You are on page 1of 34

1

BAB I LAPORAN KASUS

Identitas Pasien Nama Usia Jenis Kelamin Alamat Status Agama : Bp. G W : 39 tahun : Laki-laki : Jl.Anggrek 17 B, Mertoyudan, Magelang : Sudah Menikah : Katolik

Datang ke Rumah Sakit pada tanggal

: 23 April 2013 pukul 21.30 WIB

Anamnesis dilakukan secara : Autoanamnesis pada tanggal 23 April 2013 di IGD Rumah Sakit Tingkat II Dr.Soedjono Magelang Subjektif Keluhan Utama : Nyeri ulu hati Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien mengeluhkan nyeri ulu hati menjalar sampai ke punggung sejak 1 minggu, hilang timbul, nyeri kolik. 2 minggu SMRS muntah darah berwarna coklat menggumpal sebanyak 1 gelas kecil. Sejak 1 hari SMRS pusing seperti ditusuk tusuk, demam (+) sejak 1 hari SMRS naik turun, sesak (+) terutama saat sakit, dada terasa panas, badan terasa linu , BAB (+) , BAK (+) seperti teh. Riwayat Penyakit Dahulu : Hipertensi : Diabetes : Asma :-

Gastritis : + RPO : berobat di RS Wonosobo dengan diagnosis luka pada lambung , diberi obat Ranitidin,Sukralfat, Braxidin.

2

RPK : Hipertensi : disangkal

Riwayat Sosial : Merokok Minum jamu – jamuan (+)

Objektif Pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 24 April 2013 di bangsal Keadaan Umum : Sakit Sedang Kesadaran/GCS : Compos Mentis / 15 Tanda Vital : • • • • Tekanan Darah : 120/80 mmHg Nadi Suhu Respirasi : 80x/menit : 37,20C : 25x/menit

Kepala & Leher : • • • • Konjungtiva anemis -/Sklera ikterik -/Tidak ada pembesaran KGB leher

Thorax : Cor Inspeksi : Dbn Palpasi Perkusi : Ictus cordis teraba di linea mid clavicularis kiri ICS V : Batas jantung kanan di linea parasternal kanan ICS IV, batas jantung kiri di linea midclavicularis kiri ICS V Auskultasi : S1>S2 Bunyi jantung I/II reguler takikardi, mur-mur (-), gallop (-) • Pulmo Inspeksi Palpasi : Simetris : vocal fremitus simetris

3

Perkusi

: terdengar sonor pada kedua lapang paru

Auskultasi : Vesikuler +/+, Rhonki -/-, Wheezing -/Abdomen : Inspeksi : cembung

Auskultasi : BU (+) Palpasi : supel, Nyeri tekan (+) pada epigastrium,hipogastrium dekstra,

iliaka dekstra, lumbal dekstra. Hepar Lien tidak teraba Mc.Burney sign (-), rovsing sign (-), Murphy sign + Perkusi Ekstremitas : • • • • Edema -/Sianosis -/Akral dingin Capillary refill dbn : timpani

Daftar Masalah Dari anamnesis 1. Nyeri ulu hati 2. muntah darah berwarna coklat 3. pusing seperti ditusuk-tusuk 4. demam (+) sejak 1 hari SMRS naik turun 5. sesak (+) saat sakit, 6. dada terasa panas 7. badan terasa linu 8. BAB (+) , BAK (+) seperti teh. 9. Riwayat Gastritis 10. RPO : Sukralfat, Ranitidin, Braxidin 11. Merokok 12. Minum jamu – jamuan (+)

5 106/mm3 15. Bilirubin direct 6.6 103/mm3 10.125 % .hipogastrium dekstra. USG abdomen 5. Bilirubin total Hasil lab darah lengkap 24 April 2013 Jenis Pemeriksaan WBC RBC HB HCT PLT PCT Hasil 13. Nyeri tekan (+) pada epigastrium. iliaka dekstra. Darah lengkap 2.8 % 158 103/mm3 0.1 g/dl 47. Palpasi : supel. lumbal dekstra Differential Diagnosis  Abdominal pain :      Gastropati OAINS Gastritis Ulkus Gaster Kolelitiasis Kolesisititis  Observasi Febris Planning Diagnostik 1. Glukosa 3.4 Dari Pemeriksaan Fisik 1. SGOT SGPT 4.

1 % Hasil 2.0-7.9 um3 12.3 % Referensi 20-40 1-15 50-70 Jenis # Lym # Mid # Gra 92 um3 32.3 3-35 8-41 0-0.1-0.25 0-1.2 mg/dl 13 U/l 14 U/l 0.9 % 84.2 103/mm3 11.8 Jenis Pemeriksaan Gula darah puasa Urea Creatinin SGOT SGPT Bilirubin direct Bilirubin total Hasil 64 mg/dl 20 mg/dl 1.9 Referensi 70-115 0-50 0-1.8 2.31 0.2-3.2 0.2 103/mm3 0.1 g/dl 14.5 MCV MCH MCHC RDW MPV PDW Diff Count Jenis % Lym % Mid % Gra Hasil 23 % 2.6 % 7.4103/mm3 Referensi 1.1 .9 33.

6 Pemeriksaan USG Abdomen tanggal 24 April 2013 .

Vital Sign 3. Efek Samping obat 4. Keluhan Utama. Keadaan Umum 2.7 Kesan : Kolesistitis dengan kolelitasis Diagnosis Kolelitiasis Kolesistitis Ulkus gaster Planning terapi Infus Asering 20 tpm Injeksi Cefotaxime 2 x 1 gr Injeksi Pantotis 2 x 1 Pamol 3 x 1 Ulsafat 3 x II cth Planning monitoring 1. Cairan Asering Tanggal 24 April 2013 S: O: Keadaan Umum Kesadaran Vital Sign : sakit sedang : Compos Mentis Nyeri Ulu hati menjalar ke pinggang dan punggung Sakit kepala Nyeri perut kanan BAK warna seperti teh BAB warna pucat .

Wheezing -/- - Abdomen o Hepar Lien normal o Bising usus (+) 4x/menit o Nyeri tekan kuadran kanan atas - Ekstremitas Edema -/. Injeksi Cefotaxime 2 x 1 gr 3. SI -/-. JVP dbn Thorax o Cor : Bunyi jantung I/II reguler o Pulmo : Vesikuler.8 o Tekanan Darah o Nadi o RR o Suhu - : 120/70 mmHg : 80 x/menit : 20x/menit : 370C K/L : CA -/-. Injeksi Pantotis 2 x 1 4. Infus Asering 20 tpm 2. KGB dbn. Ulsafat 3 x II cth Kolelitiasis Kolesistitis Ulkus gaster Tanggal 25 April 2013 S: Nyeri perut kanan Sakit kepala Sedikit mual BAK warna seperti teh . Rhonki -/-.-/Capillary Refil < 2 detik A: P: Terapi : 1.

SI -/-. Injeksi Pantotis 2 x 1 4.-/- A: Kolelitiasis Kolesistitis P: Terapi : 1.9 O: Keadaan Umum Kesadaran Vital Sign o Tekanan Darah : 120/80 mmHg o Nadi o RR o Suhu : 80 x/menit : 20x/menit : 36. KGB dbn. Wheezing -/- - Abdomen o Bising usus (+) normal o Nyeri tekan kuadran kanan atas o Hepar Lien normal - Ekstremitas Edema -/.30C : Sakit berkurang : Compos Mentis K/L : CA -/-. Infus Asering 20 tpm 2. JVP dbn Thorax o Cor : Bunyi jantung I/II reguler o Pulmo : Vesikuler. Rhonki -/-. Injeksi Cefotaxime 2 x 1 gr 3. Ulsafat 3 x II cth Tanggal 27 April 2013 S: Nyeri perut kanan berkurang .

Wheezing -/- - Abdomen o Bising usus (+) normal o Nyeri tekan kuadran kanan atas o Hepar Lien normal - Ekstremitas Edema -/. SI -/-. JVP dbn Thorax o Cor : Bunyi jantung I/II reguler o Pulmo : Vesikuler.30C : Sakit berkurang : Compos Mentis K/L : CA -/-.10 O: Keadaan Umum Kesadaran Vital Sign o Tekanan Darah : 120/80 mmHg o Nadi o RR o Suhu : 80 x/menit : 20x/menit : 36. KGB dbn. Injeksi Pantotis 2 x 1 8. Rhonki -/-.-/- A: Kolelitiasis Kolesistitis P: Terapi : 5. Infus Asering 20 tpm 6. Injeksi Cefotaxime 2 x 1 gr 7. Ulsafat 3 x II cth .

2 103/mm3 0.9 % Referensi 20-40 1-15 50-70 Jenis # Lym # Mid # Gra Hasil 2.4103/mm3 Referensi 1.125 % 92 um3 32.9 % 70.5 g/dl 47.8 .11 Pemeriksaan lab tanggal 28 April 2013 Jenis Pemeriksaan WBC RBC HB HCT PLT PCT MCV MCH MCHC RDW MPV PDW Hasil 8.1 g/dl 14.9 33.4 103/mm3 4.2 103/mm3 11.0-7.2 0.6 % 7.1 % Diff Count Jenis % Lym % Mid % Gra Hasil 23 % 2.16 106/mm3 13.2-3.8 2.9 um3 12.1-0.8 % 158 103/mm3 0.

Rasa nyeri lainnya adalah kolik bilier yang mungkin berlangsung lebih dari 15 menit.Etiologi nyeri abdomen berdasarkan lokasi Diagnosis pada pasien ditegakkan berdasarkan anamnesis. dimana pasien datang dengan keluhan utama berupa nyeri di daerah epigastrium. Pasien adalah laki-laki berusia 39 tahun. dan pemeriksaan penunjang. pemeriksaan fisik. . Nyeri Tekan pada Abdomen Gambar 1 . dalam kasus ini pasien didiagnosa kolelitiasis yang disertai dengan kolesistitis berdasarkan hasil anamnesis. dan kadang baru menghilang beberapa jam kemudian. kuadran kanan atas atau perikomdrium.12 BAB II TINJAUAN PUSTAKA I.

Batu dalam kandung empedu dan saluran empedu .bentuk dan komposisi yang bervariasi. usia lanjut. gallstones. batu empedu) merupakan suatu keadaan dimana terdapatnya batu empedu di dalam kandung empedu (vesica fellea) yang memiliki ukuran. Batu kandung empedu merupakan gabungan beberapa unsur yang membentuk suatu material mirip batu yang terbentuk di dalam kandung empedu. Kolelitiasis lebih sering dijumpai pada individu berusia diatas 40 tahun terutama pada wanita dikarenakan memiliki faktor resiko. Kolelitiasis (kalkuli/kalkulus.13 II. Kolelitiasis Definisi Cholelithiasis merupakan adanya atau pembentukan batu empedu. diet tinggi lemak dan genetik. batu ini mungkin terdapat dalam kandung empedu (cholecystolithiasis) atau dalam ductus choledochus (choledocholithiasis). Gambar 1. Istilah kolelitiasis dimaksudkan untuk pembentukan batu di dalam kandung empedu. Sinonimnya adalah batu empedu. biliary calculus.yaitu: obesitas.

panjangnya sekitar 7 – 10 cm. Fundus berbentuk bulat dan biasanya menonjol dibawah pinggir inferior hepar yang dimana fundus berhubungan dengan dinding anterior abdomen setinggi ujung rawan costa IX kanan. Gambar 2.14 Anatomi Kandung empedu (Vesica fellea) adalah kantong berbentuk buah pear yang terletak pada permukaan visceral hepar. belakang dan kiri. Corpus bersentuhan dengan permukaan visceral hati dan arahnya keatas. Vesica fellea dibagi menjadi fundus. Anatomi vesika felea dan organ sekitarnya . corpus dan collum. Kapasitasnya sekitar 30-50 cc dan dalam keadaan terobstruksi dapat menggembung sampai 300 cc. Collum dilanjutkan sebagai duktus cysticus yang berjalan dalam omentum minus untuk bersatu dengan sisi kanan ductus hepaticus comunis membentuk duktus koledokus.

b. Garam Empedu Asam empedu berasal dari kolesterol.15 Komposisi cairan empedu a. Sehingga bila ada gangguan pada daerah tersebut misalnya oleh karena radang atau reseksi maka absorbsi garam empedu akan terganggu. Fungsi garam empedu adalah: o Menurunkan tegangan permukaan dari partikel lemak yang terdapat dalam makanan. Bila terjadi pemecahan sel darah merah berlebihan misalnya pada malaria maka bilirubin yang terbentuk Klasifikasi Menurut gambaran makroskopis dan komposisi kimianya. Heme bersatu membentuk rantai dengan empat inti pyrole menjadi bilverdin yang segera berubah menjadi bilirubin bebas. Asam empedu dari hati ada dua macam yaitu : Asam Deoxycholat dan Asam Cholat. Sebagian bilirubin bebas diikat oleh zat lain (konjugasi) yaitu 80% oleh glukuronide. . o Membantu absorbsi asam lemak. Zat ini di dalam plasma terikat erat oleh albumin. Sebagian besar (90 %) garam empedu dalam lumen usus akan diabsorbsi kembali oleh mukosa usus sedangkan sisanya akan dikeluarkan bersama feses dalam bentuk lithocholat. Garam empedu yang masuk ke dalam lumen usus oleh kerja kuman-kuman usus dirubah menjadi deoxycholat dan lithocholat. monoglycerid. yaitu: a) Batu kolesterol Berbentuk oval. Absorbsi garam empedu tersebut terjadi disegmen distal dari ilium. multifokal atau mulberry dan mengandung lebih dari 70% kolesterol. kolesterol dan vitamin yang larut dalam lemak. Bilirubin Hemoglobin yang terlepas dari eritrosit akan pecah menjadi heme dan globin. batu empedu di golongkankan atas 3 (tiga) golongan. sehingga partikel lemak yang besar dapat dipecah menjadi partikel-partikel kecil untuk dapat dicerna lebih lanjut.

b. Usia Resiko untuk terkena kolelitiasis meningkat sejalan dengan bertambahnya usia. c) Batu pigmen hitam Berwarna hitam atau hitam kecoklatan. Ini dikarenakan oleh hormon esterogen berpengaruh terhadap peningkatan eskresi kolesterol oleh kandung empedu. semakin besar kemungkinan untuk terjadinya kolelitiasis. mudah dihancurkan dan mengandung kalsium-bilirubinat sebagai komponen utama.16 b) Batu kalsium bilirubinan (pigmen coklat) Berwarna coklat atau coklat tua. Jenis Kelamin Wanita mempunyai resiko 3 kali lipat untuk terkena kolelitiasis dibandingkan dengan pria. Angka kejadian di Indonesia di duga tidak berbeda jauh dengan angka di negara lain di Asia Tenggara dan sejak tahun 1980-an agaknya berkaitan erat dengan cara diagnosis dengan ultrasonografi. seperti bubuk dan kaya akan sisa zat hitam yang tak terekstraksi Epidemiologi Insiden kolelitiasis di negara barat adalah 20% dan banyak menyerang orang dewasa dan usia lanjut. mempunyai resiko lebih tinggi . Faktor resiko tersebut antara lain: a. Namun. yang menigkatkan kadar esterogen juga meningkatkan resiko terkena kolelitiasis. tidak berbentuk. Etiologi/Faktor Resiko Kolelitiasis dapat terjadi dengan atau tanpa faktor resiko dibawah ini. lunak. Orang dengan usia > 60 tahun lebih cenderung untuk terkena kolelitiasis dibandingkan dengan orang degan usia yang lebih muda. Berat badan (BMI) Orang dengan Body Mass Index (BMI) tinggi. c. Penggunaan pil kontrasepsi dan terapi hormon (esterogen) dapat meningkatkan kolesterol dalam kandung empedu dan penurunan aktivitas pengosongan kandung empedu. semakin banyak faktor resiko yang dimiliki seseorang. Kehamilan.

f. .Nutrisi intravena jangka lama Nutrisi intravena jangka lama mengakibatkan kandung empedu tidak terstimulasi untuk berkontraksi. Pada kasus ini.Pengosongan lambung yang memanjang i. h. Ini karenakan dengan tingginya BMI maka kadar kolesterol dalam kandung empedu pun tinggi. Riwayat keluarga Orang dengan riwayat keluarga kolelitiasis mempunyai resiko lebih besar dibandingn dengan tanpa riwayat keluarga. karena tidak ada makanan/ nutrisi yang melewati intestinal. Aktifitas fisik Kurangnya aktifitas fisik berhungan dengan peningkatan resiko terjadinya kolelitiasis. trauma. Ini mungkin disebabkan oleh kandung empedu lebih sedikit berkontraksi. Makanan Intake rendah klorida.17 untuk terjadi kolelitiasis. faktor resiko yang terlihat adalah pengosongan lambung yang memanjang akibat ulkus gaster maupun gastritis yang sudah lama diderita pasien. g. anemia sel sabit. d. dan ileus paralitik. diabetes. kehilangan berat badan yang cepat (seperti setelah operasi gatrointestinal) mengakibatkan gangguan terhadap unsur kimia dari empedu dan dapat menyebabkan penurunan kontraksi kandung empedu. Sehingga resiko untuk terbentuknya batu menjadi meningkat dalam kandung empedu. e. Penyakit usus halus Penyakit yang dilaporkan berhubungan dengan kolelitiasis adalah crohn disease. dan juga mengurasi garam empedu serta mengurangi kontraksi/ pengosongan kandung empedu.

ringan sampai berat karena adanya komplikasi. Dari anamnesa mengarah ke kolelitiasis. dapat teraba pembesaran kandung empedu dan tanda Murphy positif. punggung. Pada pemeriksaan fisik didapatkan nyeri tekan hipokondrium kanan. sehingga gambaran klinisnya bervariasi dari yang tanpa gejala (asimptomatik). Nyeri viseral ini berasal dari spasmetonik akibat obstruksi transient duktus sistikus oleh batu. Rasa nyeri kadang-kadang dijalarkan sampai di daerah subkapula disertai nausea. Dapat juga timbul ikterus.18 Manifestasi Klinis Penderita batu kandung empedu baru memberi keluhan bila batu tersebut bermigrasi menyumbat duktus sistikus atau duktus koledokus. Pada kasus. Kolik bilier biasanya timbul malam hari atau dini hari. Dijumpai nyeri di daerah hipokondrium kanan. merokok dan minum jamu-jamuan curiga ke arah Gastropati OAINS. flatulen dan lain-lain.0 mg/dl).dengan keluhan nyeri menetap dan bertambah pada waktu menarik nafas dalam. yang kadang-kadang disertai kolik bilier yang timbul menetap/konstan. gastritis atau ulkus gaster. Kolik bilier harus dibedakan dengan gejala dispepsia yang merupakan gejala umum pada banyak pasien dengan atau tanpa kolelitiasis. Ikterus dijumpai pada 20 % kasus. menetap. ke pundak.Dengan adanya riwayat gastritis. Penyebaran nyeri pada punggung kurang lebih 1 minggu disertai mual dan muntah. Apabila kadar bilirubin tinggi. berlangsung lama antara 30 – 60 menit. Dengan istilah kolik bilier tersirat pengertian bahwa mukosa kandung empedu tidak memperlihatkan inflamasi akut. umumnya derajat ringan (bilirubin < 4. Kolik bilier merupakan keluhan utama pada sebagian besar pasien. Nyeri dapat menjalar ke abdomen kanan. Diagnosis dan pengelolaan yang baik dan tepat dapat mencegah terjadinya . vomitus dan dyspepsia. jarang ke abdomen kiri dan dapat menyerupai angina pektoris. perlu dipikirkan adanya batu di saluran empedu ekstra hepatic. 2 minggu SMRS pasien muntah darah berwarna cokelat menggumpal sebanyak 1 gelas kecil. dan nyeri terutama timbul di daerah epigastrium.

abses hepatik dan peritonitis karena perforasi kandung empedu. Komplikasi dari batu kandung empedu antara lain kolesistitis akut. pankreatitis. kolesistitis kronis. dengan leukositosis. koledokolitiasis. Pada kasus juga terjadi granulositosis yang mengarah ke kolesistitis. Sebagian besar (90 – 95 %) kasus kolesititis akut disertai kolelitiasis dan keadaan ini timbul akibat obstruksi duktus sistikus yang menyebabkan peradangan organ tersebut. kolangitis. ileus batu empedu. Komplikasi tersebut akan mempersulit penanganannya dan dapat berakibat fatal. 103 /mm3. Pada kasus ini terjadi komplikasi berupa kolesistitis¸ dimana telah terjadi peradangan akut.6.Pada kasus terjadi peningkatan leukosit sebanyak 13.19 komplikasi yang berat. sirosis bilier sekunder. .

Batu kandung empedu merupakan gabungan material mirip batu yang terbentuk di dalam kandung empedu. akan berkristalisasi dan membentuk nidus untuk pembentukan batu. kemuadian lamakelamaan kristal tersubut bertambah ukuran. Manifestasi klinis yang sering terjadi Patofisiologi Batu empedu yang ditemukan pada kandung empedu di klasifikasikan berdasarkan bahan pembentuknya sebagai batu kolesterol.beragregasi. Lebih dari 90% batu empedu adalah kolesterol (batu yang mengandung > 50% kolesterol) atau batu campuran (batu yang mengandung 20-50% kolesterol). pengosongan kandung empedu yang tidak sempurna dan konsentrasi kalsium dalam kandung empedu. asam empedu. lesitin dan fosfolipid membantu dalam menjaga solubilitas empedu. Bila empedu menjadi bersaturasi tinggi (supersaturated) oleh substansi berpengaruh (kolesterol. batu pigment dan batu campuran. Faktor yang mempengaruhi pembentukan batu antara lain adalah keadaan statis kandung empedu. Kristal yang terbentuk terbak dalam kandung empedu. melebur dan membetuk . yang mana mengandung < 20% kolesterol.20 Gambar 3. Angka 10% sisanya adalah batu jenis pigmen. Pada keadaan normal. bilirubin). kalsium.

Timbulnya nyeri kebanyakan perlahan-lahan tetapi pada 30% kasus timbul tiba-tiba. Lebih kurang seperempat penderita melaporkan bahwa nyeri berkurang setelah menggunakan antasida. . Kalau terjadi kolelitiasis. Kolik bilier d. atau ke puncak bahu. Keluhan yang mungkin timbul adalah dispepdia yang kadang disertai intoleran terhadap makanan berlemak. keluhan nyeri menetap dan bertambah pada waktu menarik nafas dalam. dan kandungan empedu merupakan predisposisi pembentukan batu empedu Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita kolelitiasis: a. Penyebaran nyeri pada punggung bagian tengah. Kolesistitis akut Empiema Perikolesistitis Perforasi e. Kolesistitis kronis Hidrop kandung empedu Empiema kandung empedu Fistel kolesistoenterik Ileus batu empedu (gallstone ileus) Diagnosis Anamnesis Setengah sampai duapertiga penderita kolelitiasis adalah asimtomatis. Obstruksi duktus sistikus c. keluhan utama berupa nyeri di daerah epigastrium. Asimtomatik b. disertai mual dan muntah. biliary stasis. kuadran kanan atas atau perikomdrium.21 batu. Faktor motilitas kandung empedu. Rasa nyeri lainnya adalah kolik bilier yang mungkin berlangsung lebih dari 15 menit. dan kadang baru menghilang beberapa jam kemudian. Pada yang simtomatis. skapula.

Batu saluran empedu Baru saluran empedu tidak menimbulkan gejala dalam fase tenang. Apabila terjadi sindroma mirizzi. gejal ikterik tidak jelas. biasanya berhubungan dengan komplikasi. seperti kolesistitis akut dengan peritonitis lokal atau umum.31 0.9 0-0. akan ditemukan kenaikan ringan bilirubin serum akibat penekanan duktus koledukus oleh batu. Pada kasus ini belum terjadi ikterik. Kadang teraba hati dan sklera ikterik. Kadar bilirubin serum yang tinggi mungkin disebabkan oleh batu di dalam duktus koledukus. empiema kandung empedu. Kadar fosfatase alkali serum dan mungkin juga kadar amilase serum biasanya meningkat sedang setiap setiap kali terjadi serangan akut. Tanda Murphy positif apabila nyeri tekan bertambah sewaktu penderita menarik nafas panjang karena kandung empedu yang meradang tersentuh ujung jari tangan pemeriksa dan pasien berhenti menarik nafas. Apabila terjadi peradangan akut. Apabila sumbatan saluran empedu bertambah berat. akan timbul ikterus klinis. atau pangkretitis. Pemeriksaan Penunjang a. Pada pemeriksaan ditemukan nyeri tekan dengan punktum maksimum didaerah letak anatomis kandung empedu. Bilirubin direct Bilirubin total 0. hidrop kandung empedu.1 . Perlu diktahui bahwa bila kadar bilirubin darah kurang dari 3 mg/dl.25 0-1. Pemeriksaan laboratorium Batu kandung empedu yang asimtomatik umumnya tidak menunjukkan kelainan pada pemeriksaan laboratorium.22 Pemeriksaan Fisik Batu kandung empedu Apabila ditemukan kelainan. dapat terjadi leukositosis.

23 b. Hasil USG Kolelitiasis . kandung empedu kadang terlihat sebagai massa jaringan lunak di kuadran kanan atas yang menekan gambaran udara dalam usus besar. di fleksura hepatica Pada kasus ini belum dilakukan pemeriksaan radiologis. Kadang kandung empedu yang mengandung cairan empedu berkadar kalsium tinggi dapat dilihat dengan foto polos. Dengan USG juga dapat dilihat dinding kandung empedu yang menebal karena fibrosis atau udem yang diakibatkan oleh peradangan maupun sebab lain. Pada peradangan akut dengan kandung empedu yang membesar atau hidrops. Gambar 4. Pemeriksaan radiologis Foto polos Abdomen Foto polos abdomen biasanya tidak memberikan gambaran yang khas karena hanya sekitar 10-15% batu kandung empedu yang bersifat radioopak. Ultrasonografi (USG) Ultrasonografi mempunyai derajat spesifisitas dan sensitifitas yang tinggi untuk mendeteksi batu kandung empedu dan pelebaran saluran empedu intrahepatik maupun ekstra hepatik. Batu yang terdapat pada duktus koledukus distal kadang sulit dideteksi karena terhalang oleh udara di dalam usus. Dengan USG punktum maksimum rasa nyeri pada batu kandung empedu yang ganggren lebih jelas daripada dengan palpasi biasa.

nyeri menurun dan perbaikan kosmetik. Jika tidak ditemukan gejala. Indikasi yang paling umum untuk kolesistektomi adalah kolik biliaris rekuren. Masalah yang belum terpecahkan adalah kemanan dari prosedur ini. Penelitian prospektif acak dari asam xenodeoksikolat telah mengindikasikan bahwa disolusi dan hilangnnya batu secara lengkap terjadi sekitar 15%.24 Pada kasus ini didapatkan kesan kolelitiasis dengan kolesistitis.5%. berhubungan dengan insiden komplikasi seperti cedera duktus biliaris yang mungkin dapat terjadi lebih sering selama kolesistektomi laparaskopi. diikuti oleh kolesistitis akut. Angka mortalitas yang dilaporkan untuk prosedur ini kurang dari 0. kekambuhan batu tejadi pada 50% pasien. maka tidak perlu dilakukan pengobatan. c) Disolusi medis Masalah umum yang mengganggu semua zat yang pernah digunakan adalah angka kekambuhan yang tinggi dan biaya yang dikeluarkan.2% pasien. b) Kolesistektomi laparaskopi Indikasi awal hanya pasien dengan kolelitiasis simtomatik tanpa adanya kolesistitis akut. . Karena semakin bertambahnya pengalaman. Pilihan penatalaksanaan antara lain: a) Kolesistektomi terbuka Operasi ini merupakan standar terbaik untuk penanganan pasien dengan kolelitiasis simtomatik. Secara teoritis keuntungan tindakan ini dibandingkan prosedur konvensional adalah dapat mengurangi perawatan di rumah sakit dan biaya yang dikeluarkan. Komplikasi yang paling bermakna yang dapat terjadi adalah cedera duktus biliaris yang terjadi pada 0. Jika obat ini dihentikan. pasien dapat cepat kembali bekerja. Zat disolusi hanya memperlihatkan manfaatnya untuk batu empedu jenis kolesterol. banyak ahli bedah mulai melakukan prosedur ini pada pasien dengan kolesistitis akut dan pasien dengan batu duktus koledokus. Nyeri yang hilang-timbul bisa dihindari atau dikurangi dengan menghindari atau mengurangi makanan berlemak.

25 d) Disolusi kontak Meskipun pengalaman masih terbatas. e) Litotripsi Gelombang Elektrosyok (ESWL) Sangat populer digunakan beberapa tahun yang lalu. diet Pembatasan kalori juga perlu dilakukan karena pada umumnya batu kandung empedu tergolong juga ke dalam penderita obesitas. infus pelarut kolesterol yang poten (metilter-butil-eter (MTBE)) ke dalam kandung empedu melalui kateter yang diletakkan per kutan telah terlihat efektif dalam melarutkan batu empedu pada pasien-pasien tertentu. Bahan makanan yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan makanan juga harus dihindarkan. f) Kolesistotomi Kolesistotomi yang dapat dilakukan dengan anestesia lokal bahkan di samping tempat tidur pasien terus berlanjut sebagai prosedur yang bermanfaat. Gambar 5. Kolesistektomi g. Prosedur ini invasif dan kerugian utamanya adalah angka kekambuhan yang tinggi (50% dalam 5 tahun). analisis biaya-manfaat pad saat ini memperlihatkan bahwa prosedur ini hanya terbatas pada pasien yang telah benar-benar dipertimbangkan untuk menjalani terapi ini. Kadang-kadang penderita batu kandung empedu sering menderita . terutama untuk pasien yang sakitnya kritis.

Rendah lemak dan lemak diberikan dalam bentuk yang mudah dicerna.26 konstipasi. size. . maka diet dengan menggunakan buah-buahan dan sayuran yang tidak mengeluarkan gas akan sangat membantu.Cukup mineral dan vitamin. Pada kasus ini belum dilakukan pemeriksaan radiologi. position) • Monitoring of therapy • Differentiation between cholesterol and pigment stones is not possible Cholecystography • Essential for stone differentiation . terutama vitamin yang larut dalam lemak. Ultrasound’s capabilities: • Identifying gallstones (number. . -Cukup kalori. Syarat-syarat diet pada penyakit kandung empedu yaitu : . protein dan hidrat arang.Tinggi cairan untuk mencegah dehidrasi. Bila terlalu gemuk jumlah kalori dikurangi.sehingga belum diketahui jenis batunya.

Patients who have received contrast medium must wait at least 10 days before scout films are obtained due to the risk of false-positive diagnosis of calcification. In these cases. A scout film of the gallbladder is a plain radiograph of the right upper abdominal quadrant without application of contrast medium. Only radiolucent stones that can be classified as cholesterol stones are amenable to non-surgical treatment. . The plain radiograph must be obtained prior to application of biliary contrast medium. no further diagnostic procedures are required. The presence of calcification in the form of calcified shells or cores detected in gallstones in scout films represents a contraindication for all non-surgical methods.27 The gallbladder on plain radiographs of the abdomen Scout films of the gallbladder must be obtained prior to cholecystography.

28 .

.29 Pada kasus ini juga tidak diberikan oral litholysis maupun ESWL karena adanya kontraindikasi dari ulkus peptikum.

30 Pada kasus ini juga tidak dilakukan kolesistektomi laparoskopik karena terdapat kontraindikasi absolut berupa complicated acute cholecystitis yaitu adanya ulkus gaster. Sehingga pada pasien ini perlu diterapi dari ulkus gaster nya terlebih dahulu. .

Evaluasi laboratorium : jumlah leukosit . dan tanda Murphy pada sonografi. atau gaster) : dapat terlihat udara pada percabangan biliaris.31 KOLESISTITIS Definisi Peradangan pada kandung empedu (vesika felea) Patogenesis Obstruksi duktus sistikus oleh batu empedu Manifestasi klinis Anamnesis : mual. Komplikasi Perforasi Empiema Vesika felea emfisematosa karena infeksi oleh organisme yang membentuk gas. . dan Enterobacter adalah kuman patogen yang sering). cairan IV. antibiotik (E. Prosedurnya meliputi injeksi HID intravena yang berlabel radioaktif. Klebsiela. tapi tidak ke vesika felea. edema dinding vesika felea. palpasi vesika felea bisa +. Pada kolesistitis akut. Ileus batu empedu : obstruksi usus (biasanya pada ileum terminalis) karena batu dalam usus yang melewati suatu fistula. kolon. ERCP atau eksplorasi duktus koledokus untuk melihat koledokolitiasis pada pasien yang ikterik atau terlihat batu di duktus koledokusnya pada USG. tanda spesifik kolesistitis meliputi cairan perikolesistik. muntah. tanda Murphy = rasa nyeri di kuadran kanan atas pada saat inspirasi. Penatalaksanaan NPO. Pemeriksaan fisik : nyeri tekan di abdomen kuadrah kanan atas. Koleskintigrafi (HIDA-scan) : uji paling sensitif terhadap kolesistitis akut. Coli. amilase + (bahkan tanpa adanya pankreatitis) Pemeriksaan diagnostik USG abdomen kuadran kanan atas : sensitivitas dan spesifisitas tinggi untuk batu empedu. Kolesistektomi semidarurat (biasanya dalam 72 jam) Kolesistostomi dan drainase perkutaneus pada pasien yang keadaan umumnya sangat lemah sehingga belum bisa dilakukan tindakan pembedahan. demam. nyeri di abdomen kuadran kanan atas dan mid-epigastrium yang berat dan menetap. enterokokus. bilirubin dan AP +. HIDA memasuki duktus kolekodus (CBD). Fistula kolesisenterik (ke duodenum. yang secara selektif melakukan sekresi ke dalam percabangan biliaris.

tukak lambung dan tukak duodenum. Perubahan hematologik seperti artralgia. gatal. Perhatian Gagal ginjal kronik . mual.SSP dll Dosis : dewasa 2-6 gram sehari. kemerahan pada kulit. trombositopenia. Peningkatan sementara dan reversibel pada test fungsi hati. Kontra Indikasi Hipersensitivitas Efek Samping Kemungkinan menimbulkan konstipasi. Injeksi Pantotis Komposisi: Pantoprazole Indikasi: Untuk kondisi yang berhubungan dengan hiperasiditas misalnya tukak lambung atau duodenum. saluran kemih. refluks esofagus. ederma perifer. Dapat menyebabkan stenosis pilorik hipertrofik pada neonatus usia < 2 minggu Sakit kepala. mual. leukopenia. depresi Vial 40 mg x 1 Dosis: Perhatian: Efek Samping: Kemasan: 3. diare. mulut kering. Indikasi Gastritis.Ulsafate Kandungan Sukralfat 500 mg/5 ml suspensi atau tablet. Injeksi Cefotaxime Komposisi : Cefotaxime sodium Indikasi : infeksi saluran cerna. jarang terjadi diare. hipersekresi patologis pada pasien yang tidak dapat diberikan terapi oral (pasien tidak sadar atau tidak dapat menelan) 1 vial/hari Penyakit ginjal dan hati.32 Pengobatan yang diberikan 1.maksimal 12 gram /hari Kemasan : vial 500 mg x 2 2. dizzines. eosinofilia. kembung.

Penyembuhan dapat terjadi minggu pertama sampai kedua setelah pemberian.33 Dosis Dewasa: 4xsehari 2 sdu. tetapi pengobatan diteruskan selama 4-8 minggu . sewaktu lambung kosong. bila disertai rasa nyeri hebat dapat diberikan bersama antasida dengan perbedaan waktu pemberian 1/2 jam sebelum atau sesudahnya.

Edisi 3. Kapita selekta kedokteran. Kamus kedokteran Dorland. Jakarta: EGC. http://yayanakhyar. 1999. 2002. Jakarta: EGC. Buku ajar ilmu bedah. Edisi 3. Buku ajar penyakit dalam. Doenges. 2008. ISO Indonesia. Dorland. Jakarta: Penerbit Media Aesculapius FKUI.wordpress. A. Rencana asuhan keperawatan dan dokumentasi keperawatan. Schwartz S. diagnosis keperawatan dan masalah kolaboratif. Jakarta: PT. Buku ajar ilmu penyakit dalam: fisiologi dan pemeriksaan biokimiawi hati.com/2008/04/25/kolelitiasis-gallbladder-stones/. Sjamsuhidajat R. Keperawatan medikal bedah vol 2. Batu empedu. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Mansjoer.34 Daftar Pustaka Brunner & Suddart. ISFI Penerbitan. Jilid I. de Jong W. Jakarta: EGC. 2000. 1999. Shires G. Carpenito. Edisi 6. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta: EGC www. Rencana asuhan keperawatan. Diakses tanggal 4 Oktober 2009. Lesmana.drfalkpharma.com . Spencer F. Edisi 29. Prinsip-prinsip ilmu bedah (principles of surgery). 2000. 2001. W. Lynda Juall. Jakarta: EGC. L. 1996. 2005. Yast. Edisi 2. Volume 43 – 2008. Jakarta: EGC. Husadha. Edisi 2. 2000. Marilyn E. Edisi 3. ISFI.