P. 1
Standar Kompetensi Dokter

Standar Kompetensi Dokter

|Views: 2|Likes:
Standar Kompetensi Dokter
Standar Kompetensi Dokter

More info:

Published by: Alvarez Octorian Jefferson Ticoalu on Aug 05, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/23/2014

pdf

text

original

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA

STANDAR KOMPETENSI DOKTER

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Indonesian Medical Council Jakarta 2006

STANDAR KOMPETENSI DOKTER

2006 Cetakan Pertama. 2006 105 hlm.-.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Edisi Pertama. 7206655 Fax : 62-21-7244379 Jakarta Selatan ii Standar Kompetensi Dokter . 17.Jakarta : Konsil Jakarta : Konsil Kedokteran Indonesia. Nopember 2006 Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam Terbitan (KDT) Standar Kompetensi Dokter.Studi dan pengajaran 610. .71 Penerbit : Konsil Kedokteran Indonesia Jalan Hang Jebat III Blok F3 Telpon : 62-21-7206623. 7254788.5 x 24 cm ISBN 979-15546-4-1 1. Kedokteran ..

kami ucapkan selamat dan penghargaan atas dedikasi dan terbitnya buku Standar Kompetensi Dokter ini. Di lain pihak. Kemajuan yang pesat dalam bidang ilmu pengetahuan khususnya ilmu pengetahuan dan teknologi ilmu kedokteran menuntut tersedianya sumber daya manusia yang handal dan terampil serta profesional dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Jakarta. Kita memahami bahwa pelayanan kesehatan merupakan proses hilir. tersedianya alat dan teknologi yang canggih akan mudah memperoleh informasi dengan cepat sehingga masyarakat sebagai pengguna sadar akan hak-haknya disamping kewajiban-kewajiban yang harus ia penuhi. Wb.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA KATA SAMBUTAN KETUA KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Assalamu'alaikum Wr. Buku Standar Kompetensi Dokter ini merupakan bagian dari Standar Pendidikan Profesi Dokter. Kepada tim penyusun dan para kontributor. MARS Ketua Konsil Kedokteran Indonesia Standar Kompetensi Dokter iii . Buku Standar Pendidikan Profesi Dokter serta Standar Kompetensi disusun sebagai standar dalam penyelenggaraan pendidikan kedokteran. baik buruknya pelayanan kesehatan ditentukan proses dari hulu.. Semua ini tentu tidak terlepas dari bagaimana proses pendidikan yang dijalani tenaga kesehatan tersebut sehingga benar-benar memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai sebelum terjun di tengah-tengah masyarakat. November 2006 Hardi Yusa. dr. yaitu pendidikan profesi kedokteran dan menjunjung etika kedokteran. Perlu kita sadari bahwa akhir-akhir ini dirasakan peningkatan keluhan masyarakat baik di media elektronik maupun media cetak terhadap tenaga dokter dalam memberikan pelayanan kesehatan. SpOG.

yang di fasilitasi oleh Konsil Kedokteran Indonesia. yang merupakan hasil karya dan kerja keras semua stakeholders. Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Standar Kompetensi Dokter ini sesungguhnya merupakan bagian dari Standar Pendidikan Profesi Dokter. Standar Kompetensi Dokter ini dapat dimanfaatkan oleh institusi pendidikan kedokteran. Puji dan Syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat. bimbingan. Selain dari itu. Departemen Pendidikan Nasional. dan kemudian disahkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia sesuai dengan amanah Undang-Undang RI No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Departemen Kesehatan dan Departemen Pendidikan Nasional. Wb. saya mengucapkan selamat dan penghargaan yang tinggi kepada Divisi Pendidikan Konsil Kedokteran Indonesia. Buku ini mengacu pada perkembangan terkini dari paradigma pendidikan dokter. Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI). Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia (MKKI). atas selesainya buku Standar Kompetensi Dokter. Ikatan Rumah Sakit Pendidikan Indonesia (IRSPI). Konsil Kedokteran menyambut gembira dengan di terbitkannya buku Standar Kompetensi Dokter. untuk dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di tanah air kita. organisasi profesi. petunjuk dan kekuatan-Nya kepada kita semua. rumah sakit pendidikan. dan Departemen Kesehatan sebagai acuan dalam mengatur kewenangan praktik kedokteran. Sebagai Ketua Konsil Kedokteran. Kolegium Dokter Indonesia (KDI). Kolegium Dokter Indonesia (KDI). Para Dekan Fakultas Kedokteran. kolegium. yang diuraikan lebih rinci untuk kemudahan dalam penyusunan kurikulum pendidikan dokter. Proses penyusunannya juga memakan waktu yang cukup lama dan melibatkan seluruh stakeholders antara lain Organisasi Profesi (IDI).KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA KATA SAMBUTAN KETUA KONSIL KEDOKTERAN Assalamu'alaikum Wr. Ikatan Rumah iv Standar Kompetensi Dokter . Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia (MKKI). Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI).

Farid Anfasa Moeloek. SpOG (K) Ketua Konsil Kedokteran Registrar Standar Kompetensi Dokter v .KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Sakit Pendidikan Indonesia (IRSPI). dr. Dr. terutama kepada mereka yang duduk dalam Kelompok Kerja Pendidikan Divisi Pendidikan Konsil Kedokteran yang selama ini telah bekerja keras menyusun standar kompetensi dokter ini Semoga buku Standar Kompetensi Dokter ini bermanfaat bagi kita semua dan segala upaya yang telah dilakukan ini akan bermanfaat dalam upaya mencapai tujuan kita bersama Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Prof. Departemen Kesehatan dan Departemen Pendidikan Nasional.

Departemen Pendidikan Nasional yang difasilitasi oleh Konsil Kedokteran Indonesia sejak bulan Oktober 2005 hingga November 2006. Kolegium Dokter Indonesia. karena itu standar ini akan selalu disempurnakan secara berkala berdasarkan masukan dari berbagai pihak maupun dari bukti-bukti empiris. seluruh kolegium spesialis. vi Standar Kompetensi Dokter . Draft pertama terdiri dari area kompetensi dan penjabarannya ke dalam kompetensi inti.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA KATA PENGANTAR Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran pasal 26 ayat (2) huruf a menyatakan bahwa standar pendidikan profesi dokter disusun oleh asosiasi institusi pendidikan kedokteran dan ayat (3) menyatakan asosiasi institusi pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi dalam menyusun standar pendidikan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a berkoordinasi dengan organisasi profesi. komponen kompetensi dan hasil pembelajaran. Melalui serangkaian pertemuan yang melibatkan seluruh institusi pendidikan kedokteran. Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya terhadap semua pihak yang telah bekerja keras untuk ikut serta menyusun Standar Kompetensi Dokter ini. serta dilengkapi dengan daftar masalah. Kami menyadari bahwa Standar Kompetensi Dokter ini masih jauh dari sempurna. telah berhasil disusun Standar Kompetensi Dokter ini. kolegium. Departemen Pendidikan Nasional memberi masukan dengan menyerahkan rancangan Kurikulum Inti Pendidikan Dokter Indonesia ke III (KIPDI III) kepada Divisi Standar Pendidikan Konsil Kedokteran. Departemen Kesehatan. Penyusunan Standar Kompetensi Dokter dimulai dari draft pertama ini yang dikembangkan dengan mengacu pada perkembangan terkini paradigma pendidikan dokter ditinjau dari aspek empiris. Departemen Pendidikan Nasional. asosiasi rumah sakit pendidikan. daftar penyakit dan daftar keterampilan klinis. Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI) menyerahkan draft pertama Standar Pendidikan Profesi Dokter dan Standar Kompetensi Dokter. Ikatan Rumah Sakit Pendidikan. Pada bulan Oktober 2005. dan Departemen Kesehatan. aspek kerangka konsep maupun dari aspek legalitas.

sehingga pelayanan kesehatan yang bermutu. proses penyusunan standar kompetensi dapat berlangsung lebih baik. Jakarta. efisien.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Kami mohon maaf apabila selama proses penyusunan Standar Kompetensi Dokter ini terdapat hal-hal yang kurang berkenan. Departemen Pendidikan Nasional. November 2006 Penyusun Standar Kompetensi Dokter vii . adil dan merata dapat diwujudkan di tanah air kita. efektif. organisasi profesi. Departemen Kesehatan maupun masyarakat dalam menyelenggarakan pendidikan dokter dan bermanfaat pula sebagai acuan dalam memberikan wewenang praktik. Akhir kata. semoga Standar Kompetensi Dokter ini bermanfaat bagi institusi pendidikan kedokteran. Semoga di masa yang akan datang. Kolegium. rumah sakit pendidikan.

viii Standar Kompetensi Dokter .

............................... Sistematika..... SK Pengesahan Standar Kompetensi Dokter................................... Daftar Kepustakaan............................................................................... Standar Kompetensi Dokter ......... 4...................... Bab IV..... Area Kompetensi................. 3................................. Rasional.......................... 2......... C.................KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA DAFTAR ISI Sambutan Ketua Konsil Kedokteran Indonesia ........................... Penjabaran Kompetensi.............................. Komponen Kompetensi.................................................................................................... B......................................... : Sistematika Standar Kompetensi Dokter......................................... Pendahuluan... Daftar Keterampilan Klinis.......................................................................................... Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Daftar Masalah (Keluhan/Gejala).................... Kata Pengantar........................................... 3........................ Ucapan Terima Kasih...................................................................................................................................................................... Bab III............................................... 2.......................................................................................................... Manfaat Standar Kompetensi Dokter....................................... Lampiran................................................................. Bab I : Pendahuluan................................ Daftar Isi............................. Landasan Hukum........................... A................. : Standar Kompetensi Dokter.......... Daftar Penyakit... iii iv vi ix xi xiii 1 1 1 2 5 7 11 11 11 12 15 15 15 17 35 37 43 83 ix Bab II : Kebijakan Pembangunan Kesehatan di Indonesia................... 1................................................................................ 1.......................................... Pengertian Standar Kompetensi Dokter. Sambutan Ketua Konsil Kedokteran.....................

x Standar Kompetensi Dokter .

Standar Kompetensi Dokter xi . Tambahan lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4431). 3. dan Institusi Rumah Sakit Pendidikan Indonesia (IRSPI) sesuai dengan pasal 7 ayat (2) undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran beserta penjelasannya. Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 100.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA KEPUTUSAN KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA NOMOR 21A/KKI/KEP/IX/2006 TENTANG PENGESAHAN STANDAR KOMPETENSI DOKTER KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA. b. MEMUTUSKAN: Menetapkan : Kesatu : KEPUTUSAN KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA TENTANG PENGESAHAN STANDAR KOMPETENSI DOKTER. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3495). Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78. 2. bahwa telah disusun standar kompetensi dokter oleh Konsil Kedokteran Indonesia bersama dengan Kolegium Dokter Indonesia (KDI)Asosiasi Institusi Kedokteran Indonesia (AIPKI). Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 116. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan sebagai pelaksanaan dari Pasal 8 huruf c UndangUndang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Menimbang : a. dipandang perlu mengesahkan Standar Kompetensi Dokter Gigi dengan Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4301).

Dalam melaksanakan prakteknya seorang dokter setidaknya memiliki kompetensi rata-rata dokter yang sekualifikasi pada situasi dan kondisi yang sebanding. Sp. Keempat Kelima : : Keenam : Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 28 September 2006 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA HARDI YUSA. Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.OG. rumah sakit pendidikan. mahasiswa. dr. badan akreditasi dan pihak-pihak lain yang terkait.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Kedua Ketiga : : Mengesahkan Standar Kompetensi Dokter yang merupakan acuan dalam penyelenggaraan pendidikan profesi dokter. lembaga pemerintah dan swasta. Standar Kompetensi Dokter sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua diperuntukkan bagi semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan profesi dokter antara lain institusi pendidikan kedokteran . MARS KETUA. xii Standar Kompetensi Dokter . Standar Kompetensi Dokter merupakan standar minimal yang harus dimiliki pada saat menyelesaikan pendidikan kedokterannya.

MA. Sp.I. Wiguno Prodjosudjadi.. Santoso.OG (K) – Ketua Konsil Kedokteran Prof. Sp. Sp.Anggota Sub Pokja Pendidikan Dokter Dasar Prof. MMed. – Divisi Standar Pendidikan Profesi Dokter Titi Savitri Prihatiningsih. dr. dr. Djauhari Widjajakusumah. Sp. Kontributor o o o o o o o o o o o o o o o o o o o Prof. Sp. Hardyanto Soebono.M – Anggota Sub Pokja CPD Hardi Yusa. PhD.OG (K) – Ketua Divisi Standar Pendidikan Profesi Dokter Prof. Moeloek. dimulai dari usulan draf-1 (pertama) hingga diterbitkannya buku Standar Kompetensi Dokter ini. dr. dr. Sp.A (K) – Ketua Sub Pokja Pendidikan Dokter Spesialis Prof. Sp.A .. dr. dr. dr. dr.Anggota Sub Pokja Pendidikan Dokter Spesialis Mulyono Soedirman.Anggota Sub Pokja Pendidikan Dokter M. MS . Meliana Zailani. dr.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA UCAPAN TERIMA KASIH Konsil Kedokteran Indonesia menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah membantu.. dr. Sp.PA . dr.. PhD – Ketua Sub Pokja Pendidikan Dokter Prof.Anggota Sub Pokja Pendidikan Dokter Spesialis Dr.. dr.Ed. dr.. dr.B – Anggota Sub Pokja Pendidikan Dokter Spesialis Prof. dr.Anggota Sub Pokja Pendidikan Dokter Siti Oetarini Sri Widodo. MARS .... Dr. Sp.A..B. Sp. Ratna Sitompul. Dr.P (K) . PFK – Anggota Sub Pokja Pendidikan Dokter Sugito Wonodirekso.PD.OT – Ketua Sub Pokja CPD Suryono S. Sp. Biran Affandi. Anwar Yusuf. Paul Tahalele. KGH. Sp. dr.KK (K) .Anggota Sub Pokja Pendidikan Dokter Spesialis Achmad Rudiyanto. F. dr. Sp. dr.. Dr. MARS – Ketua Konsil Kedokteran Indonesia Parni Hardi – Wakil Ketua Konsil Kedokteran Indonesia Standar Kompetensi Dokter xiii . Sp.OG. Dr.. Sp.Anggota Sub Pokja Pendidikan Dokter Spesialis Dodi Firmanda....OG – Anggota Sub Pokja CPD Dr....PD. Asril Aminullah. KEMD .

Ketua Kolegium Dokter Indonesia Syahrul.Jakarta Prof. Konsil Kedokteran Kresna Adam... Dr. SpKK (K) – Ketua Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia M. dr. Purwokerto Prof.. Sp. Semarang HM. dr. Surabaya xiv Standar Kompetensi Dokter . MMR .KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o Emmyr Faizal Moeis..Dekan FK Universitas Gajah Mada. drg... dr.KGA – Ketua Divisi Standar Pendidikan Profesi Dokter Gigi Afi Savitri Sarsito. Sp. KGEH . Retno Hayati Sugiarto. M. dr. PAK .SpGK . Sp. Wijadi. SpS . Oediyani Santoso. Konsil Kedokteran Gigi Abidinsyah Siregar. SpKK (K) . SH. Konsil Kedokteran Gigi Dr. Bratakoesoemah.FK – Ketua Divisi Pembinaan.. dr. drg. Sp. drg. SKM. SpJP (K) . SpTHT (K) .M. Aceh Prof. DHSM.A. H. Sp. Anon Surendro. Subijanto. Palembang Dr.Dekan FK Universitas Jenderal Sudirman..Dekan FK Universitas Lampung Meinaldi Rasmin.S. dr.Dekan FK Universitas Sumatera Utara H. Bandung A. dr. Sp.Dekan FK Universitas Airlangga. drg. PFK .. dr. Yogyakarta Dr.Divisi Registrasi. drg.Dekan FK Universitas 11 Maret. dr.Wakil Ketua Konsil Kedokteran Indonesia Prof. Dr.PM – Divisi Standar Pendidikan Profesi Dokter Gigi Bambang Guntur Hamurwono... MKes – Sekretaris Konsil Kedokteran Indonesia Prof. Konsil Kedokteran Ieke Irdjiati SA..Dekan FK Universitas Andalas.... Efrida Warganegara. – Divisi Pembinaan.. Dr. T. dr. Dr. SpOG (K) .. Konsil Kedokteran I Putu Suprapta. SpMK. Padang Zarkasih Anwar. MPH ..Divisi Registrasi.BM . Hardyanto Soebono. H.. Roosje Rosita Oewen. dr.. Sp.. SpPD. Mulyohadi Ali.Ketua Divisi Pembinaan. Konsil Kedokteran Gigi Prof. Andi Zainal. Mkes . FCCP .. Dinan S. Djauhari Widjajakusumah. Surakarta Prof.. dr.Dekan FK Universitas Indonesia. dr. Hardyanto Soebono. Dr. dr. dr. drg. MSc – Ketua Divisi Registrasi. SE – Divisi Pembinaan. dr. SpA (K) . PhD.Dekan FK Universitas Padjadjaran.Dekan FK Universitas Riau Prof. Dr.. dr. Konsil Kedokteran Tini S Hadad.KGA – Ketua Konsil Kedokteran Gigi Prof. dr.Dekan FK Universitas Diponegoro. Konsil Kedokteran Gigi Adrijati Rafly.M – Ketua Divisi Registrasi. MS . SpP (K). MS . dr.. MARS .A. Mambodyanto.Dekan FK Universitas Sriwijaya. Dra. drg.Dekan FK Universitas Syiah Kuala. Fadil Oenzil. Dr. Bahri Anwar..

dr. Dr.Dekan FK Universitas Tarumanegara.. . Dr. Banjarmasin Emil Bachtiar Moerad. H..Dekan FK Universitas Muhammadyah Jakarta Prof. Budhianto Suhadi..Dekan FK Universitas Mulawarman. MARS .. Jakarta Djap Hadi Susanto. MSc .Dekan FK Universitas Muhammadyah Surakarta . SpR . dr.Dekan FK Universitas Jenderal Ahmad Yani.Dekan FK Universitas Islam Bandung Prof....o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o Harijanto.. Dr. dr. Dr. dr. dr.FK Universitas Jambi I. dr. dr. F. Warouw. Jakarta Hj. dr. RM. MPH..Dekan FK Universitas Tanjung Pura. Jakarta Prof.. Jakarta H. SpS . Bandung Prof. dr.Dekan FK Universitas Udayana.. DMM. dr. PhD – Dekan FK Universitas Hasanudin. Teddy Rochantoro.Dekan FK Universitas Yarsi. dr. dr... SpAnd . Kalimantan Timur Prof. Wahyu Karhiwikarta. dr. Herri S Sastramihardja.Dekan FK Universitas Brawijaya. Jakarta Buddy HW Utoyo. Nusa Tenggara Barat Paulina Watofa. Cimahi Surja Tanurahardja. SpA (K) . MSc . S...X.. MPH .Dekan FK Universitas Pelita Harapan. Doddy Ario Kumboyo. MSc .Dekan FK Universitas Lambung Mangkurat. Bali H.. DTM&H . Anom Murdhana dr. . Nugroho Abikusno.Dekan FK Universitas Cendrawasih. . . dr. Jakarta Satya Joewana.. dr. dr. MSPH . Jakarta Angkasa Sebayang. Kalimantan Barat Irawan Yusuf. dr.. dr. Dr.. SpP . Jakarta Tom Surjadi. SpFK (K) .M.Dekan FK Universitas Kristen Krida Wacana. Banten Syafri Guricci. SpKO.. Manado H. MSc – Dekan FK Universitas Trisakti. Wahyuning Ramelan.Dekan FK Universitas Kristen Indonesia.Dekan FK Universitas Sam Ratulangi. SpOG(K) .Dekan FK Universitas Katolik Atmajaya. dr. SpOG . Dr. dr. dr. Malang Wasis Prajitno.Dekan FK Universitas Malahayati... MS . dr.. dr.Dekan FK Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.N.Dekan FK Universitas Jember Chris Adhiyanto. SpOG . Hasyim Fachir.G. Jayapura Dr.Dekan FK Universitas Mataram.Dekan FK Universitas Maranatha. AIF . dr. . Lampung H. Riyani Wikaningrum.. Makasar Prof. Soedjono Aswin. Jojo R Noor. dr.Dekan FK Universitas “Veteran”.. SpKJ (K) .

