P. 1
Solutio Placenta

Solutio Placenta

|Views: 41|Likes:
Published by Budi Nugraha

More info:

Published by: Budi Nugraha on Aug 19, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/05/2014

pdf

text

original

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI ialah pelepasan plasenta sebelum waktunya dari tempat implantasinya yang normal pada uterus, sebelum janin dilahirkan.

Definisi ini berlaku pada kehamilan dengan masa gestasi diatas 22 minggu atau berat janin di atas 500 gram. Proses solusio plasenta dimulai dengan terjadinya perdarahan dalam desidua basalis yang menyebabkan hematoma retroplsenter. Hematoma dapat semakin membesar ke arah pinggir plasenta sehingga jika amnio khorion sampai terlepas, perdarahan akan keluar melalui ostium uteri (perdarahan keluar), sebaliknya apabila amniokhorion tidak terlepas. Perdarahan tertampung dalam uterus (perdarahan tersembunyi).

Terdapat 2 jenis perdarahan yang terjadi : 1. Jenis perdarahan tersembunyi (concealed) : 20% 2. Jenis perdarahan keluar (revealed) : 80% Pada jenis tersembunyi, perdarahan terperangkap dalam cavum uteri [hematoma retroplasenta] dan seluruh bagian plasenta dapat terlepas, komplikasi yang diakibatkan biasanya sangat berat dan 10% disertai dengan Disseminated Intravascular Coagulation. Pada jenis terbuka, darah keluar dari ostium uteri, umumnya hanya sebagian dari plasenta yang terlepas dan komplikasi yang diakibatkan umumnya tidak berat. Kadang-kadang, plasenta tidak lepas semua namun darah yang keluar terperangkap dibalik selaput ketuban (relativelly concealed). 30% perdarahan antepartum disebabkan oleh solusio plasenta.

KLASIFIKASI SOLUSIO PLASENTA 1.Solutio placenta ringan a. Bila plasenta lepas kurang ¼ bagian luasnya b. Ibu dan janin keadaan masih baik c. Perdarahan pervaginam, warna kehitaman

Dapat terjadi gangguan pembekuan darah 3.Solutio placenta sedang a. Perut sakit dan agak tegang 2. Pengguna Kocain . Trombofilia j. Plasenta terlepas lebih ½. belum mencapai 2/3 bagian b. Hipertensi kronis d. Preeklampsia c. Hidramnion g. KPD preterm e. Palpasi janin sulit diraba f. Gerak janin berkurang e. Ibu syock d. Merokok h. Plasenta lepas > 2/3 bagian b. Terjadi sangat tiba-tiba c. Solutio placenta berat a. Perdarahan dengan rasa sakit c. Perut terasa tegang d. Pencandu alkohol i. Auskultasi jantung janin (asfiksia ringan dan sedang) g. Terdapat beberapa faktor risiko antara lain a. Janin mati (uterus sangat tegang dan nyeri) ETIOLOGI Penyebab utama tidak jelas.d. Peningkatan usia dan paritas b. Kehamilan kembar f.

Hematoma pada desidua akan menyebabkan separasi dan plasenta tertekan oleh hematoma desidua yang terjadi. arteri spiralis desidua pecah sehingga menyebabkan terjadinya hematoma retroplasenta yang menjadi semakin bertambah luas. Kecelakaan 3. Plasenta dapat terlepas secara keseluruhan sementara selaput ketuban masih menempel dengan baik pada dinding uterus 3. Kepala janin umumnya sangat menekan SBR sehingga darah sulit keluar 5. Pada awalnya kejadian ini tak memberikan gejala apapun. Solusio plasenta diawali dengan terjadinya perdarahan kedalam desidua basalis. Versi luar atau versi dalam 2. Mioma uteri Faktor pencetus : 1. Namun beberapa saat kemudian. Darah dapat mencapai cavum uteri bila terdapat robekan selaput ketuban 4. Daerah plasenta yang terkelupas menjadi semakin luas sampai mendekati tepi plasenta. Bekuan darah dapat masuk kedalam miometrium sehingga menyebabkan uterus couvellair . Riwayat solusio plasenta l. Trauma abdomen 4.Tali pusat pendek PATOFISIOLOGI a. Lilitan talipusat . Darah dapat merembes ke pinggiran membran dan keluar dari uterus maka terjadilah perdarahan yang keluar ( revealed hemorrhage) Perdarahan tersembunyi ( concealed hemorrhage) 1. Oleh karena didalam uterus masih terdapat produk konsepsi maka uterus tak mampu berkontraksi untuk menekan pembuluh yang pecah tersebut.k. Amniotomi ( dekompresi mendadak ) 5. Terjadi efusi darah dibelakang plasenta dengan tepi yang masih utuh 2. b. Desidua terkelupas dan tersisa sebuah lapisan tipis yang melekat pada miometrium.

Rahim keras seperti papan dan nyeri dipegang karena isi rahim bertambah dengan darah yang berkumpul di belakang plasenta hingga rahim teregang (uterus en bois) 4. disamping tindakan tersebut transfusi sangat penting (Winkjosastro. juga diluar his 2. Gejala klinik tergantung pada luas plasenta yang terlepas dan jenis pelepasan plasenta (concealed atau revealed) 30% kasus. daerah yang terlepas tidak terlalu besar dan tidak memberikan gejala dan diagnosa ditegakkan secara retrospektif setelah anak lahir dengan terlihatnya hematoma retroplasenta . Jadi pada solusio plasenta pemecahan ketuban tidak dimaksudkan untuk hentikan perdarahan dengan segera seperti pada placenta previa tapi untuk mempercepat persalinan dengan pemecahan ketuban regangan dinding rahim berkurang dan kontraksi rahim menjadi lebih baik. Perdarahan yang disertai nyeri. Fundus uteri makin lama makin naik 6. Palpasi sukar karena rahim keras 5. Anemia dan shock : beratnya anemia dan shock sering tidak sesuai dengan banyaknya darah yang keluar 3. Pada toucher teraba ketuban yang tegang terus menerus (karena isi rahim bertambah) 8. Persalinan dapat dipercepat dengan pemecahan ketuban dan pemberian infus dengan oxytocin. Bunyi jantung biasanya tidak ada 7. uterus yang tegang dan nyeri setelah plasenta lahir atas adanya impresi (cekungan) pada permukaan maternal placenta akibat tekanan haematoma retroplacentair Perdarahan dan shock diobati dengan pengosongan rahim segera mungkin hingga dengan kontraksi dan retraksi rahim. Sering ada proteinuria karena disertai toxemia Diagnosis didasarkan atas adanya perdarahan antepartum yang bersifat nyeri. Perdarahan dapat terhenti.GAMBARAN KLINIK a. 2005). Gejala dan Tanda Gejala-gejala 1.

Disseminated Intravascular Coagulation e. b. Kontraksi uterus abnormal (1/3 penderita Bila separasi plasenta terjadi dibagian tepi. Perdarahan yang terjadi biasanya tidak terlampau banyak ( 50 – 150 cc) dan berwarna kehitaman. Kadar fibrinogen . terjadi nyeri abdomen dan uterus yang tegang disertai dengan : a. Pemeriksaan laboratorium khusus : a. DIC. Bila pembentukan clot berlangsung > 5 – 10 menit atau bekuan darah segera mencair saat tabung dikocok maka hal tersebut menunjukkan adanya penurunan kadar fibrinogen dan trombosit. Penurunan Hb dan Ht umumnya terjadi setelah terjadi hemodilusi. Bila pengukuran fibrinogen tak dapat segera dilakukan. Prothrombine time b. Janin mati ( 15%) c. Sample darah vena ditempatkan dalam tabung dan dilihat proses pembentukan bekuan (clot) dan lisis bekuan yang terjadi. iritabilitas uterus minimal. Jumlah trombosit d. Penurunan kadar fibrinogen dan pelepasan hasil degradasi fibrinogen. dan tidak terdapat tandatanda uterus tegang atau gawat janin.Bila lepasnya plasenta mengenai daerah luas. LABORATORIUM Kadar haemoglobin [Hb] atau hematokrit [Ht] sangat bervariasi. Tetania uteri d. Gawat janin (50% penderita) b. Perdarahan pervaginam ( 80% penderita) g. lakukan pemeriksaan “clott observation test”. adanya schistosit menunjukkan sudah terjadinya proses koagulasi intravaskular. Hapusan darah tepi menunjukkan penurunan trombosit. Uterus yang tegang (2/3 penderita) h. Partial thromboplastine time c. Renjatan hipovolemik f.

C. Gawat janin maka hal tersebut menunjukkan keadaan gawat-darurat dan tindakan yang harus segera diambil adalah memasang infus dan mempersiapkan tranfusi. . B. TERAPI EKSPEKTATIF Pada umumnya bila berdasarkan gejala klinis sudah diduga adanya solusio plasenta maka tidak pada tempatnya untuk melakukan satu tindakan ekspektatif. Kadar fibrinogen degradation product Pemeriksaan ultrasonografi tak memberikan banyak manfaat oleh karena pada sebagian besar kasus tak mampu memperlihatkan adanya hematoma retroplasenta.e. TINDAKAN GAWAT DARURAT Bila keadaan umum pasien menurun secara progresif atau separasi plasenta bertambah luas yang manifestasinya adalah : a. Uterus tegang dan atau fundus uteri semakin meninggi c. Setelah diagnosa solusio plasenta ditegakkan maka segera lakukan amniotomi dengan tujuan untuk : 1. tindakan ini tak terbukti dapat merangsang persalinan oleh karena amnion yang utuh lebih efektif dalam membuka servik) Induksi persalinan dengan infuse oksitosin dilakukan bila amniotomi tidak segera diikuti dengan tanda-tanda persalinan. PENATALAKSANAAN A. Merangsang persalinan ( pada janin imature. PERSALINAN PERVAGINAM Indikasi persalinan pervaginam adalah bila derajat separasi tidak terlampau luas dan atau kondisi ibu dan atau anak baik dan atau persalinan akan segera berakhir. Segera menurunkan tekanan intrauterin untuk menghentikan perdarahan dan mencegah komplikasi lebih lanjut (masuknya thromboplastin kedalam sirkukasi ibu yang menyebabkan DIC) 2. Perdarahan bertambah banyak b.

Jarang menyebabkan gangguan kontraksi uterus. Drakeley dkk (2002) menunjukkan bahwa penelitian terhadap 72 orang wanita dengan gagal ginjal akut. jadi bukan merupakan indikasi untuk melakukan histerektomi PROGNOSIS Mortalitas maternal 0. Uterus couvelaire Ekstravasasi darah kedalam miometrium menyebabkan apopleksia uterus yang disebut sebagai uterus couvelair. SEKSIO SESARIA a. Koagulopati konsumtif Koagulopati konsumtif dalam bidang obstetri terutama disebabkan oleh solusio plasenta. ligamentum latum atau ovarium. trauma persalinan dan akibat prematuritas. Pada solusio plasenta berat. Hipofibrinogenemia 2. c. Gagal ginjal Gagal ginjal akut sering terlihat pada solusio plasenta berat dan sering disebabkan oleh penanganan renjatan hipovolemia yang terlambat atau kurang memadai. . Indikasi seksio sesar dapat dilihat dari sisi ibu dan atau anak b. misalnya kejadian solusio plasenta ditegakkan pada nulipara dengan dilatasi 3 – 4 cm.D. 75% kasus gagal ginjal akut akibat nekrosis tubuler akut bersifat tidak permanen Lindheimer dkk (2000) nekrosis kortikal akut dalam kehamilan selalu disebabkan oleh solsuio plasenta 3. Tindakan seksio sesar dipilih bila persalinan diperkirakan tak akan berakhir dalam waktu singkat.5 – 5% dan sebagian besar disebabkan gagal ginjal atau gagal kardiovaskular. 32 kasus disebabkan oleh solusio plasenta Gangguan perfusi renal yang berat disebabkan oleh perdarahan masif. Ekstravasasi dapat terlihat pada pangkal tuba. KOMPLIKASI 1. mortalitas janin mencapai 50 – 80% Janin yang dilahirkan memiliki morbiditas tinggi yang disebabkan oleh hipoksia intra uterin. Atas indikasi ibu maka janin mati bukan kontra indikasi untuk melakukan tindakan seksio sesaria pada kasus solusio plasenta.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->