You are on page 1of 18

PENDAHULUAN

Gangguan refraksi adalah penyebab tersering penurunan visus. Keadaan ini merupakan suatu kondisi fisiologis dimana media refraksi pada mata gagal untuk memfokuskan suatu objek secara tepat pada retina1,2,3. Jenis gangguan refraksi tersering adalah rabun jauh (hiperopia), rabun dekat (miopia), dan astigmatisma3. Komponen pada mata yang memberikan kekuatan refraksi terbesar adalah kornea yaitu sebanyak dua pertiga kekuatan refraksi total pada mata sedangkan sepertiganya merupakan kontribusi kekuatan refraksi lensa4. Sekitar 4 mm bagian tengah kornea berbentuk sferis5. Adanya kelainan kelengkungan pada permukaan kornea mengakibatkan berkas sinar yang masuk ke mata difokuskan pada 2 garis titik api yang saling tegak lutus. Keadaan ini disebut sebagai astigmatisma6. Sekitar 42% populasi dunia mempunyai astigmatisma lebih dari atau sama dengan 0,5 dioptri. Astigmatisma lebih besar dari 1 dioptri ditemukan pada sekitar 20% populasi dan membutuhkan koreksi optikal2. Secara umum, perubahan kelengkungan kornea terjadi seiring pertambahan usia karena pertumbuhan, tekanan kelopak mata, inflamasi, ulserasi, trauma, dan lesi pada kelopak mata yang dapat merusak bentuk konea5. Pasien astigmat mengalami penurunan visus baik jauh maupun dekat. Koreksi pada pasien astigmat dapat dilakukan dengan menggunakan lensa silinder atau pada keadaan tertentu perlu digunakan lensa kontak, keratoplasti, atau dengan pembedahan1,3. Koreksi astigmat sedini mungkin pada anak-anak perlu dilakukan untuk mencegah ambliopia3.

1

strabismus. atau suatu kelainan refraksi unilateral atau bilateral yang tidak dapat dikoreksi) merupakan mekanisme pemicu yang mengakibatkan suatu penurunan fungsi visual pada anak yang sensitif. 2 . maka masih dapat dilakukan latihan unutk memperbaiki kemampuan penglihatan. Kausa ekstraneural yang menyebabkan menurunnya tajam penglihatan (misalnya katarak. Bila ditemukan pada usia dibawah 5 tahun.Ambliopia adalah suatu keadaan mata dimana tajam penglihatan tidak mencapai optimal sesuai dengan usia dan intelegensinya walaupun kelainan refraksinya sudah dikoreksi dengan yang terbaik. astigmat. Pencegahan terhadap ambliopia adalah dengan melakukan pemeriksaan tajam penglihatan pada anak berusia kurang dari 5 tahun.

Kolo Yuvaldi : Laki-laki : 8 tahun : 16 Juni 2005 : Oebufu : Kristen Protestan : TK (sekarang SD) : Pelajar : Belum Menikah : 03 Mei 2013 : 03 Mei 2013 2. Keluhan Utama : (Pasien sendiri) : Ibu pasien : Sulit melihat jauh sejak 6 tahun SMRS.LAPORAN KASUS RAWAT JALAN 1. Anamnesis Anamnesis dilakukan pada tanggal 3 Mei 2013. 3 . Identitas Pasien Nama Jenis Kelamin Umur Tanggal Lahir Alamat Agama Pendidikan Terakhir Pekerjaan Status Pernikahan Kunjungan ke Poli Mata Dikasuskan : An.30 WITA melalui: Autoanamnesis Alloanamnesis a. pukul 19.

atau pun alkohol.b. Kadang kedua mata pasien terasa berair. Riwayat Pengobatan Pasien tidak pernah mendapatkan pengobatan tertentu untuk mengurangi gejala. Riwayat Penyakit Dalam Keluarga Tidak ada keluarga pasien yang pernah atau sedang mempunyai keluhan yang sama dengan pasien. Menurut pasien. Keluhan ini sudah tampak pada pasien sejak 6 tahun SMRS (usia 2 tahun). tulisan juga tampak kabur namun tidak sekabur saat pasien melihat jarak jauh. e. d. Riwayat Penyakit Sekarang: Ibu pasien mengeluhkan pasien selalu memicingkan mata ketika hendak melihat jarak jauh. Pasien kadang merasa sakit kepala bila mencoba membaca jarak jauh. maupun silau. Mata pasien tidak pernah memerah dan tidak pernah ada kotoran mata yang berlebihan. Riwayat Penyakit Dahulu: Tidak ada riwayat trauma. c. maupun operasi pada mata. Pada jarak dekat. radang. 4 . Orangtua pasien tidak menggunakan kacamata. Tidak ada riwayat penyakit sistemik tertentu. ia sulit melihat tulisan di papan sekolah karena tampak kabur. Pasien belum pernah menggunakan kacamata. tembakau. Tidak ada rasa gatal. perih. sejak masuk sekolah dasar. Tidak ada riwayat konsumsi obatobatan tertentu.

3. Status Lokalisata Kepala Mata Hidung Leher Thoraks Abdomen Genitalia Ekstremitas c. isi cukup : 20x/menit. Pemeriksaan Fisis a. Status Present Kesadaran Habitus Tekanan Darah Nadi Pernapasan Temperatur b. reguler. reguler : 36. : dalam batas normal : lihat status oftalmologikus : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : compos mentis : atletikus : 110/80 mmHg : 80x/menit.50C Status Oftalmologikus Oculi dextra Edema (-) Edema (-) Jernih Pemeriksaan Palpebra superior Palpebra inferior Kornea Oculi sinistra Edema (-) Edema (-) Jernih 5 .

50 axis 1800 5/20 : 5/60 pin hole koreksi tetap - Tonometri: Tidak dilakukan - Tes Konfrontasi 4. refleks cahaya (+) Hitam Jernih Jernih Tidak dilakukan pemeriksaaan - Visus dan Refraksi VOD VOS : 5/30 C-1.Jernih Bulat. refleks cahaya (+) hitam Jernih Jernih Tidak dilakukan pemeriksaan Kamera Okuli Anterior Pupil Iris Lensa Corpus vitreus Fundus Okuli Jernih Bulat. Diagnosis Astigmatisma oculi dextra (against the rule) Ambliopia refraktif bilateral et causa astigmatisma 6 .

5 D x 1800) dengan artropinisasi mata ambliopia dibiasakan melihat dekat dengan memberi lensa +2. Rencana Diagnostik Keratoskopi 6. Prognosis Ad vitam: dubia ad bonam Ad functionam: dubia ad malam Ad sanationam: dubia ad malam. Terapi Penalisasi dekat. dimana mata yang sehat (dengan visus yang lebih baik (OD)) diberi koreksi penuh (C-1.5.5 D. Monitoring kemajuan/ kemunduran visus 7. 7 .

sedangkan yang mengalami astimagtisma ≥1 dioptri lebih dari 20%3. trauma penetrasi kornea.PEMBAHASAN Astigmatisma adalah suatu keadaan dimana terjadi kelainan bentuk permukaan kornea sehingga berkas sinar tidak difokuskan secara tepat pada satu titik di retina akan tetapi pada 2 titik api yang saling tegak lurus sehingga mmbentuk suatu garis1.3. Astigmatisma dikelompokkan berdasarkan lokasi meridian dengan kekuatan refraksi terbesar. Keadaan ini biasanya disebabkan oleh pertumbuhan yang mempengaruhi perubahan kelengkungan kornea dan tekanan kelopak mata yang berlebihan sehingga terjadi perubahan pada permukaan kornea. keratokonus yang berat. dan 8 . Pada astigmatisme regular. 2) Astigmatisme against the rule dimana meridian dengan kekuatan refraksi terbesar terletak pada sumbu horizontal yaitu antara 160-1200. 3)Astigmatisma oblik dimana meridian dengan kekuatan refraksi terbesar terletak antara 110-1600.3 Klasifikasi astigmatisma lainnya adalah berdasarkan iregularitas permukaan kornea. Sekitar 42% populasi dunia menderita astigmatisma ≥0. yaitu: 1) Astigmatisma with the rule (bentuk tersering) dimana meridian dengan kekuatan refraksi terbesar terletak pada sumbu vertikal antara 70-1100. post operasi katarak. Keadaan ini perlu dibedakan dengan astigmatisma irregular dimana terdapat banyak titik fokus. anomali yang terjadi hanya melibatkan 2 sumbu meridian yang saling tergak lurus.2. Kondisi ini disebabkan oleh ulserasi kornea.7-10.5 dioptri.6.4.

50 axis 1800 sementara OS tidak terkoreksi meskipun dengan pin hole. Bentuk astigmatisma ireguler tidak dapat dikoreksi dengan kacamata sehingga perlu dikoreksi dengan lensa kontak yang kaku.10. atau koreksi bedah.6.6. dapat dilakukan pemeriksaan penunjang dengan juring atau kipas astigmat.5. kebiasaan memicingkan mata dan sakit kepala bila mencoba melihat jarak jauh.10. 9 .9.8. Pada pemeriksaan fisis didapatkan penurunan visus 5/30 OD dan 5/60 OS dimana OD terkoreksi hingga visus 5/20 dengan lensa silindris -1. dan kadang mata pasien berair. Pada pasien.8-10. Prinsip utama penanganan astigmatisma reguler adalah untuk membawa garis fokus dengan 2 sumbu meridian menjadi 1 titik fokus sehingga dibutuhkan lensa silinder1-4. keratoplasti. Usaha untuk mengkompensasi gangguan refraksi dengan akomodasi dapat memberikan gejala-gejala asthenopic seperti rasa tidak nyaman pada mata atau sakit kepala3.9.8. keratoskopi (plasidoskopi) untuk menentukan regularitas permukaan kornea.9. dan uji refraksi.3. dan Helmholtz atau Javal ophtalmometer untuk mengukur kurvatura kornea3.3. Pemeriksaan untuk menilai adanya astigmatisma selain dengan anamnesis. ditemukan adanya keluhan kesulitan melihat objek dalam jarak jauh maupun dekat. computerized corneal topography untuk memberikan gambaran distribusi nilai refraksi seluruh permukaan kornea. pemeriksaan oftalmologikus. Pasien dengan astigmatisma akan melihat segala sesuatunya secara menyimpang baik pada jarak jauh meupun dekat1.lentikonus3.6-10.6. Astigmatisme juga dapat muncul sejak lahir. Penanganan astigmatisma sedini mungkin dapat mencegah terjadinya ambliopia1. Keadaan ini kemudian dapat membaik seiring dengan pertumbuhan atau bahkan memberat9.

bayangan objek tidak terinterpretasikan. dan kadang mata pasien berair. 10 . Dua meridian utama (I danII) saling tegak lurus satu sama lain sehingga objek dipresentasikan sebagai suatu segmen garis YII dan YI pada titik fokus kedua meridian. kebiasaan memicingkan mata.50 axis 1800. OD terkoreksi hingga visus 5/20 dengan lensa silindris -1. Gambar 1. sakit kepala bila mencoba melihat jarak jauh. Kesulitan melihat objek atau kaburnya penglihatan baik jarak jauh maupun dekat pada astigmatisma disebabkan oleh karena kelainan bentuk permukaan atau kurvatura kornea.Pasien didiagnosis dengan astigmatisme against the rule pada oculi dextra karena berdasarkan anamnesis didapatkan keluhan kesulitan melihat objek dalam jarak jauh maupun dekat. Hal ini sesuai dengan gejala dan tanda pada astigmatisme against the rule. Kornea yang tidak berbentuk sferis pada keadaan astigmat menyebabkan berkas sinar jauh maupun dekat yang seharusnya difokuskan pada retina jatuh pada 2 garis meridian yang saling tegak lurus hingga membentuk garis sehingga bayangan yang masuk tidak dipersepsikan secara tepat. Bagian tengah antara kedua titik fokus tersebut merupakan circle of least confusion (Kr) dimana pada lokasi tersebut. Saat dilakukan uji refraksi.

perbaikan visus tidak dapat mencapai kemampuan visus normal. Astigmatisme yang diderita pasien kemungkinan muncul sejak lahir akibat kelainan kongenital karena telah tampak sejak usia 2 tahun dan bahkan sebenarnya telah dialami pasien sejak usia tersebut namun gejala baru tampak pada pasien sejak pasien mencoba untuk memfokuskan cahaya. terjadi perbaikan visus hingga 5/20.50 axis 1800. visus pasien terkoreksi dengan lensa silindris axis 1800. usaha memfokuskan bayangan objek dengan memicingkan mata telah tampak pada pasien sejak usia 2 tahun. Keadaan tersebut tidak sesuai dengan astigmatisme with the rule yang 11 . bahkan meskipun kelainan kornea telah dikoreksi dengan lensa silindris. Astigmatisme pada anak-anak dapat muncul sejak lahir (kongenital) maupun saat anak berusia antara 4 sampai dengan 7 tahun. pasien memang mempunyai kelainan kurvatura kornea pada sumbu horizontal (1800) sehingga saat dilakukan koreksi dengan lensa silinder. Selain itu.Saat dilakukan uji refraksi. OD terkoreksi hingga visus 5/20 dengan lensa silindris -1. Perbaikan visus yang tidak optimal dengan menggunakan lensa silindris disebabkan oleh karena adanya ambliopia yang timbul karena adanya astigmatisme yang gejalanya mulai tampak sejak usia 2 tahun. Keadaan astigmatisme pada pasien dengan kemampuan visus yang berbeda antara mata kiri dan mata kanan menyebabkan kemampuan visual pasien tidak berkembang dengan baik. Sekitar 68% anak usia 4 tahun dan 95% anak usia 7 tahun mempunyai astigmatisme with the rule (astigmat lazim) yang berarti kelengkungan kornea pada bidang vertikal bertambah atau lebih kuat atau jari-jarinya lebih pendek dibanding jari-jari kelengkungan kornea di bidang horizontal5. Hal ini berarti. Berdasarkan anamnesis.

Namun. Adanya ambliopia akibat kegagalan pembentukan kemampuan visual menyebabkan kesulitan dalam melakukan koreksi dengan menggunakan lensa. Jenis astigmatisma pada pasien adalah against the rule dimana kelengkungan kornea pada meridian horizontal lebih kuat dibandingkan kelengkungan kornea vertikal. Oleh karena itu. Ambliopia pada 12 . penyebab penurunan visus pada mata kiri kemungkinan sama dengan penyebab penurunan visus pada mata kanan. Penurunan visus pada mata kiri tidak dapat diketahui penyebabnya berdasarkan uji refraksi karena penurunan visus tersebut tidak terkoreksi.terjadi pada anak-anak akibat pertumbuhan dimana meridian dengan kekuatan refraksi terbesar terletak pada sumbu vertikal antara 70-1100. koreksi pada pasien dilakukan dengan menggunakan lensa silinder pada sumbu horizontal agar kekuatan akomodasi tidak terpusat pada sumbu horizontal namun seimbang dengan kelengkungan sumbu vertical agar cahaya yang direfraksikan melalui kedua sumbu tersebut sama-sama terfokus pada satu titik di retina. Keratoskopi dapat membantu melihat adanya kelainan kurvatura pada kornea dan membantu mengetahui iregularitas kornea sehingga pemeriksaan ini perlu dilakukan untuk memastikan jenis kelainan pada mata kiri yang menyebabkan penurunan visus. yaitu 5/30 pada oculi dextra dan 5/60 pada oculi sinistra ditambah dengan temuan adanya astigmatisma yang dapat menjadi penyebab ambliopia reaktif. yaitu astigmatisma. Koreksi visus pada pasien dapat dilakukan dengan menggunakan kacamata lensa silndris berdasarkan hasil uji refraksi yang dilakukan. Diagnosis ambliopia refraktif bilateral ditegakkan berdasarkan keluhan kaburnya penglihatan yang muncul sejak usia 2 tahun dan adanya perbedaan kekuatan refraksi kedua mata.

pasien merupakan jenis ambliopia refraktif karena saat dilakukan pemeriksaan. dapat dilakukan koreksi dengan penalisasi dekat dimana mata dengan visus yang lebih baik (OD) diberi koreksi penuh (C-1. Hal ini terjadi karena mata kanan pasien lebih berusaha memfokuskan ketajaman penglihatannya sedangkan kemampuan mata kiri lebih tersupresi. bayangan yang pada mata yang lebih suram tersebut akan disupresi sehingga mata yang lebih baik visusnya akan lebih difokuskan. tidak ditemukan penyebab ambliopia lain seperti strabismus. dan paksakan mata yang lebih lemah dengan membatasi penggunaan mata yang lebih baik (oklusi).5 D) yang mengarah pada astigmat ametropi dan terdapat perbedaan yang besar antara kelainan refraksi mata kiri dan kanan. Jenis ambliopia ada pasien adalah ambliopia refraktif dimana jika memungkinkan dilakukan koreksi optikal secara akurat sebelum dilakukan terapi oklusi karena jenis ambliopia ini biasanya akan sangat membaik walau hanya dengan koreksi kacamata selama beberapa bulan. Akibatnya. maupun riwayat pemakaian tembakau dan alkohol (ambliopia intosikasi) namun ditemukan adanya astigmatisma saat uji refraksi. koreksi kelainan refraksi. katarak. Secara lebih spesifik. mata kanan dengan visus 5/30 (lebih baik dari mata kiri) masih dapat terkoreksi sedangkan mata kanan dengan visus 5/60 (lebih buruk) tidak lagi terkoreksi meskipun dengan menggunakan pin hole. Pada pasien.5 D x 1800) dengan artropinisasi dan mata ambliopia dibiasakan 13 . Pada pasien. Penatalaksanaan ambliopia ambliopia meliputi usaha menghilangkan semua penghalng penglihatan. jenis ambliopia reaktif pada pasien ini adalah ainsometropia karena pasien bukan merupakan penderita astigmat tinggi (<3. Perbedaan ini menyebabkan terbentuknya bayangan bayangan yang lebih kabur pada satu mata dan terjadi kegagalan fusi banyangan benda antara kedua mata.

Selain itu. Hal ini berarti telah terjadi kegagalan pembentukan kemampuan visual pasien pada mata kiri sehingga 14 . VOD 5/30 dan masih dapat dikoreksi dengan C-1.5 D. Sementara itu. kemampuan visual pasien akan semakin baik. namun diharapkan dengan koreksi terebut. Semakin baik kemampuan visualnya. visus pasien tetap tidak terkoreksi. Usia dimulainya terapi juga mempengaruhi keberhasilan terapi. Pasien mempunyai tipe ambliopia anisometropia dimana tipe ini mempunyai prognosis yang buruk11. Prognosis pasien di dalam kasus adalah dubia ad bonam (cenderung baik) untuk ad vitam (hidup) dan dubia ad malam (cenderung buruk) untuk ad functionam (fungsi) dan ad sanationam (sembuh). belum pernah dilakukan terapi sehingga prognosis pasien untuk sembuh atau agar fungsi visualnya mencapai optimal lebih ke arah buruk.melihat dekat dengan memberi lensa +2. maka masih dapat dilakukan perbaikan kemampuan visual karena perkembangan kemampuan melihat yang membutuhkan rangsangan eksternal terjadi hingga tersebut. Pada pasien. akan semakin baik prognosis pasien. prognosis pasien ambliopia juga ditentukan dari kemampuan visual pasien saat terapi akan dimulai. Terapi oklusi menjadi pilihan terakhir apabila dengan koreksi optikal tidak ada perbaikan karena terapi oklusi pada usia dini dapat menimbulkan reverse ambliopia. Bila ambliopia ditemukan pada usia di bawah 6 tahun.50 axis 1800 hingga 5/20. Pasien di dalam kasus terlah menunjukkan gejala penglihatan kabur sejak usia 2 tahun Sejak usia tersebut hingga usia pasien sekarang (8 tahun). VOS pasien cukup tinggi yaitu 5/60 dan meskipun sudah digunakan pin hole. Kemampuan visual pasien pada oculi dextra cukup buruk namun masih dapat dikoreksi meskipun tidak mencapai optimal.

15 . Oleh karena itu. tidak ada kemajuan visus.meskipun dikoreksi. prognosis mata kiri pasien untuk sembuh lebih ke arah buruk.

dimana mata yang sehat (dengan visus yang lebih baik (OD)) diberi koreksi penuh (C-1. Prognosis pasien ini adalah ad vitam: dubia ad bonam. perlu dilakukan monitoring kemajuan/ kemunduran visus selama terapi. sakit kepala saat membaca jarak jauh.5 D. ad functionam: dubia ad malam. Pada pemeriksaan fisik ditemukan visus OD 5/30 dikoreksi dengan C-1. dan mata berair. Selain itu. KY. Pasien memiliki riwayat sulit melihat tulisan yang jauh maupun dekat. Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisis. pasien didiagnosis dengan astigmatisma against the rule OD dan ambliopia refraktif bilateral. ad sanationam: dubia ad malam.5 D x 1800) dengan artropinisasi mata ambliopia dibiasakan melihat dekat dengan memberi lensa +2. Terapi yang dapat diberikan pada pasien adalah dengan penalisasi dekat.8 tahun yang datang dengan keluhan sulit melihat jarak jauh sejak 6 tahun SMRS. 16 .KESIMPULAN Telah dilaporkan satu kasus pasien atas nama An.50 X 800 menjadi 5/20 dan visus OS 5/60 PH koreksi tetap.

American Optometric Association. editor. 17 .gov/pubmedhealth/PMH0002010. diakses tanggal 5 Mei 2013. Khaw PT. Refractive Erors. New York: McGraw-Hill. Dalam: Boyd BF. 7. editor. Optics and Refraction. 2000: 142.nih. Vaughan and Asbury’s General Ophtalmology. 2004:17. Edisi 4. London: BMJ Publishing Group. 2000:440-444. Eva PR. Dalam: Eva PR. New York: Thieme Stuttgart. dkk. 5. Sharma V. Pandey SK. USA: Springer. Daw NW. Color Atlas of Ophtalmology. 4. Spraul CW. Edisi 16. Whitcher JP. Ophtalmology. Available at: http://www. Dalam: Daw NW.org/ Astigmatism. Dalam: Khaw PT. Aberrometers and Corneal Topography. Constable IJ. 3. 8. Available at: http://www. 2004: Chapter 20. editor. Optics and Refractive Errors. Edisi 2. Modifications to The Visual Input That Lead to Nervous System Changes. 9. 6. Ming ALS. Apple DJ. Wavefront Analysis. Edisi 4. editor. Shah P.nlm. Elkington AR. diakses tanggal 5 Mei 2013. Shah P. Whitcher JP.xml. Dalam: Lang GK. Yulianti SR. Jakarta: Badan Penerbit FKUI. 2011: 81-83. Refractive Media of The Human Eye. Edisi 3. Elkington AR. Constable IJ. Astigmatism. editor. editor. Ilmu Penyakit Mata. 2006: 119. Ilyas S. ABC of Eyes. Visual Development. Werner L.aoa. 2003:6. Astigmatism. Lang GK.DAFTAR PUSTAKA 1. Dalam: PubMed Health. A Short Textbook. Refractive Erors. Panama: Highlights of Ophtalmology. Dalam: Ming ALS. Vorvick LJ. ncbi. 2.

Available at: http://www. diakses tanggal 5 Mei 2012.aspx. Astigmatism. 18 .nhs. NHS Choice.uk/conditions/ Astigmatism/Pages/Introduction.10.