November 8, 2011

Agung Santoso, S.Kep, Ners

CEDERA KEPALA Oleh : Agung Santoso, S.Kep, Ners PENDAHULUAN Cedera kepala atau yang disebut dengan trauma kapitis adalah ruda paksa tumpul/tajam pada kepala atau wajah yang berakibat disfungsi cerebral sementara. Merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama pada kelompok usia produktif, dan sebagian besar karena kecelakaan lalulintas. Adapun pembagian trauma kapitis adalah:  Simple head injury  Commotio cerebri  Contusion cerebri  Laceratio cerebri  Basis cranii fracture Simple head injury dan Commotio cerebri sekarang digolongkan sebagai cedera kepala ringan. Sedangkan Contusio cerebri dan Laceratio cerebri digolongkan sebagai cedera kepala berat. Pada penderita harus diperhatikan pernafasan, peredaran darah umum dan kesadaran, sehingga tindakan resusitasi, anmnesa dan pemeriksaan fisik umum dan neurologist harus dilakukan secara serentak. Tingkat keparahan cedera kepala harus segera ditentukan pada saat pasien tiba di Rumah Sakit. MEKANISME DAN PATOLOGI Cedera kepala dapat terjadi akibat benturan langsung atau tanpa benturan langsung pada kepala. Kelainan dapat berupa cedera otak fokal atau difus dengan atau tanpa fraktur tulang tengkorak. Cedera fokal dapat menyebabkan memar otak, hematom epidural, subdural dan intraserebral. Cedera difus dapat mengakibatkan gangguan fungsi saja, yaitu gegar otak atau cedera struktural yang difus. Dari tempat benturan, gelombang kejut disebar ke seluruh arah. Gelombang ini mengubah tekanan jaringan dan bila tekanan cukup besar, akan terjadi kerusakan jaringan otak di tempat benturan yang disebut “coup” atau ditempat yang berseberangan dengan benturan (contra coup) PATOFISIOLOGI Gangguan metabolisme jaringan otak akan mengakibatkan oedem yang dapat menyebabkan heniasi jaringan otak melalui foramen magnum, sehingga jaringan otak tersebut dapat mengalami iskhemi, nekrosis, atau perdarahan dan kemudian meninggal. Fungsi otak sangat bergantung pada tersedianya oksigen dan glukosa. Cedera kepala dapat menyebabkan gangguan suplai oksigen dan glukosa, yang terjadi karena berkurangnya oksigenisasi darah akibat kegagalan fungsi paru atau karena aliran darah ke otak yang menurun, misalnya akibat syok.

Simple Head Injury Diagnosa simple head injury dapat ditegakkan berdasarkan:  Ada riwayat trauma kapitis  Tidak pingsan  Gejala sakit kepala dan pusing Umumnya tidak memerlukan perawatan khusus. Kemampuan motorik (M)  Kemampuan menurut perintah 6  Reaksi setempat 5  Menghindar 4  Fleksi abnormal 3  Ekstensi 2  Tidak bereaksi 1 PEMBAGIAN CEDERA KEPALA 1. Commotio Cerebri Commotio cerebri (geger otak) adalah keadaan pingsan yang berlangsung tidak lebih dari 10 menit akibat trauma kepala. Movement) 1.Kep. Kemampuan membuka kelopak mata (E)  Secara spontan 4  Atas perintah 3  Rangsangan nyeri 2  Tidak bereaksi 1 2. Verbal. S. 2011 Agung Santoso. Pasien mungkin mengeluh nyeri kepala. Ners Karena itu.November 8. Pada commotio cerebri mungkin pula terdapat amnesia retrograde. gerakan nafas yang adekuat dan hemodinamik tidak terganggu sehingga oksigenisasi cukup. Amnesia ini timbul akibat terhapusnya rekaman . Vertigo dan muntah mungkin disebabkan gegar pada labirin atau terangsangnya pusat-pusat dalam batang otak. Derajat cedera dapat dinilai menurut tingkat kesadarannya melalui system GCS. Kemampuan komunikasi (V)  Orientasi baik 5  Jawaban kacau 4  Kata-kata tidak berarti 3  Mengerang 2  Tidak bersuara 1 3. yaitu hilangnya ingatan sepanjang masa yang terbatas sebelum terjadinya kecelakaan. mungkin muntah dan tampak pucat. yakni metode EMV (Eyes. GAMBARAN KLINIS Gambaran klinis ditentukan berdasarkan derajat cedera dan lokasinya. vertigo. yang tidak disertai kerusakan jaringan otak. cukup diberi obat simptomatik dan cukup istirahat. pada cedera kepala harus dijamin bebasnya jalan nafas. 2.

