BAB I

GRUP

A. Teori Himpunan Dasar-dasar teori tentang teori himpunan, berikut ini sangat penting dalam pembahasan tentang teori grup.

1. Himpunan Himpunan adalah suatu kumpulan obyek (kongkrit maupun abstrak) yang didefinisikan dengan jelas. Obyek-obyek dalam himpunan tersebut dinamakan anggota himpunan.

Contoh I.1 : 1. Himpunan bilangan 0, 1, 2 dan 3. 2. Himpunan : pena, pensil, buku, penghapus, penggaris. 3. Himpunan : Negara-negara anggota ASEAN.

Secara matematik, himpunan dapat dinyatakan dengan tanda kurung kurawal dan digunakan notasi huruf besar. Hal itu berarti, himpunan di atas ditulis secara matematik yaitu : 1. A = { 0, 1, 2, 3 }. 2. B = { pena, pensil, buku, penghapus, penggaris }. 3. C = { Negara-negara ASEAN }. Untuk membentuk himpunan, salah satu metode yang dapat digunakan adalah metode Roster (tabelaris) yaitu dengan menyebut atau mendaftar semua anggota, seperti pada himpunan A dan

Page 1 of 28

B sedangkan metode lainnya adalah metode Rule yaitu dengan menyebut syarat keanggotaannya. Sebagai contoh, penggunaan metode Rule adalah C = { x | x negara-negara ASEAN }. Kalimat di belakang garis tegak ( | ) menyatakan syarat keanggotaan.

Apabila

suatu obyek merupakan anggota dari suatu himpunan maka obyek itu

dinamakan elemen dan notasi yang digunakan adalah ∈. Sebaliknya apabila bukan merupakan anggota dinamakan bukan elemen, dan notasi yang digunakan adalah ∉. Sebagai contoh, jika himpunan A = {0, 1, 2, 3 } maka 2 ∈ A sedangkan 4 ∉ A. Banyaknya elemen dari himpunan A dikenal dengan nama bilangan cardinal dan disimbolkan dengan n(A). Berarti pada contoh di atas n(A) = 4.

Himpunan A dikatakan ekuivalen dengan himpunan B jika n(A) = n(B), dan biasa disimbolkan dengan A ∼ B. Berarti jika A dan B ekuivalen maka dapat dibuat perkawanan satusatu dari himpunan A ke himpunan B dan sebaliknya. Pada contoh di atas himpunan A = {0, 1, 2, 3 } ekuivalen dengan himpunan E = {2, 4, 6, 8}.

Catatan : Pada saat menyatakan himpunan harus diperhatikan bahwa (i) Urutan tidak diperhatikan, himpunan {0, 1, 2, 3}, {1, 0, 3, 2} dipandang sama dengan {1, 2, 3, 0} (ii) Anggota-anggota yang sama hanya diperhitungkan sekali, {0, 0, 1, 1, 2, 3} dan {0, 1, 2, 3, 3, 3} dipandang sama dengan {0, 1, 2, 3}.

Page 2 of 28

Notasi A ⊆ B dibaca A himpunan bagian dari B atau A termuat dalam B. dalam hal ini digunakan notasi ∅ atau { }. Page 3 of 28 . dll. sedangkan notasi B ⊇ A dibaca B memuat A. Himpunan kosong adalah himpunan yang tidak mempunyai anggota. Sebagai contoh jika diketahui himpunan E = { 2. Misalkan diketahui himpunan A dan B. Contoh I. Notasi yang biasa digunakan adalah A ⊆ B atau B ⊇ A. 1. Diagram Venn adalah diagram untuk menggambarkan suatu himpunan atau relasi antar himpunan. 1. Himpunan semesta dinotasikan S atau U. 4. 2. Sebagai contoh jika D = { bilangan ganjil yang habis dibagi dua } maka D = ∅ atau D = { }.Himpunan semesta (universal set) adalah himpunan semua obyek yang dibicarakan. Himpunan A dikatakan himpunan bagian (subset) jika dan hanya jika setiap elemen dari A merupakan elemen dari B. 3 } sedangkan 0 ∈ { 0. 3 }. 1. 6. 3} maka dapat diambil himpunan semestanya U = { bilangan bulat } atau U = { himpunan bilangan cacah }. Sebagai contoh jika A ={0. Himpunan yang digambarkannya biasanya dalam bentuk lingkaran dan anggotanya berupa titik dalam lingkaran dan himpunan semestanya dalam bentuk persegi panjang. 8 } dan himpunan semestanya adalah himpunan bilangan genap U dapat digambarkan dengan diagram Venn.2 : Himpunan { 0 } ⊆ { 0. 2. 2.

2. Perlu dicatat bahwa himpunan kosong merupakan himpunan bagian dari sebarang himpunan sehingga ∅ ⊆ A. Sebagai contoh jika U = { 1. Secara matematik dapat ditulis sebagai AC ={ x | x ∈ U dan x ∉ A }. 4. Dalam hal ini n(2A) =2n(A) = 22 = 4. Himpunan A = { 0. Jika A dan B himpunan maka A dikatakan himpunan bagian sejati (proper subset) B jika dan hanya jika A ⊆ B dan A ≠ B. 2. 8} atau A ⊄ G karena ada anggota A (misalnya 2) yang bukan anggota G. 3 }. 4 } ⊂ { 1. 2. Untuk membuktikan A = B maka haruslah dibuktikan bahwa A ⊆ B dan B ⊆ A. 3.2} }. 2 } maka 2A = { ∅. 2. 7 } maka AC={1.Dua himpunan dikatakan sama jika dan hanya jika keduanya mengandung elemen yang tepat sama. 8. 3.…. 6. Komplemen himpunan A adalah semua anggota dalam semesta yang bukan anggota A. 2. 7. 3 } bukan himpunan bagian himpunan G = {1. 2. {2}. Notasi yang biasa digunakan adalah A ⊂ B. 5. 2. 6. saling asing dengan himpunan Page 4 of 28 . 8 }. 0. 9. Hal itu berarti bahwa A = B jika dan hanya jika setiap anggota A juga menjadi anggota B dan sebaliknya setiap anggota B juga menjadi anggota A. 10 } dan A = { 3. 2. 5 }. Dari suatu himpunan A dapat dibuat himpunan kuasa (power set) yaitu himpunan yang anggota-anggotanya adalah himpunan bagian dari himpunan A dan notasi yang digunakan adalah 2A. 3 } sama dengan himpunan B = { 1. Sebagai contoh {1. 1.10}. {1}. himpunan H = { 1. {1. Sebagai contoh A = { 0. Notasi komplemen A adalah AC. 3. 6. Sebagai contoh. Sebagai contoh himpunan A = { 0. 3 } E = { 5. Dua himpunan A dan B dikatakan saling asing jika masing-masing tidak kosong dan A ∩ B = ∅. 1. 4. 1.

3. 5. 2. u }. 8 } maka A ∩ B ={ 2 }. Selisih antara himpunan A dan himpunan B adalah anggota A yang bukan B. 5 } maka A-B = { 0. e } dan B = { i. o. 1. 7} dan B ={ 2. Irisan (intersection) dari dua himpunan A dan B adalah suatu himpunan yang anggotanya terdiri atas anggota himpunan A yang juga merupakan anggota himpunan B. 1. Dalam hal ini UC = ∅ dan ∅C = U. Dalam hal ini berlaku sifat A ⊆ (A ∪ B} dan B ⊆ (A ∪ B} dan juga A ∪ AC = U. Page 5 of 28 . Notasi yang digunakan adalah A-B. Secara matematik A ∩ B = { x | x ∈ A dan x ∈ B }. 6. Gabungan (union) dua himpunan A dan B adalah suatu himpunan yang anggotaanggotanya terdiri atas semua anggota dari himpunan A atau B. e. o. Notasi yang digunakan adalah A ∪ B. Dalam operasi irisan berlaku bahwa (A ∩ B) ⊆ A dan (A ∩ B) ⊆ B dan juga A ∩ AC=∅ . 4. e. 2 }. 3} dan B = { 3.Relasi antara himpunan A dan komplemennya yaitu AC dapat dinyatakan dalam diagram Venn. i. Secara matematika A ∪ B = { x | x ∈ A atau x ∈ B }. Diagram Venn untuk selisih dapat digambarkan. 4. Secara matematik A-B = { x | x ∈ A dan x ∉ B }. u } maka A ∪ B = { a. Sebagai contoh jika A = {0. i. Sebagai contoh jika A = { a. Sebagai contoh jika A = { 2. Dalam hal ini digunakan notasi A ∩ B.

Jumlahan himpunan A dan B adalah himpunan A saja atau himpunan B saja tetapi bukan anggota A dan B. Diagram Venn dari operasi penjumlahan dapat digambarkan. Karena A ∪ B = { x | x ∈ A atau x ∈ B } maka A ∪ B = { x | x ∈ B atau x ∈ A } = B ∪ A. 5 } dan B ={ 2. A ∪ (B ∪ C) = (A ∪ B) ∪ C. 2. Catatan bahwa : A + B = (A ∪ B) . Dalam hal ini digunakan notasi A + B. A ∪ A = A. 2. 4.(A ∩ B) atau A + B = (A . 6 }. Bukti : Karena A ∩ B = { x | x ∈ A dan x ∈ B } maka A ∩ B = { x | x ∈ B dan x ∈ A } = B ∩ A. Page 6 of 28 . 4. Secara matematik dapat dinyatakan sebagai A + B = { x | x ∈ (A ∪ B) tetapi x ∉ (A ∩ B) }. A ∪ B = B ∪ A. 3.A).B) ∪ (B . 6 } maka A + B = { 1. Hukum idempoten: A ∩ A = A. 5. 3. Hukum assosiatif: A ∩ (B ∩ C) = (A ∩ B) ∩ C. 3. Sebagai contoh jika A = { 1. Hukum-hukum aljabar himpunan: 1. Hukum komutatif : A ∩ B = B ∩ A.

Himpunan bilangan bulat (integer) Z = {…. Himpunan bilangan real (real number) R adalah himpunan yang memuat semua bilangan anggota garis bilangan. }. }. 4. 5. 3. Jika A ⊆ B maka A ∩ B = A dan A ∪ B = B. …. Definisi I. Page 7 of 28 . -2. …. …. 5. 7. 3. Hukum de Morgan : (A ∩ B)c = Ac ∪ Bc. 2. -3. 5. 3. (A ∪ B)c = Ac ∩ Bc. 1. 1.. A ∪ (B ∩ C) = (A ∪ B) ∩ (A ∪ C). 0. 4. 6. }. Himpunan bilangan Himpunan bilangan asli (natural number) N = { 1.2. b ∈ Z dan b ≠ 0 } Himpunan bilangan irrasional R – Q = Qc = { x ∈ R | x ∉ Q }. Himpunan bilangan prima (prime number) P = { 2. …. 11. 13. -1. }. 2. 2.4. Operasi biner Dalam aljabar tidak hanya dibahas tentang himpunan tetapi juga himpunan bersama dengan operasi penjumlahan dan pergandaan yang didefinisikan pada himpunan. Himpunan bilangan cacah C = { 0. Hukum distributif : A ∩ (B ∪ C) = (A ∪ B) ∪ (A ∩ C). 3.1 Misalkan A himpunan tidak kosong. Himpunan bilangan rasional (rational number) Q = { a/b | a.

Akan ditunjukkan bahwa # merupakan operasi biner. terdefinisikan dengan baik (well-defined) yaitu untuk setiap pasangan berurutan x. Page 8 of 28 . x+y dan x. 5 dalam N dan 3*5 = 3-5 = -2 tidak berada dalam N maka N tidak tertutup di bawah operasi * sehingga * bukan operasi biner pada N. y dalam A dikawankan dengan tepat satu nilai x*y.). y dalam N = {1. 2. Operasi biner mempunyai dua bagian dari definisi yaitu: 1. Jelas bahwa # terdefinisikan dengan baik karena rumus x+2y memberikan hasil tunggal untuk setiap x. Didefinisikan * dengan aturan x*y = x-y. y dalam A maka x*y masih dalam A. 3. 2.4: Didefinisikan operasi # dengan aturan x # y = x +2y dengan x.y dikawankan secara tunggal dengan suatu anggota dalam Z. y dalam A dengan tepat satu anggota x * y dalam A. Contoh I. Karena 3. Himpunan bilangan bulat Z mempunyai dua operasi biner yang dikenakan padanya yaitu penjumlahan (+) dan pergandaan (. Dalam hal ini untuk setiap pasangan x dan y dalam Z. Contoh I. … }.Operasi biner * pada A adalah pemetaan dari setiap pasangan berurutan x. A tertutup di bawah operasi * yaitu untuk setiap x.3: Diketahui N himpunan semua bilangan bulat positif. y dalam N.

Definisi I. Hukum-hukum Aljabar Suatu sistim aljabar terdiri dari himpunan obyek dengan satu atau lebih operasi yang didefinisikan padanya. Akan ditunjukkan bahwa * assosiatif dan komutatif. (2) operasi * komutatif jika a*b = b*a untuk semua a. Contoh I. Bersama dengan hukum-hukum yang dibutuhkan dalam operasi. b. Lebih jauh 2y + x > 0 jika x > 0 dan y > 0.5: Operasi * didefinisikan pada himpunan bilangan real R dengan a*b = (1/2)ab. (1) operasi * assosiatif jika (a*b)*c = a*(b*c) untuk semua a. Berarti hasil dari x+2y masih merupakan bilangan positif dan akibatnya N tertutup di bawah operasi #. Karena (a*b)*c = (1/2 ab)*c = (1/2)((1/2 ab)c) = (1/4) (ab)c Page 9 of 28 . c dalam A. Dalam pembahasan selanjutnya hukum-hukum dasar aljabar untuk penjumlahan dan pergandaan yang didefinisikan pada bilangan bulat Z dan bilangan real R sebagai aksioma (axioms) yaitu diterima tanpa bukti. b dalam A. y dalam N maka jelas bahwa x+2y masih merupakan bilangan bulat positif. 3.Untuk sebarang x.2 Misalkan * operasi biner pada himpunan A.

