You are on page 1of 320

SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

MATERI PELATIHAN GURU
IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 SMA

MATEMATIKA

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN 2013
Pendahuluan | i

SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

Diterbitkan oleh: Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2013

Copyright © 2013, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang Dilarang mengcopy sebagian atau keseluruhan isi buku ini untuk kepentingan komersial tanpa izin tertulis dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pendahuluan | ii

SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

SAMBUTAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah Swt, Kurikulum 2013 secara terbatas mulai dilaksanakan tahun 2013 pada sekolah-sekolah yang memenuhi persyaratan dan ditetapkan secara selektif. Kurikulum 2013 merupakan pengembangan dari kurikulum sebelumnya untuk merespon berbagai tantangan tantangan internal dan eksternal. Titik tekan pengembangan Kurikulum 2013 adalah penyempurnaan pola pikir, penguatan tata kelola kurikulum, pendalaman dan perluasan materi, penguatan proses pembelajaran, dan penyesuaian beban belajar agar dapat menjamin kesesuaian antara apa yang diinginkan dengan apa yang dihasilkan. Pengembangan kurikulum menjadi amat penting sejalan dengan kontinuitas kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni budaya serta perubahan masyarakat pada tataran lokal, nasional, regional, dan global di masa depan. Aneka kemajuan dan perubahan itu melahirkan tantangan internal dan eksternal yang di bidang pendidikan pendidikan. Karena itu, implementasi Kurikulum 2013 merupakan langkah strategis dalam menghadapi globalisasi dan tuntutan masyarakat Indonesia masa depan. Pengembangan Kurikulum 2013 dilaksanakan atas dasar beberapa prinsip utama. Pertama, standar kompetensi lulusan diturunkan dari kebutuhan. Kedua, standar isi diturunkan dari standar kompetensi lulusan melalui kompetensi inti yang bebas mata pelajaran. Ketiga, semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik. Keempat, mata pelajaran diturunkan dari kompetensi yang ingin dicapai. Kelima, semua mata pelajaran diikat oleh kompetensi inti. Keenam, keselarasan tuntutan kompetensi lulusan, isi, proses pembelajaran, dan penilaian. Aplikasi yang taat asas dari prinsip-prinsip ini menjadi sangat esensial dalam mewujudkan keberhasilan implementasi Kurikulum 2013.

Mudah-mudahan implementasi Kurikulum 2013 ini bisa berjalan dengan baik. Akhirnya, kepada semua pihak yang telah mendedikasikan dirinya dalam mempersiapkan Kurikulum 2013, saya mengucaplkan banyak terima kasih. Semoga bermanfaat untuk mencerdaskan bangsa Indonesia.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan

Muhammad Nuh

Pendahuluan | iii

SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT atas selesainya Modul Bahan Ajar Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. Modul bahan ajar ini merupakan bahan ajar wajib dalam rangka pelatihan calon instruktur, guru inti, dan guru untuk memahami Kurikulum 2013 dan kemudian dalam proses pembelajaran di sekolah. Kurikulum 2013 ini diberlakukan secara bertahap mulai tahun ajaran 2013-2014 melalui pelaksanaan terbatas, khususnya bagi sekolah-sekolah yang sudah siap melaksanakannya. Pada Tahun Ajaran 2013/2014, Kurikulum 2013 dilaksanakan secara terbatas untuk Kelas I dan IV Sekolah Dasar/Madrasah Ibtida’iyah (SD/MI), Kelas VII Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), dan Kelas X Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah (SMA/SMK/MA/MAK). Pada Tahun Ajaran 2015/2016 diharapkan Kurikulum 2013 telah dilaksanakan di seluruh kelas I sampai dengan Kelas XII. Menjelang implementasi Kurikulum 2013, penyiapan tenaga guru dan tenaga kependidikan lainnya sebagai pelaksana kurikulum di lapangan perlu dilakukan. Sehubungan dengan itu, Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMPK dan PMP), telah menyiapkan strategi Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 bagi guru, kepala sekolah, dan pengawas. Pada tahun 2013 pelatihan akan dilakukan bagi pengawas SD/SMP/SMA/SMK, kepala sekolah SD/SMP/SMA/SMK, dan guru Kelas I dan IV SD, guru Kelas VII SMP untuk 9 mata pelajaran, dan guru Kelas X SMA/SMK untuk 3 mata pelajaran. Guna menjamin kualitas pelatihan tersebut, maka BPSDMPK dan PMP telah menyiapkan 14 Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013, sesuai dengan kelas, mata pelajaran, dan jenjang pendidikan. Modul ini diharapkan dapat membantu semua pihak menjalankan tugas dalam Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. Saya mengucpkan terima kasih dan penghargaan atas partisipasi aktif kepada pejabat dan staf di jajaran BPSDMPK dan PMP, dosen perguruan tinggi, konsultan, widyaiswara, pengawas, kepala sekolah, dan guru yang terlibat di dalam penyusunan modul-modul tersebut di atas.

Jakarta, Juni 2013 Kepala Badan PSDMPK-PMP

Syawal Gultom NIP. 19620203 198703 1 002

Pendahuluan | iv

SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

DAFTAR ISI

SAMBUTAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAGIAN I PENDAHULUAN A. Tujuan Umum Pelatihan B. Indikator Umum Ketercapaian Tujuan C. Kompetensi Inti Peserta yang Harus Dicapai D. Hasil Kerja Peserta Selama Pelatihan E. Tahapan, Nara Sumber, dan Peserta Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 Struktur Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013, untuk Guru, Kepala Sekolah, F. dan Pengawas G. Penilaian H. Panduan Narasumber dan Fasilitator I. Kode Etik Narasumber J. Panduan Penggunaan Materi Pelatihan Kurikulum 2013

iii iv v 1 2 2 3 3 3 5 6 6 7 8 10 11 13 15 19 25 29 32 33 34 34 34 34 35 59 60 60 60 61 62 64 93 105

Sistematika Modul BAGIAN II SILABUS PELATIHAN A. Silabus Materi Pelatihan 0: Perubahan Mindset B. Silabus Materi Pelatihan 1: Konsep Kurikulum 2013 C. Silabus Materi Pelatihan 2: Analisis Materi Ajar D. Silabus Materi Pelatihan 3: Model Rancangan Pembelajaran E. Silabus Materi Pelatihan 4: Praktik Pembelajaran Terbimbing BAGIAN III MATERI PELATIHAN MATERI PELATIHAN 0: PERUBAHAN MINDSET A. Kompetensi B. Lingkup materi C. Indikator D Perangkat pelatihan Skenario kegiatan Bahan tayang MATERI PELATIHAN 1 : KONSEP KURIKULUM 2013 A. Kompetensi B. Lingkup materi C. Indikator D Perangkat pelatihan Skenario kegiatan 1.1 Rasional Kurikulum 1.2 Elemen Perubahan Kurikulum 1.3 SKL, KI, dan KD
K.

Pendahuluan | v

SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

1.4 Strategi Implementasi Kurikulum MATERI PELATIHAN 2 : ANALISIS MATERI AJAR A. Kompetensi B. Lingkup materi C. Indikator D. Perangkat pelatihan Skenario kegiatan 2.1 Konsep Pendekatan Scientific 2.2 Model Pembelajaran 2.3 Konsep Penilaian Autentik pada Pembelajaran 2.4 Analisis Buku Guru dan Siswa MATERI PELATIHAN 3 : MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN A. Kompetensi B. Lingkup materi C. Indikator D. Perangkat pelatihan Skenario kegiatan 3.1 Penyusunan RPP 3.2 Perancangan Penilaian Autentik MATERI PELATIHAN 4 : PRAKTEK PEMBELAJARAN TERBIMBING A. Kompetensi B. Lingkup materi C. Kompetensi Peserta Pelatihan D. Perangkat pelatihan Skenario kegiatan 4.1 Simulasi Pembelajaran 4.2 Peer Teaching

127 131 132 132 132 133 134 137 171 222 246 259 260 260 260 260 261 263 280 291 292 292 292 292 294 295 304

Pendahuluan | vi

G. Materi Pelatihan 1: Konsep Kurikulum 2013 1. KD 1. Materi Pelatihan 3: Model Rancangan Pembelajaran 1.2 Elemen Perubahan 1. C. KI. E. C. Materi Pelatihan 2: Analisis Materi Ajar 2. B.2 Konsep Pendekatan Scientific 2. I. K.1 Rasional 1. Program Pendampingan BAGIAN 3: MATERI PELATIHAN Pendahuluan | vii .2 Peer Teaching F.3 SKL.4 Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar 2. A.1 Konsep Pembelajaran Tematik Terpadu 2. dan Peserta Pelatihan Struktur Pelatihan Penilaian Panduan Narasumber dan Fasilitator Kode Etik Narasumber Panduan Penggunaan Materi Pelatihan Sistematika Materi Pelatihan Silabus Perubahan Mindset Silabus Konsep Kurikulum 2013 Silabus Analisis Materi Ajar Silabus Model Rancangan Pembelajaran Silabus Praktik Pembelajaran Terbimbing BAGIAN 2: SILABUS A. D. D. F. J. H. E.4 Strategi Implementasi C.5 Analisis Buku Guru dan Buku SIswa D. Tujuan Umum Pelatihan Indikator Umum KetercapaianTujuan Kompetensi Inti Peserta yang Harus Dicapai Hasil Kerja Peserta Selama Pelatihan Tahapan. Materi Pelatihan 4: Praktik Pembelajaran Terbimbing 4.1 Simulasi Pembelajaran 4.2 Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar E. B.1 Penyusunan RPP 1.3 Model Pembelajaran 2. Narasumber. Materi Pelatihan 0: Perubahan Mindset B.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 GAMBARAN STRUKTUR MATERI PELATIHAN GURU IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 BAGIAN 1: PENDAHULUAN A.

SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 BAGIAN I PENDAHULUAN Matematika – SMA/MA/SMK | 1 .

sarana. dan struktur pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 untuk tahun kalender 2013. Bahan/Materi Pelatihan yang dimaksud meliputi hand-out. Instruktur Nasional. dan penilaian Kurikulum 2013. 3. Tujuan Umum Pelatihan Tujuan Umum Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 adalah sebagai berikut. mata pelajaran dan jenjang pendidikan. dan kebijakan sekolah. bahan tayang baik dalam bentuk slide power point maupun rekaman video. X mampu melaksanakan tugas sesuai dengan tuntutan kompetensi lulusan. Guru Inti. isi. Modul ini memberi panduan bagi para pengguna mengenai (1) Tahapan Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. dan penilaian Kurikulum 2013. Sesuai dengan Kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. isi. (3) Panduan Narasumber. proses pembelajaran. 1. Tujuh puluh persen (70%) sekolah pelaksana Kurikulum 2013 mendapatkan bantuan secara benar dari pengawas sekolah selama implementasi Kurikulum 2013. 1. Kepala Sekolah Inti. (5) Bahan/Materi Pelatihan untuk masing-masing Mata Pelatihan. sasaran pelatihan. (2) Struktur Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. lembar kerja/worksheet. IV. Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMPK dan PMP) telah menetapkan jenjang atau tahapan pelatihan. Narasumber yang dimaksudkan adalah Narasumber Nasional. 2. 2. proses pembelajaran. dan Pengawas Sekolah Inti. Pengawas sekolah mampu memberikan bantuan teknis secara benar kepada sekolah dalam mengatasi hambatan selama implementasi Kurikulum 2013. Guru mampu melaksanakan tugas sesuai dengan tuntutan kompetensi lulusan. Matematika – SMA/MA/SMK | 2 . A. Kepala sekolah mampu mengerahkan sumber daya yang dimiliki dalam rangka menjamin keterlaksanaan implementasi Kurikulum 2013. Indikator Umum Ketercapaian Tujuan Hasil monitoring dan evaluasi implementasi Kurikulum 2013 pada akhir Tahun Ajaran 2013/2014. sumber daya manusia.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 BAGIAN I PENDAHULUAN Modul Pelatihan ini disiapkan untuk digunakan para Narasumber Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 sesuai dengan kelas. (4) Panduan Penilaian. menunjukkan di bawah ini. VII. Tujuh puluh persen (70%) guru kelas I. B. 3. Tujuh puluh persen (70%) sekolah pelaksana Kurikulum 2013 tidak mengalami hambatan biaya.

dan pengawas sekolah mampu mewujudkan hasil kerja secara kolektif berikut ini. Buku Guru. Narasumber. 7. dan santun. Memiliki keterampilan berkomunikasi lisan dan tulis dengan runtut. maka berikut ini kompetensi inti yang harus dicapai peserta setelah mengikuti pelatihan. 4. maka pelatihan ini menerapkan strategi pelatihan bertahap atau berjenjang. Kompetensi Dasar (KD). Hasil Kerja Peserta Selama Pelatihan Setelah selesai mengikuti pelatihan. Memiliki keterampilan melaksanakan penilaian autentik dengan benar. Kompetensi Inti Peserta yang Harus Dicapai Berdasarkan Indikator Ketercapaian Tujuan. Analisis SKL. benar. Memiliki keinginan yang kuat untuk mengimplementasikan Kurikulum 2013. Memiliki sikap yang terbuka untuk menerima Kurikulum 2013. 9. Project Based Learning. KD untuk jenjang dan mata pelajaran sesuai beban tugasnya. Tahapan atau Matematika – SMA/MA/SMK | 3 . dan Peserta Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 Sasaran akhir dari pelatihan ini adalah guru. 1. 5. Mengingat jumlah sasaran akhir pelatihan sangat besar dan sebaran sasaran akhir pelatihan sangat luas. 1. Analisis buku siswa dan buku guru untuk jenjang dan mata pelajaran sesuai beban tugasnya. Kompetensi Inti (KI). 2.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 C. Memiliki keterampilan mengajar dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning. Contoh RPP untuk jenjang dan mata pelajaran sesuai beban tugasnya. SKL. dan Discovery Learning. Memiliki keterampilan mengajar dengan menerapkan pendekatan Scientific secara benar. kepala sekolah. dan Buku Siswa. 3. selama 1 semester. 8. Memiliki pemahaman yang mendalam tentang Kurikulum 2013 (rasional. Memiliki keterampilan menyusun Rencana Program Pembelajaran (RPP) dengan mengacu pada Kurikulum 2013. guru. Contoh instrumen penilaian untuk jenjang dan mata pelajaran sesuai beban tugasnya. kepala sekolah dan pengawas. selama 1 semester. 4. 3. KI dan KD. elemen perubahan. E. 2. D. selama 1 semester. serta strategi implementasi). 6. KI. Memiliki keterampilan menganalisis keterkaitan antara Standar Kompetensi Kelulusan (SKL). selama 1 semester. Tahapan.

Pelatihan Kepala Sekolah Inti. Pelatihan Guru Kelas/ Mapel. dan Pelatihan Pengawas. Pelatihan Kepala sekolah. Tahapan Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 Tahapan pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 dapat dilihat pada diagram 1 di atas. narasumber yang akan bertugas. Secara keseluruhan terdapat 7 jenis pelatihan. dan Tingkat Kabupaten/Kota. Narasumber: Narasumber Nasional PELATIHAN INSTRUKTUR NASIONAL Peserta: Instruktur Nasional Narasumber: Instruktur Nasional PELATIHAN GURU INTI Peserta: Guru Inti Narasumber: Instruktur Nasional PELATIHAN KEPALA SEKOLAH INTI Peserta: Kepala Sekolah Inti Narasumber: Instruktur Nasional PELATIHAN PENGAWAS INTI Peserta: Pengawas Inti Narasumber: Guru Inti PELATIHAN GURU KELAS/MAPEL Peserta: Guru Kelas/Mapel/BK Narasumber: Kepala Sekolah Inti PELATIHAN KEPALA SEKOLAH Peserta: Kepala Sekolah Narasumber: Pengawas Inti PELATIHAN PENGAWAS Peserta: Pengawas Diagram 1.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 jenjang pelatihan. serta sasaran peserta dapat dijelaskan pada diagram berikut ini. Matematika – SMA/MA/SMK | 4 . yakni: Pelatihan Instruktur Nasional. Diagram tersebut menunjukan terdapat 3 tahap pelatihan yaitu:Pelatihan Tingkat Nasional. Pelatihan Pengawas Inti. Pelatihan Guru Inti. Tingkat Provinsi.

dan PengawasSekolah Tabel 1: Struktur Pelatihan Guru.5 2 1 Lainnya 2 4 0.2 1.4 PERUBAHAN MINDSET KONSEP KURIKULUM 2013 Rasional Elemen Perubahan SKL.5 6 6 4 4 6 6 3.5 0.5 0.5 2 1 Kelas IV 2 4 0.4 Konsep Pendekatan Scientific Model Pembelajaran Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (Kesesuaian.5 0.1 PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING Simulasi Pembelajaran 22 8 22 8 22 8 22 8 22 8 22 8 Matematika – SMA/MA/SMK | 5 . Struktur Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013.2 MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN Penyusunan RPP Perancangan Penilaian Autentik 8 5 3 8 5 3 8 5 3 8 5 3 8 5 3 8 5 3 4.1 ANALISIS MATERI AJAR Konsep Pembelajaran Tematik Terpadu Konsep Pembelajaran IPA Terpadu Konsep Pembelajaran IPS Terpadu 12 2 12 2 12 12 12 12 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2.5 2 1 SMP/MTs SMA/SMK /MA 2 4 0. untuk Guru. dan Kedalaman Materi) 2.1 1.5 2 1 IPA 2 4 0. Kepala Sekolah.5 0.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 F. 4. Kecukupan. 1. 3. KI dan KD Strategi Implementasi 2 4 0. dan Pengawas Sekolah SD/MI No MateriPelatihan Kelas I 0. Kepala Sekolah.5 0.3 2.5 2 1 IPS 2 4 0. 2.5 2 1 2.3 1.5 0. 1.1 3.2 2.

Narasumber membagi tugas secara bersama-sama dengan prinsip keadilan. pengetahuan. Setiap calon instruktur nasional. Penilaian Seusai pelatihan. dan pengamatan. 3. memberikan penjelasan tambahan. maka narasumber lainnya berperan sebagai fasilitator yang membantu dalam menyiapkan perangkat pelatihan. Matematika – SMA/MA/SMK | 6 . Beberapa hal penting yang harus diperhatikan oleh seorang narasumber adalah berikut ini.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 4. kepala sekolah inti.2 Peer Teaching 14 14 14 14 14 14 PENDAMPINGAN 2 2 2 2 2 2 TES AWAL DAN TES AKHIR 2 2 2 2 2 2 TOTAL 52 52 52 52 52 52 G. dan 3. tes akhir. Penilaian meliputi tiga ranah yaitu: 1. sikap 2. Metode penilaian yang diterapkan di dalam penilaian ini meliputi: 1. dan melakukan penilaian kepada peserta. tes awal. Jumlah narasumber yang akan bertugas sebanyak 3 (tiga) orang selama proses pelatihan. H. guru inti. 1. Panduan Narasumber dan Fasilitator Narasumber memainkan peran yang sangat penting untuk menjadikan suatu pelatihan yang menarik dan menyenangkan. keterampilan Penilaian autentik diterapkan di dalam pelatihan ini. 2. Memahami isi modul sesuai bidang yang ditugaskan. panitia pelatihan akan mengumumkan hasil penilaian peserta. dan pengawas inti dinyatakan lulus apabila mencapai nilai 75 dan memiliki kewenangan untuk melatih. portofolio. 4. Ketika seorang narasumber bertugas memberikan materi pelatihan.

maupun penguasaan materi pelatihan. Terpancing dalam perdebatan dengan peserta yang dapat mengakibatkan habisnya waktu. 2. yang tua. menanyakan argumentasinya mengapa peserta mengambil simpulan itu. yang pendiam. c. tetapi wajib melibatkan peserta secara aktif dalam mencari. 8. Matematika – SMA/MA/SMK | 7 . dan penilaian proses. b. memberikan motivasi. tes akhir. yang meliputi ranah sikap. dan sebagainya. 6. pengetahuan. 7. Memberikan kesempatan yang sama kepada semua peserta baik laki-laki maupun perempuanyang memiliki keterbatasan berbicara. 5. Menjawab pertanyaan yang tidak dipahami maksudnya. Menyerahkan laporan tertulis setiap selesai melakukan pelatihan. berperilaku. baik dalam hal disiplin. sumber.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 2. Menyiapkan alat. menggali data. 10. Memanggil nama peserta untuk mengurangi ketegangan. 9. I.. 4. Menjawab pertanyaan yang tidak diketahui jawabnya. e. cara memberikan umpan balik. Melaksanakan penilaian terdiri atas: tes awal. 4. dan keterampilan. mengambil keputusan atau simpulan. dan memberikan konfirmasi. d. Membagi bahan pelatihan kepada peserta sesuai haknya. Kode Etik Narasumber Setiap fasilitator pelatihan wajib menyetujui dan menerapkan kode etik berikut ini. cara memberikan pertanyaan. Memotivasi peserta untuk mengambil kesimpulan sendiri. Mengaktifkan peserta untuk menjawab pertanyaan peserta lain. Melaksanakan pelatihan sesuai dengan modul dan mematuhi urutan dalam skenario pelatihan yang telah disusun. Mencatat kehadiran peserta sebagai bagian dari bahan penilaian. Mengajukan pertanyaan yang dapat dijawab peserta sesering mungkin (jangan pertanyaan yang sulit dijawab atau terlalu mudah dijawab peserta). a. Berperan sebagai orang yang serba tahu. menguatkan dan menekankan simpulan itu. Menjawab pertanyaan yang tidak perlu dijawab. Memberikan contoh panutan bagi peserta. menganalisis alternatif temuan. Tugas Narasumber yang Berperan sebagai Fasilitator 1. yang minoritas. 3. dan media belajar yang diperlukan. Mengurangi penjelasan definisi. memecahkan masalah. 3. menjawab pertanyaan. Menghindari hal-hal berikut ini. 5.

dan KD SKL. Mengacu pada prinsip-prinsip andragogi dalam bersikap dan berperilaku. KI. Memberlakukan peserta secara adil dan tidak diskriminatif.1/3. Tabel 2. 2. 3.1 PPT-1.2 LK-1.2-1 Matematika – SMA/MA/SMK | 8 .1 V-1. MATERI PELATIHAN PERUBAHAN MINDSET Bahan Tayang Tantangan Indonesia dalam Abad ke-21 KONSEP KURIKULUM 2013 Video Tayangan Paparan Kurikulum 2013 oleh Mendikbud Bahan Tayang Perubahan Mindset Rasional dan Elemen Perubahan SKL.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 1. 0. 4. Menghormati kebijakan pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terkait dengan implementasi Kurikulum 2013.3 2. Melakukan penilaian secara objektif.3 PPT-2.3/2. dan KD Lembar Analisis Keterkaitan SKL. KD Kerja/Rubrik ANALISIS MATERI AJAR Video Bahan Tayang Pembelajaran Matematika SMA Model-model Pembelajaran Konsep Pendekatan Scientific Model Pembelajaran Project Based Learning KODE PPT-0.1-1 PPT-2.1/4. J. V-2.1 V-2.1 PPT-1.3 PPT-1. Menjaga kerahasiaan semua alat penilaian yang akan digunakan.1/1. Panduan Penggunaan Materi Pelatihan Kurikulum 2013 Jenis bahan dan lembar kerja untuk masing-masing materi pelatihan dapat dilihat berikut ini.2/1. Daftar dan Pengkodean Materi Pelatihan NO. Beberapa dokumen pelatihan digunakan sebagai acuan untuk beberapa materi pelatihan sebagaimana tercermin dalam pengkodean bahan pelatihan. 5. KI.2 PPT-1.4 HO-1. 1. KD Strategi Implementasi Hand-Out Naskah Kurikulum 2013 Contoh Analisis Keterkaitan antara SKL.3 HO-1.4 HO-1. KI. KI.4/3.

1-2 HO-2.2-1 PPT-4. Rubrik Penilaian Hasil Analisis Buku Guru dan Siswa MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN Bahan Tayang Rambu-rambu Penyusunan RPP Mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan Scientific Panduan Tugas Menelaah Rancangan Penilaian pada RPP yang Telah Dibuat SKL.3/2.2 LK-3.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 NO.3/3.2-3 HO-2.2-2 LK-4.3 PPT-2.2 LK-2.1-1 HO-3.4 Lembar Kerja/Rubrik 3.2-2 PPT-2.2-3 PPT-2. Video Bahan Tayang PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING Lembar Kerja/Rubrik Matematika – SMA/MA/SMK | 9 .1 Hand-Out Lembar Kerja/Rubrik 4.4 HO-2.1 PPT-4. dan KD Rambu-rambu Penyusunan RPP Mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan Scientific Contoh RPP Matematika SMA Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran Telaah RPP Rubrik Penilaian Telaah RPP Video Pembelajaran Matematika Strategi Pengamatan Tayangan Video Panduan Tugas Praktik Pelaksanaan Pembelajaran Melalui Peer-Teaching Instrumen Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran Analisis Pembelajaran pada Tayangan Video Rubrik Penilaian Analisis Pembelajaran pada Tayangan Video PPT-3.4/3.1/4.1/3. KI.1 PPT-4.1/3.4-2 R-2.1-1 PPT-3.2-2 HO-2.4-1 LK-2.1-1 HO-2.2 R-3.1 R-4.1-2 HO-2.3/3.2 HO-3. MATERI PELATIHAN Model Pembelajaran Problem Based Learning Model Pembelajaran Discovery Learning Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Analisis Buku Guru dan Siswa Hand-Out Konsep Pendekatan Scientific Contoh Penerapan Pendekatan scientific dalam Pembelajaran Matematika Model Pembelajaran Project Based Learning Model Pembelajaran Problem Based Learning Model Pembelajaran Discovery Learning Konsep Penilaian Autentik Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran Matematika Analisis Buku Guru Analisis Buku Siswa KODE PPT-2.2-1 HO-2.1/3.2 V-2.2 HO-1.3 HO-2.

Materi Pelatihan 2.2 Keterangan: V PPT HO LK R : : : : : Video Powerpoint Presentation Hand-Out Lembar Kerja Rubrik Catatan Pengkodean: 1. Bagian I Bagian II : : Pendahuluan Silabus Pelatihan Materi Pelatihan Bagian III : Matematika – SMA/MA/SMK | 10 . submateri 3. PPT-1.3 artinya bahan presentasi ini digunakan saat menyampaikan Materi Pelatihan 1 (Konsep Kurikulum). .Materi Pelatihan 3. submateri 1 dan 4. MATERI PELATIHAN Instrumen Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran Rubrik Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran KODE LK-4. 2.KI. submateri 1 dan 2.1/3.1/2. K.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 NO.2 R-4.KD) HO-1.2 artinya hand-out ini digunakan sebagai acuan untuk beberapa materi pelatihan yaitu sebagai berikut: . . Submateri 3 (SKL. Sistematika Modul Modul pelatihan implementasi kurikulum ini dibagi dalam tiga bagian berikut ini.Materi Pelatihan 1.3/2.4/3.

SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 BAGIAN II SILABUS PELATIHAN Matematika – SMA/MA/SMK | 11 .

SMK/MAK MATA PELAJARAN: MATEMATIKA KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TAHUN 2013 Matematika – SMA/MA/SMK | 12 .SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 JENJANG: SMA/MA.

SMK/MAK MATEMATIKA KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN 1. Curah pendapat membandingkan antara berpikir berbasis kendala (constraintbased thinking) dengan berpikir berbasis kesempatan (opportunitybased thinking) 3. KEGIATAN PELATIHAN 1. 4.1) WAKTU (JP) 2 NO 0. Memiliki sikap yang terbuka untuk menerima Kurikulum 2013 2.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: SUBMATERI PELATIHAN Tantangan Indonesia dalam Abad ke21 0. PERUBAHAN MINDSET 2 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA.1 INDIKATOR 1. TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar Pengamatan Sikap BAHAN PELATIHAN JENIS Bahan Tayang DESKRIPSI Tantangan Indonesia dalam Abad ke-21 (PPT-0. Berpartisipasi aktif dalam kegiatan pelatihan. Menunjukan sikap terbuka terhadap perubahan. 2. Memiliki keinginan yang kuat untuk mengimpleme ntasikan Kurikulum 2013. 2. Mendiskusikan 6 PENILAIAN ASPEK Sikap Terbuka untuk menerima dan mengimpleme ntasikan Kurikulum 2013. Mendiskusikan cara baru dalam belajar. Matematika – SMA/MA/SMK | 13 . Tanya jawab tentang tantangan Indonesia dalam Abad ke-21.

SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN pendorong utama teknologi pendidikan yang harus diperhatikan 5. Tanya jawab tentang High order thingking WAKTU (JP) Matematika – SMA/MA/SMK | 14 .

SMK/MAK MATEMATIKA KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN Memahami secara utuh rasional Kurikulum 2013. Menjelaskan rasional pengembangan Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan masa depan. 2. Mengamati dan menyimak tayangan paparan tentang Kurikulum 2013 oleh Mendikbud. Video DESKRIPSI Tayangan Paparan Kurikulum 2013 oleh Mendikbud (V-1. Hand-out Matematika – SMA/MA/SMK | 15 . KONSEP KURIKULUM 4 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA. Menyimak dan melakukan tanya jawab tentang paparan rasional Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan kurikulum di Indonesia.1 INDIKATOR 1.1) Rasional Kurikulum 2013 (PPT-1. 2. 3. Menerima rasional pengembangan Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan masa depan. KEGIATAN PELATIHAN 1. Menjelaskan permasalahan Kurikulum 2006 (KTSP). 3.1) Naskah Kurikulum 2013 (D-1.1/1. Menyimpulkan rasional Kurikulum 2013 yang mencakup permasalahan PENILAIAN ASPEK Sikap Menerima latar belakang alasan perubahan Kurikulum 2013.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: SUBMATERI PELATIHAN Rasional 1. Pengetahuan Memahami secara utuh rasional kurikulum 2013 . TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar Pengamatan Sikap BAHAN PELATIHAN JENIS 1. 2. Bahan Tayang Tes Tertulis Tes Objektif Pilihan Ganda 3.5 NO 1.2/1.4) WAKTU (JP) 0.

Menyimpulkan empat elemen perubahan Kurikulum 2013. WAKTU (JP) 1. Menjelaskan empat elemen perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: SKL.5 2. kesenjangan kurikulum antara kondisi saat ini dengan kondisi ideal.1/1. Standar Proses. Bahan Tayang Elemen Perubahan Kurikulum 2013 (PPT-1. 1. dan Standar Penilaian. Hand-out Tes Tertulis Tes Objektif Pilihan Ganda Matematika – SMA/MA/SMK | 16 . serta alasan pengembangan kurikulum.2 Elemen Perubahan Kurikulum 2013 Memahami secara utuh elemen perubahan Kurikulum 2013. Standar Proses. 2. SI. dan Standar Penilaian. Menyimak dan melakukan tanya jawab tentang empat elemen perubahan Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan kurikulum.2/1. Menjelaskan alasan pengembangan kurikulum. Mengidentifikasi kesenjangan kurikulum antara kondisi saat ini dengan kondisi ideal.4) 0. Pengamatan Lembar Pengamatan Sikap 1. SI.2) Naskah Kurikulum 2013 (D-1. 5. Menerima empat elemen perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: SKL. Sikap Menerima empat elemen perubahan Kurikulum 2013 Pengetahuan Memahami elemen perubahan Kurikulum 2013 dan hubungannya dengan kompetensi yang dibutuhkan pada masa depan. 2. KEGIATAN PELATIHAN kurikulum 2006 (KTSP). 1.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR 4.

KI. KI. Menyimak paparan SKL. 2. dan KD. dan KD. dan KD. Hand-Out SKL.2) b.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR 3.3/ 2. KI. Menjelaskan empat elemen perubahan kurikulum dalam hubungannya dengan kompetensi yang dibutuhkan pada masa depan. KI dan KD (R-1. dan KD pada Kurikulum 2013. dan KD yang akan dijadikan dasar dalam Sikap Bekerja sama dalam kelompok dengan baik dan benar Keterampilan Terampil menganalisis keterkaitan SKL. Menganalisis keterkaitan SKL. KI. 3. KI. Lembar Kerja Pengetahuan Kemampuan memahami konsep SKL. Memberi contoh analisis keterkaitan SKL. KI. dan KD. 2. KI dan KD Memahami keterkaitan antara SKL.4/ 3.3 ) 2 Penugasan Rubrik penilaian hasil analisis keterkaitan SKL. dan KD (PPT-1. dan KD melalui diskusi kelompok pada format yang sudah disediakan (Tiap kelompok menganalisis keterkaitan SKL. Menganalisis keterkaitan antara SKL. Bahan Tayang 2. dan KD Pengamatan Lembar Pengamatan Sikap 1. KI. SKL. 1. Contoh Analisis Keterkaitan antara SKl. dan KD (HO-1. KI. KI. KEGIATAN PELATIHAN WAKTU (JP) 1. KI.1/3.3) Tes Objektif Pilihan Ganda 3. dan KD (HO-1. dan KD (LK-1. KI.3 SKL.3) a. KI. KI.3) Analisis Keterkaitan SKL. dan KD serta keterkaitan antara ketiga kompetensi Tes Tertulis Matematika – SMA/MA/SMK | 17 . 1. Bekerja sama dalam menganalisis keterkaitan SKL.

Bahan Tayang Strategi Implementasi Kurikulum (PPT-1. Menilai hasil kerja kelompok lain. 3. Berkomunikasi dengan bahasa yang runtut dan komunikatif untuk mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013. Pengetahuan Memahami elemenelemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013. 5. Hand-out Tes Tertulis Tes Objektif Pilihan Ganda Matematika – SMA/MA/SMK | 18 . Pengamatan Lembar Pengamatan Sikap 1.1/1. WAKTU (JP) 1. 1. Sikap Berkomunikasi dengan bahasa yang santun.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK tersebut.4) Naskah Kurikulum 2013 (D-1. sistematis. 2.4) 1 2. Diskusi kelas untuk mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013. dan komunikatif dalam meyampaikan ide-ide. Mempresentasi kan hasil diskusi kelompok. TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN membuat RPP) 4. Merangkum dan menyimpulkan hasil diskusi kelas.4 Strategi Implementasi Kurikulum 2013 Memahami secara utuh strategi implementasi Kurikulum 2013. 1.2/1. Mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013. Mengkomunikasi kan hasil diskusi kelas. 2.

Contoh penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika (PPT-2. Pengetahuan Konsep pendekatan scientific dan penerapannya dalam pembelajaran Matematika. SMK/MAK MATEMATIKA PENILAIAN ASPEK Sikap Menerima konsep pendekatan scientific dan menghargai pendapat orang lain. Konsep pendekatan scientific NO 2. Hand out Matematika – SMA/MA/SMK | 19 . Mendiskusikan contoh-contoh penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATERIPELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: 2. Menjelaskan penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika. 2. Video DESKRIPSI Pembelajaran Matematika (V-2. ANALISIS MATERI AJAR 12 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA.1-1) b.1) a. 2. Mengkaji pendekatan scientific berdasarkan tayangan video melalui diskusi kelompok. Menerima konsep pendekatan scientific dan menghargai pendapat orang lain. Konsep pendekatan scientific (PPT-2. WAKTU (JP) 2 2. Bahan Tayang Tes tertulis Tes Objektif Pilihan Ganda 3. KEGIATAN PELATIHAN 1.1 SUBMATERI PELATIHAN Konsep Pendekatan Scientific KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN Mendeskripsikan konsep pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika. 3. Mengamati tayangan video pembelajaran Matematika. Menjelaskan konsep pendekatan scientific 3.1-2) a.1/4. INDIKATOR 1. TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar pengamatan sikap BAHAN PELATIHAN JENIS 1.

1-1) b.3) a. dan Discovery Learning).1-2) NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN WAKTU (JP) 4. Keterampilan Menganalisis.2 Model Pembelajaran Membedakan Model Pembelajaran Project Based Learning. Problem Based Learning (PPT-2. Contoh penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika (HO-2. Mengidentifikasi karakteristik 3 model pembelajaran. Mengidentifikasi karakteristik model pembelajaran Discovery Learning.3. Problem Based Learning. Mengamati tayangan 3 jenis model pembelajaran (Project Based Learning.3-2) c. 2. Video Contoh Pembelajaran dengan 3 model pembelajaran (V-2. 3. Mempresentasi kan hasil diskusi kelompok. dan Discovery Learning. 3. dan Discovery Learning. 2. Mengidentifikasi karakteristik model pembelajaran Problem Based Learning. Project Based Learning (PPT-2. Discovery Learning (PPT-2.1) b. Focus Group Discussion Panduan FGD 1. 1. 1. Project Based Learning 2 Tes Tulis Tes Objektif Pilihan Ganda 2. Mengidentifikasi karakteristik model pembelajaran Project Based Learning. Bahan Tayang Unjuk kerja Rubrik penilaian 3.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI (HO-2. Problem Based Learning. 2. Mengidentifikasi penerapan Pendekatan Sikap Menyadari manfaat penerapan tiga model pembelajaran Pengetahuan Karakteristik Project Based Learning. Hand out Matematika – SMA/MA/SMK | 20 .3-3) a. Problem Based Learning.

2.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK membedakan. 2.3-2) c. Menyajikan kegiatan interaktif untuk menyamakan persepsi tentang jenis dan bentuk tes dalam penilaian autentik. Konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar (PPT-2.3. 1. Pengamatan Lembar pengamatan sikap 2 Tes tertulis Tes Objektif Pilihan Ganda 2. Contoh penerapan TEKNIK WAKTU (JP) mengaitkan. Menerima penerapan konsep penilaian autentik di sekolah/ madarasah dan menghargai pendapat orang lain. Pengetahuan Konsep penilaian autentik pada pembelajaran Matematika.3) b. NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN Scientific pada 3 model pembelajaran BAHAN PELATIHAN BENTUK INSTRUMEN hasil kerja JENIS DESKRIPSI (HO-2. 2. Hand out Matematika – SMA/MA/SMK | 21 .2) a. Contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Matematika (PPT-2.3-3) 1. Bahan Tayang a. Konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar (HO-2. Mempresentasi kan hasil diskusi kelompok.3) b. Mendiskusikan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. Discovery Learning (HO-2. Menjelaskan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. Problem Based Learning (HO-2. 3.3 Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Mendeskripsikan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar 1. Sikap Menerima penerapan konsep penilaian autentik di sekolah/ madrasah dan menghargai pendapat orang lain.1) b.3/3.

dan KD. 1. Analisis Buku Guru (LK-2. KI. Peserta pelatihan menilai buku guru dan buku siswa.2) a.4/ 3. dan Kedalaman Materi) 1. KI. dan KD (HO-1.3/2. Menganalisis kesesuaian buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI penilaian autentik pada pembelajaran Matematika (HO-2. dan KD. Keterampilan Terampil menganalisis buku guru dan siswa. Hand-out Penugasan Rubrik Penilaian Hasil Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (R-2. Diskusi kelompok membahas hasil penilaian buku guru dan buku siswa. 2.3/3. KI. KI. Menganalisis kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. dan KD. Mengidentifikasi kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. Mencermati format analisis buku guru dan buku siswa.2) NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN WAKTU (JP) 2. Kecukupan. Analisis Buku Siswa (LK-2. 1. dan KD dalam diskusi Sikap Teliti dan serius dalam bekerja baik secara mandiri maupun berkelompok. KI. Pengamatan Lembar pengamatan sikap 1. Ketelitian dan keseriusan menganalisis kesesuaian buku guru dan siswa dengan SKL.4-1) b. 4. Bahan Tayang Analisis buku guru dan buku siswa (PPT-2.4-2) 6 2. 3.4 Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (Kesesuaian.1/3.4) SKL. 2. Lembar Kerja Matematika – SMA/MA/SMK | 22 .4) 3.

Menganalisis buku guru dan buku siswa dilihat dari aspek kecukupan dan kedalaman materi. pendekatan scientific. Menguasai secara utuh materi. Membaca isi materi. serta strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam buku. Matematika – SMA/MA/SMK | 23 . Mendeskripsikan kecukupan dan kedalaman materi buku guru dan buku siswa secara kelompok. struktur. 6. struktur.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN kelompok. dan pola pikir keilmuan materi pelajaran yang terdapat dalam buku siswa melalui belajar 4. 3. 7. Menganalisis kecukupan dan kedalaman materi buku guru dan buku siswa. WAKTU (JP) 2. Menjelaskan secara utuh materi. 5. 5. struktur. Menganalisis kesesuaian proses. serta strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam buku melalui diskusi kelompok. pendekatan scientific. Menganalisis kesesuaian isi buku dengan standar proses. dan pola pikir keilmuan materi pelajaran yang terdapat dalam buku siswa. dan pola pikir keilmuan materi pelajaran. 3.

6. 7. Mempresentasi kan hasil analisis buku guru dan buku siswa (perwakilan kelompok). Menerapkan materi pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari. Menjelaskan strategi penggunaan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. Menyimpulkan strategi penggunaan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. 8. Matematika – SMA/MA/SMK | 24 .SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN mandiri. Membuat contoh-contoh penerapan materi pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari secara berkelompok. Menguasai penerapan materi pelajaran pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari. 10. Memahami strategi menggunakan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. 5. 9. WAKTU (JP) 4.

WAKTU (JP) 5 2. KI. moral. SKL.4/ SUBMATERI PELATIHAN 3. kultural. Peserta pelatihan menilai RPP yang dibawa oleh peserta lain.1/3. Bahan Tayang DESKRIPSI a. Rambu-rambu penyusunan RPP mengacu pada Standar Proses dan pendekatan scientific (PPT-3. INDIKATOR NO 1. dan KD (HO-1. SMK/MAK MATEMATIKA PENILAIAN ASPEK Sikap Tanggung jawab dan kreatif dalam menyusun RPP Keterampilan Menyusun RPP yang mengacu pada Standar Proses dan pendekatan scientific TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar Pengamatan Sikap BAHAN PELATIHAN JENIS 1. Hand out Matematika – SMA/MA/SMK | 25 .1-1) b. Panduan tugas telaah RPP (PPT-3.2) 2. Mendiskusikan rambu-rambu penyusunan RPP yang mengacu pada Standar Proses dan pendekatan scientific.1-2) a. Menunjukkan sikap tanggung jawab dan kreatif dalam menyusun RPP. Mengidentifikasi rambu-rambu penyusunan RPP.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: 3. Penugasan Rubrik Penilaian Telaah RPP (R-3.1 Penyusunan RPP KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN Menyusun RPP yang menerapkan pendekatan scientific sesuai model belajar yang relevan dengan mempertimbang kan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik. sosial. emosional. 2. KEGIATAN PELATIHAN 1. MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN 8 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA.3/2.

KI. Menyusun RPP yang sesuai dengan SKL. dan pendekatan scientific secara berkelompok (terutama KD awal semester I) 4. dan KD. 7. Contoh RPP Matematika (HO-3. Mendiskusikan format telaahRPP . KI. dan KD. 5.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN maupun intelektual PENILAIAN ASPEK Pengetahuan RPPyang menerapkan pendekatan scientific TEKNIK Tes Tertulis BENTUK INSTRUMEN Tes Objektif Pilihan Ganda BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI 3. MenelaahRPP yang disusun kelompok lain sesuai format telaah RPP.1/3.2 b. Mempresentasikan hasil RPP yang sudah direvisi (sampel) 4. 6. 3. Lembar Kerja SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR NO KEGIATAN PELATIHAN WAKTU (JP) 3. Menyusun RPP yang sesuai dengan SKL.1-1) c. dan pendekatan scientific. Standar Proses.1-2) Telaah RPP 3. Rambu-rambu penyusunan RPP mengacu pada Standar Proses dan pendekatan scientific (HO-3. Menelaah RPP yang disusun kelompok lain (LK-3. Merevisi RPP berdasarkan hasil telaah. Standar Proses.1/3.2) Matematika – SMA/MA/SMK | 26 .

Bahan Tayang DESKRIPSI a. SKL. Mendiskusikan tentang kaidah merancang penilaian autentik berbentuk tes dan nontes. Mengidentifikasi kaidah perancangan penilaian autentik pada proses dan hasil belajar.2) a. Mendiskusikan dan melakukan tanya jawabtentang penilaian autentik dalam bentuk tes dan nontes.3/3. Contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Matematika (HO-2.3/2. 4. Mengkaji penerapan penilaian autentik dalam pembelajaran Matematika melalui contoh. Keterampilan Merancang penilaian autentik Pengetahuan Penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Matematika. Menelaah rancangan penilaian Matematika – SMA/MA/SMK | 27 .4/ 3.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN Merancang penilaian autentik pada proses dan hasil belajar PENILAIAN ASPEK Sikap Tanggung jawab dankreatif dalam menyusun rancangan penilaian autentik. Panduan tugas menelaah rancangan penilaian pada RPP yang telah dibuat (PPT-3.2 Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar INDIKATOR NO 1.3/3. termasuk portofolio. dan KD (HO-1. WAKTU (JP) 3 2. KI. Penugasan Rubrik Penilaian Telaah RPP (R-3. KEGIATAN PELATIHAN 1.1/3. Menunjukkan sikap tanggung dan kreatifdalam menyusun rancangan penilaian autentik. TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar Pengamatan Sikap BAHAN PELATIHAN JENIS 1. Hand out Tes Tertulis 3.2) Tes Objektif Pilihan Ganda 2. Menelaah rancangan penilaian 4. 3.2) SUBMATERI PELATIHAN 3.2) b. 2. Mengidentifikasi jenis dan bentuk penilaian pada proses dan hasil belajar sesuai karakteristik mata pelajaran Matematika.1/3. Contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Matematika (PPT-2.2) b.

KEGIATAN PELATIHAN autentik pada RPP yang telah disusun. 5. 6. Merevisi rancangan penilaian pada RPP yang telah disusun berdasarkan hasil telaah. Mempresentasi kan rancangan penilaian proses dan hasil belajar yang sudah direvisi (sampel) WAKTU (JP) Matematika – SMA/MA/SMK | 28 .SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR NO autentik pada proses dan hasil belajar yang ada dalam RPP.

2. kultural. Menganalisis simulasi pembelajaran melalui tayangan video pembelajaran. emosional.1/4. Video DESKRIPSI Pembelajaran Matematika (V-2. moral. Ketelitian dan keseriusan dalam menganalisis simulasi pembelajaran.1) NO 4. Mengkonfirmasi penerapan pendekatan Penugasan Rubrik Penilaian Analisis pembelajaran pada tayangan video (R-4. Lembar Kerja Pengetahuan Prinsipprinsip pendekatan scientific dan Tes Tertulis Matematika – SMA/MA/SMK | 29 . Melalui diskusi.1) Analisis pembelajaran pada tayangan video (LK-4. menalar. Mengamati tayangan video pembelajaran WAKTU (JP) 8 2. SMK/MAK MATEMATIKA PENILAIAN ASPEK Sikap Ketelitian dan keseriusan dalam menganalisis simulasi pembelajaran Keterampilan Menganalisis pembelajaran pada tayangan video. sosial. menganalisis tayangan video pelaksanaan pembelajaran dengan fokus pada penerapan pendekatan scientificdan penilaian autentik. mencoba. menanya. KEGIATAN PELATIHAN 1. mencipta) dengan tetap memperhatikan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik. menyaji. PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING 22 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA. INDIKATOR 1. mengolah.1 SUBMATERI PELATIHAN Simulasi Pembelajaran KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN Mengkaji pelaksanaan pembelajaran yang menerapkan pendekatan scientific (mengamati. Bahan Tayang 2.1) Tes Objektif Pilihan Ganda 3. TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar Pengamatan Sikap BAHAN PELATIHAN JENIS 1.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATERIPELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: 4. 3.1) Strategi pengamatan video pembelajaran (PPT-4.

