You are on page 1of 17

LAPORAN KASUS

RESPIRATORY DISTRESS E.C BBL DARI IBU DM GESTATIONAL IKTERUS NEONATORUM

Pembimbing: dr. Hj. Artsini Manfaati, SpA

Oleh Baiq Trisna Satriana H1A 008 042

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA DI BAGIAN/ SMF ILMU KESEHATAN ANAK RUMAH SAKIT UMUM PROVINSI NTB FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 2013

retraksi ringan. namun pada trimester kedua. umur 5 jam 30 menit. AS: 6-8. Anamnesis Keluhan Utama: Bayi tampak biru Riwayat Penyakit Sekarang: Pasien rujukan RS Siti Hajar Mataram dengan Respiratory distress dd asfiksia sedang + BBL dengan ibu DM gestasional. Riwayat Kehamilan dan Persalinan Saat Ini:  Ini adalah kehamilan yang ke empat. ketika di NICU keadaan umum bayi lemah. tangis merintih. A.2. pada trimester pertama kehamilan ibu pasien mengaku tidak ada masalah dalam kehamilannya maupun kesehatannya secara umum dan hanya diberikan suplemen kehamilan. pasien hipotermi.1. Identitas Pasien Nama Jenis Kelamin Umur Tempat/ Tanggal Lahir Tanggal MRS Tanggal Pemeriksaan I. warna kulit bayi kebiruan. : 31 Juli 2013 . 28 Juli 2013 : 28 Juli 2013. selama hamil ibu pasien mengaku menjalani ANC di praktek dokter Sp. kemudian ibu pasien diberikan : “By. bulan ke 7 kehamilan gula darah pasien menjadi tinggi sekitar 320 mg% dan selalu rata-rata di atas 250 tiap kali diperiksa. : Mataram. Ny. tali pusat terlihat segar. Pasien dibawa ke ruang NICU RSUP NTB dengan keluhan bayi tampak biru dan terlihat kurang aktif sesaat setelah dilahirkan dengan SC di RS Siti Hajar Mataram. sesak (-).BAB I LAPORAN KASUS I.OG lebih dari 4 kali.” : Laki-laki : 3 hari.

lahir di RSUD Selong. BL: 3000 gram. usia 4. penyakit asma (-). tidak pernah mengalami tekanan darah tinggi sebelumnya. BL: 3400 gram. Usia kehamilan38-39 minggu. ibu dan saudara perempuan pasien. . ♀. Riwayat trauma selama hamil (-). usia 13 tahun IUFD (aterm) BBL: 4000 gram. pasien langsung menangis sesaat setelah dilahirkan (AS = 6-8). dan menjelang melahirkan dosis insulin dinaikkan menjadi 3x12 IU. ketuban mekoneal (-).insulin suntik 3x8 IU. Riwayat mengkonsumsi obat-obatan dan jamu selama kehamilan (-) keculai insulin suntikan. Pemeriksaan Fisik Keadaan umum: Sedang Berat badan: 2780 gram. Riwayat penyakit jantung bawaan dalam keluarga (-).5 tahun Ini Riwayat Keluarga: Riwayat DM dalam keluarga (+) aya. lahir di RSUD Selong. I. Lingkar kepala: 33 cm.3. Bayi lahir normal. ♀. Panjang badan: 48 cm. IV. lahir di RSUD Selong. Ibu pasien melahirkan secara SC dengan indikasi DM gestational di RS Siti Hajar Mataram pada tanggal 28 Juli 2013 pukul 11.30 WITA. I. III. Riwayat Kehamilan dan Persalinan Sebelumnya: Pada kehamilannya yang ketiga ibu pasien juga pernah mengalami DM gestational namun tidak diberikan pengobatan suntik insulin seperti pada kehamilan saat ini. II. 8 tahun yang lalu SC gagal drip. hipertensi (-). Riwayat perdarahan melalui jalan lahir (-). berat badan lahir = 2900 gram. tidak juga mengeluh mual muntah berlebihan ataupun kejang. Ibu pasien tidak pernah mengalami tekanan darah yang tinggi selama hamil.

