You are on page 1of 7

SOAL SUMATIF 2 MODUL RENAL DAN CAIRAN TUBUH 2006 1. pernyataan tentang eliminasi obat yang benar: a.

Metabolísme di hati merubah obat menjadi bentuk polar b. Metabolismo di hati mengubah obat menjadi bentuk aktif c. Ekskresi obat utuh atau aktif melalui ginjal d. Ekskresi obat polar di ginjal e. Ekskresi obat tidak aktif di ginjal • Komentar: Bedakan antara eliminasi obat di hati dengan di ginjal. Di hati, eliminasi obat terjadi dalam bentuk metabolisme obat menjadi metabolit yang sifatnya inaktif. Di ginjal, eliminasi obat terjadi dalam bentuk eksresi obat yang utuh (masih dapat bekerja) atau eksresi metabolit obat yang masih aktif/toksik. 3. penyesuaian dosis pada gagal ginjal tidak diperlukan pada: a. Obat2 dengan margin of safety sempit b. Obat2 dengan eliminasi utama lewat ginjal c. Digitalis dan aminoglikosida d. Loading dose e. Maintenance dose • Komentar: Loading dose secara umum tidak perlu penyesuaian dosis, kecuali pada digoksin dan aminoglikosida. 4. berikut ini adalah pengaturan dosis obat pada gagal ginjal mengikuti asumsi2, kecuali: a. – b. – c. – d. Fungsi ginjal stabil e. Eliminasi • Jawabannya kalo gak salah yang adanya metabolit yang bersifat aktif/toksik. 5. dosis muatan, kecuali: a. Diperlukan untuk langsung mencapai kadar terapi b. Pada umumnya tidak memerlukan penyesuaian dosis c. Digoksin penyesuaian dosis margin of safety tinggi, Vd turun d. Teofilin penyesuaian dosis margin of safety tinggi, Vd naik e. Aminoglikosid penyesuaian dosis margin of safety tinggi, Vd turun • Komentar: Loading dose umumnya tidak perlu penyesuaian dosis, kecuali pada digoksin dan AG. Teofilin tidak termasuk. 6. perubahan farmkaokinetik yang terjadi pada gagal ginjal kecuali: a. pH asam lambung b. ikatan protein plasma c. metabolisme di hati d. filtrasi glomerulus e. sekresi glomerulus • Komentar: pada gagal ginjal, obat2 yang dimetabolisme oleh hati secara umum tidak terpengaruh. Oleh karena itu tidak dibutuhkan penyesuaian dosis obat. 9. terapi gizi untuk tuan A: a. Suplemen seng, tembaga, Al yang rutin b. Suplemen folat, B12, dan besi c. Vit c yang tinggi d. Na rendah e. Suplemen vit A, E, K • Komen: kalo gak salah, Tn. A ini pasien dengan gagal ginjal. Pada pasien gagal ginjal, yang harus dibatasi adalah suplementasi vitamin A karena bisa mengakibatkan terjadinya akumulasi. Selain itu suplementasi mikronutrien seperti seng, tembaga, etc secara rutin juga tidak dianjurkan. 10. pemberian protein untuk Tn A didasarkan pada: a. Kadar ureum dan kreatinin dan macam dialisis b. Aktivitas fisik c. Tinggi badan d. – e. Status gizi

• •

Komen: Pemberian protein disesuaikan dengan fungsi ginjal (yang dinilai dengan kadar ureum dan kreatinin darah) Sebab protein itu pada gagal ginjal akan banyak yang dipecah. Pada akhirnya kadar ureum akan meningkat. Selain itu katabolisme protein dari sel2 otot juga akan meningkatkan kadar kreatinin darah. Pada gagal ginjal, kedua zat tersebut akan menumpuk di tubuh oleh karena itu asupannya perlu dibatasi. Adapun untuk aktivitas fisik, tinggi badan, status gizi, dan berat badan kering itu dipake untuk penentuan asupan kalori pasien.

