Bencana Banjir Jakarta, Salah Siapa?

Pascabencana banjir Jakarta menyisakan berbagai perdebatan dan saling tuding. Siapakah yang bersalah? Masyarakatkah, Pejabatkah ? Semua pertanyaan itu tidak akan memecahkan masalah. Kini saatnya saling introspeksi dan melakukan pembenahan untuk masa depan. Faktor alam pun perlu diwaspadai, barangkali memang rawan bencana!

Kondisi Lahan DAS terpanjang yakni Ciliwung membentang sepanjang lebih kurang 75 km dengan perbedaan gradien sangat besar. Perbedaan elevasi sangat besar, dari 0 m dpl di Tanjung Priok sampai 2.211 m dpl di puncak Gunung Salak dan 3.019 m dpl di puncak Gunung Pangrango. Bentang lahan ini membentuk zonasi, yaitu: 1. Zona dataran tinggi bergelombang sampai bergunung dengan lungur memanjang, berada di DAS hulu Ciliwung, Cisadane, dan Kali Bekasi, yang meru-

erdasarkan Peta Geologi Lingkungan, danau (situ) yang ikut mengendalikan erosi di wilayah antara Bogor-Jakarta sebelum tahun 1950-an berjumlah 92 buah dengan diameter lebih dari 100 m. Namun kini danau itu sudah banyak yang menciut, beralih fungsi, bah-kan hilang sama sekali, sehingga muncul cekungan stagnasi air se-bagai titik rawan banjir di Jakarta, yakni mencapai 161 titik yang membentuk lima kawasan zona ra-wan genangan. Eksploitasi air tanah yang berlebihan menyebabkan la-pisan aquifer makin dalam, penetrasi air laut lebih jauh ke darat yang berakibat keseimbangan hidrologi terganggu, hingga setiap 20 tahun beberapa bagian lahan di Jakarta turun antara 25-75 cm. Dari berbagai penyebab bencana banjir, kondisi lahan dan iklim yang spesifik di Jabotabek sangat penting dipertimbangkan untuk menentukan langkah pembenahan masa mendatang. Terdapat tiga sungai utama dari 13 sungai yang sangat berperan menimbulkan banjir di Jakarta, yakni Ciliwung, Cisadane, dan Kali Bekasi. Berdasarkan wilayah tangkapan airnya (catchment area), ketiga sungai tersebut membentuk sistem daerah aliran sungai (DAS) meliputi luas kawasan sekitar 315.140 ha. DAS Ciliwung yang menjadi satu sistem dengan DAS dari 13 sungai memberikan kontribusi bencana banjir terbesar di bagian tengah kota Jakarta. Kondisi Iklim Bogor sebagai Kota Hujan mempunyai pola hujan yang spesifik dengan curah hujan berfluktuasi 5-

B

10 tahunan, yang merupakan salah satu penyebab banjir yang mengejutkan di wilayah Jakarta. Berdasarkan curah hujan dari stasiun tertinggi Cipanas (1.100 m dpl) dan terendah Tanjung Priok (2 m dpl)

Banjir yang melanda Jakarta beberapa waktu lalu juga merambah jalan yang menuju Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng.

selama seabad (1900-2000), diketahui bahwa sebelum tahun 1950-an, Bogor dan sekitarnya sepanjang tahun terjadi bulan basah (curah hujan >200 mm/ bulan). Setelah 1950-an terjadi penurunan curah hujan yang drastis terutama Juni-Agustus. Terjadinya fluktuasi curah hujan tinggi lima tahunan disebabkan oleh angin musim barat yang bertiup antara bulan Novem-ber sampai Februari dengan puncak curah hujan tinggi antara September dan April. Kondisi ini memberikan dampak bahaya banjir yang mengejutkan di wilayah Jakarta, yang terjadi mulai SeptemberNovember sampai awal tahun sekitar bulan Januari-Maret.

