PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEMBATA NOMOR 2 TAHUN 2009 TENTANG

PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEMBATA NOMOR 11 TAHUN 2002 TENTANG RETRIBUSI IZIN TRAYEK

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LEMBATA,
Menimbang

Mengingat

bahwa retribusi daerah merupakan salah satu sumber pendapatan daerah yang penting guna membiayai penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dan pembangunan daerah untuk memantapkan otonomi daerah yang seluas-luasnya, nyata dan bertanggung jawab; b. bahwa berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah maka Retribusi Izin Trayek merupakan salah satu sumber penerimaan daerah yang dapat diatur pemanfaatannya untuk pembangunan daerah; c. bahwa sehubungan dengan perkembangan ekonomi dan meningkatnya pembangunan di bidang transportasi maka Peraturan Daerah Kabupaten Lembata Nomor 11 Tahun 2002 perlu ditinjau kembali; d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Lembata Nomor 11 Tahun 2002 tentang Retribusi Izin Trayek; : 1. Undang-Undang Nomor 64 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah-daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1958 Nomor 115, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1649); 2. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1980 tentang Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1980 Nomor 13, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3186); 3. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang – Undang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3209); 4. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3480); 5. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3685), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 246, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4048);
: a.

Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851); 7. Undang-Undang Nomor 52 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Lembata (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 180, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3901), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 52 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Lembata (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 79, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3967); 8. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); 9. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang – undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389); 10. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437), sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); 11. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438); 12. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 1993 tentang Pemeriksaan Kendaraan Bermotor di Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1993 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3528); 13. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 119, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4139); 14. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578); 15. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4587); 16. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 136, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4373); 17. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah; 18. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 67 Tahun 1993 tentang Tata Cara
6.

Pemeriksaan Persyaratan Teknis dan Laik Jalan Kendaraan Bermotor di Jalan; 19. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 71 Tahun 1993 tentang Pengujian Berkala kendaraan Bermotor; 20. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 72 Tahun 1993 tentang Perlengkapan Kendaraan Bermotor; 21. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 81 Tahun 1993 tentang Pengujian Type Kendaraan Bermotor; 22. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 174 Tahun 1997 tentang Pedoman Tata Cara Pemungutan Retribusi Daerah; 23. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 175 Tahun 1997 tentang Tata Cara Pemeriksaan di Bidang Retribusi Daerah; 24. Peraturan Daerah Kabupaten Lembata Nomor 11 Tahun 2002 tentang Retribusi Izin Trayek (Lembaran Daerah Tahun 2002 Nomor 11 Seri C Nomor 2); 25. Peraturan Daerah Kabupaten Lembata Nomor 7 Tahun 2003 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Lembata (Lembaran Daerah Tahun 2003 Nomor 7 Seri E Nomor 1); 26. Peraturan Daerah Kabupaten Lembata Nomor 4 Tahun 2007 tentang Pokok – pokok Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Tahun 2007 Nomor 4 Seri E Nomor 3), sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kabupaten Lembata Nomor 1 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Lembata Nomor 4 Tahun 2007 tentang Pokok – pokok Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Tahun 2009 Nomor 1 Seri E Nomor 1); Peraturan Daerah Kabupaten Lembata Nomor 1 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan yang Menjadi Kewenangan Kabupaten Lembata (Lembaran Daerah Tahun 2008 Nomor 1 Seri E Nomor 1); Peraturan Daerah Kabupaten Lembata Nomor 3 Tahun 2008 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah (Lembaran Daerah Tahun 2008 Nomor 3 Seri D Nomor 2);

Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN LEMBATA DAN BUPATI LEMBATA MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN DAERAH

TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEMBATA NOMOR 11 TAHUN 2002 TENTANG RETRIBUSI IZIN TRAYEK.

