan-permulaan bab ini; Allahlah yang lebih tahu.

3. Mereka berselisih mengenai hal yang sebabnya seseorang rujuk pada masa iddah; malik mengatakan: “jika ia mensetubuhinya pada masa iddah serta ia menghendaki rujuk, tapi ia tak tahu untuk adanya saksi, maka ia rujuk. Dan semestinya bagi si perempuan untuk menolaknya bersetubuh sehingga ia mendatangkan saksi, dan dengan pendapat ini ishaq berpendapat; berdasarkan sabda beliau saw: “aneka amal itu tergantung pada niat, dan bagi seseorang itu apa yang ia niatkan”. Maka apabila dia bersetubuh pada masa iddah tidak berniat rujuk maka malik mengatakan: “ia merujuk pada masa iddah, dan tidak mensetubuhinya sehingga ia bersih dari airnya yang rusak. Ibn al qasim mengatakan: “jika iddahnya selesai ia tidak dinikahi olehnya dan yang lainnya pada sesisa masa pengosongan; tapi jika ia melakukannya maka nikahnya fasakh, dan keharamannya atasnya tidak selamanya atasnya; karena airnya adalah airnya. Saut kelompok mengatakan: “jika ia mensetubuhinya maka ia telah merujuknya; seperti inilah said ibn musayab, al hasan al basri, ibn sirin, az zahri, thawus dan ats tsauriy mengatakan. Mereka mengatakan: dan ia memberikan saksi; dan dengan ini pengikut rasio, al auza’iy dan ibn abi laila berpendapat, itu dihikayatkan oleh ibn Mundzir. Abu umar mengatakan: dan dikatakan:

persetubhannya adalah rujuk pada kondisi bagaimanapun, baik diniatkan maupun tidak, dan ia meriwayatkan hal itu dari satu kelompok dari pengikut malik, dan pada hal itulah al laitsi berpendapat. Mereka tak berselisih mengenai yang menjual hamba sahayanya dengan khiyar bahwa ia boleh mensetubuhinya pada masa iddah, dan ia telah merujuknya dengan hal itu pada miliknya, dan ia memilih pembatalan transaksi dengan pekerjaannya itu. Dan bagi yang dicerai rujuk ada hukum dari hal ini. Allahlah yang lebih tahu. 4. Barang siapa yang mencium atau campu serta ia berniat dengan hal itu rujuk; maka ia telah rujuk, dan jika dengan mencium atau menyentuh ia tak berniat rujuk; maka ia berdosa dan itu bukan rujuk. Dan sunnah agar mendatangkan saksi sebelum bersetubuh, atau sebelum mencium atau menyentuh. Abu hanifah dan pengikutnya mengatakan: “jika ia mensetubuhinya atau menyentuhnya dengan syahwat, atau melihat parjinya dengan syahwat, maka ia rujuk; dan itu pendapat ats tsauriy, dan semestinya dia mendatangkan saksi. Dan dalam pendapat malik, syafi’i, ishaq, abu ubaid dan abu tsaur: itu bukan rujuk; itu dikatakan oleh ibn Mundzir. Dalam kitab “almuntaqaa” mengatakan: tak ada perselisihan mengenai sahnya rujuk dengan ucapan; sedangkan dengan perbuata, seperti bersetubuh dan mencium; maka al qadli Abu muhamad mengatakan: “sah dengan hal itu dan dengan seluruh menikmati karena enak”. Ibn al mawaz mengatakan: “dan seperti ‫سة‬ ّ ‫ الج‬karena enak, atau melihat pada parjinya, atau yang sekitar itu dari keindahan-keindahannya apabila dengan hal itu ia menghendaki rujuk; berbeda dengan syafi’i dalam pendapatnya: rujuk tidak sah kecuali dengan ucapa. Dan itu dihikayatkan oleh ibn Mundzir dari abu tsaur, jabir ibn zaid dan Abu qilabah. 5. Syafi’i mengatakan: “jika ia mensetubuhinya serta berniat rujuk, atau tidak berniat rujuk, maka itu bukan rujuk, dan hak istrinya wajib baginya mahar misilnya”. Malik mengatakan: tak wajib apapun; karena seandainya ia merujuknya tak wajib mahar baginya, maka tidaklah bersetubuh tanpa rujuk lebih layak dengan mahar daripa rujuk”. Abu Umar mengatakan: saya tak mengetahui seorangpun yang mewajibkan mahar misil padanya selain syafi’i, dan itu tidak kuat; karena hal tersebut dalam hukum nikah, dan ia (istri) mewarisinya dan ia (suami) mewarisinya, lalu bagaimana mahar misil wajib dalam mensetubuhi istri yang hukumnya dalam

mayoritas hukumnya adalam hukum istri? Kecuali bahwa keseliruan dalam pendapat syafi’i itu kuat; karena ia itu haram bagi suaminya kecuali dengan rujuk padanya. Dan mereka sepakat pada bahwa yang disetubuhi sebab syubhah wajib baginya mahar misil, dan cukuplah bagimu dengan ini. 6. Mereka berselisih: apakah ia berangkat dengannya sebelum ia merujuknya? Malik dan syafi’i mengatakan: ia tidak boleh bepergian bersamanya sehingga ia merujuknya, dan begitu juga Abu hanifah dan pengikutnya berpendapat kecuali zupar; karena diriwayatkan darinya oleh alhasan ibn ziyad bahwa baginya boleh bepergian sebelum rujuk, dan meriwayatkan darinya Amr ibn khalid: tidak boleh bepergian bersamanya sehingga ia rujuk”. 7. Mereka berselisih: apakah ia boleh mensetubuhinya dan melihat suatu hal dari keindahannya? Dan apakah ia berias dan dan bersolek? Malik mengatakan: “ia tidak menyendiri bersamanya, dan tidak boleh masuk padanya kecuali dengan izin, dan tidak boleh melihatnya kecuali ia berpakaian, dan tidak boleh melihat rambutnya, dan tak mengapa makan bersamanya jika bersamanya ada yang lainnya, dan jangan tidur bersamanya satu rumah, dan pindah darinya. Ibn al qasim mengatakan: “malik kembalidari hal itu, lalu ia berkata: ia tidak boleh masuk padanya dan melihat rambutnya. Sedangkan Abu hanifah dan pengikutnya berserbrangan mengenai bahwa ia boleh berias, memakai wewangian dan memakaia perhiasan dan bersolek. Syafi’i mengatakan: “yang dicerai dengan cerai yang memiliki hak merujuknya diharamkan bagi yang mencerainya seperti haramnya yang belum dinikah hingga ia merujuknya, dan ia tidak bisa rujuk kecuali dengan ucapan; berdasarkan yang telah dikemukakan. 8. Ulama sepakat bahwa yang mencerai apabila ia berkata setelah selesai masa iddah: “saya sesungguhnya telah merujukmu pada masa iddah. Tapi ia mengingkari; bahwa ucapan itu ucapannya beserta sumpahnya, dan tidak ada jalan baginya kepadanya (mantan istrinya); selain bahwa nu’man ia tidak berpandangan sumpah dalam nikah juga tidak dalam rujuk, dan itu ditentang dua pengikutnya, lalu keduanya mengatakan seperti pendapatnya seluruh ahli ilmu. Dan begitu juga jika si istri itu hamba sahaya, dan majikan dan hamba sahanya berselisih, suami mengakui rujuk pada

masa iddah setelah selesainya iddah dan ia mengingkari, maka ucapan adalah ucapan istri yang amat sekalipun dianggap dusta oleh majikannya; ini pendapat syafi’i, abu tsaur dan nu’man. Ya’kub dan muhamad: ucapan itu ucapan majikan, dan ia lebih berhak kepadanya. 9. Kata pengembalian menuntut hilangnya ishmah, kecuali bahwa ulama kita mengatakan: bahwa rujuk itu diharamkan bersenggama maka pengembalian itu kemabali pada kehalalan. Al laits ibn sa’d, abu hanifah dan yang berpendapat dengan pendapat keduanya – dalam hal rujuk itu menghalalkan bersetubuh - : bahwa cerai itu kegunaannya mengurangi bilangan yang dijadikan untuknya [yaitu tiga] khusus, dan bhwa hukum-hukum pernikahan tetap ada tak lepas darinya sedikitpun, mereka mengatakan: hukum pernikahan sekalipun tetap ada maka perempuan selama dalam masa iddah berjalan dijalan lenyap dengan habisnya iddah, maka rujuk itu pengembalian dari jalan ini yang si perempuan menjadi berada dalam menempuhnya, ini adalah pengembalian kiasan (majaz), sedangkan pengembalian yang kami putuskan padanya adalah pengembalian sebenarnya, karena sesungguhnya disana ada lenyapnya mustanjiz yaitu haramnya bersetubuh, maka pengembalian darinya itu ada secara hakikat, allahlah yang lebih tahu.

10. Kata “lebih berhak” digunakan saat bersebrangan dua hak dan salah satunya unggul, maka maknanya: hak suami pada masa menunggu lebih berhak daripada haknya terhadap dirinya; karena sesungguhnya ia hanya memiliki dirinya setelah habis iddah, dan seperti ini sabda beliausaw: “seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya”. Dan itu telah dikemukakan. 11. Seseoarang dianjurkan untuk rujuk, tapi jika ia hendak memaslahatkan dengan memaslahantkan keadaannya bersamanya, dan melenyapkan rasa takut diantara keduanya; sedangkan jika ia menghendaki kemadlaratan dan melamakan iddah dan memutuskannya dari kebebasan ikatan pernikahan maka itu haram; berdasarkan firmanNya yang maha tinggi: “dan jangan kamu pertahankan mereka dengan maksud jahat untuk mendzalimi mereka” kemudian barang siapa melakukan itu maka rujuk itu sah, sekalipun dia melakukan pelanggaran dan mendzalimi diriya

sendiri; dan seandainya kami mengetahui maksud tersebut maka kami menolknya. firmanNya: “dan Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf” padanya ada tiga permasalahan: 1. firmanNya: “dan bagi mereka” yaitu bagi mereka ada beberapa hak istri yang wajib atas suaminya seseper yang jadi hak bagi laki-laki ata mereka; dan karena inilah ibn aba mengatakan: sesungguhnya aku akan merias istriku seperti ia meriasku, dan apapun yang saya senangi saya membersihkan setiap hak yang untukku atas dia, maka jadi wajib haknya yang menjadi hak dia atasku; karena Allah yang maha tinggi berfirman: “ dan Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf” yaitu: hiasan yang tak berdosa. Dan darinya juga: “yaitu bagi mereka dari persahabatan dan pergaulan yang baik dengan cara yang ma’ruf pada suaminya seperti ketaatan yang wajib bagi mereka dalam hal yang wajib bagi mereka untuk para suaminya. Dan dikatakan: bahwa bagi mereka wajib bagi para suaminya tidak menyusahkan mereka seperti halnya itu wajib bagi mereka untuk suami mereka. Itu dikatakan at tabariy. Ibn zaid mengatakan: “kalian bertakwa kepada Allah mengenai mereka seperti halnya wajib bagi mereka bertakwa pada Allah azza wa jalla mengenai mereka; dan maknanya berdekatan. Ayat ini umum mencakup semua itu dari hak-hak istri. 2. Ucapan ibn abas, “sungguh aku akan merias istriku” ulama mengatakan: “riasan laki-laki itu berdasarkan perbedaan kondisi mereka; karena mereka melakukan hal tersebut berdasarkan ‫اللبق‬ dan ‫الوفاق‬, maka terkadang hiasan pada satu waktu layak dan pada lain waktu tak layak, hiasan layak pada pemuda, dasatu hiasa layak untuk orang tua dan tak layak pada pemuda; tidakah kamu lihat bahwa orang tua dan celak jika ia ‫ف‬ ّ ‫ح‬ َ kumisnya maka hal itu pantas untuknya dan meriasnya, sedangkan pemuda jika melakukan hal itu ‫مج‬ َ dan dibenci; karena janggut tak mencukupi setelahnya, lalu ُ ‫س‬ jika ia menipiskan kumisnya pada permulaan yang mukanya keluar ‫سمج‬, sedangkanjika janggutnya lebat dan menipiskan kumisnya itu menghiasnya. Diriwayatkan dari rasulullah saw bahwa beliau