. Wahyuning Ramelan. MS.Ketua Kolegium Kedokteran Okupasi Otto Maulana. SpPA (K) . dr..Ketua Kolegium Radiologi Indonesia Prof. dr..Ketua Kolegium Mikrobiologi Klinik Agnes Kurniawan. SpBS . SpBP . Dr.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o Prof. DMM. Djoko Rahardjo. Rustadi Sosrosumihardjo. SpKK (K) ... SpB. SpKL . PhD.. SpRM (K) . dr.Ketua Kolegium Ofthalmologi H. SH.. SpFK . Siti Aisah.Ketua Kolegium Psikiatri Indonesia Dr. Padmo Santjojo. SpMK . Masrin Munir. SpAndr .Ketua Kolegium Andrologi xvi Standar Kompetensi Dokter . dr.. dr. SpS (K) . SpKK..Ketua Kolegium Kedokteran Penerbangan Indonesia Prof. Sasanto Wibisono. SpRad. dr. SpB.Ketua Kolegium Ilmu Penyakit Jantung & Pembuluh Darah Prof... Dr.Ketua Kolegium Bedah Orthopaedi Indonesia Dr... Dr. dr..Ketua Kolegium Parasitologi Klinik Prof. dr. SpF – Ketua Kolegium Kedokteran Forensik Indonesia Prof.. Soemilah Sastroamidjojo. Tenggorok dan KL Prof. Imam Supardi. dr.Ketua Kolegium Kedokteran Nuklir Indonesia Prof. Angela B. dr..Ketua Kolegium Farmakologi Klinik Prof.Ketua Kolegium Telinga. dr. dr. Djoko Roesadi. Budi Sampurna..Ketua Kolegium Bedah Thoraks & Kardiovaskuler Prof. SpKJ (K) .Ketua Kolegium Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Prof... Dr.. SpM (K) . SpOT . Dr. Triyono KSP . dr. dr. Mardiono Marsetio... dr. I Made Nasar. SpKP . dr. SpOK . Sumakmur PK.. SpGK .Ketua Kolegium Kedokteran Kelautan Indonesia Soleh Nugraha.Ketua Kolegium Bedah Anak Prof. dr. Dr. SpU . dr.. SpTHT-KL . Farid Nur Mantu. .Ketua Kolegium Neurologi Prof. Hidung. SpParK .Ketua Kolegium Ilmu Kedokteran Fisik & Rehabilitasi Dr. Armen Muchtar.Ketua Kolegium Gizi Klinik Prof. dr. Med Puruhito.Ketua Kolegium Urologi Indonesia Samino. dr. dr.. MSc.. dr. SpPD-KE . Dr. dr. Tulaar. Johan S Masjhur. dr. SpBA . SpJP ..Ketua Kolegium Patologi Klinik Prof. SpPK .Ketua Kolegium Bedah Syaraf Bisono. Dede Kusmana. SpBTKV .Ketua Kolegium Bedah Plastik Indonesia Prof.Ketua Kolegium Patologi Anatomi Prof. dr. dr. Dr.

.... SpP (K) – Ketua Kolegium Paru Indonesia Prof.. Dr. MKes – Wakil dari Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia Prof. Nasihun. Depary. Mkes . dr. Aryono J Pusponegoro.. KBD .OG – IDI Wilayah Jawa Tengah Wawang S. dr.A. Abdul Razak Datu. Anwar Yusuf. Surabaya Adi Rahmat.. Mkes . dr. SpPark . dr. Medan Prof. SpPD.Dekan FK Universitas Methodis Indonesia. Wiguno Prodjosudjadi. . SpAn (K) – Ketua Kolegium Anestesiologi Standar Kompetensi Dokter xvii . dr. Aris Widodo. KGH – IDI Wilayah Jawa Timur Bantuk Hadiyanto. SpPD ..Dekan FK Universitas Islam Sultan Agung.Yogyakarta Erwin Santosa.Mkes . dr. SpOG . dr.. Sukarya. dr. Amir Muslim Malik. dr.. Dr. PhD . dr.PD – IDI Wilayah Sumatera Barat Prof.Padang H. dr.PD. Dr.P . SpA... SpFK . MARS – IDI Wilayah Jawa Barat Mohamad Isa.Dekan FK Universitas Hang Tuah. Sp. MS. Fachmi Idris.Dekan FK Universitas Muhammadyah Malang H. Roesli A Thaib. dr. dr. H. MSc – Wakil dari Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia Prof. Taufiq R. dr.. dr..KK – IDI Wilayah Sulawesi Utara Pranawa.. SpB.Dekan FK Universitas Islam..KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o Prof. dr. dr. dr. Sp. Akib.M. Dr.Dekan FK Universitas Wijaya Kusuma... SpOG (K) – Ketua Kolegium Obstetri dan Ginekologi Indonesia Prof... SpA. Chalik. dr... SpRad .Ketua Kolegium Ilmu Bedah Indonesia Arwin A. Basir Palu. Makasar Fanani. Nuzirwan Acang.. Dr. Aceh H. dr.Dekan FK Universitas Abulyatama. Sp. PhD . Sp. A. Semarang Riana Rahmawati. Mkes . PhD.Dekan FK Universitas Muslim Indonesia.. dr. dr. Soepratiknjo BS. dr. dr. SKM. Soedarto Ronoatmodjo. Surabaya Sartono.. A. Malang Fathoni Sadani.A. Winsy Warrow. PhD. Biran Affandi. T. Sumatera Utara Prof.OG (K). SpA (K) – Ketua Kolegium Ilmu Kesehatan Anak Indonesia Prof.Dekan FK Universitas Islam. Nusa Tenggara Barat Dr. DTM&H.. dr.Dekan FK Universitas Muhammadyah Yogyakarta Prof. . dr..M.Dekan FK Universitas Islam Al-Azhar.Dekan FK Universitas Baiturrahmah. Sp. dr. Sp. KGH – Ketua Kolegium Ilmu Penyakit Dalam Prof.Dekan FK Universitas Islam Indonesia..P – IDI Wilayah Kalimantan Selatan M. MHA – IDI Wilayah Sulawesi Selatan Prof. dr.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA o o Hario Tilarso.B.BTK – Wakil dari Majelis Kolegium xviii Standar Kompetensi Dokter . Sp. dr.. Sp.. SpKO – Ketua Kolegium Kedokteran Olah Raga Soerarso Hardjosuwito. dr.

Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Kesehatan. dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Undang-Undang RI Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Pada tahun 1994.045/U/2002. Pasal 26 undang-undang tersebut menyatakan lebih lanjut bahwa Standar Pendidikan Profesi Kedokteran disusun oleh Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia dan berkoordinasi dengan organisasi profesi. karena menyesuaikan dengan perkembangan peraturan terkini yang tercantum pada SK Mendiknas No. Rasional Sejak tahun 1982. KIPDI II diterbitkan dan masih menitikberatkan pada penguasaan disiplin ilmu sehingga gambaran dokter yang akan dihasilkan belum terinci secara eksplisit. Standar Kompetesensi Dokter disusun untuk memperbarui KIPDI II tahun 1994 yang sudah saatnya diganti. Undang-Undang RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA BAB I PENDAHULUAN 1. Landasan Hukum Standar Kompetensi Dokter ini disusun dalam rangka memenuhi amanah Undang-Undang RI Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran pasal 8 yang mengatakan bahwa Konsil Kedokteran Indonesia memiliki wewenang untuk mengesahkan standar kompetensi dokter dan dokter gigi. kolegium. Format Standar Kompetensi Dokter berbeda dengan KIPDI sebelumnya. 2. pendidikan dokter di Indonesia mengacu pada 'Kurikulum Inti Pendidikan Dokter Indonesia' atau KIPDI I yang menitikberatkan pada penguasaan disiplin ilmu. Sesuai dengan percepatan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan. Oleh karena itu proses penyusunan Standar Kompetensi Dokter ini melibatkan berbagai pihak pengandil secara intensif melalui serangkaian 1 Standar Kompetensi Dokter . telah disepakai bahwa KIPDI akan diperbarui setiap 10 tahun. ikatan rumah sakit pendidikan.

Kolegium Dokter Indonesia. Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi. Pasal 38 ayat (3) mengatakan bahwa Kurikulum pendidikan tinggi dikembangkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk setiap program studi. tenaga kependidikan. 045/U/2002 kompetensi adalah 'seperangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas- 2 Standar Kompetensi Dokter . Konsil Kedokteran Indonesia. melakukan 'judgement'. dan pembiayaan. tenaga kependidikan. pembiayaan. pengelolaan.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA pertemuan yang difasilitasi oleh Divisi Standar Pendidikan Profesi. Pengertian Standar Kompetensi Dokter Menurut SK Mendiknas No. Undang-Undang RI No. Draft terakhir dirapatkan secara pleno oleh Konsil Kedokteran Indonesia. proses. dan memperbaiki draft. Kolegium-Kolegium Spesialis terkait serta seluruh Bagian atau Departemen terkait dari seluruh institusi pendidikan kedokteran di Indonesia yang berjumlah 52 (lima puluh dua). sarana dan prasarana. sarana dan prasarana. pengelolaan. 3. Standar Kompetensi Dokter ini merupakan satu kesatuan dengan Standar Pendidikan Profesi Dokter. mengkompilasi seluruh masukan. kompetensi lulusan. Draft standar kompetensi telah didistribusikan ke seribu alamat di seluruh Indonesia untuk mendapat masukan. Standar Kompetensi Dokter adalah standar output atau keluaran dari program studi dokter. SubPokja Pendidikan Dokter yang dibentuk oleh Konsil Kedokteran Indonesia dengan SK Nomor 09/KKI/III/2006. Standar Kompetensi Dokter ini merupakan standar nasional keluaran program studi dokter dan telah divalidasi oleh Perkumpulan Dokter Keluarga Indonesia. dan penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 35 tentang Standar Nasional Pendidikan mengatakan bahwa standar pendidikan nasional digunakan acuan dalam mengembangkan kurikulum.

yaitu pengetahuan. Tabel 1 memperlihatkan beda pokok antara tujuan instruksional dengan pernyataan kompetensi. Dari beberapa pengertian di atas. (2002) menyimpulkan bahwa : “Competency is a complex set of behaviorsbehaviours built on the components of knowledge. technical skills. et. and reflection in daily practice to improve the health of the individual patient and community”. Sikap dan perilaku dalam berkarya menurut tingkat keahlian berdasarkan ilmu dan keterampilan yang dikuasai e. values. Standar Kompetensi Dokter 3 . Elemen-elemen kompetensi terdiri dari : a.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA tugas di bidang pekerjaan tertentu'. clinical reasoning. Carraccio. Landasan kepribadian b. psikomotor dan afektif.al. Kemampuan berkarya d. skills. Epstein and Hundert (2002) memberikan definisi sebagai berikut : “Professional competence is the habitual and judicious use of communication. attitude and competence as personal ability”. emotions. Penguasaan ilmu dan keterampilan c. knowledge. tampak bahwa pengertian kompetensi dokter lebih luas dari tujuan instruksional yang dibagi menjadi tiga ranah pendidikan. Pemahaman kaidah berkehidupan masyarakat sesuai dengan keahlian dalam berkarya.

pengembangan kurikulum berangkat dari kompetensi yang harus dicapai mahasiswa. maka yang bersangkutan akan mampu : .mengerjakan tugas atau pekerjaan profesinya . Differences between instructional objectives and Competency Statement (Wilkerson. Artinya.Menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk memecahkan masalah di bidang profesinya . Model kurikulum yang sesuai adalah kurikulum berbasis kompetensi.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Table 1. skill or attitude to be acquired and attitude objectives Generally discipline specific Context-free Professional values unaddressed Draws from multiple disciplines relevant to practice Related to an actual task in the fieldcontextualised Driven by professional practices and values Defines knowledge. 2002) Instructional Objectives Competencies States an aspect of knowledge.Melaksanakan tugas dengan kondisi berbeda Dengan telah ditetapkannya keluaran dari program dokter di Indonesia berupa standar kompetensi. skill Integrates related knowledge. maka kurikulum program studi pendidikan dokter perlu disesuaikan. skill or attitude Defines a level of ability for an separately observable outcome Dengan dikuasainya standar kompetensi oleh seorang profesi dokter. 4 Standar Kompetensi Dokter .Segera tanggap dan tahu apa yang harus dilakukan bilamana terjadi sesuatu yang berbeda dengan rencana semula .mengorganisasikan tugasnya agar pekerjaan tersebut dapat dilaksanakan .

19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang mengatakan bahwa kurikulum program studi menjadi wewenang institusi pendidikan kedokteran. Sehingga. sesuai dengan kebutuhan spesifik di tempat kerja. tetapi dokter yang dihasilkan dari berbagai institusi diharapkan memiliki kesetaraan dalam hal penguasaan kompetensi. Standar Kompetensi Dokter 5 . 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas dan Peraturan Pemerintah No. maka Standar Kompetensi Dokter merupakan kerangka acuan utama bagi institusi pendidikan kedokteran dalam mengembangkan kurikulumnya masing-masing. Bagi Pengguna Standar Kompetensi Dokter dapat dijadikan kerangka acuan utama bagi Departemen Kesehatan maupun Dinas Kesehatan Propinsi ataupun Kabupaten dalam pengembangan sumber daya manusia kesehatan.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA 4. Manfaat Standar Kompetensi Dokter Adanya Standar Kompetensi Dokter merupakan tonggak yang bersejarah bagi perkembangan pendidikan dokter di Indonesia. Depkes dan Dinas Kesehatan sebagai pihak yang akan memberikan lisensi dapat mengetahui kompetensi apa yang telah dikuasai oleh dokter dan kompetensi apa yang perlu ditambah. a. Dengan Standar Kompetensi. Bagi institusi pendidikan kedokteran Sesuai dengan Undang-Undang RI No. agar dapat memberikan pelayanan kesehatan yang baik. b. Dengan demikian pihak Depkes dan Dinas Kesehatan dapat menyelenggarakan pembekalan atau pelatihan jangka pendek sebelum memberikan ijin Praktik. dalam hal ini dokter. walaupun kurikulum berbeda. Berikut ini beberapa manfaat dari Standar Kompetensi Dokter bagi pihak pengandil terkait.

g. e. Bagi Departemen Pendidikan Nasional dan Badan Akreditasi Nasional Standar Kompetensi Dokter dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi kriteria pada akreditasi program studi pendidikan dokter. Dengan demikian proses pendidikan diharapkan dapat berjalan lebih efektif dan efisien. h. Bagi orang tua murid dan penyandang dana Dengan standar kompetensi dokter. Bagi mahasiswa Standar Kompetensi Dokter dapat digunakan oleh mahasiswa untuk mengarahkan proses belajarnya. Bagi Kolegium-Kolegium Spesialis Standar Kompetensi Dokter dapat dijadikan acuan dalam merumuskan kompetensi dokter spesialis yang merupakan kelanjutan dari pendidikan dokter. karena mahasiswa mengetahui sejak awal kompetensi yang harus dikuasai di akhir pendidikan. Program Adaptasi bagi Lulusan Luar Negeri Standar Kompetensi Dokter dapat digunakan sebagai acuan untuk menilai kompetensi dokter lulusan luar negeri. f.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA c. Hal ini sebagai bentuk akuntabilitas publik d. Bagi Kolegium Dokter Indonesia Standar Kompetensi Dokter dapat dijadikan acuan dalam menyelenggarakan program pengembangan profesi secara berkelanjutan. 6 Standar Kompetensi Dokter . orang tua murid dan penyandang dana dapat mengetahui secara jelas kompetensi yang akan dikuasai oleh mahasiswa.