dan pada sisi lain a*(b*c) = a*((1/2) bc) = (1/2) a((1/2) bc) = (1/4)(ab)c untuk semua a. Karena pada satu sisi (a ⊕ b) ⊕ c = (a+2b) ⊕ c = (a+2b)+2c dan pada sisi lain a ⊕ (b ⊕ c) = a ⊕ (b+2c) = a+2(b+2c) = a+(2b+4c) = (a+2b)+4c dari kedua hasil tersebut tidak sama untuk c ≠ 0 maka ⊕ tidak assosiatif. b dan c dalam R maka * assosiatif. Karena a ⊕ b = a+2b dan b ⊕ a = b+2a dan kedua hasil ini tidak sama untuk a ≠ b maka ⊕ tidak komutatif.6: Operasi ⊕ didefinisikan pada bilangan bulat Z dengan aturan a ⊕ b = a + 2b. b dalam R maka * komutatif. Akan ditunjukkan bahwa ⊕ tidak komutatif dan tidak assosiatif. Page 10 of 28 . Karena a*b = (1/2)ab = (1/2)ba = b*a untuk semua a. Contoh I.

Untuk selanjutnya dalam tulisan ini R2 dimaksudkan himpunan semua pasangan berurutan dari bilangan real R2 = { (a.d) dalam R2 berlaku (a. Selanjutnya operasi < A.d) = (a+c. Akan ditunjukkan bahwa R2 tertutup di bawah operasi ⊕ . b dalam R }.d) = (a+c.b+d) dalam R2. Page 11 of 28 . *> menyatakan himpunan A dan * merupakan operasi yang didefinisikan pada A. Contoh I. Untuk membuktikan sifat tertutup dari suatu system X dimulai dengan dua sebarang anggota yang dioperasikan dengan operasi * dan kemudian ditunjukkan bahwa hasilnya masih memenuhi syarat keanggotaan dalam X. Berikut ini diberikan suatu cara untuk membuktikan bahwa suatu himpunan tertutup terhadap suatu operasi. Oleh karena itu hasilnya merupakan pasangan berurutan dan tertutup di bawah operasi ⊕.Terlihat bahwa aturan untuk * tidak menjamin bahwa himpunan X tertutup di bawah operasi *. b+d).b+d) dengan a+c dan b+d dalam R sehingga (a+c.b) | a.b) ⊕ (c.b) ⊕ (c.7: Misalkan ⊕ mempunyai aturan (a.b) dan (c. Untuk sebarang (a.

* >. Page 12 of 28 .* > memenuhi hukum identitas asalkan A mengandung suatu anggota e sehingga e*a = a*e = a untuk semua a dalam A.3: (1) < A. + > memenuhi hukum invers. Untuk membuktikan hukum invers dilakukan dengan sebarang anggota x dalam himpunan yang mempunyai identitas e dan menduga invers dari x yaitu x′ dalam himpunan dan kemudian menguji apakah x*x′ = e dan x′*x = e. * > memenuhi hukum invers asalkan A mengandung suatu identitas e untuk operasi * dan untuk sebarang a dalam A terdapat suatu anggota a′ dalam A yang memenuhi a*a′ = a′*a = e.Definisi I. anggota –a memenuhi a+(-a) = (-a)+a = 0 sehingga a mempunyai invers terhadap operasi penjumlahan dan < Z. Untuk membuktikan hukum identitas dilakukan dengan menduga anggota tertentu e dalam himpunan yang berlaku sebagai identitas dan kemudian menguji apakah e*a = a dan a*e = a untuk sebarang a dalam himpunan. Anggota A yang mempunyai sifat demikian dinamakan identitas untuk < A. Z mengandung identitas 0 untuk operasi penjumlahan dan untuk setiap a dalam Z. Sebagai contoh. (2) < A. Elemen a′ yang memenuhi sifat di atas dinamakan invers dari a. Di samping itu Z mengandung identitas 1 terhadap operasi pergandaan tetapi Z tidak mengandung invers terhadap pergandaan kecuali 1 dan -1.

6 maka akan dibuktikan bahwa hukum invers dan hukum identitas berlaku. *> tidak memenuhi hukum identitas. Karena untuk sebarang (a.b) + (0.0)+(a. Diduga bahwa (0.-b) dalam R2.-b) merupakan invers dari (a.b) dalam R2 .b) = (0+a. (a. 0+b) = (a.0) = (a+0.0) sehingga (-a.b) dalam R2 maka akan ditunjukkan (-a. Oleh karena itu tidak ada e dalam R yang memenuhi a*e = a dan e*a = a.b) dan (a. Karena supaya a*e sama dengan a untuk semua a haruslah dimiliki ae + a = a sehingga e perlulah sama dengan 0. Tetapi meskipun a*0 = a maka 0*a = 0*(a+0) = 0 yang secara umum tidak sama dengan a. b+0) = (a.9: Bila * didefinisikan pada R dengan aturan a*b = ab + a maka akan ditunjukkan bahwa < R.Contoh I. Bila diberikan sebarang (a. Lebih jauh lagi.0) merupakan anggota identitas.0) dan (-a.-b) = (a-a. Page 13 of 28 .b) = (-a+a. Karena –a dan –b dalam R maka (-a.b) ⊕ (-a.-b) dalam R2 merupakan inversnya. Contoh I.-b) ⊕ (a. Terbukti bahwa tidak ada identitas dalam R terhadap *.8: Bila operasi didefinisikan seperti pada Contoh I.b) maka (0.0) identitas dalam R2.b) dalam R2 berlaku (0.-b+b) = (0.b-b) = (0.

