You are on page 1of 14

PENDAHULUAN Pada hari Selasa, tanggal 20 Juli yang lalu, saya berserta ahli kelompok B 6 yang lain telah

diberi tugasan untuk ke Puskesmas Duri Kepa untuk melaksanakan tugasan skill lab blok 26, mengenai family folder. Dosen pembimbing kami adalah Dr Setiawan Aslim. Family Folder atau Kumpulan Data Keluarga merupakan dokumen lengkap suatu keluarga terutama dalam hubungannya dengan derajat kesehatan. Derajat kesehatan dipengaruhi oleh empat factor utama oleh H.L Blum: Keempat factor tersebut adalah genetic, pelayanan kesehatan, perilaku manusia dan lingkungan. a) Factor genetic: Paling kecil pengaruhnya terhadap kesehatan perorangan atau masyarakat dibanding ketiga factor yang lainnya. b)Faktor pelayanan kesehatan: Ketersediaan sarana pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan, pelayanan kesehatan yang berkualitas akan berpengaruh pada derajat kesehatan masyarakat.c) factor perilaku: di negara berkembang factor ini paling besar pengaruhnya terhadap gangguan kesehatan atau masalah kesehatan masyarakat. Perilaku individu/ kelompok masyarakat yang kurang sehat juga akan berpengaruh pada factor lingkungan yang memudahkan timbulnya suatu penyakit.d) factor lingkungan: lingkungan yang terkendali akibat sikap hidup dan perilaku masyarakat yang baik akan menekan berkembangnya masalah kesehatan. Makalah ini dibuat dengan tujuan mengkaji dan membahas penyakit infeksi saluran pernapasan akut pada masyarakat dan kaedah tatalaksana terhadap penyakit tersebut dengan berbasiskan pendekatan kedokteran keluarga. Kedokteran keluarga adalah dokter praktek umum yang dalam prakteknya melayani pasien menerapkan prinsip-prinsip kedokteran keluarga (Kolegium Kedokteran Keluarga 2003). Kompetensi dokter keluarga tercermin dalam profile the five stars doctor. Pelayanan kedokteran yang menerapkan prinsip-prinsip kedokteran keluarga meliputi : komprehensif (pelayanan kedokteran yang menyeluruh/ integral yaitu meliputi usaha promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif) dengan mengutamakan pencegahan, kontinyu (dalam proses dan waktu), kolaboratif dan koordinatif dengan pasien dalam menentukan keputusan untuk kepentingan pasien, berdasarkan evidence based medicine misalnya dengan cara mengikuti seminar/ pendidikan kedokteran berkelanjutan. Pasien yang dilayani adalah peribadi/ perorangan seutuhnya (bio-psiko-sosial) yang unik (berbeda satu dengan lainnya) serta harus dipandang sebagai satu kesatuan dengan keluarganya dalam segala aspek (keturunan, ideology, politik, ekonomi, social, budaya, agama, keamanan dan lingkungannya). Pelayanan dokter keluarga menunjang setiap orang sadar, mau dan mampu hidup sehat dalam arti sejahtera jasmani, rohani dan sosial yang memungkinkan setiap orang bekerja produktif secara sosial dan ekonomi (UU no. 23/92 tentang kesehatan). Seorang dokter berkompetensi dengan profil yang direkomendasikan WHO yaitu ‘five stars doctor’ yang dijabarkan sebagai berikut:  Health provider: Memberikan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan pasien sebagai manusia yang utuh (holistic) baik individu, maupun sebagai bagian integral keluarga dan masyarakat, layanan berkualitas, menyeluruh, berkesinambungan dan layanan secara perseorangan jangka panjang dan hubungan saling percaya.