2011 Agung Santoso. simptomatik. perawatan selama 3-5 hari untuk observasi kemungkinan terjadinya komplikasi dan mobilisasi bertahap. 5. Fracture Basis Cranii Fractur basis cranii bisa mengenai fossa anterior. dan “intermediate”menimbulkan gejala deficit neurologik yang bisa berupa refleks babinsky yang positif dan kelumpuhan UMN. Terapi simptomatis. subdural akut dan intercerebral. autoregulasi pembuluh darah cerebral terganggu. Sedangkan laceratio tidak langsung disebabkan oleh deformitas jaringan yang hebat akibat kekuatan mekanis. Setelah kesadaran puli kembali. Ottorhoe . si penderita biasanya menunjukkan “organic brain syndrome”. Fraktur pada fossa anterior menimbulkan gejala:  Hematom kacamata tanpa disertai subkonjungtival bleeding  Epistaksis  Rhinorrhoe Fraktur pada fossa media menimbulkan gejala:  Hematom retroaurikuler. sehingga terjadi vasoparalitis. meskipun neuronneuron mengalami kerusakan atau terputus. EEG. maka rasa mual. Laceratio Cerebri Dikatakan laceratio cerebri jika kerusakan tersebut disertai dengan robekan piamater.Kep. 3. 4. Juga karena pusat vegetatif terlibat. fossa media dan fossa posterior. S. Gejala yang timbul tergantung pada letak atau fossa mana yang terkena. Terapi dengan antiserebral edem. Yang penting untuk terjadinya lesi contusion ialah adanya akselerasi kepala yang seketika itu juga menimbulkan pergeseran otak serta pengembangan gaya kompresi yang destruktif. “contrecoup”. Akibat blockade itu. neurotropik dan perawatan 7-10 hari.November 8. otak membentang batang otak terlalu kuat. pemeriksaan memori. anti perdarahan. Contusio Cerebri Pada contusio cerebri (memar otak) terjadi perdarahan-perdarahan di dalam jaringan otak tanpa adanya robekan jaringanyang kasat mata. Pemeriksaan penunjang seperti CT-Scan berguna untuk melihat letak lesi dan adanya kemungkinan komplikasi jangka pendek. Laceratio biasanya berkaitan dengan adanya perdarahan subaraknoid traumatika. Laceratio langsung disebabkan oleh luka tembus kepala yang disebabkan oleh benda asing atau penetrasi fragmen fraktur terutama pada fraktur depressed terbuka. Tekanan darah menjadi rendah dan nadi menjadi lambat. Timbulnya lesi contusio di daerah “coup” . Akselerasi yang kuat berarti pula hiperekstensi kepala. kesadaran hilang selama blockade reversible berlangsung. atau menjadi cepat dan lemah. Laceratio dapat dibedakan atas laceratio langsung dan tidak langsung. Akibat gaya yang dikembangkan oleh mekanisme-mekanisme yang beroperasi pada trauma kapitis tersebut di atas. otak tidak mendapat input aferen dan karena itu. Pemeriksaan tambahan yang selalu dibuat adalah foto tengkorak. Oleh karena itu. muntah dan gangguan pernafasan bisa timbul. sehingga menimbulkan blockade reversible terhadap lintasan asendens retikularis difus. Ners kejadian di lobus temporalis.