isi cukup. Thoraks-Kardiovaskuler  Inspeksi: Dinding dada simetris. cleft (-). retraksi subkostal (-). Telinga: Daun telinga elastis. reguler. retraksi intercostals (-). Frekuensi napas : 45 kali/ menit Suhu aksila : 37.2 ˚C. Mulut: Mukosa bibir pucat (-). sekret (-). Auskultasi Cor: S1S2 tunggal. UUB terbuka. sklera ikterik (+/+). rh (-/-). Perkusi: Sonor di seluruh lapang paru. sianosis (-). deformitas (-). Mata: Konjungtiva anemis (-/-). regular. pulsasi iktus cordis tak tampak. . Hidung: Rhinorea (-). otore (-). kaput suksedaneum (-). SpO2 100% dengan oksigen 1 lpm GDS: 141 mg/dl Kepala: Normocephali. pulsasi iktus cordis teraba di ICS V linea midclavikula sinistra. murmur (-). gallop (-). fistel (-).Vital sign    Frekuensi nadi : 136 kali/ menit.    Palpasi: Gerakan napas simetris. Pulmo: Bronkovesikuler (+/+). warna kulit kuning (+). datar. wh (-/-). ukuran 2 x 1 cm. retraksi suprasternal (-).

licin.    Auskultasi: BU (+) N. Palpasi: H/ L/ R tak teraba. warna kulit kuning (+). Ekstremitas: Tungkai Atas Kanan Akral hangat Edema Pucat Kelainan bentuk Pembengkakan Sendi Gerakan + + + + + Kiri + Tungkai Bawah Kanan + Kiri + - Kulit: Tampak pucat.6 fL ..5 g/dl HCT : 49.88 x 103/ᵤL RBC : 5. 1. sianosis (-).Abdomen  Inspeksi: Distensi (-). tali pusat berwarna keputihan.86 x 106/ᵤL HGB : 16. Perkusi : Timpani (+).4 Pemeriksaan penunjang Darah Lengkap Tanggal 28/07/2013 WBC : 15.6% MCV : 84. terawat. massa (-). ikterus (+) pada kepala leher badan bagian atas sampai badan bawah hingga tungkai.

Assessment .5 ˚C).c BBL dari Ibu DM gestational dd asfiksia sedang .Post Respiratory distress e.5-37.58 tetes mikro/menit  Injeksi ampicillin 150 mg/ 12 jam Injeksi gentamicin 15 mg/ 24 jam Pro foto terapi Observasi kondisi umum & tanda vital.3 g/dL PLT : 240 x 103/ᵤL Pemeriksaan kimia klinik GDS:34mg% I. Kebutuhan cairan 100cc/kgBB/hari : 100 x 2.2 pg MCHC: 33. Planning  Terapi O2 canul 1-2 Lpm.5.Ikterus neonatorum I. Pemeriksaan Saturasi oksigen setiap hari GDS setiap hari Bilirubin total dan bilirubin direct . jaga kehangatan (suhu: 36.5.78 : 278 cc/hari Infus D10%  11.MCH : 28.

Takipnea: frekuensi napas >60-80 kali/menit 2.BAB II PEMBAHASAN 1) Respiratory distress e. Retraksi: cekungan atau tarikan kulit antara iga(interkostal) dan atau di bawah sternum (sub sternal) selama inspirasi. Merintih atau grunting: terdengar merintih atau menangis saat inspirasi 5.c BBL dari Ibu DM gestasional dd asfiksia sedang Distress respirasi atau gangguan napas merupakan masalah yang sering dijumpai pada hari pertama kehidupan BBL. sianosis dan apnu. napas cuping hidung. retraksi. napas cuping hidung. grunting) kadang juga dijumpai pada BBL normal tetapi tidak berlangsung lama. Sianosis: sianosis sentral yaitu warna kebiruan pada bibir (berbeda dengan biru lebam atau warna membran mukosa) 6. Dalam jam-jam pertama sesudah lahir. ditandai dengan takipnea. Apnu atau henti napas 7. Bila keadaan tersebut menetap pada beberapa jam setelah lahir. ini merupakan indikasi adanya gangguan napas atau distress respirasi yang harus dilakukan tindakan segera. Definisi gangguan napas adalah suatu keadaan meningkatnya kerja pernapasan yang ditandai dengan: 1. Gangguan napas dapat mengakibatkan gagal napas akut yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk memelihara pertukaran gas agar dapat memnuhi kebutuhan tubuh dan akan mengakibatkan hipoksemia dan/atau hiperkarbia. 3. Napas cuping hidung 4. empat gejala distress pernapasan (takipnea. retraksi interkostal. Evaluasi gawat napas dengan skor Downes Pemeriksaan Frekuensi napas Retraksi 1 < 60x/menit Tidak ada retraksi 2 60-80 x/menit Retraksi ringan 3 >80 x/menit Retraksi berat .

hipoglikemi. Obstruksi jalan napas tanpa alat bantu 2. emfisema pulmonalis interstisialis e. emfisema lobaris kongenital g. Penyebab non-pulmonal: a. hipokalsemia . Penyakit membran hialin c. Trakhea: trakheomalasia. pnemonia hemoragik’kelainan kongenital: hernia diafragmatika. Penyebab metabolik: asidosis. silotoraks 4. TTN (Transient tachypnea of the newborn) f. Pneumonia. Efusi. Atelektasis d. fistula trakheoesofagus. darah atau susu formula b. Apirasi mekonium. stenosis trakhea dan stenosis bronkhial 3.agenesia atau hipoplasia pparu. pneumomediastinum. Kebocoran udara: pneumothoraks. kista atau tumor intratorakal. Gagal jantung kogestif b.Sianosis Tidak ada sianosis Sianosis dengan O2 hilang Sianosis menetap walaupun diberi O2 ada udara Air entry Udara masuk Udara masuk dapat Tidak didengar masuk didengar Dapat Merintih Tidak merintih Dapat didengar dengan stetoskop Evaluasi: 1-3 : sesak napas ringan 4-5 : sesak napas sedang ≥ 6 : sesak napas berat Penyebab gangguan napas pada BBL diantaranya: 1. Penyebab pulmonal: a.

Hipotermia h. Manurut AAP dan ACOG (2004). Perdarahan susunan saraf pusat Pada pasien ini. Syok f. yang merangsang sel-sel alveolar tipe II menghasilkan surfaktan. Depresi neonatal e. Hipertensi pulmonal menetap d. Selain itu. Bayi dari ibu dengan DM i. Keadaan ini disertai dengan hipoksia. Janin dengan hiperinsulinemia memiliki ketersediaan substrat untuk biosintesis surfaktan dan menghambat fibroblast-pneumocyte faktor. penilaian yang tidak akurat mengenai usia kehamilan karena makrosomia janin menyebabkan kelahiran prematur tidak disengaja dan dapat mengakibatkan respiratory distress syndrome. Bayi dari ibu diabetes mempunyai permasalahan yang unik dan membutuhkan penanganan khusus.c. hiperkapnia dan berakhir dengan asidosis. Kehamilan dengan diabetes dihubungkan dengan peningkatan morbiditas pernatal. penyebab yang dapat diidentifikasi yaitu karena bayi lahir dari ibu dengan DM. Ibu dengan DM gestasional dapat meningkatkan resiko pada bayi yang dilahirkan untuk mmengalami keadaan sebagai berikut: o Macrosomia o Hypoglycemia o Respiratory distress syndrome o Polycythemia o Hyperbilirubinemia o Unexpected fetal death o Cardiomyopathy o Congenital anomalies Asfiksia neonatorum ialah suatu keadaan bayi baru lahir yang gagal bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir. asfiksia perinatal pada seorang bayi menunjukan karakteristik berikut: . Polisitemia g.

ginjal. Nilai Apgar 0-3 pada menit ke-5 3. tiroid. koma. atau kelainan neurologi Polihidramnion Ketuban pecah dini Hidrops fetalis Kehamilan lewat waktu Kehamilan ganda Berat janin tidak sesuai masa kehamilan . atau ensefalopai hipoksik iskemik 4. Bila terdapat gangguan pertukaran gas atau pengangkutan oksigen dari ibu ke janin. persalinan atau segera setelah lahir.1. yaitu pH<7. Asidemia metabolic atau campuran (metabolic dan respiratorik) yang jelas. pada sampel darah yang diambil dari arteri umbilical 2. Terjadi disfungsi sistem multiorgan segera pada periode BBL Pengembangan paru bayi baru lahir terjadi pada menit-menit pertama kelahiran dan kemudian disusul dengan pernafasan teratur. Hampir sebagian besar asfiksia bayi baru lahir ini merupakan kelanjutan asfiksia janin. Gangguan yang timbul pada akhir kehamilan atau persalinan hampir selalu disertai anoksia/ hipoksia janin dan berakhir dengan asfiksia neonates. Gangguan ini dapat timbul pada masa kehamilan. akan terjadi asfiksia janin atau neonatus. hipotonia. paru. termasuk kejang. karena itu penilaian janin selama masa kehamilan dan persalinan memegang peranan yang sangat penting untuk keselamatan bayi. Manifestasi neurologi pada periode BBL segera. Faktor resiko antepartum               Diabetes pada ibu Hipertensi dalam kehamilan Hipertensi kronik Anemia janin atau isoimunisasi Riwayat kematian janin atau neonates Perdarahan pada trimester dua atau tiga Infeksi ibu Ibu dengan penyakit jantung.

      Terapi obat seperti magnesium karbonat dan beta bloker Ibu pengguna obat bius Malformasi atau anomaly janin Berkurangnya gerakan janin Tanpa pemeriksaan antenatal Usia <16 tahun atau >35 tahun Faktor resiko intrapartum                     Seksio sesaria darurat Kelahiran dengan ekstraksi forsep atau vakum Letak sungsang atau presentasi abnormal Kelahiran kurang bulan Partus presipitatus Korioamnionitis Ketuban pecah lama (>18 jam sebelum persalinan) Partus lama (>24 jam) Kala dua lama (>2 jam) Makrosomia Bradikardia janin persisten Frekuensi janin yang tidak beraturan Penggunaan anastesi umum Hiperstimulus uterus Penggunaan obat narkotika pada ibu dalam 4 jam sebelum persalinan Air ketuban bercampur mekonium Prolaps tali pusat Solusio plasenta Lasenta previa Perdarahan intrapartum .

9. . Denyut jantung terus menurun. Meningginya tekanan CO2 darah (PaO2). 3. 5. sedangkan tonus neuromuskular berkurang secara barangsur-angsur dan memasuki periode apnea primer.Pada asfiksia tingkat lanjut akan terjadi perubahan yang disebabkan oleh beberapa keadaan diantaranya: 1. Gejala dan tanda asfiksia neonatorum yang khas antara lain meliputi pernafasan cepat. Terjadinya asidosis metabolik akan mengakibatkan menurunnya sel jaringan termasuk otot jantung sehingga menimbulkan kelemahan jantung. Skor Apgar 7-10. Pernafasan megap-magap dalam. Tekanan darah mulai menurun. Terjadinya perubahan sistem kardiovaskular. 3. nadi cepat. Bayi terlihat lemas (flaccid). 2. Hilangnya sumber glikogen dalam jantung akan mempengaruhi fungsi jantung. denyut jantung juga menurun. Bayi yang mengalami kekurangan O2 akan terjadi pernafasan yang cepat dalam periode yang singkat apabila asfiksia berlanjut. Menurunnya tekanan O2 darah (PaO2). sianosis. Menurunnya PH (akibat asidosis respiratorik dan metabolik). pernafasan cuping hidung. 6. gerakan pernafasan akan berhenti. 2. Gejala lanjut pada asfiksia: 1. Dalam hal ini bayi dianggap sehat tidak memerlukan tindakan istimewa. Vigorus baby. Kondisi bayi baru lahir dapat dibagi menjadi: 1. 4. 8. Pengisian udara alveolus yang kurang adekuat akan menyebabkan tetap tingginya resistensi pembuluh darah paru sehingga sirkulasi darah mengalami gangguan. 7. Dipakainya sumber glikogen tubuh anak untuk metabolisme anaerob.

tonus otot kurang baik. Mild-moderate asphyxia (asfiksia sedang). refleks iritabilitas tidak ada. ketika jumlah urin mulai meningkat tingkatkan volume cairan IV harian sesuai dengan kemajuan volume cairan. Severe asphyxia (asfiksia berat) berat skor APGAR 0-3. Bunyi jantung bayi menghilang post partum.2. tonus otot buruk. Jika bayi tidak dapat menyusui berikan perasan ASI dengan menggunakan metode pemberian makan alternatif. Tatalaksana untuk pasien pada kasus yang mengalami asfiksia sedang yaitu: Pasang selang IV dan berikan hanya cairan IV selama 12 jam pertama. Berikan perawatan berkelanjutan. Ikterus secara klinis akan mulai tampak pada bayi baru lahir bila kadar bilirubin darah lebih dari 5 mg/dl. Ketika konvulsi terkendali dan bayi menunjukan tanda-tanda peningkatan respon. badan. Pada pasien ini didapatkan pewarnaan kuning pada sklera mata. Tanpa memperhatikan usia bayi yaitu untuk bayi yang berusia 4 hari. 3. dan ekstremitas bawah. Hal tersebut sesuai dengan pembagian . Ijinkan bayi mulai menyusui. refleks iritabilitas tidak ada. Jika bayi berkemih kurang dari 6 kali/ hari atau tidak menghasilkan urin jangan meningkatkan volume cairan pada hari berikutnya. dan kadang-kadang pucat. sianosis. sianosis berat. dimaksudkan dengan henti jantung adalah keadaan :   Bunyi jantung fetus menghilang tidak lebih dari 10 menit sebelum lahir lengkap. Asfiksia berat dengan henti jantung. 2) Ikterus Neonatorum Ikterus neonatorum adalah keadaan klinis pada bayi yang ditandai oleh pewarnaan ikterus pada kulit dan sklera akibat akumulasi bilirubin tak terkonjugasi yang berlebih. Pada pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung kurang dari 100 x/ menit. Pada neonatus produksi bilirubin 2 sampai 3 kali lebih tinggi dibanding orang dewasa normal. lanjutkan dari 60 ml/ Kg sampai 80 ml/ Kg sampai 100 ml/ Kg jangan langsung 120 ml/ Kg pada hari pertama. Ikterus neonatorum merupakan fenomena biologis yang timbul akibat tingginya produksi dan rendahnya ekskresi bilirubin selama masa transisi pada neonatus. Batasi volume cairan sampai 60 ml/ Kg BB selama hari pertama dan pantau urin. Skor APGAR 4-6 pada pemeriksaan fisik akan terlihat frekuensi jantung > 100x/ menit. Hal ini dapat terjadi karena jumlah eritosit pada neonatus lebih banyak dan usianya lebih pendek. namun tidak mencapai bagian bawah lutut.

Pembagian ikterus menurut metode Kramer berguna untuk memperkirakan kadar bilirubin dalam darah. Dalam keadaan tersebut penatalaksanaan ikterus harus dilakukan sebaik-baiknya agar akibat buruk ikterus dapat dihindarkan. yang dulu disebut dengan ikterus patologis tidak mudah dibedakan dari ikterus fisiologis. setiap bayi dengan ikterus harus mendapatkan perhatian. Ikterus non-fisiologis.derajat Ikterus Kramer Derajat III. Dalam metode Kramer. terutama apabila ikterus ditemukan dalam 24 jam pertama kehidupan bayi atau bila kadar bilirubin meningkat > 5 mg/dL (> 86 µmol/L) dalam 24 jam. Proses hemolisis darah. yaitu : Data epidemiologi yang ada menunjukkan bahwa lebih dari 50% bayi baru lahir menderita ikterus yang dapat dideteksi secara klinis dalam minggu pertama kehidupannya. didapatkan pembagian lima derajat ikterus. infeksi berat. ikterus yang berlangsung lebih dari 1 minggu serta bilirubin direk > 1 mg/dL juga merupakan keadaan yang menunjukkan kemungkinan adanya ikterus patologis. Oleh karena itu. Keadaan dibawah ini merupakan petunjuk untuk tindak lanjut : . Ikterus ini pada sebagian penderita dapat bersifat fisiologis dan pada sebagian lagi mungkin bersifat patologis yang dapat menimbulkan gangguan yang menetap atau menyebabkan kematian.

letargis. Jika terjadi penurunan oksigen dan glukosa. sepsis. septikemia. ♣ Infeksi. hiperbilirubinemia dapat terjadi karena suatu keadaan hipoksia (↓ oksigen) dan hipoglikemia (↓ glukosa). dan pengaruh obat-obatan (Streptomycin. takipneu atau suhu yang tidak stabil). apneu. penyakit hemolitik lainnya (defisiensi G6PD. ISK. meningitis. 2004) dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor di bawah ini : ♣ Hemolisis akibat inkompatibilitas ABO atau isoimunisasi Rh. Sulfisoxazol). sferosis herediter). malas menetek. ♣ Peningkatan kadar bilirubin total serum > 0.♣ Ikterus terjadi sebelum umur 24 jam ♣ Setiap peningkatan kadar bilirubin serum yang memerlukan fototerapi. Kloramfenikol. Oksigen dan glukosa dibutuhkan oleh enzim uridine diphosphate glucoronosyl trasferase (UDPG-T) pada proses konjugasi untuk mengubah bilirubin tak terkonjugasi menjadi bilirubin terkonjugasi. Peningkatan kadar bilirubin yang berlebih ikterus non-fisiologis menurut (Moeslichan. ♣ Trauma lahir dan cephal hematoma ♣ Hipoksia/asfiksia ♣ Bayi makrosomia dari ibu DM ♣ Kurangnya asupan ASI ♣ Prematuritas ♣ Faktor genetik ♣ Hipoglikemia ♣ Hipoalbuminemia Pada pasien ini. ♣ Ikterus bertahan setelah 8 hari pada bayi cukup bulan atau setelah 14 hari pada bayi kurang bulan. maka akan terjadi penurunan aktivitas UDPG-T yang kemudian akan mempengaruhi proses konjugasi bilirubin sehingga menyebabkan terjadinya peningkatan kadar bilirubin tak terkonjugasi yang tampak sebagai suatu keadaan ikterus. . penurunan berat badan yang cepat. dan infeksi intrauterin. Benzylalkohol.5 mg/dl/jam ♣ Adanya tanda-tanda penyakit yang mendasari pada setiap bayi (muntah.

Pada bayi baru lahir. keadaan hipoksia dan hipoglikemia juga menyebabkan bayi baru lahir memiliki kapasitas ikatan plasma yang rendah. . Pada pasien dengan ikterus non-fisiologis memerlukan tindak lanjut seperti fototerapi dan penanganan penyakit lain yang mendasari. Dengan dilakukannya fototerapi maka akan terjadi fotooksidasi bilirubin sehingga menjadi isomer foto yang tidak toksik dan mudah dikeluarkan dari tubuh karena mudah larut dalam air. Sedangkan mengenai pemberian ASI pada bayi yang mendapatkan fototerapi. kadar serum albumin umumnya rendah. kuning pada tubuh pasien terus berkurang. Bentuk isomer ini mudah larut dalam plasma dan lebih mudah diekskresi oleh hepar ke dalam saluran empedu. pada pasien ini terdapat keterlambatan oral feeding dan pemberian ASI yang menyebabkan meningkatnya sirkulasi enterohepatik meningkatkan resiko terjadinya hiperbilirubinemia. akibatnya akan terjadi gangguan metabolisme bilirubin sehingga bilirubin didarah akan meningkat. pasien juga lahir dari ibu dengan DM gestational yang dapat meningkatkan resiko bayi lahir dengan imaturitas hepar. Selain itu. Pemantauan dapat berlangsung selama kurang lebih 14 hari. Penurunan bilirubin clearance dalam plasma ini merupakan salah satu penyebab terjadinya keadaan ikterus. Pemantauan dilakukan terutama jika kadar bilirubin mencapai > 12 mg/dl. Teori terbaru mengemukakan bahwa terapi sinar menyebabkan terjadinya isomerisasi bilirubin. Selain itu. Pemantauan lanjut saat bayi sudah di rumah juga penting dilakukan. sehingga peristaltik usus meningkat dan bilirubin akan lebih cepat meninggalkan usus halus. Setelah dilakukan fototerapi. Kedua hal tersebut menyebabkan jumlah bilirubin tak terkonjugasi yang berikatan dengan albumin rendah dan terjadi peningkatan jumlah bilirubin bebas dalam plasma. Peningkatan bilirubin isomer dalam empedu menyebabkan bertambahnya pengeluaran cairan empedu ke dalam usus. AAP (The American Academy of Pediatrics) tidak menganjurkan penghentian ASI dan telah merekomendasikan pemberian ASI terus menerus (minimal 8-10 kali dalam 24 jam).

S. Syamhudi. et al.e627-e631 Susanto R. American Academy of Pediatrics. 2012. NeoReviews 2010. Hiperbilirubinemia Pada Bayi Baru Lahir. Edisi Pertama.Rumah Sakit Dr. 2012. IDAI . Ikatan Dokter Anak Indonesia : Jakarta. B. Soetomo : Surabaya. 2007. Problems of the Infant of the Diabetic Mother. Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga – Rumah Sakit Umum Dr. Divisi Neonatologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak. Laboratorium Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang . 2010. Bayi dari Ibu dengan Diabetes Melitus. Buku Ajar Neonatologi.11. 2007.DAFTAR PUSTAKA Etika R. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Universitas Dipenogoro . E. Kariadi : Semarang. Hipoglikemia Pada Bayi dan Anak. Ogata.