131/MENKES/SK/II/2004). Wujud UKP strata pertama adalah berbagai bentuk pelayanan professional seperti praktik bidan. poliklinik. praktik dokter gigi. Untuk mewujudkan tujuan tersebut telah Standar Kompetensi Dokter 7 . Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran. guna menjamin derajat kesehatan setinggi-tingginya sebagai perwujudan kesejahteraan umum seperti dimaksud dalam Pembukaan UUD 1945. Subsistem upaya kesehatan menghimpun berbagai upaya kesehatan masyarakat (UKM) dan upaya kesehatan perorangan (UKP) secara terpadu dan saling mendukung guna menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya (SK Menkes No. SKN adalah suatu tatanan yang menghimpun berbagai upaya Bangsa Indonesia secara terpadu dan saling mendukung. Sesuai dengan pengertian SKN. 131/MENKES/SK/II/2004. praktik perawat. maka subsistem pertama SKN adalah upaya kesehatan. Yang dimaksud dengan UKP strata pertama adalah UKP tingkat dasar. Pelayanan pengobatan tradisional dan alternatif yang diselenggarakan adalah yang secara ilmiah telah terbukti keamanan dan khasiatnya (SK Menkes No.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA BAB II KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KESEHATAN DI INDONESIA Sistem Kesehatan Nasional 2004 ditetapkan menurut SK Menkes No. kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Dalam UKP strata pertama juga termasuk pelayanan pengobatan tradisional dan alternatif. yang mendayagunakan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan dasar yang ditujukan kepada perorangan. praktik bersama. Sistem Kesehatan Nasional (SKN) merupakan pedoman bagi semua pihak dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan di Indonesia. Untuk dapat mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggitingginya perlu diselenggarakan berbagai upaya kesehatan dengan menghimpun seluruh potensi Bangsa Indonesia. praktik dokter. 131/MENKES/SK/II/2004). balai pengobatan. serta pelayanan kebugaran fisik dan kosmetika. Salah satu contohnya adalah akupuntur. dan puskesmas. rumah bersalin.

bangsa dan Negara Indonesia dengan ditandai oleh penduduknya yang hidup dengan perilaku sehat. Gerakan Pembangunan Berwawasan Kesehatan yang telah dicanangkan sejak tahun 1999. pada UKM dan UKP strata pertama dibutuhkan pelayanan kesehatan yang memiliki karakteristik sebagai berikut : 1. 2005). berkesinambungan serta berkoordinasi dengan profesi kesehatan lainnya. salah satu misi Depkes adalah meningkatkan kinerja dan mutu upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan (Depkes. Mempunyai rekam medis yang diisi dengan cermat 8 Standar Kompetensi Dokter . serta memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata. Untuk melaksanakan visi tersebut. merupakan paradigma baru yang dikenal dengan Paradigma Sehat. dan dilaksanakan secara paripurna. Memandang manusia sebagai manusia seutuhnya 2. Pelayanan yang komprehensif dengan pendekatan holistik a. dari pendidikan yang berbasis penguasaan disiplin ilmu ke pendidikan yang berbasis kompetensi sesuai dengan kompetensi yang diperlukan pada upaya kesehatan masyarakat (UKM) dan upaya kesehatan perorangan (UKP) strata pertama. dan dalam lingkungan sehat. Oleh karena itu. yang merupakan cerminan masyarakat. Pelayanan yang continue a. di seluruh wilayah Negara Kesehatan Republik Indonesia. perlu ada penyesuaian orientasi pendidikan dokter. Preventif. dan merupakan salah satu strategi pembangunan kesehatan nasional Indonesia menuju Indonesia Sehat 2010 (Depkes.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA diciptakan Visi Indonesia Sehat 2010. promotif. kuratif dan rehabilitatif b. Sesuai dengan Paradigma Sehat. 2005). holistik. Untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan yang berlandaskan paradigma sehat tersebut maka diperlukan lulusan dokter yang dapat berperan serta dan merupakan ujung tombak dalam upaya kesehatan masyarakat (UKM) dan upaya kesehatan perorangan (UKP) strata pertama yang mencakup pelayanan kesehatan professional terhadap semua spektrum usia dan semua jenis penyakit sedini mungkin.

b. a. masyarakat dan lingkungannya yang dapat mempengaruhi penyakitnya. 9. maka diperlukan lulusan dokter dengan kompetensi yang sesuai dengan peran dan tugas dokter dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan tersebut. komunitas. b. Memanfaatkan potensi pasien dan keluarganya seoptimal mungkin untuk penyembuhan.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA 3. 8. Standar Kompetensi Dokter 9 . Penggunaan evidence-based medicine untuk pengambilan keputusan d. Mendiagnosis dan mengobati penyakit sedini mungkin b. Kerjasama profesional dengan semua pengandil agar dicapai pelayanan bermutu dan kesembuhan optimal b. dan lingkungannya untuk membantu penyembuhan penyakitnya. Kesadaran untuk mengikuti perkembangan ilmu melalui belajar sepanjang hayat dan pengembangan profesi berkelanjutan. 5. Penanganan personal pasien sebagai bagian integral dari keluarga Pelayanan yang mempertimbangkan faktor keluarga. Rekam medis yang lengkap dan akurat yang dapat dibaca orang lain b. dan lingkungan tempat tinggal. Mencegah kecatatan Pelayanan yang koordinatif dan kolaboratif a. Kesadaran akan keterbatasan kemampuan dan kewenangan e. Mengkonsultasikan atau merujuk pasien pada waktunya c. 6. 4. Standar Pelayanan Medis c. Pelayanan yang menjunjung tinggi etika dan hukum Pelayanan yang sadar biaya dan sadar mutu Pelayanan yang dapat diaudit dan dipertanggungjawabkan yang merupakan perwujudan dari adanya : a. Untuk dapat menyelenggarakan pelayanan kesehatan seperti dijelaskan di atas. 7. lingkungan kerja. Selalu mempertimbangkan pengaruh keluarga. komunitas. Memanfaatkan keluarga. Menjalin kerjasama dengan profesi dan instansi lain untuk kepentingan pasien agar proses konsultasi dan rujukan berjalan lancar Pelayanan yang mengutamakan pencegahan a.

10 Standar Kompetensi Dokter .KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Standar kompetensi dokter dirumuskan dengan mengacu pada peran dan tugas dokter dalam memberikan pelayanan kesehatan pada UKM dan UKP strata pertama.

fungsi dan peran seorang dokter dalam UKM dan UKP Strata Pertama Standar Kompetensi Dokter 11 . Setiap area kompetensi ditetapkan definisinya. Sistematika Standar kompetensi terdiri dari 7 (tujuh) area kompetensi yang diturunkan dari gambaran tugas. Setiap area kompetensi dijabarkan menjadi beberapa komponen kompetensi. 2. Gambar berikut ini mengilustrasikan penjabaran kompetensi. yang diperinci lebih lanjut menjadi kemampuan. peran dan fungsi seorang dokter dalam UKM dan UKP Strata Pertama Pengembangan Kurikulum Komponen kompetensi yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas. yang disebut kompetensi inti. Tugas . Pendahuluan Standar Kompetensi dokter yang disusun mengacu pada gambaran dokter yang dibutuhkan untuk mencapai Indonesia Sehat 2010 seperti dijelaskan pada Bab II sebelumnya.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA BAB III SISTEMATIKA STANDAR KOMPETENSI DOKTER 1. peran dan fungsi seorang dokter dalam Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) strata pertama. fungsi dan peran seorang dokter dalam UKM dan UKP Strata Pertama Pendidikan dokter Kemampuan yang harus dikuasi agar kompeten dalam melaksanakan tugas.

lampiran 2 daftar penyakit dan lampiran 3 daftar keterampilan klinis.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Secara skematis. institusi pendidikan kedokteran perlu memastikan bahwa selama pendidikan. Oleh karena itu. Fungsi utama lampiran ini adalah sebagai pedoman bagi institusi pendidikan kedokteran dalam mengembangkan kurikulum institusional. Lampiran memberikan garis besar cakupan dan isi kurikulum sebagai rujukan. Lampiran Standar kompetensi ini dilengkapi dengan tiga lampiran. susunan Standar digambarkan seperti berikut ini : Area Kompetensi Kompetensi Inti Komponen Kompetensi Kompetensi Dokter dapat Hasil Pembelajaran atau Kemampuan yang diharapkan di akhir pendidikan Lampiran 1 Daftar Masalah Lampiran 2 Daftar Penyakit Lampiran 3 Daftar Keterampilan Klinis 3. 12 Standar Kompetensi Dokter . Lampiran 1 daftar masalah berisikan berbagai masalah yang akan dihadapi dokter di UKM dan UKP strata pertama dan dokter harus mampu menangani masalah tersebut. mahasiswa kedokteran dipaparkan pada masalah-masalah tersebut dan diberi kesempatan berlatih menangani masalah tersebut. yaitu lampiran 1 daftar masalah.

Pendidikan dokter harus memberikan dasar yang kuat untuk melanjutkan ke pendidikan lanjut.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Lampiran 2 daftar penyakit berisikan penyakit-penyakit yang merupakan diagnosis banding dari masalah yang dijumpai pada lampiran 1. Lampiran 3 daftar keterampilan klinik berisikan keterampilan klinik yang perlu dikuasai oleh dokter di UKM dan UKP strata pertama di Indonesia. Pada setiap penyakit telah ditentukan tingkat kemampuan yang diharapkan. Dianjurkan untuk menerapkan strategi pembelajaran berfokus pada mahasiswa (student-centred learning). 3. 5. 6. Berikut ini beberapa prinsip pengembangan kurikulum berbasis kompetensi : 1. Tujuan utama pendidikan dokter adalah mempersiapkan lulusan dokter yang dapat bekerja secara profesional pada upaya kesehatan masyarakat (UKM) dan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) strata pertama. Standar Kompetensi Dokter 13 . Daftar ini memudahkan institusi pendidikan kedokteran untuk menentukan materi dan sarana untuk pembelajaran keterampilan klinik. Pada setiap keterampilan telah ditentukan tingkat kemampuan yang diharapkan. sehingga memudahkan bagi institusi pendidikan kedokteran untuk menentukan kedalaman dan keluasan (the depth and the breadth) dari isi kurikulum. Daftar penyakit ini memberikan arah bagi institusi pendidikan kedokteran untuk mengidentifikasikan isi kurikulum. Pembelajaran klinik (clinical teaching) pada UKM dan UKP strata pertama perlu diperbanyak. Dianjurkan untuk menerapkan integrasi horisontal dan vertikal pada kurikulum. Standar Kompetensi Dokter ini meliputi 80% dari total kurikulum suatu program studi. 2. 4.

14 Standar Kompetensi Dokter .

Memperoleh dan mencatat informasi yang akurat serta penting tentang pasien dan keluarganya Melakukan prosedur klinik dan laboratorium Melakukan prosedur kedaruratan klinis Area Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran 8.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA BAB IV STANDAR KOMPETENSI DOKTER A. perilaku. 4. Menerapkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip ilmu biomedik. klinik. dan ilmu kesehatan masyarakat sesuai dengan pelayanan kesehatan tingkat primer Standar Kompetensi Dokter 15 . 3. 5. 7. Medikolegal dan Profesionalisme serta Keselamatan Pasien B. Berkomunikasi dengan pasien serta anggota keluarganya Berkomunikasi dengan sejawat Berkomunikasi dengan masyarakat Berkomunikasi dengan profesi lain Area Keterampilan Klinis 5. 7. Moral. 2. 3. 6. 2. 4. Komunikasi efektif Keterampilan Klinis Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran Pengelolaan Masalah Kesehatan Pengelolaan Informasi Mawas Diri dan Pengembangan Diri Etika. 6. Area Kompetensi: 1. Komponen Kompetensi Area Komunikasi Efektif 1.

13. tindakan pencegahan dan promosi kesehatan. 15. Moral. Area Mawas Diri dan Pengembangan Diri 19. 20. pemberian terapi. 14. Merangkum dari interpretasi anamnesis. Menerapkan mawas diri Mempraktikkan belajar sepanjang hayat Mengembangkan pengetahuan baru Area Etika. keadaan sakit dan masalah pasien sebagai individu yang utuh. 10. 18. Memiliki Sikap profesional 16 Standar Kompetensi Dokter . 12.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA 9. Menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu penegakan diagnosis. 21. uji laboratorium dan prosedur yang sesuai Menentukan efektivitas suatu tindakan Area Pengelolaan Masalah Kesehatan 11. Medikolegal dan Profesionalisme serta Keselamatan Pasien 22. bagian dari keluarga dan masyarakat Melakukan Pencegahan Penyakit dan Keadaan Sakit Melaksanakan pendidikan kesehatan dalam rangka promosi kesehatan dan pencegahan penyakit Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan Mengelola sumber daya manusia serta sarana dan prasarana secara efektif dan efisien dalam pelayanan kesehatan primer dengan pendekatan kedokteran keluarga Area Pengelolaan Informasi 16. serta penjagaan. pemeriksaan fisik. Mengelola penyakit. dan pemantauan status kesehatan pasien Memahami manfaat dan keterbatasan teknologi informasi Memanfaatkan informasi kesehatan 17.

26. Bersambung rasa dengan pasien dan keluarganya · Memberikan salam · Memberikan situasi yang nyaman bagi pasien · Menunjukkan sikap empati dan dapat dipercaya · Mendengarkan dengan aktif (penuh perhatian dan memberi waktu yang cukup pada pasien untuk menyampaikan keluhannya dan menggali permasalahan pasien) · Menyimpulkan kembali masalah pasien. dan kerahasiaan pasien sepanjang waktu Standar Kompetensi Dokter 17 . hal-hal yang bersifat pribadi. 24. Berkomunikasi dengan pasien serta anggota keluarganya 1. kekhawatiran. maupun harapannya · Memelihara dan menjaga harga diri pasien. Lulusan Dokter Mampu 1. Kompetensi Inti Mampu menggali dan bertukar informasi secara verbal dan non verbal dengan pasien pada semua usia. Berperilaku profesional dalam bekerja sama Sebagai anggota Tim Pelayanan Kesehatan yang profesional Melakukan praktik kedokteran dalam masyarakat multikultural di Indonesia Memenuhi aspek medikolegal dalam praktik kedokteran Menerapkan keselamatan pasien dalam praktik kedokteran C. anggota keluarga. Penjabaran Kompetensi 1. Area Komunikasi efektif 1.1. masyarakat. 27.2. 25. kolega dan profesi lain 1.1.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA 23.

Mengumpulkan Informasi · Mampu menggunakan open-ended maupun closed question dalam menggali informasi (move from open to closed question properly) · Meminta penjelasan pada pasien pada pernyataan yang kurang dimengerti · Menggunakan penalaran klinik dalam penggalian riwayat penyakit pasien sekarang.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA · Memperlakukan pasien sebagai mitra sejajar dan meminta persetujuannya dalam memutuskan suatu terapi dan tindakan 1. kekhawatirannya. bingung. malu. maupun pasien dengan hambatan komunikasi misalnya bisu-tuli. eforia. Memahami Perspektif Pasien · Menghargai kepercayaan pasien terhadap segala sesuatu yang menyangkut penyakitnya · Melakukan eksplorasi terhadap kepentingan pasien. sedih.3. riwayat keluarga. gangguan psikis) · Mampu merespon verbal maupun bahasa non-verbal dari pasien secara profesional · Memperhatikan faktor biopsikososiobudaya dan normanorma setempat untuk menetapkan dan mempertahankan terapi paripurna dan hubungan dokter pasien yang professional 18 Standar Kompetensi Dokter . takut. dan harapannya · Melakukan fasilitasi secara profesional terhadap ungkapan emosi pasien (marah.2. atau riwayat kesehatan masa lalu · Melakukan penggalian data secara runtut dan efisien · Tidak memberikan nasehat maupun penjelasan yang prematur saat masih mengumpulkan data 1.

1. · Memberikan edukasi dan promosi kesehatan kepada pasien maupun keluarganya · Memastikan mengkonfirmasikan bahwa informasi dan pilihan-pilihan tindakan telah dipahami oleh pasien · Memberikan waktu yang cukup kepada pasien untuk merenungkan kembali serta berkonsultasi sebelum membuat persetujuan · Menyampaikan berita buruk secara profesional dengan menjunjung tinggi etika kedokteran · Memastikan kesinambungan pelayanan yang telah dibuat dan disepakati Standar Kompetensi Dokter 19 . menjelaskan hasil diagnosis. prognosis. risiko prosedur diagnostik dan tindakan medis (terapi. rujukan) sebelum dikerjakan · Menjawab pertanyaan dengan jujur. jelas. pilihan penanganan serta prognosis. dan jujur tentang tujuan. manfaat.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA · Menggunakan bahasa yang santun dan dapat dimengerti oleh pasien (termasuk bahasa daerah setempat) sesuai dengan umur. lengkap.4. Memberi Penjelasan dan Informasi · Mempersiapkan perasaan pasien untuk menghindari rasa takut dan stres sebelum melakukan pemeriksaan fisik · Memberi tahu adanya rasa sakit atau tidak nyaman yang mungkin timbul selama pemeriksaan fisik atau tindakannya · Memberi penjelasan dengan benar. operasi. atau menganjurkan rujukan untuk permasalahan yang sulit. meringkas informasi. memberi konsultasi. tingkat pendidikan ketika menyampaikan pertanyaan. keperluan.

Berkomunikasi dengan sejawat · Memberi informasi yang tepat kepada sejawat tentang kondisi pasien baik secara lisan. demi kepentingan pasien maupun ilmu kedokteran · Melakukan presentasi laporan kasus secara efektif dan jelas.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA 2. demi kepentingan pasien maupun ilmu kedokteran 3. Berkomunikasi dengan masyarakat · Menggunakan bahasa yang dipahami oleh masyarakat · Menggali masalah kesehatan menurut persepsi masyarakat · Menggunakan teknik komunikasi langsung yang efektif agar masyarakat memahami kesehatan sebagai kebutuhan · Memanfaatkan media dan kegiatan kemasyarakatan secara efektif ketika melakukan promosi kesehatan · Melibatkan tokoh masyarakat dalam mempromosikan kesehatan secara profesional 4. atau elektronik pada saat yang diperlukan demi kepentingan pasien maupun ilmu kedokteran · Menulis surat rujukan dan laporan penanganan pasien dengan benar. Berkomunikasi dengan profesi lain · Mendengarkan dengan penuh perhatian. dan memberi waktu cukup kepada profesi lain untuk menyampaikan pendapatnya · Memberi informasi yang tepat waktu dan sesuai kondisi yang sebenarnya ke perusahaan jasa asuransi kesehatan untuk pemrosesan klaim · Memberikan informasi yang relevan kepada penegak hukum atau sebagai saksi ahli di pengadilan (jika diperlukan) · Melakukan negosiasi dengan pihak terkait dalam rangka pemecahan masalah kesehatan masyarakat 20 Standar Kompetensi Dokter . tertulis.

