You are on page 1of 30

ILMU GALENICA

A. Pendahuluan Istilah galenika di ambil dari nama seorang tabib Yunani yaitu Claudius Galenos (GALEN) yang membuat sediaan obat-obatan yang berasal dari tumbuhan dan hewan, sehingga timbulah ilmu obat-obatan yang disebut ilmu galenika. Jadi Ilmu Galenika adalah : Ilmu yang mempelajari tentang pembuatan sediaan (preparat) obat dengan cara sederhana dan dibuat dari alam (tumbuhan dan hewan). Pembuatan sediaan galenik secara umum dan singkat sebagai berikut : • Bagian tumbuhan yang mengandung obat diolah menjadi simplisia atau bahan obat nabati. • Dari simplisia tersebut obat-obat (bahan obat) yang terdapat di dalamnya diambil dan diolah dalam bentuk sediaan / preparat. Tujuan dibuatnya sediaan galenik : 1. untuk memisahkan obat-obat yang terkandung dalam simplisia dari bagian lain yang dianggap tidak bermanfaat. 2. membuat suatu sediaan yang sederhana dan mudah dipakai 3. agar obat yang terkandung dalam sediaan tersebut stabil dalam penyimpanan yang lama. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan sediaan galenik 1. Derajat kehalusan Derajat kehalusan ini harus disesuaikan dengan mudah atau tidaknya obat yang terkandung tersebut di sari. Semakin sukar di sari, simplisia harus dibuat semakin halus, dan sebaliknya. 2. Konsentrasi / kepekatan Beberapa obat yang terkandung atau aktif dalam sediaan tersebut harus jelas konsentrasinya agar kita tidak mengalami kesulitan dalam pembuatan. 3. Suhu dan lamanya waktu Harus disesuaikan dengan sifat obat, mudah menguap atau tidak, mudah tersari atau tidak. 4. Bahan penyari dan cara penyari Cara ini harus disesuaikan dengan sifat kelarutan obat dan daya serap bahan penyari ke dalam simplisia.

Bentuk-bentuk sediaan galenik 1. Hasil Penarikan : Extracta, Tinctura, Decocta / Infusa

2.

Hasil Penyulingan/ pemerasan : Aqua aromatika, olea velatilia (minyak menguap), olea pinguia (minyak lemak) 3. Syrup. B. Penarikan (Extraction) Extractio adalah cara menarik satu atau lebih zat-zat dari bahan asal yang umumnya zat berkhasiat tersebut tertarik dalam keadaan (khasiatnya) tidak berubah. Istilah extractio hanya dipergunakan untuk penarikan zat-zat dari bahan asal dengan menggunakan cairan penarik/ pelarut. Cairan penarik yang dipergunakan disebut menstrum, ampasnya disebut marc atau faeces. Cairan yang dipisahkan disebut Macerate Liquid, Colatura, Solution, Perkolat. Umumnya extractio dikerjakan untuk simplisia yang mengandung zat berkhasiat atau zat-zat lain untuk keperluan tertentu.. Zat-zat berkhasiat tersebut antara lain alkaloida, glukosida, damar, olea, resina, minyak atsiri, lemak. Disamping itu terdapat juga jenis-jenis gula, zat pati, zat lendir, albumin, protein, pectin, selulosa yang pada umumnya mempunyai daya larut dalam cairan pelarut tertentu dimana sifat-sifat kelarutan ini dimanfaatkan dalam extractio. Tujuan utama extractio adalah :untuk mendapatkan zat-zat berkhasiat pengobatan sebanyak mungkin dari zat-zat yang tidak berfaedah, supaya lebih mudah digunakan dari pada simplisia asal. Begitu juga penyimpanan dan tujuan pengobatannya terjamin sebab pada umumnya simplisia terdapat dalam keadaan tercampur yang memerlukan cara-cara penarikan dan cairan-cairan penarik tertentu yang nantinya akan menghasilkan sediaan galenik sesuai dengan pengolahannya. Suhu penarikan juga sangat mempengaruhi hasil penarikan, suhu penarikan untuk : Maserasi : 15 – 25 0C Digerasi : 35 – 45 0C Infundasi : 90 – 98 0C Memasak : suhu mendidih Dalam beberapa hal sebelum sediaan yang dimaksud dibuat, simplisia perlu diolah terlebih dahulu, Misalnya mengawal lemakkannya seperti: Strychni, Secale cornuti; atau menghilangkan zat pahitnya seperti : Lichen islandicus. Supaya zat-zat yang tidak berguna / merusak tidak ikut tertarik bersama-sama dengan zat-zat yang berkhasiat. Cara menghilangkan isi simplisia yang tidak berguna : 1. Dengan memakai bahan pelarut yang tepat dimana bahan berkhasiatnya mudah larut, sedangkan yang tidak berguna sedikit atau tidak larut dalam cairan penyari tersebut.

2.

Dengan menarik / merendam pada suhu tertentu dimana bahan berkhasiat terbanyak larutnya. Dengan menggunakan jarak waktu menarik yang tertentu dimana bahan berkhasiat dari sipmlisia lebih banyak larutnya, sedangkan bahan yang tidak berguna sedikit atau tidak larut. Dengan memurnikan / membersihkan memakai cara-cara tertentu baik secara ilmu alam maupun ilmu kimia. Jadi kesimpulan dalam extractio ini adalah memilih salah satu cara penarikan yang tepat dengan cairan yang pantas dan memisahkan ampas dengan hasil penarikan yang akan menghasilkan sebuah preparat galenik yang dikehendaki. Simplisia yang dipergunakan umumnya sudah dikeringkan, kadang-kadang juga yang segar. Untuk kemudahan simplisia yang kering ini dilembabkan terlebih dahulu / di maserer dalam batas waktu tertentu. Disamping itu simplisia ini ditentukan derajat halusnya untuk memperbesar atau memperluas permukaannya, sehingga menyebabkan proses difusi dari zat-zat berkhasiat lebih cepat dari pada melalui dinding-dinding sel yang utuh (proses osmose). C. Cairan - Cairan Penarik Menentukan cairan penarik apa yang akan digunakan harus diperhitungkan betulbetul dengan memperhatikan beberapa faktor, antara lain : Kelarutan zat-zat dalam menstrum Tidak menyebabkan nantinya zat-zat berkhasiat tersebut rusak atau akibat-akibat yang tidak dikehendaki (perubahan warna, pengendapan, hidrolisa) Harga yang murah Jenis preparat yang akan dibuat Macam – macam cairan penyari : 1. Air Termasuk yang mudah dan murah dengan pemakaian yang luas, pada suhu kamar adalah pelarut yang baik untuk bermacam-macam zat misalnya : garam-garam alkaloida, glikosida, asam tumbuh-tumbuhan, zat warna dan garam-garam mineral. Umumnya kenaikan suhu dapat menaikkan kelarutan dengan pengecualian misalnya pada condurangin, Ca hidrat, garam glauber dll. Keburukan dari air adalah banyak jenis zat-zat yang tertarik dimana zat-zat tersebut meripakan makanan yang baik untuk jamur atau bakteri dan dapat menyebabkan mengembangkan simplisia sedemikian rupa, sehingga akan menyulitkan penarikan pada perkolasi. 2. Etanol

3.

4.

1. 2. 3. 4.

D. gula dan albumin. Gliserin adalah pelarut yang baik untuk tanintanin dan hasil-hasil oksidanya. 2. Acetonum Tidak dipergunakan untuk sediaan galenik obat dalam. jenis-jenis gom dan albumin juga larut dalam gliserin. Chloroform Tidak dipergunakan untuk sediaan dalam. secale cornutum. Digerasi .Etanol hanya dapat melarutkan zat-zat tertentu. Pelarut yang baik untuk lemak-lemak dan minyak-minyak. 6. sebelum simplisia tersebut dibuat sediaan galenik. Umumnya pelarut yang baik untuk alkaloida. Cara – Cara Penarikan 1. Biasanya dipergunakan untuk menghilangkan lemak dari simplisia yang mengandung lemak-lemak yang tidak diperlukan. Maserasi juga merupakan proses pendahuluan untuk pembuatan secara perkolasi. Dipakai misalnya pada pembuatan Capsicum oleoresin (N. Maserasi Adalah cara penarikan sari dari simplisia dengan cara merendam simplisia tersebut dalam cairan penyari pada suhu biasa yaitu pada suhunya 15-25 0C. Bahan pelarut yang baik untuk basa alkaloida. damar. misalnya strychni. Eter Sangat mudah menguap sehingga cairan ini kurang tepat untuk pembuatan sediaan untuk obat dalam atau sediaan yang nantinya disimpan lama.F. minyak lemak dan minyak atsiri. tidak sesuai untuk pembuatan ekstrak-ekstrak kering. minyak atsiri. minyak atsiri tetapi bukan untuk jenis-jenis gom. 5. Baunya kurang enak dan sukar hilang dari sediaan. 4. karena efek farmakologinya. Solvent Hexane Cairan ini adalah salah satu hasil dari penyulingan minyak tanah kasar. pelarut yang baik untuk bermacam-macam lemak. Campuran air-etanol (hidroalkoholic menstrum) lebih baik dari pada air sendiri. damar-damar.XI) 7. Etanol juga menyebabkan enzym-enzym tidak bekerja termasuk peragian dan menghalangi perutumbuhan jamur dan kebanyakan bakteri. damar. Karena cairan ini tidak atsiri. Gycerinum (Gliserin) Terutama dipergunakan sebagai cairan penambah pada cairan menstrum untuk penarikan simplisia yang mengandung zat samak. glikosida. Sehingga disamping sebagai cairan penyari juga berguna sebagai pengawet. 3.

untuk ekstrak cair disari sampai tersari sempurna.Cara penarikan simplisia dengan merendam simplisia dengan cairan penyari pada suhu 35o – 45o. 4. 4. memakai alat yang disebut perkolator. 2. 2. Perkolasi Biasa Simplisia yang telah ditentukan derajat halusnya direndam dengan cairan penyari. memakai alat soxhlet. continous extraction. 1. Perkolasi Perkolasi ialah suatu cara penarikan. Cara ini sekarang sudah jarang dilakukan karena disamping membutuhkan alatalat tertentu juga pada suhu tersebut beberapa simplisia menjadi rusak. 3. . reperkolasi. 3. melembabkan dengan cara penyari : maserasi I jenis perkolator yang dipergunakan dan memper-siapkannya cara memasukkannya ke dalam perkolator dan lamanya di maserer dalam perkolator : maserasi II pengaturan penetapan cairan keluar dalam jangka waktu yang ditetapkan. Untuk pembuatan tingtur disari sampai diperoleh bagian tertentu. yang simplisianya terendam dalam cairan penyari dimana zat-zatnya terlarut dan larutan tersebut akan menetes secara beraturan keluar sampai memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan. Cara-cara perkolasi : perkolasi biasa perkolasi bertingkat. masukkan kedalam perkolator dan diperkolasi sampai didapat perkolat tertentu. pressure percolation perkolasi persambungan. Hal-hal yang harus mendapat perhatian pada perkolasi ialah : mempersiapkan simplisianya : derajat halusnya. Perkolasi umumnya digunakan untuk pengambilan sari zat-zat yang berkhasiat keras. A. Gambar Perkolator : 1. fractional percolation perkolasi dengan tekanan. 5. 3.

tetapi dipakai beberapa perkolator.perkolat C pertama 500 cc Keuntungan pertama pada reperkolasi ialah preparat yang terdapat dalam bentuk pekat dan berarti penghematan menstrum. misalnya : 200 cc. 300 cc. akan diperoleh perkolat-perkolat dalam jumlah-jumlah dan volume tertentu.Alat tersebut dinamakan diacolator. 200 cc. Hasilnya ialah: . Perkolasi Dengan Tekanan Digunakan jika simplisia mempunyai derajat halus yang sangat kecil sehingga cara perkolasi biasa tidak dapat dilakukan.perkolat A pertama 200 cc . bagian pertama perkolat (300 cc) adalah sebagian dari sediaan. lebih kecil volumenya dari perkolat B bagian pertama. Perkolator kedua dilembabkan simplisianya dengan perkolat A (susulan pertama). 300 cc. Biasanya simplisia dibagi dalam tiga bagian dalam tiga perkolator. 200 cc. tetapi sebaliknya perkolat A bagian-bagian berikutnya lebih besar volumenya dari perkolatperkolat B. Cara Kerjanya : Isi perkolator pertama–tama dilembabkan. perkolat-perkolat dari tiap perkolator diambil dalam jumlah yang sudah ditetapkan dan nantinya dipergunakan sebagai cairan penyari untuk perkolasi berikutnya pada perkolator yang kedua dan ketiga. dengan catatan perkolat ini nantinya terdapat 300 cc. C. 200 cc.perkolat B pertama 300 cc jumlah 1000 cc . Dengan sendirinya simplisia di bagi-bagi dalam beberapa porsi dan ditarik tersendiri dalam tiap perkolator. dan ditarik seperti cara memperkoler biasa. 300 cc. Tetapi reperkolasi ini tidak dapat dipergunakan untuk ekstraksi sampai habis. • • • . Perkolasi Bertingkat / Reperkolasi Reperkolasi adalah suatu cara perkolasi biasa. 300 cc. Perkolator ketiga diolah seperti kedua. 300 cc bagian yang pertama perkolat A (200 cc) adalah sebagian sediaan yang diminta dan perkolat selanjutnya disebut susulan pertama. Untuk itu perlu ditambah alat penghisap supaya perkolat dapat turun ke bawah. 200 cc. Secara resmi reperkolasi dipergunakan hanya untuk pembuatan ekstrak-ekstrak cair yang simplisianya mengandung zat berkhasiat yang tidak tahan atau rusak oleh pemanasan. dengan perkolator B bagian kedua 200 cc dan seterusnya sampai terdapat nantinya sebanyak 500 cc. tetapi perkolatnya ditentukan dalam beberapa bagian dan jumlah volume tertentu.perkolator perkolasi biasa perkolasi kontinyu B. 200 cc. terlihat disini bahwa perkolat A bagian pertama.

kecuali dinyatakan lain lakukan sebagai berikut : Basahi 10 bagian simplisia atau campuran simplisia dengan derajat halus yang cocok dengan 2. cuci ampas dengan cairan penyari secukupnya hingga diperoleh 100 bagian. kecuali dinyatakan lain.E. Pindahkan ke dalam bejana tertutup. setelah diperoleh 80 bagian perkolat. Tingtur (Tinctura) Adalah sediaan cair yang dibuat dengan cara maserasi atau perkolasi simplisia nabati atau hewani atau dengan cara melarutkan senyawa kimia dalam pelarut yang tertera pada masing – masing monografi. biarkan ditempat sejuk terlindung dari cahaya. Kecuali dinyatakan lain. 2. biarkan selama 5 hari terlindung dari cahaya sambil sering di aduk. lakukan sebagai berikut : Masukkan 20 bagian simplisia dengan derajat halus yang cocok ke dalam sebuah bejana. Perkolasi. masukkan ke dalam bejana tertutup sekurang-kurangnya 3 jam. tambahkan cairan penyari secukupnya hingga diproleh 100 bagian. • • • • • . Atur kadar hingga memenuhi syarat. tetapkan kadarnya. peras. tutup perkolator. Cara Pembuatan 1. Enap. tuangkan atau saring. biarkan selama 24 jam. Pindahkan masa sedikit demi sedikit ke dalam perkolator sambil tiap kali di tekan hati-hati. tingtur dibuat menggunakan 20% zat berkhasiat dan 10 % untuk zat berkhasiat keras. Jika dalam monografi tertera penetapan kadar.5 – 5 bagian cairan penyari. terlindung dari cahaya. Biarkan cairan menetes dengan kecepatan 1 ml per menit. Penyimpanan Dalam wadah tertutup rapat. serkai. enap. tutup. tuangi dengan 75 bagian cairan penyari. di tempat sejuk. jika perlu encerkan dengan cairan penyari secukupnya. tambahkan berulangulang cairan penyari secukupnya sehingga selalu terdapat selapis cairan penyari di atas simplisia hingga diperoleh 80 bagian perkolat. selama 2 hari. biarkan selama 2 hari ditempat sejuk terlindung dari cahaya. tutup. Pindahkan ke dalam bejana. tuang atau saring. Peras masa. tuangi dengan cairan penyari secukupnya sampai cairan mulai menetes dan di atas simplisia masih terdapat selapis cairan penyari. Maserasi . campurkan cairan perasan ke dalam perkolat.

6. FI 1974 . Tingtur Menyan. 7. Opii Tinctura Valerianae Tinctura Capsici Tinctura Myrrhae Tinctura Opii Aromatica Tinctura Polygalae Tinctura Dan lain-lain FI III FI III FI II FI II FI III Ext. Pembagian Tinctur 1. FI 1974 Tingtur yang dibuat secara perkolasi. 2. Contoh : Tingtur yang dibuat secara maserasi 1. 2. 2. Asaefoetida Tinctura. Tingtur yang mengandung harsa / damar adalah Mira Tinctura. 4. Tingtur Asli Adalah tingtur yang dibuat secara maserasi atau perkolasi. contoh : 1. 7.Sediaan tingtur harus jernih. Capsici Tinctura. 4. 5. Belladonae Tinctura Cinnamomi Tinctura Digitalis Tinctura Lobeliae Tinctura Strychnini Tinctura Ipecacuanhae Tinctura Dan lain-lain Tingtur Tidak Asli (Palsu) FI III FI III FI III FI II FI II Ext. 6. 5. 3. untuk bahan dasar yang mengandung harsa digunakan cairan penyari etanol 90% dan pada umumnya cairan penyari adalah etanol 70%. Menurut Cara Pembuatan 1. 3.

Adalah tingtur yang dibuat dengan jalan melarutkan bahan dasar atau bahan kimia dalam cairan pelarut tertentu. 2. Contoh : Tingtura Valerianae Aetherea. 3. Contoh : Tinctura Rhei Vinosa (Vinum Rhei). Tingtura Vinosa. c. Tingtur Lemah Adalah tingtur yang dibuat menggunakan 20 % simplisia yang tidak berkhasiat keras. . 5. Contoh : 1. Tingtura Aetherea. b. 2. 7. 3. Contoh : 1. Contoh : 1. FI 1974 2. 4. jika ke dalam aethanol yang dipakai sebagai cairan penarik ditambahkan suatu asam sulfat. Contoh : pada pembuatan Tinctura Acida Aromatica. 2. 1. 4. FI 1974 FI II 3. 6. jika cairan penariknya adalah aether atau campuran aether dengan aethanol. Cinnamomi Tinctura Valerianae Tinctura Polygalae Tinctura Myrrhae Tinctura FI III FI III Ext. Berdasarkan Cairan Penariknya a. Tinctura Acida. jika cairan yang dipakai adalah campuran anggur dengan aethanol. 2. Iodii Tinctura Secalis Cornuti Tinctura FI III FI III Menurut Kekerasan (perbandingan bahan dasar dengan cairan penyari) Tingtur Keras Adalah tingtur yang dibuat menggunakan 10 % simplisia yang berkhasiat keras. Belladonae Tinctura Digitalis Tinctura Opii Tinctura Lobeliae Tinctura Stramonii Tinctura Strychnin Tinctura Ipecacuanhae Tinctura FI III FI III FI III FI II FI II FI II Ext.

Tingtur Ipeka (Ipecacuanhae Tinctura) Cara pembuatan : perkolasi 10 bagian serbuk (18/34) akar ipeka dengan etanol encer.d. Tidak boleh disimpan lebih dari 1 tahun sejak tanggal pembuatan. 2. 5. serkai. Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat. contoh : Tinctura Chinae Composita. Contoh Sediaan Tinctura 1. Tingtur Gambir (Catechu Tinctura) Cara pembuatan : maserasi 200 g gambir yang telah diremukkan dengan 50 g kulit kayu manis yang telah dimemarkan dengan 1000 ml etanol 45%. hingga memenuhi persyaratan kadar. misalnya campuran simplisia. terlindung dari cahaya. Tingtur Kina (Chinae Tinctura) Cara pembuatan : perkolasi 20 bagian kulit kina yang diserbuk agak kasar (22/60) dengan etanol 70 % hingga diperoleh 100 bagian tingtur. 3. jernihkan dengan penyaringan. Tetapkan kadar alkaloida. e. jika perlu encerkan dengan etanol 70% hingga memenuhi syarat. contoh : Tinctura Rhei Aquosa. biarkan selama 7 hari. Tingtur Stramonii (Stramonii Tinctura) Cara pembuatan : perkolasi 10 bagian serbuk (8/24) herba Stramonium dengan etanol 70% hingga diperoleh 100 bagian tingtur. Pada etiket harus tertera tanggal pembuatan. hingga diperoleh 100 bagian tingtur. biarkan selama tidak kurang dari 24 jam. Tingtur Ratania (Ratanhiae Tinctura) Cara pembuatan : maserasi 20 bagian serbuk (6/8) akar ratania dengan etanol 60 % secukupnya hingga diperoleh 100 bagian tingtur. adalah tingtur yang didapatkan dari jika penarikan dilakukan dengan cairan penarik selain aethanol hal ini harus dinyatakan pada nama tingtur tersebut. Tinctura Composita. jika perlu encerkan dengan etanol 70%. jika sebagai cairan penarik dipakai air. 7. 6. Tetapkan kadar alkaloida. 4. Tinctura Aquosa. Tingtur Poligala (Polygalae Tinctura) Cara pembuatan : maserasi 20 bagian irisan halus herba poligala dengan etanol 60% secukupnya hingga diperoleh 100 bagian tingtur. saring. Tingtur Strichni (Strychni Tinctura) . ditempat sejuk.

biarkan selama tidak kurang dari 24 jam. Tingtur Beladon (Belladonnae Tinctura) Cara pembuatan : perkolasi 10 bagian serbuk beladon dengan etanol encer. Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat. terlindung dari cahaya. Tingtur Cabe (Capsici Tinctura) Cara pembuatan : maserasi 100 g serbuk (10/24) cabe dengan campuran 9 bagian etanol 95 % dan 1 bagian air selama 3 jam. hingga diperoleh 100 bagian tingtur. atur kadar dengan penambahan etanol encer hingga memenuhi syarat. 8. ditempat sejuk. . Tingtur Jeruk Manis (Aurantii Tinctura) Cara pembuatan : 8 bagian kulit buah jeruk manis yang telah dipotong-potong halus. 13. Tingtur Digitalis ( Digitalis Tinctura) Cara pembuatan : perkolasi 10 bagian serbuk digitalis dengan etanol 70 % hingga diperoleh 100 bagian tingtur. Tetapkan potensi atur potensi jika perlu encerkan dengan etanol 70 % hingga memenuhi syarat. hingga diperoleh 100 bagian tingtur. Perkolasi dengan cepat hingga diperoleh 1000 ml tingtur.Cara pembuatan : perkolasi 10 bagian serbuk (24/34) biji strichni yang telah dihilangkan lemaknya dengan eter minyak tanah. saring. Tingtur Mira (Myrrhae Tinctura) Cara pembuatan : maserasi 20 bagian serbuk (24/34) Mira dengan etanol 90% hingga diperoleh 100 bagian tingtur. 15. yang menggunakan pelarut penyari etanol 70 % hingga diperoleh 100 bagian tingtur. hingga diperoleh 100 bagian tingtur. Tetapkan kadar alkaloida. 10. 11. Tidak boleh disimpan lebih dari 1 tahun sejak tanggal pembuatan 14. jika perlu dengan etanol 70% secukupnya hingga memenuhi persyaratan kadar. Tingtur Kayu Manis (Cinnamomi Tinctura) Cara pembuatan : perkolasi 20 bagian serbuk (44/60) kulit kayu manis dengan etanol encer hingga diperoleh 100 bagian tingtur. Tingtur Kemenyan ( Benzoes Tinctura) Cara pembuatan : Larutkan 20 bagian serbuk (6/8) dalam 100 bagian etanol 90 %. Tingtur Lobelia (Lobeliae Tinctura)Cara pembuatan : perkolasi 10 bagian serbuk (6/34) herba lobelia dengan etanol 70% secukupnya. saring. maserasi dengan etanol encer. 9. Tetapkan kadar strichnina. 12.

Cairan penyari yang dipakai adalah air. kental. perkolasi atau penyeduhan dengan air mendidih. atau cair dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok diluar pengaruh cahaya matahari langsung. F.16. jika perlu encerkan dengan etanol 70 % secukupnya. 18. • • • 1.2 %. Tetapkan kadar dan atur hingga memenuhi syarat. Penyarian dengan campuran etanol dan air dilakukan dengan cara maserasi atau perkolasi. Ekstrak (Extracta) Adalah sediaan kering. Tingtur Sekale Cornutum (Secalis Cornuti Tinctura) Cara pembuatan : Campur 1 bagian ekstrak sekale kornutum dengan 9 bagian etanol encer. 17. Natriun Iodida 2. 20. Penyarian dengan eter dilakukan dengan cara perkolasi. eter dan campuran etanol dan air Cara Pembuatan Penyarian : Penyarian simplisia dengan air dilakukan dengan cara maserasi. 19.6 % dalam etanol encer. Ekstrak kering harus mudah digerus menjadi serbuk. Tingtur Valerian (Valerianae Tinctura) Cara pembuatan : maserasi 20 bagian serbuk (10/22) akar valerian dengan etanol 70 % hingga diperoleh 100 bagian tingtur. Tingtur Opium (Tinctura Opii) Cara pembuatan : maserasi 10 bagian serbuk opium dengan etanol 70 % hingga diperoleh 100 bagian tingtur. . 1 bagian serbuk (22/60) cengkeh dan 12 bagian serbuk opium dengan campuran etanol 90 % dan air volume sama banyak hingga diperoleh 100 bagian tingtur.8 – 2. Tingtur Opium wangi (Opii Tinctura Aromatica) Cara pembuatan : maserasi campuran 1 bagian kulit kayu manis serbuk (22/60). Tingtur Iodium (Iodii Tinctura) Cara pembuatan : Larutkan Iodum 1. Maserasi Lakukan maserasi menurut cara yang tertera pada tingtur. suling atau uapkan maserat pada tekanan rendah pada suhu tidak leih dari 50 0C hingga konsistensi yang dikehendaki.1 – 2.

serkai. saring. Penyimpanan : Ekstrak belladon dapat disimpan dalam persediaan dalam bentuk serbuk kering yang dibuat sebagai berikut : Gerus 1 bagian ekstrak dengan 2 bagian pati beras atau laktosa. terlindung dari cahaya • Untuk ekstrak kering dan kental perkolat disuling atau diupkan dengan tekanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50 0C hingga konsistensi yang dikehendaki.2 bagian campur dengan perkolat pertama. Uapkan filtrat menurut cara yang tertera pada extracta hingga diperoleh ekstrak kental.2. perkolat selanjutnya diuapkan hingga 0. Setelah perkolator ditutup dan dibiarkan selama 24 jam biarkan cairan menetes. enapkan. Uapkan 2 ml lapisan eter. Contoh – Contoh Ekstrak 1. kemudian tambahkan 5 tetes air dan 1 tetes larutan kalium tetraiodida hidrargyrat (II) tidak terjadi kekeruhan. serkai. Perkolat disuling atau diuapkan dengan tekanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50 0 C hingga konsistensi yang dikehendaki • Pada pembuatan ekstrak cair 0. Ekstrak ini berkadar 1. Ekstrak Hiosiami (Hyosyami Extractum) Cara pembuatan : sama dengan cara pembuatan Belladonae Extractum yang dibuat dari serbuk hiosiamin . cuci sisa dengan 100 bagian air. uapkan pada tekanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50 0C hingga konsentrasi yang dikehendaki. larutkan sisa dalam 1 tetes H2SO4 encer. Sisa dalam wadah berisi zat pengering. • Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat. keringkan pada suhu tidak lebih dari 30 0C. 5 tetes amonia encer dan 2 ml perkolat.3% alkaloida.8 bagian perkolat pertama dipisahkan. Tambahkan talk. • Enapkan di tempat sejuk selama 24 jam. • Ekstrak yang diperoleh dengan penyari air hangatkan segera pada suhu kurang lebih 90 0C. biarkan di tempat sejuk selama 24 jam. Uapkan serkaian pada takanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50 0C hingga bobotnya sama dengan bobot simplisia yang digunakan. tuangi massa dengan cairan penyari hingga jika 500 mg perkolat yang keluar terakhir diuapkan tidak meninggalkan sisa. 2. • Pembuatan ekstrak cair dengan penyari etanol dapat juga dilakukan dengan cara reperkolasi tanpa menggunakan panas. Suling etanol dengan perkolat. Ekstrak Belladonae Cara pembuatan : perkolasi 100 bagian serbuk belladon (85/100) dengan campuran etanol encer dan larutan dalam air asam asetat 2% v/v volume sama sehingga alkaloida tersari sempurna yang diperiksa dengan cara sebagai berikut : Kocok kuat-kuat campuran 3 ml eter. Perkolasi • Lakukan perkolasi menurut cara yang tertera pada tinctura. tambahkan sejumlah pati beras atau laktosa hingga tepat 3 bagian.

campurkan larutan ini dengan 325 bagian serbuk (85/100) herba timi. Ekstrak Akar Manis (Glycyrrhizae Succus Extractum) Cara pembuatan : penyarian dilakukan dengan air mendidih kemudian diuapkan hingga kering. Ekstrak Pulepandak (Rouwolfiae Extractum) 4. Campur hasil perkolasi I. II dan III. pindahkan ke dalam sebuah perkolator. tambahkan sejumlah pati atau laktosa kering hingga tapat 3 bagian. pindahkan ke dalam perkolator. 50 bagian gliserol dan 75 bagian etanol (90%). Ekstrak Timi (Thymi Extractum) Cara pembuatan : campurkan 500 bagian serbuk (85/100) herba timi dengan campuran 125 bagian air. Larutkan 20 bagian gliserol dalam 70 bagian susulan II yang mula-mula keluar. Larutkan 30 bagian gliserol dalam 130 bagian susulan I yang mula-mula keluar. Ekstrak Strichi (Strychni Extractum) Cara pembuatan : perkolasi serbuk biji strichni (24/34) yang telah dihilangkan lemaknya dengan eter minyak tanah.s. simpan cairan ini sebagai perkolat I lanjutkan perkolasi dengan campuran etanol air seperti di atas. Biarkan campuran selama 24 jam dalam sebuah bejana tertutup. hingga diperoleh 175 bagian cairan. campurkan larutan ini dengan 175 bagian serbuk (85/100) herba timi. Biarkan campuran selam 24 jam dalam sebuah bejana tertutup. perkolasi dengan campuran yang terdiri dari 1 bagian etanol (90%) dan 3 bagian air q. dengan penyari etanol 70% v/v sampai sisa penguapan dari 2 tetes perkolat terakhir dengan penambahan 2 tetes asam nitrat tidak berwarna merah. perkolasi dengan sisa susulan II q. . Simpan dalam wadah berisi zat pengering.s.Ekstrak hiosiami kental disimpan dalam persediaan dalam bentuk serbuk yang dibuat sebagai berikut : Gerus 1 bagian ekstrak dengan 2 bagian pati atau laktosa keringkan pada suhu tidak lebih dari 80 0C. Pisahkan 325 bagian cairan mula-mula keluar yang dinyatakan sebagai hasil perkolasi II. pindahkan ke dalam perkolator. Uapkan perkolat menurut cara yang tertera pada ekstrakta hingga diperoleh ekstrak kering. perkolasi dengan sisa susulan I. 3. Hasil perkolasi selanjutnya dinyatakan sebagai susulan II. Biarkan campuran selama 24 jam dalam sebuah bejana tertutup. sehingga diperoleh 1500 bagian yang dinyatakan sebagai susulan I. hingga diperoleh campuran 500 bagian campuran yang dinyatakan sebagai hasil perkolasi III. Tetapkan kadar strichnina dan jika perlu tambahkan laktosa hingga memenuhi persyaratan kadar. • • • 5. 6.