Merevisi RPP sesuai dengan hasil analisis tayangan video pembelajaran. Instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran (PPT-4. mencipta) 1. 1. PENILAIAN ASPEK penerapan penilaian autentik dalam pembelajaran Matematika. Menjelaskan garis besar instrumen penilaian pelaksanaan Sikap Kreatif dan komunikatif dalam melakukan peer teaching Keterampilan Melaksanakan pembelajaran yang menerapkan Pengamatan Lembar Pengamatan Sikap 1. menanya. Panduan tugas praktik pelaksanaan pembelajaran melalui peer teaching (PPT-4. Penugasan 2. 2. Bahan Tayang a. 4. mencoba. Menginformasik an panduan tugas praktik pelaksanaan pembelajaran melalui peer teaching. intelektual. 5.2-2) 14 4.2 Peer Teaching Melaksanakan pembelajaran yang menerapkan pendekatan scientific (mengamati.2) Tes Objektif Matematika – SMA/MA/SMK | 30 . menalar. Melaksanakan peer teaching yang menerapkan pendekatan Tes Tertulis Rubrik penilaian pelaksanaan pembelajaran (R-4. TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN scientific dan penilaian autentik mengacu pada tayangan video pembelajaran. mengolah. WAKTU (JP) 3. Merevisi RPP sehingga menerapkan pendekatan scientific dan penilaian autentik untuk kegiatan peer teaching.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN maupun. Mempresentasi kan contoh RPP untuk kegiatan peer teaching. Kreatif dan komunikatif dalam melakukan peer teaching. menyaji.2-1) b.

Menilai pelaksanaan peer teaching peserta lain. WAKTU (JP) 3. Mempersiapkan pelaksanaan peer teaching berdasarkan RPP yang telah disusun. TEKNIK BENTUK INSTRUMEN Ganda BAHAN PELATIHAN JENIS 2. PENILAIAN ASPEK pendekatan scientific. Lembar Kerja DESKRIPSI Instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran (LK-4.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN dengan tetap memperhatikan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik. Mempraktikkan pembelajaran melalui peer teaching secara individual. kultural. Melakukan refleksi terhadap pelaksanaan peer teaching. emosional. intelektual. 5.2) NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR scientific dan penilaian autentik menggunakan RPP yang telah disusun. KEGIATAN PELATIHAN pembelajaran 3. Matematika – SMA/MA/SMK | 31 . moral. maupun. 4. sosial. Pengetahuan Prinsipprinsip pendekatan scientific dan penerapan penilaian autentik dalam pembelajaran Matematika. Menilai kegiatan peer teaching menggunakan instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran 6.

BAGIAN III MATERI PELATIHAN Matematika – SMA/MA/SMK | 32 .

MATERI PELATIHAN: PERUBAHAN MINDSET Matematika – SMA/MA/SMK | 33 .

KOMPETENSI Peserta pelatihan dapat: 1.MATERI PELATIHAN: PERUBAHAN MINDSET A. LINGKUP MATERI 1. Memiliki sikap yang terbuka untuk menerima Kurikulum 2013. 2. C. Menunjukkan sikap menerima secara terbuka terhadap perubahan Kurikulum dalam rangka menghadapi tantangan Indonesia dalam Abad ke-21. 3. 6. Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi (Higher Order Thinking Skill). D. Berpikir Berbasis Kendala (Constraint-Based Thinking) dan Berpikir Berbasis Kesempatan (Opportunity Based) Cara Baru dalam Belajar Enam Pendorong Utama Teknologi Pendidikan yang Harus Diperhatikan. Tantangan Indonesia dalam Abad ke-21 (Mengapa Kita Harus Berubah). 4. PERANGKAT PELATIHAN 1. Bahan Tayang: Tantangan Indonesia dalam Abad 21 (Mengapa Kita Harus Berubah) ATK Matematika – SMA/MA/SMK | 34 . Menunjukkan sikap menghargai perubahan kurikulum. B. Memiliki keinginan yang kuat untuk mengimplementasikan Kurikulum 2013. INDIKATOR 3. 4. 2. Berpartisipasi aktif dalam kegiatan materi pelatihan perubahan mindset. 5. 5. Merespon secara positif terhadap cara baru dalam belajar. 2.

Mendiskusikan cara baru dalam belajar. semangat. atau media pembelajaran lainnnya. alokasi waktu. Active Speaker. seperti LCD Projector. dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung. File. tujuan. kompetensi. mengajak berdinamika agar saling mengenal. Curah pendapat untuk membandingkan berpikir berbasis kendala 15 menit (Constraint-Based Thinking) dan Berpikir berbasis kesempatan (Opportunity Based). Fasilitator mengingatkankan peserta agar membaca referensi yang relevan. Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran. Fasilitator menutup pembelajaran 15 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 35 . 10 Menit Mendiskusikan enam pendorong utama teknologi pendidikan yang 20 Menit harus diperhatikan dilanjutkan dengan tanya jawab tentang keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skill) KEGIATAN PENUTUP Membuat rangkuman materi pelatihan Perubahan Mindset. Fasilitator memotivasi peserta. indikator. dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Perubahan Mindset. SMK/MAK MATEMATIKA DESKRIPSI KEGIATAN WAKTU Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran. Laptop. serius. 15 Menit KEGIATAN PENDAHULUAN KEGIATAN INTI Perubahan Mindset 60 Menit Tanya jawab tentang tantangan Indonesia dalam Abad ke-21 15 Menit (mengapa kita harus berubah). dan Laser Pointer.SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: TAHAPAN KEGIATAN PERSIAPAN PERUBAHAN MINDSET 2 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA. Pengkondisian Peserta Perkenalan Fasilitator menjelaskan nama.

tujuan. dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung. kompetensi. Fasilitator memotivasi peserta.Langkah Kegiatan Inti Pengkondisian Peserta dilanjutkan Tanya Jawab 30 Menit Curah Pendapat Diskusi Diskusi Dilanjutkan Tanya Jawab 15 Menit 10 Menit 20 Menit Pengkondisian Peserta dilanjutkan Tanya Jawab Perkenalan. mengajak berdinamika agar saling mengenal. serius. semangat. Diskusi Diskusi cara baru dalam belajar Diskusi. dan umpan balik. Matematika – SMA/MA/SMK | 36 . refleksi. dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Perubahan Mindset. fasilitator menjelaskan nama. indikator. dan Penutup Mendiskusikan enam pendorong utama teknologi pendidikan yang harus diperhatikan dilanjutkan dengan tanya jawab tentang keterampilan berpikir tingkat tinggi. diakhiri membuat rangkuman. Tanya jawab tentang Tantangan Indonesia dalam Abad ke-21 (mengapa kita harus berubah). Curah Pendapat Curah pendapat untuk membandingkan berpikir berbasis kendala (Constraint-Based Thinking) dan Berpikir berbasis kesempatan (Opportunity Based). alokasi waktu. Tanya Jawab.

Matematika – SMA/MA/SMK | 37 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 38 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 39 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 40 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 41 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 42 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 43 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 44 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 45 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 46 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 47 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 48 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 49 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 50 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 51 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 52 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 53 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 54 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 55 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 56 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 57 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 58 .

4 Strategi Implementasi Matematika – SMA/MA/SMK | 59 . KI.1 Rasional 1.2 Elemen Perubahan 1.3 SKL.MATERI PELATIHAN 1: KONSEP KURIKULUM 2013 1. dan KD 1.

Menjelaskan permasalahan Kurikulum 2006 (KTSP). 3. memahami secara utuh elemen perubahan Kurikulum 2013. dan KD. Rasional Kurikulum 2013 Elemen Perubahan Kurikulum 2013 Standar Nasional Pendidikan a. Menjelaskan alasan pengembangan kurikulum. INDIKATOR 1. 8. 6. 3.MATERI PELATIHAN 1: KONSEP KURIKULUM A. Menjelaskan empat elemen perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: SKL. 7. Menganalisis keterkaitan SKL. dan memahami secara utuh strategi implementasi Kurikulum 2013. 2. SI. 9. memahami keterkaitan antara SKL. Standar Proses. Matematika – SMA/MA/SMK | 60 . LINGKUP MATERI 1. Menganalisis keterkaitan antara SKL. dan Standar Penilaian. Standar Proses d. 10. Menerima rasional pengembangan Kurikulum 2013 perkembangan masa depan. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) b. Menjelaskan rasional pengembangan Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan masa depan. Standar Penilaian Strategi Implementasi Kurikulum 2013 4. dan Standar Penilaian. Standar Isi yang berisi Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) c. dan KD pada kurikulum 2013. Menjelaskan empat elemen perubahan kurikulum dalam hubungannya dengan kompetensi yang dibutuhkan pada masa depan. KI. Standar Proses. 5. C. KI. 2. dalam kaitannya dengan 2. KOMPETENSI Peserta pelatihan dapat: 1. dan KD pada Kurikulum 2013. 3. 4. SI. KI. Mengidentifikasi kesenjangan implementasi kurikulum antara kondisi saat ini dengan kondisi ideal. Menerima empat elemen perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: SKL. 4. memahami secara utuh rasional Kurikulum 2013. B.

dan KD 4. Rasional Kurikulum 2013 b. Video tentang Rasional Kurikulum 2013 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 2. Strategi Implementasi Kurikulum 2013 5. PERANGKAT PELATIHAN 1. 12.11. Rasional Kurikulum 2013 b. Bahan Tayang a. dan Kompetensi Dasar (KD) d. Lembar Kerja Analisis SKL. dan Kompetensi Dasar (KD) d. Mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013. Elemen Perubahan Kurikulum 2013 c. Elemen Perubahan Kurikulum 2013 c. Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Kompetensi Inti (KI). KI. Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Hand-Out a. D. ATK Matematika – SMA/MA/SMK | 61 . Standar Isi (Kompetensi Inti (KI). Mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013 dengan bahasa yang runtut dan komunikatif. Strategi Implementasi Kurikulum 2013 3.

Pengkondisian Peserta Perkenalan Fasilitator menjelaskan nama. kesenjangan kurikulum antara kondisi saat ini dan kondisi ideal. dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Konsep Kurikulum. dan Standar Penilaian dan hubungannya dengan kompetensi yang dibutuhkan pada masa depan dengan menggunakan Matematika – SMA/MA/SMK | 62 . KONSEP KURIKULUM 4 JP (@45 MENIT) SMA/MA. Laptop. semangat. dan Laser Pointer. SI.2 Elemen Perubahan Kurikulum 20 Menit Pemaparan oleh fasilitator tentang Elemen Perubahan 10 Menit Kurikulum yang mencakup SKL.1 Rasional 25 Menit Penayangan Video Mendikbud tentang Paparan Kurikulum 10 Menit 2013 dengan menggunakan V-1. atau media pembelajaran lainnya. Tanya jawab tentang Rasional Kurikulum 2013 yang 5 Menit mencakup: permasalahan kurikulum 2006 (KTSP). WAKTU KEGIATAN PENDAHULUAN 15 Menit KEGIATAN INTI 1. SMK/MAK MATEMATIKA DESKRIPSI KEGIATAN Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran seperti LCD Projector. serius.SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: TAHAPAN KEGIATAN PERSIAPAN 1.1. kompetensi. Fasilitator memotivasi peserta. indikator. alokasi waktu. serta alasan pengembangan kurikulum. Active Speaker. tujuan.1. Standar Proses. Pemaparan oleh fasilitator tentang Rasional Kurikulum 10 Menit 2013 dengan menggunakan PPT-1. 1. dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung. File. mengajak berdinamika agar saling mengenal.

Fasilitator mengingatkan peserta agar membaca referensi yang relevan. KI. KEGIATAN PENUTUP Membuat rangkuman materi pelatihan Konsep Kurikulum. Diskusi kelas tentang elemen-elemen penting Strategi 25 Menit Implementasi Kurikulum 2013. Fasilitator menutup pembelajaran 10 Menit 15 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 63 . KI. dan KD dengan 10 Menit menggunakan PPT-1. Tanya jawab tentang Elemen Perubahan Kurikulum.PPT-1. KI. 10 Menit kemudian fasilitator menyimpulkannya. dan KD 5 Menit dengan menggunakan HO-1.3.4. kemudian merangkum dan menyimpulkan hasil diskusi. Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran. sementara kelompok 15 Menit lainnnya memberi komentar/ tanggapan dan menilai hasil kerja kelompok. KI. Presentasi hasil kerja kelompok.4 Strategi Implementasi Kurikulum 2013 45 Menit Pemaparan oleh fasilitator tentang Strategi Implementasi 10 Menit Kurikulum 2013 dengan menggunakan PPT-1.3 Memberi contoh analisis keterkaitan antara SKL. Kerja kelompok untuk menganalisis keterkaitan SKL. dan 30 Menit KD yang akan dijadikan dasar untuk membuat RPP dengan menggunakan LK-1. 1.2. Mengkomunikasikan hasil diskusi kelompok. dan KD 5 Menit 60 Menit Pemaparan oleh fasilitator tentang SKL. ICE BREAKER 1.3.3 SKL.

tematik terpadu untuk SD kls 1 dan 4. c. Kemudian fasilitator menyimpulkannya. Biologi untuk IPA)dengan menggunakan PPT-1.1 dan PPT-1. penetapan platform untuk mata pelajaran tertentu (geografi untuk IPS. proses pembelajaran. Alasan pengembangan kurikulum.1 RASIONAL KURIKULUM Langkah Kegiatan Inti Pemaparan oleh Instruktur dengan menggunakan PPT-1. perubahan pendekatan pembelajaran yaitu Scientific Approach. Matematika – SMA/MA/SMK | 64 . TIK merupakan sarana pembelajaran yang dipergunakan sebagai media pembelajaran mata pelajaran lain. dan penilaian hasil belajar). Tanya Jawab Diskusi dan tanya jawab terkait dengan Rasional dan Elemen Perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: a.SUBMATERI PELATIHAN : 1. b. Manfaat adanya perubahan kurikulum.2. bahasa sebagai alat komunikasi dan carrier of knowledge.2 10 Menit Tanya Jawab 10 Menit Pemaparan Instruktur menyampaikan materi Rasional dan Elemen Perubahan Kurikulum yang mencakup: 4 standar. Identifikasi perubahan yang penting dalam kurikulum 2013 dibandingkan kurikulum sebelumnya (struktur kurikulum.

Matematika – SMA/MA/SMK | 65 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 66 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 67 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 68 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 69 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 70 .

kreatif. pengetahuan. 1. cakap. sehat. Jadi tidak dapat disangkal lagi bahwa kurikulum yang dikembangkan dengan berbasis pada kompetensi sangat diperlukan sebagai instrumen untuk mengarahkan peserta didik menjadi: (1) manusia berkualitas yang mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. dan (2) manusia terdidik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. yang diyakini akan menjadi faktor determinan bagi tumbuh kembangnya bangsa dan negara Indonesia sepanjang zaman. LATAR BELAKANG PERLUNYA PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013 Penyelenggaraan pendidikan sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional diharapkan dapat mewujudkan proses berkembangnya kualitas pribadi peserta didik sebagai generasi penerus bangsa di masa depan. berilmu. standar biaya. standar penilaian. standar isi. Matematika – SMA/MA/SMK | 71 . RASIONAL PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013 A. dan standar kompetensi lulusan. Tantangan Internal Tantangan internal antara lain terkait dengan kondisi pendidikan dikaitkan dengan tuntutan pendidikan yang mengacu kepada 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan yang meliputi standar pengelolaan. standar proses. dan keterampilan secara terpadu. Pengembangan Kurikulum 2013 merupakan langkah lanjutan Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dan KTSP 2006 yang mencakup kompetensi sikap.4 I. dan (3) warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.HO-1. isi. kurikulum merupakan salah satu unsur yang memberikan kontribusi yang signifikan untuk mewujudkan proses berkembangnya kualitas potensi peserta didik. RASIONAL PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013 Pengembangan kurikulum perlu dilakukan karena adanya berbagai tantangan yang dihadapi. standar pendidik dan tenaga kependidikan. dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. berakhlak mulia. Tantangan internal lainnya terkait dengan faktor perkembangan penduduk Indonesia dilihat dari pertumbuhan penduduk usia produktif. baik tantangan internal maupun tantangan eksternal. B. standar sarana prasarana.1/1. mandiri.2/1. Kurikulum sebagaimana yang ditegaskan dalam Pasal 1 Ayat (19) Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan. Dari sekian banyak unsur sumber daya pendidikan.

Terkait dengan tantangan internal pertama. (Gambar 1). Reformasi Pendidikan Mengacu Pada 8 Standar Kurikulum 2013 Sedang Dikerjakan Telah dan terus Dikerjakan -Peningkatan Kualifikasi & Sertifikasi -Pembayaran Tunjangan Sertifikasi -Uji Kompetensi dan Pengukuran Kinerja -Rehab Gedung Sekolah -Penyediaan Lab dan Perpustakaan -Penyediaan Buku -BOS -Bantuan Siswa Miskin -BOPTN/Bidik Misi (di PT) Manajemen Berbasis Sekolah Gambar 1 Terkait dengan perkembangan penduduk. berbagai kegiatan dilaksanakan untuk mengupayakan agar penyelenggaraan pendidikan dapat mencapai ke delapan standar yang telah ditetapkan. Gambar 2 Matematika – SMA/MA/SMK | 72 . Oleh sebab itu tantangan besar yang dihadapi adalah bagaimana mengupayakan agar SDM usia produktif yang melimpah ini dapat ditransformasikan menjadi SDM yang memiliki kompetensi dan keterampilan melalui pendidikan agar tidak menjadi beban (Gambar 2). SDM usia produktif yang melimpah apabila memiliki kompetensi dan keterampilan akan menjadi modal pembangunan yang luar biasa besarnya. Namun apabila tidak memiliki kompetensi dan keterampilan tentunya akan menjadi beban pembangunan.

Dari usaha sadar tunggal menuju jamak.. h. Dari alat tunggal menuju alat multimedia. Penyempurnaan Pola Pikir Pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masa depan hanya akan dapat terwujud apabila terjadi pergeseran atau perubahan pola pikir. ASEAN Community. Dari luas menuju perilaku khas memberdayakan kaidah keterikatan. m.2. Dari isolasi menuju lingkungan jejaring. Dari berpusat pada guru menuju berpusat pada siswa. i. Dari pasif menuju aktif-menyelidiki. c.) §Gejolak masyarakat (social unrest) Perkembangan Pengetahuan dan Pedagogi • Neurologi • Psikologi • Observation based [discovery] learning dan Collaborative learning Gambar 3 3. Dari satu arah menuju interaktif. Dari penyampaian pengetahuan menuju pertukaran pengetahuan. APEC. persepsi masyarakat. k. kompetensi yang diperlukan di masa depan. l. Kerpek. serta berbagai fenomena negatif yang mengemuka. perkembangan pengetahuan dan pedagogi. Dari produksi massa menuju kebutuhan pelanggan. p. Tantangan Eksternal Tantangan eksternal yang dihadapi dunia pendidikan antara lain berkaitan dengan tantangan masa depan. Dari kontrol terpusat menuju otonomi dan kepercayaan. o. Dari hubungan satu arah bergeser menuju kooperatif. Dari maya/abstrak menuju konteks dunia nyata. b. Dari stimulasi rasa tunggal menuju stimulasi ke segala penjuru. Dari pemikiran faktual menuju kritis. j. Tekanan Untuk Pengembangan Kurikulum Tantangan Masa Depan • • • • • • • • • Globalisasi: WTO. investasi dan transformasi pada sektor pendidikan • Materi TIMSS dan PISA Kompetensi Masa Depan • Kemampuan berkomunikasi • Kemampuan berpikir jernih dan kritis • Kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan • Kemampuan menjadi warga negara yang bertanggungjawab • Kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda • Kemampuan hidup dalam masyarakat yang mengglobal • Memiliki minat luas dalam kehidupan • Memiliki kesiapan untuk bekerja • Memiliki kecerdasan sesuai dengan bakat/minatnya • Memiliki rasa tanggungjawab terhadap lingkungan Persepsi Masyarakat • Terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif • Beban siswa terlalu berat • Kurang bermuatan karakter Fenomena Negatif yang Mengemuka §Perkelahian pelajar §Narkoba §Korupsi §Plagiarisme §Kecurangan dalam Ujian (Contek. Matematika – SMA/MA/SMK | 73 . Dari satu ilmu pengetahuan bergeser menuju pengetahuan disiplin jamak. f. Pergeseran itu meliputi proses pembelajaran sebagai berikut: a. CAFTA Masalah lingkungan hidup Kemajuan teknologi informasi Konvergensi ilmu dan teknologi Ekonomi berbasis pengetahuan Kebangkitan industri kreatif dan budaya Pergeseran kekuatan ekonomi dunia Pengaruh dan imbas teknosains Mutu. g. e. d. n. Dari pembelajaran pribadi menuju pembelajaran berbasis tim.

Sejalan dengan itu. perlu dilakukan penyempurnaan pola pikir dan penggunaan pendekatan baru dalam perumusan Standar Kompetensi Lulusan. Matematika – SMA/MA/SMK | 74 . Penguatan Tata Kelola Kurikulum Pada Kurikulum 2013. dan kebutuhan. penyusunan kurikulum dimulai dengan menetapkan standar kompetensi lulusan berdasarkan kesiapan peserta didik. tujuan pendidikan nasional. Satuan pendidikan dan guru tidak diberikan kewenangan menyusun silabus. Pendekatan dalam penyusunan SKL pada KBK 2004 dan KTSP 2006 dapat dilihat di Gambar 4 dan penyempurnaan pola pikir perumusan kurikulum dapat dilihat di Tabel 1. Tabel 1 4. Perumusan SKL di dalam KBK 2004 dan KTSP 2006 yang diturunkan dari SI harus diubah menjadi perumusan yang diturunkan dari kebutuhan. Setelah kompetensi ditetapkan kemudian ditentukan kurikulumnya yang terdiri dari kerangka dasar kurikulum dan struktur kurikulum. tapi disusun pada tingkat nasional. Guru lebih diberikan kesempatan mengembangkan proses pembelajaran tanpa harus dibebani dengan tugas-tugas penyusunan silabus yang memakan waktu yang banyak dan memerlukan penguasaan teknis penyusunan yang sangat memberatkan guru. Perbandingan kerangka kerja penyusunan kurikulum dapat dilihat pada Gambar 5.

KD MAPEL) STANDAR PROSES STANDAR KOMPETENSI LULUSAN STANDAR PENILAIAN PEDOMAN SILABUS RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Oleh Satuan Pendidikan PEMBELAJARAN & PENILAIAN BUKU TEKS SISWA RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Oleh Satuan Pendidikan PEDOMAN SILABUS BUKU TEKS SISWA PEMBELAJARAN & PENILAIAN Kerangka Kerja Penyusunan Kurikulum 2013 KESIAPAN PESERTA DIDIK TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL KEBUTUHAN STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL) SATUAN PENDIDIKAN KERANGKA DASAR KURIKULUM (Filosofis. dan sulit diajarkan karena keterbatasan sarana.Kerangka Kerja Penyusunan KBK 2004 TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL Kerangka Kerja Penyusunan KTSP 2006 TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL KERANGKA DASAR KURIKULUM (Filosofis. hampir semua peserta didik Indonesia hanya mampu menguasai pelajaran sampai level 3 (tiga) saja. ada kemungkinan waktu yang dialokasikan dalam Standar Isi tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya. KD MAPEL) STANDAR PROSES STANDAR KOMPETENSI LULUSAN STANDAR PENILAIAN KERANGKA DASAR KURIKULUM (Filosofis. Yuridis. Rumusan kompetensi juga sulit dijabarkan ke dalam indikator dengan akibat sulit dijabarkan ke pembelajaran. dan 6 (enam). perlu diambil langkah penguatan tata kelola antara lain dengan menyiapkan pada tingkat pusat buku pegangan pembelajaran yang terdiri dari buku pegangan siswa dan buku pegangan guru. dikaitkan dengan kesulitan yang dihadapi guru dalam melaksanakan KTSP. juga perlu diperkuat peran pendampingan dan pemantauan oleh pusat dan daerah. sulit diajarkan karena terlalu kompleks. Untuk menjamin keterlaksanaan implementasi kurikulum dan pelaksanaan pembelajaran. ditemukan bahwa dari 6 (enam) level kemampuan yang dirumuskan di dalam studi PISA. Yuridis. dan SMA lebih kecil dari total waktu pembelajaran yang dialokasikan menurut Standar Isi. media. Untuk menjamin ketercapaian kompetensi sesuai dengan yang telah ditetapkan dan untuk memudahkan pemantauan dan supervisi pelaksanaan pengajaran. dan kalau diajarkan kepada siswa sulit dicapai oleh siswa. SK MAPEL. Karena guru merupakan faktor yang sangat penting di dalam pelaksanaan kurikulum. Konseptual) STRUKTUR KURIKULUM STANDAR ISI (SKL MAPEL. dan sumber belajar. 5. sementara negara lain yang terlibat di dalam studi ini banyak yang mencapai level 4 (empat). SK MAPEL. Di samping itu. Konseptual) STRUKTUR KURIKULUM STANDAR ISI (SKL MAPEL. Dengan keyakinan Matematika – SMA/MA/SMK | 75 . maka sangat penting untuk menyiapkan guru supaya memahami pemanfaatan sumber belajar yang telah disiapkan dan sumber lain yang dapat mereka manfaatkan. 5 (lima). SMP. Yuridis. Pendalaman dan Perluasan Materi Berdasarkan analisis hasil PISA 2009. Konseptual) STRUKTUR KURIKULUM STANDAR PROSES KI KELAS & KD MAPEL (STANDAR ISI) STANDAR PENILAIAN SILABUS PANDUAN GURU Oleh Satuan Pendidikan PEMBELAJARAN & PENILAIAN (KTSP) BUKU TEKS SISWA 1 Gambar 5 Hasil monitoring dan evaluasi pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang dilakukan Balitbang pada tahun 2010 juga menunjukkan bahwa secara umum total waktu pembelajaran yang dialokasikan oleh banyak guru untuk beberapa mata pelajaran di SD. sulit dijabarkan ke penilaian. Hasil monitoring dan evaluasi ini juga menunjukkan bahwa banyak kompetensi yang perumusannya sulit dipahami guru.

bahwa semua manusia diciptakan sama. lebih dari 95% peserta didik Indonesia hanya mampu mencapai level menengah. Gambar 6 Analisis hasil TIMSS tahun 2007 dan 2011 di bidang matematika dan IPA untuk peserta didik kelas 2 SMP juga menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda. Untuk bidang matematika. sementara hampir 40% peserta didik Taiwan mampu mencapai level tinggi Matematika – SMA/MA/SMK | 76 . yaitu yang kita ajarkan berbeda dengan tuntutan zaman (Gambar 6). interpretasi yang dapat disimpulkan dari hasil studi ini. hanya satu. Hasil studi pada tahun 2007 dan 2011 menunjukkan bahwa lebih dari 95% peserta didik Indonesia hanya mampu mencapai level menengah. pencapaian peserta didik kelas 2 SMP juga tidak jauh berbeda dengan pencapaian yang mereka peroleh untuk bidang matematika. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa yang diajarkan di Indonesia berbeda dengan apa yang diujikan atau yang distandarkan di tingkat internasional (Gambar 7). sementara misalnya di Taiwan hampir 50% peserta didiknya mampu mencapai level tinggi dan advance. Gambar 7 Untuk bidang IPA.

Dalam hal membaca. kesimpulan yang dapat diambil dari studi ini adalah bahwa apa yang diajarkan kepada peserta didik di Indonesia berbeda dengan apa yang diujikan atau distandarkan di tingkat internasional. Gambar 9 Hasil analisis lebih jauh untuk studi TIMSS dan PIRLS menunjukkan bahwa soal-soal yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik dibagi menjadi empat kategori. lebih dari 95% peserta didik Indonesia di SD kelas IV juga hanya mampu mencapai level menengah. (Gambar 8). Dengan keyakinan bahwa semua anak dilahirkan sama. sementara lebih dari 50% siswa Taiwan mampu mencapai level tinggi dan advance. Hal ini juga menunjukkan bahwa apa yang diajarkan di Indonesia berbeda dengan apa yang diujikan dan distandarkan pada tingkat internasional (Gambar 9).dan lanjut (advanced). Gambar 8 Hasil studi internasional untuk reading dan literacy (PIRLS) yang ditujukan untuk kelas IV SD juga menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda dengan hasil studi untuk tingkat SMP seperti yang dipaparkan terdahulu. yaitu: Matematika – SMA/MA/SMK | 77 .

- low mengukur kemampuan sampai level knowing intermediate mengukur kemampuan sampai level applying high mengukur kemampuan sampai level reasoning advance mengukur kemampuan sampai level reasoning with incomplete information. Tabel 2 Analisis lebih jauh untuk membandingkan kurikulum IPA SMP kelas VIII yang ada di Indonesia dengan materi yang terdapat di TIMSS menunjukkan bahwa terdapat beberapa topik yang sebenarnya belum diajarkan di kelas VIII SMP (Tabel 2). Lebih parahnya lagi. Hal yang sama juga terdapat di kurikulum matematika kelas VIII SMP di mana juga terdapat beberapa topik yang belum diajarkan di kelas XIII. malah terdapat beberapa topik yang sama sekali tidak terdapat di dalam kurikulum saat ini. Tabel 3 Matematika – SMA/MA/SMK | 78 . sehingga menyulitkan bagi peserta didik kelas VIII SMP menjawab pertanyaan yang terdapat di dalam TIMSS (Tabel 3).

Secara singkatnya. seperti bisa dilihat pada Tabel 4. yaitu cerdas spiritual dan cerdas sosial/emosional dalam ranah sikap. mempertahankan materi yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. TUJUAN KURIKULUM Tujuan Pendidikan nasional sebagaimana telah dirumuskan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Cerdas yang dimaksud disini adalah cerdas komprehensif. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. II. telah pula ditetapkan visi pendidikan tahun 2025 yaitu menciptakan insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif. berakhlak mulia. Di samping itu juga perlu dievaluasi ulang tingkat kedalaman materi sesuai dengan tuntutan perbandingan internasional dan menyusun kompetensi dasar yang sesuai dengan materi yang dibutuhkan. berilmu. Sejalan dengan arahan undang-undang tersebut. mandiri. kreatif.Hal yang sama juga terjadi di kurikulum matematika kelas IV SD pada studi internasional di mana juga terdapat topik yang belum diajarkan pada kelas IV dan topik yang sama sekali tidak terdapat di dalam kurikulum saat ini. dan menambahkan materi yang dianggap penting dalam perbandingan internasional. sehat. dan keterampilan sebagaimana dijelaskan dalam penjelasan pasal 35 undangundang tersebut. perlu dilakukan langkah penguatan materi dengan mengevaluasi ulang ruang lingkup materi yang terdapat di dalam kurikulum dengan cara meniadakan materi yang tidak esensial atau tidak relevan bagi peserta didik. cakap. Matematika – SMA/MA/SMK | 79 . cerdas intelektual dalam ranah pengetahuan. sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yang telah disampaikan di atas. undang-undang tersebut berharap pendidikan dapat membuat peserta didk menjadi kompeten dalam bidangnya. Tabel 4 Dalam kaitan itu. Di mana kompeten tersebut. pengetahuan. harus mencakup kompetensi dalam ranah sikap. serta cerdas kinestetis dalam ranah keterampilan.

dan landasan empirik. dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat. implementasi kurikulum. Landasan yuridis pengembangan Kurikulum 2013 lainnya adalah Instruksi Presiden Republik Indonesia tahun 2010 tentang Pendidikan Karakter. kreatif. landasan filosofis. dan keberlanjutan kehidupan bangsa dan Matematika – SMA/MA/SMK | 80 .19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Landasan filosofis adalah landasan yang mengarahkan kurikulum kepada manusia apa yang akan dihasilkan kurikulum. dan keterampilan sehingga dapat menjadi pribadi dan warga negara yang produktif. LANDASAN KURIKULUM 2013 Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan ketentuan yuridis yang mewajibkan adanya pengembangan kurikulum baru. bernegara dan peradaban dunia. berbangsa. daerah. Landasan Filosofis Secara singkat kurikulum adalah untuk membangun kehidupan masa kini dan masa akan datang bangsa. yang dikembangkan dari warisan nilai dan pretasi bangsa di masa lalu. masa lalu-masa sekarang-masa yang akan datang. dan KTSP. Ketiga dimensi kehidupan bangsa. dan evaluasi kurikulum. Pembelajaran Aktif dan Pendidikan Kewirausahaan. menjadi landasan filosofis pengembangan kurikulum. dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 54 tahun 2013 tentang Standar Kompetensi Lulusan dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 69 tahun Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 69 Tahun 2013 Tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah. inovatif. 2. 1. Landasan empirik memberikan arahan berdasarkan pelaksanaan kurikulum yang sedang berlaku di lapangan. pengembangan Kurikulum 2013 diamanatkan oleh Rencana Pendidikan Pendidikan Menengah Nasional (RJPMN). modal yang digunakan dan dikembangkan untuk membangun kualitas kehidupan bangsa dan individu yang diperlukan bagi kehidupan masa kini. Lebih lanjut. dan afektif III. Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Kerangka Dasar juga digunakan sebagai pedoman untuk mengembangkan kurikulum tingkat nasional. inovatif. serta kemudian diwariskan serta dikembangkan untuk kehidupan masa depan. A. pengetahuan. Pewarisan nilai dan pretasi bangsa di masa lampau memberikan dasar bagi kehidupan bangsa dan individu sebagai anggota masyarakat. produktif.Dengan demikian Kurikulum 2013 adalah dirancang dengan tujuan untuk mempersiapkan insan Indonesia supaya memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warganegara yang beriman. kreatif. Landasan teoritik memberikan dasar-dasar teoritik pengembangan kurikulum sebagai dokumen dan proses. KERANGKA DASAR KURIKULUM 2013 Kerangka dasar adalah pedoman yang digunakan untuk mengembangkan dokumen kurikulum. Landasan yuridis merupakan ketentuan hukum yang dijadikan dasar untuk pengembangan kurikulum dan yang mengharuskan adanya pengembangan kurikulum baru. Landasan Yuridis Landasan yuridis kurikulum adalah Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 2013 tentang Perubahan PP No. Kurikulum adalah instrumen pendidikan untuk dapat membawa insan Indonesia memiliki kompetensi sikap.

kurikulum pada tingkat sekolah dasar perlu diarahkan kepada peningkatan 3 (tiga) kemampuan dasar. manipulasi. 2008: 6. Walaupun belum ada kajian ilmiah bahwa kekerasan tersebut berhulu dari kurikulum.warganegara di masa mendatang. potensi ekonomi. dan beragamnya kemajuan pembangunan dari satu daerah ke daerah lain.id/index. namun karena hasil gemblengan pada tiap jenjang satuan pendidikan dengan kurikulum sebagai pengarahnya. termasuk masih adanya kecurangan di dalam Ujian Nasional menunjukkan mendesaknya upaya menumbuhkan budaya jujur dan antikorupsi melalui kegiatan pembelajaran di dalam satuan pendidikan. Maka.4% (www. dalam Rapat Paripurna DPR. Maka. ulet. kurikulum harus mampu membentuk manusia Indonesia yang mampu menyeimbangkan kebutuhan individu dan masyarakat untuk memajukan jatidiri sebagai bagian dari bangsa Indonesia dan kebutuhan untuk berintegrasi sebagai satu entitas bangsa Indonesia. sekecil apapun ancaman disintegrasi bangsa masih tetap ada. kurikulum harus mampu memandu upaya karakterisasi nilai-nilai kejujuran pada peserta didik. Martowardojo. Berbagai elemen masyarakat telah memberikan kritikan.7%. kreatif. Berbagai kasus yang berkaitan dengan penyalahgunaan wewenang. dan hitung.W. Pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 2005 sampai dengan 2008 berturut-turut 5. Momentum pertumbuhan ekonomi ini harus terus dijaga dan ditingkatkan. sangat diperlukan untuk memantapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan. namun beberapa ahli pendidikan dan tokoh masyarakat menyatakan bahwa salah satu akar masalahnya adalah implementasi kurikulum yang terlalu menekankan aspek kognitif dan keterkungkungan peserta didik di ruang belajarnya dengan kegiatan yang kurang menantang peserta didik. Generasi seperti ini seharusnya tidak muncul karena hasil seleksi alam. Beban belajar ini bahkan secara kasatmata terwujud pada beratnya beban buku yang harus dibawa ke sekolah. kurikulum perlu direorientasi dan direorganisasi terhadap beban belajar dan kegiatan pembelajaran yang dapat menjawab kebutuhan ini. kecenderungan menyelesaikan persoalan dengan kekerasan dan kasus pemaksaan kehendak sering muncul di Indonesia. Generasi muda berjiwa wirausaha yang tangguh. misalnya pada kasus-kasus perkelahian massal. Matematika – SMA/MA/SMK | 81 .php/indikator). Dengan tiga dimensi kehidupan tersebut kurikulum selalu menempatkan peserta didik dalam lingkungan sosial-budayanya. tulis. Oleh karena itu. mengembangkan kehidupan individu peserta didik sebagai warganegara yang tidak kehilangan kepribadian dan kualitas untuk kehidupan masa kini yang lebih baik. dan saran berkaitan dengan beban belajar siswa.5 – 6. 3.9 % (Agus D. suku bangsa. Beban belajar ini salah satunya berhulu dari banyaknya matapelajaran yang ada di tingkat sekolah dasar. dan mandiri. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2012 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi negara – negara ASEAN sebesar 6.presidenri. Landasan Empiris Pada saat ini perekonomian Indonesia terus tumbuh di tengah bayang-bayang resesi dunia. Kecenderungan ini juga menimpa generasi muda. khususnya siswa sekolah dasar. komentar. yakni baca. dan membangun kehidupan masa depan yang lebih baik lagi. Sebagai negara bangsa yang besar dari segi geografis. 5. Maka. 6. dan pembentukan karakter.go. 31/05/2012).3%. Dewasa ini.5%. jujur.

dengan tidak membebani peserta didik dengan konten namun pada aspek kemampuan esensial yang diperlukan semua warga negara untuk berperanserta dalam membangun negaranya pada abad 21. analisis dan pemecahan masalah. dan IPAmenunjukkan peringkat Indonesia baru bisa menduduki 10 besar terbawah dari 65 negara. Kurikulum seharusnya juga diarahkan untuk membangun kesadaran dan kepedulian generasi muda terhadap lingkungan alam dan menumbuhkan kemampuan untuk merumuskan pemecahan masalah secara kreatif terhadap isu-isu lingkungan dan ketahanan pangan. (3) pemakaian alat. Pencemaran. upaya pemenuhan kebutuhan manusia telah secara nyata mempengaruhi secara negatif lingkungan alam. semakin berkurangnya sumber air bersih adanya potensi rawan pangan pada berbagai beahan dunia. studi yang memfokuskan pada literasi bacaan. Hasil riset PISA (Program for International Student Assessment). mutu pendidikan Indonesia harus terus ditingkatkan. (2) teori. prosedur dan pemecahan masalah dan (4) melakukan investigasi. Hasil-hasil ini menunjukkan perlu ada perubahan orientasi kurikulum. dan pemanasan global merupakan tantangan yang harus dihadapi generasi muda di masa kini dan di masa yang akan datang. matematika. Matematika – SMA/MA/SMK | 82 . Hasil Riset TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) menunjukkan siswa Indonesia berada pada rangking amat rendah dalam kemampuan (1) memahami informasi yang komplek. Dengan berbagai kemajuan yang telah dicapai.Pada saat ini.

2. KARAKTERISTIK KURIKULUM 2013 Kurikulum 2013 adalah kurikulum berbasis kompetensi. Landasan Teoritik Kurikulum 2013 dikembangkan atas dasar teori “pendidikan berdasarkan standar” (standardbased education). Kompetensi untuk Kurikulum 2013 dirancang sebagai berikut: 1. SMA/MA. dan teori kurikulum berbasis kompetensi. Kompetensi Dasar (KD) merupakan kompetensi yang dipelajari peserta didik untuk suatu tema untuk SD/MI. Standar Kompetensi Lulusan mencakup sikap. Kompetensi adalah kemampuan sesorang untuk bersikap. SMK/MAK. dan untuk mata pelajaran di kelas tertentu untuk SMP/MTS. 3. Kurikulum berbasis kompetensi adalah outcomes-based curriculum dan oleh karena itu pengembangan kurikulum diarahkan pada pencapaian kompetensi yang dirumuskan dari SKL. SMA/MA. pengetahuan. Demikian pula penilaian hasil belajar dan hasil kurikulum diukur dari pencapaian kompetensi. Hasil dari pengalaman belajar tersebut adalah hasil belajar peserta didik yang menggambarkan manusia dengan kualitas yang dinyatakan dalam SKL. SMK/MAK. Pendidikan berdasarkan standar adalah pendidikan yang menetapkan standar nasional sebagai kualitas minimal warganegara untuk suatu jenjang pendidikan. Standar bukan kurikulum dan kurikulum dikembangkan agar peserta didik mampu mencapai kualitas standar nasional atau di atasnya. Kurikulum berbasis kompetensi dirancang untuk memberikan pengalaman belajar seluas-luasnya bagi peserta didik untuk mengembangkan sikap. masyarakat. dan lingkungan dimana yang bersangkutan berinteraksi. Kompetensi Inti adalah kualitas yang harus dimiliki seorang peserta didik untuk setiap kelas melalui pembelajaran KD yang diorganisasikan dalam proses pembelajaran siswa aktif. Standar kualitas nasional dinyatakan sebagai Standar Kompetensi Lulusan. SMP/MTS. Standar Kompetensi Lulusan dikembangkan menjadi Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan yaitu SKL SD/MI.4. dan ketrampilan (kognitif dan psikomotor) yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah. Matematika – SMA/MA/SMK | 83 . Kompetensi Inti (KI) merupakan gambaran secara kategorial mengenai kompetensi dalam aspek sikap. pengetahuan. kelas dan mata pelajaran. menggunakan pengetahuan dan ketrampilan untuk melaksanakan suatu tugas di sekolah. Isi atau konten kurikulum yaitu kompetensi dinyatakan dalam bentuk Kompetensi Inti (KI) kelas dan dirinci lebih lanjut dalam Kompetensi Dasar (KD) mata pelajaran. ketrampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk membangun kemampuan yang dirumuskan dalam SKL. B. dan keterampilan. Keberhasilan kurikulum dartikan sebagai pencapaian kompetensi yang dirancang dalam dokumen kurikulum oleh seluruh peserta didik.

Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar di jenjang pendidikan menengah diutamakan pada ranah sikap sedangkan pada jenjang pendidikan menengah pada kemampuan intelektual (kemampuan kognitif tinggi). dan SMK/MAK berdasarkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dikembangkan guru. Proses pembelajaran intra-kurikuler adalah proses pembelajaran yang berkenaan dengan mata pelajaran dalam struktur kurikulum dan dilakukan di kelas. Pembelajaran kompetensi untuk konten yang bersifat developmentaldilaksanakan berkesinambungan antara satu pertemuan dengan pertemuan lainnya. Pembelajaran intra kurikuler didasarkan pada prinsip berikut: a. sedangkan sikap adalah konten developmental dan dikembangkan melalui proses pendidikan yang tidak langsung (indirect teaching). d. Proses pembelajaran di SD/MI berdasarkan tema sedangkan di SMP/MTS. dan saling memperkuat antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya. Proses pembelajaran dikembangkan atas dasar karakteristik konten kompetensi yaitu pengetahuan yang merupakan konten yang bersifat mastery dan diajarkan secara langsung (direct teaching). SMA/MA. 6.4. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dikembangkan dari setiap KD yang untuk mata pelajaran dan kelas tersebut. 1. C. ketrampilan kognitif dan psikomotorik adalah konten yang bersifat developmental yang dapat dilatih (trainable) dan diajarkan secara langsung (direct teaching). Kompetensi Inti menjadi unsur organisatoris (organizing elements) Kompetensi Dasar yaitu semua KD dan proses pembelajaran dikembangkan untuk mencapai kompetensi dalam Kompetensi Inti. Proses pembelajaran tidak langsung bukan kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) karena sikap yang dikembangkan dalam Matematika – SMA/MA/SMK | 84 . sekolah. f. Proses pembelajaran didasarkan atas prinsip pembelajaran siswa aktif untuk menguasai Kompetensi Dasar dan Kompetensi Inti pada tingkat yang memuaskan (excepted). c. dan masyarakat. Silabus dikembangkan sebagai rancangan belajar untuk satu tema (SD/MI) atau satu kelas dan satu mata pelajaran (SMP/MTS. Dalam silabus tercantum seluruh KD untuk tema atau mata pelajaran di kelas tersebut. Proses pembelajaran tidak langsung (indirect) terjadi pada setiap kegiatan belajar yang terjadi di kelas. 7. sekolah. e. Kompetensi Dasar yang dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif. PROSES PEMBELAJARAN Proses pembelajaran Kurikulum 2013 terdiri atas pembelajaran intra-kurikuler dan pembelajaran ekstra-kurikuler. saling memperkuat (reinforced) dan memperkaya (enriched) antar mata pelajaran dan jenjang pendidikan (organisasi horizontal dan vertikal). 5. SMK/MAK). b. rumah dan masyarakat. 8. SMA/MA.

tulis). Penilaian hasil belajar mencakup seluruh aspek kompetensi. membangun cerita/konsep). h. Kurikulum didasarkan pada standar kompetensi lulusan yang ditetapkan untuk satu satuan pendidikan. dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibuat guru. Kurikulum bukan hanya merupakan sekumpulan daftar mata pelajaran karena mata pelajaran hanya merupakan sumber materi pembelajaran untuk mencapai kompetensi. Kegiatan ekstrakurikuler wajib dinilai yang hasilnya digunakan sebagai unsur pendukung kegiatan intrakurikuler. bersifat formatif dan hasilnya segera diikuti dengan pembelajaran remedial untuk memastikan penguasaan kompetensi pada tingkat memuaskan. keterampilan dan pengetahuan yang dirumuskan dalam kurikulum berbentuk Kompetensi Dasar dapat dipelajari dan dikuasai setiap peserta didik (mastery learning) sesuai dengan kaedah kurikulum berbasis kompetensi. Pembelajaran remedial dilaksanakan untuk membantu peserta didik menguasai kompetensi yang masih kurang. Kurikulum dikembangkan dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan perbedaan dalam kemampuan dan minat. 2. jenjang pendidikan. Pembelajaran remedial dirancang dan dilaksanakan berdasarkan kelemahan yang ditemukan berdasarkan analisis hasil tes. 2. i. grafik. dan tugas setiap peserta didik. kelompok atau kelas sesuai dengan hasil analisis jawaban peserta didik. PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013 Pengembangan kurikulum didasarkan pada prinsip-prinsip berikut: 1. D. ketrampilan berpikir. 5. menanya (lisan. chart. Pembelajaran remedial dirancang untuk individu. Sesuai dengan kebijakan Pemerintah mengenai Wajib Belajar 12 Tahun maka Standar Kompetensi Lulusan yang menjadi dasar pengembangan kurikulum adalah kemampuan yang harus dimiliki peserta didik setelah mengikuti proses pendidikan selama 12 tahun. ketrampilan psikomotorik yang dikemas dalam berbagai mata pelajaran. dan lain-lain). Kegiatan ekstra-kurikuler terdiri atas kegiatan wajib dan pilihan. Model kurikulum berbasis kompetensi ditandai oleh pengembangan kompetensi berupa sikap. Proses pembelajaran dikembangkan atas prinsip pembelajaran siswa aktif melalui kegiatan mengamati (melihat. Pembelajaran ekstrakurikuler Pembelajaran ekstrakurikuler adalah kegiatan yang dilakukan untuk aktivitas yang dirancang sebagai kegiatan di luar kegiatan pembelajaran terjadwal secara rutin setiap minggu. gambar. tulis. dan program pendidikan. Kurikulum didasarkan pada model kurikulum berbasis kompetensi. ulangan. 4. Pramuka adalah kegiatan ekstrakurikuler wajib. menyimak).proses pembelajaran tidak langsung harus tercantum dalam silabus. g. Matematika – SMA/MA/SMK | 85 . pengetahuan. mendengar. menganalis (menghubungkan. membaca. 3. Kurikulum didasarkan atas prinsip bahwa setiap sikap. mengkomunikasikan (lisan. menentukan keterkaitan. tabel.