1.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA 2. keluarga. Lulusan Dokter Mampu 1. Melakukan prosedur klinik dan laboratorium · Memilih prosedur klinis dan laboratorium sesuai dengan masalah pasien · Melakukan prosedur klinis dan laboratorium sesuai kebutuhan pasien dan kewenangannya · Melakukan pemeriksaan fisik dengan cara yang seminimal mungkin menimbulkan rasa sakit dan ketidaknyamanan pada pasien · Melakukan pemeriksaan fisik yang sesuai dengan masalah pasien · Menemukan tanda-tanda fisik dan membuat rekam medis dengan jelas dan benar · Mengidentifikasi. serta tindakan prevensi sesuai dengan kewenangannya Standar Kompetensi Dokter 21 . sosial serta riwayat lain yang relevan 2. Kompetensi Inti Melakukan prosedur klinis sesuai masalah. memilih dan menentukan pemeriksaan laboratorium yang sesuai · Melakukan pemeriksaan laboratorium dasar · Membuat permintaan pemeriksaan laboratorium penunjang · Menentukan pemeriksaan penunjang untuk tujuan penapisan penyakit · Memilih dan melakukan keterampilan terapeutik. kebutuhan pasien dan sesuai kewenangannya 2. riwayat penyakit saat ini. Area Keterampilan Klinis 2.2. Memperoleh dan mencatat informasi yang akurat serta penting tentang pasien dan keluarganya Menggali dan merekam dengan jelas keluhan-keluhan yang disampaikan (bila perlu disertai gambar). medis.

menjelaskan dan merancang penyelesaian masalah kesehatan secara ilmiah menurut ilmu kedokteran kesehatan mutakhir untuk mendapat hasil yang optimum. akibat yang ditimbulkan. poin-poin patogenesis dan patofisiologis. klinik. sesuai dengan kewenangannya · Mengevaluasi dan melakukan tindak lanjut 3. Melakukan prosedur kedaruratan klinis1 · Menentukan keadaan kedaruratan klinis · Memilih prosedur kedaruratan klinis sesuai kebutuhan pasien atau menetapkan rujukan · Melakukan prosedur kedaruratan klinis secara benar dan etis.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA 3. 3.1. Daftar Ketrampilan Klinis Standar Kompetensi Dokter 22 . Lulusan Dokter Mampu 1. · Menjelaskan faktor-faktor non biologis yang berpengaruh terhadap masalah kesehatan. perilaku.2. Kompetensi Inti Mengidentifikasi. Area Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran 3. dan ilmu kesehatan masyarakat sesuai dengan pelayanan kesehatan tingkat primer · Menjelaskan prinsip-prinsip ilmu kedokteran dasar yang berhubungan dengan terjadinya masalah kesehatan. · Menjelaskan masalah kesehatan baik secara molekular maupun selular melalui pemahaman mekanisme normal dalam tubuh. · Mengembangkan strategi untuk menghentikan sumber penyakit. beserta patogenesis dan patofisiologinya. serta risiko spesifik secara efektif · Menjelaskan tujuan pengobatan secara fisiologis dan molekular 1 Lihat Lampiran 3. Menerapkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip ilmu biomedik.

epidemiologis. · Menjelaskan alasan hasil diagnosis dengan mengacu pada evidence. Standar Kompetensi Dokter 23 . cara kerja obat. · Menjelaskan prinsip-prinsip pengambilan keputusan dalam mengelola masalah kesehatan 2. waktu paruh. dosis. Menentukan efektivitas suatu tindakan · Menjelaskan bahwa kelainan dipengaruhi oleh tindakan · Menjelaskan parameter dan indikator keberhasilan pengobatan. 3. atau perubahan perilaku · Menjelaskan pertimbangan pemilihan intervensi berdasarkan farmakologi. fisiologis.based medicine. diet. olah raga.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA · Menjelaskan berbagai pilihan yang mungkin dilakukan dalam penanganan pasien. gizi. ataupun perubahan tingkah laku · Menjelaskan indikasi pemberian obat. Merangkum dari interpretasi anamnesis. · Menjelaskan perlunya evaluasi lanjutan pada penanganan penyakit. fisiologi. pemeriksaan fisik. serta penerapannya pada keadaan klinik · Menjelaskan kemungkinan terjadinya interaksi obat dan efek samping · Menjelaskan manfaat terapi diet pada penanganan kasus tertentu · Menjelaskan perubahan proses patofisiologi setelah pengobatan. · Menjelaskan secara rasional dan ilmiah dalam menentukan penanganan penyakit baik klinik. uji laboratorium dan prosedur yang sesuai · Menjelaskan (patofisiologi atau terminologi lainnya) data klinik dan laboratorium untuk menentukan diagnosis pasti. farmakologis.

faktor psikologis. lengkap. keluarga. ataupun masyarakat secara komprehensif. berkesinambungan. keadaan sakit dan masalah pasien sebagai individu yang utuh. holistik. serta patofisiologi suatu penyakit · Mengidentifikasi berbagai pilihan cara pengelolaan yang sesuai penyakit pasien. koordinatif. Area Pengelolaan Masalah Kesehatan 4. sosial. Daftar Penyakit) · Memberi alasan strategi pengelolaan pasien yang dipilih berdasarkan patofisiologi. patogenesis. Mengelola penyakit. bagian dari keluarga dan masyarakat · Menginterpretasi data klinis dan merumuskannya menjadi diagnosis sementara dan diagnosis banding · Menjelaskan penyebab. dan keadaan pasien serta sesuai pilihan pasien · Melakukan konsultasi mengenai pasien bila perlu · Merujuk ke sejawat lain sesuai dengan Standar Pelayanan Medis yang berlaku. Daftar Penyakit) · Mengelola masalah kesehatan secara mandiri dan bertanggung jawab sesuai dengan tingkat kewenangannya (lihat lampiran 2. dan faktor-faktor lain yang sesuai · Membuat instruksi tertulis secara jelas.2. manfaat. farmakologi. dan kolaboratif dalam konteks pelayanan kesehatan tingkat primer 4. patogenesis.1. Lulusan Dokter Mampu 1. kendali biaya. dan dapat dibaca 24 Standar Kompetensi Dokter . tepat. · Memilih dan menerapkan strategi pengelolaan yang paling tepat berdasarkan prinsip kendali mutu.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA 4. Kompetensi Inti Mengelola masalah kesehatan pada individu. tanpa atau sesudah terapi awal (lihat lampiran 2.

Melakukan Pencegahan Penyakit dan Keadaan Sakit · Mengidentifikasi. memberikan alasan. tepat dosis. lengkap. menerapkan dan memantau strategi pencegahan sekunder yang tepat berkaitan dengan pasien dan keluarganya (Pencegahan sekunder adalah kegiatan penapisan untuk mengidentifikasi faktor risiko dari penyakit laten untuk memperlambat atau mencegah timbulnya penyakit. memantau.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA · Menulis resep obat secara rasional (tepat indikasi. komprehensif. mengenali kemungkinan adanya interaksi obat dan efek samping. memberi alasan. contoh pap smear. memonitor perkembangan penanganan. berkaitan dengan pasien. keadaan sakit atau permasalahannya (Pencegahan tertier adalah pencegahan yang digunakan untuk memperlambat progresi dari penyakitnya dan juga timbulnya komplikasi. olah raga) · Mengidentifikasi. dan dapat dibaca · Mengidentifikasi berbagai indikator keberhasilan pengobatan. dan lingkungan sosial sebagai faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya penyakit serta sebagai faktor yang mungkin berpengaruh terhadap pertimbangan terapi 2. mantous test) · Mengidentifikasi. jelas. memperbaiki dan mengubah terapi dengan tepat · Memprediksi. menerapkan dan memantau kegiatan strategi pencegahan primer yang tepat. serta sesuai kondisi pasien). tepat frekwensi dan cara pemberian. koordinatif. tepat obat. memberikan alasan. memperbaiki atau mengubah terapi dengan tepat · Menerapkan prinsip-prinsip pelayanan dokter keluarga secara holistik. anggota keluarga dan masyarakat (Pencegahan primer adalah mencegah timbulnya penyakit. misalnya imunisasi) Standar Kompetensi Dokter 25 . misalnya diet pada penderita DM. kolaboratif. menerapkan dan memantau strategi pencegahan tertier yang tepat berkaitan dengan penyakit pasien. pekerjaan. dan berkesinambungan dalam mengelola penyakit dan masalah pasien · Mengidentifikasi peran keluarga pasien.

pekerjaan.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA · Mengidentifikasi peran keluarga pasien. jenis kelamin. dan masyarakat · Bekerja sama dengan sekolah dalam mengembangkan “program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)” 4. Melaksanakan pendidikan kesehatan dalam rangka promosi kesehatan dan pencegahan penyakit · Mengidentifikasi kebutuhan perubahan perilaku dan modifikasi gaya hidup untuk promosi kesehatan pada berbagai kelompok umur. dan budaya · Merencanakan dan melaksanakan pendidikan kesehatan dalam rangka promosi kesehatan di tingkat individu. kultur. keluarga. ekonomi. etnis. sosial. dan lingkungan sosial sebagai faktor risiko terjadinya penyakit dan sebagai faktor yang mungkin berpengaruh terhadap pencegahan penyakit. dan faktor lingkungan yang berpengaruh pada suatu masalah kesehatan · Melibatkan masyarakat dalam mengembangkan solusi yang tepat bagi masalah kesehatan masyarakat 26 Standar Kompetensi Dokter . Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan · Memotivasi masyarakat agar mampu mengidentifikasi masalah kesehatan masyarakat · Menentukan insidensi dan prevalensi penyakit di masyarakat serta mengenali keterkaitan yang kompleks antara faktor psikologis. kebijakan. · Menunjukkan pemahaman bahwa upaya pencegahan penyakit sangat bergantung pada kerja sama tim dan kolaborasi dengan professional di bidang lain 3.

Mengelola sumber daya manusia dan sarana – prasarana secara efektif dan efisien dalam pelayanan kesehatan primer dengan pendekatan kedokteran keluarga · Menjalankan fungsi managerial (berperan sebagai pemimpin. dan pengambil keputusan) · Menerapkan manajemen mutu terpadu dalam pelayanan kesehatan primer dengan pendekatan kedokteran keluarga · Mengelola sumber daya manusia · Mengelola fasilitas. atau mengambil keputusan dalam kaitan dengan pelayanan kesehatan di tingkat primer Standar Kompetensi Dokter 27 .1. sarana dan prasarana 5. mengelola. Area Pengelolaan Informasi 5. menilai secara kritis kesahihan dan kemamputerapan informasi untuk menjelaskan dan menyelesaikan masalah.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA · Bekerja sama dengan profesi dan sektor lain dalam menyelesaikan masalah kesehatan dengan mempertimbangkan kebijakan kesehatan pemerintah. termasuk antisipasi terhadap timbulnya penyakit-penyakit baru · Menggerakkan masyarakat untuk berperan serta dalam intervensi kesehatan · Merencanakan dan mengimplementasikan intervensi kesehatan masyarakat. Kompetensi Inti Mengakses. pemberi informasi. serta menganalisis hasilnya · Melatih kader kesehatan dalam pendidikan kesehatan · Mengevaluasi efektivitas pendidikan kesehatan · Bekerja sama dengan masyarakat dalam menilai ketersediaan. pengadaan dan pemanfaatan pelayanan kesehatan masyarakat 5.

Memanfaatkan informasi kesehatan · Memasukkan dan menemukan kembali informasi dan database dalam praktik kedokteran secara efisien · Menjawab pertanyaan yang terkait dengan praktik kedokteran dengan menganalisis arsipnya · Membuat dan menggunakan rekam medis untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan 28 Standar Kompetensi Dokter .KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA 5. dengan memperhatikan secara khusus potensi untuk berkembang dan keterbatasannya 3.2. tindakan pencegahan dan promosi kesehatan. pemberian terapi. Lulusan Dokter Mampu 1. serta penjagaan. Memahami manfaat dan keterbatasan teknologi informasi · Menerapkan prinsip teori teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu penggunaannya. dan pemantauan status kesehatan pasien · Menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (internet) dengan baik · Menggunakan data dan bukti pengkajian ilmiah untuk menilai relevansi dan validitasnya · Menerapkan metode riset dan statistik untuk menilai kesahihan informasi ilmiah · Menerapkan keterampilan dasar pengelolaan informasi untuk menghimpun data relevan menjadi arsip pribadi · Menerapkan keterampilan dasar dalam menilai data untuk melakukan validasi informasi ilmiah secara sistematik · Meningkatkan kemampuan secara terus menerus dalam merangkum dan menyimpan arsip 2. Menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu penegakan diagnosis.

kesehatan. Area Mawas Diri dan Pengembangan Diri 6.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA 6. sejawat. dan kesejahteraan yang dapat mempengaruhi kemampuan profesinya · Belajar sepanjang hayat · Merencanakan.2. Kompetensi Inti · Melakukan praktik kedokteran dengan penuh kesadaran atas kemampuan dan keterbatasannya · Mengatasi masalah emosional. Menerapkan mawas diri · Menyadari kemampuan dan keterbatasan diri berkaitan dengan praktik kedokterannya dan berkonsultasi bila diperlukan · Mengenali dan mengatasi masalah emosional. personal. instruktur.1. personal dan masalah yang berkaitan dengan kesehatannya yang dapat mempengaruhi kemampuan profesinya · Menyesuaikan diri dengan tekanan yang dialami selama pendidikan dan praktik kedokteran · Menyadari peran hubungan interpersonal dalam lingkungan profesi dan pribadi · Mendengarkan secara akurat dan bereaksi sewajarnya atas kritik yang membangun dari pasien. menerapkan dan memantau perkembangan profesi secara berkesinambungan 6. Lulusan Dokter Mampu 1. dan penyelia · Mengelola umpan balik hasil kerja sebagai bagian dari pelatihan dan praktik · Mengenali nilai dan keyakinan diri yang sesuai dengan praktik kedokterannya Standar Kompetensi Dokter 29 .

1. Mempraktikkan belajar sepanjang hayat · Mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan yang baru.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA 2. merancang. Mengembangkan pengetahuan baru · Mengidentifikasi kesenjangan dari ilmu pengetahuan yang sudah ada dan mengembangkannya menjadi pertanyaan penelitian yang tepat · Merencanakan. dan mengimplementasikan penelitian untuk menemukan jawaban dari pertanyaan penelitian. Moral. Medikolegal dan Profesionalisme serta Keselamatan Pasien 7. Kompetensi Inti · Berperilaku professional dalam praktik kedokteran serta mendukung kebijakan kesehatan 30 Standar Kompetensi Dokter . · Menuliskan hasil penelitian sesuai dengan kaidah artikel ilmiah · Membuat presentasi ilmiah dari hasil penelitiannya 7. · Berperan aktif dalam Program Pendidikan dan Pelatihan Kedokteran Berkelanjutan (PPPKB) dan pengalaman belajar lainnya · Menunjukkan sikap kritis terhadap praktik kedokteran berbasis bukti (Evidence-Based Medicine) · Mengambil keputusan apakah akan memanfaatkan informasi atau evidence untuk penanganan pasien dan justifikasi alasan keputusan yang diambil · Menanggapi secara kritis literatur kedokteran dan relevansinya terhadap pasiennya · Menyadari kinerja professionalitas diri dan mengidentifikasi kebutuhan belajarnya 3. Area Etika.

Memiliki Sikap profesional · Menunjukkan sikap yang sesuai dengan Kode Etik Dokter Indonesia · Menjaga kerahasiaan dan kepercayaan pasien · Menunjukkan kepercayaan dan saling menghormati dalam hubungan dokter pasien · Menunjukkan rasa empati dengan pendekatan yang menyeluruh · Mempertimbangkan masalah pembiayaan dan hambatan lain dalam memberikan pelayanan kesehatan serta dampaknya · Mempertimbangkan aspek etis dalam penanganan pasien sesuai standar profesi · Mengenal alternatif dalam menghadapi pilihan etik yang sulit · Menganalisis secara sistematik dan mempertahankan pilihan etik dalam pengobatan setiap individu pasien 2. Lulusan Dokter Mampu 1. Berperilaku profesional dalam bekerja sama · Menghormati setiap orang tanpa membedakan status sosial · Menunjukkan pengakuan bahwa tiap individu mempunyai kontribusi dan peran yang berharga. tanpa memandang status sosial · Berperan serta dalam kegiatan yang memerlukan kerja sama dengan para petugas kesehatan lainnya · Mengenali dan berusaha menjadi penengah ketika terjadi konflik · Memberikan tanggapan secara konstruktif terhadap masukan dari orang lain Standar Kompetensi Dokter 31 .15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA · Bermoral dan beretika serta memahami isu-isu etik maupun aspek medikolegal dalam praktik kedokteran · Menerapkan program keselamatan pasien 7.2.

orientasi seksual. dan budaya dari pasien dan sejawat · Memahami heterogenitas persepsi yang berkaitan dengan usia. etnis. kecacatan dan status sosial ekonomi 5.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA · Mempertimbangkan aspek etis dan moral dalam hubungan dengan petugas kesehatan lain. gender. serta bertindak secara professional · Mengenali dan bertindak sewajarnya saat kolega melakukan suatu tindakan yang tidak profesional 3. gaya hidup. Berperan sebagai anggota Tim Pelayanan Kesehatan yang Profesional · Berperan dalam pengelolaan masalah pasien dan menerapkan nilai-nilai profesionalisme · Bekerja dalam berbagai tim pelayanan kesehatan secara efektif · Menghargai peran dan pendapat berbagai profesi kesehatan · Berperan sebagai manager baik dalam praktik pribadi maupun dalam sistem pelayanan kesehatan · Menyadari profesi medis yang mempunyai peran di masyarakat dan dapat melakukan suatu perubahan · Mampu mengatasi perilaku yang tidak profesional dari anggota tim pelayanan kesehatan lain 4. Melakukan praktik kedokteran dalam masyarakat multikultural di Indonesia · Menghargai perbedaan karakter individu. Aspek Medikolegal dalam praktik kedokteran Memahami dan menerima tanggung jawab hukum berkaitan dengan : · Hak asasi manusia · Resep obat 32 Standar Kompetensi Dokter .

Penggunaan metoda peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien 5. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan 4. Libatkan dan berkomunikasi dengan pasien 6. Kembangkan sistem pelaporan 5. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran · Memahami peran Konsil Kedokteran Indonesia sebagai badan yang mengatur praktik kedokteran · Menentukan. Mendidik staf tentang keselamatan pasien 7. Integrasikan aktifitas pengelolaan risiko 4. sakit atau surat kematian · Proses di pengadilan · Memahami UU RI No. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien 6. Komunikasi yang merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien · Menerapkan 7 (tujuh) langkah keselamatan pasien : 1. Mendidik pasien dan keluarga 3. Hak pasien 2.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA · Penyalahgunaan tindakan fisik dan seksual · Kode Etik Kedokteran Indonesia · Pembuatan surat keterangan sehat. Bangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien 2. Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien 7. Memimpin dan mendukung staf 3. menyatakan dan menganalisis segi etika dalam kebijakan kesehatan 6. Aspek keselamatan pasien dalam praktik kedokteran · Menerapkan standar keselamatan pasien : 1. Cegah cidera melalui implementasi sistem keselamatan pasien Standar Kompetensi Dokter 33 .

34 Standar Kompetensi Dokter .

. No. Standar Kompetensi Dokter 35 . 2. Rencana Pembangunanan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010. (2002) Global minimum essential requirements in medical education. 77. Jakarta: Departemen Kesehatan Departemen Kesehatan (2004). M. AMM. Sistem Kesehatan Nasional. Jakarta: Depdiknas Epstein and Hundert (2001) in Kruithoff. Jakarta: Departemen Kesehatan Departemen Kesehatan (2005).5. Jakarta: Departemen Kesehatan. (2006) Is PBL compatible with Competency-based Curriculum? A paper presented in the National Scientific Meeting on Medical Education. R.. and Martin. 130–135 Departemen Kesehatan (1999).D. Huisjes. C. Vol. Vol. Denpasar 5-7 June 2006... K. Core Commitee. S. 2002. (2002) Shifting Paradigms: From Flexner to Competencies. Departemen Pendidikan (2002). 24. HJ. (2001) Blue Print 2001: Training of Doctors in the Netherlands – Adjusted objectives of undergraduate medical education in the Netherlands. Metz. Institute for International Medical Education.. Englander. Rencana Strategis Departemen Kesehatan 20052009.. Medical Teacher. pp. Tomorrows Doctors.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA DAFTAR KEPUSTAKAAN Carraccio. Unpublished. Verbeek-Weel. SK Mendiknas No. Wolfsthal. C. No. Ferentz. Academic Medicine. JCM. 045/U/2002 tentang Kurikulum Pendidikan Tinggi. General Medical Council (2003).

36 Standar Kompetensi Dokter .

keluhan atau gejala yang akan dijumpai di pelayanan kesehatan primer. serta karakteristik pasien. lulusan dokter diharapkan memiliki kemampuan penyelesaian masalah yang lebih baik. Melalui penelusuran riwayat penyakit. karena merupakan masalah dan keluhan yang paling sering dijumpai pada tingkat pelayanan kesehatan primer. Daftar masalah individu perlu dikuasai oleh lulusan dokter. mahasiswa perlu dipaparkan pada berbagai masalah. Daftar ini berisikan masalah.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Lampiran 1 Daftar Masalah (Keluhan/Gejala) Dalam melaksanakan praktik kedokteran. gejala maupun hal-hal yang membuat individu sebagai pasien atau klien mendatangi dokter atau institusi pelayanan kesehatan. dokter berangkat dari keluhan atau masalah pasien atau masalah klien. Daftar masalah individu berisikan keluhan. Semakin banyak terpapar oleh berbagai jenis masalah. serta perlu dilatih bagaimana menyelesaikan masalah tersebut. yaitu daftar masalah individu dan daftar masalah komunitas. keluhan atau gejala yang banyak dijumpai pada tingkat pelayanan kesehatan primer berdasarkan alasan yang membawa pasien atau klien mendatangi dokter atau pelayanan kesehatan. keluarga dan masyarakat. pemeriksaan fisik. Daftar ini tidak menunjukkan urutan prioritas masalah kesehatan. pemeriksaan tambahan. keluarga dan lingkungannya. keluhan atau gejala tersebut. dokter melakukan analisis terhadap masalah kesehatan tersebut untuk kemudian menentukan tindakan dalam rangka penyelesaian masalah tersebut. A. Daftar masalah komunitas berisikan daftar masalah yang dirasakan oleh masyarakat di sekitar tempat dokter praktik dan berpotensi dapat menimbulkan masalah kesehatan di tingkat individu. Selama pendidikan dokter. Daftar Masalah Individu Masalah yang sering dijumpai Demam Kejang Diare Batuk sesak napas sakit tenggorok sakit kepala Sakit dada Gatal-gatal Nyeri perut Standar Kompetensi Dokter 37 . Daftar masalah ini dibagi menjadi dua.

darah) Berdebar-debar ASI tidak keluar Benjolan payudara Luka puting Payudara mengencang Retraksi kulit dan puting Benjolan perut 38 Standar Kompetensi Dokter .15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Perut kembung Muntah Sulit Buang Air Besar atau sembelit Nyeri sendi Sakit punggung Pusing Kulit kuning Kulit bersisik Kulit merah dan nyeri Kulit berminyak Luka bakar Benjolan leher Wajah kaku Mata merah Mata gatal Mata berair Mata nyeri Belekan Gangguan penglihatan Timbilan Kelilipan Sakit telinga Kopoken (telinga bernanah) Tuli Telinga gatal Pilek (ingusan) Mimisan Bersin-bersin Gangguan penciuman Sakit dan sulit menelan Mulut kering Bau mulut Sakit gigi Sariawan Bibir pecah-pecah Bibir sumbing Batuk (kering. berdahak.

rasa terbakar) Gangguan menstruasi Gangguan menjelang menopause Gangguan menopause Standar Kompetensi Dokter 39 . darah) Ambein Nyeri saat BAB Gatal daerah anus Perdarahan saat BAB Nyeri daerah anus Nyeri saat buang air kecil Anyang-anyangan Sering buang air kecil pada malam hari Kencing mengedan Kencing tidak puas Retensi urin Inkontinensia urin Akhir kencing menetes Pancaran kencing menurun Kencing bercabang Waktu kencing preputium melembung/ballooning Frekuensi urin Disuria Nokturia Urgensi Stranguria Kencing merah (hematuria) Kencing campur udara (pnematuria) Faecaluria Darah pada muara uretra Hemospermia Anuria Poliuria Oliguria Perubahan warna urin Nyeri buah zakar Buah zakar tidak teraba Disfungsi ereksi Keputihan Vagina (gatal. nanah.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Perut kram Sendawa Cegukan Nyeri ulu hati Nyeri sesudah makan Kelainan tinja (lendir. nyeri.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Patah tulang Nyeri sendi Sendi (kaku. kelainan bentuk) Nyeri pinggang Nyeri otot Gerakan terbatas Bengkak pada kaki dan tangan Kaku pada pagi hari Pusing dan pusing sebelah Hilang kesadaran Epilepsi Kejang Kesemutan Gerakan tidak teratur Gangguan gerak dan koordinasi Gangguan otot Gangguan jalan Lumpuh Gangguan bicara Pelupa Perubahan perilaku (termasuk perilaku agresif) Stress Depresi Cemas Susah tidur Pemarah Ngamuk Penurunan fungsi berpikir Perubahan emosi dan mood Gangguan fungsi seksual Pelecehan seksual Perkosaan Tanda-tanda kehamilan Hiperemesis Nyeri perut waktu hamil Perdarahan vagina waktu hamil Anyang-anyangan waktu hamil Kaki bengkak waktu hamil Kontrasepsi Sulit punya anak Kehamilan tidak diinginkan Persalinan prematur Ketuban pecah dini Berat lahir rendah 40 Standar Kompetensi Dokter . bengkak.

Angka kematian bayi Gizi .Sosial ekonomi Standar Kompetensi Dokter 41 .Gizi buruk . pil.Kontrasepsi mantap (suntik.Kesehatan reproduksi .Koordinasi di tingkat lapangan . Daftar Masalah Komunitas Masalah yang sering dijumpai Keluarga Berencana .15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Kurang gizi pada balita Tidak nafsu makan pada balita Lecet pada pantat Cengeng Gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada balita Kecelakaan pada balita Kejang demam Penyalahgunaan obat Gangguan belajar Tidak mau minum obat pada anak-anak Kelelahan Pingsan Perdarahan per vaginam Perdarahan trauma Perdarahan spontan Muntah darah Batuk darah Penurunan berat badan drastis Obesitas Gangguan komunikasi Nyeri dada Nyeri punggung Discharge urethra Gangguan perilaku B.Angka kematian ibu . dst) Kesehatan Ibu dan Anak .

Medical supplies kurang . tanah longsor.Revitalitasi puskesmas .Polindes . .New emerging disease Imunisasi .Disiplin rendah . kebakaran hutan.Revitalisasi posyandu .Pengobatan tidak rasional .Polio . JPKM.Regulasi Pelayanan Kesehatan .Gaji rendah .) * Bencana buatan manusia (limbah.Pembiayaan pelayanan kesehatan (bantuan langsung tunai.Tidak berizin 42 Standar Kompetensi Dokter . asuransi kesehatan.Kualitas SDM terbatas .Informasi ilmiah terbatas . banjir lumpur panas) * Sanitasi * Pariwisata (travel medicine) Lain-lain Medical error Infeksi nosokomial Medical negligence Kejadian tidak diharapkan (KTD) Keselamatan pasien Masalah-masalah organisasi pelayanan kesehatan . dan sebagainya).Hepatitis B Pelayanan Kesehatan . Sistem belum berjalan dengan baik Kesehatan Lingkungan * Bencana alam (banjir.Flu burung .KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Penyakit-penyakit diare dan penyakit infeksi lain .Dana terbatas .Tidak ada koordinasi yang baik antara puskesmas dengan rumah sakit.Tidak melaporkan penyakit KLB .HIV Aids . gempa.Data terbatas (kurang lengkap) .

Tingkat kemampuan yang diharapkan dicapai pada akhir pendidikan dokter Tingkat Kemampuan 1 Dapat mengenali dan menempatkan gambaran-gambaran klinik sesuai penyakit ini ketika membaca literatur. Apabila setelah lulus. ditetapkan tingkat kemampuan yang diharapkan akan dicapai di akhir pendidikan dokter berdasarkan perkiraan kewenangan yang akan diberikan ketika bekerja di tingkat pelayanan kesehatan primer. Dokter mampu merujuk pasien secepatnya ke spesialis yang relevan dan mampu menindaklanjuti sesudahnya. Oleh karena itu. Tingkat Kemampuan 2 Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaanpemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya : pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-ray). Dokter dapat memutuskan dan memberi terapi pendahuluan. Dalam korespondensi. Dokter segera merujuk. membuat diagnosis yang tepat. Standar Kompetensi Dokter 43 . Berikut ini tingkat kemampuan yang diharapkan akan dicapai di akhir pendidikan. dan tahu bagaimana mendapatkan informasi lebih lanjut. keluarga dan masyarakat. Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaanpemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya : pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-ray). Bila menghadapi pasien dengan gambaran klinik ini dan menduga penyakitnya. serta merujuk ke spesialis yang relevan (bukan kasus gawat darurat).15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Lampiran 2 Daftar Penyakit Daftar penyakit merupakan penyakit-penyakit yang dipilih menurut beban penyakit yang timbul berdasarkan perkiraan data kesakitan. Tingkat Kemampuan 3 3a. dokter akan bekerja di daerah yang terpencil dengan kondisi pelayanan kesehatan yang minimal atau di daerah khusus sehingga membutuhkan kemampuan yang lebih. pada setiap penyakit yang dipilih. data kematian serta case fatality rate di Indonesia pada tingkat pelayanan primer. Level ini mengindikasikan overview level. organ dan tahapan usia. sesuai dengan kondisi rata-rata di Indonesia. Lulusan Dokter yang akan bekerja di tingkat pelayanan primer harus mempunyai tingkat kemampuan yang memadai agar mampu merujuk. memberi penanganan awal atau memberi penanganan tuntas. Daftar penyakit dikelompokkan menurut sistem. ia dapat mengenal gambaran klinik ini. diharapkan pihak yang berwenang dapat memberikan pembekalan sebelum penempatan dokter. tingkat keseriusan problem yang ditimbulkan dan efeknya terhadap individu.

Tingkat Kemampuan 4 Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaanpemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya : pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-ray). Dokter dapat memutuskan dan mampu menangani problem itu secara mandiri hingga tuntas. Dokter dapat memutuskan dan memberi terapi pendahuluan. Cardiovascular Cardiac disorders Angina pectoris Unstable angina Myocardial Infarction Imminent Myocardial Infarction Cardiac aneurysm Heart failure Cardiorespiratory arrest Mitral stenosis Mitral regurgitation Aortic stenosis Aortic regurgitation Other valvular heart diseases VSD ASD Sinus tachycardia Supraventricular tachycardia Atrial fibrillation Atrial flutter Supraventricular extrasystole Ventricular extrasystole BBB Other arrhythmias Endocarditis Pericarditis Myocarditis Cardiomyopathy 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 44 Standar Kompetensi Dokter . serta merujuk ke spesialis yang relevan (kasus gawat darurat).KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA 3b. Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaanpemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya : pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-ray).

15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Aorta-arteries disorders Essential hypertension Secondary hypertension Pulmonary hypertension Raynaud's disease Arterial thrombosis Coarctation of the aorta Burger's disease Arterial embolism Atherosclerosis Subclavian steal syndrome Aortic aneurysm Dissecting aneurysm Claudicatio Cardiogenic shock Septic shock Hypovolemic shock Veins Varices (primary. primary and secondary Respiratory 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 Uncomplicated Pulmonary Tuberculosis TBC with HIV TBC with pneumothorax Acute Bronchitis Bronchiolitis Bronchial asthma Status asmaticus Lung emphysema Atelectasis 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Standar Kompetensi Dokter 45 . secondary) Obstructed venous return Deep vein thrombosis Thrombophlebitis Lymph vessels Lymphangitis Lymphadenitis Lymphedema.

herpes) Glossitis Esophagus Esophageal atresia Achalasia Corrosive lesions of esophageus Esophageal varices Esophageal rupture Reflux esophaghitis Diaphragma Diaphramatic hernia Hiatus hernia 1 1 2 2 3A 3A 3B 3B 4 4 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 46 Standar Kompetensi Dokter .KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Bronchiectasis COPD SARS Pneumonia Avian influenzae Lung abscess Pulmonary embolism Lung infarction Pleurisy TBC Pleurisy Cancer Pleurisy Lupus Pneumothorax Cystic fibrosis Aspiration pneumonia Gastrointestinal 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Mouth Cleft lip and palate Micrognatia and macrognatia Leukoplakia Candidiasis Mouth ulcers (aphthous.

15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Abdominal wall and herniae Inguinal hernia. direct and indirect Femoral hernia – Bedah Epigastric hernia Incisional hernia Umbilical hernia Acute abdomen Peritonitis Abscess in pouch of Douglas Ileus Perforation Salphingitis Acute appendicitis Appendicular abscess Mesenteric lymphadenitis Stomach and duodenum Gastritis Gastric/duodenal ulcer Gastrointestinal bleeding Zollinger-ellison syndrome Mallory-weiss syndrome Gastroenteritis Liver Fatty liver Hepatitis A Uncomplicated Hepatitis B Active Hepatitis C Cirrhosis hepatis Amoebic liver abscess Liver failure 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 Standar Kompetensi Dokter 47 .

omphalocoele-gastroschisis Malrotation Enteritis Colon Irritable bowel syndrome Necrotizing enterocolitis Diverticulosis/diverticulitis Colitis Rectal.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Gall bladder. ileum Intestinal atresia Meckel's diverticulum Umbilical fistula. anal prolapse Proctitis Hemorrhoids (peri)anal abscess Fistula Anal fissure Pedriatrics Esophageal atresia Intestinal atresia Anal atresia Diapragmatic hernia (congenital) Pyloric stenosis Gastro-esophageal reflux Gastro-enteritis Gastro-enteritis dengan dehidrasi Worms Dehydration Malabsorbsion Food intolerance 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 48 Standar Kompetensi Dokter . bile duct and pancreas Chole(docho)lithiasis Acute cholecystitis Hydrops of gall bladder Empyema of gall bladder Pancreatitis Jejunum.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Acute abdomen Ileus Peritonitis tuberculosis Peritonitis pancreatitis Intussussception Malrotation Umbilical hernia Meckell's diverticulum Crohn's disease Ulcerative colitis Hirschsprung's disease Biliary atresia Hepatitis Reye's syndrome Cirrhosis of the liver Food allergy Nefrourologi 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Acute renal failure Chronic renal failure Nephrotic syndrome Acute glomerulonephritis Chronic glomerulonephritis Interstitial nephritis Renal colic Urinary stone diseases or urinary calculi without colic Polycystic kidneys symptomatic Urinary tract infection Acute tubular necrosis Horse shoe kidney Uncomplicated Pyelonephritis Urinary incontinence Nocturnal and diurnal enuresis Prostatitis Male genitalia Hypospadia Epispadia Undescended testes/cryptorchidism 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 Standar Kompetensi Dokter 49 .

uretero-vaginal.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Retractile testes Torsion of testis Epididymitis Spermatocele Varicocele Hydrocele Phimosis Paraphimosis Ruptur uretra Ruptur kandung kencing Ruptur ginjal Striktura uretra Priapismus Penyakit peironi Ekstrophia vesicae Infertility Erection disorders Ejaculation disorders 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Vulva Vulvitis Dystrophy of vulva Cyst of bartholin. rectovaginal fistula) Foreign body 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 50 Standar Kompetensi Dokter . abscess of bartholin's gland Abscess of hair follicle or sebaceous gland Condylomata acuminata 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 Vagina Congenital malformations Vaginitis Bacterial vaginosis Cyst of gartner Cystocoele Rectocoele Enterocoele Fistula (vesico-vaginal.

ovarian abscess Uterine bleeding at ovulation 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Breasts Inflammations Mastopathy Hematology 1 1 2 2 3A 3A 3B 3B 4 4 Aplastic/hypoplastic anemia Iron deficiency anemia Macrocytic anemia Hemolytic anemia Hemoglobinopathy Anemia associated with chronic diseases Polycytemia Thrombocytopenia Thrombocytosis Hemophilia Von willebrand's disease DIC 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Standar Kompetensi Dokter 51 .KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Cervix Cervicitis Polyps Nabothian cyst 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 Body of the uterus Congenital malformations Uterine prolaps Hematocolpos Endometriosis 1 1 1 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 Adnexae Salpingitis Adhesions Ovarian cyst Polycystic ovarian disease Carcinoma of ovary Ectopic pregnancy Torsion tumour / ovarian cyst Rupture of ovarian cyst / tubo .

15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Agranulocytosis Haemorheologic disorders Antiphospholipid syndrome Immunology 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 Autoimmune rheumatological and autoimmune orthopedic disorders Uncomplicated SLE Complicated SLE Scleroderma Polyarteritis nodosa Vasculitis Lupus Polymyalgia rheumatica Rheumatoid arthritis Immunological/allergic reactions Anaphylactic reaction Rheumatic fever Juvenile chronic arthritis Henoch-schoenlein purpura Erythema multiforme Atopy Steven johnson's syndrome Transplantation immunology Immunodeficiency -HIV Genetics/newborn/chromossal disoerder) 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Genetics/congenital disorders Down's syndrome Turner's syndrome Klinefelter's syndrome Gonadal xy-dysgenesis Testicular feminization Fragile x syndrome PKU (Phenyl Ketonuria) Galactosemia 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 52 Standar Kompetensi Dokter .

metabolic disorder and nutrition 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Endocrinological disorders IDDM NIDDM Complication of DM (acute and chronic) Hypoglycemia Diabetes incipidus 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 Standar Kompetensi Dokter 53 .KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Glycogen storage disease Other storage diseases Spina bifida Anencephaly Hydrocephalus Cleft palate and/or lip Marfan's syndrome Disorders of newborns Hypothermia Bacteraemia and septicemia Respiratory stress syndrome Bronchopulmonary dysplasia Aspiration pneumonia Pneumo thorax Apnea attacks Jaundice of newborn Severe neonatal jaundice (kern icterus) Hypoglycemia Child of diabetic mother Neonatal convulsion Necrotizing enterocolitis Retinopathy of prematurity Anemia Rhesus incompatibility Blood group incompatibility Vitamine k defficiency Cerebral hemorrhage Conjuctivitis Infection of umbilicus Sudden infant death syndrome (sids) Endocrine.

gigantism Growth hormone deficiency Hyperparathyroidism Hypoparathyroidism Hyperthyroidism Hypothyroidism Thyroiditis Cushing's disease Adrenal cortex failure Primary hyperaldosteroidism Phaeochromocytoma Precocious puberty Testicular feminization syndrome Hypogonadism Adrenogenital syndrome Addison's disease Multiple endocrinological neoplasia (men syndrome) Tumor with ectopic production of hormone Nutritional deficiency Marasmus Kwashiorkor Vitamin deficiencies Error of metabolism Hyperlipoproteinemia Porphyria Gout Obesity 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 1 1 1 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 Central and peripheral neural system Loss of consciousness Metabolic Encephalopathy Comatous Brain death 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 54 Standar Kompetensi Dokter .15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Acromegaly.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Headache Tension headache Migraine Cranial arteritis Trigeminal neuralgia Cluster headache Cardio Vascular Diseases TIA Cerebral infarction Intracerebral hematoma Subarachnoid hemmorhage Hypertensive encephalopathy 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 1 1 1 1 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 Cranial nerve and brain stem lesions Bels’ palsy Brain stem lesions 1 1 2 2 3A 3A 3B 3B 4 4 Disorder of vestibular system Menier's disease Benign paroxysmal positional vertigo Vertigo Central 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 Memory deficit Vascular dementia Alzheimer's disease Pick's disease 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 Movement Disorders Parkinson's disease Tremor Secondary parkinsonism Huntington disease Chorea sydenham Dystonia Hemifacial spasm 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 Standar Kompetensi Dokter 55 .

15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Epilepsy and other seizures Focal epilepsy Generalized epilepsy Absence seizure Status epilepticus Narcolepsy Sleep apnea syndrome Demyelination diseases Multiple sclerosis Optic neuromyelitis (Devic's disease) Diseases of spine and spinal cord Amyotrphic lateral sclerosis (ALS) Complete spinal transection Brown sequard syndrome Cauda equina syndrome Neurogenic bladder Syringomyelia Myelopathy Dorsal root syndrome Medulla compression acute Radicular syndrome/HNP Spondilitis TB Neuromuscular diseases and neuropathy Horner syndrome Carpal tunnel syndrome Tarsal tunnel syndrome Neuropathy Peroneal palsy Guillain Barre syndrome Myasthenia gravis Polymyositis Duchenne muscular dystrophy Neurofibromatosis (von reckling hausen disease) 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 1 1 2 2 3A 3A 3B 3B 4 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 56 Standar Kompetensi Dokter .

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Infectious diseases Meningitis Encephalitis Malaria cerebral Tetanus Cerebral Toxoplasmosis Tuberculoma Brain abscess HIV AIDS Congenital disorders Hydrocephalus Spina bifida Phenyl ketonuria Pediatrics neurologic disorders Meningitis Encephalitis Cerebral abscess Epilepsi Infantile spasms Petit mal epilepsy Febrile convulsion Duchene muscular dystrophy Poliomyelitis Cerebral palsy Kernicterus Mental Retardation Autism ADHD Neurobehaviour Disorders Amnesia Pasca trauma Afasia MCI (Mild Cognitive Impairment) VCI (Vascular Cognitive Impairment) 1 2 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 38 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Standar Kompetensi Dokter 57 .

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA

Trauma CNS Epidural hematom Subdural hematom SAH (Sub Arachnoid Hemorrhage) Trauma Medula Spinalis Tumor CNS Tumor primer Tumor sekunder Pain Nyeri Nosiseptif Nyeri neuropatik Gangguan visual Buta mendadak Diplopia Visual field disorders
Ear, nose and throat

1 1 1 1

2 2 2 2

3A 3A 3A 3A

3B 3B 3B 3B

4 4 4 4

1

2

3A

3B 3B

4

1 1

2 2

3A 3A

3B 3B

4 4

1 1 1

2 2 2

3A 3A 3A

3B 3B 3B

4 4 4

Ears, hearing and equilibrium Inflammation of auricle Herpes zoster oticus Pre-auricular fistula Foreign body in ear Wax (serumen) Otitis externa Acute otitis media Otitis media serous (glue ear) Chronic otitis media Perforated tympanic membrane Bullous myringitis Otosclerosis Tymphanosclerosis Cholesteatoma Presbyacusis Mastoiditis Labyrinthitis Benign postural vertigo Motion sickness

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2

3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A

3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B

4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4

58

Standar Kompetensi Dokter

15

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA

Meniere's diseases Vestibular neuritis Acoustic neuroma Acute acoustic trauma Ear, other trauma Perceptive hearing loss Conductive hearing loss Congenital deafness Facial palsy or paralysis Noses and sinuses Epistaxis Furuncle of nose Acute rhinitis (common cold) Vasomotor rhinitis Allergic rhinitis Chronic rhinitis Rhinitis medicamentosa Acute frontal sinusitis Acute maxillary sinusitis Acute ethmoiditis Chronic sinusitis Deviation of nasal septum Choanal atresia Foreign body in nose

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2

3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A

3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B ? 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B

4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4

Larynx and pharynx Pharyangitis Tonsilitis Hypertrophy of adenoids Pseudo-croop acute epiglotitis

1 1 1 1

2 2 2 2

3A 3A 3A 3A

3B 3B 3B 3B

4 4 4 4

Neck Medial and lateral branchial cyst and fistula Cystic hygroma Torticollis

1 1 1

2 2 2

3A 3A 3A

3B 3B 3B

Standar Kompetensi Dokter

59

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA

Thyroid glad and parathyroid glands Cyst Goitre Hyperthyroidism Hyperparathyroidism Hypoparathyroidism

1 1 1 1 1

2 2 2 2 2

3A 3A 3A 3A 3A

3B 3B 3B 3B 3B

4 4 4 4 4

Trachea Aspiration Foreign bodies Tracheitis
Eye

1 1 1

2 2 2

3A 3A 3A

3B 3B 3B

4 4 4

Conjunctiva Conjunctiva, foreign body Conjunctivitis, allergy Conjunctivitis, viral Conjunctivitis, bacterial Pterygium Subconjunctival haemorrhage

1 1 1 1 1 1

2 2 2 2 2 2

3A 3A 3A 3A 3A 3A

3B 3B 3B 3B 3B 3B

4 4 4 4 4 4

Eyelids Blepharitis Hordeolum Chalazion Eyelid laceration Entropion Trichiasis Lagophtalmos Epicanthus Ptosis Eyelid retraction Xanthelasma Lacrimal apparatus Dacryoadenitis Dacryocystitis Dacryostenosis Lacrimal duct, laceration

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2

3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A

3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B

4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4

1 1 1 1

2 2 2 2

3A 3A 3A 3A

3B 3B 3B 3B

4 4 4 4

60

Standar Kompetensi Dokter

15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Sclera Scleritis/episcleritis Cornea Erosion Cornea. foreign body Burn Keratitis Kerato-conjunctivitis sicca Corneal oedema Corneal dystrophy Keratoconus Eyeball Endophtalmitis Microphtalmos Buphtalmos Anterior chamber Hyphaema Hypopyon Iris and ciliary body Iridocyclitis. iritis Tumour of iris Glaucoma Glaucoma. congenital Simple glaucoma Acute glaucoma Secondary glaucoma Lens Cataract Aphakia Psudoaphakia (artificial lens) Lens dislocation 1 2 3A 3B 4 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 1 1 2 2 3A 3A 3B 3B 4 4 1 1 2 2 3A 3A 3B 3B 4 4 1 1 1 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 1 1 1 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 Standar Kompetensi Dokter 61 .

vessel occlusion or bleeding Degeneration of macula. age dependent Retinopathy of prematurity (rop) Diabetic retinopathy Hypertensive retinopathy Choroid Chorioretinitis Vitreous fluid Vitreous haemmorrhage Optic disc and optic nerve Optic disc cupping Papilloedema Optic atrophy Optic neuropathy Optic neuritis 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 1 2 3A 3B 4 1 2 3A 3B 4 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 62 Standar Kompetensi Dokter . bitemporal and homonymous Loss of vision and blindness Retina Retinal detachment Retina.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Refraction and accommodation Hypermetropia Myopia Astigmatism Presbyopia Anisometropia Vision and visual fields Amblyopia Diplopia Suppresion Night-blindness Scotoma Hemianopia.

15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Skin Eczematous dermatitis Contact dermatitis irritant Contact dermatitis allergica Atopic dermatitis (kecuali recalcitrant) Nummular dermatitis Lichen simplex chronicus Napkin eczema 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 Erythro-squamous lesions Psoriasis vulgaris Plamoplantar pustulosis Seborrheic dermatitis Pityriasis rosea Disorders of skin eccrine and sebaceous glads Acne vulgaris Rosacea Hidradenitis suppurativa Perioral dermatitis Miliaria 1 1 1 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 Viral skin infections Verruca vulgaris Condyloma accuminata Molluscum contagiosum Herpes zoster 1 1 1 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 Bacterial infections Impetigo Ulcerative impetigo (ecthyma) Superficial folliculitis Furuncle. carbuncle Erythrasma Erysipelas 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 Standar Kompetensi Dokter 63 .

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Superficial fungal infections Tinea capitis Tinea barbae Tinea faciale Tinea corporis Tinea manus Tinea unguinum Tinea cruris Tinea pedis Tinea versicolor Mucocutaneous candidiasis 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Insect bites and infestations Pediculosis capitis Pediculosis pubis Scabies Insect bites reactions 1 1 1 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 Vesicobullous diseases Pemphigus vulgaris Pemphigoid Dermatitis herpetiformis Toxic epidermal necrolysis Stevens-johnson's disease 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 Allergic skin diseases Urticaria Angioedema Allergic vasculitis 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 Autoimmune diseases Dermatomyositis Systemic sclerosis Scleroderma/morphea Lupus erythematosus 1 1 1 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 64 Standar Kompetensi Dokter .

15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Disorders of hairs Alopecia areata Androgenic alopecia Trichotillomania Telogen eflluvium 1 1 1 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 Disorders of keratinizations Ichthyosis vulgaris Other nonifectious inflammatory skin disorders Lichen planus Granuloma annulare Morphea Lichen sclerosus er atrphicus 1 2 3A 3B 4 1 1 1 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 Drug reactions Exanthematous drug eruption Fixed drug eruption Pigmentary disorders Vitiligo Melasma Albinism Post-inflammatory hyperpigmentation Post-inflammatory hypopigmentation 1 1 2 2 3A 3A 3B 3B 4 4 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 Infectious and tropical diseases Localized infections and abscesses Infections of the hand Paronychia Suppurative tenosynovitis Human bite Infections of the head and neck Suppurative parotitis Suppurative cervical adenitis Peritonsilar abscess Ludwig's angina Bezold abscess 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 Standar Kompetensi Dokter 65 .

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Gram-positive cocci Staphylococcal and streptococcal infections Superficial infections. carbuncle. hidradenitis suppurativa.THT Rheumatic heart disease Gram-negative cocci Meningococcal infection (neuro) Meningitis (neuro) Nasopharyngitis Gonococcal infections Gonorrhea Gram-negative bacilli Urinary tract infection (UTI) Typhoid fever Dysentry bacilli Cholera Pertussis Plague (Pes) Chancroid Toxin producing bacteria Diphteria (THT) Tetanus (pediatri) Mycobacterial diseases Tuberculosis kutis Leprosy Lepra reaction 1 2 3A 3B 4 1 1 2 2 3A 3A 3B 3B 4 4 1 1 1 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 66 Standar Kompetensi Dokter . mastoiditis. including folliculitis. otitis media. pertonsilar abscess . Osteomyelitis Staphylococcal pneumonia Staphylococcal bacteremia Streptococcal infection Rheumatic fever Sinusitis.

15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Spirochetal diseases Syphilis Yaws Leptospirosis Deep fungal infections Actinomycosis Chromoblastomycosis Maduromycosis Viral infections Influenza avian influenza (THT) Viral gastroenteritis Poliomyelitis Rabies Morbilli Varicella Herpes zoster Herpes simplex Mumps CMV infections Dengue hemorrhagic fever (DHF) HIV-AIDS Protozoal infections Amebiasis Malaria Leishmaniasis dan tripanosomiasis Toxoplasmosis Giardiasis Trichomoniasis Worms infestations Hookworm diseases Strongyloidiasis Ascariasis Filariasis Schistosomiasis Cutaneus larva migran Taeniasis 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 Standar Kompetensi Dokter 67 .

Hepatoma Liver cell adenoma Hepatocellular carcinoma Cholangiocarcinoma Pancreas Carcinoma of the pancreas 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 1 2 3A 3B 4 68 Standar Kompetensi Dokter .KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Neoplasma Blood and lymph nodes Non-hodgkin's lymphoma Hodgkin's lymphoma Acute leukemia Chronic leukemia Myelodysplastic syndromes Multiple myeloma Langerhans' cell histiocytosis 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 Lung Bronchogenic carcinoma Bronchoalveolar carcinoma Neuroendocrine tumor (carcinoid tumor) Mesothelioma 1 1 1 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 Head and neck Leukoplakia Polyps Nasopharynx carcinoma Pleomophic adenoma Warthins tumor Gatrointestinal Benign polyps Squamous cell carcinoma Adenocarcinoma Carcinoid tumor Lymphoma Liver .

15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Kidney Cortical adenoma Renal cell carcinoma Wilm's tumor Male genitals Squamous cell carcinoma Seminoma Teratoma testis Benign prostatic hyperplasia Carcinoma of the prostate 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 Female genitals Condyloma accuminata Cervical carcinoma Extramammary Paget's disease Endometrial hyperplasia Endometrial carcinoma Ovarial teratoma (dermoid cyst) Ovarian carcinoma Hydatidiform mole Choriocarcinoma Breast Fibrocystic change Fibroadenoma mammae Phyllodes tumor Breast carcinoma Paget's disease of the breast Gynecomastia Endocrine glands Somatotropic adenoma Prolactinoma Thyroid adenoma Thyroid carcinoma Thymus Thymoma 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 1 1 1 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 1 2 3A 3B 4 Standar Kompetensi Dokter 69 .

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Skin Benign epithelial tumors Seborrheic keratosis Epithelial cyst Premalignant and malignant epithelial tumors Actinic keratosis Bowen's disease Squamous cell carcinoma Basal cell carcinoma Tumors of the dermis Xanthoma Hemangioma Lymphangioma Angiosarcoma Tumors of immigrant cells to the skin Mycosis fungoides Mastocytosis Langerhans' cell histiocytosis Tumors of melanocytic cells Lentigo Nevus pigmentosus Malignant melanoma 1 1 1 2 2 3A 3A 3B 3B 4 4 1 1 1 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 1 1 1 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 Bone and soft tissue Osteoma Osteoid osteoma Osteoblastoma Osteosarcoma Osteochondroma Chondroblastoma Chondrosarcoma Fibrous dysplasia Fibrosarcoma and mfh Ewing sarcoma Giant cell tumor 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 70 Standar Kompetensi Dokter .

15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Ganglion cyst Lipoma Liposarcoma Fibromatosis Desmoid tumor Fibroma Fribrosarcoma Benign fibrous histiocytoma Malignant fibrous histiocytoma (mfh) Rhabdomyosarcoma Leiomyoma Leiomyosarcoma Synovial sarcoma Central and peripheral nervous system Astrocytoma Oligodendroglioma Ependymoma Medulloblastoma Retinoblastoma Meningioma Neurofibroma Schwannoma 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 Psychiatry and mental health Developmental and behavioral disorders Mental deficiency Autistic disorder Disorder of intellectual skills Disorder of motor development Disorder of coodination Behavior and attention disorders 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 Eating disorders Anorexia nervosa Bulimia Pica Rumination in infancy 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 Gender identity disorder Standar Kompetensi Dokter 71 .

