You are on page 1of 20

MANAJEMEN PEMUPUKAN TANAMAN KELAPA SAWIT

KATA PENGANTAR Makalah ini digunakan sebagai materi training SMDP-A5 yang merupakan pelatihan para calon Askep agronomi untuk memberikan bekal pengetahuan tentang pengelolaan pupuk dan pemupukan kelapa sawit. Pengetahuan dasar teknik mengenai pupuk dan pemupukan sudah barang tentu mutlak diperlukan untuk bisa melakukan pengelolaan pemupukan dengan baik. Terkait dengan hal tsb maka dalam makalah ini diberikan penekanan tentang bagamaimana mengelola pemupukan dengan tujuan untuk mencapai efisiensi dan efektifitas yang maksimal. I. PENTINGNYA PEMUPUKAN Pemupukan harus dikelola dengan baik sehingga dapat menjamin tercapainya tujuan pemupukan, mengingat biaya pemupukan merupakan salah satu komponen biaya produksi yang besar. Menurut Suwandi, et.al., 1987, bahwa biaya pemupukan sekitar 40 60% dari biaya perawatan atau sekitar 20% dari total biaya produksi. Pada Perkebunan Sinar Mas, biaya pemupukan adalah sebesar US $ 38.74 / ton produk kelapa sawit atau sekitar 21% dari total biaya (Tan, 1998). Oleh karena itu sangat penting selalu diupayakan meningkatkan efektifitas dan efisiensi pemupukan. Efektifitas pemupukan berhubungan dengan tingkat/persentase hara pupuk yang diserap tanaman. Pemupukan dikatakan efektif jika sebagian besar hara pupuk diserap tanaman. Sedangkan efisiensi pemupukan berkaitan dengan hubungan antara biaya (bahan pupuk, alat kerja, dan upah) dengan tingkat produksi yang dihasilkan. Efisiensi pemupukan terkait dengan tindakan rekomendasi pemupukan dan manajemen operasional. Jadi peningkatan efektifitas dan efisiensi pemupukan dapat dicapai melalui perbaikan manajemen operasional dan rekomendasi pemupukan. Disamping itu, pemupukan sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Tanaman menyerap unsur hara dari tanah dan udara. Hara yang diserap dari tanah berasal dari tanah itu sendiri dan dari pupuk yang diaplikasikan. Beberapa hal yang menjadi alasan dilakukan pemupukan adalah: (1) Tanah tidak mampu menyediakan unsur hara yang cukup bagi tanaman, (2) Tanaman kelapa sawit memerlukan hara yang besar untuk tumbuh dan produksi tinggi, (3) Penggunaan varietas unggul yang membutuhkan hara lebih besar, (4) Unsur hara yang terangkut berupa produksi tidak seluruhnya dikembalikan ke tanah. Karena itu pemupukan mempunyai tujuan agar tanaman mampu tumbuh normal dan produksi sesuai dengan potensinya, serta untuk mempertahankan atau meningkatkan kesuburan tanah. Tingginya hara yang terangkut oleh tanaman kelapa sawit, dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Unsur hara yang paling banyak dibutuhkan adalah K, lalu berturut-turut N, Mg, P. Unsur Hara Dalam Tanaman Kelapa Sawit (Ng and Tamboo, 1967 dalam von Uexkull and Fairhurst, 1991)

Uraian Diangkut saat panen Dikembalikan ke tanah

Kg/Pkk/Th N P P2O5 K K2O Mg MgO 0.49 0.08 0.18 0.53 0.076 0.17 1.29 0.178 0.40 38 45 45 0.63 0.76 0.14 0.23 0.47 0.57 0.07 0.12 0.69 0.83 0.19 0.32 1.79 2.16 0.40 0.67 35 35 35 35

Immobil dalam jaringan 0.27 0.022 0.05

Total Hara Persen Hara diangkut per

Total Total Hara/ Ha (148 pkk/Ha) Hara per Ton TBS Equivalent Pupuk
Produksi 24 Ton/Ha/Th. Jumlah pupuk yang diaplikasikan ke tanah, paling tidak bisa menggantikan jumlah hara yang diangkut dan tidak kembali ke dalam tanah. Kondisi ini minimal dapat mencegah terjadinya penurunan kesuburan tanah, dengan catatan tidak terjadi kehilangan hara dari tanah akibat pencucian, erosi, penguapan dsb. Dan sebaliknya jika ingin meningkatkan kesuburan tanah maka jumlah pupuk yang diaplikasi harus lebih besar dari yang diangkut saat panen. Banyak hasil penelitian yang telah dipublikasikan bahwa aplikasi pupuk akan meningkatkan produksi secara nyata. Hasil penelitian SMARTRI, diantaranya adalah di libo (LBE-14), memberikan gambaran bahwa peningkatan dosis aplikasi TSP dari 70 menjadi 347 gr/Pkk pada tanaman berumur 1 dan 2 tahun dapat meningkatkan rerata jumlah pelepah dari 48.4 menjadi 54.6. Pada saat produksi, dosis pupuk setara dengan 1.5 kg TSP/pkk/th memberikan produksi terbaik. Peningkatan produksi mencapai 2 kali lipat (100%) dibandingkan pada tanaman tanpa pupuk P. II. PENGELOLAAN PEMUPUKAN Pengelolaan pemupukan dimulai sejak pupuk diterima di gudang sampai dengan diaplikasikan di lapangan, yaitu secara garis besar berurutan sbb: Gudang Penyimpanan Pengeluaran dari Gudang Pengangkutan Pengeceran di lapangan Aplikasi di lapangan. Agar dilakukan pengawasan dengan tujuan untuk meningkatkan efektifitas pemupukan. Kehilangan pupuk (hara pupuk) dapat terjadi pada setiap tahap kegiatan tsb di atas, baik saat di gudang, pengangkutan, pengeceran, dan saat aplikasi pupuk. 2.1. Gudang Di Gudang terjadi 3 kegiatan adalah penerimaan, penyimpanan, dan pengeluaran pupuk. Pada saat penerimaan dilakukan pengecekan tentang jenis, jumlah, dan kondisi pupuk. Pengambilan sample pupuk dilakukan sesuai dengan SOP dan selanjutnya dikirim ke laboratorium SMARTRI-Libo atau Regional Laboratorium yang telah beroperasi di beberapa PKS untuk menentukan kadar hara pupuk. Yang sangat penting, pada saat pengambilan sample juga dilakukan pengamatan fisik pupuk apakah sesuai dengan spesifikasi pupuk, kondisi kemasan dsb. Penyimpanan di gudang dipastikan bahwa pupuk tidak terkena air (bocor) dan tidak terekspos sinar matahari langsung (panas). Penempatannya juga diatur sehingga pada saat pengeluaran pupuk dapat dilakukan secara first in first out (FIFO) setiap jenis pupuk. Hal ini akan menjamin bahwa penerapan aplikasi pemupukan berimbang dapat dilaksanakan dengan baik. Beberapa permasalahan yang masih dijumpai di lapangan adalah:

191 8.0

26 1.1

59 2.5

265

320

59

99 4.1

11.0 13.3 2.5 2.22 MOP

Total (Diangkut + Immobil) 0.76 0.102 0.23 1.65 0.5 TSP Urea

1.10 1.33 0.21 0.35 1.3 KIES.

Kapasitas gudang kurang. Sebagian pupuk disimpan di luar gudang diberi penutup lembar plastik. Penempatan pupuk yang kurang tepat sehingga tidak mendukung pelaksanaan FIFO dan pemupukan berimbang. Seluruh jenis pupuk ditempatkan pada batch yang sama dengan cara penumpukan. Jenis pupuk yang datang pertama akan berada pada posisi terbawah, dst. Akibatnya pergantian jenia pupuk dapat dilakukan setelah habis satu jenis, tidak bisa secara bersamaan beberama jenis pupuk.

Pengambilan sample pupuk masih kurang sesuai dengan SOP. Hasil analisa Laboratorium yang terlalu lama.

2.2. Pengangkutan dan Pengeceran Pengangkutan dipastikan pupuk aman sampai di blok, tidak terjadi kebocoran di jalan. Pengeceran dilakukan sesuai dengan jumlah pohon setiap baris, serta dosis. Peta titik tanam sangat vital dalam melakukan pengeceran pupuk yang tepat. Pengeceran yang tepat akan sangat menentukan kemudahan pelaksanaan aplikasi dan ketepatan dosis. Pada lokasi tertentu yang masih rawan, diberikan tenaga pengawas khusus terhadap pupuk yang telah diecer di lapangan, karena sangat rawan pencurian. Bahkan jika dipandang perlu, pengangkutan pupuk dari gudang ke Blok diberi tenaga pengawal. Yang sangat direkomendasikan adalah sistim pengeceran dengan until. Pupuk sudah dibut per until di gudang, selanjutnya dilapangan dilakungan pengeceran di CR. Beberapa kebun juga masih menggunakan pengeceran langsung sak pupuk di lapangan. 2.3. Aplikasi Pupuk Aplikasi pupuk berpengaruh sangat besar dalam menentukan efektifitas pemupukan. Istilah umum adalah 4 tepat, yaitu: Tepat Waktu, Dosis, Jenis, Cara, dan biasanya masih ditambahkan satu tepat lagi, yaitu Tepat pelaporan (data). Sehingga disebut 4 tepat, 5 sempurna.

Waktu

Pengertian waktu di sini adalah frekuensi pemupukan, selang waktu antar aplikasi pupuk sama jenis, selang waktu antar aplikasi pupuk berbeda, kondisi cuaca dan kelembaban tanah. Waktu pemupukan akan sangat menentukan besarnya prosentase hara pupuk yang dapat diserap tanaman dan juga tingkat kehilangan hara pupuk. Pada dasarnya, pemupukan ideal dilakukan pada saat kondisi tanah lembab atau kadar air pada saat kapasitas lapang, yaitu saat awal dan akhir musim hujan. Pemupukan kelapa sawit biasanya dilakukan 2 kali per tahun yaitu semester-1 dan semester2. Frekuensi pemupukan tergantung jenis pupuk dan sifat lahan (tanah & iklim). Misalnya pada tanah pasir umumnya dilakukan pemupukan 3 kali per tahun, sedangkan pada tanah lempung/liat 2 kali per tahun. Pupuk P, umumnya dilakukan pemupukan cukup 1 x per tahun. Waktu aplikasi juga harus memperhatikan jenis pupuk, misalnya antara pupuk ammonium (N) dengan pupuk alkalis; antara pupuk K dan Mg. Selain itu, juga selang waktu antara aplikasi pertama dan kedua untuk jenis pupuk yang sama, serta selang waktu antara jenis pupuk yang berbeda. Faktor yang sangat penting adalah yang berkaitan dengan kondisi kelembaban tanah saat aplikasi pupuk. Hal ini akan sangat menentikan tingkat penyerapan hara pupuk oleh tanaman dan kemungkinan kehilangan hara pupuk akibat penguapan, pencucian dsb. Stategi berikut diberikan sebagai pedoman pemupukan saat musim kering dan musim hujan. 1. A. Pemupukan saat musim kering

Secara umum pemupukan diprogramkan pada bulan dengan curah hujan > 75 mm/bulan. Aplikasi pupuk harus mmpertimbangkan frekuensi dan volume curah hujan dengan ketentuan: Pemupukan dihentikan jika 7 hari berturut-turut tidak terjadi hujan.

Pemupukan dapat dilanjutkan segera apabila terdapat minimal 2 hari hujan dengan curah hujan 25 mm atau 1 hari hujan dengan dengan curah hujan 50 mm dalam kurun waktu 7 hari berturut-turut.

Pemupukan dihentikan kembali apabila: untuk Urea, segera bila tidak ada hujan dalam 3 hari berturut-turut; untuk pupuk MOP, Kieserite, pupuk mikro segera setelah 7 hari berturut-turut tidah hujan. (catatan: Pupuk RP, Super Fosfat, dan Dolomite dapat diaplikasi karena tidak terjadi penguapan). 1. B. Pemupukan saat musim hujan

Secara umum pemupukan diprogramkan pada bulan pada bulan dengan curah hujan < 250 mm/bulan. Pemupukan dilakukan pada saat curah hujan < 60 mm per minggu. Pemupukan dihentikan pada saat curah hujan > 60 mm per minggu.

Kecuali pada kondisi khusus di bawah ini, maka menggunakan pedoman berikut: Pada tanah sangat berpasir, pemupukan diprogramkan pada bulan dengan curah hujan < 200 mm/bulan. Pemupukan dilakukan apabila curah hujan < 40-45 mm per minggu dan pemupukan dihentikan apabila curah hujan > 40-45 mm per minggu. Pada areal dengan curah hujan tinggi seperti Papua, Muara Tawas/Kandis, pemupukan dilakukan pada periode curah hujan terendah. Berdasarkan data curah hujan selama puluhan tahun terakhir dan berpedoman pada startegi d atas, maka tabel di bawah ini memberikan perkiraan periode program aplikasi pemupukan setiap wilayah. Namun demikian, aplikasi pupuk aktual harus memperhatikan curah hujan di setiap kebun. Diprogramkan aplikasi seluruh pupuk setiap semester dapat diselesaikan dalam waktu 2 bulan. Timing recommended for manual fertiliser applications

Region

Semester 1 Delivery Application Mar Apr Mar Apr Apr May Apr May

Semester 2 Delivery Jul mid-Jul Aug Aug Application Aug Sept mid Aug mid Oct Sep Oct Sep Oct Aug Sept Aug Sept Oct Nov Oct Nov Jul Aug Aug Sept Aug Sept Jul Aug

Sumut Riau Jambi (*) South Sumatra (*) (Palembang) Bangka Belitung Lampung (*) South Kalimantan Central Kalimantan West Kalimantan East Kalimantan Irian Jaya Dosis

Feb Feb Mar Mar Jan Jan mid Feb Mar Dec Jan Jan Dec

Feb Mar Jul Feb Mar Jul mid Mar-mid May Sept Apr May Sept Jan Feb Jun Feb Mar Jul Feb Mar Jul Jan Feb Jun

Aplikasi pupuk dijamin bahwa tanaman menerima pupuk sesuai dengan dosis rekomendasi. Ketepatan dosis pupuk dipengaruhi oleh: sistim pengeceran pupuk, alat aplikasi, kondisi fisik lahan (topografi, akses perawatan, dsb), sistim pengupahan, dsb. Pengeceran pupuk disesuaikan dengan kemampuan wajar tenaga angkut manusia dan dosisnya. Alat aplikasi menjamin bahwa alat tsb memiliki keakuratan yang tinggi (variasi rendah) dan mudah digunakan (applicable). Alat dengan luas permukan semakin lebar variasi berat akan semakin besar, misalnya piring akan lebih besar variasi dibanding mangkok, dan

mangkok akan lebih besar variasi dibanding tabung. Khusus untuk pupuk HGFB sangat disarankan menggunakan ex. tabung film, pertimbangannya karena memiliki ketepatan yang tinggi ( 25 gr/tab), serta kelipatannya sesuai dengan dosis umum pupuk HGFB yaitu biasanya kelipatan 25 gram. Alat aplikasi juga harus memiliki kelipatan bilangan asli (bukan desimal) dari dosis rekomendasi. Dosis atau kuantitas aplikasi pupuk harus mempertimbangkan kapasitas tanah menjerap hara. Jika jumlahnya melebihi kapasitas tanah, maka mendorong terjadinya kehilangan hara pupuk. Oleh karena itu pada tanah pasir, dosis aplikasi cenderung lebih kecil tetapi frekuensi lebih tinggi. Peningkatan frekuensi akan menurunkan resiko kehilangan hara pupuk.

Jenis

Jenis pupuk yang diaplikasi harus sesuai dengan yang direkomendasikan. Jika karena sesuatu hal, maka konversi pupuk dapat dilakukan dengan menghubungi ke SMARTRI. Konversi jenis pupuk, selain mempertimbangkan kadar total hara, juga tingkat kelarutan, sifat-sifat hara pupuk dsb.

Cara

Yang dimaksudkan adalah dimana pupuk ditempatkan/diaplikasikan di lapangan dan cara menabur pupuk. Pertimbangannya adalah agar tanaman dapat menyerap secara maksimal, meminimalkan kehilangan hara pupuk, meminimalkan kompetisi dengan gulma, dsb. Di Perkebunan Sinar Mas dilakukan dengan 3 cara aplikasi yaitu manual, mekanis dengan fertilizer spreader, dan dengan pesawat. Hal ini terkait dengan keseragaman (homogenitas) penyebaran pupuk. Pupuk Urea, MOP dan Kies, disebar merata dalam piringan sampai batas luar, sedangkan pupuk P (RP, TSP dsb) ditabur di gawangan mati di atas pelepah untuk tanaman remaja/tua. Tindakan penyebaran pupuk ini adalah dengan tujuan menurunkan konsentrasi hara per m2. Tingginya konsentrasi hara akan berpotensi meningkatkan kehilangan hara pupuk melalui pencucian (leaching) atau aliran permukaan (run-off). Hal ini berhubungan dengan tingkat kapasitas tanah menjerap unsure hara. Sampai dengan saat ini, aplikasi mekanis (pesawat, fertilizer spreader) menunjukkan hasil yang baik, dari produksi dan kadar hara daun. III. KEHILANGAN HARA PUPUK Kehilangan hara pupuk dapat melalui beberapa cara yaitu: penguapan (volatilisasi), pencucian (leaching), aliran permukaan (run off), erosi. Jumlah dan proporsi kehilangan hara sangat dipengaruhi oleh sifa-sifat unsur hara itu sendiri, apakah banyak hilang karena penguapan, pencucian dsb.

Penguapan

Kehilangan N pada pupuk Urea akibat penguapan sangat beragam dan cukup tinggi yaitu 460%. Beberapa faktor yang mempengaruhi penguapan: - Kelembaban tanah: Aplikasi pupuk N pada saat tanah lembab, bukan saat tanah kering atau basah melebihi kapasitas lapang (jenuh air). Pola curah hujan: Pada saat bulan kering dan curah hujan tinggi maka kehilangan N akan meningkat. Jenis pupuk: Meskipun harganya paling murah sebagai sumber N, tetapi pupuk Urea terjadi penguapan yang sangat tinggi apalagi jika tidak segera tercampur dengan tanah setelah aplikasi. Dosis pupuk: Semakin tinggi dosis maka resiko kehilangan hara akan semakin besar (absolut).

Pencucian

Kehilangan hara pupuk akibat pencucian berkisar antara 3-35%. Beberapa faktor yang mempengaruhi pencucian: Jenis hara: Paling banyak adalah unsur N, dan juga K & Mg

Tekstur: Tanah pasir dengan sifat sangat rendah daya memegang air dan hara akan terjadi pencucian yang tinggi. Pola curah hujan: Semakin tinggi curah hujan maka potensi terjadi pencucian juga akan meningkat.

Dosis pupuk: Mengingat kapasitas tanah menjerap hara terbatas, maka dosis pupuk tinggi akan berpotensi meningkatkan terjadinya pencucian.

Aliran Permukaan

Kehilangan hara pupuk akibat aliran permukaan dapat mencapai 22% dari N pupuk yang diaplikasi dan 12% K pupuk. Tingkat terjadinya aliran permukaan dipengaruhi oleh penutupan permukan dan kemiringan lereng. Pada tanaman TBM dengan penutupan LCC yang baik maka akan menurunkan proses aliran permukaan. Sedangkan jika terjadi suatu areal sangat terbuka misalnya sebagai akibat pemakaian herbisida yang berlebihan, maka aliran permukaan akan meningkat. Semakin curam lereng maka potensi aliran permukaan juga meningkat.

Erosi

Kehilangan hara pupuk akibat erosi adalah sekitar 11% N yang diaplikasi, tetapi umumnya lebih rendah untuk unsur P, K, dan Mg. Fenomena kehilangan hara akibat erosi hampir sama dengan akibat aliran permukaan. Perbedaannya adalah pada aliran permukaan, kehilangan hara dalam bentuk terlarut dalam air. Sedangkan yang terjadi akibat erosi adalah kehilangan hara dalam bentuk yang terkandung dalam material tanah. Jadi besar hara hilang sama dengan material tanah yang tererosi. Erosi terjadi pada lapisan atas tanah yang subur. IV. PENYERAPAN UNSUR HARA 4.1. Unsur Hara Terdapat 17 unsur hara esensial yang dibutuhkan tanaman. Berdasarkan tingkat kebutuhannya dibagi menjadi unsur makro dan mikro. Unsur makro: C, H, O, N, P, K, Ca, Mg, S ; Unsur Mikro: Fe, Mn, B, Zn, Cu, Mo, Cl, Co. Tidak semua unsur tsb dibutuhkan oleh semua tanaman, tergantung dari jenisnya. Unsur makro berarti dibutuhkan tanaman dalam jumlah banyak, sedang unsur mikro dibutuhkan dalam jumlah sangat sedikit. Proporsi banyak sedikitnya unsur hara yang diserap tanaman tergantung jenis tanaman. Unsur C dan O diserap tanaman dari udara sebagai CO2 melalui proses fotosintesis sedangkan H diambil dari air tanah (H2O). Unsur lainnya diserap melalui tanah. Unsur hara dari pupuk yang umumnya dibutuhkan kelapa sawit adalah N, P, K, Mg, Ca, B, Cu, Zn, Fe. Berdasarkan tingkat kebutuhan tanaman kelapa sawit, unsur hara yang tergolong unsur makro adalah N, P, K, Mg, sedangkan unsur mikro adalah: B, Cu, Zn, Fe. Berdasarkan mobilitas unsur hara dalam tanaman dibagi menjadi 2, yaitu unsur mobil dan imobil. Unsur mobil adalah unsur hara yang dapat ditranslokasikan dari jaringan tua ke jaringan muda pada saat jaringan muda tsb terjadi kekurangan hara (defisiensi). Sebaliknya unsur imobil adalah unsur hara yang tidak dapat ditranslokasikan. Imobilitas unsur hara pada tanaman dicirikan dengan munculnya gejala

defisiensi dimana defisiensi unsur mobil selalu dimulai dari daun tua (bawah), sedangkan imobil pada daun muda. Unsur mobil: N, K, Mg; unsur imobil: unsure mikro B, Zn, Cu, Fe. Bentuk unsur hara yang diserap tanaman disajikan pada table di bawah ini.

Unsur Hara Nitrogen Fosfor Kalium Magnesium Kalsium Boron Tembaga Seng Besi Belerang Klor Mangan Molibdenum
4.2. Absorpsi Unsur Hara

Bentuk Diserap Tanaman NH4+, NO2-, NO3HPO4-2, H2PO4K+ Mg+2 Ca+2 BO3-3 Cu+, Cu+2 Zn+2 Fe+2, Fe+3 SO3-2, SO4-2 ClMn+2, Mn+4 MoO4-2

Unsur hara dalam tanah dapat diserap (absorpsi) oleh tanaman, syaratnya adalah unsur hara tsb harus terdapat pada permukaan akar. Penyerapan unsur hara melalui 3 cara, yaitu: (1) intersepsi akar, (2) aliran masa (mass flow), dan (3) difusi.

Intersepsi Akar

Akar tanaman tumbuh memasuki ruangan-ruangan pori tanah yang ditempati unsur hara, sehingga antara akar dan unsur hara terjadi kontak yang sangat dekat (kontak langsung), yang selanjutnya terjadi proses pertukaran ion. Ion-ion yang terdapat pada permukaan akar bertukaran dengan ion-ion pada permukaan komplek jerapan tanah. Jadi absorpsi unsur hara (ion) langsung dari permukaan padatan partikel tanah. Jumlah unsur hara yang dapat diserap melalui cara intersepsi akar dipengaruhi oleh sistim perakaran dan konsentrasi unsur hara dalam daerah perakaran. Hampir semua unsur hara dapat diserap melalui intersepsi akar, terutama Ca, Mg, Mn, dan Zn.

Aliran Masa

Air mengalir ke arah akar atau melalui akar itu sendiri. Sebagian lagi mengalir dari daerah sekitarnya akibat transpirasi maupun perbedaan potensial air dalam tanah. Gerakan air ini dapat secara horinsontal maupun vertical. Air tanah yang mengalir ini mengandung ion unsur hara. Jadi unsur hara mendekati permukaan akar tanaman karena terbawa oleh gerakan air tsb atau disebut aliran masa, yang selanjutnya diserap tanaman. Penyerapan melalui aliran masaa dipengaruhi oleh: (1) konsentrasi unsur hara dalam larutan tanah, (2) jumlah air yang ditanspirasikan (3) volume air efektif yang mengalir karena perbedaan potensial dan berkontak dengan akar. Aliran masa dapat menjadi kontribusi utama untuk unsur Ca, Mg, Zn, Cu, B, Fe. Unsur K juga dapat diserap melalui aliran masa, meskipun tidak terlalu besar.

Difusi

Proses penyerapan berlangsung akibat adanya perbedaan tegangan antara tanaman dan tanah karena perbedaan konsentrasi unsur hara. Faktor yang mempengaruhi difusi adalah konsentrasi unsur hara pada titik tertentu, jarak antara permukaan akar dengan titik tertentu, kadar air tanah, volume akar tanaman. Pada tanah bertekstur halus difusi akan berlangsung lebih cepat daripada tanah yang bertekstur kasar. Difusi meningkat jika konsentrasi hara di permukaan akar rendah/menurun atau konsentrasi hara di larutan tanah tinggi/meningkat. Unsur P dan K diserap tanaman terutama melalui difusi. V. JENIS, SIFAT, dan CIRI PUPUK Pupuk adalah bahan yang mengandung unsur hara yang diberikan kepada tanaman karena dibutuhkan oleh tanaman. Dalam arti yang lebih sempit, pupuk adalah bahan organik dan anorganik yang ditambahkan ke dalam tanah atau disemprotkan pada tanaman untuk menambah unsur hara tanaman dan meningkatkan produksi. Jenis dan sifat-sifat pupuk yang umum digunakan di perkebunan kelapa sawit disajikan pada lampiran. Jenis pupuk yang diaplikasikan di perkebunan sinar mas adalah pupuk anorganik (TSP, RP, MOP dsb) dan pupuk organic (JJK, LA, Kompos) yang merupakan limbah PKS (by product).

Penggolongan pupuk dapat didasarkan pada beberapa hal: - Kebutuhan pupuk mikro. tanaman: pupuk makro dan

Pupuk makro adalah pupuk yang mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah banyak, yaitu Nitogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), dan Magnesium (Mg). Sedangkan pupuk mikro adalah pupuk yang mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah sedikit, yaitu Boron (B), Copper (Cu), Zinc (Zn), dan Ferrum (Fe). Kandungan unsur hara: pupuk tunggal dan pupuk majemuk.

Pupuk tunggal adalah pupuk yang hanya mengandung satu jenis unsur hara makro. Sedangkan pupuk majemuk adalah pupuk yang mengandung lebih dari satu macam unsur hara makro. - Jenis unsur hara: pupuk nitrogen, pupuk fosfat, pupuk kalium, pupuk magnesium, pupuk NPK, dll. Pupuk nitogen adalah pupuk yang mengandung unsur nitrogen. - Sumbernya: pupuk alam dan pupuk buatan. Pupuk alam adalah pupuk yang diambil langsung dari alam sebagai bahan tambang tanpa adanya pemrosesan kimiawi. Sedangkan pupuk buatan adalah pupuk yang dihasilkan dari proses secara buatan baik khemis maupun fisik. - Reaksi di dalam tanah: pupuk bersifat masam, pupuk bersifat basa, dan pupuk bersifat netral. Ini didasarkan pada pengaruh pupuk terhadap sifat kemasaman tanah. Senyawa kimia: pupuk organik dan pupuk anorganik Bentuk: pupuk padat, pupuk cair, dan pupuk gas

VI. REKOMENDASI PEMUPUKAN

Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan produksi kelapa sawit adalah iklim dan unsur hara. Faktor iklim yang terdiri dari curah hujan, temperatur, kelembaban, radiasi, dsb merupakan faktor yang tidak dapat dikendalikan dan dikelola. Sedangkan faktor unsur hara dapat dilakukan pengendalian atau dikelola dengan cara pemupukan dan tindakan kultur teknis. Strategi dalam penyusunan rekomendasi pemupukan adalah memberikan unsur hara (dosis pupuk) yang mencukupi dan seimbang pada tanaman sehingga memungkinkan dicapainya produktifitas yang optimum. Untuk mencapai tujuan tsb, diperlukan rangkaian kerja yang saling berkaitan, yaitu: Percobaan pemupukan. SMARTRI telah membangun rangkaian percobaan pemupukan yang menyebar hampir di seluruh wilayah perkebunan pada areal dengan kondisi tanah & iklim yang dominan dan dapat mewakili areal sekitarnya. Pengambilan contoh daun (LSU) Pengamatan defisiensi hara Analisa daun di laboratorium Pengambilan contoh tanah (SSU) Analisa tanah di laboratorium Penyusunan rekomendasi Aplikasi pemupukan yang baik (jenis, dosis, cara, waktu) Data produksi dan pengelolaan kultur teknis

Semua data tsb diolah dan dianalisis untuk menentukan dosis pupuk yang direkomendasikan. Pengaruh pemupukan terhadap produksi memerlukan waktu sekitar 2 3 tahun. Selama waktu tsb, segala hal yang menyebabkan tanaman stress akan berpengaruh terhadap produksi. Misalnya tanaman akan cenderung membentuk bunga jantan jika pada saat determinasi sex terjadi stress air. Gambaran mengenai pengaruh stress ini disajikan pada diagram berikut (von Uexkull, H.R. and Fairhust, T.H. 1991) Faktor iklim merupakan hal yang sangat menarik dan penting mengingat kondisi iklim sangat menentukan tingkat produksi tanaman. Pengaruh curah hujan dengan produksi digambarkan seperti table di bawah ini dan gambar di lampiran yang merupakan hasil studi Caliman, J. P. di SBYE tahun 1997 dan 1999. Kekurangan air akan berpengaruh negatif terhadap produksi sampai dengan 2 tahun ke depan. Penurunan produksi tahun pertama berkisar antara 6-10% produksi normal per 100 mm defisit air dan tahun kedua berkisar antara 2-5% produksi normal per 100 mm defisit air. Besarnya pengaruh defisit air terhadap produksi dipengaruhi banyak faktor yang antara lain: umur tanaman, tingkat produksi saat terjadi kekeringan, fisiologis tanaman dsb. Pengaruh negatif umumnya dimulai 6 bulan setelah terjadi defisit air, misalnya aborsi janjang dsb. Akibat adanya defisit air yang besar, ada kemungkinan akan terjadi perubahan pola produksi. Perkiraan Produksi pada th. 1998 dan 1999 (Ton/Ha)

Water Defisit 1997

Umur dan Tahun Tanam 5/6 11 th 12 18 th > 18 th

( mm ) Produksi th. 1998 0 100 200 300 400 500 600 Produksi th. 1999 0 100 200 300 400 500 600

1986 1991/1992 1980 1985

< 1980

26 23.5 24.0 21.0 22.0 18.5 20.0 16.0 18.0 13.5 16.0 11.0 14.0

28 25.5 26.5 23.0 25.0 20.5 23.5 18.0 20.0 15.5 20.5 13.0 19.0

26 24.0 24.5 22.5 23.0 20.5 21.5 19.0 20.0 17.0 18.5 15.0 17.0

26 24.5 25.0 23.5 24.5 22.0 23.5 21.0 23.0 19.5 22.0 18.0 21.0

28 26.5 27.5 25.0 27.0 23.5 26.5 22.0 26.0 20.5 25.5 19.0 25.0

26 25.0 24.5 23.5 23.0 22.0 21.0

Contoh: SBYE tahun tanam 1992, water deficit th. 1997 sebesar 600 mm, maka perkiraan produksi pada tahun 1998 = 12.5 1.5 ton/ha dan pada tahun 1999 = 19.5 1.5 ton/ha. Metodologi kegiatan rekomendasi pemupukan secara umum seperti pada diagram di bawah ini. Kondisi geografis sangat menentukan performance tanaman dan kadar hara daun optimum. Sebagai contoh, di areal Bangka, Sumsel kadar K optimum mendekati nilai 1.1%, sedangkan di wilayah Kalsel cukup sekitar 0.95%. Sebagai gambaran umum tabel di bawah ini menyajikan kriteria kadar hara daun. Kriteria Kadar Hara Daun pada Pelepah-17 (von Uexkull, H.R. and Fairhust, T.H. 1991)

Umur < 6 Th

Unsur N (%) P (%) K (%) Mg (%) Ca (%) S (%) Cl (%) B (ppm) Cu (ppm)

Defisiensi < 2.5 < 0.15 < 1.00 < 0.20 < 0.30 < 0.2 < 0.25 <8 <3

Optimum 2.6 2.9 0.16 0.19 1.1 1.3 0.3 0.45 0.5 0.7 0.25 0.40 0.5 0.7 15 25 58

Kelebihan > 3.1 > 0.25 > 1.8 > 0.7 > 0.7 > 0.6 > 1.0 > 40 > 15

Zn (ppm) 6 Th N (%) P (%) K (%) Mg (%) Ca (%) S (%) Cl (%) B (ppm) Cu (ppm) Zn (ppm)
VII. LAMPIRAN

< 10 < 2.3 < 0.14 < 0.75 < 0.20 < 0.25 < 0.20 < 0.25 <8 <3 < 10

12 -18 2.4 2.8 0.15 0.18 0.9 1.2 0.25 0.40 0.5 0.75 0.25 0.35 0.5 0.7 15 25 58 12 18

> 80 > 3.0 > 0.25 > 1.6 > 0.7 > 1.0 > 0.6 > 1.0 > 40 > 15 > 80

Jenis dan Sifat Pupuk Standard Pupuk: SNI dan Sirim Malaysia

Tabel berikut menyajikan beberapa jenis dan sifat pupuk yang umum dipergunakan.

Jenis Pupuk

Rumus Kimia

Kadar Reaksi Bentu Warna Unsur Kemas k Hara aman Utama

Kelaru Higrosko tan pisitas dalam air Mudah Higroskopi larut s pada kelembaba n nisbi 73%

UREA

(NH2)2CO 42 Sedikit Kristral Putih 46% N masam dan butir

ZA (NH4)2SO 20 Masam Kristal Putih Mudah Higroskopi (Zwavelzu 4 21% N kelam larut s pada re dan sampai kelembaba Ammonia 21 putih n nisbi k)/ 27% S kekuninga 80% Ammoniu n m Sulfat Natrium Nitrat (NN) NaNO3 16 % Netral Kristal Berbagai Mudah Higroskopi N dan sampai warna: larut s pada 26% basa merah, kelembaba Na kuning, n nisbi kelabu, 72% dan ungu Netral Butiran Abu-abu Dapat Tidak

TSP

Ca(H2PO4 44-

(Triple )2.H2O Super Phosphate )

52% P2O5

(granul )

larut

higroskopi s

Fosfat Ca3(PO4)2 Sangat Netral Tepung Tergantun Kelarut Tidak Alam beraga sampai (serbu g an higroskopi (RP= Roc m basa k) sumberny sangat s k tergant a. Aburendah Phosphate ung abu ) sumbe keputihan, rnya. merah 25 kecoklatan 38% P2O5 Kalium KCl Clorida (MOP=Mu riate of Potash) Kalium K2SO4 Sulfat (ZK=Zwa velzure Kali) Kieserit 52 60% K2O, dan 47 % Cl 4953% K2O Netral Kristal Merah, Dapat sampai putih kotor larut agak masam Kurang higroskopi s, pada kelembaba n nisbi 84%

Netral Kristal Putih sampai keabuagak abuan masam Tergan tung sumbe rnya: Kristal dan tepung Putih keabuabuan, atau putih

Dapat Kurang larut higroskopi s

MgSO4.H 27% Agak MgO masam 2O dan 22% S

Tergan Tidak higr tung oskopis sumbe rnya: Agak sukar larut sampai dapat larut

Dolomit

CaMg(CO 1822% 3)2 MgO, dan 40%

Basa

Tepung Putih atau Sukar Tidak putih larut higroskopi keabus abuan

CaO HGFB Copper Na2B4O7. 45% 5H2O B2O5 Kristal Putih kotor Mudah Higroskopi larut s Mudah Higroskopi larut s

CuSO4.5 26% Masam Kristal Biru H2O Cu da n 13% S ZnSO4.H2 36% O Zn FeSO4.7H 19% Fe 2O Masam Kristal Masam Kristal

Zinc Ferrum 15:15:6:4

Mudah Higroskopi larut s Mudah Higroskopi larut s

15%N, Netral Butir Coklat Mudah Agak 15%P2 sampai (granul kemeraha larut higroskopi O5, 6% agak ) n s K2O, masam 4% MgO 12%N, 12%P2 O5, 17%K2 O, 2%Mg O 13%N, 6%P2O 5, 27%K2 O, 4%Mg O, 0.65% B Netral Butir Merah Mudah Agak sampai (granul kecoklatan larut higroskopi agak ) s masam

12:12:17: 2

13:6:27:4 :0.65B

Butir (granul )

Mudah Agak larut higroskopi s

DAFTAR SNI UNTUK KOMODIT PUPUK

N Judul Standar o

No. SNI

Parameter Analisis Nitrogen Belerang

Persyaratan Min. 20 % Min. 23 %

1 Pupuk Amonium 02Sulfat 176(NH4)2SO4 1990

Asam bebas sebagai H2SO4 Air 2 Pupuk Tripel 02Unsur hara fosfat : Super Posfat 0086- - Yang diserap sebagai P2O5 (TSP/Ca(H2PO4) 1987 - Yang larut dalam air sebagai 2 P2O5
-

Maks. 0.1 % Maks. 1 % Min. 46 % Min. 40 % Maks. 4 % Maks. 4 %

Air Yang larut sebagai H3PO4

3 Pupuk Tripel Super Fosfat Plus Zn

02Unsur hara fosfat sebagai P2O5 : Min. 45 % 2800- Total Min. 43 % 01992 Yang dapat diserap Min. 35 % Yang terlarut air Air Maks. 5 % Maks. 5 % Min. 0.2 %

Asam bebas sebagai H3PO4 4 Pupuk NPK Padat Zn sebagai ZNO

02Nitrogen Total 02803 Fosfat larut asam sitrat -2000 2 % sebagai P2O5 K2O Kalium sebagai K2O Jumlah kadar N, P2O5dan

Min. 6 % Min. 6 % Min. 6 % Min. 30 % Maks. 2 %

Kadar Air Min. 26 % Maks. 1 %

5 Pupuk Amonium 02Nitrogen Chlorida (NH4Cl) 2581- Air 1992

Asam sebagai HCl 6 Pupuk Dolomit (CaMg(CO3)2 02Magnesium sebagai MnO 2804- Calsium sebagai CaO 1992 Al2O3 + Fe2O3 Air Silikat sebagai SiO2 Bentuk tepung : -

Maks. 0.08 % Min. 18 % Min. 30 % Maks. 3 % Maks. 5 % Maks. 3 % 100 %

Lolos saringan 40 mesh Maks. 50 % Lolos saringan 60 mesh Min. 60 % Maks. 0.5 %

7 Pupuk Kalium 02Kalium sebagai K2O Chlorida (Mriate 2805- Air of 1992 Potash/MOP/KCl 8 Pupuk Mono 02Nitrogen Amonium Fosfat 2810- Fosfat sebagai P2O5 (MAP/NH4H2PO4) 1992 Air 9 Urea Amonium Fosfat 00Nitrogen 2811- Fosfat sebagai P2O5 1992 Air Butiran : -Lolos ayakan Tyler 4 mesh dan tidak lolos 16 mesh 10 Pupuk 02Nitrogen Diamnium 2858- Fosfat sebagai P2O5 Fosfat 1992 Air DAP/(NH4)2HPO4 Ukuran butiran :

Min. 11 % Min. 48 % Maks. 1 % Min 90 %

Min.18 % Min. 46 % Maks. 1 % Min. 80 %

Lolos 6 Tyler mesh tidak lolos 16 Tyler mesh 11 Pupuk Super 02Unsur hara fosfat sebagai P2O5 Fospat (SP-36) 3769- Total 1995 Yang dapat diserap Yanglarut air Belerang sebagai S Min. 36 % Min. 34 % Min. 30 % Min. 5 % Maks. 6 % Maks. 5 %

Asam bebas sebagai H3PO4 12 Pupuk Fosfat Alam untuk Pertanian 02Uraian 37761995 Unsur hara fosfat sebagai P2O5 Total Air

Kualita Kualita Kualitas C sA sB Min. 28 Min. 24 Min. 18 % % % Min. 6 % Min. 10 Min. 8 % %

Larut dalam Min. 35 % asam sitrat 2 % Min. 14 % Larut dalam Min. 40 Maks. 15 % asam formiat 2 % Min. 40 % % Ca dan mg Maks. 6 Maks. 3 % setara CaO Maks. 3 % Min. 50 % % Mas. 3 Min. 80 % R2O3(Al2O3 Maks. 3 % + Fe2O3) % Min. 50 Air Min. 50 % % Kehalusan Min. 80 Min. 80 % Lolos 80 %

mesh Tyler Lolos 25 mesh Tyler 13 Pupuk Super Fosfat (SP-36) Plus Zn 02Unsur hara Posphor sebagai P2O5 4873- - Total 1998 - Larut dalam asam sitrat 2 %
-

Mi. 36 % Min. 34 % Min. 30 % Min. 5 % Maks. 6 % 0.2 0.3 % Maks. 5 ppm Min. 45 % Min. 20 % Maks. 0.02 % Maks. 35 ppm

Larut air Belerang sebagai S Asam bebas sebagai H3PO4 Zn sebagai ZnO Air

14 Pupuk Borate

02Boron Oksida (B2O3) 4959- Natrium Oksida (NaCl) 1999 Sulfat (SO4) Kadmium (Cd)

15 Pupuk Cair Sisa 02Keadaan : Proses Asam 4958- Bentuk Amino 1999 Warna (Simpramin) pH Bobot jensi pada 25C Total Nitrogen Bahan Organik

Cair Coklat kehitaman 5.5 - 6.5 1.10 4.0 % Min. 8.0 %

Standard SIRIMs Malaysia

Nr. Jenis Pupuk 1. Urea (granular & prilled) CO(NH2)2

Element Analysis Spesifikasi 1. Total N 2. Biuret 1. Miosture d. Ash content

Reference

45.0 % min. MS14 part 1 & 0.5 % max.(prilled) 2 UDC661.717.5 1.0 % max granular 1.0 % max. 2.5 % max. 631.4 (first revision) MS13 : 1993 UDC661.522. 631.841.1 (first revision) 25,0 % min. 2.0 % max. 2.0 % max. MS1330 : 1993 UDC661.521

2. Ammonium Sulphate (NH4)2SO4

a. b.

Total N Free Acidity

20.5 % min 0.03% max. 1.00 % max.

as H2SO4 c. Moisture

3. Ammonium Chlorida NH4Cl

1. Ammoniacal NH4 2. Chlorida as NaCl 3. Total P as P2O5 d. Moisture

4. Ammonium Nitrat NH4NO3

1. Total N b. Moisture

25.0%min. MS53 : 1993 (granular) (first revision) 35.0%min. (prilled) 1.0%max.

5. di-Ammonium posphat (NH4)2PO4

1.

a.Ammoniacal

NH4 2. Total P as 41.0% min. P2O5 3. Water soluble 2.0% max. P as P2O5 4. Moisture 45.0 % min.

18.0% min. 45.0% min.

MS1329 : 1993 UDC631.859.1 3

6. Triple a. Total P as Superphosphat P2O5

SNI-02-28001992

1. Citric Acid soluble P as P2O5 c. Moisture

43,0 % min. 5.0 % max

7. Single Superphosphat e

1. Water soluble 18.0 % min. P as 4.0 % max. P2O5 1. Free phosphoric acid as P2O5 2. Moisture 5.0 % max.

MS51 : 1993 UDC631.855

8. Rock Phospate a. Total P as P2O5 b Citric Acid soluble P as P2O5 1. Limit of variation 2. Fluoride 3. Moisture 4. Passed of 500um 9. Potassium Chloride KCl 1. Total K2O 2. Chloride 3. Moisture

28.0 % min. 7.5 % min. 5.0 % max. 3.0 % max. 1.0 % max. 95 % min.

MS46 : 1993 UDC631.85 (first revision)

60,0 % main. 46,0 % min. 1,00 % max. 50,0 % min. 37,0 % min. 1,00 % max. 25,0 % min.

MS15 : 1993 UDC631.85

10 Potassium . Sulphate K2SO4

1. Total K2O 2. Sulphate as SO4 3. Moisture 1. Total MgO

MS16 : 1993 UDC631.833.2 (first revision) MS54 : 1993

11 Kieserite

MgSO4.H20

2. Sulphate as SO4 3. Moisture

60,0 % min. 1,00 % max. 46,0% min. 1,00 % max.

UDC631.883 (first revision) MS1363 : 1993

12 di-Sodium tetra 1. Total B as . Borate B2O3 Pentahydrate 2. Moisture Na2B4O7.5H2O 13 Mixture . Fertiliser

1. Total N, P2O5, 10%max.permissibl MS644 : 1980 K2O, MgO e tolerances of UDC631.8 quoted value 1. Water soluble 10%max.permissibl as P2O5 e tolerances of quoted value 1. itric Acid 2% as P2O5 10%max.permissibl 1. Free Acidity as P2O5 2. Free Acidity as H2SO4 3. Moisture e tolerances of quoted value 2.0% max. 1.0 % max. 5.0% max. (if contain TSP & SP)