You are on page 1of 29

LAPORAN POST - OPERATIF UJIAN BEDAH MINOR I

ODONTEKTOMI GIGI VITAL PADA GIGI 38 DISERTAI IMPAKSI KELAS I POSISI B MESIOANGULAR

Nama: drg.Irvan lubis

Pendahuluan

1.

Pengertian Odontektomi
1

Istilah odontektomi digunakan dalam tindakan operasi untuk mengeluarkan gigi impaksi (terpendam). Gigi impaksi adalah gigi yang jalan erupsi normalnya terhalang. Odontektomi atau surgical extraction adalah metode pengambilan gigi dari soketnya setelah pembuatan flap dan mengurangi sebagian tulang yang mengelilingi gigi tersebut (Fragiskos , 2007). Evolusi dengan terjadinya pengurangan pada ukuran rahang pada manusia modern direfleksikan dengan diet makanan yang relatif lunak. Dengan terjadinya pengurangan dimensi rahang menyebabkan kurangnya ruangan pada lengkung rahang untuk molar 3 mandibula yang merupakan gigi yang paling sering mengalami impaksi pada seluruh gigi yang ada pada rahang manusia. Waktu erupsi molar 3 mandibula sering tidak dapat diprediksi dan sering berubah-ubah. (Dimitroulis, 1997) Gigi impaksi dapat didefinisikan juga sebagai suatu keadaan dimana gigi yang dalam pertumbuhannya terhalang oleh gigi atau tulang sekitarnya baik secara keseluruhan atau sebagian. Impaksi diperkirakan secara klinis apabila gigi antagonisnya sudah erupsi dan hampir bisa dipastikan apabila gigi yang terletak pada sisi yang lain sudah erupsi. (Pedersen, 1996) Jika gigi molar tiga tidak erupsi seluruhnya dan terletak di bawah gingiva, molar tiga tersebut biasanya dibiarkan saja, tetapi bila sebagian melewati permukaan dapat menyebabkan infeksi yang dapat masuk ke gingiva (pericoronitis) dan juga molar tiga tersebut dapat rusak atau menyebabkan kerusakan pada gigi molar dua. Hal ini adalah salah satu alasan untuk mengambil gigi impaksi tersebut. Komplikasi yang lebih parah dapat berupa flegmon dasar mulut.

2.

Etiologi
Terdapat beberapa faktor etiologi dari gigi impaksi yaitu: 1. Faktor Lokal

2

a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l.

Kurangnya ruangan untuk erupsi normal pada lingkungan gigi Trauma pada benih gigi sehingga benih gigi terdorong lebih dalam lagi Posisi ektopik dari gigi Jarak benih gigi ke tempat erupsi jauh Infeksi pada benih gigi Adanya gigi berlebih yang erupsi lebih dulu Ankylosis gigi pada tulang rahang Persistensi gigi sulung yang menyebabkan impaksi gigi tetap di bawahnya Mukosa gingiva yang tebal sehingga sulit di tembus oleh gigi Pergerakan erupsi tertahan karena posisi yang salah dan tekanan dari gigi samping Neoplasma / tumor yang menggeser kedudukan benih gigi Kista dentigerous yang berkembang pada benih gigi yang masih dalam tahap pembentukan sering kali mencegah gigi erupsi

2. Faktor Sistemik Menurut Bergee, faktor sistemik yang menyebabkan gigi impaksi dapat terbagi dalam 2 sebab : a. Sebab prenatal (herediter) Faktor keturunan memegang peranan penting. Faktor keturunan ini tidak dapat diketahui dengan pasti apakah tulang rahang terlalu kecil, gigi teralu besar atau benih gigi-gigi yang letaknya abnormal. b. Sebab postnatal 1. Kelainan kelenjar endokrin a. Hipopituitari mengakibatkan kelambatan erupsi b. Hipotiroid mengakibatkan kelambatan erupsi 2. Malnutrisi

3

Faktor ini sangat penting dalam pertumbuhan tubuh. Bila terjadi defisiensi maka pertumbuhan akan terganggu. Disamping faktor-faktor yang disebutkan diatas, stimulasi otot-otot pengunyahan yang kurang juga dapat menyebabkan impaksi. (Dym, 2001) Erupsi gigi yang normal harus disertai dengan pertumbuhan rahang yang normal. Untuk itu perlu adanya stimulasi otot-otot pengunyahan.

3.

Diagnosa
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat diagnosa yang tepat pada impaksi adalah: 1. Pembuatan dental foto yang baik Hal ini sangat membantu kita dlam menentukan diagnosa yang tepat. Dari rontgen dapat terlihat : a. b. c. d. e. Posisi gigi impaksi Jarak dari gigi impaksi ke tempat erupsi Relasi gigi impaksi dengan gigi tetangga Ciri-ciri kepadatan tulang yang mengelilinginya Adanya kista atau akar yang bengkok

2.

Pemeriksaan klinis secara periodik Dengan pemeriksaan ini kita dapat menduga lokasi dari gigi impaksi dalam tulang rahang. Misalnya dengan palpasi. Perhatikan pula kondisi lokal maupun umum yang mengganggu erupsi gigi tersebut.

4.

Klasifikasi
Klasifikasi gigi impaksi sangat penting untuk setiap operator yang akan melakukan

operasi pengambilan gigi impaksi (odontektomi). Dengan demikian dapat ditentukan rencana
4

teknik operasi, kesulitan-kesulitan apa yang akan dihadapi dan alat yang dipergunakan. Fragiskos, 2007) Klasifikasi menurut Pell Gregory 1. Relasi M3 rahang bawah terhadap ramus mandibula dan rahang bawah Kelas I : Ada cukup ruangan antara ramus dan batas distal molar dua untuk lebar mesio distal molar tiga. Kelas II : Ruangan antara distal molar dua dan ramus lebih kecil dari pada lebar mesio distal molar tiga. Kelas III : Sebagian besar atau seluruh molar tiga terletak di dalam ramus.

Gambar 1. Relasi M3 rahang bawah terhadap ramus mandibula dan rahang bawah

2. Posisi M3 rahang bawah di dalam tulang rahang Posisi A: Bagian tertinggi dari pada gigi terpendam terletak setinggi atau lebih tinggi dari pada dataran oklusal gigi yang normal. Posisi B: Bagian tertinggi dari pada gigi berada di bawah dataran oklusal tapi lebih tinggi dari pada serviks molar dua (gigi tetangga). Posisi C: Bagian tertinggi dari pada gigi terpendam, berada di bawah garis serviks gigi molar dua.

5

Gambar 2. Posisi M3 rahang bawah di dalam tulang rahang

Klasifikasi menurut Archer dan Kruger Relasi dari sumbu panjang gigi M3 rahang bawah dalam hubungan dengan poros panjang M2 rahang bawah Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Kelas 4 Kelas 5 Kelas 6 Kelas 7 : Mesioangular : Distoangular : Vertikal : Horizontal : Bukoangular : Linguoangular : Inverted

6

Gambar 3. Relasi dari sumbu panjang gigi M3 rahang bawah dalam hubungan dengan poros panjang M2 rahang bawah

5.

Indikasi dan Kontraindikasi
Sebelum melakukan pembedahan terlebih dahulu harus mengetahui indikasi dan kontra

indikasi dari pengambilan molar tiga impaksi rahang bawah. Indikasinya adalah: 1. Infeksi karena erupsi yang terlambat dan abnormal (perikoronitis) 2. Berkembangnya folikel menjadi keadaan patologis (kista odontogenik dan neoplasma) 3. Usia muda, sesudah akar gigi terbentuk sepertiga sampai dua pertiga bagian dan sebelum pasien mencapai usia 18 tahun 4. Adanya infeksi 5. Penyimpangan panjang lengkung rahang dan untuk membantu mempertahankan stabilitas hasil perawatan ortodonsi 6. Prostetik atau restoratif (diperlukan untuk mencapai jalan masuk ke tepi gingiva distal dari molar dua didekatnya)

7

7. Apabila molar kedua didekatnya dicabut dan kemungkinan erupsi normal atau berfungsinya molar ketiga impaksi sangat kecil 8. Sebelum tulang sangat termineralisasi dan padat yaitu sebelum usia 26 tahun

Kontraindikasinya adalah: 1. Pasien tidak menghendaki giginya dicabut 2. Sebelum panjang akar mencapai sepertiga atau dua pertiga dan apabila tulang yang menutupinya terlalu banyak (pencabutan prematur) 3. Jika kemungkinan besar akan terjadi kerusakan pada struktur penting disekitarnya atau kerusakan tulang pendukung yang luas 4. Apabila kemampuan pasien untuk menghadapi tindakan pembedahan terganggu oleh kondisi fisik atau mental tertentu (Pedersen, 1996)

6.

Prosedur Pembedahan
Secara garis besar meliputi : pembukaan flap, membuang jaringan tulang, pengeluaran

gigi, penaganan luka beserta penjahitan penjahitan dan pemberian instruksi dan obat-obatan. Pembukaan flap Berbagai macam desain flap untuk molar rahang bawah adalah seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini:

8

Gambar 4. Desain flap untuk molar tiga rahang bawah a. Insisi dengan pembebasan ke distal; b. Pembukaan terbatas diperoleh dengan pembebasan insisi ke distal; c. Envelope flap; d. Pembukaan dengan envelope flap masih memberikan pembukaan yang terbatas; e. Perluasan flap ke bukal; f. Pembukaan yang lebih besar diperoleh dengan perluasan flap ke bukal; g. Triangular flap; h. pembukaan yang lebih baik diperoleh dari triangular flap tanpa harus melibatkan margin gingiva dari gigi yang bersebelahan Syarat-syarat flep: 1. 2. 3. cukup baik. Membuang jaringan tulang Apabila diperlukan dapat dilakukan pengambilan jaringan tulang yang menghalangi pengambilan M3. Pengambilan dapat dilakukan dengan menggunakan bor. Banyaknya tulang yang diambil disesuaikan dengan kebutuhan Harus membuka daerah operasi yang jelas. Insisi terletak pada jaringan yang sehat. Mempunyai dasar atau basis cukup lebar sehingga pengaliran darah ke flep

9

Gambar 5. A. Tulang yang menutupi permukaan oklusal dibuka dengan menggunakan bor fisur; B. Tulang pada bukodistal dari gigi impaksi dibuka dengan bor Mengeluarkan gigi impaksi a. Intoto: gigi di keluarkan secara utuh Setelah tulang mengelilingi gigi tersebut kita ambil secukupnya maka kita harus mempunyai cukup ruangan untuk dapat meletakkan elevator di bawah korona. Dengan meletakkan elevator dibawah korona, kita membuat gerakan yang mengungkit gigi tersebut. Kalau gigi ini tidak bergerak dengan tekanan yang sedikit, maka kita harus mencari bagian tulang mana yang masih menghalangi. Kita tidak boleh mencongkel gigi dengan tenaga besar tetapi berusaha mengerakkan dengan tekanan minimal. Jika tulang yang diambil telah cukup tetapi gigi belum mau keluar, maka mungkin masih ada tulang atau akar gigi yang menghalagi. Bila mahkota gigi yang terpendam masih belum bisa digerakkan dan terletak di bawah mahkota molar dua sedang gigi tersebut akan kita ambil dengan cara intoto, maka tulang distal molar tiga kita ambil lebih banyak sehingga molar tiga dapat kita congkel ke arah distal. Cara atau teknik kerja tergantung pada posisi gigi, keadaan gigi dan jaringan sekitar

Posisi gigi molar 3

10

Insisi dan refleksi flep

Gigi molar 3 dielevasi dengan menggunakan bein

Soket bersih dari debris Pembuangan tulang dibagian distal molar 3

Penjahitan

Gambar 6. Pengambilan gigi secara intoto (Dunitz, 1999)

b. Separasi: gigi dibelah dulu baru di keluar kan. Pada metode ini kita sedikit membuang tulang tetapi gigi yang impaksi diambil dengan cara membelah-belahnya (diambil sebagian-sebagian). Dalam keadaan ini kita tidak perlu banyak membuang tulang bagiam distal molar tiga tersebut dan gigi diambil sepotong-sepotong dengan elevator kemudian dikeluarkan dengan tang sisa akar. Perlu diingat, jangan memaksa karena dapat menyebabkan fraktur tulang rahang atau fraktur molar dua. Gambar 7. Pengambilan separasi (Fragiskos, 2007)

11

Posisi klinis dari gigi impaksi

Insisi dan refleksi flep

Pembuangan tulang dibagian distal molar 3

Mahkota gigi dibur

12

Gigi diseparasi dengan bein

Gigi diungkit dengan bein. Segmen distal diambil terlebih dulu, dilanjutkan dengan segmen mesial

Soket dibersihkan

Penjahitan

13

Penanganan luka Setelah gigi dikeluarkan dilakukan penghalusan tulang alveolar dan pencucian luka dengan menggunakan larutan normal saline. Setelah itu luka ditutup dengan penjahitan. Pemberian instruksi, analgetik dan antibiotik.

Komplikasi
Pada saat pengambilan M3 dapat terjadi komplikasi berupa: 1. Perdarahan karena pembuluh darah terbuka 2. Kerusakan pada gigi M2 karena trauma alat 3. Rasa sakit 4. Parestesi pada lidah dan bibir Dalam literatur dikatakan bahwa 96 % pasien dengan trauma pada n. alveolaris inferior dan 87 % pasien dengan trauma pada n. ligualis akan sembuh secara spontan ( Dym & Ogle, 2001)

Gambar 8. Nervus alveolaris inferior dan nervus lingualis 5. Trismus karena iritasi syaraf 6. Infeksi/peradangan 7. Biasanya disertai dengan pembengkakan, dapat ditanggulangi dengan membuka jahitan, irigasi dengan larutan antiseptik dan diberi antibiotik 8. Fraktur mandibula 9. Dry socket 10. Emfisema : pembengkakan yang timbul karena terjebaknya udara di dalam jaringan lunak akibat penggunaan bor high speed.

14

Daftar Pustaka
1. Fragiskos D. Fragiskos. Oral Surgery. Greece: Springer-Verlag Berlin Heidelberg. 2007. 2. Dimitroulis.. A Synopsis of Minor Oral Surgery. British: Reed Educational and Professional Publishing Ltd. 1997 3. Pedersen, G.W. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Edisi 1. Philadelphia: W.B. Saunders Co. 1996 4. Dunitz, M. Atlas of Minor Oral Surgery. 2nd Edition. United Kingdom: Thieme. 1999 5. Dym, H. and Ogle, O.E. Minor Oral Surgery. W. B. Saunders Company. 2001

15

LAPORAN POST OPERATIF ODONTEKTOMI ( PASIEN UJIAN BM I )

No.rekam medis Nama Jenis kelamin Umur Tanggal Lahir Golongan darah Pekerjaan Alamat Pasien Alamat domisili Kecamatan Kabupaten Propinsi No. Hp Alamat asal

: 55948 : Ifan Setia Fauzi : Laki-laki : 22 tahun 4 bulan ( : 22 Februari 1990 :B : Pelajar / Mahasiswa

: Perum Pesona Merapi Kav B7 : Depok : Sleman : D.I Yogyakarta : 081918191180 : Jl.Koda Perung Rt 002 / 010 Motong Utan

I. Pemeriksaan Subjektif: Anamnesis

16

a. Keluhan Utama: Pasien datang dengan keluhan gigi paling belakang kiri tumbuh miring dan sebagian terpendam. Setiap kali makan gusi yang tumbuh menutup gigi selalu tergigit menyebabkan pembengkakan dan terasa sakit. b. Riwayat Perjalanan Penyakit: Pasien sudah beberapa kali mengalami peradangan dan pembengkakan akibat tergigitnya gusi yang menutupi gigi terpendam tersebut. c. Riwayat Kesehatan Oral: Terlihat pembengkakan daerag gusi yang menutup gigi yang meluas ke pipi sebelah dalam. Lidah, gusi, langit-langit, jaringan keras, dan oklusi tampak normal. d. Riwayat Kesehatan Keluarga: - Ayah - Ibu - Saudara : sehat, t.a.k : sehat, t.a.k : sehat, t.a.k

e. Riwayat Kehidupan Pribadi/Sosial : Pasien seorang mahasiswa. f. Riwayat Kesehatan umum: Pasien tidak pernah dirawat di rumah sakit dan menjalani rawat jalan karena sesuatu penyakit, serta menyangkal riwayat penyakit sistemik dan juga tidak ada riwayat alergi obat. II. Pemeriksaan objektif a. Vital sign : - Tekanan darah : 120/80 mmHg - Nadi : 74x/menit
17

- Respirasi - Suhu tubuh

: 20x/menit : afebris

b. Esktra oral: - Wajah - Pembengkakan - Perubahan warna kulit - Conjuntiva - Kelenjar ludah - Kelenjar limfatika : Simetris : (-) : (-) : normal : normal submandibula : tidak teraba, tidak sakit Submentale Cervicale : tidak teraba, tidak sakit : tidak teraba, tidak sakit

18

Intra oral

: - Mukosa pipi : t.a.k - Palatum - Lidah - Gingiva : t.a.k : t.a.k : t.a.k

- Dasar mulut : t.a.k - Rahang atas : t.a.k - Karang gigi : (-) - Gigi 38 : - Inspeksi : Tampak mahkota gigi bagian distal tumbuh sebagian - Palpasi : (-) - Perkusi : (-) - Gigi 36 : - Inspeksi : edentulous - Palpasi (-) - Perkusi (+) - Oral hygiene : sedang c. Kesan Umum Kesehatan Penderita : Baik dan Kooperatif d. Pemeriksaan penunjang: Radiologi: Interpretasi Ro periapikal Terdapat elemen gigi 38 dengan keadaan terpendam ( impaksi ) yang tumbuh miring ke mesial (mesioangular), puncak tertinggi 38 berada diantara dataran oklusal dan permukaan service-enamel junction elemen gigi 37.

19

III. Diagnosis : 38 : Impaksi kelas I posisi B mesioangular

20

21

IV. Plan - Odontektomi gigi 38 V. Persetujuan Tindakan Medis Sebelum di lakukan tindakan medis, pasien diberikan penjelasan tentang kelaian giginya dan tindakan perlakuan yang akan dilakukan yaitu pengambilan gigi 38 dengan tehnik odontektomi. Apabila pasien setuju akan tindakan medis yang akan dilakukan maka pasien menandatangani lembar persetujuan tindakan medis. VI. Tindakan a. Pemeriksaan Vital Sign : Tensi Respirasi Nadi Temperatur : 120/80 mmHg : 20x/menit : 74x/menit : Afebris

a. Durante : Jalannya Operasi Odontektomi gigi 38 Tekhnik Operasi: Persiapan ruangan operasi Persiapan pasien Anestesi Insisi untuk pembuatan flap Pembuangan tulang Pengambilan gigi Pembersihan Luka Penutupan luka (suturing) Instruksi pasca operasi Perawatan pasca operasi
22

- Persiapan alat dan operator

(1) Persiapan Ruangan Operasi Ruangan operasi dipersiapkan dan dipastikan semua alat dapat berfungsi dengan baik dan steril. 2) Persiapan Alat dan Operator Menggunakan alat-alat yang telah disterilkan yaitu : kaca mulut, pinset, sonde, ekskavator, mata bur, scalpel, blade (no.15 atau 11), needle holder, surgical forceps, bone file, suture scissors (gunting benang), retractor pipi, elevator dan tang cabut molar atau radik bawah. Operator harus melakukan prosedur desinfektan yaitu mencuci dan membrush tangan dengan sabun antiseptik, setelah itu memakai sarung tangan dan baju operasi dan cup kepala juga masker untuk menghindari infeksi silang (Gambar 1, 2 dan 3)

Gambar 1 & 2. Alat, baju dan perlengkapan yang steril sebelum operasi.

23

Gambar 2. Cara Mencuci dan memakai sarung tangan sebelum operasi.

Gambar 3. Instrumen untuk pencabutan gigi dengan pembedahan minor 3) Persiapan pasien Pasien dipersiapkan dengan menenangkan pasien, memasang celemek dan menghapus rongga mulut pasien dengan antiseptik berupa povidon iodine sebelum dilakukan tindakan anestesi dan pembedahan. (4) Anestesi Pertama dilakukan infiltrasi anestesi untuk melihat apakah pasien alergi dengan bahan anestesi yang disuntikkan berupa Lidocaine Comp (Lidocaine HCL 20mg/ml, Adrenalin 0,0125mg/ml), jika tidak ada reaksi alergi dilakukan anestesi lokal yaitu Anestesi Blok untuk rahang bawah bagian kiri berupa Mandibular anestesi. (5) Membuat insisi untuk pembuatan flap

24

a. Tipe flap yang akan dibuat adalah flap triangular dimana insisi dibuat dari 1/3 mesial Molar dua kiri (gigi 37) sampai ke ramus, insisi horizontal mengikuti tepi marginal . b. Dari 1/3 mesial Molar dua kiri tersebut kemudian dibuat insisi semi vertikal sebelah bukal Molar dua kiri sampai ke forniks Setelah kedua insisi dibuat dengan baik sampai ke tulang maka muko-perios flap dibuka dengan raspatorium dan kemudian ditahan dengan penarik pipi. Setelah flap dibuka maka kelihatan tulang dan telah terlihat giginya sebagian, maka dilakukan pengambilan tulang yang menghalangi gigi tersebut.

Gambar 4. Tipe Flap Triangular

(6) Pengambilan tulang

25

Gigi 38 yang terpendam sebagian permukaannya dilapisi tulang, maka dilakukan pembuangan tulang dengan menggunakan bor low speed dengan mata bur dan fisure yang tajam. Ketika membuang tulang dengan bur low speed harus kita irigasi untuk mengurangi panas yang timbul supaya tidak terjadi nekrose tulang dan membersihkan serpihan tulang bekas pemboran. Pengambilan tulang dilakukan pada permukaan tulang sebelah bukal yang menutupi gigi mengarah kedistal sampai gigi bebas dari tulang dan akses untuk pengambilan gigi cukup. Setelah pengambilan tulang cukup dilakukan, maka kita coba untuk menggerakkan gigi dengan elevator. (7) Pengambilan gigi dilakukan dengan cara separasi ( split ) gigi 38 tersebut menjadi 2 bagian pada bifurkasi. Bur dimulai dari bifurkasi yang diarahkan ke oklusal dan diperkirakan tidak sampai ke sebelah lingual.

26

Gambar 5. Prosedur pengambilan gigi dan elemen gigi 38

(8)

Pembersihan luka

Setelah gigi dikeluarkan maka soket atau ruangan bekas pencabutan dibersihkan dari sisa – sisa tulang bekas pemboran , folikel harus diambil karena dapat menyebabkan kista residual. Tepi tulang yang tajam harus dihaluskan dengan bor atau bone file. Setelah itu rongga tersebut harus kita bersihkan dengan semprotan atau irigasi dengan povidone iodine supaya pecahan partikel –partikel tulang dapat keluar dan ini dihisap dengan suction.

(9)

Lalu dilakukan penutupan luka dengan suturing, rongga bekas pencabutan dan bekas insisi bukal harus ditutup rapat agar sisa-sisa makanan tidak masuk dan proses penyembuhan lukanya baik. Dilakukan suturing dari bagian jaringan yang bergerak ke jaringan yang tidak bergerak dengan simple interrupted lalu ditahan dengan tampon yang kecil.

(10)

Instruksi pasca operasi

27

Pasien diberi nasehat membiarkan tampon 15 menit sampai ½ jam, jangan makan dan minum yang panas, kumur-kumur yang kuat atau sering meludah, harus istirahat yang cukup, tampon harus dibuang setelah 15 menit atau ½ jam, bila masih terjadi perdarahan, tampon harus diganti dengan tangan yang bersih dan bila berdarah terus menerus harus segera kembali kerumah sakit. Setelah 24 jam pasien dapat berkumurkumur dengan obat kumur atau air garam hangat. Makan yang lunak dan bergizi. Harus kembali kontrol 5-7 hari untuk dilakukan pembukaan jahitan. (11) Perawatan Pasca Operasi Pasien diberikan resep obat berupa Antibiotik, Analgetik, Anti inflamasi, dan obat kumur dalam hal ini saya beri Amoxicillin 500mg 3x1 dan kalium diklofenak 50 mg 3x1. Kontak person bila terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan. VII. Kontrol 1 hari ke 7 S: Pasien tidak ada keluhan dari operasi kemarin, obat analgesik masih ada, obat antibiotik habis. 2 hari setelah operasi terdapat pembengkakan sedikit, tapi saat ini sudah sembuh. Luka bekas operasi belum menutup sempurna. Jahitan terlepas 1 jahitan yang di sebeelah distal. O: EO : IO : A: P: d.b.n inspeksi Palpasi : terdapat jahitan 4 simpul, Ginggiva : normal, Debris : (+) : sakit (-), pembengkakan (-)

Proses penyembuhan luka Irigasi NaCl dan angkat jahitan

28

29