You are on page 1of 12

‘13

1
Production Planning and Control [PPC]) Teknik Industri
Rudini Mulya Daulay Universitas Mercu Buana 2010

Model Statis Economic Production Quantity
(EPQ)

Rudini Mulya Daulay
Program Teknik Industri, Fakultas Teknik – Universitas Mercu Buana
email: rudinimenteri@gmail.com


Abstrak



1. Model Statis Economic Production Quantity (EPQ)

Model persediaan ini disebut model EPQ (Economic Production Quantity),
di mana pemakaiannya terjadi pada perusahaan yang bahan baku atau
komponennya dibuat sendiri oleh perusahaan. Karena pengadaannya dibuat
sendiri, maka instantaneously seperti model EOQ sebelumnya tidak berlaku.
Dalam hal ini, tingkat produksi perusahaan untuk membuat bahan baku
(komponen) diasumsikan lebih besar daripada tingkat pemakaiannya (P>D).













 Gambar – Fluktuasi Tingkat Persediaan Model EPQ

Karena tingkat produksi (P) bersifat tetap dan konstan, maka model EPQ
juga disebut model dengan jumlah produksi tetap (Fixed Production Quantity,
FPQ). Tujuan dari model EPQ tersebut adalah menentukan berapa jumlah
bahan baku (komponen) yang harus diproduksi, sehingga meminimasi biaya
persediaan yang terdiri atas biaya setup produksi dan biaya penyimpanan.
Semua asumsi tentang model EOQ sebelumnya berlaku juga pada model ini
kecuali asumsi non instantaneous dalam pengadaannya seperti keterangan di
atas.


‘13
2
Production Planning and Control [PPC]) Teknik Industri
Rudini Mulya Daulay Universitas Mercu Buana 2010

Dalam model tersebut, jumlah produksi setiap subsiklus tetap harus dapat
memenuhi kebutuhan selama t0, atau dapat dinotasikan:
Q = D. t0
Jika diasumsikan bahwa waktu yang diperlukan untuk memproduksi sejumlah
Q unit pada tingkat produksi P adalah tp, bisa didapatkan persamaan:
Q = P. tp

Terlihat bahwa setiap siklus persediaan terdiri atas dua tahap :
- Tahap Production (Produksi), di mana perusahaan memproduksi bahan
baku (komponen) dengan tingkat produksi P dan sekaligus menggunakan
secara langsung untuk membuat produk jadi selama subsiklus produksi
(tp).

- Tahap produksi tersebut berhenti pada tingkat persediaan mencapai Imax ,
di mana :
Imax = (P-D) tp

- Tahap Inventory (Persediaan), di mana perusahaan dalam memproduksi
produk jadi memakai bahan baku (komponen) sisa produksi yang menjadi
persediaan dari tahap sebelumnya selama perioda ti. Pada tahap tersebut,
jika persediaan telah mencapai tingkat R, maka harus diadakan setup
(persediaan) produksi yang lamanya bergantung kepada lead time (L).
Jadi, L dalam model tersebut menyatakan waktu yang diperlukan untuk
setup produksi.

Tujuan dari model tersebut adalah meminimasi TC yang terdiri atas setup cost
dan holding cost, atau:
TC = setup cost + holding cost
Untuk meminimasi TC tersebut, komponen-komponen biaya tersebut harus
dinyatakan dalam variabel keputusan Q. Komponen-komponen biaya pada
persamaan di atas diperoleh dengan persamaan-persamaan sebagai berikut:

Setup per perioda = S P/Q

Untuk mencari holding cost, dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
Persediaan rata-rata (IH) = (Imax + Imin)/2 , di mana Imin = 0
Karena Imax = (P - D) tp dan Q = P tp, maka diperoleh:
Persediaan maksimum (Imax) = (P – D) Q/P = (1 - D/P) Q
Maka,
Holding Cost per perioda = H (1-D/P) Q/2

Dari keterangan di atas, didapatkan persamaan:
TC = S D/Q + H(1-D/P) Q/2


‘13
3
Production Planning and Control [PPC]) Teknik Industri
Rudini Mulya Daulay Universitas Mercu Buana 2010

Dengan mendiferensial persamaan di atas terhadap Q, maka diperoleh jumlah
produksi yang meminimasi setup cost dan holding cost. Jumlah produksi
ekonomis tersebut biasa disebut EPQ yang akan dinotasikan sebagai Q0 .