Pasal I Beberapa ketentuan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Lembata Nomor 11 Tahun 2002 tentang Retribusi Izin Trayek (Lembaran Daerah Tahun 2002 Nomor 11 Seri C Nomor 2) diubah sebagai berikut :

1. Ketentuan Pasal 1 angka 7 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut : Pasal 1 Daerah adalah Kabupaten Lembata. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Lembata. 3. Bupati adalah Bupati Lembata. 4. Retribusi Izin Trayek yang selanjutnya disebut Retribusi adalah pungutan atas setiap pemberian ijin trayek angkutan kota dan angkutan pedesaan serta izin insidentil. 5. Angkutan Kota adalah angkutan dari satu tempat ke tempat lain, dalam wilayah kota dengan menggunakan mobil bus umum dan / atau mobil penumpang umum yang terikat dalam trayek tetap dan teratur. 6. Angkutan Pedesaan adalah angkutan dari suatu tempat ke tempat lain dalam satu wilayah Kabupaten dengan mempergunakan mobil bus umum dan / atau mobil penumpang umum yang terikat dalam trayek tetap dan teratur. 7. Angkutan taxi adalah angkutan yang merupakan pelayanan dari pintu ke pintu dalam wilayah operasi terbatas. 8. Izin Trayek adalah izin yang diberikan kepada orang atau badan yang melaksanakan usaha angkutan umum penumpang pada jalur – jalur tertentu. 9. Izin Insidentil adalah izin penyimpangan dari trayek yang dilayani untuk angkutan kota dan angkutan pedesaan. 10. Jalan adalah jalan yang diperuntukkan bagi lalu lintas umum.
1. 2.

11. Surat Ketetapan Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat SKRD adalah surat keputusan yang menentukan besarnya jumlah retribusi yang terhutang. 12. Surat Ketetapan Retribusi Daerah Lebih Bayar yang selanjutnya disingkat SKRDLB adalah surat keputusan yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran retribusi karena jumlah kredit retribusi lebih besar dari pada retribusi yang terhutang atau tidak seharusnya terhutang. 13. Surat Ketetapan Retribusi Daerah Tambahan yang selanjutnya disingkat SKRDT adalah surat ketetapan yang menentukan penambahan jumlah retribusi yang terhutang berdasarkan hasil pemeriksaan dan atau ditemukan data baru yang menyebabkan penambahan jumlah retribusi yang terhutang. 14. Surat Tagihan Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat STRD adalah surat untuk melakukan tagihan retribusi dan / atau sanksi administrasi berupa bunga dan denda. 15. Surat Pemberitahuan Tagihan Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat SPTRD adalah surat yang digunakan untuk melaporkan perhitungan dan pembayaran retribusi yang terhutang menurut Peraturan Retribusi Daerah. 2. Ketentuan Pasal 4 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut : Pasal 4 (1) Setiap bus dan / atau mobil penumpang umum dan taksi yang sebagian atau seluruh kegiatan operasinya di wilayah Kabupaten Lembata atau melakukan kegiatan angkutan kota dan angkutan pedesaan pada trayek tetap dan teratur harus mendapat ijin trayek. (2) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan atas permohonan pemilik / pemegang kendaraan yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan dan syarat – syarat yang ditentukan. (3) Permohonan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diterima atau ditolak setelah memperhatikan hasil survey load factor dan laporan permohonan izin selambat – lambatnya dalam waktu 14 (empat belas) hari kerja.

3. Ketentuan Pasal 9 ayat (2) huruf f diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut : Pasal 9 (1) Prinsip dan sasaran dalam penetapan struktur dan besarnya tarif retribusi izin trayek dan izin operasional lainnya didasarkan pada tujuan untuk menutup sebagian atau sama dengan biaya penyelenggaraan pemberian izin trayek oleh Pemerintah Daerah dalam rangka pembinaan, pengaturan dan pengawasannya. (2) Biaya yang dapat ditutup dengan hasil retribusi izin trayek angkutan kota dan angkutan pedesaan serta izin insidentil : a. biaya penyediaan formulir; b. c. d. e. f. biaya yang berkaitan dengan pemrosesan permohonan izin seperti penelitian, survei, konsultasi di lapangan dan sebagainya; biaya penyiapan dan pemberian dokumen; biaya pemeriksaan dan pengawasan dalam rangka memastikan bahwa pemegang izin tetap melakukan kegiatannya sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dalam izin; biaya pemungutan retribusi;