bersabda: “aku diperintah tuhanku untuk membiarkan janggutku dan menipiskan kumisku”. Begitu juga mengenai hal kiswah; maka dalam hal ini semuanya demi memenuhi hak; dan ia melakukannya berdsarkan ‫ اللبق‬dan ‫ ;الوفاق‬hendaknya dihadapan istrinya ada dalam riasan yang membahagiakannya, dan memelihara harga dirinya dari laki-laki lainnya. Begitu juga celak pada laki-laki diantara mereka ada yang pantas dengannya dan ada yang tak pantas dengannya. Sedangkan wewangian, siwak, menyela-nyela, membuang ‫رن‬ َ ّ ‫ الد‬dan rambut yang tak berguna, membersihkan dan memotong kuku; maka jelas itu sejalan bagi seluruhnya. Mewarnai bagi orang tua dan cincin bagi seluruh pemuda dan orang tua itu hiasan; dan itulah hiasan laki-laki berdasarkan penjelasannya yang akan tiba dala surat an nahl. Kemudian bagi dia (suami) untuk ‫خى‬ ّ ‫ يتو‬waktu-waktu butuhnya pada laki-laki; maka dia memeliharanya dan mencukupkannya dari memperhatikan yang lainnya. Dan jika seseorang memandang dirinya tak mampu menunaikan haknya ditempat tidurnya maka ia mengambil ramuan-ramuan yang menambah ‫ باهه‬dan menguatkan syahwatnya hingga memelihara kehormatannya. 3. Firmannya: akan tetapi Para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan
daripada isterinya,

yaitu: kedudukan. Dan derajat jalannya: ‫;قارعته‬

asalnya dalam ‫ ;الطى‬dikatakan: ‫ درجوا‬, yaitu mereka menyembunyika usia mereka; diantaranya tangga yang dinaiki. Dikatakan: laki-laki diantara kaki, yaitu: kuat. Dia itu yang lebih kedua kakinya, yaitu yang terkuad dari keduanya. ‫( فرس رجيل‬kuda yang kuat) diantaranya ‫الرجل‬: karena kuatnya berjalan, maka tambahan derajat bagi laki-laki itu dengan akalnya dan kekuatannya untuk menanafkahi, dengan tebusan, warisan dan jihad. Humaid mengatakan: derajat itu janggut; ini jika sahih darinya; tapi itu lemah tak dituntut oleh lapadz ayat maupun maknanya. Ibn Arabi mengatakan: berbahagialah bagi hamba yang menahan dari hal yang tidak ia ketahui, khususnya mengenai kitab Allah; dan jelas bagi yang berakal keutamaan laki-laki atas perempuan; dan walaupun tidak ada kecuali bahwa perempuan tercipta dari laki-laki, maka dialah asalnya, dan baginya berhak melarangnya bekerja

kecuali dengan ijinny; ia tidak berpuasa kecuali dengan izinnya dan tak berhaji kecuali bersamanya. Katanya: darjah itu mahar, itu dikatakan sya’biy. Dan katanya: bolehnya beretika. Secara keseluruhan derajatnya menuntut keunggulan, dan itu kentara bahwa hak suami atasnya itu lebih wajib dari haknya atas suami; karena inilah beliau saw bersabda: “seandainya aku (boleh) menyuruh seseorang sujud pada selain allah tentu aku menyuruh perempuan untuk sujud pada suaminya”. Ibn abas mengatakan: “derajat isyarat mendorong laki-laki agari baik dalam bergaul, dan toleran pada istri baik dalam harta maupun perangai, yaitu: bahwa yang paling utama itu seyogyanya menanggung dirinya sendiri. Ibn athiyah mengatakan: ini pendapat yang bagus dan cemerlang. Al mawardiy mengatakan: “dimungkinkan bahwa ia berada dalam hak-hak nikah; baginya boleh mengangkat akad tanpanya; dan wajib bagi istri memenuhi panggilannya ketempat tidur, sedangkan bagi suami tak wajib memenuhinya. Saya katakan: ‘dan termasuk hal ini sabda beliau saw, “Istri manapun yang dipanggil suaminya ke tempat tidurnya lalu dia menolaknya, maka baginya laknat para malaikat hingga subuh”. “allah maha perkasa” yaitu yang menolak kerajaan serta tak ada yang dapat menolaknya. “maha bijaksana” yaitu mengetahui yang maha benar mengenai yang ia kerjakan. firmnNya yang maha tinggi
“Talak

(yang dapat dirujuki) dua kali. setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, Maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya[144]. Itulah hukum-hukum Allah, Maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka Itulah orang-orang yang zalim.”

firmanNya: “Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik” mengenainya ada tujuh permasalaha: 1. firmanNya: “talak (yang dapat dirujuki) dua kali” menetapkan bahwa masyarakat jahiliyah mereka tak memiliki cerai yang berbilang, tapi mereka memiliki iddah yang diketahui serta dibatasi, dan ini pada permulaan islam merupakan " ‫"برهة‬, seseorang mencerai istrinya dengan cerai sesuka hatinya; jika hampir halal dari cerainya ia merujuknya sesuka hatinya, seseorang pada zaman nabi saw berkata pada istrinya: “saya tak akan menidurimu dan tak akan memanggilmu kamu lepas, ia bertanya: kenapa? Ia menjawab: saya mencerai kamu, lalu jika hampir habis masa menunggumu saya rujuk padamu. Lalu perempuan itu mengadukan hal tersebut pada Aisyah, lalu ia menuturkan hal itu pada nabi saw, maka allah menurunkan ayat ini untuk menjelaskan jumlah cerai bagi seseorang yang padanya ia berhak merujuk tanpa memperbaharui mahar dan wali, dan ini menghapus yang ada pada mereka. Senada dengan hal tersebut dikatakan urwah ib az zubair, qatadah, ibn zaid dan yang lainnya. Ibn mas’ud, ibn abas, mujahid dan yang lainnyamengatakan: yang dimaksud dengan ayat ini pengenalan sunahnya cerai, yaitu: barang siapa mencerai dua kali maka takutlah pada Allah pada yang ketiga kalinya, maka adakalanya meninggalkannya tanpa mendzalimi sedikitpun dari haknya, dan adakalanya memperbaiki pergaulan bersamanya, dan ayat ini memuat dua makna. 2. Cerai itu melepas ishmah yang diakadkan antara dua pasangan dengan kata-kata tertentu. Cerai itu boleh dengan ayat ini dan yang lainnya, dan dengan sabda beliau saw dalam hadis ibn umar: “jika kamu mau pertahankan dan jika mau ceraikan” rasulullah saw telah mencerai hafsah kemudian merujuknya; dikeluarkan oleh ibn majah. Ulama sepakat pada bahwa yang mencerai istrinya dalam keadaan suci dalam suci yang ia tidak menyentuhnya maka ia mencerai karena sunnah, dan demi iddah yang allah perintahkan, dan bahwa baginya berhak merujuk jika ia dimasuki sebelum iddahnya habis; tapi jika sudah habis maka ia yang meminang diantara yang meminang. Kitab, sunah dan ijma umat menunjukan pada bahwa cerai itu boleh tak berbahaya. Ibn mundzir mengatakan: dalam larang cerai dan menolak cerai tak ada khabar yang mengukuhkan.

3. Ad daruqutniy meriwayatkan: telah membacakan hadis padaku abul abas muhamad ibn musa ibn ali ad dulabiy dan ya’kub ibn ibrahim, keduanya berkata: ibn arafah telah membacakan hadis pada kita, ismail ibn ayyasy telah mebacakan hadis pada kita dari humaid ibn malik al lakhmiy, dari makhul, dari muadz ibn jabal ia berkata: rasulullah saw bersabda padaku: “hai muadz, allah tak menciptakan sesuatupun di muka bumi yang lebih aku sukai daripada memerdekakan, dan tak ada sesuatupun yang allah ciptakan yang lebih aku benci daripada cerai, jika seseorang berbicara pada hamba sahayanya: engkau merdeka jika Allah menghendaki, maka dia merdeka dan tak ada pengecualian baginya, dan jika ia berkata pada istrinya: kamu dicerai jika allah menghendaki, maka baginya ada pengecualian dan tak ada cerai atasnya”. Muhamad ibn musa ibn ali membacakan hadis pada kita, humaid ibn rabi’ membacakan hadis pada kita, yazid ibn harun membacakan hadis pada kita, ismail ibn ayyasy memberitakan pada kita dengan sanadnya yang senada itu. Humaid mengatakan: yazid ibn harun berkata padaku: hadis apa seandainya humaid ibn malik al lakhmiy dikenal? Saya katakan: dia kakeku, yazid mengatakan:kamu menentramkanku, sekarang itu menjadi hadis. Ibn mundzir mengatakan: “diantara yang memandang pengecualian dalam cerai adalah thawus, hamad, syafi’i, abu saur dan pengikut rasio. Tidak boleh pengecualian dalam cerai menurut pendapat malik, al auza’iy, itlah pendapat al hasan, qatadah mengenai cerai khususnya. Ia mengatakan: dan dengan pendapat yang pertama saya berpendapat. 4. firmanNy: “maka pertahankan dengan ma’ruf” mubtada, sedangkan khabarnya: itu lebih pantas, atau lebih bagus, dan sah (juga) rafa’ karena khabar mubtada yang dibuang; yaitu: maka wajib atas kalian mempertahankan dengan ma’ruf, atau: “maka yang wajib bagi kalian mempertahankan dengan yang ma’ruf sesungguhnya itu benar. Dalam selain al qur’an boleh ‫ فإمساكا‬karena menjadi masdar. Dan makna “denga baik” hendaknya tak menganiaya haknya sedikitpu, dan tidak kasar dalam ucapan. Mempertahankan adalah kebalikan cerai. Sedangkan ‫ التسريح‬adalah membiarkan sesuatu, dianataraany membiarkan rambut; agar

sebagiannya terbebas dari yang lainnya. ‫ سرح الماشية‬melepaskan yang berjalan. Tasrih, katanya memuat dua makna; yang pertama: membiarkannya sehingga iddahnya sempurna dari cerai yang kedua, maka ia (istri) memiliki dirinya sendiri; dan ini pendapat as sudiy dan ad dahak. Makna yang lainnya: ia mencerainya dengan cerai tiga maka ia melepaskannya; ini pendapat mujahid, atha dan yang lainnya, dan inilah yang palih sahih karena tiga segi: a. yang diriwayatkan ad daruquthniy dari anas bahwa seseorang berkatak: wahai rasulullah saw, allah swt berfirman: “cerai (yang boleh dirujuk) dua kali” lalu karena apa ia menjadi tiga? Ia menjawab: “mempertahankan dengan baik atau mempertahankan dengan baik – dalam satu riwayat – itulah yang ketiga”. Dituturkan ibn mundzir. b. Bahwa tasrih itu termasuk kata-kata cerai, apakah tak melihat bahwa terkadang itu dibaca: "‫"وإن عزموا السراح‬. c. Bahwa wazan ‫عل تفعيل‬ ّ ‫ ف‬memberikan bahwa ia melakukan pekerjaan yang berulang-ulang pada cerai yang kedua, sedangkan dalam meninggalkan memunculkan kata kerja (fiil) yang diredaksikan wazan ‫تفعيل‬. Abu umar mengtakan: “ulama sepakat pada bahwa firmanNya yang maha tinggi: “atau melepas dengan ma’ruf” itu adalah cerai yang ketiga kali setelah dua cerai, dan padanya ia menghendaki dengan firmanNya: “maka apabila ia mencerainya (untuk ketiga kali) maka ia (istri) tak halal baginya setelahnya sehingga ia menikah dulu pada yang lainnya”. Mereka sepakat pada bahwasannya yang mencerai istrinya dengan satu cerai, dua cerai maka baginya boleh merujuknya; tapi apabila ia mencerainya dengan cerai yang ketiga kalinya maka ia tak halal baginya hingga menikah laki-laki lainnya, dan ini termasuk ayat al qur’an yang muhkam yang tak diperselisihnkan mengenai pentakwilannya. Diriwayatkan dalam khabar [ahad] keadilan (perpindahaan) seperti itu juga: said ibn nashr telah membacakan hadis pada kita ia berkata: “qasim ibn ashbagh telah membacakan hadis kepada kita ia berkata: ‘muhamad ibn wadldloh membacakan hadis pada kita: abu bakar ibn abi

syaibah telah membacakan hadis pada kita: abu muawiyah meriwayatkan hadis pada kita, dari ismail ibn sumai’ dari abu razin ia berkata: seseoarang datang kepada nabi saw lalu ia berkata: wahai rasulullah, apakah engkau tidak melihat firmanNya yang maha tinggi: “Talak (yang dapat dirujuki) dua kali.setelah

itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik” lalu mana yang ketiga? Lalu rasulullah saw menjawab: “setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik”. H.R ats tsauri dan yang lainnya dari
ismail ibn sumai’ dari abi razin seperti itu. Saya katakan: al kiya ath thabariy menuturkan khabar ini dan mengatakan: bahwa itu tidak kokoh dari segi pengutipan; dan ia mengunggulkan pendapat ad dhahak dan as suddiy, dan bahwa talak tiga hanya disebutkan dalam rangkaian khitab pada firmanNya: Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga Dia kawin dengan suami yang lain. Maka yang ketiga itu disebutkan dalam silah khitab ini, memberikan faidah untuk pemisahan yang menyebabkan pengharaman kecuali setelah nikah; maka mesti memungkinkan firmanNya: “atau menceraikan dengan cara yang baik” pada faidah yang baru, yaitu adanya pemisahan dengan dua (cerai) itu saat habis iddah, dan pada bahwa maksud ayat ini menjelaskan jumlah talak yang menyebabkan pengharaman, dan menghapus kebolehan talak tanpa jumlah yang ditentukan, karena apabila firmanNya “atau menceraikan dengan cara yang baik” adalah yang ke tiga tentu tak jelas dari maksud yang ada pada pemunculan pengharaman dengan yang ketiga; karena apabila meringkas padanya tentu tidak menunjukan pada adanya perpisahan yang mengharamkannya kecuali setelah menikah, dan pengharaman hanya diketahui dengan firmanNya yang maha tinggi: “Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga Dia kawin dengan suami yang lain”. Maka mesti makna firmanNya: “atau menceraikan dengan cara yang baik” bukan yang ketiga, seandainya firmanNya: “atau menceraikan dengan cara yang baik” dengan makna yang ketiga, maka firmanNya dibelakang

itu: “Kemudian jika si suami mentalaknya” itu yang ke empat; karena huruf ‘fa’ (berfungsi) ungtuk ta’qib, menuntut talak yang kemudian setelah yang dikemukakan penyebutannya; maka dengan itu kokohlah bahwa firmanNya: “atau menceraikan dengan cara yang baik” adalah membiarkannya hingga habis iddahnya.

d.
5.

Al bukhari menterjemahkan untuk ayat ini: bab yang membolehkan talak tiga dengan firmanNya: “Talak

(yang dapat dirujuki) dua kali. setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.” Ini isyarat darinya pada jumlah ini bahwa itu hanyalah ‫ فسحة‬bagi mereka; barang siapa yang sesak atas dirinya sendiri maka memestikannya. Ulama kita mengatakan: “para imam fatwa sepakat pada kemestian terjadinya talak tiga pada satu kata, dan itu pendapat mayoritas ulama salaf, thawus dan sebagian ahli dzahir menganggap menyalahi aturan pada bahwa talak tiga itu dalam satu kata terjadi, ini diriwayatkan dari muhamad ibn ishaq dan al hajjaj ibn arthah. Dan dikatakan dari keduanya: tak mesti karenanya sesuatupu; itu pendapat muqatil. Dihikayatkan dari daud bahwa ia mengatakan: tidak terjadi. Tapi yang masyhur dari al hajjaj ibn atharah dan mayoritas ulama salaf dan para imam bahwa itu memestikan talak tiga, dan tidak ada perbedaan antara tiga kali terkumpul dalam satu kata, atau terpisah-pisah dalam beberapa kata. Adapaun orang yang berpegai pada bahwa tak wajib apapun karenanya, maka ia berargumen dengan firmanNya: “mereka (istri-istri) yang dicerai menunggu dirinya tiga kali suci”. Dan ini menyeluruh pada setiap yang dicerai kecuali yang dikhususkan darinya; dan itu

telah dikemukakan. Dan Dia berfirman: “cerai (yang boleh dirujuki) dua kali” dan yang ketiga:

“setelah itu

boleh rujuk lagi dengan cara yang ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik”. Maka yang mencerai tiga dalam satu kata tidak mesti; karena itu tak disebutkan dalam al qur’an. Sedangkan yang berpegan pada bahwasannya itu terjadi dengan setu kata maka ia berdalil dengan tiga hadis: a. Hadis ibn abas dari riwayat thawus dan abu ash shahbai serta ikrimah. b. Hadis ibn Umar berdasarkan riwayat yang meriwayatkan bahwa ia mencerai istrinya dengan talak tiga, dan bahwa beliau saw menyuruhnya untuk merujuknya dan ia menghitungnya satu kali. c. Bahwa Rukanah mencerai istrinya dengan talak tiga, lalu dia disuruh rasulullah untuk merujuknya, dan rujuk menuntut terjadi satu kali. Dan jawaban mengenai hadis-hadis yang sebutkan ath thahawiy bahwa said ibn Jubair, mujahid, atha, amr ibn dinar, malik ibn al harits, muhamad ibn iyas ibn al bukair, an nu’man ibn abu ayyasy mereka meriwayatkan dari ibn abas mengenai yang mencerai istrinya dengan talak tiga, bahwa dia telah durhaka kepada tuhannya, dan istrinya terpisah darinya, dan tidak dapat dinikahi kecuali setelah menikah. Dan mengenai yang diriwayatkan para imam dari ibn abas dari yang sejalan dengan

jama’ah ada yang menunjukan pada ‫وههههههن‬ periwayatan thawus dan yang lainnya, dan ibn aba tak pantas bersebrangan dengan para sahabat untuk pendapatnya sendiri. Ibn abdul bar mengatakan: “periwayatan thawus meragukan dan salalh, tak menempuhnya (mendakinya) seorangpun dari pakar fikh di kotakota hijaj, syam, iraq, masyriq dan magrib, dan dikatakan: bahwa abu ash shabhai tidak dikenal termasuk anak angkatnya ibn abas. Al qadliy abul walid al bajiy mengatkan: “menurutku bahwa periwayatan dari ibn thawus terhadapa hal itu shahih, karena para imam telah meriwayatkan darinyanya: ma’mar dan ibn juraij serta yang lainnya; sedangkan ibn thawus adalah imam. Sedangkan hadis yang mereka tunjukan adalah yang diriwayatkan thawus dari bapaknya, dari ibn abas ia berkata: “bahwa cerai pada zaman rasulullah saw, abu bakar dan dua tahun dari kekhilafahan umar ibn khathab talak tiga itu satu, lalu umar r.a. berkata: “sesunggunya manusia telah mempercepat mengenai hal yang mereka itu ‫ أنهههاة‬mengenai hal tersebut, maka apabila kita merestuinya atas mereka, maka saya merestuinya atas mereka. Makna hadis bahwa mereka melakukan satu kali talak sebagai ganti terjadinya orang-orang sekarang dengan tiga kali talak; dan menunjukan pada kesahihan takwil ini bahw umar berkata: bahwa manusia telah meminta dipercepat mengenai hal yang pada mereka ada ‫ أنههههاة‬di

dalamnnya; lalu ia mengingkari mereka untuk melakukan dalam talak demi mempercepat hal yang bagi mereka didalamnya ada ‫أناة‬. Seandainya kondisi mereka itu di permulaan islam di zaman nabi saw yang ia katakan, dan ia tidak mencerca mereka bahwa mereka mempercepat urusan yang di dalamnya ada ‫أنهههاة‬. Dan menunjukan pada kesahihan takwil ini yang diriwayatkan dari ibn abas tanpa jalur bahwa ia memberikan fatwa mestinya talak tiga bagi yang memunculkannya terkumpu, maka jika ini makna hadis ibn thawus, maka itulah yang kami katakan, dan jika hadis ibn thawus dimungkinkan pada yang ditakwilkan orang yang tak perlu dianggap ucapannya, maka ibn abas telah kembali kepada pendapat jama’ah, dan dengan hal itu terjadilah ijma, dalil kita dari segi analogi bahwa cerai ini dimunculkan orang yang memilikinya, maka wajib memestikannya, asal hal tersebut jika ia memunculkannya sendiri. Saya katkakan: “yang ditakwilkan oleh al bajiy yaitu yang disebutkan maknanya oleh al kiya ath thabariy dari ulama hadis: yaitu bahwa mereka mencerai dengan talak satu ini yang mereka mencerai tiga kali, yaitu mareka tak mencerai pada setiap kali suci satu kali; mereka mencerai pada semua masa iddah satu kali hingga terpisah dan habis iddah. Al qadliy abu muhamad abdul wahab mengatakan: “ maknanya bahwa orang-orang meringkas pada satu talak, kemudian mereka memperbanyak pada hari-hari umar berkuasa memunculkan talak tiga.

Al qadli mengatakan: ini adalah yang sangat mirip dengan pendapat yang meriwayatkan bahwa orang-orang pada masa umar mempercepat talak tiga maka umar mempercepat pada mereka, maknanya: memestikan pada mereka hukumnya (perempuan itu). Sedangkan hadis ibn umar maka sesungguhnya ad daruquthniy meriwayatkan dari ahmad ibn shabih, dari tharif ibn nashih, dari muawiyah ibn amar ad duhniy, dari abu az zubair ia berkata: ‘saya bertanya pada ibn umar mengenai seseorang yang mencerai istrinya dengan talak tiga sedangkan ia haid; maka ia menjawab padaku: apakah kamu mengenal ibn umar? Saya menjawab: ya, ia berkata: ‘saya mencerai istriku dengan talak tiga pada masa rasulullah saw [sedangkan ia haidl], lalu ia dikembalikan rasulullah saw pasa sunah. Ad daruquthniy mengatakan: mereka semua dari syi’ah; yang terpelihara bahwa ibn Umar mencerai istrinya sekali pada masa haidl. Ubidillah mengatakan: talaknya (ibn umar) padanya pada masa haidl sekali, hanya saja itu menyalahi sunah. Begitu jug shalih ibn kisan, musa ibn uqbah, ismail ibn umaya, laits ibn sa’d, ibn abu dzu’b, ibn juraij, dan ismail ibn ibrahim ibn uqbah dari nafi’: bahwa ibn umar mencerai sekali. Sepert itulah az zuhriy dari salim dari bapaknya, yunus ibn jubair, asy sya’biy dan al hasan mengatakan. Sedangkan hadis rukanah maka dikatakan: bahwa itu hadis mudltharib munqathi’, tidak dijadikan sandaran dari segi yang dipakai hujjah;

diriwayatkan abu daud dari hadis ibn juraij, dari sebagian bani ubay rafi’ – pada mereka tak ada yang dapat dijadika hujah – dari ikrimah, dari ibn abas. Dan ia mengatakan tentangnya: bahwa abdu yazid mencerai istrinya tiga kali; lalu rasulullah saw bersabda padanya: “rujuklah”. Dan ia juga meriwayatkan dari jalur nafi’ ibn ujair: bahwa rukanah ibn abdu yazid mencerai istrinya sekali, lalu ia meminta disumpah pada rasulullah: apa yang ia kehendaki dengannya (istrinya)? Lalu a bersumpah hanya menghendaki sekali; maka beliau mengembalikannya padanya. Maka ini meragukan baik dalam nama maupun pekerjaan; dan tak bisa daijadikan argumen sedikitpun dari yang seperti ini. Saya katakan: “ia telah mengeluarkan hadis ini dari jalur ad daruquthniy dalam sunannya; ia berkata dalam sebagiannya: telah meriwayatkan hadis pada kita muhamad ibn yahya ibn mirdas, abu daud as sijistaniy telah meriwayatkan hadis pad kita, ahmad ibn amr ibn as sarh dan abu tsaur ibrahim ibn khalid al kalbiy dan yang lainnya telah meriwayatkan hadis pada kita, mereka mengatakan: muhamad ibn idris asy syafi’i meriwayatkan hadis pada kita, pamanku muahamad ibn ali ibn syafi’ meriwayatkan padaku, dari abdulah ibn ali ibn as saib, dari nafi’ ibn ujair ibn abdu yazid: bahwa rukanah ibn abd yazid mencerai istrinya suhaimah al muzaniyah al batah; lalu ia memberitahukan itu pada nabi saw; dan ia berkata: demi allah saya tak menghendakinya kecuali satu kali, lalu rasulullah bertanya: demi

allah kami hanya menghendaki satu kali? Lalu rukanah menjawab: demi allah saya hanya bermaksud sekali. Lalu rasulullah saw mengembalikannyanya padanya, lalu ia mencerainya untuk kedua kali pada masa umar ibn khatab, dan yang ketiga pada masa utsman. Abu daud mengatakan: ini hadis sahih. Maka yang sahih dari hadis rukanah bahwa ia mencerai istrinya al batah bukan tiga, dan cerai al batah diperselisihkan mengenainya berdasarkan penjelasan yang aka tiba, maka gugurlap argumen segala puji bagi allah, allahlah yang lebih tahu. Abu umar mengatkan: “riwayat syafi’i untuk hadis rukanah dari pamannya yang sempurna, dan ia menambahkan tambahan yang tak ditolak usul, maka wajib menerimanya karena para pengutipnya terpercaya, syafi’i, pamannya dan kakeknya keluarga rukanah, semuanya dari bani mutalib ibn abdu manaf, dan mereka yang lebih tahu terhadap kisah yang disuguhkan pada mereka. Fasal: ahmad ibn muhaman ibn mugits ath thalaithiliy menuturkan masalah ini dalam watsaiqnya lalu ia mengatakan: “cerai itu terbagi dua: cerai yang sunah, dan cerai yang bid’ah. Cerai sunah adalah yang terjadi berdasarkan car yang dianjurkan syara’, sedangkan cerai bid’ah kebalikannya, yaitu ia mencerainya pada waktu haidl, nifas, atau talak tiga dalam satu kata, maka jika ia melakukannya mesti baginya cerai. Kemudian ahli ilmu berselisih setelah sepakat

bahwa ia itu mencerai: berapa talak yang mesti baginya? Ali ibn abi talib dan ibn mas’ud mengatkan: “wajib baginya talak satu, dan itu dikatakan oleh ibn abas. Dania mengatkan: ‘Ucapannya tiga, tak berarti untuknya; karena ia tidak mencerainya tiga kali, ucapannya “tiga” hanya boleh jika ia memberitahukan yang telah berlalu lalu ia mengatkan: saya mentalak tiga, maka ia memberitakan tentang tiga pekerjaan yang keluar darinya dapa tiga waktu, seperti seseorang yang berkata: saya membaca surat ini kemarin tiga kali, maka itu sahih, tapi seandainya dia membacanya satu kali lalu ia mengatkan: saya membacanya tiga kali makaia berbohong. Begitu juga seandainya ia bersumpah atas nama Allah tiga kali ia mengulangulang sumpah, maka itu tiga sumpah, sedangkan apabila ia bersumpah lalu berkata: saya bersumpah atas nama Allah tiga kali, maka ia hanya bersumpah satu kali, dan cerai seperti itu. Itu dikatakan zubair ibn awam dan abdurahman ibn auf. Dan telah meriwayatkan itu semua dari ibn wadldloh, dan dengan itulah sebagian syaikh qurtubah ibn zinbay syaikh huda, ahmad ibn baqiy ibn mukhalid, muhamad ibn abdusalam al khusyaniy pakar fikh masanya, ashbag ibn al habab dan sekelompok selain mereka berpendapat. Dan diantara argument ibn abas bahwa allah swt dalam kitabNya memisahkan kata talak, maka yang maha agung berfirman: “talak itu dua kali” ia

menghendaki paling banyak talak yang setelahnya boleh mempertahankan dengan cara yang baik, yaitu rujuk pada masa iddah. Makna firmanNya: “atau menceraikan dengan cara yang baik” ia menghendaki membiarkannya tanpa rujuk hingga habis iddahnya, dan dalam hal iut ada kebaikan padanya jika ada penyesalan diantara keduanya; Allah swt berfirman: “kamu tidak tahu barangkali Allah setelah itu memunculkan sesuatu (penyesalan atas perpisahan)” [ath thalaaq:1] ia menghendaki penyesalan atas perpisahan, dan menginginkan rujuk. Tempat yang ketiga itu tidak baik; karena padanya meninggalkan keterpujian yang dilapangkan dan diingatkan allah, maka penuturan allah pada kata talak untu memisahkan yang menunjukan pada bahwasannya jika ia mengkompromikan sesungguhnya itu satu kata, maka telah mengeluarkan analogi tanpa permasalahan dari al mudawanah yang menunjukan terhadap hal itu, karena itulah ucapan manusia: hartaku sedekah pada orang-orang miskin, bahwa sepertiga mencukupinya dari hal itu. Dan dalam al isyraf karya ibn mundzir; said ibn jubair, thawur, abu sya’tsa, atha, amr ibn dinar mereka mengatakan: barang siapa yang mencerai perawan tiga maka itu satu.
Saya katakan: acap kali mereka beralasan lalu mereka berkata: yang tidak dimasuki tak ada iddah untuknya, tapi jika ia mengatakan: kami ditalak tiga, maka telah pisah denga perpisahannya sendiri dari ucapannya: kamu ditalak, lalu ia menghendaki tiga atasnya maka itu bain maka itu tak berpengaruh apapun. Karena ucapannya: kamu ditalak, terbebas dengan

sendirinya, maka mesti tidak berdiri bainunah pada selain yang tidak dimadkhul berdasarkan yang ada setelahnya, pokoknya jika ia mengatakan: kamu dicerai.

6. Syafi’i berdalil dengan firmanNya yang maha tinggi: “atau menceraikan dengan cara yang baik” dan firmanNya “dan ceraikanlah mereka” [al ahzab: 49] berdasarkan bahwa lafadz ini termasuk talak yang jelas. Ulama berselisih mengenai makna ini; al qadli abu muhamad berpegang pada bahwa yang jelas adalah yang termuat dalam kata talak dalam bentuk apapun, seperti ia mengatakan: “kamu ditalak”, atau “kamu ditalak”, “saya telah mentalakmu”, “talak mesti untuknya” dan kata-kata talak yang digunakan yang selain itu, itu termasuk kiasan, dan dengan ini Abu Hanifah berpendapat. Al qadli abul hasan mengatkan: “kata-kata talak yang jelas sangat banyak sekali”, sebagiannya lebih jelas dari sebagiannya lagi: ‫ والبرية‬,‫ الخلية‬,‫ الحرام‬,‫ الفراق‬,‫السراح‬,‫الطلق‬. Syafi’i mengatakan: yang jelas ada tiga kata yaitu yang dituturkan al qur’an yaitu kata ‫ الفراق‬,‫ السراح‬,‫ ;الطلق‬Allah berfirman: ‫أو‬