1

Menjamin terpenuhinya kebutuhan dan tuntutan kesehatan pasien. rongga telinga tengah dan pleura. dan penggunaan teknologi tepat guna sesuai dengan harapan pasien. Decision maker: Mampu membuat keputusan secara ilmiah berkaitan dengan pemeriksaan. dan dapat mempersatukan kebutuhan-kebutuhan akan kesehatan baik pada perseorangan maupun kelompok. 4. etis. istilah ini diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infections (ARI). Manfaat kunjungan ke puskesmas dan bertemu sendiri dengan pasien adalah agar mahasiswa dapat menerapkan atau mengaplikasikan sendiri praktek pendekatan kedokteran keluarga. Menjamin terpenuhinya kebutuhan pasien. Dengan ini diharapkan agar mahasiswa lebih berketrampilan dan berkeyakinan. melakukan sesuatu dengan mengatasnamakan masyarakat. pengobatan. dengan pengertian sebagai berikut: Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit. ISPA secara anatomis mencakup saluran pernafasan bagian atas. Untuk dapat mewujudkan pelayanan kesehatan seperti itu diperlukan adanya kunjungan rumah (home visit) serta melakukan kesehatan yang standar. I.  Community leader: Sebagai orang yang dipercaya oleh masyarakat ditempat bekerjanya. Meningkatkan hubungan dokter pasien 3. saluran pernafasan dan akut. LATAR BELAKANG ISPA Infeksi Saluran Pernafasan Akut sering disingkat dengan ISPA. Istilah ISPA meliputi tiga unsur yakni infeksi.  Communicator: Mampu menjelaskan dan memberikan nasehat untuk berperilaku sehat dengan cara yang efektif sehingga kelompok atau individu dapat meningkatkan dan melindungi kesehatan mereka. 2. Saluran pernafasan adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ adneksanya seperti sinus-sinus. pertimbangan cost effective dan adanya kemungkinan layanan yang terbaik.  Manager: Dapat bekerja sacara harmonis dengan individu dan organisasi baik di dalam maupun diluar system kesehatan untuk mempertemukan kebutuhan pasien secara individu dan masyarakat. Oleh karena itu perlu diketahui berbagai latar belakang pasien yang menjadi tanggungannya. menggunakan data-data kesehatan secara tepat. saluran pernafasan bagian bawah (termasuk jaringan 2 . Meningkatkan pemahaman dokter tentang pasien. Prinsip pokok dari dokter keluarga adalah untuk dapat menyelenggarakan pelayanan kedokteran menyeluruh. Manfaat yang didapatkan dari kunjungan ke rumah pasien antara lain: 1.

hidung tersumbat dengan ingus encer serta demam dan nyeri kepala. misalnya karena kelelahan atau stres. Picornavirus. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari. Coronavirus. Dengan batasan ini. Adenovirus. Bakteri penyebabnya antara lain dari genus Streptococcus. Permukaan mukosa hidung tampak merah dan membengkak. Etiologi ISPA Etiologi ISPA terdiri lebih dari 300 jenis bakteri. Hemofilus. virus dan riketsia. Infeksi lebih lanjut membuat sekret menjadi 3 . Bordetella dan Corinebakterium. Pnemococcus. kering dan gatal dalam hidung. Pada stadium awal. gejalanya berupa rasa panas. jaringan paru termasuk dalam saluran pernafasan ( respiratory tract). Virus penyebabnya antara lain golongan Micsovirus. Stafilococcus. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari.paru-paru) dan organ adneksa saluran pernafasan. yang kemudian diikuti bersin terus menerus. Gejala ISPA Penyakit ISPA adalah penyakit yang sangat menular. Micoplasma. Herpesvirus. hal ini timbul karena menurunnya sistem kekebalan atau daya tahan tubuh.

Infeksi lebih lanjut membuat sekret menjadi kental dan sumbatan di hidung bertambah. hingga bronkhitis dan pneumonia (radang paru). Batas nafas cepat adalah : a. Pnemonia dan Hemophylus influenzae merupakan bakteri yang selalu ditemukan pada penelitian etiologi di negara berkembang. Sebagian besar penularan melalui udara dapat pula menular melalui kontak langsung. faringitis. Diagnosis pnemonia pada balita didasarkan pada adanya batuk dan atau kesukaran bernafas disertai peningkatan frekuensi nafas (nafas cepat) sesuai umur. gejalanya akan berkurang sesudah 3-5 hari. namun tidak jarang penyakit yang sebagian besar penularannya adalah karena menghisap udara yang mengandung unsur penyebab atau mikroorganisme penyebab. Penularan melalui udara dimaksudkan adalah cara penularan yang terjadi tanpa kontak dengan penderita maupun dengan benda terkontaminasi. Dengan pertimbangan tersebut. Pemeriksaan cara ini sangat efektif untuk mendapatkan dan menentukan jenis bakteri penyebab pnemonia pada balita. infeksi telinga tengah. Bila tidak terdapat komplikasi. Bila tidak terdapat komplikasi. hingga bronkhitis dan pneumonia (radang paru). gejalanya akan berkurang sesudah 3-5 hari. oleh karena itu maka penyakit ISPA ini termasuk golongan Air Borne Disease. Komplikasi yang mungkin terjadi adalah sinusitis. infeksi saluran tuba eustachii. Cara Penularan Penyakit ISPA Penularan penyakit ISPA dapat terjadi melalui udara yang telah tercemar. infeksi telinga tengah. bibit penyakit masuk kedalam tubuh melalui pernafasan. Komplikasi yang mungkin terjadi adalah sinusitis.kental dan sumbatan di hidung bertambah. infeksi saluran tuba eustachii. bahwa Streptococcus. namun disisi lain dianggap prosedur yang berbahaya dan bertentangan dengan etika (terutama jika semata untuk tujuan penelitian). Diagnosa ISPA Diagnosis etiologi pnemonia pada balita sulit untuk ditegakkan karena dahak biasanya sukar diperoleh. Pada anak usia kurang 2 bulan frekuensi pernafasan sebanyak 60 kali permenit 4 . diagnosa bakteri penyebab pnemonia bagi balita di Indonesia mendasarkan pada hasil penelitian asing (melalui publikasi WHO). faringitis. Di negara maju pnemonia pada balita disebabkan oleh virus. Sedangkan prosedur pemeriksaan imunologi belum memberikan hasil yang memuaskan untuk menentukan adanya bakteri sebagai penyebab pneumoni hanya biakan spesimen fungsi atau aspirasi paru serta pemeriksaan spesimen darah yang dapat diandalkan untuk membantu menegakkan diagnosis etiologi pnemonia. Penentuan nafas cepat dilakukan dengan cara menghitung frekuensi pernafasan dengan menggunkan sound timer.