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Tics Gilles de la tourette syndrome Chronic motor of vocal tic disorders Transient tic disorders 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 Disorders of excression Functional encoperasis Functional enuresis 1 1 2 2 3A 3A 3B 3B 4 4 Speech disorders Uncoordinated speech Stammer Psych-organic syndromes and disorders due to drugs Intoxication Withdrawal syndrome Delirium Dementia Amnesic syndrome Other organic disorders 1 1 2 2 3A 3A 3B 3B 4 4 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 Misuse of psychoactive drugs Psychosis Schizophrenia Other psychoses including reactive psychosis and puerperal psychosis 1 1 2 2 3A 3A 3B 3B 4 4 Affective disorders Bipolar disorders Bipolar disorder. manic episode Bipolar disorder. depressive episode Cyclothymic disorder 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 72 Standar Kompetensi Dokter .

noc 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 Sexual disorders Paraphilia 1 2 3A 3B 4 Standar Kompetensi Dokter 73 . single episode and recurrent Dysthymic disorder (or neurotic depression) Depressive disorder not otherwise classified 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 Anxiety disorders Panic disorder with agoraphobia Panic disorder without agoraphobia Agoraphobia without history of panic disorder Social phobia Simple phobia Obsessive compulsive disorder (neurosis) Post traumatic stress disorder Diffuse anxiety disorder Anxiety disorder not otherwise classified 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Somatic disorder Disorder of body sensation Conversion disorder (hysterical neurosis) Hypochondriasis (hypochondriacal neurosis) Somatisation disorder Somatoform pain disorder Undifferentiated somatoform disorder Somatoform disorder not otherwise classified Dissociative disorders (or hysterical neurosis.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Unipolar disorders Endogenous depression. dissociative form) Multiple personality Fugu states Psychogenic amnesia Depersonalisation disorder or depersonalisation neurosis Dissociative disorder.

noc 1 2 3A 3B 4 Sleeping disorders Dyssomnia Insomnia Hypersomnia Sleep-wake cycle disturbances 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 Parasomnia Nightmares Night terrors Sleep walking Disorder of impulse control Adjustment disorder Psychological factors affecting physical condition Personality disorders Paranoid personality Schizoid personalinty Schizotypal personality Antisocial personality Borderline personality Histerionic personality Narcisistic personality Avoidance personality Dependent personality 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 1 2 3A 3B 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 74 Standar Kompetensi Dokter . noc 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 Other sexual disorders Sexual disorders.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Sexual dysfunctions Disorder of sexual desire Disorder of sexual exitement Disorder of orgasm Sexual pain disorders Sexual dysfuctions.

tradive dyskenia. Acute dystonia. neuropathic behavior Hyperkinetic syndrome Primary infantile autism Disorders of mother-child relationship Disorders due to social deprivation Neurotic disorder of chilhood Breath holding due to exitement 1 1 2 2 3A 3A 3B 3B 4 4 1 2 3A 3B 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Standar Kompetensi Dokter 75 . psychoanalytic. Rogerrian. noc 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 Side effects of psychoactive drug therapy Extrapyramidal side effects (eg.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Obsessive-compulsive personality Passive-aggressive personality Personality disorders. parkinsonism) Anticholinergic side effects Sedative side effects Malignant neuroleptic syndrome 1 1 1 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 Other items of knowledge Knowledge of forensic psychiatry Knowledge of indication for involuntary admission to hospital Knowledge of basic principles of methods used by different psychotherapeutic schools (eg. etc) Neuropsychiatric and psychosomatic disorders (pediatrics) Pseudoconstipation Encopresis Anorexia nervosa Bulemia Tics.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Musculoskeletal system Bone and joints (pediatrics) Congenital dislocation of the hips Arthritis Genu varum (bow legs) Genu valgum (knock knee) Pes planus Scoliosis Kyphosis Lordosis Terthes disease Slipped epiphysis Osgood-schlatter diseasev Chondromalacia patellae Club foot Marfan's disease Osteogenesis imperfecta Bone cyst Achondroplasia Generalized disorders of the musculoskeletal system Rickets. osteomalacia Osteoporosis Fibrous dysplasia Paget's disease Localized disorders of the musculoskeletal system Physical overload Aseptic necrosis of bone Osteomyelitis. acute Arthritis Trauma of joint cartilage Trauma of joint capsule Ganglion Primary bone tumors Bone metastasis Pathological fracture 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 1 ?1 ?1 ?1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 76 Standar Kompetensi Dokter .

spondylosis Spondylitis. tendon and ligament lesions of knee Lesion of meniscus.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Degenerative disorders of joints Arthrosis deformans Crystal arthropathy Rheumatoid arthritis Bechterew disease 1 1 1 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 Spine Spina bifida Sacrococcygeal teratoma Scoliosis Kyphosis Lordosis Spondylarthrosis. medial and lateral Abnormal patellear cartilage Genu varum. spondylodiscitis Hernia of nucleus pulposus Spondylolisthesis Spondylolysis Metastases from elsewhere Pathological fractures Fractures and dislocations of spine Spinal transaction 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Pelvic and lower extremities Congenital hip dislocation Hip dysplasia Femoral head necrosis Intermittent arthritis of the hip Fractures of pelvis Fractures of hip Dislocation of hip Ligamentous lesions of hip Arthritis of hip Fractures of femur Fractures. genu valgum Osteochondritis dissecans 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Standar Kompetensi Dokter 77 . capsule.

humerus. rib) 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 Trauma (Tergantung ringan sampai berat) Drowning Head injury Burning Poisoning Suffocation Bleeding Hypovolemic shock Dislocation of jaw Fracture of jaw Dislocation of knee Dislocation of patella Prepatellar bursitis Fractures of tibia Rib fractures/contusion Injury caused by rib fractures Sternal fractures Fractures of toes Crush injury to the heel (in children) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 78 Standar Kompetensi Dokter .KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Arthritis of the knee Achilles tendonitis Rupture of achilles tendon Tarsal tunnel syndrome Instability of ankle In growing toe nail Pes planus Club foot Claw foot Hallux valgus Hammer toe Metatarsalgia Onychogryposis Anisomelia 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Traumatology Birth trauma Caput succedaneum Brachial plexus injury Fracture (clavicle.

such as liver. Boutonniere-deformity Mallet finger Dupuytren's contracture Nail loss Subungual hematome Traumatic vessel injury 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Standar Kompetensi Dokter 79 .15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Fractures of fibula Whiplash Fractures. lung. kidney.g. etc Peripheral nerves Injury of peripheral nerves 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 1 2 3A 3B 4 Neck. e. tendon and ligament lesions of ankle Pneumothorax Hemothorax Injury to specific internal organs. capsule. tendon. capsule. ligament lesions of wrist Fractures. ligament lesions of elbow Fractures. capsule. tendon. ligament lesions of fingers and thumb Lateral epicondylitis (tennis elbow) Dislocation of distal radius Dislocation of wrist Progressive inflammation of finger following injury Olecranon bursitis Carpal tunnel syndrome Injury to finger tendon. shoulder girdle and upper extremities Fractures of shoulder Dislocation of shoulder Ligamentous lesions of shoulder Instability of shoulder Frozen shoulder Fracture of clavicle Fracture of humerus Fracture of radius/ulna Fractures. capsule. tendon.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Accidents and emergency neurology Head injuries Diffuse brain damage Cerebral concussion and contusion Brain death Extradural hemorrhage Subdural hemorrhage Basilar fracture scalp Acute traumatic spinal transaction Injury of plexus and peripheral nerves 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Reproduction system Infection during pregnancy/delivery Syphillis Rubella CMV infection Toxoplasmosis AIDS Gonorrhoea Herpes virus infection type 2 Hepatitis B Drugs and harmful substance during pregnancy Mother taking tobacco Mother taking drugs of addiction 1 1 2 2 3A 3A 3B 3B 4 4 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 Pregnancy disorders Threatened abortion Incompleted spontaneous abortion Completed spontaneous abortion Hyperemesis gravidarum Blood group incompatibility Hydatidiform mole Intra-uterine infection Pregnancy induced hypertension Pregnancy induced diabetes mellitus Dysmaturity Placental insufficiency Placenta previa 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 80 Standar Kompetensi Dokter .

SOL Cervical incompetence Polyhydramnion Jaundice late in pregnancy Urinary tract infection Pyelitis in pregnancy Iron dificiency anaemia Megaloblastic anaemia Dead fetus 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Delivery Premature contractions Premature delivery Rupture of uterus Postmature infant Premature rupture of membranes Unstable lie / malposition after 36 weeks Dystocia. fetal and passage Malpresentation of fetus Prolonged delivery Primary mild contractions – IMININ Secondary mild contractions Cord presentation / cord prolapse Hypoxia of fetus Failure to rotate / incorrect rotation Rupture of cervix Rupture of perineum Shoulder distortion. infant Retained placenta 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Postpartum Retained placental tissue Uterine inversion Postpartum haemorrhage Thrombo – embolism Blood group incompatibility 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 Standar Kompetensi Dokter 81 .15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Vasa previa Abruptio placenta .

pelviperitonitis. perimetritis etc) Incontinence of urine Incontinence of faeces Deep venous thrombosis Thrombophlebitis Embolism Post-natal psychoses Post-natal depression Subinvolution of uterus 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 82 Standar Kompetensi Dokter .KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Puerperium Mastitis Cracked nipple Inverted nipple Endometritis Inflammation of pelvis (salpingitis.

dan sebagainya. Keterampilan klinis ini perlu dilatihkan sejak awal pendidikan dokter secara berkesinambungan hingga akhir pendidikan dokter. Tingkat kemampuan 3 Pernah melakukan atau pernah menerapkan di bawah supervisi Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan ini (baik konsep. dan pernah menerapkan keterampilan ini beberapa kali di bawah supervisi. cara melakukan. teori. teori. lulusan dokter perlu menguasai keterampilan klinis yang akan digunakan dalam mendiagnosis maupun menyelesaikan suatu masalah kesehatan. dan sebagainya). komplikasi. prinsip maupun indikasi. selama pendidikan pernah melihat atau pernah didemonstrasikan keterampilan ini. shows. Tingkat kemampuan 2 Pernah Melihat atau pernah didemonstrasikan Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan ini (baik konsep. does) yang diharapkan dicapai oleh mahasiswa di akhir pendidikan. Dalam melaksanakan praktik dokter. Daftar keterampilan klinis dikelompokkan menurut bagian atau departemen terkait. serta cara melakukan. Selain itu. sehingga dapat menjelaskan kepada teman sejawat. Pada setiap keterampilan klinik ditetapkan tingkat kemampuan menggunakan Piramid Miller (knows.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Lampiran 3 Daftar Keterampilan Klinis Keterampilan adalah kegiatan mental dan atau fisik yang terorganisasi serta memiliki bagian-bagian kegiatan yang saling bergantung dari awal hingga akhir. komplikasi yang timbul. knows how. prinsip maupun indikasi. Standar Kompetensi Dokter 83 . cara melakukan. Tingkat kemampuan 4 Mampu melakukan secara mandiri Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan ini (baik konsep. Berikut ini pembagian tingkat kemampuan menurut Piramid Miller : Tingkat kemampuan 1 Mengetahui dan Menjelaskan Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan ini. prinsip maupun indikasi. prinsip maupun indikasi. dan sebagainya). Selama pendidikan pernah melihat atau pernah didemonstrasikan keterampilan ini. cara melakukan. dan pernah menerapkan keterampilan ini beberapa kali di bawah supervisi serta memiliki pengalaman untuk menggunakan dan menerapkan keterampilan ini dalam konteks praktik dokter secara mandiri. pasien maupun klien tentang konsep. komplikasi. teori. teori. dan sebagainya). Selama pendidikan pernah melihat atau pernah didemonstrasikan ketrampilan ini. komplikasi.

nose. mouth and throat chvostek’s sign palpation of salivary glands throat swab palpation of thyroid gland palpation of trachea palpation of carotic arteria The spine inspection at rest inspection in motion percussion for tenderness palpation for tenderness palpation for pain on vertical pressure (eg pressing down on shoulders) assessment of lumbar flexion -1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4- -1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4- -1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4- 84 Standar Kompetensi Dokter .KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Internal Medicine: Physical examination Level of expected ability General Survey assessment of mental status assessment of apparent state of health assessment of nutritional condition assessment of habitus and posture assessment of respiration palpation of pulse measurement of blood pressure measurement of jugular venous pressure measurement of height and weight inspection and palpation of skin inspection of mucous membranes palpation of lymph nodes Head/neck inspection of eyes.

liver. Traube’s area bladder dullness) palpation (abdominal wall. lung bases. bruits) percussion (especially liver. rigidity) eliciting abdominal tenderness and rebound tenderness eliciting shifting dullness eliciting a fluid thrill eliciting renal tenderness Perineal examination inspection of perianal area rectal examination palpation of prostate palpation of pouch of Douglas palpation of adnexae palpation of sacrum inspection of glove Examination of female genitalia inspection of vulva. adnexae Examination of male genitalia Inspection of penis Inspection and palpation of scrotum -1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4- -1-1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4-4- -1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4- -1-1- -2-2- -3-3- -4-4- -1-1- -2-2- -3-3- -4-4- Standar Kompetensi Dokter 85 . cardiac size auscultation of lungs auscultation of heart inspection of breasts palpation of breasts Abdomen Inspection auscultation (bowel. uterus. perineum vaginal examination: palpation of vagina. colon. spleen. aorta.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Thorax inspection at rest inspection during respiration palpation of respiratory expansion palpation of tactile fremitus palpation of apex beat percussion of lungs. sounds.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA

Extremities inspection of skin, nails, muscle tone inspection of joints assessments of capillary pulse assessments of capillary refill palpation of arterial pulses detection of bruits palpation of skin, tendons, joints assessments of range of motion of joints examination of sensory system examination of monitor system eliciting reflexes: knee reflex, ankle reflex, triceps reflex, biceps reflex, plantar response Diagnostic procedures Venapuncture arterial puncture finger prick preparation and examination of blood film preparation and examination of urinary sediment preparation and examination of sputum preparation and examination of stool Gram stain Ziehl Nielsen X-ray examination: plain film X-ray contrast examination CT-scan NMR/MRI scintigraphic examination Echography gastric endoscopy Proctoscopy kidney or liver biopsy tapping ascites pleural tap pathological examination of biopsy electrocardiography exercise ECG testing Phonocardiolography

-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-

-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-

-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-

-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-

-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-

-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-

-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-

-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-

86

Standar Kompetensi Dokter

15

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA

Doppler examination Holter examination cardiac catheterization automatic blood pressure measurement echocardiography lung function tests/spirometry histamine provocation test allergy tests hyperventilation provocation test perfusion/ventilation scan Bronchoscopy joint aspiration Therapeutic skills to advice a patient about life-style to prescribe a diet subcutaneous and intramuscular injection administration of insulin intravenous cannulation mouth to mouth resuscitation cardiac massage initiate resuscitation nasogastric tube Contraventil needle (needle decompression) WSD Endoscopy bladder catheter renal dialysis sclerotherapy for varicose veins

-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-

-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-

-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-

-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-

-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-

-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-

-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-

-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-

Neurology: Skills list
Physical examination Cranial nerve function assessment of sense of smell inspection of width of palpebral cleft inspection of pupils (size and shape) pupillary reaction to light pupillary reaction of close objects assessment of extra-ocular movements assessment of diplopia assessment of nystagmus
Standar Kompetensi Dokter

Level of expected ability

-1-1-1-1-1-1-1-1-

-2-2-2-2-2-2-2-2-

-3-3-3-3-3-3-3-3-

-4-4-4-4-4-4-4-4-

87

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA

corneal reflex assessment of visual fields test visual acuity fundoscopy assessment of pupil assessment of facial symmetry assessment of strength of temporal and masseter muscles assessment of facial sensation assessment of facial movements assessment of taste assessment of hearing (lateralization, air and bone conduction) assessment of swallowing inspection of palate test gag reflex assessment of sternomastoid and trapezius muscles tongue, inspection at rest tongue, inspection and assessment of motor system (e.g. sticking out) The motor system inspection: posture, habitus involuntary movements assessment of passive stretch assessment of muscle strength assessment of strength of individual muscles Coordination inspection of gait (normal, on heels, on toes, hopping in one place, heel-to-toe) shallow knee bend Romberg’s test reaction to a push (balance) point-to-point testing: between index finger and nose point-to-point testing: heel on opposite knee, running down to big toe testing for dysdiadochokinesis The sensory system assessment of sense of pain assessment of sense of temperature assessment of light touch

-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-

-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-

-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-

-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-

-1-1-1-1-

-2-2-2-2-

-3-3-3-3-

-4-4-4-4-

-1-1-1-1-1-1-1-

-2-2-2-2-2-2-2-

-3-3-3-3-3-3-3-

-4-4-4-4-4-4-4-

-1-1-1-

-2-2-2-

-3-3-3-

-4-4-4-

88

Standar Kompetensi Dokter

ankle reflex) plantar response abdominal reflexes cremaster reflex anal reflex Pathological Reflexes Hoffmann-Trömner sign Plantar response (Babinski Group) Primitive Reflexes snout reflex rooting reflex grasp reflex glabela reflex palmomental Reflex Others detections of neck stiffness assessment of fontanelles patrick’s and contra Patrick’s sign chvostek’s sign -1-1-1-1- -2-2-2-2- -3-3-3-3- -4-4-4-4- -1- -2- -3- -4- -1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4- -1-1-1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4- -1-1-1-1 -2-2-2-2- -3-3-4- -4-4-4-4- Standar Kompetensi Dokter 89 .g. triceps reflex knee reflex. stereognosis) Radicullar sensation disorders Lasègue’s sign Higher functions assessment of level of consciousness by means of Glasgow coma scale assessment of orientation assessment of aphasia assessment of apraxia assessment of agnosia assessment of new learning ability assessment of memory assessment of concentration Reflexes Physiological Reflexes tendon reflexes (biceps. reflex.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA assessment of extinction phenomenon assessment of vibration assessment of position sense assessment of discriminative sensations (e.

MRA Therapeutic skills Laminectomy therapeutic spinal tap opening the skull surgery for acoustic neuroma surgery of pituitary gland surgery for extradural haemorrhage surgery for subdural haemorrhage surgery for cerebral tumour surgery for carpal/tarsal tunnel syndrome surgery for intra cerebral aneurysm -1-1-1-1-1 -1-1-1- -1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-22-2 -2 -2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4- -4-4-4-4-4-4-4- -1-1-1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4-4-4- The spine Inspection at rest Inspection in motion Percussion for tenderness Palpation for tenderness Palpation for pain on vertical pressure Assessment of lumbar flections -1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4- 90 Standar Kompetensi Dokter . Queckenstedt test MRI.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Additional diagnostic investigations X-ray skull X-ray spine Seldinger angiography Myelography Caudography CT-scan of cerebrum EEG EMG. EMNG ENG Brain mapping PET. SSEP digital substraction angiography duplex-scan of vessels biopsy of muscle lumbar puncture lumbar puncture. BAEP. SPECT visual evoked response examination.

e. with partners) identifying problem with the family identifying problem in a crisis situation identifying problem after suicide attempt identifying problem with a group presenting psychiatric problem to colleagues Additional examination administering Mini Mental State Exam home visit psychological examination -1-1-1-1Level of expected ability -2-3-4-2-2-2-3-3-3-4-4-4- -1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4- -1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4- -1-1-1- -2-2-2- -3-3-3- -4-4-4- Standar Kompetensi Dokter 91 . from a third person Psychiatric examination assessment of consciousness assessment of perception assessment of orientation assessment of intelligence assessment of memory assessment of thought (form and contents) assessment of affect assessment of mood assessment of actions assessment of desire impression. biographical details psychiatric history taking. general psychiatric history taking.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Psychiatry: Skills list History taking psychiatric history taking. general. social history psychiatric history taking. systematic description being aware of personal reactions evoked by seeing a patient assessment of suicidal risk Identifying problems identifying problem with the patient alone identifying problem with the couple (i. from the patient. from the patient.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA recognition and interpretation of the repeating patterns in interaction To diagnose most likely according to DSM IIIR main criteria indication for psychiatric hospitalization Therapy consulting team. crying looking for congenital malformations palpation of fontanelles moro response palmar grasp reflex rooting reflex/suck reflex stepping reflexes vertical suspension positioning asymmetric tonic neck reflex anal reflex examination of hips -1-1-1-1Level of expected ability -2-3-4-2-3-4-2-3-4-2-3-4- -1- -2- -3- -4- -1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4- 92 Standar Kompetensi Dokter . behaviour. arousal. participation consultation occupational therapy play therapy creative therapy psychomotor therapy electroconvulsion therapy (ECT) counselling therapy behaviour therapy psychotherapy hypnotherapy -1-1-1- -2-2-2- -3-3-3- -4-4-4- in -1-1-1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4-4-4- Paediatrics: Skills list History taking history taking from third party taking a feeding history history taking older child talking with anxious parents/ parents with a very ill child Physical examination general physical examination with special attention to age of patient Newborn and infant assessment of general condition.

15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA All ages physical and developmental assessment assessment of speech and language development weight measurement of body length measurement of head circumference measurement of blood pressure measurement of temperature measurement of body mass index Therapeutic skills. metacarpal and finger joints inspection of posture of spine/pelvis inspection of scapula position -1-1-1Level of expected ability -2-3-4-2-3-4-2-3-4- -1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4- Standar Kompetensi Dokter 93 . In term a mother can understand assessment of vision ewing test finger prick venepuncture insertion of cannula (peripheral vein) insertion of cannula (central venous) rumple Leed Test intubation resuscitation oropharyngeal tube insertion lung function test. examinations and operation of the child prescription of food for infant. peak flow meter cranial ultrasound EEG lumbar puncture echocardiography cardiac catheterization -1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4- -1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4- Surgery: Skill list Physical examination general physical examination digital rectal examination bimanual ginjal Orthopaedic examination assessment of muscle atrophy determination range of motion of head inspection shoulder / upper extremity test function of shoulder joint test function of muscles and elbow joint test function of wrist joint.

dislocation. adduction. fractures) stop bleeding (direct pressure. sacro-iliac joints. epididymis spermatic duct transillumination of scrotum urethral swab Accident and emergency first aid assessment of consciousness by means of Glasgow coma scale external cardiac massage mouth-to-mouth/ nose resuscitation mask ventilation Intubation assessment and care external injuries (wounds. distortion. back muscles inspection of gait measurement of length of lower extremities hip: assessment of flexion and extension. inversion. pressure bandage) transport of casualty Heimlich manoeuvre apply a bandage fluid rescucitation -1-1-1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4-4-4- -1-1- -2-2- -3-3- -4-4- -1-1-1- -2-2-2- -3-3-3- -4-4-4- -1-1- -2-2- -3-3- -4-4- -1-1-1- -2-2-2- -3-3-3- -4-4-4- -1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4- 94 Standar Kompetensi Dokter .KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA inspection of flexion and extension of back assessment of lumbar flexion palpation of spine. testes. eversion Examination of patient with varicose veins Trendelenburg test Perthes test Examination of arterial vascular disorders posture tests of arterial insufficiency reactive hyperaemia test of arterial insufficiency capillary refill Examination of abdominal hernia inspection of groin during increased abdominal pressure palpation of hernia Examination of male genitalia palpation of penis. burns. bleeding. pressure point. abduction and rotation knee : assessment of cruciate ligaments. collateral ligaments assessment of menisci feet : inspection of posture and shape feet : assessment of dorsal / plantar flexion.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA

Additional examination radiography (plane films) Arthrography Arteriography Scintiscan CT MRI ultrasound Endoscopy biopsy Uroflowmetry micturating cystography urodynamic examination Reflek bulbokavernos Therapeutic skills pre-operative preparation of operative field for minor surgery, asepsis, antisepsis, local anaesthesia preparation to watch/to assist in theatre scrub-up, gown up, put on sterile gloves etc) infiltration anaesthesia local nerve block incision and drainage of abscess wound cleaning wound debridement with scalpel and scissors wound stitching wound, removal of sutures wound care for burns apply a pressure dressing fracture repositioning, closed fracture stabilisation (without plaster) reduction of dislocation apply a sling nail bed cauterisation nail removal nasogastric suction nasogastric insertion urethral catheterization in male urethral catheterization in female Clean intermitten chatheterization (Neuropathic blader) Circumcision dorsumcircumcision Pungsi suprapubik
Standar Kompetensi Dokter

-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-

-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-

-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-

-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-

-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-

-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-

-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-

-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-

95

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA

colostomy, changing the bag enema injection of varices with sclerosant venous cannulation administration of analgesics to attend oncological patient regarding social and psychological issues

-1-1-1-1-1-1-

-2-2-2-2-2-2-

-3-3-3-3-3-3-

-4-4-4-4-4-4-

Operative surgery Every doctor should have attended the theatre several times to observe different operations. This experience should give him/her an impression of what goes in surgery during operation, working with a team, the burden of surgery for a patient, and the relationship with pre-and postoperative care. Gynaecology / obstetrics : Skills list
Gynaecology Level of expected ability Physical examination general physical examination including breast inspection and palpation of external genitalia speculum examination: inspection of vagina and cervix bimanual examination : palpation of vagina, cervix, uterine corpus, ovaries rectal examination : palpation of pouch of Douglas, uterus combined recto-vaginal septum Additional diagnostic examination genital discharge : smell genital discharge : pH genital discharge : gram stain genital discharge : vaginal swab genital discharge : examination with saline genital discharge : examination with potassium hydroxide endocervical swab and cervical scraping colposcopy abdominal ultrasound examination of uterus vaginal ultrasound examination of uterus curettage suction curettage laparoscopy, diagnostic -1-1-1-1-1-1-2-2-2-2-2-2-3-3-3-3-3-3-4-4-4-4-4-4-

-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-

-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-

-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-

-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-

96

Standar Kompetensi Dokter

15

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA

Additional diagnostic tests for sub fertility physical examination of male genitalia assessment of results of semen examination basal temperature curve, instruction, assessment of results examination of cervical mucus, fern test post-coital test, obtaining material, preparing and assessing slide hystero salpingography insufflation of Fallopian tubes artificial insemination Therapy and prevention instructions for self-examination of breasts insertion of pessary insertion of urinary catheter electro-or crycoagulation cervix laparoscopy, therapeutic Contraception/ sterillization advise about contraception insertion I.U.D laparoscopic sterilization Obstetrics Selection of high-risk pregnancy for Hospitalization/ clinical care Pregnancy attending pregnant women inspection of abdomen of pregnant woman palpation : fundal height, Leopold’s manoeuvre, external assessment of position assessment of fetal heart rate internal examination in early pregnancy pelvic examination pregnancy test, urine CTG : performance and interpretation ultrasound examination amniocentesis chorionic biopsy

-1-1-1-1-1-1-1-1-

-2-2-2-2-2-2-2-2-

-3-3-3-3-3-3-3-3-

-4-4-4-4-4-4-4-4-

-1-1-1-1-1-

-2-2-2-2-2-

-3-3-3-3-3-

-4-4-4-4-4-

-1-1-1-

-2-2-2-

-3-3-3-

-4-4-4-

-1-

-2-

-3-

-4-

-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-

-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-

-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-

-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-

Standar Kompetensi Dokter

97

descent) artificial rupture of membranes insertion of catheter for intra-uterine pressure inspection and support of perineum local anaesthesia of perineum pudendal anaesthesia epidural anaesthesia episiotomy receive/ hold newborn aspiration of mouth/throat of newborn infant record Apgar score clamp cord/separation of placenta examination umbilical cord physical examination of newborn postpartum : examination fundal height. placenta: loose/ retained delivery of placenta examination of placenta and umbilical cord measure/estimate loss of blood. after delivery repair of episiotomy and lacerations chemical induction of labour support delivery in breech presentation fetal blood sampling assisted vaginal delivery caesarean section manual removal of placenta Puerperium assist and check mother and newborn assessment of lochia palpation of position of fundus breasts : inspection. membranes. presentation of fetus.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Practical obstetrics Normal Delivery attending woman in labour CTG : performance and interpretation obstetric examination (assessment of cervix. lactation advice on hygiene discussing contraception inspection episiotomy scar inspection caesarean section scar -1-1-1- -2-2-2- -3-3-3- -4-4-4- -1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4- -1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4- 98 Standar Kompetensi Dokter . dilatation.

inspection with UVA-light (Wood’s lamp) nails. treatment of comedones wound care to apply a dressing varicose veins. inspection with magnifying glass skin. distribution. incision/ drainage of abscess skin.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Dermatology: Skills list Physical examination skin. ambulant compressive therapy on venous leg ulcer haemorrhoids masking therapy phototherapy Prevention contact tracing -1-1-1-1-1Level of expected ability -2-3-2-3-2-3-2-3-2-3-4-4-4-4-4- -1- -2- -3- -4- -1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4- -1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4- -1- -2- -3- -4- Standar Kompetensi Dokter 99 . as well as size. compressive sclerotherapy varicose veins. cryotherapy acne. expansion and configuration Additional examination of dermatological problems preparation and assessment of potassium hydroxide slide preparation and assessment of methylen blue slide preparation and assessment of gram stain urethral swab anal swab parasite identification punch biopsy patch test prick test colposcopy for condylomata acuminata proctoscopy Therapy of skin diseases skin. inspection dermographism skin palpation Terminology of skin lesions skin lesions description with primary and secondary changes. excision of tumour cryotherapy on tumours warts.

sinuses inspection of shape of nose and nostrils assessment of nasal obstruction testing sense of smell anterior rhinoscopy transillumination of frontal sinuses nasopharyngoscopy ultrasound of sinuses radiology of sinuses. speech. Rinne. with whispering voice tone audiometry speech audiometry audiological examination of children pneumatic otoscopy (Siegle) performance and interpretation of tympanometry vestibular examination ewing test electronystagmography Nose. throat. Schwabach) hearing tests. head mirror and laryngoscope) inspection of hypopharynx (with laryngoscope/ hypopharyngoscope) throat swab laryngoscopy. neck test taste sensation inspection lips and oral cavity inspection tonsils assessment of mobility of tongue assessment of mobility of hypoglossal muscles palpation of salivary glands (submandibular. interpretation Mouth. hearing.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Otorhinolaryngology (ENT): Skills list Diagnostic skills Ears. indirect Level of expected ability -1-2-3-4-1-2-3-4-1-2-3-4-1-2-3-4-1-2-3-4-1-2-3-4-1-1-1-1-1-1-1-1-1-2-2-2-2-2-2-2-2-2-3-3-3-3-3-3-3-3-3-4-4-4-4-4-4-4-4-4- -1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4- -1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4- 100 Standar Kompetensi Dokter . equilibrium inspection of auricle. tuning fork examination (Weber. position of ear and mastoid examination of external auditory meatus with otoscope examination of thympanic membrane with otoscope use of head mirror use of head light hearing tests. parotid) inspection of base of tongue (with laryngoscope) inspection of nasopharynx cavity (with nasopharyngoscope. oesophagus.

objective (refractometry keratometer) Level of expected ability -2-3-4-2-3-4- -1-1- -1-1- -2-2- -3-3- -4-4- Standar Kompetensi Dokter 101 . noses and throat during his training Ophthalmology : Skills list General ophthalmologic examination Vision assessment of vision assessment of vision. infant/ child Refraction assessment of refraction. direct assessment of voice and speech speech assessment oesophagoscopy inspection of neck palpation of branchial lymph nodes palpation of thyroid gland Therapeutic skills politzerization test valsalva manoeuvre insert cotton wool probe in ear cleaning external auditory meatus with swab removal of wax with hook or curette syringing the ear paracentesis ear. removal of foreign body insertion of grommet to adjust hearing aid stopping a nose bleed packing the nose nose. subjective assessment of refraction.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA laryngoscopy. removing of foreign body sinus lavage puncture of sinuses antroscopy tracheostomy intubation -1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4- -1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4- ENT Surgery Every doctor should have attended several operations on the ear.

inspection slit-lamp examination Fundi fundoscopy. inspection bye eversion of upper lid eyelash. inspection lacrimal apparatus. bringing the fundus into focus optic disc. inspection by transillumination cornea. inspection lymph nodes. inspection with fluorescein cornea. assessment Pupils Pupils. direct reaction to light and convergence Media media of eye. inspection lens. inspection iris.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Visual fields visual fields. discrimination between normal and abnormal Intra-ocular pressure intra-ocular pressure. discrimination between normal and abnormal retina vessels. Donders confrontation test visual fields. inspection conjunctivae. inspection. Amsler panes External inspection eyelids. estimation by palpation intra-ocular pressure. examination binocular vision. measurement by aplanation tonometer -1-1- -2-2- -3-3- -4-4- -1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4- -1-1-1-1- -2-2-2-2- -3-3-3-3- -4-4-4-4- -1-1- -2-2- -3-3- -4-4- -1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4- -1-1-1- -2-2-2- -3-3-3- -4-4-4- -1-1-1- -2-2-2- -3-3-3- -4-4-4- 102 Standar Kompetensi Dokter . determination of sensation anterior chamber. pre-auricular. inspection cornea. inspection Pupils. including fornix sclerae. palpation Position of eyes position with corneal reflex images position with cover test eye movements. inspection. inspection. measurement by indentation tonometer (Schiötz) or non-contact-tonometer intra-ocular pressure. inspection eyelids.

e. entropion. ectropion. echographic examination: ultrasonography (USG) Therapeutic skills eye drops instillation eye ointment application flood ocular tissue eye. fluorescein angiography (FAG) eye. cyclocryocoagulation eyelid surgery (chalazion removal.g. ptosis) detached retina. rinse through (Anel) Special ophthalmological examination orthoptic examination perimetry contact lenses (examination) colour vision test electroretinography electro-oculography eye. visual evoked potentials (VEP/VER) eye. trabeculotomy corneal transplantation eye. eversion upper eyelid with swab (removal of foreign body) to apply eyes dressing eye. surgery vitrectomy glaucoma surgery. cryocoagulation : e.g. removal of foreign body and debris Surgical therapy eye. surgery squint. surgery -1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4- -1-1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4-4- -1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4- -1-1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4-4- Standar Kompetensi Dokter 103 . gonioscopy measurement of lacrimal production measurement of exophthalmos (Hertel) lacrimal ducts. removal of contact lens or eye prosthesis removal of eye lashes cornea. laser therapy cataract.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Additional general ophthalmological examination determination of refraction after cycloplegia (skiascopy) fundus contact lens examination.

intracutaneous application of topical anaesthetics (drops. shoulder bandage. finger bandage. foot bandage. subcutaneous administration of drugs. ganglion to apply a dressing (sling. spray) administration of local anaesthetics administration of nerve block incision of abscess excision of warts wound care suture a wound treatment of burns removal of splinter disinfection -1-1-2-2-3-3-4-4-1-1-2-2-3-3-4-4-1-1Level of expected ability -2-3-4-2-3-4- -1-1- -2-2- -3-3- -4-4- -1-1- -2-2- -3-3- -4-4- -1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4- 104 Standar Kompetensi Dokter . preparation of slide with saline and potassium hydroxide) The arm drainage of bursa.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA General practice : Skills list The eye removal of foreign body (conjunctiva) removal of foreign body (cornea) The ear removal of wax syringe removal of foreign body (by syringing ear) External and internal genitalia endocervical swab examination of discharge (taking swab for culture. knee bandage) Skin. intravenous administration of drugs. ankle bandage. hand bandage) The leg treatment of leg ulcers to apply a dressing (leg bandage. mucosa and subcutaneous tissue administration of drugs. intramuscular administration of drugs.

consultation) Reporting and making record Information processing and applying (especially from scientific literature) PUBLIC HEALTH MEDICINE (4) Prevention (vaccination policy included) Recognition of hazardous behaviour and life style Performing directed medical examination Assessment of absent due to illness Performance of environmental research Performance of several interventions in the domain of primary. advising and coaching of individuals and groups Making a management plan Therapeutic consultation Drug prescription Oral and written communication with colleagues and other health care professional (referral.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Laboratory investigation. blood finger prick determination of sedimentation rate determination of Hb determination of blood glucose concentration monospot test Laboratory investigation. faeces occult blood protozoa intestinal helminth death certification -1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4- -1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4- COMMUNICATION AND RECORDING (4) Formulating orally and in writing Educating. prevention of accident and set up a programme/ plan for individuals. urine testing for protein testing for glucose testing for bile testing for blood preparation of slide and microscopy of urine dip slide method (urine culture) pregnancy test testing for Sputum laboratory investigation. their environment or an institution. periodical medical examination. Patient safety Standar Kompetensi Dokter 105 . social medical support and management. secondary and tertiary prevention like vaccination.

106 Standar Kompetensi Dokter .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->