kejang dan amnesia retrogad o Pemeriksaan neurologis terdapat lelumpuhan saraf dan anggota gerak. atau jika ada tidak lebih dari 10 menit o Pasien mengeluh pusing. jadi terapinya harus disesuaikan.VII perifer  Meningitis purulenta akibat robeknya duramater Fraktur basis kranii bisa disertai commotio ataupun contusio. Ners  Perdarahan dari telinga Diagnosa ditegakkan berdasarkan gejala klinik dan X-foto basis kranii.November 8. Lumbal Pungsi Untuk menentukan ada tidaknya darah pada LCS harus dilakukan sebelum 6 jam dari saat terjadinya trauma 3. Roentgen foto kepala Untuk melihat ada tidaknya fraktur pada tulang tengkorak DIAGNOSA Berdasarkan : Ada tidaknya riwayat trauma kapitis Gejala-gejala klinis : Interval lucid.  Cedera Kepala Berat (CKB) o Skor GCS <8 o Gejalnya serupa dengan CKS. peningkatan TIK. PEMERIKSAAN PENUNJANG Yang dapat dilakukan pada pasien dengan trauma kapitis adalah: 1. hanya dalam tingkat yang lebih berat o Terjadinya penurunan kesadaran secara progesif o Adanya fraktur tulang tengkorak dan jaringan otak yang terlepas.Kep. Komplikasi :  Gangguan pendengaran  Parese N. 2. Tindakan operatif bila adanya liquorrhoe yang berlangsung lebih dari 6 hari. ada amnesia retrogad dan tidak ditemukan kelainan pada pemeriksaan neurologist. Pemberian antibiotik dosis tinggi untuk mencegah infeksi. gejala laterlisasi Pemeriksaan penunjang. S. EEG Dapat digunakan untuk mencari lesi 4. . muntah. sakit kepala o Ada muntah. CT-Scan Untuk melihat letak lesi dan adanya kemungkinan komplikasi jangka pendek. Adapun pembagian cedera kepala lainnya:  Cedera Kepala Ringan (CKR) → termasuk didalamnya Laseratio dan Commotio Cerebri o Skor GCS 13-15 o Tidak ada kehilangan kesadaran. 2011 Agung Santoso.  Cedera Kepala Sedang (CKS) o Skor GCS 9-12 o Ada pingsan lebih dari 10 menit o Ada sakit kepala.

nadi melambat. Meningea media atau cabang-cabangnya o Gejala : setelah terjadi kecelakaan. Hematom subdural o Letak : di bawah duramater o Etiologi : pecahnya bridging vein. Hiperdens yang berbentuk cresent di antara tabula interna dan parenkim otak (bagian dalam mengikuti kontur otak dan bagian luar sesuai lengkung tulang tengkorak) Isodens → terlihat dari midline yang bergeser o Operasi sebaiknya segera dilakukan untuk mengurangi tekanan dalam otak (dekompresi) dengan melakukan evakuasi hematom.Kep. Ini adalah tanda-tanda bahwa sudah terjadi herniasi tentorial. Pada sisi kontralateral dari hematom. refleks tendon meninggi dan refleks patologik positif. . misal: hemiparesis. dan akhirnya tidak bereaksi terhadap refleks cahaya. o Akut (minimal 24jam sampai dengan 3x24 jam) o Interval lucid o Peningkatan TIK o Gejala lateralisasi → hemiparese o Pada pemeriksaan kepala mungkin pada salah satu sisi kepala didapati hematoma subkutan o Pemeriksaan neurologis menunjukkan pada sisi hematom pupil melebar.November 8. gabungan robekan bridging veins dan laserasi piamater serta arachnoid dari kortex cerebri o Gejala subakut : mirip epidural hematom. kesadaran menurun. 2. 2011 Agung Santoso. Penanganan subdural hematom akut terdiri dari trepanasi-dekompresi. lalu menjadi lebar. pupil pada sisi perdarahan mula-mula sempit. Hematom Epidural o Letak : antara tulang tengkorak dan duramater o Etiologi : pecahnya A. timbul dalam 3 hari pertama Kronis : 3 minggu atau berbulan-bulan setelah trauma o CT-Scan : setelah hari ke 3 diulang 2 minggu kemudian Ada bagian hipodens yang berbentuk cresent. tekanan darah meninggi. penderita pingsan atau hanya nyeri kepala sebentar kemudian membaik dengan sendirinya tetapi beberapa jam kemudian timbul gejala-gejala yang memperberat progresif seperti nyeri kepala. pusing. Ners KOMPLIKASI Jangka pendek : 1. dapat dijumpai tanda-tanda kerusakan traktus piramidalis. S. o CT-Scan : ada bagian hiperdens yang bikonveks o LCS : jernih o Penatalaksanaannya yaitu tindakan evakuasi darah (dekompresi) dan pengikatan pembuluh darah.