13. anak korengan 3 minggu yang lalu sembuh sendiri. Pemeriksaan penunjang yang diperlukan: a. Albumin dan kolesterol b. Biopsi c. kadar komplemen C3, ASTO, anti DNAse B d. Kultur urin e. Kultur swab tenggorok • Komentar: Ini adalah kasus anak korengan yang 3 minggu kemudian ada penyakit ginjal. Ini adalah kasus infeksi Streptococcus dalam bentuk impetigo, yang berkembang menjadi glomerulonefritis akut postinfeksi streptococcus. Maka dari itu yang dibutuhkan adalah pemeriksaan kadar komplemen C3, ASTO dan DNAse B. • Perlu diingat bahwa pada penyakit ini, yang menyebabkan kelainan di ginjal bukanlah kuman streptococcusnya, tapi sistem imun pasien sendiri. Oleh karena itu kurang tepat jika dilakukan swab tenggorok. Apalagi ini infeksinya terjadi via kulit. Kalo misalnya pemeriksaan albumin dan kolesterol, akan lebih tepat jika dilakukan pada anak dengan sindroma nefrotik. 14. hasil biopsi anak menunjukkan gambaran PA berupa: a. Kelainan minimal b. Glomerulosklerosis total segmental c. Kresentik pada lebih dari 50% glomerulus d. Glomerulonefritis membranosa e. Diffuse endocapillary proliferative glomerulonephritis • Komentar: Ini adalah kasus anak korengan yang 3 minggu kemudian ada penyakit ginjal. Ini adalah kasus infeksi Streptococcus dalam bentuk impetigo, yang berkembang menjadi glomerulonefritis akut postinfeksi streptococcus. Gambaran PA yang khas adalah gambaran Diffuse Endocapillary Proliferative GN. • Kalo minimal change adalah kelainan PA yang paling sering pada anak dengan sindroma nefrotik. Kalo gambaran kresentik itu khas pada rapid progressive glomerulonefritis. 17. pemeriksaan laboratorium lain untuk menunjang diagnosis sindroma nefrotik adalah: a. Komplemen C3 dan C4 b. Kadar albumin dan kolesterol darah c. Kadar ASTO d. Biopsi ginjal e. Protein urin kuantitatif 19. antimikroba yang tidak diindikasikan untuk pielonefritis akut: a. Amoksilin-klavulonat b. Ampicillin sulbactam c. fosfosmisin d. Sefoperasin e. Gentamisin • Komentar: fosfomisin digunakan untuk uncomplicated lower UTI (sebagai antiseptik, bukan antibiotik). Sedangkan pielonefritis itu adalah upper UTI. 20. tumor yang disebabkan oleh zat aniline adalah: a. Ca sel ginjal b. Ca urotelial c. Oncocytoma d. Rhabdomioma e. – 20. Fluoroquinolon paling poten untuk P.aeruginosa : ciprofloxacin 21. pada pielonefritis akut, sefatoksin dikombinasikan dengan: a. Gentamisin b. metanamin c. amoxilin d. sefazolin e. fosfomycin

Komentar: Aminoglikosida bekerja secara sinergis dengan betalaktam. Sefalosporin merupakan bagian dari betalaktam, yang bekerja secara efektif saat dikombinasikan dengan aminoglikosida seperti gentamisin.