Ekstrak Frangulae (frangulae extractum) Cara pembuatan : pada 100 bagian serbuk (33/36) kulit frangula. Ekstrak Kelembak (Rhei Extractum) Cara pembuatan : perkolasi serbuk (8/24) kelembak dengan campuran yang terdiri dari etanol 90% dan air volume sama. biarkan selama 12 jam. tuangkan air mendidih. Suling etanol dari perkolat sisa hingga menjadi ekstrak kental. 8. 7. Pada sisa tambahkan 300 bagian air mendidih. jika perlu saring. hingga memenuhi persyaratan kadar. Ekstrak Kecambah (Malti Extractum) Cara pembuatan : panaskan campuran kecambah yang telah dimemarkan dengan air panas 3 kali bobot kecambah selama 3 jam. maserasi 1000 bagian dengan campuran 1500 bagian volume air dan 2 bagian volume HCl 4 N selama 12 jam. sari sisa dengan air panas. peras. uapkan perkolat hingga diperoleh ekstrak kering. biarkan selama 6 jam. Campuran sari dipanaskan pada suhu kurang lebih 90 0C selama 1 jam. jika perlu tambahkan etanol 45% q. kemudian aupkan hingga diperoleh massa kental. larutkan ekstrak dalam perkolat pertama. Uapkan serkaian di atas penangas air hingga 100 bagian. suling etanol pada tekanan rendah pada suhu tidak lebih dari 70 0C hingga diperoleh ekstrak lembek.saring. . 9. tuangkan campuran sambil diaduk ke dalam 500 bagian air. 12. 10. dinginkan. teruskan perkolasi hingga penyarian sempurna. sambil berulang-ulang diaduk. serkai.campur dengan 150 bagian volume etanol. Tambahkan 50 bagian pati kering. Ayak melalui pengayak no 12. Hangatkan hingga suhu 80 0C serkai dan peras. biarkan mengendap. Biarkan selama tidak kurang dari 24 jam. uapkan serkaian hingga diperoleh ekstrak kering. Ekstrak Hati (Hepatis Extractum) Cara pembuatan : giling hati sapi segar dengan penggiling daging yang berlubang 3 mm. Kumpulkan sari. Biarkan mengenap. Ekstrak Jadam (Aloes Extractum) Cara pembuatan : tuangi 100 bagian jadam dengan 500 bagian air mendidih. Ekstrak Stramonium (Stramonium Extractum) Cara pembuatan : perkolasi 1000 g serbuk (8/24) herba stramonium dengan etanol 45%. kocok selama 10 menit. Tetapkan kadar alkaloidanya. pisahkan cairan. lanjutkan penguapan hingga diperoleh ekstrak kering. hingga perkolat terakhir hampir tidak berwarna. Pisahkan 850 ml perkolat pertama. serkai. uapkan serkaian hingga kering. 11. biarkan di tempat sejuk selam 24 jam.s. peras lagi.Cara pembuatan : perkolasi 1800 bagian serbuk (8/24) akar pule pandak dengan etanol 90% v/v hingga alkaloida tersari sempurna. Tetapkan kadar elkaloidanya hingga memenuhi syarat kadar.

20 bagian gliserol p. 14. serbuk (24/34) biji kola dengan campuran 60 bagian etanol 90% dan 40 bagian volume air hingga perkolat hampir tidak berasa dan tidak berwarna. atur kadar dengan laktosa atau ekstrak opium kering lain hingga memenuhi persyaratan kadar. Uapkan segera perkolat hingga diperoleh 90 bagian. tambahkan air panas secukupnya melalui ampas hingga diperoleh volume infus yang dikehendaki. Ekstrak Kola (Colae Extractum) Cara pembuatan : Perkolasi. Cara Pembuatan Campur simplisia dengan derajat halus yang cocok dalam panci dengan air secukupnya. Serkai selagi panas melalui kain flanel. 2. saring. Perkolasi mula-mula dengan 50 bagian sisa campuran di atas yang diencerkan dengan 450 bagian air. Ekstrak Opium (Opii Extractum) Cara pembuatan : maserasi 100 bagian opium yang telah dipotong tipis dengan 500 bagian air selama 24 jam sambil berulang-ulang di aduk. Tuangkan etanol. kemudian buatlah ekstrak cair. Uapkan hingga diperoleh ekstrak kering. Ekstrak ini mempunyai kadar morphin 20 %. biarkan selama 24 jam. panaskan di atas tangas air selama 15 menit terhitung mulai suhu mencapai 90 0C sambil sekali-sekali di aduk. Tetapkan kadar morfinanya. biarkan selama 12 jam. Infus (Infusa) Adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia nabati dengan air pada suhu 90 0C selama 15 menit.Suling etanol. 15. Hal-hal yang harus diperhatikan untuk membuat sediaan infus : Jumlah simplisia Derajat halus simplisia Banyaknya ekstra air Cara menyerkai 1. G. tambahkan 15 bagian volume tingtur kayu manis. Ekstrak ini berkadar 6 – 8 % alkaloida. uapkan sisa hingga 30 bagian volume. peras. 4. 13. Uapkan hingga sisa 200 bagian. larutkan sisa dalam air secukupnya hingga 135 bagian volume. . tambahkan 100 bagian etanol. kemudian dengan air secukupnya hingga 2 tetes perkolat terakhir jika di tambah 8 tetes larutan Na2CO3 p tidak keruh. Ekstrak Kina (Cinchonae Extractum) Cara pembuatan : maserasi 100 bagian serbuk (34/40) kulit kina dengan 50 bagian campuran 35 bagian HCl encer p. pindahkan ke dalam perkolator. kocok dengan 300 bagian volume etanol selama 10 menit. 3. 45 bagian air selama 24 jam. campur dengan maserat I. dinginkan.

akar valerian. untuk membuat 100 bagian infus. Derajat Halus Simplisia Yang digunakan untuk infus harus mempunyai deajat halus sebagai berikut : Serbuk (5/8) Akar manis.5 bagian 0. • • Jumlah Simplisia Kecuali dinyatakan lain.5. sekale kornutum Daun digitalis Serbuk (8/10) Serbuk (10/22) Serbuk (22/60) Serbuk (85/120) 3. infus yang mengandung bukan bahan berkhasiat keras di buat dengan menggunakan 10 % simplisia. 1. • • • Penambahan bahan-bahan lain untuk menambah kelarutan untuk menambah kestabilan untuk menghilangkan zat-zat yang menyebabkan efek lain. daun kumis kucing. akar ipeka. temulawak. digunakan sejumlah simplisia seperti tersebut di bawah ini : Kulit kina Daun digitalis Akar ipeka Daun kumis kucing Sekale kornutum Daun sena Temulawak 6 bagian 0. kelembak Laos.5 bagian 3 bagian 4 bagian 4 bagian 2. jahe Kulit kina. Banyaknya Air Ekstra . Kecuali untuk simplisia seperti yang tertera di bawah ini. daun sena Dringo.5 bagian 0. daun sirih.

ditambahkan Natrium karbonat 10% dari bobot simplisia. Bila sediaan tidak disebutkan derajat kehalusannya. tetapi tidak larut dalam air dingin. Air aromatika harus mempunyai bau dan rasa yang menyerupai bahan asal. Diantara air aromatika. . Infus daun sena harus diserkai setelah dingin karena infus daun sena mengandung zat yang dapat menyebabkan sakit perut yang larut dalam air panas. Air ekstra ini perlu karena simplisia yang kita gunakan pada umumnya dalam keadaan kering.Umumnya untuk membuat sediaan infus diperlukan penambahan air sebanyak 2 kali berat simplisia. Infus daun sena. tidak berwarna dan tidak berlendir. H. kecuali infus simplisia yang mengandung minyak atsiri. Untuk decocta Condurango diserkai dingin. hendaknya diambil derajat kehalusan suatu bahan dasar yang keketalannya sama / sediaan galenik dengan bahan yang sama. 4. Air Aromatik (Aqua Aromatica) Adalah larutan jenuh minyak atsiri atau zat-zat yang beraroma dalam air. larutkan minyak atsiri sejumlah yang tertera dalam masing-masing monografi dalam 60 ml etanol 95%. Untuk buah adas manis dan buah adas harus dipecah dahulu. • • • • • • Cara Menyerkai Pada umumnya infus di serkai selagi panas. Untuk asam jawa sebelum dibuat infus di buang bijinya dan diremas dengan air hingga massa seperti bubur. Penambahan Bahan-Bahan Lain Pada pembuatan infus kulit kina ditambahkan asam sitrat 10% dari bobot bahan berkhasiat dan pada pembuatan infus simplisia yang mengandung glikosida antrakinon. infus asam jawa dan infus simplisia lain yang mengandung lendir tidak boleh diperas. ada yang mempunyai daya terapi yang lemah. tetapi terutama digunakan untuk memberi aroma pada obat-obat atau sebagai pengawet. Cara pembuatan : 1. bebas bau empirematic atau bau lain. karena zat berkhasiatnya larut dalam keadaan panas. 5. akan mengendap dalam keadaan dingin. diserkai setelah dingin.

saring. kocok. Pada filtrat tambahkan air secukupnya hingga 5000 ml. Aqua foeniculi dibuat dengan melarutkan 4 g oleum foeniculi dalam 60 ml etanol 90%. adalah larutan jenuh minyak mawar dalam air. Aqua Menthae Piperitae = air permen. encerkan 1 bagian filtrat dengan 39 bagian air. tambahkan 500 mg talc. tambahkan air sampai 100 ml sambil dikocok kuat-kuat. Aqua Foeniculi. Aqua aromatik yang diperoleh sebagai hasil samping pembuatan minyak atsiri secara destilasi dapat dicegah pembusukannya dengan cara mendidihkan dalam wadah tertutup rapat yang tidak terisi penuh di atas penangas air selama 1 jam. 4. penyimpanan sama seperti aqua aromatik. Pemerian. adalah larutan jenuh minyak permen dalam air. Pemerian. penyimpanan dan syarat untuk resep sama seperti aqua aromatika. tambahkan air sedikit demi sedikit sampai volume 100 ml sambil dikocok kuattambahkan 500 mg talc. . 3. Pemerian aqua aromatika : cairan jernih. Khasiat : zat tambahan. terlindung dari cahaya. atau agak keruh. di tempat sejuk. diamkan. buku lain juga mencantumkan aqua aromatik adalah hasil samping dari pembuatan olea volatilia secara penyulingan sesudah diambil minyak atsirinya. kocok. diamkan. Syarat untuk resep : jika air aromatik keruh. penyimpanan dan syarat untuk resep sama seperti aqua aromatik. Etanol disini berguna untuk menambah kelarutan minyak atsiri dalam air. kocok kuat-kuat sebelum digunakan. kuat. Talc berguna untuk membantu terdistribusinya minyak dalam air dan menyempurnakan pengendapan kotoran sehingga aqua aromatik yang dihasilkan jernih. Penyimpanan : dalam wadah terttutup rapat. 3. Pemerian. Cara pembuatan : lakukan pembuatan menurut cara yang tertera pada aqua aromatika dengan menggunakan 2 g minyak permen.2. 2. Cara pembuatan : larutkan 1 g minyak mawar dalam 20 ml etanol. saring. Encerkan 1 bagian filtrat dalam 39 bagian air. Aqua Rosae = air mawar. saring. adalah larutan jenuh minyak adas dalam air. Selain cara melarutkan seperti yang tertera dalam FI II. Air aromatika yang tertera dalam FI II ada 3 yaitu : 1. bau dan rasa tidak boleh menyimpang dari bau dan rasa minyak atsiri asal. Syarat untuk resep : seperti aqua aromatik dan sebelum digunakan harus disaring lebih dahulu. saring.

Sebagai obat. oleum ricini diperas pada suhu panas. senyawa belerang dan logam berat. Sebagai zat tambahan 2. oleum ricini. 2. oleum amygdalarum. misalnya : oleum cacao. untuk racun yang tidak larut dalam lemak (racunnya dibalut lemak. anti racun. terlindung dari cahaya. dapat dipakai sebagai pencahar. begitupun yang padat sesudah dihangatkan (diatas suhu leburnya) tidak boleh berbau tengik. 3. kecuali dinyatakan lain harus larut dalam segala perbandingan dalam CHCl3. oleum olivarum. oleum olivae. terisi penuh. I. misalnya : oleum arachidis. Aqua foeniculi bila menghablur harus dipanaskan pada suhu 25 0C dan kemudian dikocok kuat-kuat. Harus memenuhi syarat-syarat minyak mineral. 1. 1. kalau keruh kocok dulu sebelum digunakan. jadi disimpan pada suhu kamar. misalnya : oleum arachidis. misalnya : sebagai pelarut obat suntik. misalnya : oleum ricini. minyak-minyak yang tidak dapat mengering. Minyak Lemak (Olea Pinguia) Adalah campuran senyawa asam lemak bersuku tinggi dengan gliserin (gliserida asam lemak bersuku tinggi). Cara identifikasi minyak lemak : Pada kertas meninggalkan noda lemak Penggunaan minyak lemak : 1. lotio dan lain-lain. Cara-cara mendapatkan minyak lemak diperas pada suhu biasa. Sebagai pelarut.Khusus untuk aqua foeniculi jangan disimpan ditempat sejuk karena etanol akan menghablur. oleum sesami. sebelum digunakan harus disaring. minyak-minyak yang dapat mengering misalnya : oleum lini. 3. Minyak lemak dibagi dalam dua golongan : 1. Eter dan Eter minyak tanah. . Penyimpanan minyak lemak : Kecuali dinyatakan lain. 2. 2. minyak harsa dan minyak-minyak asing lainnya. yang cair harus jernih. harus disimpan dalam wadah tertutup baik. lalu segera diberi pencahar atau emetikum) tetapi bila racun yang larut dalam lemak maka dalam bentuk terlarut absorpsi dipercepat. oleum cocos Syarat-syarat untuk minyak lemak antara lain : harus jernih.

Minyak kelapa = Oleum Cocos. 3. Minyak coklat = Oleum Cacao Adalah lemak padat yang diperoleh dengan pemerasan panas biji Theobroma cacao L yang telah dikupas dan dipanggang. 8.diperoleh dari endosperma Cocos nucifera yang telah dikeringkan. 9. 2. 10. 5. Minyak Tengkawang = Oleum Shoreae Adalah minyak lemak yang di peroleh dengan pemerasan panas keping biji Shorea stenoptera Burck yang segar atau kering atau dari biji spesies shorea yang lain. diperoleh dengan pemerasan biji arachidis hypogeae L yang telah dikupas. Minyak Kelapa Murni = Oleum Cocos purum Adalah minyak lemak yang dimurnikan dengan penyulingan bertingkat . potensi vitamin D tidak kurang dari 80 SI tiap gram. Minyak jarak=Oleum ricini Adalah minyak lemak yang di peroleh dengan pemerasan dingin biji Ricinus communis L yang telah di kupas. Minyak kacang = Oleum Arachidis Adalah minyak lemak yang telah dimurnikan. dimurnikan dengan penyaringan pada suhu 0 0C. 7. Potensi vitamin A tidak kurang dari 600 SI tiap gram. . 6. 4. Minyak Lini = Oleum Lini Adalah minyak lemak yang diperoleh dengan pemerasan biji masak Linum usitatissinum L Minyak zaitun = Oleum olivae Adalah minyak lemak yang di peroleh dengan pemerasan dingin biji masak olea europeae L Jika perlu di murnikan. Minyak Wijen = Oleum sesami Adalah minyak lemak yang diperoleh dengan pemerasan biji Sesamum indicum L. Adalah minyak lemak yang di peroleh dengan pemerasan panas endosperm cocos nucipera L yang telah di keringkan.Contoh-contoh minyak lemak : 1. Minyak ikan = Oleum Iecoris Aselli Adalah minyak lemak yang di peroleh dari hati segar Gadus calarias L dan species gadus lainnya.

1. 2. Sifat-sifat minyak atsiri : mudah menguap rasa yang tajam wangi yang khas tidak larut dalam air. 4. Minyak Kaulmogra = Minyak Hidnokarpi = Oleum Hydnocarpi Adalah minyak lemak yang diperoleh dengan pemerasan dingin biji dari buah masak segar Hidnocarpus wightraria Blume. disebabkan adanya zat-zat asing dalam minyak atsiri tersebut. J. diperoleh dengan pemerasan panas biji Myristica fragrans Houtt. yang telah dibuang selaput biji dan kulit bijinya. Minyak Atsiri (Olea Volatilia) Minyak atsiri disebut juga minyak menguap atau minyak terbang. Minyak Pala = Oleum Myristicae expressum Adalah campuran minyak lemak dan minyak atsiri. Misalnya : Minyak kayu putih (Oleum Cajuputi) yang murni tidak berwarna. hijau ataupun biru. 12. Minyak Jagung = Oleum Maydis Adalah minyak lemak yang diperoleh dari embrio Zea mays L. Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat. Contoh : daun. Olea Volatilia adalah campuran bahan-bahan berbau keras yang menguap. sedikit kuning muda. spesies Hydnocarpus lain dan Taraktogenus kurzii King.11. Warna kuning atau kuning coklat terjadi karena adanya penguraian. terlindung dari cahaya dan ditempat sejuk. terisi penuh. bunga. Minyak atsiri diperoleh dari tumbuh-tumbuhan. 5. kulit buah. Warna coklat. minyak atsiri yang segar tidak berwarna. Pemerian : Cairan jernih Bau seperti bau bagian tanaman asal. larut dalam pelarut organik. • • • . 3. 13. buah atau dibuat secara sintetis. yang diperoleh baik dengan cara penyulingan atau perasan simplisia segar maupun secara sintetis. Warna hijau yang ada seperti yang terlihat diperdagangan karena adanya : klorophyl dan spora-spora Cu (tembaga). kemudian dimurnikan.

zat pengering. biarkan memisah. karena jumlah air yang akan menjadi uap dan membawa serta minyak terbatas jumlahnya. Dari ke dua cara di atas pada bejana penampungan akan terdapat dua lapisan. Cara tidak langsung ( destilasi uap) Bahan yang akan di olah di masukkan ke dalam sebuah bejana dan di tambah dengan air. Contoh : minyak jeruk 2. Cara pemerasan yaitu cara yang termudah dan masih dapat dikatakan primitif. 2. Cara ini hanya dapat digunakan untuk jumlah bahan bakal yang sedikit. contoh: Na2SO4 exicatus. permukaan air tidak keruh. yaitu air dan minyak atsiri. Cara-cara memperoleh minyak atsiri : 1. teteskan 1 tetes minyak di atas air. kocok sejumlah minyak dengan larutan NaCl jenuh volume sama. Uap air yang naik melalui lubang dan melalui sebuah pendingin. 2. kemudian minyak yang keluar dengan uap air di tampung. Cara Enfleurage . volume air tidak boleh bertambah.Identifikasi : 1. Ada 2: Cara penyulingan ( destilasi). Jika Bj minyak atsiri > Bj air maka minyak atsiri berada di bawah dan sebaliknya. Cara ini hanya dapat dipakai untuk minyak atsiri yang mempunyai kadar tinggi dan untuk minyak atsiri yang mempunyai kadar tinggi dan minyak atsiri yang tidak tahan pemanasan. Alirkan ke dalamnya uap air yang berasal dari bejana lain. Cara ini dapat digunakan untuk bahan bakal dalam jumlah yang besar terutama bahan bakal yang mempunyai kadar minyak atsiri yang rendah. Cara langsung ( menggunakan api langsung) Bahan yang akan diolah di masukkan ke dalam sebuah bejana di atas pelat yang berlubang dan bejana berisi air. pada sepotong kertas teteskan 1 tetes minyak yang diperoleh dengan cara penyulingan uap tidak terjadi noda transparan 3. Ke dua lapisan ini dapat dipisahkan dan setelah dipisahkan sisa air dapat di keringkan dengan menggunakan zat . Letak minyak atsiri dan air tergantung pada berat jenisnya. Pengeringan sisa air ini perlu di lakukan sebab dengan adanya sisa air tersebut minyak atsiri cepat rusak / menjadi tengik. Bila lapisan minyak atsiri dan air sukar dipisahkan dapat di tambahkan NaCl jenuh untuk menarik airnya 3. 1.

Dibiarkan beberapa lama. Minyak atsiri yang diperoleh dari penyulingan uap harus bebas minyak lemak.Kejernihan dapat dibuktikan dengan cara meneteskan 1 tetes minyak atsiri keatas permukaan air. Minyak atsiri akan berwarna kuning atau kuning kecoklatan karena sudah terurai atau teroksidasi. volume air tidak boleh bertambah. uap air akan membawa minyak atsiri. Harus jernih. tidak berwarna. Oleum Anisi (minyak adas manis) . sehingga lemaknya dapat dipisahkan dari minyak atsiri. 2.Minyak menguap umumnya tidak berwarna. dilarutkan dalam alkohol absolut. biarkan memisah. 3. karena air akan mempercepat reaksi oksidasi sehingga minyak akan berwarna. Biasanya lemak itu dapat digunakan untuk 30 kali. Bau dan rasa seperti simplisia. 4. permukaan air tidak keruh. Contoh-contoh minyak atsiri : 1. 2. Oleum bergamottae berwarna hijau karena klorofilnya terlarut kedalamnya. 5. Syarat – syarat minyak atsiri 1. Oleum foeniculi (minyak adas) Cara pembuatan : Penyulingan uap buah masak Foeniculum vulgaris Mill varietas α vulgare dan β-dulce. Mudah larut dalam Chloroform atau Eter. Rasa diperiksa dengan mencampur satu tetes minyak atsiri dengan 2 gram gula. tergantung dari jenis daun yang diolah. contoh:bunga melati 24 jam. Bau diperiksa dengan cara mencampurkan satu tetes minyak atsiri dengan 10 ml air. Oleum kajuputi berwarna hijau karena senyawa tembaga dari alat penyulingnya terlarut kedalamnya.• • Biasanya untuk minyak atsiri yang berasal dari daun bunga yang digunakan untuk kosmetik. Kemudian lapisan lemak dikerok. diganti dengan yang segar sampai beberapa kali. hanya beberapa yang sesui dengan warna aslinya. kalau perlu setelah pemanasan. Kekeringan dibuktikan dengan cara mengocok sejumlah minyak atsiri dengan larutan Natrium Klorida jenuh vbolume sama. Cara ini dapat digunakan untuk bahan bakal dengan kandungan minyak atsiri yang rendah dan tidak tahan pemanasan. Daun bunga disebarkan diatas keping gelas yang lebih dulu dilapisi dengan lemak atau gemuk. Harus kering. Kemudian daun bunga diangkat. Minyak atsiri yang ada dalam alkohol disuling secara vacum (dengan alat evaporator vacum ). minyak atsiri akan larut. sampai lemak itu benar-benar jenuh dengan minyak atsiri. Alkohol yang digunakan bukan alkohol fortior sebab waktu diuapkan. sedangkan lemaknya tidak larut. Hal ini dibuktikan dengan cara meneteskan keatas kertas perkamen tidak meninggalkan noda transparan.

Oleum Eucalypti (minyak kayu putih) Adalah minyak atsiri yang mengandung sineol 50-60%. polybractea. Syrup (Sirupi) Adalah sediaan cair berupa larutan yang mengandung sakarosa. Oleum Rosae ( minyak mawar) Pembuatan : Penyulingan uap bunga segar Rosa Galica Alba. 9. Oleum Menthae piperitae (minyak permen) Adalah minyak atsiri yang diperoleh dengan destilasi uap dari bagian di atas tanah tanaman berbunga Mentha piperita yang segar dan telah dimurnikan. ujung cabang segar dari berbagai spesies Eucalyptus atau spesies yang diinginkan (E. Smithii). Diperoleh dengan destilasi uap dari daun segar. Oleum Citronellae ( minyak sereh) Pembuatan : Penyulingan uap daun Cymbopogon Nardus. Oleum Aurantii (minyak jeruk manis) Cara pembuatan : Pemerasan pericarp (kulit buah luar yang segar dan masak) dari tanamam Citrus sinensis. Oleum Cinnamommi ( minyak kayu manis) Pembuatan : Penyukingan uap kulit batang dan kulit cabang Cinnamomum zeylanicum Blume. K. Oleum Citri (minyak jeruk) Cara pembuatan : Pemerasan pericarp (kulit buah bagian luar yang masih segar) dari tanaman Citrus lemon. globulus. 10. 8. 4. Kadar sakarosa (C12 H22 O11) tidak kurang dari 64% dan tidak lebih dari 66%. 7. Cara pembuatan sirup : . 5.Cara pembuatan : Penyulingan uap buah kering Illicium verum Hook dan buah kering Pimpenilla anisum L (fam : Magnoliaceae) 3. Oleum Caryophylli (minyak cengkeh) Cara pembuatan : Penyulingan pucuk berbunga yang telah dikeringkan dari tanaman Eugenia caryophyllata. 6. E. futicerutum. E. E.

3. 1. Gula invert tidak dikehendaki dalam sirup karena lebih encer sehingga mudah berjamur dan berwarna tua ( terbentuk karamel ). Kadar gula dalam sirup pada suhu kamar maksimum 66 % sakarosa.25 % b/v atau pengawet lain yang cocok. Bj sirup kira-kira 1. Cairan untuk sirup. Kecuali dinyatakan lain. pada pembuatan sirup simplisia untuk persediaan ditambahkan metil paraben 0. hasil-hasil penarikan dari bahan dasar : maserat misalnya sirupus Rhei perkolat misalnya sirupus Cinnamomi colatura misalnya sirupus Senae sari buah misalnya rubi idaei larutan atau campuran larutan bahan obat misalnya : methydilazina hydrochloridi sirupus.1. kedalam mana gulanya akan dilarutkan dapat dibuat dari : aqua destilata : untuk sirupus simplex. tambahkan gula. • • • • • • • • • . Tambahkan air mendidih secukupnya hingga diperoleh bobot yang dikehendaki. Buat cairan untuk sirup. 2. panaskan. bila lebih tinggi akan terjadi pengkristalan. tetapi mencegah terjadinya oksidasi dari bahan obat. 3. Pemanasan sebaiknya dihindari karena pemanasan akan menyebabkan terjadinya gula invert. sirup-sirup dengan nama patent misalnya yang mengandung campuran vitamin . tetapi bila lebih rendah dari 62 % sirup akan membusuk. meskipun jamur tidak mati. Gula invert adalah gula yang terjadi karena penguraian sakarosa yang memutar bidang polarisasi kekiri. Pada sirup yang mengandung sakarosa 62 % atau lebih. 2. sirup tidak dapat ditumbuhi jamur. serkai.3 Pada penyimpanan dapat terjadi inversi dari sakarosa ( pecah menjadi glukosa dan fruktosa ) dan bila sirup yang bereaksi asam inversi dapat terjadi lebih cepat. jika perlu didihkan hingga larut. 4. buang busa yang terjadi. pada pembuatan sirup dari simplisia yang mengandung glikosida antrakinon di tambahkan Na2CO3 sejumlah 10% bobot simplisia.

maka jamur dapat tumbuh. Sirup yang sudah dingin disimpan dalam wadah yang kering. Untuk cinnamomi sirupus sakarosa dilarutkan tanpa pemanasan. Gula invert disini dipercepat pembuatannya dengan memanaskan larutan gula dengan asam sitrat. Sterilisasi sirup. aurantii corticis sirupus. mencegah bentuk ferro menjadi bentuk ferri. Tetapi pada pendinginan ada kemungkinan terjadinya cemaran sehingga terjadi juga penjamuran. disini harus diperhitungkan pemanasan 30 menit apakah tidak berakibat terjadinya gula invert. dapat ditambahkan bahan pengawet misalnya nipagin. Hal ini disebabkan karena sirup merupakan media yang mereduksi. • • Bila cairan hasil sarian mengandung zat yang mudah menguap maka sakarosa dilarutkan dengan pemanasan lemah dan dalam botol yang tertutup. Mengisikan sirup panas-panas kedalam botol panas ( karena sterilisasi ) sampai penuh sekali sehingga ketika disumbat dengan gabus terjadi sterilisasi sebagian gabusnya. sirup diencerkan dengan air dapat pula ditumbuhi jamur. Maksud menyerkai pada sirup adalah untuk memperoleh sirup yang jernih. Penting untuk kestabilan sirup dalam penyimpanan. . seperti pada pembuatan Thymi sirupus dan Thymi compositus sirupus. Menambahkan kocokan zat putih telur segar pada sirup . zat putih telur akan menggumpal karena panas. lalu sumbat gabus dicelup dalam lelehan parafin solidum yang menyebabkan sirup terlindung dari pengotoran udara luar.• Bila kadar sakarosa turun karena inversi. Cara memasukkan sirup ke dalam botol. Untuk mencegah sirup tidak menjadi busuk. • Ada beberapa cara menjernihkan sirup : 1. Bila dalam resep. supaya awet (tidak berjamur ) sebaiknya sirup disimpan dengan cara : 1. 2. 3. Menambahkan bubur kertas saring lalu didihkan dan saring kotoran sirup akan melekat ke kertas saring. 2. • Kadang-kadang gula invert dikehendaki adanya misalnya dalam pembuatan sirupus Iodeti ferrosi. Didihkan sambil diaduk.

Obat. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat dan di tempat sejuk. misalnya sediaan dengan bahan pembawa sirup karena konsentrasi gula yang tinggi mencegah pertumbuhan bakteri. Jika perlu hilangkan warna dengan menggunakan tidak lebih dari 100 mg arang penyerap. buang 10 ml filtrat pertama. Panaskan labu dalam tangas air pada suhu antara 68 o dan 70 oC selama 10 menit. tambahkan campuran 79 bagian volume asam klorida p dan 21 bagian vol. misalnya : sirupus Rhoedos. dinginkan dengan cepat sehingga suhu lebih kurang 20 oC.5 t ) C = Kadar sacharosa dalam % α1 = rotasi optik larutan yang belum di inversi α2 = rotasi optik larutan yang sudah di inversi t = suhu pengukuran .0 ml. tambahkan 50 ml air dan sedikit larutan Aluminium hidroksida p. Ukur rotasi optik larutan yang belum di inversi dan sesudah inversi menggunakan tabung 22.Maka untuk kestabilan sirup. Corigensia saporis. Air secukupnya hingga 50. FI III juga menuliskan tentang panambahan metil paraben 0. Masukkan + 45. misalnya : chlorfeniramini maleatis sirupus.0 ml saring. Hitung kadar dalam %. Penetapan kadar sakarosa Timbang seksama + 25 gram sirup dalam labu terukur 100 ml.25% atau pengawet lain yang cocok. C12H22O11 dengan rumus : • • • • C = 300 x ( α1 . Tambahkan air secukupnya hingga 100. misalnya : sirupus simplex Corigensia odoris. Tambahkan larutan timbal ( II ) sub asetat p tetes demi tetes hingga tetes terakhir tidak menimbulkan kekeruhan. Dari ketiga cara memasukkan sirup ke dalam botol ini yang terbaik adalah cara ketiga. 2.α2 ) ( 144 .0 ml filtrat kedalam labu tentukur 50 ml. Pengawet.0. sirupus rubi idaei 3.0 cm pada suhu pengukur yang sama antara 10 o dan 25 o C. misalnya : sirupus aurantii Corigensia coloris. Dalam ilmu farmasi sirup banyak digunakan karena dapat berfungsi sebagai : 1.

3. Sirup-sirup yang tercantum dalam FI ed III 1. Biarkan dalam tempat tertutup selama 12 jam. • Guna acidum citricum adalah untuk mempercepat inversi sakarosa.25% secukupnya hingga diperoleh 37 bagian perkolat.25%. Masukan dalam bejana tertutup dan tambahkan 64 bagian gula panaskan dengan pemanasan lemah hingga diperoleh 100 bagian sirup. bau khas aromatik. warna coklat. Masukan dalam perkolatordan sari dengan air. menjadi glukosa dan fruktosa yang merupakan reduktor kuat yang berguna untuk mencegah oksidasi ferro lodidum. Sirupus Thymi = Sirup Thymi Cara pembuatan : campurlah 15 bagian herba timi dengan air sesukupnya dan diamkan 12 jam dalam bejana tertutup. Setelah warna coklat hilang maka larutan disaring. bau dan rasa seperti thymi. tidak berwarna Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat. Tambahkan 63 bagian gula pada suhu kamar atau pada pemanasan perlahan-lahan dalam tempat tertutup hingga diperoleh 100 bagian sirup Pemerian : cairan kental. perkolat dipanasi sampai 90 0C dan diserkai hingga diperoleh 36 bagian hasil perkolat. di tempat sejuk Auranti Sirupi = Sirup Jeruk Manis Cara pembuatan : campur 10 bagian kulit buah jeruk manis yang telah dipotong kecilkecil dengan 20 bagian larutan metil paraben 0. Sisa serbuk besi pada kertas saring dicuci dengan air sampai diperoleh 1000 bagian sirup. perkolasi dengan larutan metil paraben 0. 2. Pemerian : sirup warna coklat. dimasukkan kedalam larutan ½ bagian acidum citricum dan 600 bagian sakarosa dalam 200 bagian air panas. Chlorpheniramini maleatis sirupus 2. Pindahkan ke dalam perkolator. Cyproheptadini hydrochloridi sirupus .25 % secukupnya hingga diperoleh 100 bagian sirup Pemerian : cairan jernih. Untuk mencegah terjadinya oksidasi dari ferro Iodida maka ujung corong masuk kedalam larutan sakarosa. Sirupus Simplex = Sirup Gula Cara pembuatan : larutkan 65 bagian sakarosa dalam larutan metil paraben 0.Contoh-contoh Sediaan Sirup 1. tambahkan 41 bagian Iodium sedikit demi sedikit sambil digerus. jernih. 4. • Ferro Iodidum selalu dibuat baru. Ferrosi Iodidi Sirupus Cara pembuatan : 20 bagian ferrum pulveratum dicampur dengan 60 bagian air.

3. 5. Dalam perdagangan dikenal “dry syrup” yaitu syrup berbentuk kering yang kalau akan dipakai ditambahkan sejumlah pelarut tertentu atau aqua destilata. 6. biasanya berisi zat yang tidak stabil dalam suasana berair. Dextrometorphani hydrobromidi sirupus Piperazini citratis sirupus Prometazini hydrochloridi sirupus Methidilazini hydrochloridi sirupus Sirupus simplex yang dibuat dengan melarutkan 65 bagian sacharosa dalam larutan metil paraben secukupnya hingga diperoleh 100 bagian sirup. 98 . 7. 4.