mudah tersinggung. dan depresi.Kep. Gangguan neurologis Dapat berupa : gangguan visus. TERAPI CKR :  Perawatan selama 3-5 hari  Mobilisasi bertahap  Terapi simptomatik  Observasi tanda vital CKS :  Perawatan selama 7-10 hari  Anti cerebral edem  Anti perdarahan  Simptomatik  Neurotropik  Operasi jika ada komplikasi CKB :  Seperti pada CKS  Antibiotik dosis tinggi  Konsultasi bedah saraf . libido menurun. 2011 Agung Santoso. kadang ada hemiparese 2. Penderita lebih lama pingsannya. 4. Gejala-gejalanya berupa commotio cerebri. Sindrom pasca trauma Dapat berupa : palpitasi. Tekanan darah dapat naik. mungkin hingga berjam-jam. kesulitan belajar. disartria. S. sakit kepala. Oedema serebri Pada keadaan ini otak membengkak.November 8. strabismus. Keadaan ini bisa menimbulkan manifestasi neurologik sesuai dengan fungsi bagian otak yang terkena. cape. gangguan tingkah laku. hanya tekanannya dapat meninggi.VII dan gangguan N.  TIK meningkat  Cephalgia memberat  Kesadaran menurun Jangka Panjang : 1. hanya lebih berat. disfagia. Perdarahan intraserebral akibat trauma kapitis yang berupa hematom hanya berupa perdarahan kecil-kecil saja. perdarahannya akan direorganisasi dengan pembentukan gliosis dan kavitasi. mudah lupa. misalnya: menjadi kekanak-kanakan. konsentrasi berkurang. penurunan intelegensia. terbanyak pada lobus temporalis. Cairan otak pun normal. Ners 3. menarik diri. Gejala-gejala kerusakan jaringan otak juga tidak ada. Jika penderita dengan perdarahan intraserebral luput dari kematian. Perdarahan Intraserebral Perdarahan dalam cortex cerebri yang berasal dari arteri kortikal. VIII. hidrosis. nadi mungkin melambat. parese N.

Laserasio serebri 2. kognitif. Patologi a. Lucid interval (+) b. Late hemiparese d. Lesi kerusakan vaskuler otak c. fungsi psikososial baik temporer maupun permanen. akibat pecahnya arteri meningea media atau venosus Tanda diagnostik klinik: a. Klasifikasi Klasifikasi berdasarkan 1. defisit neurologik(-) Normal Ringan 13-15 Pingsan<10 menit s/d 6 jam Normal Defisit neurologik (-) Sedang 9-12 Pingsan>10 menit. defisit neurologik (+) Abnormal 1. Hematoma intraparenkimal 1) Hematoma subarakhnoiid 2) Hematoma intraserebral 3) Hematoma intraserebellar 3. defisit neurologik(+) Abnormal Berat 3-8 Pingsan >6 jam.Kep.November 8. Babinsky (+) kontralateral lesi f. trauma kapistis = cedera kepala = head injure = trauma kranioserebral = trauma brain siinjure. Trauma kapistis adalah trauma mekanik terhadap kepala baik secara langsung yang menyebabkan gangguan fungi neurologis yaitu gangguan fisik. Kontusio serebri c. Kesadaran semakin menurun c. Fraktur didaerah temporal . Hematoma subdural c. Ners PROGNOSA Skor GCS penting untuk menilai tingkat kesadaran dan berat ringannya trauma kapitis. Lesi difus b. Lokasi lesi a. Hematoma epidural Perdarahan yang terjadi diantara tabula interna dan duramater. Komosio serebri b. Pupil anisokor e. Derajat kesadaran berdasarkan SKG Kategori SKG Gambaran klinik CT Scan otak Minimal 15 Pingsan (-). S. 2011 Agung Santoso. Lesi fokal 1) Kontusio dan laserasi serebri 2) Hematoma intrakranial a. Hematoma ekstradural (epidural) b. Hematom massif.

