You are on page 1of 50

Bambang Arianto Email : arianto_dr@yahoo.

com RSU HAJI SURABAYA

CAUSES OF TRAUMA DEATH
Only prevention efforts might alter the outcome
35

Immediate:
Brain laceration Brainstem laceration Spinal cord laceration Aorta rupture Heart rupture

30

25

Late:
Sepsis Multiple Organ Failure

DEATH

20

Early:
Epi/Subdural hematoma Hemopneumothorax Pelvic/limb fractures Abdominal injuries

15

10

5

0 1 HR 2HR 3 HR 2 WKS 3WKS 4WKS

“Golden Hour” the philosophy of modern trauma management
110 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 30 min 60 min 90 min

Survival is related to severity & duration

Konsep Trauma Life Support
- Evaluasi ABCD dan terapi

- Tangani pertama yang paling mengancam jiwa - Definitive diagnosis tidak perlu segera dikerjakan - Transport ke RS yang sesuai (APPROPRIATE) - Waktu sangat penting – Golden hours – 60 menit - Jangan menambah cedera korban

PRIMUM, NON NOCERE FIRST, DO NO HARM

HIPPOCRATES S TENET (460 335 BC) 460-S

perfusion  TRANSPORT!! . ventilation.Initial Assessment  Temukan dan tangani hal yang mengancam jiwa  Sering cedera tampak berat tetapi hal itu mungkin bukan yang menyebabkan kematian  BILA tidak bisa ditangani  Beri dukungan oxygenation.

Airway with cervical spine control 3. Circulation 5. Head injury (Disability) A B C D M A R C H Bila tidak ada perdarahan masif. Massive haemorrhage control 2. Respiration (Breathing) 4. Primary survey A/R/C/H atau A/B/C/D .Primary survey 1.

? .

Initial Assessment (Primary Survey)  Airway dengan kontrol C-Spine  Bebaskan airway. wajah dan toraks . leher. control C-spine  Semua korban trauma memerlukan tambahan oksigen  Posisikan kepala pada posisi netral  Stabilisasi C-Spine secara manual/C-collar  Identifikasi adanya gangguan airway Look-Listen-Feel  Suara nafas berisik = Ada obstruksi jalan nafas  Tetapi tidak semua obstruksi jalan nafas berisik  Diduga ada masalah airway bila:   Ada penurunan kesadaran Trauma kepala. oksigenasi.

MEMBEBASKAN JALAN NAFAS  chin lift/jaw thrust  suction  guedel airway/nasopharyngeal airway  intubation Proteksi cervical .

.

Initial Assessment (Primary Survey)  Breathing  Oxygen – kanul nasal(<4L/mnt)/ face mask (10-12L/mnt)  Kontrol ventilasi – bag valvemask  Beri segera O2 (face mask : 10-12 L/mnt) terutama pada:  Penurunan kesadaran  Syok  Perdarahan hebat .

Initial Assessment  Breathing  Beri ventilasi .bag valvemask bila:  Apnea/Rate <12  Usaha nafas yang tidak adekuat  Takipnea/Rate >24  Hipoksia  Hiperkarbia  Sianosis  Cedera kepala tertutup berat yang membutuhkan hiperventilasi .

? .

Trauma toraks    Penanganan : mayoritas hanya memerlukan prosedur sederhana. perikardiosintesis/ drain toraks Trauma tumpul : < 10% yang memerlukan operasi Trauma tajam : 15% .30% memerlukan operasi .

Trauma Toraks Keadaan patologis yg menyebabkan kegawatan pada trauma toraks adalah ● Hypoxia ● Hypoventilation ● Acidosis ● Respiratory ● Metabolic ● Perfusi tidak adekuat Terapi segera begitu diketahui saat primary survey .

Pemeriksaan toraks  Inspeksi : gerak dinding dada. simetris?  Auskultasi : suara nafas??  Palpasi : krepitasi?  Perkusi : sonor/hipersonor redup .

Kegawatdaruratan toraks: Airway obstruction Tension pnemotoraks Open pnemotoraks Massive hemotoraks Cardiac tamponade Flail chest .

.Penatalaksanaan trauma toraks Dekompresi dan drainage tension pneumothorax/ haemothorax  Tutup trauma toraks terbuka  artificial ventilation.

Tension pnemotoraks .

.

.

atau capillary refill lambat = Syok . takikardi.Initial Assessment Circulation  Gelisah  Pucat.

? .

Initial Assessment  Circulation  Pulsasi ada? Radial => BP > 80 systolic  Femoral => BP > 70 systolic  Carotid => BP > 60 systolic  Warna kulit. temperature  Dingin  Pucat  Basah  .

Syok Hypoperfusion Inadequate oxygen delivery Volume Perfusion Catecholamines and other responses Anaerobic metabolism Microcirculation Tissue Hypoxia Inflammation Cellular dysfunction Cell death .

Syok Apa penyebab pasien syok? Hypovolemi ● Perdarahan ● Fluid loss vs Nonhemorrhagic ● Tension pneumotoraks ● Tamponade jantung ● Kardiogenic ● Septik ● Neurogenik Pasien trauma. perdarahan paling sering penyebab syok .

Pelvis Fr.Shock Bagaimana menemukan perdarahan? Perdarahan eksternal ● Pemeriksaan fisik Perdarahan internal Hematotoraks Internal bleeding Fr.Femur ● Pemeriksaan penunjang ● Chest X-ray ● Pelvic X-ray ● FAST / DPL .

haus Kelas III 30-40 >120 Menurun Menyempit Lambat Dingin. pucat 20-30 20-30 Anxious. pucat 30-40 5-15 Anxious dan confuse Kelas IV >40 >140 Menurun Tak teraba Lambat Dingin >35 Negligible Lethargy coma .Klasifikasi perdarahan Kehilangan darah(%) Pulse rate Tensi Pulse pressure Capillary refill Kulit Respirasi rate Urine output Kesadaran Kelas I <15 <100 N N N Normal 14-20 >30 Sedikit menurun Kelas II 15-30 >100 N Menyempit Lambat Dingin.

Resusitasi Cairan 3 in 1 increases ECF ICF ISF • Ringer’s acetate • Ringer’s lactate • Normal saline Replace acute/ abnormal loss Plasma 200 ml 800 ml .

Penatalaksanaan : Terapi cairan   Larutan kristaloid hangat (RL) Bolus Ringer’s lactate • Dewasa : 2 liters Ringer’s lactate • Anak : 20 ml /kg Ringer’s lactate Monitor respon terapi Vital signs CNS status Perfusi perifer Produksi urin Pulse oximetry .

Penatalaksanaan Direct pressure / tourniquet Angioembolization Reduce pelvic volume STOP the bleeding! Splint fractures Operation .

tetapi transport jangan terhambat karena usaha pemasangan infus.Circulation  Pasang infus sering sulit (pasien syok).radialis (BP>80 systolic)  Pada cedera otak perlu tekanan darah lebih tinggi untuk mempertahankan perfusi otak .  Bila kesulitan pasang infus pertimbangkan intraosseous  Target resusitasi sampai teraba a.

.

Perkusi Pemeriksaan penunjang -USG abdomen -DPL -CT Scan . Palpasi. Auskultasi.Trauma Abdomen!!!!  Internal bleeding??  Perforasi organ (usus)?? Lingkar abdomen?? Hb serial?? Pemeriksaan fisik -Inspeksi.

Initial Assessment  Disability  Level kesadaran = Indikator paling baik mengetahui perfusi otak  Gunakan AVPU / GCS  Pupils--Eyes adalah jendela melihat CNS  Penurunan kesadaran     Head injury Hypoxia Hypoglycemia Shock .

? .

Head Injury-Pathophysiology  Primary injury  Irreversible cellular injury akibat langsung dari trauma  Secondary injury  Damage to cells yang terjadi setelah trauma  Terjadi beberapa jam/minggu setelah trauma Cegah -Hipoksemia -Hipotensi -Anemia -Hyperglikemia -Evakuasi hematom intrakranial .

Glasgow Coma Scale Membuka mata Spontas Suara Nyeri Tidak respon Verbal 4 3 2 1 Orientasi baik Bingung Tidak tepat Mengerang Tidak respon 5 4 3 2 1 Motorik Menurut perintah Melokasi nyeri Menarik terhadap rangsangan nyeri Flexi abnormal Extensi abnormal Tidak respon 6 5 4 3 2 1 .

8 .Klasifikasi cedera kepala Blunt By Mechanism Penetrating High velocity Low velocity GSW Other GCS = 14-15 Mild By Severity Moderate Severe GCS = 9-13 GCS = 3.

Klasifikasi cedera kepala By Morphology Vault Skull Fracture Basilar Linear vs stellate Depressed/ nondepressed Open With / without CSF leak With / without cranial palsy .

.

Klasifikasi cedera kepala By Morphology Focal Injury  Epidural  Subdural  Intracerebral  Mild concussion Diffuse Injury  Classic concussion  Diffuse axonal injury .

Penatalaksana Prioritas ● ABCDE ● Minimize secondary brain injury ● Beri oksigen masker ● Pelihara ventilasi baik ● Pelihara tekanan darah baik (systolic > 90 mm Hg) .

0 g / kg IV bolus .Penatalaksana Medical ● Bila ventilasi terganggu – kontrol ventilasi ● Goal: Paco2 at 35 mm Hg ● Cairan Intravenous ● Euvolemia ● Isotonic (RL) ● Konsul Bedah Saraf ● Mannitol ● Bila ada tanda tentorial herniation ● Dose: 0.25 to 1.

Penatalaksana Medical ● Terapi lain ● Anticonvulsants ● Sedation ● Paralytics Neurological examination before prolonged sedation / paralysis .

Indikasi CT Scan Semua pasien dengan Suspect cedera otak .

Secondary Survey (5 – 10 menit) .Head to Toe  Pemeriksaan lebih teliti  Deformities dengan memperhatikan  Contusions adanya DCAP-BTLS  Abrasions  Penetrating injuries  Burns  Tenderness  Lacerations  Swelling .

Log Roll .

TERIMA KASIH ATAS PERHATIANNYA .