demam (38ºC atau lebih) atau suhu tubuh yang rendah (di bawah 35. Pneumonia berat: batuk atau kesulitan bernafas dan penarikan dinding dada. adanya penarikan dinding dada.2.<1 tahun frekuensi pernafasan sebanyak 50 kali per menit atau lebih. b. b. otitis atau penyakit non-pnemonia lainnya.5 ºC). Pada klasifikasi bukan pneumonia maka diagnosisnya adalah batuk pilek biasa (common cold). stridor pada anak yang tenang.1.<5 tahun frekuensi pernafasan sebanyak 40 kali per menit atau lebih. tonsilitis. b. atau adanya penarikan yang kuat pada dinding dada sebelah bawah ke dalam.atau lebih. b. rasa kantuk yang tidak wajar atau sulit bangun. penarikan dinding dada berat. Bukan pneumonia (batuk pilek biasa): batuk (atau kesulitan bernafas) tanpa pernafasan cepat atau penarikan dinding dada.< 5 tahun. Kelompok umur < 2 bulan. Pneumonia sangat berat: batuk atau kesulitan bernafas yang disertai dengan sianosis sentral. pernafasan cepat 60 kali atau lebih per menit. Pada anak usia 2 bulan . anak kejang dan sulit dibangunkan. Pneumonia berat: bila disertai dengan tanda-tanda klinis seperti berhenti menyusu (jika sebelumnya menyusu dengan baik). Diagnosis pneumonia berat untuk kelompok umur kurang 2 bulan ditandai dengan adanya nafas cepat. kejang. Pada anak usia 1 tahun . tidak dapat minum. Bukan pneumonia: jika anak bernafas dengan frekuensi kurang dari 60 kali permenit dan tidak terdapat tanda pneumonia seperti diatas. distensi abdomen dan abdomen tegang. c.1. Klasifikasi ISPA Klasifikasi Berdasarkan Umur a. Rujukan penderita pnemonia berat dilakukan dengan gejala batuk atau kesukaran bernafas yang disertai adanya gejala tidak sadar dan tidak dapat minum. Pneumonia: batuk (atau kesulitan bernafas) dan pernafasan cepat tanpa penarikan dinding dada. sianosis sentral (pada lidah). Pneumonia persisten: anak dengan diagnosis pneumonia tetap sakit walaupun telah diobati selama 10-14 hari dengan dosis antibiotik 5 . diklasifikasikan atas : a. yaitu frekuensi pernafasan sebanyak 60 kali per menit atau lebih. Kelompok umur 2 bulan . diklasifikasikan atas : b. b.2. a.3. pharyngitis. b.5. mengi.4. tetapi tidak disertai sianosis sentral dan dapat minum. serangan apnea.