Fraktur kranii oksipital d. Gejala dan tanda klinis b. Pupil isokor Penunjang diagnostik: CT-scan otak: gambaran hiperdens(perdarahan) ditullang tengkorak dan dura. Jenis akut : interval lucid 0-5 hari subakut : interval lucid 5 hari – beberapa minggu kronik : interval lucid > 3 bulan hematoma subdural akut gejala dan tanda klinis : . Media Gejala dan tanda klinis . 2011 Agung Santoso.CT-scan otak : gambaran hiperdens (perdarahan) diantara duramater dan araknoid. Hematoma subdural Perdarahan yang terjadi diantara duramater –arakhnoid. Gangguan serebellum. Interval lucid tidak jelas c. Hematoma epidural di fossa posterior a. Ners 2. Anterior Gejala dan tanda klinis : . dan tampak seperti bulan sabit.Scaning otak resolusi tinggi dan irisan 3 mm (50% +) (high resolution and thin section) .Perdarahan bilateral periorbital echymosis/raccon eye . umumnya karena robekan dari bridging vein.Memastikan cairan serebrospinal secara sederahan dengann tes halo .Keluarnya cairan likuor melalui telinga/otorrhea 3. dan tampak bikonveks 3. Kehingan kesadaran cepat e.Bilateral mastoid ecchimosis/battle’s sign Penunjang diagnostik: .anosmia 2. akibat robeknya vena. Hematoma intraserebral Adalah perdarahan parenkim otak. disebabkan karena pecahnya arteri serebrospinal mono atau multipel Fraktur basis kranii: 1.Keluarnya cairan llikuor melalui hidung/rhinorea . batang otak dan napas f. umumnya didaerah temporal. Posterior Gejala dan tanda klinis : .Sakit kepala . S.Kep.November 8.Kesadaran menurun +/Penunjang diagnostik : .

SDH luas (>40cc/>5mm)dengan GCS >6. fungsi batang otak masih baik b. kontusio Ulangan setelah 24 jam. S. Fraktur kranii terbuka (pencegahan infeksi intra-kranial) 7. edema otak luas Koma lama trauma kapistis Disfungsi saraf otonom Demam tinggi Perdarahan subaraknoid traumatika Gejala dan tanda klinis: . dipertimbangkan operasi dekompensasi . Edema serebri berat yang disertai tanda peningkatan TIK. Fraktur impresi melebihi 1 diploe 5.Kep. Perburukan defisit neurologi fokal 4.Kaku kuduk . tidak ada tanda adnaya perdarahan. Penurunan kesadaran progresif b. edema. SDH tipis dengan penurunan kesadran bukan indikasi operasi. c. SDH (subdural hematoma) a.November 8.Bisa didapati gangguan kesadaran Penunjang diagnostik: CT scan otak: perdarahan (hiperdens) diruang subarakhnoid Indikasi operasi penderita trauma kapitis 1. b. Ners Diffuse axonal injury (DAI) Gejala dan tanda kllinis : Penunjang diagnostik: CT scan otak: Awal normal.Nyeri kepala . >30cc pada daerah fossa posterior dengan tanda-tanda penekanan batang otak atau hidrosefalus denagn fungsi batang otak atau hidrosefalus dengan fungsi batang otak masih baik c. > 40cc dengan midline shifting pada daerah temporal/frontal/parietal denagn fungsi batang otak masih baik. Hipertensi dan bradikardi dan tanda-tanda gangguan nafas (cushing refleks) c. EDH tipis dengan penurunan kesadaran bukan indikasi operasi 2. 2011 Agung Santoso. EDH progresif d. Fraktur kranii dengan laserasi serebri 6. SDH dengan edema serebri/kontusio serebri disertai midline shift dengan fungsi batang otak masih baik 3. ICH (perdarahan intraserebral) pasca trauma Indikasi operasi ICH pasca trauma: a. EDH (epidural hematoma): a.

Ada gangguan orientasi (waktu.Tidak ada yang mengawasi dirumah . 2011 Agung Santoso.November 8. S. Pasien perlu dirawat apabila ada hal-hal berikut: . Perawatan pada luka 3. Pasien dipulangkan dengan pengawasan ketat oleh keluarga selama 48 jam Bila selama dirumah terdapat hal-hal sebagai berikut : .Kep. Ners Kasus ringan 1.Sakit kepala dan muntah .Pasien cenderung mengantuk .Letak rumah jauh atau sulit untuk kembali kerumah sakit . Pemeriksaan status umum dan neurologi 2.Muntah proyektil Maka pasien harus segera kembali ke rumah sakit 4.Sakit kepala yang semakin berat . tempat) .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful