M Raihan, Korban Malpraktek Rumah Sakit Sudah Membaik

Fahmi Firdaus – Okezone
Rabu, 16 Januari 2013 11:44 wib

JAKARTA - Raihan bocah 10 tahun yang diduga menjadi korban malpraktek oleh rumah sakit di Jakarta, kondisinya mulai membaik. Raihan yang dirawat intensif di lantai enam ruang perawatan Paviliun Kartika, Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto Jakarta, sudah bisa merasakan sakit atau rasa yang lainnya. "Sekarang Raihan sudah bisa merasakan sakit, dan kondisinya sudah membaik dari sebelumnya," kata orang tua Raihan, Oti Puspa Dewi, kepada Okezone, Rabu (16/1/2013). Oti mengatakan, saat ini anaknya yang duduk di bangku kelas lima sekolah dasar itu masih dirawat intensif, dan tidak bisa dijenguk oleh orang lain. "Masih dirawat belum bisa dijenguk untuk sementara waktu," imbuhnya. Oti juga menyesalkan sikap dari Rumah Sakit Medika Permata Hijau (MPH) yang saat ini belum ada itikad baik kepada keluarga Raihan. "Iya saya juga menyesalkan, MPH yang belum ada itikad baik ke kami. Makanya kasus Raihan sampai ke DPR. Sebelumnya MPH juga mengatakan akan bertemu kami," pungkasnya. Seperti diketahui, sebelumnya Raihan mengakui sakit perut biasa lalu dibawa ke Rumah Sakit Medika Permata Hijau (MPH) Jakarta oleh ibunya. Dan dirawat inap anak di lantai lima rumah sakit tersebut. Dokter melakukan diagnosa awal dan menduga Raihan mengalami usus buntu akut. Orangtua Raihan lalu melakukan konsultasi ke dokter bedah umum dan mendapatkan penjelasan bahwa penyakit yang diderita oleh Raihan adalah usus buntu dan disampaikan secara mendesak agar segera dilakukan tindakan operasi. Orangtua Raihan tidak langsung menyetujui tindakan operasi dan meminta kepada dokter untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan dilakukannya USG untuk melihat kebenaran dugaan tersebut. Namun dokter menjelaskan kalau tindakan itu tidak perlu dilakukan. Dokter yang menangani menganggap kalau itu hal biasa dan sering dilakukan olehnya. Setelah menerima keyakinan dari dokter dan harapan terbaik untuk Raihan, operasi pada Raihan tetap dilakukan. Yang terlibat dalam operasi itu adalah dokter bedah umum dan dokter anastesi. Setelah hampir dua jam, orangtua Raihan yang diwakili ibunya Oti, dipanggil ke dalam ruangan operasi untuk melihat Raihan yang sudah dalam keadaan kritis dan terkulai tidak sadarkan diri tanpa adanya pertolongan yang maksimal.