Q0 = \2DS/H(1-D/P)
Di mana waktu antara setup ke setup berikutnya:
t0 = Q0/D
dan TC minimum diperoleh dengan memasukkan nilai Q0 ke persamaan TC0,
sehingga didapat:
TC0 = \ 2 H (1-D/P) D S

 Contoh – Soal - Suatu perusahaan memproduksi peralatan stir mobil
lengkap yang terdiri atas poros dan roda stir. Permintaan stir mobil didasarkan
atas permintaan mobil yang sifatnya tetap dan diketahui sebesar 6400
unit/tahun. Stir yang digunakan sebagai bagian peralatan dapat diproduksi
sendiri dengan kecepatan produksi 128 unit/hari. Biaya setup setiap siklus
produksi USD 24 dan holding cost USD 3/unit/tahun.

Bila diketahui dalam 1 tahunnya perusahaan beroperasi selama 250 hari, maka
tentukanlah kebijaksanaan perusahaan untuk komponen roda kemudi
tersebut.

Jawab:
Diketahui:
D = 6400 unit/tahun
p = 128 unit/hari  P = 128 x 250 = 32000 unit/tahun
S = USD 24/setup
H = USD 3/unit/tahun
Jumlah kuantitas produksi ekonomis setiap siklus produksi
Q0 = \2DS/H(1-D/P)
= \2(24)(6400)/3(1-6400/32000) = 358 unit
Waktu optimal antara setup satu ke setup berikutnya
t0 = Q0/D
= 358/6400 = 0.056 tahun = (0.056)(250) ~ 14 hari kerja
Waktu selama siklus produksi
tp = Q0/P
= 358/32000 = 0.011 tahun = (0.011)(250) ~ 2.8 hari
Tingkat persediaan maksimum di mana tahap produksi berhenti
Imax = (P-D) tp = (32000 – 6400)(0.011) ~ 282 unit
TC minimum persediaan dalam setahun
TC0 = \2 H(1-D/P) D S
= \2 (3) (1-6400/32000) (6400) (24) = USD 858.65 per tahun


‘13
4
Production Planning and Control [PPC]) Teknik Industri
Rudini Mulya Daulay Universitas Mercu Buana 2010

 Contoh - Nathan Manufacturing, Inc., membuat dan menjual dop khusus
untuk pasar unit retail. Peramalan Nathan untuk dop roda jeruji
kawatnya adalah 1,000 unit pada tahun depan, dengan rata-rata demand 4
unit per hari. Bagaimanapun, proses produksi paling efisien adalah sejumlah 8
unit per hari. Karena itu perusahaan menghasilkan 8 unit per hari tetapi hanya
menggunakan 4 unit per hari. Dengan nilai-nilai berikut, selesaikan jumlah
optimum unit per ordering. (Catatan: Pabrik ini menjadwalkan produksi dop
hanya sesuai dengan kebutuhan, retail beroperasi selama 250 hari per tahun.)

Demand tahunan = D = 1,000 unit
Setup cost = S = $10
Holding cost = H = $0.50 tiap unit tiap tahun
Tingkat produksi rata-rata = p = 8 unit per hari
Tingkat demand harian = d = 4 unit per hari

)] 8 / 4 ( 1 [ 50 . 0
) 10 )( 000 , 1 ( 2
)] / ( 1 [
2
*
*
÷
=
÷
=
p
p
Q
p d H
DS
Q

= 000 , 80
) 2 / 1 ( 50 . 0
000 , 20
=
= 282.8 dop atau 283 dop

Solusi ini mungkin ingin dibandingkan dengan jawaban pada Contoh
sebelumnya. Dengan menghilangkan asumsi penerimaan secara instantenous
seketika, di mana p = 8 dan d = 4, terjadi peningkatan Q* dari 200 menjadi
283. Peningkatan Q* ini terjadi karena holding cost turun dari $0.50 menjadi
($0.50 x ½ ), sehingga menjadikan quantity order yang lebih besar menjadi
optimum. Juga perhatikan bahwa

250
000 , 1
beroperasi pabrik hari Jumlah
4 = = =
D
d


Q*p juga dapat dihitung bila data tahunan tersedia. Bila data tahunan
digunakan, maka Q*p dapat dinyatakan sebagai :

|
|
.
|

\
|
÷
=
tahunan produksi tingkat
tahunan demand tingkat
1
2
*
H
DS
Q
p




‘13
5
Production Planning and Control [PPC]) Teknik Industri
Rudini Mulya Daulay Universitas Mercu Buana 2010

2. Model Statis EPQ Multi Item

Proses produksi intermittent umumnya memproduksi sejumlah produk
yang diproduksi oleh mesin yang sama atau lintasan produksi yang sama.
Produk-produk tersebut seringkali dibuat dalam siklus produksi yang teratur
(konstan) dengan ukuran produksi (batch) yang telah ditentukan sebelumnya.
Waktu keseluruhan siklus produksi tersebut merupakan waktu yang dibutuhkan
untuk memproduksi satu urut-urutan lengkap produk-produk tersebut.

Waktu siklus produksi yang optimal pada kasus seperti di atas harus dihitung
secara kelompok produk, dan bukan berdasarkan penentuan untuk masing-
masing produk. Dengan demikian perlu dihitung dahulu berapa frekuensi
optimal selama perioda produksi untuk keseluruhan kelompok produk yang
dihasilkan.

Langkah-langkah penyelesaian kasus EPQ multi item adalah sebagai berikut :
Hitung apakah waktu penyelesaian dari semua permintaan tahunan tidak
melebihi waktu yang tersedia, misalkan N adalah jumlah hari kerja 1 tahun
(misal N = 250), maka :

> ¿ Di / Pi

Hal tersebut berarti bila N s ¿ Di / Pi , berarti kapasitas produksi tidak dapat
memenuhi seluruh permintaan yang datang, sehingga perlu dilakukan lembur,
ekspansi kapasitas mesin dan subkontrak. Bila syarat tersebut dipenuhi,
lanjutkan langkah 2.

1. Hitung frekuensi optimal terpadu sebagai berikut :
f0 = \ ¿ Dn Hn (1-Dn/Pn) / 2 ¿ Sn
Di mana:
Dn = tingkat konsumsi (unit/tahun)
Hn = biaya penyimpanan (USD/unit/tahun)
Sn = biaya setup (USD)
Pn = kecepatan produksi (unit/tahun)

Asumsi lain pada model tersebut dalah bahwa waktu setup diabaikan sehingga
terdapat cukup waktu longgar untuk setiap siklus produksi yang baru. Secara
matematis, asumsi tersebut dinyatakan sebagai:

N/f0 > ¿ Qi / Pi
2. Hitung Qi- (ukuran produksi optimal untuk kelompok komponen ke-I),
di mana :
Qi = Di / f0


‘13
6
Production Planning and Control [PPC]) Teknik Industri
Rudini Mulya Daulay Universitas Mercu Buana 2010

3. Hitung TC0, di mana:
TC0 = ¿ Dn Cn + 2f ¿ Sn
Di mana: Ci = cost/unit

 Contoh - Sebuah mesin digunakan untuk membuat 5 buah produk secara
bersama-sama dengan data-data sebagai berikut:

Permintaan Biaya Produksi Biaya Sekali Kecepatan Produksi Biaya
Simpan
Produk Per tahun (unit) per unit Setup (USD) per jam
/unit/tahun
Dn Cn Sn Pn Hn
A 4,000 USD 5,000 USD 40,000 20 USD 100
B 2,000 USD 3,000 USD 25,000 10 USD 200
C 3,500 USD 5,000 USD 50,000 20 USD 300
D 6,000 USD 1,000 USD 60,000 30 USD 250
E 5,000 USD 3,000 USD 35,000 25 USD 320


Perusahaan tersebut beroperasi dalam 8 jam/hari selama 250 hari/tahun.
Ditanyakan :
 Berapa siklus produksi yang paling ideal dalam satu tahunnya
 Berapa jumlah setiap kali produksi untuk masing-masing tipe produksi

Buat tabel yang menunjukkan kecepatan produksi per hari, kebutuhan per hari
dan perhitungan lain yang diperlukan dalam menentukan proporsi optimal
(fraksi) sebagai berikut :

Produk Tingkat Produksi Tingkat Kebutuhan
Per hari (Pn Hn Pn Dn Hn (1-Dn/Pn) Sn
A 160 16 100 40,000 360,000
40,000
B 80 8 200 20,000 360,000
25,000
C 160 14 300 40,000 958,125
50,000
D 240 24 250 60,000 1,350,000
60,000
E 200 20 320 50,000 1,440,000
35,000
JUMLAH 4,468,125
210,000


‘13
7
Production Planning and Control [PPC]) Teknik Industri
Rudini Mulya Daulay Universitas Mercu Buana 2010

Waktu produksi yang dibutuhkan dalam satu tahun:

¿ Dn /Pn = 4,000/160 + 2,000/80 + 3,500/160 + 6,000/240 + 5,000/200
= 122 hari

Waktu operasi perusahaan 250 hari per tahun, yang berarti melebihi waktu
yang dibutuhkan untuk produksi (122 hari), sehingga persoalan di atas layak
dikerjakan dan frekuensi dihitung sebagai berikut:

f = \ ¿ Dn Hn (1-Dn/Pn) / 2 ¿ Sn
= \ 4(468)(125) / 2(210,000) = 3.26 siklus per tahun

Kemudian dibuat tabel berikut :

Produk Dn f Qn- = 1/f x Dn
A 4,000 3,26 1,227
B 2,000 3,26 614
C 3,500 3,26 1,074
D 6,000 3,26 1,840
E 5,000 3,26 1,534

Waktu optimal antara siklus produksi adalah :

¿ Qn- / Pn = 1,227/160 + 614/80 + 1,074/160 + 1,840/240 + 1,534/200
= 15 hari

Waktu produksi yang tersedia per siklusnya adalah: 250/f = 250/3,26 =
77 hari Karena waktu produksi optimal per siklus adalah 15 hari, sedangkan
waktu produksi yang tersedia setiap siklusnya adalah 77 hari, maka terdapat
waktu slack 62 hari untuk setiap siklusnya (hal tersebut disebabkan kapasitas
mesin yang besar dibandingkan dengan permintaan).

Jadi setiap 77 hari berikutnya, perusahaan akan memulai siklus produksinya
kembali. Total biaya persediaan optimalnya diperoleh sebagai berikut :

TC0 = ¿ Dn Cn + 2f ¿ Sn
= (20,000,000 + 6,000,000 + 17,500,000 + 6,000,000 +
15,000,000) + 2(3,26)(210,000)

= 65,869,200




‘13
8
Production Planning and Control [PPC]) Teknik Industri
Rudini Mulya Daulay Universitas Mercu Buana 2010


3. Model Quantity Discount

Untuk meningkatkan penjualan, banyak perusahaan menawarkan quantity
discount kepada customer mereka. Quantity discount secara sederhana
merupakan price yang dikurangi (P) karena sebuah item dibeli dalam jumlah
yang lebih besar. Sangat biasa untuk memiliki jadwal discount untuk order
yang besar. Price normal item adalah $5. Ketika 1,000 hingga 1,999 unit
dipesan sekaligus, maka price per unit berkurang menjadi $4.80; ketika
quantity order sekaligus adalah 2,000 unit atau lebih, maka price menjadi
$4.75 per unit. Seperti biasa, manajemen harus memutuskan kapan dan
berapa banyak jumlah order. Dengan kesempatan untuk menghemat uang
dengan quantity discount, bagaimana mengambil keputusan ini?

 Tabel - Sebuah Jadwal Quantity discount

Jumlah Discount Quantity Discount Discount (%) Price Discount (P)
1 0 hingga 999 Tidak ada discount $5.00
2 1,000 hingga 1,999 4 $4.80
3 Di atas 2,000 5 $4.75


Sebagaimana model inventory lain, tujuan keseluruhan adalah meminimasi
biaya total. Karena biaya unit untuk discount ketiga adalah yang paling
rendah, maka customer mungkin tergoda untuk memesan 2,000 unit atau
lebih hanya untuk mengambil keuntungan dari biaya produk yang lebih
rendah. Bagaimanapun penempatan sebuah order untuk quantity, bahkan
dengan price discount yang terbesar, mungkin tidak meminimasi biaya
inventory total. Memang dengan bertambahnya quantity discount, biaya
produk turun. Bagaimanapun, holding cost meningkat disebabkan karena
jumlah order yang lebih besar. Dengan demikian faktor utama dalam
mempertimbangakan quantity discount adalah antara biaya produk yang
berkurang dan yang holding cost yang meningkat. Bila biaya produk
dimasukkan, maka persamaan biaya inventory tahunan total dapat dihitung
sebagai berikut:
Biaya total = Setup cost + Holding cost + Biaya produk
Atau PD H
Q
S
Q
D
TC + = =
2

di mana
Q = Quantity order
D = Demand tahunan dalam unit
S = Ordering cost atau setup per order atau per setup
P = Price per unit
H = Holding cost per unit per tahun

‘13
9
Production Planning and Control [PPC]) Teknik Industri
Rudini Mulya Daulay Universitas Mercu Buana 2010

Sekarang, quantity yang akan meminimasi biaya inventory tahunan total harus
ditentukan. Karena terdapat beberapa discount, maka proses ini melibatkan
empat langkah:

Langkah 1: Untuk setiap discount, hitunglah sebuah nilai untuk ukuran order
yang optimum Q*, dengan menggunakan persamaan berikut :


IP
DS
Q
2
* =

Perhatikan bahwa holding cost adalah IP dan bukan H. Karena price dari item
tersebut merupakan sebuah faktor dalam holding cost tahunan, sehingga
asumsi bahwa holding cost tetap ketika price per unit berubah untuk setiap
quantity discount tidak dapat digunakan. Dengan demikian, biasanya holding
cost (I) dinyatakan sebagai persentase price satuan (P) dan bukan biaya
konstan per unit per tahun, H.

Langkah 2: Untuk discount manapun, jika quantity order terlalu rendah untuk
memenuhi persyaratan discount, maka dilakukan penyesuaian quantity order
ke quantity yang paling rendah yang akan memenuhi persyaratan untuk
discount tersebut. Sebagai contoh, jika Q* karena discount 2 adalah 500 unit,
akan dilakukan penyesuaian pada nilai ini menjadi 1,000 unit. Perhatikan pada
discount yang kedua. Jumlah order antara 1,000 dan 1,999 akan memenuhi
persyaratan untuk discount 4%. Dengan demikian, jika Q* di bawah 1,000 unit,
akan dilakukan penyesuaian quantity order sampai dengan 1,000 unit.

Alasan untuk langkah 2 mungkin tidak begitu jelas. Jika quantity order, Q*,
berada di bawah rentang yang akan memenuhi persyaratan untuk sebuah
discount, maka quantity dalam rentang ini tetap dapat menghasilkan biaya
total yang paling rendah.


Kurva biaya total dipecah menjadi tiga kurva biaya total yang berbeda, di
mana terdapat kurva discount biaya total pertama (0 ≤ Q ≤ 999), kedua (1,000
≤ Q ≤ 1,999), dan ketiga (Q ≥ 2,000). Perhatikan kurva biaya total (TC) untuk
discount 2. Q* untuk discount 2 kurang dari rentang discount yang
memungkinkan, yaitu 1,000 hingga 1,999 unit. Quantity terendah yang
diperbolehkan dalam rentang ini, yaitu sebesar 1,000 unit, merupakan
quantity yang akan meminimasi biaya total. Dengan demikian, langkah yang
kedua diperlukan untuk memastikan bahwa sebuah quantity order yang
menghasilkan biaya minimal tidak diabaikan. Perhatikan bahwa quantity order
yang dihitung pada langkah 1 yang lebih besar daripada rentang yang akan
memenuhi persyaratan bagi sebuah discount, mungkin terabaikan.

‘13
10
Production Planning and Control [PPC]) Teknik Industri
Rudini Mulya Daulay Universitas Mercu Buana 2010

Langkah 3: Dengan menggunakan persamaan biaya total yang terdahulu,
hitunglah biaya total untuk setiap Q* yang ditentukan pada langkah 1 dan 2.
Jika penyesuaian peningkatan Q* telah dilakukan karena Q* berada di bawah
rentang quantity yang diperbolehkan, maka pastikan untuk menggunakan nilai
Q*yang telah disesuaikan.

Langkah 4: Pilih Q* yang memiliki biaya total terendah, sebagaimana yang
telah dihitung pada langkah 3, yang akan menjadi quantity yang meminimasi
biaya inventory total.

 Contoh – Soal - WDS mengelola inventory produk A. Baru-baru ini, WDS
mendapat penawaran quantity discount. Price normal untuk produk A adalah
$5.00. Untuk ordering antara 1,000 dan 1,999 unit, price per unit turun
menjadi $4.80; untuk ordering 2,000 unit atau lebih, maka price per unit
hanya $4.75. Sebagai tambahan, ordering cost adalah $ 49.00 untuk setiap
order, demand tahunan sebesar 5,000 unit, dan biaya penggudangan
inventory, sebagai persentase dari biaya, I, adalah 20%, atau 0.2. Berapakah
quantity order yang akan meminimasi biaya inventory total?

 Gambar - Kurva Biaya Total untuk Model Quantity discount













Langkah pertama adalah menghitung Q* untuk setiap discount. Hal ini
dilakukan sebagai berikut:


) 00 . 5 )( 2 . 0 (
) 49 )( 000 , 5 ( 2
*
1
= Q = ordering sejumlah 700 unit

) 80 . 4 )( 2 . 0 (
) 49 )( 000 , 5 ( 2
*
2
= Q = ordering sejumlah 714 unit

) 75 . 4 )( 2 . 0 (
) 49 )( 000 , 5 ( 2
*
3
= Q = ordering sejumlah 718 unit

‘13
11
Production Planning and Control [PPC]) Teknik Industri
Rudini Mulya Daulay Universitas Mercu Buana 2010

Langkah kedua adalah melakukan penyesuaian untuk nilai-nilai Q* di bawah
rentang discount yang diperbolehkan. Karena Q
*
1
berada dalam rentang yang
diperbolehkan yaitu 0 dan 999, maka Q
*
2
tidak perlu disesuaikan. Oleh karena
Q
*
2
tidak berada di bawah rentang yang diperbolehkan, yaitu dari 1,000 hingga
1,999, maka Q
*
2
harus disesuaikan menjadi 1,000 unit. Hal yang sama juga
terjadi pada Q
*
3
; yang harus disesuaikan menjadi 2,000 unit. Setelah langkah
ini, jumlah order berikut harus diuji dalam persamaan biaya total:

Q
*
1
= 700
Q
*
2
= 1,000—disesuaikan
Q
*
3
= 2,000—disesuaikan

Langkah yang ketiga adalah menggunakan persamaan biaya total dan
menghitung biaya total untuk setiap quantity order. Langkah ini dilakukan
dengan bantuan tabel yang menunjukkan perhitungan untuk setiap tingkatan
discount.


 Tabel - Perhitungan Biaya Total untuk WDS

Nomor
Discount
Price
Unit
Quantity
Order
Biaya
Produk
Tahunan
Ordering
cost
Tahunan
Holding
cost
Tahunan


Total
1 $5.00 700 $25,000 $350 $350 $25,700
2 $4.80 1,000 $24,000 $245 $480 $24,725
3 $4.75 2,000 $23,750 $122.50 $950 $24,822.50


Langkah yang keempat adalah memilih quantity order dengan biaya total yang
paling rendah. Dapat dilihat bahwa quantity order sebesar 1,000 unit akan
meminimasi biaya total. Bagaimanapun, perlu dilihat bahwa biaya total untuk
ordering 2,000 unit hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan biaya total untuk
ordering 1,000 unit.


4. Sistem Periode Tetap (P)

Model inventory sejauh ini adalah sistem quantity tetap, atau sistem
Q. Artinya jumlah yang sama ditambahkan pada inventory setiap kali sebuah
ordering untuk sebuah item dilakukan. Dapat dilihat bahwa order itu dipicu
oleh adanya kejadian tertentu. Ketika inventory berkurang hingga ke reorder
point (ROP), maka sebuah order baru sejumlah Q unit ditempatkan.



‘13
12
Production Planning and Control [PPC]) Teknik Industri
Rudini Mulya Daulay Universitas Mercu Buana 2010

Untuk menggunakan model quantity tetap, inventory harus secara terus-
menerus dimonitor. Sistem seperti ini disebut sebagai sistem inventory
perpetual. Setiap kali sebuah item yan ditambahkan ke atau ditarik dari
inventory, maka catatan harus diperbaharui untuk meyakinkan ROP bahwa
belum dicapai.

Pada sisi lain, dalam sebuah sistem periode tetap, atau sistem P, inventory
dipesan pada akhir periode yang ditentukan. Kemudian, setelah itu, inventory
yang dimiliki dihitung. Jumlah yang dipesan hanya seperlunya sedemikian rupa
sehingga total inventory sampai ke tingkat target yang ditentukan.

Sistem periode tetap memiliki beberapa asumsi yang sama seperti sistem
quantity tetap EOQ:

 Satu-satunya biaya yang relevan adalah ordering cost dan holding cost.
 Lead-time diketahui dan konstan.
 Item independent antara satu dan yang lainnya.

Garis yang menurun merepresentasikan inventory di tangan. Tetapi sekarang,
saat waktu antara order (P) sudah berlalu, sebuah order ditempatkan untuk
menaikkan inventory sampai ke nilai target (T). Jumlah order sepanjang
periode yang pertama adalah Q
1
, sementara jumlah pada periode yang kedua
Q
2
, dan seterusnya. Nilai Q
i
adalah perbedaan antara inventory di tangan
sekarang dan tingkat inventory yang ditargetkan.