Bukti dengan induksi Dalam pembuktian biasanya diinginkan untuk membuktikan suatu pernyataan tentang bilangan bulat positif n. Dianggap pernyataan benar berarti 2k > k+4 untuk suatu bilangan bulat k ≥ 3. Prinsip pertama induksi berhingga Misalkan S(n) pernyataan tentang bilangan bulat positif n. (2) Dibuat anggapan induksi (induction assumption) bahwa pernyataan benar untuk suatu bilangan bulat positif k ≥ n0 dan mengakibatkan S(k+1) benar. Berikut ini diberikan dua prinsip tentang induksi berhingga. Contoh I. Bukti pernyataan benar untuk n0 = 3.3. Asumsi induksi. Apabila sudah dilakukan pembuktian : (1) S(n0) benar untuk bilangan bulat pertama n0. Untuk n0 = 3 maka pernyataan 23 > 3 + 4 benar. maka S(n) benar untuk semua bilangan bulat n ≥ n0. Page 14 of 28 .10 Akan dibuktikan bahwa 2n > n + 4 untuk semua bilangan bulat n ≥ 3 dengan menggunakan induksi.

Page 15 of 28 . Prinsip induksi berikut ekuivalen dengan prinsip pertama induksi berhingga tetapi biasanya lebih cocok untuk bukti tertentu. Berarti bahwa dianggap pernyataan benar untuk S(k) maka sudah dibuktikan bahwa pernyataan benar untuk S(k+1). Prinsip kedua induksi tersebut di atas dapat digunakan untuk membuktikan teorema faktorisasi berikut ini. (2) Dibuat anggapan S(k) benar untuk semua bilangan bulat k yang memenuhi n0 ≤ k < m dan mengakibatkan S(m) benar. maka S(n) benar untuk semua bilangan bulat n > n0. Prinsip kedua induksi berhingga Misalkan S(n) suatu pernyataan tentang bilangan bulat n.Langkah induksi. Apabila sudah dilakukan pembuktian: (1) S(n0 ) benar untuk suatu bilangan bulat pertama n0. Dengan anggapan induksi berlaku 2k > k+4 dan bila kedua ruas digandakan dengan 2 diperoleh 2 (2k) > k+4 atau 2k+1 > 2k+8 dan jelas bahwa 2k+8 > 5 karena k positif sehingga diperoleh 2k+1 > k+5 = (k+1)+4. Jadi dengan prinsip induksi maka S(n) benar untuk semua bilangan bulat n ≥ 3.

Jika m bukan bilangan prima maka m mempunyai faktor sejati m = st dengan s dan t lebih kecil dari m tetapi lebih besar atau sama dengan 2. Jika m bilangan prima maka jelas faktorisasinya adalah m = m.1 Setiap bilangan bulat positif n ≥ 2 dapat difaktorkan sebagai hasil kali berhingga banyak bilangan prima yaitu n = p1 p2 ……pw. Dengan anggapan induksi maka s dan t mempunyai faktor prima yaitu: s = p1 p2 … pu dan t = q1 q2 … qv. Jadi dengan menggunakan prinsip kedua induksi maka teorema tersebut telah dibuktikan. Anggapan induksi adalah bahwa semua bilangan bulat positif k < m dengan k ≥ 2 dapat difaktorkan sebagai hasil kali bilangan prima sebanyak berhingga. m = s = p1 p2 … pu q1 q2 … qv dan berarti m juga mempunyai faktor prima.Teorema I.. Bukti Untuk n0 =2 maka 2 = 2 yaitu faktorisasi dengan satu faktor prima. Oleh karena itu. Lebih jauh b merupakan faktor dari a jika dan hanya jika r = 0. Algoritma berikut ini dikenal dengan nama algoritma pembagian dan sangat penting dalam aljabar. Algoritma pembagian Untuk sebarang dua bilangan bulat a dan b dengan b > 0 terdapatlah dengan tunggal q dan r sehingga a = bq + r dengan 0 ≤ r < b. Page 16 of 28 .

Berarti r1 = r dan q1 = q. Misalkan a = bq1 + r1 dan dianggap bahwa r1 ≤ r. Karena bq1 + r1 = bq + r maka b(q1 – q) = r – r1.Bukti: Bila diamati barisan bilangan b. Misalkan ditulis r = a – qb. maka pada suatu saat barisan itu akan melampaui a. Kejadian a = bq untuk suatu bilangan bulat q jika dan hanya jika r = 0 sehingga b dan q merupakan faktor dari a. Misalkan q + 1 adalah bilangan positif terkecil sehingga (q + 1)b > a sehingga qb ≤ a < (q + 1)b dan berarti qb ≤ a < qb + b atau 0 ≤ a – qb < b. 3b. Tetapi jika q1 – q ≥ 1 maka r – r1 akan melampaui atau sama dengan b dan berarti timbul suatu kontradiksi sehingga didapat q1 – q = 0 dan juga r – r1 = 0. Akibatnya a = qb + r dengan 0 ≤ r < b. Relasi ekuivalensi dan penyekatan Obyek matematika dapat direlasikan dengan yang lain dalam berbagai cara seperti: m membagi n x dibawa ke y dengan fungsi f Page 17 of 28 . 2b. …. Tetapi r – r1 lebih kecil dari b dan r – r1 tidak negatif karena r1 ≤ r . Oleh karena itu q1 – q ≥ 0. Akan ditunjukkan bahwa q dan r yang terpilih adalah tunggal.

Page 18 of 28 . Secara intuitif relasi R dari suatu himpunan X ke himpunan Y adalah aturan yang memasangkan anggota X dengan anggota Y. Jika relasi ∼ refleksif. (b) Relasi membagi habis ( | ) didefinisikan pada himpunan bilangan bulat positif m | n jika dan hanya jika n = mq untuk suatu bilangan bulat q. Contoh I. simetrik dan transitif maka relasi ∼ merupakan relasi ekuivalensi. dengan sifat Definisi I.t) anggota himpunan bagian tertentu untuk R maka ditulis s R t. Definisi I. Kemudian didefinisikan suatu relasi R sebagai himpunan bagian tertentu dari X × Y. (3) Transitif jika x R y dan y R z menyebabkan x R z.11 (a) Relasi < didefinisikan pada himpunan bilangan real dengan sifat x < y jika dan hanya jika x – y positif. (4) Antisimetris jika x R y dan y R x menyebabkan x = y.dan sebagainya. (2) Simetrik jika x R y menyebabkan y R x. Jika pasangan berurutan (s.4 Suatu relasi R pada himpunan X dikatakan mempunyai sifat: (1) Refleksif jika x R x untuk semua x dalam X. Pertama-tama didefinisikan hasil kali Cartesian X × Y sebagai himpunan pasangan berurutan { (x. relasi R dari X ke Y didefinisikan berikut ini. Secara formal.y) | x dalam X dan y dalam Y }.5 Misalkan ∼ relasi yang didefinisikan pada suatu himpunan X.

2 : Jika ~ suatu relasi ekuivalensi pada himpunan X maka keluarga kelas ekuivalensi C(x) membentuk penyekatan himpunan X. Jika ~ merupakan relasi ekuivalensi maka C(x) dinamakan ekuivalensi dari x. Suatu penyekatan (partition) dari himpunan X merupakan suatu keluarga himpunan bagian tidak kosong dari X yang saling asing dan gabungannya sama dengan X.Contoh I. Teorema 1. kelas C(x) mengandung x. Hal itu berarti bahwa untuk setiap t sehingga y ∼ t menyebabkan x ∼ t dan diperoleh C(y) ⊆ C(x).12 Diketahui f : A → B suatu fungsi. penyekatan merupakan hal yang penting dalam matematika dan terdapat hubungan antara relasi ekuivalensi dan penyekatan. Page 19 of 28 . Akibatnya x ~ z dan y ~ z ( berarti juga z ~ y ) dan akibatnya x ~ y. Jika x dalam X dan ~ relasi pada X maka dapat didefinisikan suatu kelas dari x yang dinotasikan dengan C(x) adalah himpunan semua y dalam x sehingga x ~ y. Oleh karena itu. Misalkan C(x) dan C(y) mempunyai paling sedikit satu anggota serikat z. Jika didefinisikan pada A dengan x ∼ y jika f(x) = f(y) maka dapat dibuktikan bahwa relasi ∼ merupakan relasi ekuivalensi. Bukti : Karena ~ refleksif maka x ~ x untuk semua x dalam X.

Page 20 of 28 . Akibatnya C(y) = C(x) sehingga kelas-kelas ekuivalensi yang bertumpang tindih akan sama dan kelas-kelas yang berbeda akan saling asing.Dengan cara yang sama dapat dibuktikan pula bahwa C(y) ⊆ C(x).

c. Buktikan bahwa A ∩ B = B dan A ∪ B = B. Page 21 of 28 . 3. Tuliskan himpunan kuasa dari setiap himpunan A berikut ini. a. 7. Misalkan A himpunan bagian B. 10. Buktikan bahwa B – A = B ∩ Ac. 5. Buktikan bahwa A ∩ B = C. Buktikan * assosiatif. Buktikan bahwa A ∪ B – A = A ∪ B. Buktikan bahwa * komutatif. Jelaskan mengapa * operasi biner pada Z. e. Buktikan bahwa (A – B) ∪ (A ∩ B) = A. 9. b. Buktikan bahwa jika A ⊆ B dan B ⊆ C maka A ⊆ C. 1 }. A = { a. 4. Buktikan bahwa A ∪ B – C = (A – C) ∪ ( B – C). Diberikan operasi * dengan aturan a*b = -ab dengan a dan b bilangan bulat.Latihan 1. Buktikan bahwa jika A ⊆ B jika dan hanya jika A ∪ C ⊆ B ∪ C. b. c. Diketahui A = { 6m | m dalam Z }. 6. A = { 0. c }. b. Jika a dalam Z maka tentukan z′ dalam Z terhadap operasi *. Buktikan bahwa Z mengandung suatu identitas terhadap operasi *. d. 11. B = { 4m | m dalam Z } dan C = { 12m | m dalam Z }. A = { a }. Buktikan bahwa A ⊆ B jika dan hanya jika Bc ⊆ Ac. a. 8. 2.

b. *** Page 22 of 28 . Jika * mempunyai sifat komutatif dan asosiatif maka buktikan bahwa [ (a * b) * c ] * d = (d * c) * (a * b) untuk semua a. Buktikan bahwa a * [ b * (c * d) ] = [ a * (b * c)] * d untuk semua a. Misalkan bahwa * adalah operasi biner pada himpunan tidak kosong A. Berikan contoh suatu contoh relasi yang di samping mempunyai sifat simetrik juga mempunyai sifat antisimetrik dan jelaskan mengapa relasi itu mempunyai kedua sifat tersebut. Misalkan * adalah operasi biner pada himpunan tidak kosong A. Berapa banyak kelas-kelas ekuivalensi yang ada ? Jelaskan ! 16. Tunjukkan bahwa ∼ merupakan relasi ekuivalensi. 14. c dan d dalam A. 13. Relasi didefinisikan pada himpunan orang-orang dan dikatakan bahwa a ∼ b jika dan hanya jika a dan b mempunyai hari ulang tahun yang sama (tidak perlu tahunnya sama) a. b.12. b. 15. c dan d dalam A. Buktikan bahwa 1 + 5 + 9 + … + (4n + 1) = (2n + 1) (n + 1) untuk semua n ≥ 0.

terdapatlah a′ ∈ G sehingga a * a′ = a′ * a = e. Page 23 of 28 .1 Suatu grup (group) < G . Definisi II. c ∈ G.B. * > terdiri dari himpunan anggota G bersama dengan operasi biner * yang didefinisikan pada G dan memenuhi hukum berikut : (1) Hukum tertutup : a * b ∈ G untuk semua a. b. * > hanya dituliskan G. Sistim aljabar (algebraic system) terdiri dari suatu himpunan obyek. Biasanya lambang < G . (4) Hukum invers : untuk setiap a ∈ G. satu atau lebih operasi pada himpunan bersama dengan hukum tertentu yang dipenuhi oleh operasi. demikian juga ab artinya a * b dan a-1 adalah lambang untuk invers a. b ∈ G. (2) Hukum assosiatif : ( a * b ) * c = a * ( b * c ) untuk semua a. (3) Hukum identitas : terdapatlah suatu anggota e ∈ G sehingga e*x=x*e=x untuk semua x ∈ G. Salah satu alasan yang paling penting untuk mempelajari sistim tersebut adalah untuk menyatukan sifat-sifat pada topik-topik yang berbeda dalam matematika. Grup Suatu cabang matematika yang mempelajari struktur aljabar dinamakan aljabar abstrak (abstract algebra).

b ∈ Z dan b ≠ 0}. c/d ∈ Q.+ > dengan Q = { a/b | a. Misalkan a/b. Himpunan bilangan bulat modulo n merupakan grup terhadap operasi penjumlahan modulo n. 3. Akan ditunjukkan bahwa sifat assosiatif berlaku. 5. c/d dan e/f ∈ Q. 4. Himpunan bilangan kompleks C merupakan grup terhadap operasi +. Karena b dan d tidak nol maka bd juga tidak nol. Hukum tertutup Misalkan a/b. Berarti penjumlahan bilangan rasional bersifat tertutup. 6. Himpunan bilangan bulat Z merupakan grup terhadap operasi +. Operasi penjumlahan didefinisikan dengan aturan a/b + c/d = (ad + bc)/(bd) akan dibuktikan bahwa Q grup berdasarkan sifat-sifat bilangan bulat. Himpunan bilangan real R – {0} merupakan grup terhadap operasi perkalian. Karena operasi perkalian dan penjumlahan dalam bilangan bulat bersifat tertutup maka pembilang dan penyebutnya merupakan bilangan bulat. 2. Sistem ini dilambangkan dengan < Q . (a/b + c/d) + e/f = (ad + bc)/(bd) + e/f Page 24 of 28 . Hukum assosiatif. Himpunan bilangan rasional merupakan grup terhadap operasi +.1 1.Contoh II. Berdasarkan definisi operasi penjumlahan pada bilangan rasional didapat (ad + bc)/(bd). Himpunan bilangan asli N bukan grup terhadap operasi +.

= [(ad + bc)f + (bd)e] / (bd)f = [(ad)f + (bc)f + (bd)e] / (bd)f = [a(df) + b(cf) + b(de)] / b(df) = a/b + (cf+de) / (df) = a/b + (c/d + e/f). Hukum invers Untuk sebarang anggota a/b ∈ Q akan ditunjukkan bahwa (-a)/b merupakan inversnya.b) = (0 + a) / b = a/b. Berarti sifat assosiatif berlaku.b + 1. Hukum identitas Elemen 0/1 merupakan identitas karena 0/1 + a/b = (0. a/b + 0/1 = (a.1) = (a + 0) / b = a/b. Pada sisi lain.a) / (1. Jelas bahwa (-a)/b ∈ Q. Terbukti Q grup.b / (bb) =0/b = 0 / 1.1 + b.0) / (b. Page 25 of 28 . Anggota (-a)/b merupakan invers a/b karena a/b + (-a)/b = ab + b(-a)/(bb) = (ab + (-a)b / (bb) = 0.

Karena G grup dan a ∈ G maka terdapat a-1 sehingga a a-1 = a-1 a = e dengan e identitas. 5. Teorema II. 3. 4. Hukum kanselasi kanan : Jika x a = y a maka x = y. 2. Akibatnya a-1 (ax) = a-1 (ay) dan dengan menggunakan hukum assosiatif diperoleh (a-1 a)x = (a-1 a)y dan dengan hukum invers diperoleh Page 26 of 28 .Sifat-sifat sederhana dalam grup Dalam pembahasan terdahulu telah dicacat bahwa sebagai akibat definisi grup. Diberikan ax = ay. Sifat sifat sederhana yang lain dinyatakan dalam teorema berikut ini. Anggota identitas itu tunggal yaitu jika e dan e′ elemen G yang memenuhi hukum identitas maka e = e′. ( ab) -1 = b-1 a-1 Bukti : 1. Invers dari sebarang anggota G akan tunggal yaitu jika a dan b merupakan invers dari x maka a = b.1 Dalam sebarang grup berlaku sifat sifat berikut : 1. sebarang persamaan a * x = mempunyai penyelesaian dalam suatu grup yaitu x = a′ * b. Hukum kanselasi kiri : Jika a x = a y maka x = y.

Analog dengan 1 (untuk latihan). Karena a dan b merupakan invers x maka berlaku xa = e dan xb = e. Karena ab . 3. Page 27 of 28 . Karena anggota identitas itu tunggal maka xa = e = xb Akibatnya dengan menggunakan hukum kanselasi kiri maka a = b. 4. sehingga e e′ = e′ = e. b-1 a-1 = a (b b-1) a-1 = a e a-1 = a a-1 = e dan maka b-1 a-1 . 5. Karena e suatu anggota identitas maka e e′ = e′.ex = ey akhirnya dengan hukum identitas x=y 2. Pada sisi lain e e′ = e. ab = b-1(a-1 a)b = b-1 e b = b-1 b = e (ab)-1 = b a.

7. Operasi * didefinisikan pada R dengan aturan a* b = a + b + 2.d) = (ac.Latihan 1.+ > merupakan group komutatif ( grup abelian ). Tunjukkan bahwa R*2 grup di bawah operasi ini. Page 28 of 28 . 4. Misalkan < A.. Misalkan R*2 = { (a.an) -1 = an -1 an-1 -1 …. Misalkan R** menyatakan himpunan semua bilangan real kecuali -1. > grup. 8. 9.b) ∈ R2 | a ≠ 0 dan b ≠ 0 }. . bd). Jika R+ menyatakan bilangan real positif maka buktikan bahwa R+ bukan grup. Buktikan bahwa (a-1 x a)2 = a-1 x2 a dan dengan induksi (a-1 x a)n = a-1 xn a untuk semua bilangan bulat positif n. 10. 5. 2. Misalkan M2 × 2 adalah himpunan semua matrik ordo 2.* > merupakan grup. Buktikan bahwa < A*. Operasi * didefinisikan pada R** dengan aturan a * b = a + b + ab. Buktikan bahwa < R . Didefinisikan multiplikasi pada R*2 dengan (a. Buktikan bahwa R** adalah grup di bawah operasi tersebut. a2-1 a1-1 6. Buktikan bahwa M2 × 2 merupakan grup terhadap operasi penjumlahan dua matrik. . Buktikan sifat-sifat berikut : (1) Tunjukan bahwa invers dari a-1 adalah : (a-1)-1 (2) (a-1 x a)-1 = a-1 x -1 a (3) (a1 a2 …. 3.b) (c. > sistem yang memenuhi 3 hukum pertama dalam grup dan A* adalah himpunan dari semua elemen dari A yang mempunyai invers dalam A. Tunjukan bahwa himpunan bilangan bulat Z bukan grup terhadap pengurangan. Buktikan bahwa < Q .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful