P. 1
REFERAT ABSES HEPPY.docx

REFERAT ABSES HEPPY.docx

|Views: 15|Likes:
Published by Saskia Mariska
abses hepar referat pontianak
abses hepar referat pontianak

More info:

Published by: Saskia Mariska on Aug 01, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/13/2014

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

Abses hepar merupakan masalah kesehatan pada beberapa negara di Asia, Afrika dan Amerika Selatan. Prevalensi yang tinggi sangat erat hubungannya dengan sanitasi yang buruk, status ekonomi yang rendah serta gizi yang buruk. Meningkatnya arus urbanisasi menyebabkan bertambahnya kasus abses hepar di daerah perkotaan. Infeksi dapat disebabkan oleh infeksi bakteri parasit, ataupun jamur yang bersumber dari sistem gastrointestinal, ditandai dengan adanya proses supurasi atau pembentukan pus di dalam parenkim hepar.. Dalam beberapa dekade terakhir ini telah banyak perubahan mengenai aspek epidemiologis, etiologi, bakteriologi, cara dagnostik maupun mengenai pengelolaan serta prognosisnya.(1,2) Hampir 10% penduduk dunia terutama penduduk Negara berkembang pernah terinfeksi Entamoeba histolytica tetapi 10% saja dari yang terinfeksi menunjukkan gejala. Individu yang mudah terinfeksi adalah penduduk di daerah endemik ataupun wisatawan yang ke daerah endemik (2) Secara umum abses hepar dibagi menjadi 2 yaitu abses hepar amebik dan abses hepar piogenik di mana kasus abses hepar amebik lebih sering terjadi dibanding abses hepar piogenik. Abses hepar amebik biasanya disebabkan oleh infeksi Entamoeba hystolitica sedangkan abses hepar piogenik disebabkan oleh infeksi Enterobacteriaceae, Streptococci, Klebsiella, Candida, Salmonella, dan golongan lainnya. Abses hepar sering timbul sebagai komplikasi dari peradangan akut saluran empedu.(1,3) Gejala tersering yang dikeluhkan oleh pasien dengan amebiasis hepar adalah berupa nyeri perut kanan atas, demam, hepatomegali dengan nyeri tekan atau nyeri spontan atau disertai dengan gejala komplikasi. Gejala yang menyertai adalah anoreksia, mual muntah, berat badan menurun, batuk, ikterus ringan sampai sedang dan berak darah. Pemeriksaan laboratorium didapatkan anemia ringan sampai sedang.(3)

India. sel darah dalam parenkim hepar. Dalam satu tahun didapatkan 2-3 kasus abses hepar dari 100. sedangkan kasus abses hepar pada anak dan dewasa muda sering menandai adanya gangguan imunitas tubuh ataupun adanya riwayat trauma.000 populasi.5) Abses hepar banyak ditemui pada pasien berusia di atas 60 tahun. Definisi Abses hepar ialah sebuah abses atau akumulasi pus pada sel-sel hepar yang biasanya disebabkan oleh infeksi amuba. sel inflamasi. dan infeksi langsung ke hepar dari sumber disekitar. ataupun luka tembus yang langsung mengenai hepar. Pada Negara endemis amebiasis seperti Meksiko. imunosupresi. dan sebagian daerah di Amerika Selatan.1. Angka kejadian yang tinggi didapatkan di Taiwan. Epidemiologi Abses hepar merupakan abses visceral yang paling sering terjadi.(4) 2. Hal ini diduga akibat tingginya angka kasus bilier pada usia tersebut. Abses hepar merupakan infeksi pada hepar yang disebabkan oleh infeksi bakteri. infeksi asendens di saluran empedu (kolangitis asendens).2.3. yaitu sebesar 17 kasus per 100. Organisme penyebab infeksi dapat mencapai hepar melalui beberapa jalur. jamur. bakteri atau adanya trauma pada hepar.BAB II PEMBAHASAN 2.5) 2. Faktor risiko terjadinya abses hepar antara lain diabetes. ditandai dengan proses supurasi dengan pembentukan pus. Abses hepar juga biasa timbul pada keadaan defisiensi imun (lanjut usia. maupun nekrosis steril yang bersumber dari sistem GIT. kemoterapi kanker disertai kegagalan sumsum tulang).(1. terdiri dari jaringan hepar nekrotik. melalui pembuluh darah baik porta atau arteri. serta negara dengan tingkat kesehatan yang rendah. adanya kelainan hepatobilier atau pancreas yang mendasari. (1. dan transplantasi hepar. parasit. abses amebic sangat sering terjadi. Afrika Selatan dan Timur.000 populasi dan insidensnya lebih tinggi pada lakilaki disbanding perempuan dengan rasio sebesar 3:1. Etiologi .

Kondisi imunitas penderita juga berperan dalam terjadinya amubiasis invasif. paling sering terjadi di daerah tropis/subtropik. AHP juga dapat terjadi akibat trauma berupa luka tusuk. Sedangkan saat era antibiotik. Strain ini berbentuk tropozoit besar yang mampu memfagosit sel darah merah dan sel PMN.2. bacteroides. yaitu abses hepar amebic (AHA) dan abses hepar piogenik (AHP) atau sering juga disebut Hepatic Abcess.6) AHA disebabkan oleh strain virulen Entamoeba hystolitica yang tinggi. Bila terjadi perforasi. fusobacterium. AHP terjadi akibat komplikasi apendisitis bersamaan dengan fileflebitis. Dinding kista akan dicerna oleh usus halus. Sebagai host definitif. actinomyces. peritonitis. anaerobic streptococci. Bacterial Liver Abcess. aspergillus. yersinia enterolitica. trauma tumpul.Secara umum abses hepar terbagi dua.6) Amubiasis invasif dapat disebabkan oleh terjadinya perdarahan usus besar. candida albicans. kolesistitis). milleri. Bakteri patogen melalui arteri hepatica atau sirkulasi vena porta dan masuk ke dalam hepar mengakibatkan terjadinya bakterimia sistemik. Strain Entamoeba hystolitica tertentu dapat menginvasi dinding kolon.(1. infeksi amuba menginvasi organ lain yang seperti paru. microaerophilic streptococci. dan infeksi post operasi). Pada era preantibiotik. terjadi peningkatan insidensi AHP akibat komplikasi dari sistem biliaris (kolangitis. dan pembentukan fistula. brucella militensis. S. dan fungal. keluarlah tropozoit imatur. eikenella corrodens. Abses pada hepar diduga . AHA lebih sering terjadi endemic di negara berkembang dibanding AHP. Histolytica. Infeksi biasanya terjadi setelah meminum air atau memakan makanan yang terkontaminasi kotoran yang mengandung tropozoit atau kista tersebut. Tropozoit dewasa tinggal di usus besar terutama sekum. individu-individu yang asimptomatis mengeluarkan tropozoit dan kista bersama kotoran mereka. aureus. atau menyebabkan komplikasi infeksi intraabdominal (diverticulitis. typhi. Hal ini terjadi akibat adanya peningkatan angka harapan hidup dan meningkatnya angkay kejadian gangguan pada sistem biliaris di kalangan lanjut usia. yang biasanya pada daerah caecum. Penyebab utama AHA ialah E.6) AHP tersebar di seluruh dunia. namun kasus terbanyak didapati di daerah tropis dengan tingkat sanitasi yang rendah. AHA merupakan salah satu komplikasi amebiasis ekstraintestinal.2. perforasi. klebsiella pneumonia. Mikroorganisme yang menyebabkan terjadinya AHP antara lain enterobacteriaceae. otak dan terutama hepar. S. dan kriptogenik(1.(2. S.

Hal ini diakibatkan oleh keadaan anatomi hepar. tidak terbentuk jaringan fibrosis. diikuti oleh perusakan sawar intestinal.4. Secara patologis. kemudian terjadi penyebaran amoeba ke hepar melalui Vena porta.(2) Terjadi fokus akumulasi neutrofil periportal yang disertai nekrosis dan infiltrasi granulumatosa. histolytica.(6. yaitu terjadi pada 87% kasus. mekanisme terjadinya amebiasis didahului dengan melekatnya E.7) 2. Dalam parenkim hepar terbentuk tempat-tempat mikroskopis terutama terjadi trombosis. Trauma tumpul dan nekrosis hepar akibat dari terjadinya vascular injury selama dilakukan laparaskopi cholecystectomy juga dapat menjadi penyebab abses hepar. malnutrisi. atau penjalaran melalui intraperitoneal. Patogenesis Abses paling sering ditemukan pada hepar. histolytica pada mukosa usus. faktor resistensi parasit. kekuningan atau keabuan. Hal ini terjadi dalam beberapa bulan setelah kejadian amebiasis intestinal. sedangkan pada bagian perifer tampak bentuk ameboid dengan sitoplasma bergranul serta inti yang kecil. Lesi membesar bersatu dan granuloma diganti dengan jaringan nekrotik yang dikelilingi kapsul tipis seperti jaringan fibrosa. Bila tempattempat tersebut bergabung maka terjadilah abses amuba. sitolisis. Jaringan sekitarnya edematous dengan infiltrasi limfosit dan proliferasi ringan dari sel kupffer tanpa ditemukannya sel PMN. Abses hepar dapat berupa lesi soliter ataupun multipel. amebiasis hepar ini berukuran kecil sampai besar .8) . yaitu dari arteri mesenterika superior dan vena porta. lisis sel epitel intestinal serta sel radang yang disebabkan oleh endotoksin E. dan pencairan. (2. di mana di dalamnya terdapat bahan nekrotik seperti keju. berwarna merah kecoklatan. pembuluh limfe mesenterium. suatu proses yang disebut hepatitis amuba. Patogenesis amebiasis hepar belum diketahui secara pasti. kehijauan. (2. Umumnya lokasinya pada lobus kanan. sedangkan lobus kiri menerima darah dari arteri mesenterika inferior dan aliran limfatik. Lesi amebiasis pada heapr biasanya tidak disertai oleh pembentukan jaringan parut. Secara kasar. Ada beberapa mekanisme seperti faktor investasi parasit yang menghasilkan toksin. di mana lobus kanan hepar menerima darah lebih banyak.berasal dari invasi sistem vena porta.8) Secara mikroskopik akan didapatkan bahan nekrotik dan fibrinous pada bagian tengah abses. berubah-ubahnya antigen permukaan dan penurunan imunitas.

8) Struktur dari abses amuba hepar terdiri dari cairan di dalam. Biopsi dari jaringan ini sering memperkuat diagnosis dari manifestasi abses amuba hepar. (2. cairan abses amuba steril dan tidak berbau. Abses mungkin saja berisi cairan hijau atau kuning. embolisasi arteri hepatika pada perawatan karsinoma hepatoseluler. Mikroabses yang terbentuk akan menyebar secara hematogen sehingga terjadi bakterimia sistemik. dan tumor hepar. Tidak seperti abses bakterial. Mikroabses ini biasanya multipel tapi dapat juga soliter. Secara klasik cairan abses menyerupai “anchovy paste” . Mikroabses juga dapat berasal secara hematogen dari proses bakterimia seperti endokarditis dan pyelonephritis.7. dan kapsul jaringan penyangga. (2) Infeksi pada organ porta dapat menyebabkan septik tromboplebitis lokal yang mengarah pada abses hepar. Abses hepar yang disebabkan oleh trauma biasanya merupakan abses soliter.Kelainan pada traktus biliaris adalah penyebab utama dari abses hepar piogenik. Dinding dari abses adalah lapisan dari jaringan nekrotik hepar dan tropozoit yang ada. hydatid cystic cavities. Obstruksi pada traktus biliaris seperti adanya batu empedu. perdarahan intrahepatik dan kebocoran saluran empedu sehingga terjadi gangguan pada kanalukuli. berwarna coklat kemerahan sebagai akibat jaringan hepar dan sel darah merah yang dicerna. Pada abses lama kapsul jaringan penyangga dibentuk oleh . dinding dalam. (2) Abses hepar piogenik dapat merupakan infeksi sekunder dari abses hepar amebik. Adanya tekanan dan distensi kanalikuli akan mempengaruhi cabangcabang dari vena porta dan arteri hepatika sehingga akan terbentuk abses fileplebitis. dan menjadi nidus bagi formasi mikroabses. Septik emboli akan dilepaskan ke sistem porta. Sedangkan trauma tumpul menyebabkan terjadinya nekrosis hepar. Evaluasi cairan abses untuk penghitungan sel dan enzimatik secara umum tidak membantu dalam mendiagnosis abses amuba. Gangguan pada kanalukuli memungkinkan masuknya bakteri ke dalam hepar dan terjadinya pertumbuhan bakteri dengan proses supurasi disertai pembentukan pus. Penetrasi akibat luka tusuk akan menyebabkan inokulasi pada parenkim hepar sehingga terjadi abses hepar piogenik. masuk ke sinusoid hepar. striktura saluran empedu. Selain itu dapat juga disebabkan oleh proses transplantasi hepar. penyakit obstruktif congenital.

serta pemeriksaan penunjang lainnya.5. sering pula ditemukan anoreksia.5) Pada beberapa kasus terkadang abses hepar dapat dilihat pada inspeksi oleh karena abses telah menembus kulit dan terlihat dari luar. Pada kasus AHP biasa letaknya dekat digfragma.6 jari di bawah arcus costae. atelektasis. malaise.7) 2.(2.7) 2.7) Demam atau panas tinggi merupakan manifestasi klinis yang paling utama yang palinf sering ditemukan.2. terdapat efusi pleura. Manifestasi Klinis Manifestasi sistemik abses hepar piogenik biasanya lebih berat dari pada abses hepar amebik. massa terdapat pada hipokondrium atau epigastrium. Pada keadaan ini abses biasanya multipel. Dalam keadaan ini biasanya pasien datanf dengan jalan membungkuk dengan kedua tangan memegang bagian perut yang sakit. Selain gejala utama tersebut. Pada abses piogenik. Gejala ikterus terdapat pada 25 % kasus dan biasanya berhubungan dengan adanya kelainan pada traktus biliaris. berkurangnya nafsu makan.2. rasa mual dan muntah.2. (1. Pada palpasi biasanya ditemukan nyeri tekan pada . dan fluktuasi pada hepar. Terkadang diagnosis abses hepar sulit ditegakkan karena gejalanya yang kurang spesifik. pemeriksaan fisik. batuk.5. dapat pula terjadi atelektesis. pemeriksaan laboratorium. maka sering disertai dengan terjadinya iritasi diagfragma sehingga terjadi nyeri pada bahu sebelah kanan. Diagnosis dini memegang peranan penting dalam penatalaksanaan abses hepar karena abses hepar sebenarnya dapat disembuhkan dengan penanganan dini. serta terjadi penurunan berat badan yang cukup signifikan. (1.6. anemia. Dicurigai adanya abses hepar piogenik apabila ditemukan sindrom klinis klasik berupa nyeri spontan perut kanan atas. (1. Diagnosis yang terlambat akan meningkatkan morbiditas dan mortalitasnya. batuk disertai rasa sakit pada diafragma.perkembangan fibroblas. hepatomegali yang teraba sebesar 3 . Diagnosis Penegakan diagnosis abses hepar ditegakkan dari anamnesis. serta tanda-tanda peritonitis. leukosit dan sel-sel inflamasi tidak didapatkan pada kapsul dari abses amuba hepar.

5) Hasil pemeriksaan laboratorium yang biasa ditemukan pada kasus abses hepar ialah leukositosis dengan peningkatan yang bermakna dengan pergeseran ke kiri (shift to the left). indirect immunofluorescence. peningkatan enzim transaminase dan serum bilirubin. 4. Karena pada abses hepar amebik terjadi proses destruksi parenkim hepar. jumlah leukosit darah.1. Pada palpasi juga dapat ditemukan hepatomegali yang teraba hingga tiga jari sampai enam jari arcus-costarum. Tanda-tanda yang didapatkan dari pemeriksaan laboratorium di atas menunjukan bahwa terdapat kegagalan fungsi hepar yang disebabkan abses hepar.2. (1.5) Pemeriksaan penunjang lain seperti foto toraks dan foto polos abdomen digunakan untuk mendeteksi kelainan atau komplikasi yang ditimbulkan oleh abses hepar. counterimmunelectrophoresis. Diagnosa pasti abses hepar ditegakkan dengan USG dan CT Scan dengan sensitivitas pemeriksaan mencapai 95%. peningkatan laju endap darah. (2. Sensitivitasnya mencapai 95%. ELISA (Enzyme-linked Immunosorbent Assay). Hiperbilirubinemia didapatkan hanya pada 10 % penderita abses hepar. hasil pemeriksaann laboratorium tidak mengalami perubahan yang bermakna.5) Abnormalitas tes fungsi hepar lebih jarang terjadi dan lebih ringan pada abses hepar amebik dibanding abses hepar piogenik. IHA dianggap positif jika pengenceran melampaui 1 : 128. sensitivitasnya . total protein dan kadar albumin dan glubulin dalam darah. tidak terlalu jelas menunjukkan tanda. IHA dan GDP merupakan prosedur yang paling sering digunakan. GDP (Gel Diffusion Precipitin). Bila tes tersebut diulang. Pada kasus abses hepar yang akut. yang merupakan lokasi paling sering. biasa juga ditemukan adanya anemia.kuadran kanan atas abdomen. termasuk kadar bilirubin total. dan percobaan fungsi hepar. dan complement fixation.2. Pemeriksaan laboratorium Pada pemeriksaan laboratorium dilakukan pemeriksaan darah rutin. (2. tetapi menunjukkan leukositosis yang bermakna. peningkatan alkali fosfatase.5) 2.(2. maka PPT (plasma protrombin time) meningkat.5) Pemeriksaan serologi yang dapat dilakukan meliputi IHA (Indirect Hemagglutination). Pada beberapa kasus. (1.6. sedangkan pada kasus abses hepar kronis justru terjadi sebaliknya. yaitu kadar Hb. laju endap darah. serta berkurangnya kadar albumin serum dan waktu protrombin yang memanjang.

Juga mendeteksi colitis karena amuba yang non-invasif. Ekogenitas lebih rendah dari parenkim hepar normal. Rendahnya biaya dan sifat non-radiasi membuat USG menjadi pilihan untuk mendiagnosis abses hepar.8) 2.7. Namun demikian. hasil yang positif bisa didapatkan sampai 20 tahun setelah infeksi mereda. Pemeriksaan radiologi USG memiliki sensitivitas yang sama dengan CT scan dalam mengidentifikasi abses hepar. 3. tes ini sensitif. dan jarang sekali tetap positif sampai 6 bulan setelah sembuhnya abses. bila pada pemeriksaan radiologi ditemukan lesi "space occupying" di hepar. 5.(6.6. tetapi tidak spesifik untuk abses amuba hepar. IHA sangat spesifik untuk amubiasis invasif. 4. Abses hepar amebik biasanya besar dan multipel.dapat mencapai 100%.2. Karena itu. Abses paru. . Berkurangnya gerak dari dome diafragma kanan. Kolaps paru. GDP sangat membantu untuk memastikan apakah kelainan tersebut disebabkan amuba. Pleural efusion. 2. GDP mudah dilaksanakan. GDP meskipun dapat mendeteksi 95% abses hepar karena amuba. Tetapi. Menurut Middlemiss (I964) gambaran radiologis dari abses hepar adalah sebagai berikut:(2) 1. Tidak ada gema dinding yang berarti 3. CT scan:    Hipoekoik Massa oval dengan batas tegas Non-homogen USG: 1. Jadi. Bentuk bulat atau oval 2. Peninggian dome dari diafragma kanan.

Respons yang baik terhadap obat anti amoeba. 5. Pembesaran hepar yang nyeri tekan pada orang dewasa. 7. Fistula bronkopleura.9) Komplikasi ke kaudal terjadi ke rongga peritoneum.7. Abses menembus diagfragma dan akan timbul efusi pleura. Komplikasi Sistem plueropulmonum merupakan sistem yang paling sering terkena dampak dari komlikasi abses hepar.(1. Bersentuhan dengan kapsul hepar 5. "Amoeba Hemaglutination" test positif 2. biliopleura dan biliobronkial juga dapat timbul dari reptur abses amuba. Secara khusus. Hal ini dikarenakan facies diaphragm hepar yang berdekatan dengan system pleuropulmonum terutama di lobus kanan. 6. . histolytica positif dalam pus hasil aspirasi.2. Trophozoit E. "Scintiscanning" hepar adanya "filling defect". Hasil pemeriksaan hematologis yang menyokong : leukositosis.9) Komplikasi abses hepar amoeba umumnya berupa perforasi abses ke berbagai rongga tubuh dan ke kulit. artinya sebelum perforasi. kasus tersebut berasal dari lesi yang terletak di lobus kanan hepar.(1. empyema abses pulmonum atau pneumonia. Perforasi akut menyebabkan peritonitis umum. Insidens perforasi ke rongga pleura adalah 10-20%. 4. Abses kronis. Perforasi ke . Akan terjadi efusi pleura yang besar dan luas yang memperlihatkan cairan coklat pada aspirasi.4. 3. Peninggian sonik distal (distal enhancement) Kriteria diagnostik untuk hepatic amoebiasis menurut Lamont dan Pooler : 1. Pemeriksaan Rontgen (PA Lateral) yang menyokong. Perforasi ke perikard menyebabkan efusi perikard dan tamponade jantung. Perforasi dapat berlanjut ke paru sampai ke bronkus sehingga didapat sputum yang berwarna khas coklat.2. Pasien-pasien dengan fistula ini akan menunjukan ludah yang berwarna kecoklatan yang berisi amuba yang ada. omentum dan usus mempunyai kesempatan untuk mengurung proses inflamasi. menyebabkan peritonitis lokal. Perforasi ke kranial dapat terjadi ke pleura dan perikard. 2.

2. Kadang pada abses hepar piogenik multipel diperlukan reseksi hepar. dapat menyembuhkan 95% penderita abses amuba hepar. Emetin dan dehidroemetin diberikan secara intramuskular. Emetin dan dehidroemetin diindikasikan terutama untuk penderita yang mengalami komplikasi paru. Dapat terjadi proaritmia. Dosis 50 mg/kgBB/hari diberikan tiga kali sehari selama 10 hari.(1.1. Neuropati perifer kadang-kadang dapat terjadi. Perbaikan gejala klinis terjadi dalam beberapa hari dan pemeriksaan radiologis menunjukkan penurunan ukuran abses dalam 7 sampai 10 hari.2. dehidroemetin.8. komplikasi yang bisa terjadi adalah perdarahan. Emetin memiliki "therapeutic range" yang sempit. Antibiotik Terapi medikamentosa adalah antibiotik yang bersifat amubisid seperti metronidazol atau tinidazol. dan klorokuin berguna pada abses amuba hepar yang mengalami komplikasi atau bila pengobatan dengan metronidazol gagal. perforasi organ intra abdominal dan infeksi. (1.depan atau ke sisi terjadi ke arah kulit (seperti gambar di samping) sehingga menimbulkan fistel yang dapat menyebabkan timbulnya infeksi sekunder. walaupun merupakan kontraindikasi pada kehamilan. karena .(1.9) 2. Hasil yang positif pada pemberian metronidazol secara empiris dapat memperkuat diagnosis abses amuba hepar.8. . diperlukan pada penderita yang mengalami rasa mual atau pada penderita yang keadaan umumnya buruk.10) 2.2. atau malah terjadi kesalahan dalam penempatan kateter drainase. Metronidazol mudah didapat dan aman. Efek samping yang dapat terjadi ialah mual dan rasa logam. Penderita yang mendapat obat ini harus tirah baring dan dilakukan pemantauan vital sign secara teratur. Tatalaksana Penatalaksanaan secara konvensional adalah dengan drainase terbuka secara operasi dan antibiotika spektrum luas oleh karena bakteri penyebab abses terdapat di dalam cairan abses yang sulit dicapai dengan antibiotika tunggal tanpa aspirasi cairan abses. Pemberian intravena sama efektifnya.10) Emetin. Penatalaksanaan saat ini adalah dengan drainase perkutaneus abses intraabdominal dengan tuntutan abdomen ultrasound atau tomografi komputer. efek kardiotoksik yang diakibatkan akumulasi dosis obat.

aspirasi berguna untuk mengurangi gejala-gejala penekanan dan menyingkirkan adanya infeksi bakteri sekunder. dan perikardial.10) 2.5. tetapi sebaiknya dilakukan dengan tuntunan ultrasonografi sehingga dapat mencapai ssaran yang tepat. Aspirasi dapat dilakukan secara berulang-ulang secara tertutup atau dilanjutkan dengan pemasangan kateter penyalir. khususnya bila usaha dekompresi perkutan tidak berhasil. Dalam hal ini. Kombinasi klorokuin dan emetin dapat menyembuhkan 90% penderita amubiasis ekstrakolon yang resisten.8. peritoneum. Aspirasi juga bermanfaat bila terapi dengan metronidazol merupakan kontraindikasi seperti pada kehamilan. Pada semua tindakan harus diperheparkan prosedur aseptik dan antiseptik untuk mencegah infeksi sekunder.biasanya keadaan umumnya buruk dan memerlukan terapi "multidrug" untuk mempercepat perbaikan gejala klinis. Aspirasi Selain diberi antibiotika.8) Drainase Perkutan Drainase perkutan berguna pada penanganan komplikasi paru. Laparotomi diindikasikan untuk perdarahan yang jarang terjadi tetapi mengancam jiwa penderita. Penderita dengan septikemia karena abses amuba yang mengalami infeksi sekunder juga dicalonkan untuk tindakan bedah. (2) Operasi Pembedahan diindikasikan untuk penanganan abses yang tidak berhasil membaik dengan cara yang lebih konservatif. (1. (2. Infeksi sekunder pada rongga abses setelah dilakukan drainase perkutan dapat terjadi.2. terapi abses juga dilakukan dengan aspirasi.2. atau lesi yang disertai rasa nyeri hebat dan elevasi diafragma. (2) . Tindakan operasi juga dilakukan bila abses amuba mengenai sekitarnya. Tingginya viskositas cairan abses amuba memerlukan kateter dengan diameter yang besar untuk drainase yang adekuat. Aspirasi juga mengurangi risiko ruptur pada abses yang volumenya lebih dari 250 ml. disertai atau tanpa adanya ruptur abses. Aspirasi bisa dilakukan secara buta.

3. juga pada pasien dengan penyakit saluran empedu. Prognosis Prognosa abses hepar tergantung dari investasi parasit. apabila terjadi keterlambatan diagnosis dan pengobatan. hipoalbuminemia. Hepatektomi Dewasa ini dilakukan hepatektomi yaitu pengangkatan lobus hepar yang terkena abses. ada tidaknya infeksi sekunder. derajat dari infeksi. Hepatektomi dapat dilakukan pada abses tunggal atau multipel.Jika tindakan laparotomi dibutuhkan. (2.9.5) . Abses dibuka. dilakukan penyaliran. adanya ikterus.8. dicuci dengan larutan garam fisiologik dan larutan antibiotik serta dengan ultrasonografi intraoperatif. dan terapi yang diberikan Prognosis yang buruk. daya tahan host. komplikasi yang terjadi. maka dilakukan dengan sayatan subkostal kanan. efusi pleura atau adanya penyakit lain. lobus kanan atau kiri. (2) Indikasi operasi pada abses hepar antara lain:     Terapi antibiotika gagal Aspirasi tidak berhasil Abses tidak dapat dijangkau dengan aspirasi ataupun drainase Adanya komplikasi intraabdominal Kontraindikasi operasi pada abses hepar antara lain:    Abses multipel Infeksi polimikrobakteri Immunocompromise dissease 2. jika hasil kultur darah yang memperlihatkan penyebab bakterial organisme multipel. (2) 2. Tipe reseksi hepatektomi tergantung dari luas daerah hepar yang terkena abses juga disesuaikan dengan perdarahan lobus hepar. tidak dilakukan drainase terhadap abses.

aspirasi cairan abses. ikterus.BAB III KESIMPULAN Abses hepar merupakan infeksi pada hepar yang disebabkan bakteri. Adapun gejala-gejala yang sering timbul diantaranya demam tinggi. Abses hepar dapat disembuhkan bila ditangani dengan cara yang tepat dalam waktu yang secepatnya. Diagnosis yang di pakai sama seperti penyakit lain yaitu pemeriksaan fisik. nyeri pada kuadran kanan atas abdomen. maupun nekrosis steril yang dapat masuk melalui kandung kemih yang terinfeksi dan infeksi dalam perut lainnya. Terapi yang diberikan adalah antibiotika spektrum luas. drainase. dan laboratorium. oleh karenanya sangatlah penting untuk dapat mendiagnosanya sedini mungkin. laparatomi dan hepatektomi. pemeriksaan penunjang. . Abses hepar dibedakan menjadi 2 yaitu abses hepar amebik dan abses hepar piogenik. jamur. hepatomegali.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->