pakan kompleks Pegunungan Gunung Gede-Pangrango dan Gunung Salak sampai Bogor. 2. Zona dataran rendah lahan kering datar-berombak-bergelombang, berada di DAS hulu dari 13 sungai yang mengalir di Jakarta, berada mulai batas zona (1) sampai tengah Jakarta (517,5 km dari pantai). 3. Zona dataran pelembahan Aluvial (Alluvial valley plain), merupakan daerah pelembahan sepanjang sungai dan cekungan-cekungan, terutama di sekitar sungai besar dan anak sungainya. 4. Zona dataran Aluvial pantai/laut (Alluvial coastal plain), merupakan DAS hilir, didominasi da-

1

taran cekung-datar-berombak, berada di wilayah antara zona (2) ke pantai utara Jakarta. Kondisi Tanah DAS hulu Ciliwung dari sekuen paling atas mempunyai tanah berbahan pasir volkan muda, kedalaman tanah dalam, tekstur kasar, kelolosan air atau porositas tinggi (jenis tanah Regosol atau Udipsamments) berasosiasi dengan tanah dangkal, halus, dan berbatu (Litosol atau Udorthents). Sekuen bawahnya sampai Cisarua terdiri atas tanah volkan yang subur, dalam, halus, tetapi rentan erosi (jenis tanah Andosol) berasosiasi dengan tanah bertekstur kasar. Sekuen bawahnya sampai Bogor, kedalaman tanah sedang-dalam, tekstur halus dengan kadar liat tinggi, porositas rendah (Latosol atau Inceptisols/Ultisols). Daerah Ciawi ke barat laut, termasuk Kota Bogor mempunyai kedalaman tanah sedang-dalam, tekstur halus, teguh sampai agak gembur, porositas rendah, berwarna kuning-kemerahan (Latosol coklat kekuningan). DAS tengahan yang merupakan DAS hulu dari 13 sungai, yang terletak di wilayah Kota Bogor sampai Jakarta bagian selatan, merupakan wilayah yang kompleks dengan tanah bersifat sedang-dalam, tekstur halus, teguh, porositas rendah, berwarna kemerahan (Latosol coklat kemerahan dan Latosol merah atau Inceptisols/Ultisols). DAS hulu Cisadane berada di atas ketinggian 700 m sampai puncak Gunung Salak. Dari DAS hulu sampai hilir mempunyai tanah yang hampir sama dengan DAS Ciliwung. Bedanya terdapat tanah berpasir yang mempunyai porositas tinggi yang menjulur mengikuti lungurlungur sampai Bogor selatan ke arah barat. DAS hulu Kali Bekasi agak berbeda, terdapat tanah dari bahan batuan beku (sedimen), sedangdalam, halus berliat tinggi, merahkekuningan, kukuh/tidak terlalu gembur (Podsolik coklat kekuningan dan Latosol coklat kemerahan).

Bagian lembah terdapat tanah dari bahan endapan (aluvium), basah (Aluvial coklat kekelabuan dan Brown Forets Soil atau Aquepts/ Aquents). Cekungan rawa makin ke utara meluas, pengendapan sangat cepat akibat fluktuasi balik dari sungai yang terbendung membentuk endapan aluvial dengan tanah basah yang membentuk rawarawa tergenang.

Peluang Bencana Banjir Zona tengah, terdiri atas DAS Ciliwung yang bersatu dengan 13 sungai mempunyai distribusi terluas di wilayah Jabotabek, lebih kurang 134.220 ha, dengan DAS hulu 19.370 ha (14%) dan hilir/tengah 114.840 ha (86%). Faktor yang mendukung terjadinya banjir bandang adalah perbedaan gradien yang sangat besar, berlereng curam, ngarai/torehan tinggi, didominasi tanah rentan erosi dengan kelolosan air sangat besar. Walaupun DAS hulu tidak begitu luas, banyak faktor yang sangat mendukung terjadinya bahaya banjir, antara lain (1) tanah peka erosi dari bahan volkan, (2) perbedaan gradien sangat besar dengan tingkat pembangunan intensif karena adanya kawasan pemukiman Puncak, (3) sungai yang membelah Kota Bogor dan Jakarta, sehingga hambatan cenderung besar yang akan mengancam pemukiman padat. Pola curah hujan tinggi di bagian hulu hampir sepanjang tahun dan sering terjadi penyimpangan hujan, memberi peluang banjir bandang apabila terjadi di wilayah Gunung Gede-Pangrango terutama lereng utara. Apabila hujan terjadi di Bogor dan sekitarnya, peluang banjir bandang lebih berbahaya pada sungai yang berhulu antara Bogor-Jakarta yang semuanya tertuang di kota Jakarta. Zona barat terdapat DAS Cisadane, DAS hulu berada di lereng timur, utara dan barat Gunung Salak, serta lereng barat Gunung Gede-Pangrango. Luasnya lebih

