NISKALA & SEBUAH NOVEL BERJUDUL EPISODE IV

ERVIN RUHLELANA Copylefts 2004 you have RIGHT TO COPY Draft 1, 1999 Draft 15, 2003 Photo Copy Edition, 2004-2005 Online Edition, 2006 Draft 18, 2007 Multiply Version, Random Chaptering with Friend Fictions', 2008 You can get it free on ruhlelana.multiply.com/tag/episode%20iv Respond and Reply (FriendFicts) to episode_iv@yahoo.co.uk avalaible at ruhlelana.multiply.com/tag/friendficts or samanthaschool.blogspot.com Published by Samantha School

VIVA INDEPENDENT!!!

1

PROLOG.
It’s Not The Beginning Aku mengurai-urai luka beberapa kali, sampai tanganku kebas. Awalnya tak kutemukan apaapa disitu. Meskipun beberapa kali aku seperti menemukan sesuatu, seperti misalnya seonggok borok bernanah yang kusangka adalah hal yang kucari-cari itu, ternyata itu hanyalah borok bernanah yang ditanam oleh makhluk-makhluk di masa lalu yang pada saat itu sering menghantuiku saat sebelum tidur dan kemudian membangunkanku juga dari tidur yang tak pernah nyenyak itu. Aku meneruskan mencari, kali ini yang kutemukan – seperti yang pernah kuyakini sebelumnya – bukanlah yang benar-benar ingin kutemukan, hanya sebuah jerawat kecil menyakitkan yang bertengger dengan kuat dan tak terpecahkan di bawah hidungku, tepat diatas bibir tempat asap rokok biasanya mengepul deras menghindari kepulan ke arah mata. Jerawat itu berbeda dengan borok bernanah tadi, dia bukan hal yang ditanam oleh makhluk-makhluk di masa lalu tetapi sebuah cerca yang kemudian akan mengejutkanku saat bangun tidur dan lantas menatap cermin, menjerit. Yang jelas bukan dia yang sedang kucari. Lantas kupencet dia dengan paksa. Rasanya perih sekali, sementara "mata"nya belum mau keluar, malah makin masuk, ini lebih menambah perih. Lelah dan putus asa tiba-tiba menjajah pencarianku dan hal itulah ternyata yang membawaku menemukan benda itu diantara beberapa luka yang berdarah cukup busuk dan berbelatung ria diantara kedua selangkanganku. Benda berbentuk uraian panjang sebuah teks yang terpelitur mengkilap dalam sebuah kutipan lengkap tentang hidup seseorang yang pernah kuyakini ada keberadaannya dalam beberapa bagian hidupku yang terurai-urai pecah berantakan. Setidaknya dengan menemukan ini aku mungkin bisa membuat sebuah formula lem super rekat untuk menyambungkan bagian-bagian hidupku yang terpecah-pecah tak beraturan itu. Ini akan menjadi semacam permainan puzzle tanpa batas di semua sisinya, dan aku mungkin akan menghabiskan sisa hidupku untuk menyusun puzzle-puzzle itu yang – seperti kubilang terus-menerus nanti – “takbisaterbalik-kan”. Hidup adalah “ke-takbisaterbalik-kan” yang kupikir cukup absolut mengencani sisi lain apapun yang berada disekitanya, tak terpermanai

2

keberadaannya. Ini semua alasannya sangat sederhana, seperti alasan banyak orang, kebahagiaan, tapi tentu saja kebahagiaan itu tak berpangkal-tak berujung, persis seperti puzzle-puzzle yang akan kususun ini. Maka, Kawan, doakan aku agar bisa cepat-cepat – minimal (paling tidak) – mengakhiri hidupku! Dengan cara apapun – tentu! – yang kubisa memaknainya sebagai sebuah harap yang tak berpangkal-tak berujung.

3

Pre-Chapter for W/32 – Perih
Ribuan digit dalam angka-angka 0 dan 1 yang terkombinasi secara ajaib menjadi programprogram pembentuk semesta. Seperti symbol pertama untuk jantan dan betina, 0 untuk ovum dan 1 untuk sperma, lalu tercipta 0 dan 1 dalam deret-deret yang tak terkira panjangnya dalam baris-baris yang baru, menyatu utuh menjadi program dalam rupa Zygote, awal manusia baru, aku. Mengingat hal ini seperti menghunjamkan kembali pendarahan ibuku pada ingatan terperih dalam hidupku, jauh tersimpan dalam folder yang disembunyikan dengan aman meski tak seaman yang kukira. Berkali-kali aku melempar ingatan-ingatan perih ini, tapi ini semuanya read-only files. Aku tak bisa menghapusnya, selalu ada alat untuk melacak jejak-jejaknya, meski asing, tapi selalu perih. Aku benci search engine. Tanpanya hidupku bisa jauh lebih ringan tanpa beban ingataningatan yang kunamai perih itu, sebuah program file yang tersimpan dalam system 32 yang sudah merangsek seperti virus dan mengacaukan program-program lain yang ada di dalamnya. W/32-Perih, seorang temanku menamai Worm ini. Tidak merusak tapi mengganggu. Up Datean terbaru dari semua jenis anti virus, yang canggih sekalipun, tidak mampu membunuh program Worm yang ini. Malah ada beberapa anti virus yang jadi kacau dalam mendeteksi hingga menghapus file-file penting dan program-program penting. Hingga sering kali kepalaku nge-hang dan harus di restart. Dan seringkali pula program bootnya bener-bener rusak hingga aku tak bisa masuk kedalam hidupku sendiri dan harus di install ulang. Sakit sekali. Mengulitimenghapus-mengganti baru hampir semua program agar bisa diaplikasikan kembali. Capek, butuh waktu lama dan lebih banyak merasa kehilangan. Setelah itu, W/32-Perih tak pernah benar-benar terbunuh, masih melekat dan menjalar dan menyebar dalam folder-folder yang tak terdeteksi keberadaannya. Ku-nonaktifkan program search-engine-nya. Dan setelah ini hidupku harus benar-benar disusun dalam mekanisme meraba-raba, meski akan jauh lebih capek ketimbang pake search engine tapi jauh lebih aman, kemungkinan resiko mendapat serangan W/32-Perih akan jauh lebih sedikit dan tentu saja lebih aman untuk lambungku sebab penyakit maagku kambuh bila W/32-Perih beraksi.

4

Chapter One
ada apa di balik garis kematian? kata edgar allan poe ha? aku hanya memandangnya sebagai serentetan kata-kata yang sering teramat dilantunkan oleh sebuah wacana pencapaian tertinggi - nihil - seperti misalnya seorang wanita - samantha yang selalu berteriak mati di setiap akhir episode nya. aku rasa setelah semuanya selesai - dalam arti yang sebenarnya - mati - dalam arti yang sebenarnya - tinggal jiwa - kalau memang jiwa itu ada - yang berarti tanpa jasad - ini pun baru spekulasi yang sudah terjadi dari semenjak awal peradaban - khayal - dan sejauh ini aku baru menemukan bahwa realitas khayali hanya ada dalam kepalaku - dan segala media yang digunakan untuk menyimpan ingatan - semisal dongeng - kertas - flashdisk - you tube - atau anak cucu - lalu manusia akan menjadi sangat mapan - super - dan juga menjadi jujur - dan hingga saat ini aku belum menemukan parameter untuk mengukur kadar kejujuran - sebab semenjak ada orang-orang yang bisa mengelabui lie detector - aku sudah tidak begitu percaya dengan tingkat akurasi alat itu - hanya intuisi - yang subjektif - tidak empiris serta tidak bisa ditebak kapan datangnya-lah satu-satunya alat yang masih bisa kupercayai - tapi jelas hal ini tidak akan begitu saja dipercaya orang-orang - sebab hanya para dukun sakti yang bisa menjamin kepercayaan orang-orang terhadap diri mereka - dan aku belum sesakti itu - belum sebijak itu - para dukun sakti itu sering juga dijuluki dengan istilah para bijak - meski aku yakin bahwa aku bukan ingin dijuluki sang bijak - tapi sekedar ikut nimbrung dalam semua kecarutmarut-an ini - ke-harut dan marut-an - gara-gara setitik keinginan yang tak bisa dibendung; setitik ingin untuk ingin. kemudian aku menduga secara misterius dan kompleks - bahwa setelah mati manusia akan menciptakan neraka sendiri - tergantung kadar kesadarannya akan dosa - itu pun kalau dosa memang pernah ada - atau ciptakan surga sendiri - tergantung pada kadar keinginannya akan surga ketika masih hidup - dan seperti bayangannya itulah surganya - seperti dua merpati yang ditasbihkan pada dua agama yang berbeda - lalu dilepaskan - maka setiap merpati punya surganya sendiri-sendiri - lalu bosan pada surga yang aku yakin memang lama-lama akan sangat membosankan - apalagi kalau kamu kurang kreatif - saat ini keinginan untuk bertemu tuhan akan semakin kuat - pertemuan ini sangat ditentukan oleh seberapa besar manifestasi

5

yang sudah kamu berikan - bukan pada tuhan - tapi pada segala aspek yang membuatmu hidup dan dibuatmu hidup - lalu reinkarnasi - atau segala konsep yang mengatakan tentang kehidupan setelah kematian di kepercayaan apapun - atau malah tak akan ada apa-apa - benarbenar tidak ada apa-apa - dalam arti yang sebenar-benarnya. selesai. berlanjut. selesai. selesai tanpa akhir. ahahaha. berlanjut tanpa akhir... gak jelas deh kalo udah gini... kematian bukan apa-apa - bukanlah hal sebesar itu - sehingga para bijak harus menghabiskan masa kontemplasinya untuk membicarakan hal remeh seperti itu. pasti ada hal yang lebih besar ketimbang itu - ketimbang kematian - atau segala hal disebalik garis itu - atau sebenarnya kita hanya butuh nabi baru? basi berikut lebay! yang kita butuhkan sekarang - hanyalah seorang sahabat - belahan jiwa - tulang rusuk (omong kosong!) yang hilang itu - avatar - pecahan pribadi yang tak pernah kita pahami - nur dalam beberapa kurung - cahaya - roh kudus - breakthrough - tuhan - dewa-dewi - cinta - busuk bangkai ! masih memilih mati di tempat-tempat suci dengan lagu-lagu pengiring yang indah? ha! ketika tak kurasakan lagi pijakan kaki di atas bumi - ketika tak kurasakan lagi gravitasi menarik-narik tubuh - ketika aku tak berani lagi melihat cermin - sebab cermin selalu memperbanyak kesakitan ku menjadi 2 kali lipat - dan untuk apa pula memaksakan sakit itu jadi bertambah banyak - berdrama-drama - berdarah-darah - puluhan babak - ratusan episode air mata kering - lalu palsu - lalu akhirnya kita semua memutuskan untuk menjadi pabrik topeng kertas yang mudah dirubah dan diwarnai ulang - atau sengaja membuat topeng-topeng sebanyak-banyaknya dari ratusan karakter wayang - membuka lahan di banyak tempat dengan berbagai pribadi yang berbeda - mem-blog-blog-kan segala hal yang meretasi kepala menjingga hati - atau menggelitik selangkangan - lalu menjadi introvert bengong di depan kotak menyala - ketawa sendiri - atau tiba-tiba air mata - atau tiba-tiba teriak marah - hingga benar-benar hampir berada pada anarkisme yang paling tinggi - dan mencipta seperti ketika pertama kali konsep tuhan hadir di kepala manusia - aku bersujud pada entah apa - entah apa yang bisa terdeteksi oleh ulu hati - entah apa yang menonjok - lalu seluruh pembuluh darah

6

mendesir - memaksa hormon-hormon pembahagia bekerja lebih giat lagi - tapi sekaligus membuatku menjadi pengidap insomnia parah. yes, bright dreams to dream yes, glad songs to sing yes, joy that will bloom like an ending spring BOOM! ketika dia bilang; "butuh waktu tiga bulan untuk kita sejajar berbicara disini!" ha.ha. butuh 30 abad, om! 30 abad untukmu menjadi aku! percayalah! ada apa di "se"balik "ge"garis "maya"-maya lain? akan kuuraikan secara matematis, karena ini kudapatkan dalam pelajaran matematika waktu kelas satu sma. aku menemukan hal dari sebuah kompleksitas general - yang sudah tidak lagi mempermasalahkan real-khayal - maya-nyata - tapi jauh lebih kompleks dari itu - ini tentang sebuah legenda - legenda tentang sebuah wadah kosong berupa kendi yang harus kau pilih ada dua kemungkinan isi dalam kendi itu yang bisa kau raih - kemungkinan pertama berupa air bening menyegarkan - kemungkinan kedua berisi air pengetahuan yang memenatkan. lantas dia berkata; "kan ku pukul kau bila nanti balik lagi kesini!" sabar kawan, aku belum selesai, ah, bahkan baru mulai... tuan-tuan yang baik - tuan poe atau tuan-tuan yang se-profesi dengannya - hanyalah seorang pesimistis lumrah yang tertarik pada kehororan perang dalam sudut-sudut pandang apresiasi tertentu - reduksi tertentu - lalu jadi beberapa novel detektif - atau novel-novel misteri yang menyembunyikan beberapa teori konspirasi di balik kalimat-kalimatnya yang membuai seduktiv - provokativ - sinting! terima kasih! dan tuhan serta dewa-dewi yang aneh ini akan selalu tertawa bersamaku setelah berpuluhbahkan beratus abad diperlakukan dengan sangat kaku - sri baginda - dzat yang maha blablabla - sang hyang tralalalala - bapa - the sun of god - apapun julukannya - sebanyak apapun itu -

7

tetap tidak menghilangkan rasa kesepian mereka - maka terciptalah aku - entah dari apa seseorang yang diciptakan untuk tidak melakukan apapun kecuali menemani mereka - menjadi sahabat di kala sepi - temen curhat - saling mengapresiasi - minta rokok - pinjem duit buat bayar kost-an dan utang ke warung tegal - tukeran kolor - hingga saling toyor kepala - dan hampir selalu di akhiri dengan tertawa-tawa - tidak lagi terbahak - bagian itu sudah kami lewati - tidak lagi "hahaha" - atau "ha.ha." - tapi bahasa jiwa yang teramat hening bila di dengar di sisi lain kompleksitas general tadi. tuhan yang baik! begitu biasanya aku menyapa. dewa-dewi yang baik! belikan aku mekbuk - agar aku bisa mendesain pesenan 'arsy-mu yang baru sambil nongkrong di warung-warung mewah bertitik panas dan bergadis sexy - agar aku bisa lebih banyak mendapat inspirasi untuk mencipta mantra-mantra baru untuk kalian - kalian sudah bosan kan dengan mantra yang itu-itu lagi - "jadilah! jadilah! jadilah!" - disamping aku juga sudah agak meragukan tingkat ketepatan takdir - kecuali ada beberapa takdir menyeruduk dari luar takdir yang kubuat - bagaimana kalau mantranya begini; "goyang-goyang-goyang pantat - cairlah hindarilah kemelekatan - bayangkan sebuah sungai yang mengalir di angkasa - ada bidadaribidadari sedang mandi - jangan sembunyikan pakaian mereka - sebab instant karma terjadi begitu saja - refleks - hanya sampai di sumsum tulang belakang - tak sampai ke otak - tak mampu kami cegah - lalu setel radiohead keras-keras" - ;p :D kompleksitas general: bilangan kompleks memiliki dua cabang turunan; bilangan real dan bilangan khayal bilangan khayal adalah bilangan yang tidak mungkin seperti akar minus dua bilangan khayal tidak memiliki turunan bilangan real memiliki dua cabang turunan; bilangan rasional dan bilangan irasional bilangan irasional tidak memiliki turunan bilangan rasional memiliki dua cabang turunan; bilangan bulat dan bilangan pecahan bilangan pecahan tidak memiliki turunan bilangan bulat memiliki dua cabang turunan; bilangan negatif dan bilangan cacah bilangan negatif tidak memiliki turunan bilangan cacah memiliki dua cabang turunan; bilangan nol dan bilangan asli bilangan nol hanya nol dan bilangan asli memiliki dua cabang turunan; bilangan prima dan bilangan komposit

8

coba lihat bilangan-bilangan yang tidak memiliki turunan - lantas kemana turunan-turunannya? sekompleks inilah maksudku tentang kompleksitas general. 30 abad, mas? cukup? terlalu lamakah untukmu? atau, ah... waktu hanyalah rekaan kecil mereka untuk mempersempit pikiran kita dan ruang adalah ide besar mengenai cara hebat membatasi ide. masih ada hal-hal yang lebih besar lagi ketimbang itu, ketimbang hal-hal yang bahkan belum terpecahkan. bukan hanya di "se"balik garis kematian, tapi di balik kompleksitas general tadi atau bahkan di sisi-sisi lain yang tak penah terkirakan - tak hingga - di luar ambang-ambang batas... mad"yeech"reject. option. deleted. ha.ha. aku, disini, di tengah malam ini terdiam kembali - nyengir jail bersama mereka; tuhan dan dewa-dewi merencanakan produk-produk canggih di masa depan - anarkisme instant dalam kemasankemasan anti plastik - kemasan recycle-able - di 30 abad mendatang membentuk semesta tanpa carut-marut - tanpa harut-marut - tanpa habel 'n kain - bahkan tanpa kitab-kitab suci ketika intuisi tak lagi berarti tak perlu tingkat-tingkat athman-monage-buddha-syariat-tarikat-hakikat-marifat-sudra-waisya-ksatria-brahmana-atau kebanyakan konsep yang setara dengan konsep-konsep ini - bahkan atheisme - hanya akan menjadi suplemen renyah-lucu-menghibur-bikin ngakak. bersama satu nama (aku paling suka dengan nama ini) ALALAHA yang merindu abadi pada semesta dan utopia dan diantaranya yang tak ter-(maaf tak ada bahasa untuk ini). kira-kira begitu. tuan-tuan yang baik yang hidup di 30 abad yang lalu, sedemikian sehingga aku kembali pada

9

30 abad sebelum masa tuan-tuan sekarang - persis seperti interfase - atau menurut bahasa tuantuan; 3 bulan? - berarti sekarang aku berada diantara masa 1000 b.c. - 8000 a.d. - dan waktu sebanyak ini hanya kugunakan untuk interfase - hanya untuk interfase! nah, begitulah...

10

Chapter Two
(Kenapa? Episode IV)? Kenapa? Sebab mungkin aku tak pernah menuliskan episode pertamanya atau episode kedua tidak layak dibaca oleh orang lain atau lebih mungkin episode ketiga membicarakan tentang disebalik garis kematian juga –yang pada akhirnya akan sama dengan episode keempat, padahal aku selalu menulis begini: EPISODE IV. Kenapa? Sebab di episode pertama aku menuliskan sebuah puisi dalam setiap hirupan nafasku. Kenapa? Sebab di episode kedua aku bercerita tentang aku –he.he. terimakasih!- dalam episode. Kenapa? Sebab episode ketiga aku menulis tentang sebuah mainan elektronik yang di belikan ibuku yang membuat aku tetap diam dan menghentikan gravitasi-rotasi bumi-bermain jelangkung-teriak-nangis(hiks.hiks.)-terbang-melayang-menembus bintang-menari-nari di atas langit dengan beribu pertanyaan tentang cara menari yang baik...Tuhan!Dewa-Dewi! Sekira-kira isinya sebagai berikut: Episode I. Bandung, 16 November 2K Sebenarnya tak ada kata-kata Selalu tak ada kata-kata Sepertinya peti mati telah membawanya ke sebuah sisi Yang sudah tidak memperdulikan lagi masalah simetri Hingga kurvapun, apa peduliku? …(lalu disini aku menghitung hirupan nafas dan segala cerita tentang hitungan, tak perlu kutulis) Tapi setiap kali sebuah puisi tercipta Aku selalu mati Dan perlu sebuah puisi untuk menghidupkanku lagi Adakah akhir? –sebenarnya aku tidak bertanya pada siapa-siapa tetapi menghitung kembali

11

setiap hirupan nafas yang selalu menerjemahkan berbagai kerlingan mata setiap orang pada mataku. Episode II. Bandung, 16 November 2K 16.03 …aku bertanya kepada seseorang, “Apakah embun itu yang menggelayut di daun?” Jawabnya adalah, “Kenapa kau bertanya seperti itu?” Aku lari dan marah …(lalu ada cerita disini tentang angka-angka, hitungan-hitungan tak masuk akal, jutaan tetes embun setiap pagi dan menjelang…? –seringkali aku bertanya tentang nama-nama waktu) …apabila leher terjerat dalam kondisi panjang tambang yang menjerat semakin kecil, matikah kalian ? “apakah embun itu yang menggelayut di daun?” Episode III. Bandung, 22 November 2K Quiet! You’ve stolen my arms. Now My Heart’s dying-extremely dried-gurun-micro wave-autumn in Japan. Seketika tiba-tiba hampir saja bumi terdiam mengulurkan lidahnya menjilati sekujur tubuhku-basah kuyup-cuci baju-masuk angin-dikerokin-setetes embun-dingin-decolgen-hatsi… Kembaranku ada di sana bersama eksotikadotkom-Agus Suwage. Lalu Ugoran seperti meneriakan doubleudoubleudoubleudotshockmylifedotcom di sebuah panggung cyber space dan aku terdiam seperti kelam mengantarkan hangatku pada gadis kecil yang sedang memainkan boneka elektroniknya “mama…mama…” Aku diam kembali menggosokan tarian jiwa itu di sekujur… dst… dst… (karena lebih jauh lagi aku begitu cengengnya meskipun aku terus berhitung) ... Begitulah! Hingga pada saatnya aku menciptakan yang keempat yang merupakan bagian yang terpisah dari itu semua dan bahkan tak ada satupun dari itu semua yang menjadi bagian-bagian yang merupakan satu kesatuan utuh. Hingga pada saatnya suara-suara mendengung itu mulai menunjukan tanduknya yang akan segera menghunus bagian-bagian tubuhku – aku ngeri sekali dengan darah – dalam sekali seruduk. Padahal setumpuk tahinya kutemukan tadi sore di sebuah

12

keanggunan seekor waktu yang mengaum dimakan lele-lele yang meloncat-loncat kegirangan menemukan tahi menumpuk sebanyak itu. Dan… yang paling kupentingkan adalah dialog seperti ini hingga suatu saat kutemukan beberapa kata yang paling penting dari Episode IV-ku; S-isms, LOL w/ GOD, Interfaseku, Seringai Tuhan untuk S-isms, dan tahun-tahun antara 1000 b.c. – 12000 a.d.

Tahun-tahun Antara 1000 b.c. – 12000 a.d. 1000 b.c. Saat ini aku dalam keadaan bayi utuh, menyentuh sebagian pedang yang suatu saat akan dipakai Alexander dan melumatnya. Lantas memuntahkannya kembali menjadi serpihanserpihan logam. Kemudian kembali dilebur dan ditempa menjadi pedang dengan kualitas yang lebih baik, sehingga cukup layak digunakan Alexander untuk semua perang yang dihadapinya. Ada ingatan masa depan (kalian biasa menyebutnya ramalan) tentang Alexander yang tak jadi menyeberang laut dari India karena sakit, lalu anak bungsunya melanjutkan penyeberangan itu hingga mencapai Sumatera, menciptakan peradaban minang di Sumatera Barat dengan nagarinagari beratap kepala kerbau. 3 bulan kemudian… (yang berarti 2000 a.d.) Saat ini Tuhan belum sempat tertawa sebab keheningan sejenak di ruang sidang MPR sempat membuat sebagian atau keseluruhan telinga Tuhan melesak. Akupun tidak ikut tertawa sebab tak lucu. Dan kalaupun lucu aku mungkin hanya tersenyum. Di saat yang sama, Dewa Janus malah tertawa-tawa bersama Tuhan sebab ini jarang sekali terjadi dan sudah lama ditunggu-tunggu mereka. Pekerjaan ini hanya terjadi 1000 tahun sekali, mengganti millenium, dan millenium kali ini betul-betul menarik. Sepanjang tahun langit cerah dalam persepsi maupun sensasi setiap jiwa-jiwa yang melenguh. Ketika film End Of Days dan wacana Y2K menyeruak, setiap orang percaya bahwa tahun ini adalah awal Millennium ketiga. Di awal tahun hampir setiap orang di seluruh dunia bahagia ketika Dewa Janus membiarkan jarum penunjuk detik melewati angka 12. Aku yakin begitu sebab Tuhan yang langsung bicara padaku. Satu detik setelah itu aku meloncat ke…

13

5000 a.d. Aku biasa saja dan sungguh sangat normalnya. Seperti yang kau lihat saat ini dengan mata 2000-mu. Sehingga aku tak perlu mencatat apapun yang terjadi sekarang. Seluruh ingataningatan itu sedang kausaksikan sekarang dalam rupa tubuhku di berbagai format, kau tinggal mendownloadnya. Tak perlu repot dengan playernya, vcd versi 2.0 pun bisa memutarnya, media player classic juga masih bisa memutarnya, meski gambarnya tidak sesempurna DVD, tapi aku sedang memikirkan untuk membagikannya dalam format DVD. 8000 a.d. Di sinilah aku sebenarnya harus hidup dan mengajakmu bermain sandiwara sambil sesekali menghisap sebatang daun kopi yang sudah dikeringkan seperti ganja pada tahun 2000 a.d., agar kau tahu bahwa itu tak dosa, sebab seperti sering sekali kukatakan bahwa dosa telah tiada. Kasih, ayo bangunlah agar kau tahu aku mati. Sebab di sebalik garis itu sudah kutemukan di sini. Hantu-hantu itu sudah kutangkap di sini. Aku ingat kemarin saat 13 Februari berarti hari Selasa Kliwon kurasa, aku menjemput sebuah permainan gerbong-gerbongan bersama hantu-hantu itu. Awalnya kita diundi dan yang kalah harus jadi lokomotif. Dan kebetulan –meski aku tak percaya kebetulan- akulah yang kalah. Kita menyusuri rel kereta hingga sampailah aku di Yogyakarta jam 14.53 tepat. Gateauxlotjo menjemputku dan mainan-mainan itu. Aku setengah kaget ketika sampai sebab scarf yang biasa kupakai bila udara dingin tertinggal di atas sebuah koper keleluasaan di kota tadi –aku pikir mungkin Bandung. Hingga satu hal bahwa waktu cepat sekali berputar di Yogya. Hingga belum kulewati jarum menit, jarum detik segera mendahuluiku sampai seribu kali atau lebih di –selalu perempatan jalan itu. Dan selalu pula di perempatan jalan itu aku ditendang kembali ke tahun 1000 b.c. dan selalu harus kumulai lagi interfaseku. 12000 a.d. Tuhan Dewa-Dewi seperti tertawa bergelak-gelak hingga menghabiskan 3 galon air mineral, padahal dia hanya menyeringai…

Lampiran I.

14

Tabel 1. Soal (Isilah Titik-titik Dibawah Ini Dengan Kekuatan Intuisimu!)

Menitik
2 … daging asap jembut … … adam …

Menoktah
86 9 cuka semut … titik aku Mati

Membanjir
… 213 mama … lelana noktah … Kancah

Tabel 2. Apa yang akan kau lakukan ketika ibumu meninggal? (Pilih A atau B!)

A
1234567890 !@#$%^&*() neorippleraygunblocknotajaibkunc iposmohaiteenellebazzarelisabetha rdensiapakahaku

B
ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWX YZ LiberteEgaliteFraternite 235711…08562125281ataukeliru crackeggsdeadbirdsofpreyflyinghigh matrixmatrikulasi doadandosadandosis Howmuchicansaywhatfuckoffinevercar eneitherdoi

episode_IV@yahoo.co.uk
kusudahi ataukuakhiri?

Lampiran II. Grafik. 1000 b.c. interfase 2000 a.d. now-you 5000 a.d. 8000 a.d. now-me 12000 a.d. I____________I____________I___________I____________I my-brain seringai Tuhan untuk S-isms

Lampiran III.

15

Hitungan-hitungan. setiap 60 kali 60 kali 24 kali 365¼= 31557600 itu hanya jumlah detik dalam hidupku selama satu tahun… 1 kata = lahir dari hirupan nafas seberapa detikku = sebuah kata beberapa juta kata ~1 kali bumi berevolusi beberapa kata = segelintir puisi beberapa juta puisi = selama hidupku limatahundelapanbulanenamharitigajamenammenitduapuluhempathinggaduapuluhsembilandetikumurku lipatanselembarkertasukuranfoliolegalmembujursimetristerciptaselembar(ataudualembar)persegipanjangselisiha ntarapanjangdanlebarnyasangatbesarlaluakumenyilangkankedualembartadihinggaterbentuklambangtambahlalu dibakar beberapaributetesembunyangkitalihatsetiappagi-banguntidur-mandi-gosokgigi-kopirokoknuansapagidikalikandengandetakjantungpagiitu=sederetangkayangmengatakanberapakalimembuatkesiasiaansetiappagi

episode_IV@yahoo.co.uk lalu aku akan membakarnya dan lalu membuang abu-abunya bersama bunga
kemboja di sungai belakang rumahku, terimakasih 2,55 m tambang karamantel menjerat leher diameter antara 30-33,2 cm (2,55 m – ( 22/7 x 30) = 91.7357142857142857142857142857143) (2.55 m – (22/7 x 33,2) = 101.792857142857142857142857142857) Panjang sisa tambang = 91.7357142857142857142857142857143 hingga 101.792857142857142857142857142857 God + Gods + Goddesses = Love + Sacrifice + (Insanity)2 (Tuhan + Para Dewa + Para Dewi = Cinta + Pengorbanan + (Kegilaan)2 aku diam kembali menggosokan tarian jiwa itu di sekujur binar hatiku “mama… mama…” diam, hening sekelebat cahaya sedesir angin mengantarkan jawaban ibuku a-ku rin-du A-K-U R-I-N-D-U akhirnya aku berteriak “Ibu…!” halilintar menggelegar

16

kilat bersambaran sebentuk kabut menari meliukan sosok hologram ibuku menyentuh rambutku tanganku membelai kosong hangat sekali tiba-tiba… tak ada apa-apa semesta kembali terdiam yang kudengar hanyalah bahasa jiwa yang amat hening dialog intim antara seorang anak dengan ibunya … selesai sudah babak pertama babak kedua dimulai dengan diam lalu mengaum dan diam kembali … tak selesai tak selesai harus kuteriakan kembali halilintar dan kelam-malam-astaga-simpanlah ini di hatimu jambangan bunga pecah pigura kaca potret seorang tua pecah intuisiku menyeruak dengan sebuah senyuman singkat mimpi keabadian I miss my MOM I miss my GOD I missed, quietly Thank’s…!

Lampiran IV. I. Apa yang akan kau lakukan bila ibumu meninggal?

17

1. 2. 3. 4. 5. 6. II.

bunuh ayahmu cari orang tua angkat intip ketika mereka bercinta onani bunuh keduanya seusai orgasme cari sebuah dadu

Tentukan hidupmu dengan dadu! Apa yang akan kau lakukan bila ibumu meninggal?

a. cari sebuah dadu1
b. tulis poin-poin berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. c. d. e. f. III. menangis sekeras-kerasnya perkosa seorang gadis pecahkan piring bunuh diri ngupil jalan-jalan ke pantai

kocok dadumu, lemparkan dan lakukan kegiatan sesuai dengan nomor yang keluar jadilah anak yang baik bila no. 4 tidak keluar usahakan keluar dari penjara bila yang keluar no. 2 (pemerkosa sangat diperlakukan seperti binatang di penjara, baik oleh petugas ataupun oleh sesama tahanan) lakukan hal secara berurut seperti pada point I.

Apa yang akan kau lakukan bila ibumu meninggal? Ya, Tuhan! Ya, Tuhan! Ya, Tuhan!

IV.

Apa yang akan kau lakukan bila ibumu meninggal? cari sebuah dadu jadilah pelawak ===Lihat Tabel 2. Lampiran I.===

V.

Apa yang akan kau lakukan bila ibumu meninggal?

Chapter Three
(Kisah-Kisah Pra-EPISODE IV)
1

18

Ada apa di sebelah sudut satunya? (Saat itu aku sedang membayangkan akan seperti apa lagu baru dari Radiohead yang katanya akan dirilis tahun 2000 ini. Apakah akan kembali pada hentakan grunge rock seperti pada album Pablo Honey atau kembali dalam dan depresi seperti pada album The Bends atau menambahkan eksperimentasi suara yang lebih sinting daripada album OK Computer?) Seperti halnya aku pernah menulis puisi berjudul Lobi lobi , itu lama sekali. Perubahan puisi dari satu gaya ke gaya yang lainnya terjadi begitu cepat dari semenjak pertama kali aku menulis puisi pada umur 17 tahun. Lobi-Lobi adalah puisi pertamaku, kemudian menyusul puisi-puisi lainnya hingga 23 puisi selama 3 bulan dan lantas kubukukan, kuberi judul Closet, sub-judul Kumpulan Puisi Picisan Karya Penyair Edan, difotokopi, disampul seperti diktatdiktat sekolahan, kubagikan pada teman-teman. Dan gayaku lantas berakhir pada wilayah schizophrenic dan absurd. Seperti yang akan saya ceritakan pada bagian-bagian selanjutnya. Hal ini seperti keinginan yang menyeruak terus menerus dan tak bisa dihentikan meski ada bergumpal-gumpal halangan. Penyebabnya hanyalah satu: dendam atas kehilangan Samantha dan Babak-babaknya. Bukankah pernah kukatakan bahwa di sebuah keinginan lain ada kekeliruan yang menyeruakan keinginan lain. Seperti aku ingin mengubah diriku menjadi Semar – Siti Jenar – Gatolotjo – Nietzsche – John – Malkovich – Fiktif – Gairah Yang Meluap – Tuhan – Satu-satunya Tuhan – Dewa-Dewi. Lalu kubunuh beberapa ego disini, menjadi Samantha yang terpecah pecah, menjadi Eva, If, Truly, dan The Blonde (Si Pirang ) serta beberapa wanita lainnya yang akan muncul di bukubuku selanjutnya. Awalnya aku membuat Samantha Story sebanyak 5 babak. Tiga belas episode untuk setiap babak. Begini, tiga babak terakhir dari Samantha Story menghilang. Aku mengalami kegelisahan dan writer’s block selama setahun dengan kemarahan dan dendam yang meluap-luap. Lalu

19

kupaksakan membuat kumpulan puisi lainnya seperti Samantha Story, tapi kuberi judul MyOwn Stories dengan putus asa yang meninju ninju benak dan rasaku. Kegelisahan yang diwajarkan oleh sebuah netralisasi – penggaraman – menambahkan satu sachet Nutri Sari kedalam satu galon Aqua. Aku gagal, tak pernah terpikir lagi seperti tiga babak terakhir itu. My-Own Stories hanya tercipta 2 babak. Lima episode untuk tiap babak. Meskipun aku merasa bahwa karya ini tidak sehebat Samantha Story tapi kemudian aku menemukan sesuatu di Episode IV babak kedua. Karya ini mengalami pengembangan yang tidak terduga sebelumnya yang kemudian menjadi awal dari sebuah novel yang sedang kubuat ini. Episode IV Iah yang mungkin sanggup menahanku untuk bunuh diri kembali sebab telah kutemukan Don Quixote dalam diri Don Miguel Cervantes, Zarathustra dalam Nietzsche, Frankenstein dalam Mary Shelley, Ibn Hakkan Al-Bokhari dalam Borges dst... dst... Aku dalam Diri-Ku, sangat mungkin. Aku dalam Diri-Ku adalah keinginan keinginan mendasar seperti Agnes dalam Kundera atau Dhimas dalam Supernova. ***

Beberapa Samantha yang terlepas dari babak babaknya;

20

Menghilangnya Sebuah Dosa Darah tercecer Dari rahimku Darah tercecer Dari mulutku Darah tercecer Dari rasa kasih tanpa makna (Aku menguap) Darah tercecer Dari keengganan berproses Darah tercecer Darah tercecer Kelam menusuk lambung Aku hilang lapar dan limbung Aku memaknai dendam sebagai cahaya Darah tercecer Dari hina dari tawa Samantha :"Aku mengandung, Joey." Joey :"Benarkah?" Samantha :"Sungguh! Apakah kau senang?" Joey :"Tentu saja sebab akan ada pembunuhan baru!" Darah tercecer Darah tercecer Dari kandungan Dari janin suci Darah tercecer...

21

Bandung, 21 Maret 2000 *** III. Samantha sedang mengalunkan sebuah dusta diantara selangkangannya Lalu menyembur seonggok bayi Mengaum Meneriakan lagi dusta Samantha Aku tak ingin lagi melihat Sampai seberapa buruk wajahku menatap keindahan Dusta Samantha. IV. Samantha sedang bercinta dengan diam Ketika kuceritakan tentang laut Dan gelombang samudera Tak kukatakan diam Samantha padamu Sebab keheningan hatinya Membuatku menjadi mati. V. Aku kutuk kau menjadi bidadari Agar kau tak rayu aku lagi, Samantha! Dengan senyum busuk ragumu Biar kau terus berdusta padaku Memohon Mematahkan ranting ranting Membunga Aku kutuk kau menjadi bidadari Lalu kupuja Dengan dada Menghuni sujud Diantara dua keangkuhan. Bandung, 22 Januari 2001 *** Sekelumit kering tertimpa cahaya bulan

22

Aku menatapnya dengan hanya seonggok debu Berlinang kesakitan yang menapakkan tubuhya Di balik jari jari peradaban Sekelumit kering Kutatap hanya dengan seonggok debu Mengantar paruh tidurku Terlena cahaya bulan Melinangkan darah diantara kaki kakinya Lelah aku diatas kubur ini Yang sebentar menarikku Kedalam curahan cinta sucinya Sekelumit kering Memintaku untuk mengalah pada waktu Yang kian merajaiku dengan dendangan detaknya Aku jadi mengering Dengan sekelumit kering Membimbingku menyatakan gersang Pada salju terbungkus awan hitam Menggumpal menjadi tanya Yang kujawab dengan pertanyaan tentang cinta suci Kemboja putih Senandung daun, rintik rintik rindu Ban dupa menyengat Hitam kelam Kau akan segera pergi, Samantha? Bandung, 22 Januari 2001

Beberapa Samantha Yang Berhasil Diselamatkan Yang terlepas lepas itu kucoba satukan menjadi babak babak baru tetapi tak kunjung berhasil. Entahlah! Berbagai cara telah kucoba... Inilah satu satunya solusi mungkin untuk kembali ke

23

awal abad yang kau pijak sekarang, selain mungkin kelelahan beberapa orang untuk menghuni kembali sujud sujudnya. Aku mungkin akan sedikit mengulas sedikit watak watak Samantha dalam beberapa fragmen dari dua babak awal yang masih ada yaitu Babak I dan Babak II. Naskah ini kutemukan masih dalam tulisan asli tanganku, dan sudah banyak merobek dan lusuh disana-sini dalam sebuah lemari di kamar temanku. Dan hanya ini yang berhasil kuselamatkan, sebab banyak episode-episode yang hilang entah kemana serta beberapa sudah tidak bisa dibaca, meskipun begitu kupikir hal ini cukup untuk sedikit mengenal watak samantha dan setiap metode bunuh dirinya dalam setiap episode, ini penting sebab Samantha akan menjadi tokoh utama dalam karya-karyaku selanjutnya.

Babak I:
Episode II Samantha Teriak (Sekuel Samantha) Samantha kembali berteriak "Joey, aku ingin mati." Joey balas berteriak "Matilah! Aku tidak peduli." Samantha bergumam "Baiklah, aku akan mati tapi indah dan kau ikut." Joey balas bergumam "Samantha, aku tidak kenal kau yang sekarang. Lantas, siapa kau?" Joey mendekat Samantha merangkul bayangan Joey Samantha berteriak di telinga Joey "Aku Ruh Kematianmu! " Joey meninggal dunia dalam rangkulan cinta Samantha Joey mati muda Samantha teriak

24

"Joey, jangan mati!” Bandung, 20 Mei '99 Tengah Malam Episode IV. Celetuk Burung Beo Betulkah bambu jadi pentung jadi suara Betulkah malam jadi kalam jadi salam Betulkah subuh jadi tabuh jadi ruh Betulkah siang jadi radang jadi karang Betulkah pagi jadi mimpi jadi mati di pagi hari Aku, beo, Mati. Bandung, 21 Mei '99 Lewat Tengah Malam Episode VII Samantha Sendiri Ini aku, pikir sebuah novel ternyata bukan Ini Samantha Story And Joey has passed away Aku, Samantha, menangis Berang mataku Di atas kuburmu Kulecutkan bibir kemaluanku ke atas nisanmu Kukecup kau Joey, aku menggelepar Kupicu pistol airku, menyemprot braku Aku hampir orgasme Kutembak kau, Joey! Mati kedua kali ketigakeempatkelimakeenam...

25

Aku orgasme, peluh,desah,nikmat Mati! Joey! Yes, Sweetheart! Where are you? Aku di atas kematian kejantananku Tepatnya? Aku jelas mati. Oh! Joey aku gila, aku bicara sendiri Aku tidur kelelahan di atas kuburmu, bugil Bulu buluku tertidur Braku tertidur Kemaluanku terus meminta penetrasi, dalam dalam, Joey! Oh, Joey! Aku mimpi orgasme terus menerus Denganmu Yang mati. Bandung, 21 Mei '99 Lewat Adzan Isya'

Episode XI. BallPoint Blood       Darah bercucuran Menulis kata menulis kalimat menulis cerita Kematian Dan Mati!

26

Bandung, 22 Mei '99 03.00

Babak II
Episode II Samantha Khayal Aku hidup hanya sebentar Dan mati kembali Sebab Aku masih khayalan dalam mata Samantha Keegoanku kembali memuncak Dan orgasme tak berkesudahan Aku masih Joey dalam mata khayal Samantha Aku gila! Aku bunuh diri Dan Mati Bandung, 23 Mei '99 23.30 Menjelang Tengah Malam

Episode VI. Dan Tiba tiba..., Samantha Dan tiba tiba waktu berubah menjadi tarian Tarian jingga penari nakal Tarian hidup awan awan tak berakal Tarian jiwa pohon pohon siklikal Sudahlah!

27

Hentikan omongkosongomongkosongmu itu, Samantha! Hentikan penantian busukmu itu Ayo! Menarilah Ikut menari Menari bersama mentari menari meliuk bergoyang memeluk angin angin kesucian mu Hai, Perawan! Jagalah sucimu dari masturbasi bersama khayalan kosongmu itu! Ayo! Menarilah bersama waktu Ikuti gerak geraknya! Samantha terdiam di pojok ruangan terduduk merenung dan tiba tiba... Waktu berubah menjadi mati Sebab tarian tak lagi bergerak melenggok Tercengang melihat pandangan sinis Samantha Dan Samantha pergi ke alam khayalnya kembali Memulai pertunjukan kematiannya Dan tiba tiba waktu berubah menjadi tarian. Tarian kematian dan Tiba tiba semua mati. Bandung, 24 Mei '99 04.15 Dini Hari Menjelang Shubuh

Episode XI. Kelopak Abadi

28

Kamar berbisik pada gelas kotor yang tergeletak. Mencurahkan kemantapan kata katanya pada sekian penghuni bisu di rengkuhannya. Indah cerita hidup penidur yang bermimpi kenyataan berkhayal. Lama terpejam, katanya, membuainya bermimpi. Memimpikannya. Keangkuhan sosok tergolek berkelopak mata lebar menutupi seluruh bola bola matanya. Lalu kamar berteriak bangun pada sang penidur seraya melemparkan gelas kotor. Sang penidur terkejut bangun, sebentar menggeliat, mengerjap, dan tidur kembali. Kamar berteriak teriak. Kosong melanda kesunyian. Hanya sang penidur yang bermimpi tertidur di kamarnya yang ribut dalam ketenangan abadi. Kamar menangis. Air matanya membanjiri kemaluan sang penidur. Hingga kamar mati. Dan kelopak abadi pun tak kuasa menahan mati. Februari '98 Episode XII. Dua Dua Kali Kau Menatap Sampul depan rokokku, mati! Dan kau menyeringai, sekali Sekali lagi walau sekali lagi Aku ingin katakan Bahwa ruang telah tiada Dan cinta telah terlepas, menabuh Menggeliatlah hari harimu Karena waktu baru bangun dari tidur panjangnya Sudahlah! Mari kita bunuh kecewa Atau ranjang kita bakar Atau kau sendiri bunuh cintamu Sudahlah! Mati sajalah! Mati. BIP Bandung, 18 Mei '99 Episode XIII. (Epilog) Sebuah Empati Untuk Samantha Buku buku berserakan

29

File file dalam komputer sudah saatnya di-defrag Dan Samantha sedang bersuci di kamar mandi Sehabis bermasturbasi dengan suara suara dengung kegagalan ego Dan kurasa kepedihan masih membekas dalam air mata kemaluannya Tanpa celana dalam dia akhimya susuri jalan menuju rumah kematiannya sendiri Berharap mati Karena frustasinya semakin menjadi Ah, Samantha! Jangan biarkan aku menangisi kepergianmu Sebab aku tak akan menangis Air mataku sudah habis kau serap Jadi kau tak boleh mati Sebab angkasa tak lagi sanggup menciptakan kau Sebab kau adalah ruh cinta ruh jiwa ruh dunia ruh keabadianku Sebab kau adalah dewi bagiku, aku memujamu Jadi bersemedilah dengan tubuh telanjangmu Carilah kembali jati sejatimu Jadi kau tak mati Sebab kau tak boleh mati Samantha, meski aku sedih Kau tak boleh menjadi jadi Kau tak boleh mati Sebab tak kuizinkan kau mati! Bandung, 23 Mei '99 04.45 Menjelang Shubuh

Chapter Four
(I Wanna Make Love W/-whom?-U?)