biaya pendukung kegiatan perizinan trayek, angkutan kota dan angkutan pedesaan, izin insidentil dan izin angkutan taxi. 4. Ketentuan Pasal 10 ayat (1), ayat (2), ayat (3) diubah dan ayat (4) dihapus, sehingga Pasal 10 berbunyi sebagai berikut : Pasal 10 (1) Retribusi izin trayek sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ditetapkan sesuai kapasitas tempat duduk untuk setiap kendaraan per tahun sebagai berikut : a. mobil bus umum dengan kapasitas kurang dari 12 (dua belas) tempat duduk, sebesar Rp 120.000,00.- (seratus dua puluh ribu rupiah); b. mobil bus umum dengan kapasitas dari 13 (tiga belas) sampai 17 (tujuh belas) tempat duduk, sebesar Rp 150.000,00.- (seratus lima puluh ribu rupiah); c. mobil bus umum dengan kapasitas dari 18 (delapan belas) sampai 23 (dua puluh tiga) tempat duduk, sebesar Rp 175.000,00.- (seratus tujuh puluh lima ribu rupiah); d. mobil bus umum dengan kapasitas dari 24 (dua puluh empat) sampai 40 (empat puluh) tempat duduk, sebesar Rp 200.000,00.- (dua ratus ribu rupiah); (2) Retribusi Pemberian Ijin Insidentil Angkutan Penumpang Dalam Daerah, ditetapkan sebesar Rp. 10.000,00.- (sepuluh ribu rupiah); (3) Retribusi Pemberian Ijin Pengoperasian Taxi sebesar Rp. 150.000,00.- (seratus lima puluh ribu rupiah) per tahun; (4) Dihapus Pasal II Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Lembata. Ditetapkan di Lewoleba pada tanggal 3 Juni 2009

BUPATI LEMBATA,

ANDREAS DULI MANUK

Diundangkan di Lewoleba pada tanggal 6 Juni 2009 SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN LEMBATA,

PETRUS TODA ATAWOLO

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LEMBATA TAHUN 2009 NOMOR 2

SERI C NOMOR 1.

Ditetapkan di Lewoleba pada tanggal, 03 Jini 2009 BUPATI LEMBATA, ANDREAS DULI MANUK Diundangkan pada tanggal, 06 Juni 2009 SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN LEMBATA, PETRUS TODA ATAWOLO di Lewoleba

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LEMBATA TAHUN 2006 NOMOR 2 SERI C NOMOR 1.

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEMBATA NOMOR 2 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEMBATA NOMOR 11 TAHUN 2004 TENTANG RETRIBUSI IZIN TRAYEK I. UMUM Dengan ditetapkannya Undang – Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang – Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sebagai salah satu upaya untuk mewujudkan otonomi daerah yang luas, nyata, dan bertanggungjawab, pembiayaan pemerintahan dan pembangunan daerah yang berasal dari pendapatan hasil daerah, khususnya yang bersumber dari Retribusi Daerah perlu ditingkatkan sehingga kemandirian daerah dalam hal pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan di daerah dapat terwujud. Untuk meningkatkan pelaksanaan pembangunan dan pemberian pelayanan kepada masyarakat serta peningkatan, pertumbuhan perekonomian di daerah diperlukan penyediaan sumber – sumber pendapatan hasil daerah yang hasilnya memadai. Upaya peningkatan pembiayaan dari sumber tersebut, antara lain, dilakukan dengan kinerja pemungutan, penyempurnaan dan penambahan jenis retribusi, serta pemberian keleluasaan bagi daerah untuk menggali sumber – sumber penerimaan khususnya dari sektor retribusi daerah. Retribusi izin trayek merupakan salah satu jenis retribusi yang sangat potensial, karena memberikan kontribusi yang cukup besar bagi pemasukan daerah. Sehubungan dengan ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah, maka Retribusi Izin Trayek perlu disesuaikan sehingga dapat meningkatan penerimaan asli daerah guna kelancaran tugas – tugas pemerintahan, pelayanan kemasyarakat dan pelaksanaan pembangunan demi tercapainya Otonomi Daerah yang nyata dan bertanggung jawab. Bahwa Peraturan Daerah Kabupaten Lembata Nomor 11 Tahun 2004 tentang Retribusi Izin Trayek tidak sesuai dengan perkembangan ekonomi dan meningkatnya pembangunan di bidang trasportasi maka perlu ditinjau kembali. II. PASAL DEMI PASAL Pasal I Cukup Jelas Pasal II Cukup Jelas

TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LEMBATA TAHUN 2009 NOMOR 2.