22. efek samping berikut ini berhubungan dengan penggunaan aminoglikosida: a. Nefrotoksisitas b. Penekanan sumsum tulang belakang c. Alopesia d. Tremor e. Hepatotoksisitas • Komentar: efek samping AG yang paling dominan adalah ototoksik dan nefrotoksik. • Selain aminoglikosida, obat lain yang juga bersifat nefrotoksik adalah sefalosporin. Adapun flurokuinolon mempunyai efek samping hepatotoksik. 23. yang bukan efek fluorokuinolon: Retensi cairan 25. diuretik yang dapat menyebabkan hiperkalsemia… a. Furosemid b. HCT c. Triamteren d. Spironolakton e. Asam etakrinat Komentar: Kalo diuretik yang dapat menyebabkan hiperkalemia adalah diuretik dari golongan potassium sparing diuretics sedangkan kalo diuretik yang dapat menyebabkan hiperkalsemia adalah dari golongan tiazid. Maka dari itu tiazid banyak dipake untuk orang2 tua untuk mencegah osteoporosis. 28. antihipertensi yang ditujukan untuk kelainan hiperaldosteron primer: a. Tiazid b. – c. Hidralozin d. – e. Spironolakton (antagonis aldosteron) 29. obat hipertensi yang aman untuk wanita hamil: a. Captopril b. Valsartan c. Metildopa d. Nifedipin e. – 29. Antipiretik untuk wanita hamil  AVP 31. batu luscent tidak bisa dideteksi dengan: a. Foto polos b. PIV c. Uretrositografi d. Sistograf e. USG • Komen: foto polos itu digunakan untuk melihat bayangan radioopak (yang warnanya jadi putih di fotonya. Warna putih timbul jika massa bendanya makin padat). Kalo benda2 yang luscent (warnanya hitam di fotonya) tentu tidak bisa dilihat dengan foto polos. 34. Perluasan tumor buli dapat dilihat dengan a. IVP b. BNO c. CT tanpa kontras d. CT dengan kontras • Komentar dari tahun lalu: “Menurut saya, kalo yang ditanya adalah “tumor buli dapat dilihat dengan?”, mungkin kita bisa bilang dengan IVP juga bisa. Tapi kalo yang ditanyanya adalah perluasannya, berarti pengertiannya di sini adalah staging dari tumor tersebut. Maka dari itu kita pakai CT scan. CT scan yang dipake untuk melihat massa tumor dengan lebih detail sepertinya yang dengan kontras.” 36. PIV menit 5 dan 10 yang dinilai: a. Struktur parenkim ginjal

b. c. d. e. •

Pelviokalises ginjal Drainase ureter Bentuk buli-buli Pengosongan buli-buli Komentar: pemeriksaan IVP itu lebih untuk menilai struktur pelviokalises aja (kaliks dan pelvis renalis), parenkim2 ginjalnya agak kurang jelas terlihat.

37. CT scan ginjal dengan kontras dapat menggantikan: a. Pielografi intravena b. Pielografi retrograd c. Pielografi anterograd d. Cystografi e. Uretrosistografi • Komen: karena secara umum CT scan dipake untuk melihat anatomi ginjal, ureter, dan buli (3 sekawan) dengan lebih jelas, sepertinya CT scan dapat dipake untuk menggantikan IVP (sebab IVP kan juga dipake untuk melihat pelviokalises, ureter, dan buli). Seperti yang sudah saya bahas juga, IVP itu pemeriksaan yang agak2 kasar pencitraannya, tidak sedetil CT. 38. pernyataan yang benar mengenai MRI: a. – b. Menggunakan zat warna iodine c. Potongan koronal dan sagital d. Inidikasi untuk tumor dan menilai staging tumor e. Tidak memerlukan waktu yang lama • Komen: MRI merupakan pemeriksaan yang juga detail (hampir seperti CT). Bedanya, karena MRI tidak menggunakan sinar X, maka pemeriksaan MRI lebih aman dibandingkan CT. Selain itu, kontras yang dipake untuk MRI (gadolinium) juga tidak menimbulkan efek alergi. Berbeda dengan kontras yang dipake untuk IVP (iodine). Sayang sekali, MRI membutuhkan waktu pemeriksaan yang cukup lama, dan pasien harus terus dalam keadaan tenang/diam agar dapat diperoleh pencitraan yang baik. 39. tujuan pengobatan penyakit ginjal kronik: a. Pengobatan terhadap penyakit mendasari b. Meningkatkan kualitas hidup c. Evaluasi dan penangulangan penyakit komorbid d. Menghambat progresi penurunan fungsi e. Semua benar 40. terapi GGK derajat V, kecuali: a. Hemodialisis b. Dialysis peritoneal c. Transplantasi d. CAPD e. CRRT 43. yang dimaksud dengan Chronic Kidney Disease: a. Kelainan fungsi dan anatomi ginjal lebih dari 3 tahun b. Kelainan fungsi ginjal lebih dari 3 bulan c. Kelainan struktur ginjal lebih dari 3 bulan d. GFR<60 lebih dari 3 bulan dengan atau tanpa kerusakan ginjal e. – • Komentar: definisi gagal ginjal kronik, yakni kerusakan ginjal yang terjadi lebih dari 3 bulan, dengan atau tanpa penurunan GFR, dengan adanya kelainan patologi anatomi ginjal atau kelainan imaging atau kelainan patologi klinik, atau sebaliknya. Ada penurunan GFR, dengan atau tanpa adanya kerusakan ginjal. 45. yang merupakan faktor predisposisi pielonefritis akut, kecuali: a. Obstruksi UT b. Influks vesikoureter c. Overractive bladder d. – e. Neurologic bladder 45. pada gagal ginjal kronik, ditemukan asidosis metabolik dengan kenaikan AG • Komentar: kalo asidosis/alkalosis dengan AG normal itu terjadi kalo misalnya ada ketidakseimbangan elektrolit / anion-kation yang mengatur keseimbangan asam-basa tubuh.

46. pasien wanita datang ke emergency (bicara kacau, gak nyambung) diagnosisnya: a. Hipokalemia berat b. Asidosis metabolik c. Hiponatremia berat d. Hipernatremia berat e. Hiperkalemia berat • Komentar: asidosis metabolik dapat menyebabkan terjadinya depresi fungsi SSP, yang notabene mencakup fungsi berbicara dan mengolah kata2. 48. Banyak BAB encer dan muntah, natrium normal, kalium darah menurun: a. Dehidrasi b. Hipertensi c. Hipokalemia d. Deplesi volume berat e. Hipovolemi • Komentar: karena keterbatasan data, satu2nya hal yang bisa kita lihat di pemicu adalah kalium darah menurun (hipokalemia) 50. jika pasien mengalami asidosis metabolic dengan dehidrasi berat maka injeksi cairan yang tepat: a. Ringer laktat b. Ringer asetat c. – d. Dextro 5% e. HCSS • Komen: Kalo menurut praktikum, cairan NaCl dipake untuk rehidrasi jika ada dehidrasi akut/berat, namun kadar elektrolit pasien belum kita ketahui (jadi tidak ada asidosis/alkalosis). Nah, kalo misalnya pasien dehidrasi dengan adanya asidosis, maka sebaiknya diberikan ringer asetat, sebab asetatnya akan diubah menjadi bikarbonat untuk mengatasi asidosis metabolik. Adapun pasien asidosis/gagal ginjal gak boleh dikasih ringer laktat, karena akan memperburuk kerja ginjal dan memperburuk asidosis. 53. pernyataan dibawah ini benar untuk injeksi IM, kecuali: a. Bentuk obat dapat larut dalam air b. – c. Onset of action dapat diprediksi d. Bioavailabiitas tidak 100% e. Volume yang disuntikkan terbatas • Komen: kelebihan suntik IM adalah bahwa dia kan disimpan di otot tuh, jadinya dapat digunakan sebagai obat depot (masuk ke tubuh secara pelan2). Namun sayangnya volume obat yang dapat disuntikkan terbatas. 53. ringer asetat yang benar: a. Osmolaritas lebig tinggi dari osmolaritas serum b. Cairan dari intravascular dpat masuk ke intraseluler c. Kadar Na hamper sama dengan Na serum d. Cairan hipertonik e. Tidak dapat digunakan untuk menangani asidosis • Komentar: Ringer asetat merupakan cairan infus kristaloid. Sifatnya isotonik (kadar elektrolit hampir sama dengan kadar elektrolit plasma, sehingga cairan tidak akan pindah ke luar/ke dalam sel), dan dapat digunakan untuk dehidrasi dengan adanya asidosis. Yang tidak boleh untuk asidosis adalah ringer laktat. 56. peninggian tekanan uroteral pada UUO akan: a. Naik kemudian turun b. Menetap c. Turun kemudian naik d. Tidak ada perubahan e. Turun menetap 62. seorang pasien datang dengan keluhan diare masif dan mulai merasakan buang air kecilnya semakin jarang, kelainan yang terjadi pada pasien ini adalah: a. Nephropathy idiopatis b. Nekrosis tubular akut c. Glomerulonefritis akut d. Nefritis tubulointrerstitial akut e. Tidak ditemukan kelainan ginjal yang bermakna • Komentar: Kan pasien diare masif  dehidrasi  ginjal mengurangi ekskresi air dari tubuh