30

Aku pernah mengenal beberapa penulis, kebanyakan penulis essay, cerpen, atau puisi. Ada salah satu penulis yang paling kukenal bahkan teramat dekat denganku. Beberapa waktu lalu dia bertemu denganku di sebuah langit berbuih (kau bisa membahasakannya dengan istilah “beer”) dan sketsa-sketsa malam yang berwarna-warni (kau mungkin biasa menyebutnya ganja, atau marijuana). Dia seorang wanita yang sangat (kalau boleh kukutip Baudrillard) seductive. Atau kalau kukutip Gateauxlotjo; libidinal. Boel menyebutnya tubuh yang cerdas. Aku bertanya padanya, ”Kau lebih sepakat dengan teori Geocentrist atau Heliocentrist?” sambil membayangkan sebuah dialog imajinatif antara Copernicus dan Galilei. Dengan tegas “gadis” itu menjawab, “HELIOSENTRIS!” Cukup! Tanpa harus bertanya lebih lanjut pun aku sudah bisa memutuskan. Wanita ini yang kucari selama ini, kata salah satu benak yang mulai mengurai beberapa wacana ambiguitas kekesalan. Mereka defrag beberapa kembaran ideologinya. Wanita yang lebih memerlukan bumi ketimbang matahari, bagiku, tak lebih dari sekedar wanita pesolek dan mempunyai high-fuckin’-seduction dengan otak berisi busa dan kecambah. Apa bedanya dengan barbie-barbie balon dengan fasilitas vibrator di vaginanya – kalau beli hari ini bonus satu tube minyak lubricants anti kuman untuk masturbasi dan analsex. Selebihnya aku akan memperkenalkan wanita penulis yang helio-mania tadi dengan nama yang selama ini kita kenal lalu mentransformasikannya ke dalam sebuah gerhana seks total. Aku tidak tahu nama aslinya, tapi dia sangat exist dengan dengan nickname Enny Arrow, lebih terkenal daripada Toer, Nietszche atau bahkan Gibran sekalipun saat itu. Hampir setiap orang pasti pernah membaca karya-karyanya, meski tak seorang pun tahu siapa penulisnya. Transformasi yang kubuat untuknya merebut satu parsial keindahan dari tubuhnya. Hanya itu! Aku bisa mengatakan bahwa dari perspektif fisik tampilannya biasa saja dengan cashing yang

31

sederhana, seperti ketika kau harus memilih antara body nokia dengan ericsson, kau pasti memilih nokia. Nah, dia itu kurang lebih ericsson. Kecerdasan yang dimiliki ericsson saat itu bisa dikatakan lebih mapan ketimbang nokia. Mempunyai idealisme yang tinggi serta lebih menonjolkan fungsi ketimbang body. Tapi ada kecerdasan lain yang dimiliki Enny yang tidak dimiliki mobile-phone manapun (atau wanita manapun). Dia memiliki kecerdasan tubuh! Harus dibedakan antara body sexy dengan body sexist. Jadi bila kau menyuruhku memilih telepon genggam (atau wanita) maka kupilih Enny, setelah Ericsson. Helio atau matahari, yang tediri dari atom-atom helium, hasil dari fusi inti atom hidrogen diantarkan berupa gelombang-gelombang foton yang akan terurai menjadi warna pelangi saat mengalami interferensi gelombang pada sore hari sehabis hujan yang menghabiskan awan di barat laut pada bulan januari. Dari beberapa literatur konservatif, kitab suci Semitisme dan sedikit literatur post-modern, kita ketahui bahwa malaikat diciptakan dari cahaya. Para newtonian dan beberapa einstein-minded mengatakan bahwa cahaya bergerak dengan sangat cepat sehingga mata kita hanya menangkap titik awal, misalnya matahari, dan titik akhir, misalnya objek batu di tengah lapangan base ball. Mereka juga percaya bahwa apabila kita bergerak dengan kecepatan yang sama dengan cahaya maka kita akan bisa melihat cahaya itu. Enny adalah, dipercaya sebagai, seorang malaikat bagi penggemar fanatiknya, seperti misalnya aku. Layaknya cahaya, siapapun hanya melihat titik awal, yaitu nama “Enny Arrow” itu sendiri, dan titik akhir, yaitu karya-karyanya yang penuh dengan gairah dan lendir. Perlu waktu yang lama bagiku untuk mengimbangi velositas pergerakannya agar bisa melihat wujudnya. Hingga saat itu aku bisa bertemu dan berdialog intim dengannya. Aku percaya bahwa kekuatan itu, semuanya, terletak di dalam otak dengan konsentrasi yang penuh, berlatih dengan tekun dan mentransformasikan tubuh menjadi se-sifat cahaya, lebih halus dari para elf yang menduduki hutan sancang, lebih halus dari jin yang tercipta dari asap-asap dupa. Otakku memerintahkan seluruh molekul yang ada di tubuh untuk merenggang... merubah energi partikel menjadi gelombang-gelombang... meliuk-liuk seperti ketika foton dibiaskan hujan dan

32

genangan air, menjadi pelangi... bidadari sedang mandi… pancuran yang berwarna-warni.... bidadari bermandi gelombang foton... Setelah berhasil menemuinya, aku mengajarkan padanya bertransformasi tubuh menjadi sesifat manusia, menjadi padat, melekat, menerima gravitasi bumi. Tapi beginilah jadinya, seperti yang telah kukatakan tadi, setelah dia berhasil bertransformasi, hal itu hanya merebut satu parsial keindahan dari tubuhnya (sama ketika kau melihat Jin yang bertransformasi tidak sempurna dan kita menerjemahkannya sebagai hantu tanpa kepala), kemudian mengantarkan Enny pada sebuah gerhana seks total. Begitupun yang dikatakan olehnya setelah aku selesai bertransformasi menjadi sesifat cahaya. Ya, tapi minimal aku mendapatkan beberapa hal penting, yang sebelumnya tak kuketahui; - wanita itu, Enny, heliosentris (berpusat pada matahari atau cahaya) - sangat indah dengan bentuk mobile-phone - kecerdasan tubuhnya tak terkirakan (tak terbahasakan) - titik awal dan titik akhir menjadi kurang begitu penting kalau dia sudah bertransformasi - jangan pernah dimanusiakan sebab akan menyebabkan gerhana seks total - dan mengingatkanku akan meleburnya Siti Lemah Abang menjadi sebentuk cahaya (sebuah koinsiden kontra-melankolis, sebab saat itu aku menyadari bahwa cintaku pada Enny akan segera melebur). Ini hanyalah ingatan-ingatan yang muncul dengan deras ketika aku bercinta untuk pertama kalinya dengan Enny. Selanjutnya tak lebih dari sekedar bercinta dengan barbie-barbie balon dengan vibrator dengan bonus kondom berkepala Lucifer. “Maukah kau bercinta denganku malam ini?” ***

A Tribute to Enny Arrow Dia begitu tasty, setiap bagian tubuhnya mempunyai rasa yang berbeda-beda, bibirnya berasa

33

bunga sedap malam seperti aroma massage oil yang membungkus seluruh lekuk tubuhnya, lidahnya manis dan bergerak sekenyal permen Yuppie yang tak habis-habis aku kulum, aku kunyah, rongga mulutnya menggiurkan membuat kelenjar ludahku mempercepat proses produksi cairan yang mengandung enzym ptialin serta beberapa puisi dari Janis Joplin, mengalir terus hingga ke jantung dan meledak tepat di saat wajahnya berada pada engel terbaiknya, memperlihatkan ¾ sisi kanannya seperti Venus saat turun untuk pertama kalinya lagi ke Bumi. Payudaranya berasa asin lembut dan merah seperti cabe muda baru dipetik, agak pedas, membuatku menjilat lagi dan lagi...sedikit gigitan membuatnya menggelinjang, memperlihatkan gairah masokis teredam yang sudah ada dalam fantasinya semenjak kecil. Kususuri terus bagian-bagian tubuhnya, rasanya seperti sungai Nil, begitu panjang. Lidahku terus menyentuh permukaan sungai yang suhunya berubah-ubah sesuai dengan perubahan gairah-gairah dimana selama ini dia sangat sulit untuk menerjemahkannya. Mengalir pelan, lalu cepat, lalu sangat cepat, air terjun, danau, sungai landai, muara, laut... Laut ini berada di vaginanya; seluruh rasa paling enak di Bumi bersatu, tercampur sempurna lantas meledak pada saat laut sedang tenang kemudian menimbulkan gelombang dahsyat yang bisa menghancurkan pulau kerinduannya dalam sekali hantam. Seluruh rasa itu menebar di seluruh bagian selangkangannya, lidahku pun nyaris meledak menikmati rasa yang begitu ramai ini, kompleks dan misterius. Lamaaa sekali... aku mempermainkan lidahku disana, sementara tanganku menggelitiki puting-puting merah mudanya, mencoba menerjemahkan setiap rasa yang ledakannya mengubah segala persepsiku tentang rasa setiap detik, setiap detil... Lantas ada satu rasa bernama Sexy meluntur pada lidahku gara-gara vaginanya menggelinjangkan noktah kesadaran terjauhku akan Nirwana, hingga setiap bulu kuduk berdiri satu persatu nyaris serentak. Aku terdiam, cukup lama, berhati-hati akan sensasi berikutnya yang berisi spekulasi-spekulasi mengenai segala rasa yang mungkin akan kudapatkan lagi.

Nyatanya, aku malah tak bisa orgasme, malah mikir terus dan mencoba membayangkan kalo

34

ini ditulis jadi kayak gimana ya... hahahaha... akhirnya, gagal lah orgasmeku malam itu berikut karet penolak kehidupan ini mengganggu sekali...ahahaha...

Tapi meskipun begitu, ini adalah persenggamaan terindah dan tersakral dalam hidupku, If-ku tersayang...

Chapter Five
4 Metode Bunuh Diri Paling Beresiko Tinggi - Niskala’s Testament

35

Pada pertengahan tahun 1999 saya mulai mengerjakan sebuah antologi puisi fragmentik dari kehidupan seorang wanita. Wanita ini adalah penjelmaan dari entah berapa banyak wanita yang pernah saya temui selama 20 tahun hidup saya. Kejadian selanjutnya sungguh di luar dugaan, Samantha, nama yang saya berikan untuk tokoh wanita dalam antologi puisi ini, memprovokasi saya untuk melakukan rekonstruksi berulangulang atas kematian kekasihnya, Joey. Joey adalah sahabat saya, tinggal di Amerika untuk menyelesaikan studinya, meninggal setahun sebelumnya dan mewariskan boneka sex nya pada saya. Kemudian saya meniupkan sebagian ruh saya untuk membuat boneka itu hidup. Lalu saya namai dia Samantha. Rasa kehilangan atas kekasihnya begitu tinggi, setinggi keinginannya untuk kembali mati dan terus-menerus menyalahkan saya karena memberikannya setengah kehidupan saya. Meskipun saya tahu bahwa dia tahu kalau saya tahu tentang sejauh mana pengetahuannya mengenai keadaan saya setelah meniupkan setengah hidup saya padanya, memberikannya dengan tulus, saya harus menempuh resiko kehilangan setengah hidup saya. Dia tidak tahu bahwa gara-gara hal itu keadaannya dan keadaan saya menjadi sama. Semakin kuat dia ingin mengakhiri hidupnya, semakin terdorong pula rasa saya untuk mulai memikirkan bunuh diri dengan berbagai pembelaan-pembelaan ketika hal ini menjadi awal pembicaraan dengan beberapa teman saya. Suatu ketika mulut saya mengatakan sesuatu dan sepertinya jauh diluar kesadaran saya, bahwa saya akan melakukan bunuh diri pada umur 25. Teman saya mendengar itu dan dengan agak jengah menantang saya untuk benar-benar melakukan hal itu. Perdebatan berlanjut pada berani atau tidaknya saya melakukan hal itu. Dan karena saya penasaran dengan ramalan yang keluar dari mulut saya sendiri itu, meski dia tidak mengetahui akan hal ini, saya tetap berjanji pada nya bahwa saya benar-benar akan melakukan hal itu. Semenjak saat itu tanpa saya rencanakan sebelumnya, saya mengkonversi Samantha kedalam bentuk Novel dan melibatkan Joey dalam cerita novel itu, melibatkan saya, melibatkan beberapa teman, dan melibatkan tokoh-tokoh baru yang secara brilian, mistis dan sedikit pragmatis, muncul satu persatu sepanjang kontemplasi saya selama satu tahun, sepanjang tahun

36

2000, tahun ketika saya berada pada masa kehilangan identitas karena zaman berubah drastis, kebrilianan dan keajaiban tahun 1999 digantikan kecanggungan dan kegelapan tahun 2000, tahun yang disangka banyak orang akan membawa kejutan-kejutan, dan sangkaan itu kemudian menjadi harapan, pada kenyataanya kejutan-kejutan datang dengan rupa bencanabencana maha dahsyat di kemudian hari. Ajaib, Samantha pada akhirnya malah tidak jadi mati meskipun di setiap akhir episode nya selalu diakhiri dengan kata “mati”. Seringkali memang pada episode-episode penting saya mencegahnya untuk mati. Dan nyaris kematian itu malah membabat saya. Tapi kami berdua, dengan alasan masing-masing selalu berkelit dari kematian itu. Selalu memikirkan kemungkinan hidup dalam setiap metode bunuh diri. Kemungkinan selamat apabila bunuh diri itu dilakukan, seberapa banyak kemungkinan itu. Dan secara licik, kami bekerja sama menyusun semua metode itu dalam sebuah rangkaian mudah dibaca, dan kami beri judul Metode-Metode Bunuh Diri. Kemudian kami menyisihkan beberapa metode yang kemungkinan selamatnya rendah, secara diam-diam dan tersembunyi, meski kami berdua saling mengetahui hal itu, karena masingmasing tidak ingin terlihat pengecut, meski koar-koar yang kami lakukan malah lebih mendera kami dan membuat kami makin terlihat pengecut. Muka kami pucat setiap kali bertemu dengan orang, mudah terkejut, paranoid, obsessive compulsive disorder, schizophrenia, lalu secara tidak diduga, Samantha berhasil hidup dari 13 episode, satu kali setiap episode, dikali 5 babak percobaan bunuh dirinya, dikurangi 4 metode terakhir yang sampai sekarang saya sembunyikan dan dia masih mencarinya. Enam puluh satu metode dia kuasai dengan baik, dengan 61 drama yang spektakuler, dia berhasil melakukan setiap metode dan berhasil bertahan hidup, sesulit apapun metode itu. Sementara saya, yang benar-benar mengetahui hal ini, setiap gerak Samantha, setiap detilnya, apapun yang dia pikirkan, apapun yang dirasakannya, saya pasti mengetahuinya, dia sudah tidak punya lagi rahasia yang tersisa pada saya, saya semakin terpuruk pada kekecewaan terhadap diri sendiri akan kepengecutan itu, menistakan diri pada hal-hal kotor dan kemudian benar-benar berharap mati tapi terlalu pengecut untuk mengerjakannya sendiri. Bahkan terlalu pengecut menghadapi kematian apabila kematian itu benar-benar datang mendekat. Dari obsesi menjadi ketakutan dan secara random terus berubah-ubah, menjadi harapan, menjadi spirit, menjadi simbol, menjadi teori, menjadi omong kosong, menjadi perjalanan panjang, menjadi drama-drama sentimentil dan

37

norak, menjadi mistis, menjadi putus asa, menjadi betul-betul terpuruk… Lalu sepuluh tahun berlalu, kematian tidak pernah benar-benar datang pada saya, semua bergulir menjadi wacana, menjadi cerita, menjadi tokoh-tokoh baru pada novel yang terus berkembang, tak berkeakhiran. Sadar ataupun tidak, ingin atau tidak, secara misterius saya patuh pada keadaan ini, bertahan hidup. Dan saya kemudian mengkonversikan beberapa metode yang dilakukan Samantha pada diri saya sendiri yang menjadi salah satu tokoh dalam novel yang terus berkembang ini. Lalu memilih 4 metode dengan resiko yang paling tinggi. Bunuh diri dengan resiko tinggi saya artikan disini sebagai bunuh diri dengan tingkat kemungkinan hidup paling tinggi tapi mengakibatkan tingkat kerusakan yang sangat parah, misalnya menyebabkan cacat-cacat tertentu dan permanen, tentu jauh lebih mudah mati daripada menjalani hidup seperti ini, setidaknya itulah yang saya pikirkan selama ini. Samantha benar-benar mencoba semua metode itu dengan harapan bisa bertahan hidup meski kebanyakan resiko yang harus dia terima adalah cacat, sakit dan luka, ternyata baginya hal itu tidak lebih daripada sekedar test, sejenis tempaan seperti pada pepatah lama kudu meurih lamun hayang boga peurah harus perih kalau ingin berbisa, dan untuk itulah ini semua baginya, menjadi manusia utuh, karena setiap luka, setiap sakit, setiap cacat yang dia terima, berarti penempaan, penggojlokan, dan metode ini benar-benar berhasil membuatnya hampir menjadi manusia yang utuh, seperti kebanyakan manusia lain. Dan beriringan dengan itu, sedikit-demi sedikit, ruh saya semakin berkurang, berpindah padanya. Ternyata tanpa kami berdua sadari, secara otomatis Samantha mengambil sedikit demi sedikit bukan hanya ruh saya tapi hidup saya, badan saya, setiap kali dia selamat dari bunuh dirinya. Setiap luka, setiap sakit, setiap cacat yang seharusnya diderita Samantha malah menimpa saya, dan tak ada satupun dari kami berdua yang bisa menghentikan proses ini. Saya seperti disedot lalu pelan-pelan menghilang. Hingga saat ini, saat dia hampir utuh menjadi manusia dan yang tersisa dari keseluruhan saya hanyalah mata. Saya tak bisa melakukan apapun meski saya bisa melihat semuanya dan Samantha bisa melakukan segalanya kecuali melihat. Tapi dengan cerdik, pada 4 terakhir metodenya, meski saat ini dia tahu bahwa keempat metode itu akan membabat habis sisa-sisa saya, dia melakukannya dibelakang saya. Dan hal terakhir yang akan saya pertahankan dari hidup saya, dan tidak boleh siapapun memilikinya, Samantha

38

sekalipun, adalah penglihatan. Dan ini tak bisa ditawar lagi. Ini saatnya bagiku untuk berkelit dan tidak terprovokasi untuk memikirkan ke-4 metode bunuh diri ini. Dan terus mengawasi Samantha yang membabi buta menggunakan 4 metode terakhir itu, mencari-cari saya dalam kegelapan dan saya terus berkelit dalam terang benderang bersama tokoh-tokoh baru, melupakan Samantha yang tidak pernah berhasil melakukan 4 metode terakhirnya. Samantha bertahan hidup dalam kebutaan kemudian bertamasya dalam hiper-realitas novel yang terus berkembang ini, terjebak disana, meski sebenarnya lebih tepat dengan kalimat saya jebak dia disana. Saya sendiri hanya bisa melihat keseluruhan itu, tanpa bisa melakukan apa-apa, terjebak dalam tingkat tertinggi ketakutan saya selama ini. “I’m just the eyes of the universe tapi betapa cerewetnya mataku dan betapa heningnya itu, Sayangku…!”

Chapter Six
Tentang Serpih-Serpih Fiksi Yang Saya Temukan di Laci Kamar Niskala

39

VI.1. (Menanti Eva di tengah kering Waiting for Eve in The Middle of Dry) 1.1. Solo, 9 Agustus 2000 Panas sekali disini... aku lari kesini dengan hampa tanpa daya dan kehancuran aku tak lagi bisa membuka kelopak mataku keningku bersimbah keangkuhan tanpa cinta tanpa air mata aku mengering di musim panas ini haruskah aku kembali...? Jogja, 12 Agustus 2000 juga musim panas... ternyata aku masih mengering dalam bus travel ber-AC yang kurasa sangat menyesakan setiap hirupan nafasku Kawali, 20 Agustus 2000 di kota kuno ini aku dapatkan pencerahan kucoba membunuh diriku tapi tak berhasil... aku dipulangkan! Jakarta, 25 Agustus 2000 sedang musim kemarau... aku menangis betapa rindunya aku dengan musim kemarau meski aku jadi semakin mengering

40

Bandung, 27 Agustus 2000 hari pertamaku kuhabiskan dengan meminum dua gelas kopi tubruk dan sebungkus rokok kretek dengan memandangi lalu lalang peradaban di hadapanku bersama seorang anak kecil lusuh yang berjuang dengan bahagia membagi masa kecilnya dengan sepiring duka yang tertawa seperti aku...? Cianjur, 29 Agustus 2000 disini, di kota asalku di pangkuan ibuku aku menghembuskan nafas terakhirku (kurasa...) dalam kekeringan yang amat panjang "mama, mana surgaku? mana telapak kakimu? aku rindu engkau... aku rindu surga... aku rindu eva... aku rindu tuhan! 'kan kubasuh kakimu, mama dengan cinta dan air mata kerinduan biarkan aku memelukmu, mama! biarkan aku bersujud di pangkuanmu"

1.2. Kusangka aku telah mati

41

bersama segala perih hati tetapi selimut putih itu mulai membuka lagi tak lagi menutupi sekujur tubuhku ah... betapa sejuk disini! surgakah ini? doa ibuku kah ini? 1.3. Semuanya berawal dari keraguanku untuk menyatakan cinta pada Tuhan. Akhirnya Tuhan pun memberikan sebuah nama dan menyuruhku mencarinya hingga kudapatkan. "Untuk keutuhanmu," kata Tuhan, "Bila kau menemukannya, cintamu padaku akan sangat utuh, dan penuh..." Aku terharu, sambil menyandarkan kepalaku di atas trotoar di malam Jumat itu. Aku tak bisa tidur, keluar kamarku dan merenung di pinggir jalan Merdeka, sambil tiduran menatap purnama yang malu-malu diselubungi awan hitam, akan hujankah? Aku tak peduli! Yang kupikirkan hanya sebuah nama, "Eva..., Eva..., Eva..., dimana, siapa, harus kemanakah aku?" Sebuah harapankah ini? Hingga aku tertidur disana dengan sebuah mimpi, ... Aku terbangun pagi harinya, dan dengan setengah mengantuk dan setengah berlari ke kamarku sambil berseru, "Aku tahu... aku tahu... aku tahu..." 1.4. Setelah dibelah, Adam dan Eve (Eva) sangat merasakan ada sesuatu yang hilang dari masingmasing dalam diri mereka, entah apa? Tak terjawab sampai ketika tiba-tiba Iblis datang dengan soundtrack lagu Love Foolosophy dari Jamiroquai. Dengan tampilan seperti dalam stiker Jamiroquai; merah, tengil, lucu, senyum jahil, funky, infotainer, bertanduk, ekor panah, trisula yang tampak lebih sebagai aksesoris ketimbang senjata. Soundtrack itulah yang langsung menyadarkan Adam dan Eva tentang hal yang hilang itu. Hal yang ternyata bodoh menurut mereka sehubungan dengan daya pikir mereka yang teramat besar saat itu.

42

Tapi mau nggak mau, dengan tanpa tendensi apapun, mereka sangat membutuhkan hal paling bodoh itu untuk membuat mereka merasa menjadi satu kembali, return to unite. Saat itu juga mereka meng-SMS Tuhan untuk membuat janji temu. Tapi sepertinya Tuhan sangat sibuk saat itu hingga reply-nya baru mereka terima tengah malam: Sorry,gw lg sibuk brt!gak bs ktemu dkt2 ini..ada apa? Reply: ttg cinta, god! :-) send, message sent 1 message received, report, delivered, erase report, ok! 1 message received, read! Oh itu. keywordnya buah khuldi yang gw larang kalian makan itu, guyz! makanya belajar SEMIOTIKA! kalian hrs milih, HEAVEN or LOVE ? ;-p Sender: you-know Options, erase, ok! 1.5. Boneka seks itu tiba-tiba hidup. Eva (If) menjerit memandangi cermin bergambar Samantha. Kering, pucat dan balon. Adam masih menikmati keluarnya tinja dari duburnya, asap rokok merah muda membentuk huruf “SURGA” mengepul dari mulutnya, bersenandung: “u can try the best u can… if u try the best u can… the best u can is good enough…” dengan beberapa fantasi menikmati suasana dunia bersama If dengan cinta dengan tubuh sempurna, manusia! Iblis beralih profesi dari infotainer menjadi rapper. Selesai sudah satu masalah, aku terbaring! 1.6. Kutemukan secarik kertas dipangkuanku, secarik kertas yang penuh dengan coretan pena, yang ribuan kali sudah kubaca. Dan selalu baru setiap kali aku membacanya, meski lusuh, meski hampir menjadi seonggok debu tak berarti. Tapi bagiku meski begitu, akan tetap berarti dan akan terus terngiang di benakku. Secarik kertas berisi puisi tanpa judul yang diberikan seorang wanita ribuan tahun yang lalu, ketika surga masih kupijak, masih kurasakan keindahnnnya! aku dan engkau adalah satu dan dicerminkan dari cinta Tuhan kita adalah satu jiwa yang terbelah !

43

dan takkan menyatu kembali sebab Tuhan telah cukup membuat kita merasa menjadi diri-Nya... Setengah dari puisi itu telah dirobeknya dan diambil olehnya. Hingga sekarang belum kutemukan, dia ataupun robekan yang setengahnya lagi. Hingga sekarang... 1.7. If menyusuri dunia-dunia bayangan, bertebaran bagai mimpi penuh warna-warna terang nyaris menyilaukan, menggadaikan persepsinya tentang objek pada mata-mata yang berputar disekelilingnya. Waktu meledak seketika saat kendaraan super cepat yang ditumpangi If berhenti seketika. Ledakannya akan terus bergaung hingga beberapa puluh tahun ke depan, akan selalu diingat dalam setiap perayaan kelahiran dan kematian. If terbangun tiba-tiba, kepalanya terbentur kesamaran ganjil tentang sesuatu yang nyaris dilupakannya sementara dia tak pernah tahu kapan ingatan itu hadir merekam seluruh kejadian yang tak pernah dialaminya itu. If mengguyur tubuhnya dengan shower, melumurinya dengan sabun... If mengoleskan eyeliner di matanya... If memutar kunci mobilnya... If mengangkat telepon dari nomor yang tidak ada dalam memori phone booknya... If ketakutan saat lampu merah menyala... If menyerahkan satu-satunya harapan pada pertemuan dia dengannya hari ini... If mencium Niskala... If menangisi kejadian-kejadian yang pernah dialaminya bersama Niskala... If kehabisan air mata... If meleleh... Aku terbangun... 1.8. Goblok! Dia emang jail banget... 1.9. Sekali: dia membawa pergelangan tangannya

44

Dua kali: dia menyimpan pergelangan tangannya Tiga kali: dia mengerat pergelangan tangannya Kali keempat aku memergokinya. Stop it, Karna! 1.10. Kan udah gw bilang dia emang jail banget. Goblok! 1.11. Ini akan menjadi salah satu laguku, aku suka memulainya dengan nada E minor terus menerus hingga ketukan loop masuk dan Erva mulai memainkan biolanya pada titik terjauh psikedelisasinya (aku tahu itu sebab pernah memergokinya menyuntikan heroin pada urat nadi di tangannya, tapi kubiarkan saja). Gitar Ervi menyeruak diantara dengingan melodi dari Karna, keduanya bercinta tepat di saat Yane melakukan handjob atas tuts-tuts piano dihadapannya dengan gairah kehampaan yang dimilikinya semenjak kekasihnya meninggal dalam kecelakaan pesawat tahun lalu. Lalu aku mulai berteriak... SEKALI LAGI KUKATAKAN BAHWA DOSA TELAH TIADA... SEKALI LAGI KUKATAKAN BAHWA DOSA TELAH TIADA... Dengan dengingan elektronis dari sampel-sampel suara yang ada di dalam program laptop ku. Samantha mulai berkibar pada noktah terindahnya, putih bersih seperti telah diguyur segalon Bayclin, tapi tidak berbau pemutih, melainkan berbau belatung dan cempaka, seperti ketika kematian akan datang, padahal memang begitu, selalu begitu, selalu ketika Samantha datang, maka bau kematian akan menyertai kedatangannya... Ah...aku ekstase diatas panggung, menikmati seluruh permainan cinta yang dilakukan mereka, Erva, Ervi, Karna dan Yane...Percintaan sakralku dengan Samantha. Visual pada layar putih tapi tidak seputih baju bidadari Samantha menampilkan ratusan wajah close up yang berganti-ganti setiap 2 detik sekali, mengerjap-ngerjap... Samantha ada pada semua wajah-wajah itu, wanita-wanita itu. 1.12. Permainan Dadu Terakhir

Pilihan sudah ditetapkan, 6 pilihan, angka sudah dipasangkan pada pilihan-pilihan, kertas sudah dilipat, aku tak melihat komposisi terakhir dari pasangan angka dan pilihan, dadu

45

pertama sudah kupegang, dadu kedua disimpannya dalam genggaman. Matanya berlinang... Dadu kulempar... Jantungnya berdetak semakin kencang... Dadu berhenti berputar... Aku menutup mata.. Dia menjerit... Maafkan aku, Sayang! Aku mengelus pundaknya, merangkulnya... 1.13. Kecaman hingar bingar kembali mengutuk-ngutuk tubuhku melesakkan telingaku 7 senti lebih dalam 7 kali lebih pekak Kucoba enyahkan tetapi kosong Kucoba hilangkan tetapi hampa Aku tak tahu lagi berapa kali aku berucap Brengsek Anjing Sial Bajingan Kucoba terus teriak mengutuk tetapi bisu Aku tak bisa lagi bahkan bergerak Kucoba berlari tetapi lumpuh Kucoba berjalan tetapi diam 1.14. The Re-Birth of Absurdity Berapa banyak kuhabiskan wine di gelas itu Berapa banyak kuhisap ganja di ruang itu Mengalir pada sungai keabadiannya Mendendang puja-puji pada para Dewa Sang Dewa lahir kembali Pada sisi yang lebih nisbi Mendendangkan hati Pada titik yang lebih intim Kami bernyanyi Memuja mimpi Memuja terang

46

Memuja harap Memuja dupa Tak ada lupa Dari lubang-lubang terang Bukan lampu-lampu hilang Utopia keluar dari rahim Menerangi semesta pada silau lampu-lampu blitz Ayo menari= Ayo menyanyi= Ayo berdoa= Ayo bertapa= Berputar Menghilang Menjelma Mencapai Mencipta

VI.2. (Suicidal Project and Its Methods in Time: A Proyek Bunuh Diri dan Metodemetodenya dalam Waktu: A)

47

2.1. Waktu: A Niskala memulai prosesi kematiannya, kamera mulai merekam... Dia duduk diatas kain kafan yang sebelumnya sudah dia bentangkan, Sebuah pisau cutter mengarah ke nadi, proyektor berputar, memutar ingatan masa kecilnya... Method: Bleeding Recommendation: ********** Effort required: not very much set up time, but cutting enough holes to ensure death will take some time. you should probably practice a bit first. Messiness: pretty darn messy. picture an ice-cream pail of blood turned over where you are sitting. Pain factor: pretty high. slow cuts are surprisingly painful. a sharp blade will reduce this somewhat. soon your heart will be pounding like crazy and you will get really cold before passing out. Drama: extremely dramatic, even if you survive. wrist scars look cool on anybody. Certainty of death: not real great. if you cut perpendicular to your wrist veins, you will probably survive. if you cut along the length of your wrist veins they will probably not be able to close up again. even faster and more certain are the inner elbow and the femoral artery. Wimp option: it should be several minutes until you pass out. you could recover fully during any of this time by firmly bandaging or tourniqueting your cuts. Other points: Anti-coagulants would go a long way if you know what to take. (Apparently aspirin is a good one.) Try to avoid mangling your finger tendons and carpal tunnels too badly. Hara kiri (slitting your intestines open with a short sword so that you make a Z-shaped cut, also called "seppuku") is considered one of the most painful ways to kill yourself. Cutting open your carotid arteries greatly speeds your death, but I would guess will probably ensure a stroke if you survive. Flowing warm water prevents blood vessels from resealing. Ingatan masa kecil tentang bapak yang mengidap pedophilia. Menempatkannya di sudut, visi-visi dua dimensi, membatasinya supaya tidak keluar dari garis putih yang dibuat bapaknya setelah memperkosanya supaya tidak bilang pada siapapun..., Gila! Soundtrack: Pseudo-Intertekstualitas Kesadaran(Ketidaksadaran)

48

Hari ini di tengah tengadah kepalaku, kaku Kumulai cerita: (Dengan hampa tak sisa mengantarkan siasat duka Kupelihara dengan cara kata mengurung doa…) Hari ini dengan kepalsuan tajam kubunuh cerita laluku Dengan buaian angin Yang membawa seribu sekarat Kuperintah dia menghentikan tawa padamnya… Hari ini di sunyi bumi Dengan sendiri membunuh kelakar Kukuak sebagian hina yang menempel di semenjak Tak kutakutkan lagi kemantapan gerak Hari ini tak ada lagi: Kata yang menggila Benak yang menerjang Rasa yang meradang Tinggal ruang temaram Tinggal waktu membatu Mencengkeram tubuhku Untuk segera meleburkanku dalam hampa yang tak hingga Apakah aku salah, berdoa untuk mati hanya karena rindu bercumbu dengan tuhan !?!

2.2.Waktu: A Prosesi akan segera dimulai dikamar itu. Ingatan masa lalunya mulai memudar, proyektor menampilkan gambar kosong. Niskala mengambil satu toples obat tidur dan meminumnya sekaligus di atas kain kafan yang sudah dia bentangkan…

49

Method: Drug Overdose Recommendation: ****** Effort required: small. try not to buy more than one bottle of sleeping pills from a single store. Messiness: pretty messy. you will probably barf up whatever you ate. Pain factor: unpredictable. anywhere from none to quite high. Drama: not too bad. you will probably peacefully fade off to sleep, but may just end up puking your guts out. points for tradition. Certainty of death: a bit risky. people are always coming home at the wrong time. if you don't slump over with a bottle of pills or drool blood, you will probably be assumed to be asleep. mixing drugs with alcohol will improve efficiency. tying a plastic bag over your head will guarantee death, though. Wimp option: a bit dicey after you start chugging them down. drinking milk may help a bit until you can induce vomiting. the name of the game is limiting the amount taken into the blood stream. some drugs like Tylenol will destroy your liver fairly quickly, causing an agonizing death in days to weeks. Other points: Sleeping pills are the classic method, of course. Tranquilizers and prescription pain medication work great, but are hard to come by. When shopping, pay attention to the amount of medication per pill vs. the size of the pill. Smaller pills with more medicine means a greater chance of death. Also, look for warning labels that suggest that the product is a downer and should not be taken with alcohol. ...and now a note about heroin. Ingatan masa lalu menyeruak, proyektor menampilkan gambar SAMANTHA Namaku Samantha. Aku single. Tapi ada tanda "Dilarang masuk!" pada dadaku. Karena itu, aku bukan perawan lagi. Aku selalu melarang setiap lelaki menjamah dadaku. Tapi selalu membiarkan mereka masuk kedalam rahimku karena dengan hal itu aku selalu merasa dilahirkan kembali. Dan setiap kali aku lahir kembali, aku berharap lahir dalam keluarga yang berbeda. Tapi harapanku tak pernah terjawab karena aku orgasme. Selalu kenikmatan orgasme jawabannya. NISKALA (TAWANYA BERGELAK) Ha ha ha ha ha… Namaku Lelaki.

50

Dalam benak Niskala cantik, sepi atau single? Sebenarnya wajahnya biasa saja, sederhana dan terbantu oleh penampilan yang cerdas. Rambut yang selalu terurai, mata yang selalu terang di siang hari dan cerah di malam hari. Wajah khas dengan karakter kuat yang mungkin mempunyai garis ras yang asli tanpa terlalu banyak campuran. SAMANTHA Namaku Samantha, aku selalu bertanya "Apakah embun itu yang menggelayut di daun?" Kau tahu jawabannya? Kalau tahu masukan jawaban itu kedalam amplop, kirimkan ke rumahku paling lambat bulan Mei 2001 cap pos. jangan telat ya…! NISKALA (TERTAWA NGAKAK) Aku juga pernah bertanya tentang hal itu. SAMANTHA Namaku Samantha, aku dan engkau adalah satu dan dicerminkan dari cinta Tuhan kita adalah satu jiwa yang terbelah dan takkan menyatu kembali sebab Tuhan telah cukup membuat kita merasa menjadi diri-Nya... Dalam benak Niskala Itu kan isi surat yang diberikan Eva padaku saat itu…

NISKALA Namaku Suicide, akulah kepalsuan Niskala. Aku benda sedang Niskala, Pria. Jadi bunuh diri adalah kata terakhir yang bagus sebab tak pernah bisa kurasakan bagaimana menjadi wanita. SAMANTHA

51

Namaku Samantha, aku masih gadis! NISKALA (VO)

Aku tidak percaya! bicara dalam hati SAMANTHA Namaku Samantha. Aku adalah keindahan yang terbunuh oleh takdir, begitulah aku membesarkan diri. NISKALA Namaku Niskala. Aku adalah takdir yang indah, begitulah aku membesarkan hati. Mereka terus saling memperkenalkan diri, namaku Niskala, namaku Samantha, hingga gambar dan suara membaur hilang dengan cahaya putih menyilaukan, dalam khayalannya, dalam sebuah ruang yang cahayanya dapat diatur mengecil, menerang atau mengerjap-ngerjap, bisa menyilaukan seribu manusia yang belompat-lompat, menari, menghentak, mengikuti beat musik yang dimainkannya di sebuah panggung berukuran luas dan megah seperti kerajaan langit. Itulah awalnya Niskala bermain bahasa jiwa dengan Samantha. *** NISKALA Selama ini orang berpacaran dengan ikatan emosi, kau tahu? SAMANTHA Maksudnya?

NISKALA Ya, saling mencintai, menyayangi atau apalah… Bukankah itu emosi dan bukannya pikiran?" SAMANTHA Ya, benar. Lantas…?"

52

NISKALA Lantas kenapa kita tidak mencoba melakukan suatu hubungan yang menjaga keseimbangan antara emosi dan pikiran. Hubungan intuisi." SAMANTHA Intuisi? Jadi itukah intuisi menurutmu? NISKALA Ya, ketika emosi dan pikiran seimbang. Saat seperti itu manusia kehilangan kendali dan pegangannya. Maka Tuhan memberikan intuisi padanya sebagai pengganti yang hilang itu. Itulah awalnya Niskala mengajak Samantha menjalin sebuah hubungan. *** Samantha pergi dengan diiringi musik yang mengalunkan kibaran baju bidadarinya dan seperti melayang. Melaju dengan kecepatan sederhana seperti laju seorang anak SD di atas in line skate yang dia rengekan pada ibunya di ulang tahunnya yang ke delapan. Padahal Samantha benar-benar memakai in line skate. Niskala melihat ada noda merah di baju bidadari Samantha yang melambai-lambai (Kenapa baju bidadari harus selalu putih dan melambai-lambai?) terkena angin. Noda merah yang menghentak mata, menyentak Niskala. Noda merah yang suatu saat pasti mengejutkan Samantha ketika sampai di rumah dan menemukannya ketika akan mencuci baju bidadari putihnya dalam mesin cuci. Noda merah peradaban yang di berikan Tuhan setiap sebulan sekali untuk membedakan dengan noda putih lelaki yang ketahuan saat kau bangun tidur dan langsung merasa, “ah, sialan aku harus mandi besar shubuh-shubuh begini.” Noda merah yang harus segera Niskala sikapi dengan mengejar Samantha dan menutupinya dari belakang dengan sesuatu dengan gerakan memeluk agar terkesan sangat romantis seperti ketika Rabiah mencongkel matanya untuk diberikan kepada seorang lelaki yang sangat mengagumi keindahan matanya. Niskala membuka sweater merahnya sambil mengejar Samantha. Lalu menutup noda menstruasi itu dengan mengikatkan sweaternya ke pinggang Samantha sambil berbisik di telinga Samantha:

53

"Sorry, kamu tembus!" *** Niskala memikirkannya hingga pulang ke rumah, hingga malam, ketika makan, ketika mandi, hingga tak bisa tidur. Memikirkan berapa juta kerlingan yang tadi diantarkan Samantha. Memikirkan seberapa buruk wajahnya saat dia mengerlingkan kerlingan matanya seperti kerlingan yang diantarkan Samantha. Memikirkan berapa ras yang menghegemoni keindahan corak wajah Samantha. Memikirkan makanan yang dimakan Samantha saat pagi, siang, sore, dan biru. Cantik? Sepi? Single? Entahlah! Hanya kedalaman jiwanya yang dapat kurasa. Entahlah! Nyatanya aku tertidur nyenyak sekali. Soundtrack: Keranda Mimpi Dering bel di mimpiku ini… Mengungkap keabadaianku Suara-suara malam yang terhenyak… Menyekap rintihan resahmu digairahku… Jeritan suara suaramu itu… Menyentak tidur panjangku… Redam…redam… RECAH…! Semua ingatan yang kau taburkan… Tunggu aku pagi Dalam drama hidup yang kurentangkan Cumbu aku pagi Dalam rintik kematian rindu…kekalku…

54

Aku tak bisa hentikan dimana arah ketika kulitku meleleh seperti minyak oli yang melumeri roda-roda mesin pemutar bumi ini tak seperti mimpi yang selama ini kujalani tetapi aku menari dan menyanyi tidak menyumpah aku malah tidak serakah membaca hening seolah kematian yang terencana habislah semua ketakutan keningku bersimbah darah menyentuh tanah mengucap doa terbanglah aku terbanglah aku seperti lalat-lalat yang berlarian dalam pandang benci seorang nenek aku khawatir pada diri yang menjadi daging sebab tulang tak lagi menjadi dewa biarlah aku ketakutan sendiri dalam bising malam dan berenang dalam simbahan darah sebab sekali lagi ini tak seperti mimpi hening pagi dimalam purnama membawa hasrat kedalam gairah yang tak terelakan ke musim kawin di swarga mandiloka mandi dalam lautan susu yang kuminum sebagian lalu kumuntahkan sebagian aku tertawa sebab aku tak lagi bunuh diri tetapi menjadi sepi sepi ini keabadian aku menanti kembali dalam hening pagi dimalam purnama aku tidak mati aku tidak mati tetapi sepi… Sekali lagi kukatakan bahwa dosa telah tiada… 2.3. NISKALA DI DEPAN CERMIN SAMBIL BERDANDAN: Keringanan kakiku melangkah seiring loncatnya keanggunan seekor keringat malam yang mengandung peradaban. Terkenang bagaikan kicau jalak-jalak yang terapung memecah liuk gelombang samudera. Ha...ha...ha... manuskrip senja di sore ini: lelah! keliaran itu yang dua hari sudah kuhisap menyebabkan timbulnya dua jerawat yang sangat mengganggu aktifitas birahiku. jerawatnya sangat kentara, dua cewek yang tadi melintas di depanku sempat melirik, tetapi lantas pergi lagi setelah melihat keangkuhan dua jerawat bernanahku ini. sialan memang! tapi itu bagus sebab cukup mampu menghilangkan beberapa menit stempel playboy yang tercetak dijidatku semenjak sekolah dulu. awalnya aku tidak tahu bahwa yang dua hari kuhisap itu berbentuk keliaran. tapi sudahlah... *** Dia mengoleskan eye liner di matanya, eye shadow di kelopak matanya, lipstick di bibirnya dan blush-on di pipinya. Samantha terefleksi di cerminan wajahnya dengan eye liner yang sama, eye shadow yang sama, lipstick yang sama. Setelah itu dia menjepit bulu mata nya

55

dengan dengan penjepit. Mengoleskan mascara. Melukis alisnya dengan pensil alis. Samantha terefleksi di cerminan wajahnya dengan bulu mata yang sama, mascara yang sama, pensil alis yang sama. Memakai softlens warna biru di mata kanan, warna hijau di mata kiri. Mem-blow rambutnya dengan hairdryer. Samantha terefleksi di cerminan wajahnya dengan soft lens yang sama, hairdo yang sama, hairdryer yang sama. Memakai baju dan celana kulitnya. Standar Rockstar! Samantha terefleksi di cerminan wajahnya tapi tidak dengan baju bidadari yang sama. Penonton menyambutnya di panggung kebesaran tempat dia akan berteriak bersabda dengan nyanyian-nyanyian diiringi musik musim. Samantha berada di sampingnya, menyanyikan lagu yang sama di microphone yang sama. Dengan gerak yang sama, tarian kematian yang sama. Samantha telah menjadi bayangannya yang selama ini selalu lebih gelap dari cahaya yang terpantul dari tubuhnya. Ekstase! Soundtrack: Cuma Satu Mimpi Yang Berair Mata Dan saat kau tunggu aku dulu Kisahku semakin memanjang hilang Melepas bilangan silang Menghempas bintang dan siang Panas abu yang memerah cerah Bertumpuk gairah merekah Mereka menusuk punggungku Melepas bintang dan siang Rintihku…Malu tuk merayu Menggenggam…Alur nafasku Rintihku…Malu tuk merayu Menggenggam…Alur mimpimu

56

Dan saat mataku murung sayu Air mataku telah enggan mengering Menebar sentuhan riang Menghempas bilangan silang Panas rahim yang meledak terang Berjejal terik terlentang Mereka mencabut jantungku Terlepas hilang dan terbang Tersengal…Tersengal nafasku… Tergenggam…Tergenggam mimpimu… Pulanglah…Genggam nafasku Dan maukah kau…Menyimpan senyumku… Dan maukah kau…Menyimpan takdirku… Tapi terdiam seperti semedi seribu candi, seribu adalah tak ada 2.4. Suatu hari di dunia lain bertahun-tahun kemudian (konsep waktu di sini dipersepsikan menjadi sangat absurd), selepas dari toilet kampus, buang air besar. Dia pergi ke mal yang tak jauh dari kampusnya untuk membeli popcorn. Dia menganggap popcorn adalah sebuah keajaiban, revolusi, meledak-ledak. Lebih ajaib lagi dia melihat seorang gadis cantik yang menatap ke arahnya. Suara popcorn masih meledak-ledak ditimpa suara-suara kendaraan. Ingatan-ingatan tentang orang-orang revolusioner menyeruak di ingatannya. Niskala menyodorkan tangannya. Niskala menyodorkan namanya. Niskala memang rese’. Niskala menyodorkan tangannya. Niskala menyodorkan nomor sepatunya. Niskala memang bodoh. Niskala menyodorkan tangannya. Niskala menyodorkan telunjuknya. Niskala memang lucu. Niskala menyodorkan tangannya… NISKALA

57

Namaku Niskala! (GAUNG… Namaku Lelaki!) SAMANTHA Samantha...! (sang gadis menimpali) NISKALA Aku suka revolusi, apalagi yang terjadi dalam hidupku pribadi (sambil menawari Samantha popcorn) SAMANTHA Oh, ya? Aku tahu itu popcorn. Tapi salah kalau hidupmu terus berevolusi. Harus selalu terus kembali ke awal. (Samantha berkata sambil tersenyum dan menolak tawaran Niskala.) NISKALA Tidak harus! Sebab tidak ada hidup baru, masa lalu dan mendatang. Semuanya adalah bagian dari hidup yang tak bisa dipisah-pisahkan." SAMANTHA Itu benar, tapi..." Mereka terus berbincang-bincang sambil jalan. Memasuki sebuah kamar, bercinta dengan santun. Tangan-tangan saling menggapai…ngayayay…! Terlalu sebentuk impian… Soundtrack: Anorexia-Cinta Kurasa bayanganmu Menghantui langkahku dalam tidurku Derasnya cintamu Membuatku tak pernah bisa menutup mata

58

Cinta adalah diam Sebab dengan bergerak cinta jadi buta Bahkanpun berputar Seperti cinta sejati Tapi aku tak percaya dengan kesejatian ENYAHLAH… ENYAHLAH… AKU TAK PEDULI !!! CINTAMU… CINTAMU TAK PERNAH BISA DIAM Tapi meskipun kau diam Seperti semedi seribu candi Aku tetap tak peduli Meski cintamu tampak begitu sejati 2.5. Waktu: A Prosesi dimulai… Niskala menyiapkan air dalam sebuah ember, menenggelamkan kepalanya. Ingatan masa lalu terbit. Dia membiarkan nafasnya habis di dalam air itu. Proyektor berputar… Method: Drowning Recommendation: **** Effort required: some. presumably you will require a weight heavy enough to sink you, or some other preparation, if you don't naturally sink. Messiness: variable but probably pretty bad. if it takes more than a couple of days to find your body, things will get ugly. Pain factor: what, are you crazy? unless you can achieve a high degree of Zen detachment this will really suck. Drama: if you can manage to relax and drift off to sleep as your lungs fill with water, it could be quite beautiful and peaceful under water. Certainty of death: quite high. if you sink yourself via weights you won't survive. it's also really

59

hard to find drowning victims if you are attempting to save them. Wimp option: not too bad if you bring a knife to cut the rope tied to your leg. just make sure you have enough strength to swim back. Other points: If you aren't found quickly, this will provide an incredibly disgusting surprise for some poor sap. Imagine leeches, crayfish, etc. In addition, you could skip the whole water part, and just tie a plastic bag around your head. Drama is reduced a bit as the bag will fog up a lot and look kind of silly. Remember to brush your teeth if you decide on this method. Actually the plastic bag is a recommended (by Kevorkian) addition to most non-violent suicide methods. Disebuah kafe, Niskala sedang menceritakan tentang seorang temannya bernama Gateauxlotjo pada teman-temannya. Lalu ceritanya terpotong oleh angin ribut dan hujan yang sangat lebat... Niskala tenggelam dalam banjir keheranannya Soundtrack: Monotonitas Dalam gelap dua dunia… Menunggu pagi terhengkang… Kuikuti irama bumi tercengkeram mati, dua arah dan terhempas Jelas terhempas… Dua arah… Darah tercecer dan mengalir… Dari janin suci dua nabi… Tentang dua benda, terpisah amat jauh Yang satu belahan dari satunya Dan satu…satunya Hanya awan... Hanya kelip cahaya… Membutakan… Sebelah mataku

60

Tapi kicau burung… Yang menjadi mitos… Membutakan… Seluruh mataku Seluruh mataku Seluruh mataku… Drama tak akan berhenti… Kematian demi kematian… Terus menggorok lubang nafas bumi yang menangis; api menangis-padam-membakar air matanya… Selamanya Dan untuk benar atau salah Aku tak peduli Biarlah tuhan sibuk dengan pekerjaannya Biarlah iman ini menjadi milik sang waktu Sebab aku adalah tak ada… Aku sudah mencapai titik nihil* Titik dimana ilmu pengetahuan belum lahir Peradaban dan kebudayaan belum lahir Dan aku bukanlah apa-apa… *)dari sebuah percakapan

2.6. Waktu: A Prosesi dimulai. Niskala mengguyurkan satu galon bensin ke tubuhnya, proyektor membuka kembali masa lalunya. Dia menyalakan api… Method: Immolation Recommendation: **********

61

Effort required: a bit of effort will be required to manage to get enough flammable material on you. Messiness: somewhat. this is pretty much the only method that cleans up the body, but it also leaves a huge scorch mark. Pain factor: if you have to ask, don't bother. Drama: if you can remain absolutely calm, and nobody puts you out, and you included enough flammable materials to scorch your body, nothing could possibly be more dramatic. keep in mind that your last few seconds on earth will be gasoline soaked if you choose this accelerant. Certainty of death: a mere splashing of gasoline will probably just badly burn you without even threatening your life. sitting on a large pile of branches with plenty of air flow and lots of flammable liquid is probably a good idea. Wimp option: breathing will scorch your lungs. this will ensure at least a slow death. otherwise, you will probably be able to survive if you hurry. Other points: Besides deciding whether or not to breathe, the other thing to think about is whether or not to keep your eyes open. They will quickly dry out and distort before ceasing to function. If you have your eyes closed, your eyelids will quickly burn off anyway. Your hair will go first, though. (Come to think about it, you might consider investing in a video camera.) …membakar sebatang rokok di sebuah panggung kebesaran. Riuh, musik yang bising, dia menyanyi untuk yang ke-terakhir kalinya Soundtrack: Suffering Animal (Zoo Motion Picture) Minggu Pagi Jalan Kaki Pada Jalan Tak Ber-Tepi Jeritan – Jeritan Teriakan Skizoprenia Tawa Gila

62

Dari Para Satwa Naik kuda Sama Mama Jalan-jalan Pada Pagi Gambar-gambar Muka liar Mata Palsu Dari para Satwa Kuajak Anjingku Berlari-lari pagi “Helly…uk.uk.uk. Kemari…uk.uk.uk Ayo lari…lari…” Serigala, anjing laut Singa, Harimau Kijang, banteng Unta, burung unta Ular, buaya Monyet, manusia Hahahahahahahaha…. Huhuhuhuhuhuhuhu… Hihihihihihihihihihihi…. Hehehehehehehehehehe….. Hohohohohohohohohoho….. Dalam benaknya, dia sedang sendiri, bercinta dengan dirinya sendiri, membayangkan wajah Tuhan terangsang lantas membaca puisi, musik terhenti…

63

Apakah aku salah berdoa untuk mati, hanya karena rindu bercumbu dengan Tuhan…? Demikian terus berulang-ulang

Chapter Seven
Sebuah Mata Dari Alam Semesta

64

Opening: Kurasa baru kali ini mengatakan bahwa aku masih hidup. Berawal dari kokok ayam jantan yang terdengar aneh di sore hari. Suara mobil dan klakson meraung-raung ditimpa suara-suara burung yang mengaum. Aku sebenarnya tak mengindahkan itu semua. Pikiranku hanya tertuju pada sebuah nama: Kelam! Kelam dari sebuah kemampatan berpikir, akankah kulanjutkan hidup ini? Ya, harus kulanjutkan sebab tiada hidup yang pernah kujalani selain derita... derita... derita... Atau itu mungkin hanyalah sebuah pengalihan perhatian dari ketidak mampuanku menghadapi hidup yang sebenarnya..., aku tidak menderita! Kelam ini kupelihara seperti jamur yang menyerang kulit coklat terbakar panas matahari. menutupi seluruh gelap hidupku. Ya..., aku tidak mengenal hidup seperti halnya aku tidak tahu sama sekali tentang mati, semuanya kelam! Kelam dalam kenyataan sekarang adalah tidak adanya bintang atau bulan sebab masih sore. Tiada matahari sebab awan-awan gelap menyelubungi sore dan hanya lampu-lampu jalan yang meremang menjadi sedikit penerang. Kulihat jam tanganku, 16.30. Kelam ini kuhadiahkan pada Tuhan sebagai persembahan tambahan dari persembahanpersembahanku sebelumnya. Aku mengalah pada Tuhan dalam hal ini. Tapi benar-benar kelam, kelam sekali! *** Ibuku seorang gila bahagia yang katanya diperkosa 5 orang anak-anak berandal yang sedang mabuk. Lucunya ibuku menikmatinya! Maka dalam seketika aku langsung tahu bahwa itu bukanlah pemerkosaan. Katanya ibuku gila dengan bertelanjang bulat dan terus berjalan setiap hari berkeliling kota sambil tertawa-tawa atau kadang tiba-tiba menangis, tapi tidak seperti kebanyakan orang gila, ibuku tidak pernah memarahi anak-anak kecil yang selalu berteriak-teriak di belakangnya. Ibuku malah menikmati sensasi teriakan-teriakan itu. Malah kadang mengiringi teriakan itu dengan nyanyian. Begitu manis budi ibuku, meski lama-lama ketelanjangannya membuat kulitnya jadi begitu hitam dan kasar. Tapi sepertinya ibuku masih

65

tetap cantik dan seksi hingga membuat kelima anak berandal itu masih cukup bernafsu bercinta dengannya, meski juga kutahu mereka sedang mabuk berat. Belakangan aku tahu bahwa kelima anak berandal itu adalah para ayahku. Para ayahku yang gagah dan bersahaja. Setelah pemerkosaan penuh gairah itu ibuku diambil oleh dinas sosial dan dimasukan ke rumah sakit jiwa. Aku lahir di sana dengan sukses dan sehat. Badanku gemuk sekali. Ibuku rajin sekali menyusuiku, meski padahal susu itu selalu ia bagi pada pasien-pasien lain yang mirip dengan para ayahku tadi. Ibuku, seperti layaknya singa betina, over protective padaku yang masih bayi mungil gemuk dan selalu bikin orang lain yang didekatku terkena sial terus menerus, kecuali ibuku, karena aku tidak pernah mengutuknya sial. Ibuku sudah sial sejak sebelum gila gara-gara dicerai dengan ganas oleh suaminya. Otomatis para suster tidak pernah mau mendekatiku, meski tidak terkena sial kutukanku, mereka akan diterkam dengan raungan dan geraman singa betina yang bersarang dalam tubuh ibuku. Hingga suatu ketika, entah kenapa, aku dan ibuku dipisahkan dengan paksa, dengan air mata hingga menyebakan ibuku bertambah gila, mengamuk, mencederai 5 orang perawat lalu ibuku bunuh diri, atau lebih tepatnya singa betina yang ada dalam tubuhnya menerkam, mencakar, mencabik, lantas memakan tubuh ibuku. Saat itu aku menganggapnya sebagai sebuah film kartun yang nyata. Ada seekor singa betina memakan seorang ibu yang sedang berteriak-teriak karena kehilangan anaknya. Aku tidak tahu lagi, apakah aku anak ibuku atau anak singa betina yang kelaparan itu? Yang jelas aku tertawa! Selebihnya aku hidup dalam sebuah panti asuhan yang sudah tak sanggup lagi mengurus kenakalanku. Pada umur 6 tahun, sebuah keluarga kaya mengadopsiku dengan alasan aku anak lelaki yang sangat tampan dan lucu. Meski mereka mempunyai anak, tapi perempuan semua. Meski mereka masih sanggup membuat anak-anak baru, tapi mereka tetap mengadopsiku dengan alasan sama, aku anak lelaki tampan! Ya..., tampan, bahkan sangat tampan untuk menjadi seorang gigolo. Kemudian di umur yang cukup dewasa aku sering dujuluki gigolo beracun. Ayah angkatku pergi kerja tiap pagi sekali dan pulang seminggu kemudian, malam sekali. Saudara angkatku wanita semua dan yang lahir kemudianpun wanita juga.