Anamnesis telah dilakukan secara alloanamnesis dan autoanamnesis. IDENTITAS PASIEN Nama : Rizka Dwi Firdani Umur : 11 tahun Jenis kelamin : Perempuan Pendidikan : SD kelas VI Alamat : No 1820. Faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian penyakit ISPA adalah faktor ekstrinsik dan intrinsik. Faktor ekstrinsik terdiri dari ventilasi. Sewaktu kunjungan keadaan Rizka adalah baik dan tiada sebarang keluhan yang timbul. 6 . status gizi. bronkiolitis. laringotrakeitis. biasanya terdapat penarikan dinding dada. luas jendela. Infeksi Saluran Pernafasan atas Akut (ISPaA) Infeksi yang menyerang hidung sampai bagian faring. jenis kelamin. Kunjungan terakhir ke Puskesmas adalah pada Mei 2010 yang lalu. Infeksi Saluran Pernafasan bawah Akut (ISPbA) Infeksi yang menyerang mulai dari bagian epiglotis atau laring sampai dengan alveoli. Pemeriksaan fisik tidak dilakukan karena kesehatan sekarang adalah baik. Diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam pengembangan ilmu pengetahuan di bidang kesehatan 3. faringitis. 2. frekuensi pernafasan yang tinggi. RT 03/ RW 08. jenis lantai.yang adekuat dan antibiotik yang sesuai. dan demam ringan. Anak perempuan bernama Rizka. PEMBAHASAN A. penggunaan jenis bahan bakar dan kepemilikan lubang asap. Duri Kepa. otitis media. berumur 11 tahun telah di diagnosis Infeksi Saluran Pernapasan Akut. pemberian vitamin A pada saat nifas/ balita dan pemberian ASI MASALAH: Melihat faktor-faktor resiko yang berhubungan dengan kejadian penyakit ISPA pada pasien TUJUAN: Mengetahui faktor-faktor resiko yang berhubungan dengan kejadian penyakit ISPA pada pasien melalui pendekatan dokter keluarga. b. seperti epiglotitis. bronkitis. Bagi penulis merupakan suatu pengalaman yang sangat berharga dalam mengaplikasikan ilmu yang telah didapat dan menambah wawasan pengetahuan. dinamakan sesuai dengan organ saluran nafas. kepadatan hunian. pneumonia. Menurut ibunya. MATERI : Data-data pasien seperti di lampiran METODE : Melalui Wawancara dan pengamatan II. laringitis. seperti pilek. status imunisasi. MANFAAT PENELITIAN 1. Sedangkan faktor intrinsik terdiri dari umur. Rizka seringkali mengeluh batuk pilek sehingga dibawa rawatan ke puskesmas. letak dapur. Klasifikasi Berdasarkan Lokasi Anatomi a. Sebagai bahan masukan bagi Puskesmas dalam penentuan arah kebijakan program penanggulangan penyakit menular khususnya ISPA.

Caranya diawali dengan anamnesis. Pemeriksaan kultur/ biakan kuman (swab). Pemeriksaan foto thoraks jika diperlukan DIAGNOSIS 7 . didapat data subyektif (rinci). kemudian diikuti oleh pemeriksaan fisik. Riwayat Perjalanan Penyakit 4. alo-anamnesis (pada orangtua/ sumber lain). Identitas 2. cara tercepat menuju diagnosis. sesaat. jangan subyektif. Relatif stabil: pertolongan dilakukan setelah pemeriksaan fisik lengkap c. Pasien dengan status konvulsivus (berantas dulu kejangnya. Pemeriksaan hitung darah (deferential count). kemudian baru pemeriksaan fisis lain) PEMERIKSAAN PENUNJANG: Pemeriksaan penunjang yang lazim dilakukan adalah : a. kunci menuju diagnosis. perlahan-lahan. Mendadak. Pasien dlm keadaan distres akut: perlu pertolongan segera . Keluhan lokal: lokasi. Anamnesis harus dilakukan secara teliti. Hal-Hal Yang Perlu Tentang Keluhan/ Gejala: Lama keluhan. yang mendahului keluhan. menyebar. diagnosis kerja. terus menerus. PEMERIKSAAN FISIK: sama dengan pada orang dewasa o inspeksi (pemeriksaan lihat) o palpasi (pemeriksaan raba) o perkusi (pemeriksaan ketok) o auskultasi (pemeriksaan dengar) Keadaan umum: Pemeriksaan fisik dimulai dengan penilaian keadaan umum a. diagnosis banding (dd/) dan diagnosis akhir. lengkap (pengaruhnya 80% thd d/ suatu penyakit) ANAMNESIS auto-anamnesis (langsung pada pasien).Penegakan diagnosis yang akurat memerlukan pemeriksaan fisik yang merupakan cara yang baku dan harus dikuasai setiap dokter. teratur. napas sesak)  periksa cepat tanda-tanda vital  pertolongan awal dengan IVFD  kemudian baru pemeriksaan fisis lain d. hasil yang didapatkan adalah biakan kuman (+) sesuai dengan jenis kuman. bertambah berat/ berkurang. baru dilakukan p. pertama kali dirasakan/ pernah sebelumnya. pemeriksaan penunjang. laju endap darah meningkat disertai dengan adanya leukositosis dan bisa juga disertai dengan adanya thrombositopenia.f b. pindahpindah. menetap. dan c. Dimulai dengan: 1. Pasien dengan dehidrasi berat (mata cekung. hilang timbul. Riwayat Penyakit 3. b.

Diagnosis penyakit: Berdasarkan rekam medis puskesmas dan wawancara yang saya lakukan.  Immunisasi. dekstrometorfan dan antihistamin. c) Kuratif: tanpa pemberian obat antibiotik. yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara (misal pada waktu berbicara atau menangis). Rizka menderita ISPA. Keluhan tambahan : panas (demam) Diagnosis keluarga: Diagnosis keluarga Rizka adalah merupakan sebuah keluarga yang bahagia namun kurang baik karena sanitasi lingkungan kurang baik dan pengetahuan ibu yang kurang. menjaga kondisi udara sekitar  Khusus bayi melalui pemberian ASI eksklusif atau pemberian ASI hingga usia 2 tahun  Upaya mencuci tangan untuk memutus rantai penyebaran penyakit. suhu badan lebih dari 370 C atau jika dahi anak diraba. d) rehabilitatif: Berat badan dicatat tiap bulan dan dimasukan dalam grafik tumbuh kembang untuk memantau pola tumbuh pasien selama menjalani terapi dan pemberian makanan cukup gizi. Gejala dari ISPA Ringan Seseorang anak dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan satu atau lebih gejalagejala sebagai berikut: 1) Batuk 2) Serak. Gejala dari ISPA Sedang Seorang anak dinyatakan menderita ISPA sedang jika dijumpai gejala dari ISPA ringan disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut: 8 . digunakan obat batuk yang tidak mengandung zat yang merugikan seperti kodein. yaitu mengeluarkan lender atau ingus dari hidung. 4) Panas atau demam. Penderita dengan gejala batuk pilek bila pada pemeriksaan tenggorokan didapat adanya bercak nanah (eksudat) disertai pembesaran kelenjar getah bening dileher. Perbaikan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) b) Preventif:  mempertahankan daya tahan tubuh dengan gizi seimbang. ANJURAN PENATALAKSANAAN PENYAKIT a) Promotif: Pemberian penyuluhan tentang bahaya ISPA dan bagaimana cara pencegahan dan mengobatinya. Bila demam diberikan obat penurun panas yaitu parasetamol. 3) Pilek.  Menjaga kebersihan prorangan dan lingkungan. GEJALA ISPA a. dianggap sebagai radang tenggorokan oleh kuman streptococcuss dan harus diberi antibiotik (penisilin) selama 10 hari.  Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA. b. Diberikan perawatan di rumah.

1) Pernafasan lebih dari 50 kali per menit pada anak yang berumur kurang dari satu tahun atau lebih dari 40 kali per menit pada anak yang berumur satu tahun atau lebih. 3) Tenggorokan berwarna merah. • Bukan pneumonia: tanpa pemberian obat antibiotik. 4) Pernafasan berbunyi seperti orang mengorok dan anak tampak gelisah. Di samping itu. 6) Pernafasan berbunyi seperti mengorok (mendengkur). Untuk menghitung dapat digunakan arloji. b) Keluarga :baik jika mengkonsumsi makanan bergizi dan menjaga kebersihan lingkungan c) Masyarakat: Tetangga. Penderita dengan gejala batuk pilek bila pada pemeriksaan tenggorokan didapat adanya bercak nanah disertai pembesaran kelenjar getah bening dileher. 5) Sela iga tertarik ke dalam pada waktu bernafas. diberikan antibiotik melalui jalur infus . 2) Suhu lebih dari 390 C (diukur dengan termometer). Bila demam diberikan obat penurun panas yaitu parasetamol. 3) Anak tidak sadar atau kesadaran menurun. 4) Timbul bercak-bercak merah pada kulit menyerupai bercak campak. Cara menghitung pernafasan ialah dengan menghitung jumlah tarikan nafas dalam satu menit. Penisilin. untuk batuk dapat digunakan obat batuk tradisional atau obat batuk lain yang tidak mengandung zat yang merugikan. 5) Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga. konsumsi makanan bergizi dan ibu mengetahui tentang kepentingan kesehatan tehadap pertumbuhan anak. 7) Pernafasan berbunyi menciut-ciut. jika terjadi alergi / tidak cocok dapat diberikan Amoksilin. Pilihan obatnya Kotrimoksasol. 7) Tenggorokan berwarna merah TERAPI Pengobatan pada ISPA • Pneumonia berat : dirawat di rumah sakit. 6) Nadi cepat lebih dari 160 kali per menit atau tidak teraba. • Pneumonia: diberi obat antibiotik melalui mulut. 2) Lubang hidung kembang kempis (dengan cukup lebar) pada waktu bernafas. tenaga kesihatan di puskesmas turut 9 . Ampisilin. Diberikan perawatan di rumah. di beri oksigen dan sebagainya. c. masyarakat sekitar mempunyai hubungan yang baik dengan keluarga Rizka. PROGNOSIS a) Penyakit: Dubia ad bonam jika terapi adekuat. Gejala dari ISPA Berat Seorang anak dinyatakan menderita ISPA berat jika dijumpai gejala-gejala ISPA ringan atau ISPA sedang disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut: 1) Bibir atau kulit membiru. dianggap sebagai radang tenggorokan oleh kuman streptococcuss dan harus diberi antibiotik selama 10 hari.

Dari dalam rumah dapat diamati penerangan. Keluhan yang sering diutarakan hanya batuk pilek. MAKLUMAT PASIEN DAN KELUARGA PASIEN RIWAYAT BIOLOGIS KELUARGA Pada pengamatan saya semasa melakukan anjang sana ke rumah Rizka. PSIKOLOGIS KELUARGA Keluarga Rizka tidak mempunyai kebiasaan buruk seperti merokok. ayah dan ibu. Pola rekreasi keluarga Rizka adalah sedang. Hubungan antar anggota keluarga adalah baik. Jenis kediaman adalah permanen dengan lantai rumah dari keramik. Pengambilan keputusan dalam keluarga dilakukan secara musyawarah dan biasanya kedua orang tua Rizka akan memutuskan keputusan tersebut. Mereka mempunyai pola hidup yang sehat dan tidak mengambil sebarang obat-obatan tanpa anjuran dokter. SPIRITUAL KELUARGA Ahli keluarga Rizka beragama Islam. TINGKAT SOSIAL/EKONOMI KELUARGA Tingkat pendidikan keluarga Rizka adalah rendah. Kakaknya. Ruangan dalam rumah yang lain seperti dapur dan jamban keluarga ada tersedia. Rizka adalah anak kedua dari dua saudara. luas rumah adalah 21 m2. Rizka seorang anak yang aktif dan mempunyai kebersihan perorangan yang baik. Hubungan dengan tetangga dan orang lain juga baik dan mereka saling 10 . Ilham mempunyai riwayat Tuberkulosis dan menurut ibunya telahpun sembuh sepenuhnya tapi mempunyai riwayat penyakit baru yaitu vitiligo diduga berpunca dari pengobatan anti tuberkulosisnya. Sumber air yang digunakan adalah daripada air pam/ledeng sama seperti tetangga yang lain.mempunyai hubungan yang baik dan berperan dengan baik dalam membantu memantau kesihatan Rizka dan keluarganya B. Dalam keluarga. bagaimanapun tidak mempunyai riwayat tuberkulosis. manakala pemanfaatan perkarangan tidak ada. Mereka taat dalam beribadah. kecacatan dan penyakit kronis/menular. dan memiliki keyakinan yang baik tentang penjagaan kesehatan. Jumlah anggota keluarga Rizka adalah 4 orang yaitu Rizka. tempat pelayanan kesehatan utama adalah puskesmas. Mereka percaya kepada kesehatan peribadi dan tidak mudah untuk mengambil obatobatan luar seperti jamu dan lain-lain. sistem pembuangan sampah ditempat kediaman hanya dilakukan 2 hari sekali oleh pihak yang bertanggungjawab. kebersihan. Terdapat sistem pembuangan air limbah dan sanitasi lingkungan yang kurang. kakak. Sumber pencemaran tidak terlihat. Pola istirahat dan pola makan adalah baik. Pembuangan sampah pula dilakukan setiap hari atas inisiatif sendiri ke tempat pembuangan sampah. KEADAAN RUMAH/ LINGKUNGAN Keadaan rumah dan lingkungan Rizka adalah kurang. dan ventilasi adalah kurang. Ibunya sekarang sedang hamil dengan usia kandungan lapan bulan. Sekiranya terdapat ahli keluarga yang sakit. Rizka dan ahli keluarga lain. keadaan kesehatan sekarang adalah baik. Ini adalah karena. Mereka mempunyai kesehatan yang baik dan tidak mempunyai penyakit keturunan.

penyuluhan bahaya rokok.ia memerlukan kunjungan ke rumah pasien supaya pasien dan ahli keluarga menyedari bahawa penyakit ISPA bahaya terhadap golongan rentan seperti balita. yang merupakan strategi spesifik untuk dapat mengurangi angka kesakitan (insiden) pneumonia. Termasuk disini ialah : a. Usaha di bidang gizi yaitu untuk mengurangi malnutrisi. sakit telinga. ISPA umumnya berlangsung selama 14 hari. Kuman penyebab ISPA ditularkan dari penderita ke orang lain melalui udara pernapasan atau percikan ludah penderita. status gizi balita. dengan dukungan pelayanan kesehatan dan rujukan secara terpadu di sarana kesehatan yang terkait. seperti sinus. Yang termasuk dalam infeksi saluran nafas bagian atas adalah batuk pilek biasa.sumber air bersih dan seterusnya . Pada prinsipnya kuman ISPA yang ada di udara terhisap oleh pejamu baru dan masuk ke seluruh saluran pernafasan. Penyuluhan. Dari saluran pernafasan kuman menyebar ke seluruh tubuh apabila orang yang terinfeksi ini rentan. defisiensi vitamin A. penyuluhan ASI Eksklusif. Pencegahan Tingkat Pertama (Primary Prevention) Intervensi yang ditujukan bagi pencegahan faktor risiko dapat dianggap sebagai strategi untuk mengurangi kesakitan (insiden) pneumonia. penyuluhan kesehatan lingkungan rumah. penyuluhan gizi seimbang pada ibu dan anak. 11 . dilakukan oleh tenaga kesehatan dimana kegiatan ini diharapkan dapat mengubah sikap dan perilaku masyarakat terhadap hal-hal yang dapat meningkatkan faktor resiko penyakit ISPA. influenza. III. KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN ISPA adalah penyakit yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya. bronchitis. Imunisasi. pola istirahat kebersihan perorangan dan . b. Keadaan ekonomi keluarga Rizka adalah sedang. bayi dan seterusnya. Kegiatan organisasi masyarakat adalah baik memandangkan ibu Rizka sering mengikuti pengajian setiap hari.mengenal antara satu sama lain. maka ia akan terkena ISPA. dan juga sinusitis. Kegiatan penyuluhan ini dapat berupa penyuluhan penyakit ISPA. radang tenggorokan. Sedangkan infeksi yang menyerang bagian bawah saluran nafas seperti paru itu salah satunya adalah Pneumonia. c. KULTURAL KELUARGA Keluarga ini tidak mengikuti adat-adat yang berpengaruh. Penyelenggaraan Program P2 ISPA dititikberatkan pada penemuan dan pengobatan penderita sedini mungkin dengan melibatkan peran serta aktif masyarakat terutama kader. penyuluhan imunisasi. rongga telinga tengah dan pleura. Penyakit ISPA berhubungan dengan banyak faktor-faktor risiko seperti kebersihan lingkungan.

terapi antibiotik dengan memberikan benzilpenesilin secara intramuskular setiap 6 jam paling sedikit selama 3 hari.d. nilai ulang setelah 2 hari. berikan oksigen. e. pemberiannya diubah menjadi kloramfenikol oral.<5 tahun.5. obati demam. Program KIA yang menangani kesehatan ibu dan bayi berat badan lahir rendah. a. beri oksigen (jika anak mengalami sianosi sentral. penilaian ulang. b. pengobatannya meliputi : a. obati mengi. hati-hati pada pemberian terapi cairan. nasihati ibu untuk memberikan perawatan di rumah b. Apabila pada anak terjadi perbaikan (biasanya setelah 3-5 hari). terapi spesifik lain (untuk batuk dan pilek). b. perawatan suportif. hati-hati dengan pemberian terapi cairan. terapi antibiotik sebaiknya tidak diberikan. berikan oksigen. terapi antibiotik dengan memberikan kotrimoksasol dosis tinggi untuk mengobati kemungkinan adanya infeksi pneumokistik.35 Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary Prevention) Upaya penanggulangan ISPA dilakukan dengan upaya pengobatan sedini mungkin. pengobatannya meliputi : b. nasihati ibu untuk memberikan perawatan di rumah.4.3 Pneumonia: obati di rumah. Upaya pengobatan yang dilakukan dibedakan atas klasifikasi ISPA yaitu : a. obati mengi. obati demam. Program Penyehatan Lingkungan Pemukiman (PLP) yang menangani masalah polusi di dalam maupun di luar rumah. obati mengi. atau suntikan penisilin prokain intramuskular per hari. b.1 Pneumonia Sangat Berat: rawat di rumah sakit. Untuk kelompok umur < 2 bulan. perawatan suportif. Pneumonia Persisten: rawat (tetap opname). nilai ulang setiap hari. dan bersihkan sumbatan pada hidung jika sumbatan itu menggangu saat memberi makan. amoksilin oral. tidak dapat minum. terdapat penarikan dinding dada yang hebat).2 Bukan Pneumonia: terapi antibiotik sebaiknya tidak diberikan. ampisilin. terapi antibiotik dengan memberikan benzilpenisilin dan gentamisin atau kanamisin. perawatan suportif.1. Pencegahan Tingkat Ketiga (Tertiary Prevention) 12 . memberi ASI secara sering. obati demam. Pneumonia Berat: rawat dirumah sakit. Untuk kelompok umur 2 bulan . obati demam. nilai ulang dua kali sehari. terapi antibiotik dengan memberikan kotrimoksasol. terapi antibiotik dengan memberikan kloramfenikol secara intramuskular setiap 6 jam.2 Pneumonia Berat: rawat di rumah sakit. nasihati ibu untuk menjaga agar bayi tetap hangat. b. Bukan Pneumonia (batuk atau pilek): obati di rumah.

periksa adanya komplikasi dan ganti dengan kloksasilin ditambah gentamisin jika diduga suatu pneumonia stafilokokus. nafsu makan membaik. Bagi Orang Tua: Untuk mencegah terjadinya penyakit ISPA pada balita. terdapat penarikan dinding dada atau tanda penyakit sangat berat maka lakukan kegiatan ini yaitu rawat. dan menjaga jarak dengan balita apabila menderita ISPA baik dalam keluarga maupun kehidupan bermasyarakat). Jika anak masih menunjukkan tanda pneumonia setelah 10 hari pengobatan antibiotik maka cari penyebab pneumonia persistensi. maka ganti antibiotik dan pantau secara ketat SARAN 1). pemberian ASI Eksklusif pada balita. diharapkan masyarakat bisa bekerja sama menciptakan lingkungan dan perilaku hidup sehat (tidak merokok di dalam ruangan. 3). c. Pneumonia Sangat Berat: jika anak semakin memburuk setelah pemberian kloramfenikol selama 48 jam. 2). Nilai kembali dan kemudian putuskan jika anak dapat minum. Bagi Masyarakat: Sebagai tindakan pencegahan. diharapkan orang tua dapat menciptakan lingkungan yang aman bagi balita seperti kebiasaan membuka jendela untuk mengurangi kelembaban udara. kebiasaan membuka jendela pada pagi dan siang hari. Jika anak tidak membaik sama sekali tetapi tidak terdapat tanda pneumonia berat atau tanda lain penyakit sangat berat. Pneumonia: Coba untuk melihat kembali anak setelah 2 hari dan periksa adanya tanda-tanda perbaikan (pernafasan lebih lambat. demam berkurang.Tingkat pencegahan ini ditujukan kepada balita penderita ISPA agar tidak bertambah parah dan mengakibatkan kematian. tidak merokok di dekat balita dan menjaga jarak apabila menderita ISPA. 13 . obati sebagai pneumonia berat atau pneumonia sangat berat. a. Bagi Instansi Terkait: Diharapkan perumusan kebijakan program kesehatan khususnya Program Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (P2ISPA) dapat lebih diperbaiki dan dilaksanakan seperti kegiatan penyuluhan mengenai syarat rumah sehat dan bahaya rokok kepada masyarakat sehingga angka kejadian penyakit ISPA mengalami penurunan. b. Pneumonia Berat: jika anak tidak membaik setelah pemberian benzilpenisilin dalam 48 jam atau kondisinya memburuk setelah pemberian benzilpenisilin kemudian periksa adanya komplikasi dan ganti dengan kloramfenikol.

14 .