2:‫ ]فارقوهن بمعروف ]الطلق‬dan Dia berfirman: ‫أو تسريح بإحسان‬ dan dia berfirman: 1:‫]فطلقوهن لعدتهن ]الطلق‬.
Saya katakan: jika ini kokoh maka talak itu berdasarkan dua cara: jelas dan kiasan; yang jelas adalah yang telak kita sebutkan, sedangkan kiasan yang selain itu. Perbedaan diantar keduanya: bahwa yang jelas tidak membutuhkan pada niat; tapi dengan kata saja terjadi talak, sedangkan yang kiasan membutuhkan pada niat, argumen bagi yang mengatakan: bahwa ‫ الخلية‬,‫ الحرام‬dan ‫البرية‬ termasuk talak yang jelas, banyak penggunaannya dalam talak sehingga dikenal dengannya, maka itu menjadi sangat jelas dalam terjadinya talak, seperti kata ‫ الغائط‬yang digunakan tempat yang sepi dibumi, kemudian digunakan berdasarkan cara majaz dalam melakukan buang air besar, maka dalam kata itu lebih jelas, lebih nampak dan lebih terkenal darinya yang digunakan untuknya, begitu juga dalam maslah kita ini seperti itu. Kemudian umar ibn abdul aziz mengatakan: seandainya talak itu lembut tak akan yang tersisa sedikitpun darinya, yang mengatakan:

‫البتة‬, maka telah melepaskan puncak tertinggi. Dikeluarkan oleh
malik.

Ad daruquthniy meriwayatkan dari ali ia mengatakan: ,‫ البتة‬,‫الخلية‬

‫ الحرام‬,‫ البائن‬tiga, tak halal bagi mereka sehingga ia menikah
dengan laki-laki lain. Ada dari rasul saw bahwa ‫( البتة‬talak) itu tiga, dari cara yang halus, dikeluarkan ad daruquthniy. Dan itu akan ada pada (saat menjelaskan) firmanNya: ‫ ولتتخذوا ءايت الله هزوا‬insya allah. 7. Ulama tak erselisih mengenai yang berkata pada istrinya: “saya telah mentalakmu”, bahwa itu termasuk talak yang jelas baik pada yang telah disetubuhi maupun tidak, lalu barang siapa yang berkata pada istrinya:”kamu ditalak”, maka itu satu, kecuali ia berniat lebih dari itu. Maka jika ia berniat dua atau tiga, maka mesti baginya yang ia niatkan, jika ia tidak meniatkan apapun, maka itu satu yang memiliki rujuk. Apabila dia mengatakan:”kamu ditalak”, dan ia berkata: saya menghendaki dari ‫وثاق‬, ucapannya tak diterima dan itu mesti baginya, kecuali disana ada yang menunjukan atas kebenarannya. Barangsiap yang berkata: “kamu ditalak satu, dan tak ada rujuk untuku atas kamu. Maka ucapannya: “dan tak ada rujuk untuk atasmu, itu batil, dan ia berhak merujuk berdasarkan ucapannya: satu; karena yang satu bukan tiga, tapi jika ia berniat dengan ucapannya: “dan tak ada rujuk untuk atasmu”, tiga kali, maka itu tiga menurut malik. Mereka berselisih mengenai yang berkata pada istrinya: ku telah berpisah denganmu, aku melepaskanmu, kamu kosong, bebas, atau beda, kehamilanmu karena yang lain, kamu haram bagiku, kembalilah kepad keluargamu, ku telah serahkan kamu pada keluargamu, ku telah mengosongkan jalanmu, tak ada bagian untukku atasmu; maka abu hanifah dan abu yusuf berkata: itu adalah talak bain, diriwayatkan dari ibn mas’ud ia berkata: jika seseorang berkata pada istrinya:”bergemberilah dengan urusanmu, urusanmu adalah milikmu, atau kembalilah pada keluargamu, lalu ia menciumnya, maka itu talak satu yang jelas. Deiriwayatkan dari malik mengenai yang berkata pada istrinya: ku telah berpisah darimu, atau kulepaskan kamu, sesungguhnya itu termasuk talak yang jelas, seperti ucapanmu: kamu ditalak. Dariwayatkan darinya bahwa itu kiasan yang mengenainya dikembalikan pada niat yang mengatakannya, ia ditanya jumlah yang ia maksud, baik pada yang sudah disetubuhi atau belum.

Ibnul mawaz mengatakan: “yang paling sahih dari kedua pendapatnya mengenai yang belum disetubuhi bahwa itu satu, kecuali ia berniat lebih banyak, itu dikatakan ibnul qasi dan ibn abdul hakam. Abu yusuf mengatakan:”itu tiga, dengan seumpama itu: lepaskan kamu, atau tak ada kepemilikin untukku atasmu. ku

Sedangkan seluruh kiasan menurut malik adalah talak tiga pada setiap yang sudah disetubuhi, tidak diniatkan mengenainya oleh pengucapnya, dan diniatkan pada yang belum disetubuhi. Maka apabila ia bersumpah dan berkata: “saya maksud satu, maka ia salah seorang dari mereka yang meminang; karena ia tidak mengosong istri yang telah disetubuhi suaminya, tidak memisahkannya, dan tidak membebaskannya kecuali oleh talak tiga. Sedangkan yang belum disetubuhi dikosongkan, dibebaskan dan dipisahkan oleh talak satu. Diriwayatkan dari malik, dan sekelompok pengikutnya, dan itu pendapat kelompok penduduk madinah: bahwasannya dalam katakata ini semua diniatkan, maka mesti baginya talak yang ia niatkan. Dan diriwayatkan darinya mengenai ‫ البتة‬saja dari seluruh kiasan: bahwa itu tak diniatkan, baik pada yang sudah disetubuhi maupun belum. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14.

i

229. Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, Maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya[144]. Itulah hukum-hukum Allah, Maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka Itulah orang-orang yang zalim.

[144] Ayat Inilah yang menjadi dasar hukum khulu' dan penerimaan 'iwadh. Kulu' Yaitu permintaan cerai kepada suami dengan pembayaran yang disebut 'iwadh. Sunan Al Turmudziy 2979
ii

Sahih Al Bukhari 4526

iii

Ucapan fa akhadztu yauman, al Hafidz Ibn Hajar dalam Al Fath 8/189 mengatakan: “yaiut: saya memegang mushaf sedangkan ia membaca dihafal”