P. 1
Filsafat U - 12

Filsafat U - 12

|Views: 42|Likes:
Modul filsafat umum
Modul filsafat umum

More info:

Published by: Muhammad Dwiki Ahsana Ramadhan on Aug 11, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/02/2014

pdf

text

original

MODUL 11

LOGIKA FORMAL 2
Tujuan Instruksional Umum
Setelah perkualiahan ini mahasiswa diharapan dapat menganalisis pengertian oposisi dan pernyataan bersama, dan silogisme..

Tujuan Instruksional Khusus
Setelah pembahasan dalam modul ini diharapkan mahasiswa dapat memahami dan menganalisis pengertian oposisi dan pernyataan bersama meliputi :. • • • Pengertian oposisi dan macam-macam hubungan logika Teknik-teknik eduksi Silogisme: Pengertian silogisme, Silogisme kategorik, Silogisme hipotetik, Silogisme disjunktif, dan Dilemma PEMBAHASAN 1. Pengertian Oposisi Dalam Logika Pengertian Eduksi Apabila kita menghadapi dua pernyataan yang berlawanan keduanya menginformasikan permasalahan yang sama, bagaimanakah menentukan kebenaran dua pernyataan tadi? Benar keduanya, salah keduanya atau satu salah dan satu benar. Untuk menyelsaikan persoalan ini kita perlu mengetahuan macam-macam hubungan logika berikut dengan hokum-hukumnya. Ada Enam Macam Hubungan Logika • Hubungan independen (tak bertautan), kebenaran sesuatu tdk bisa menjadi ukuran kebenaran yang lain, spt: – – Kuda sumbawa kuat-kuat. Bahasa arab sukar.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Dr. Syahrial Syarbaini, MA, Ph.D.

FILSAFAT UMUM

1

• •

Hubungan ekuivalen (keduanya punya makna yg sama), spt: – – – Semua besi adalah logam, sebagian logam adalah besi. Semua yg sukses rajin. Sebagian yg sukses tidak rajin. Semua org saleh tidak dengki. Sebagian orang saleh pengdengki. Semua politikus curang. Semua politikus tidak curang. Sebagian pedagang kikir. Sebagian pedagang tidak kikir. Semua mhs koplek C rajin. Sbgn mhs komplek C rajin Hubungan kontradiktif:

• • •

Hubungan Kontrari: dua pernyataan, sama dlm kuantitas beda dalam kualitas, spt: – – – Hubungan sub-kontrari (stengah berlawanan), spt;: Hubungan implikasi, sama kualitas beda kuantitas, spt:

2. Pernyataan yang sama Setiap pernyataan dalam bentuk A, E, I atau O dapat ditarik permasalahan lain yang tersirat di dalamnya . Permaslahan itu adalah semakna dengan pernyataan aslinya tetapi berbeda dalam redaksinya .Pernyataan yg semakna dengan aslinya tapi berbeda dalam rdaksi, disebut Eduksi. Edukasi memberitahu kita bagaimana seharusnya mengubah suatu proposisi kepada proposisi lain tanpa mengubah makna, disamping memberi pedoman apakah dua proposisi kategorik atau lebih mempunyai makna yang sama atau berbeda. Dalam kehidupan sehari-hari kira sering mendengar atau meungkapkan proses edukasi ini, seperti pernyataan "Apa yang saya sampaikan bukan tidak beralasan" sebagai upaya menekankan pernyataan "Apa yang saya sampaikan adalah beralasan". • Teknik Eduksi melalui : – Konversi adalah cara mengungkapkan kembali suatu proposisi kepada proposi lain yang semakna dengan menukar kedudukan subjek dan prediket pernyataan aslinya. Spt: • – Tidak satu pun mhs buta huruf. Tidak satu pun yg buta huruf mahasiswa. Observasi: adalah cara mengungkapkan kembali suatu poposisi kepada proposisi lain yang semakna dengan mengubah kualitas pernyataan aslinya.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Dr. Syahrial Syarbaini, MA, Ph.D.

FILSAFAT UMUM

2

Jika pernyataan semua positif, maka permasalahan yang dihasilkan negatif, begitu sebaliknya. • • Obsertend : api dapat membakar. Obserse: api bukan tak dapat membakar. Kontraposisi: cara mengungkapkan kembali suatu proposisi kepada proposisi lain yang semakna, dengan menukar kedudukan subyek dan prediket pernyataan aslinya dan mengontradiksikan masing-masingnya, spt: – Bentuk A, menjadi A: • • • • • Kontraponed : semua binatang adalah fana. Obverse : semua binatang adalah bukan tak-fana. Konverse : semua yg tak fana adalah bukan binatang. Obserse: semua yg tak-fana adalah non-binatang.

Inversi adalah cara mengungkapkan kembali suatu proposisi kepada proposisi lain yg semakna dgn mengkontradiksikan subjek dan prediket pernyataan aslinya. Spt: – – – – – Invertend : semua kambing bukan burung. Konverse : semua burung bukan kambing. Obverse : semua burung adalah non-kambing. Koverse : sebagian yg non-kambing adalah burung. Obverse : sebagian yg non-kambing adalah bukan non-burung. (proposisi inversi)

3. Silogisme Penyimpulan deduksi yang telah kita ketahui sekedarnya dapat kita laksanakan melalui teknik-teknik: silogisme kategorik , silogisme hipotetik, silogisme disyungtif. Silogisme adalah bentuk penyimpulan tidak langsung, Eduksi bentuk penyimpulan langsung. Karena dalam silogisme kita menyimpulkan pengetahuan baru yg kebenarannya diambil secara sintetis dari dua permasalahan yang dihubungkan dengan cara tertentu, yg tidak terjadi dalam penyimpylan melalui eduksi. Aristoteles membatasi silogisme sebagai argument yang konklusinya diambil secara pasti dari premis-premis yang menyatakan permasalahan yang berlainan. Proposisi sebagai dasar

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Dr. Syahrial Syarbaini, MA, Ph.D.

FILSAFAT UMUM

3

kita ambil kesimpulan bukanlah proposisi yang dapat kita nyatakan dalam bentuk oposisi, melainkan proposisi yang mempunyai hubungan independent. Untuk dapat melahirkan konklusi harus ada pangkalan umum tempat kita berpijak. Pangkalan umum ini kita hubungkan dengan permasalahan yang lebih khusus melalui term yang pada kedua nya, maka lahirlah konklusi. Contoh dua permasalahan dapat menghasilkan kesimpulan yang abash: Semua manusia tidak lepas dari kesalahan Semua cendekiawan adalah manusia Pangkalan umum disini adalah proposisi pertama sebagai pernyataan universal yang ditandai dengan kuantifer "semua" untuk menegaskan adanya sifat yang berlaku bagi manusia secara menyeluruh. Pangkalan khusus adalah proposisi kedua, meskipun ia juga merupakan pernyataan universal ia berada di bawah aturan pernyataan pertama sehingga dapat kita simpulkan: Semua cendikian tidak lepas dari kesalahan. Bila pangkalan khususnya berupa proposisi singular, prosedur penyimpulannya juga sama sehingga dari pernyataan: Semua mahasiswa adalah terdidik. Hasan adalah mahasiswa. Maka keseimpulannya dalah : Hasan adalah terdidik. Proposisi yang menjadi pangkalan umum dan pangkalan khusus disebut premis (mukaddimah), sedangkan proposisi yang dihasilkan dari sintesis kedua premisnya disebut kesimpulan (konklusi). Dan term yang dihubungkan kedua premis disebut term penengah (middle term). Premis yang termnya menjadi subjek pada konklusi disebut premis minor. Premis yang termnya menjadi prediket pada konklusi disebut presmi mayor, karena prediket hampir selalu lebih luas dari pada sumbjeknya. Contoh: Semua manusia akan mati Obama adalah manusia. Obama akan mati. Semua manusia akan mati adalah premis mayor. Obama adalah manusia adalah premis minor dan Obama akan mati adalah Konklusi, sedangkan "manusia" adalah term penengah

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Dr. Syahrial Syarbaini, MA, Ph.D.

FILSAFAT UMUM

4

Hukum-Hukum Silogisme Kategorik Silogisme kategorik atau disingkat dengan silogisme saja adalah suatu bentuk formal dari deduksi yang terdiri atas proporsi-proporsi kategorik. Deduksi menggunakan proposisi universal sebagai premis. Misalnya: "semua pahlawan adalah orang yang berjasa". Dari premis itu, misalnya disimpulkan bahwa "Kartini adalah orang yang berjasa". Untuk dapat kepada konklusi itu harus diketahui bahwa Kartni adalah pahlwan. Jadi konklusi harus diturunkan dari proposisi pertama dengan bantuan proiposisi kedua. Tanpa ada proposisi kedua, tidak ada konklusi. Proposisi perta dan kedua itu adalah yang bersama-sama merupakan premis. Jadi deduksi yang bersangkutan lengkapnya adalah sebagai berikut: Semua pahlwan adalah orang berjasa. Kartini adalah pahlwan. Jadi. Kartini adalah orang yang berjasa. Silogisme ini terdiri atas tiga proposisi kategorik. Dua proposisi yang pertama berfungsi sebagai premis, sedangkan yang ketiga sebagai konklusi. Jumlah termnya tiga: "Pahlwan", "Orang berjasa" ((mayor), dan "Kartini" (minor). Agar didapat kesimpulan yang benar, kita harus memperhatikan patokan-patokan silogisme. Patokan-patokan itu adalah: 1) Apabila dalam satu premis particular, kesimpulan harus particular juga, seperti: Semua yang halal dimakan menyehatkan Sebagian makanan tidak menyehatkan, jadi Sebagian makanan tidak hahl dimakan (Kesimpulan tidak boleh: semua makan tidak halal dimakan). 2) Apabila salah satu premis negative, kesimpulan harus negative juga, seperti: Semua korupsi tidak disenangi. Sebagian pejabat adalah korupsi, jadi Sebagian pejabat tidak disenangi. (Kesimpulan tidak boleh :sebagian pejabat disenangi) 3) Dari dua premis yang sama-sama partikuler tidak sah diambil kesimpulan:

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Dr. Syahrial Syarbaini, MA, Ph.D.

FILSAFAT UMUM

5

Beberapa politikus tidak jujur. Banyak cendekiawan adalah pelitikus, jadi: Banyak cendikiawan tidak jujur. Kesimpulan yang diturunkan dari particular tidak pernah menghasilkan kebenaran yang pasti, oleh karena itu kesimpulan seperti: Sembilan puluh persen pedagang pasar Johar jujur. Komar adalah pedaganmg pasar Johar. Jadi: Sembilan puluh persen Komar adalah jujur. Absah dan Benar Dalam membicarakan silogisme kita harus mengenal dua istilah yaitu abash dan benar. Absah (valid) berkaitan dengan prosedur penyimpulannya, apakah pengambilan konklusi sesuai dengan patokan atau tidak. Dikatakan valid apabila sesuai dengan patokan di atas dan dikatakan tidak valid bila sebaliknya. Benar berkaitan dengan proposisi dalam silogisme itu, apakah ia didukung atau sesuai dengan fakta atau tidak. Bila sesuai dengan fakta, proposisi itu benar, bila tidak ia salah. Keabsahan dan kebenaran dalam silogisme merupakan suatu satuan yang tidak bisa dipisahkan, untuk mendapatkan konklusi yang sah dan benar. Hanya konklusi dari premis yang benar dari prosedur yang sah konklusi itu diakui. Contoh: Semua yang baik itu haram (salah) Semua yang memabukan itu baik (salah) Jadi : semua yang memabukan itu haram (benar) Plato adalah filosuf (benar) Aritoteles bukan Plato (benar) Jadi: Aritoteles bukan filosuf (salah) Sebagian besi bernyawa Sebagian logam bernyawa (salah) (salah)

Jadi: sebagian logam adalah besi (benar)

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Dr. Syahrial Syarbaini, MA, Ph.D.

FILSAFAT UMUM

6

Konklusi silogisme hanya bernilai manaka diturunkan dari premis yang benar dan prosedur yang valid. Konklusi yang meskipun benar tetapi diturunkan melalui prosedur yang invalid dan premis yang salah tidak bernilai karena dalam silogisme kita tidak menhadirkan kebenaran yang baru, tetapi kebenaran yang sudah terkandung pada premis-prtemisnya. Semua silogisme akan menurunkan konklusi yang dijamin kebenarannya, manakala premispremisnya benar dan prosedur penyimpulannya valid. Silogisme Hipotetik Silogisme hipotetik tidak tidak mempunyai premis mayor maupun premis minor karena kita ketahui premis mayor itu mengandung term prediket pada konklusi, sedangkan premis minor itu mengandung premis mayornya. Tipe-tipe silogisme hipotetik: 1) Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian antecedent, seperti: Jika hujan, saya naik bejak. Sekarang hujan. Jadi. Saya naik bejak. 2) Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian konsekuennya, seperti: Bila hujan, bumi akan basah. Sekarang bumi telah basah. Jadi. Hujan telah turun. 3) Silogisme Hipotetik yang premis minornya mengingkari antecedent, seperti: Jika politik pemerintah dilaksanakan dengan paksa, maka kegelisahan akan timbul. Politik tidak dilksanakan dengan paksa, Jadi: kegelisahan tidak akan timbul. 4) Silogisme yang premis minornya mengingkari bagian konsekuennya, seperti: Bila mahasiswa turun kejalan, pihak penguasa akan gelisah. Pihak penguasa tidak gelisah. Jadi mahasiswa tidak turun ke jalanan. Silogisme Disyungtif

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Dr. Syahrial Syarbaini, MA, Ph.D.

FILSAFAT UMUM

7

Silogisme diyungtif adalah silogisme yang premis mayornya keputusan disyungtif sedangkan premis minornya keputusan kategorik yang mengakui atau mengingkari salah satu alternatif yang disebut oleh premis mayor. Seperti: Ia lulus atau tidak lulus. Ternyata ia lulus, Jadi Ia bukan tidak lulus Dilema Dilema adalah argumentasi yang bentuknyanya campuran atara silogisme hipotetik dan silogisme disyungtif. Dalam dilema terkandung konsekuensi yang kedua kemungkinanya ama berat. Adapun konklusi yang diambil selalu tidak menyenangkan. Dalam debat dilema digunakan sebagai alat pemojok, sehingga alternatif apa pun yang dipilih, lawan bicara selalu dalam situasi tidak menyenangkan. Suatu contoh klasik tentang dilema adalah ucapan seorang ibu Athena yang mebujuk anaknya agar tidak terjun dalam dunia politik, sebagai berikut: Jika enghkau berbuat adil manusia akan membencimu, Jia engkau berbuat tidak adil dewa-dewa akan membencimu. Sedangkan kau harus bersikap adil atau tidak adil. Berbuat adil atau tidak engkau akan dibenci. Cara-cara mengatasi dilema, yaitu : a) Dengan meneliti kausalitas premis mayor b) Dengan meneliti alternatif yang dikemukakan. c) Dengan kontra dilema d) Dengan memilih alternatif yang paling ringan

Soal / Tugas Jawablah pertanyaan berikut ini! 1. Jelaskanlah macam-macam hubungan logika? 2. Apakahyang dimaksud dengan oposisi? 3. Jelaskanlah pengertian Eduksi? 4. Ada beberapa teknik Edukasi . Jelaskanlah! Dengan contohnya 5. Jelaskanlah pengertian silogisme dan bedanya dengan Eduksi? 6. Apakah yang dimaksud silogisme Kategorik?

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Dr. Syahrial Syarbaini, MA, Ph.D.

FILSAFAT UMUM

8

7. Berikanlah contoh silogisme Hipotetik dan silogisme disyungtif? 8. apakah yangdimaksud dilema. Jelaskan! Daftar Pustaka: 1. R.G. Soekardijo. 2003. Logika Dasar. Gamedia. 2. Kartanegara, Mulyadi. 2005. The Best Chicken Soup of The Philosophers (terj. Ahmad Fadhil). Jakarta. Himah 3. Rapar, Jan Hndrik. 2005. Pengantar Filsafat. Cet. Ke-10. Jokyakarta. Kanisius. 4. Osborne, Richard. 2001. Filsafat Untuk Pemula (terj.) Cet. Ke-1. Jokyakarta. Kanisius. 5. A. Sonny Keraf. 2001. Ilmu Pengetahuan. Sebuah Tinjauan Filsafat. Yokyakarta. Kanisius. 6. Mundari. 2005. Logika. Jakarta. RadjaGrafindo Persada. 7. Alex Lanur OFM. 1983 Logika: Selayang Pandang. Yokyakarta. Kanisius. 8. Jujun S. Suriasumantri. 1986. Ilmu Dalam Perspektif Moral, Sosial dan Politik. Jakarta. Gramedia. 9. Lorens Bagus. 1996. Kamus Filsafat. Jakarta. Gramedia

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Dr. Syahrial Syarbaini, MA, Ph.D.

FILSAFAT UMUM

9

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->