64. peningkatan tekanan intrarenal ( interstisium) terjadi karena: a. Peningkataan tekanan endotelin b. Penurunan NO c. Penurunan PI2 d. Penumpukan sedimen hialin e. Kurangnya O2 ke medulla 66. pasien 41 th gejala demam, disuria, nyeri pinggang kanan. Gamb histologik supurasi setempat di korteks dan medulla, sel radang di interstitium, sebagian tubulus rusak, parenkim dan pelvis kongestif dan sembab. Kelainan yang terjadi: a. Tubulointerstitial nefritis akut b. Tubulointerstitial nefritis kronik c. Pielonefritis akut d. Pielonefritis kronik e. Pyonefrosis 68. analgesic nephropathy bisa lanjut menjadi: a. Ca sel transisional b. Ca sel ginjal c. Nefroblastoma d. Oncocytoma e. Clear cell ca 71. cushing syndrome ditemukan pada: a. Renal cell ca b. – c. Ca urotelial d. Oncocytoma e. – 73. anak perempuan, 4 th, BB 20 kg, diare dan muntah. Pada PF: suhu 38,8C. rencana terapi: rehidrasi dengan oralit yang dilarutkan dalam 200 ml air minum/sachet. Dosis: 10 ml/kgBB/diare dan 2-5 ml/kgBB/muntah. Antipiretik parasetamol 10-15 mg/kgBB/kali, diberikan 3 kali sehari. Yang diberikan? a. 100 ml/diare dan 40-100 b. 100 ml/diare dan – c. 150 ml/diare dan 40-100 d. 150 ml/diare dan – e. 200 ml/diare dan 40 – 100 ml/muntah • Komen: tung-itung-itung-itung-itung: PCT: 10 s.d. 15 x 20/kalinya. Oralit: 10 ml x 20 kg/diare. Muntah: 2 s.d. 5 x 20 kg/muntah. 75. pernyataan yang tidak tepat untuk penyesuaian dosis pada gagal ginjal: a. bergantung pada filtrasi glomerulus b. bergantung pada fraksi renal terhadap clearance tubuh c. penurunan dosis penunjang dengan interval dosis normal dilakukan untuk obat margin of safety sempit d. Perpanjangan interval dosis untuk antimikrobial dose-dependent e. Berdasarkan perhitungan saja, tidak perlu memperhatikan respon klinik Kelainan patologik dengan gamb macros ureter melebar ( hidroureter, obstruksi postrenal) a. Nefritis interstitial b. TIN c. Analgesic nephropathy d. PN kronik e. – Jenis2 kerusakan ginjal: a. Prerenal b. Glomerular c. Tubulointerstitial d. Obstruksi e. Semua benar

Mekanisme pertahanan utama vesica urinaria: a. pH urin rendah b. osmolaritas rendah c. mukus vagina d. THP e. Berkemih • • • • • • • • • • • • • • • Slide nomor 4: pada gagal ginjal, glukoneogenesis di hati akan meningkat. Slide nomor 15: hafalkan kriteria pemberian lemak pada pasien dengan gagal ginjal. Slide nomor 24: hafalkan kriteria pemberian asupan protein pada pasien dengan sindrom nefrotik: kadar protein tinggi, tapi tanpa replacement untuk protein loss. Oya, ada soal farmasi yang lupa dicatat, yakni tentang bukti terjadinya interaksi farmasetik. Tanda terjadinya interaksi, kecuali adanya efek piretik. Obat golongan fluorokuinolon yang ampuh melawan pseudomonas: ciprofloxacin Syarat kerja efektif dari nitrofurantoin: pH urin harus tetap <5,5 Obat yang digunakan untuk edema di otak: manitol ACE-I dapat menyebabkan hiperkalemia jika digunakan pada kondisi: gagal ginjal. Kriteria obat yang dengan mudah mengalami filtrasi pada hemodialisis: tidak bermuatan dan larut air. apa yang terjadi jika obstruksi pada BUO dilepaskan?  akan terjadi diuresis dan natriuresis dalam jumlah besar. Pengambilan urin yang lebih akurat menggunakan metode? Sepertinya urin pagi mid-stream Pengobatan pada UTI dilakukan dengan terapi antibiotik sepanjang? 1-2 minggu. Agen mikroba penyebab UTI paling sering? E. coli. Apa penyebab kerusakan membran sel pada jejas sel tubulus? (slide nomor 6) Kerusakan ginjal yang berkaitan dengan penggunaan phenacetin? Analgesic nephropathy