Pengorganisasian konten dalam sistem belajar yang digunakan untuk kurikulum yang akan datang adalah sistem semester sedangkan pengorganisasian beban belajar dalam sistem pembelajaran berdasarkan jam pelajaran per semester. distribusi konten/mata pelajaran dalam semester atau tahun. 8. 10. 9. Instrumen penilaian hasil belajar adalah alat untuk mengetahui kekurangan yang dimiliki setiap peserta didik atau sekelompok peserta didik. Kurikulum harus tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. 11. Beban belajar di SD/MI kelas I. Struktur Kurikulum SD/MI adalah sebagai berikut: ALOKASI WAKTU BELAJAR PER MINGGU I Kelompok A 1. teknologi. dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. A. beban belajar untuk mata pelajaran dan beban belajar per minggu untuk setiap siswa. dan III masing-masing 30. Pendidikan Jasmani. dan VI masing-masing 36 jam setiap minggu. dan seni. V. Bahasa Indonesia 4. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 3. Kurikulum harus relevan dengan kebutuhan kehidupan. II.Penilaian hasil belajar ditujukan untuk mengetahui dan memperbaiki pencapaian kompetensi. 34 sedangkan untuk kelas IV. Olah Raga dan Kesehatan 4 5 8 5 4 4 II 4 6 8 6 4 4 III IV 4 6 10 6 4 4 4 4 7 6 3 3 5 4 V 4 4 7 6 3 3 5 4 VI 4 4 7 6 3 3 5 4 MATA PELAJARAN Matematika – SMA/MA/SMK | 86 . Struktur kurikulum adalah juga merupakan aplikasi konsep pengorganisasian konten dalam sistem belajar dan pengorganisasian beban belajar dalam sistem pembelajaran. perkembangan. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 2. STRUKTUR KURIKULUM SD/MI Beban belajar dinyatakan dalam jam belajar setiap minggu untuk masa belajar selama satu semester. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik berada pada posisi sentral dan aktif dalam belajar. budaya. Kurikulum harus diarahkan kepada proses pengembangan. Jam belajar SD/MI adalah 35 menit. pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. STRUKTUR KURIKULUM Struktur kurikulum menggambarkan konseptualisasi konten kurikulum dalam bentuk mata pelajaran. Kekurangan tersebut harus segera diikuti dengan proses memperbaiki kekurangan dalam aspek hasil belajar yang dimiliki seorang atau sekelompok peserta didik. Ilmu Pengetahuan Sosial Kelompok B 1.Kurikulum didasarkan kepada kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Ilmu Pengetahuan Alam 6. posisi konten/mata pelajaran dalam kurikulum.6. IV. Seni Budaya dan Prakarya 2. Kurikulum berpusat pada potensi. 7. Matematika 5. kebutuhan. 32.

IPA juga ditujukan untuk pengenalan lingkungan biologi dan alam sekitarnya. Integrasi Kompetensi Dasar IPA dan IPS didasarkan pada keterdekatan makna dari konten Kompetensi Dasar IPA dan IPS dengan konten Pendidikan Agama dan Budi Pekerti. bukan sebagai pendidikan disiplin ilmu. VIII. Prakarya Jumlah Alokasi Waktu Per Minggu Keterangan: Mata pelajaran Seni Budaya dapat memuat Bahasa Daerah. Ilmu Pengetahuan Sosial 7. Matematika. Olahraga dan Kesehatan yang berlaku untuk kelas I. Keduanya sebagai pendidikan berorientasi aplikatif. Sedangkan untuk kelas IV. serta pengenalan berbagai keunggulan wilayah nusantara. Disamping itu. patriotisme. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 2. dan pengembangan sikap peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sosial dan alam. 32. Bahasa Indonesia 4. Sedangkan lama belajar untuk setiap jam belajar di SMP/MTs tetap yaitu 40 menit. V dan VI. V dan VI. serta aktivitas masyarakat di bidang ekonomi dalam ruang atau space wilayah NKRI. STRUKTUR KURIKULUM SMP/MTS Dalam struktur kurikulum SMP/MTs ada penambahan jam belajar per minggu dari semula 32. Matematika – SMA/MA/SMK | 87 . Pendidikan Jasmani. kemampuan belajar. Bahasa Indonesia. tujuan pendidikan IPS menekankan pada pengetahuan tentang bangsanya. semangat kebangsaan. Kompetensi Dasar IPA dan IPS berdiri sendiri dan kemudian diintegrasikan ke dalam tema-tema yang ada untuk kelas IV. 38 dan 38 untuk masing-masing kelas VII. B. Bahasa Inggris Kelompok B 1. Olah Raga. Struktur Kurikulum SMP/MTS adalah sebagai berikut: ALOKASI WAKTU BELAJAR PER MINGGU VII VIII IX 3 3 6 5 5 4 4 3 3 2 38 3 3 6 5 5 4 4 3 3 2 38 3 3 6 5 5 4 4 3 3 2 38 MATA PELAJARAN Kelompok A 1. dan IX. Seni Budaya 2. serta Pendidikan Jasmani. pengembangan kemampuan berpikir. II. dan Kesehatan 3. Ilmu Pengetahuan Alam 6. IPA dan IPS dikembangkan sebagai mata pelajaran integrative science dan integrative social studies. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. dan 32 menjadi 38.Jumlah Alokasi Waktu Per Minggu 30 32 34 36 36 36 = Pembelajaran Tematik Integratif Keterangan: Mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya dapat Bahasa Daerah. Matematika 5. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 3. dan III. rasa ingin tahu.

Seni Budaya terdiri atas empat aspek. Pendidikan Jasmani. dan kemampuannya. Prakarya dan Kewirausahaan Jumlah Jam Pelajaran Kelompok A dan B per minggu Kelompok C (Peminatan) Matematika – SMA/MA/SMK | 88 . dan pengolahan. Struktur Kurikulum Pendidikan Menengah Struktur Kurikulum Pendidikan Menengah adalah sebagaimana yang tertera di dalam tabel berikut ini: Struktur Kurikulum Pendidikan Menengah kelompok mata pelajaran wajib: ALOKASI WAKTU BELAJAR PER MINGGU X XI XII 3 2 4 4 2 2 2 3 2 24 3 2 4 4 2 2 2 3 2 24 3 2 4 4 2 2 2 3 2 24 MATA PELAJARAN Kelompok A (Wajib) 1. dan seni teater. STRUKTUR KURIKULUM PENDIDIKAN MENENGAH (SMA/MA/SMK/MAK) Struktur kurikulum SMA/MA/SMK/MAK terdiri atas: . Adanya kelompok mata pelajaran wajib dan mata pelajaran peminatan dimaksudkan untuk menerapkan prinsip kesamaan antara SMA/MA dan SMK/MAK. Seni Budaya 8. Masing-masing aspek diajarkan secara terpisah dan setiap satuan pendidikan dapat memilih aspek yang diajarkan sesuai dengan kemampuan (guru dan fasilitas) pada satuan pendidikan itu. rekayasa. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 3.Kelompok mata pelajaran wajib yang diikuti oleh seluruh peserta didik . yakni kerajinan. Masingmasing aspek diajarkan secara terpisah dan setiap satuan pendidikan menyelenggarakan pembelajaran prakarya paling sedikit dua aspek prakarya sesuai dengan kemampuan dan potensi daerah pada satuan pendidikan itu. sedangkan untuk SMK/MAK bersifat vokasional. C. seni tari. Matematika 5. yakni seni rupa. dan Kesehatan 9. dan 20 jam per minggu untuk kelas XI dan XII. minat.Kelompok mata pelajaran peminatan yang diikuti oleh peserta didik sesuai dengan bakat. Prakarya terdiri atas empat aspek. Struktur ini menempatkan prinsip bahwa peserta didik adalah subjek dalam belajar dan mereka memiliki hak untuk memilih sesuai dengan minatnya. Sejarah Indonesia 6. Bahasa Inggris Kelompok B (Wajib) 7. seni musik. Kelompok mata pelajaran peminatan SMA/MA terdiri atas 18 jam per minggu untuk kelas X. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 2. 1. Kelompok mata pelajaran peminatan SMK/MAK masing-masing 24 jam per kelas. budidaya. Kelompok mata pelajaran peminatan SMA/MA bersifat akademik. Bahasa Indonesia 4. Mata pelajaran wajib sebanyak 9 (sembilan) mata pelajaran dengan beban belajar 24 jam per minggu. Olah Raga.

dan Peminatan Ilmu-ilmu Bahasa dan Budaya. Peminatan Ilmu-ilmu Sosial. XI. Pemilihan peminatan berdasarkan nilai rapor di SMP/MTsdan/atau nilai UN SMP/MTs dan/atau rekomendasi guru BK di SMP/MTs dan/atau hasil tes penempatan (placement test) ketika mendaftar di SMA/MA dan/atau tes bakat minat oleh psikolog dan/atau rekomendasi guru BK di SMA/MA. selain ketiga peminatan tersebut ditambah dengan Kelompok Peminatan Keagamaan. Setiap Kelompok Peminatan terdiri atas 4 (empat) mata pelajaran dan Matematika – SMA/MA/SMK | 89 . Pada akhir minggu ketiga semester pertama peserta didik masih mungkin mengubah pilihan peminatannya berdasarkan rekomendasi para guru dan ketersediaan tempat duduk. Kelompok Peminatan Peminatan Matematika dan Ilmu-Ilmu Alam I 1 Matematika 2 Biologi 3 Fisika 4 Kimia Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial II 1 Geografi 2 Sejarah 3 Sosiologi 4 Ekonomi Peminatan Ilmu-Ilmu Bahasa dan Budaya III 1 Bahasa dan Sastra Indonesia 2 Bahasa dan Sastra Inggris 3 Bahasa dan Sastra Asing Lainnya 4 Antropologi Mata Pelajaran Pilihan dan Pendalaman Pilihan Lintas Minat dan/atau Pendalaman Minat Jumlah jam pelajaran yang tersedia per minggu Jumlah jam pelajaran yang harus ditempuh per minggu Kelas XI 24 X 24 XII 24 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 6 66 42 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 76 44 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 76 44 Kelompok Peminatan terdiri atas Peminatan Matematika dan Ilmu-ilmu Alam. Sejak kelas X peserta didik sudah harus memilih kelompok peminatan yang akan dimasuki. Satu jam belajar adalah 45 menit. 2. Untuk sekolah yang mampu menyediakan layanan khusus maka setelah akhir semester pertama peserta didik masih mungkin mengubah pilihan peminatannya. Semua mata pelajaran yang terdapat dalam suatu Kelompok Peminatan yang dipilih peserta didik harus diikuti. Struktur Kurikulum SMA/MA MATA PELAJARAN Kelompok A dan B (Wajib) C. dan XII masing-masing 43 jam belajar per minggu.Mata Pelajaran Peminatan Akademik (SMA/MA) Jumlah Jam Pelajaran yang Harus Ditempuh per Minggu 18 42 20 44 20 44 Beban belajar di SMA/MA untuk Tahun X. Untuk MA.

Implementasi kurikulum adalah usaha bersama antara Pemerintah dengan pemerintah propinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota. c. Satu mata pelajaran di luar Kelompok Peminatan yang dipilihnya tetapi masih dalam Kelompok Peminatan lainnya. Pengembangan kurikulum di jenjang satuan pendidikan dipimpin langsung oleh kepala sekolah d. c. Dua mata pelajaran di luar Kelompok Peminatan yang dipilihnya tetapi masih dalam satu Kelompok Peminatan lainnya. V. bahwa sekolah adalah satu kesatuan lembaga pendidikan dan kurikulum adalah kurikulum satuan pendidikan. Beban belajar ini terdiri atas Kelompok Mata Pelajaran Wajib A dan B dengan durasi 24 jam pelajaran dan Kelompok Mata Pelajaran Peminatan dengan durasi 12 jam pelajaran untuk kelas X dan 16 jam pelajaran untuk kelas XI dan XII. Satu mata pelajaran dari masing-masing Kelompok Peminatan yang lainnya. IMPLEMENTASI 1. dan/atau b. Setiap peserta didik memiliki beban belajar per semester selama 42 jam pelajaran untuk kelas X dan 44 jam pelajaran untuk kelas XI dan XII. mengembangkan kurikulum secara bersama-sama. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KURIKULUM A. Pelaksanaan implementasi kurikulum di satuan pendidikan dievaluasi oleh kepala sekolah. Pemerintah bertangungjawab dalam mempersiapkan guru dan kepala sekolah untuk melaksanakan kurikulum. Mata pelajaran Pendalaman Kelompok Peminatan yang dipilihnya. Guru di satu satuan pendidikan adalah satu satuan pendidik (community of educators).masing-masing mata pelajaran berdurasi 3 jampelajaran untuk kelas X. Matematika – SMA/MA/SMK | 90 . b. Untuk Mata Pelajaran Pilihan Lintas Minat dan/atau Pendalaman Minat kelas X. 2. dan 4 jam pelajaran untuk kelas XI dan XII. peserta didik mengambil Pilihan Lintas Minat dan/atau Pendalaman Minat dengan jumlah jam pelajaran pilihan per minggu berdurasi 4 jam pelajaran yang dapat diambil dengan pilihan sebagai berikut: a. Pengembangan Kurikulum 2013 pada Satuan Pendidikan Pengembangan Kurikulum 2013 dilakukan atas prinsip: a. Sedangkan pada kelas XI dan XII. jumlah jam pelajaran pilihan per minggu berdurasi 6 jam pelajaran yang dapat diambil dengan pilihan sebagai berikut: a. bukan daftar mata pelajaran b. Pemerintah bertanggungjawab dalam melakukan evaluasi pelaksanaan kurikulum secara nasional. dan/atau b. Manajemen Implementasi a.

Dengan demikian. Oleh karena itu dalam persiapan implementasi Kurikulum 2013. Kepala Sekolah dan Pengawas. dan seluruh VII (SMP/MTs). Pemerintah kabupaten/kota bertanggungjawab dalam memberikan bantuan profesional kepada guru dan kepala sekolah dalam melaksanakan kurikulum di kabupaten/kota terkait. dan X (SMA/MA. SMA/MA. Implementasi Kurikulum 2013 mensyaratkan penataan administrasi. sistem administrasi. d. Pada tahun kedua ini. SMK/MAK yang belum melaksanakan kurikulum. VII. Pelaksanaan kurikulum di seluruh sekolah dan jenjang pendidikan yaitu: . dari tahun 2013 – 2016. Stategi Implementasi Kurikulum terdiri atas: a. Prinsip ini menjadi prinsip utama implementasi dimana guru. Isi buku babon guru adalah sama dengan buku babon peserta didik dengan tambahan strategi pembelajaran dan penilaian hasil belajar.d. Pengembangan buku babon. Pemerintah propinsi bertanggungjawab dalam melakukan supervisi dan evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum di propinsi terkait.Juli 2014: Kelas I. Buku babon terdiri atas buku untuk peserta didik dan buku untuk guru. kepemimpinan. kepala sekolah dan pengawas adalah untuk guru. kepemimpinan dan budaya kerja guru yang baru. dan pengembangan budaya sekolah (budaya kerja guru) terutama untuk SMA/MA dan SMK/MAK. Sedangkan pedoman pembelajaran dan penilaian hasil belajara secara rinci tercantum dalam buku pedoman pembelajaran dan penilaian. Pelatihan Guru. 3. Untuk SD akan dipilih 30% SD dari setiap kabupaten/kota di setiap propinsi. Seperti tahun pertama maka SD akan dipilih sebanyak 30% sehingga secara keseluruhan implementasi kurikulum pada tahun kedua sudah mencakup 60% SD di seluruh wilayah NKRI. SMK/MAK telah melaksanakan sepenuhnya Kurikulum 2013. . IV. b. manajemen.Juli 2013: Kelas I. dari tahun 2013 – 2016. . VIII. II. IV terbatas pada sejumlah SD/MI (30%). V. Pada prinsipnya ketika implementasi Kurikulum 2013 memasuki tahun 2015-2016 seluruh buku babon sudah teredia di setiap sekolah. kepala sekolah dan pengawas di seluruh Indonesia sudah mendapatkan pelatihan untuk melaksanakan kurikulum. Pengembangan manajemen. kepala sekolah dan pengawas di wilayah sekolah terkait yang akan mengimplemntasikan kurikulum adalah mereka yang sudah terlatih. pelatihan juga berkenaan dengan tata kerja baru para guru dan kepemimpinan kepala sekolah. dimulai dari bulan Januari – Desember 2013. SMA/MA. X. kepala sekolah yang akan melaksanakan Kurikulum 2013 dan dilakukan sebelum Kurikulum 2013 diimplementasikan. Matematika – SMA/MA/SMK | 91 .Juli 2015: seluruh kelas dan seluruh sekolah SD/MI. seluruh guru.Dengan penerapan pelatihan ini maka implementasi Kurikulum tidak hanya berkenaan dengan upaya realisasi ide dan rancangan kurikulum tetapi juga pembenahan pada pelaksanaan pendidikan di satuan pendidikan. Ini adalah tahun pertama implementasi dan dilakukan di seluruh wilayah NKRI. ketika Kurikulum 2013 akan diimplementasikan pada tahun pembelajaran 2015-2016. hanya kelas terakhir SMP/MTs. e. penulisan dan percetakan serta distribusi buku babon akan seluruhnya selesai pada awal tahun terakhir implementasi kurikulum atau sebelumnya. SMK/MAK). Sejalan dengan strategi implementasi. c. dan XI: tahun 2014 adalah tahun kedua implementasi. Pelatihan guru. SMP/MTs.

e. Pendampingan dalam bentuk Monitoring dan Evaluasi untuk menemukan kesulitan dan masalah implementasi dan upaya penanggulangan: Juli 2013 – 2016. Strategi implementasi Kurikulum 2013 menghindari pelatihan yang dinamakan one-shot training sebagai strategi implementasi mengingat kelemahan strategi tersebut. Pleatihan yang dilakukan untuk para guru, kepala sekolah, dan pengawas akan diikuti dengan monitoring dan evaluasi sepanjang pelaksanaan paling tidak dari tahun pertama sampai tahun ketiga implementasi. Pada akhir tahun ketiga implementasi diharapkan permasalahan yang dihadapi para pelaksana sudah tidak lagi merupakan masalah mendasar dan kurikulum sudah dapat dilaksanakan sebagaimana seharusnya. Permasalahan lapangan yang muncul adalah yang dapat diselesaikan oleh kolaborasi guru, kepala sekolah dan pengawas di bawah supervisi dinas pendidikan kabupaten/kota.

B. EVALUASI KURIKULUM Evaluasi Kurikulum dilaksanakan selama masa pengembangan ide (deliberation process), pengembangan desain dan dokumen kurikulum, dan selama masa implementasi kurikulum. Evaluasi dalam deliberation process menghasilkan penyempurnaan dalam Kompetensi Inti yang dijadikan organising element dalam mengikat Kompetensi dasar mata pelajaran. Pelaksanaan evaluasi implementasi kurikulum dilaksanakan sebagai berikut: 1. Sampai tahun pelajaran 2015-2016: untuk memperbaiki berbagai kesulitan pelaksanaan kurikulum. 2. Sampai tahun pelajaran 2016 secara menyeluruh untuk menentukan efektivitas, kelayakan, kekuatan, dan kelemahan implementasi kurikulum. Evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum (implementasi kurikulum) diselenggarakan dengan tujuan untuk mengidentifikai masalah pelaksanaan kurikulum dan membantu kepala sekolah dan guru menyelesaikan masalah tersebut. Evaluasi dilakukan pada setiap satuan pendidikan dan dilaksanakan pada satuan pendidikan di wilayah kota/kabupaten secara rutin dan bergiliran. Hasil evaluasi dilakukan sebagai bahan untuk memperbaiki kelemahan kurikulum agar lebih efektif lagi di masa yang akan datang.

Matematika – SMA/MA/SMK | 92

SUBMATERI PELATIHAN : 1.2 ELEMEN PERUBAHAN KURIKULUM

Langkah Kegiatan Inti

Pemaparan oleh Instruktur dengan menggunakan PPT-1.1 dan PPT-1.2 10 Menit

Tanya Jawab

10 Menit

Pemaparan
Instruktur menyampaikan materi Rasional dan Elemen Perubahan Kurikulum yang mencakup: 4 standar, tematik terpadu untuk SD kls 1 dan 4, TIK merupakan sarana pembelajaran yang dipergunakan sebagai media pembelajaran mata pelajaran lain, perubahan pendekatan pembelajaran yaitu Scientific Approach, bahasa sebagai alat komunikasi dan carrier of knowledge, penetapan platform untuk mata pelajaran tertentu (geografi untuk IPS, Biologi untuk IPA)dengan menggunakan PPT-1.2.

Tanya Jawab
Diskusi dan tanya jawab terkait dengan Rasional dan Elemen Perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: d. Alasan pengembangan kurikulum. e. Identifikasi perubahan yang penting dalam kurikulum 2013 dibandingkan kurikulum sebelumnya (struktur kurikulum, proses pembelajaran, dan penilaian hasil belajar). f. Manfaat adanya perubahan kurikulum. Kemudian fasilitator menyimpulkannya.

Matematika – SMA/MA/SMK | 93

Matematika – SMA/MA/SMK | 94

Matematika – SMA/MA/SMK | 95

Matematika – SMA/MA/SMK | 96

Matematika – SMA/MA/SMK | 97

Matematika – SMA/MA/SMK | 98 .

2 Kerja Kelompok Peserta dibagi menjadi 5 kelompok. KD 5 Menit Kerja Kelompok Presentasi Hasil Kelompok 10 Menit 30 Menit 15 Menit Pemaparan Instuktur memberikan materi SKL. dan KD dengan menggunakan HO-1.3/2.1/2. setiap kelompok diberi tugas menganalisis keterkaitan SKL.3/3.1/3. Sementara kelompok lainnnya memberi komentar/ tanggapan dan menilai hasil kerja kelompok lainnya. KI.3 Matematika – SMA/MA/SMK | 99 .3: SKL. DAN KD Langkah Kegiatan Inti Pemaparan oleh Instruktur Memberi Contoh Analisis Keterkaitan SKL. Memberi Contoh Instruktur memberikan contoh analisis keterkaitan antara SKL. Masing-masing kelompok mengerjakan KD yang berbeda agar peserta mendapat bahan hasil analisis semua KI dan KD selama 1 tahun kelas X.3. KI. KD masing-masing mapel selama 1 tahun yang akan dijadikan dasar untuk membuat RPP dengan menggunakan LK 1. KI. Presentasi Hasil Kerja Kelompok Masing-masing kelompok memaparkan hasil kerja kelompok. dan KD dengan menggunakan PPT-1. KI. KI.SUBMATERI PELATIHAN 1. Peserta yang akan memaparkan akan ditunjuk oleh Intruktur.

Matematika – SMA/MA/SMK | 100 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 101 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 102 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 103 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 104 .

dan budaya dengan wawasan kemanusiaan. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR MATEMATIKA (WAJIB) SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)/MADRASAH ALIYAH (MA) KELAS: X Matematika – SMA/MA/SMK | 105 .3/2.HO-1. prosedural.4/3. dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia Memiliki pengetahuan faktual. seni.2 STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL) SMA/MA/SMALB*/Paket C Aspek Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Sikap Pengetahuan Keterampilan Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman. kebangsaan. berilmu. percaya diri. dan metakognitif dalam ilmu pengetahuan. konseptual. dan peradaban terkait penyebab serta dampak fenomena dan kejadian. Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret sebagai pengembangan dari yang dipelajari di sekolah secara mandiri.1/2. teknologi. berakhlak mulia.1/3. kenegaraan.

Matematika – SMA/MA/SMK | 106 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 107 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 108 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 109 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 110 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 111 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 112 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 113 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 114 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 115 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 116 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 117 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 118 .

berakhlak dianutnya. sikap dan alam serta royong. mulia. responsif disiplin.1 Memiliki jawab dalam mengamalkan trigonometri segitiga motivasi internal. kerjasama. percaya diri. dirinya sebagai santun.3 Aspek Sikap Kompetensi Inti Kompetensi Dasar Lingkup Materi Penilaian Autentik (Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen) Memiliki perilaku 1. macam dan kemampuan efektif dengan tanggungjawab. lingkungan sosial peduli (gotong identitas trigonometri konsisten. ukuran sudut serta bekerjasama.CONTOH ANALISIS SKL. bekerjasama menyelesaikan Siswa menelaah hubungan perbandingan trigonometri dengan sudut pada segitiga sikusiku Siswa memecahkan masalah perbandingan trigonometri untuk sudut lebih dari atau kurang dari dengan/tanpa bimbingan guru Siswa memecahkan masalah perbandingan trigonometri untuk sudut lebih dari satu putaran Teknik Penilaian: Non tes (pengamatan) Bentuk Instrumen: Lembar pengamatan perkembangan sikap Matematika – SMA/MA/SMK | 119 . perbedaan solusi atas berbagai problem soving serta strategi berpikir permasalahan dalam macam dan ukuran dalam memilih berinteraksi secara sudut untuk dan menerapkan efektif dengan mengembangkan strategi lingkungan sosial toleransi. berinteraksi secara perilaku jujur. Menghayati dan yang mencerminkan mengamalkan sikap orang ajaran agama yang beriman. untuk disiplin. dalam menempatkan toleran. dan sikap cerminan bangsa dan pro-aktif dan jujur dan bekerjasama. toleransi dalam pergaulan menunjukkan sikap dalam dunia sebagai bagian dari  Identitas Trigonometri. Menghayati dan  Perbandingan 2. konsisten. dan bertanggung 2. disiplin. KI dan KD Mata Pelajaran : Matematika Kelas : X Materi Pokok : Perbandingan Trigonometri Standar Kompetensi Lulusan Aktivitas yang Dilakukan agar Siswa Memperoleh Kompetensi HO – 1. damai). mengembangkan rasa percayadiri. siku-siku.

mencoba dan Teknik Penilaian:  Tes tertulis terkait : perbandingan Matematika – SMA/MA/SMK | 120 . menanya (berfikir divergen). Pengetahuan Memiliki pengetahuan faktual. Memahami. rasa ingin tahu. dan menganalisis pengetahuan 3.d. mengembangkan rasa percaya diri dan peduli 2. sudut lebih berpilaku jujur. dari 3600 dan sudut tangguh negatif untuk mengadapi mengembangkan masalah.14 Mendeskripsikan konsep perbandingan trigonometri pada  Nilai perbandingan sisi-sisi segitiga sikusiku (perbandinga trigonometri)  Melakukan kegiatan mengamati fakta matematika. dan 3. prosedural.3 Menunjukkan lingkungan sikap bertanggung jawab. menerapkan. kritis perilaku kritis. konseptual.2 Mampu bangsa dalam mentransformasi  Fungsi Trigonometri pergaulan dunia sudut lebih dari 900 diri dalam s. jujur dan perilaku peduli lingkungan. dalam melakukan tugas belajar  Problem solving untuk matematika.Aspek Standar Kompetensi Lulusan Kompetensi Inti Kompetensi Dasar Lingkup Materi Aktivitas yang Dilakukan agar Siswa Memperoleh Kompetensi Penilaian Autentik (Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen) dan alam serta masalah. serta kesadaran hak dalam menempatkan dan kewajiban diri sebagai cerminan 2. 3600. sikap dan disiplin rasa ingin tahu. menalar.

seni.16 Mendeskripsikan dan menentukan hubungan perbandingan trigonometri dari sudut di setiap kuadran. Kompetensi Inti faktual. kebangsaan. mencoba dan membuktikan serta menyimpulkan terkait sudut berelasi (sudut di kuadrani. teknologi. teknologi. menalar. kuadran II. memilih dan menerapkan dalam penyelesaian Lingkup Materi Aktivitas yang Dilakukan agar Siswa Memperoleh Kompetensi membuktikan dan menyimpulkan o terkait nilai perbandingan sisi segitiga siku-siku o terkait dengan perluasan nilai perbandingan trigonometri untuk sudut siku-siku.Aspek Standar Kompetensi Lulusan metakognitif dalam ilmu pengetahuan. budaya. kebangsaan. kuadran III dan kuadran IV)  Portofolio hasil kerja siswa dan catatan guru Bentuk instrumen penilaian:  Soal uraian  Portofolio Matematika – SMA/MA/SMK | 121 . kenegaraan. dan budaya dengan wawasan kemanusiaan.15 Menemukan sifatsifat dan hubungan antar perbandingan trigonometri dalam segitiga siku-siku. dan prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan. perluasan konsep pada kordinat kartesius dalam kaitannya dengan sudut berelasi  Hubungan antar perbandingan trigonometri dalam segitiga siku-siku  Nilai perbandingan trigonometri diperluas dengan mengaitkan kordinat  Perbandingan trigonometri di berbagai kuadran dan pemahaman  Melakukan kegiatan mengamati fakta matematika. sudut tumpul dan sudut tumpul Penilaian Autentik (Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen) segitiga siku-siku (kuadran I) . serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah Kompetensi Dasar segitiga siku-siku melalui penyelidikan dan diskusi tentang hubungan perbandingan sisi-sisi yang bersesuaian dalam beberapa segitiga siku. 3. 3. dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian.siku sebangun. menanya (berfikir divergen). dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan. dan peradaban terkait penyebab serta dampak fenomena dan kejadian. kenegaraan. misalnya in . konseptual. seni.

4 Mengolah.17 Mendeskripsikan konsep fungsi trigonometri dan menganalisis grafik fungsinya serta menentukan hubungan nilai fungsi trigonometri dari sudut-sudut istimewa Lingkup Materi sudut berelasi  Grafik fungsi trigonometri Aktivitas yang Dilakukan agar Siswa Memperoleh Kompetensi Penilaian Autentik (Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen) Keterampilan Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret sebagai pengembangan dari yang dipelajari di sekolah secara mandiri.15 Menyajikan grafik fungsi trigonometri  Penerapan perbandingan trigonometri  Melukis grafik fungsi trigonometri  Menentukan tinggi gedung dengan memanfaatkan perbandingan trigonometri dengan berbagai cara. (misalnya menggunakan bayangan. dan mampu menggunakan 4.Aspek Standar Kompetensi Lulusan Kompetensi Inti Kompetensi Dasar masalah nyata dan matematika 3. dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri.14 Menerapkan perbandingan trigonometri dalam menyelesaikan masalah 4. klinometer dan sebagainya)  Unjuk kerja (dengan instrumen pengamatan) Matematika – SMA/MA/SMK | 122 . menalar. busur.

Aspek Standar Kompetensi Lulusan Kompetensi Inti metoda sesuai kaidah keilmuan Kompetensi Dasar Lingkup Materi Aktivitas yang Dilakukan agar Siswa Memperoleh Kompetensi Penilaian Autentik (Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen) Matematika – SMA/MA/SMK | 123 .

Tentukan teknik dan instrumen penilaiannya dengan mengacu silabus mata pelajaran 8. Analisislah lingup materi dari setiap KD mengacu silabus mata pelajaran 6. KI. Bacalah KD mata pelajaran matematika SMA kelas X. Bacalah dan komparasikan dengan SKL Tahun 2006 (Permendiknas Th 2006). KI. 3. KI dan KD 1. dan KD MATEMATIKA KELAS X LK – 1. 2. dan KD matematika kelas X yang sudah disiapkan! Matematika – SMA/MA/SMK | 124 . Bacalah substansi Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Tahun 2013.LEMBAR KERJA ANALISIS KETERKAITAN SKL. Tulislah aktivitas/ kegiatan belajar siswa untuk mencapai kompetensi tersebut dengan mengacu silabus mata pelajaran 7. KI DAN KD Kompetensi Tujuan Kegiatan Kelompok Kerja : : : Memahami keterkaitan antara SKL. Bacalah KI mata pelajaran matematika SMA kelas X. 5. KI dan KD pada Kurikulum 2013 Menganalisis keterkaitan SKL.3 PETUNJUK KEGIATAN ANALISIS SKL. 4. Setelah selesai masukkan dalam Lembar Kerja Analisis Keterkaitan SKL.

kerjasama. dan KD MATA PELAJARAN : MATEMATIKA KELAS :X MATERI AJAR : Domain Sikap Standar Kompetensi Lulusan Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman. berilmu. konseptual. tanggungjawab. toleran. disiplin. prosedural. santun. responsif dan proaktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia Memahami . dan metakognitif dalam matematika. menerapkan.3 Teknik dan Bentuk Instrumen Penilaian Pengetahuan Memiliki pengetahuan faktual.LEMBAR KERJA ANALISIS KETERKAITAN SKL. KI. peduli (gotong royong. dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. Kompetensi Inti Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur. prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu Kompetensi Dasar Lingkup Materi Aktivitas/Kegiatan Belajar Siswa untuk Mencapai Kompetensi LK – 1. berakhlak mulia. ilmu Matematika – SMA/MA/SMK | 125 . konseptual. damai). menganalisis pengetahuan faktual. percaya diri.

seni.Domain Standar Kompetensi Lulusan pengetahuan. Kompetensi Inti pengetahuan. - Matematika – SMA/MA/SMK | 126 . teknologi. kenegaraan. dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri. kebangsaan. Mengolah. dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan Kompetensi Dasar Lingkup Materi Aktivitas/Kegiatan Belajar Siswa untuk Mencapai Kompetensi Teknik dan Bentuk Instrumen Penilaian Keterampilan Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret dalam menyelesaikan masalah secara mandiri. dan budaya dengan wawasan kemanusiaan. teknologi. budaya. kebangsaan. dan peradaban terkait penyebab serta dampak fenomena dan kejadian. seni. kenegaraan. serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. menalar. dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan. dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian.

pengawas sekolah. Matematika – SMA/MA/SMK | 127 . Membuat Rangkuman Instruktur merangkum semua materi pelatihan Konsep Kurikulum yang telah disampaikan selama 4 JP sebagai kegiatan penutup. meliputi berikut ini. dan guru BK.4: STRATEGI IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 Langkah Kegiatan Inti Pemaparan oleh Instruktur Diskusi Kelas Merangkum Hasil Diskusi Kelas Refleksi dan umpan balik untuk seluruh materi pelatihan 15 Menit 10 Menit 20 Menit 10 Menit Pemaparan Paparan oleh fasilitatortentang Strategi Implementasi Kurikulum 2013 dengan menggunakan PPT-1. 1. kepala sekolah. 2. Peran guru. Dukungan manajemen sekolah atau kultur sekolah dalam mensukseskan pembelajaran dengan menggunakan kurikulum 2013. Dukungan dinas pendidikan kabupaten dan organisasi profesi dalam implementasi kurikulum 2013.MATERI PELATIHAN 1.4 Diskusi Kelas Mendiskusikan elemen penting dalam implementasi kurikulum 2013. 3.

Matematika – SMA/MA/SMK | 128 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 129 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 130 .

2 2.MATERI PELATIHAN 2: ANALISIS MATERI AJAR 2.3 2.4 Konsep Pendekatan Scientific Model Pembelajaran Konsep Penilaian Autentik BAGIAN Analisis Buku Guru danIII Siswa Matematika – SMA/MA/SMK | 131 .1 2.

Menganalisis kesesuaian buku guru dan siswa dengan SKL. Menjelaskan secara utuh materi. struktur. 8. B. Menerima penerapan konsep penilaian autentik di sekolah/ madrasah dan menghargai pendapat orang lain. 2. Mengidentifikasi kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. pendekatan belajar . KOMPETENSI Peserta pelatihan dapat: 1. 7. struktur. Menerapkan materi pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari. dan KD. dan KD. KI. 9. 4. KI. 2. menganalisis buku guru dan buku siswa dilihat dari aspek kecukupan dan kedalaman materi. menganalisis kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. 2. 3. LINGKUP MATERI 1. 5.MATERI PELATIHAN 2: ANALISIS MATERI AJAR A. Menjelaskan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. 3. 4. menguasai secara utuh materi. Menganalisis kecukupan dan kedalaman materi buku guru dan buku siswa. Menjelaskan konsep pendekatan scientific. 6. dan pola pikir keilmuan materi pelajaran. KI. 11. menguasai penerapan materi pelajaran pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan seharihari. INDIKATOR 1. dan pola pikir keilmuan materi pelajaran yang terdapat dalam buku siswa. dan KD secara teliti dan serius. 5. dan Kedalaman Materi) C. mendeskripsikan konsep pendekatan scientific dalam pembelajaran. serta strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam buku. Menerima konsep pendekatan scientific dan menghargai pendapat orang lain. 10. Kecukupan. mendeskripsikan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. 7. Konsep Pendekatan Scientific Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Pembelajaran Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (Kesesuaian. Menganalisis kesesuaian proses. 3. 6. Matematika – SMA/MA/SMK | 132 . Menjelaskan penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran. dan memahami strategi menggunakan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran.

Video Pembelajaran Bahan Tayang a. D. 3. c. ATK Matematika – SMA/MA/SMK | 133 .12. b. Konsep Pendekatan Scientific Penerapan Pendekatan Scientific dalam Pembelajaran Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Analisis Buku Guru dan Buku Siswa Lembar Kerja Dokumen Bahan Bacaan a. Menjelaskan strategi penggunaan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. 4. Konsep Pendekatan Scientific Konsep Penilaian Autentik 5. 2. b. d. PERANGKAT PELATIHAN 1.

tujuan. dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Analisis Materi Ajar. antusias.3 Model-model Pembelajaran 90 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 134 .2 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut.1-2. seperti LCD Projector. ANALISIS MATERI AJAR 12 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA.1. kompetensi. Fasilitator memotivasi peserta agar serius. Active Speaker. indikator. teliti.2-1 dan Contoh Penerapan Pendekatan Scientific dalam Pembelajaran Matematika dengan menggunakan PPT-2.SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: TAHAPAN KEGIATAN PERSIAPAN 2. alokasi waktu.dilanjutkan dengan paparan materi oleh fasilitator tentang Konsep Pendekatan Scientific dengan menggunakan PPT-2. Diskusi kelompok tentang konsep pendekatan scientific dengan 30 Menit menggunakan HO-2.1/4. Laptop.2. Diskusi kelompok untuk mengkaji pendekatan scientific yang 40 Menit mengacu pada tayangan video.1 Konsep Pendekatan Scientific 90 Menit Penayangan Video pembelajaran Matematika dengan menggunakan 20 Menit V-2. atau media pembelajaran lainnya.1-1 dan contoh-contoh penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika dengan mengacu pada HO-2. SMK/MAK MATEMATIKA DESKRIPSI KEGIATAN Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran. dan Laser Pointer. 2. WAKTU KEGIATAN PENDAHULUAN 15 Menit KEGIATAN INTI 2. dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung. File. Pengkondisian Peserta Perkenalan Fasilitator menjelaskan nama.

4-2. Kerja kelompok untuk menganalisis kesesuaian buku guru dan buku 60 Menit siswa dengan tuntutan SKL. dan Discovery Learning). KI.4 Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (Kesesuaian. dan Kedalaman Materi) Menilai buku dilakukan oleh peserta dengan bimbingan fasilitator 20 Menit dilihat dari aspek kesesuaian. ICE BREAKER 5 Menit 5 Menit 240 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 135 . Kerja kelompok untuk mengidentifikasi penerapan Pendekatan Scientific pada tiga model pembelajaran. Menerapkan Focus Group Discussion untuk mengidentifikasi karakteristik tiga model pembelajaran. Kecukupan. ICE BREAKER 2.Mengamati tayangan tiga jenis model pembelajaran (Project Based Learning.2. Diskusi kelompok hasil penilaian buku dilanjutkan dengan 30 Menit pemaparan materi tentang Analisis Buku Guru dan Buku Siswa dengan menggunakan PPT-2.41 dan LK -2.2/3. dan KD dengan menggunakan LK-2. Problem Based Learning. kecukupan. Menyimpulkan hasil diskusi dan menyampaikan format lembar 15 Menit kerja yang telah disiapkan. dan kedalaman materi. 2. Presentasi hasil diskusi kelompok 25 Menit Paparan materi tentang Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan 15 Menit Hasil Belajar dengan menggunakan bahan tayang PPT-2.3 dan Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran Matematika menggunakan bahan tayang PPT-2. Diskusi tentang konsep penilaian autentik pada proses dan hasil 30 Menit belajar.3 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut.3 Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Pembelajaran 20 menit 30 menit 40 menit 90 Menit Kegiatan interaktif untuk menyamakan persepsi tentang jenis dan 15 Menit bentuk penilaian autentik.

Presentasi hasil kerja kelompok. Kerja kelompok untuk membuat contoh-contoh penerapan materi 30 Menit pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari.Diskusi kelompok untuk menganalisis kesesuaian proses. Menyimpulkan materi analisis buku oleh fasilitator. Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran. Fasilitator mengingatkan peserta agar membaca referensi yang relevan. KEGIATAN PENUTUP Membuat rangkuman materi pelatihan Analisis materi Ajar. Fasilitator menutup pembelajaran 30 Menit 20 Menit 15 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 136 . serta strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam buku. 30 Menit pendekatan scientific.

1 dan Contoh Penerapan Pendekatan Scientific dalam Pembelajaran dengan menggunakan PPT-2. Membuat urutan aktivitas pada pendekatan scientific. 3. 2.2. tugas diskusi kelompok sebagai berikut. Matematika – SMA/MA/SMK | 137 . Diskusi Kelompok Diskusi kelompok Contoh-contoh Penerapan Pendekatan Scientific dalam Pembelajaran. Mengidentifikasi konsep pendekatan scientific yang disampaikan pada tayangan video.2-2 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi. Paparan Materi Fasilitator menyampaikan Konsep Pendekatan Scientific dengan menggunakan PPT-2. 2.Materi Pelatihan 2. kelompok lain dapat dijadikan pembahas dan penanya.1: Konsep Pendekatan Scientific Langkah Kegiatan Inti Diskusi Kelompok Contohcontoh Pendekatan Scientific dan Penerapannya 45 Menit Diskusi Kelompok Pendekatan Scientific 45 Menit Diskusi Kelompok 1. Membuat contoh pembelajaran salah satu KD dengan menggunakan pendekatan scientific. 1. Pada akhir diskusi instruktur menyimpulkan hasil diskusi kelompok. 3. 2. KD yang ditetapkan adalah KD semester 1. Instruktur memberikan masukan terhadap hasil diskusi kelompok. Masing-masing kelompok memaparkan hasil diskusinya. Mengkaji pendekatan scientific yang mengacu pada tayangan video. Pemaparan Hasil Diskusi Kelompok 1.

kelompok lain dapat dijadikan pembahas dan penanya. Matematika – SMA/MA/SMK | 138 . 3.Pemaparan Hasil Diskusi Kelompok 1. Pada akhir diskusi instruktur menyimpulkan hasil diskusi kelompok. 2. Instruktur memberikan masukan terhadap hasil diskusi kelompok. Masing-masing kelompok memaparkan hasil diskusinya.

Matematika – SMA/MA/SMK | 139 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 140 .

metode pencarian (method of inquiry) harus berbasis pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi. Metode ilmiah umumnya menempatkan fenomena unik dengan kajian spesifik dan detail untuk kemudian merumuskan simpulan umum. menganalisis. dan menguji hipotesis. Sebaliknya. mengolah informasi atau data. Pendekatan Ilmiah dan Non-ilmiah dalam Pembelajaran Pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah itu lebih efektif hasilnya dibandingkan dengan pembelajaran tradidional. penalaran induktif menempatkan buktibukti spesifik ke dalam relasi idea yang lebih luas. Untuk dapat disebut ilmiah. Hasil penelitian membuktikan bahwa pada pembelajaran tradisional. Esensi Pendekatan Ilmiah Proses pembelajaran dapat dipadankan dengan suatu proses ilmiah. Pada pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah. B. empiris.1-1 PENDEKATAN ILMIAH DALAM PEMBELAJARAN A. metode ilmiah umumnya memuat serangkaian aktivitas pengumpulan data melalui observasi atau ekperimen. Dalam pendekatan atau proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah. atau mengoreksi dan memadukan pengetahuan sebelumnya. keterampilan.Karena itu.HO-2. kemudian memformulasi. penalaran induktif memandang fenomena atau situasi spesifik untuk kemudian menarik simpulan secara keseluruhan. Karena itu Kurikulum 2013 mengamanatkan esensi pendekatan ilmiah dalam pembelajaran. Sejatinya. para ilmuan lebih mengedepankan pelararan induktif (inductive reasoning)ketimbang penalaran deduktif (deductivereasoning). dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik. retensi informasi dari guru sebesar lebih dari 90 persen setelah dua hari dan perolehan pemahaman kontekstual sebesar 50-70 persen. memperoleh pengetahuan baru.Pendekatan ilmiah diyakini sebagai titian emas perkembangan dan pengembangan sikap. Penalaran deduktif melihat fenomena umum untuk kemudian menarik simpulan yang spesifik. retensi informasi dari guru sebesar 10 persensetelah 15 menit dan perolehan pemahaman kontekstual sebesar 25 persen. Matematika – SMA/MA/SMK | 141 . Metode ilmiah merujuk pada teknik-teknik investigasi atas suatu atau beberapa fenomena atau gejala. dan pengetahuan peserta didik.

pengabsahan. Intuisi sering dimaknai sebagai kecakapan praktis yang kemunculannya bersifat irasional dan individual. penemuan. proses pembelajaran harus dilaksanakan dengan dipandu nilai-nilai. Proses pembelajaran disebut ilmiah jika memenuhi kriteria seperti berikut ini. legenda.Proses pembelajaran dengan berbasis pendekatan ilmiah harus dipandu dengan kaida-kaidah pendekatan ilmiah. penemuan melalui coba-coba. Pendekatan ini bercirikan penonjolan dimensi pengamatan. akal sehat. memahami. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana. penalaran. jelas. dan penjelasan tentang suatu kebenaran. atau kriteria ilmiah.  Intuisi. Namun demikian. memecahkan masalah. khayalan. dan tautan satu dengan yang lain dari substansi atau materi pembelajaran. dan asal berpikir kritis. atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis. dan mengaplikasikan substansi atau materi pembelajaran. kesamaan. atau dongeng semata.prasangka.   Berbasis pada konsep. intuisi sama sekali menafikan dimensi alur pikir yang sistemik. pemikiran subjektif. dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon substansi atau materi pembelajaran. respon peserta didik.  Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu memahami. pengetahuan. menerapkan. bukan sebatas kira-kira. analitis. Intuisi juga bermakna kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki oleh seseorang atas dasar pengalaman dan kecakapannya. dan fakta empiris yang dapatdipertanggung-jawabkan. Matematika – SMA/MA/SMK | 142 .  Penjelasan guru. dan keterampilan secara cepat dan berjalan dengan sendirinya. Proses pembelajaran harus terhindar dari sifat-sifat atau nilai-nilai non-ilmiah yang meliputiintuisi. prinsip-prinsip. dan tepat dalam mengidentifikasi. dan interaksi edukatif guru-peserta didik terbebas dari prasangka yang serta-merta. Dengan demikian. Istilah ini sering juga dipahami sebagai penilaian terhadap sikap. Kemampuan intuitif itu biasanya didapat secara cepat tanpa melalui proses panjang dan tanpa disadari. dan menarik sistem penyajiannya.  Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan.  Mendorong dan menginspirasi peserta didik berpikir secara kritis. teori.  Substansi atau materipembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu.

Peserta didik pun melihat lambang tombol yang menyebabkan komputer laptop itu menyala dan mengulangi lagi tindakannya.  Prasangka. Orang seperti ini biasanya pemikirannya dipercaya benar oleh banyak orang. jika diwarnai oleh kepentingan subjektif guru dan peserta didik.  Penemuan coba-coba. keterampilan dan pengetahuan yang ditemukan dengan caracoba-coba selalu bersifat tidak terkontrol. tiba-tiba dia kaget komputer laptop itu menyala.Tindakan atau aksi coba-coba seringkali melahirkan wujud atau temuan yang bermakna. Namun demikian. Namun demikian. seringkali mereka menjeneralisasi hal-hal khusus menjadi terlalu luas. keterampilan. tidak memiliki kepastian. Hal inilah yang menyebabkan penggunaan akal sehat berubah menjadi prasangka atau pemikiran skeptis.  Berpikir kritis. khususnya mereka yang normal hingga jenius. Tentu saja. Sebaliknya akan berubah menjadi prasangka buruk atau sikap tidak percaya. peserta didik. Secara akademik diyakini bahwa pemikiran kritis itu umumnya dimiliki oleh orang yang bependidikan tinggi. hingga dia sampai pada kepastian jawaban atas tombol dengan lambang seperti apa yang bisa memastikan bahwa komputer laptop itu bisa menyala.Karena itu. Guru dan peserta didik harus menggunakan akal sehat selama proses pembelajaran. Akal sehat. tindakan coba-coba itu ada manfaatnya bahkanmampu mendorong kreatifitas. dan pengetahuan yang benar. dan sejenisnya) yang menjadi pelakunya. harus diserta dengan pencatatan atas setiap tindakan. jika diolah secara baik. sampai dengan menemukan kepastian jawaban. Ketika akal sehat terlalu kuat didomplengi kepentingan pelakunya. karena memang hal itu dapat menunjukan ranah sikap.Sikap. Tentu saja hasil pemikirannya itu Matematika – SMA/MA/SMK | 143 . dan pengetahuan yang diperoleh semata-mata atas dasar akal sehat (comon sense) umumnya sangat kuat dipandu kepentingan seseorang (guru. jika guru dan peserta didik hanya sematamata menggunakan akal sehat dapat pula menyesatkanmereka dalam proses dan pencapaian tujuan pembelajaran.Kamampuan berpikir kritis itu ada pada semua orang. Berpikir skeptis atau prasangka itu memang penting. Misalnya. keterampilan. kalau memang tindakan coba-coba ini akan dilakukan. seorang peserta didik mencoba meraba-raba tombol-tombol sebuah komputer laptop. dan tidak bersistematika baku.

keterampilan. yaitu sikap. Ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘bagaimana’. Dalam proses pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah. Proses pembelajaran harus menyentuh tiga ranah. dan pengetahuan. karena bukan berdasarkan hasil esperimen yang valid dan reliabel. Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran. karena pendapatnya itu hanya didasari atas pikiran yang logis semata. Pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran semua mata pelajaran meliputi menggali informasi melaui pengamatan. bertanya. Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘apa’. C. pengetahuan.Hasil akhirnya adalahpeningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik(soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills)dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap. ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘mengapa’. Matematika – SMA/MA/SMK | 144 . yaitu menggunakan pendekatan ilmiah.tidak semuanya benar. dan keterampilan. Langkah-langkah Pembelajaran dengan Pendekatan Ilmiah Proses pembelajaran pada Kurikulum 2013 untuk semua jenjang dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan ilmiah.

Pada kondisi seperti ini. dan alat-alat tulis lainnya. peserta didiksama sekali tidak melibatkan diri dengan pelaku. Metode ini memiliki keunggulan tertentu. berbeda dengan observasi biasa. seperti menggunakan buku catatan. Metode mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik.percobaan. 1. Dengan metode observasi peserta didik menemukan fakta bahwa ada hubungan antara obyek yang dianalisis dengan materi pembelajaran yang digunakan oleh guru. atau situasi yang diamati. dan jika tidak terkendali akan mengaburkan makna serta tujuan pembelajaran.  Observasi terkendali (controlled observation). Sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi. materi. Seperti halnya observasi biasa. Kegiatan observasi dalam proses pembelajaran meniscayakan keterlibatan peserta didik secara langsung. baik primer maupun sekunder  Menentukan di mana tempat objek yang akan diobservasi  Menentukan secara jelas bagaimana observasi akan dilakukan untuk mengumpulkan data agar berjalan mudah dan lancar  Menentukan cara dan melakukan pencatatan atas hasil observasi . menyajikan data atau informasi. peserta didik senang dan tertantang. atau situasi tertentu. seperti menyajikan media obyek secara nyata. Pendekatan ilmiah pembelajaran disajikan berikut ini.Merepa juga tidak memiliki hubungan apa pun dengan pelaku. sangat mungkin pendekatan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan secara prosedural. biaya dan tenaga relatif banyak. tape recorder.  Menentukan objek apa yang akan diobservasi  Membuat pedoman observasi sesuai dengan lingkup objek yang akan diobservasi  Menentukan secara jelas data-data apa yang perlu diobservasi. menalar. objek. atau situasi yang diamati. dan mudah pelaksanaannya. objek. kemudian menyimpulkan. Dalam kaitan ini. guru harus memahami bentuk keterlibatan peserta didik dalam observasi tersebut. Tentu saja kegiatan mengamati dalam rangka pembelajaran ini biasanya memerlukan waktu persiapan yang lama dan matang. video perekam. Untuk mata pelajaran. tentu saja proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari nilai-nilai atau sifat-sifat nonilmiah. Pada observasi biasa untuk kepentingan pembelajaran. peserta didik merupakan subjek yang sepenuhnya melakukan observasi (complete observer). Mengamati Metode mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning). objek. dan mencipta. Kegiatan mengamati dalam pembelajaran dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut ini. dilanjutkan dengan menganalisis. kamera. kemudian mengolah data atau informasi. Di sini peserta didik sama sekali tidak melibatkan diri dengan pelaku. padaobservasi terkendali untuk kepentingan pembelajaran. pada observasi terkendalipelaku atau objek yang diamati ditempatkan pada ruang atau situasi yang dikhususkan.  Observasi biasa (common observation). atau situasi yang diamati. Matematika – SMA/MA/SMK | 145 . Namun demikian.

Di bidang pengajaran bahasa. atau situasi apa yang ingin diobservasi oleh peserta didik telah direncanakan oleh secara sistematis di bawah bimbingan guru. Secara lebih luas. Praktik observasi dalam pembelajaran hanya akan efektif jika peserta didik dan guru melengkapi diri dengan dengan alat-alat pencatatan dan alat-alat lain. Kedua cara pelibatan dimaksud yaitu observasi berstruktur dan observasi tidak berstruktur.  Observasiberstruktur. atau faktor. untuk merekam kegiatan objek atau secara audio-visual. tidak ditentukan secara baku atau rijid mengenai apa yang harus diobservasi oleh peserta didik. Alat mekanikalberupa alat mekanik yang dapat dipakai untuk memotret atau merekam peristiwa-peristiwa tertentu yang ditampilkan oleh subjek atau objek yang diobservasi. rekaman. alat atau instrumen yang digunakan dalam melakukan observasi.faktor yang akan diobservasi. fenomena subjek. Matematika – SMA/MA/SMK | 146 . (1) kamera. berupa alat untuk mencatat gejala atau fenomena menurut tingkatannya. atau situasi yang diobservasi. catatan anekdotal (anecdotal record). peserta didik melibatkan diri secara langsung dengan pelaku atau objek yang diamati. untuk merekam pembicaraan.  Cermat. komunitas. peserta didik membuat catatan. atau objek yang diamati. dengan menggunakan pendekatan ini berarti peserta didik hadir dan “bermukim” langsung di tempat subjek atau komunitas tertentu dan pada waktu tertentu pula untuk mempelajari bahasa atau dialek setempat. dan jujur serta terfokus pada objek yang diobservasi untuk kepentingan pembelajaran. Catatan anekdotalberupa catatan yang dibuat oleh peserta didik dan guru mengenai kelakuan-kelakuan luar biasa yang ditampilkan oleh subjek atau objek yang diobservasi. dan alat mekanikal (mechanical device). objektif. pada pembelajaran dengan observasi terkendali termuat nilai-nilai percobaan atau eksperimen atas diri pelaku atau objek yang diobservasi. untuk merekam objek atau kegiatan secara visual.  Observasipartisipatif (participant observation).Karena itu. (2) film atau video. Selama proses pembelajaran. termasuk melibakan diri secara langsung dalam situasi kehidupan mereka. misalnya. objek. catatan berkala. skala rentang (rating scale). observasi semacam ini paling lazim dilakukan dalam penelitian antropologi khususnya etnografi. seperti: (1) tape recorder. Daftar cek dapat berupa suatu daftar yang berisikan nama-nama subjek. atau mengingat dalam memori secara spontan atas subjek. dan (3) alat-alat lain sesuai dengan keperluan. Pada observasipartisipatif.  Observasitidak berstruktur. objek. Skala rentang . Dalam kerangka ini. Pada observasi yang tidak berstruktur dalam rangka proses pembelajaran. Prinsip-rinsip yang harus diperhatikan oleh guru dan peserta didik selama observasi pembelajaran disajikan berikut ini. seperti dijelaskan berikut ini. dapat berupa daftar cek (checklist). Sejatinya. Observasi semacam ini mengharuskan peserta didik melibatkan diri pada pelaku. peserta didik dapat melakukan observasi dengan dua cara pelibatan diri. objektif. Pada observasi berstruktur dalam rangka proses pembelajaran.

dan menarik simpulan.  Menstrukturkan tugas-tugas dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan sikap. atau situasi yang diobservasi. serta sigap dalam merespon persoalan yang tiba-tiba muncul. Makin banyak dan hiterogensubjek. mengajukan pertanyaan. guru dan peserta didik sebaiknya menentukan dan menyepakati cara dan prosedur pengamatan. dan memberi jawaban secara logis.  Membangkitkan keterampilan peserta didik dalam berbicara.  Melatih kesantunan dalam berbicara dan membangkitkan kemampuan berempati satu sama lain. pertanyaan dimaksudkan untuk memperoleh tanggapan verbal. b. Matematika – SMA/MA/SMK | 147 . dan menggunakan bahasa yang baik dan benar. serta bagaimana membuat catatan atas perolehan observasi. melainkan juga dapat dalam bentuk pernyataan. Bentuk pertanyaan. sistematis. dan sejenisnya.  Mendorong partisipasipeserta didik dalam berdiskusi. Fungsi bertanya  Membangkitkan rasa ingin tahu. Kriteria pertanyaan yang baik  Singkat dan jelas. memperkaya kosa kata. objek. Ketika guru menjawab pertanyaan peserta didiknya. Banyak atau sedikit serta homogenitas atau hiterogenitas subjek. dan pengetahuannya. Berbeda dengan penugasan yang menginginkan tindakan nyara. dan pemahamannya atas substansi pembelajaran yang diberikan. minat. serta mengembangkan pertanyaan dari dan untuk dirinya sendiri. mengembangkan kemampuan berpikir. Istilah “pertanyaan” tidak selalu dalam bentuk “kalimat tanya”.  Mendorong dan menginspirasi peserta didik untuk aktif belajar. keterampilan. keterampilan. atau situasi yang diobservasi. asalkan keduanya menginginkan tanggapan verbal. Pada saat guru bertanya.  Guru dan peserta didik perlu memahami apa yang hendak dicatat.  Membangun sikap keterbukaan untuk saling memberi dan menerima pendapat atau gagasan. berargumen.  Mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik sekaligus menyampaikan ancangan untuk mencari solusinya.2. direkam. misalnya: Sebutkan ciri-ciri kalimay efektif!  a. misalnya: Apakah ciri-ciri kalimat yang efektif? Bentuk pernyataan. makin sulit kegiatan obervasi itu dilakukan. serta mengembangkan toleransi sosial dalam hidup berkelompok.  Membiasakan peserta didik berpikir spontan dan cepat. Menanya Guru yang efektif mampu menginspirasi peserta didik untuk meningkatkan dan mengembangkan ranah sikap. objek. pada saat itu pula dia membimbing atau memandu peserta didiknya belajar dengan baik. Sebelum obsevasi dilaksanakan. dan perhatian peserta didik tentang suatu tema atau topik pembelajaran. ketika itu pula dia mendorong asuhannya itu untuk menjadi penyimak dan pembelajar yang baik.

 Menginspirasi jawaban. Ketika beberapa orang peserta didik telah memberikan jawaban yang sama. apakah peserta didik harus rajin belajar?(2) Mengapa peserta didik yang sangat malas belajar cenderung menjadi putus sekolah? Pertanyaan pertama cukup dijawab oleh peserta didik dengan Ya atau Tidak. kemalasan. Sebaliknya. jika suatu bangsa gagal membangun kerukunan umat beragama?Dua kalimat yang mengawali pertanyaan di muka merupakan contoh yang diberikan guru untuk menginspirasi jawaban peserta menjawab pertanyaan.Contoh: (1) Seberapa jauh pemahaman Anda mengenai faktor-faktor yang menyebabkan generasi muda terjerat kasus narkotika dan obat-obatan terlarang? (2) Faktor-faktor apakah yang menyebabkan generasi muda terjerat kasus narkotika dan obat-obatan terlarang? Pertanyaan kedua lebih singkat dan lebih jelas dibandingkan dengan pertanyaan pertama. kelangkaan sumber daya alam. Pertanyaan yang luas seperti di atas dapat dipersempit. bisa dimintai jawaban. Jika masih tersedia alternatif jawaban lain.  Memiliki fokus. peserta didik yang keenam dan seterusnya.  Bersifat validatif atau penguatan. dan keterisolasian geografis.” Matematika – SMA/MA/SMK | 148 . Peserta didik pertama hingga kelima misalnya menjawab: kebodohan. namun sifatnya menguatkan. tidak memiliki modal usaha. sebaiknya guru menghentikan pertanyaan itu atau meminta mereka memunculkan jawaban yang lain yang berbeda. pertanyaan kedua menuntut jawaban yang bervariasi urutan jawaban dan penjelasannya. Contoh: (1) Untuk meningkatkan kualitas hasil belajar. Jika suatu bangsa gagal membangun semangat kerukukan beragama. Contoh: Faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya kemiskinan? Untuk pertanyaan seperti ini sebaiknya masing-masing peserta didik diminta memunculkan satu jawaban. Pertanyaan dapat diajukan dengan cara meminta kepada peserta didik yang berbeda untuk menjawab pertanyaan yang sama. Coba jelaskan dampak sosial apa saja yang muncul. Contoh: Membangun semangat kerukunan umat beragama itu sangat penting pada bangsa yang multiagama. yang kemungkinan memiliki bobot kebenaran yang sama. misalnya: Mengapa kemalasan menjadi penyebab kemiskinan? Pertanyaan seperti ini dimintakan jawabannya kepada peserta didik secara perorangan. Contoh: o o Guru: “mengapa kemalasan menjadi penyebab kemiskinan”? Peserta didik I: “karena orang yang malas lebih banyak diam ketimbang bekerja.  Bersifat probing atau divergen. Jawaban atas pertanyaan itu dimaksudkan untuk memvalidsi atau melakukan penguatan atas jawaban peserta didik sebelumnya. akan muncul aneka persoalan sosial kemasyarakatan.

c. sintesis. sehingga menggambarkan tingkatan kognitif seperti apa yang akan disentuh. Bobot pertanyaan yang menggambarkan tingkatan kognitif yang lebih rendah hingga yang lebih tinggi disajikan berikut ini. sangat dianjurkan guru mengubah pertanyaannya.  Merangsang proses interaksi. guru memberi kesempatan kepada seorang atau beberapa orang peserta didik diminta menyampaikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Pola bertanya seperti ini memposisikan guru sebagai wahana pemantul. setelah menyampaikan pertanyaan. sehingga kehilangan waktu terlalu banyak untuk bekerja. dan seterusnya. Matematika – SMA/MA/SMK | 149 . Untuk menjawab pertanyaan dari guru. seperti pemahaman.Dalam kaitan ini.”  Memberi kesempatan peserta didik untuk berpikir ulang. seperti: apa. guru hendaknya menunggu beberapa saat sebelum meminta atau menunjuk peserta didik untuk menjawab pertanyaan itu. Tingkatan Pertanyaan Pertanyaan guru yang baik dan benar menginspirasi peserta didik untuk memberikan jawaban yang baik dan benar pula. seperti dari sekadar mengingat fakta ke pertanyaan yang menggugah kemampuan kognitif yang lebih tinggi. analisis. Setelah itu. Pertanyaan guru yang baik mendorong munculnya interaksi dan suasana menyenangkan pada diri peserta didik. orang yang malas tidak produktif” Guru : “siapa yang dapat melengkapi jawaban tersebut?” Peserta didik III: “orang malas tidak bertindak aktif. Pertanyaan guru yang baik membuka peluang peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berpikir yang makin meningkat. ada baiknya dia mengubah pertanyaan seperti pertanyaan kedua. sesuai dengan tuntunan tingkat kognitifnya.  Merangsang peningkatan tuntutan kemampuan kognitif. mulai dari yang lebih rendah hingga yang lebih tinggi. Misalnya: (1) Apa faktor picu utama Belanda menjajah Indonesia?. setelah mengajukan pertanyaan. dan evaluasi. Kata-kata kunci pertanyaan ini. Guru mengemas atau mengubah pertanyaan yang menuntut jawaban dengan tingkat kognitif rendah ke makin tinggi. karena itu dia tidak produktif. guru memberikan kesempatan kepada peserta didik mendiskusikan jawabannya. Jika dengan pertanyaan tertentu tidak ada peserta didik yang bisa menjawah dengan baik. penerapan. Guru harus memahami kualitas pertanyaan. Karena itu. (2) Apa motif utama Belanda menjajah Indonesia? Jika dengan pertanyaan pertama guru belum memperoleh jawaban yang memuaskan. mengapa.o o o o Guru: “siapa yang dapat melengkapi jawaban tersebut?” Peserta didik II: “karena lebih banyak diam ketimbang bekerja. bagaimana. peserta didik memerlukan waktu yang cukup untuk memikirkan jawabannya dan memverbalkannya dengan kata-kata.

. Persamaan kata.. Klasifikasikanlah. Sebutkan.... Tulislah contoh.......... Siapa.... Carilah hubungan. Tulislah… Bagaimana kita dapat memecahkan…  Apa yang terjadi seaindainya…  Bagaimana kita dapat memperbaiki…  Kembangkan… Matematika – SMA/MA/SMK | 150 .. Tunjukkanlah... Kemukakan bukti-bukti… Mengapa… Identifikasikan… Tunjukkanlah sebabnya… Berilah alasan-alasan…  Pemahaman (comprehension)  Penerapan (application Kognitif  Analisis (analysis) yang lebih tinggi  Sintesis (synthesis) Ramalkanlah… Bentuk… Ciptakanlah… Susunlah… Rancanglah.... Ubahlah... Bedakanlah. Demonstrasikanlah.Tingkatan Subtingkatan Kognitif  Pengetahuan yang (knowledge) lebih rendah Kata-kata kunci pertanyaan                                       Apa. Golongkan. Jodohkan atau pasangkan. Dll.... Bandingkan. Di mana.... Analisislah. Berikanlah interpretasi. Simpulkan......... Terangkahlah. Terjemahkanlah.. Kapan..... Buatlah. Siapkanlah....... Gunakanlah.. Berilah nama..

lebih khusus lagi proses belajar peserta didik terjadi secara perlahan atau inkremental/bertahap. Penalaran adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas faktakata empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Esensi Menalar Istilah “menalar” dalam kerangka proses pembelajaran dengan pendekatan ilmiah yang dianut dalam Kurikulum 2013 untuk menggambarkan bahwa guru dan peserta didik merupakan pelaku aktif. Karena itu.  Hukum efek (The Law of Effect). di mana intensitas hubungan antara stimulus (S) dan respon (R) selama proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh konsekuensi dari hubungan yang terjadi. Pengalaman-pengalaman yang sudah tersimpan di memori otak berelasi dan berinteraksi dengan pengalaman sebelumnya yang sudah tersedia. Evaluasi (evaluation)  Berilah pendapat…  Alternatif mana yang lebih baik…  Setujukah anda…  Kritiklah…  Berilah alasan…  Nilailah…  Bandingkan…  Bedakanlah… 3. efek dari reward (akibat yang menyenangkan) jauh lebih besar dalam memperkuat perilaku peserta didik dibandingkan efek punishment (akibat yang tidak menyenangkan) dalam memperlemah perilakunya. proses pembelajaran pembelajaran akan berhasil secara efektif jika terjadi interaksi langsung antara pendidik dengan peserta didik. meski istilah ini juga bermakna menalar atau penalaran. Menalar a. Istilah asosiasi dalam pembelajaran merujuk pada kemamuan mengelompokkan beragam ide dan mengasosiasikan beragam peristiwa untuk kemudian memasukannya menjadi penggalan memori. Dari persepektif psikologi. bukan secara tibatiba. meski penakaran nonilmiah tidak selalu tidak bermanfaat. Thorndike mengemukakan berapa hukum dalam proses pembelajaran. Jadi. Teori ini dikembangan kerdasarkan hasil eksperimen Thorndike. yang kemudian dikenal dengan teori asosiasi. Ini bermakna bahwa reward akan meningkatkan perilaku peserta didik. Penalaran dimaksud merupakan penalaran ilmiah. asosiasi merujuk pada koneksi antara entitas konseptual atau mental sebagai hasil dari kesamaan antara pikiran atau kedekatan dalam ruang dan waktu. istilah aktivitas menalar dalam konteks pembelajaran pada Kurikulum 2013 dengan pendekatan ilmiah banyak merujuk pada teori belajar asosiasi atau pembelajaran asosiatif. Menurut teori asosiasi. bukan merupakan terjemanan dari reasonsing. proses pembelajaran. Pola ineraksi itu dilakukan melalui stimulus dan respons (S-R). Titik tekannya tentu dalam banyak hal dan situasi peserta didik harus lebih aktif daripada guru. Selama mentransfer peristiwa-peristiwa khusus ke otak. tetapi punishment belum tentu akan mengurangi atau menghilangkan perilakunya. yang juga dikenal dengan teori Stimulus-Respon (S-R). Menurut Thorndike. Istilah menalar di sini merupakan padanan dari associating. Sebaliknya. Menurut Thorndike. Matematika – SMA/MA/SMK | 151 . Jika akibat dari hubungan S-R itu dirasa menyenangkan. Proses itu dikenal sebagai asosiasi atau menalar. maka perilaku peserta didik akan melemah. jika akibat hubungan S-R dirasa tidak menyenangkan. pengalaman tersimpan dalam referensi dengan peristiwa lain. prinsip dasar proses pembelajaran yang dianut oleh Thorndike adalah asosiasi. maka perilaku peserta didik akan mengalami penguatan.

 Latihan (exercise). Law of Use yaitu hubungan antara S-R akan semakin kuat jika sering digunakan atau berulang-ulang. Karenanya. Guru harus benar-benar siap mengajar dan peserta didik benar-benar siap menerima pelajaran dari gurunya. Hubungan yang intensif dan berulang-ulang antara S dengan R akan meningkatkan kualitas ranah sikap. Kaidah dasar yang digunakan dalam teori S-R adalah:  Kesiapan (readiness). Teori S – S ini memang terkesan robotik.  Oleh karena tidak semua perilaku belajar atau pembelajaran dapat dijelaskan dengan pelaziman sebagaimana dikembangkan oleh Ivan Pavlov. teori asosiasi biasanya menambahkan teori belajar sosial (social learning) yang dikembangkan oleh Bandura. yaitu hubungan antara S-R akan semakin melemah jika tidak dilatih atau dilakukan berulang-ulang. Prinsip-prinsip dasar dari Thorndike kemudian diperluas oleh B. Pengulangan ini memungkinkan hubungan antara S dengan R makin intensif dan ekstensif. anggota masyarakat. mengendapkan hasil memperhatikan model dalam pikiran pebelajar (retention).  Pertama. Pertama. pada prinsipnya apakah sesuatu itu akan menyenangkan atau tidak menyenangkan untuk dipelajari tergantung pada kesiapan belajar individunya. Menurut Bandura. yang setelah tahun 1930 dinyatakan dicabut oleh Thorndike. Kemampuan peserta didik dalam meniru respons menjadi pengungkit utama aktivitas belajarnya. Merujuk pada teori S-R. Matematika – SMA/MA/SMK | 152  . Kaidah atau prinsip “pengaruh” dalam pembelajaran berkaitan dengan kemamouan guru menciptakan suasana. keterampilan. hal ini bermakna bahwa jika peserta dalam keadaan siap dan belajar dilakukan. Latihan merupakan kegiatan pembelajaran yang dilakukan secara berulang oleh peserta didik. Skinner dalam Operant Conditioning atau pelaziman/pengkondisian operan. maka mereka akan merasa puas.Menurut Thorndike. Manfaat hasil belajar yang diperoleh oleh peserta didik dirasakan langsung oleh mereka dalam dalam dunia kehidupannya. teori ini terkesan mengenyampingkan peranan minat. Pelaziman operan adalah bentuk pembelajaran dimana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan diulangi. hukum ini terdiri dari duajenis. kreativitas. dan ganjaran.  Pengaruh (effect). dan lain-lain) dan pengalaman vicarious yaitu belajar dari keberhasilan dan kegagalan orang lain itu. teman. Karena dia menyadari bahwa latihan saja tidak dapat memperkuat atau membentuk perilaku. meliputi fase memberi perhatian terhadap model (attentional). belajar terjadi karena proses peniruan (imitation). perilaku dapat dibentuk dengan menggunakan penguatan (reinforcement). Memang. Awalnya. Kedua. Kesiapan diidentifikasi berkaitan langsung dengan motivasi peserta didik. maka mereka akan merasa tidak puas bahkan mengalami frustrasi. memberi penghargaan. Law of Disuse. dan pengetahuan peserta didik sebagai hasil belajarnya. jika pesert didik dalam keadaan tidak siap dan belajar terpaksa dilakukan.F. Ada empat konsep dasar teori belajar sosial (social learning theory) dari Bandura. pemodelan (modelling). Sejalan dengan itu.  Kedua. celaan. Hukum latihan (The Law of Exercise). Menurut Thorndike. Hukum kesiapan (The Law of Readiness). Dengan begitu. latihan berulang tetap dapat diberikan. segala sumber daya pembelajaran pun perlu disiapkan secara baik dan saksama. Kesiapan itu harus ada pada diri guru dan peserta didik. dimana peserta didik belajar dengan cara meniru perilaku orang lain (guru. hukuman. tetapi yang terpenting adalah individu menyadari konsekuensi perilakunya. Dalam proses pembelajaran. Sebaliknya. fase belajar. dan apirasi peserta didik. berarti makin tinggi pula kemampuannya dalam menghubungkan S dengan R. proses pembelajaran akan makin efektif jika peserta didik makin giat belajar.

 Ketiga. menalar secara induktif adalah proses penarikan simpulan dari kasus-kasus yang bersifat nyata secara individual atau spesifik menjadi simpulan yang bersifat umum.  Kegiatan pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati  Seriap kesalahan harus segera dikoreksi atau diperbaiki  Perlu dilakukan pengulangan dan latihan agar perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan atau pelaziman. dan motivasi (motivation) ketika peserta didik berkeinginan mengulang-ulang perilaku model yang mendatangkan konsekuensi-konsekuensi positif dari lingkungan.menampilkan ulang perilaku model oleh pebelajar (reproduction). berkembangbiak dengan cara melahirkan  Ikan Paus binatang berdaun telinga berkembangbiak dengan melahirkan  Simpulan: Semua binatang yang berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan Penalaran deduktif merupakan cara menalar dengan menarik simpulan dari pernyataanpernyataan atau fenomena yang bersifat umum menuju pada hal yang bersifat khusus. dimana peserta didik mengamati. Simpulan Matematika – SMA/MA/SMK | 153 .  Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku yang nyata atau otentik.  Guru tidak banyak menerapkan metode ceramah atau metode kuliah. Tugas utama guru adalah memberi instruksi singkat tapi jelas dengan disertai contoh-contoh. Teori asosiasi ini sangat efektif menjadi landasan menanamkan sikap ilmiah dan motivasi pada peserta didik berkenaan dengan nilai-nilai instrinsik dari pembelajaran partisipatif. Contoh:  Singa binatang berdaun telinga. Jadi. terdapat dua cara menalar. silogisme alternatif. yaitu langsung dan tidak langsung. silogisme hipotesis. dimana peserta didik belajar dengan melihat apakah orang lain diberi ganjaran atau hukuman selama terlibat dalam perilaku-perilaku tertentu. Bagaimana aplikasinya dalam proses pembelajaran? Aplikasi pengembangan aktivitas pembelajaran untuk meningkatkan daya menalar peserta didik dapat dilakukan dengan cara berikut ini. memberi ganjaran atau hukuman terhadap perilakunya sendiri.  Keempat. pengaturan-diri (self-regulation).  Guru menyusun bahan pembelajaran dalam bentuk yang sudah siap sesuai dengan tuntutan kurikulum. baik dilakukan sendiri maupun dengan cara simulasi. Cara kerja menalar secara deduktif adalah menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk kemudian dihubungkan ke dalam bagian-bagiannya yang khusus. Pada penalaran deduktif tedapat premis. Pola penalaran deduktif dikenal dengan pola silogisme. yaitu silogisme kategorial.  Guru mencatat semua kemajuan peserta didik untuk kemungkinan memberikan tindakan pembelajaran perbaikan. mempertimbangkan. Dengan cara ini peserta didik akan melakukan peniruan terhadap apa yang nyata diobservasinya dari kinerja guru dan temannya di kelas. dimulai dari yang sederhana (persyaratan rendah) sampai pada yang kompleks (persyaratan tinggi). Cara menalar Seperti telah dijelaskan di muka. Ada tiga jenis silogisme. yaitu penalaran induktif dan penalaran deduktif. b. berkembangbiak dengan cara melahirkan  Harimau binatang berdaun telinga. Penalaran induktif merupakan cara menalardengan menarik simpulan dari fenomena atau atribut-atribut khusus untuk hal-hal yang bersifat umum. sebagai proposisi menarik simpulan.  Bahan pembelajaran disusun secara berjenjang atau hierarkis.Kegiatan menalar secara induktif lebih banyak berpijak pada observasi inderawi atau pengalaman empirik. Penarikan simpulan dapat dilakukan melalui dua cara. belajar vicarious.

Contoh: Peserta didik Pulan merupakan pebelajar yang tekun. untuk mewujudkan hasil yang baik diperlukan sinergitas antara ranah sikap. Contoh :  Kamera adalah barang elektronik dan membutuhkan daya listrik untuk beroperasi  Telepon genggam adalah barang elektronik dan membutuhkan daya listrik untuk beroperas.secara langsung ditarik dari satu premis. Dengan demikian. fenomena. guru. Contoh: Kegiatan kepeserta didikan akan berjalan baik jika terjadi sinergitas kerja antara kepala sekolah. Hubungan Antarfenonena Seperti halnya penalaran dan analogi. yang disebut dengan penalaran induktif sebab-akibat.sedangkan simpulan tidak langsung ditarik dari dua premis. atau gejala menjadi dikenal atau dapat diterima apabila dihubungkan dengan hal-hal yang sudah dketahui secara nyata dan dipercayai. dan peserta didik. analogi terdiri dari dua jenis. Analogi induktifdisusun berdasarkan persamaan yang ada pada dua fenomena atau gejala. Dia lulus seleksi Olimpiade Sains Tingkat Nasional tahun ini. Seperti halnya kegiatan belajar. Hubungan sebab-akibat diambil dengan menghubungkan satu atau beberapa fakta yang satu dengan datu atau beberapa fakta yang lain. Penalaran induksi sebab akibat terdiri dri tiga jenis. Analogi adalah suatu proses penalaran dalam pembelajaran dengan cara membandingkan sifat esensial yang mempunyai kesamaan atau persamaan. yaitu analogi induktif dan analogi deduktif. karena hal itu akan mempertajam daya nalar peserta didik. Atas dasar persamaan dua gejala atau fenomena itu ditarik simpulan bahwa apa yang ada pada fenomena atau gejala pertama terjadi juga pada fenomena atau gejala kedua. kemampuan menghubungkan antarfenomena atau gejala sangat penting dalam proses pembelajaran. tahun ini juga. Analogi deklaratif merupakan suatu‘metode menalar’untuk menjelaskan atau menegaskan sesuatu fenomena atau gejala yang belum dikenal atau masih samar. staf tatalaksana. khususnya hubungan sebab-akibat. Analogi dalam Pembelajaran Selama proses pembelajaran.Peserta didik Pulan akan mengikuti kompetisi pada Olimpiade Sains Tingkat Internasional. pengurus organisasi peserta didik intra sekolah. Kedua analogi itu dijelaskan berikut ini.Analogi deklaratif ini sangat bermanfaat karena ide-ide baru. guru dan pesert didik sering kali menemukan fenomena yang bersifat analog atau memiliki persamaan. Seperti halnya penalaran. Matematika – SMA/MA/SMK | 154 . dan pengetahuan. Analogi induktif merupakan suatu ‘metode menalar’yang sangat bermanfaat untuk membuat suatu simpulan yang dapat diterima berdasarkan pada persamaan yang terbukti terdapat pada dua fenomena atau gejala khusus yang diperbandingkan. Dengan demikian. karena hal itu akan mempertajam daya nalar peserta didik. Di sinilah esensi bahwa guru dan peserta didik dituntut mampu memaknai hubungan antarfenonena atau gejala. Penalaran sebab-akibat ini masuk dalam ranah penalaran induktif.  Simpulan: semua barang elektronik membutuhkan daya listrik untuk beroperasi. Berpikir analogis sangat penting dalam pembelajaran. guru dan peserta didik adakalamua menalar secara analogis.Suatu simpulan yang menjadi sebab dari satu atau beberapa fakta itu atau dapat juga menjadi akibat dari satuatau beberapa fakta tersebut. keterampilan. Untuk itu dia harus belajar lebih tekun lagi. dengan sesuatu yang sudah dikenal.

peserta didik harus mencoba atau melakukan percobaan. Pada penalaran hubungan sbab-akibat 1 –akibat 2. hidupnya terisolasi. Akibat kedua menjadi penyebab sehingga menimbulkan akibat ketiga. (3)mempelajari dasar teoritis yang relevan dan hasil-hasil eksperimen sebelumnya. menganalisis. Aplikasi metode eksperimen atau mencoba dimaksudkan untuk mengembangkan berbagai ranah tujuan belajar.(6) menarik simpulan atas hasil percobaan. yaitu sikap. dan (8) Guru mengumpulkan hasil kerja murid dan mengevaluasinya. berdoa. (2) mempelajari cara-cara penggunaan alat dan bahan yang tersedia dan harus disediakan. 4. sehingga mengalami dekandensi moral secara massal. Dampak lanjutannya. (5) mencatat fenomena yang terjadi. Pada mata pelajaran IPA. kemudian ditarik simpulan yang berupa akibat. angka putus sekolah. Mencoba Untuk memperoleh hasil belajar yang nyata atau otentik. Contoh: Bekerja keras.  Matematika – SMA/MA/SMK | 155 . sehingga muncullah kemiskinan keluarga yang akut. Keterisolasian itu menyebabkan mereka kehilangan akses untuk melakukan aktivitas ekonomi. suatu penyebab dapat menimbulkan serangkaian akibat. penyalahgunaan Nakoba di kalangan generasi muda. serta mampu menggunakan metode ilmiah dan bersikap ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari. Aktivitas pembelajaran yang nyata untuk ini adalah: (1) menentukan tema atau topik sesuai dengan kompetensi dasar menurut tuntutan kurikulum. perkelahian antarpeserta didik. bila dianggap perlu didiskusikan secara klasikal. selanjutnya ditarik simpulan yang merupakan penyebabnya. Pada penalaran hubungan sebab-akibat. Agar pelaksanaan percobaan dapat berjalan lancar maka: (1) Guru hendaknya merumuskan tujuan eksperimen yanga akan dilaksanakan murid (2) Guru bersama murid mempersiapkan perlengkapan yang dipergunakan (3) Perlu memperhitungkan tempat dan waktu (4) Guru menyediakan kertas kerja untuk pengarahan kegiatan murid (5) Guru membicarakan masalah yanga akan yang akan dijadikan eksperimen (6) Membagi kertas kerja kepada murid (7) Murid melaksanakan eksperimen dengan bimbingan guru. terutama untuk materi atau substansi yang sesuai. yang disebabkan oleh pengabaian orang tua dan ketidaan keteladanan tokoh masyarakat. sehingga menimbulkan akibat kedua. keterampilan. Pada penalaran hubungan akibat-sebab. Contoh : Akhir-ahir ini sangat marak kenakalan remaja. dan (7)membuat laporan dan mengkomunikasikan hasil percobaan. bukan tidak mungkin terjadi kemiskinan yang terus berlangsung secara siklikal. hal-hal yang menjadi akibat dikemukakan terlebih dahulu. misalnya.  Hubungan akibat–sebab. dan menyajikan data.  Hubungan sebab–akibat 1 – akibat 2. Kemiskinan keluarga yang akut menyebabkan anak-anak mereka tidak berkesempatan menempuh pendidikan yang baik. dan pengetahuan. Contoh: Masyarakat yang tinggal di daerah terpencil. Akibat yang pertama menjadi penyebab. dan tidak putus asa adalah faktor pengungkit yang bisa membuat kita mencapai puncak kesuksesan. Peserta didik pun harus memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan tentang alam sekitar.peserta didik harus memahami konsep-konsep IPA dan kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. (4) melakukan dan mengamati percobaan. dan seterusnya. belajar tekun.Hubungan sebab–akibat. hal-hal yang menjadi sebab dikemukakan terlebih dahulu.

Selama proses eksperimen atau mencoba. Guru dan peserta didik memeriksa dan menyimpan kembali segala bahan dan alat yang digunakan 5. dan tindak lanjut. guru hendaknya memperhatikan situasi secara keseluruhan. Ketiga tahapan eksperimen atau mencoba dimaksud dijelaskan berikut ini. termasuk membantu mengatasi dan memecahkan masalahmasalah yang akan menghambat kegiatan pembelajaran. maka ia menyentuh tentang identitas peserta didik terutama jika mereka berhubungan atau berinteraksi dengan yang Matematika – SMA/MA/SMK | 156 . guru ikut membimbing dan mengamati proses percobaan.Kegiatan pembelajaran dengan pendekatan eksperimen atau mencoba dilakukan melalui tiga tahap. persiapan. a. sebaliknya. yaitu. Jejaring Pembelajaran atau Pembelajaran Kolaboratif Apa yang dimaksud dengan pembelajaran kolaboratif? Pembelajaran kolaboratif merupakan suatu filsafat personal. lebih dari sekadar sekadar teknik pembelajaran di kelas-kelas sekolah.  c.   b. Di sini guru perlu menimbang apakah peserta didik akan melaksanakan eksperimen atau mencoba secara serentak atau dibagi menjadi beberapa kelompok secara paralel atau bergiliran Memertimbangkanmasalah keamanan dan kesehatan agar dapat memperkecil atau menghindari risiko yang mungkin timbul Memberikan penjelasan mengenai apa yang harus diperhatikan dan tahapa-tahapan yang harus dilakukan peserta didik. Persiapan    Menentapkan tujuan eksperimen Mempersiapkan alat atau bahan Mempersiapkan tempat eksperimen sesuai dengan jumlah peserta didikserta alat atau bahan yang tersedia. Pada pembelajaran kolaboratif kewenangan guru fungsi guru lebih bersifat direktif atau manajer belajar. Kolaborasi esensinya merupakan filsafat interaksi dan gaya hidup manusia yang menempatkan dan memaknai kerjasama sebagai struktur interaksi yang dirancang secara baik dan disengaja rupa untuk memudahkan usaha kolektif dalam rangka mencapai tujuan bersama. pelaksanaan. Tindak lanjut      Peserta didik mengumpulkan laporan hasil eksperimen kepada guru Guru memeriksa hasil eksperimen peserta didik Guru memberikan umpan balik kepada peserta didik atas hasil eksperimen. Di sini guru harus memberikan dorongan dan bantuan terhadap kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh peserta didik agar kegiatan itu berhasil dengan baik. Pelaksanaan  Selama proses eksperimen atau mencoba. Guru dan peserta didik mendiskusikan masalah-masalah yang ditemukan selama eksperimen. peserta didiklah yang harus lebih aktif. termasuk hal-hal yang dilarang atau membahayakan. Jika pembelajaran kolaboratif diposisikan sebagai satu falsafah peribadi.

berbagi strategi dan informasi. Mereka pun akan termotivasi untuk melihat dan mendengar. menghormati antarsesa. Potensi tersebut dapat teraktualisasi dengan cara menerapkan ketuntasan belajar (mastery learning). Dengan pembelajaran kolaboratif. Sifat keempat menyatakan isi kelas atau pembelajaran kolaboratif. pengalaman dan pengetahuannya dihargai dan dapat dibagikan dalam jaringan pembelajaran mereka. Sifat ketiga berkaitan dengan pendekatan baru dari penyampaian guru selama proses pembelajaran. Seperti termuat dalam gambar. Pakar ini sangat terkenal dengan teori “Zone of Proximal Development” atau ZPD. Guru berperan membantu menghubungkan informasi baru dengan pengalaman yang ada serta membantu peserta didik jika mereka mengalami kebutuan dan bersedia menunjukkan cara bagaimana mereka memiliki kesungguhan untuk belajar. guru berperan sebagai mediator atau perantara. bahasa komunikasi. guru berbagi tugas dan kewenangan dengan peserta didik. mereka akan bekerja sebaik-baiknya ketika bekerjasama atau berkolaborasi dengan temannya. jika proses pembelajaran mampu menarik pebelajar dari zona tersebut dengan cara kolaborasi atau pembelajaran kolaboratif. Berbagi tugas dan kewenangan. Di sini. ZPD merupakan wilayah “can do with help”yang sifatnya tidak permanen. Contoh: Jika guru mengajarkan topik “hidup bersama secara damai. Hasil penelitian Vygotsky membuktikan bahwa ketika peserta didik diberi tugas untuk dirinya sediri. berbagi idea. setiap manusia (dalam konteks ini disebut peserta didik) mempunyai potensi tertentu. Vigotsky merupakan salah satu pengagas teori konstruktivisme sosial.lain atau guru. “can do with help“. Pada pembelajaran atau kelas kolaboratif. Guru dan peserta didik saling berbagi informasi. 1. Dengan cara semacam ini akan tumbuh rasa aman. serta menautkan kondisi sosiobudaya dengan situasi pembelajaran. Dua sifat berkenaan dengan perubahan hubungan antara guru dan peserta didik. pengalaman personal. Akan tetapi di antara potensi dan aktualisasi peserta didik itu terdapat terdapat wilayah abu-abu. Matematika – SMA/MA/SMK | 157 . terlibat dalam pemikiran kreatif dan kritis serta memupuk dan menggalakkan mereka mengambil peran secara terbuka dan bermakna. dan memberi garis-garis besar arus komunikasi antar peserta didik. peserta didik berinteraksi dengan empati. Cara ini memungkinan peserta didik menimba pengalaman mereka sendiri. Dalam situasi kolaboratif itu. Istilah ”Proximal” yang digunakan di sini bisa bermakna “next“. dan menerima kekurangan atau kelebihan masing-masing. Vygostsky mengemukakan tiga wilayah yang tergamit dalam ZPD yang disebut dengan “cannot yet do”. Menurut Vygotsky. mendoorong tumbuhnya ide-ide cerdas. saling menghormati.” Peserta didik yang mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan topik tersebut berpeluang menyatakan sesuatu pada sesi pembelajaran. Jika peserta didikmemahami dan melihat fenomena nyata kehidupan bersama yang damai itu.  Guru sebagai mediator. khususnya untuk hal-hal tertentu. peran guru lebih banyak sebagai pembimbing dan manajer belajar ketimbang memberi instruksi dan mengawasi secara rijid. Di sini peserta didik juga dapat merumuskan kaitan antara proses pembelajaran yang sedang dilakukan dengan dunia sebenarnya. sehingga memungkin peserta didik menghadapi aneka perubahan dan tntutan belajar secara bersama-sama. Pada pembelajaran atau kelas kolaboratif. peserta didik memiliki ruang gerak untuk menilai dan membina ilmu pengetahuan. Ada empat sifat kelas atau pembelajaran kolaboratif. Guru memiliki berkewajiban menjadikan wilayah “abu-abu”yang ada pada peserta didik itu dapat teraktualisasi dengan cara belajar kelompok. dan “can do alone“. strategi dan konsep pembelajaran sesuai dengan teori. 2.

Anggotaanggota dalam setiap kelompok bertindak saling membelajarkan. Beberapa di antaranya dijelaskan berikut ini. keterampilan. Pada kelas kolaboratif peserta didikdapat menunjukkan kemampuan dan keterampilan mereka. Fokusnya adalah keberhasilan seorang akan berpengaruh terhadap keberhasilan kelompok dan demikian pula keberhasilan kelompok akan berpengaruh terhadap keberhasilan individu peserta didik lainnya. Jika soal tahap pertama telah diselesaikan dengan benar. Penilaian didasari pada pencapaian hasil belajar individual maupun kelompok peserta didik. Metodeini merupakan kombinasi antara pembelajaran kooperatif/kolaboratif dengan pembelajaran individual. matematika. atau mengulangi informasi tentang objek. Untuk keperluan pembelajaran ini dia menggunakan media sortir kartu (card sort). Dengan cara seperti ini akan muncul “keseragaman” di dalam heterogenitas peserta didik.serta mendengar atau membahas sumbangan informasi dari peserta didik lainnya.  CI = Complex Instruction. Agar masing-masing peserta didik anggota dapat memahami keseluruhan pokok bahasan. Metode ini umumnya digunakan dalam pembelajaran yang bersifat bilingual (menggunakan dua bahasa) dan di antara para peserta didik yang sangat heterogen. Macam-macam Pembelajaran Kolaboratif Banyak merode yang dipakai dalam pembelajaran atau kelas kolaboratif.  JP = Jigsaw Proscedure. Penilaian didasari pada rata-rata skor tes kelompok. fakta. Peserta didik diminta untuk mencari temannya dan menemukan orang yang memiliki kartu dengan katagori yang sama. penggolongan sifat. Sikap. setiap peserta didik mengerjakan soal-soal Matematika – SMA/MA/SMK | 158 . Peserta didik dalam suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Setelah itu dilaksanakan penilaian bersama-sama dalam kelompok. Secara bertahap. buatlah catatan dengan kata kunci (point) dari pembelajaran tersebut yang dirasakan penting. tes diberikan dengan materi yang menyeluruh. dan ilmu pengetahuan sosial.  TAI = Team Accelerated Instruction. setiap peserta didik sebagai anggota kelompok diberi soal-soal yang harus mereka kerjakan sendiri terlebih dulu.  STAD = Student Team Achievement Divisions. Fokusnya adalah menumbuhkembangkan ketertarikan semua peserta didiksebagai anggota kelompok terhadap pokok bahasan. Titik tekan metode ini adalam pelaksanaan suatu proyek yang berorientasi pada penemuan. Kelompok peserta didik yang heterogen. Penilaian didasari pada proses dan hasil kerja kelompok. Kepada peserta didik diberikan kartu indeks yang memuat informasi atau contoh yang cocok dengan satu atau lebih katagori. Selama masing-masing katagori dipresentasikan oleh peserta didik. Guru ingin mengajarkan tentang konsep. Berikan kepada peserta didik yang kartu katagorinya sama menyajikan sendiri kepada rekanhya. dan pengetahuan peserta didk yang tumbuh dan berkembang sangat penting untuk memperkaya pembelajaran di kelas. berbagi informasi. khususnya dalam bidang sains.     3. Prosedurnya dapat dilakukan seperti berikut ini. Pembelajaran dilakukan dengan cara peserta didik sebagai anggota suatu kelompok diberi tugas yang berbeda-beda mengenai suatu pokok bahasan.