kurang 108.190 ha, terdiri DAS hulu 68.970 ha (64%) dan hilir 39.220 ha (36%). Sebaran tanah DAS hulu yang dangkal, berbatu, bercampur tanah kasar, porositas tinggi memberi peluang besar ter-jadinya banjir bandang dengan volume yang besar di Jakarta ba-gian barat. Hal ini terjadi apabila hujan turun dengan sebaran di se-luruh wilayah Gunung Salak maupun Gunung Gede-Pangrango pada lereng barat. Berdasarkan stasiun hujan yang ada di wilayah ini, banjir berpeluang terjadi hampir sepanjang tahun kecuali bulan Juni-Juli. Namun demikian pada tahun-tahun basah masih memungkinkan terjadi banjir, mengingat di Bogor sering terjadi penyimpangan hujan. Zona timur terdapat DAS Kali Bekasi, mempunyai gradien yang lebih kecil, perubahan teratur dari hulu ke hilir. Luas DAS ini lebih kurang 72.730 ha, terdiri atas DAS hulu 18.590 ha (26%) dan hilir 54.140 ha (74%). Tidak terdapat stagnasi yang nyata, sedimentasi diendapkan di wilayah DAS hilir, dengan kondisi lahan lebih basah, datar, berseling cekungan-cekungan, depresi, drainase buruk, dan berupa genangan. Berdasarkan luas catchment area masing-masing DAS dan distribusi hujannya, dapat diprediksi peluang terjadinya banjir sebagai berikut: • Apabila hujan terjadi di Gunung Gede-Pangrango, maka 50% menyebabkan banjir di Ciliwung, 40% di Cisadane, 10% di Kali Bekasi. • Apabila hujan terjadi di Gunung Salak, maka 90% menyebabkan banjir di Cisadane dan 10% di Ciliwung. • Apabila hujan terjadi di Bogor, maka 60% menyebabkan banjir di Ciliwung, 30% di Cisadane, dan 10% di Kali Bekasi. • Apabila hujan terjadi di antara Bogor-Jakarta, maka lebih dari 90% menyebabkan banjir di Ciliwung dan sungai-sungai kecil di Jakarta. Beberapa Alternatif 1. Mengantisipasi melalui penge-

2

lolaan DAS hulu dengan pengendalian perusakan lingkungan dan tangkapan air hujan (perlambatan run off, penampungan/ penangkapan air hujan). 2. Mempersempit areal bencana dengan mengurangi kerawanan DAS tengah/hilir, antara lain tetap mempertahankan kawasan konservasi sempadan sungai, hindari pemukiman padat, penumpukan sampah kota, serta mempertahankan daerah resap-an air. 3. Mempertahankan situ-situ, membangun saluran penahan/ pengarah aliran luapan air bah, mengantisipasi terjadinya penetrasi air laut ke darat yang meng-

ganggu keseimbangan hidrologi, keseimbangan perencanaan tata kota Jakarta secara global dengan memperhatikan proporsi wilayah resapan. 4. Teknologi modifikasi cuaca (TMC), yakni melakukan perubahan cuaca secara ekstrim dengan sistem pembuyaran awan. Perlakuan ini pada prinsipnya bertujuan mengubah intensitas dan distribusi jatuhnya hujan. Seperti halnya yang dilakukan pada tanggal 15-19 Februari 2002, perubahan yang terjadi adalah perubahan intensitas air di Sungai Citarum ke waduk Jatiluhur dari 421,53 m3/ detik menjadi 162,98 m3/detik (Suratman).

Untuk informasi lebih lanjut hubungi: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat Jln. Ir. H. Juanda No. 98 Bogor 16123 Telepon :(0251) 323012 Faksimile:(0251) 311256 E-mail :csar@bogor.wasantara.
net.id

3

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful