BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Identitas Pasien Pada kasus ini pasien atas nama Tn.

M, seorang laki – laki usia 29 tahun, seorang kuli bangunan dengan suku bangsa jawa. Identitas pasien ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa Morbus Hansen pada laki – laki lebih banyak daripada wanita. Morbus Hansen banyak ditemukan pada bangsa Asia dan pada negara berkembang, salah satunya termasuk Indonesia.(6) 4.2 Anamnesa Penderita datang dengan keluhan munculnya bercak merah pada wajah sebelah kiri, lengan kanan, daerah punggung serta di kaki kanan. Keluhan pertama kali dirasakan bercak putih, yang mana keluhan tersebut muncul sejak ± 2 bulan ini. Keluhan pertama kali dirasakan bercak putih, yang mana keluhan tersebut muncul sejak ± 2 bulan ini. Kemudian bercak putih tersebut semakin melebar, warnanya semakin memerah. Pada kulit yang terdapat bercak tersebut kadang-kadang dirasakan agak gatal dan nyeri dari pada sekitarnya. Bercak merah bagian tengah terasa lebih tebal daripada bagian tepi dan kulit sekitarnya. Dari riwayat psikososial didapatkan informasi bila pasien memiliki tetangga yang sakit kusta tetapi itu sudah sekitar 8 tahun yang lalu. Anamnesis diatas sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa Morbus Hansen pada awal gejala klinisnya, lesi berupa makula hipopigmentasi dan didapatkan saraf perifer yang menebal. Pada riwayat psikososial didapatkan bahwa pasien 8 tahun lalu pernah memiliki tetangga yang menderita kusta, hal tersebut dapat disesuaikan dengan cara penularan Morbus Hansen dapat melalui saluran nafas (inhalasi) dan kulit. Sedangkan masa inkubasi dari 6 bulan hingga 40 tahun, 4 tahun untuk tipe TT dan 10 tahun untuk tipe LL. (3) 4.3 Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan fisik pasien dalam kondisi dengan keadaan umum baik , kesadaran komposmentis dan status gizi cukup serta status generalisnya dalam batas normal. Pada status dermatologis tampak pada regio fasialis dextra terdapat plak eritematous dengan batas jelas, berbentuk bulat lonjong, dengan ukuran diameter ± 5 cm, punched out lesion, hipoanestesi (+).

31

Gangguan fungsi saraf ini merupakan akibat dari peradangan kronis saraf tepi (neuritis perifer). dimana pada bagian tengah lesi lebih tidak terasa dibandingkan bagian tepi dan area kulit lainnya. Pada regio vertebrae terdapat multiple nodul dengan batas jelas. hipoanestesi (+). Bahan hapusan kulit cuping telinga dan lesi kulit pada bagian aktif. Mati rasa pada bercak bersifat sebagian saja terhadap rasa raba. Didapatkan pembesaran N. hipoanestesi (+). punched out lesion. Ditemukan kuman tahan asam. edema pertumbuhan rambut terganggu. gangguan fungsi motoris: kelemahan otot (parese) atau kelumpuhan (paralise).aurikularis magnusn. • • Ditemukan penipisan alis mata bagian lateral atau biasa dikenal dengan sebutan madarosis. Ulnaris. batas tegas.Pada regio brachialis dextra terdapat plak eritematous dengan batas jelas.4 Diagnosis Dalam kasus ini diagnosis berdasarkan anamnesa.(3. Kelainan kulit/lesi dapat berupa becak keputihan (hipopigmentasi) atau kemerahan (eritematous) yang mati rasa (anestesi). batas tegas. • Lesi kelainan kulit yang mati rasa. gangguan fungsi otonom: kulit kering dan retak-retak. rasa suhu dan rasa nyeri. rasa nyeri dan rasa suhu.4) 4. batas tegas. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. berbentuk bulat. Hal ini sesuai dengan teori bahwa warna lesi Morbus Hansen hipopigmentasi (lesi dini) kemudian berubah menjadi kemerhan mengikuti perjalanan penyakit. dengan ukuran bervariasi diameter 2 dan 8 cm. Pada pemeriksaan fisik didapatkan gangguan sensibilitas terhadap rasa raba.4) 32 . madarosis dan pada pemeriksaan pengecatan Ziehl Neelsen BTA (+). Gangguan fungsi saraf ini dapat berupa gangguan fungsi sensoris : mati rasa. dengan ukuran bervariasi diameter 2-3 cm. berbentuk bulat. Hal ini sesuai dengan teori bahwa diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan tanda ”Cardinal sign”.(3. Dimana lima klasifikasi Morbus Hansen dengan gambaran lesi yang bervariasi. berbentuk bulat. dengan ukuran diameter 3 cm. • Penebalan saraf tepi yang disertai gangguan fungsi saraf. N. Pada regio crurallis anterior dextra terdapat plak eritematous dengan batas jelas. punched out lesion.

Serta dijelaskan kepada penderita bahwa penyakitnya bukan penyakit keturunan atau kutukan. segera memeriksakan diri ke dokter.Klofazimin 300 mg/bulan. diminum di depan petugas . diminum di depan petugas dilanjutkan Klofazimin 50 mg/hari dan DDS 100 mg/hari dimana pengobatan diberikan secara teratur selama 12 bulan dan diselesaikan dalam waktu maksimal 18 bulan.5 Diagnosis Banding Dari pemeriksaan fisik dapat didiagnosis banding dengan tinea fascialis. menyarankan kepada penderita untuk kontrol tiap bulan ke puskesmas atau poli kulit. diminum di depan petugas dan DDS 100 mg/bulan.4.7 Prognosis Prognosis pada pasien ini dubiat et malam dikarenakan sudah masuk dalam klasifikasi Morbus Hansen MultiBasiler dimana bakteri sudah menyebar ke seluruh tubuh. Dan pengobatan yang sangat lama sehingga mambutuhkan niat dan kedisiplinan dari pasien.6 Penatalaksanaan Dalam kasus diatas pasien mendapatkan terapi berupa Rifampisine 600 mg/bulan. 4. 33 . diit sehat dan bergizi. tinea corporis dikarenakan gambaran lesi seperti ada “central healing” dengan tepi aktif yang merupakan ciri khas dari lesi tinea. diminum di depan petugas . penyakitnya bisa disembuhkan bila minum obat teratur dan rutin selama minimal 18 bulan. 4. diminum di depan petugas dan DDS 100 mg/bulan. Serta drug eruption dikarenakan sebelumnya pasien juga mengkonsumsi obat antibiotik yaitu amoxicilin. Dan jika ada keluarga penderita yang mengeluhkan gejala seperti ini. Hal ini sesuai dengan teori bahwa pengobatan harus sesuai dengan program pengobatan Morbus Hansen tipe MB yaitu Rifampisine 600 mg/bulan.Klofazimin 300 mg/bulan. diminum di depan petugas dilanjutkan Klofazimin 50 mg/hari dan DDS 100 mg/hari dimana pengobatan diberikan secara teratur selama 12 bulan dan diselesaikan dalam waktu maksimal 18 bulan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful