You are on page 1of 12

Referat

:

Karsinoma Serviks
1. Definisi Karsinoma serviks merupakan proses perubahan suatu epitel serviks yang normal menjadi atipik dan sudah menembus membrana basalis (invasif). 2. Epidemiologi Karsinoma serviks adalah jenis kanker ketujuh yang paling umum setelah kanker payudara, kolorektal, paru, endometrium, ovarium dan limfoma. Pada tahun 1992, terdapat sebanyak 13.500 kasus baru dan dilaporkan terdapat 4500 kematian. Insidensi karsinoma serviks semakin berkurang sejak 1947. rata-rata usia pasien saat terdiagnosis adalah 45 tahun, walaupun demikian penyakit ini dapat juga terjadi pada dekade kedua kehidupan dan semasa kehamilan. Sekitar lebih dari 95 % pasien dengan kanker serviks dini dapat disembuhkan. Insidensi karsinoma serviks meningkat kejadiannya pada wanita Afrika Utara daripada wanita Eropa dan Yahudi. 3. Etiologi Etiologi karsinoma serviks belum diketahui secara pasti, tetapi beberapa faktor predisposisi sudah diketahui, antara lain adalah:  Aktivitas seksual : koitus pada usia muda khususnya pada tahun pertama menarche, jumlah partner seksual yang banyak. Penyakit ini empat kali lebih banyak pada prostitusi daripada wanita lain apalagi wanita yang tidak menikah.   HPV tipe 16 dan 18 berhubungan dengan transformasi serviks maligna. Merokok, pada beberapa penelitian epidemiologis menunjukkan bahwa ada hubungan yang independen.   Penggunaan kontrasepsi oral Pasien imunokompromi, seperti pasien setelah transplantasi organ dan HIV/AIDS

tinggi dan tersusun dalam susunan adenomatous dengan sedikit stroma.3%). Terdiri atas sel sekretoris yang kolumner. Sistem klasifikasi didasarkan pada derajat diferensiasiny. berdiferensiasi buruk (Grade III) Gambar : Gambaran Histopatologis Karsinoma sreviks tipe Skuamosa b. Adenokarsinoma Adenokarsinoma berasal dari elemen kelenjar serviks. diklasifikasikan Ketika dalam grade awal berdiferensiasi sedang pertumbuhan adenokarsinoma serviks dalam kanalis endoserviks dan eksoserviks tampak normal. Large cell nonkeratinizing memiliki prognosis yang paling baik (68. large cell nonkeratinizing. Karsinoma serviks tipe skuamosa (epidermoid) Karsinoma serbiks tipe ini diklasifikasikan menurut tipe sel yang predominan. a. lesi ini tidak akan terdiagnosis sampai keadaan ini lanjut dan ulseratif. berdiferensiasi sedang (Grade II). large cell keratinizing. dan undifferentiated karsinoma. Klasifikasi Kira-kira 70-80% karsinoma serviks adalah tipe skuamosa. Adenokarsinoma dan buruk. sedangkan small cell nonkeratinizing memiliki angka harapan hidup yang terendah (20%). antara lain.4. . karsinoma adenoskuamosa. dan small cell carcinoma. berdiferensiasi baik (Grade I). sisanya terdiri dari berbagai tipe adenokarsinoma. baik.

. Adapun varian dengan prognosis yang buruk adalah karsinoma mukoepidermoid yang mengandung terutama sel skuamosa yang sel yang menyekresi musin tersebar di antaranya. terdapat sarangsarang solid dan lembaran sel tumor menyerupai karsinoma skuamosa nonkeratinizing. bervakuola dan jernih menyerupai sel signet ring. Pada Tipe Signet-Ring. Tipe glassy sel. sel skuamosa dan kelenjarnya masih dapat dibedakan dengan baik tanpa pewarnaan khusus dan tidak ada kesulitan dalam diagnosisnya. Pada tipe berdiferensiasi baik.Gambar : Gambaran Histopatologis Adenikarsinoma c. granular dan ground glass. batas sel tegas. Karsinoma neuroendokrin Karsinoma neuroendokrin berasal dari sel agrofil epitel endoserviks. Bentuk yang berdiferensiasi buruk menyerupai oat cell tumor paru dan memiliki prognosis yang lebih buruk daripada bentuk yang berdiferensiasi baik. Karsinoma small cell dapat berdiferensiasi baik atau buruk. maligna tetapi tidak berhubungan dengan sindrom karsinoid. memiliki banyak sitoplasma eosinofilik. pada pengamatan lebih teliti didapat bahwa sitoplasma basofilik. Merupakan bentuk karsinoma adenoskuamosa yang berdiferensiasi buruk. nekleus bulat sampai oval uniform. d. Karsinoma adenoskuamosa Karsinoma adenoskuamosa mengandung campuran sel skuamosa dan kelenjar yang maligna. dan nukleus raksasa.

serta permukaan yang berdarah. Sejalan dengan perkembangan penyakit.  Tumor dapat meluas ke arah atas menuju rongga endometrium.5. pemeriksaaan fisik dapat dalam batas normal. Ulkus yang terbentuk awalnya hanya superfisial namun akan bertambah dalam disertai nekrosis jaringan. atau massa pada serviks. Jika terjadi fistula antara uterus dengan kandung kemih atau rektum. Keputihan yang biasanya cair kadang-kadang timbul sebelum ada  perdarahan. maka urine atau feses dapat keluar melalui vagina. disertai infeksi sehingga cairan yang keluar berbau. Keterlibatan parametrium akan menyebabkan berkurangnya mobilitas yang menyebabkan fiksasi serviks. serta ke arah lateral menuju dinding pelvis. Invasi secara langsung ke kandung kemih dan rektum dapat terjadi. perdarahan dan keputihan lebih banyak. Selain itu terdapat edema tungkai serta nyeri pada daerah pelvis yang dapat dirasakan menjalar sampai ke pinggang dan paha. Gejala yang timbul dapat berupa konstipasi. kearah bawah menuju vagina. ditemukan hasil pap smear yang abnormal.  Pemeriksaan Fisik Pada penderita karsinoma serviks tahap awal. . dapat juga berupa perdarahan post coitus atau post menopause. ulkus. hematuria. Pada wanita yang mengikuti skrining secara rutin. Gejala Klinik Anamnesa  Gejala utama biasanya adalah perdarahan yang tidak teratur di luar siklus menstruasi. serta obstruksi ureter. Abnormalitas ini dapat meluas ke vagina. fistula. pada pemeriksaan spekulum dapat ditemukan adanya erosi. Pada stadium lanjut.

Gambar : Gambaran Cervix dengan Carcinoma pada Pemeriksaan Fisik Gambar : Erosi pada Serviks dengan Karsinoma Pada pemeriksaan rektum dengan colok dubur dapat ditemukan adanya massa eksternal. Edema tungkai menunjukkan adanya obstruksi pembuluh darah atau aliran limfatik oleh tumor. Cachexia terjadi pada tahap lanjut dari penyakit. . dapat ditemukan demam yang tidak terlalu tinggi yang menetap. Dapat pula ditemukan hidronefrosis serta hepatomegali. serta anemia. Metastasis ke paru-paru biasanya sulit untuk dideteksi melalui pemeriksaan fisik kecuali jika telah terjadi efusi pleura atau obstruksi bronkial. penurunan berat badan.

Sel eksfoliasi serviks diambil dan diwarnai sehingga dapat ditemukan sel abnormal di bawah miksroskop. Kanker serviks yang invasif dapat menyebar secara langsung ke jaringan sekitarnya atau menyebar melalui sistem limfatik dan pembuluh darah. Kematian dapat terjadi karena uremia. serta sepsis. dan pankreas. 7. dapat pula statis atau berkembang menjadi kanker serviks yang invasif setelah beberapa tahun. Hal ini merupakan tahap awal terjadinya keganasan. limpa . otak. CIN dapat mengalami regresi spontan terutama CIN I.8 persen pertahun. kelenjar adrenal. Tes Schiller Prinsip tes ini adalah bahwa epitel skuamosa normal mengandung glikogen yang bila bereaksi degan iodin akan menghasilkan warna deep mahogany- . 31. sedang. tulang. 45. emboli pulmonal. 18. namun dapat pula terjadi ke paru-paru. dan berat berdasarkan derajat atipikal sel serta ketebalan lapisan epitel yang terlibat. dan CIN III menunjukkan displasia berat. Karsinoma serviks biasanya didahului oleh displasia serviks atau Cervical Intraepithelial Neoplasia (CIN). CIN II menunjukkan displasia sedang. Patogenesis Infeksi oleh HPV (Human Papilloma Virus) terutama tipe 16. Onkoprotein E6 dan E7 dari HPV menyebabkan terganggunya inhibisi proliferasi dengan menghambat fungsi p53.6. Pemeriksaan Penunjang Beberapa pemeriksaan penunjang adalah sebagai berikut: a. b. perdarahan. Metastasis melaui pembuluh darah terutama ke hepar. 51-53. Sitologi Pemeriksaan sitologi dilakukan dengan pemeriksaan Pap (papanicolau) smear. Displasia ini dapat dikelompokkan menjadi displasia ringan. Istilah CIN I menunjukkan displasia ringan. tidak menyingkirkan kemungkinan keganasan. Hasil Pap smear yang negatif. atau 58) merupakan etiologi yang penting untuk terjadinya karsinoma serviks. Resiko CIN III atau dikenal pula sebagai karsinoma insitu berkembang menjadi invasif sekitar 1.

pemeriksaan harus dilanjutkan dengan colposcopically directed punch biopsy. Jika tidak timbul warna tersebut (tes Schiller positif) maka mengindikasikan adanya epitel skuamosa/kolumnar yang abnormal.brown. atau pembentukan kista. Gambar : Tampak Massa pada Kanalis Servikalis. diperlukan pemeriksaan dengan kolposkopi dan patologi anatomi. Hasil pemeriksaan dinyatakan adekuat bila zona transformasi dan perluasan lesi dapat dilihat dengan jelas seluruhnya. murah. low power magnification dan sumber cahaya yang cukup. Tes ini tidak spesifik untuk karsinoma. c. Pemeriksaan menunjukkan hasil yang positif bila didapatkan gambaran epitel dan vaskularisasinya yang abnormal. Pada pemeriksaan ini diperlukan larutan Schiller atau larutan lugol. Hasil kolposkopi abnormal tersebut berupa epitelium yang putih (white epithelium). skar. USG Pemeriksaan USG merupakan pemeriksaan yang cepat. pola kapiler permukaan seperti mosaik atau pungtata. dengan Latar Belakang Kandung Kemih . Pada pemeriksaan ini diperlukan larutan asam asetat 3%. dan cukup efektif untuk mendiagnosa adanya kecurigaan ke arah karsinoma serviks. d. Jika hasil kolposkopi negatif maka dilanjutkan dengan biopsi konisasi ( cone biopsy). Kolposkopi Untuk menegakkan diagnosa definitif. False negative pemeriksaan ini adalah kurang dari 1%. Bila didapatkan hasil tes yang positif.

f. dan serviks inkompeten. gula darah. Gineskopi Gineskopi dilakukan dengan menggunakan teleskop monokuler dengan perbesaran 2. Komplikasi yang dapat terjadi melalui pemeriksaan ini adalah perdarahan.Gambar : Massa Hiperekhoik pada Kanalis Sevikalis yang Membesar e. urin rutin. didapatkan perbedaan yang signifikan antara diagnosa histologis dengan colposcopically directed punch biopsy dengan pemeriksaan sitologis. h. serta didiagnosa atau dicurigai adanya karsinoma mikroinvasif berdasarkan hasil colposcopically directed puch biopsy. SCC. Sebelum pemeriksaan. i. kimia darah. kemudian dilakukan biopsi dengan skalpel ( cold knife) atau laser CO2. infeksi. stenosis serviks. Servikografi Pemeriksaan ini baik untuk skrining masal. Pemeriksaan dilakukan bila tidak dapat dilakukan pemeriksaan sitologi. dilakukan anestesi lokal atau umum. g.5 kali. Pemeriksaan ini harus dilanjutkan dengan kolposkopi. . Tes HPV-DNA (probing) Pemeriksaan tipe HPV dengan hibridisasi DNA. Cone Biopsy Indikasi pemeriksaan ini adalah hasil pemeriksaan kolposkopi yang tidak memuaskan. marker CEA. Lain-lain  Laboratorium: darah.

Jika fasilitas terbatas maka dapat dilakukan per 10 tahun namun jika fasilitas tersedia maka harus dilakukan minimal 5 tahun sekali. Lesi serviks yang mencurigakan atau abnormal berdasarkan pemeriksaan fisik harus dibiopsi. Pada tahun 1995. sistoskopi CT-scan atau MRI : untuk melihat pembesaran nodus limfatikus pelvis atau periaorta. The American Cancer Society and NCI telah merekomendasikan Pap smear dan pemeriksaan pelvis untuk dilaksanakan rutin setiap tahun pada wanita yang sudah sexually active atau pada wanita yang telah berusia 18 tahun dan lebih. dokter dapat mengurangi sampling error dengan meyakinkan bahwa material diambil dari kedua kanalis endoserviks dan ektoserviks secara adekuat. Urografi intravena : Rektoskopi. maka interval pelaksanaan skrining dapat diperpanjang sesuai dengan kebijaksanaan dokter. Setelah tiga kali menunjukkan nilai negative. . harus diulang. Sejak 1988. untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya obstruksi uretera sebagai menifestasi karsinoma serviks stadium terminal. Skrining Data retrospektif menunjukkan bahwa skrining dengan Pap smear dapat mengurangi rasio insidensi kanker serviks sampai 60-90% dan rasio kematian hingga 90%. terutama disebabkan sampling error. serta metastase. Oleh karena itu. Wanita lebih tua dari 60 harus tetap secara rutin melakukan pap smear skrining. The American College of Obstetricians and Gynecologists menganjurkan bahwa wanita dengan faktor resiko infeksi HIV or HPV. Untuk wanita berusia antara 35-40 tahun diharapkan sudah melakukan skrining minimal sekali dalam hidupnya. harus secara rutin melakukan skrining pap smear tiap tahun. Hasil apusan tanpa endoserviks atau sel metaplasia. displasia serviks.  Foto toraks : untuk mendeteksi kemungkinan metastase ke paru-paru. Rasio false-negative pap smear adalah 20%.   8. Jadwal optimal pelaksanaan skrining untuk usia 25-60 tahun adalah tiap 3 tahun sekali. dan pasangan seksual lebih dari satu.

dan lebarnya < 7 mm Stadium Ib : lesi klinis terbatas pada serviks atau lesi preklinis lebih besar dari Stadium Ia Stadium Ib1 : lesi klinis berukuran ≤ 4 cm Stadium Ib2 : lesi klinis berukuran > 4 cm Stadium II : karsinoma menyebar ke sekitar serviks dan melibatkan vagina (tidak lebih dari 2/3 bagian atas vagina) dan atau telah menginfiltrasi parametrium (tetapi tidak mencapai dinding pelvis) Stadium IIa : karsinoma melibatkan vagina Stadium Iib : karsinoma telah menifiltrasi parametrium Stadium III : karsinoma melibatkan 1/3 bagian bawah vagina dan atau menyebar ke dinding pelvis (tidak ada celah antara tumor dan dinding pelvis) Stadium IIIa : karsinoma sampai menyebar ke 1/3 bagian bawah vagina Stadium IIIb : karsinoma meluas ke dinding pelvis dan atau hydronefrosis atau ginjal yang tidak berfungsi menjadi ureterostenosis yang disebabkan oleh tumor Stadium IVa : karsinoma termasuk mukosa dari kandung kemih atau rektum dan atau menyebar ke dinding pelvis Stadium IVb : menyebar ke organ yang jauh .Tujuan skrining adalah untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas. mencegah morbiditas yang lama. Ca intaepitelial : Karsinoma terbatas pada serviks : Karsinoma invasif hanya teridentifikasi secara mikroskopis Stadium Ia1 : kedalaman invasif ≤ 3mm dan lebarnya < 7 mm Stadium Ia2 : kedalaman invasif > 3 mm dan ≤ 5 mm. mencegah penyakit bertambah berat. Stadium Karsinoma Serviks Stadium 0 Stadium I Stadium Ia : Karsinoma in situ. Cara pemeriksaan diusahakan terjangkau oleh golongan ekonomi rendah. dan meningkatkan efektivitas terapi. 9. serta sesuai antara jenis tes dengan populasi yang di skrining.

Dimana radioterapi dapat digunakan pada semua stadium penyakit sementara operasi hanya digunakan pada stadium I dan II Tabel 1. Dua macam pengobatan yang digunakan adalah operasi dan radioterapi. : Operasi Dini pada Kanker Serviks Stadium Ia1 Invasi ≤ 3 mm Tidak ada invasi melalui limfatik-vaskuler Dengan invasi melalui limfatik-vaskuler Stadium Ia2 Invasi >3 – 5 mm Tipe I atau II histerektomi dengan diseksi KGB pelvis Tipe II histerektomi dengan limfadenektomi Stadium Ib Invasi > 5 mm pada pelvis Tipe III histerektomi dengan limfadenektomi pada pelvis Konisasi Tipe I histerektomi Gambar : Histerektomi pada Pasien Carcinoma Serviks. Terapi Prinsip pengobatan pada kanker serviks sama dengan prinsip pengobatan pada keganasan yaitu mengobati lesi primer dan daerah penyebarannya.10. Ditemukan Massa yang Menutupi 75% Kanalis Servukalis .

60% untuk stadium II. radioterapi dapat digunakan untuk mengobati semua stadium kanker serviks dengan tingkat kesembuhan sekitar 70% untuk stadium I. Radioterapi dan operasi adalah cara utama yang dapat mengobati kanker serviks. Respon yang baik terhadap kemoterapi hanya terjadi pada wanita yang juga berespon baik terhadap radioterapi. . 45% untuk stadium III dan 18% untuk stadium IV.Selain itu. tetapi kemoterapi dapat menyebabkan regresi tumor.