Metode pembelajaran ini menekankan pembelajaran membaca. Karena memang. pertimbangan. menulis dan tata bahasa. GI = Group Investigation.      a. para anggota suatu kelompok akan berlomba dengan anggota kelompok lain sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing. Penilaian didasari pada hasil belajar individual maupun kelompok. Penilaian didasarkan pada hasil kerja kelompok. Pada metode ini setiap anggota kelompok dituntut kemampuannya untuk berada dalam situasi konflik intelektual yang dikembangkan berdasarkan hasil belajar masingmasing. Penilaian didasarkan pada kemampuan setiap anggota maupun kelompok mempertahankan posisi yang dipilihnya. Tiap kelompok bekerjasama untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Satu kelompok hanya menerima dan mengerjakan satu set lembar tugas. AC = Academic-Constructive Controversy. Masa depan adalah milik peserta didik Matematika – SMA/MA/SMK | 159 . CIRC = Cooperative Integrated Reading and Composition. Pemanfaatan Internet Pemanfaatan internet sangat dianjurkan dalam pembelajaran atau kelas kolaboratif. Penilaian didasari pada proses dan hasil kerja kelompok. hubungan antarpribadi. kesehatan psikis dan keselarasan. Penggunaan internet disarakan makin mendesak sejalan denan perkembangan pengetahuan terjadi secara eksponensial. Penilaian didasari pada jumlah nilai yang diperoleh kelompok peserta didik. Dalam selang waktu yang juga telah ditetapkan sebelumnya. para peserta didik saling menilai kemampuan membaca. setelah belajar bersama kelompoknya sendiri. Dalam pembelajaran ini. Bila jawaban tutee benar. internet merupakan salah satu jejaring pembelajaran dengan akses dan ketersediaan informasi yang luas dan mudah. Seorang peserta didik bertindak sebagai tutor dan yang lain menjadi tutee. baik secara tertulis maupun lisan di dalam kelompoknya. ia harus menyelesaikan soal lain pada tahap yang sama. menulis dan tata bahasa. Tutor mengajukan pertanyaan yang harus dijawab oleh tutee. Kelompok menentukan apa saja yang akan dikerjakan dan siapa saja yang akan melaksanakannya berikut bagaimana perencanaan penyajiannya di depan forum kelas. CLS = Cooperative Learning Stuctures. baik bersama anggota sekelompok maupun dengan anggota kelompok lain. Namun jika seorang peserta didik belum dapat menyelesaikan soal tahap pertama dengan benar. Pada metode pembelajaran ini mirip dengan TAI. Saat ini internet telah menyediakan diri sebagai referensi yang murah dan mudah bagi peserta didik atau siapa saja yang hendak mengubah wajah dunia. ia memperoleh poin atau skor yang telah ditetapkan terlebih dulu. Pada penerapan metode pembelajaran ini setiap kelompok dibentuk dengan anggota dua peserta didik (berpasangan). Kegiatan pembelajaran ini mengutamakan pencapaian dan pengembangan kualitas pemecahan masalah. Setiap tahapan soal disusun berdasarkan tingkat kesukaran soal. berikutnya. LT = Learning Together Pada metode ini kelompok-kelompok sekelas beranggotakan peserta didik yang beragam kemampuannya. kedua peserta didik yang saling berpasangan itu berganti peran. Pada metode ini semua anggota kelompok dituntut untuk merencanakan suatu penelitian beserta perencanaan pemecahan masalah yang dihadapi. pemikiran kritis. Pada metode ini. TGT = Teams-Games-Tournament.

(1976). M. Tomera. M. 123-151. K. K. (1974). Padilla... R.yang memiliki akses hampir ke seluruh informasi tanpa batas dan mereka yang mampu memanfaatkan informasi diterima secepat mungkin. L. Teaching hypothesis formation. 195203. Science Education. Science Education. & Twiest. & George. An examination of the ability of third grade children from the Science Curriculum Improvement Study to identify experimental variables and to recognize change. Quinn. Science Education. A. L. & George. Daftar Pustaka Allen. IN. 58. Thiel. D. Paper presented at the annual meeting of the National Association for Research in Science Teaching. 59. 13. The development and validation of the test of basic process skills... 289-296. (1975). 57. French Lick. 155-166. M. 215-221. (1973). Science Education. D. Matematika – SMA/MA/SMK | 160 . 62. Cronin. Some factors affecting the use of the science process skill of prediction by elementary school children. Journal of Research in Science Teaching. Transfer and retention of transfer of the science processes of observation and comparison in junior high school students. (1985).

dan (4) adanya analisa. Untuk dapat disebut ilmiah. Pengantar Pendekatan scientific atau lebih umum dikatakan pendekatan ilmiah menjadi keniscayaan dalam kurikulum 2013. metode ilmiah umumnya memuat rangkaian kegiatan koleksi data atau fakta melalui observasi dan ekperimen. Karena itu. Sebenarnya apa yang kita bicarakan dengan metode ilmiah merujuk pada: (1) adanya fakta. dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik. Pengetahuan dapat merupakan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan tidak ilmiah. (3) sifat objektif. ramalan dsb) 3) Ingin tahu 4) Tidak mudah membuat prasangka 5) Selalu optimis Selanjutnya secara sederhana pendekatan ilmiah merupakan suatu cara atau mekanisme untuk mendapatkan pengetahuan dengan prosedur yang didasarkan pada suatu metode ilmiah. kemudian memformulasi dan menguji hipotesis.2 CONTOH PENERAPAN PENDEKATAN SCIENTIFIC DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA SMA A. Sebelum membicarakan mengenai pendekatan ilmiah. Dengan demikian diperlukan adanya penalaran dalam rangka pencarian (penemuan).1.HO – 2. Dengan metode ilmiah seperti ini diharapkan kita akan mempunya sifat 1) Kecintaan pada kebenaran yang objektif 2) Tidak gampang percaya pada hal-hal yang tidak rasional (takhayul. (2) sifat bebas prasangka. empiris. Ada juga yang mengartikan pendekatan ilmiah sebagai mekanisme untuk memperoleh pengetahuan yang didasarkan pada struktur logis. Pendekatan ilmiah ini memerlukan langkah-langkah pokok (umum): 1) Mengamati 2) Menanya 3) Menalar 4) Mencoba Matematika – SMA/MA/SMK | 161 . Pada umumnya sesorang selalu ingin memperoleh pengetahuan. Metode ilmiah pada dasarnya memandang fenomena khusus (unik) dengan kajian spesifik dan detail untuk kemudian merumuskan pada simpulan. metode pencarian (method of inquiry) harus berbasis pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi. perlu dipahami lagi mengenai metode ilmiah. Suatu pengetahuan ilmiah hanya dapat diperoleh dari metode ilmiah.

Mi alkan kita mengamati air mancur Matematika – SMA/MA/SMK | 162 . Pengamatan seperti ini cocok untuk anak sekolah dasar atau sekolah menengah pada kelas rendah dimana karakter penalarannya masih bertaraf induktif. Pengamatan nyata fenomena alam atau lingkungan. B.5) Membentuk jejaring Dalam kenyataanya karakter keilmuan dari setiap materi pelajaran tidak sama. Karena yang dikehendaki adalah jawaban mengenai fakta-fakta (matematika) maka pendekatan dengan langkah-langkah tersebut dikatakan sangat erat dengan metode ilmiah. Misalnya dalam pelajaran matematika. Ada juga refensi yang menyatakan bahwa metode ilmiah adalah wujud dari pendekatan ilmiah. maka langkah-langkahnya dalam pendekatan ilmiah sebagai berikut: 1) Mengamati fakta (matematika) 2) Menanya (perwujudan dari berfikir divergen) 3) Menalar (menentukan/menemukan solusi selanjutnya) 4) Mencoba 5) Menyimpulkan (mengaitkan dengan konsep lain) Langkah-langkah di atas boleh dikatakan sebagai pengejaran terhadap pengetahuan ilmiah yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis dalam matematika dan juga tidak kaku dalam urutan. Fenomena alam akan menghasilkan suatu fakta yang dituangkan dalam bahasa matematika. Oleh karena itu pendekatan ilmiah dalam pelajaran tertentu tidak sama persis dengan pelajaran tertentu lainnya. Contoh pendekatan ilmiah dalam matematika Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa karakter keilmuan dari setiap materi pelajaran tidak sama maka khusus untuk matematika langkah dalam pendekatan ilmiah dapat dicontohkan sebagai berikut: 1) Mengamati fakta Mengamati fakta matematika dapat dibagi dalam dua pengertian a. Secara mudah dapat dipahami eperti halnya “matematika kontek tual”.

Artinya. walaupun objeknya tidak nyata. Pengamatan ini akan sangat terbantu jika dalam penyampaian menggunakan TIK. Matematika – SMA/MA/SMK | 163 .Sebenarnya (nantinya) gerakan air mancur ini terkait dengan konsep fungsi kuadrat b. garis itu pasti garis yang tadi juga. postulat. siswa diminta menggambar ( ) dengan nilai fungsi dan tertentu. jika ada garis lain. tidak mungkin terjadi gambar seperti di bawah. teorema. Selanjutnya nilai kuadrat diubah dalam berbagai nilai sedangkan b dan c tetap. Contoh lain misalnya dalam geometri datar. Jadi jika digambarkan (diamati). Pengamatan objek matematika Pengamatan seperti ini sangat cocok untuk siswa yang mulai menerima kebenaran logis. siswa memahami kebenaran postulat setiap dua titik pasti hanya dapat dibuat tepat satu garis yang melaluinya. Maka (nantinya) akan terlihat bahwa mempengaruhi “runcingnya” titik puncak parabola yang terbentuk. sehingga mereka tidak mempermasalahkan suatu rangkaian kebenaran sebelumnya yang didapatkan dari penalaran yang benar. Pengamatan seperti ini lebih tepat dikatakan sebagai pengumpulan dan pemahaman kebenaran matematika. grafik dan lain sebagainya. Fakta yang didapatkan dapat berupa definisi. sifat. Misalnya. aksioma.

. bernilai positif kecil dan sebagainya. Contoh lain. guru hanya memberikan pertanyaan pancingan. bagi siswa sekolah dasar kebenaran empirik masih dominan dibanding Matematika – SMA/MA/SMK | 164 . Sebaliknya. Tidak terbangun suatu pemikiran yang divergen. dimana . Misalkan dalam grafik fungsi kuadrat ( ) untuk bernilai positif besar. . Dalam matematika permasalahan seperti ini dapat dijawab dengan mengaitkan teorema lain atau pendefinisian baru terutama bagi siswa yang sudah dapat menerima kebenaran logis. Ini terjadi karena siswa cenderung menghafal algoritma atau prosedur tertentu. sedangkan definisi Pertanyaan seperti di atas memerlukan adanya solusi (jawaban) melalui suatu penalaran. Untuk menggalinya dapat dilakukan dengan memanfaatkan solusi yang mereka hasilkan (pemikiran siswa). bagaimana untuk negatif.2) Menanya Kecenderungan yang ada sekarang adalah siswa gagal menyelesaikan suatu masalah matematika jika konteksnya diubah sedikit saja. untuk bagaimana menentukan nilai sinus untuk (fakta) awal in Karena banyak guru membuat jembatan keledai dengan menyingkat “SINDEMI KOSAMI TANDESA” yaitu . Pemikiran yang divergen ini dapat dibangkitkan dari suatu pertanyaan. Dalam hal ini guru tidak boleh memberi tahu. dengan menanyakan alternatif-alternatif yang mungkin dari solusi itu. sampai siswa sendiri yang menyelesaikan dan mencari alternatif yang lain.

3 kali Penalaran deduktif merupakan cara menalar dengan menarik simpulan dari pernyataanpernyataan atau fenomena yang bersifat umum menuju pada hal yang bersifat khusus. Demikian pula untuk sudut siku-siku ( ) dan sudut lurus ( ). Disini penalaran dapat bermakna penyerupaan (associating) dan juga dapat bermakna akibat (reasoning). Cara kerja menalar secara deduktif adalah menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk kemudian dihubungkan ke dalam bagian-bagiannya yang khusus. Penalaran induktif merupakan cara menalar dengan menarik simpulan dari fenomena khusus untuk hal-hal yang bersifat umum. yaitu penalaran induktif dan penalaran deduktif. 3) Penalaran Sejatinya penalaran secara umum adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-fakta empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Misalkan menemukan volum kerucut dengan takaran. modus tolen dan silogisme. Ada dua cara menalar. Kegiatan menalar secara induktif lebih banyak berpijak pada observasi inderawi atau pengalaman empirik. Sedangkan pada contoh sebelumnya yaitu menentukan nilai sinus sudut di kuadran II maka dengan kejadian seperti ini perlu adanya pengertian atau definisi baru sebagai perluasan (memikirkan perlunya hal baru). Penalaran yang paling dikenal dalam matematika terkait penarikan kesimpiulan adalah modus ponen. Perlu diingat juga bahwa penalaran diartikan juga sebagai penyerupaan atau analogi atau dalam bahasa sosial asosiasi Terkait dengan contoh diatas dapat digambarkan sebagai berikut Matematika – SMA/MA/SMK | 165 . Oleh karena itu pertanyaan yang diajukan tentu berbeda siswa pada sekolah menengah.kebenaran logis.

tetapi terkait dengan posisi kordinat. Matematika – SMA/MA/SMK | 166 . Dari sini diperlukan adanya langkah atau tahap berikutnya yaitu mencoba atau secara lebih luas membuktikan. Dengan definisi akan mewadahi atau memenuhi sistem dalam matematika itu sendiri.Dalam hal ini (nantinya) definisi sinus tidak sebatas pada perbandingan panjang sisi segitiga siku-siku seperti pada definisi awal.

Adapun tahapan yang lebih spesifik dalam matematika yaitu membuktikan berlakunya in in( ) untuk ( ) masih memerlukan pengerjaan lanjutan Matematika – SMA/MA/SMK | 167 . Dari pengertian awal in sedangkan dengan perluasan in Jadi disini terlihat bahwa in in √ √ . Demikian pula untuk sudut di kuadran II.4) Mencoba Pengertian mencoba disini dapat diartikan secara sempit seperti menunjukkan dan dapat diartikan secara luas yaitu membuktikan. hanya sekedar contoh tahapan/langkah dalam pendekatan ilmiah. Pada akhirnya langakah ini untuk menunjukkan bahwa jika besar sudut berada di kuadran II ( in in( ) maka dipenuhi ). Selanjutnya dicoba untuk besar sudut yang lain. Namun contoh seperti ini bukan merupakan pembuktian dalam matematika. Untuk sudut di kuadran I. nilai ordinat (komponen-y) positif dan panjang jari-jari positif. Sebagai cotoh nilai sinus sebagai perluasan ternyata merupakan perbandingan ordinat dengan panjang jari-jari. nilai ordinat (komponen-y) positif dan panjang jari-jari positif.

yaitu mengaitkan konsep dalam matematika itu sendiri (matematika vertikal) dan mengaitkan konsep yang diperoleh dengan dunia nyata (matematika horizontal). Persisnya berelasi melalui nilai sinus yang sama. Disamping itu hasil yang diperoleh oleh siswa digunakan untuk aplikasi dalam dunia nyata maupun dikaitkan dengan pengetahuan lain (fisika. geografi dll). co . Sebagai contoh siswa ingin mengetahui tinggi suatu pohon. Dengan diperolehnya hubungan in antara sudut dan sudut in( ) maka siswa memahami kaitan yaitu mempunyai nilai sinus yang sama.5) Menyimpulkan (mengaitkan dengan konsep dan aplikasi lain) Pengertian menyimpulkan disini mengandung dua pengertian. (i). Dengan menerapkan prinsip perbandingan pada tangen maka dapat ditentukan tinggi pohon secara tidak langsung Matematika – SMA/MA/SMK | 168 . Misalnya dalam pengerjaan dimunculkan hasil berikut: Selanjutnya diharapkan siswa dapat menyimpulkan bahwa sudut yang demikian adalah sudut yang berelasi. co ( ) in Contohnya hubungan in( (ii). Simpulan ini kemudian dikaitkan dengan pengertian matematka lain misalnya co tan in co tan ) dan sebagainya.

konseptual. Disamping itu pemahaman. C. Penutup Langkah-langkah dalam pendekatan ilmiah seperti dijelaskan di atas tentu saja harus dijiwai oleh perilaku (jujur. siswa mengaitkan fungsi trigonometri dengan gerak ayunan dalam fisika Ada juga literasi yang memaknai tahapan menyimpulkan sebagai tindakan membentuk jejaring (networking) secara fisik yaitu bekerjasama atau berkolaborasi antar siswa. prosedural.Contoh lain. peduli. cinta damai. kerjasama. santun. Matematika – SMA/MA/SMK | 169 . ramah lingkungan. disiplin. dan metakognitif terkait bidang kajian matematika dapat digunakan untuk memecahkan masalah. gotong royong. responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. tanggung jawab. penerapan dan analisis dari pengetahuan faktual.

view/articleNo/24488/title/The-ScientificApproach/: diakses 16 Februari 2013 [4] http://ariasusman.com/?articles. Teaching Mathematics Today. Jakarta [3] http://www. Huntington Beach. (2013).wordpress. Makalah pada Workshop Kurikulum.the-scientist. CA 92649-1030: Shell Education [2] Sudarwan. (2008).com/2009/07/06/pendekatan-ilmiah/ Februari 2013 : diakses 16 Matematika – SMA/MA/SMK | 170 . Pendekatan-pendekatan Ilmiah dalam Pembelajaran.. Prof.Referensi: [1] Shelly Frei.

Problem Based Learning. danDiscovery Learning).2: Model Pembelajaran Langkah Kegiatan Inti Mengamati tayangan pembelajaran Diskusi Kelompok (Focus Group Discussion) 30 Menit Kerja Kelompok 20 Menit 40 Menit Mengamatitayangan tiga jenis model pembelajaran (Project Based Learning. Menerapkan Focus Group Discussion untuk mengidentifikasi karakteristik tiga model pembelajaran. Kerjakelompok untuk mengidentifikasi penerapan Pendekatan Scientific pada tiga model pembelajaran.Materi Pelatihan2. Matematika – SMA/MA/SMK | 171 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 172 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 173 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 174 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 175 .

peserta didik membuat keputusan tentang sebuah kerangka kerja. PjBL merupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata. 2. KONSEP/DEFINISI Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning=PjBL) adalah metoda pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Dengan pembelajaran “berbasis produksi” peserta didik di SMK diperkenalkan dengan suasana dan makna kerja yang sesungguhnya di dunia kerja. hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik. dan melakukan eksperimen secara kolaboratif. SMK sebagai institusi yang berfungsi untuk menyiapkan lulusan untuk bekerja di dunia usaha dan industri harus dapat membekali peserta didiknya dengan “kompetensi terstandar” yang dibutuhkan untuk bekerja dibidang masing-masing. adanya permasalahan atau tantangan yang diajukan kepada peserta didik. interpretasi. secara langsung peserta didik dapat melihat berbagai elemen utama sekaligus berbagai prinsip dalam sebuah disiplin yang sedang dikajinya. Matematika – SMA/MA/SMK | 176 . Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan metode belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktifitas secara nyata. Pembelajaran Berbasis Proyek memiliki karakteristik sebagai berikut: 1. Peserta didik melakukan eksplorasi. Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata. Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dikatakan sebagai operasionalisasi konsep “Pendidikan Berbasis Produksi” yang dikembangkan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Pada saat pertanyaan terjawab. penilaian.HO-2. Dengan demikian model pembelajaran yang cocok untuk SMK adalah pembelajaran berbasis proyek. dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar. Melalui PjBL. hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik.2-1 MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK/ PROJECT BASED LEARNING A. Pembelajaran Berbasis Proyek dirancang untuk digunakan pada permasalahan komplek yang diperlukan peserta didik dalam melakukan insvestigasi dan memahaminya. maka Pembelajaran Berbasis Proyek memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk menggali konten (materi) dengan menggunakan berbagai cara yang bermakna bagi dirinya. Mengingat bahwa masing-masing peserta didik memiliki gaya belajar yang berbeda. proses inquiry dimulai dengan memunculkan pertanyaan penuntun ( a guiding question) dan membimbing peserta didik dalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek (materi) dalam kurikulum. sintesis.

Banyaknya peralatan yang harus disediakan. 8.dimana instruktur memegang peran utama di kelas. situasi pembelajaran sangat toleran terhadap kesalahan dan perubahan Peran instruktur atau guru dalam Pembelajaran Berbasis Proyek sebaiknya sebagai fasilitator. Keuntungan Pembelajaran Berbasis Proyek: a. 7. Beberapa hambatan dalam implementasi metode Pembelajaran Berbasis Proyek antara lain: 1. 4. mendorong kemampuan mereka untuk melakukan pekerjaan penting. b. peserta didik secara berkala melakukan refleksi atas aktivitas yang sudah dijalankan. 1. produk akhir aktivitas belajar akan dievaluasi secara kualitatif. FAKTA EMPIRIK KEBERHASILAN Kelebihan dan kekurangan pada penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dijelaskan sebagai berikut. Meningkatkan motivasi belajar peserta didik untuk belajar. 4. dan mereka perlu untuk dihargai. Banyak instruktur merasa nyaman dengan kelas tradisional . proses evaluasi dijalankan secara kontinyu. artinya belajar tidak harus dilakukan di dalam ruang kelas. discussion group (pembuatan konsep dan pembagian tugas kelompok). Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. 6. Pembelajaran Berbasis Proyek memerlukan banyak waktu yang harus disediakan untuk menyelesaikan permasalahan yang komplek. bahkan saat diskusi dapat dilakukan di taman. terutama bagi instruktur yang kurang atau tidak menguasai teknologi. Ini merupakan suatu transisi yang sulit. karena menambah biaya untuk memasuki system baru. 2. 5. lab tables (saat mengerjakan tugas mandiri). circle (presentasi). peserta didik mendesain proses untuk menentukan solusi atas permasalahan atau tantangan yang diajukan. Matematika – SMA/MA/SMK | 177 . Atau buatlah suasana belajar menyenangkan. B. 3. beberapa contoh perubahan lay-out ruang kelas. sehingga kebutuhan listrik bertambah. Untuk itu disarankan menggunakan team teaching dalam proses pembelajaran. penasehat dan perantara untuk mendapatkan hasil yang optimal sesuai dengan daya imajinasi. peserta didik secara kolaboratif bertanggungjawab untuk mengakses dan mengelola informasi untuk memecahkan permasalahan. Banyak orang tua peserta didik yang merasa dirugikan. seperti: traditional class (teori). dan akan lebih menarik lagi jika suasana ruang belajar tidak monoton.3. pelatih. kreasi dan inovasi dari siswa.

Banyaknya peralatan yang harus disediakan. Melibatkan para peserta didik untuk belajar mengambil informasi dan menunjukkan pengetahuan yang dimiliki. membatasi waktu peserta didik dalam menyelesaikan proyek. meminimalis dan menyediakan peralatan yang sederhana yang terdapat di lingkungan sekitar. dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas. 2. Peserta didik yang memiliki kelemahan dalam percobaan dan pengumpulan informasi akan mengalami kesulitan. di mana instruktur memegang peran utama di kelas. i. Menyediakan pengalaman belajar yang melibatkan peserta didik secara kompleks dan dirancang untuk berkembang sesuai dunia nyata. Membuat suasana belajar menjadi menyenangkan. b. Kelemahan Pembelajaran Berbasis Proyek: a. dikhawatirkan peserta didik tidak bisa memahami topik secara keseluruhan Untuk mengatasi kelemahan dari pembelajaran berbasis proyek di atas seorang pendidik harus dapat mengatasi dengan cara memfasilitasi peserta didik dalam menghadapi masalah. d. Meningkatkan kolaborasi. g. Menurut studi penelitian. Memberikan pengalaman kepada peserta didik pembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi proyek. Banyak instruktur yang merasa nyaman dengan kelas tradisional. g.c. Mendorong peserta didik untuk mengembangkan dan mempraktikkan keterampilan komunikasi. f. e. Pembelajaran Berbasis Proyek Matematika – SMA/MA/SMK | 178 . Membutuhkan biaya yang cukup banyak c. e. Ada kemungkinan peserta didik yang kurang aktif dalam kerja kelompok. Meningkatkan keterampilan peserta didik dalam mengelola sumber. kemudian diimplementasikan dengan dunia nyata. memilih lokasi penelitian yang mudah dijangkau sehingga tidak membutuhkan banyak waktu dan biaya. Memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikan masalah. Pembelajaran Berbasis Proyek ini juga menuntut siswa untuk mengembangkan keterampilan seperti kolaborasi dan refleksi. f. Membuat peserta didik menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan problemproblem yang kompleks. sehingga peserta didik maupun pendidik menikmati proses pembelajaran. h. Ketika topik yang diberikan kepada masing-masing kelompok berbeda. menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan sehingga instruktur dan peserta didik merasa nyaman dalam proses pembelajaran. d. j.

1 PENENTUAN PERTANYAAN MENDASAR 2 MENYUSUN PERECANAAN PROYEK 3 MENYUSUN JADUAL 6 EVALUASI PENGALAMAN 5 MENGUJI HASIL 4 MONITORING Diagram 1. bukan melupakannya secepat mereka telah lulus tes. Mengambil topik yang sesuai dengan realitas dunia nyata dan dimulai dengan sebuah investigasi mendalam. serta mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk Matematika – SMA/MA/SMK | 179 . 2. Pelajaran berbasis proyek juga meningkatkan antusiasme untuk belajar. Perencanaan berisi tentang aturan main. LANGKAH-LANGKAH OPERASIONAL Langkah langkah pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dijelaskan dengan diagram sebagai berikut. pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial. Dengan emikian peserta didik diharapkan akan merasa “memiliki” atas proyek tersebut. Ketika anak-anak bersemangat dan antusias tentang apa yang mereka pelajari.membantu siswa untuk meningkatkan keterampilan sosial mereka. mereka sering mendapatkan lebih banyak terlibat dalam subjek dan kemudian memperluas minat mereka untuk mata pelajaran lainnya. C. termasuk orang dewasa. Mendesain Perencanaan Proyek (Design a Plan for the Project) Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara pengajar dan peserta didik. Penentuan Pertanyaan Mendasar (Start With the Essential Question) Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial. Siswa juga menjadi lebih percaya diri berbicara dengan kelompok orang. sering menyebabkan absensi berkurang dan lebih sedikit masalah disiplin di kelas. Antusias peserta didik cenderung untuk mempertahankan apa yang mereka pelajari. 1. Langkah langkah Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek Penjelasan langkah-langkah Pembelajaran Berbasis Proyek sebagai berikut. yaitu pertanyaan yang dapat memberi penugasan peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas. dengan cara mengintegrasikan berbagai subjek yang mungkin. Pengajar berusaha agar topik yang diangkat relevan untuk para peserta didik.

sehingga pada akhirnya ditemukan suatu temuan baru (new inquiry) untuk menjawab permasalahan yang diajukan pada tahap pertama pembelajaran. (2) membuat deadline penyelesaian proyek. f.masing peserta didik. (3) membawa peserta didik agar merencanakan cara yang baru. Aktivitas pada tahap ini antara lain: (1) membuat timeline untuk menyelesaikan proyek. membantu pengajar dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya. 6. Merencanakan dan mendesain pembelajaran Membuat strategi pembelajaran Membayangkan interaksi yang akan terjadi antara guru dan siswa Mencari keunikan siswa Menilai siswa dengan cara transparan dan berbagai macam penilaian Membuat portofolio pekerjaan siswa Matematika – SMA/MA/SMK | 180 . 4. pengajar dan peserta didik melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Menyusun Jadwal (Create a Schedule) Pengajar dan peserta didik secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek. 5. berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing. Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek (Monitor the Students and the Progress of the Project) Pengajar bertanggungjawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas peserta didik selama menyelesaikan proyek. Dengan kata lain pengajar berperan menjadi mentor bagi aktivitas peserta didik. (4) membimbing peserta didik ketika mereka membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek. Monitoring dilakukan dengan cara menfasilitasi peserta didik pada setiap roses. c. b. Pada tahap ini peserta didik diminta untuk mengungkapkan perasaan dan pengalamanya selama menyelesaikan proyek. memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik. Menguji Hasil (Assess the Outcome) Penilaian dilakukan untuk membantu pengajar dalam mengukur ketercapaian standar. e. dan (5) meminta peserta didik untuk membuat penjelasan (alasan) tentang pemilihan suatu cara. 1. d. Peran guru dan peserta didik dalam pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek sebagai berikut. 3. Agar mempermudah proses monitoring. dibuat sebuah rubrik yang dapat merekam keseluruhan aktivitas yang penting.membantu penyelesaian proyek. Proses refleksi dilakukan baik secara individu maupun kelompok. Mengevaluasi Pengalaman (Evaluate the Experience) Pada akhir proses pembelajaran. Peran Guru a. Pengajar dan peserta didik mengembangkan diskusi dalam rangka memperbaiki kinerja selama proses pembelajaran.

e. f. pengorganisasian. Matematika – SMA/MA/SMK | 181 . SISTEM PENILAIAN Penilaian pembelajaran dengan metoda Pembelajaran Berbasis Proyek harus diakukan secara menyeluruh terhadap sikap. D. b. Penilaian Pembelajaran Berbasis Proyek dapat menggunakan teknik penilaian yang dikembangkan oleh Pusat Penilaian Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yaitu penilaian proyek atau penilaian produk. c. Penilaian Proyek a. observasi. pengumpulan data. pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa dalam melaksanakan pembelajaran berbasis proyek. 1. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan. kemampuan penyelidikan dan kemampuan menginformasikan peserta didik pada mata pelajaran tertentu secara jelas. d. Menggunakan kemampuan bertanya dan berpikir Melakukan riset sederhana Mempelajari ide dan konsep baru Belajar mengatur waktu dengan baik Melakukan kegiatan belajar sendiri/kelompok Mengaplikasikanhasil belajar lewat tindakan Melakukan interaksi sosial (wawancara. dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan dukungan terhadap proyek peserta didik. g. Pada penilaian proyek setidaknya ada 3 hal yang perlu dipertimbangkan yaitu: 1) Kemampuan pengelolaan Kemampuan peserta didik dalam memilih topik. survey. Penilaian tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. Penilaian proyek dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman. pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran. pengolahan dan penyajian data.2. kemampuan mengaplikasikan. mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan. Pengertian Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan. 3) Keaslian Proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya. 2) Relevansi Kesesuaian dengan mata pelajaran. dll). Peran Peserta Didik a.

proses pengerjaan sampai dengan akhir proyek. Contoh Teknik Penilaian Proyek Mata Pelajaran Nama Proyek Alokasi Waktu Guru Pembimbing Nama NIS Kelas No. Teknik Penilaian Proyek Penilaian proyek dilakukan mulai dari perencanaan. Pelaksanaan penilaian dapat menggunakan alat/ instrumen penilaian berupa daftar cek ataupun skala penilaian. Laporan tugas atau hasil penelitian juga dapat disajikan dalam bentuk poster. Untuk itu perlu memperhatikan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai. Performans b. Pelaksanaan penilaian dapat juga menggunakan rating scale dan checklist. Presentasi / Penguasaan TOTAL SKOR SKOR (1 . Keakuratan Sumber Data / Informasi c. guru perlu menetapkan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai. Penarikan Kesimpulan LAPORAN PROYEK : a.b. proses pengerjaan. Persiapan b. analisis data. Kuantitas Sumber Data d. pengumpulan data.5) 2 3 Penilaian Proyek dilakukan mulai dari perencanaan . Rumusan Judul PELAKSANAAN : a. Analisis Data e. Sistematika Penulisan b. sampai hasil akhir proyek. seperti penyusunan disain. Matematika – SMA/MA/SMK | 182 . dan penyiapkan laporan tertulis. Untuk itu. 1 : : : : : : : ASPEK PERENCANAAN : a.

dan logam. dan teknik. Cara analitik. 3) Tahap penilaian produk (appraisal). Teknik Penilaian Produk Penilaian produk biasanya menggunakan cara holistik atau analitik. biasanya dilakukan pada tahap appraisal. pakaian. menggali. yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk. keramik. Pengembangan produk meliputi 3 (tiga) tahap dan setiap tahap perlu diadakan penilaian yaitu: 1) Tahap persiapan. barang-barang terbuat dari kayu. dan mendesain produk. lukisan. b. biasanya dilakukan terhadap semua kriteria yang terdapat pada semua tahap proses pengembangan. gambar). 2) Tahap pembuatan produk (proses). dan mengembangkan gagasan. alat. hasil karya seni (patung.2. plastik. yaitu berdasarkan aspek-aspek produk. meliputi: penilaian produk yang dihasilkan peserta didik sesuai kriteria yang ditetapkan. Penilaian produk meliputi penilaian kemampuan peserta didik membuat produk-produk teknologi dan seni. Penilaian Produk a. Matematika – SMA/MA/SMK | 183 . 1) 2) Cara holistik. meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dan merencanakan. seperti: makanan. Pengertian Penilaian produk adalah penilaian terhadap proses pembuatan dan kualitas suatu produk. meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dalam menyeleksi dan menggunakan bahan.

bie. Introduction to Project Based Learning.org/images/uploads/general/20fa7d42c216e2ec171a212e97fd4a9e. Daftar Pustaka Alexander. keamanan dan kebersihan) Tahap Akhir (Hasil Produk) a. 1 2 Tahapan Tahap Perencanaan Bahan Tahap Proses Pembuatan : a. K3 (Keselamatan kerja. E. National Institute on Out-of-School Time.ac.. The learning that lies between play and academics in afterschool programs. Diakses di http://www.id/files/disk1/151/hubptain-gdl-ellyikasus-7509-3-babii.edutopia. Persiapan alat dan bahan b. Inovasi TOTAL SKOR Skor ( 1 – 5 )* 3 Catatan : *) Skor diberikan dengan rentang skor 1 sampai dengan 5. dengan ketentuan semakin lengkap jawaban dan ketepatan dalam proses pembuatan maka semakin tinggi nilainya. Teaching for meaningful learning: A review of research on inquiry-based and cooperative learning.pdf. Admin.pdf (18 Oktober 2011). & Darling-Hammond. D. Buck Institute for Education.niost. Matematika – SMA/MA/SMK | 184 . Retrieved from http://www.Contoh Penilaian Produk Mata Ajar : Nama Proyek : Alokasi Waktu : Nama Peserta didik : Kelas/SMT : No. Bentuk fisik b.org/ Publications/papers.Metode Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) [online]. org/pdfs/edutopia-teaching-for-meaningful-learning. (2008).sunan-ampel. L. Teknik Pengolahan c. (2000). B. Retrieved from http://www. Barron. [Online]. Diakses di http://digilib.pdf (17 Oktober 2011).

Project-based learning handbook (2nd ed.nmsa. Diakses tanggal 13 Juli 2010. T. http://www. dihttp://edutechwiki.unige. Schneider. 12–43.com/education/k-12/articles/90553. [Online]. April). Paper presented at Annual Meeting of the American Educational Research Association. The Success of Project Based Learning. (2006). Savery. Retrieved from http://www. Understanding projects in projectbased learning: A student’s perspective. Research summary: Project-based learning in middle grades mathematics. San Diego. 1(1). CA. 3(1). Suzanne. (2009. M.(2005).org/Research/ResearchSummaries. Novato.).org/modules/PBL/whatpbl.Daniel K. Journal of Problem-Based Learning.ch/en/Project-based_learning (18 Oktober 2011).brighthub. 9–20. ResearchSummaries/ProjectBasedLearninginMath/tabid/1570/Default.aspx. 2010. (2003). Diakses Florin. Markham. R.aspx (18 Oktober 2011) Grant. Matematika – SMA/MA/SMK | 185 .php. [Online]. George . 2005.edutopia. J. Project-based learning. Instructional Module Project Based Learning. CA: Buck Institute for Education. Lucas. Overview of problem-based learning: Definitions and distinctions. The Interdisciplinary Journal of Problem-Based Learning. Diakses di http://www.

Matematika – SMA/MA/SMK | 186 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 187 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 188 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 189 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 190 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 191 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 192 .

Ada lima strategi dalam menggunakan model pembelajaran berbasis masalah (PBL) yaitu: 1) Permasalahan sebagai kajian. 2) Permasalahan sebagai penjajakan pemahaman Matematika – SMA/MA/SMK | 193 . Dalam kurikulumnya. yang membuat mereka mahir dalam memecahkan masalah. Masalah yang diberikan ini digunakan untuk mengikat peserta didik pada rasa ingin tahu pada pembelajaran yang dimaksud. Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran berbasis masalah. Konsep/Definisi Definisi: 1) Pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk belajar.2-2 MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PROBLEM BASED LEARNING) Problem Based Learning (PBL) adalah kurikulum dan proses pembelajaran. Masalah diberikan kepada peserta didik. Model pembelajaran berbasis masalah dilakukan dengan adanya pemberian rangsangan berupa masalah-masalah yang kemudian dilakukan pemecahan masalah oleh peserta didik yang diharapkan dapat menambah keterampilan peserta didik dalam pencapaian materi pembelajaran.HO-2. Proses pembelajarannya menggunakan pendekatan yang sistemik untuk memecahkan masalah atau menghadapi tantangan yang nanti diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.. A. dan memiliki model belajar sendiri serta memiliki kecakapan berpartisipasi dalam tim. dirancang masalah-masalah yang menuntut peserta didik mendapat pengetahuan penting. peserta didik bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah dunia nyata (real world) 2) Pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu metode pembelajaran yang menantang peserta didik untuk “belajar bagaimana belajar”. bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. sebelum peserta didik mempelajari konsep atau materi yang berkenaan dengan masalah yang harus dipecahkan.

3) Permasalahan sebagai contoh 4) Permasalahan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari proses 5) Permasalahan sebagai stimulus aktivitas otentik Peran guru, peserta didik dan masalah dalam pembelajaran berbasis masalah dapat digambarkan sebagai berikut: Guru sebagai pelatih o Asking about thinking (bertanya tentang pemikiran) o memonitor pembelajaran o probbing ( menantang peserta didik untuk berfikir ) o menjaga agar peserta didik terlibat o mengatur dinamika kelompok o menjaga berlangsungnya proses Peserta didik sebagai problem solver o peserta yang aktif o terlibat langsung dalam pembelajaran o membangun pembelajaran Masalah sebagai awal tantangan dan motivasi o menarik untuk dipecahkan o menyediakan kebutuhan yang ada hubungannya dengan pelajaran yang dipelajari

Tujuan dan hasil dari model pembelajaran berbasis masalah ini adalah: 1) Keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan masalah Pembelajaran berbasis masalah ini ditujukan untuk mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi. 2) Pemodelan peranan orang dewasa. Bentuk pembelajaran berbasis masalah penting menjembatani gap antara pembelajaran sekolah formal dengan aktivitas mental yang lebih praktis yang dijumpai di luar sekolah. Aktivitas-aktivitas mental di luar sekolah yang dapat dikembangkan adalah : PBL mendorong kerjasama dalam menyelesaikan tugas. PBL memiliki elemen-elemen magang. Hal ini mendorong pengamatan dan dialog dengan yang lain sehingga peserta didik secara bertahap dapat memi peran yang diamati tersebut.  PBL melibatkan peserta didik dalam penyelidikan pilihan sendiri, yang memungkinkan mereka menginterpretasikan dan menjelaskan fenomena dunia nyata dan membangun femannya tentang fenomena itu. 3) Belajar Pengarahan Sendiri (self directed learning) Pembelajaran berbasis masalah berpusat pada peserta didik. Peserta didik harus dapat menentukan sendiri apa yang harus dipelajari, dan dari mana informasi harus diperoleh, di bawah bimbingan guru. Pendekatan PBL mengacu pada hal-hal sebagai berikut : a. Kurikulum : PBL tidak seperti pada kurikulum tradisional, karena memerlukan suatu strategi sasaran di mana proyek sebagai pusat.  

Matematika – SMA/MA/SMK | 194

b. Responsibility : PBL menekankan responsibility dan answerability para peserta didik ke diri dan panutannya. c. Realisme : kegiatan peserta didik difokuskan pada pekerjaan yang serupa dengan situasi yang sebenarnya. Aktifitas ini mengintegrasikan tugas otentik dan menghasilkan sikap profesional. d. Active-learning : menumbuhkan isu yang berujung pada pertanyaan dan keinginan peserta didik untuk menemukan jawaban yang relevan, sehingga dengan demikian telah terjadi proses pembelajaran yang mandiri. e. Umpan Balik : diskusi, presentasi, dan evaluasi terhadap para peserta didik menghasilkan umpan balik yang berharga. Ini mendorong kearah pembelajaran berdasarkan pengalaman. f. Keterampilan Umum : PBL dikembangkan tidak hanya pada ketrampilan pokok dan pengetahuan saja, tetapi juga mempunyai pengaruh besar pada keterampilan yang mendasar seperti pemecahan masalah, kerja kelompok, dan self-management.

g. Driving Questions : PBL difokuskan pada pertanyaan atau permasalahan yang memicu peserta didik untuk berbuat menyelesaikan permasalahan dengan konsep, prinsip dan ilmu pengetahuan yang sesuai. h. Constructive Investigations : sebagai titik pusat, proyek harus disesuaikan dengan pengetahuan para peserta didik. i. Autonomy : proyek menjadikan aktifitas peserta didik sangat penting.

B. Fakta Empirik Keberhasilan Pendekatan dalam Proses dan Hasil Pembelajaran Kelebihan menggunakan PBL, antara lain; (1) Dengan PBL akan terjadi pembelajaran bermakna. Peserta didik/mahapeserta didik yang belajar memecahkan suatu masalah maka mereka akan menerapkan pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukan. Belajar dapat semakin bermakna dan dapat diperluas ketika peserta didik/mahapeserta didik berhadapan dengan situasi di mana konsep diterapkan; (2) Dalam situasi PBL, peserta didik/mahapeserta didik mengintegrasikan pengetahuan dan ketrampilan secara simultan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan; dan (3) PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif peserta didik/mahapeserta didik dalam bekerja, motivasi internal untuk belajar, dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok. Metoda ini memiliki kecocokan terhadap konsep inovasi pendidikan bidang keteknikan, terutama dalam hal sebagai berikut : 1. peserta didik memperoleh pengetahuan dasar (basic sciences) yang berguna untuk memecahkan masalah bidang keteknikan yang dijumpainya,
Matematika – SMA/MA/SMK | 195

2. peserta didik belajar secara aktif dan mandiri dengan sajian materi terintegrasi dan relevan dengan kenyataan sebenarnya, yang sering disebut student-centered, 3. peserta didik mampu berpikir kritis, dan mengembangkan inisiatif. Berikut adalah beberapa hasil penelitian berkaitan dengan model PBL. 1. Wagiran, dkk, 2010, Pengembangan Pembelajaran Model Problem Based Learning Dengan Media Pembelajaran Berbantuan Komputer dalam Matadiklat Measuring Bagi Peserta didik SMK (Hibah Bersaing Perguruan Tinggi), 2010: Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta. Penelitian dirancang dalam tiga tahap dalam kurun waktu 3 tahun. Pada tahun pertama penelitian bertujuan untuk merancang, membuat dan mengembangkan media pembelajaran berbantuan komputer berikut perangkatnya dalam mendukung model pembelajaran PBL-PBK. Pada tahun kedua, penelitian ini bertujuan untuk menerapkan dan menguji model pembelajaran PBL-PBK dalam lingkup luas sekaligus melihat efektivitasnya. Pada tahun ketiga, penelitian ini memfokuskan pada tahap sosialisasi model pembelajaran PBL-PBK dalam lingkup yang lebih luas. Penelitian dirancang menggunakan pendekatan Research and Development Sumber data dalam penelitian ini meliputi kalangan industri permesinan, perumus kebijakan, kepala sekolah, guru, peserta didik, dan ahli pendidikan. Penerapan model direncanakan di 5 SMK dengan metode eksperimen. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara kuantitatif yaitu deskriptif, dan komparatif. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini adalah diperolehnya kompetensi Measuring dan diperolehnya media pembelajaran berbantuan komputer dalam mendukung pembelajaran PBL-PBK yang teruji. Hasil evaluasi ahli tentang kualitas media dilihat dari sisi materi menunjukkan skor 3,38 (dalam kategori baik), dari kualitas tampilan menunjukkan skor 3,04 (dalam kategori baik), sedangkan dari sisi pengorganisasian materi penunjukan skornya adalah: konsistensi sebesar 2,92 (cukup baik), format sebesar 3,13 (baik), pengorganisasian sebesar 3,25 (baik), bentuk dan ukuran huruf sebesar 2,63 (cukup baik). Hasil uji kelayakan(ujicoba) kepada peserta didik menunjukkan bahwa kualitas media dilihat dari sisi materi menunjukkan skor 3,28 (dalam kategori baik), dari kualitas tampilan dan daya tarik menunjukkan skor 3,30 (dalam kategori baik), sedangkan dari sisi pengorganisasian materi penunjukan skornya adalah: sebesar 3,22 (baik) Dengan demikian media berbantuan komputer dalam matadiklat measuring layak untuk diterapkan. Media berbantuan komputer yang disusun telah memnuhi aspek kelayakan baik dari segi teoritis maupun dari segi empiris. Tedapat tiga pola implementasi pembelajaran menggunakan media berbantuan komputer yaitu: (a) sebagai media tayamg, (b) sebagai media pendukung praktek, dan (c) sebagai media pembelajaran individual dan interaktif. 2. Dian Mala Sari, Pebriyenni ., Yulfia Nora, 2013, Peningkatan Partisipasi dan Hasil Belajar Peserta didik Kelas IVB dalam Pembelajaran IPS Melalui Model Problem Based Learning di SDN 20 Kurao Pagang, Faculty of Education, Bung Hatta University
Matematika – SMA/MA/SMK | 196

Penelitian ini dilatarbelakangi kurangnya partisipasi peserta didik kelas IVB pada pembelajaran IPS. Yang berdampak terhadap rendahnya hasil belajar peserta didik. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan peningkatan partisipasi dan hasil belajar peserta didik kelas IVB dalam pembelajaran IPS melalui model PBL di SDN 20 Kurao Pagang. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan secara partisipan. Subjek penelitian ini peserta didik kelas IVB SDN 20 Kurao Pagang. Instrumen penelitian yang digunakan lembar observasi partisipasi peserta didik, lembar observasi aktivitas guru, tes hasil belajar dan catatan lapangan. Hasil penelitian diketahui bahwa partisipasi dalam menjawab pertanyaan meningkat dari 52,5 % di siklus I menjadi 70%, di siklus II. Partisipasi peserta didik menanggapi jawaban meningkat dari 40% di siklus I menjadi 65% di siklus II, dan partisipasi peserta didik dalam presentasi meningkat dari 27,5% di siklus I menjadi 67,5% di siklus II. Hasil belajar peserta didik siklus I meningkat dari 57,25% menjadi 72,75% di siklus II. Sedangkan persentase ketuntasan belajar yang ditentukan 70%. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa partisipasi dan hasil belajar peserta didik kelas IVB dapat ditingkatkan melalui model PBL dalam pembelajaran IPS di SDN 20 Kurao Pagang. C. Langkah-langkah Operasional Imlementasi dalam Proses Pembelajaran Pembelajaran suatu materi pelajaran dengan menggunakan PBL sebagai basis model dilaksanakan dengan cara mengikuti lima langkah PBL dengan bobot atau kedalaman setiap langkahnya disesuaikan dengan mata pelajaran yang bersangkutan. 1. Konsep Dasar (Basic Concept) Jika dipandang perlu, fasilitator dapat memberikan konsep dasar, petunjuk, referensi, atau link dan skill yang diperlukan dalam pembelajaran tersebut. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik lebih cepat masuk dalam atmosfer pembelajaran dan mendapatkan ‘peta’ yang akurat tentang arah dan tujuan pembelajaran. Lebih jauh, hal ini diperlukan untuk memastikan peserta didik memperoleh kunci utama materi pembelajaran, sehingga tidak ada kemungkinan terlewatkan oleh peserta didik seperti yang dapat terjadi jika peserta didik mempelajari secara mandiri. Konsep yang diberikan tidak perlu detail, diutamakan dalam bentuk garis besar saja, sehingga peserta didik dapat mengembangkannya secara mandiri secara mendalam. 2. Pendefinisian Masalah (Defining the Problem) Dalam langkah ini fasilitator menyampaikan skenario atau permasalahan dan dalam kelompoknya, peserta didik melakukan berbagai kegiatan. Pertama, brainstorming yang dilaksanakan dengan cara semua anggota kelompok mengungkapkan pendapat, ide, dan tanggapan terhadap skenario secara bebas, sehingga dimungkinkan muncul berbagai macam alternatif pendapat. Setiap anggota kelompok memiliki hak yang sama dalam memberikan dan menyampaikan ide dalam diskusi serta mendokumentasikan secara tertulis pendapat masing-masing dalam kertas kerja. Selain itu, setiap kelompok harus mencari istilah yang kurang dikenal dalam skenario tersebut dan berusaha mendiskusikan maksud dan artinya. Jika ada peserta didik yang
Matematika – SMA/MA/SMK | 197

mengetahui artinya, segera menjelaskan kepada teman yang lain. Jika ada bagian yang belum dapat dipecahkan dalam kelompok tersebut, ditulis dalam permasalahan kelompok. Selanjutnya, jika ada bagian yang belum dapat dipecahkan dalam kelompok tersebut, ditulis sebagai isu dalam permasalahan kelompok. Kedua, melakukan seleksi alternatif untuk memilih pendapat yang lebih fokus. Ketiga, menentukan permasalahan dan melakukan pembagian tugas dalam kelompok untuk mencari referensi penyelesaian dari isu permasalahan yang didapat. Fasilitator memvalidasi pilihan-pilihan yang diambil peserta didik. Jika tujuan yang diinginkan oleh fasilitator belum disinggung oleh peserta didik, fasilitator mengusulkannya dengan memberikan alasannya. Pada akhir langkah peserta didik diharapkan memiliki gambaran yang jelas tentang apa saja yang mereka ketahui, apa saja yang mereka tidak ketahui, dan pengetahuan apa saja yang diperlukan untuk menjembataninya. Untuk memastikan setiap peserta didik mengikuti langkah ini, maka pendefinisian masalah dilakukan dengan mengikuti petunjuk. 3. Pembelajaran Mandiri (Self Learning) Setelah mengetahui tugasnya, masing-masing peserta didik mencari berbagai sumber yang dapat memperjelas isu yang sedang diinvestigasi. Sumber yang dimaksud dapat dalam bentuk artikel tertulis yang tersimpan di perpustakaan, halaman web, atau bahkan pakar dalam bidang yang relevan. Tahap investigasi memiliki dua tujuan utama, yaitu: (1) agar peserta didik mencari informasi dan mengembangkan pemahaman yang relevan dengan permasalahan yang telah didiskusikan di kelas, dan (2) informasi dikumpulkan dengan satu tujuan yaitu dipresentasikan di kelas dan informasi tersebut haruslah relevan dan dapat dipahami. Di luar pertemuan dengan fasilitator, peserta didik bebas untuk mengadakan pertemuan dan melakukan berbagai kegiatan. Dalam pertemuan tersebut peserta didik akan saling bertukar informasi yang telah dikumpulkannya dan pengetahuan yang telah mereka bangun. Peserta didik juga harus mengorganisasi informasi yang didiskusikan, sehingga anggota kelompok lain dapat memahami relevansi terhadap permasalahan yang dihadapi. 4. Pertukaran Pengetahuan (Exchange knowledge) Setelah mendapatkan sumber untuk keperluan pendalaman materi dalam langkah pembelajaran mandiri, selanjutnya pada pertemuan berikutnya peserta didik berdiskusi dalam kelompoknya untuk mengklarifikasi capaiannya dan merumuskan solusi dari permasalahan kelompok. Pertukaran pengetahuan ini dapat dilakukan dengan cara peserrta didik berkumpul sesuai kelompok dan fasilitatornya. Tiap kelompok menentukan ketua diskusi dan tiap peserta didik menyampaikan hasil pembelajaran mandiri dengan cara mengintegrasikan hasil pembelajaran mandiri untuk mendapatkan kesimpulan kelompok. Langkah selanjutnya presentasi hasil dalam pleno (kelas besar) dengan mengakomodasi masukan dari pleno, menentukan kesimpulan akhir, dan dokumentasi akhir. Untuk memastikan setiap peserta didik mengikuti langkah ini maka dilakukan dengan mengikuti petunjuk.
Matematika – SMA/MA/SMK | 198

5. Penilaian (Assessment) Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan (knowledge), kecakapan (skill), dan sikap (attitude). Penilaian terhadap penguasaan pengetahuan yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan ujian akhir semester (UAS), ujian tengah semester (UTS), kuis, PR, dokumen, dan laporan. Penilaian terhadap kecakapan dapat diukur dari penguasaan alat bantu pembelajaran, baik software, hardware, maupun kemampuan perancangan dan pengujian. Sedangkan penilaian terhadap sikap dititikberatkan pada penguasaan soft skill, yaitu keaktifan dan partisipasi dalam diskusi, kemampuan bekerjasama dalam tim, dan kehadiran dalam pembelajaran. Bobot penilaian untuk ketiga aspek tersebut ditentukan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan. D. Contoh Penerapan Sebelum memulai proses belajar-mengajar di dalam kelas, peserta didik terlebih dahulu diminta untuk mengobservasi suatu fenomena terlebih dahulu. Kemudian peserta didik diminta mencatat masalah-masalah yang muncul. Setelah itu tugas guru adalah meransang peserta didik untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah yang ada. Tugas guru adalah mengarahkan peserta didik untuk bertanya, membuktikan asumsi, dan mendengarkan pendapat yang berbeda dari mereka. Memanfaatkan lingkungan peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar. Guru memberikan penugasan yang dapat dilakukan di berbagai konteks lingkungan peserta didik, antara lain di sekolah, keluarga dan masyarakat. Penugasan yang diberikan oleh guru memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk belajar diluar kelas. Peserta didik diharapkan dapat memperoleh pengalaman langsung tentang apa yang sedang dipelajari. Pengalaman belajar merupakan aktivitas belajar yang harus dilakukan peserta didik dalam rangka mencapai penguasaan standar kompetensi, kemampuan dasar dan materi pembelajaran. Tahapan-Tahapan Model PBL FASE-FASE Fase 1 Orientasi peserta didik kepada masalah Fase 2 Mengorganisasikan peserta didik Fase 3 Membimbing penyelidikan individu dan kelompok Fase 4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya PERILAKU GURU  Menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yg dibutuhkan  Memotivasi peserta didik untuk terlibat aktif dalam pemecahan masalah yang dipilih Membantu peserta didik mendefinisikan danmengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut Mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah Membantu peserta didik dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, model dan berbagi tugas dengan teman
Matematika – SMA/MA/SMK | 199

komunikasi yang efektif.FASE-FASE Fase 5 Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah PERILAKU GURU Mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari /meminta kelompok presentasi hasil kerja Fase 1: Mengorientasikan peserta didik pada masalah Pembelajaran dimulai dengan menjelaskan tujuan pembelajaran dan aktivitasaktivitas yang akan dilakukan. 3. yaitu: 1. Fase 2: Mengorganisasikan peserta didik untuk belajar Disamping mengembangkan ketrampilan memecahkan masalah. pembelajaran PBL juga mendorong peserta didik belajar berkolaborasi. Semua peserta didik diberi peluang untuk menyumbang kepada penyelidikan dan menyampaikan ide-ide mereka. Hal ini sangat penting untuk memberikan motivasi agar peserta didik dapat mengerti dalam pembelajaran yang akan dilakukan. peserta didik didorong untuk mengajukan pertanyaan dan mencari informasi. tetapi lebih kepada belajar bagaimana menyelidiki masalah-masalah penting dan bagaimana menjadi peserta didik yang mandiri. Dalam penggunaan PBL. Guru akan bertindak sebagai pembimbing yang siap membantu. Tidak ada ide yang akan ditertawakan oleh guru atau teman sekelas. Ada empat hal yang perlu dilakukan dalam proses ini. pentingnya interaksi antar anggota. Guru sangat penting memonitor dan mengevaluasi kerja Matematika – SMA/MA/SMK | 200 . guru dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan membentuk kelompok-kelompok peserta didik dimana masing-masing kelompok akan memilih dan memecahkan masalah yang berbeda. Oleh sebab itu. Permasalahan dan pertanyaan yang diselidiki tidak mempunyai jawaban mutlak “benar“. serta dijelaskan bagaimana guru akan mengevaluasi proses pembelajaran. Selama tahap penyelidikan (dalam pengajaran ini). sebuah masalah yang rumit atau kompleks mempunyai banyak penyelesaian dan seringkali bertentangan. peserta didik akan didorong untuk menyatakan ide-idenya secara terbuka dan penuh kebebasan. Selama tahap analisis dan penjelasan. Tujuan utama pengajaran tidak untuk mempelajari sejumlah besar informasi baru. dan 4. namun peserta didik harus berusaha untuk bekerja mandiri atau dengan temannya. Prinsip-prinsip pengelompokan peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dapat digunakan dalam konteks ini seperti: kelompok harus heterogen. dan sebagainya. tahapan ini sangat penting dimana guru harus menjelaskan dengan rinci apa yang harus dilakukan oleh peserta didik dan juga oleh guru. Pemecahan suatu masalah sangat membutuhkan kerjasama dan sharing antar anggota. adanya tutor sebaya. 2.

Pada tahap ini. orang tua. dan sajian multimedia. Meskipun setiap situasi permasalahan memerlukan teknik penyelidikan yang berbeda. program komputer. Akan lebih baik jika dalam pemeran ini melibatkan peserta didik-peserta didik lainnya. selanjutnya mereka mulai menawarkan penjelasan dalam bentuk hipotesis. dan jadwal.masing-masing kelompok untuk menjaga kinerja dan dinamika kelompok selama pembelajaran. namun pada umumnya tentu melibatkan karakter yang identik. guru-guru. Selama pengajaran pada fase ini. model (perwujudan secara fisik dari situasi masalah dan pemecahannya). penjelesan. dan ia seharusnya mengajukan pertanyaan pada peserta didik untuk berifikir tentang masalah dan ragam informasi yang dibutuhkan untuk sampai pada pemecahan masalah yang dapat dipertahankan. Tentunya kecanggihan artifak sangat dipengaruhi tingkat berfikir peserta didik. dan pemecahan. namun bisa suatu video tape (menunjukkan situasi masalah dan pemecahan yang diusulkan). Setelah peserta didik diorientasikan pada suatu masalah dan telah membentuk kelompok belajar selanjutnya guru dan peserta didik menetapkan subtopik-subtopik yang spesifik. Guru membantu peserta didik untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber. Langkah selanjutnya adalah mempamerkan hasil karyanya dan guru berperan sebagai organisator pameran. dan memberikan pemecahan. Guru juga harus mengajukan pertanyaan yang membuat peserta didik berfikir tentang kelayakan hipotesis dan solusi yang mereka buat serta tentang kualitas informasi yang dikumpulkan. Fase 4: Mengembangkan dan menyajikan artifak (hasil karya) dan mempamerkannya Tahap penyelidikan diikuti dengan menciptakan artifak (hasil karya) dan pameran. tugas-tugas penyelidikan. Artifak lebih dari sekedar laporan tertulis. Tantangan utama bagi guru pada tahap ini adalah mengupayakan agar semua peserta didik aktif terlibat dalam sejumlah kegiatan penyelidikan dan hasil-hasil penyelidikan ini dapat menghasilkan penyelesaian terhadap permasalahan tersebut. Fase 3: Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok Penyelidikan adalah inti dari PBL. guru harus mendorong peserta didik untuk mengumpulkan data dan melaksanakan eksperimen (mental maupun aktual) sampai mereka betul-betul memahami dimensi situasi permasalahan. Pengumpulan data dan eksperimentasi merupakan aspek yang sangat penting. guru mendorong peserta didik untuk menyampikan semua ide-idenya dan menerima secara penuh ide tersebut. dan lainnya yang dapat menjadi “penilai” atau memberikan umpan balik. Tujuannya adalah agar peserta didik mengumpulkan cukup informasi untuk menciptakan dan membangun ide mereka sendiri. yakni pengumpulan data dan eksperimen. Setelah peserta didik mengumpulkan cukup data dan memberikan permasalahan tentang fenomena yang mereka selidiki. berhipotesis dan penjelasan. Fase 5: Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah Matematika – SMA/MA/SMK | 201 .

ujian tengah semester (UTS). Penilaian terhadap kecakapan dapat diukur dari penguasaan alat bantu pembelajaran. yaitu keaktifan dan partisipasi dalam diskusi. Pada penilaian kinerja ini. Fase ini dimaksudkan untuk membantu peserta didik menganalisis dan mengevaluasi proses mereka sendiri dan keterampilan penyelidikan dan intelektual yang mereka gunakan. peserta didik diminta untuk unjuk kerja atau mendemonstrasikan kemampuan melakukan tugas-tugas tertentu. menginterpretasikan jawaban pada suatu masalah.Fase ini merupakan tahap akhir dalam PBL. Penilaian terhadap penguasaan pengetahuan yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan ujian akhir semester (UAS). dan sikap (attitude). Penilaian yang dilakukan oleh pebelajar itu sendiri terhadap usahausahanya dan hasil pekerjaannya dengan merujuk pada tujuan yang ingin dicapai (standard) oleh pebelajar itu sendiri dalam belajar. Penilaian portofolio peserta didik. hardware. Penilaian portofolio adalah penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam suatu Matematika – SMA/MA/SMK | 202 . Bobot penilaian untuk ketiga aspek tersebut ditentukan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan. Sistem Penilaian Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan (knowledge). Penilaian pembelajaran dengan PBL dilakukan dengan authentic assesment. Sedangkan penilaian terhadap sikap dititikberatkan pada penguasaan soft skill. dokumen. Penilaian dapat dilakukan dengan portfolio yang merupakan kumpulan yang sistematis pekerjaan-pekerjaan peserta didik yang dianalisis untuk melihat kemajuan belajar dalam kurun waktu tertentu dalam kerangka pencapaian tujuan pembelajaran. kuis. Penilaian di mana pebelajar berdiskusi untuk memberikan penilaian terhadap upaya dan hasil penyelesaian tugas-tugas yang telah dilakukannya sendiri maupun oleh teman dalam kelompoknya. PR. dan kehadiran dalam pembelajaran. dan laporan. 2. seperti menulis karangan. Penilaian yang relevan dalam PBL antara lain sebagai berikut: 1. Penilaian kinerja peserta didik. Penilaian dalam pendekatan PBL dilakukan dengan cara evaluasi diri (self-assessment) dan peer-assessment. 1. kecakapan (skill). maupun kemampuan perancangan dan pengujian. melakukan suatu eksperimen. atau melukis suatu gambar. 2. Self-assessment. baik software. Selama fase ini guru meminta peserta didik untuk merekonstruksi pemikiran dan aktivitas yang telah dilakukan selama proses kegiatan belajarnya E. Peer-assessment. memainkan suatu lagu. kemampuan bekerjasama dalam tim.

maka di samping pengembangan kurikulum juga perlu dikembangkan model pembelajaran yang sesuai tujuan kurikulum yang memungkinkan peserta didik dapat secara aktif mengembangkan kerangka berfikir dalam memecahkan masalah serta kemampuannya untuk bagaimana belajar (learning how to learn). misalnya membandingkan peserta didik dengan temannya. Penilain dengan portofolio dapat dipakai untuk penilaian pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif. Penilaian kolaboratif dalam PBL dilakukan dengan cara evaluasi diri (self assesment) dan peer assesment. 3. PBL yang memberi tugas-tugas pemecahan masalah memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan dan mengenali potensi kesiapan belajarnya. pekerjaan hasil tes. Dari informasi perkembangan itu peserta didik dan guru dapat menilai kemajuan belajar yang dicapai dan peserta didik terus berusaha memperbaiki diri. Penilaian proses dapat digunakan untuk menilai pekerjaan peserta didik tersebut. Penilaian yang diarahkan untuk mengukur potensi belajar peserta didik yaitu mengukur kemampuan yang dapat ditingkatkan dengan bantuan guru atau teman-temannya yang lebih maju. portofolio. Sebagian masalah dalam kehidupan nyata bersifat dinamis sesuai dengan perkembangan zaman dan konteks atau lingkungannya. assesment autentik dan 3). atau bentuk informasi lain yang terkait kompetensi tertentu dalam suatu mata pelajaran. Self assessment adalah penilaian yang dilakukan oleh peserta didik itu sendiri terhadap usaha-usahanya dan hasil pekerjaannya dengan merujuk pada tujuan yang ingin dicapai oleh peserta didik itu sendiri dalam belajar. Penilaian potensi belajar. Informasi perkembangan peserta didik dapat berupa hasil karya terbaik peserta didik selama proses belajar. melihat bagaimana peserta didik menunjukkan pengetahuan dan keterampilannya. Penilaian usaha kelompok mengurangi kompetisi merugikan yang sering terjadi. Penilaian dan evaluasi yang sesuai dengan model pembelajaran berbasis masalah adalah menilai pekerjaan yang dihasilkan oleh peserta didik sebagai hasil pekerjaan mereka dan mendiskusikan hasil pekerjaan secara bersama-sama. Penilaian usaha kelompok. piagam penghargaan. penilaian ini antara lain: 1). Dengan kemampuan atau kecakapan tersebut diharapkan peserta didik akan mudah beradaptasi. Peer assessment adalah penilian dimana peserta didik berdiskusi untuk memberikan penilaian upaya dan hasil penyelesaian tugas-tugas yang diselesaikan sendiri maupun teman dalam kelompoknya. Penilaian kinerja memungkinkan peserta didik menunjukkan apa yang dapat mereka lakukan dalam situasi yang sebenarnya.assesment kerja.periode tertentu. bagaimana peserta didik dan evaluator menilai produk (hasil akhir) proses 2. bagaimana mereka menerapkan tahapan Matematika – SMA/MA/SMK | 203 . Menilai usaha kelompok seperti yang dlakukan pada pembelajaran kooperatif dapat dilakukan pada PBL. Tahap evaluasi pada PBM terdiri atas tiga hal : 1. Penilaian proses bertujuan agar guru dapat melihat bagaimana peserta didik merencanakan pemecahan masalah. Dasar pemikiran pengembangan strategi pembelajaran tersebut sesuai dengan pandangan kontruktivis yang menekankan kebutuhan peserta didik untuk menyelidiki lingkungannya dan membangun pengetahuan secara pribadi pengetahuan bermakna. 2). 4.

atau sebagai suatu bentuk penyajian formal lainnya. Bandung: Diponegoro. Barbara. teaching. Journal of Academic Medicine Barrows. M dan Nur. 2001. In M. Problem Based Learning: an Approach to Medical Education.A. (2008). Problems: A Key Factor in PBL. Bandung: Alfabeta Das Salirawati.. Emerging perspectives on learning.. M.edu/epltt/ProblemBasedInstruct. Metode Penelitian Kuantitatif. Ibrahim. (1995). (2001). Dr. Makalah Duch. [21 Juli 2010]. New York: Springer Publishing Dahlan. Orey (Ed. [Online]. Bandung: Tidak diterbitkan Major. Sugiyono. (2005). (1990). F. Problem Based Learning: a Review of The Literature on Outcomes and Implementation Issues. (2007).htm. & Tamblyn. Surabaya: University Press Karim. Prof.edu/pbl/cte/spr96-phys. & Mitchell. Claire.rapidintellect. [17 Juni 2005]. S. Kualitatif dan R&D.html. et al. Penerapan Problem Based Learning Sebagai Upaya Meningkatkan Kemampuan Peserta Didik Dalam Memecahkan Masalah.H dan Palmer.).Daftar Pustaka Albanese. Evan.udel.M.uga. 2009. R. misalnya secara lisan atau verbal.com/AE Qweb/mop4spr01.. S. Pengajaran Berdasarkan Masalah. laporan tertulis.D. Problem Based Instruction.S. Tersedia : http://www. J. M. (1980).PBM untuk bekerja melalui masalah 3. and technology [Online]. Assessing the Effectiveness of Problem-Based Learning in Higher Education: Lessons from the Literature. Sebagian dari evaluasi memfokuskan pada pemecahan masalah oleh peserta didik maupun dengan cara melakukan proses belajar kolaborasi (bekerja bersama pihak lain). Glazer. H. Proposal Hibah Kompetitif UPI 2007. [Online]. Tersedia : http://www. (1993). Tersedia: http://www. Penerapan Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Penguasaan konsep Fisika serta Mengembangkan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi dan Kecakapan Ilmiah.coe. Betsy. bagaimana peserta didik akan menyampaikan pengetahuan hasil pemecahan akan masalah atau sebagai bentuk pertanggungjawaban mereka belajar menyampaikan hasil-hasil penilaian atau respon-respon mereka dalam berbagai bentuk yang beragam.htm [14 Juli 2010] Matematika – SMA/MA/SMK | 204 . Model-Model Mengajar .

Active Learning: 101 Strategies to Teach any Subject. Jambi: Universitas Jambi Sudjana. Belajar Mandiri. (2002). Haris. Martinis. Surakarta: Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) UNS dan UPT Penerbitan dan Percetakan UNS (UNS Press) Nurhadi. (2004). Kurikulum 2004: Pertanyaan dan Jawaban. Paradigma Baru Pembelajaran. 2010. Panduan Pelaksanaan Collaborative Learning & Problem Based Learning. Model Pembelajaran Sains. USA: Allyn & Bacon Mudjiman. 2006. Model Pembelajaran Pemecahan Masalah.Melvin L. Depok: UI Siburian. (1982). D. (1996). Jambi: Gaung Persada Press Matematika – SMA/MA/SMK | 205 . Jodion. 2011. Jakarta: Grasindo Proyek DUeLike Universitas Indonesia. Bandung : Lembaga Penelitian IKIP Bandung Yamin. & Silberman.

Matematika – SMA/MA/SMK | 206 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 207 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 208 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 209 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 210 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 211 .

pengukuran. Sebagaimana pendapat Bruner. 1986:103). sedangkan Problem Solving lebih memberi tekanan pada kemampuan menyelesaikan masalah.HO-2. Bruner memakai metode yang disebutnya Discovery Learning.2-3 MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING) A. Proses tersebut disebut cognitive process sedangkan discovery itu sendiri adalah the mental process of assimilatig conceps and principles in the mind (Robert B. Penggunaan metode Discovery Learning. Sedangkan pada inkuiri masalahnya bukan hasil rekayasa. 2001:219). terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip. Perbedaannya dengan discovery ialah bahwa pada discovery masalah yang diperhadapkan kepada siswa semacam masalah yang direkayasa oleh guru. dan hubungan. pada Discovery Learning lebih menekankan pada ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui. Definisi Metode Discovery Learning adalah teori belajar yang didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya. klasifikasi. Discovery dilakukan melalaui observasi. sehingga siswa harus mengerahkan seluruh pikiran dan keterampilannya untuk mendapatkan temuan-temuan di dalam masalah itu melalui proses penelitian. Yang menjadikan dasar ide Bruner ialah pendapat dari Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan aktif dalam belajar di kelas. Metode Discovery Learning adalah memahami konsep. Discovery Learning mempunyai prinsip yang sama dengan inkuiri (inquiry) dan Problem Solving. Discovery terjadi bila indifidu terlibat. Sebagai strategi belajar. tetapi diharapkan mengorganisasi sendiri. Akan tetapi prinsip belajar yang nampak jelas dalam Discovery Learning adalah materi atau bahan pelajaran yang akan disampaikan tidak disampaikan dalam bentuk final akan tetapi siswa sebagai peserta didik didorong untuk mengidentifikasi apa yang ingin diketahui dilanjutkan dengan mencari informasi sendiri kemudian mengorgansasi atau membentuk (konstruktif) apa yang mereka ketahui dan mereka pahami dalam suatu bentuk akhir. arti. Merubah Matematika – SMA/MA/SMK | 212 . Dengan mengaplikasikan metode Discovery Learning secara berulang-ulang dapat meningkatkan kemampuan penemuan diri individu yang bersangkutan. Definisi/ Konsep 1. bahwa: “Discovery Learning can be defined as the learning that takes place when the student is not presented with subject matter in the final form. 1996:41). Mengubah pembelajaran yang teacher oriented ke student oriented. but rather is required to organize it him self” (Lefancois dalam Emetembun. melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan (Budiningsih. 2005:43). Tidak ada perbedaan yang prinsipil pada ketiga istilah ini. penentuan dan inferi. dimana murid mengorganisasi bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir (Dalyono. Sund dalam Malik. prediksi. ingin merubah kondisi belajar yang pasif menjadi aktif dan kreatif.

matematika. Komunikasinya dilakukan dengan menggunakan banyak simbol. Menurut Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh bagaimana cara lingkungan. 4) Rentangan karakteristik. dan sebagainya. yaitu lingkungan dimana siswa dapat melakukan eksplorasi. Tahap iconic. artinya. Maksudnya. Lingkungan seperti ini bertujuan agar siswa dalam proses belajar dapat berjalan dengan baik dan lebih kreatif.modus Ekspository siswa hanya menerima informasi secara keseluruhan dari guru ke modus Discovery siswa menemukan informasi sendiri. Manipulasi bahan pelajaran bertujuan untuk memfasilitasi kemampuan siswa dalam berfikir (merepresentasikan apa yang dipahami) sesuai dengan tingkat perkembangannya. Secara Matematika – SMA/MA/SMK | 213 . yaitu: enactive. 3) Karakteristik. Tahap symbolic. Untuk menunjang proses belajar perlu lingkungan memfasilitasi rasa ingin tahu siswa pada tahap eksplorasi. Seluruh kegiatan mengkategori meliputi mengidentifikasi dan menempatkan contoh-contoh (obyek-obyek atau peristiwaperistiwa) ke dalam kelas dengan menggunakan dasar kriteria tertentu. 5) Kaidah (Budiningsih. 2005:43). Semakin matang seseorang dalam proses berpikirnya. misalnya melalui gigitan. 2) Contohcontoh baik yang positif maupun yang negative. sesungguhnya metode Discovery Learning merupakan pembentukan kategori-kategori atau konsep-konsep. Di dalam proses belajar. baik yang pokok maupun tidak. Tahap enaktive. pegangan. dan mengenal dengan baik adanya perbedaan kemampuan. 2. Konsep Dalam Konsep Belajar. yang dapat memungkinkan terjadinya generalisasi. dan siswa dikatakan memahami suatu konsep apabila mengetahui semua unsur dari konsep itu. iconic. dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui bentuk perumpamaan (tampil) dan perbandingan (komparasi). Pembentukan kategori-kategori dan sistem-sistem coding dirumuskan demikian dalam arti relasi-relasi (similaritas & difference) yang terjadi diantara obyek-obyek dan kejadian-kejadian (events). sentuhan. Bruner mementingkan partisipasi aktif dari tiap siswa. Bruner memandang bahwa suatu konsep atau kategorisasi memiliki lima unsur. dalam memahami dunia sekitarnya anak menggunakan pengetahuan motorik. seseorang telah mampu memiliki ide-ide atau gagasan-gagasan abstrak yang sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam berbahasa dan logika. bahwa Discovery adalah pembentukan kategori-kategori. Dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui simbol-simbol bahasa. Lingkungan ini dinamakan Discovery Learning Environment. seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam upaya untuk memahami lingkungan sekitarnya. dan sebagainya. dan symbolic. atau lebih sering disebut sistem-sistem coding. seseorang memahami objek-objek atau dunianya melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal. meliputi: 1) Nama. semakin dominan sistem simbolnya. Untuk memfasilitasi proses belajar yang baik dan kreatif harus berdasarkan pada manipulasi bahan pelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa. logika. penemuan-penemuan baru yang belum dikenal atau pengertian yang mirip dengan yang sudah diketahui. Sebagaimana teori Bruner tentang kategorisasi yang nampak dalam Discovery. Bruner menjelaskan bahwa pembentukan konsep merupakan dua kegiatan mengkategori yang berbeda yang menuntut proses berfikir yang berbeda pula.

seseorang tergantung bagaimana cara belajarnya. Dalam mengaplikasikan metode Discovery Learning guru berperan sebagai pembimbing dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara aktif. Dengan demikian seorang guru dalam aplikasi metode Discovery Learning harus dapat menempatkan siswa pada kesempatan-kesempatan dalam belajar yang lebih mandiri. Fakta Empirik Keberhasilan Pendekatan dalam Proses dan Hasil Pembelajaran Berdasarkan fakta dan hasil pengamatan. penerapan pendekatan Discovery Learning dalam pembelajaran memiliki kelebhihan-kelebihan dan kelemahan-kelemahan. Usaha penemuan merupakan kunci dalam proses ini. menerapkan. seorang scientis. bimbingan guru hendaklah lebih berkurang dari pada metode-metode mengajar lainnya. mengkategorikan. ingatan dan transfer. Kondisi seperti ini ingin merubah kegiatan belajar mengajar yang teacher oriented menjadi student oriented. Pengetahuan yang diperoleh melalui metode ini sangat pribadi dan ampuh karena menguatkan pengertian. iconic dan symbolic adalah anak menjelaskan sesuatu melalui perbuatan (ia bergeser ke depan atau kebelakang di papan mainan untuk menyesuaikan beratnya dengan berat temannya bermain) ini fase enactive. b. dan memungkinkan mereka untuk mempelajari konsep-konsep di dalam bahasa yang dimengerti mereka. Hal yang menarik dalam pendapat Bruner yang menyebutkan: hendaknya guru harus memberikan kesempatan muridnya untuk menjadi seorang problem solver.sederhana teori perkembangan dalam fase enactive. Dalam metode Discovery Learning bahan ajar tidak disajikan dalam bentuk akhir. 1. menganalisis. 85:2001). historin. Kemudian pada fase iconic ia menjelaskan keseimbangan pada gambar atau bagan dan akhirnya ia menggunakan bahasa untuk menjelaskan prinsip keseimbangan ini fase symbolic (Syaodih. Kelebihan Penerapan Discovery Learning a. atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya (Budiningsih. serta menemukan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya. aturan. siswa dituntut untuk melakukan berbagai kegiatan menghimpun informasi. atau ahli matematika. Hal tersebut memungkinkan murid-murid menemukan arti bagi diri mereka sendiri. 2005:145). membandingkan. sebagaimana pendapat guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan (Sardiman. atau ahli matematika. Menimbulkan rasa senang pada siswa. mereorganisasikan bahan serta membuat kesimpulankesimpulan. Bruner mengatakan bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep. Pada akhirnya yang menjadi tujuan dalam metode Discovery Learning menurut Bruner adalah hendaklah guru memberikan kesempatan kepada muridnya untuk menjadi seorang problem solver. Membantu siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan-keterampilan dan proses-proses kognitif. Hal ini tak berarti bahwa guru menghentikan untuk memberikan suatu bimbingan setelah problema disajikan kepada pelajar. 2005:41). mengintegrasikan. karena tumbuhnya rasa menyelidiki dan berhasil. teori. Matematika – SMA/MA/SMK | 214 . Karakteristik yang paling jelas mengenai Discovery sebagai metode mengajar ialah bahwa sesudah tingkat-tingkat inisial (pemulaan) mengajar. Dan melalui kegiatan tersebut siswa akan menguasainya. c. historin. seorang scientist. B. Tetapi bimbingan yang diberikan tidak hanya dikurangi direktifnya melainkan pelajar diberi responsibilitas yang lebih besar untuk belajar sendiri.

m. Dapat mengembangkan bakat dan kecakapan individu. keterampilan dan emosi secara keseluruhan kurang mendapat perhatian. o. Siswa akan mengerti konsep dasar dan ide-ide lebih baik. n. c. Tidak menyediakan kesempatan-kesempatan untuk berfikir yang akan ditemukan oleh siswa karena telah dipilih terlebih dahulu oleh guru. Proses belajar meliputi sesama aspeknya siswa menuju pada pembentukan manusia seutuhnya. sedangkan mengembangkan aspek konsep. q. k. Bagi siswa yang kurang pandai. Situasi proses belajar menjadi lebih terangsang. dan sebagainya) Matematika – SMA/MA/SMK | 215 . Langkah-langkah Operasional Implementasi dalam Proses Pembelajaran Langkah-langkah dalam mengaplikasikan model discovery learning di kelas adalah sebagai berikut: 1.d. 2. minat. Metode ini tidak efisien untuk mengajar jumlah siswa yang banyak. Memberikan keputusan yang bersifat intrinsik. yang tertulis atau lisan. Kelemahan Penerapan Discovery Learning a. Berpusat pada siswa dan guru berperan sama-sama aktif mengeluarkan gagasangagasan. e. Membantu dan mengembangkan ingatan dan transfer kepada situasi proses belajar yang baru. Membantu siswa menghilangkan skeptisme (keragu-raguan) karena mengarah pada kebenaran yang final dan tertentu atau pasti. Pengajaran discovery lebih cocok untuk mengembangkan pemahaman. h. Harapan-harapan yang terkandung dalam metode ini dapat buyar berhadapan dengan siswa dan guru yang telah terbiasa dengan cara-cara belajar yang lama. karena memperoleh kepercayaan bekerja sama dengan yang lainnya. Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal. dan sebagai peneliti di dalam situasi diskusi. Bahkan gurupun dapat bertindak sebagai siswa. Pada beberapa disiplin ilmu. i. e. Metode ini dapat membantu siswa memperkuat konsep dirinya. d. C. gaya belajar. misalnya IPA kurang fasilitas untuk mengukur gagasan yang dikemukakan oleh para siswa f. p. Mendorong siswa berfikir intuisi dan merumuskan hipotesis sendiri. Menentukan tujuan pembelajaran b. akan mengalami kesulitan abstrak atau berfikir atau mengungkapkan hubungan antara konsep-konsep. karena membutuhkan waktu yang lama untuk membantu mereka menemukan teori atau pemecahan masalah lainnya. l. g. Metode ini memungkinkan siswa berkembang dengan cepat dan sesuai dengan kecepatannya sendiri. Langkah Persiapan Metode Discovery Learning a. Kemungkinan siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar. Metode ini menimbulkan asumsi bahwa ada kesiapan pikiran untuk belajar. b. Mendorong siswa berfikir dan bekerja atas inisiatif sendiri. Menyebabkan siswa mengarahkan kegiatan belajarnya sendiri dengan melibatkan akalnya dan motivasi sendiri. j. r. Meningkatkan tingkat penghargaan pada siswa. sehingga pada gilirannya akan menimbulkan frustasi. f.

Sedangkan menurut permasalahan yang dipilih itu selanjutnya harus dirumuskan dalam bentuk pertanyaan. dengan demikian anak didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai informasi yang relevan. mengamati objek. membaca literatur. Pada tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis. kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah) (Syah 2004:244). Data collection (pengumpulan data). Dalam hal ini Bruner memberikan stimulation dengan menggunakan teknik bertanya yaitu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat menghadapkan siswa pada kondisi internal yang mendorong eksplorasi. merupakan teknik yang berguna dalam membangun siswa agar mereka terbiasa untuk menemukan suatu masalah. Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis (Syah. agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. ada beberapa prosedur yang harus dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar secara umum sebagai berikut: a. Memberikan kesempatan siswa untuk mengidentifikasi dan menganalisa permasasalahan yang mereka hadapi. dari yang konkret ke abstrak.c. d. atau hipotesis. wawancara dengan nara sumber. Memilih materi pelajaran. Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu siswa dalam mengeksplorasi bahan. Konsekuensi dari tahap ini adalah siswa belajar secara aktif Matematika – SMA/MA/SMK | 216 . ikonik sampai ke simbolik g. Problem statement (pernyataan/ identifikasi masalah) Setelah dilakukan stimulation langkah selanjutya adalah guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa 2. ilustrasi. Prosedur Aplikasi Metode Discovery Learning Menurut Syah (2004:244) dalam mengaplikasikan metode Discovery Learning di kelas. melakukan uji coba sendiri dan sebagainya. Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh. atau dari tahap enaktif. b. anjuran membaca buku. Menentukan topik-topik yang harus dipelajari siswa secara induktif (dari contohcontoh generalisasi) e. kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi. c. Dengan demikian seorang Guru harus menguasai teknik-teknik dalam memberi stimulus kepada siswa agar tujuan mengaktifkan siswa untuk mengeksplorasi dapat tercapai. Disamping itu guru dapat memulai kegiatan PBM dengan mengajukan pertanyaan. Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan) Pertama-tama pada tahap ini pelajar dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungannya. dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah. 2004:244). tugas dan sebagainya untuk dipelajari siswa f. yakni pernyataan (statement) sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan. Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks.

serta pentingnya proses pengaturan dan generalisasi dari pengalaman-pengalaman itu. dengan memperhatikan hasil verifikasi (Syah. 2002:22). Berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran. d. 2004:244). atau informasi yang ada. teori. Matematika – SMA/MA/SMK | 217 . Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi) Tahap generalisasi/ menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama. Verification menurut Bruner. apakah terbukti atau tidak. Dari generalisasi tersebut siswa akan mendapatkan pengetahuan baru tentang alternatif jawaban/ penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian secara logis e. Data processing (pengolahan data) Menurut Syah (2004:244) pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para siswa baik melalui wawancara. Setelah menarik kesimpulan siswa harus memperhatikan proses generalisasi yang menekankan pentingnya penguasaan pelajaran atas makna dan kaidah atau prinsip-prinsip yang luas yang mendasari pengalaman seseorang. 2004:244). Verification (pembuktian) Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan alternatif. aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya. diacak. apakah terjawab atau tidak. Data processing disebut juga dengan pengkodean coding/ kategorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan generalisasi. lalu ditafsirkan. ditabulasi. observasi. dan sebagainya. bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep. observasi. wawancara. bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu (Djamarah. Semua informai hasil bacaan.untuk menemukan sesuatu yang berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi. Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi. diklasifikasikan. semuanya diolah. pernyataan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu itu kemudian dicek. dihubungkan dengan hasil data processing (Syah. dengan demikian secara tidak disengaja siswa menghubungkan masalah dengan pengetahuan yang telah dimiliki. f. dan sebagainya.

isian atau melengkapi b. atau penilaian hasil kerja siswa. Penilaian Tertulis Penilaian tertulis merupakan tes dimana soal dan jawaban yang diberikan kepada peserta didik dalam bentuk tulisan.D. Kelemahan alat ini antara lain cakupan materi yang ditanyakan terbatas. c. soal uraian Dari berbagai alat penilaian tertulis. yaitu:  Soal dengan memilih jawaban a. menjodohkan  Soal dengan mensuplai-jawaban. Alat ini dapat menilai berbagai jenis kemampuan. pilihan ganda b. Jika bentuk penialainnya berupa penilaian kognitif. penilaian dapat dilakukan dengan menggunakan tes maupun non tes. Sedangkan penilaian yang digunakan dapat berupa penilaian kognitif. maka pelaksanaan penilaian dapat menggunakan contohcontoh format penilaian seperti tersebut di bawah ini. sikap. misalnya mengemukakan pendapat. Alat penilaian ini kurang dianjurkan pemakaiannya dalam penilaian kelas karena tidak menggambarkan kemampuan peserta didik yang sesungguhnya. Jika bentuk penilaiannya menggunakan penilaian proses. dan menyimpulkan. dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersebut dalam bentuk uraian tertulis dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Dalam menyusun instrumen penilaian tertulis perlu dipertimbangkan hal-hal berikut: a. Ada dua bentuk soal tes tertulis. Pilihan ganda mempunyai kelemahan. yaitu peserta didik tidak mengembangkan sendiri jawabannya tetapi cenderung hanya memilih jawaban yang benar dan jika peserta didik tidak mengetahui jawaban yang benar. berpikir logis. dua pilihan (benar-salah. dan menjodohkan merupakan alat yang hanya menilai kemampuan berpikir rendah. maka dalam model pembelajaran discovery learning dapat menggunakan tes tertulis. Sistem Penilaian Dalam Model Pembelajaran Discovery Learning. jawaban singkat c. Tes tertulis bentuk uraian adalah alat penilaian yang menuntut peserta didik untuk mengingat. Matematika – SMA/MA/SMK | 218 . dan mengorganisasikan gagasannya atau hal-hal yang sudah dipelajari. memahami. yaitu kemampuan mengingat (pengetahuan). tes memilih jawaban benar-salah. bahasa. menggambar dan lain sebagainya. misalnya rumusan soal atau pertanyaan harus jelas dan tegas. 1. proses. misalnya rumusan soal tidak menggunakan kata/ kalimat yang menimbulkan penafsiran ganda. Tes pilihan ganda dapat digunakan untuk menilai kemampuan mengingat dan memahami. misalnya kesesuian soal dengan indikator pada kurikulum. ya-tidak) c. konstruksi. materi. Dalam menjawab soal peserta didik tidak selalu merespon dalam bentuk menulis jawaban tetapi dapat juga dalam bentuk yang lain seperti memberi tanda. b. mewarnai. sikap. a. isian singkat. atau penilaian hasil kerja siswa. Hal ini menimbulkan kecenderungan peserta didik tidak belajar untuk memahami pelajaran tetapi menghafalkan soal dan jawabannya. maka peserta didik akan menerka.

b. membiasakan. peserta didik dapat diminta untuk membuat tulisan yang memuat curahan perasaannya terhadap suatu obyek sikap tertentu. peserta didik dapat diminta untuk menilai kecakapan atau keterampilan yang telah dikuasainya sebagai hasil belajar berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan.2. afektif dan psikomotor.. status. peserta didik diminta untuk melakukan penilaian berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. Dalam proses pembelajaran di kelas. harus melakukan introspeksi terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya c. Berkaitan dengan kompetensi afektif.. Penggunaan teknik ini dapat memberi dampak positif terhadap perkembangan kepribadian seseorang. Teknik penilaian diri dapat digunakan dalam berbagai aspek penilaian. Penilaian Diri Penilaian diri (self assessment) adalah suatu teknik penilaian. karena mereka diberi kepercayaan untuk menilai dirinya sendiri. karena ketika mereka melakukan penilaian. yang berkaitan dengan kompetensi kognitif. misalnya: peserta didik dapat diminta untuk menilai penguasaan pengetahuan dan keterampilan berpikir sebagai hasil belajar dalam mata pelajaran tertentu. Berkaitan dengan kompetensi psikomotorik. karena mereka dituntut untuk jujur dan obyektif dalam melakukan penilaian. dapat menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik. di mana subyek yang ingin dinilai diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan. berkaitan dengan kompetensi kognitif. dan melatih peserta didik untuk berbuat jujur. dapat mendorong. Penilaian Sikap Contoh Format Penilaian Sikap Mata Pelajaran: _________ Kelompok : _________ Semester: _________ Kelas : _________ Skor No 1 2 3 4 5 . proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu. berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. Nama Siswa Komitmen Tugas Kerja Sama Ketelitian Minat Jumlah Skor Nilai Matematika – SMA/MA/SMK | 219 . 3. . peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya. misalnya. Selanjutnya. Keuntungan penggunaan teknik ini dalam penilaian di kelas antara lain sebagai berikut: a.

3. Baik Sekali Baik Cukup Kurang 4 3 2 1 Kriteria Penilaian 10 – 12 A 7– 9 B 4–6 C ≤ 3 D A: Pengelompokan yang dilakukan siswa sangat baik. uraian yang dijabarkan kurang rinci dan diperoleh dengan menggunakan sebagian besar indra dengan gambar-gambar atau diagram C: Pengelompokan yang dilakukan siswa cukup baik. 4.4. uraian yang dijabarkan kurang sesuai dan diperoleh dengan menggunakan sebagian besar indra dengan gambargambar atau diagram 5. 2. uraian yang dijabarkan tidak rinci dan diperoleh dengan menggunakan sebagian kecil indra dengan gambar-gambar atau diagram D: Pengelompokan yang dilakukan siswa kurang baik. 2. Jumlah Contoh Format Penilaian Kinerja Tanggal: ……………… Kelas: ……………… Aspek Yang Dinilai 1 Tingkat Kemampuan 2 3 4 Kriteria Penskoran 1. Penilaian Kinerja Nama Siswa: ……………… NO 1. uraian yang dijabarkan rinci dan diperoleh dengan menggunakan seluruh indra disertai dengan gambar-gambar atau diagram B: Pengelompokan yang dilakukan siswa baik. Penilaian Hasil Kerja Siswa Nama Siswa: ……………… Input Tanggal: ……………… Proses Out Put/Hasil Kelas: ……………… Nilai Matematika – SMA/MA/SMK | 220 .

Teori-Teori Belajar. 1996. Pekanbaru. Holiwarni. 2008.. http://darussholahjember.com/2011/05/aplikasi-metode-discovery-learning. Matematika – SMA/MA/SMK | 221 . M. http://ebookbrowse. Penerbit Erlangga.Daftar Pustaka Dahar. http://prismabekasi. dkk.com/pengertian-model-pembelajaran-discovery-learning-menurutpara-ahli-pdf-d368189396 (23 Mei 2013). Syamsudini . RW. 2012.html (23 Mei 2013).html (23 Mei 2013) Jurnal Geliga Sains 3 (2). Aplikasi Metode Discovery Learning Dalam Meningkatkan Kemampuan Memecahkan Masalah.. Bandung.blogspot. 2000. Rizqi.. Motivasi Belajar Dan Daya Ingat Siswa.blogspot. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berorientasi Pembelajaran Penemuan Terbimbing (Guide-Discovery Learning) yang Mengintegrasikan Kegiatan Laboratorium untuk Fisika SLTP Bahan Kajian Pengukuran. Syah.com/2012/10/definisi-belajar-menurut-para-ahli. 1991. B. PT Remaja Rosdakarya. Tesis. 8-13.. Jakarta. Penerapan Metode Penemuan Terbimbing pada Mata Pelajaran Sains untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas IV SDN 016 Pekanbaru Kota (Laporan Penelitian). UNESA (tidak dipublikasikan). Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru. 2009 Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Riau ISSN 1978-502X. Lemlit UNRI.

Paparan materi Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar dengan menggunakan bahan tayang PPT-2.3/3.Materi Pelatihan 2.3: Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Pembelajaran Langkah Kegiatan Inti Kegiatan Interaktif Diskusi Kelompok Paparan Materi 15 Menit 50 Menit 20 Menit Kegiatan interaktif untuk menyamakan persepsi tentang jenis dan bentuk penilaian autentik.3 Paparan materi Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran dengan menggunakan bahan tayang PPT-2. Diskusi materi Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar.2. Matematika – SMA/MA/SMK | 222 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 223 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 224 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 225 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 226 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 227 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 228 .

memberikan analisa oral terhadap peristiwa. menulis. nyata. dan lain-lain. baik dalam rangka mengobservasi. Dalam kehidupan akademik keseharian. pengujian. keterampilan. dan pengetahuan.3-1 KONSEP PENILAIAN AUTENTIK A. Kata lain dari asesmen autentik adalah penilaian kinerja. dan penilaian proyek. suatu metode yang sangat populer untuk menilai proses dan hasil belajar peserta didik yang miliki ciri-ciri khusus. valid. tidak lazim digunakan. berikut ini dikemukakan beberapa definisi. asesmen autentik diartikan sebagai penilaian atas produk dan kinerja yang berhubungan dengan pengalaman kehidupan nyata peserta didik. mulai dari mereka Matematika – SMA/MA/SMK | 229 . guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan. membangun jejaring. pengukuran. dan sebagainya. Akan tetapi. frasa pengukuran atau pengujian autentik. motivasi. Karenanya. prestasi. Secara konseptual asesmen autentik lebih bermakna secara signifikan dibandingkan dengan tes pilihan ganda terstandar sekali pun. memungkinkan peserta didik untuk menunjukkan kompetensi mereka dalam pengaturan yang lebih autentik. Dalam American Librabry Association asesmen autentik didefinisikan sebagai proses evaluasi untuk mengukur kinerja. aktivitas mengamati dan mencoba.HO-2. Istilah asesmen merupakan sinonim dari penilaian. atau reliabel. dan nilai prestasi luar sekolah. atau evaluasi. Asesmen Autentik dan Tuntutan Kurikulum 2013 Asesmen autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013. Karena. Ketika menerapkan asesmen autentik untuk mengetahui hasil dan prestasi belajar peserta didik. asesmen semacam ini mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik. menalar. Asesmen autentik cenderung fokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual. merevisi dan membahas artikel. frasa asesmen autentik dan penilaian autentik sering dipertukarkan. Istilah autentik merupakan sinonim dari asli. Asesmen autentik adakalanya disebut penilaian responsif. dan sikap-sikap peserta didik pada aktifitas yang relevan dalam pembelajaran. berkolaborasi dengan antarsesama melalui debat. khususnya jenjang sekolah dasar atau untuk mata pelajaran yang sesuai. seperti meneliti. Wiggins mendefinisikan asesmen autentik sebagai upaya pemberian tugas kepada peserta didik yang mencerminkan prioritas dan tantangan yang ditemukan dalam aktifitas-aktifitas pembelajaran. Untuk mendapatkan pemahaman cukup komprehentif mengenai arti asesmen autentik. Definsi dan Makna Asesmen Autentik Asesmen autentik adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap. portofolio. Dalam Newton Public School. asesmen autentik sangat relevan dengan pendekatan tematik terpadu dalam pembejajaran. B. mencoba.

pola penilaian seperti ini tidak diantikan dalam proses pembelajaran. peserta didik dapat melakukan aktivitas belajar lebih baik ketika mereka tahu bagaimana akan dinilai. Asumsinya. karena berfokus pada kemampuan mereka berkembang untuk belajar bagaimana belajar tentang subjek. dan sebagainya. memiliki bakat dan minat khusus. serta memamerkan dan menampilkan sesuatu. Asesmen autentik sering dikontradiksikan dengan penilaian yang menggunkan standar tes berbasis norma. guru dan peserta didik berbagi pemahaman tentang kriteria kinerja.yang mengalami kelainan tertentu. guru secara tim. Asesmen autentik dapat dibuat oleh guru sendiri. motivasi dan keterlibatan peserta didik. portofolio. Atas dasar itu. dalam hal apa mereka sudah atau belum mampu menerapkan perolehan belajar. Dalam beberapa kasus. Matematika – SMA/MA/SMK | 230 . kajian keilmuan. Asesmen autentik mencoba menggabungkan kegiatan guru mengajar. dengan orientasi utamanya pada proses atau hasil pembelajaran. peserta didik bahkan berkontribusi untuk mendefinisikan harapan atas tugas-tugas yang harus mereka lakukan. kegiatan siswa belajar. Karena penilaian itu merupakan bagian dari proses pembelajaran. guru dapat mengidentifikasi materi apa yang sudah layak dilanjutkan dan untuk materi apa pula kegiatan remidial harus dilakukan. Tentu saja. serta keterampilan belajar. yang memungkinkan mereka secara nyata menunjukkan kompetensi atau keterampilan yang dimilikinya. seringkali pelibatan siswa sangat penting. Pada asesmen autentik guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan. keterampilan. Contoh asesmen autentik antara lain keterampilan kerja. kemampuan mengaplikasikan atau menunjukkan perolehan pengetahuan tertentu. C. dan pengalaman yang diperoleh dari luar sekolah. Asesmen autentik dapat juga diterapkan dalam bidang ilmu tertentu seperti seni atau ilmu pengetahuan pada umumnya. memilih kegiatan yang strategis. karena memang lzim digunakan dan memperoleh legitimasi secara akademik. dan pengetahuan apa yang sudah atau belum dimiliki oleh peserta didik. atau guru bekerja sama dengan peserta didik. Dalam asesmen autentik. Asesmen autentik sering digambarkan sebagai penilaian atas perkembangan peserta didik. Peserta didik diminta untuk merefleksikan dan mengevaluasi kinerja mereka sendiri dalam rangka meningkatkan pemahaman yang lebih dalam tentang tujuan pembelajaran serta mendorong kemampuan belajar yang lebih tinggi. menjodohkan. simulasi dan bermain peran. Menurut Ormiston belajar autentik mencerminkan tugas dan pemecahan masalah yang dilakukan oleh peserta didik dikaitkan dengan realitas di luar sekolah atau kehidupan pada umumnya. benar–salah. Asesmen semacam ini cenderung berfokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual bagi peserta didik. Asesmen Autentik dan Belajar Autentik Asesmen Autentik menicayakan proses belajar yang Autentik pula. atau membuat jawaban singkat. pilihan ganda. hingga yang jenius. bagaimana mereka menerapkan pengetahuannya. Asesmen autentik harus mampu menggambarkan sikap.

melainkan juga pada penilaian. pengukuran langsung keterampilan peserta didik yang berhubungan dengan hasil jangka panjang pendidikan seperti kesuksesan di tempat kerja. dan pengetahuan dicapai melalui penyelesaian tugas di mana peserta didik telah memainkan peran aktif dan kreatif. menafsirkan.Asesmen autentik mengharuskan pembelajaran yang autentik pula. Sejalan dengan deskripsi di atas. serta mengaitkan apa yang dipelajari dengan dunia nyata yang luar sekolah. Asesmen Autentik terdiri dari berbagai teknik penilaian. Pertama. Konstruksi sikap. dan mengevaluasi informasi untuk kemudian mengubahnya menjadi pengetahuan baru. benar/salah. Mengetahui bagaimana menilai kekuatan dan kelemahan peserta didik serta desain pembelajaran. Ketiga. analisis proses yang digunakan untuk menghasilkan respon peserta didik atas perolehan sikap. 4.” Peran guru bukan hanya pada proses pembelajaran. keteampilan. penilaian atas tugas-tugas yang memerlukan keterlibatan yang luas dan kinerja yang kompleks. 2. guru dan peserta didik memiliki tanggung jawab atas apa yang terjadi. Menjadi pengasuh proses pembelajaran. guru harus memenuhi kriteria tertentu seperti disajikan berikut ini. 1. seperti tes pilihan ganda. melihat informasi baru. peserta didik diminta mengumpulkan informasi dengan pendekatan saintifik. Peserta didik pun tahu apa yang mereka ingin pelajari. Asesmen autentik pun mendorong peserta didik mengkonstruksi. Dalam pembelajaran autentik. dan pengetahuan yang ada. dan mengasimilasikan pemahaman peserta didik. Mengetahui bagaimana cara membimbing peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan mereka sebelumnya dengan cara mengajukan pertanyaan dan menyediakan sumberdaya memadai bagi peserta didik untuk melakukan akuisisi pengetahuan. meski dengan satuan waktu yang berbeda. pada pembelajaran autentik. Di sini. Untuk bisa melaksanakan pembelajaran autentik. menganalisis. Tes semacam ini telah gagal memperoleh gambaran yang utuh Matematika – SMA/MA/SMK | 231 . Wiggins (1993) menegaskan bahwa metode penilaian tradisional untuk mengukur prestasi. menjodohkan. Menurut Ormiston belajar autentik mencerminkan tugas dan pemecahan masalah yang diperlukan dalam kenyataannya di luar sekolah. Keterlibatan peserta didik dalam melaksanakan tugas sangat bermakna bagi perkembangan pribadi mereka. mensintesis. Dengan demikian. memahahi aneka fenomena atau gejala dan hubungannya satu sama lain secara mendalam. Menjadi kreatif tentang bagaimana proses belajar peserta didik dapat diperluas dengan menimba pengalaman dari dunia di luar tembok sekolah. menjelaskan. dan bertanggungjawab untuk tetap pada tugas. 3. keterampilan. Kedua. memiliki parameter waktu yang fleksibel. Asesmen autentik adalah komponen penting dari reformasi pendidikan sejak tahun 1990an. asesmen autentik akan bermakna bagi guru untuk menentukan cara-cara terbaik agar semua siswa dapat mencapai hasil akhir. mengorganisasikan. dan lain-lain telah gagal mengetahui kinerja peserta didik yang sesungguhnya. guru harus menjadi “guru autentik.

ketika itu pula asesmen autentik memperoleh traksi yang cukup kuat. keberanian berpendapat. guru harus memahami secara jelas tujuan yang ingin dicapai. dan sebagainya. Ketika asesmen tradisional cenderung mereduksi makna kurikulum. Analisis kualitatif dari asesmen otentif berupa narasi atau deskripsi atas capaian hasil belajar peserta didik. keterampilan. khususnya berkaitan dengan: (1) sikap. dan pengetahuan apa yang akan dinilai. D. pendekatan apa pun yang dipakai dalam penilaian tetap tidak luput dari kelemahan dan kelebihan. keterampilan.mengenai sikap. Beberapa jenis asesmen autentik disajikan berikut ini. Data asesmen autentik digunakan untuk berbagai tujuan seperti menentukan kelayakan akuntabilitas implementasi kurikulum dan pembelajaran di kelas tertentu. Penilaian Kinerja Asesmen autentik sebisa mungkin melibatkan parsisipasi peserta didik. mengenai keunggulan dan kelemahan. (2) fokus penilaian akan dilakukan. mahir. tidak mampu menggambarkan kompetensi dasar. 1. Rubrik penilaian dapat berupa analitik atau holistik. misalnya. Guru dapat melakukannya dengan meminta para peserta didik menyebutkan unsur-unsur proyek/tugas yang akan mereka gunakan untuk menentukan kriteria penyelesaiannya. seperti penalaran. dan (3) tingkat pengetahuan apa yang akan dinilai. Namun demikian. berkaitan dengan sikap. misalnya. motivasi. guru dapat memberikan umpan balik terhadap kinerja peserta didik baik dalam bentuk laporan naratif mauun laporan kelas. Dengan menggunakan informasi ini. sebagian mahir. Memang. Analisis kuantitatif dari data asesmen autentik menerapkan rubrik skor atau daftar cek (checklist) untuk menilai tanggapan relatif peserta didik relatif terhadap kriteria dalam kisaran terbatas dari empat atau lebih tingkat kemahiran (misalnya: sangat mahir. Jenis-jenis Asesmen Autentik Dalam rangka melaksanakan asesmen autentik yang baik. karena tidak menyentuh esensi nyata dari proses dan hasil belajar peserta didik. keterampilan. memori. kuanitatif. keterampilan. dan pengetahuan. Ada beberapa cara berbeda untuk merekam hasil penilaian berbasis kinerja: Matematika – SMA/MA/SMK | 232 . Asesmen hasil belajar yang tradisional bahkan cenderung mereduksi makna kurikulum. Analisis holistik memberikan skor keseluruhan kinerja peserta didik. guru harus bertanya pada diri sendiri. maupun kuantitatif. Data asesmen autentik dapat dianalisis dengan metode kualitatif. dan kemampuan berpikir yang diartikulasikan dalam banyak mata pelajaran atau disiplin ilmu. atau proses. sekolah. khususnya dalam proses dan aspek-aspek yangg akan dinilai. Untuk itu. dan rendah daya prediksinya terhadap derajat sikap. dan tidak mahir). dan lingkungannya melalui asesmen proses dan hasil belajar yang autentik. seperti menilai kompetisi Olimpiade Sains Nasional. dan pengetahuan peserta didik dikaitkan dengan kehidupan nyata mereka di luar sekolah atau masyarakat. sudah saatnya guru profesional pada semua satuan pendidikan memandu gerakan memadukan potensi peserta didik.

c. afektif dan psikomotor. guru dapat mengobservasinya pada konteks yang. misalnya. Daftar cek (checklist). Penilaian kinerja memerlukan pertimbangan-pertimbangan khusus. dan wawancara. Misalnya: 5 = baik sekali. Pengamatan atas kinerja peserta didik perlu dilakukan dalam berbagai konteks untuk menetapkan tingkat pencapaian kemampuan tertentu. Untuk mengamati kinerja peserta didik dapat menggunakan alat atau instrumen. Misalnya. Digunakan oleh guru dengan cara mengamati peserta didik ketika melakukan sesuatu. seperti penilaian sikap. bercerita. Penilaian-diri (self assessment) termasuk dalam rumpun penilaian kinerja. atau pertanyaan pribadi. Untuk menilai keterampilan berbahasa peserta didik. Biasanya digunakan dengan menggunakan skala numerik berikut predikatnya. 2 = kurang. ketepatan dan kelengkapan aspek kinerja yang dinilai. Ketiga.  Penilaian ranah sikap. pertanyaan langsung. langkahlangkah kinerja harus dilakukan peserta didik untuk menunjukkan kinerja yang nyata untuk suatu atau beberapa jenis kompetensi tertentu. d. fokus utama dari kinerja yang akan dinilai. Kedua. Digunakan dengan cara guru menulis laporan narasi tentang apa yang dilakukan oleh masing-masing peserta didik selama melakukan tindakan. observasi perilaku. Memori atau ingatan (memory approach). proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu. guru dapat menentukan seberapa baik peserta didik memenuhi standar yang ditetapkan. Digunakan untuk mengetahui muncul atau tidaknya unsur-unsur tertentu dari indikator atau subindikator yang harus muncul dalam sebuah peristiwa atau tindakan. 3 = cukup. Dari laporan tersebut. berdiskusi. Keempat. 1 = kurang sekali. Catatan anekdot/narasi (anecdotal/narative records). Dari sini akan diperoleh keutuhan mengenai keterampilan berbicara dimaksud. Matematika – SMA/MA/SMK | 233 . peserta didik diminta mengungkapkan curahan perasaannya terhadap suatu objek tertentu berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. b. Kelima. Skala penilaian (rating scale). 4 = baik. seperti berpidato. dari aspek keterampilan berbicara. Cara seperti tetap ada manfaatnya. dengan tanpa membuat catatan. Penilaian diri merupakan suatu teknik penilaian di mana peserta didik diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan status. urutan dari kemampuan atau keerampilan peserta didik yang akan diamati. kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan oleh peserta didik untuk menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran. namun tidak cukup dianjurkan. Pertama. Guru menggunakan informasi dari memorinya untuk menentukan apakah peserta didik sudah berhasil atau belum. Teknik penilaian diri dapat digunakan untuk mengukur kompetensi kognitif. khususnya indikator esensial yang akan diamati.a.

Pertama. b. dan pengetahuannya. keterampilan. peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya. pengumpulan data. penyelidikan. dan lain-lain. Keempat. analisis. peserta didik memperoleh kesempatan untuk mengaplikasikan sikap. memberi makna atas informasi yang diperoleh. dan menulis laporan. a. setidaknya ada tiga hal yang memerlukan perhatian khusus dari guru. Keterampilan peserta didik dalam memilih topik. Penilaian proyek berfokus pada perencanaan. peserta didik diminta untuk menilai penguasaan pengetahuan dan keterampilan berpikir sebagai hasil belajar dari suatu mata pelajaran tertentu berdasarkan atas kriteria atau acuan yang telah disiapkan. mendorong. mengolah dan menganalisis. analisis data. Dalam kaitan ini serial kegiatan yang harus dilakukan oleh guru meliputi penyusunan rancangan dan instrumen penilaian. hasil karya Matematika – SMA/MA/SMK | 234 . dan penyajian data. dan penyiapkan laporan. pengorganisasian. atau narasi. membiasakan. peserta didik diminta untuk menilai kecakapan atau keterampilan yang telah dikuasainya oleh dirinya berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. pengolahan. Misalnya. Misalnya. Penilaian produk dimaksud meliputi penilaian atas kemampuan peserta didik menghasilkan produk.  2. pengerjaan. Kedua. menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik. seperti makanan. mencari dan mengumpulkan data. Penilaian ranah pengetahuan. Ketiga. penilaian proyek bersentuhan dengan aspek pemahaman. Karena itu. c. Penilaian proyek dapat menggunakan instrumen daftar cek. Teknik penilaian-diri bermanfaat memiliki beberapa manfaat positif. dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh peserta didik. mulai dari perencanaan. mengaplikasikan. Laporan penilaian dapat dituangkan dalam bentuk poster atau tertulis. keterampilan. pakaian. Penilaian produk dari sebuah proyek dimaksudkan untuk menilai kualitas dan bentuk hasil akhir secara holistik dan analitik. pada setiap penilaian proyek. Dengan demikian. Selama mengerjakan sebuah proyek pembelajaran. dan produk proyek. Penilaian ranah keterampilan. menumbuhkan semangat untuk maju secara personal. Penilaian Proyek Penilaian proyek (project assessment) merupakan kegiatan penilaian terhadap tugas yang harus diselesaikan oleh peserta didik menurut periode/waktu tertentu. Penyelesaian tugas dimaksud berupa investigasi yang dilakukan oleh peserta didik. Orijinalitas atas keaslian sebuah proyek pembelajaran yang dikerjakan atau dihasilkan oleh peserta didik. Kesesuaian atau relevansi materi pembelajaran dengan pengembangan sikap. pengumpulan data. skala penilaian. Produk akhir dari sebuah proyek sangat mungkin memerlukan penilaian khusus. dan melatih peserta didik berperilaku jujur.

dan lain-lain). keramik. lukisan. mandiri atau di bawah bimbingan guru menyusun portofolio pembelajaran. plastik. komposisi musik. d. guru bersama peserta didik membahas bersama dokumen portofolio yang dihasilkan. Informasi tersebut dapat berupa karya peserta didik dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik. f. Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu. hasil tes (bukan nilai). Guru atau guru bersama peserta didik menentukan jenis portofolio yang akan dibuat. Guru menghimpun dan menyimpan portofolio peserta didik pada tempat yang sesuai. dan karya logam. lukisan. Atas dasar penilaian itu. karet. disertai catatan tanggal pengumpulannya. c. Penilaian secara holistik merujuk pada apresiasi atau kesan secara keseluruhan atas produk yang dihasilkan. patung. Penilaian portofolio dilakukan dengan menggunakan langkah-langkah seperti berikut ini. atau informasi lain yang releban dengan sikap. Peserta didik. Penilaian Portofolio Penilaian portofolio merupakan penilaian atas kumpulan artefak yang menunjukkan kemajuan dan dihargai sebagai hasil kerja dari dunia nyata. dan pengetahuan yang dituntut oleh topik atau mata pelajaran tertentu. memerlukan refleksi peserta didik. dan dievaluasi berdasarkan beberapa dimensi. keterampilan. Misalnya. barang-barang terbuat dari kayu.seni (gambar.Fokus penilaian portofolio adalah kumpulan karya peserta didik secara individu atau kelompok pada satu periode pembelajaran tertentu. Guru menilai portofolio peserta didik dengan kriteria tertentu. kulit. baik sendiri maupun kelompok. 3. Memalui penilaian portofolio guru akan mengetahui perkembangan atau kemajuan belajar peserta didik. resensi buku/ literatur. puisi. Penilaian terutama dilakukan oleh guru. gambar. Penilaian secara analitik merujuk pada semua kriteria yang harus dipenuhi untuk menghasilkan produk tertentu. Jika memungkinkan. laporan penelitian. b. Guru memberi umpan balik kepada peserta didik atas hasil penilaian portofolio. foto. meski dapat juga oleh peserta didik sendiri. sinopsis. dan lain-lain. g. a. e. guru dan/atau peserta didik dapat melakukan perbaikan sesuai dengan tuntutan pembelajaran. surat. Matematika – SMA/MA/SMK | 235 . Guru menjelaskan secara ringkas esensi penilaian portofolio. kertas. hasil karya mereka dalam menyusun atau membuat karangan. Penilaian portofolio bisa berangkat dari hasil kerja peserta didik secara perorangan atau diproduksi secara berkelompok.

namun tetap terbuka memiliki kebenarann yang sama. Masing-masing sisi pandang ini akan melahirkan jawaban berbeda.. mengevaluasi. 6(2). dan uraian. Tes tertulis berbentuk uraian atau esai menuntut peserta didik mampu mengingat. mensintesis. Memilih jawaban dan mensuplai jawaban. peserta didik berkesempatan memberikan jawabannya sendiri yang berbeda dengan teman-temannya.. Tahapan Pengembangan dan Contoh. jawaban singkat atau pendek. 25(4).4. Tes tersulis berbentuk esai biasanya menuntut dua jenis pola jawaban. D. Tes semacam ini memberi kesempatan pada guru untuk dapat mengukur hasil belajar peserta didik pada tingkatan yang lebih tinggi atau kompleks. Tes tertulis terdiri dari memilih atau mensuplai jawaban dan uraian. Contextualizing Authentic Assessment. pilihan benar-salah. J. 177–194. dan pengetahuan peserta didik. 2005. Mensuplai jawaban terdiri dari isian atau melengkapi. dan sebab-akibat. dan sebagainya atas materi yang sudah dipelajari. Cumming. atau kelangkaan sumberdaya alam. (1999). Assessment in Education. J. ya-tidak. Hal ini sangat tergantung pada bobot soal yang diberikan oleh guru. Muslimin. namun tetap terbuka memperoleh nilai yang sama. Penilaian Tertulis Meski konsepsi asesmen autentik muncul dari ketidakpuasan terhadap tes tertulis yang lazim dilaksanakan pada era sebelumnya. Misalnya. Surabaya: UNESA University Press Anggota IKAPI Coutinho. Asesmen Berkelanjutan: Konsep dasar. mengorganisasikan. yaitu jawaban terbuka (extendedresponse) atau jawaban terbatas (restricted-response). Matematika – SMA/MA/SMK | 236 . 63–67. Performance assessment and children with disabilities: Issues and possibilities. memahami. Tes tertulis berbentuk uraian sebisa mungkin bersifat komprehentif. (1993). & Malouf. menganalisis. rendahnya keterampilan. keterampilan. sehingga mampu menggambarkan ranah sikap. G. asalkan analisisnya benar. menjodohkan. Daftar Pustaka Ibrahim. & Maxwell. Pada tes tertulis berbentuk esai. peserta didik tertentu melihat fenomena kemiskinan dari sisi pandang kebiasaan malas bekerja. Memilih jawaban terdiri dari pilihan ganda. S. Teaching Exceptional Children. penilaian tertulis atas hasil pembelajaran tetap lazim dilakukan. M. menerapkan.

& Jacob. (2004). & Ysseldyke. Assessment in special and inclusive education (9th ed. Grisham-Brown.). R. 75(3). Action in Teacher Education. Nyoman. (2002). Phi Delta Kappan. 34(1). New York: Houghton Mifflin. Salvia. J. 28–34.. Wiggins. 45–51. S. L. Early Childhood Education Journal.. Hallam. E. R. 200 – 214. Hakikat Asesmen Otentik Sebagai Penilaian Proses Dan Produk Dalam Pembelajaran Yang Berbasis Kompetensi (Makalah disampaikan pada In House Training (IHT) SMA N 1 Kuta Utara). 2008. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha Gatlin. Using authentic assessment to evidence children's progress toward early learning standards. Matematika – SMA/MA/SMK | 237 . 23(4). (1993). (2006). Assessment: Authenticity.Dantes.. & Brookshire. context and validity. Standards-based digital portfolios: A component of authentic assessment for preservice teachers.. J. G. J.

Walaupun hal ini tidak sepenuhnya salah. karena tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan kemampuan yang sudah mereka miliki. (iii). Prinsip pertama: Asesmen harus ditujukan untuk meningkatkan kualitas belajar dan pengajaran. Karena kemampuan berpikir tingkat tinggi lebih sulit untuk diases. kelima prinsip tersebut adalah sebagai berikut: (i).HO-2. Jadi penilaian bukan sekedar untuk menentukan rangking atau skor siswa yang pada akhirnya justru dapat menjadi penghalang bagi peningkatan kualitas belajar. akan tetapi yang terpenting adalah adanya balikan tentang proses belajar yang telah terjadi. Jika pendekatan negatif yang cenderung digunakan. Prinsip kedua: Metode asesmen harus dirancang sedemikian rupa sehingga memungkinkan siswa mampu mendemonstrasikan apa yang mereka ketahui bukan mengungkap apa yang tidak diketahui. Makna yang sebenarnya dari asesmen tidak hanya menyangkut penyedian informasi tentang hasil belajar dalam bentuk nilai. Walaupun ide ini bukan hal yang baru. Pengantar Dalam proses pembelajaran. maka siswa akan kehilangan rasa percaya diri. Berdasarkan pengalaman asesmen sering diartiakan sebagai upaya untuk mengungkap aspek-aspek yang belum diketahui siswa. melainkan harus mencakup ketiga tingkatan asesmen. tetapi pendekatan yang digunakan lebih bersifat negatif. yaitu: rendah. (ii). menengah dan tinggi. Asesmen seringkali dipandang sebagai produk akhir dari suatu proses pembelajaran yang tujuan utamanya untuk memberikan penilaian bagi masing-masing siswa.3-2 CONTOH PENERAPAN PENILAIAN AUTENTIK DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA A. Menurut de Lange (dalam Tatang Herman) terdapat lima prinsip utama yang melandasi asesmen dalam pembelajaran. akan tetapi maknanya sering disalahartikan dalam proses belajar mengajar. Matematika – SMA/MA/SMK | 238 . maka seperangkat alat asesmen harus mencakup berbagai variasi yang bisa secara efektif mengungkap kemampuan yang dimiliki siswa. penilaian (asesmen) merupakan bagian yang sangat penting dan tidak bisa lepas dari kegiatan pembelajaran itu sendiri. Sejatinya tujuan penilaian adalah untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas belajar siswa. Dengan demikian alat asesmen yang digunakan tentunya tidak hanya mencakup tingkatan tertentu saja. Tambahan lagi bahwa penilaian bukan akhir dari pembelajaran tapi yang paling utama adalah balikan dari proses belajar yang telah berlangsung. Prinsip ketiga: Asesmen harus bersifat operasional untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran.

penilaian adalah proses pengumpulan berbagai informasi yang dapat memberikan gambaran sebenarnya tentang perkembangan belajar siswa. Artinya.(iv). proses dan keluaran (output) pembelajaran b.66 tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan disebutkan bahwa penilaian hasil peserta didik didasarkan prinsip objektif. Prinsip kelima: Alat asesmen hendaknya bersifat praktis. ekonomis. (v). pengalaman menunjukkan bahwa tugas-tugas yang ada didalamnya memiliki banyak keunggulan. keterampilan. Walaupun untuk menyusun alat asesmen dengan tingkatan tinggi lebih sulit. diantaranya adalah a. akuntabel dan edukatif. guru segara bisa mengambil langkah yang tepat. dan pengetahuan Matematika – SMA/MA/SMK | 239 . Salah satu keunggulannya siswa memiliki kebebasan untuk mengekspresikan ide-idenya sehingga jawaban yang diberikan mereka biasanya sangat bervariasi. Selain itu guru dimungkinkan untuk melihat secara mendalam proses berpikir yang digunakan siswa dalam menyelesaikan masalah yang diberikan. Dengan demikian konstruksi tes dapat disusun dengan format yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan serta pencapaian tujuan yang ingin diungkap. Konsep ini sesungguhnya mempunya core bahwa kemajuan belajar itu diperlukan selama proses pembelajaran. transparan. Penilaian autentik merupakan penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai mulai dari masukan (input). Kaitannya dengan pengertian ada beberapa definisi mengenai penilaian autentik. Sehingga penilaian tidak hanya dilakukan di akhir periode pembelajaran tetapi dilakukan bersama (simultan) dan merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dalam pembelajaran. Gambaran perkembangan belajar siswa ini perlu diketahui oleh guru agar bisa menentukan tindakan selanjutnya disamping memastikan bahwa siswa telah mengalami pembelajaran dengan benar. jika ada tanda-tanda siswa mengalami kemacetan dalam belajar. terpadu. Akibat dari penerapan pandangan ini adalah bahwa suatu alat asesmen hanya terdiri atas sejumlah soal dengan tingkatan rendah yang memudahkan dalam melakukan penskoran. Penilaian autentik adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap. Prinsip keempat: Kualitas alat asesmen tidak ditentukan oleh mudahnya pemberian skor secara objektif. Terkait dengan konsep penilaian autentik. Umumnya pemberian skor secara objektif bagi setiap siswa menjadi faktor yang sangat dominan manakala dilakukan asesmen terhadap kualitas suatu tes. Sementara itu dalam Permendikbud No.

keterampilan dan sikap dengan berbagai cara. perekaman dan pendokumentasian karya (apa yang dilakukan anak dan bagaimana hal itu dilakukan) sebagai dasar penentuan keputusan yang dapat menuju pada pembentukan anak sebagai individual learner (pembelajar mandiri). membuktikan atau menunjukkan secara tepat bahwa tujuan pembelajaran telah benar-benar dikuasai dan dicapai. Dari berbagai pendefinisian diatas ada satu benang merah yang mengaitkan ketiganya yaitu penilaian yang mengutamakan perolehan fakta aktual (pada saat itu) tentang pengetahuan. Penilaian autentik adalah proses pengumpulan informasi oleh guru tentang perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik melalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan. Dibawah ini adalah gambaran penilaian autentik dibanding penilaian tradisional Penilaian autentik komprehensif Penilaian tradisional Matematika – SMA/MA/SMK | 240 . d. e. Penilaian autentik merupakan proses pengamatan. pada saat/setelah kegiatan pembelajaran berlangsung. dan menjadi bagian tak terpisahkan dari pembelajaran.c. Penilaian autentik adalah penilaian yang dilakukan menggunakan beragam sumber.

Kemudian diberikan soal/instrumen untuk menilai sebagai berikut. Penilaian autentik dalam matematika Seperti penjelasan terdahulu. Ternyata ada dua siswa yang memilih jawaban yang benar (Jawaban: E). penilaian tradisional yang selama ini kita terapkan tidak akan menggambarkan kompetensi atau kualitas belajar siswa. SISWA 1 SISWA 2 Jelas bahwa siswa 1 tidak memahami cara menyelesaikan persamaan linear karena dia hanya menerapkan prin ip “a al ama dicoret” ementara siswa 2 amat paham proses penyelesaian per amaan linear. namun sebenarnya mereka mengerjakan dengan cara yang sangat berbeda.B. Dari contoh ter ebut terlihat sangat nyata kelemahan penilaian dengan instrumen pilihan ganda seperti di atas yang tidak melihat proses pengerjaan. Terlihat adanya upaya ‘i ola i’ variabel di rua kiri. dimana kedua siswa terjaring (oleh penilaian tradisional) sebagai berkemampuan sama padahal sejatinya sangat berbeda. Matematika – SMA/MA/SMK | 241 . kita ingin mengetahui kompetensi siswa dalam belajar (memahami) solusi persamaan linear. Sebagai contoh.

benarsalah. disertai rubric Instrumen Daftar cek/skala penilaian (rating scale) yang Matematika – SMA/MA/SMK | 242 . Aspek a. dan uraian. Penilaian kompetensi sikap Teknik  Observasi  Penilaian diri  Penilaian antar peserta didik  Jurnal b. pengetahuan. Teknik dan instrumen yang digunakan untuk penilaian kompetensi sikap. menjodohkan. sikap dan keterampilan dari semua bidang.Aspek penilaian autentik Semangat kurikulum sekarang mengamanatkan bahwa kompetensi harus meliputi tiga ranah. penilaian kompetensi pengetahuan  Tes lisan  Penugasan  tes tulis Soal pilihan ganda. dan keterampilan sebagai berikut. penilaian kompetensi ketrampilan  praktik  proyek  praktik Daftar cek/skala penilaian (rating scale) yang disertai rubrik Instrumen uraian dilengkapi pedoman penskoran. Secara khusus aspek yang akan dimunculkan dalam untuk mengetahui kualitas belajar matematika adalah (1) pemahaman konsep matematika. Oleh karena itu perlu adanya jabaran mengenai aspek penilaian autentik dalam matematika. jawab singkat. yaitu pengetahuan. (2) keterampilan matematika. isian. Daftar pertanyaan pekerjaan rumah dan/atau projek yang dikerjakan secara individu atau kelompok sesuai dengan karakteristik tugas c. (3) kemampuan pemecahan masalah dan (4) sikap matematis Teknik dan instrumen dalam penilaian autentik Berbagai macam cara untuk memperoleh informasi kemampuan atau kualitas belajar siswa dalam rangka penilaian autentik.

Oleh karena penilaiannya setelah Matematika – SMA/MA/SMK | 243 . 3. Tugas Gambaran mengenai perkembangan kualitas belajar matematika dapat dilihat dari tugas yang diselesaikan. 2. Tanya jawab Wujud dari tanya jawab ini boleh saja berupa kegiatan presentasi oleh siswa atau tanya jawab secara personal. karena untuk menentukan nilai dia melakukan pengerjaan: Alfa Trigono Gamma . namun dengan dipersiapkan secara nyata akan lebih membantu dalam melakukan pengamatan. Tugas dapat dapat dikaitkan dengan fenomena lingkungan atau bisa juga murni mengenai konsep yang ada di matematika. Contoh dari hasil pengamatan kelas didapatkan Nama Siswa Jabar Hasil Pengamatan Jabar tidak begitu menanggapi jika ditanya teman sebangkunya Alfa tidak memahami pencoretan dalam persamaan. Pengamatan langsung (observasi) Sesungguhnya pengamatan langsung ini sering kita lakukan dalam kegiatan pembelajaran.. walaupun sekedar menyiapkan catatan.. dst Trigono sering keliru dalam mengalikan dan menjumlah kan pecahan Gamma berpikirnya divergen dan sangat terampil dalam menggunakan jangka.Berikut ini contoh penilaian autentik: 1.

Sayangnya tes seperti biasanya berujung pada penyekoran. tes dilakukan setelah proses pembelajaran atau kegiatan selesai. sehingga cenderung mangabaikan proses. 5. Penutup Kegiatan yang tidak bisa dipisahkan dari proses pembelajaran adalah penilaian. Selain itu portofolio dapat digunakan oleh siswa untuk melihat perkembangan yang terjadi terhadap dirinya dalam kurun waktu tertentu. Portofolio merupakan sumber data yang sangat baik bagi guru. Pragmatis penyekoran sering sebagai pertimbangan. Pada kenyataannya. dan sebagainya. catatan guru. Penilaian autentik hakekatnya adalah menggali informasi sebenarnya Matematika – SMA/MA/SMK | 244 . Untuk memberikan ruang bagi penilaian autentik maka pilihan ganda perlu ditambah dengan cara pengerjaan. Penilaian haruslah tertuju pada peningkatan kualitas belajar siswa dan kualitas pembelajaran. Tes Sesuai dengan penjelasan sebelumnya. 4. laporan. Portofolio Bahasa sederhana dari potofolio adalah kumpulan pekerjaan yang telah dilakukan oleh siswa. Misalnya siswa diminta mengukur tinggi tiang bendera dengan menggunakan identiitas trigonometri. model pilihan ganda yang paling banyak digunakan. Oleh karena itu setiap portofolio harus diberi catatan tanggal penyusunannya Untuk menjamin penilaian benar-benar faktual maka perlu adanya kombinasi dari berbagai teknik di atas C.tugas diselesaikan maka akan sangat bagus jika dikombinasikan dengan teknik lainnya misalnya dengan wawancara. Di dalamnya bisa termasuk tugas. hasil tes.

Prof.html diakses 17 Februari 2013 http://www. Jakarta Sudarwan. Referensi Kemdikbud. Makalah pada Workshop Kurikulum. (2013). Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2013 Tentang Standar Penilaian Pendidikan.vn diakses 17 Februari 2013 Matematika – SMA/MA/SMK | 245 .edu. (2013). Asesmen Otentik. Tetapi perlu dicatat bahwa penilaian autentik bukan refleksi dari kemampuan yang telah dimiliki melainkan refleksi terhadap kemampuan yang dapat dikembangkan. .(_____).eduplace. Jurusan Pendidikan Matematika http://www. Jakarta Tatang Herman.ntu. Asesmen dalam Pembelajaran Matematika..com/rdg/res/litass/auth.tentang kemampuan siswa dalam belajar.

dan kedalaman materi. kecukupan. Diskusi Kelompok Diskusi kelompok hasil penilaian buku dilanjutkan dengan pemaparan materi Analisis Buku Guru dan Buku Siswa dengan menggunakan PPT-2.4-2.Materi Pelatihan : 2.4 Analisis Buku Guru dan Buku Siswa Langkah Kegiatan Inti Menilai Buku Diskusi Kelompok Menyimpulkan Hasil Kerja Kelompok 20 Menit 80 Menit 20 Menit 40 Menit Menyimpulkan Presentasi Kerja Kelompok Diskusi Kelompok 15 Menit 30 Menit 30 Menit 30 Menit Menilai Buku Peserta menilai buku dengan bimbingan fasilitator dilihat dari aspek kesesuaian.4 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut. Simpulan Menyimpulkan hasil diskusi dan menyampaikan format lembar kerja yang telah disiapkan. Matematika – SMA/MA/SMK | 246 . KI.4-1 dan LK -2. dan KD dengan menggunakan LK-2. Kerja Kelompok Kerja kelompok menganalisis kesesuaian buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL.

pendekatan belajar. serta strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam buku.Diskusi Kelompok Diskusi kelompok untuk menganalisis kesesuaian proses. Presentasi Presentasi hasil kerja masing-masing kelompok. Matematika – SMA/MA/SMK | 247 . Kerja Kelompok Kerja kelompokmembuat contoh-contoh penerapan materi pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari. Simpulan Fasilitatormenyimpulkan materi analisis buku.

Matematika – SMA/MA/SMK | 248 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 249 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 250 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 251 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 252 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 253 .

KI. Cermatilah buku siswa yang sesuai dengan materi ajar yang Anda ampu! 5. Lakukanlah analisis terhadap buku tersebut dengan menggunakan format yang tersedia! 6. 3. Tujuan 1. Menganalisis kesesuaian isi buku siswa dengan SKL. Matematika – SMA/MA/SMK | 254 . b. Siapkan SKL. Memahami strategi menggunakan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. Kerjakanlah secara berkelompok! 2.4-1 LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU GURU PETUNJUK PENGISIAN LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU GURU Kompetensi 1. Menganalisis buku guru dan buku siswa dilihat dari aspek kecukupan dan kedalaman materi. tuliskan tindak lanjut hasil analisis sebagai berikut! a. buku bisa digunakan dalam pembelajaran. Merencanakan tindak lanjut dari hasil analisis . Menganalisis kesesuaian isi buku dengan konsep pendekatan scientificdan penialain autentik. dan KD. Menganalisis kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. KI dan KD sesuai jenjang pendidikan dan mata pelajaran! 4. Berdasarkan hasil analisis. 4. Menganalisis keterpaduan antar mata pelajaran atau antar konsep/topik. Pelajari format Analisis Buku Sswa! 3. Jika kurang/tidak sesuai. Anda disarankan untuk memberikan rekomendasi tindak lanjut yang harus dikerjakan guru sebagai pengguna buku guru tersebut.LK–2. Panduan Kegiatan 1. 2. KI dan KD. 3. 2. Jika sesuai dengan kebutuhan.

..... ASPEK YANG DIANALISIS Kesesuaian dengan SKL Kesesuaian dengan KI Kesesuaian dengan KD Kesesuaian dengan Topik Kecukupan materi ditinjau dari: a..... Kedalaman materi ditinjau dari: a..........LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU GURU Judul buku Kelas Jenjang Tema/Topik : ............................................ : ........................ 1... 4......................... 2.................................... HASIL ANALISIS NO....... Karakteristik siswa 7.............. : ................................... dan b........ cakupan konsep/materi esensial. 6......................................... Pola pikir keilmuan........................... Penerapan Pendekatan Scientific Penilaian Autentik yang Tersedia dalam Buku Siswa TIDAK SESUAI SESUAI SEBAGIAN SESUAI TINDAK LANJUT HASIL ANALISIS 8................ Matematika – SMA/MA/SMK | 255 ............................. dan b......... 5.......................... : ................................... 3...... alokasi waktu...........

3. Menganalisis kesesuaian isi buku dengan konsep pendekatan scientificdan penialain autentik. Jika sesuai dengan kebutuhan. 4. Merencanakan tindak lanjut dari hasil analisis . dan KD.4-2 LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU SISWA PETUNJUK PENGISIAN LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU SISWA Kompetensi 1. KI. KI dan KD sesuai jenjang pendidikan dan mata pelajaran! 4. Berdasarkan hasil analisis. b. Matematika – SMA/MA/SMK | 256 . Menganalisis keterpaduan antar mata pelajaran atau antar konsep/topik. Anda disarankan untuk memberikan rekomendasi tindak lanjut yang harus dikerjakan guru sebagai pengguna buku guru tersebut. Kerjakanlah secara berkelompok! 2. Siapkan SKL. Cermatilah buku siswa yang sesuai dengan materi ajar yang Anda ampu! 5. buku bisa digunakan dalam pembelajaran. Jika kurang/tidak sesuai. KI dan KD. Menganalisis kesesuaian isi buku siswa dengan SKL. 2. Menganalisis kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. Pelajari format Analisis Buku Sswa! 3. Menganalisis buku guru dan buku siswa dilihat dari aspek kecukupan dan kedalaman materi.LK–2. 3. 2. Panduan Kegiatan 1. Lakukanlah analisis terhadap buku tersebut dengan menggunakan format yang tersedia! 6. Tujuan 1. tuliskan tindak lanjut hasil analisis sebagai berikut! a. Memahami strategi menggunakan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran.

..................... cakupan konsep/materi esensial...... 4................. ASPEK YANG DIANALISIS Kesesuaian dengan SKL Kesesuaian dengan KI Kesesuaian dengan KD Kesesuaian dengan Topik Kecukupan materi ditinjau dari: c............. Pola pikir keilmuan. dan d........... 5....................... Kedalaman materi ditinjau dari: c........ : ................................ dan d.............. 2....................................... 6............................................................. Karakteristik siswa 7........ HASIL ANALISIS NO.......................... 1..................... alokasi waktu.................... 3...... Penerapan Pendekatan Scientific Penilaian Autentik yang Tersedia dalam Buku Siswa TIDAK SESUAI SESUAI SEBAGIAN SESUAI TINDAK LANJUT HASIL ANALISIS 8......LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU SISWA Judul buku Kelas Jenjang Tema/Topik : ...... Matematika – SMA/MA/SMK | 257 ...... : ....... : .................................................................

1. Matematika – SMA/MA/SMK | 258 . tindak lanjut logis Hasil analisis kurang tepat. Cermati format penilaian analisis buku guru atau buku siswa serta hasil analisis peserta yang akan dinilai! 2.R–2. jumlahkan nilai seluruh komponen sehingga menghasilkan nilai hasil analisis buku guru/siswa. tindak lanjut tidak logis 3. Setelah selesai penilaian masing-masing komponen. tindak lanjut kurang logis Hasil analisis kurang tepat. Langkah-langkah penilaian hasil analisis.4 RUBRIK PENILAIAN HASIL ANALISIS BUKU GURU DAN SISWA Rubrik penilaian analisis buku guru dan buku siswa digunakan fasilitator untuk menilai hasil analisis peserta terhadap buku guru dan buku siswa sesuai dengan mata pelajaran yang diampu. Berikan nilai pada setiap aspek yang dianalisis sesuai dengan penilaian Anda terhadap hasil analisis peserta menggunakan rentang nilai sebagai berikut! PERINGKAT Amat Baik ( AB) Baik (B) Cukup (C) Kurang (K) NILAI 90 < A ≤ 100 75 ≤ B < 90 60 ≤ C < 80 < 70 KRITERIA Hasil analisis tepat. tindak lanjut logis dan bisa dilaksanakan Hasil analisis tepat.

1.MATERI PELATIHAN 3 : MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN (8 JP) 3. Penyusunan RPP 3.2. Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Matematika – SMA/MA/SMK | 259 .

Menelaah rancangan penilaian autentik pada proses dan hasil belajar yang ada dalam RPP. Menunjukkan sikap tanggung jawab dan kreatif dalam menyusun RPP. Merevisi rancangan penilaian pada RPP yang telah disusun. Mengidentifikasi rambu-rambu penyusunan RPP.MATERI PELATIHAN 3: MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN A. INDIKATOR 1. 2. KOMPETENSI Peserta pelatihan dapat: 1. 3. PERANGKAT PELATIHAN 1. KI dan KD. 2. dan merancang penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. menyusun RPP yang menerapkan pendekatan scientific sesuai model belajar yang relevan dengan mempertimbangkan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik. Rambu-rambu Penyusunan RPP mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan scientific dengan mengggunakan PPT-3. Panduan tugas telaah RPP. Panduan tugas menelaah rancangan penilaian pada RPP. c. 6. C. sosial. 5. Menyusun RPP yang sesuai dengan SKL. moral. LINGKUP MATERI 1. emosional. 3. Menelaah contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran. kultural. Menelaah RPP. 4. 2.1 oleh fasilitator yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut. Mengidentifikasi kaidah perancangan penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. 2. Menunjukkan sikap tanggung dan kreatif dalam menyusun rancangan penilaian autentik. b. Bahan Tayang a. Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar. 8. dan pendekatan scientific. B. Standar Proses. 7. 9. maupun intelektual. Penyusunan RPP. D. Lembar KerjaTelaah RPP ATK Matematika – SMA/MA/SMK | 260 .

dan KD. dan pendekatan scientific (terutama KD di awal semester 1). seperti LCD Projector. 205 Menit 15 menit 10 Menit 40 Menit 80 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 261 . dilanjutkan dengan paparan materi tentang Rambu-rambu Penyusunan RPP Mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan scientific dengan mengggunakan PPT-3.1. dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Model Rancangan Pembelajaran. WAKTU KEGIATAN PENDAHULUAN 15 Menit KEGIATAN INTI 3. tujuan.1. Kerja kelompok untuk menyusun RPP yang sesuai dengan SKL. MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN 8 JP (@45 MENIT) SMA/MA.SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: TAHAPAN KEGIATAN PERSIAPAN 3. Standar Proses.1 Penyusunan RPP Saling menilai RPP yang dibawa setiap peserta. Diskusi rambu-rambu penyusunan RPP yang mengacu pada Standar Proses dan pendekatan scientific. kompetensi. File. Pengkondisian Peserta Perkenalan Fasilitator menjelaskan nama. SMK/MAK MATEMATIKA DESKRIPSI KEGIATAN Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran. Active Speaker. indikator. atau media pembelajaran lainnya.1 dan Panduan Tugas Telaah RPP dengan menggunakan PPT-3. antusias. KI.2 oleh fasilitator yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut. dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung. dan Laser Pointer. Menyimpulkan hasil penilaian RPP dengan dipandu oleh fasilitator. Fasilitator memotivasi peserta agar serius. Laptop. alokasi waktu. teliti.

Kerja kelompok untuk menelaah dan merevisi rancangan penilaian autentik pada RPP yang telah disusun berdasarkan panduan tugas menelaah rancangan penilaian Presentasi hasil kerja kelompok (sampel) ICE BREAKER KEGIATAN PENUTUP Membuat rangkuman materi pelatihan Model Rancangan Pembelajaran. ICE BREAKER 3.2.2. Fasilitator menutup pembelajaran 20 Menit 35 menit 5 Menit 120 Menit 40 Menit 30 Menit 60 Menit 10 Menit 5 Menit 15 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 262 .1/3.2 serta Panduan Tugas Menelaah Rancangan Penilaian pada RPP yang tealh dibuat dengan menggunakan PPT-3.2 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut. Kerja Kelompok untuk menelaah RPP yang disusun kelompok lain dengan menggunakan LK-3.2/3. Kerja kelompok untuk menelaah contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Matematika menggunakan HO-2.2.2/3. Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran.2 Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Diskusi dan tanya jawab tentang penilaian autentik dalam bentuk tes dan nontes termasuk portofolio. Fasilitator mengingatkan peserta agar membaca referensi yang relevan.Diskusi format telaah RPP dengan mengacu pada bahan tayang PPT-3. dilanjutkan dengan pemaparan oleh fasilitator tentang Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran Matematika menggunakan PPT 2.1.

1: Penyusunan RPP Langkah Kegiatan Inti Tugas Individu: Saling Menilai RPP Menyimpulkan Hasil Penilaian RPP Diskusi 15 Menit 10 Menit 40 Menit Kerja Kelompok Diskusi Kerja Kelompok 35 Menit 20 Menit 80 Menit Aktivitas 1: Menilai RPP Menilai RPP Peserta Lain a. Peserta menyimpulkan hasil penilaian RPP dengan dipandu oleh Instruktur.Materi Pelatihan 3. b. Setiap peserta diwajibkan membawa dua set RPP yang telah digunakan dalam proses pembelajaran sesuai mata pelajaran yang diampu. Hasil penilaian dituliskan langsung pada halaman depan RPP. Instruktur mencatat hasil penilaian yang dilaporkan peserta. RPP tersebut dikumpulkan kepada panitia untuk kemudian dibagikan kembali ke peserta untuk dinilai oleh peserta lainnya dengan menggunakan acuan pengetahuan masing-masing peserta. c. Diskusi rambu-rambu penyusunan RPP yang mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan Scientific. Hasil penilaian dipresentasikan oleh peserta yang ditunjuk instruktur. Matematika – SMA/MA/SMK | 263 . Peserta lainnya menyampaikan hasil penilaian yang tidak sama dengan peserta lainnya.

Matematika – SMA/MA/SMK | 264 . dan KD.2. Aktivitas 2: Kerja Kelompok Kerja kelompok untuk menyusun RPP yang sesuai dengan SKL. KI.Paparan materi tentang Rambu-rambu Penyusunan RPP mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan scientific dengan mengggunakan PPT-3.1/3.1 oleh fasilitator yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut.1. Standar Proses. dan pendekatan scientific (terutama KD di awal semester 1). Aktivitas 3: Kerja Kelompok Kerja Kelompok untuk menelaah RPP yang disusun kelompok lain dengan menggunakan LK-3. Diskusi format telaah RPPdengan mengacu pada bahan tayang PPT-3.

Matematika – SMA/MA/SMK | 265 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 266

Matematika – SMA/MA/SMK | 267

Matematika – SMA/MA/SMK | 268

HO-3.1-2

CONTOH RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Satuan Pendidikan Kelas/Semester Mata Pelajaran Topik Waktu : SMA : X/2 : Matematika-Wajib : Trigonometri : 2 × 45 menit

A. Kompetensi Inti SMA kelas X: 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya 2. Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia 3. Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. 4. Mengolah, menalar, menyaji, dan mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan. B. Kompetensi Dasar 2.1 Menunjukkan sikap senang, percaya diri, motivasi internal, sikap kritis, bekerjasama, jujur dan percaya diri dalam menyelesaikan berbagai permasalahan nyata. 2.2 Memiliki sikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif 3.17Memahami dan menentukan hubungan perbandingan Trigonometri dari sudut di setiap kuadran, memilih dan menerapkan dalam penyelesaian masalah nyata dan matematika 4.7 Memanfaatkan informasi dari suatu permasalahan nyata, membuat model berupa fungsi dan persamaan Trigonometri serta menggunakannya dalam menyelesaikan masalah. C. Indikator Pencapaian Kompetensi 1. Terlibat aktif dalam pembelajaran trigonometri. 2. Bekerjasama dalam kegiatan kelompok. 3. Toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif.
Matematika – SMA/MA/SMK | 269

4. Menjelaskan kembali pengertian fungsi trigonometri pada segitiga siku-siku dengan menggunakan istilah absis, ordinat, dan jari-jari pada sumbu koordinat. 5. Menyatakan kembali hubungan nilai fungsi trigonometri di kuadran II, III, dan IV dengan perbandingan trigonometri di kuadran I. 6. Terampil menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran. D. Tujuan Pembelajaran Dengan kegiatan diskusi dan pembelajaran kelompok dalam pembelajaran trigonometri inii diharapkan siswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran dan bertanggungjawab dalam menyampaikan pendapat, menjawab pertanyaan, memberi saran dan kritik, serta dapat 1. Menjelaskan kembali pengertian fungsi trigonometri pada segitiga siku-siku dengan menggunakan istilah absis, ordinat, dan jari-jari pada sumbu koordinat kartesius secara tepat, sistematis, dan menggunakan simbol yang benar. 2. Menyatakan kembali hubungan nilai fungsi trigonometri di kuadran II, III, dan IV dengan perbandingan trigonometri di kuadran I secara tepat dan kreatif. E. Materi Matematika 1. Mengingat kembali mengenai perbandingan trigonometri, fungsi trigonometri, besar sudut (tumpul dan refleks), dan koordinat kartesian. Dengan domain { : 0o    90o}, fungsi trigonometri didefinisikan lewat perbandingan trigonometri, sbb. sin  = (panjang sisi di depan sudut ) / panjang hipotenusa cos  = (panjang sisi di samping sudut ) / panjang hipotenusa tan  = (panjang sisi di depan sudut ) / (panjang sisi di samping sudut ) sec  = 1/cos  csc  = 1/sin  cot  = 1/tan  Sudut telah didefinisikan sebagai bangun geometri yang dibentuk oleh dua sinar bertitik pangkal sama. Dengan definisi tsb, dikenal beberapa macam sudut berdasarkan besarnya, sbb. sudut nol :  = 0o sudut lancip : 0o    90o sudut siku-siku: :  = 90o sudut tumpul : 90o    180o sudut lurus :  = 180o sudut refleks : 180o    360o

Matematika – SMA/MA/SMK | 270

Bidang datar berdasarkan sistem koordinat kartesian terbagi ke dalam 4 region/daerah: kuadran I, kuadran II, kuadran III, dan kuadran IV. Kuadran I Kuadran II Kuadran III Kuadran IV : : : : absis dan ordinat positif absis negatif, ordinat positif absis dan ordinat negatif absis positif, ordinat negatif
II III I IV

2. Perluasan definisi fungsi trigonometri dari perbandingan sisi-sisi segitiga siku-siku menjadi perbandingan absis, ordinat dan jari-jari. Beberapa pertanyaan penggugah:  Apakah perbandingan trigonometri pada segitiga siku-siku, dapat mendefinisikan fungsi trigonometri untuk sudut 90o?  Apakah perbandingan trigonometri pada segitiga siku-siku, juga dapat mendefinisikan fungsi trigonometri untuk sudut di atas 90o, misalnya kosinus dari 120o?  Dapatkah kita memperluas definisi fungsi trigonometri menggunakan cara lain (yang tidak bertentangan dengan definisi perbandingan trigonomeri pada segitiga siku-siku)? Jika titik sudut ditempatkan pada titik pusat sumbu koordinat kartesian dan salah satu kaki sudut berimpit dengan sumbu x positif, serta daerah interior sudut terletak pada kuadran I maka posisi yang demikian disebut posisi standar (baku) sudut tsb. Pada posisi standar maka perbandingan sisi-sisi pada segitiga siku-siku dapat diganti menjadi perbandingan absis, ordinat dan jari-jari. panjang sisi di depan sudut diganti menjadi ordinat panjang sisi di samping sudut diganti menjadi absis hipotenusa segitiga siku-siku diganti menjadi jari-jari Jadi, sin  = ordinat / jari-jari cos  = absis / jari-jari tan  = ordinat / absis c

b a

P(x,y) r

O
Matematika – SMA/MA/SMK | 271

b c a cos  = c b tan  = a

sin  =

y r x cos  = r y tan  = x

sin  =

3. Hubungan nilai fungsi trigonometri di kuadran II, III, dan IV dengan nilai fungsi trigonometri di kuadran I. Jika pada posisi standar, salah satu kaki sudut berada di kuadran II maka sudut tsb kita namakan sudut di kuadran II. Pengertian yang sama untuk konsep sudut di kuadran II, dan sudut di kuadran IV.

Berdasarkan definisi fungsi trigonometri berdasarkan absis, ordinat dan jari-jari maka nilai fungsi trigonometri untuk sudut-sudut di kuadran II, II, dan IV sebagai berikut. Misalkan 0o    90o maka Kuadran II (sudut (180o   ) atau (90o +  ) di kuadran II) sin (180o   ) = sin  atau sin (90o +  ) = cos  cos (180o   ) = cos  atau cos (90o +  ) = sin  tan (180o   ) = tan  atau tan (90o +  ) = cot  Kuadran III (sudut (180o +  ) atau (270o   ) di kuadran III) sin (180o +  ) = sin  atau sin (270o   ) = cos  cos (180o +  ) = cos  atau cos (270o   ) = sin  tan (180o +  ) = tan  atau tan (270o   ) = cot  Kuadran IV (sudut (360o   ) di kuadran IV) sin (360o   ) = sin  atau sin (270o +  ) = cos  cos (360o   ) = cos  atau cos (270o +  ) = sin 
Matematika – SMA/MA/SMK | 272

tan (360o   ) = tan 

atau

tan (270o +  ) = cot 

Tampak bahwa  Pada kuadran II hanya nilai sinus yang positif, pada kuadran III hanya nilai tangen yang positif, dan pada kuadran IV hanya nilai kosinus yang positif.  Untuk relasi sudut yang jumlah atau selisihnya merupakan kelipatan 180 o maka jenis fungsi trigonometrinya tidak berubah.  Untuk relasi sudut yang jumlah atau selisihnya merupakan kelipatan 90 o maka jenis fungsi trigonometrinya berbeda saling komplementer. (sinus dengan kosinus, tangen dengan kotangen). F. Model/Metode Pembelajaran Pendekatan pembelajaran adalah pendekatan saintifik (scientific). Pembelajaran koperatif (cooperative learning) menggunakan kelompok diskusi yang berbasis masalah (problem-based learning).

G. Kegiatan Pembelajaran Kegiatan Pendahuluan Deskripsi Kegiatan Alokasi Waktu

1. Guru memberikan gambaran tentang pentingnya 10 menit memahami Trigonometri dan memberikan gambaran tentang aplikasi Trigonometri dalam kehidupan seharihari. 2. Sebagai apersepsi untuk mendorong rasa ingin tahu dan berpikir kritis, siswa diajak memecahkan masalah mengenai bagaimana mendapatkan nilai sinus sudut 90 o dan nilai sinus sudut di atas 90o, misalnya 120o. (tidak terpecahkan bila menggunakan definisi menggunakan sisi-sisi pada segitiga siku-siku). 3. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai yaitu memperluas definisi fungsi trigonometri agar nilai fungsi trigonometri dapat diperoleh untuk besar sudut 0o, 90o, sudut tumpul dan sudut refleks. 1. Guru bertanya tentang bagaimana mengaitkan sisi-sisi 70 menit pada segitiga siku-siku dengan koordinat pada sumbu koordinat kartesius. 2. Bila siswa belum mampu menjawabnya, guru memberi scaffolding dengan mengingatkan siswa dengan sudut sebagai besar putaran. 3. Dengan tanya jawab, disimpulkan bahwa pada kuadran I, istilah panjang sisi di depan sudut dapat diganti
Matematika – SMA/MA/SMK | 273

Inti

4.

5.

6. 7.

8.

9.

10. 11.

12.

13. Penutup

ordinat, panjang sisi di samping sudut diganti absis, dan hipotenusa diganti jari-jari. Dengan tanya jawab, siswa diyakinkan bahwa definisi menggunakan absis, ordinat, dan jari-jari ini lebih luas dari pada definisi menggunakan sisi-sisi segitiga sikusiku. Selanjutnya, guru membuka cakrawala penerapan definisi fungsi yang diperluas itu untuk sudut yang sama atau lebih besar dari 90o, yaitu bila salah satu kaki sudut di kuadran II, III, atau IV. Dengan bantuan presentasi komputer, guru mengingatkan pengertian sudut di kuadran II, sudut di kuadran II, dan sudut di kuadran IV. Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok dengan tiap kelompok terdiri atas 4 siswa. Tiap kelompok mendapat tugas untuk mendefinisikan fungsi-fungsi trigonometri untuk sudut di kuadran II atau III atau IV atau sudut negatif, serta menentukan hubungannya dengan fungsi trigonometri sudut di kuadran I. Tugas diselesaikan berdasarkan worksheet atau lembar kerja yang dibagikan. Selama siswa bekerja di dalam kelompok, guru memperhatikan dan mendorong semua siswa untuk terlibat diskusi, dan mengarahkan bila ada kelompok yang melenceng jauh pekerjaannya. Salah satu kelompok diskusi (tidak harus yang terbaik) diminta untuk mempresentasikan hasil diskusinya ke depan kelas. Sementara kelompok lain, menanggapi dan menyempurnakan apa yang dipresentasikan. Guru mengumpulkan semua hasil diskusi tiap kelompok Dengan tanya jawab, guru mengarahkan semua siswa pada kesimpulan mengenai fungsi trigonometri di berbagai kuadran dan hubungannya dengan fungsi trigonometri di kuadran I, berdasarkan hasil reviu terhadap presentasi salah satu kelompok. Guru memberikan dua (2) soal yang terkait dengan nilai fungsi trigonometri di kuadran II, III, atau IV. Dengan tanya jawab, siswa dan guru menyelesaikan kedua soal yang telah diberikan dengan menggunakan strategi yang tepat. Guru memberikan lima (5) soal untuk dikerjakan tiap siswa, dan dikumpulkan.

1. Siswa diminta menyimpulkan tentang bagaimana 10 menit menentukan nilai fungsi trigonometri sudut di berbagai kuadran. 2. Dengan bantuan presentasi komputer, guru menayangkan apa yang telah dipelajari dan disimpulkan mengenai nilai fungsi trigonometri untuk sudut di berbagai kuadran.
Matematika – SMA/MA/SMK | 274

b. Menyatakan kembali hubungan nilai fungsi trigonometri di kuadran Penyelesaian tugas individu dan kelompok Matematika – SMA/MA/SMK | 275 . Guru mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan untuk tetap belajar. Sikap Aspek yang dinilai Teknik Penilaian Pengamatan Waktu Penilaian Selama pembelajaran dan saat diskusi a. tes tertulis 2. Bahan tayang 3.3. busur. Lembar penilaian 4. Toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif. dan jari-jari pada sumbu koordinat kartesius secara tepat. Terlibat aktif dalam pembelajaran trigonometri. Penilaian Hasil Belajar 1. c. 2. H. b. sistematis. Teknik Penilaian: pengamatan. Bekerjasama dalam kegiatan kelompok. Video tentang lebah I. 4. Prosedur Penilaian: No 1. dan menggunakan simbol yang benar. jangkaWorksheet atau lembar kerja (siswa) 2. Menjelaskan kembali Pengamatan dan tes pengertian fungsi trigonometri pada segitiga siku-siku dengan menggunakan istilah absis. Pengetahuan a. Alat/Media/Sumber Pembelajaran 1. Guru memberikan tugas PR beberapa soal mengenai penerapan nilai fungsi di berbagai kuadran. ordinat. Penggaris.

4. Tentukanlah nilai dari sin 150o secara eksak (tidak menggunakan desimal) menggunakan sifat relasi sudut pada fungsi trigonometri! 3. Ari ditempatkan tepat di tengah-tengah sebuah gang yang bertembok tepat di tepi kiri dan kanannya. hitunglah nilai dari [sin 321o + cos 0. berapa jarak yang ditempuh Ari jika kemudian ia berjalan lurus hingga menyentuh tembok gang? Catatan: Penyekoran bersifat holistik dan komprehensif. Keterampilan a. tidak saja memberi skor untuk jawaban akhir.13 (rad)].tan (2t) + cos t dengan t dalam derajat.7. kemudian Ari diputar oleh temannya searah dengan arah perputaran jarum jam sebesar 660o. Penyelesaian tugas (baik individu maupun kelompok) dan saat diskusi J. Jika lebar gang adalah 4 meter. lalu nyatakan pengertian fungsi secan untuk sudut tersebut! 2. Mula-mula Ari menghadap searah dengan arah jalan. Terampil menerapkan Pengamatan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran. gelombang suara dari seekor ikan Paus akhirnya dapat digambarkan dengan suatu pendekatan menggunakan fungsi trigonometri sebagai berikut I(t) = 2. Gambarlah pada sebuah sumbu koordinat kartesian sebuah sudut pada kuadran III. dan IV dengan perbandingan trigonometri di kuadran I secara tepat dan kreatif. tetapi juga proses pemecahan yang terutama meliputi pemahaman. Setelah melalui studi yang mendalam. III. Dengan menuliskan langkah-langkah yang jelas. Instrumen Penilaian Hasil belajar Tes tertulis 1. 3. Pada sebuah permainan. tan 150 grad dengan menggunakan kalkulator saintifik. komunikasi matematis Matematika – SMA/MA/SMK | 276 . Berapa tinggi gelombang suara Paus tsb untuk t = 120o? 5.No Aspek yang dinilai Teknik Penilaian Waktu Penilaian II.

WORKSHEET (untuk tugas kelompok) Matematika – SMA/MA/SMK | 277 . serta ketepatan strategi memecahkan masalah. penalaran (logis).(ketepatan penggunaan simbol dan istilah).

Baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif tetapi masuih belum ajeg/konsisten. 1. 3. Kurang baik jika sama sekali tidak berusaha untuk bekerjasama dalam kegiatan kelompok. 3. 2.LEMBAR PENGAMATAN PENILAIAN SIKAP Mata Pelajaran Kelas/Semester Tahun Pelajaran Waktu Pengamatan : Matematika : X/2 : 2013/2014 : Indikator sikap aktif dalam pembelajaran trigonometri 1. Sangat baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif secara terus menerus dan ajeg/konsisten. 2. Sangat baik jika menunjukkan sudah ambil bagian dalam menyelesaikan tugas kelompok secara terus menerus dan ajeg/konsisten Indikator sikap bekerjasama dalam kegiatan kelompok. Sangat baik jika menunjukkan adanya usaha bekerjasama dalam kegiatan kelompok secara terus menerus dan ajeg/konsisten. Baik jika menunjukkan sudah ada usaha ambil bagian dalam pembelajaran tetapi belum ajeg/konsisten 3. Kurang baik jika menunjukkan sama sekali tidak ambil bagian dalam pembelajaran 2. Bubuhkan tanda √ pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan. 1. Kurang baik jika sama sekali tidak bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif. Indikator sikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif. Baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bekerjasama dalam kegiatan kelompok tetapi masih belum ajeg/konsisten. No Nama Siswa Aktif KB 1 2 3 4 Dhianika Rahma Nur Fadillah Galuh Lalita Mahaghora Muhammad Rasyid Alfaruqi Nur Endah Filaili B SB KB Sikap Bekerjasama B SB KB Toleran B SB Matematika – SMA/MA/SMK | 278 .

Bagaskara Adi Pamungkas Bram Yudhistira Hasna Amalia Faza Daniawan Dwi Nurrohman Devi Ristiyanti Nitya Sekar Tresnaningtyas Rafi Ibnu Ramadhan Ivan Akhir Julian Gasik Prawestri Intan Aringtyas Junaidi Muhammad Rafi Nurdiansyah Elvana Novita Candra Danuja Widigdaya Isnaeni Putri Nur Afifah Intan Putri Ristyaningrum Lisa Dewi Afrilita Gea Hanin Nisacita Rizki Kartika Angkasa Yudha Putri Adipertiwi A-Bach Keterangan: KB B SB : Kurang baik : Baik : Sangat baik Matematika – SMA/MA/SMK | 279 . Aj. Shikarini Amirul P Arinta Destri Larasati Khanza Adzkia Vujira Joean Akbar Saputra Khansa Sitostra Tufana Arsy A.5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 Zerarita Amalia Ramadhani Febrian Anggoro Widiyanto Rizky Rachmadewi Elvan Saffria Charta R.

Sangat terampill. Bubuhkan tanda √ pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan. Shikarini Amirul P Arinta Destri Larasati Khanza Adzkia Vujira Joean Akbar Saputra Khansa Sitostra Tufana Arsy A. Bagaskara Adi Pamungkas T ST Matematika – SMA/MA/SMK | 280 . Aj. 3. No Nama Siswa Keterampilan Menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah KT 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Dhianika Rahma Nur Fadillah Galuh Lalita Mahaghora Muhammad Rasyid Alfaruqi Nur Endah Filaili Zerarita Amalia Ramadhani Febrian Anggoro Widiyanto Rizky Rachmadewi Elvan Saffria Charta R. jika menunjukkan adanya usaha untuk menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran dan sudah tepat. Terampil jika menunjukkan sudah ada usaha untuk menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran tetapi belum tepat.LEMBAR PENGAMATAN PENILAIAN KETERAMPILAN Mata Pelajaran Kelas/Semester Tahun Pelajaran Waktu Pengamatan : Matematika : X/2 : 2013/2014 : Indikator terampil menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran. 1. Kurang terampil jika sama sekali tidak dapat menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran 2.

15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 Bram Yudhistira Hasna Amalia Faza Daniawan Dwi Nurrohman Devi Ristiyanti Nitya Sekar Tresnaningtyas Rafi Ibnu Ramadhan Ivan Akhir Julian Gasik Prawestri Intan Aringtyas Junaidi Muhammad Rafi Nurdiansyah Elvana Novita Candra Danuja Widigdaya Isnaeni Putri Nur Afifah Intan Putri Ristyaningrum Lisa Dewi Afrilita Gea Hanin Nisacita Rizki Kartika Angkasa Yudha Putri Adipertiwi A-Bach Keterangan: KT T ST : Kurang terampil : Terampil : Sangat terampil Matematika – SMA/MA/SMK | 281 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 282 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 283 .

1. 2. 1. Identitas Mata Pelajaran Satuan pendidikan. 2. Pemilihan Materi Ajar Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran Kesesuaian dengan karakteristik peserta didik. Komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Hasil Penelaahan dan Skor 1 Tidak Ada 2 Kurang Lengkap 3 Sudah Lengkap Catatan A 1. Kesesuaian dengan aspek sikap. Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya 3. Kesesuaian dengan kompetensi dasar. pengetahuan. jumlah pertemuan.KI dan KD.1/3. 1. D. 2. Perumusan Indikator Kesesuaian dengan SKL. program/program keahlian.LK .2 LEMBAR KERJA PENELAAHAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Identitas RPP yang ditelaah: ………………………………… Berilah tanda cek ( V) pada kolom skor (1. C. semester. Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya 2. B.3. Kesesuaian penggunaan kata kerja operasional dengan kompetensi yang diukur. mata pelajaran atau tema pelajaran. Perumusan Tujuan Pembelajaran Kesesuaian dengan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai. Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya Matematika – SMA/MA/SMK | 284 .kelas. 3 ) sesuai dengan kriteria yang tertera pada kolom tersebut! Berikan catatan atau saran untuk perbaikan RPP sesuai penilaian Anda! No. dan keterampilan.

I. Kesesuaian penyajian dengan sistematika materi. Kesesuaian dengan pendekatan Scientific. Kesesuaian dengan karakteristik peserta didik. inti. 1. Pemilihan Sumber Belajar Kesesuaian dengan KI dan KD. G. 2. Model Pembelajaran Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran. E. Komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 1 Hasil Penelaahan dan Skor 2 3 Catatan 3. 1. Matematika – SMA/MA/SMK | 285 . Penilaian Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya 3. 1. Pemilihan Media Belajar Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran. 2. 2.No. 3. Kesesuaian dengan materi pembelajaran dan pendekatan scientific. Skenario Pembelajaran Menampilkan kegiatan pendahuluan. F. 3. Kesesuaian dengan alokasi waktu. 4. 2. H. Kesesuaian alokasi waktu dengan cakupan materi. Kesesuaian kegiatan dengan pendekatan scientific. Kesesuaian dengan materi pembelajaran dan pendekatan scientific. dan penutup dengan jelas. 1. Kesesuaian dengan karakteristik peserta didik.

.................................................................... ....... ......... 4......................... Kesesuaian dengan teknik dan bentuk penilaian autentik.. Matematika – SMA/MA/SMK | 286 .................................. 3......... Jumlah 2.................................................................... Komentar terhadap RPP secara umum..... Komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 1 Hasil Penelaahan dan Skor 2 3 Catatan 1............................... Kesesuaian dengan dengan indikator pencapaian kompetensi............... Kesesuaian kunci jawaban dengan soal.............No............................................. Kesesuaian pedoman penskoran dengan soal....

1/3. Langkah-langkah penilaian RPP sebagai berikut. jumlahkan skor seluruh komponen! 5. Cermati format penilaian RPP dan RPP yang akan dinilai! 2. 1.2 RUBRIK PENILAIAN TELAAH RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Rubrik penilaian RPP digunakan fasilitator untuk menilai RPP peserta yang digunakan peerteaching. Berikan catatan khusus atau saran perbaikan setiap komponen RPP jika diperlukan! 4. (2) dan (3) sesuai dengan penilaian Anda terhadap RPP tersebut! 3. Setelah selesai penilaian.R-3. Selanjutnya nilai RPP dimasukkan ke dalam nilai portofolio peserta. Berikan nilai setiap komponen RPP dengan cara membubuhkan tanda cek (√) pada kolom pilihan skor (1 ). Tentukan nilai RPP menggunakan rumus sbb: Skor yang diperoleh PERINGKAT Amat Baik ( AB) Baik (B) Cukup (C) Kurang (K) NILAI 90 ≤ A ≤ 100 75 ≤ B < 90 60 ≤ C < 75 < 60 Matematika – SMA/MA/SMK | 287 .

2. Fasilitator mengingatkan peserta agar membaca referensi yang relevan.2-2.2 Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Langkah Kegiatan Inti Diskusi dan Tanya jawab Kerja Kelompok Kerja Kelompok Presentasi Merangkum dan Refleksi 40 Menit 30 Menit 25 Menit 20 Menit 20 Menit Diskusi dan tanya jawab tentang penilaian autentik dalam bentuk tes dan nontes termasuk portofolio.2 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut. Fasilitator menutup pembelajaran. Matematika – SMA/MA/SMK | 288 .2 dan Panduan Tugas Menelaah Rancangan Penilaian pada RPP dengan menggunakan PPT-3.3/3.3/3. Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran.3/3.2 dan Panduan Tugas Menelaah Rancangan Penilaian pada RPP dengan menggunakan PPT-3. Presentasi hasil kerja kelompok. dilanjutkan dengan Pemaparan materi oleh fasilitator tentang Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran dengan menggunakan PPT-2.Materi Pelatihan : 3. Kerja kelompok untuk menelaah contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran yang terdapat dalam HO-2. Kerja kelompok untuk merevisi rancangan penilaian pada RPP yang telah disusun. Membuat rangkuman materi pelatihan Model Rancangan Pembelajaran. Bahan Tayang Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran dengan menggunakan PPT-2.

Matematika – SMA/MA/SMK | 289 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 290 .

1 Simulasi Pembelajaran 4.MATERI PELATIHAN 4 : PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING (24 JP) 4.2 Peer Teaching Matematika – SMA/MA/SMK | 291 .

7. Bahan Tayang a. maupun. Garis besar instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran. 2. LINGKUP MATERI 1. mengolah. mengolah. 4. Strategi Pengamatan tayangan video. sosial. Menilai pelaksanaan peer teaching peserta lain. menyaji. 2. emosional. PERANGKAT PELATIHAN 1. Simulasi Pembelajaran Peer Teaching C. mencoba. Ketelitian dan keseriusan dalam menganalisis simulasi pembelajaran. intelektual. maupun. menanya. 2. moral. Menganalisis simulasi pembelajaran melalui tayangan video pembelajaran. B. sosial. emosional. Matematika – SMA/MA/SMK | 292 . b. D. Merevisi RPP sehingga menerapkan pendekatan scientific dan penilaian autentik untuk kegiatan peer teaching. intelektual. Panduan tugas praktik pelaksanaan pembelajaran. mencipta) dengan tetap memperhatikan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik. Menyimpulkan alur pembelajaran yang berorientasi pada pendekatan scientific dan penilaian autentik. moral. 6. mencoba. menanya. mencipta) dengan tetap memperhatikan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik. kultural. menalar. Melaksanakan peer teaching pembelajaranyang menerapkan pendekatan scientific dan penilaian autentik. 5. dan melaksanakan pembelajaran yang menerapkan pendekatan scientific (mengamati. Kreatif dan komunikatif dalam melakukan peer teaching. menalar. KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN 1. 3. c.MATERI PELATIHAN 4: PRAKTEK PEMBELAJARAN TERBIMBING (24 JP) A. mengkaji pelaksanaan pembelajaran yang menerapkan pendekatan scientific (mengamati. KOMPETENSI Peserta pelatihan dapat: 1. menyaji. kultural.

3.2. ATK Matematika – SMA/MA/SMK | 293 . Instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran (Alat Penilaian Kinerja Guru). Analisis pembelajaran pada tayangan video. b. Lembar Kerja a.

kompetensi. mengajak berdinamika agar saling mengenal. alokasi waktu. dan Laser Pointer. KEGIATAN INTI 4.SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: TAHAPAN KEGIATAN PERSIAPAN 4. serius. dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Praktik Pembelajaran Terbimbing. Fasilitator memotivasi peserta. Active Speaker. Penayangan video pembelajaran Matematika dengan menggunakan V-2. semangat.1. atau media pembelajaran lainnya. Laptop. File. tujuan. dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung.1/4.1 Simulasi Pembelajaran Pemaparan Strategi Pengamatan Video Pembelajaran dengan menggunakan bahan tayang PPT-4. SMK/MAK MATEMATIKA DESKRIPSI KEGIATAN WAKTU Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran. 360 Menit 20 Menit 20 Menit 60 Menit 30 Menit 135 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 294 . seperti LCD Projector.1. 15 Menit KEGIATAN Pengkondisian Peserta PENDAHULUAN Perkenalan Fasilitator menjelaskan nama. PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING 22 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA. indikator.1 oleh fasilitator. Mengkonfirmasi penerapan pendekatan scientific dan penilaian autentik mengacu pada tayangan video pembelajaran Kerja kelompok untuk merevisi RPP sesuai dengan hasil analisis tayangan video pembelajaran. Kerja kelompok untuk menganalisis tayangan video pembelajaran dengan fokus pada penerapan pendekatan scientific dan penilaian autentik dengan menggunakan LK -4.

ICE BREAKER 4.1 Paparan oleh fasilitator tentang Garis Besar Instrumen Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran dengan menggunakan PPT-4. Fasilitator menutup pembelajaran. KEGIATAN PENUTUP Membuat rangkuman materi pelatihan Praktik Pembelajaran Terbimbing. Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran. untuk setiap peserta 30 menit dipandu fasilitator. 90 Menit 5 Menit 600 Menit 20 Menit 20 Menit 20 Menit 510 Menit 30 Menit 15 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 295 . Praktik peer teaching pembelajaran Matematika secara individual.2. Persiapan peer teaching. Menilai kegiatan peer teaching menggunakan instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan LK-4.2.2.4.2. Refleksi terhadap pelaksanaan peer teaching.Presentasi contoh RPP yang akan digunakan dalam kegiatan peer teaching. Fasilitator mengingatkan peserta agar membaca referensi yang relevan.2 Peer Teaching Paparan oleh fasilitator tentang Panduan Tugas Praktik Pelaksanaan Pembelajaran melalui peer teaching dengan menggunakan PPT.

Kerja kelompok untuk menganalisis tayangan video pembelajaran dengan fokus pada penerapan pendekatan scientific dan penilaian autentik dengan menggunakan LK 4.1 oleh fasilitator.1/4. Presentasi contoh RPP yang akan digunakan dalam kegiatan peer teaching. Penayangan video pembelajaran dengan menggunakan V-2. Kerja kelompok untuk merevisi RPP sesuai dengan hasil analisis tayangan video pembelajaran. Menyimpulkan alur pembelajaran yang berorientasi pada pendekatan scientific dan penilaian autentik. Matematika – SMA/MA/SMK | 296 .Materi Pelatihan : 4.1.1.1 Simulasi Pembelajaran Langkah Kegiatan Inti Paparan Tayangan Video Kerja Kelompok 20 Menit 20 Menit 60 Menit Presentasi Kerja Kelompok Menyimpulkan 90 Menit 135 Menit 30 Menit Pemaparan Strategi Pengamatan Video Pembelajaran dengan menggunakan bahan tayang PPT4.

Matematika – SMA/MA/SMK | 297 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 298 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 299 .

..... a. Mata Pelajaran 3.... b Mengaitkan materi pembelajaran sekarang dengan pengalaman peserta didik dalam perjalanan menuju sekolah atau dengan tema sebelumnya..... dari konkrit ke abstrak) Guru menerapkan strategi pembelajaran yang mendidik........... Kemampuan menyesuaikan materi dengan tujuan pembelajaran.... c..LK ........... a...... Asal Sekolah 3.... : ......................1 LEMBAR KERJA ANALISIS PEMBELAJARAN DALAM TAYANGAN VIDEO PEMBELAJARAN 1.............. c......... d.. c Mengajukan pertanyaan yang ada keterkaitan dengan tema yang akan dibelajarkan... Aspek yang Diamati Kegiatan Pendahuluan Melakukan apersepsi dan motivasi.. b..... d Mengajak peserta didik berdinamika/melakukan sesuatu kegiatan yang terkait dengan materi.. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai.... b.......... Tema : .......4.................. Melaksanakan pembelajaran secara runtut.. Kegiatan Inti Guru menguasai materi yang diajarkan... Melaksanakan pembelajaran yang bersifat kontekstual... Nama Peserta 2.... : .. Menguasai kelas dengan baik............ : . Kemampuan mengkaitkan materi dengan pengetahuan lain yang diintegrasikan secara relevandengan perkembangan Iptek dankehidupan nyata .... Menyajikan materi dalam tema secara sistematis dan gradual (dari yang mudah ke sulit....... a Menyiapkan fisik dan psikis peserta didik dalam mengawali kegiatan pembelajaran.......... Ya Tidak Catatan Matematika – SMA/MA/SMK | 300 .............

e. a b c d f Memberikan pertanyaan mengapa dan bagaimana. Melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan tumbuhnya kebiasaan positif (nurturant effect). Ya Tidak Catatan a b c a. d. Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan sumber belajar pembelajaran. b. peserta didik. Guru memicu dan/atau memelihara keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran. f. a. d. c. Merespon positif partisipasi peserta didik. perilaku dan keterampilan peserta didik.Aspek yang Diamati e. Menumbuhkan keceriaan dan antusisme peserta didik dalam belajar. e. Matematika – SMA/MA/SMK | 301 . Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang direncanakan. Menunjukkan sikap terbuka terhadap respons peserta didik. Mengamati sikap dan perilaku peserta didik dalam mengikuti pelajaran. sumber belajar. Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan media pembelajaran. Melakukan penilaian keterampilan peserta didik dalam melakukan aktifitas individu/kelompok. Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan media pembelajaran. Menumbuhkan partisipasi aktif peserta didik melalui interaksi guru. Guru melaksanakan penilaian autentik. Menyajikan kegiatan peserta didik untuk keterampilan mengkomunikasikan. b. Menyajikan kegiatan peserta didik untuk keterampilan mengamati. Memancing peserta didik untuk peserta didik bertanya. Menghasilkan pesan yang menarik. Mendokumentasikan hasil pengamatan skap. Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan sumber belajar pembelajaran. Guru memanfaatan sumber belajar/media dalam pembelajaran. c. Guru menerapkan pendekatan scientific. Menunjukkan hubungan antar pribadi yang kondusif. Menyajikan kegiatan peserta didik untuk keterampilan menganalisis.

Aspek yang Diamati Guru menggunakan bahasa yang benar dan tepat dalam pembelajaran Menggunakan bahasa lisan secara jelas dan lancar. Menyampaikan pesan dengan gaya yang sesuai. c. Melakukan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan peserta didik. atau tugas sebagai bagian remidi/pengayaan. Melaksanakan tindak lanjut dengan memberikan arahan. atau kegiatan. Matematika – SMA/MA/SMK | 302 . Penutup Pembelajaran Guru mengakhiri pembelajaran dengan efektif a.a. b. Menggunakan bahasa tulis yang baik dan benar. Ya Tidak Catatan b.

dan kegiatan penutup namun tidaklengkap. dan kegiatan penutup dengan lengkap namun kurang terinci.R . teliti. bersungguhsungguhdenganpenuh rasa ingintahu saja.15 8 . bersungguhgamati sungguhdenganpenuh rasa ingintahu yang (5-15) disertaidenganpolaberpikiranalitikdalammengamatida nberdiskusi. :…………………………………………………………. Komentardan Simpulan (10-25) Memberikankomentar yang faktual dan terstruktur sesuai dengan keterlaksanaan skenario pembelajaran yang ada dalam tayangan PBM video pembelajaran yang terdiri dari pengalaman yang dapat diambil dari tayangan video dan kesimpulan.30 Nilai Peserta Mendeskripsikan hasil pengamatan kegiatan awal.20 12 .1 RUBRIK PENILAIAN HASIL ANALISIS PEMBELAJARAN PADA TAYANGAN VIDEO NAMA PESERTA DIKLAT KELAS/ TANGGAL PENILAIAN Aspek Pengamatan Video (15-30) :…………………………………………………………. teliti. :…………………………………………………………. kegiatan inti.. Mendeskripsikan hasil pengamatan kegiatan awal.30 21 . Menunjukkansikapantusias.24 15 . teliti.20 25 ..25 Matematika – SMA/MA/SMK | 303 . dan kegiatan penutup dengan lengkap dan terinci yang disertai contoh kongkret hasil pengamatan.11 5-7 21 . kegiatan inti. (15-30) Mendeskripsikansetiap item padalembarkerjaanalisis proses belajarmengajarsesuaidengankompetensidasar yang disajikandalamtayangan video denganjelas. Kriteria Rentangan Nilai 25 . Sikapselamamen Menunjukkansikapantusias.. kegiatan inti. dalam Video lengkapdanbenar. bersungguhsungguhdenganpenuh rasa ingintahu danaktifdalamberdiskusi.4. Mendeskripsikansetiap item padalembarkerjaanalisis Lembarkerjaanali proses belajarmengajarsesuaidengankompetensidasar sispembelajaran yang disajikandalamtayangan video denganjelas. Mendeskripsikan hasil pengamatan kegiatan awal. Hanyamenandaisetiap item padalembarkerjaanalisis proses belajarmengajarsesuaidengankompetensidasar yang disajikandalamtayangan video. 21 . Menunjukkansikapantusias.24 15 .

... Memberikan komentar sesuai dengan keterlaksanaan skenario pembelajaran yang ada dalam tayangan PBM video pembelajaran......... ………....... 2013 Fasilitator..............) Matematika – SMA/MA/SMK | 304 ...……………. (......Aspek Kriteria Memberikan komentar yang faktual dan terstruktur sesuai dengan keterlaksanaan skenario pembelajaran yang ada dalam tayangan PBM video pembelajaran yang terdiri dari pengalaman yang dapat diambil daritayangan video........... Rentangan Nilai Nilai Peserta 16 -20 10 -15 100 JUMLAH ………………..

Persiapan peer teaching.2-2. Praktik peer teaching pembelajaran secara individual. Refleksi terhadap pelaksanaan peer teaching.2. Menilai kegiatan peer teachingoleh fasilitator dengan menggunakan instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran LK-4.2 Peer Teaching Langkah Kegiatan Inti Paparan Panduan Paparan Instrumen Penilaian Persiapan Peer Teaching 20 Menit 20 Menit 20 Menit Refleksi Praktik Peer Teaching 30 Menit 510 Menit Paparan oleh fasilitator tentang Panduan Tugas Praktik Pelaksanaan Pembelajaran melalui peer teaching dengan menggunakan PPT.4.2-1. Paparan oleh fasilitator tentang Garis Besar Instrumen Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran dengan menggunakan PPT-4.Materi Pelatihan : 4. Matematika – SMA/MA/SMK | 305 . untuk setiap peserta 30 menit dipandu fasilitator.

Matematika – SMA/MA/SMK | 306 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 307 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 308 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 309 .

... Topik : ... 2 Menfasilitasi kegiatan yang memuat komponen eksplorasi. Kegiatan Inti Penguasaan Materi Pelajaran 1 2 3 4 Kemampuan menyesuiakan materi dengan tujuan pembelajaran....... Menyajikan pembahasan materi pembelajaran dengan tepat.. kerja kelompok.... dan melakukan observasi........... individual......... dari konkrit ke abstrak) Penerapan Strategi Pembelajaran yang Mendidik 1 Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai.2 LEMBAR KERJA INSTRUMEN PENILAIAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN 1. : .................... 3 Menyampaikan manfaat materi pembelajaran...... Kemampuan mengkaitkan materi dengan pengetahuan lain yang relevan... 4 Mendemonstrasikan sesuatu yang terkait dengan materi pembelajaran..... dan kehidupan nyata.... perkembangan iptek ... Menyajikan materi secara sistematis (mudah ke sulit........................... 3 4 Melaksanakan pembelajaran secara runtut.... Penyampaian Kompetensi dan Rencana Kegiatan 1 Menyampaikan kemampuan yang akan dicapai peserta didik.. Ya Tidak Catatan Aspek yang Diamati Kegiatan Pendahuluan Apersepsi dan Motivasi 1 Mengaitkan materi pembelajaran sekarang dengan pengalaman peserta didik atau pembelajaran sebelumnya. 2 Mengajukan pertanyaan menantang.. Matematika – SMA/MA/SMK | 310 .. elaborasi dan konfirmasi. Nama Peserta 2..4........................ Menguasai kelas....... 2 Menyampaikan rencana kegiatan misalnya..... : .... Asal Sekolah 3........LK .

Aspek yang Diamati 5 Melaksanakan pembelajaran yang bersifat kontekstual. Pelibatan Peserta Didik dalam Pembelajaran 1 2 3 4 5 Penggunaan Bahasa yang Benar dan Tepat dalam Pembelajaran 1 2 Menggunakan bahasa lisan secara jelas dan lancar. 6 7 Melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan tumbuhnya kebiasaan positif (nurturant effect). Kegiatan Penutup Penutup pembelajaran Matematika – SMA/MA/SMK | 311 . Menggunakan bahasa tulis yang baik dan benar. Memfasilitasi peserta didik untuk menganalisis. Memberikan pertanyaan mengapa dan bagaimana. Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan media pembelajaran. Menyajikan kegiatan peserta didik untuk berkomunikasi. Merespon positif partisipasi peserta didik. Menunjukkan hubungan antar pribadi yang kondusif. Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan media pembelajaran. Ya Tidak Catatan Penerapan Pendekatan scientific 1 2 3 4 5 6 7 Pemanfaatan Sumber Belajar/Media dalam Pembelajaran 1 2 3 4 5 Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan sumber belajar pembelajaran. sumber belajar. Memfasilitasi peserta didik untuk mencoba. peserta didik. Menghasilkan pesan yang menarik. Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan sumber belajar pembelajaran. Menumbuhkan keceriaan atau antuisme peserta didik dalam belajar. Memberikan pertanyaan peserta didik untuk menalar (proses berfikir yang logis dan sistematis). Memancing peserta didik untuk bertanya. Memfasilitasi peserta didik untuk mengamati. Menunjukkan sikap terbuka terhadap respons peserta didik. Menumbuhkan partisipasi aktif peserta didik melalui interaksi guru. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang direncanakan.

Melaksanakan tindak lanjut dengan memberikan arahan kegiatan berikutnya dan tugas pengayaan. Jumlah Ya Tidak Catatan Matematika – SMA/MA/SMK | 312 .Aspek yang Diamati 1 2 3 4 Melakukan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan peserta didik. Mengumpulkan hasil kerja sebagai bahan portofolio. Memberikan tes lisan atau tulisan .

Selanjutnya nilai PeerTeaching dimasukkan ke dalam nilai portofolio peserta. 2. Berikan tanda cek (√) pada kolom pilihan YA atau TIDAK sesuai dengan penilaian Anda terhadap penyajian guru pada saat pelaksanaan pembelajaran! Berikan catatan khusus atau saran perbaikan pelaksanaan pembelajaran! Hitung jumlah nilai YA dan TIDAK ! Tentukan Nilai menggunakan rumus berikut ini! PERINGKAT Amat Baik ( A) Baik (B) Cukup (C) Kurang (K) NILAI 90 < AB ≤ 100 75 ≤ B < 90 60 ≤ C < 75 < 60 Matematika – SMA/MA/SMK | 313 . 4. Langkah Kegiatan 1.R .2 RUBRIK PENILAIAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Rubrik Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran ini digunakan fasilitator untuk menilai kompetensi guru dalam melaksanakan pembelajaran pada saat Peer Teaching. 3.4.