66

Ibu angkatku memperkosaku setiap malam semenjak aku menginjak remaja. Hingga aku sadar bahwa alasan satu-satunya adalah kemaluanku cukup besar untuk ukuran orang sini. Saudara angkatku secara bergiliran mengikuti kelakuan ibunya. Hingga aku ketagihan dan kuperkosa adik angkatku yang sedang beranjak remaja. Cukup! Aku seorang biseksual. Ayah angkatku sudah mengajariku sejak dulu, dia seorang pengidap pedophilia. ... Sekarang kelam menyeruak dalam benakku. Tapi lengkap sudah, ayahku enam; lima pemabuk dan pemerkosa, satu pengidap penyakit sinting. Ibuku dua; satu seorang gila, karena perceraian dan bunuh diri dengan alasan Singa Betina! Satu seorang maniak seks. Saudaraku banyak; orang-orang gila, pemabuk, maniak seks dan anak dari ibuku yang pertama sebelum gila; seorang wanita yang sekarang serumah denganku, bermain seks denganku. Dia seorang pelacur. ... Aku sekarang sudah beranjak dewasa. Beberapa tahun yang lalu aku diusir ayah angkatku sebab ketahuan sedang bercinta dengan istrinya. Aku bertemu kakak kandungku. Sebelumnya kami berpacaran dan bercinta setiap hari. Hingga beberapa hari yang lalu seseorang mengatakan bahwa kami mempunyai wajah yang mirip. Orang itu yang memberitahu kami bahwa kami kakak beradik. Orang itu adalah ayahnya. Bukan ayahku sebab ayahku lima sedang ayahnya satu, tapi ibu kami sama. ... Keringanan kakiku melangkah seiring loncatnya keanggunan seekor keringat malam yang mengandung peradaban. Terkenang bagaikan kicau jalak-jalak yang terapung memecah liuk gelombang samudera. Ha...ha...ha... ***

67

Para perawat bukan tanpa alasan memanggilnya Si Pembawa Sial, sebab memang anak itu selalu membawa sial sejak lahir. Namanya Niskala. Cukup dipanggil Nis, maka dia akan menangis, merengek atau mengamuk seperti ibunya yang dirawat di rumah sakit jiwa itu. Anak itu memang disahkan untuk dipelihara ibunya sebab dia masih membutuhkan ASI. Dan ibunya menunjukan bahwa dia tergolong cukup sadar untuk mengasuh anaknya, meski terkadang dia mengamuk, bukan pada anaknya tetapi pada orang yang mengganggu anaknya. ... Suatu hari di dunia lain bertahun-tahun kemudian, selepas dari toilet kampus, buang air besar. Dia pergi ke mal yang tak jauh dari kampusnya untuk membeli popcorn. Dia menganggap popcorn adalah sebuah keajaiban, revolusi, meledak-ledak. Lebih ajaib lagi dia melihat seorang gadis cantik yang menatap ke arahnya. Niskala menyodorkan tangannya. “Namaku Niskala!” katanya “If...!” sang gadis menimpali. “If…, andai?” “Yup!” “Nama yang lucu! Misterius!” “Terimakasih!” “Aku suka revolusi, apalagi yang terjadi dalam hidupku pribadi.” kata Niskala sambil menawari If popcorn. “Oh, ya? Tapi salah kalau hidupmu terus berevolusi. Harus selalu terus kembali ke awal.” If berkata sambil tersenyum dan menolak tawaran Niskala. “Tidak harus! Sebab tidak ada hidup baru, masa lalu dan mendatang. Semuanya adalah bagian dari hidup yang tak bisa dipisah-pisahkan.” “Itu benar, tapi...” Mereka terus berbincang-bincang sambil jalan. Jalan raya semakin bising. Langit sore semakin redup. Mereka mencoba menyesuaikan energi metafisis mereka satu sama lain. Hingga berada dalam sebuah ruangan. Tangan menggapai-gapai, desah membadai… ... "Kau tahu, If! Aku sedang mencari seorang wanita untuk jadi manajer band yang baru kubentuk."

68

"Oh, ya? Harus seorang wanita?" "Ya, harus seorang wanita. Gitarisku ngotot seperti itu. Dia juga berkata wanita itu harus benarbenar seorang manajer. Kau kuliah di management bukan?" "Iya. Tapi, sebentar, gitarismu laki-laki?" "Hahaha… jenis kelamin hanyalah masalah administratif buat kami. Tapi memang secara administratif dia laki-laki, sepertiku." "Hihihi… Siapa namanya, jangan-jangan sangat historis juga seperti namamu." "Namanya Karna." "Wah… Pasti pendengarannya sangat bagus! Feeling-nya pasti keren…" "Memang! Aku mengenalnya di sebuah pertigaan dalam sebuah kejadian yang kami beri nama Insiden Teh Botol. Dan kita seolah-olah seperti sudah kenal ribuan tahun. Kita langsung akrab dan saling merasa cocok. Akhirnya kita bikin band ini. Aku jadi vokalis sekaligus megang laptop untuk program-program musik. Dia benar-benar anak Dewa Surya!" "Anak Dewa Surya?" "Yup, menjadi penerang saat matahari nggak ada, saat malam atau mendung. Pengganti saat ayahnya tertidur. Ronda. Ha... ha... ha...!" "Jadi aliran kalian…" "Skizoprenik, absurd, entah, musik kita sangat aneh. Dan mungkin terlalu aneh untuk didengar manusia. Itulah makanya kita berdua memberi nama SID, singkatan dari Samantha Impossible Dream." "Kenapa Samantha?" Niskala terdiam… memandangi wajah If, langsung ke matanya dengan gairah itu, gairah yang sudah lama menumpuk menghunjam di setiap milimeter kubik jantungnya. *** Insiden Teh Botol Ada dua orang yang dijuluki preman di tempatku mengamen. Yang satu preman parkir, yang satu lagi calo angkot. Dua-duanya tidak pernah bekerja tentu saja. Yang satu, namanya Bang Budhi, setiap hari dia menerima setoran dari seluruh tukang parkir disekitar jalan Dago, Merdeka, Riau dan Aceh. Setiap Tukang parkir harus menyetor satu harinya kira-kira 2000 rupiah. Kira-kira ada sekitar 100 lebih tukang parkir di sepanjang jalan itu. Yang satu lagi, Bang Teddy, atau lebih dikenal dengan julukan Teddy Codet, karena ada luka menganga bekas tebasan golok di wajah tampannya. Anehnya, luka bekas golok itu malah

69

menambah ketampanannya. Bang Teddy tidak pernah teriak-teriak menawari orang-orang untuk naik angkot. Tapi setiap harinya dia hanya menerima setoran dari seluruh calo angkot di wilayah yang sama seperti Bang Budhi. Bang Teddy dan Bang Budhi sudah sejak lama bersahabat. Dan karena sebuah kejadian, kami menyebutnya Insiden Teh Botol, dua orang terhormat itu menyayangiku. Flashback: Saat itu udara panas sekali dalam bis kota, seperti dioven. Suara tukang Teh Botol begitu mengundang kerongkonganku yang teramat kering. Aku sedang dalam perjalanan menuju jalan Dago tempatku mengamen. “Teh botol, coca cola, sprite, fanta cola-cola-cola… seribu-seribu, seribu-seribu, obat haus-obat haus… pokoknya segarnya mantap!” teriak lelaki seumurku yang memakai topi butut, membawa kantong kresek berlapis-lapis, lewat di depan mataku. Saat itu bis kota tidak terlalu penuh sehingga dia bisa dengan bebas berlalu-lalang di tengah-tengah bis. “Fruit tea aya, Kang?” tanyaku. “Sabaraha hiji?” “Hiji we lah!” Aku membuang sedotannya lantas meminumnya langsung dari botol, telingaku sampai mendengar degukan suara air masuk kedalam kerongkonganku. "Sabaraha, Kang?" tanyaku sambil merogoh saku. "2500!" "Hah! Sabaraha?" “2000 we lah…” “Naha 2000, tadi ceunah 1000. Sia rek nipu?” “Abdi mah teu nyarios sarebu, A! tapi sarebu-sarebu, sarebu na dua kali, janten dua rebu…” “Ah, sia mah emang rek nipu, Goblog!” Lalu aku memukul tukang minuman itu. Orang-orang panik sebab dia mengeluarkan pisau dari balik bajunya. Aku tidak tahu bagaimana harus menghindar. Lantas kutendang saja selangkangannya hingga dia menjerit kesakitan, pisaunya terlempar dan tangannya memegang senjata ranjangnya. Kuambil pisaunya dan kulempar keluar jendela, lantas aku menyetop bis kota dan turun dari kepanasan sialan ini. Kutendang sekali si tukang teh botol tadi, kulempar uang 2000 untuk membayar teh botol yang tadi kubeli. Aku loncat keluar. Dan jalan kaki ke arah selatan di jalan Dago.

70

Dari arah selatan aku lihat ada seorang anak muda sedang dikejar-kejar oleh puluhan orang, dan mereka semakin mendekatiku, si anak muda menyenggol pundak kananku, tidak sengaja, dia menoleh padaku sambil terus berlari sekencang-kencangnya. Kulihat dia membawa pisau yang tadi kulempar dari dalam bis kota. Aneh sekali, kenapa bisa ada di tangan anak muda itu? Dari gerombolan massa ada yang berteriak, “Tewak, anjing!” Aku tak bisa apa-apa, anak muda itu sudah jauh di belakangku. Aku sebisa mungkin jalan di pinggir agar tak tertabrak gerombolan massa. Aku tiba di pertigaan Dago – Sultan Agung, pada sebuah segitiga ditengahnya terdapat tugu pengairan. Aku duduk disana. Tak lama gerombolan massa sudah berbalik arah kembali ke selatan, berjalan, tak lagi berlari. Tampaknya mereka tak mendapatkan tangkapannya. Aku duduk di segitiga itu hingga matahari tak tampak lagi batang hidungnya, entah apa yang kupikirkan, tapi yang pasti aku tidak menyadari kedatangan seseorang di sebelahku. Aku menoleh padanya dan terkaget. Dia adalah anak muda yang dikejar massa tadi siang. Dia mengeluarkan pisau dari balik bajunya. Lantas menyodorkannya padaku. “Tadi kau yang melempar pisau ini dari dalam biskota?” ... Siang ini panasnya bikin sakit di kulit, sialan. Aku gak bisa ngamen hari ini, panas banget. Akhirnya aku cuma duduk-duduk di trotoar di bawah pohon – satu-satunya yang rindang di sana. Dalam keadaan panas begini, otak rasanya tidak bisa dipakai untuk berpikir. Sampai suatu ketika aku melihat sebuah pisau dilemparkan seorang anak muda dari dalam bis kota, jatuh tepat di depanku. Aku lantas memungutnya. Aku memperhatikan jenis pisau itu, pisau belati murahan, udah karatan di sana-sini. Saat aku sedang melihat-lihat pisau itu tiba-tiba dari arah selatan segerombolan orang lari ke arahku, salah seorang dari mereka menunjukku, dan berkata, “Itu orangnya!” Dengan refleks, aku berdiri dan berlari sekencang-kencangnya ke arah utara. Ini hanyalah insting penyelamatan diri, meski aku tak tahu ada masalah apa. Saat aku lari aku berpapasan, bahkan nyaris bertubrukan, dengan anak muda yang melempar pisau dari dalam bis kota tadi, andai waktunya gak mepet kayak gini, pasti aku udah tanyain ke dia kenapa dia ngelemparin pisau dari dalam bis kota. Tapi gerombolan massa sudah semakin dekat di belakangku, jadi aku terus lari menyelamatkan diri dari suatu kesalahan yang tak kuketahui.

71

... Aku menyodorkan tanganku... “Niskala!” Dia menjabat tanganku... “Karna!” “Untung Bang Teddy ama Bang Budhi datang di saat yang tepat ya?” ujarku. “Ya, syukurlah!” katanya singkat. *** Suatu ketika If bertanya kepada Niskala, “Kalau kau disuruh memilih diantara 3 hal, mana yang akan kau pilih? Cinta sebagai kata kerja, cinta sebagai kata benda, atau cinta sebagai kata sifat?” Niskala merenung sebentar sambil memandangi mata If, “Mmh…, kalau kata kerja?” “Kalau kau memilih kata kerja,” kata If bersemangat, “maka kau memilih dicintai atau mencintai?” “Mmh…, pilihan yang sulit!” “Memang!” kata If puas. “Kalau kata benda?” “Kau akan menjadikan cinta itu objek atau subjek?” Kata If cepat, seolah sudah diformat sebelumnya. “Objek atau subjek? Mmh…, aku tak tahu! Pilihan yang juga sulit!” “Ha…ha…ha…, ternyata kau tidak seberani yang kupikir!” “Jadi aku harus memilh kata sifat?” “Ya,” kata If tegas, “itu yang seharusnya kau pilih! Sebab cinta adalah adalah sifat. Seperti aku mengatakan ‘kau sangat tinggi, kau cukup tampan’ yang dalam hal ini ‘kau sangat cinta’ atau ‘kau cukup cinta’.” “Oh…, kalau begitu aku tidak memilih ketiga-tiganya.” “Lho…, kenapa?” kata If kaget. “Sebab aku tidak memandang cinta hanya sebagai kata-kata!” jawab Niskala. *** Saya mengenalnya ketika dia membeli popcorn di mal. Saya lewat di depannya, dia langsung

72

menyodorkan tangannya, “Namaku Niskala!” Begitulah! Saya adalah keindahan yang terbunuh oleh takdir, begitulah saya membesarkan diri. Saya adalah takdir yang indah, begitulah saya membesarkan hati. Hingga suatu ketika kami berdua bermain dadu, tidak lama setelah itu dia tiba-tiba menghilang. Tangisku kubiarkan hilang seiring kehilangannya. Selamat Tinggal, Kekasih! ...

Saya menerima surat berikut ini 2 hari sebelum dia menghilang; Bandung, 7 Mei 2000 Untuk sebuah harapan: If (yang secara fonetik hampir mirip dengan nama wanita pertama, Eve. Dan secara kasar oleh orang Indonesia diganti menjadi Eva. Berkaitan dengan hal itu maka aku akan mendefinisikan namamu dengan; Nama pertama untuk semua wanita. Wanita juga berarti harapan, If-ku!) Nama lelaki pertama, Adam, adalah nama yang yang diberikan Tuhan yang diambil dari sifat mustahil (lawan dari sifat) –Nya yang pertama (Wujud (Ada)). Maka Adam (tak ada) adalah ketiadaan (Nihil). Nama pertama untuk semua lelaki adalah Adam yang berarti nihil (Nothing). Jika kau If (Harapan) maka (karena aku lelaki) aku adalah Nothing (Ketiadaan). Yang berarti keduanya (If ataupun Nothing) sama-sama tidak pernah ada (Nihil). Kita berdua, harapan dan ketiadaan, adalah tak-ada. Kita berdua hanyalah refleksi. Refleksi Tuhan atau (…mungkinkah kita berdua hanyalah) imajinasi Tuhan? Namaku hampir mirip dengan nama semua lelaki itu. Niskala artinya Ghaib (tak terlihat (invisible)). Ke-takterlihat-an menurutku nyaris tak ada (Adam). Maka aku sebenarnya nyaris Adam (almost Adam). Dan kaupun berarti (karena namamu secara fonetik mirip dengan nama wanita pertama) nyaris Eva (almost Eve). Hanya dalam titik ini namaku diambil dari salah satu nama Tuhan, Al-Ghaib. Yang dalam bahasa Sanskrit adalah Niskala (tak kasat mata (invisible)). Dan namamu dalam titik ini kuartikan sebagai nama wanita pertama untuk semua wanita, dan bukannya andai (harapan). Jadi titik hubungan kita sekarang adalah titik persinggungan antara ke-takkasatmata-an (Al-

73

Ghaib) dengan nama pertama (prima) dari semua wanita. Ke-Ghaib-an (Tuhan Yang Maha Ghaib) adalah penyebab segala sesuatu (causa prima) yang menciptakan manusia pertama (prima) baik wanita maupun lelaki. Titik persinggungan yang kumaksud ini berarti ada dalam kata prima, kata yang juga bisa kuartikan menjadi kemurnian (purity). Titik kemurnian (purity) inilah yang menjelaskan posisi kita berdua dalam struktur semesta. Dan pada akhirnya kemurnian (purity) yang sudah menjadi sifat hubungan kita ini yang menyebabkan semesta tak lagi mempunyai struktur yang stabil (tak masuk akal) atau, kalau boleh, kuistilahkan dengan kata struktur absurd. Struktur yang absurd ini secara kasar akan kunamai Post-Struktural. Dalam bahasa yang tidak merumitkan diri, hubungan kita bisa menyebakan kekacauan (chaos) yang tidak masuk akal (absurd) dalam tubuh semesta, menghancurkan kemapanan struktur semesta yang sudah dibangun sejak trilyunan tahun yang lalu saat bahkan belum ada prasejarah. Maka kau dan aku adalah dogma untuk semesta. Kau adalah aku. Semesta adalah kau. Aku adalah semesta. Dogma untuk semesta adalah dogmaku (my dogma) juga. Dogmaku tidak diartikan menjadi dogma-ku (my-dogma) tapi karena aku simbol subjek maka menjadi dogma aku (dogma I). Karena dalam hal ini “aku” adalah subjek maka akan kuterjemahkan menjadi “I” bukan “me”. Karena aku dan kau adalah refleksi (cermin) Tuhan ketika bersatu (unite) dan cermin adalah simbol keterbalikan maka aku akan bermain palindrom (membalik-balikan kata) untuk kata “dogma i” menjadi “i am god”. Ya, kita berdua adalah Tuhan, seperti ketika kita diciptakan (sebelum dibelah). Kita merasakan semua rasa Ketuhanan (feel orgasms). Untuk merasakan kembali semua rasa ketuhanan itu (return to feel orgasms) di dalam diri kita maka kita harus bersatu kembali (return to unite) seperti ketika sebelum dibelah. Tapi “UNTIE to UNITE” If-ku! NISKALA RUHLELANA ... Saya menerima surat berikut ini sehari setelah dia menghilang;

74

Bandung, 10 Mei 2000 Untuk sahabatku di surga: EVA (Nama Pertama Untuk Semua Wanita) ==Aku menggunakan nama Eva sebab telah kujelaskan di suratku sebelumnya. Dan aku yakin kau pasti cukup paham.== Kemarin kulangkahkan kaki kemantapanku pada sebuah kelokan jalan di seberang keanggunan sebuah waktu. Waktu yang sangat arogan dan mantap berdetak. Hingga kian bising di telingaku. Aku berjalan cepat dan dia terus mengejarku. Tapi diam dan indah, sangat indah! Sudahlah! Itu hanya sebuah awal yang dimulai kemarin. Hingga sekarang sebuah keinginan jahat menyelubumgi benak dan rasaku. ‘Kan kubunuh waktu! Tapi apakah itu perlu? Sebab meski waktu mati, berhenti berdetak, akankah aku abadi? Dan padahal keabadian bukanlah tujuanku. Keabadian bukanlah kebebasan yang sebenarnya. Tidak ada kebebasan mutlak, sebenarnya. Hanya rasa dan mencoba-coba untuk menemukan kebebasan yang akan sedikit membebaskan. Betulkah? Aku tak peduli, akan kubunuh waktu! Hingga pertanyaan berakhir pada siapa, kenapa... Bagaimana! Itulah akhir. Itukah akhir? Tidak! Tuhan telah menciptakanku dalam keabadian, tanpa akhir. Tidak ada akhir, sungguh tidak ada akhir. Kematian hanyalah sebuah proses dan bagian dari dunia nyata. Dan kegelapan dan malam adalah pasangan yang menjadi sahabat sejatinya. Semua berawal dari malam dan kegelapan, Nyx dan Erebos. Diteruskan oleh mati yang tak dapat dipisahkan dari keduanya. Dunia khayal inilah yang kupertanyakan yang tak dapat kupisahkan dari dunia nyata. Khayal dan nyata adalah dua bagian terpisah yang ada dalam satu wadah. Ada dan tidak ada bukanlah persoalan. Sebab ada akan menyebabkan tidak ada dan tidak ada akan menjadi ada. Begitulah adanya! Begitupun dengan konsep awal atau akhir. Konsep awal atau akhir adalah ada dan tidak ada. Kumulai proses pembunuhan waktu dengan tidak mengikutsertakan ruang, sebab ruang akan kubunuh pada keadaan yang lain. Dunia yang keluar! Tapi waktu tidak juga terbunuh, detaknya malah semakin mengeras dan malah hampir membunuhku dalam kebisingan. Sahabat cantikku!

75

Maukah kau melinangkan air matamu untukku? Sebab tangisan dalam tubuhku telah lama terbunuh. Aku ingin menangis! Ya..., akan kudendangkan tangisan dalam bentuk lagu. Sebab meski tangisan telah lama terbunuh, aku masih bisa bernyanyi. Hanya itulah satu-satunya pembelaan yang bisa kubuat untuk hukuman yang akan dijatuhkan Tuhan karena percobaan membunuh waktu. Dan akupun dituntut dengan tuduhan menganiaya waktu. Itu benar dan kuakui. Hukumannya adalah dipenjara waktu selama waktu masih hidup dan dikerangkeng oleh ruang sehingga aku takkan pernah bisa lagi membunuh mereka berdua. Aku hanya bisa memendam dendam dan tangis. Sahabatku tercinta, itulah kenapa aku terlahir...! dari sahabatmu yang telah lama mati Niskala Ruhlelana Saya membakar surat-surat itu seiring upacara kematiannya dalam benak saya. Saya tak tahu. Itu saja! *** Salah satu berita di beberapa surat kabar dan televisi hari itu adalah: Niskala, salah satu personil band SID (Samantha Impossible Dream) yang sedang menjadi sorotan masyarakat karena konser mereka tadi malam yang menghebohkan dan menimbulkan banyak korban jiwa itu, ditemukan nyaris tewas oleh luka bakar dari api yang masih menyala di tubuhnya, di kamar sebuah rumah terpencil di daerah Dago Utara oleh Unit Reaksi Cepat Polwiltabes Bandung setelah mendapat laporan tentang kemungkinan Niskala bunuh diri dari seorang wanita yang mengaku jurnalis sebuah majalah musik yang mewawancarai Niskala sesaat setelah konser SID itu berlangsung… *** Karna tersenyum ketika paramedis menggotong tubuhnya dan dari saku bajunya yang selamat dari jilatan api dia mengeluarkan sebuah puisi;

76

Penatian Sesaat waktu-waktu yang ada dan terus menerus meneriakan detak perjalanan jarum penunjuk detik yang berotasi sesaat begitu menjemukan seperti penantian kekasih di pojok restoran yang sangat temaram sesaat terasa seperti menunggu kematian beriringan dengan detak jantung yang kian lama kian cepat mengungguli teriakan detak-detak detik sesaat kian memekakan gendang-gendang tuli yang tak bergetar sesaat kian sesaat kian terasa penantian, sunyi tak terlihat indera buta sesaat kian terasa sesat pemikiran-pemikiran itu akan hadirnya kelelahan akan hadirnya kepenatan akan hadirnya bencana kematian saraf-saraf kesadaran kian lama, kian sesaat, kian sesat, kian sesak, kian menggorok lubang nafas kematianku, kian aku merasakan kehidupan matiku, kian sunyi, kian terdengar detak-detak kematian jarum detik, kematian detak jantungku pun kurogoh kekesalanku pada bayangan penantian sesaat aku kesal kian kesal dan tak kunjung datang lalu aku pulang pada keabadian jiwaku dalam detak-detak yang kini semuanya terhenti oleh hembusan akhirku aku pulang pulang... Niskala 2K *** Sebuah tulisan dengan darah yang sudah mulai mengering menempel di dinding kamar Niskala; Apakah aku salah berdoa untuk mati hanya karena rindu bercumbu dengan Tuhan?

Chapter Eight
Oedipus; Cognition or Nihilism?

77

(from Apocalypse to Milk “Pamela Anderson” Factory) “Kill the father, fuck the mother, (dan seorang teman bernama Sofi menambahkan) stop making baby – mudah-mudahan nanti ada korelasinya. Aku menemukannya ketika kubuka halaman itu di No One Here Gets Out Alive (Yang tidak dijadikan acuan untuk pembuatan film tentang The Doors oleh Oliver Stone). Tiba-tiba, jauh di luar dugaanku yang paling positif, musik musim dari sebuah kelokan jalan menyeruduk telingaku, kalau boleh kusederhanakan mungkin namanya klakson. Tit atau tot biasa aku menyuarakannya, kalau adikku menyuarakannya pep, ibuku yang sangat sunda bilangnya tidid, temanku yang bule bilangnya beep, apapun, itu hanyalah masalah lidah yang bersifat ethnic privative. Bayangkan andai bunyi musik musim tadi terdengar di sebuah pemakaman purba di pedalaman yang belum terjamah fuckin’ modernitas. Jim Morrison, yang menyebut girl terdengar di telingaku seperti grill, memang terobsesi menjadi Oedipus. Tapi entahlah, mungkin ‘cause my mother is not my type, tak pernah terpikir untuk mengawininya. Hanya cepatlah berpikir andai mereka tidak pernah berpikiran untuk membuat kita, mengemasi dan meng-emas-i kita, ada satu hal yang mereka lupa, kita tidak minta dilahirkan! Kill the father, sebuah wacana obsesi dan kecintaan mendalam dalam rangka merunut menjadi sosok yang diidam-idamkan, menjadi boomerang bagi Saturnus sebab karma yang harus dia terima adalah diburu oleh anaknya sendiri, Jupiter, yang kemudian merunut karma-karma berikutnya hingga sekarang. Fuck the mother, bukan tidak mungkin pembunuhan Habel disebabkan oleh sebuah perebutan kasih sayang dari ibunya, Eva. Kain merasa bahwa dia yang paling mirip Adam, sedemikian hingga setelah ayahnya meninggal, dialah yang harus mewarisi tahta pendamping Eva. Hal ini menjadi absurd sebab aku membawa sebuah Budaya Shamanisme yang dicoba masukan kedalam kepercayaan besar Semitisme atas sejarah mengenai Adam dan Hawa. Stop making baby, bukankah tak ada salahnya bermain-main dengan ide. Membuat alam semesta pusing tujuh keliling, mungkin adalah sebuah perbuatan yang lucu dan menggemaskan. Begini, apabila seluruh umat manusia bersepakat untuk tidak membuat bayi

78

maka dalam waktu beberapa puluh tahun yang akan datang manusia akan musnah. Sementara Sang Waktu merencanakan kiamat di seribu tahun (mungkin) yang akan datang. Siapa yang menguasai bumi saat itu, apakah akan terjadi evolusi pada primata yang lain untuk bisa menguasai bumi? Dalam wacana feodalisme, kedudukan manusia sangat dipengaruhi oleh bentuk dan ukuran penis sang ayah. Semakin besar ukuran penis dan semakin kuat daya bercinta, maka semakin unggul anak yang dihasilkan, unggul dalam tataran normatif dan nilai-nilai umum standar. Bukan! kata temanku yang selalu berteriak tentang feminisme, tetapi tergantung bentuk rahim dan pabrik susu ibunya. Bentuk rahim akan sangat mempengaruhi bentuk fisik, cantik, seksi dan lain-lain. Pabrik susu berpengaruh di wilayah mental, kecerdasan dan spiritualitasnya. Aku lantas bertanya padanya, andaikan anaknya Pamela menyalahi konsep itu? Pam kan dadanya silikon. Di sini aku tidak akan berpihak pada apapun, siapapun. Semua bagiku hanyalah sebuah kewajaran dan purity. Seperti tadi kubilang tentang aksen lidah yang terakomodir, semuanya terjadi, bisa! ‘O, c’mon, gender is dead, Pal! Ini bukan orasi budaya tetapi sebuah radiasi buaya yang membenturkan kekerasan halusinasi dan dialektika kecemasan, yang hanya diterjemahkan ke dalam problem telinga, reduksi otak dan formalisme purba seperti tumpahan nafas dan setengah waktu di sebuah simpul-simpul penjelajahan persepsi bunyi dari seseorang yang tidak pernah mengenal dirinya. Seperti sebuah syair yang kubuat ketika dalam kondisi the eyes of the universe; Bajingan, kerak-kerak di udara itu terus mengutuk-ngutuk tubuhku dan lalu memutuskan untuk segera –setengah mabuk setengah tidur—menghamili kejantanannya. Itulah yang mengantarkan kemantapan kepala yang lidahnya keluar semua. Bahan-bahan kesadaran ada padaku katanya selalu. Lalu dia meracik bumbu-bumbu serotonin untuk jadi kenangan dibuat empirisme kesan-kesan. Bajingan, enak banget. Optimisme-optimismenya di sebuah labirin ingatan yang tujuh ratus kali sudah kudapatkan. Bajingan, dia menjadikan kelam menjadi begitu mengudara. Ah!

79

Bajingan, aku tidak akan pernah mengatakan stereotyping kehidupan lagi padanya, yang kejantanannya teracuni musik musim. Berikut ini adalah terjemahannya : Bajingan, kerak-kerak di udara itu terus mengutuk-ngutuk tubuhku dan lalu memutuskan untuk segera – setengah mabuk setengah tidur — menghamili kejantanannya. Itulah yang mengantarkan kemantapan kepala yang lidahnya keluar semua. Bahan-bahan kesadaran ada padaku, katanya selalu. Lalu dia meracik bumbu-bumbu serotonin untuk jadi kenangan dibuat empirisme kesan-kesan. Bajingan, enak banget. Optimisme-optimismenya di sebuah labirin ingatan yang tujuh ratus kali sudah kudapatkan. Bajingan, dia menjadikan kelam menjadi begitu mengudara. Ah! Bajingan, aku tidak akan pernah mengatakan stereotyping kehidupan lagi padanya, yang kejantanannya teracuni musik musim. Dalam hal ini aku hanyalah burung pemakan bangkai kata-kata. Teman! (begitu aku selalu memanggil siapapun, meski beberapa kadang kupanggil –sorry— Anjing!) Adalah sinkronisitas bila dengan tiba-tiba ada arus panjang mendera kita dengan doktrin ketika produksi sperma dan ovum terus berkelanjutan, ketika meiosis tak bisa dihentikan, ketika emosi keberpihakan lambang plus terus menghantui kenyataan minus. I’m sorry, I’m so fuckin’ gay! Kesenangan, betulkah kesenangan yang tadinya adalah tujuan, telah berfuga menjadi pisau juga? Ya, pisau untuk membunuh beberapa keberpihakan tadi. Fuck our own-selves! Onani tak berkesudahan, bukan BT, lho! Ini bukan representasi, teman (-sorry- Anjing!), tapi sebuah ketakutan akan kemudaan yang terus menua. Me-Mati. Jadi kutekan tombol ‘restart’ disebuah mesin pembunuh jiwa. Untukmu! Duluan. Ini bukan cerpen biasa sebab handai taulan kita selalu mewartakan cerpen sebagai sebuah karya yang me-modal. Tapi ini cerpen atas fragmen hidup seorang biseksual, anak-anak brit-

80

pop dan domba-domba glam-rock. Ini mungkin sedikit lebih cerdas ketimbang cerita ikan Nun. Oh ya! Bagi yang belum tahu cerita ikan Nun akan kuberitahu singkatnya, agar kalian berkhayal. Konon, dunia berada di ujung tanduk seekor kerbau. Kerbau itu berdiri di atas punggung ikan Nun. Ikan Nun hidup di Lautan Pasifik. Horee…! Aku telah berbohong… aku telah berbohong…! Maka, ayo memudalah! Seperti yang dikatakan Chaos, dewa pertama, “Mati ketika bayi!” Kau masuk surga dan semesta terus bereinkarnasi. Pabrik susu, seperti misalnya KPBS yang laris di mana-mana dan Pamela Anderson (salah satu parik susu terbesar dan paling fenomenal sebagai keberhasilan teknologi Plastic Surgery) yang juga laris di mana-mana, adalah salah satu faktor ketertarikan Oedipus kepada ibunya. Dari mulai dia membutuhkan hingga “membutuhkan”. Di abad “opening act of milk factory” ini, ketertonjolan menjadi sebuah trend yang apocalyptic. Ekstase seorang sufi mungkin terlancarkan oleh sebuah bayangan akan puting susu ibunya. Entahlah! Cognition dan Nihilism, sebuah paradigma unik akan fusi beberapa molekul/atom yang paradoksal. Betapa tidak. Cognition yang selalu menggerecoki kita dengan cacian tentang pentingnya sciense dan –isms digelitiki oleh Dyonisus atau Bacchus (Dewa Anggur, Pesta dan Kesenangan) yang selalu mencari akal bagaimana mengosongkan botol dan membuat lagu baru. Bukankah ini mungkin? Ok, kuralat, bukankah ini absurd! Mungkin pengetahuan saya tentang anak Zeus yang satu ini kurang begitu full-contact-body, mungkin karena dia selalu tersesat dalam labirin saat setiap kali bercinta dengan istrinya. (Istrinya adalah Ariadne, Dewi Labirin) Kalau tidak percaya silahkan tanya Zarathustra! Tapi kekeringan yang kucerca sudah cukup bulat untuk mengatakan segala hal itu wajar, tidak ada benar dan salah. Sudah! Biarkanlah semua mengalir sebab hidup itu cair.

81

Biarkanlah semua terbang sebab hidup itu tidak melekat. Biarkanlah semua berlari sebab sinkronisasi akan tetap menghantui peradaban kita. (bayangkanlah sebuah sungai yang mengalir di angkasa sambil mendengarkan lagu-lagu Bjork!) Fuck me, and off course, fuck you! And the last, don’t fuck my concept, Shit!!! Tabel I. Primordial (my version) Bentuk & Ukuran Penis Cantik, tampan Penanda Besar, gemuk Sexy Vagina Kekuatan Bercinta Cerdas, baik Petanda Kuat, tangguh Anggun Kekuatan vagina

Tabel II. Feminisme (my version) Bentuk Rahim Cantik, tampan Penanda Denotative Non-Fiksi Sexy Pabrik Susu *) Cerdas, baik Petanda Konotatif Imajinasi Sexist

Fisik Mental, spiritual *) Terkecuali apabila dadanya disuntik silikon atau terkena kanker payudara. I AM GOD DOGMA I

Chapter Nine
Auto-Obituary X.1. Empty Recycle Bin Aku melemparkan semua wajahnya kedalam tong sampah. Terus melupakan kejadian itu untuk selama-lamanya, setidaknya mencoba untuk itu. Kuharap tong sampah itu tidak seperti recycle bin. Tapi kalaupun persis, maka akan ku-klik kanan dan langsung mengarahkan pointer pada

82

empty recycle bin lantas kutekan kuat-kuat, biar musnah sudah semua wajahnya yang cantik menjijikan itu. “Pelacur!” kataku. Aku melemparkan semua wajahnya kedalam tong sampah. Terus melupakannya untuk selamalamanya, setidaknya mencoba untuk itu. Kuharap tong sampah itu tidak seperti recycle bin. Tapi kalaupun persis, maka akan ku-klik kanan dan langsung mengarahkan pointer pada empty recycle bin lantas kutekan kuat-kuat, biar musnah sudah semua wajahnya yang cantik menjijikan itu. “Pelacur!” kataku. Padahal sepertinya sebongkah batu besar pun belum cukup sanggup menghancurkan kenangan itu. Tapi aku selalu ingin melemparkan sebongkah batu besar, menindihnya, melibasnya, menggilasnya, menggilingnya, terus melemparkannya ke dalam tong sampah. Terus melupakan kejadian itu untuk selama-lamanya, setidaknya mencoba untuk itu. Kuharap tong sampah itu tidak seperti recycle bin. Tapi kalaupun persis, maka akan ku-klik kanan dan langsung mengarahkan pointer pada empty recycle bin lantas kutekan kuat-kuat, biar musnah sudah semua wajahnya yang cantik menjijikan itu. Tapi kenangan itu masih mendiam dalam kepalaku se-menjijikan wajahnya yang cantik itu. Wajahnya yang cantik yang membuatku selalu ingin melemparkan sebongkah batu besar, menindihnya, melibasnya, menggilasnya, menggilingnya, terus melemparkannya ke dalam tong sampah. Terus melupakan wajahnya itu untuk selama-lamanya, setidaknya mencoba untuk itu. Kuharap tong sampah itu tidak seperti recycle bin. Tapi kalaupun persis, maka akan ku-klik kanan dan langsung mengarahkan pointer pada empty recycle bin lantas kutekan kuat-kuat, biar tak ada lagi yang tersisa dan benar-benar musnah seluruh intervensi wajahnya dalam memori di otakku yang kuharap tidak ada program recycle bin disana agar semua sampah seperti dia, wajah dan kenangannya bisa hilang selamanya tanpa ada satupun orang mampu meng-klik kanan dan mengarahkan pointer pada restore untuk – mungkin sekali – ditekan kuat-kuat. Tapi kalaupun ada, maka akan ku-klik kanan cepat-cepat sebelum orang lain mendahuluiku dan langsung mengarahkan pointer pada empty recycle bin lantas buru-buru kutekan kuat-kuat. Sepertinya masih ada sedikit sisa, maka aku akan cepat-cepat melemparkan sisa-sisa wajahnya itu kedalam tong sampah. Terus melupakan sisa-sisa wajahnya itu untuk selama-lamanya, setidaknya mencoba untuk itu. Kuharap tong sampah itu tidak seperti recycle bin. Tapi

83

kalaupun persis, maka akan ku-klik kanan dan langsung mengarahkan pointer pada empty recycle bin lantas kutekan kuat-kuat, biar musnah sudah semua wajahnya yang cantik menjijikan itu. “Pelacur!” kataku. “Sial!” ucapku kemudian sebab no.telp-nya masih tersimpan dalam phone book di ponsel-ku. Dalam seketika dan segera aku sangat ingin cepat-cepat menghapusnya dan melemparkannya kedalam tong sampah. Terus melupakan no.telp-nya untuk selama-lamanya, setidaknya mencoba untuk itu. Kuharap tong sampah itu tidak seperti recycle bin. Tapi kalaupun persis, maka akan ku-klik kanan dan langsung mengarahkan pointer pada empty recycle bin lantas kutekan kuat-kuat, biar habis sudah no.telp-nya yang berupa kombinasi angka menjijikan itu. Tapi entah kenapa tanganku malah menekan no.telp-nya itu dan terdengar suara seperti ini di seberang sana: maaf, dana anda tidak cukup untuk melakukan panggilan ini! (mungkin dengan 3 tanda seru seperti ini: maaf, dana anda tidak cukup untuk melakukan panggilan ini !!!) atau bisa jadi dengan font yang di-control B seperti ini: maaf, dana anda tidak cukup untuk melakukan panggilan ini !!! atau malah bisa jadi lebih mungkin dengan huruf kapital semua dengan control B, control I dan control U, sangat berlebihan bukan? Sebab jadinya seperti ini: MAAF, DANA ANDA TIDAK CUKUP UNTUK MELAKUKAN PANGGILAN INI (dan masih tetap dengan tiga tanda seru, sebab kata guruku tiga bisa menunjukan tak hingga, tak perlu capek-capek lebih dari tiga!) seperti ini: !!! “Sial!” kataku kemudian, “berapa dana yang kubutuhkan untuk membuatnya setia padaku? “Pelacur!” Lantas dengan segera aku sangat ingin cepat-cepat mencoba lagi menghapus no.telp-nya dan melemparkannya kedalam tong sampah. Terus melupakan no.telp-nya untuk selama-lamanya, setidaknya mencoba untuk itu. Kuharap tong sampah itu tidak seperti recycle bin. Tapi kalaupun persis, maka akan ku-klik kanan dan langsung mengarahkan pointer pada empty recycle bin lantas kutekan kuat-kuat, biar habis sudah no.telp-nya yang berupa kombinasi angka menjijikan itu sungguh sama seperti wajah cantiknya yang juga ingin kulemparkan kedalam tong sampah, terus melupakan wajahnya itu untuk selama-lamanya, setidaknya mencoba untuk itu. Kuharap tong sampah itu tidak seperti recycle bin. Tapi kalaupun persis, maka akan ku-klik kanan dan langsung mengarahkan pointer pada empty recycle bin lantas

84

kutekan kuat-kuat. Tapi entah kenapa, jariku yang tadi sudah menekan option pada bagian no.telp-nya lantas mengarahkannya pada delete entry, ketika ada pertanyaan; are you sure? jariku malah menekan no. (Sebenarnya mungkin no dengan tanda seru seperti ini: no! atau bisa jadi seharusnya dengan 3 tanda seru, sebab kata guruku tiga bisa menunjukan tak hingga, tak perlu capek-capek lebih dari tiga, seperti ini : no!!!. Seperti tidak puas juga jariku menambahkan control B dan control U dan mengganti hurufnya dengan kapital semua, jadinya seperti ini: NO!!!. Tapi kok control U sepertinya menggangu ya? Baiklah akan kuhilangkan saja, jadi seperti ini: NO !!! dengan spasi antara kata no dan ke-3 tanda seru agar seperti masing-masing berdiri sendiri dan menjadi sebuah kekuatan besar apabila digabung menjadi semacam frase memuakkan) Kuharap saat ini dan selama-lamanya setiap kali aku harus terpaksa menekan no.telp-nya yang kusimpan dalam nama pelacur dalam huruf kapital semua dengan tiga tanda seru, tapi tidak kucontrol B sebab tak ada fasilitas itu dalam ponselku, (PELACUR!!!) itu selalu terhubung dengan mesin yang dengan cerewet selalu berkata begini: "Telepon yang ada tuju sedang tidak aktif atau berada diluar servis area". Tapi cukup segitu saja tanpa harus memakai tanda seru, huruf kapital dan control B sebab aku pasti akan sangat muak dengannya bila kata-kata itu muncul dengan tanda seru, huruf kapital dan control B. Bila terhubung dengan kalimat wanita mesin itu memungkinkan aku menaruh curiga bahwa dia tak lagi mengaktifkan kesetiaannya atau dia sudah diluar servis areaku, maka dengan begitu kuharap aku bisa menghapus no.telpnya dan melemparkannya kedalam tong sampah. Terus melupakan no.telp-nya untuk selamalamanya, setidaknya mencoba untuk itu. Kuharap tong sampah itu tidak seperti recycle bin. Tapi kalaupun persis, maka akan ku-klik kanan dan langsung mengarahkan pointer pada empty recycle bin lantas kutekan kuat-kuat, biar habis sudah no.telp-nya yang berupa kombinasi angka menjijikan itu sungguh sama seperti wajah cantiknya yang juga ingin kulemparkan kedalam tong sampah, terus melupakan wajahnya itu untuk selama-lamanya, setidaknya mencoba untuk itu. Kuharap tong sampah itu tidak seperti recycle bin. Tapi kalaupun persis, maka akan ku-klik kanan dan langsung mengarahkan pointer pada empty recycle bin lantas kutekan kuat-kuat. X.2. Post-Libido Segelas juice jeruk mengingatkanku betapa piciknya aku berpikir bahwa dia (tubuhnya, warnawarna matanya, menghentikan mobil saat lampu merah menyala-nya, setiap mutiara yang

85

menancap di sudut-sudut dagingnya, desiran darahnya, hentakan tubuhnya saat hujan menerpa, erangan paraunya, 3 mm2 tanda lahir berwarna biru kemerahan di ujung selangkangnnya, bau vaginanya yang meluntur merayapi malam-malam yang entah keberapa kali itu) hanyalah seorang pelacur musim yang tak perlu kubayar sebab dia mencintaiku. Ternyata semakin kupicingkan mata, kukerutkan dahi, kubuang semua sperma matang, akulah yang layak disebut pelacur, gigolo beracun, julukan yang tepat untukku, Kawan! Dia adalah bitch dan aku adalah bastard. Begitu katanya setiap kali. Bitch adalah dia, Bastard adalah aku. Aku menyetujuinya. Apa yang kau pikir bila seekor bitch dan seekor bastard berdialog? Pembicaraan tentang hedonisme yang terus menerus? Kau salah! Yang kami bicarakan adalah filsafat, melulu filsafat. Bukan sejarah filsafat. Bukan filsafat yang sudah diagungkan di buku-buku. Tapi filsafat versi sekor bitch dan seekor bastard. Filsafat yang sepertinya lebih kasar dari dialog fantasi Derrida dengan Baudrillard. Bitch : “Kita adalah dua tokoh antagonis yang dibenci penonton.” Bastard: “Ya, Miky and Malory Knox.” Bitch : “Bukan, mereka tidak dibenci penonton. Kita adalah tokoh antagonis standar. Agus Melast dan Ibu Subangun. 80’s antagonist, isn’t it? Hahaha…” Bastard: “Aku adalah Apollo, dan kau Daphne.” Bitch : “Tidak, tidak… Kalau di mitologi Yunani, aku adalah Aphrodite dan kau adalah Ares, tepat pada saat mereka ditonton dan ditertawai para Dewa.” Termina, Si Bitch itu, sudah menikah waktu mengenalku. Dia datangi aku saat sedang mengurusi proses cerai dengan suaminya, membawa entah berapa kilojoule birahinya, menyetubuhiku dengan basah di setiap senti tubuhku. Lantas dia beri aku makan, seonggok bangkai, seribu vibrasi, sebuah kenyamanan bersyarat, serta semua keperluan gilaku. Aku menyukainya, Termina benar-benar layak untuk disukai dari berbagai arah, Barat, Selatan, Utara, Timur, Barat Daya, Timur Jauh, Atas, Bawah, Diagonal, ataupun dari Sudut Warnawarna. Aku lelaki normal senormal penis dunguku, dan miskin semiskin penis dunguku. Lalu

86

dia benar-benar cerai dengan suaminya saat aku berpikir bahwa aku hanyalah ikan cupang dan suaminya benar-benar daging dan tulang. Suaminya adalah daging dan tulang sehat yang selalu disajikan dalam restoran dan cafe di hotel-hotel jadi steak dan sop kaki. Setelah itu suaminya mulai beranjak gila dan selalu mencoba untuk bunuh diri. Aku mendengarnya dari Niskala. Aku selalu hanya mendengar saja. Aku adalah telinga. Satu-satunya yang kubisa selain mendengarkan Niskala bicara adalah memainkan setiap helai senar gitar dengan merek apapun, dengan sempurna! Gitar yang sama yang kupakai untuk mengamen di perempatan bahkan gitar yang sama yang kupakai di konserkonser tunggal kami. Aku adalah telinga. Niskala melulu mulut. Begitulah hingga kami melebur bersama dalam nada-nada harmoni, kontras, fals bahkan absurd-schizophrenic. Selalu begitu, sehingga rahim kami membesar dan lantas meledak memunculkan satu nama: Samantha Impossible Dream, berupa track-track lagu yang mengejan-ejan, menangis keras, meracau-racau dan mencecakar kain-kain bercorak dalam berbagai hiasan not balok dan komputer yang isinya melulu program musik. Aku adalah pengganti mentari saat malam buat Niskala. Niskala adalah ke-takkasatmata-an. Menjadi terlihat saat sinar menyelubunginya. Kita berdua menjadi keseluruhan semesta saat melebur bersama suara-suara. Menjadi Tuhan untuk kami sendiri. Memuja diri kami sendiri. Meniupkan ruh atas setiap lagu yang kami buat. Ada beberapa additional untuk alat musik yang lain. Yane untuk grand piano dan keyboard. Erva untuk violin. Dan Ervi, kembarannya Erva untuk backing vocal dan rythm guitar. Selalu dengan format itu untuk setiap kali konser. If adalah manager yang hebat. Aku mencintainya. Dia adalah groupie Niskala. Tidur dengan Niskala dan berpacaran denganku. If adalah manager kami. If adalah pacarku. If adalah groupie Niskala. Ngerti kan apa yang kumaksud? Album pertama kami meledak dengan ribuan copy dan memenangkan berbagai awards disini ataupun diluar. Ah…, masa lalu… X.3. Post-Conciousness

87

Saat itu. Aku merasa hina. Mendungnya langit seolah dan bukan saja seolah mengiringi kehinaanku, mencoba menyembunyikanku dari berbagai kecaman mata setiap orang. Kecaman mata itu adalah mimpi buruk yang bertumpuk. Seperti ketika dua kilogram mariyuana dihunjamkan asapnya langsung kesetiap aliran darah di otak. Kecaman-kecaman imajiner yang sebenarnya tidak datang dari siapapun tapi datang dari proyeksi mataku sendiri. Kecaman-kecaman hina atas setiap langkah kakiku setiap menelusuri apapun, setiap menit, setiap detik. Dihunjam ketakutan dan kehinaan seperti itu membuatku selalu ingin melemparkan satu balok batu yang besar pada setiap mata-mata itu yang selalu seolah dan bukan saja seolah mengiringi langkah-langkah kakiku pada setiap menelusuri apapun. Tapi aku harus melangkah untuk menelusuri apapun dan bersiap berbekal batu apabila kecaman imajiner itu mengiringi langkahku lagi. Aku harus melangkah, setiap menit, setiap detik. Dering mobilephone yang ketiga, dengan nada lagu pertama kami, baru kuangkat, sebab vibratornya sangat mengganggu selangkanganku. “Halo…, ini aku yang tengah mati!” Kututup. Ini masih mimpi buruk yang bertumpuk. Aku pulang kerumah. Tertidur dengan suara Thom Yorke menggeliat-geliat dalam Amnesiac, Morning bell… morning bell… light another candle and release me… Dering jam weker yang ketiga baru kumatikan. “Selamat pagi wahai bisik hari, ini aku yang tengah mati.” Masih mimpi buruk yang bertumpuk? Termina yang menumpuk-numpuk, menumbuk-numbuk engahan nafasku, keringatku. Mimpi buruk tentang bajingan yang bersarang ditubuhku. Merasuki setiap sel, setiap menit, setiap detik. Hingga malam, masih dengan background mendung, kudentangkan gitar dengan nada-nada yang kusengaja fals seperti mimpi buruk bertumpuk-ku. Suara jengkerik dan burung suitincuing memberi melodi dari ritme gitarku. Dan suara detik jam dikamarku membimbingku seperti ketukan metronom terganggu degup jantung yang suaranya lebih bingar daripada geraman adrenalinku. Diiringi klakson mobil tetangga dan teriakan anak-anak kampung yang baru pulang mengaji di rumah Pak Jarkoni. Kunyanyikan lagu-lagu cinta seolah dan bukan saja seolah tiada lagi yang bisa diperjuangkan dalam hidup selain cinta. Dering bel rumahku yang ketiga, baru kubuka. “Ini aku yang tengah mati!” “Karna? Kau kenapa?” “Ini aku yang tengah mati dalam tiga babak ini aku yang tengah mati.”

88

“Karna…!” “Pulanglah Termina, aku tak sanggup lagi.” “Tapi kita belum selesai membicarakannya.” “Ya…, tapi aku sudah menyadarinya. Aku tidak akan pernah mencintaimu.” “Aku tak butuh cintamu. Aku adalah gairah dan kau adalah tikus.” “Kau adalah ayam betina dan aku adalah anteros. Kebencian? Entahlah.” “Kamu bajingan, Karna!” “Ya, aku adalah Bastard. Dan kau Bitch, pulanglah. End of conversation!” Kututup pintu tanpa memberi sedikitpun kesempatan untuk Termina melewati batas terakhir dari mimpi buruk bertumpuk-ku; teriakan-teriakan gila yang mengancam tujuh ribu kecemasan merasuk ke dalam tubuhnya sekaligus mencipta durja yang berkepanjangan dia sudah membuang jauh-jauh semua kemuakannya padaku aku lantas mengulur waktu menyimpan dendam kesetaraan aku tak peduli dengan sejuta durjanya sebab sebenarnya teriakan-teriakan gila itu masih terus bersemayam dengan tenang dalam tubuhnya sekali lagi kukatakan bahwa dendam itu masih juga teredam dalam tubuhku malah kebusukannya semakin membesar, menyengat ujung-ujung syaraf penciumanku dan nyaris membuatnya buta hingga pada suatu ketika kami berdua menabrakkan keduanya, dendam membusuk dan teriakan gila itu, dalam sebuah irisan simetris yang kami berdua ciptakan dalam sebuah persenggamaan sakral diatas ranjang mimpi pertama kami penyatuan itu berhasil melahirkan benih-benih seribu satu kebijaksanaan yang kucoba terangkan padamu sebagai penggembala para domba yang akan meneruskan keskizoprenikan para pendahulumu yang sudah tersesat dalam labirin yang mereka buat sendiri maka selamat malam...! Tak lama bel berdering lagi. “Sudahlah Termina, aku sudah muak!”

89

“Karna! Ini aku, Niskala.” “Nis…” “Ya…” “Masuklah, aku pikir siapa.” “Kamu kusut sekali, kenapa?” “Entahlah!” IX.4. Scratch and Then Hang Tiba-tiba datang Niskala. Dia bercerita padaku tentang hubungan cintanya yang kandas garagara hal kecil yang sebenarnya masih bisa diselesaikan. Cinta lagi! Apa tidak ada kisah lain yang lain selain kisah cinta? Selalu cinta… selalu tentang cinta. Aku muak, sambil menghembuskan asap rokok ke mukanya. Maaf, saat ini aku sedang tak bisa menjadi telinga buatmu, malam ini aku tidak sedang ronda menggantikan ayahku. Malam ini aku sedang tidak bisa menerangimu. Maaf! “Sebentar, Kawan! Bukan hubungan cinta dengan wanita, tapi dengan Tuhan. Gue lagi berantem berat ama Dia.” Aku tak peduli. Lalu aku tinggalkan dia. Aku keluar kamar kost-ku. Kulangkahkan kakiku mengikuti ibu jari yang entah berapa lama tak kupotong kukunya. Semerbak harum getahgetah pohon flamboyant mengiringi langkah dan lamunanku. Dingin malam tak terasa. Tiba di pinggir jalanan sepi, aku berjongkok dan mataku menerawang ke arah langit yang malam ini enggan menampakan bintang-bintangnya. Sepertinya enggan untuk memberiku keindahan. Disitulah aku sepanjang malam itu hingga tertidur. Mimpi buruk terus bertumpuk-tumpuk. Terbangun tapi tidak terbangun, aku masih terus bermimpi. Bermimpi dan bermimpi lagi. Aku masih bertanya, tidur nyenyak; dengan mimpi atau tanpa mimpi? Pagi hari, lebih tepatnya menjelang tengah hari aku dibangunkan oleh suara klakson bis kota yang mengangkut para mahasiswa dan pedagang-pedagang pasar yang baru pulang. Aku menggeliat dan menoleh ke sekelilingku. Begitu riuh. Aku berdiri dengan sisa kantuk yang masih menyerang sarafku. Sambil sempoyongan berjalan menuju kamar kost-ku yang tak jauh dari sana. Sesampai disana kutemui Niskala masih tertidur. Dan seorang gadis sedang membaca majalah. “Hai!” sapaku. Dia terkejut dan menoleh ke arahku. “Karna, dari mana saja?” kata If.

90

“Sejak kapan disini?” Dia tak menjawab. Dia hanya memelukku sambil mencium pipiku dan menarikku kedalam kamar. Lalu dia menuangkan segelas air putih dari botol dan memberikannya padaku. “Minum dulu! Berantakan sekali kamu. Dari mana sih? Tertimpa gunung batu ya? Aku kangen.” katanya. Aku hanya terdiam saat setelah menenggak habis air di gelas itu. Aku terus terdiam sambil tertunduk. Dia pun terdiam sambil memperhatikanku. Sepertinya tidak menunggu jawabanku. Dia mengerti bahwa ini bukan saatnya aku memberikan jawaban. Dia sepertinya tahu bahwa aku sedang menghadapi sesuatu yang berat. Sesuatu yang berat? Mimpi buruk bertumpuk? Kecaman hingar bingar dari setiap mata? Kusiapkan sebalok batu besar dan siap kulemparkan pada mimpi buruk bertumpuk-ku. Selanjutnya, aku berteriak-teriak. Dia keheranan dan mencoba menenangkanku. Aku terus berteriak dan mengamuk hingga Niskala terbangun dan langsung membantu If menenangkanku. Hingga aku menangis dalam pelukan If. “Aku ingin mati saja, aku ingin mati!” ratapku. If menepuk-nepuk punggungku dan membelai-belai rambutku dengan lembut. “Sudahlah, Sayang! Tenangkan dulu, baru setelah itu ceritakan apa yang terjadi! Mungkin aku bisa membantu.” Aku terisak-isak dan lalu tak sadarkan diri. Tak hentinya dilempari sebalok batu besar oleh mimpi buruk bertumpuk-ku... Terlalu banyak suara-suara ghaib di belakang kepalaku... IX.5. Restart Dua puluh tahun kemudian… Aku terbangun dari tidur panjangku. Tidur panjang? Amnesia? Gila? Skizoprenia? Entahlah… Seorang gadis remaja memakai seragam sekolah masuk ke dalam kamar. “Papa, aku berangkat dulu ya.” Dia mencium tanganku, pipiku. Lantas pergi lagi. Astaga! Apakah ini masih mimpi bertumpuk dalam bagian yang tidak buruk? IX.6. Ctrl+Alt+Del(Epilog)turnoff Di suatu malam seminggu kemudian, ada If, dan kedua anakku yang baru kukenal. Kami sedang berkumpul di ruang tengah sambil menonton TV. Tiba-tiba listrik dirumahku mati. Dipaksa mati dengan kombinasi Ctrl+Alt+Del... atau tombol power yang ditekan lama... Apakah segalanya akan segera berakhir? Apakah aku akan meninggal dengan tenang diiringi

91

isak tangis, jeritan histeris hingga bunuh dirinya istriku? Apakah dunia akan seperti kelereng diantara duka dan hampa? Tergoncang dan runtuh? Yang kutahu segalanya, ya, sudah berakhir dalam ingatan yang terjebak diantara kawah dan gunung es... dengan photo terakhir di sebelah epitaph yang sudah kuukir sebelumnya... sendirian.

Chapter Ten
Beberapa Spekulasi Mengenai Metode Bunuh Diri Yang Akhirnya Dipilih Niskala Spek.1. Waktu: A Niskala menyiapkan tali gantungan yang sudah dia hitung setiap presisinya (lihat puisi pada Chapter II), proyektor berputar…

92

Method: Hanging Recommendation: *** Effort required: requires some preparation to accomplish cleanly. Messiness: not very messy to clean up after. Pain factor: quite unpleasant if you don't hit the rope hard enough to snap your neck, otherwise nearly painless. Drama: very traditional and dramatic, unless someone happens to see you flailing away because your neck didn't snap. Certainty of death: quite high unless your set up is cheesy. Wimp option: very small chance of backing out once the rope is tight. Other points: I've heard that your neck is more likely to snap if the knot is on the side of your neck instead of behind you. Make sure the drop is at least 6 feet before the rope goes taut. Don't use a stretchy or weak rope. …dia digantung kaki ke atas kepala ke bawah gara-gara mengganggu teman-teman nya di panti asuhan saat makan. Spek.2. Waktu: A Dia mendapatkan ShotGun itu dari salah seorang temannya, Kimung, pagi tadi. Moncong Shotgun dimasukan ke mulutnya, jari menyentuh trigger pembantai masa hidupnya. Visual di belakang kepalanya bermunculan… Method: Shooting Recommendation: *** Effort required: if you already have a gun, almost none. if you don't have a gun I think there will be a waiting period and you have to be 18 to keep things legal. if you can get a gun illegally, then you know better than I. Messiness: gloriously messy. most reliable weapons will destroy your face and remove the back of your head. even a mouth shot will mutilate your whole head more often than not. Pain factor: none if you shoot to the head. if you survive, however, you will be permanently scarred and disabled.

93

Drama: awfully dramatic depending on where your brain plume ends up. Certainty of death: quite high, but not absolutely certain. it depends on the weapon, but people have survived point-blank shotgun blasts to the face, so keep this in mind. Wimp option: sure, until you pull the trigger. Other points: Try to use the most powerful bullet you can. A shotgun is usually ideal, otherwise you will probably want a hollowpoint round. Keep in mind that handgun rounds regularly bounce off of skulls, especially if they strike at an angle. For some reason, people usually aim for the roof of their mouth. I'm guessing that the skull is thinnest here, but I'm not sure. Otherwise I've heard that the temples are thin also. Make sure that your intended bullet path will end up killing you and not just blow out the back of your throat. Remember that your gun may go off again when it hits the ground (potentially hitting anyone within a mile), and that it will be lying around after you die (people may decide to steal it, kids may play with it). …tembakan yang telak di ulu hati saat mengetahui bahwa Dyah adalah kakak kandungnya. Spek.3. Waktu: A Dia memutar kunci, suara gerungan mesin menderu, melajukan mobilnya ke sebuah hutan… menyalakan AC, membiarkan mobil tetap hidup, berbaring pada kursi yang dia tekan kebelakang…mendengarkan musik, ada gambar-gambar di belakang kepalanya… Method: Carbon Monoxide Recommendation: ***** Effort required: not too much if you have a car. just run a tube from the exhaust pipe inside of the car. Messiness: very clean, but you'll smell funny for a while. Pain factor: not too bad, but you will be choking and gasping as the car fills with hot, noxious gasses. then you'll get a pounding headache and your head will swim. Drama: very low. your last few minutes are spent enshrouded in reeking fumes with McDonalds wrappers on the floor. whatever you do, don't let the car slip into gear. and get rid of those Christmas tree air fresheners. (tacky, tacky, tacky...) Certainty of death: not so hot. do-gooders are forever trying to rescue people from smoking garages. try to use a quiet car.

94

Wimp option: not too bad. you can always wimp out until you finally pass out, but you might suffer some brain damage. Other points: There is a great danger to passers-by of becoming overwhelmed by the carbon monoxide in the area. Two parents once tried to mercy-kill their baby by piping car exhaust into the baby's face. They both passed out, as did a few rescuers. The baby finally died but so did the wife. Keep in mind that carbon monoxide itself is colorless and odorless, even if the other stuff in car exhaust reeks. …dalam sebuah panggung, tiba-tiba suaranya tercekik…kehabisan nafas, sebab Samantha hari itu sedang haid, dan harus istirahat dalam kepalanya, istirahat dari mengibar-ngibarkan baju bidadarinya. Niskala terbatuk dan dibawa ke belakang panggung oleh tim medis. Penonton gempar. Erva, Ervi dan Yanne meneruskan bermain membawakan lagu-lagu instrumen mereka tanpa Niskala dan sentuhan suara-suara elektronik. Jadi sangat Jazzy, lembut dan anggun. Andai ada tambahan gebukan ringan dan cerdas dari seorang drummer pasti jadi semakin sempurna. Spek.4. Waktu: A …dia sangat teliti dan hati-hati, memperhitungkan setiap detil kemungkinan, agar sangat efektif dan masih terlihat indah dalam kamera… …lantai 6 sudah cukup, dan yang jelas kehebohannya akan dirasakan hingga sepanjang tahun. Dia akan menjadi legenda… Method: Jumping Recommendation: ********* Effort required: probably not too much, although a really dramatic end may require you to do a bit of trajectory physics as well as a bit of climbing. Messiness: variable. if found soon after hitting a river, you will probably be pretty intact. if it takes a bit longer than that, you will look really gross. a long, hard building jump on the other hand... Pain factor: none if you die upon impact. if you survive you could be paralyzed, brain damaged, drowning, etc. Drama: risky. can be quite high if planned well, but can also be humiliating if you float to the

95

surface and survive. points for being steeped in tradition, though. Certainty of death: if you don't mind a head first drop, pretty darn high. if you aren't sure if you can maintain that attitude, or if you want to fall feet first, pick a tall structure. Wimp option: I don't know. bring a parachute? Other points: I'm sorry, I don't have any reliable figures on heights, nor any idea of the security at the top of skyscrapers. Make sure you don't accidentally hit anybody. If you can die from a fall, whoever you hit can die as well. …dia masih sangat ingat adegan itu, saat dia kecil, meloncat dari pohon bambu ke tengahtengah sawah, kepala duluan. Kepalanya nyungsep kedalam lumpur sawah musim tanam. Spek.5. Waktu: A …dia membersihkan suntikan itu dengan alkohol, dia tidak mau mati karena kuman-kuman atau virus yang ada di suntikan itu yang akan membunuhnya. Dia ingin mati karena ada cairan yang disedotnya keluar hingga habis dan tubuhnya langsung mati karena tidak memiliki cairan itu. Di membenamkan ujung logam tajam itu kedalam kulitnya. Menyedot cairan itu pelanpelan… Kepalanya mendenyarkan gambar-gambar bergerak… Method: Water Ingestion Recommendation: **** Effort required: massively, uncomprehendably great. unless you are insane, you will probably not want to bother. Messiness: as far as I know, pretty darn clean. Pain factor: incredibly, exquisitely painful. Drama: arguably very high if someone fully understands what you did. Certainty of death: well, I've actually heard of at least one guy who pulled it off, but I wouldn't count on it. Wimp option: awfully good, in fact you will probably have a hard time not aborting the operation. …ketawa habis hingga hampir mati saat menghisap ganja dengan teman-teman bandnya dalam

96

sebuah after-party. Saat itu Niskala merasakan ada gairah tertahan di mata Ervi, kerinduan akan Sex di mata Yanne, kebosanan di mata Erva, kesabaran di mata Karna, cinta (entah pada siapa) di mata If. Niskala ingin memenuhi semua harapan sahabat-sahabatnya. Dia layani mereka satu-satu, memenuhi keinginan itu dengan sepenuh hati… Spek.6. Waktu: A Justru karena dia tahu bahwa wanita itu HIV positif maka dia mau tidur dengannya. Niskala membuat malam itu menjadi sangat temaram dan berbau melati dan cempaka, gadis itu sudah terlentang di atas ranjang, telanjang, siap menerima terkaman tubuh Niskala di atas tubuhnya. Gadis itu tahu dia sedang berbagi, berbagi virus-virus yang ada di tubuhnya kepada lelaki yang sudah menjadi teman baiknya sejak lama dalam scene indie di Bandung… Method: Screwing Recommendation: ******** Effort required: quite a bit, but most of it fairly enjoyable Messiness: eventually this will get to be quite messy as you are hospitalized and slowly lose your health and faculties. Pain factor: quite painful if you eventually do succeed in succumbing to a venereal disease. your death will be humiliating, and slow enough so that you will probably have worked out all of your problems by the time you actually do die. Drama: there are two ways to look at this. on the one hand, you will be acting extremely nihilistically and self destructively. on the other, you will have a much better chance of succeeding if you screw nasty mounds of oozing sores. Certainty of death: not very good unless you get AIDS. all other diseases can be treated to prevent you from dying. Wimp option: well, it's hard to tell for sure, but your chances are pretty good if you quit early on. Other points: Try to shoot for either AIDS or syphilis. AIDS will kill you almost for sure after 10 to 20 years. Syphilis is really cool. It can mimic the symptoms of almost any other disease, but will often eventually drive you insane. Neat or what? Keep in mind that you'll probably transmit your disease to lots of other people in the course of your actions.

97

…keluarganya sudah lebih dulu menularkan penyakit-penyakit itu kedalam tubuhnya, pikirannya. Ibunya, ayahnya, kakak-kakaknya, bahkan adiknya…aku memang sudah sakit jiwa sejak masih dalam kandungan… Spek.7. Waktu: A Salah satu hal yang paling tidak dia sukai adalah kebut-kebutan, dia lebih senang menjalankan mobil atau motor dengan lambat. Menikmati perjalanan, katanya. Tapi siang ini dia menjalankan motor itu pada kecepatan 200 km/jam di sela-sela mobil yang berseliweran berlawanan arah. Motornya dengan telak menabrak sebuah pick-up yang terlambat mengelak. Tubuhnya terlempar, slow motion, berjuta-juta gambar seperti slide show berputar dengan cepat… Method: Auto Accident Recommendation: **** Effort required: none to some. you may want to scout a good position though. Messiness: extremely messy. if you suffer enough damage to die, you will be splattered all over. Pain factor: not too bad. even if you have to bleed to death, you probably won't feel all of your injuries very much. Drama: so-so. Certainty of death: not very good. make sure you are going to impact at a high velocity and remember that the only injuries that really matter are head wounds. Wimp option: fine until you actually hit. Other points: Don't slam into someone else with your car unless you mean it. Keep in mind that stepping in front of a bus will likely mentally scar the driver forever. This is one of the few ways to kill yourself 'accidentally' for insurance reasons, though, hence the points. Above all else , remember to check for air bags! …karena inilah, kenapa aku ingin sekali membuat perubahan yang besar, dimana tidak ada lagi korban yang tidak menyadari bahwa dirinya adalah korban. Ini bukan cuma tugas orang-orang yang meneliti dengan metode analisis wacana kritis saja, tapi kaum positivis harus kembali bangkit dan kaum konstruktivis terus melakukan gebrakan-gebrakan baru, katanya suatu hari

98

dalam sebuah seminar yang terpaksa dihadirinya. Spek.8. Waktu: A Pisau belati itu nyaris menancap di leher If, Niskala membiarkannya lama hanya pada titik nyaris. Hingga Polisi berdatangan. Pistol-pistol terhunus tepat pada bidikan kepala Niskala… dari kepalanya muncul gambar-gambar bergerak dari masa lalu… Method: Cop Recommendation: ********* Effort required: sort of a lot. depends on your natural tendency toward violence. Messiness: really messy. Pain factor: if you aren't killed by a head shot this could be pretty painful. remember that these are sudden wounds though, thus more than likely not too bad. Drama: usually awfully dramatic. even if you get caught, admitting that you were just trying to get yourself killed is still pretty dramatic. make sure to use a gun without bullets. this will look really cool in the investigation, especially if you had acted really menacing. Certainty of death: not real great. some loser is always trying to knock you down without killing you. Wimp option: pretty poor once you become a threat. the best case scenario would get you a lot of time in prison. Other points: It's not that hard. Pull out a gun and point it at someone at some dramatic point. Keep this up until cops start training their weapons on you. Whenever you are ready and have said your piece, throw the hostage down and point your gun toward a cop. Police training is to never shoot unless lives are definitely threatened, then shoot to kill. Wounding shots will be accidental. Be sure to check behind you though, they won't want to shoot if there are civilians behind you. Remember that notes on your person could easily be destroyed by gunfire. If you are only wounded, keep making yourself a threat but don't give your intentions away. This can be combined with mass murder, which I talk about later on. …dia terus berlari dan terus berlari dikejar hunusan golok, pentungan, pisau, teriakan-teriakan kasar, kunci rem mobil, stik soft ball, linggis, kapak, gergaji. Dia terus berlari tanpa melihat ke belakang. Bang Budhi dan Mas Teddy menghentikan histeria

99

massa dengan menghadang mereka tepat di depan hunusan benda-benda mengerikan tadi. Spek.9. Waktu: A …dia terus berjalan, di atas batu terjal, di atas pasir, di pinggir danau, hingga dia menemukan sebuah gua. Dengan tidak membawa apa-apa dia duduk di gua itu, di bawah tetesan air. Menunggu… Ingatannya mengalun pelan menjelma pada layar saat proyektor berputar. Method: Starvation Recommendation: ******* Effort required: quite a bit. probably one of the hardest things you will ever do. Messiness: quite clean. in fact, this is one of the few methods that won't leave you with messy underwear. Pain factor: the first day will be the hardest. after that you will lose most of your hunger pangs, but will soon get severe stomach cramps and lots of other problems off and on until you die. Drama: way dramatic. if you can pull it off, you will be guaranteed the admiration of anyone with a clue. Certainty of death: well, ultimately you will die, but people have a tendency to accost starving people and stick nutrient tubes down their noses or in their veins. Wimp option: no problem. you should be fully recoverable until quite close to your death. this should take approximately 3 months. Other points: Quicker than starvation is dehydration, but this won't be quite as fun. You won't get super skinny and you will probably have all sorts of disgusting sensations before you go. For example, a dry mouth tends to breed bacteria, resulting in hideous breath. …para raja dahulu, saat sudah tua dan tidak produktif lagi, maka mereka ngahyang di tempat sepi, bermeditasi, menunggu, hingga ajal datang dengan sendirinya. Inilah kenapa para raja dulu sering kali dikatakan menghilang, menjelma menjadi harimau atau buaya. Hal inilah yang dilakukan Niskala Wastukencana di masa tuanya. Ngahyang di Nusa Larang, Panjalu. Kematian seperti ini juga kerap dilakukan kucing, mati di kesepian dan tak ada seorangpun akan menemukan jejak kematian itu.

100

Dia menutup matanya, membukanya kembali, memandangi kuburan leluhurnya. Rajanya. Menutup buku cerita tentang leluhurnya itu. Spek.10. Waktu: A

)!@#$%^&*(
Method: Alcohol Recommendation: **** Effort required: fairly low Messiness: not too bad. you'll probably urinate on yourself, though. Pain factor: strong alcohol tastes just godawful. I can't say for sure, but it doesn't sound like much fun. Drama: not incredibly dramatic, but there isn't anything too tacky about the process. just make sure you can keep your drink down. Certainty of death: I really don't know, but I've seen lots of cop shows where they say "His blood alcohol level was high enough that he should have been dead, I'm not sure how he drove home." Wimp option: I would guess that you could be revived if your stomach is pumped quickly enough. Other points: I've been told that Everclear is the way to do this. Apparently it only takes a couple of shots before you are risking your life. All in all, it doesn't sound like a terribly reliable means. …urinate…teguk…urinate…teguk…urinate…teguk…kacang mede…enak…dasar beer sialan, siapa sih yang nemuin beer? Kok bisa bikin minuman seaneh ini, rasanya, sensasinya, efeknya, obrolannya… Obrolannya dengan Samantha. Niskala Samantha : Rasamu mengingatkanku pada keriangan gelap masa kecilku. : Rasamu sama saja dengan rasa Joey, rasa biseks.

101

Niskala

: Ha..ha..ha.. aku suka humormu yang seperti itu. Membuatku kangen

terus-terusan sama kamu. Samantha Niskala Samantha harus temui If. Niskala delapan) : Ya, aku janji. (telunjuk dan jari tengahnya terangkat, jumlahnya : Niskala, sudahlah…temui If, berhenti mabuk. Dia sangat mencintaimu. : Tapi kau akan menemui aku lagi kan? : Iya, gimana nanti… ayo sekarang kamu tidur dulu. Janji, kamu besok

Chapter Eleven
Tentang Transformasi Terakhir Dan Prosesi Imajiner If menelusuri jalan itu, membayangkan dirinya lebur bersama Samantha, transform, empath, fade out. Melewati jalan yang penuh warna-warna cerah, pop, kontras, nyaris tak ada hitam dan putih. Lantas berbelok melewati jalan yang hanya ada hitam dan putih. Masuk ke sebuah perempatan, semuanya abu-abu.

102

Lalu tiba-tiba di sebuah jalan lain dia berjalan terbang, semua disana melayang-layang, tidak ada yang melekat, seperti tiba-tiba benar-benar tidak ada hukum Newton, padahal benar-benar tidak ada. Masuk ke satu jalan lain, semuanya terbalik, bahkan dia pun begitu. Persepsinya jadi tebalik. Cermin adalah sisi yang sebenarnya. Kanan adalah kiri atau kiri benar-benar kiri. Atau tidak ada kiri? Yang jelas tengah adalah sisi yang paling santun meski terkadang tabu. Setelah itu dia masuk kedalam ingatannya di dunia paralel yang lain saat bersama Niskala. Dunia dimana warna dan bentuk adalah persepsi, bukan sensasi. Sensasi seperti yang pernah diketahui If adalah segala sesuatu yang ditangkap oleh indera. Di dunia ini If menjadi Sekala. Pohon-pohon yang berdaun warna-warni dengan bentuknya yang bukan sekonyong-konyong lagi terus berubah-ubah, kotak, segitiga, lingkaran, lonjong dan berbagai bentuk lainnya dan terus berbagi membentuk semua benda yang ada di sekitar situ. Jalan yang tiba-tiba belok tetapi lurus lagi dan lalu memutar-mutar, seperti gasing. Tetapi hal itu hanya dalam persepsi Sekala. Lain lagi dengan persepsi orang-orang yang sedang berjalan hilir mudik disekitarnya. Ada beberapa memakai pakaian renang, bekaca mata hitam, seperti seolah sedang berada di pantai. Beberapa lagi memakai mantel seperti seolah tempat itu adalah daerah pegunungan yang tinggi. Hanya bentuk rumah yang persepsi semua orang di dunia itu nyaris sama. Rumah berukuran mungil seperti rumah kurcaci, dengan atap bulat berwarna-warni dan pintu semua menghadap ke barat, berbentuk hiperbola. Sekala tiba-tiba menggigil dan beberapa entah detik kemudian mengipas-ngipasi tubuhnya seolah kepanasan dan lalu menguap seperti segar sekali. Semakin cerdas orang di dunia itu maka semakin sering persepsinya berubah-ubah terhadap bentuk dan warna begitupun suhu udara. Perubahan persepsi bahkan bisa terjadi setiap detik untuk orang-orang yang IQ-nya lebih dari 170. Seperti misalnya bentuk rokok yang berubah sampai lebih dari tiga kali selama dihisap. Ada orang-orang bodoh, yang persepsinya terhadap suatu bentuk barang, baru akan berubah setelah satu bulan, misalnya bentuk gelas yang sebulan lalu berbentuk segitiga, baru hari ini berubah kotak.

103

Manusia di dunia ini mempunyai kadar hormon serotonin yang tinggi sekali dalam otaknya. Dan hormon tersebut selalu aktif tanpa harus dirangsang olah zat-zat seperti halusinogen maupun amphetamine. Hormon tersebut diaktifkan oleh semacam alat pemacu kecil di belakang otak untuk mengalirkan serotonin terus-menerus ke otak. Seperti fungsi jantung sebagai alat pemacu darah agar selalu mengalir ke seluruh tubuh. Sehingga imajinasi di dunia itu adalah kenyataan itu sendiri seperti kenyataan itu sendiri. Dan kenyataan adalah imajinasi itu sendiri seperti imajinasi itu sendiri. Sangat sulit menggambarkan dunia seperti ini, sama sulitnya seperti mereka di dunia itu untuk menggambarkan dunia yang kita pijak sekarang. Tapi, sudahlah karena bukan itu intinya, tetapi tentang Sekala yang bertransformasi menjadi Samantha bertemu dengan Niskala di sebuah, katakanlah namanya, café. Niskala meminum air berbuih berwarna merah dalam persepsinya tetapi kuning dalam persepsi Sekala. Buihnya berubah tiba-tiba menjadi asap hijau lalu berubah kelabu padat. Niskala mempersilahkan Sekala duduk di sebuah kursi segitiga yang sekonyong-konyong berubah menjadi bulat. Sekala saat itu berwarna ungu dengan rambut keriting yang sesaat berubah menjadi lurus lalu berponi dan keriting lagi setengah-setengah. Niskala saat itu berwarna putih lalu hitam lalu putih lagi dan berakhir di biru. Sekala mengejar menjadi biru pula. Warna-warna, yang dalam dunia kita disebut aura, itu terus berubah seiring berubahnya bentuk-bentuk benda disekitar mereka. Perubahan itu menjadi sebentuk dialog alternatif selain dialog mereka melalui mulut, mata dan (Ya Tuhan!) tulisan. Karena waktu juga adalah persepsi di dunia itu maka tak bisa disebutkan berapa lama mereka berdialog. Bisa satu tahun, 3 abad ataupun hanya 8 detik. Entahlah! Ketika akan berpisah Sekala mencium bibir Niskala dan seolah mereka berdua berkata, "Ini saatnya kita akan benar-benar berpisah, dan entah kapan lagi kita akan bertemu dengan komposisi seperti ini. Harmonis ataukah kontras, kita tak akan pernah memperdulikannya

104

lagi." Sekala berubah wujud kembali menjadi If dalam wujud Samantha yang sempurna meninggalkan Karna dan Niskala dalam satu wujud yang sempurna. Setelah itu If meloncat kembali ke dalam perjalanan spiritualnya menembus dunia-dunia paralel yang lain. Niskala keluar dari café itu menuju lubang berbentuk segi enam, apa segitiga, ah… sekarang jadi lingkaran. Ada suara musik keluar dari lubang itu. Mungkin itu pintu sebuah klub live musik berbentuk lubang, ah… bukan, tonjolan, astaga sekarang sebentuk cermin. Sudah ah… pusing! Kita ikuti If (Eva) saja sekarang, yang sudah kembali kedalam wujudnya yang semula, wanita pertama. Dia sudah sampai di terminal terakhir. Sebuah kompleks kuburan imajinasi. Kuburan panjang yang memancarkan cahaya-cahaya seperti ketika gelombang foton terurai oleh interferensi menjadi sebentuk 7 warna pelangi. Menjadi tapi tidak terjadi. Mengada tapi tak ada. Begitulah sekira-kira adanya. Ada menjadikan tak-ada, tak-ada menjadikan ada. Begitupun juga sekira-kira ada-nya dan ke-takada-annya. Hingga begitulah kami, saling mengada, saling mentak-ada, saling melengkapi dengan ribuan aksesoris kosmis yang pernah menjadi mimpi-mimpi muda kami. Kiranya beginilah saat abu-abu berada pada pose tercantiknya. Abu-abu tercantik. Bukan abu-abu terbaik. Aku tak begitu ingin mendapatkan yang terbaik dari abu-abu, cukup yang tercantik, yang terindah. Abu-abu yang memberikan siluet-siluet panjang pada frekwensi suara 1 kH, dengan spektrum-spektrum yang membuyar terbelah-belah pada frekwensi yang berbeda-beda dengan akronim non-acak mejikuhibiniu: Merah: saat abu-abu sedang matang di pohon, siap di petik. Ranum, menggiurkan, menderaskan ludah menjadi lebih cair. Fresh!

105

Jingga: saat abu-abu sangat matang, siap disantap. Tersaji pada meja makan, dengan pisau kupas disebelahnya, sensasi rasanya melonjak pada ujung-ujung lidah. Fade! Kuning: saat abu-abu mengurai kiri dan kanan, mengurai perbedaan, mengurai interaksi, bersosial, mendikotomikan hitam dan putih. Taboo! Hijau: saat abu-abu bermunculan dari dasar bumi, mencengkeram tanah, meresap air, menyejukan senyum dan tangis, meredakan tawa dan marah, segar.... Memanjakan mata, melonggarkan dada, menetralkan asap. Cool! Biru: saat abu-abu mencoba bangkit, mewarnai kembali langit, mengkontras gunung dan tanah, mengharmoni laut, terbang berserakan menjadi selimut angkasa di langit utara di siang redup tak berawan. Blue! Nila: saat abu-abu terpuruk pada titik terendah dari kesakitan, terbangun, menggeliat, merusak putih pada titik terhitamnya, bersembunyi pada warna-warna coklat, berharap luntur. Tragic! Ungu: saat abu-abu mendandani wajahnya, mengemas tubuhnya, memeras otaknya, menjadi cantik luar biasa, dengan berpuluh nama, ungu, violet, purple, magenta, gandaria,...venus...magdalena...kartini...woolf...eva...if...samantha...sekala.... Thera! Abu-abu tercantik, rumah kami sekarang, senyum kami sekarang, kerinduan kami sekarang, amarah kami sekarang, cinta kami sekarang, realitas kami sekarang, romantisme kami sekarang. Berpijak pada intuisi dan keyakinan, pada pikir dan emosi, tuhan dan dewadewi, pada ikatan pernikahan yang sudah kami laksanakan diatas pualam dan tergenangi air hangat, sehangat senyum kami berdua, sehangat tumpahan nafas di tumpukan setengah waktu file-file masa lalu kami berdua: Oh Tuhan dan Dewa-Dewi Kami berdua saling mencintai Di kompleks kuburan imajinasi itu, Eva menemukan semua kuburan yang ia cari.

106

Kuburan Joey. Kuburan Niskala. Kuburan Karna. Kuburan Trully. Kau mungkin masih ingat bentuk kuburan untuk tamagotchi di mall-mall di Jepang. Seperti itulah kira-kira bentuknya. Lantas dia mengucapkan semacam mantra sambil menaburkan serbuk berwarna merah muda di atas keempat kuburan kaca itu. Tugasnya sudah selesai; Prosesi penebusan dosa. Sebuah cahaya berwarna sangat merah muncul entah dari mana, menyelubungi Eva. Mengangkatnya kembali ke surga, menemui Adam yang sudah sangat rindu padanya. Mereka berpelukan melepas kangen lalu saling meludahi. Itu mungkin cara mereka mengungkapkan sesuatu yang tak terbahasakan. "Gue capek, Kenty! Menitis-nitis itu bukan pekerjaan mudah." "Ya, sudahlah. Itu kan resiko groupie." "Gue kangen loe. Apa kabar surga?" "Gue juga, meski tiap hari gue bisa liat loe di TV. Surga baik-baik aja. Sungainya masih berasa madu dan berwarna susu. Masih sejuk dan membosankan seperti dulu." "Loe curang sih! Buah khuldi itu kan mestinya kita berdua yang makan. Giliran loe yang makan, loe malah ke toilet. Gimana sih!" "Sorry, gue kebelet berat. Saat itu, pas gue keluar dari toilet, loe udah gak ada. Gue dapet kabar dari Si Iblis, katanya loe diloncatin ke dunia, nebus dosa, jadi groupie. Dan kata Si Iblis juga, gue disuruh nunggu ama Big Boss disini ampe loe selesai tugas." "Ya, sudahlah! Gue juga waktu itu gak tau kok kalo buah khuldi itu rasanya dunia banget. Tapi ngomong-ngomong… pohonnya masih ada?" "Wah, sekarang banyak. Sudah dibudidayakan jadi perkebunan khuldi di setiap sektor. Katanya sih, biasa kata si tukang gosip, Iblis, biar bidadari ada kerjaan, jangan ngelacur terus. Tapi hasil panennya tetep gak boleh dikonsumsi disini. Di-ekspor ke luar. Gak tau kemana. Mungkin ke dunia atau ke neraka. Denger-denger presiden neraka, Si Lucifer, suka banget ama buah ini. Dan di sana buah ini jadi makanan pokok wajib. Makanan nasional. Dia kan nasionalis abis, padahal itu kan buah impor. Dasar Si Lucifer! Tapi banyak kebijakan baru yang dia bikin setelah lengsernya Si Diktator Pluto. Sekarang setelah dua periode kepemimpinannya, dia berhasil, setelah sekian lama mengusahakan, menandatangani perjanjian dengan perdana menteri Kahyangan, Narada, untuk menghentikan perang dingin. Lalu bersekutu untuk

107

menyerang Olympus, musuh bebuyutan ke dua negeri itu. Tapi, katanya lagi, Si Zeus, raja Olympus, kalem-kalem aja. Dia malah makin gila kawin. Istrinya terus diperbanyak. Kemaren dia dateng kemari, ngajak kawin salah satu bidadari tercantik di sektor 12. Dia kan belum tau bidadari itu apa. Ha..ha..ha… Tapi gue gak ketemu dia, gue lagi di toilet. Mencret. Kebanyakan ngegosip ama Si Iblis. Hehehe…!" "Dasar, cowok! Lagian Si Iblis masih aja loe percaya. Dia kan bokis abis orangnya. Banyak ceritanya cuman tipu dan ditambah-tambahin, fiktif! Kayak beberapa wartawan infotainment!" "Ha… ha… ha…, daripada gue ngelamun tiap hari. Onani terus, bosen. Bintang bokepnya belum ada yang baru, Asia Carera udah mati. Masa mesti ngecengin bidadari, yang bener aja!" "Kecengin aja kalo loe suka, hi…hi…hi…!" "Sialan loe. Gue belum se-"sakit" itu, meski gak ada loe." Mereka lantas berpelukan lama sekali dengan diiringi musik-musik penyambutan tradisional surga. Disertai ciuman panjang dengan liukan lidah mengikuti ritmik. “I LOVE U, Meky!” “I LOVE U, Kenty! Tuhan kali ini tersenyum haru menyaksikan dua ciptaannya yang paling sukses itu sambil menepuk-nepuk pundak Iblis yang tersenyum jahil.

Chapter Twelve
Sebuah Wawancara Eksklusif Wawancara ini dilakukan oleh Mayanina, seorang wartawan majalah musik, pada Niskala, beberapa saat setelah polisi menghentikan konser Samantha Impossible Dream (SID). Polisi menghentikan paksa konser ini ketika ada beberapa penonton yang melakukan bunuh diri

108

massal ketika SID menyanyikan lagu penutup mereka malam itu. Hingga kini belum ada satu orang pun yang bisa memastikan penyebab bunuh diri massal ini. Hingga seorang wartawan majalah musik, Mayanina, berhasil mewawancari Niskala, yang juga terkenal sangat susah diwawancari wartawan, beberapa saat setelah konser SID dihentikan paksa. Berikut ini adalah wawancara tersebut (tanpa di edit) yang di-transkrip oleh Handini dari rekaman kaset yang diberikan Mayanina pada saya ketika saya menulis biografi tentang Niskala beberapa tahun lalu; …saya punya pertanyaan nih, komentar anda dengan kejadian orang bunuh diri di konser anda, itu bagaimana ? Itu bukan hal baru sih, jadi gue sendiri nyantei aja, sebelumnya di Inggris juga pernah ada kejadian kaya gitu. Ya, itu kan pilihan orang itu sendiri, kalau misalnya dia bisa memilah dengan apa yang gue omongin di panggung… kalau orang bisa memilah, ya… dia pasti nggak melakukan bunuh diri.. Pada intinya sih gue senang ada orang bunuh diri, berarti tujuan gue berhasil, …ngajak orang menikmati. Emang lirik-lirik yang gue bawain mungkin bisa menyebabkan orang bunuh diri. Itu suatu konsekuensi logis dari gue menjadi seorang rockstar. Jadi pada awalnya anda sudah punya firasat atau anda sudah bisa merencanakan atau bisa membayangkan bahwa efek dari musik anda ini bisa bikin orang mati, bisa bikin orang bunuh diri ? Nggak juga, mmh.. cuman ketika ada efek itu, gue merasa bahwa tujuan gue udah nyampe gitu lho… nyampe ke telinga orang. Kalau misalnya ngedengerin musik gue, dia cuma bersikap … misalnya… katakanlah ngikutin pola hidup gue atau apa gitu, itu menurut gue belum berhasil. Tapi ketika ada orang yang melakukan tindakan-tindakan ekstrim seperti itu mmh… gue merasa tujuan gue berhasil. Sebenernya apa sih yang ingin anda ceritakan dalam lagu anda, dalam musik anda, lirik anda? Interpretatif sih sebenernya, ya terserah orang mau menginterpretasiin seperti apa. Tapi yang pasti apa yang ada dalam diri gue… selama ini gue mendengar suara-suara, hanya menjadi receiver gitu, ya jadi mmh… ada suara mobil, ada suara burung, ada suara apa… gitu, gue terima aja. Gue sekali-kali ingin mengeluarkan kembali, karena setiap apa yang gue tangkep lewat indera gue pasti di rekam dalam otak. Nah, hasil dari rekaman otak ini pengen gue keluarin lagi lewat eksperimentasi musik dan lirik terutama karena lirik-lirik yg gue bangun juga itu hasil dari pengalaman gue.

109

Tujuan anda untuk membagi pengalaman hidup anda itu apa ? Sebenernya gue nggak kepengen membagi apapun, gue hanya dendam aja sama alam semesta, karena selama ini alam semesta meng-hegemoni gue dengan suara-suara, gue ingin mengembalikan itu semua kepada alam semesta termasuk orang-orang yang bunuh diri tadi, … kan termasuk salah satu bagian dari alam semesta jadi ya itu udah jadi milik mereka ketika mereka mendengarnya. Sebenarnya intinya dendam! Memangnya anda memiliki atau pernah punya pengalaman yang menyakitkan dalam hidup anda tentang alam semesta, dengan adanya suara-suara itu ? Mmh... nyokap gue mati waktu gue masih kecil mmh… bokap gue… gue nggak tau siapa, terus gue idup dan dihantui suara-suara, suara-suara yang kedenger maupun yang nggak kedenger sebenarnya. Karena ada gelombang ultrasonic, audiosonic sama infrasonic dan ketiga-tiganya gue denger. Gue jadi ngerasa dihantuin banget, terus kalau misalnya ada orang yang mati gara-gara kena imbas dari suara gue itu belum seberapa, harusnya alam semesta ancur, kalo gue nyanyi. Gue pengen kaya gitu, terlepas dari konsep nihilis atau apapun, whatever, pokoknya gue pengen… pengen aja neriakkin apa yang ada dalam diri gue. But so far, im sorry to hear that ya. About your mom, ‘bout your father. Tapi tidakah anda merasa bahwa anda menolak takdir ? Takdir itu sendiri kan harus diterjemahkan lagi. Takdir itu apa, jadi ... apa bener ada takdir. Jangan-jangan takdir itu nggak ada. Jangan-jangan semua itu absolut dimiliki manusia. Tapi bisa juga absolut dimiliki Tuhan, kan kita tidak tahu, yang pasti gue nggak ngerasa menolak takdir ataupun tidak menolak takdir, ini terlepas dengan hubungannya dengan takdir. Yang punya pengalaman orang tuanya meninggal waktu masih kecil dan tidak tahu siapa orang tuanya kan tidak hanya anda, ya? Lalu apakah ada unsur kepedulian terhadap mereka dengan membuat lirik dan musik seperti ini ? Sorry, …terhadap siapa? Terhadap orang-orang yang bernasib sama Ya mudah-mudahan gue bisa mewakili mereka juga yang bernasib sama dengan gue, gitu. Tapi terlepas dari itu mmh… gue bermain musik karena… atas kecintaan gue terhadap Tuhan justru. Tuhan yang mengambil ibu, mengambil semua orang yang gue cintai. Jadi wujud kecintaan anda diwujudkan dengan musik yang seperti itu, yang justru bisa mengakibatkan kematian pada orang ? Mmh.. sebenarnya nggak ada tujuan apapun dari bikin musik ini, apalagi tujuan membunuh orang . Tapi kalau ada efek itu, ya itu juga namanya efek, kayak gue bikin musik ada efek

110

dapet duit, ya… gue terima duitnya. Ya.. yang pasti dari awal dibentuknya band ini, gue dan Karna, itu… kita hanya merasa bahwa kita perlu menjadi rockstar untuk menjadi nabi. Nabi ??? Karena kita pikir bahwa nabi itu tidak dihentikan begitu saja turun ke buminya. Kita percaya bahwa terus menerus ada nabi di setiap generasi, di setiap periode waktu dan nabi itu diinginkan, gitu! Jadi kita juga merasa bahwa kalau kita mempelajari riwayat para nabi itu dan, kami ya… mempelajari riwayat para nabi, mereka itu semua ternyata untuk menjadi nabi, mereka harus jadi penyembuh. Itu yang mereka pertama lakukan, agar mendapat legitimasi dari masyarakat. Setelah itu mereka jadi rock star, berdakwah di tempat yang tinggi di depan ratusan orang, setelah dapet pengikut, baru mereka bikin kitab suci . Kitab suci yang gue bikin ini berbentuk musik. Berarti definisi nabi menurut anda berbeda dengan definisi nabi menurut orang kebanyakan? Bisa jadi berbeda mmh... tapi bisa jadi sama, sebenernya kan intinya adalah mmh… ayat-ayat Tuhan itu tidak begitu saja dihentikan. Gue yakin terus turun, bisa lewat tertulis ataupun tidak tertulis dan Muhammad juga waktu itu dapetin ayat-ayat Tuhan tidak leterelek langsung Tuhan ngomong, tapi membaca tanda-tanda lalu yang disimbolkan lewat Jibril ya. Gue yakin Jibril itu sampai sekarang masih terus bekerja, misal dengan suara-suara ambulans yang barusan kita dengar, suara klakson mobil, bisa dengan musik, bisa dengan apapun, bisa juga berbentuk padat, berbentuk materi, misalnya gelas, atau orang atau apapun. Gue yakin itu adalah ayatayat Tuhan, tinggal gimana cara kita membacanya dan yang gue sampein lewat musik ini adalah media yang berbeda dengan-yang dibuat oleh nabi-nabi pada umumnya, misalnya nabi membuat kitab karena pada saat itu medianya hanya kertas dan bolpen sekarang kan ada media musik ada media…. bahkan multi media, makanya gua berencana mau bikin sebuah kitab suci dalam bentuk CD yang formatnya multi media. Ah tapi sebentar lagi juga gue gak bakalan ada lagi... Anda sudah tidak ada, maksudnya? Bukannya gue nggak mau bertanggung jawab terhadap mmh… apa yang gue omongin tapi gue udah berencana untuk mmh… melakukan ... melakukan prosesi kematian gue sendiri di umur gue yang ke-25, hari ini. Dan hari ini, kalau saya tidak salah dengar, memang hari ulang tahun anda ya? Ya! Kalau begitu anda tidak akan membuat konser selanjutnya?

111

Tidak! Bagaimana dengan fans? Bagaimana dengan mereka yang ingin mendengarkan anda lagi? Bagaimana dengan mereka yang menganut ideologi yang anda persembahkan buat mereka? Lagu-lagu yang udah gue… yang udah gue kasih buat mereka itu udah, menurut gue udah komplit, udah total semuanya, dan itu jadi… bisa jadi kitab suci buat mereka sampai akhir zaman menurut gue. Jadi ya sudah. mmh… itulah yang bisa gue kasih buat alam semesta, buat dunia, buat Indonesia, buat Bandung. Jadi gue udah kasih semuanya dan sekarang tinggal mereka bagaimana caranya melestarikan itu. Kalau ada dari mereka yang mau meneruskan mmh.. gue ga punya tujuan politis apapun ya sebenernya tapi yang mau nerusin atau mau dibelokkin ke tujuan politik, ekonomis - what ever lah - terserah mereka… Musik dan lirik lagu yang anda bawakan itu kan berbicara kesakitan, apakah anda merasa sudah menyentuh mereka, orang-orang yang hidupnya stabil, mereka yang tidak menemukan masalah dan mengalami kesakitan seperti yang anda alami? Anda sudah menyentuh mereka? Kesakitan... mmh… sebenarnya tidak semua kesakitan menurut gue, karena batas antara kesakitan dan kesenangan, batas antara sakit dan sukacita itu kan sangat tipis. Jadi mungkin ketika salah satu lagu gue menggambarkan kesakitan, bisa jadi saat itu gue lagi senang. Sebenarnya gue tidak berbicara kesakitan ataupun kesenangan, gue berbicara kewajaran, segala apapun yang terjadi di bumi ini akhirnya wajar. Tidak ada benar dan salah. Tidak ada sakit dan senang. Satu-satunya yang masih jadi pertanyaan gue adalah pada saat gue orgasme, artinya mmh… orgasme itu kan batas antara sakit dan senang, menurut gue, justru itu yang asyik, batasnya itu, sakit dan senangnya itu nggak jadi masalah buat gue karena mungkin gue udah kebal dengan kesakitan pada saat nyokap gue meninggal, saat waktu kecil dan gue hanya menganggap itu juga sebagai sebuah film kartun yang… yang nyata gitu! Pada saat gue kecil; jadi visi gue terhadap dunia itu seperti film kartun. Gue melihat orang-orang itu hanya kartunkartun yang mmh... dijiplak ke sebuah kertas 2 dimensi. Nyokap gue juga hanya salah satu bagian dari film kartun itu. Udah nggak ada kesakitan dan udah nggak ada rasa enak, gitu! Jadi yang ada hanya wajar aja, gitu! Yang pasti apapun yang gue lakukan itu, gue punya maksud, punya maksud yang terserah orang mau menginterpretasikan seperti apa. Oh OK, pada usia berapa, maaf, ibu anda meninggal? Gue waktu itu belum bisa mengingat angka-angka, nama-nama, bahkan gue juga tidak mengingat bahwa itu adalah ibu. Yang gue tau bahwa gue ngedot sama dia, pertama kali gue

112

merasakan puting susu seorang wanita adalah nyokap gue sendiri. Kok masih inget sampai sekarang ya? Ya, karena gue sangat mencintai nyokap. Bukan mencintai, gue sebagai anak terhadap ibu tapi mencintai seperti gue sebagai seorang lelaki terhadap kekasihnya. Ya orang bilang itu namanya oedipus complex, whatever-lah untuk segala macam definisi yang pasti mmh… sampai titik ini tidak ada satupun wanita yang bisa menggantikan posisi dia. Karena dia yang pertama kali memperawani lidah gue untuk sebuah puting susu, meskipun gue tidak pernah memperkosa nyokap gue karena gue masih kecil dan gue yakin penis gue juga waktu itu masih terlalu kecil buat nyokap gue. Bagaimana anda mengingat ibu? Dari mimpi-mimpi, dari… foto-foto yang dikasih sama dokter-dokter, karena nyokap gue kan gila dulu. Dia... gue… dibesarkan di rumah sakit jiwa bareng nyokap gue. Katanya sih sebelum gue lahir, nyokap udah gila, dia hamil gara-gara diperkosa ama entahlah preman jalanan atau apa, terus gue lahir. Lima orang anak jalanan gitu -diperkosa- dan katanya nyokap gue juga menikmatinya ya.. berarti bokap gua ada lima. Sebenarnya maksud saya, seperti apa sosok ibu dalam benak anda? Gue nggak ngerti. Gue punya ibu angkat, setelah nyokap gue meninggal karena yang gue tau kan bahwa nyokap gue ngasih suplai makanan lewat puting susunya buat gue. Lantas dia meninggal. Meninggalnya karena bunuh diri, alasan singa betina! Entahlah maksudnya apa. Cuma gue bilang alasan nyokap gue bunuh diri itu seperti alasan singa betina. Singa betina? Maksudnya? Silahkan anda terjemahkan! Cuma setelah itu gue punya ibu angkat, keluarga angkat. Dari rumah sakit jiwa gue masuk ke panti asuhan. Terus gue diangkat sebuah keluarga yang tidak punya anak lelaki. Yang gue tahu setelah itu saat umur gue sekitar 17 tahun, eh sori… kira-kira 15 tahunan gitu lah, gue udah mulai diperkosa ama nyokap angkat gue dan semenjak itu anakanaknya yang cewek-cewek itu, yang udah gede-gede, mengikuti kelakuan ibunya. Ya... gue sih nikmatin aja karena enak kali ya. mmh... yang gue agak heran adalah ketika gue diperkosa bokap angkat gue, saat itu… Tapi gue sekarang ngerti kenapa dia memperkosa gue, karena gue mungkin bisa disukai sebagai lelaki juga bisa disukai sebagai wanita, mungkin gitu! Karena gue merasa ada 2 bagian itu dalam diri gue. Setengah diri gue adalah lelaki dan setengahnya adalah wanita. Secara saklek gue juga tidak hanya menyukai wanita tapi juga menyukai lelaki, dua-duanya indah. Dan bisa di.. bisa di.. nikmati keindahannya, gitu! Gue pikir gue berhak untuk menikmati keindahan lelaki dan wanita secara bersamaan, terlepas dari masalah gender,

113

bahwa lelaki maupun wanita adalah manusia. Yang pasti… asal jangan gue memperkosa binatang aja. Karena menurut gue binatang bisa lebih suci daripada manusia. Kalau bisa anda ceritakan sedikit tentang keluarga tempat anda dibesarkan? Bagaimana keluarga anda disini? Hubungan-hubungan mereka, hubungan ayah angkat dan ibu angkat anda? Hubungan gue dengan mereka hanya sebatas hubungan seksual aja! Apa pekerjaan ayah angkat anda? Mmh.. entahlah! korupsi, dia seorang koruptor! Jadi anda dihidupi oleh keluarga yang kaya? Mmh.. kaya, kaya sekali… mobilnya udah nggak kehitung sama jari gue yang pasti, waktu gue kecil. Mmh… nyokap angkat gue juga seorang tante-tante kesepian, yang gue tau sekarang, gue jadi tau kenapa nyokap gue melakukan itu karena dia kesepian dan akhirnya gue serve dia sesuai dengan keinginan dia karena gue juga kasian ngeliat dia, gitu. di ngebesarin gue, dengan kasih sayang seorang ibu juga kasih sayang seorang kekasih dan gue ngerti kenapa dia kesepian yang penting asal dia ngidupin gue aja gitu, termasuk anak-anaknya karena anakanaknya juga kurang perhatian dari orang tuanya ya, butuh seks, ya gue kasih. Cuman yang pasti, salah satunya mereka memperkosa gue adalah… penis gue gede. Sampai sekarang masih dihidupi oleh mereka tidak? Entahlah keluarga itu jadi apa sekarang… Sama sekali tidak ada hubungan lagi? Pokoknya setelah cabut dari keluarga itu gue ngamen di jalan. Sudah dari umur berapa anda meninggalkan rumah? Waktu itu sekitar umur 19 gue diusir gara-gara ketauan oleh bokap angkat gue lagi em-el ama nyokap. Dan setelah itu gue travelling spiritual dan gue ngamen terus gue tahu bahwa hidup gue itu memang untuk musik. Akhirnya gue bikin musik dan gue ketemu Karna dan akhirnya kita bikin band baru. Umur 20 kita bikin band dibantu… pengetahuan gue banyak dibantu oleh seseorang yang bernama Gateauxlotjo. Dia yang mengantar gue ke dunia-dunia spiritual. Gue belajar semua agama. Gue baca Injil, gue baca Taurat, gue baca Al Quran, gue baca juga Tripitaka, gue baca juga Baghavad Ghitta, cuma yang gue belum baca itu Weda, karena Weda itu, di Hindu, tidak diperbolehkan dibaca oleh kaum lain selain kaum Brahmana, Brahmana tertentu juga yang bacanya, karena katanya sih bentuknya masih berbentuk lontar, entahlah. Cuma yang pasti gue membaca semua kitab suci, gue membaca termasuk kitab sucinya para filsuf misalnya bukunya... siapa ya, bukunya Plato, orang-orang itu lah… nggak gue baca

114

semuanya sih, biasanya gue cuma baca awal dan akhir, tengah-tengahnya biasanya udah ketauan isinya apa. Nggak semuanya gitu juga tapi. Segala macam yang anda alami di keluarga anda dari mulai ibu anda, keluarga angkat anda itu mempengaruhi hasil karya anda kah? Jelas, jelas mempengaruhi! Seperti apa? Bagaimana ? Itu influence terbesar gue… adalah kisah hidup gue sebenarnya. Bukan Jim Morrison, bukan Kurt Cobain, bukan Edi Vedder, Robert Smith atau siapa pun itu. Mereka juga influence gue tapi yang lebih meng-influence gue adalah kisah hidup gue, perjalanan hidup gue selama 25 tahun ini. Gue terus berkarya, gue terus menulis, gue terus bernyanyi bikin musik bikin film, bikin video, performance art, pokoknya apapun yang gue pengen asal itu adalah bentuk kesenian, gue kerjakan. Gue orangnya loncat-loncat, ada banyak yang bilang waktu itu, tementemen gue, kalau lo nggak konsisten lo nggak bakalan berhasil, buktinya ketidak konsistenan gue itulah yang membuat gue berhasil, ternyata… gitu! Gue ingin menghapuskan persepsi bahwa nabi itu harus berbuat baik, nabi itu harus berbuat… harus dicontoh, moralnya baik dan segala macam. Bukan gue tidak berbuat baik, hanya baik dalam persepsi gue itu berbeda dengan persepsi orang-orang. Moral yang baik itu seperti apa itu yang gue pertanyakan, karena menurut gue, ya karena mungkin gue dibesarkan dari kecil dengan kebejatan moral, gue menganggap kebejatan moral itu sesuatu yang wajar akhirnya dan tidak bejat lagi dalam persepsi gue. Ya, begitulah yang pasti akhirnya kita, akhirmya kami - gue dan Karna - bikin band Samantha Impossible Dream. Saya ingin tahu tentang teman anda yang bernama Karna, posisi dia sebagai apa? Gitaris! Terus teman-teman personil yang lain, siapa saja? Erva untuk main piano, Yanne main biola, oh sorry ..Yanne main piano, Erva main biola, ntar dulu, posisi mereka selalu kebalik, gue selalu lupa dua orang itu. Ervi, kembarannya Erva padahal, gue tidak pernah kebalik. Ervi jadi backing vokal, gue mainin loop, mainin komputer, program-program segala macem, dengan eksperimentasi suara, misalnya suara radio MW, atau apapun, Karna main gitar. Berarti jumlah personil band anda ada 5? Ada 5! Tapi kenapa dalam setiap kali pertunjukkan hanya 4? LIMA! Lima dengan Karna!

115

Karna itu sebenarnya yang mana? Yang main gitar lah! Tapi saya hanya melihat 4 orang! Ok, kayakanya wawancara ini harus dihentikan… Nggak, maksud saya… Kalau anda masih mempertanyakan hal itu, maka wawancara ini harus dihentikan. Ok, baiklah… tapi ini pertanyaan banyak orang, ini betul-betul pertanyaan banyak orang! Orang-orang yang salah. Clear? Ok, maafkan saya. Apa sih alasan anda selalu menghindari wartawan? Gue nggak percaya sama jurnalistik, gue nggak percaya sama wartawan, yang mereka katakan itu semuanya kebohongan. Tapi nggak apa-apa mereka harus ada karena selama ini kan gue ngeliat realitas, yang katanya realitas, itu kan dari TV. Batas di luar jangkauan gue. Gue liatnya di TV dan gue hanya menganggap itu fiksi. Berita, reality show atau apapun namanya, gue ngeliatnya hanya di TV dan itu fiksi menurut gue. Apapun yang sudah ditransfer ke dalam bentuk media itu jadi fiksi, jadi apapun, termasuk mulut, bisa jadi apa yang anda katakan, apa yang mulut anda katakan buat gue adalah fiksi. Kalau begitu bila hasil wawancara ini saya tulis di media cetak... FIKSI ! Apa sebenarnya maksud anda dengan kata “fiksi”? Mmh… non fiksi itu apa yang gue sadari benar-benar ada keberadaanya, di luar itu adalah fiksi. Anda non fiksi buat gue, tapi tulisan anda fiksi buat gue. Tapi kenapa gue milih anda karena dibanding wartawan-wartawan yang lain, anda mungkin bisa lebih jujur terhadap diri anda sendiri. Bukan masalah beritanya yang jujur, tapi anda lebih jujur memberitakannya. Gimana anda bisa begitu yakin? Ketajaman anda membaca suasana, kegigihan anda mengejar berita dan gue yakin kalau misalnya, anda itu, kalau nyari berita bukan untuk uang, tapi nurani anda sendiri yang ingin memberitakan sesuatu untuk orang lain. Karena media tidak terlepas dari bisnis, semuanya adalah bisnis. Betul! Dan gue yakin anda bukan robot media, bukan mahluk media yang dirobotkan, kan? Kebanyakan sekarang para jurnalis itu hanya robot media, hanya… mmh... bener kata Oliver Stone di Natural Born Killers, Oliver Stone dan Quentin Tarantino, bahwa media dan orang-

116

orangnya tidak lebih daripada sekedar monyet, monyet aja lebih mending. Dia lahir natural jadi monyet dan tetep dengan kemonyetannya. Tapi mereka itu sudah dilahirkan sebagai manusia tiba-tiba mau aja dijajah oleh media. Itulah kenapa gue selau menganggap bahwa media itu fiksi. Jadi gue sudah tidak percaya media, karena media itu hanya bisnis, totally bisnis! Tapi dengan dimuatnya tulisan ini, sebenarnya cerita anda akan dilihat dari fiksi itu sendiri dan memang tulisan itu akan menjadi fiksi seperti yang anda katakan barusan sebagai fiksi dan anda menganggap media sebagai fiksi sedangkan saya bekerja di media ya… Maksud gue, anda dan teman-teman wartawan anda itu tidak lebih dari seorang novelis atau penulis cerpen, hanya menurut gue kurang natural sebagai penulis. Jadi kalau pun ini ditulis dan hanya jadi sebuah cerpen ya.. so what! Menurut gue ya! Mungkin menurut orang lain berbeda. Orang lain kan butuh hiburan, karena sekarang kan berita itu hanya jadi sekedar hiburan. Liat aja misalnya Buser, Patroli dan lain-lain, itu semua entertainment. Termasuk Metro TV juga menurut gue hanya televisi entertainment. Tidak ada yang tidak entertainment, semuanya hiburan. Tapi memang manusia membutuhkan hiburan-hiburan itu, menurut gue! Tolong anda ceritakan soal Samantha Impossible Dream, kenapa anda namakan seperti itu, kenapa harus Samantha? Gue punya kekasih namanya Samantha, Samantha itu ... dia boneka sex, balon, dari temen gue, gue dikasih sama Joey. Mmh… pada saat dia mati dia ngewarisin bonekanya buat gue. Dia kuliah di Amrik, terus orang tuanya tiba-tiba ngasihin boneka itu ke gue, karena tertulis di salah satu warisan, Joey itu temen deket gue. Gue pikir setiap apapun pasti punya impian gitu, dan Samantha punya impian, Samantha punya impian, impian-impiannya gue tulisin di puisi-puisi gue. Gue bikin Samantha Story, tahun ‘99 gue bikin Samantha Story. Mmh... akhirnya ya jadilah saat umur 20 itu, Samantha Story. Yang namanya boneka sex mimpinya pasti jadi tidak mungkin. Mimpi gue masih mungkin, tapi mimpinya dia pasti tidak mungkin, ini mimpi-mimpi yang tidak mungkinnya Samantha. Joey menamai boneka itu Samantha.. mmh... terus gue bercinta dengan dia hampir tiap hari karena vibratornya emang keren terus tiba-tiba gue ketemu dengan ... dia memperkenalkan dengan namanya If, akhirnya jadi manager band gue, andai... Andai ? Dan gue menganggap bahwa If itu adalah jelmaan Eva. Eva yang rohnya merasuk ke boneka Samantha. Jadi ini masih satu kaitan antara Samantha dan If. If itu pacarnya Karna tapi tiap

117

hari bercinta dengan gue, karena Karna merasa gue lah yang berhak untuk mendapatkan vaginanya. Karna merasa dia mendapatkan hatinya, gue mendapatkan vaginanya. Ya sudah. Dia sekaligus groupie kita, groupie kami, kita dan kami itu susah bedainnya.... Mmh.. selain manager, dia juga groupie. Dia juga menulis perjalanan kami. Dia mau meluncurkannya atau tidak nanti perjalanan band ini, ya terserah dia. Kita memang introvert kami memang introvert untuk kami sendiri. Tidak banyak orang yang tau apa yang sebenarnya kami lakukan sehari-hari, hanya If yang tau. If yang mencatatnya. Kalau misalnya anda pengen banyak tau yang kami lakukan, anda bisa wawancara If, tapi entah If sekarang masih ada atau enggak, setelah kejadian tadi. Setelah kejadian tadi entah kita semua masih ada atau tidak karena cukup menghenyak untuk beberapa.. terutama untuk 3 cewek personel kami, mereka terhenyak, terkejut dengan ada yang bunuh diri. Boleh saya tahu If itu sebenarnya siapa? If, Eva... dulu Joey ketemu If di Amrik, dia model..., model majalah lokal gitu deh di california, terus ada satu perusahaan sextoy menawari If untuk menjadi model tubuh... maksudnya tubuhnya If dijadikan model untuk sebuah boneka sex, karena If indo, tubuhnya sempurna... If menerimanya, gitu... nah Samantha itu tubuhnya If... Joey yang bilang ama gue... Ooooh... i see... kembali ke Samantha, mimpi-mimpi apa yang ingin anda wujudkan dari Samantha? Setiap wanita khayalan itu pasti perfect ya, itu pasti perfect, punyaaa... apa sih namanya mmh... apa namanya ... Gairah ?! Bukan! Naluri ?! Bukan mmh... PROPOSIONAL gitu, otaknya, bodinya, toketnya, gaya bercintanya dan lainlain. Semuanya pasti proposional karena masih dalam khayalan, namanya juga wanita khayalan. Dan boneka balon itu adalah wanita khayalan gua. Dan itu nyaris terwujud dengan adanya If. If itu perfect! Dia simbol wanita yang perfect. Dia Eva! Dia Eva untuk Adam. Kalau gua Adam, dia adalah Eva. Saya jadi agak simpang siur nih, mengenai posisi If, sebagai manager atau sebagai kekasihmu kah? Atau ada hubungan lebih pribadi, barangkali? Dia belahan jiwa gue... Thats all?

118

Ya! Selama ini apa yang sudah dilakukan If untuk Samantha Impossible Dream? Dia manager, sekaligus road manager. Dia yang mengatur semua jadwal kami. Dia yang mengatur mmh... proses meiosis sperma gue karena gue harus melayani banyak cewek, kan. Kalau rock star itu adalah resikonya diantri oleh cewek-cewek. Setiap kali kami tour di setiap kota, itu cewe-cewe ngantri. Dia yang mengatur proses meiosis itu, biar gue tetap sehat. Dia ngasih gue suplai susu, suplai toge. Suplai untuk kesuburan-kesuburan sperma. Dia juga kadang-kadang ngasih gue viagra meskipun gue jarang meminumnya. Karena mereka memang harus dilayani. Karena mereka adalah simbol mmh... salah satu kesuksesan band ini. Ya... kalau tidak begitu, tidak rock star namanya. Harus dilayani, karena sex buat gue itu sakral. Jadi gue berpikir bahwa buat mereka juga sakral. Bahwa bercinta dengan gue berarti mereka mewujudkan impiannya. Gue nggak akan meng-cut impian seseorang. Kalau mereka mengantri gue untuk making love yaa... gue jabanin. Jadinya setiap habis konser gue akan tidur berjam-jam, gara-gara semalaman gue harus melayani banyak wanita. Semalaman gue harus konak, gitu! Begitulah... Dan bagaimana dengan malam ini ? Malam ini mereka sedang ngantri di hotel kayaknya. Tapi mmh... malem ini gue punya prosesi sendiri, yang tidak bisa diganggu oleh siapapun. Bahkan Karna sekali pun. Bahkan If sekalipun. Mmh... gue harus melakukan ini, karena udah gue rencanain dari umur gue 20. Gue mau menyangkal klub 27. Banyak rock star yang mati di umur 27. Bahkan bunuh diri di umur 27. Gue pikir umur yang tepat untuk mati itu umur 25. Alasannya? Karena itu umur yang tepat untuk menikah buat cowok. Cowok itu menikah pasnya di umur 25. Muhammad menikah di umur 25. Di Indonesia juga disarankan lelaki itu menikah di umur 25 dan wanita di umur 20. Pernikahan buat gue adalah sebuah kematian, dan ya... umur 25 itu paling cocok. Pada saat kita lagi tampan-tampannya. Mati muda, maka mayat lo bakal tampan, ya kan??? Apakah If dan Karna mengetahui rencana anda malam ini? Entahlah, mungkin mereka tau. Anda tidak mengatakannya pada mereka? Tidak pernah secara verbal. Anda mungkin yang pertama tau secara verbal. Kalau gitu, saya menerima konsekuensi besar ya... Dan gue yakin Tuhan juga meridhoinya. Karena satu-satunya alasan gue mati karena gue rindu

119

bercumbu dengan Tuhan. Selama ini gue hanya membayangkan. Gua sedang... setiap kali gue sedang bercinta dengan wanita, gue sedang bercinta dengan Tuhan. Siapapun wanita itu. Dan gue ingin bercumbu secara real dengan Tuhan. Tidak hanya dengan imajinasi gue. Gue selama ini membayangkan wajah Tuhan horni. Selama ini membayangkan Tuhan sedang bermasturbasi. Tapi mungkin, malam ini adalah saatnya gue bercinta benar-benar dengan Tuhan, secara real. Secara non fiksi. Bagaimana anda mengakhiri hidup anda malam ini? Ada banyak cara. Anda akan tahu caranya dari hasil rekaman gue bunuh diri nanti. Gue akan merekamnya. OK. Gue akan merekamnya. Mendokumentasikannya. Anda bilang banyak cara, tapi mungkin anda hanya melakukan satu cara saja kan, atau secara sekaligus kah? Setelah gue menimbang dari berbagai cara bunuh diri itu ada 4, yang menurut gue bagus. Over dose, meng-cut aliran darah, menenggelamkan diri, sama membakar diri. Entah mana yang akan gue pilih dari keempat itu. Itu akan terjadi di detik-detik terakhir sebelum gue meninggal. Mmh... anda kenapa mengkategorikannya menjadi 4? Dari sekian banyak metode bunuh diri. Rekomendasinya memang untuk beberapa... untuk dari yang ke-4 ini sedikit, tapi gue merasa ini yang paling asik, gitu! Yang lain, misalnya gantung diri, gue nggak mau mayat gue terlihat jelek. Karena pasti ngelel, kan! Loncat dari gedung tinggi, gue pasti berantakan tampangnya. Tapi kalau meng-cut nadi gue masih tampan, over dosis gue masih tetep tampan. Membakar diri, gue tidak terlihat sedikit pun. Karena gue udah jadi abu mmh... menenggelamkan diri gue masih tetap tampan ... itu saja. Tampan dan menggembung loh... Menenggelamkan di dalam ember itu tidak akan menggembung. Hanya kalau misalnya kepalanya aja. Tempatnya? Apakah anda sudah merencanakan, kamar hotelkah? Kamar gue. Anda tinggal di mana? Ada, di sebuah tempat. Di suatu tempat? Bisa diceritakan? Kamar gue... karena menurut gue, kamar adalah tempat bersuci. Tempat gue onani. Tempat gue

120

beribadah. Memuja Tuhan. Memuja semua orang yang gue percayai. Orang-orang besar, semisal Musa, Isa, Muhammad , Nietzsche, Warhol, Morrison, atau semua orang-orang itu. Gatolotjo, Don Quixote. Anda pernah mengajak teman-teman anda ke kamar anda? Tidak pernah. Jadi nggak ada yang tau sama sekali kamar anda ada dimana? Tidak ada, termasuk If juga tidak tau. Karna pun tidak tau kamar gue dimana. Sekarang anda ceritakan tentang album anda dong... Labyrinth of Dream (feat. Borges;-) Labyrinth of dream #1 (feat. Borges;-). Jadi itu kumpulan cerita-cerita Borges yang dikumpulkan oleh Hasif Amini. Gue membaca kumpulan-kumpulan ceritanya, judulnya Labirin Impian. Bukunya Borges sendiri judulnya Labyrinth, itu lebih banyak ceritanya ketimbang yang dikumpulkan oleh Hasif Amini. Hasif Amini menerjemahkannya, jadi ini udah jadi karyanya 2 orang. Karyanya Borges dan karyanya Hasif Amini. Karena Hasif Amini begitu bagus menerjemahkannya dan setelah gue membaca itu, gue juga jadi tersesat dalam labirin impian gue sendiri. Dan setiap kali gue tersesat dalam salah satu labirin, ini labirin yang pertama kan, munculah satu lagu. Akhirnya, ya ini, featuring Borges, memang karena setiap cerita di buku itu mengantarkan lagu gue. Bagusnya sih lagu-lagu gue didengarkan pada saat membaca karya-karya Borges. Apa ada kesamaan antara isi dari buku itu dengan pengalaman hidup anda yang melatarbelakangi karya anda? Ya! Dia influence terbesar gue. Borges, dia seorang penulis sastra fantasi. Talent-nya dia itu tidak dimiliki siapapun. Dia seorang penulis Argentina yang keren, yang sangat literer. Yang umur belasan tahun sudah diwarisi perpustakaan besar oleh kakeknya. Kebanyakan Buku-buku kuno. Ada yang berbahasa Arab, berbahasa Latin, berbahasa Ibrani dan ia membuat karyakarya, cerpen-cerpen berdasarkan literatur yang dia baca. Itu keren banget. Anda mau bercinta dengan gue malem ini? Kita bicarakan nanti ya... sebelum anda meninggal. OK! Terus...? Kalau ada Labyrinth of Dream #1, maka seharusnya ada second, third? Hehehe... Bagaimana nasibnya.. Satu bisa jadi adalah terakhir, the one itu the last biasanya. Neo-one itu orang terakhir, dia adalah Ubermensch dalam Matrix, dialah super human menurut Nietzsche. Neo-the one- gue,

121

gue adalah Ubermensch, gue adalah manusia terakhir. Setelah gue meninggal tidak ada lagi manusia di bumi. Kalau tidak ada lagi manusia di bumi berarti saya, If or... Semuanya mati! Semua yang ada di sini? Kematian gue adalah kiamat buat semua orang. Apa dasar anda mengatakan itu? Setelah gue mati apa yang gue tau? Tidak ada! Ya gue klaim aja. Tidak ada yang gue tahu setelah gue mati. Setiap orang juga tidak tahu apa yang akan terjadi setelah dia mati. Gue percaya setelah gue mati, bumi ini hancur, dan gue akan tinggal di dunia lain, entah disalah satu planet di bintang mana. Memang anda mendeskripsikan kematian seperti apa sih? Kematian itu bukan hal besar buat gue, cuma mungkin bisa mengantarkan gue ke dimensi lain mmh... sebelum ini juga gue pernah hidup di dunia-dunia yang lain. Hidup, lalu gue reinkarnasi lagi di sini, transformasi menjadi bentuk manusia lagi. Setelah mati gue akan reinkarnasi di mana, dalam bentuk apa. Transformasi ke bentuk apa, kan gue nggak tau. Cuma gue tidak tau apa yang terjadi di dunia sebelum gue lahir di dunia ini. Di dunia sebelum ini gue hidup seperti apa. Ingatan gue tidak begitu bagus untuk itu. Tapi mungkin dengan dejavudejavu, gue menjadi tau. Karena gue juga entah ribuan kali mungkin bereinkarnasi, bertransformasi. Gue kan tidak tau, tapi mungkin di dunia yang akan datang nanti, yang akan gue masuki mmh... gue akan mengingat apa yang terjadi di dunia gue sekarang. Ok. Mmh... saya ingin tau... Karena gue saat ini udah mencapai pada titik kesadaran tertinggi lebih dari sekedar Ma’rifat. Everything is Infrasonic itu bercerita tentang apa? Many Things Are Ultrasonic. Ultrasonik itu berarti di atas 20.000 Hertz, tidak bisa didengar oleh manusia, hanya bisa di dengar oleh jangkrik kalau tidak salah mmh... ultrasonik, banyak hal yang sebenarnya tidak bisa didengar oleh manusia. Apa yang kita dengar ini cuma fiksi? Sound effect apa saja yang anda gunakan dalam bermusik? Gue menggunakan gelombang MW yang tidak ada siaran. Karena kalau itu diputar terus, kalau anda mendengarkan gelombang AM. Kalau lo mendengarkan gelombang AM terus menerus tanpa henti, yang tidak ada siaran itu. Lo akan masuk ke dunia lain, dunia ultrasonik itu. Ke suara-suara yang tidak pernah kau dengar, dan sinyal-sinyal aneh di sana yang... tapi pada titik akhir, lu bisa menerjemahkannya. Itu sound effect yang pertama. Kedua, gue menggunakan

122

loop dari Fruity loop. Itu program musik yang paling sederhana di komputer tapi gue senang menggunakannya. Fruity Loop, dan gue edit lagi di cool edit pro. Fruity loop yang gue pake, fruity loop 3. Cool edit pro, terus gitar yang Karna pake itu gitar Fender. Dia memakai efekefek gitar yang entahlah, cuma dia yang ngerti. Karena gue tidak begitu mengerti tentang gitar. Ada suara-suara biola, grand piano, dan gitar akustik. Gitar akustik itu di pake oleh Ervi, sekaligus dia menjadi backing vocal. Dia memakai mic yang pake efek vokal juga, yang hasilnya seperti yang anda dengar tadi. Dan entahlah, kenapa jadi ada orang yang bunuh diri karena itu, mungkin bahwa mereka semua sudah tahu bahwa semuanya ultrsonik. Setelah dia mendengar hal-hal yang ultrasonik itu, justru dia jadi tau apa yang harus dia lakukan terhadap dirinya, gitu! Karena yang gue liat tadi juga mereka bunuh dirinya pake pisau dan langsung ditusukkan ke jantung. Harakiri! Tapi keren, gue menikmati keindahan itu tadi. Satu persatu roboh. Entahlah! Mereka sudah menyiapkannya. Kenapa mereka bawa pisau. Cuma apa yang gue rasakan adalah gue ngiri sama mereka, gitu! Gue ngiri sama mereka dan gue juga akan secepatnya menyusul mereka. Karena mungkin mereka sekarang udah entah dimana, udah dilahirkan lagi di mana. Seharusnya nggak perlu iri karena toh akhirnya anda akan melakukan bunuh diri juga. Ya, sekarang gue iri berarti ya.... Lalu lirik dalam lagu itu apa saja yang anda katakan? Apa saja yang anda ceritakan? Liriknya memakai bahasa lidah. Bahasa yang mungkin tidak akan bisa diterjemahkan oleh manusia, tapi bisa diterjemahkan oleh beberapa manusia. Yang akhirnya bunuh diri? Ya! Gue memakai bahasa lidah yang diambil dari konsep trance-nya orang-orang Kristen. Mmh... dan itu hanya gue yang ngerti. Interpretatif ya liriknya, mungkin dalam istilah siapa itu, namanya bahasa Malakut. Dalam istilah beberapa orang, bahasa jangjawokan. Tapi itu memang trance liriknya, dan setiap kali gue di panggung, pasti berbeda. Dan apa yang ada di album juga berbeda. Berapa orang yang sudah meninggal? Apa anda tahu? Oh, gue belum tau tadi. Gue hanya melihat mereka berjatuhan dan bergelimpangan darah. Itu keren sekali, gitu! Itu pemandangan terindah yang pernah gue liat. Efek seperti itu yang tidak pernah gue harapkan, tapi pernah jadi satu mimpi gue, gitu! Samantha pasti senang melihat itu. Bisa jadi itu adalah mimpi-mimpinya Samantha. Samantha itu diperkosa Joey setiap hari tanpa bisa membantah dulu. Ya, vaginanya dia second buat gue. Bekas Joey ya. Tapi pada saat dia menjadi milik gue, gue memperlakukannya layaknya wanita.

123

Apa Joey meninggal ? Entah, Joey meninggal tidak diketahui kenapa. Mungkin dibunuh Samantha, gue nggak tau. Gua bayangin memang dibunuh Samantha, kali! Setelah Samantha dirasuki roh If, hahaha... Samantha akhirnya protes, tapi yang gue tau, Samantha sangat rindu dengan Joey, setelah Joey mati. Bahasa yang digunakan untuk itu adalah melecutkan vaginanya di atas pusara Joey. Itu menurut gue, Samantha pernah ngomong kaya gitu. Karena gue juga masih Joey dalam khayalan Samantha. Kekasihnya Samantha adalah Joey, meskipun sekarang dia sudah menikah dengan Cerio. Mungkin menikah atau sudah berkenalan, gue nggak tau. Udah lama nggak ketemu Cerio. Entah sudah di mana. Samantha juga sudah hilang. Entah kapan. Sudah pecah. Lalu bagaimana kalau tentang If? If...-If sudah lama nggak gue temui. Saat tadi gue manggung, If sudah tidak ada sebenarnya. Terakhir gue ketemu itu kapan ya, gue lupa. Mmh... kita manggung disini tanpa If sebenarnya. Lalu siapa yang mengurus perempuan yang mengantri anda di hotel? Entah! Mungkin If sedang di sana sekarang, gue nggak tau. Sudah berapa kali konser? Gue melakukan tur tahun lalu untuk album ketiga. Ini sebenarnya bukan konser tur ya, karena ini hanya memperingati ulang tahun, jadi gue membawakan semua lagu yang di tiga album itu. Tapi tidak ada yang memberikan efek sedasyat ... Semua album itu sebenarnya Labirynth of Dream #1 (feat. Borges;). Tiga album ini yang udah gue keluarin dari taun... Dengan lagu-lagu yang berbeda? Lagu-lagu yang berbeda. Tapi belum pernah ada kejadian seperti malam ini ya? Ini malam terindah buat gue. Ok, kenapa anda bikin judul album yang sama? Karena ini bentuknya trilogi. Masih berkaitan antara satu album dengan album yang lain pada akhirnya. Mmh... lagu Many Things Are Ultrasonic itu single pertama kami, di album pertama dan banyak yang lain. Ya, salah satunya Keranda Mimpi, gue suka. Keranda mimpi - lagu tentang seorang anak jalanan. Baru berumur 1 minggu, meninggal. Tapi 3 hari setelah dia lahir, ngobrol sama gue dan ada obrolan yang sangat intim disana. Tiga hari kemudian dia mati. Mati karena apa itu? Ya, baru tiga hari, dia sudah dibawa ke jalan sama ibunya. Dibawa ngemis, ceritanya sangat gue dengar, begitu! Ya, memang seharusnya mungkin, selayaknya dia mati daripada hidup di

124

dunia yang sudah absurd gini. Dia juga bilang seperti itu. Dunia ini terlalu absurd buat gue, akhirnya dia meninggal dan sempet menghantui gue selama beberapa bulan. Akhirnya gue buat lagu itu, Keranda Mimpi. Anda benar-benar akan mengakhiri hidup anda malam ini? YA! Apakah anda tidak pernah berpikir untuk menikah terlebih dahulu dan mempunyai keturunan? Menikah?! Atau tidak perlu menikah, apapun itu, yang jelas mungkin, pernahkah anda berpikir untuk punya anak? Mmh... gue ingin punya anak dari If tentu saja. Ah.. tapi mungkin belum saatnya. Entahlah mungkin If sedang mengandung sekarang dari gue. Gue nggak tau. Terakhir kami bercinta gue mengeluarkannya di dalam. Mmh... mungkin dia telat bulan ini, ya gue nggak tau. Cuma yang pasti gue tidak percaya dengan sistem pernikahan yang ada di sini. Sistem pernikahan siapapun. Gue pikir pada saat dulu para nabi menikah, mereka kan berarti menikah dalam sistem yang baru. Sistem yang melanggar sistem yang udah ada pada saat itu. Misalnya sekarang sistem pernikahan di sini sistem pernikahannya Islam. Gue sudah tidak percaya dengan sistem pernikahan itu. Sudah terlalu terkotori dengan berbagai kepentingan. Masa ada.. Islam itu melarang orang yang sedang hamil menikah, banyak orang yang kecelakaan, hamil, lalu menikah. Kan, harusnya tidak boleh. Orang-orang itu yang membolehkan dan akhirnya terkotori. Harusnya setiap orang, sebelum menikah itu di cek dulu, dia sedang mengandung atau tidak. Kan ada, diteliti dulu ama dokter, kalau sedang mengandung, ya seharusnya tidak boleh dinikahkan. Nunggu dulu sampai lahir. Nunggu 40 hari masa idah, baru setelah itu menikah. Kalau sistemnya sudah terkotori, gue sudah tidak percaya. Akhirnya gue bikin sistem pernikahan gue sendiri. Tapi gue belum melakukan itu dengan If, belum melakukan itu dengan siapa pun baru dengan Samantha. Tapi entahlah, kami sudah bercerai... Dia sudah pecah, balonnya sudah tidak bagus lagi untuk gue pakai. Ya, gue membuangnya sih, sebenarnya. Mungkin dipungut oleh Cerio karena Cerio juga sangat mencintai Samantha. Entahlah .. biarkan, itu sudah begitu adanya, gitu! Saya pikir anda begitu mencintai If dan Samantha mmh.. Ok Samantha sudah.. Gue mencintai seluruh wanita di dunia. Anda, ibu gue, semua orang, karena semua wanita adalah satu wanita. Semua orang adalah satu orang. Aku adalah engkau - kau adalah aku. gue mencintai semua orang. Gue mencintai semua benda. Gue mencintai apapun. Gue mencintai

125

semua hal. Apakah sempat terbersit dalam benak anda atau perasaan, anda bakal meninggalkan dunia ini, kehidupan anda selama ini? Tidakah anda merasa sedih? Menyayangkan semua itu? Kenapa harus sedih. Ini hal yang gue tunggu dari dulu dan gue justru senang. Gue ingin mati dalam keadaan optimis, bahwa bunuh diri optimis. Gue pernah belajar sosiologi, dulu. Ada berbagai macam bunuh diri, bunuh diri altruis, bunuh diri bla bla bla.. ini bunuh diri optimis karena bukan karena kepesimisan justru karena keoptimisan, bahwa gue memang harus bunuh diri. Itu cara mati yang paling indah. Dan anda mau bercumbu dengan Tuhan? YA! Bisakah itu disebut cita-cita.. Tuhan sangat mencintai gue, karena gue sangat mencintai Dia maka Dia pasti sangat mencintai Gue. Bagaimana sih anda berbicara dengan Tuhan? Dengan membaca tanda-tanda. Melihat anda, mendengarkan kata-kata anda. Mendengarkan kata-kata semut. Mendengarkan suara-suara. Melihat orang tertabrak mobil. Melihat apapun. Ini semua ayat-ayat Tuhan yang tidak tertulis, termasuk yang tertulis pun, karya siapapun itu adalah ayat-ayat Tuhan-tertulis. Itu cara gue berkomunikasi dan biasanya, ketika gue bertanya, Dia menghantarkannya lewat cara apapun. Karena buat gue malaikat itu bisa berbentuk apapun. Mereka hanya katalis antara gue dengan Tuhan. Jibril misalnya, Jibril itu menurut gue mmh... katalis untuk wahyu. Katalis untuk misalnya gue sedang bertanya sesuatu kepada Tuhan. Tiba-tiba ada seseorang yang dateng dan menjawab pertanyaan gue. Maka dia adalah Jibril gue saat itu, dia adalah utusan Tuhan. Gue sedang laper tiba-tiba ada orang ngasih makan, orang itu adalah Mikail gue saat itu. Gue lagi jalan tersandung batu, batu itu adalah Isrofil gue. Malaikat bisa berbentuk apapun. Dia hanyalah katalis, robot. Robot-robot Tuhan yang sengaja diciptakan Tuhan untuk menghantarkan bahasa Dia ke manusia. Karena Tuhan sekarang sudah tidak menciptakan mujizat-mujizat. Ya, zaman dulu mungkin masih menciptakan mujizat-mujizat. Sekarang sudah tidak, karena kalau misalnya dibuat, zaman dulu pun ketika mujizat itu datang masih ada yang menyangka bahwa itu sihir. Kalau sekarang dibuat, malah orang jadi tidak percaya mujizat itu. Makanya Dia membuat mujizat itu menjadi selogis mungkin, jadi bisa masuk akal, gitu! Karena kalau tidak masuk akal, malah orang jadi tidak percaya, terlalu aneh buat orang. Buat sebagian orang, itu jadi malah menjauhkan orang

126

terhadap Tuhan, makanya Tuhan menghantarkannya lewat hal-hal yang logis. Membuat malaikat-malaikatNya menjadi logis. Menjadi anda. Menjadi gelas. Menjadi gula. Menjadi batu. Menjadi mobil, ada orang sedang jalan, ditabrak mobil, orang itu mati. Izrail buat orang itu-saat itu. Malaikat yang ada di bumi kan ada 4 : Jibril, Mikail, Isrofil, Izrail. Selebihnya itu diluar bumi. Dua di alam barzah, 4 lagi di akhirat. 2 lagi di... Roqib-Atid, dia yang menulis, itu kan komputernya Tuhan, kamera-kameranya Tuhan, yang merekam kejadian-kejadian di bumi. Roqib dan Atid itu ada di bumi tapi pasif. Dia baru aktif saat kita di sidang di Alam Mahsyar. Anda ada harapan kembali ke dunia ini setelah anda mati? Berbentuk sebagai apa? Terserahlah! Terserah Tuhan, gue mau diantarkan kemana. Sebaiknya sih langsung diantarkan ke kursinya Dia, ke surganya Dia. Bertemu langsung dengan Dia. Kalau dalam film Matrix ketika Neo bertemu dengan arsitek. Haa.. film itu memang film paling keren yang pernah gue tonton meskipun yang bikin orang Yahudi. Sutradaranya gue pikir memang orang-orang dari dunia zion. Mungkin gue hidup dalam dunia matrix. Mungkin... mungkin gua Neo, bisa.. bisa jadi. Yang pasti mmh... pertemuan Neo dengan...- gue hanya mau mengkritik sedikit tentang film itu - pertemuan Neo dengan arsitek itu seharusnya langsung bercinta. Arsitek itu seharusnya jangan laki-laki. Tidak ada gendernya harusnya. Harusnya banci, karena Tuhan itu tidak punya jenis kelamin. Arsitek itu harusnya banci, jangan bapak-bapak yang bijaksana. Karena Tuhan selama ini selalu digambarkan bapak-bapak yang bijaksana. Menurut gua tidak seperti itu, jadi Tuhan itu ngondek, androgin gitu. Karena dia tidak berkelamin, atau bahkan diluar kekuasaan kita Tuhan itu seperti apa. Hanya yang paling tepat untuk menggambarkan Tuhan adalah banci, gendut... seperti semar lah. Hahaha... Semar itu kan masih di... tidak di..., masih diragukan apakah dia laki-laki atau perempuan. Toketnya gede, perutnya gede seperti bapak-bapak, pantatnya juga gede seperti ibu-ibu, gitu kan! Jadi gambaran Tuhan itu seperti Semar, tertawa-tawa mmh... karena semua hal buat Tuhan itu jadi lucu. Tuhan itu sense of humor-nya tinggi dan gue selalu membayangkan Tuhan seperti itu, selalu minum, langsung dari galon air mineral. Minum air mineral yang banyak karena orang tertawa selalu minum. Minum air mineral dari galonnya langsung, selalu lucu. Paling lucu adalah ketika dia horni. Mmh.... Karena tampangnya jadi menggelikan gitu, dan itu membuat gue jadi semakin horni kalau gua lagi onani. Satu-satunya yang paling asik itu onani, memang. Bercinta dengan wanita itu hanya seperti.... ya sudah begitu saja, gitu! Gerhana sex!

127

Tadi anda bilang suka menulis? He-eh. Menulis apa? Mmh... menulis puisi. Essay, apapun, tapi nggak pernah gue terbitin. Kenapa? Sepertinya gue harus mengakhiri pembicaraan ini, karena waktu sudah hampir jam 12. OK... Tapi pertanyaan saya masih banyak nih... Nanti kita lanjutkan saja di dunia lain. Waduh... waduh... Bye... Setidaknya ada yang ingin anda katakan untuk fans anda? Apa pun itu... Apakah gue salah? Apakah gue salah berdoa untuk mati, hanya karena rindu bercumbu dengan Tuhan? Terima kasih. Bye... Salamkan pada Tuhan! yaaa...

Chapter Thirteen
Pengantar Dari Eva Ifanya Untuk Novel EPISODE IV Keharusan untuk menyimpulkan memang hendaknya saya sadari meski ringkih sekali. Apakah karena saya nilai keskizoprenikan naskah ini belum konsisten? Aneh, apakah skizoprenia harus konsisten? Namanya saja sudah skizoprenia!

128

Saya memang sama sekali tidak bermaksud untuk membohongi pembaca dengan ditulisnya naskah ini karena saya yakin pembaca tidak bodoh. Dalam kata lain saya tidak bermaksud membohongi diri saya sendiri karena terang sekali bahwa naskah ini adalah hasil percakapan Niskala dengan dirinya sendiri, komunikasi intra-personal atau saya tafsirkan dengan dialog singkat dengan Tuhan, komunikasi transendental sebagai sebuah manifestasi jujur untuk menumbuh-kembangkan komunikasi imajiner, seperti percakapan-percakapan Samantha dengan Joey dalam bayangannya. Keberhasilan sebuah komunikasi imajiner tidak bisa diukur secara empirik sebab tidak ada parameternya (hal ini pula yang menyebabkan banyak sekali skripsi di Fakultas Ilmu Komunikasi yang berhubungan dengan wilayah metafisis atau imajiner selalu ditolak). Dan Statistik akan menjadi metode yang sangat bodoh bila dijadikan tolak ukur untuk Komunikasi Imajiner. Komunikasi imajiner bukanlah garis nyata yang bisa kita simbolkan dengan garis atau bidang-bidang bahkan titik sekalipun, tidak seperti misalnya garis khatulistiwa atau tetrahedron atau titik-G (G-Spot). Lantas apa perlunya naskah ini dibaca oleh orang lain, yang dalam hal ini anda sebagai pembaca? Inilah yang saya sebut dengan keberhasilan sebuah komunikasi imajiner secara kualitatif, yaitu ketika berhasil dituliskan menjadi sebuah naskah dan dibaca oleh orang lain diluar imajinasi penulis meski nantinya akan banyak kode-kode pribadi yang hanya dimengerti oleh si penulis sendiri, tapi dalam kasus ini, saya mensahkan siapapun untuk memecahkan kode pribadi itu dengan tafsiran apapun, bahkan yang paling pribadi dan paling subyektif dari pembaca sekalipun, meskipun bahkan akan menjadi semakin absurd. Seperti misalnya saya membaca Kekekalan karya Milan Kundera dalam terjemahan Bahasa Indonesia yang diterjemahkan dari Bahasa Inggris. Sementara Bahasa Inggrisnya pun adalah terjemahan dari Bahasa Perancis yang sebelumnya diterjemahkan dari bahasa aslinya, Cheko. Saya mencerapnya dalam otak saya. Andaikan saya bertemu dengan Kundera dan membicarakan Kekekalan hasil cerapan saya dengannya. Apa yang akan terjadi? Hanya ada dua kemungkinan terbaik tetapi absurd yang akan dikatakan Milan Kundera; Pertama; mungkin Kundera akan berkata sambil takjub: “Hai, dari mana kau dapat ide sehebat itu?” Atau kedua; mungkin Kundera akan berkata seperti ini: “Nah, itulah yang sebenarnya kumaksud! Akhirnya ada juga orang yang mengerti maksudku!” Absurd bukan? Tapi tak

129

masalah, “Harus dibayangkan bahwa sisifus itu bahagia!” Sebetulnya kalau kita bersepakat maka mungkin kita akan mencapai tujuan bersama; yaitu bahwa naskah ini boleh (harus?) dibaca, dan hanya dibaca. Perkembangan selanjutnya terserah anda... Walaupun mungkin akan terjadi pertanyaan terhadap kapabilitas dan kompetensi dia, Niskala, sebagai penulis. Anda boleh meragukan atau bahkan yakin, tentu saja! Tapi apapun, begitulah! Sampai pada titik ini saya belum menemukan kesimpulan akhir. Hanya saja optimisme saya muncul, bahwa nanti dalam prosesnya akan merunut pada kesimpulan akhir. Bisa dari proses diskusi, distribusi atau bisa dari hanya sehelai daun tua basah yang jatuh dari pohon cedar setelah hujan yang begitu deras disertai angin yang begitu dahsyat dan halilintar beserta kilat yang menggelegar-gelegar dan bersahutan. Saya rasa Niskala sudah cukup membuat petanda sebagai konotasi atas sebuah kejadian dan penanda sebagai denotasinya. Sebuah stempel besar bercetakan tulisan “SASTRA” menempel dengan telak di naskah ini. Saya sendiri sangat suka dengan bagian-bagian ketika Niskala menceritakan perasaan-perasaan terdalamnya terhadap saya dengan begitu indah sebab pada pertemuan-pertemuan kami dulu, dia jarang sekali mengutarakan perasaannya dengan begitu detil. Meskipun begitu saya teteap bertahan pada pendapat awal saya; ini semua fiksi!

Selamat bermain wahai domba-domba poppy atau sesuci apapun engkau Maria! Bersujudlah dihadapan jasad busuk Warhol (sebagai petanda/signified) dan ucapkan katakata sebagai doa atau kutukan sekalipun (sebagai penanda/signifier)! Catatan Eva Ifanya untuk Chapter Tentang Serpih-Serpih Fiksi Yang Saya Temukan Dalam Laci Kamar Niskala 2 fragmen Serpih-Serpih Fiksi Yang Saya Temukan Dalam Laci Kamar Niskala adalah catatancatatan kecil yang terpisah-pisah dalam kertas-kertas yang berserakan yang saya temukan

130

dalam laci kamar Niskala pada saat saya membereskan arsip-arsipnya. Saya rasa itu lanjutan yang diinginkan Niskala. Ini memang semata-mata hanya tebakan saya saja. Awalnya saya ragu-ragu untuk mencantumkan catatan-catatan yang fragmentik ini tetapi seperti yang diungkapkan di awal tadi bahwa saya membayangkan Niskala lagi sensitif, merasa perlu untuk meneruskan tuturan kisahnya yang menggantung, disamping saya menyayangkan apabila karya Niskala yang tercecer ini tidak dipublikasikan. Saya menyusunnya berdasarkan intuisi saya sendiri dan tentu saja beberapa saya edit. Saya mohon maaf atas ke-kurang ajar-an ini. Saya mencari data tentang Cerio selama beberapa bulan. Di seluruh sudut kota, internet dengan fasilitas search engine-nya, perpustakaan daerah hingga pusat dan dalam arsip-arsip pribadi Niskala. Termasuk pencarian secara mistis, transformatif, semantik dan eksploratif hingga saya tak segan untuk melakukan metode eksploitatif. Hingga akhirnya saya berhasil menemui Cerio langsung di sebuah dunia paralel entah dimana. Tempat itu adalah rumah barunya bersama Samantha. Saat itu adalah saat makan siang. Saya ditawari makan bersama dan kami berdialog tentang naskah Niskala yang tercecer ini. Cerio mengagumi hasil karya ini dan bersedia menulis catatan kecil sebagai pengantar. Samantha pun menyetujuinya. Luar biasa, Cerio dan Samantha hidup bahagia dalam rumah tangganya. Happy ending, ever after. Samantha sedang mengandung dan bekas-bekas boneka di wajahnya sudah semakin tidak terlihat. Setelah melalui proses terapi dan operasi canggih di dunia itu, entah apa namanya, yang luar biasa hebat, katanya. Syukurlah! Setelah saya mencoba merajah seluruh bagian rasa dengan gambar-gambar kesan bersembunyi di balik kepala dan kepalan tangan, saya temukan beberapa ketakutan yang tak sempat saya lihat dengan kejelasan sempurna. Tidakkah itu akan menyebabkan kejengkelan pada jantan di balik selangkangan saya?

131

Chapter Fifteen
SkizopreniaEpisodeIV

Babak I.
Nyanyian Tropis... Tuan demikian aku tak menangis lagi biarlah sebab sembab di mataku masih tersisa tatkala hati jadi mengebiri otak

132

Niskala aku tak mati sebab belum aku menggerogoti matamata jalang Tuan (emosi dan menunjuk langit) aku tak menang takkan sebab waktu terus berlari sedang tidur jadi kehampaan tak bersisa Niskala kelam menjelang kerapuhan kelopak mataku aku buta biarlah biarlah aku meraba-raba dengan tangan dengan tongkat dengan kejahatan pikirku

Niskala II ah... aku menggeliat dalam sekali bunuh diri menjadi sepi kembali aku bercinta dengan diam Niskala I tuan! bukankah cinta adalah diam sebab dengan bergerak cinta akan menjadi buta bahkan pun berputar seperti rumi meski cinta sejati jadi belati tapi aku selalu tak percaya dengan kesejatian Tuan jadi diamlah biarkan aku tertidur tenang dengan mimpi burukku

niskala belah, menjadi dua. Niskala I dan Niskala II. Nyanyian Hujan... Niskala I aku terus meluncur, tuan biar engkau terus bersenandung gembira dan khalayak mengkhayalkan engkau jadi teman tidurnya Niskala I tuan! engkau dan khayalmu adalah mimpi bagiku jadi berjalanlah aku dengan kecepatan tak terkirakan menemukan engkau sedang tertidur Niskala II ih... siang semakin lebat dengan hujannya

133

matahari semakin enggan bersinar seperti malam seperti aku yang terduduk kaku menanti berganti-berganti merubah-merubah tapi diam tetap diam meski udara semakin sesak dengan nikotin meski jantung semakin enggan berdetak Tuan aku menyendiri sepi tak berganti biarpun hati tetap dengan gigi geriginya seperti permadani yang melayang menimpakan tubuhnya di atas angin Niskala II aku tetap diam tak bergerak bahkan oleh teriak-teriak dosa menghina aku bukan manusia jadah pikirku tapi entah manusia teriak itu terus mengelus pandangan bencinya untuk lututku yang hampir goyah Tuan uh... suara mobil terlalu bising mesin-mesinpun berteriak hina padaku aku malu pada mama pada papa

tuan! bolehkah aku memanggilmu seperti itu sebab kerinduan semakin mencengkeram urat-urat kehidupanku Niskala II aku digerakan oleh tidaktahutidaktahutidaktahu entahentahentah itu mengiringi upacara kematianku Niskala I anakanak itu seperti lebam pada wajah tuan bolehkah aku memintakan sebuah keinginan aku tak ingin sebab ingin menjadi iri pada inginingin yang lain sementara ada satu bising berteriak akulah keraguan padahal ia ungkapkan dengan begitu pasti Niskala II lebam-lebam pada wajahmu semakin tak teratur dan mengatur segala inginmu engkau terpenjara kehinaan, tuan aku semakin rindu padamu Niskala II membelah diri menjadi Niskala III dan IV Nyanyian malam...

Niskala I

134

Niskala III eh... bukankah engkau terus berguling menggulingkan menerawang meracau menghias badanmu dengan lebam-lebam yang terus kau tumbuhkan Niskala IV entah apa yang harus terjadi sungguh aku tak sanggup sedang dunia selalu O bukan o...! Niskala I oh... engkau malah menari meliukan tubuh kasarmu kedalam isapan pasir gurun yang terbentang memenuhi ruang kerjamu Niskala III tidak, tidak... aku tidak ingin berteriak hentikan! gila! aku berteriak aku memang takkan menyusuri khayalmu sementara rumus-rumus menjejal dalam lututmu sedang aku tetap aku tetap waktu tetap kaku tetap batu menjadi dogma-dogma para domba tak berbulu

hening dan diam yang panjang Nyanyian sunyi... Niskala III keringkan badan najismu dan terbaringlah engkau, tuan aku menanti jasad kosongmu terbujur kaku merindu di atas pusaramu aku tak mau mati lama-lama biarlah aku hidup kembali membunuh diri mereka yang terayun awan-awan gelap barangkali-barangkali ini hukum ini protes ini proses Tuan dewa...! oh, dewa... aku memujamu aku meminta keabadian padamu seperti abadinya api sucimu padahal aku adalah tanah kembali ke tanah busuk kembali membusuk

Niskala I bertualanglah aku dalam dunia samantha yang membujuk aku untuk membunuh diriku aku malang

135

sebab tak satu pisau pun mampu menusuk jantungku, beliak mataku dan kedalaman pikirku Tuan aku jatuh, bangun, jatuh , bangun... melompat, berbaring, menengadah girang Niskala III bintang-bintang mengerang ketika bercinta dengan gelap ha...ha...ha... langit menayangkan film biru tanpa sensor dan babi-babi bertangan meraba-raba payudaranya sendiri Niskala III Niskala I aku terangsang, tuan aku bemasturbasi dengan olah pikirku muntah Tuan Niskala III demam kambing bertopeng kebijaksanaan mengembik seperti jangkrik riuh kemaluan mereka mencuat menyaksikan orgasme para bintang Niskala IV langit menutup layar selesai sudah babak pertama Niskala III baguslah! biar kata memaksaku meluncur seperti aku tersenyum sinis sekali hih... konyol, pikirku tepuk tangan riuh dan banjirnya air mata menjebol irigasi sungai-sungai janda Narator (VO) babak kedua dimulai dengan munculnya keanggunan seekor kancil dan keagungan sri baginda singa yang mengaum bijak melahap sang kancil Nyanyian Rantai...

Babak II.

136

papan skate yang menabrak lepasnya beha-beha para perawan suci berkerudung ejekan Niskala I membelah menjadi Karna dan Samantha yang sangat indah Nyanyian Musim Kawin... Karna mari tertunduk, terduduk, tercenung, merenung berdirilah maria atau sesuci apapun engkau bukankah kejujuran menjadi tombak menusuk ketika keikhlasan membunuh menjadi penerang bagi para pendosa yang berdiri dalam kalang tanahnya sendiri Niskala III sedang sebenarnya akupun terus membunuh diriku sendiri meski tak mati-tak mati Tuan aku terus meracau padahal sekeliling menjadi bising dengan bau pesing ocehan busukku gelap!

Samantha hai semua, akulah diri yang merindu abadi pada saat ketajaman duri menoreh bagian kemunafikan Niskala IV tuan, aku telah mengatakan pada tuhan aku bosan, tuan aku bosan dengan mengalirnya air yang selalu begitu aku jenuh dengan kosongnya ketinggian langit yang tak mampu kutembus Samantha tuan aku rindu aku rindu Karna tadi pagi aku bercermin menemukan secercah cahaya pada keindahan mata jalangku dan bahkan aku sempat bercinta dengan diriku Tuan aku terangsang aku aku bermasturbasi kembali sebuah pembunuhan diri secara diamdiam Samantha

137

aku terkapar lemas sekali bahagia, maya...

lihatlah dengan dua mata sambil kalian berdiri kokoh Niskala III

Karna kubuka mataku kembali tidak menjerit sebab aku masih tampan Samantha jangan berbohong, sayang sebab aku tahu engkau terpesona padaku tuhan tahu dan mengingatkanku alasan apapun, kasih aku telah menang ha...ha...ha... Karna aku melayang dengan keegoan menyaksikan gerimis-gerimis air mata yang keluar dari ketersisihan manusiamanusia tak biasa aku muak dengan kebiasaan sebab itu bukan kesederhanaan Niskala III berdirilah otak-otak yang berjongkok diatas aturan-aturan fana itu sebab kalian abadi

lihatlah ketajaman kuku-kuku kalian yang menancap menggurita kedalam dada-dada para lebam di wajah mulus sang dara Tuan aku hargai ocehan-ocehan mulut manusia kalian tapi apakah mulut bisa melihat Niskala IV langit semakin mendung dengan rintik air yang semakin melebat air mata tuhan Tuan tuhan, menangiskah engkau atau hanya pipis atau sengaja kencing untuk menyembur kami agar kami sadar dengan keharuman pesingmu Nyanyian Gemuruh...

Niskala IV

138

Tuhan (VO) Diiringi Karna, Samantha, dan kedua Niskala yang tersisa ya... aku tahu engkau mendamba kami diam tersadar dari keliru-keliru yang kami buat sendiri tapi, kasih aku rindu dengan rindu aku tak bisa melihat hingga aku tendang apapun yang ada didepanku meski aku sering jatuh tapi aku kembali bangun dan tetap buta dengan terus berharap, matilah! matilah! aku tidak peduli meski siang mengobarkan rambutku meski siang membakar kulit tubuhku aku tetap akan berkata matilah aku! matilah aku! Tuan aku tidak keliru memandang wanita-wanita dengan telunjuk sebab begitulah wanita aku tidak keliru membicara para pembunuh dengan kaki sebab begitulah... Niskala III aku malah berontak ketika aturan menjejaliku dengan penjara keinginan Samantha lihat dekil tubuh mereka basah baju mereka Niskala IV kehangatan selimut tuaku pun aku tak peduli Niskala III asap rokok mengepul bulat pun aku tak peduli Niskala IV ini nyata ini nyata aku berpesta dengan kecewa yang dibuatbuat Niskala III aku senang menang tenang tapi girang meradang meriang aku riang dengan doa yang terus terucap

139

lapar perut mereka rusak hargadiri mereka gosong kulit mereka kita hanya membayarnya dengan logam berkarat! Niskala IV biarlah... sebab akan terus begitu dan aku hanya menyanyi bersenandung riang untuk mereka mereka tersenyum, tuan mereka tersenyum menyaksikanku telanjang memperlihatkan seluruh babad-babad sejarahku sejarah mereka sendiri sejarahmu sejarah para kekasih

kita… aku! Niskala IV aku tak sanggup melanjutkan ngeri semakin menjadi dan pohon-pohon pun tumbang bahkan tercabut dari akarnya mati? Niskala III bukan mati jadi akhir tapi definisi jadi awal Tuan berkat ridomu aku terkubur malu dan telanjang menunjuk pada keahlian para penipu menunjukan muka lawak mereka Niskala III dan Niskala IV menghilang.

Tuan aku menari tarian kematian itu lagi Samantha dan tiba-tiba semua berubah berubah jadi tarian tarian kematian itu lagi Tuan sebab semua akan mati kita abadi kita saksi kematian

Karna dan Samantha menyatu kembali dalam persenggamaan, kembali menjadi Niskala I dalam warna yang lebih terang Nyanyian Senja... Niskala I aku ingin terus berlari meski patah kaki para semut mengingatkanku akan arti kecil oh…

140

aku terpana dia sangat besar dipandang oleh mataku yang binar Tuan lelah aku tidur nyaman lelap sekali Niskala I mimpi buruk jadi sarapan pagi suara pintu membangunkanku itu mimpi sebab mimpi mengetuk pintu mimpi hingga duniaku semakin berlapis menumpuk takrapi-takrapi Ruh niskala II melayang-layang diatas mereka berdua dentingan melodi gitar.... Ruh Niskala II seorang anak kecil lusuh menyerahkan sebuah bungkusan kecil kak, ini kiriman dari neraka

kubuka ya, tuhan, terima kasih seekor burung lentik lalu menyapaku dengan kicauan merdunya Tuan ini masih mimpi? entahlah mungkin tidak sebab dingin pagi masih terasa menusuk pori Ruh Niskala II kutuai sebuah angin yang menyusup lembut menggidikan lewat ventilasi yang ramah membiarkan hidup laba-laba harimau sang angin memeluk hangat kicau merdu si burung Niskala I oh ya, kelinci, aku cinta kamu, kata tupai begitupun aku, kelinci menjawab Tuan

Babak III.
Niskala I aku tersenyum dengan kantuk yang masih menyerang saraf

hei, aku berteriak suara dari mana itu isak tangis kodok dikalahkan jeritan jengkerik yang siap disantap ayam-ayam cekatan yang telah bangun sejak mimpiku masih

141

belum kumengerti muncul ruh Niskala III dan Ruh Niskala IV Dentingan Gitar dengan Nyanyian Arwah... Ruh Niskala IV inilah kesegaran menjamu kemampatan yang membelenggu lajur-lajur kemurnian sel-sel syaraf pusat Niskala I aku menggeliat sekali lagi sekali lagi itu nikmat sekali Ruh Niskala III hingga penjaja rokok dan kopi panas menghampiriku ini gratis, tuan disediakan olehku dari tuhan hanya untuk anda Tuan aku tersanjung, tuhan aku memujimu dan kicau burung adalah kuanggap sebagai jawaban darimu detik-detik terus berlari seiring cepatnya kemantapan langkahku aku terus melangkah kutemukan titik darah yang menetes membentuk sebuah jalan

memutar sampai kembali pada titik awal itu darahku darah keabadian yang tak sempat kucicipi kenikmatannya Ruh Niskala III ah… sayang sekali, tuan sedang darah sangat mahal mesti kubayar dengan jiwa jiwa yang semakin mengosong hampa Tuan kubakar rambutku satu-satu asap biru membumbung ke atas kejantanan pikirku aku membeliak takjub menyaksikan pertunjukan tuhan Niskala I di atas asap menari seekor lalat yang tak sempat mati menjadi santapan teman-temannya Tuan aku berdiri mengaburkan bayanganku sendiri Ruh Niskala III sudahlah!

142

kau harus siap menghadapi keburukan apapun yang menimpamu Tuan aku siap tentu aku siap meski durjana aku yang selalu terbaring dihentak buaian selimut-selimut sunyi Ruh Niskala IV habislah sudah jantungmu kupelihara seperti benalu menyelimuti dahan dan bulan menatap dengan keringanan jiwanya mengatakan bahwa aku belum mati Niskala I aku tidak terbangun sebab aku tidak tertidur kusaksikan jelas awan mencium bulan merayunya dengan buaian kata-kata berbunga harum sekali Niskala I tertidur selamanya Nyanyian Pagi... Ruh Niskala IV tapi batu tetap batu yang kokoh mengangkang menantang usiaku untuk bertarung aku selau tak siap-tak siap aku lari, penakut! Ruh Niskala IV

pengecut itu kembali membawa segerombolan jin menjadi pengawalnya Tuan batu berubah candi aku berlutut menatap tuhan diatas candi berkepala buddha ada candi berkepala syiwa ada candi berkepala isa ada candi berkepala musa ada candi berkepala api ada candi berkepala matahari ada candi berkepala zeus ada candi berkepala muhammad kasih, aku cinta kalian semua (VO) Niskala I hei! aku telah tak menggerakan kakiku lagi sebab siang dan malam telah menjadi musuhku tapi bolehkah aku menjadi kekasihmu? sebab tak ada siang tak ada malam menjadi kekasih aku tak punya kekasih Ruh Niskala II jadi bolehkah sebab aku belum mencintaimu tapi aku akan percayalah, aku akan Ruh Niskala III

143

tuan, aku harus menjadi kekasihnya sebab semua nabi kuikuti Ruh Niskala II aku taat, tuan jadi layaklah aku menjadi kekasihnya meski aku dibilang penghkhianat tapi tuhan tetap satu untukku, tuan

aku terharu membiru masih membekas di lamunanku Ruh Niskala III meski ini nostalgia, tuan aku tetap menghargai keinginanmu untuk menjadi hamba sahayaku tiba-tiba datang Ruh Niskala

Ruh Niskala IV tapi apa boleh buat bila aku harus tersingkir dari dunia yang pernah melahirkanku dan pernah menguburku Tuan aku tabu bagiku aku hina untukku sendiri mungkin ku tak layak mendapatkan tubuh sesempurna ini (VO) Niskala I ini geraian rambut yang mencipta nyawa-nyawa kesederhanaanku percaya akan malam yang selalu bergadang diiring lelapnya bumi, gadis masih gadiskah engkau? tapi aku tak peduli sebab kecantikanmu membuat hatiku berlari belai jiwa kurasa menggetarkan setiap helai bulu di sekujur tubuhku Tuan Semua Ruh Niskala engkaulah kesejatian (VO) Niskala I Ruh Niskala aku tidak membelimu

Nyanyian Cahaya...

tapi aku menuliskanmu dalam keahlian gerak ballpoint di tanganku

tuan, engkau seorang malaikat yang tentu bukan laki-laki bukan pula wanita

meski bukan kesempurnaan

engkau telah menjadi sahabatku untuk bersama meloncat ke dalam UTOPIA bersama, bersama-sama

144

145

Chapter Sixteen
Sentuhan Halus Sekisah Tujuh Hari Bercumbu Dengan Waktu Tidak akan pernah ada keperluan yang mendesakku seperti ketika dia mengatakan padaku bahwa tidak ada lagi cinta yang pernah terungkapkan kecuali hari ini… Ketika kupandangi sesosok makhluk yang tak terdefinisikan oleh otakku, ada sesuatu yang terlintas dalam pikirannya, kurasa. Entah apa, padahal aku sangat terbiasa dengan hal itu. Betinaku sepertinya mulai banyak tingkah, katanya. Aku tahu. Aku juga sudah terbiasa dengan hal itu. Seperti sebongkah es menyelubungi sekujur hatiku, aku tak punya lagi rasa iba padanya, padahal apa salahnya dia padaku, akupun tak pernah tahu. Tapi hari ini aku merasa harus tidak iba padanya. Sehari itu tak pernah ada hal lain lagi kecuali aku harus mengenyahkan pikiran iba pada waktu. Kuhabiskannyalah, seperti ketika Cupido menghabiskan seluruh anak panahnya untuk Apollo. Aku menghamburkan dengan sia-sia seluruh sisanya tanpa ada lagi yang bermanfaat darinya. Biar dia tahu rasa, padahal apa salahnya dia padaku, akupun tak pernah tahu. Hari Pertama Bercumbu Dengan Waktu: Terdesak! Pada mulanya...(Mereka terdesak untuk menciptakan gelap dan terang.) Mereka harus membuat dikotomi atas segala sesuatu. Merekalah Cahaya, Merekalah Kegelapan. Merekalah batas antara keduanya. Merekalah Chaos. Merekalah Nyx dan Erebos. Merekalah Sumber dari segala Tesis, Antitesis dan Sintesis. Merekalah awal dan akhir dari warna-warna. Merekalah Abuabu. Merekalah Hitam dan Putih. Merekalah gairah-gairah, sensasi, persepsi, ambiguitas, kekesalan, keraguan. Demikian di hari ini gairah atas perbedaan terlahir. Cinta tercipta. Cerio menghisap batang rokok terakhirnya lalu membuang puntungnya ke sebelah ranjang tidurnya. Tidak pernah terpikir oleh Cerio untuk segera membangunkan seluruh tubuhnya pada saat seperti ini. Padahal hari sudah semakin siang. Tapi dia tidak pernah percaya kepada waktu. Baginya waktu tidak pernah ada sebab waktu

146

hanyalah kesepakatan-kesepakatan yang dibuat akibat bumi berotasi dan berevolusi yang menyebabkan adanya siang dan malam. Baginya tidak pernah ada masa lalu-masa kini-masadepan. Masa lalu hanyalah memori-memori. Masa kini hanyalah proses benak. Masa depan hanyalah data-data yang belum di-copy, program-program yang belum di-install. Cerio hanyalah menyalakan kembali sebatang rokok yang dia temukan di bawah bantal tidurnya. Dan lalu dia tertidur kembali. Bermimpi dan selalu bermimpi. Mimpi bagi Cerio hanyalah kegilaan sel-sel otaknya ketika dia tertidur. Mimpimimpi tak berarti pun adalah kegilaan yang terproses secara absurd dibenaknya, perubahan subyek dan setting yang begitu cepat membuat dia selalu melupakan mimpi-mimpi itu. Itulah labirin impiannya. Aku rasa dia tak akan pernah lagi berpikir semaksimal itu bila sebatang rokok telah habis dihisapnya. Seperti pertemuannya dengan Samantha, sebuah sosok yang terwujud begitu naif dalam fantasinya, tidak menjadi dialog cerdas sebab sebatang rokok melahap habis tubuhnya yang seperti telah disuntikan racun-racun percobaan dokter-dokter NAZI. Pagi itu sabda Cerio menggelegar tidak hanya pada Samantha, yang berselingkuh dengan Tuhan, tetapi pada seluruh domba-domba pop yang mengembik pagi itu. Seluruh domba menghentikan embikkannya. “’Apa yang terlihat padaku wahai hewan-hewanku’” kata Cerio, “’Tidakkah aku telah berubah? Tidakkah berkah mendatangiku seperti badai? ‘Bodoh kebahagiaanku ini, dan hal-hal bodoh pula yang diutarakannya: ia masih terlalu muda, maka bersabarlah kepadanya! ‘Kebahagiaan telah melukai aku: semua penderita akan menjadi tabib bagiku! ‘Kepada para sahabatku, sekali lagi, aku boleh turun, juga kepada musuhmusuhku! Zarathustra dapat berkata-kata, memberi lagi dan menunjukan cintanya kepada mereka yang dikasihinya! ‘Cintaku tak sabar hendak meluap lagi aliran-aliran ke segala arah: yang mengalir menuju ke atas dan ke bawah. Jiwaku akan bergegas keluar dari gunung-gunung yang sunyi dan badai-badai penderitaan untuk menuju ke lembah-lembah.’
147

Demikian sabda Zarathustra.” Cerio mengakhiri sabdanya. Seketika langit menjadi mendung dan seluruh dunia menjadi buta, memberikan penglihatannya kepada Cerio. Pandangan Cerio kini menjadi lebih tajam. Menguasakan sensasi(mata)nya pada semesta dan pula kekekalannya. Seperti ketika Goethe bercinta dengan Bettina. Begitulah hingga akhirnya Cerio menghabiskan segelas kopinya pagi itu. Berangkat kerja. Tak lupa tas kerjanya yang berisi data-data statistik ribuan kepala manusia di negeri ini, yang akan segera hancur dalam pukulan bom kapitalisme; jongos dan vitalisme. Jadilah Pagi dan jadilah Senja, itulah hari pertama. Hari Kedua Bercumbu Dengan Waktu: Retak! Kemudian Mereka pisahkan Langit dengan Bumi dengan tengahtengahnya, Mayapada, Matsyapada, Marcapada. Meretak... Demikian di hari ini gairah atas penciptaan terlahir. Perceraian itu hampir terjadi begitu saja ketika Cerio bangun dari tidurnya. Istrinya, Termina, yang berwajah seperti muntahan tahi anjing dalam video klip Offspring, datang membawa surat-surat cerai dari pengadilan untuk segera ditandatangani oleh Cerio. Seperti kukatakan tadi, entah kenapa aku tidak sedikitpun merasa iba padanya. Cerio, yang berwajah seperti Yusuf ketika dipenjara berahi itu, melemparkan pena istrinya dan mencoba untuk lari kembali ke dalam mimpi-mimpinya. Dengan buas Termina menyerang Cerio yang masih limbung dalam kantuknya. Ah…! Bualan ini terlalu seperti drama murahan, kurasa. Aku harus merubah sikap Cerio saat itu hingga terkesan lebih rasional dan cerdas. Tetapi Cerio selalu hanyut dalam autismenya, yang terkadang mampu melumpuhkan otak kirinya begitu lama. Dan cermin pun pecah terkena lemparan asbak Termina. Cermin pecah 148

memperbanyak wajah Cerio sehingga berpuluh-puluh karakter seperti saat Neo bertemu dengan Sang Arsitek di ruangan berbentuk kubus itu. Saat itulah Cerio menyadari ada begitu banyak wajah di mukanya. Wajah yang mana yang akan dipakai untuk menghadapi serangan-serangan Termina? Saat itu Cerio langsung tahu bahwa Termina harus dilihat dari tiga sudut pandang seperti yang selama ini selalu dicobanya ketika Termina sedang kambuh. Namun tampaknya dalam hal perceraian ini, taktik itu kurang begitu berhasil meski menunjukan perubahan yang cukup lumayan dengan indikasi berkurangnya adrenalin Termina. Termina terduduk di sofa, menenggak segelas anggur yang diambilkan Cerio dalam sebuah gelas kristal berkilaukan pesona Termina di masa-masa mudanya. Hari ini Cerio tidak jadi berangkat kerja. Kantor menghubungi, Cerio mengabaikannya. Termina adalah hal yang lebih penting dari apapun, adalah pikiran yang menguasainya hari ini. Cerio me-reload gelas Termina dengan anggur terus-menerus hingga Termina tertidur di sofa. Setelah itu Cerio kembali ke sudut, merangkul kakinya, menerawang. Jadilah Pagi dan jadilah Senja, itulah hari kedua. Hari Ketiga Bercumbu Dengan Waktu: Berderak! Hari ini bumi menyusut, tanah terpisah dengan air. Tanah berderak memunculkan pohon dan tanaman. Demikian di hari ini gairah atas kehidupan tercipta. Pagi hari Termina terbangun dari mimpi-mimpi indahnya dengan Cerio. Termina mendatangi Cerio kembali dengan surat-surat itu dan harus segera ditanda-tangani Cerio. Tapi Cerio masih mendekam dalam sudut terjauh ingatannya, mencoba mengabaikan Termina seperti hari-hari sebelumnya. Tapi mana bisa!

149

Cerio belum dapat memahami kegelisahan apa yang selalu melanda dirinya pada moment-moment penting seperti ini. Takut kehilangan Termina? Tapi bukankah dia sudah lama merasa kehilangan Termina? Cerio membenamkan kepalanya pada televisi yang berdenyar di depannya. Bersembunyi dalam imajinasi. Mencipta kehidupan baru, sama sekali baru. Berganti-ganti sesuai dengan moodnya. Hingga saatnya waktu makan. Maka Cerio tahu dia harus berhadapan dengan Termina. Dibuatnya makan malam yang begitu romantis dengan hidangan anggur paling tua yang mereka punya. Jadilah Pagi dan jadilah Senja, itulah hari ketiga. Hari Ke-empat Bercumbu Dengan Waktu: Tersedak! Hari ini penanda waktu diciptakan. Segala konsepsi tentang waktu diciptakan. Cahaya dan Kegelepan dan diantaranya, menyublim, mencair, membeku, menguap, meleleh, berubah warna menjadi apapun yang disukai Mereka, menjadi ruh-ruh yang memenuhi semesta. Ruh-ruh yang terpenjara oleh waktu, terbatasi masa, tidak seperti Mereka yang belum terdefinisikan. Demikian di hari ini gairah atas seni dan ilmu pengetahuan terlahir. Pagi sekali Termina terbangun, tersedak kesadaran yang segera menguasainya. Dibangunkannya Cerio yang masih terlentang telanjang di atas ranjang mereka tadi malam. Hari ini Termina tahu cara untuk sesegera mungkin membuat Cerio mau menandatangani surat perceraian itu. Dia sudah sangat muak dengan semua ini, kegilaan ini. Cerio membantah seluruh argumen Termina, mengalahkannya dalam waktu singkat. Anggur menguasai Termina kembali. Cerio masuk ke ruang baca setelah Termina tertidur. Membaca hingga kelelahan, 150

menghapus seluruh kejadian di hari itu, mengisinya kembali dengan memori yang ada di buku-buku. Delete-Search-Copy-Paste-Refresh on The Desktop. Jadilah Pagi dan Senja, itulah hari ke-empat. Hari Kelima Bercumbu Dengan Waktu: Teriak! Binatang-binatang bermunculan, dari air dan udara. Memenuhi laut dan angkasa. Angkasa dipenuhi teriakan-teriakan merdu dari makhluk yang melayang-layang. Beberapa diantara ruh-ruh itu memutuskan untuk menitis kedalam makhluk-makhluk bersayap. Sebagian lainnya memilih makhluk-makhluk bersirip, berinsang. Beberapa diantara binatang yang sudah terisi ruh-ruh itu menjadi penguasa atas yang lainnya. Demikian di hari ini gairah atas kekuasaan terlahir. Hal pertama yang didengar cerio hari itu adalah teriakan Termina yang hampir memecahkan kaca-kaca jendela. Seharian itu Termina terus berteriak-teriak. Bahkan anggur pun tak mau diminumnya. Cerio sudah tak punya jalan lagi kecuali membungkam teriakan Termina secara paksa. Cerio mengikat Termina pada kursi. Merekat mulutnya dengan plester. Cerio meringkuk di sudut ruangan. Menerawang. Berbisik-bisik. Bersenandung kecil. Jadilah Pagi dan jadilah Senja, itulah hari kelima. Hari Ke-enam Bercumbu Dengan Waktu: Berontak! Binatang-binatang berjalan, bermunculan dari dalam tanah, memenuhi tanah. Ruh-ruh berserabutan memenuhi setiap jasad binatang-binatang yang tercipta. Ada yang berkelebihan di otaknya, menguasai yang berkekurangan di otaknya. Yang berbicara menguasai yang tidak berbicara. Ruh-ruh lainnya memilih berdiam di tempat semula, sedang ada pula yang memilih bumi tetapi tak memasuki makhluk apapun, melayang-layang tanpa jasad. Satu ruh memberontak, menyesali pekerjaan Mereka di hari itu. Ruh itu mengasingkan diri, menjadi Virus, menjadi sumber segala penyakit, sumber segala bencana, sumber segala kebahagiaan, pemberontak, pemenang, api, cahaya...
151

Sepasang makhluk yang dimasuki ruh yang berkelebihan di otaknya dan berbicara saling melihat tubuh pasangannya. Merasakan perbedaan asing diantara mereka. Merasakan getar aneh di kepala, jantung dan selangkangannya. Demikian di hari ini gairah atas sex dan pemberontakan terlahir. Api berkobar! Termina menggunakan pesonannya untuk menggoda Cerio agar melepaskan ikatannya. Tentu saja Cerio tergoda. Mereka bercinta hingga kelelahan. Cerio menabur benih pada rahim Termina. Kelak menjadi Zygote kontroversial. Saat itulah kesempatan Termina untuk melawan dan kabur. Termina melaporkan kejahatan Cerio pada Polisi. Tak ada bukti. Cerio terbebas dari hukuman. Jadilah Pagi dan jadilah Senja, itulah hari ke-enam. Hari Ketujuh Bercumbu Dengan Waktu: Jinak! Mereka tertidur kelelahan...nanti kita terusin lagi, ok!!! Mereka sucikan hari ini sebagai hari tidur. Tidurlah tidur...anak kami sayang...nanti kami menyusulmu di alam mimpi.. Demikian di hari ini gairah atas kematian terlahir... Utopia, kembalinya Eden. Cerio tertidur dengan nyenyak pada sandaran kursi sofanya, mengabaikan seluruh teriakan Termina hingga Termina capek sendiri. Gairah untuk bunuh diri menyeruak dalam mimpi Cerio. Satu-satunya jalan untuk menghindari Termina tanpa merasakan sakit adalah kematian. Maha Adi Kesadaran menguasainya. “Selamat pagi wahai bisik hari!” berkata Cerio, “Kemarilah domba-domba poppy dan sesuci apapun engkau Samantha, bersujudlah dihadapan jasad busuk Warhol! Menarilah se-berputarnya Rumi menelanjangi Rabiah di danau sufi itu. Bukalah baju kalian, telanjanglah sepolos Buddha dan kelilingi kotamu untuk kau usik segala kerinduannya pada pohon-pohon yang tersisa bayangan. Rasakan hantu152

hantuku yang bergentayangan dalam setiap geraian bulu-bulu kalian: kasihani aku yang bodoh ini! “Usapkan warna-warna murni itu di atas kanvas kesunyian kalian. Berdirilah setelah sujudmu selesai lalu ucapkan kalimat-kalimat ini: ‘O, Warhol yang agung… O, Warhol yang agung… bunuhlah kami dalam jasad muda ini, agar mayat kami tampan… agar mayat kami tampan…!’ “Lalu bersihkan tubuh kalian dengan darah pengorbanan kalian yang dikhianati Ismail saat pedang Ibrahim akan menebas lehernya!” demikian sabda Cerio. Para pembaca yang terhormat, kutuliskan sabda Cerio ini karena kekhawatiranku akan persepsi kekekalan yang telah disepakati antara Socrates dan Plato pada sebuah taman bernama Academia. Plato berkata, “Socrates selalu berkata benar!” Socrates berkata, “Plato salah!” Sebab suatu hari Eva sedang berjalan-jalan di lantai sorga, tersandung pada sebuah kelalaian – atau lebih tepat kebijaksanaan wanita – yang menghalangi sebagian penglihatannya, Adam dengan seketika mengutuk belahan jiwanya itu hingga mereka dipisahkan Tuhan pada ribuan mil jaraknya. Aku tak akan pernah takjub pada apapun pencapaian yang ditelusuri manusia sebab kehinaan telah mencoreng muka Adam saat itu juga. Seperti penggalan suratku pada Dee; Mari menjadi Manusia Super, sebab kau dan aku adalah Manusia. Tidak perlu kelamin untuk menjadi Manusia Super. Sebab kita adalah tak ada! Maka bercintalah denganku, hanya itu satu-satunya cara untuk menjadi Manusia Super; Fade Out and Disappear Completely. Ngahyang... “Lantas bagaimana akhirnya?” Nyima, rahib muda baru itu, bertanya padaku. Ah, persetan dengan akhir. Orang-orang selalu tergila-gila pada sebuah akhir. Hingga suatu kali aku pernah membuat cerita tentang akhir dari sebuah akhir, itu dulu, ketika pencapaianku belum sampai seperempat waktu.

153

Tahukah kau, klimaks dari sebuah cerita adalah ketika si pengarang sudah tidak bisa berpikir lagi dan tidak tahu lagi bagaimana menyelesaikan ceritanya. Seperti aku sekarang, hingga aku mengutip sebuah dialog dalam film The Cup. Padahal yang kutahu sendiri bahwa masih banyak yang bisa kuceritakan dalam kisah Cerio ini, tapi ada beberapa alasan lain aku tidak menyelesaikannya. Seperti telah kukatakan tadi bahwa aku harus tidak merasa iba padanya. Dan yang kedua adalah bahwa tidak pernah ada lagi suatu kisah baru yang bisa diceritakan siapapun, semua hal sudah terjadi, semuanya adalah kutipan. Aku bersumpah, para penyair, atau siapapun, akan setuju dengan hal ini. Kisah Cerio ini bukanlah hal yang baru jadi selesaikanlah sendiri dengan fantasimu, dengan apapun yang pernah terjadi di bumi. Selamat siang dan aku akan menangis setelah ini. Jadilah siang dan jadilah malam, itulah hari ketujuh. ***

Sebagai catatan tambahan: Surat ini saya terima beberapa hari setelah saya menuliskan cerita Niskala di atas, Tak bertempat, Entah tanggal berapa Jam 3 dinihari Siapapun engkau, Kau hanya melakukan pembelaanmu atas segala keterlambatanmu akan penulisan ide. Tapi itu kuhargai sebagai sebuah karya. Seperti kesakitanmu ketika mendengar album KID A, Radiohead, padahal kutahu bahwa kau sudah ingin membuat lagu seperti itu jauh sebelum kau mengenal Radiohead. Atau ketika kau membaca Saman dan Supernova, L’Immortalite dan Thus Spoke Zarathustra, kau sudah berpikiran akan karya seperti itu jauh sebelum kau membacanya. Atau pula ketika kau melihat film Being John Malkovich, melihat pertunjukan Modusoperandi dan Performance Factory. Dan masih banyak lagi. 154

Aku hanya ingin memberitahumu tentang sesuatu yang mungkin tak kau sadari bahwa kau tahu. Dari seseorang yang tak perlu kau tahu PS: Mengapa kata “mu” seakan merobek kata “nya”. Tak ada restriksi cuma ada reduksi. Pilih kedua dari satunya. Atau kau akan mati seketika. *** Begini, saat itu Cerio sedang menghabiskan cerutunya. Menghisap cerutu adalah kebiasaannya apabila ada kejadian-kejadian penting dalam hidupnya. Kejadian penting saat ini adalah penandatanganan surat cerai dengan istrinya. Awalnya kejadian itu sempat membuat Cerio depresi. Melambungkannya akan bayangan-bayangan bunuh diri yang tak akan pernah berani ia lakukan. Saya menemaninya saat itu. Dia bercerita tentang keinginannya untuk kembali normal menjalani kehidupannya. Sambil menangis dia mencoba mengeluarkan ingataningatannya akan keindahan yang dijalaninya dengan Termina. Termina adalah gadis pujaannya; adalah ingatan yang paling kuat menyelundup di benaknya. Entah dia menyesal atau tidak dengan yang sudah dilakukannya pada Termina. Setelah tiba-tiba raut mukanya berubah, seperti menandakan bahwa semua telah selesai atau kembali ke awal. Ataukah ingatannya sudah habis? Diambilnya sebatang cerutu seperti yang telah saya ceritakan tadi. Begitulah! ***

155

Chapter Seventeen
Sentuhan Yang Kurang Halus Beberapa Kisah Setelah 7 Hari Bercumbu Dengan Waktu 1. Terus terang, bukannya aku ingin ikut campur dalam masalah ini. Sebuah mobil sedan lewat dengan merek entah apa melintas. Tetapi mungkin hanya karena perasaanku lagi sensitif, gue lagi dapet! Seekor burung pipit hinggap di atas pohon jambu di halaman depan. Asalnya memang lebih baik kisah Cerio ini kuakhiri saja tetapi karena ada sebuah keidentikan Cerio dengan Samantha maka akan kuteruskan saja. Suara lancang seorang gadis menyeruak diantara bising manusia di café itu, meneriakan sesuatu yang sebenarnya layak sebagai sebuah gumaman. Ah, lelaki itu malah menertawakannya. Sialan! Kupikir dia akan memeluknya agar meredam teriakan gadis itu. Cerio bukan nabi. Kedua orang itu terus memperdebatkan hal-hal yang sering terlontar saat terjadi perebutan energi dalam sebuah pasangan. Tapi berhak menjadi nabi kalau dia mau. Sekarang giliran lelaki itu yang berteriak-teriak menunjuk-nunjuk muka gadis itu. Samantha pun begitu. Gadis itu menangis histeris. Aku pun begitu. Lelaki itu memalingkan muka. Ketika Cerio sendiri saat itu, Samantha pun sedang sendiri merindui Joey dengan ingatan yang itu-itu juga. Aku memesan kopi gelas kedua hari ini di kafe ini. Kupikir ini sebuah koinsiden melankolis apabila diandaikan Cerio itu adalah Joey dan Samantha adalah Termina. Pasangan itu terdiam sebentar. Klop? Satu keping bagian puzzle menelusuri sisi-sisi yang sudah saling berkaitan, tapi belum menemukan dimana dirinya harus terbaring sempurna. Dari awal aku selalu mengatakan bahwa entah kenapa aku tidak pernah merasa iba pada Cerio. Seorang pengamen meneriakan kembali rintihan Thomas Yorke dalam No Surprises!. Awalnya kupikir ini sebuah dendam tanpa alasan tetapi ternyata bukan itu. Gadis itu berteriak lagi, teriakannya semakin kencang dengan histeria dan air mata. Sekali lagi aku menceritakannya hanya karena aku lagi sensitif. Lelaki itu akhirnya berdiri dari kursinya, merangkul gadis itu dan ternyata bisa meredam teriakan gadis itu. Sensitif adalah salah satu gejala PMS, kata seorang temanku. Mereka berangkulan saling memaafkan.

156

2. Kegagalan Samantha dalam setiap kali bunuh dirinya menyebabkan Cerio urung untuk melakukan hal yang sama. “Itu menyakitkan, Nis!” katanya suatu ketika sambil tertawa. “Aku pikir,” kataku, “mungkin akan lebih baik jika kau mencari bunuh diri yang paling efektif. Syukur-syukur kalau kau menemukan yang sangat indah. Internet adalah jawaban yang bagus. Kau tinggal ketik SUICIDE di search engine. Selesai!” 1. Apa yang akan kau lakukan bila istrimu berselingkuh dengan lelaki lain? -Bunuh dia! 2. Apa yang akan kau lakukan bila istrimu minggat? -Bunuh dia! 3. Apa yang akan kau lakukan bila istrimu meminta cerai? -Bunuh dia! Apa yang akan kau lakukan bila ke-3 hal itu dilakukan oleh istrimu? -Bunuh diri! Hatiku sudah membebatu Terbebat batu-batu Gemeletukannya terdengar Hingga reruntuhan puri batu pelebur kutuk Mataku sudah berlelinang Terbelit linangan-linangan Gemericikannya terdengar Hingga rerincikan rincikan mata air para dewa Mulutku sudah membebisu Terbius basa-basi Sesunyiannya terdengar Hingga rerintihan rintihan air mata para dewi Ah, apa dosa hingga terselubung karat-kemaratku sendiri...?!? Meski sering kali kukatakan bahwa dosa telah tiada

157

Samantha kembali terwujud naif dalam ingatannya, cukup untuk membuat Cerio urung bunuh diri. Padahal barusan Cerio menemukan sebuah situs berjudul Method of Suicide lantas Cerio menyimpan data itu di komputerku sebagai persiapan bila dia berada dalam situasi seperti ini lagi. Sekarang ingatan-ingatan tentang bunuh diri tidak lagi mengganggunya, mungkin dia berharap begitu. Sebuah harapan memang akan terlalu biadab bila terusmenerus menyeruak dan menghantui. Ketika Cerio berharap untuk mati sama seperti ia berharap untuk menghilangkan ingatan tentang bunuh diri maka entah berapa kilo-Joule energi telah dia buang. Dan itu biadab menurut ukuranku. Aku berani mengeluarkan jutaan rupiah untuk mendapatkan beberapa Joule energi. Lama-lama Cerio malah akan terbunuh oleh harapannya. Biadab! 3. Matahari sore menyinari buku catatanku dengan ketajaman yang amat sederhana. Kesilauan mataku tidak begitu berarti untuk menghambat kegiatan menulisku ini. Saat ini Cerio menghentikan langkahnya sementara mobil-mobil di jalan raya itu terus melaju dengan kecepatan tinggi. Asap mengepul dari knalpot salah satu truk tua yang melintas tepat di depan Cerio. Asap hitam menyelubungi mukanya. Cerio terbatuk sambil mengibas-ngibaskan tangannya dengan cepat. Sebenarnya keseharian Cerio hanya sesederhana hal itu namun ada begitu banyak hal yang mungkin patut diceritakan kembali. Seperti misalnya ketika Cerio menggumamkan lagi sabda-sabda di hadapan domba-domba imajinatifnya: Terik Kembali terik itu mencoba memujamu “Aku hanyalah seonggok terik seperti ongokan-onggokan terik yang lain itu!” begitu katanya setiap kali kau membuka lembar altar pemujaan seperti kering seperti kerontang seperti rombeng mewujud menjadi sujud

158

melelana mencipta ruh-ruh apocalyptic menelurkan dua butir sabda :sabda keheningan :sabda kehangatan aku butuh kamus aku butuh kamus aku butuh keleluasaan jingga meradang dan membeli tempat itu dengan seharga segelas kopi senggama kau-aku ribuan kali diatas pemujaan terik melagu membusana meneriaki cahaya dengan kata-kata lajang “Jalang!” aku telah meninggalkan terik itu jauh mengaduh dibelakang kemurkaanku tidak seperti kau berlari berlari berlari seperti cipta, rima, ritma, sajak dan enya energi hidup, bukan energi mati, energi lubang-lubang terang, bukan lampulampu padam ingatlah, kita tak pernah ingin dipuja layak dewa sebab dewa tak lagi menitis menjelma semudah rupa tak seperti kita masih menginjak lantai sorga hinakan dua keleluasaan sabda mengembik tercoreng
159

mengembik tercoreng asap:api:debu:gelap:terali:kuasa:kasta:setia:cerca:tebar-menebar menjadi dewa menjadi tak berupa kuasaku lebur maka kubunuh saja lalu kucipta gerak-gerak tentang itu melebamkan sebagian wajahku :sebagian kuning :sebagian lebam kehitaman kucoba enyahkan terik itu dari altarmu sebab tak bisa kutahan saat ini aku yang akan menghuni altarmu memujamu mewujud lebur menjadi sujud tanpa jelma Sabda Cerio itu, kupikir, mungkin telah membuat bingung para domba dalam imajinasinya. Hingga, kupikir lagi, dan begitupun yang dimanipulasi Cerio dalam benaknya, bahwa akhirnya para domba mengerti sebenarnya sabda itu ditujukan untuk Termina. 4. Loncatan fragmen yang kubuat pada Samantha sebenarnya kumaksudkan untuk merunut kisah-kisah pertemuannya dengan Cerio. Harus begitu, sebab aku masih ingin melihat semuanya. Aku tidak lari-aku tidak lari.. hanya sepi... hanya sepi... “Terlalu sepi disini, aku curiga kau sedang menyusun rencana seperti aku yang tersungkur dalam dada tak tenang. Aku mengoyak ketulusan dengan pedang di siang di antara hampa. Kau tersenyum sinis. Sekali lagi kukatakan bahwa cinta untukmu telah terbunuh!”

160

5. Aku, seperti biasa, pagi ini mengosongkan tarian jiwa dalam otakku. Segelas kopi datang begitu saja. Cerio sedang melamunkan kejadian kemarin sore yang sempat membuatnya sedikit terkatung-katung. Termina dengan wajah buruknya melemparkan asbak ke arah Cerio. Editor film itu, atas persetujuan sutradara, melambatkan adegan itu. Asbak jadi terlihat mengapung lalu berhenti dengan tiba-tiba di udara. Ternyata Cerio menekan tombol pause dan membiarkannya selama kira-kira tiga menit. Lantas setelah itu dia mengurai dan merentangkan kejadian tiga menit itu menjadi sangat panjang. Aku memperhatikannya tanpa berkedip, dan menunggu kejadian selanjutnya. Waktu yang tiba-tiba berhenti itu tak sedikitpun disadari Termina ataupun orangorang yang sedang menonton film pendek itu. Padahal hal itu sangat berpengaruh buat objek yang ditonton maupun subjek yang menonton. Sutradara dan editor hanya tertawa dengan tanpa beban dan terus menekan-nekan tombol, mempermainkannya seperti seorang anak kecil memainkan permen lolly di mulutnya. STOP! Film terpotong. Ingatan Cerio mulai terurai. Ini juga salah satu kebiasaan Cerio yang tak diketahui orang. 6. Dia yang berjalan di bawah terik itu, seorang wanita berkacamata hitam memakai rok terusan entah rancangan yang keseberapa ratus kali dipamerkan di panggungpanggung fashion show, menutup beberapa lembar keanggunan yang asalnya terbuka satu-persatu tertiup angin sedikit kencang seperti akan menjadi badai tibatiba bila kau meremehkannya. Keanggunan yang dia tutup mungkin adalah sebuah kecerdasan tubuh yang selalu termunculkan begitu saja tanpa pernah terpikirkan atau mungkin terpikirkan, hanya saja otaknya yang tidak seberapa besar itu terlalu seksi untuk memikirkan hal diluar keseksian tubuh dan kehalusan kulitnya. Cerio seperti hendak saja menyapanya tetapi seperti kebetulan sebuah mobil lewat menutupi siang, sebentar mengejan-ejankan asap knalpot dan suara mesin bututnya dan pergi lagi di saat, ya Tuhan, gadis itu hilang dari objek penglihatannya. Sebentar Cerio terdiam dan harus memutuskan. Sebentar yang
161

ternyata menjadi ribuan detik sehingga lalu-lalang akan tak lebih menilainya dari sekedar terpaku mematung dengan mata nanar seperti akan menyambut malam disitu. Cerio meraba-raba, menerka-nerka, membuka tingkap ingatan tentang mata gadis itu, masih dibawah terik, yang tertutup kehitaman kacamatanya dan selalu bertanya pada entah siapa yang bersemayam durja di dalam tubuhnya tentang seindah apakah mata gadis itu. Keringat menyembur-nyembur dari bawah kulit melalui pori yang mungkin setengahnya sudah mampat tertutup debu dan keanggunan gadis kacamata hitam itu. Ada ribuan lebih kata untuk mengungkapkan keindahan mata dan akan lebih lagi bila terhalang kaca mata hitam sebab ada semacam ribuan fantasi untuk mengadaadakan keindahan mata yang belum pernah terlihat ketimbang yang sudah terlihat. Seperti menonton film dan membaca novel. Melihat mata di balik kacamata hitam adalah membaca novel. Kalau dia membuka kacamata hitamnya maka seperti sutradara entah siapa telah membuatkan film dari novel itu untuk Cerio. Keanggunan yang ditawarkan tadi dan kemudian gadis itu menutupnya tanpa dia sadari, malah membuat Cerio semakin bergairah untuk menawarkan harga lebih tinggi dari sekedar hanya menatapnya. Sebuah harga yang paling tinggi, mungkin, berupa sapaan hangat bahkan panas sebab terik yang akan diantarkan Cerio padanya bisa secepat Cerio mengatakan ulang tahun ibunya yang bertepatan dengan hari kemerdekaan. Padahal Cerio tak pernah tahu benar keanggunannya bisa berisi penyakit kelamin, nanah, bergatal-gatal, busuk, atau sekedar cahaya yang bergumpal terperangkap teori-teori relatif hingga tidak bisa bergerak sebebas ketika Tuhan menciptakannya dengan gairah kebebasan absolut. Adakah Cerio pernah berkata tentang rasa saat itu? Jawabannya belum! Yang dia rasakan seperti melengkapi penawaran harga tadi pada gadis itu adalah dia sudah pernah merasakan hal ini sebelumnya dan sebelum-sebelumnya, sesekali, seketika-ketika sama seperti saat satu bulan kebelakang, di tempat yang sama dengan keadaan terik yang sama. Dihadapan Cerio ada seseorang sedang berjalan tergesa, masih sama-sama gadis, mungkin berkacamata hanya tidak hitam, berkulit seputih siang, memantulkan terik dari wajahnya dan mengantarkan pantulan terik itu ke tubuh Cerio menjadi sebanyak dua kali lipat, membuat keringat menjadi semakin mengalir lebih dari 162

sekedar menyembur. Mungkinkah terik itu menambahkan beberapa keanggunan lain selain keanggunan yang sudah jutaan tahun dimiliki gadis itu? Seharusnya jawabannya adalah: “tidak!” Sebab terik adalah keanggunan yang dimiliki matahari dan tidak begitu saja bisa ditransfer ke dalam tubuh seorang gadis. Butuh proses yang njelimet yang tak dapat dimengerti meski harus belajar 4 tahun di fakultas MIPA jurusan Fisika. Tapi nyatanya jawabannya adalah ya. Entahlah, mungkin gadis itu sudah memahami dan lantas melewati proses transformasi itu, menyerapnya kuat-kuat lantas keanggunannya bertambah dua kali lipat. Seperti gadis pertama tadi, gadis ini pun tiba-tiba hilang, hanya sudah sampai di situ. Seperti hujan api yang menerpa kepala-kepala yang berapi-api. Cerio menganggap hal itu hanyalah dubur pikiran. Lamunannya tiba-tiba berhenti, kembali ke saat ini lagi. Gadis itu menghilang tenyata hanya sebentar, hanya terhalang satu pohon besar. Muncul kembali dengan dahsyat dan lambat, seolah-olah mengundang Cerio untuk membuka kacamata hitamnya. Tapi tak ada cukup energi bagi Cerio untuk melakukan hal itu. Sudahlah! 7. Dalam sebuah klub live music, Termina mencondongkan wajahnya ke arah muka pemuda tampan itu. Si pemuda membalas ciuman Termina dengan lembut sambil menatap muka Termina dengan mata penuh lambang rupiah. Musik R‘nB terus terlantun dari sebuah grup musik cukup terkenal membawakan lagu orang lain tapi tak pernah sekalipun membawakan lagunya sendiri, kasihan…! Vokalisnya sangat menjijikan…, kasihan! Gayanya…, kasihan! Ah, tak ada yang tidak kasihan dari grup itu, meski semua orang mengelu-elukan mereka, tetap kasihan…! Manusia-manusia itu terus terus menggoyangkan seluruh tubuhnya dengan gerakan hampir sama yang disoroti oleh lampu-lampu POP yang berganti-ganti warna dan lampu blitz yang mengerjap-kerjap. Layar TV menayangkan sebuah perjalanan mesin di dalam labirin berwarna-warni yang terus-menerus bergerak menghanyutkan orang yang memandangnya, tersesat-sesat. Tikus-tikus merengek, ayam-ayam memanjakan dirinya dengan uang dan alkohol yang menggeliatgeliatkan setiap otot lurik di tubuh mereka.
163

Pikiran Termina nyalang, menerbangkan sebuah ingatan akan saat-saat Cerio mencumbui waktu. Si pemuda tampan tidak tertarik sedikitpun pada nyalangnya pikiran Termina. Matanya hanya memandangi layar labirin di depannya. Si pemuda seketika itu juga berubah menjadi tikus seperti pemuda-pemuda lain di klub itu. Termina berubah menjadi ayam betina tua yang tanpa pengharapan. Kutegaskan bahwa semua orang di tempat itu benar-benar telah berubah menjadi binatang yang diinginkannya. Aku membayangkan, apa yang terjadi, bila tiba-tiba Zarathustra versi Nietzsche datang, meraih microphone si vokalis dan menyanyikan sabda-sabdanya kepada mereka dengan irama R’nB. Seekor harimau jawa mengaum dengan kerasnya, beberapa ikan cupang saling melebarkan siripnya, anjing-anjing horny menyalak-nyalak. Bola 8 masuk ke dalam lubang. Seekor babi hutan jantan meloncat-loncat kegirangan sambil memasukan tangannya ke dalam salah satu rok seekor kelinci jalang. Dua ekor kambing betina muda dituntun keluar klub sambil tertawa-tawa mabuk dan muntah-muntah sambil menyebut-nyebut kata paling kasar yang pernah mereka ingat. Dua ekor kelinci sedang berciuman di sebuah pojok, beberapa dari species mereka sedang melakukan oral seks sembunyi-sembunyi. Bau muntah, alkohol, keringat, asap rokok, AC, tai, anjing, bajingan, rencana jahat, kebudayaan, darah menstruasi, jingga meradang, suara musik, binatang, comberan, uang, babi,… Ya Tuhan! 8. Apa harus kuteruskan? Tapi tadi hanyalah, yang kubahasakan dengan, keheningan yang mencekam. Samantha masih terdiam di sudut, kering, pucat dan balon. Cerio termenung memandangi khayalanku dan berkata, “Sudahlah! Wanita itu sudah secepatnya harus kau enyahkan sebab dia tidak akan berubah menjadi tua. Sementara kau, sebentar lagi kulitmu akan keriput, matamu rabun, gigimu tanggal satu-persatu, kemampuan bercintamu tidak akan dapat mengimbangi gairah seksmu. Sadarlah, Nis!” Satu daun jatuh perlahan ke tanah. Aku menyentuhnya, membelainya, kurasakan kematian yang tenang sekali. 9. 164

Dadu terlempar, angka 6 keluar. Jarum jam menunjukan angka 6 tepat. Televisi menayangkan sebuah film di channel 6. Funky I.D. : 666! Seorang berpakaian hitam, bertanduk, menyeringai, menyabetkan sabitnya ke leherku. STOP! Sang Maut tidak bertanduk, satu. Mukanya tidak merah, dua. Itu Lucifer yang sedang menyamar menjadi Sang Maut, Sayang! Lihat ekornya, berbentuk panah, kan? Lihat, itu bukan sabit melainkan trisula! 10. Begini, yang pertama-tama ingin kulakukan adalah berdoa lantas setelah itu berkhayal dan mengatakan bahwa yang benar itu tetap ada. Tapi itu terlalu sistematis dan mengada-ada. Ketika aku berkata bahwa yang terjadi itu adalah selalu wajar maka yang benar itu menjadi kabur bersama yang salah. Dalam titik ini kutemukan titik abu-abu yang terbaik, bukankah pernah ada? Kupelihara titik ini sebab aku dan Gateauxlotjo pernah melewati perjalanan spiritual yang begitu dahsyat. Malam itu stasiun kereta penuh sesak. Gateauxlotjo telah menungguku dalam kereta ekonomi jurusan Surabaya. Tak perlu kuceritakan bagaimana sesaknya kereta itu itu sebab kau mungkin telah maklum dalam akhir pekan seperti ini. Persis seperti iklan Teh Sariwangi di televisi swasta edisi akhir 2001. Aku sempat kesal karena ditinggalkan ketika aku mencoba menelepon pacarku. Menghabiskan waktu sekitar setengah jam, memang, aku duduk di salah satu KBU di wartel dekat stasiun kereta. Tidak hanya Gateauxlotjo yang kesal tapi beberapa pengantri sempat mengetuk-ngetuk pintu KBU agar aku cepat-cepat. Aku tak peduli sebab pembicaraan kami sangat serius, taruhannya nyawa! Ini tentang cinta, Mas! Dan kalau aku gagal, aku bisa bunuh diri. Ternyata aku gagal meski argumenku sangat kuat kenapa aku harus pergi ke Yogyakarta. Pacarku tak urung memutuskan hubungan kami yang dua hari lagi tepat dua tahun. Setelah telepon ditutupnya, aku berubah pikiran; perjalanaku ke Yogya adalah perjalanan bunuh diri. Dalam kereta aku marah-marah dan mengumpat sebisaku; tentang pacarku yang brengsek, Gateauxlotjo meninggalkanku di wartel, ongkos yang pas-pasan dan tiket yang belum dibeli. Gateauxlotjo mendengarkanku dengan tenang meski seperempat gerbong itu semua memandang kami. Dia memang bijak sejak kami dulu berkenalan. Tuhannya bernama POP dan dengan tak segan dia menambahkan
165

embel-embel S.W.T. dibelakang nama Tuhannya. Kira-kira dua bulan yang lalu kami berkenalan, saat itu hari ulang tahunku yang menyebalkan yang kuingat, paling menyedihkan dibanding dengan ulang tahunku sebelum-sebelumnya. Tak ada satu teman pun yang ingat dan yang ingat pun sengaja pura-pura lupa. Hingga menjelang tengah malam seorang temanku mengenalkan Gateauxlotjo kepadaku. “Gatoloco!” katanya kepadaku, “ditulis GATEAUX-LOTJO. Gateaux artinya kue tart dalam bahasa Perancis dan lotjo artinya senggama dalam bahasa Jawa. Jadi artinya kira-kira secara etimologis adalah persenggamaan dengan kue tart.” American Pie, Man! “Kalau aku Syam maka kau adalah Rumi.” “Niskala!” kataku singkat. Aku selalu menekankan namaku ketika berkenalan sehingga aku sering lupa nama orang yang berkenalan denganku, itu hanya kebiasaan buruk. Tapi dengan hal itu pula aku jadi mempunyai banyak teman. Ataukah karena mempunyai banyak teman sehingga aku hanya mengingat-ingat wajah tanpa nama? Entahlah! “Niskala artinya gaib atau tak kasat mata dalam bahasa sunda kuna. Para leluhurku memanggil Tuhan dengan sebutan Seda Niskala, yang artinya Yang Maha Gaib. Niskala juga adalah nama depan Wastukancana atau Prabu Siliwangi I.” “Seperti nama jalan ini, ya?” Saat itu aku dan Gateauxlotjo sedang berada di jembatan Jl. Wastukencana. Aku dan Gateauxlotjo mempunyai hobby yang sama-sama buruk, kami suka menulis puisi. Puisi absurd yang sering kutulis. Puisi skizoprenik yang sering Gateauxlotjo tulis, mungkin demi mempertahankan julukan yang diciptakannya sendiri, Gateaux-lotjo. Dari sanalah awal penyatuan kami sebagai teman karib karena pada malam perkenalan itu Gateauxlotjo yang orang Yogya langsung menginap dan ngobrol panjang ditempat kostku di Bandung, aku orang Cianjur, tetangga dekat Bandung. Sebenarnya Gateauxlotjo orang Rembang tetapi kuliah di Yogya dan selalu mengatakan pada setiap kenalannya di Bandung bahwa dia orang Yogya. Agar tidak terlalu sulit untuk identifikasi, katanya. Perkenalanku dengan Gateauxlotjo malam itu adalah hadiah ulang tahun terbaik yang pernah kudapatkan selain gitar bolong yang diberikan ibuku waktu umur 17 dan topi baseball dari pacarku waktu umur 18. Sekarang umurku 20. Gateauxlotjo cukup banyak membuka mataku tentang beberapa hal yang sebelumnya aku takut 166 seorang raja Sunda, Niskala

bahkan untuk membayangkannya pun. Tak perlu kuceritakan sekarang kecerahan apa yang yang kudapat setelah berkenalan dengan Gateauxlotjo. Yang pasti puisiku yang asalnya absurd berubah menjadi psikedelik sekarang. Cukup jelas, bukan? Malam itu di kereta setelah aku cukup untuk muntah mengomel, Gateauxlotjo memberiku minum. Aku tidak jadi muntah. Kereta mulai melaju. Ini kedua kalinya aku naik kereta api, karena kebiasaan di daerah Jawa Barat bagian tengah dan barat orang-orang lebih banyak menggunakan bus antar kota ketimbang kereta api. Disamping struktur jalan yang fluktuatif juga jalur rel yang hanya sedikit yang mencapai pusat-pusat kota. Jalur yang kumaksud adalah jalur BandungCianjur-Sukabumi. Hanya tiga kota itulah yang sering kukunjungi dan kutempati. Sukabumi: tentang kota dan statistika. Cianjur: tentang sejarah dan spiritualitas. Bandung: tentang mode, musik dan kehidupan anak muda. Akhirnya sampailah kami di Yogya. Yogya I’m coming! 11. Saat Tuhan menciptakan manusia di hari ke 6, berarti kurang-lebih hari ke 6000an dalam hitungan manusia, mungkin tidak terpikir untuk membelahnya menjadi dua kelamin. Dalam sebuah sebuah manuskrip kuno aku menemukan proses terjadinya manusia, begini kutipannya: Kami memerintahkan kepada para malaikat untuk mengambil tujuh macam unsur bumi sebagai bahan untuk menciptakan manusia pertama. Unsur berwarna merah, biru, hijau, merah jambu keunguan (kapuranta), dadu, hitam dan putih. Ketujuh warna itu mewakili berbagai unsur yaitu unsur angin, unsur api, unsur tanah, unsur air, unsur bunga, unsur asap dan cahaya sebagai ruh. Untuk membuat satu manusia utuh: Masukan 3 gram angin ke dalam wajan Satu sendok makan tanah Satu sendok teh api 2 gram asap dan 50 ml air aduk hingga rata dengan mixer selama 10 tahun
167

Kemudian buatlah cetakan dari logam berupa refleksi Kami dengan panjang 60 hasta. Setelah itu tuangkan adonan ke dalam cetakan dengan 8 lembar mahkota bunga dan satu bungkus cahaya merek ABC. Kemudian masukan adonan kedalam oven selama 40 tahun. Setelah 40 tahun (yang harus bertepatan pada hari Jumat) tubuh itu selesai dibentuk dan berwajah sangat indah. Selamat menikmati! Jadilah siang dan jadilah malam, itulah hari ke-6. Kami terkagum sebentar melihat hasil karya tersebut lantas beristirahat panjang sambil minum coffee cream dan menghisap cerutu café creme dari Holland, beli di Dago 34! Jadilah siang dan jadilah malam. Itulah hari ke-7. Dalam manuskrip itu, tidak terdapat keterangan bahwa manusia pertama berkelamin, itulah yang kusebut kemurnian manusia, manusia sejati, uniseksual. Apakah kau yakin bahwa manusia pertama saat itu adalah lelaki? Apakah tidak terpikir bahwa kompleksitas Adam mencakup penis dan vagina yang melebur? Selain memiliki testis, Adam juga memiliki ovarium? Hermaphrodite, satu jiwa tak terbelah, itulah manusia sebelum menjadi Adam dan Eva. Itulah Joey sebelum Samantha bertransformasi. Itulah Cerio sebelum Termina meminta cerai. Itulah aku dengan pecahan kepribadianku. Itulah dangdut, dengan goyang dan musik yang riang menabrak lirik-lirik sedih berurai air mata. (to feel orgasm) 12. Bercumbu (lagi) dengan waktu: Redam! E E Am Am Dm Dm G G E

Dering bel di mimpiku ini mengungkap keabadianku Suara-suara malam yang terhenyak menyekap rintihan desahmu di gairahku E Am Dm G 168

Jeritan suaramu itu menyentak tidur panjangku E Am Dm G E Redam… redam… recah… recah… semua ingatan yang kau taburkan Reff: Am Am Dm Dm G G C C E Tunggu aku pagi dalam drama hidup yang kurentangkan Cumbu aku pagi dalam rintik kematian rindu kekalku… Bridge (insert poetry): Cerita mimpi kelamku t’lah rela mati dalam benakku Derita indah kekalku takkan berhenti dalam ingatanku (nyanyikan sesukamu, anggaplah sebuah soundtrack!) 13. Cerio mematikan tape-nya, mengeluarkan kaset itu dan lalu membakarnya. “Aku harus mencarinya, sekarang juga!” katanya sedikit bergumam. Saat itu Samantha sedang menyisir rambutnya ketika aku datang membawa keagungan Tuhan untuknya. Keagungan yang tak terkirakan. Seperti ketika Tuhan menenggelamkan Atlantis. Saat itu Tuhan berfirman: “Gue udah bosen ama kesombongan lu pade. Gue udah peringatin dari dulu. Gile aje, malah makin sinting kalian. Ya udah, gue tenggelamin aje, biar pada jera. Hehehe…!” Begitupun yang ingin kukatakan pada Samantha. Sampai satu titik, aku jadi berpikir kembali… Aku adalah mata. Mata yang selama ini membentuk semesta, menguasai setiap gerak Samantha. Ini seperti kekuasaan yang tak dapat kuhitung kebenarannya. 14. Suasana kota Yogya tidak membuatku nyaman, cuaca panas, mentari yang terik membuat kulitku perih, aku benci menjadi hitam. Sebenarnya aku kuat dengan panas hari, tapi aku benci hitam.
169

Suara sepeda motor yang demikian banyaknya bersaing dengan orang-orang berwarna kulit asing. Sore harinya ketika aku dibonceng Gateauxlotjo disambut oleh angin yang sangat hebat, dua pohon tumbang kami lewati dan satu billboard besar sebuah produk makanan kecil patah. Sampailah kami di tujuan. Sebuah rumah kontrakan yang penuh dengan orangorang. Asing! Pembicaraan asing, bahasa asing. “Segitiga adalah satu bidang datar yang paling sederhana, uniknya adalah setiap sudutnya tidak pernah saling berhadapan.” “Untuk membuat bangun datar diperlukan minimal 3 titik dan lalu ditarik garis lurus dari satu sama lainnya.” “Otak manusia. Sebetulnya, berada dalam setiap sudut di segitiga. Tidak saling berhadapan. Menyendiri, sepi!” “Mempersepsikan sesuatu harus dimulai dari setiap sudut dalam segitiga.” “Banyak kejadian mistis di seputar segitiga, segitiga bermuda, segitiga pengaman, celana dalam…” Aku tiba-tiba teringat Samantha. Apa yang sedang dia lecutkan sekarang? Masihkah vaginannya? Samantha, dulu pernah merasa bahwa segitiga adalah filosofi hidupnya, peta hidupnya. Dan bukannya lingkaran yang menjadi filosofi hidup orang banyak. Segitiga adalah segi yang paling sederhana, melambangkan kesederhanaan. Pada kenyataannya, hidup Samantha sangat tidak sederhana. Manusia-manusia asing itu menyambutku dengan sambutan asing. “Alangkah tampannya kau!” “Narsiskah kau?” “Selamat datang di kegelapan santun yang kami hanya miliki!” “Sebuah awal perkenalan yang bagus, bukan?” Bukan! Sebuah kebingungan yang sukses kalian tawarkan padaku! 15. Cemas aku, ah Tuhan, cemas aku! Tiada berpuluh jiwa Adam yang rusak tak mendapatkan Eva-nya di setiap kali selangkangannya bergenangan. Cepatlah terbangkan! Cepatlah terbangkan! Sebelum kau kehilangan seratus juta keajaiban Musa atau perjaka! 170

Sebelumnya kan kutanya padamu hai lelaki yang perih hati, ada apa dalam tubuhmu yang bergelimang nanah itu? Bukankah kau tidak pernah mandi setiap kali kau tahu bahwa kekasihmu sedang merindukanmu? Kenapa kau lanjutkan gairah-gairah kemenjandaanmu itu? Lagi-lagi, tak kau jawab pertanyaanku, lagi-lagi! Sebab kau selalu sibuk menanam pepaya dalam kepalamu atau memelihara ikan arwana dalam selangkanganmu! Sampai suatu ketika kau mencemaskan impotensi keseluruhanmu dalam setiap kali kayu bakarmu tak menyala. Sudahlah lebih baik kau limpahkan darahmu pada keabadianmu! Hitung setiap detakan jantungmu sampai saat-saat asmamu kambuh! Tersedak, tersedak. Hening, padam, menyentak, menyeruak. Ada sampan yang melintas. Coba beberapa kali sampai muntah. Muntahlah! Bau api, bau mati, bau hujan, kering! Catat dalam selangkanganologi level tertinggi. Ini kode pribadimu, password: NO MORE LIFE GETS OUT ALIVE. Bila kau menemukan tiga butir peluru, harus kau baca kisahmu dari awal lagi, agar kau mengerti! Cantik, cantik, tak pernah sebelumnya aku memanggil cantik untuk lelaki kecil putih sepertimu. Jumlah buku yang kau baca tidak sebanding dengan memori yang ada dalam belahan pantatmu! Mencuri serpihan hujan, mencerca terkaman letusan Merapi, lantas bangun di siang hari. Buka jaket kulit hitam barumu itu, berdoalah! Mintakan sejumlah besar uang yang kau perlukan untuk menjandakan spermamu yang mujarab! Kata-kata tak pernah menjadi fakta hanya fiksi, hanya mati. Kematian bukan fakta seperti realita bukan tanya. Rok-rok bersahutan hanyut berteriak di sebelah keanggunan coro-mu. Kontol! Sudah berapa kali kukatakan jika kau menemukan celana dalam nenekmu, berdoalah yang tenang agar baunya tak menyingkirkan ide jorokmu. Kontol! Sebelah botolmu telah merasuk kedalam lambung, tidakkah kau merasa mabuk dengan cairan itu? Dia berdiri dan berputar, gila. Ada tahi lalat di belahan memeknya. Bukan, sayang! Itu piercing. Dia menindik kedua labia minors-nya lantas menggemboknya dengan gembok kecil untuk telepon. Sehingga setiap lelaki yang akan meng-ewe-nya harus mencari kunci terlebih dahulu. Atau. Password? NO MORE LIFE GETS OUT ALIVE.
171

Hihihi itu janda yang menjadi kuda mencuri keabadian Isa. Dan mengapung tersalib dua mata Tuhan. Pantat! Sebal, sekali lagi aku mencumbui cerca yang terkandung dalam makna suaramu. Cukup! Sudah cukup kau belai segala gairahku. Dering bel dimimpiku ini mengungkap keabadianku. Suara-suara malam yang terhenyak, menyekap rintihan desahmu digairahku. Jeritan suaramu itu menyentak tidur panjangku. Redam... recah... semua ingatan yang kau taburkan... Tunggu aku kasih dalam drama hidup yang ku rentangkan Cumbu aku kasih dalam rintik kematian rindu kekalku Cerita mimpi kelamku telah rela mati dalam benakku Derita indah kekalku takkan berhenti dalam ingatanku Ini menjadi keranda mimpi yang terus menerus menyentak menyeruak menghabiskan satu atau berpuluh galon air mineral bersama Tuhan. Bitch Bastard : “Namaku Ariadne, aku dewi labirin. Bercintalah denganku, maka :“Namaku Dyonisus, aku dewa pesta dan kesenangan. Bercintalah

kau akan tersesat dalam labirinmu sendiri!” denganku, maka jiwa dan nyawamu akan beterbangan menuju entah yang kau sendiri takkan mampu mendefinisikannya!” TOAST! 16. manuskrip manuskrip kecerahan: recah hedonisme terkutuk itu mengulurkan waktu untuk maria berselingkuh dengan lelaki lain selain tuhan dan ada saat ketika popmail-popmail menjarah sebagian keinginan untuk menghidupkan kembali superman yang terlumpuh itu biarlah kundera terus meracaukan saman yang mencipta supernova biarlah sebab darah telah membeku menjadi kedamaian yang meng-utuk peny-air terkutuk aku mungkin telah dikutuk sejarah mengulurkan tangan pada tangan-tangan yang lebih dibawah telah dimulai 172

ketika bumi mengabdi pada kegelapan untuk mencucikan seluruh bajunya i need some separation here begitu sucinya dan samantha pun terus berselingkuh bersama lelaki-lelaki tanpa definisi hurtmehurtmehurtmepls!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! ada sebongkah tahi lalat pada belahan dagumu, kurasa tapi kalau kau tetap mengambil jalan yang sebelah sana biarlah kukatakan padamu bahwa labirin dalam tubuhmu dan kekekalan dalam pikirmu telah memusnahkan sebagian rasa yang belum terkoyak itu jentikanjarimujentikanjarimu dan bertepuk tanganlah!!!! 17. Malam semakin larut, ini adalah hari ulang tahunku yang ke-25. Aku memasuki kamarku, beribu-ribu ingatan muncul begitu saja dalam benakku. Terutama visivisiku tentang tubuh. Otak Mata kanan Mata kiri Hidung Mulut : Don’t think with it, if not in cognition case… : I’m just The Eyes of The Universe : The eyes couldn’t see : For sucking some smokes : I like talking, kissing, licking some problems, orgasms

Telinga: Accessories… Tangan Kanan : Fucking, touch every moment Tangan Kiri you Tulang Rusuk : Complete Susu Perut Pusar Penis elephant Kantung penis : A bag of golds, riches, snacks, proteins, minerals, vitamins, cockroaches, snakes, papers, tints, hopes, marias, thanks for your attentions, would You marry me, bitch, gods!!!
173

: Keep the universe, keep the ass of every guy who wants to kill

: Life interesting, piercing : Not for food but love, Girls interrupted : Mom’s memories : I’m the king of Masturbations, no one more gets up alive without

Lutut Mata kaki

: Premix, premium, super TT ’99, Solars, jelantah oils, keletik oils, : see what you see, get what you get, run what you fuck, suck what

& more oils like your safety oils… you tell, hide what you done! Kaki-kaki-kaki: run, shut, run, sit, run, shit, run, cake, run, cake, walk, pie, shoot, run, die, run, tire, fire, wire, draw, priiiiiiiiiiiiiiiiiiiit..........! 18. Di dalam ketidak tahuanku muncul sebentuk genggaman kasar yang kumengerti sebagai ilham dari luar kehidupan kasarku. Dunia yang keluar, membentuk pola-pola teratur dari berbagai bentuk yang terkombinasi. Aku yakin hidup adalah sebuah kebetulan yang terencana. Kujalani hidup semauku. Berjalan dalam alam nyata yang seimbang dengan alam khayal. Kusadari sepenuhnya bahwa kematian bukan untuk ditakuti. Bahkan kutunggu sebab misteri akan terpecahkan setelah aku mati. Dunia yang keluar, kini sedang kumasuki, kupetualangi. Aku masih dalam dunia nyata tapi aku juga masih dalam dunia khayal. (to feel orgasm) 19. Memanusiakan Samantha sebenarnya sama dengan memanusiakan Enny Arrow. Yang kurebut hanyalah sebagian keindahannya. Ceritanya jadi sangat janggal. Dan selebihnya jadi tak lebih dari hanya sekedar menceritakan pelacur biasa. Tak ada lagi kedalaman tarian kematian yang dia persembahkan untuk Joey. Tak ada lagi cinta yang digambarkan dengan melecutkan vagina di atas pusara. Tak ada lagi puisi-puisi yang menggetarkan jiwa. Yang terlontar hanyalah prosa-prosa jelek, roman picisan, cerpen standar dengan seting-seting membosankan; lampu redup, kamar kosong, jalanan sepi, udara sore berbau tanah sehabis hujan dan lain-lain. Tapi aku tak bisa tidak untuk memanusiakan Samantha sebab dia berhak untuk hidup normal dengan keluarga bahagia normatif. Itu berarti tak bisa tidak akan menjadi prosa umum. Itu berarti intimidasiku cukup sampai disini, Samantha sudah bebas sekarang. 174

Ritualitas pembebasan Samantha kumulai dan kuakhiri dengan tarian kematian yang pernah dilakukannya dan membakar berkas Samantha Story yang masih tersisa, yaitu Babak I. Dan Babak II. beserta salinan-salinannya dan disket-disket berisi data-data hidup Samantha. Haruskah kuucapkan “Selamat Tinggal!” padanya? Tentu saja tidak, sebab aku yakin akan bertemu lagi dengannya dalam fiksi-fiksi berikutnya di Episode IV.

20. Sebuah surat terlontar: Cahaya dalam tubuhmu mengantarkan sebuah seriosa yang tak hentinya meninjuninju tubuhku. Inikah kelelahan, kelelahan yang sekian kali kau ratapi dalam tidurmu? Kau mengigau, mengatakan diam pada semua kelam. Wahai sahabat anggunku, Aku telah tak bermakna bila kau ungkap semua kerisauanmu. Aku telah tak bernama bila kau terlelap. Hadirlah kau dalam setiap detik di detakku. Kuncuplah kelopak binarku yang kusadari sebagai paranoid. Ya…, aku gila dalam dekap bersama seiring kelemahan. Kecenderungan untuk bunuhdiriku mengandung seorang raksasa dalam kerinduan. Sang Janin meratapi ibunya yang kesepian dalam duka. Sudahlah, sahabat indahku! Anugerah Tuhan yang kau kandung bukan untuk kau sesali, tetapi untuk kau dandani menjadi buah cinta dalam dukamu. Kau sedang mengandung raksasa cinta, kau tahu? Tak peduli siapa ayahnya, aku akan berbangga hati menjadi “bapak”-nya. Bahkan Tuhan pun akan berbaik hati menjadi Sang Pengurus untuk janinmu yang akan lahir. Sudahlah, sahabat cantikku! Aku sudah kehabisan kata untuk membendung tangismu. Biarlah… Biarlah ia tetap begitu sebab ia harus begitu adanya. 21. Ayam betina tak punya pengharapan! Tak ada lagi telur yang diproduksi. Ayam175

ayam jago tua meninggalkannya, mencari ayam betina yang lebih muda. Berebut, beradu taji dengan ayam-ayam jago yang lebih muda dan emosi masih membarabara. Ayam betina tua yang mengenaskan, jelek, keriput, sakit-sakitan. Tapi bukan begitu yang dilihat si pemuda tampan, bukan itu. Si ayam betina tua itu kaya raya, sebentar lagi mati. Bukankah sebuah keberuntungan yang tak diduga, kawan? Bukan sebuah kepasrahan yang diantarkan si pemuda tampan. Bukan sebuah kepasrahan pula yang diantarkan si ayam betina tua. Mereka saling menyedot darah satu sama lain. Darah muda di satu pihak. Darah uang di pihak lain. Begitulah cara mereka berbagi cintanya (atau sebuah penipuan yang manis dan menyegarkan?) dalam apartemen itu. Tapi bagaimanapun, si darah keriput berkokok itu telah membuat si tikus kecil tampan berperang dengan nuraninya. “Aku bukan gigolo, aku bukan pejantan, aku bukan pelacur! Aku hanya kehilangan beberapa detik dalam hidupku untuk kuhabiskan dengan wanita tua tolol itu. Uang hanyalah konsekwensi logis berikutnya, Goblok! Mau tidak mau harus kuterima. Ini bukan uang kotor. Dengan ini aku bisa mengajak pacarku kencan, jalan-jalan, beli pulsa, nonton dan beli sepatu baru. Ditambah lagi aku perlu sekali untuk meng- up grade komputer tua sialanku, yang sudah ingin kubakar dari dulu. Hanya kehilangan beberapa detik!” “Ya, beberapa detik yang apabila direntangkan bisa menjadi berjam-jam, direntang lebih kuat lagi bisa jadi berhari-hari. Dalam hari-hari itu kau tak ubahnya gigolo yang mengenaskan. Dalam matamu hanya tergambar lambanglambang mata uang. Bodoh!” “Tapi ini bukan urusanmu. Apapun yang terjadi, toh aku tetap senang!” “Ya, terserahlah, tapi jangan pernah menyesal dan rasakan akibatnya nanti, Gigolo Beracun! Kau belum tahu saja apa yang akan terjadi nanti. Kau akan senang?” “Berisik, pergi dari sini! Namamu saja nurani, definisi senang saja sudah salah kaprah ditafsirkan. Bodoh benar! Tak tahukah kau, tanpa ini hidupku hampa? Money is everything.” Itu dulu, sekarang apa boleh buat! Nurani hanya bisa tersenyum getir, tak sanggup menolong si pemuda tampan untuk mempertahankan gelar ketampanannya. Namannya jadi si tikus kecil lumpuh tanpa daya. Sepatunya sendiri telah menimpa 176

kepalanya dengan telak. Tinggallah dia sendiri, menyesal, meratap-ratap, berharap masa lalu itu tidak pernah ada. 22. Tarian hujan yang kupersembahkan tadi siang hanyalah ingatan-ingatan tentang seberapa jauh kemurkaan yang sudah kukandung dan kupendam selama tahuntahun terakhir ini. Ingatan-ingatan itu, asal kau tahu saja tiba-tiba menyeruak begitu saja. Kupikir semacam pengulangan tentang orang-orang yang pernah hadir di masa lalu lantas muncul kembali dalam tubuh-tubuh yang baru. Aku sadar betul bahwa hal ini adalah konsekuensi dari konsep singularitas yang pernah kupercaya. Aku tidak sedang membuat penjelasan logis dari deja vu. Tapi sedang mengadakan semacam simulasi tentang kejadian-kejadian yang tak kusadari penuh pernah terjadi di masa lalu entah kapan. Sebagai satu contoh; tentang mata seorang gadis yang sejak tadi menyorot terus padaku di kafe ini. Sorot mata itu kukenal betul meski aku tidak tahu siapa gadis itu. Gadis yang mungkin pernah kukenal di ribuan tahun yang lalu entah dimana. Aku memang sudah hidup jutaan tahun yang lalu dan entah telah berapa ratus ribu kali bertransformasi dan be-reinkarnasi ke ratusan ribu dunia paralel dengan kadar ingatan yang sangat minim tentang dunia yang ditinggalkan lantas memulai ingatan baru di dunia paralel berikutnya. Aku tidak mengingatnya sebab di duniadunia sebelum ini aku belum mencapai kesadaran tinggi seperti sekarang. Mungkin di dunia paralel berikutnya aku akan dilahirkan dalam keadaan mengingat penuh dunia yang kupijak sekarang sebab aku telah mencapai sebuah kesadaran tinggi dan pengetahuan yang tak terbatas tentang spiritualitas maha adi kesadaran. 23. Potret Diri Kekeringan menjaga musim untuk tetap berharap pada keinginan yang lalu. Dan tanpa sadar aku terus mengikuti semua pertunjukan yang Tuhan buat. Sudahlah, sedang persiapan

177

menuju kematian telah begitu matang. Hai, mata jalang! Bukankah kita hanyut dalam kubangan kehampaan hanyalah untuk mempertajam khayalan akan surga dan keyakinan? Ha... ha... ha.... Kau selalu tertawa sementara laci dalam lemari kacamu membikgong (niatnya mengembik tapi yang keluar dari mulutnya malah gonggongan) seperti kambing kerasukan ruh anjing. Lihat saudaraku! Kemantapan langkahmu membuatku terpuruk dan bertanya akan keberadaan Tuhan. Bukankah Tuhan Perkasa? Bukankah Tuhan bertanya apa kita siap menerima ketidakhadiran Dia? Ah.... saudaraku aku terus membaca dalam keheningan mataku dalam tertutup. Dan ketika kubuka mataku aku tertohok kedalaman pikir gilamu. Kau tahu? Tentu saja kawan, saudara, sahabat, bapak, anjing atau entah, iya toh? Dan aku berhasil meneriakan “Tuhan...!” dihadapan separuh kepala setiap kata-kata kepala. Kepala... kepala... kepala... kepada siapa kau akan berteriak menohok setiap jantung hingga menghentikan detaknya, sementara bunuh diri sudah menjadi begitu tabu untuk diungkapkan secara telanjang. Tuhan, untuk ini, Kaulah sahabat sejatiku, ketika semua telinga bahkan telinga rokok 234 filter dan lucky strike filter ku, yang sudah berabadabad menjadi anjing setiaku, pun sudah kehilangan pendengaran. Paris, Bandung, Jogja, Cianjur atau sebuah kota kecil di Grenada atau apapun atau entahlah....! Dimanakah bokongku akan terus dingin terduduk di atas pusaramu?........... O, H atau S atau terbang atau vampire atau kaya, Ah.... apakah selalu menghantui sifat Ketuhanan yang ada pada ujung jempol kakiku atau pada tali pusar yang tertinggal dalam rahim ibuku. “Tuhan...!” kembali aku berteriak panjang hingga sang detik mematahkan denganmu jarumnya semakin sendiri. “Gairahku untuk bercinta Bisexkah memuncak.” Normalkah

Lesbiankah Gaykah Oedipuskah Electrakah Anjingkah Gayakah Trendkah Posmokah Existensikah Popkah. S selalu menghantui setiap kata yang terucap meluncur dari daging-daging yang

178

robek dan berteriak, “Tuhan, setiap memanggil namamu aku selalu terangsang....!” Saudaraku! (Mampus lu... gak bisa baca bagian ini!!!) 24. Sedikit Flash Back Mengenai Ingatan2 Cerio Dari Masa Lalu Bersama Termina Yang Mengerikan Itu Dalam Beberapa Fragmen… Terjebak Dalam Geliat Gergaji Anjing Hal terbaik yang pernah bisa kulakukan adalah memanggilnya Ratu. Saat- saat seperti itulah yang biasanya membuat wanita itu diam. Diam dari segala teriakan mengerikan yang selalu nyaris membuat kupingku berdenyut-denyut bahkan nyaris tuli. Oh Tuhan! Sayang, ratuku… kau mau secangkir anggur segar? Anggur ini akan segera menyegarkanmu, menyegarkan benakmu dari keinginan-keinginan purbamu. Lantas seteguk-demi-seteguk anggur itu diminumnya, menyeruak dalam perutnya, dihisap usus halusnya, menyerap dalam darah, menuju jantung, diantarkan ke otak, maka perintah senyum dari otaknya membuat bibirnya melebar, tersenyum, menggantikan teriakan-teriakan gilanya. Tenang, sayang, tenang ratuku, tahan senyummu, tahan sampai disitu, jangan kurangi lagi, ya, ya, great, benar teruslah begitu… Lalu tawanya meledak, merangkulku dengan erat, sangat lekat, penuh tenaga, membuatku hampir tak bisa bernafas. Bagus ratuku… bagus… Bicaraku tersentak berlarian berkejaran dengan nafas tertahanku, tersengal sambil terus berucap… Ya, ratuku, ya, maksudku memang yang ini … senyum yang ini, tawa yang ini, ayo, teruslah… Dan jangan ingatkan akan teriakannya… jangan pernah ada kata teriak mengumandang lagi dalam telinganya, butuh waktu berjam-jam untuk menghentikannya lagi, membuatnya tersenyum, membuatnya berhenti dan melupakan kesakitannya, kesakitan akan rindu terhadap segala hal yang menyelubungi otaknya, awan-awan kelabu…

179

Terhalang Dua Gumpal Awan Hitam Ratuku, mulai saat ini aku akan meninggalkanmu, tampaknya aku sudah muak dengan segala tingkah keratuanmu, selamat tinggal! Beranikah aku berkata seperti itu pada wanita itu. Siapkah aku menerima teriakan terakhirnya dan pasti paling keras? Bukankah aku harus siap agar segala intervensinya untuk diriku memudar hingga hilang? Sudahlah ratu, jangan bersedih, aku bukannya muak, tetapi ada beberapa hal yang harus aku kerjakan diluar sana. Akankah seperti itu jadinya? Atau seperti ini, seperti yang kuharapkan… Terimakasih, Ratuku, mudah-mudahan ini adalah hal terbaik untuk kita berdua bila aku pergi dari sini. Jaga dirimu baik-baik, Ratuku! Ah… aku muak memikirkan bahkan hanya untuk terlepas darinya. Tapi memang harus kuakui bahwa hal terbaik yang bisa kulakukan adalah memanggilnya Ratu. Bergeser Pada Wilayah Lain Pagi hari kami bangun bersama, memanaskan air, menyeduh kopi, duduk di beranda belakang dekat kebun mungil yang kami bangun dengan penuh kasih sayang. Dia menyalakan sebatang rokok sambil melihat kearah kebun, memberikannya padaku, kuhisap dalam-dalam, kesegaran pertama di pagi hari itu menyeruak melepas uap dari paru-paruku yang mengembun pada beberapa ingatan masa kecil kita berdua. Lantas dia menyalakan rokok lagi untuknya sendiri. Kami meminjam beberapa roman Edi Suhendro untuk suasana pagi hari. Tak ada hiruk pikuk sebab belakang rumah kami jauh dari jalan. Rumah kami besar panjang berhalaman luas, tampaknya sulit bahkan suara klakson pun untuk mencapai telinga kami di beranda belakang. Anak-anak kami, kami belum punya anak, ah ya, mungkin dalam khayalan kami, kami melihat anak-anak kami berlarian memegang selang air bermain menyiram pot-pot bunga dan rerumputan, riang, seriang masa kecil kami dalam asuhan nenek yang sudah meninggal saat kami masih di SMP. Apakah kau berharap untuk mempunyai anak Ratuku? Seperti juga yang sangat kuharapkan. Ya, Tuhan aku kelepasan berbicara begitu padanya. Seharusnya hal itu adalah awal pembicaraan yang paling buruk di pagi seindah ini karena seperti kuketahui 180

dan kualami sebelumnya pertanyaan sejenis itu akan merusak hari, apalagi pagi maka akan seharian penuh ini dia akan kembali berteriak histeris dan akan berhenti jika aku memberinya bergelas-gelas anggur. Astaga Ratuku, maafkan aku. Kumohon berhenti berteriak, please… sebentar, tunggu sebentar, akan kuambil anggurnya… Lantas aku berlari kearah bar di ruang tengah rumah kami mencari sebotol anggur terbaik yang kami punya. Astaga, aku lupa kalau persediaan anggur kami untuk bulan ini sudah habis. Aku tidak mampu lagi berbelanja sebab sudah 3 bulan terakhir ini gajiku belum dibayar juga. Aku sering bolos bekerja semenjak wanita ini jadi sering berteriak menjadi-jadi. Ya… aku harus menjaganya, menjaganya dari kematian yang selalu mendekati tubuhnya. Tak ada yang bisa kulakukan sekarang selain mendengarkan teriakannya di beranda belakang dan berpikir bagaimana mencegah kematian untuk pergi jauh-jauh dari tubuhnya…

Chapter Eighteen
Niskala’s Psychedelic Solitude (A Tribute to Gateauxlotjo’s Remembrall) -remixmencuri roti kadaluwarsa di supermarket terkutuk (oh, ibu peradaban apa yang membuatku menjadi seorang pencuri) setidaknya itulah yang kami dengar di pagi ini dari teriakan Ugoran yang semakin Melancholic Bitch pada malam-malam serunya di Jogja Gateauxlotjo memulai remix nya dengan scratching William S. Burrough di tahun

181

1943 pada Rembang pagi dan hembusan angin barat serta senyum sumringah para soul surfer di Ombak Barat yang manis atau Pantai Bandulu yang mengusirku dua tahun lalu dengan sundutan rokok Dji Sam Soe pada sikutku hingga membekaskan luka bakar tentang ingatan pada kulit Ayumi yang hitam sempurna karena matahari yang tak juga reda memancarkan serangan ultra-ungu pada bagian-bagian lemah tubuhnya saat Jack Kerouac meminang beat generation dengan On The Road dan mesin tik dan kertas-kertas panjang dan Cobain si anak muda spektakuler hidup lagi dalam buku-buku tua di lemari tanpa kaca Gateauxlotjo maka Niskala dan marijuana fantasinya mengobrak-abrik Jorge Luis Borges yang humoris dengan ketulusan seseorang yang berprofesi borgessian seperti aku yang terasuki Jim di tengah bising seperti dia yang terasuki Janis di tengah hening yang pernah bermain di tepian-tepian ingatan dan tak lagi diingatnya sebab terinterupsi deritan pintu ingatan terperih dari serpih murka ingatan tangis dari serpih durja ingatan perang dari serpih tinja meski kesucian pernikahan di dalam bath thub marmer pernah kami jalani dengan sangat tertatih pada hotel chelsea tempat Warhol dipuja dengan serbuan asap dupa dan lukisan naif Basquiat yang kutiru dengan coretan spidol merah hitam pada poster pameran Nandang Gawe di papan-papan promosi saat Bandung masih diwarnai darah-darah riang para performance artist yang tak pernah menamatkan kuliah seninya lalu kami semedi di pedalaman Utopia rimbun dibentengi deretan pohon sempur yang menjadi fosil 182

dengan ransel Eiger hijau yang membawa setengah hidupku di ketinggian lebih dari 3000 meter di atas permukaan laut dari pantai Rembang delirium vespertine nya yang memancarkan bau selangkangan gadis 50ribu di persenggamaan darurat sehingga terkadang hidungku protes dengan megap-megap karena polip ku yang membengkak tujuh tahun lalu ditandai antrian panjang truk-truk container sepi sepanjang jalan besar Daendels karena mesinnya tak lagi menyala karena negara tak lagi mampu mengatasi banjir pantura dengan tatapan para supir yang beruntung bila terjebak macet tepat di depan sebuah warung remang tempat para gadis pantura bersemayam bau selangkangannya berbaur dengan aroma laut yang menyengat dan ikan-ikan asin yang sedang dijemur sepanjang jalan pinggir pantai kehilangan kesempatan menikmati senja pantai Sawarna di selatan pada daerah kekuasaan Ratu Kidul atau sunrise suci di puncak Gunung Padang diantara tumpukan batu-batu gamelan dari zaman megalitik atau perjalanan pantai yang benar-benar menggairahkan dengan senyum ayahnya menghiasi sunset dan benang-benang pancing yang tersangkut besi-besi dermaga tak seperti ingatanku setahun lalu saat terpanggang teriknya pantai SeminyakDoubleSix-Kuta atau saat Sanur menjadi sepi karena bom kedua meledak menghancurkan headline naiknya harga minyak dan memboikot para kawan bermegaphone di bawah jembatan layang Paspati saat waktu jadi kadaluwarsa seperti roti yang kucuri di supermarket terkutuk itu... say farewell to bandung meski Bono mengulang-ulang nama kota seperti New Orleans London Belfast atau Berlin di halaman hijau ibu angkatku di Nyuh Kuning Ubud serta lukisan pensil wanita bule cantik ayah angkatku di Ubud Raya
183

ketika senyumnya meredakan tangisan rindu di malam rabu sakral berbau kemenyan putih is everyboy in? is everybody in? is everybody in? dan mantra-mantra dari para dukun sakti di kaki Gunung Gede yang memberiku tongkat pejalan dari kayu kaboa serta batu wulung anti pestol peluru emas warisan Si Jiih dan inkarnasi Buddha pada tubuhku yang tak lagi lekang kebebasan seperti ketika penari aquarius itu nyaris kunikahi sebab erangannya tak mampu kubendung atau kitab-kitab kuning yang menelusup riang di setiap bagian permohonan para kiayi bergundik semarak dan kidung agung luntur bersama tangisannya...tangisan gereja yang dipalsukan Konstantin si cerdas berotak panjang say farewell to depok seperti ketika bulan dibelah Muhammad pemuda ganteng dari padang pasir Hadarac yang ditemukan Neil Armstrong pada video rekaan Hollywood agar Rusia tak lagi jaya atau Laut Tengah dibelah letusan Gunung Thera yang disembunyikan sejarah dan Musa menyeberangkan para konspirator sinting yang memporak-porandakan Aceh dan Sidoardjo dan SUNDA ISLANDS serta delirium ATLANTIS, meringis saat Great Wizard merayu Adam dengan jebakan khuldi suci yang terkontaminasi ambrosia serta ramuan rahasia yang tak pernah dibuka kemasannya meski tanggal di bungkusnya telah lewat ribuan tahun lalu yang disusupkan begitu saja saat ingatannya lengah sebab selangkangan Eve lebih banal dan libidinal dibanding Lilith si binal perayu sexy yang sudah ditolak dari sejak pertama kali ditawarkan lalu eden menghilang...bersama koak Bird of Prey berwarna hitam kelam dan parade kucing-kucing bermata kamera menyala 184

dan harus hancur 5 tahun lagi sebab para penciptanya menjadi animis pemuja anime atau Naruto say farewell to Java Land yang menjadi Java Sea say farewell to Sundaland yang menjadi terbalik pada Sunda Islands gara-gara kebodohan Plato membaca peta di Timeaus dan Critias mengundang intimacy para sufi dan sofi serta pembantaian dukun santet di Selatan pada tongkat sihir The Death yang nyaris direbut Dia-Yang-Namanya-Tak-BolehDisebut seperti yang dikatakan Rowling pada testamen nya "The Deathly Hallows" hail hail to the president of The Republic of Idiotnesia Raya lalu kaki Nas tertembak dan anaknya mati suci bersama pelukan kuat Ade Irawan lalu Karno tenggelam lalu Harto mati lalu Gateauxlotjo mengakhirinya dengan Seni Membunuh Koruptor pada malam kebesarannya di pesta Kudus pada buih-buih beer dan anggur asam dalam piala emas salute to Gateauxlotjo salute to Gateauxlotjo salute to Gateauxlotjo Niskala penyairnya membentangkan tangan memeluk erat pagi hari dengan senyum tertunda "ayo kita menulis novel bersama" aku mengingatnya pada pertemuan pertamaku dengannya pada dingin malam hari kota bandung seusai pertunjukan herry dim "Puitika Sampah" di salah satu sudut gelap cafe terminus ccf bandung dengan kesegaran kopi hitam yang untuk pertama kalinya kupesan. aku mengingatnya pada pertemuan keduaku dengannya pada sesak kereta ekonomi kahuripan menuju jogja seusai pertengkaran hebatku dengan salah seorang kekasih manja yang memintaku untuk tetap tinggal di bandung dengan sebatang gudang garam filter tengik dan omelan-omelan panjangku yang
185

di dengarnya dengan sabar aku mengingatnya pada pertemuan ketigaku dengannya pada panasnya jogja yang asing seusai pertujukan puisi pertamaku di viavia cafe yang gagal di hantam masalah teknis dengan sejilid buku Jorge Luis Borges yang menjadi kitab suci alternatifku aku mengingatnya pada pertemuan keempatku dengannya pada sombongnya depok dan kantin sastra UI seusai persenggamaan galauku dengan salah seorang kekasih yang nyaris direbut gitaris pembawa bencana berbibir sombong dengan sejumput kenangan parau yang dicobateriakan kembali melalui toa-toa butut peninggalan reformasi aku mengingatnya pada pertemuan kelimaku dengannya pada romantisme ubud dan hutan monyet seusai openmike flava lounge yang tak lagi menjadikanku idola rabu malam tak seperti malam-malam sebelumnya dengan sejumlah foto yang kupajang lekat di setiap folder visualku yang diambil kamera digital ibu angkatku aku mengingatnya pada pertemuan keenamku dengannya pada jalan-jalan kota rembang yang lengang dan mendung berbau laut seusai keputusanku untuk selibat yang kulakukan dengan tergesa sebab tak ada lagi sperma yang tersisa dengan sekantong tulisan yang kujejalkan pada flashdisk biru pemberian kakakku aku mengingatnya pada pertemuan ketujuhku dengannya pada rumah-rumah tua kota cina kuno lasem seusai keputusanku menulis novel bareng dengannya yang disusun rapi pada sebuah kalimat pertama dan kegilaan-kegilaan sastra dengan semangkuk candu yang disuguhkan seorang nenek tua berambut putih berbahasa bunga dan syairsyair cina

186

aku mengingat ratusan pertemuanku dengannya selama 9 tahun pada kecerahan kota fantasi yang kami bangun dulu seusai melihat senyum androginnya yang tulus dan dipenuhi literatur-literatur yang akan membuat komunitas-komunitas sastra terhenyak dengan ribuan ingatan bersama ratusan kekasih dan 3 delirium ingatannya pada Warhol, Cobain dan Miller serta konser bjork yang sengaja kami lewatkan dan akan kami sesali seumur hidup aku akan menyesali hidupku setiap detik bila tak pernah mengenal lelaki bernama Gateauxlotjo ini dan aku tahu di usia rentaku, aku takkan mengingat apapun kecuali ingataningatan bersama lelaki ini

Chapter Nineteen
Optimistic and Other Stories (Tentang 7 Orang Anak Muda Yang Selama Ini Dicurigai Sebagai Para Pencipta Novel EPISODE IV dan Seorang Lagi Sebagai Editornya) Optimistic (Melankolia pantat dan ingatan ke-100 Thom Yorke) P tiba-tiba datang ketika A menghantui gairah ke-6 pemuda itu. I bersenandung dengan kumis sexy-nya sambil menuliskan nama seorang gadis dengan huruf kapital di langit-langit benaknya. B menghembuskan nafas, menerbangkan satu huruf dari nama gadis yang ditulis I, sambil mengocok mulutnya dengan Beer Bintang yang

187

sudah ribuan tahun tidak menyentuh bibir nakalnya. J mengguratkan kerajaan cahayanya dibalik jaketnya – yang selalu melindungi dia dari tatapan rindu para gadis – sambil mengendus bau yang terlontar dari mulut B dan S. Saat itu S sedang meneguk beer traktiran tanpa sedikitpun menghentikan rayuannya yang ditujukan pada gadis yang ditulis I. F hanya memandang gadis itu, membuka catatannya, menulis laporan jurnalistik tentang mata gadis itu, menyerahkannya pada E, manggut-manggut, tersenyum sepi ke arah I. E meraih Lucky Strike kesayangannya yang berada di sebelah Franz–boneka anjing laut berwarna putih yang dia beli saat merindukan hantu-hantu berkerudung-sambil membuka catatan jurnalistik yang diserahkan F, membacanya dengan serius, asap mengepul dari hisapan keberuntungannya yang pertama. Aktifitas terhenti, tanpa suara, tanpa bicara. Sepertinya semua sudah jelas bagi mereka. Aku membuka sabuk, kupelorotkan celanaku berikut dengan celana dalamnya. Ada tanda (+) berwarna merah menutupi lubang pantatku. P tertawa. A menjerit. Aku terus menari. Lagu Optimistic terus terlantun dari TV di kafe itu. Semuanya sudah semakin jelas, sepertinya! E ikut bernyanyi sambil merangkul P dengan mesranya, "...if you try the best you can... if you try the best you can... the best you can is good enough...!" S dan B cemburu, tambah lagi satu botol!

Photo-photo P dan proposal pengajuannya. P datang. E memandangi photonya. S mengelak. B memalingkan muka ke arah I sambil seolah-olah berkata, “Cantik lho!” J masih sibuk di kampus, tanpa kabar. F menghitung elakan S. A memijat kepala S, sepertinya itu yang sedang dibayangkan S. P pulang. E memasukan photonya ke dalam dompet Versace-nya. Anak-anak kembali merebah, kembali menuliskan nama seorang gadis dengan huruf kapital di langit-langit benaknya. E memandangi beberapa photo P, memasangkannya di album, disebelah drawing Iwan R. Ismael, postcard lukisan kumis Kahlo, gambar sampul belakang CD album Amnesiac, Radiohead. P lah yang paling cantik di halaman itu. E memperlihatkannya pada anak-anak. Aku : “Narsis!” (sambil terus membulatkan asap rokokku) 188

F I B S E B I

: “Dahsyat, Man!” : “Serius itu!” : “Kamu beruntung!” : “Saya cemburu!” (lalu pergi) : “Kalian sudah lelah ya dengan posmo?” : “Bukan begitu, tapi kamu beruntung!” (sambil memandang I) : (dengan sangat bijak) “Aku pikir ini sangat serius!” (aku yakin I menulis

nama gadis lain di benaknya) “Strange little girl…” Ada seorang seniman berjalan melewati meja tempat kami berkumpul sambil seolah-olah berkata, “Obrolan apa ini?” Dari catatan sebelum tidur P. Pagi. Dapatkah kubelai angin di kamar mandi? Aku membayangkan wajahnya. Dia menulis Episode IV seolah mabuk. Apakah Samantha itu diriku? Aku harus ke Body Shop, beli parfum baru. Seperti biasa mataku lelah. Omlet menghentikan teriakan-teriakan. Siang. Ujian belum dimulai. Bis kota memberiku waktu membaca cerpennya. Aku ngantuk. Dia lagi ngapain ya? Angin menghembus jendela, keras sekali. Seseorang berteriak minta tolong. Sore. Dia menunggu. Aku bercerita padanya tentang pagi dan siang kecuali tentang dia. Dia memandangi photoku, takjub! Malam. Nyokap ngerespon intuisiku. Aku menatap wajahnya di antara siluet lagu-lagu Titi D.J.
189

Kantuk menyerang. Buku merahnya kubuka. Apakah Samantha itu aku? Shubuh, adzan, pulas. Photoku terdampar di pasir putih pulau tanpa penghuni. Dari buku harian A. (tanpa tanggal dan tempat) Who’s that guy? Dari tadi dia menatapku. Aku selalu melihatnya tiap hari disini. Kuncen atau staff? Atau kursus? Entahlah! Ujianku sukses, mungkin bakalan dapet A. Cowokku belum juga nelpon, sialan! Aku kangen someone di jkt. Lagi ngapain yah? Hi, lg ngapain? Miss u! Gw terpuruk! Napa say? I need some helps How can I help u? chat? Yup,mIRC, dalnet, jakarta jam 9 malam nanti. Gw tunggu nick gw ^lara^ Ok, nick gw ^helper^ Aku harus masuk! Dosennya boring. Gambar-gambar wajahnya. Who’s that guy? Who’s that guy? Who’s that guy? La…la…la… F melamun. S jorok. J merenung. I tersenyum. B meringis. E memegang tangan P. Aku menuliskan mereka. A…? Ngapain ya? Ini selembar catatan hariannya, terlepas dan sedang kupegang. Kejutan-kejutan ulang tahun dan pertobatan kedua. Jeritan itu berbunyi sangat nyaring. Semua mata sontak tertuju ke arah sumber suara. Kecuali mata ke-enam pendekar. Mereka sedang membicarakan kerajaan cahaya J. S sedang mengemukakan pendapat malu-malunya tentang P. F akan 190

sangat merespon bila gadis itu bernama A. E terdiam sungkan, tidak enak dan sedikit bangga. I memandang J. B mendengarkan S sambil ngobrol serius dengan I. J sedang bersemedi dengan alam pikirannya. “Serius sekali mereka!” pikirku. Aku melirik E terus menerus sebab dia kelihatan salah tingkah sekali, mungkin sedang menunggu P datang. Sebab hanya dengan kedatangan P-lah maka pembicaraan mereka tentang P akan berhenti. Lalu B membuka pembicaraan baru tentang aura-aura. “Saat itu,” katanya, “warna-warna orang berbeda-beda dan akan membentuk sekuel yang bagus.” P datang, akhirnya! E terlihat sangat senang. Aku merogoh saku, menyodorkan korek pada S yang sekarang terlihat salah tingkah semenjak kedatangan P. B masih meyakinkan J dan kerajaan cahayanya tentang aura-aura yang dia lihat saat setelah menghisap ganja. F tertarik. A datang. “Ya Tuhan!” Hampir semuanya bilang kata itu dengan tertahan, kecuali P. Sebab dia cemburu. Sebab hampir semuanya selalu salah menyebut namanya dengan nama A. Tipikal wajahnya memang hampir mirip dan sama-sama berkacamata. Anehnya, F, si kuat kerja itu, tiba-tiba pingsan. E, si tukang gosip, curiga! Jangan-jangan F cinta sama A. Lalu E memeluk P yang jadi panik. A memesan minuman sebab dia sedang berulang tahun dan merayakannya sendiri. Berpindah rokok (from Lucky Strike to 234 Filter, again!) Pada akhirnya aku berpikir bahwa hal-hal itu bukan lagu ataupun soundtrack. J menambahkan dua sendok gula ke dalam kopinya sambil menggerak-gerakan ke lima jarinya dikepalanya. “Kita tidak melekat… kita tidak melekat…!” katanya. S sedang pindahan kamar. Kamar kontrakannya yang dulu digusur pengadilan, sengketa! Bukan lagu sebab hanya lirik-lirik tanpa nada dan alat musik. Bukan sound track sebab tidak ada film yang harus diiringinya. Kira-kira begitu yang dikatakan I kemarin, seperti biasa, hal itu diungkapkan dengan analisa kritis dan nakalnya. B bersimpati kepada S. E tidak sebab dia lebih bersimpati pada anak jalanan yang belum tentu bisa makan dalam setiap harinya. P menyatakan kangennya pada S, mungkin lebih karena keunikan S. E tidak cemburu. I baru datang, duduk dan bersalaman kepada kita. “Biar kelihatan formal.” katanya selalu. J tersenyum lalu meneguk kopinya, “Kita cair... kita cair...!” katanya.
191

E pergi ke toilet, bertemu A dengan tak diduga, kaget sebentar, tersenyum canggung. A hanya melirik sebentar lalu berkata, “Kamu rokoknya ganti ya?” Rupanya dia sempat memperhatikan juga. “Mungkin!” jawab E. A melengos pergi. E masuk ke toilet pria. F mengalunkan kakinya ke arah A. Entah kapan F datang. “Ini kusebut sebagai proses sinkron.” kata J tiba-tiba. E datang lagi lalu membakar rokok barunya, 234 filter. “Sebenarnya aku dulu selama 3 tahun merokok Djie Sam Soe filter. Lalu setelah itu berpindah ke Lucky Strike selama 3 tahun hingga sekarang juga masih. Ini hanya semacam bersnostalgia saja.” kata E cepat. P tersenyum. I dan B mencoba meralat kata “nostalgia” yang menurut mereka tidak tepat. F memandang A yang duduk di meja seberang bersama, mungkin, pacarnya. J mencoba meyakinkan F, “Itu bukan pacarnya!” Aura-aura dan gosip sore Aura-aura ke-6 pemuda itu sepertinya sedang tidak bagus, murung. P dan A tidak datang. Tak ada pembicaraan. I memelintirkan kumisnya. F memainkan imajinasinya, menyamar menjadi tembok. S sedikit mengantuk, membuyarkan fantasi F. J mengurut-ngurut keningnya, mengusap muka terus-menerus. B merajut rambut gimbalnya yang belum terkunci. E membulat-bulatkan asap rokoknya. Mereka semua menerawang hingga tiba-tiba A dan P datang bersamaan. Hanya kebetulan datang bersamaan sebab tidak mungkin kalau sengaja bersama. Tidak mungkin ke dua gadis itu akrab. Ke-6 pemuda terhenyak. Terawangan mereka buyar seketika. Sesungging senyum merekah di sudut bibir mereka tanpa disadari. J dan F memesan kopi. A ke toilet. B memesan teh manis. E mencium pipi P. I masuk ke perpustakaan. S menyalakan rokok sambil menghirup kopi punya J. Aku duduk di meja yang berbeda. F memandangi mata A. Aku menghampiri A dan duduk dihadapannya. B dan S membicarakan mariyuana. Aku merayu A untuk duduk di meja bersama kita. I datang membawa novel karya Milan Kundera. Aku dan A pindah meja. Kita semua akhirnya berkumpul di satu meja besar di kafe itu. TV menayangkan acara infotainment. 192

Sejenak suasana hening tidak ada yang memulai pembicaran. E mencoba memulainya dengan topik bukunya Milan Kundera yang dibawa I, tapi malah menjadi sebuah monolog karena hanya E yang sudah membacanya. P bete, ada A disana. A bete, ada P disana. Suasana jadi kering lagi. J mencoba membasahinya dengan mengajak kami semua bermeditasi sejenak. Setelah meditasi, A bertanya kepada F tentang sejauh mana perkembangan novel yang sedang mereka garap. F terkaget dan malah memandangi wajah A lekat-lekat, takjub dan pasrah. E tertawa. Mereka semua tertawa. Suasana menjadi cair. Mereka mulai berkomunikasi dan obrolan beralih menjadi gosip sore. Nervous, kafein dan kalung gaul “Aku tak bisa tidur tadi malam,” kata F, “kebanyakan minum kopi, sepertinya.” Aku yakin bukan itu masalahnya. Wajah F seperti mengatakan dia kangen seseorang, mungkin pacar barunya atau A? B kelihatan agak salting duduk berdekatan dengan P. Lalu B berbicara dengan F tentang pameran Wahyu Srikaryadi “EROS”. P hanya memandang E, tersenyum, seolah mengatakan kata “sayang” dengan amat lugas. E menangkap hal itu. Aku belum melihat pameran itu, aku hanya menulis. E meniup mata kalung P yang berbentuk peluit kecil. Suara nyaring peluit mengumandang. Ayam-ayam ikut kukuruyuk. Semua orang di kafe itu sedang membicarakan Bandung Art Event (BAE). Seorang pengamen datang bersamaan dengan kedatangan I yang sedang sakit mata. “...separuh nafasku... terbang bersama dirimu...” B memandang P masih dengan nervous-nya. E pergi ke toilet. Berbagai kearifan muncul di sore itu, J datang menyembuhkan kelelahan F dengan mentraktir segelas kopi. “Dia memang sudah layak menjadi nabi,” kata E, “salah satu karakteristik nabi adalah selalu menjadi penyembuh, dari hal itulah maka para nabi mendapat legitimasi dari para pengikutnya.” Lalu E memesan kopi juga dan segelas teh manis untuk P, “te-in!” “Kadang-kadang kopi bikin gue nervous lho!” kata B sedikit berbisik padaku. “Itulah sebabnya kamu gak pesen kopi?” “Ya, mungkin. Tapi sekarang gue nervous juga sebab ada dia.” Jawab B sambil menunjuk P secara sembunyi-sembunyi. “Jadi ada dua yang bikin kamu nervous, dia dan kafein?”
193

“Yup!” S datang membawa kesegaran baru, Menanam Pepaya. Ada burung namanya Cangkurileung, makanan favoritnya pepaya. Keunikan dari burung ini selalu makan sambil berak. “Ada yang melihat Si Cantik?” S menanyakan A pada kami. P membuang muka ketika pertanyaan itu terlontar. E tersenyum. “Tidak!” jawab B. “Berarti saya harus memesan kopi.” S mendatangi meja kasir. Aku baru melihat bahwa J memakai kalung seperti tasbih di lehernya. Nabi dan Gaul; “Nabi Gaul!” Start Writing “The beginning... One of us is a delicious party guy. So we didn’t have any big deal because of it. The End...” I bercerita tentang prosedur penjualan newsletter dalam bis kota antar kampus. A baru pulang dari bali membawa beberapa proposal produksi baju bikinan para binan di Q-Bar Kuta Bali. F mengacaukan rencana E dengan memperlihatkan sketsa Media Attack, Multi-Media Performance, dan berlari-lari sambil berganti baju. J meneruskan melankolia-nya dengan berdebat hal yang itu-itu juga bersama S. Beberapa teman A melihat E menulis sambil tertawa-tawa senang. Satu botol Coca Cola tumpah, pecah, bertaburan. Photo P memandangi E dengan serius dan senyum yang itu lagi, tetap seperti itu. Seekor burung Cangkurileung mematuk-matuk pepaya masak bersamaan dengan keluarnya kotoran dari lubang pantatnya, masih berwarna merah. Amin Rais terus berteriak di TV di kafe itu, masih kafe yang sama. Seekor nyamuk menyedot darahku, mati, ditepuk salah seorang teman A. B menghisap wacana rasta. Kerak-kerak langit di sore itu Selalu hanya pernah dua kali dia menatapku seperti itu. “Affair isn’t good, but it’s so cool. Don’t push me to have an affair with you ‘cause i’ll be so happy!” kataku padanya. Tapi dia tetap ngotot untuk mengajakku berselingkuh. Apa boleh buat! Tapi itu kemarin sore. Sore ini F datang dengan tergesa. Sepertinya baru selesai meliput berita. S 194

menyambut F dengan hangat. “Ada apa setelah mati?” tanya F, retorik. E datang tanpa P. S masih memalingkan muka. Lalu P datang menyusul E. P menyapa S dengan hangat. Akhirnya S lebur dan kembali hangat. “Aku muak!” kata E. “Nominal uang sekarang jadi sangat kecil.” I baru keluar dari perpustakaan lalu ngajak main kartu ke S. “Aku tidak suka main kartu!” kata E. “Aku juga!” kata S tegas. E memandang P. P mengajak I main sulap-sulapan kartu. F merebah di kursi. Semua diam kira-kira 5 detik. J datang, terlihat 5 menit lebih muda. Pertanda baik! Aku mendekati E. J mendekati F. P mendekati I. B mungkin sedang kencan bersama A, sepertinya itu yang dikhawatirkan F dan S. S mendekati P dan sedikit merajuk. “No problem!” kata entah siapa, yang lewat di depan kami, pada temannya. Langit sedikit cerah. B datang tanpa A. S dan F terlihat lega. “Tadi aku ketemu dengan Si Cantik dan lantas dia minta ditemenin makan siang.” Kata B, sepertinya dia tidak bohong. S dan F setengah tidak percaya sambil menepuk kening, berbarengan. “Sinkronisitas!” kata I. Langit menjadi mendung. B meneruskan cerita tanpa merasa berdosa, “Memang tidak dosa!” E dan P pergi. Lundy, Fastnet, Irish Sea I want your side Nowhere to run This is not open I look that sea Don’t bother me This is not open You’re living in the fantasy Aku merogoh keabadian. Mengungkap beberapa ide untuk masa datang. Lalu menyerahkan semua itu pada tangan. Tapi itu kemarin. Sore ini yang pertama duduk di meja itu adalah I. F menyusul lagu-lagu itu,
195

Idioteque, Army of Me dan Bird of Prey. S, B, J, E dan P-nya, dan ... “Si Cantik, Men!” F tak sadar telah berteriak, membungkam mulutnya sendiri. “Ups!” kata S. Bel telah berbunyi. Anak-anak mulai berdiskusi. Aku menyebutnya “anak-anak” sebab mereka selalu menamakan dirinya Play Group. Mereka membicarakan, entah untuk keberapa kalinya, novel yang sedang mereka garap. Dan, tentu saja, wanita yang sedang kugarap. Obrolan terhenti ketika tiba-tiba E pergi dengan wajah masam. P mengejarnya. Entah apa yang sedang terjadi pada mereka, sepertinya ada masalah yang cukup besar. Tapi aku tidak mau mencampuri urusan mereka, meski kata B, “God is just for Sunday, Gossips is everyday!” Dan pada kenyataannya obrolan beralih ke ngomongin E dan P. A memisahkan diri. Aku menyusulnya. Sepertinya sekarang A yang cemburu. A memalingkan mukanya padaku, memandang sunyi, unpredictable. A tetap diam. Anak-anak terus bergosip. Aku menuliskan sorot mata A di dalam tingkap ingatanku. Chaos bukanlah masalah besar Tiba-tiba satu amplop besar diserahkan kepadaku. Aku terkaget, dari A! Kubuka amplop itu. A menyerahkan tulisan jauh sebelum deadline dan bahkan anak-anak yang lain belum pada selesai nulis. Bahkan B belum menulis apa-apa. Ada secarik surat kecil dalam amplop itu; 19 Agustus 2001 Maaf berat ya... Kuliah gue terlalu padat semester ini. Kalau ada pesen yang mau disampein, berdoa aja, mungkin gue bakal tiba-tiba dateng nyamperin elo. HP gue belum bisa dihubungin siapa-siapa kecuali keluarga gue. Btw, terserah cerita ini mo’ diapain, yg penting gue udah nyampein ke elo sebelum deadline, right?! Oh iya... kalo masih berminat untuk ngebahas bareng-bareng yg lain, kasih tau tempat & waktunya via doa ya...! Gue pasti denger kok. Salam dan maaf sebesar-besarnya buat yang lain. Wassalam Kubuka tulisannya, kubaca, “Keren, Man!” 196

F penasaran, diambilnya halaman pertama, “Kupegang halaman pertamanya, kubelai rambutnya!” Lalu dia mengambil semuanya, “Kupegang semuanya, kupegang hatinya. Lembut tapi menusuk bagai jarum ke mataku!” “Gila, gua juga gak nyangka!” kataku. S datang, kuserahkan surat itu padanya, tapi tidak tulisannya, masih rahasia! “Keren..., keren..., seolah chaos bukan lagi masalah besar!” Harganya hanya seribu! “Aku cemas, aku cemas!” kata I suatu sore, “aku takut terjadi sesuatu pada Si Cantik. Dia gak pernah datang saat setiap kali kita kumpul.” “Tenanglah!” kata E, “Dia kan sudah nulis surat buat kita agar kita gak cemas.” “Gimana proyek novel kita?” kata E mengalihkan pembicaraan. “Aku cemas, aku cemas. Deadline-nya terlalu cepat. Ini novel besar, proyek besar. Aku tak ingin orang hanya menghargainya dengan uang seribu.” “Seribu dolar sih tak apa!” Sampai saat itu memang belum satupun dari ke-7 anak muda itu, kecuali A, yang menyerahkan tulisan untuk mereka bikin novel. Novel absurd, kata mereka. P tidak termasuk dalam “Play Group” itu. Gadis itu hanyalah sedang menjalin hubungan serius dengan E. Cantik memang, sempat membuat 5 anak lainnya terpesona. A tidak pernah terlihat begitu cemburu meski kadang sebenarnya cemburu juga. A cantik, berwajah mirip P. A cool. P rame. A cerdas. P pintar. A kuliah arsitektur. P kedokteran gigi. Gigi A rabbit. Gigi P bersih rata. A tidak mencintai E memang, meski kagum. P tidak begitu mencintai E, meski kagum. Kekaguman P dan kekaguman A pada E terletak pada titik-titik mirip. E menurut istilah A adalah “possible adore”. E menurut istilah P adalah “possibly adorable”. Maksudnya, akupun tidak begitu mengerti. Aku hanyalah orang lain yang akan meng-edit novel barengan dari ke-7 anak muda itu. Yang, kalau boleh aku membocorkan, pada akhirnya hanya A yang menyerahkan tulisan sebelum deadline. Yang lainnya telat semua. Aku menyebutnya “para pengkhianat deadline”.

197

Gunung adalah gunung dan sungai adalah sungai J menumpuk buku-bukunya yang berantakan. Meditasi, kundalini, feng shui, yoga, zen dan buku-buku tentang penyembuhan lainnya. Kaset itu sudah berulang kali diputar J. Not-not dan lirik-liriknya sudah dia hapal betul. Enya, Voyage, Inspirational Moment, Kitaro dan kaset-kaset New Age lainya, gregorian lainnya, “Jadi Nabi berarti harus jadi penyembuh. Agar legitimate, Dik!”. J sedang membangun kerajaan cahaya melalui metode-metode penyembuhan yang dia buat. Sahabat karib dan teman ngobrol yang paling setia dengannya adalah S. S yang rasional dan selalu berpikir logis merupakan semacam guru spiritual bagi J. J memang bijak dan seperti Nabi sungguhan. “Aku harus membuat sebuah pusat penelitian tenaga hidup untuk membangkitkan Maha Adi Kesadaran! Setelah itu akan terbangun kerajaan cahaya.” Judul skripsinya adalah: “Meditasi sebagai salah satu alternatif komunikasi terapetik untuk meningkatkan mutu kesehatan hidup.” Ditolak oleh dosen pembimbingnya sebab dalam program studi Ilmu Komunikasi tidak ada parameter untuk hal itu. Akhirnya J tidak lulus-lulus kuliah padahal umurnya sudah 26. Wanita yang menarik hati J, bule itu, anak BIS. “Cantik, Dik!” semua teman adalah adik baginya. “Aku melihat gadis itu memiliki energi ketahanan yang luar biasa!” “Maksudmu?” “Gadis itu cantik, harus ada energi besar untuk menangani pandangan, tawaran bahkan ajakan lelaki yang tidak semuanya harus dia terima. Dan kelihatannya dia baik-baik saja.” “Atau mungkin karena tidak ada laki-laki yang cukup bernyali untuk mendekatinya? Akhirnya dia jarang menerima serangan lelaki?” “Itu justru akan membuat dia tidak kelihatan baik-baik saja. Dia merasa dirinya cantik, putus asa dan distress untuknya bila tidak ada satupun lelaki yang mendekatinya. Jadi sangat mungkin energi ketahanan itu dia peroleh justru dari seringnya lelaki menyerang dia.” “Harus lelaki yang energinya lebih besar untuk mendapatkannya?” “Ya tapi tidak selalu. Besar pun kalau tidak sinkron tidak akan berpengaruh apaapa.” “Sinkron, maksudmu?” “Energi itu memiliki warna, setiap orang memiliki warna energi yang berbeda198

beda. Hanya yang mampu melakukan peleburan warnalah yang akan mendapat kasih dari orang lain.” “Aku semakin tidak mengerti.” “Adik tidak harus mengerti. Rasa-lah yang harus berperan untuk mencerap ini.” J memandangi gadis bule itu. Dalam beberapa detik gadis itu melirik ke arah J dan tersenyum. Dengan sangat tenang J berdiri dan melangkah ke arah gadis itu. Halte waktu S adalah seorang mahasiswa hukum yang tidak lulus-lulus. Hidup dalam lingkungan kost anak muda versi sex-drugs-rock ‘n roll. Berlatar belakang keluarga tradisional normatif. Berbagai macam pertanyaan yang menyangkut apapun selalu terolah dibenaknya. Dia menanyakan lagi kepada teman-temannya, jawaban teman-temannya adalah sumber untuk diserang balik berupa pertanyaan olehnya. “Kenapa kita hidup, untuk apa kita hidup, apakah kematian adalah satusatunya tujuan hidup?” secara variatif pertanyaan-pertanyaan itu selalu muncul darinya. “Apa itu Tuhan, bagaimana cara menanam pepaya, kenapa orang itu memakai gesper?” “ Aku mahasiswa hukum tapi sangat membenci hukum, harus ada seorang generalis!” “Bagaimana aku akan menjadi praktisi hukum yang handal kalau setiap kali debat aku harus mengalah, walaupun sebenarnya aku salah!” Kronologisnya seperti ini : 12.00 WIB : Ron mabuk berat di sebuah taman bersama Rik 12.30 WIB : Ron berpisah dengan Rik menuju sebuah toko buku 13.00 WIB : Ron mencuri 5 buah buku dari toko buku itu 13.15 WIB : Ron ditangkap. Rik gelisah 13.30 WIB :Rik bersama S datang ke ruang satpam, mencoba kompromi membebaskan Ron 13.45 WIB : kompromi gagal, polisi datang membawa Ron ke kantor Polsek 13.50 WIB : Den, seorang teman Ron, mencegat mobil polisi ditengah perjalanan dan melemparnya dengan batu, sambil berteriak agar Ron kabur. Polisi menodongkan senjatanya ke arah Den. Den lari. Kaca mobil polisi itu pecah. Setelah itu keadaan menjadi tidak menentu, waktu berubah menjadi buruk,
199

kronologis jadi kacau. Polisi berbaju preman berdatangan, Rik dipukuli dan ditangkap. S dipegangi satpam sambil melihat Rik dipukuli. Seorang satpam menunjuk-nunjuk Rik, “dia yang melemparnya, dia yang melemparnya.” S dibawa ke belakang ruang satpam. Rik bertato-tato, berdarah-darah. Para polisi terlihat lebih dari sekedar semut yang mengamuk. S berteriak “Hentikan!” sambil tidak mengerti apa yang terjadi, seorang polisi memegangi Rik. Yang lainnya terus memukuli wajah dan menendangi tubuh Rik. Rik meninggal seketika dengan kepala pecah. Seorang polisi melemparkan pipa besi berlumuran darah. Satpam melepaskan S sambil terkaget. S memeluk tubuh Rik yang sudah tidak bernyawa. Para polisi terlihat kaget dan syok. Waktu terhenti. Darah mengalir. Kereta kucing I seorang penyair, terkenal sekali sih tidak, tapi cukup terkenal di kalangan penyair seusianya, awal 20an. Tenang, nakal, berkumis baginya merupakan sebuah ideologi, gaya hidup dan pembahagia, maksudnya menambah kepercayaan dirinya. Pernah suatu kali dia mencukur habis kumisnya. “Badanku jadi demam, menggigil, aku tak berani keluar rumah. Tapi aku jadi produktif bikin puisi. Kok, rasanya mood banget!” Dia yang pertama ngusulin bikin novel barengan. Respon bagus diterima oleh E. Lantas E mengumpulkan ke-4 pemuda lainnya. Aku mereka ajak setelah itu untuk menjadi editor, dengan syarat : jangan ada yang diedit! “kau hanya tinggal merunutnya jadi satu kesatuan, sinkron!” Suatu hari I seperti menahan tangis. B menghampiri I bertanya kenapa, di meja itu. “Enyahlah dari hadapanku mati tadi pagi. Keracunan makanan” “Oh..., sabarlah. Kan masih ada 3 lagi.” “Tapi dia yang paling lucu!” Ke-4 pemuda lainnya menghampiri I di meja itu menepuk-nepuk pundak I. “Sabarlah... sabarlah..., kau pasti mampu menghadapi cobaan ini.” I adalah penyanyang kucing. Sebulan yang lalu dia baru membeli 4 ekor anak kucing di pet shop, 4 ekor anak Anggora ras asli. Dia memberi nama kucingnya masing-masing: - Enyahlah dari hadapanku - Aku mencintaimu sungguh 200

- Sepi itu keabadian - Suprapto Aku jadi teringat sebuah cerita dari China: “Suatu hari di sebuah sekolah dasar di China... Ah, sudahlah! Sekarang I sedang merencanakan pernikahannya dengan seorang wanita yang juga penyair. Inikan lebih penting. Memang I tidak pernah terlihat gatal sama wanita tapi, buktinya dia yang duluan nikah. Entah kenapa, memang selalu begitu. Selalu yang kelihatan paling dingin sama wanita yang akan cepat-cepat nikah. Sebenarnya aku punya penjelasan psikologis dan sosiologis tentang hal ini tapi ya sudahlah, biarkan para ahli yang menjelaskannya. Rastafara is my life B menggimbal rambutnya saat rambutnya cukup panjang. Dia sudah berencana menggimbal rambutnya sejak dulu namun saat itu rambutnya masih pendek. B tidak ingin memakai rambut gimbal palsu yang disambung ke rambut pendeknya seperti saran teman-temannya. “Gimbal palsu, meski dibikin dari rambut asli, tetap tidak sama dengan gimbal asli. Lebih repot ngurusnya. Itu kan rambut mati, kayak wig, jadi suka bau kalau salah ngurusnya. Belum lagi bisa menimbulkan penyakit di kulit kepala. Semacam kutu yang tinggal di balik kulit kepala. Semacam borok menahun. Ngeri!” begitu katanya sambil berjengit. Sekarang saat sudah gimbal, tulisannya semakin liar, entah kenapa. Mungkin sekarang intensitas dia menghisap ganja jadi semakin tinggi. Dari dulu dia memang penulis, tapi tulisannya tidak seliar sekarang. Musik yang dia dengarkan sekarang jelas reggae dan nabinya jelas Bob Marley. “Dengerin musik reggae sambil nulis dalam pengaruh ganja itu seperti sebuah surga yang lain yang sama sekali tidak artifisial.” Katanya sambil mengutak-atik rambut dread lock-nya. Men-dread lock rambut yang baru tumbuh menjadi kebiasaannya yang lain sekarang. Kebiasaan yang dia lakukan yang kadang sudah diluar kesadaran dia. Bahkan saat dia lagi tidur pun tangannya nempel di kepala sambil menguncingunci rambutnya. “Kelebihan lain dari rambut gimbal adalah, kau tidak perlu tidur memakai bantal,
201

karena rambutmu bisa kau jadikan bantalan. Hanya memang pada saat-saat tertentu kepalamu bisa jadi lebih berat meski akhirnya itu jadi hilang oleh kebanggaanmu mempunyai rambut gimbal.” Gue kepengen punya rumah dipantai dan hidup disana, maka lebih lengkaplah surga gue!” katanya mengakhiri pembicaraan sambil pergi mengikuti A yang sejak tadi nongkrong di kafe tanpa sedikitpun menoleh pada B. “Tunggu sebentar, aku ada perlu, ada beberapa hal yang kepengen gue bilang ke loe!” B berteriak pada A. Playboy gagal, lelaki binal, manusia sial Begitulah julukan yang diberikan teman-temannya untuk E. Julukan itu sangat paradoks dengan keadaan E yang sesungguhnya. Teman-temannya menjulukinya hanya karena julukan itu sangat ber-rima. E sepertinya adalah gambaran Niskala dalam dunia nyata, jadi aku tak perlu menerangkan lebih jauh tentang E. E berpacaran dengan P belum lama, hubungan mereka sangat dipenuhi dengan pertengkaran lantas setelah bertengkar mereka mesra kembali. Hubungan E dan P sangat tidak disetujui oleh teman-temannya, hanya karena E lebih pantas mendapatkan yang lebih daripada P, meski P sangat cantik semua setuju apabila E berpacaran dengan A. Tapi tentu saja akan banyak orang yang cemburu. Huntu saawak-awak F adalah yang paling aneh dibanding dengan yang lain. Kebiasaannya adalah menyamar menjadi benda-benda yang ada disekitarnya. Misalnya, menyamar menjadi cecak, menyamar menjadi tembok dan lain-lain. F seorang jurnalis, penyair juga seniman performance. Dia akhirnya tidak memilih ke-3 profesi itu. Dia sangat terkagum pada E yang punya kemampuan lebih untuk urusan wanita. Dia akhirnya memilih menjadi Playboy sukses meski wajahnya sangat tidak mendukung. "Tapi kan Cassanova juga tidak tampan, sangat tidak ideal malah. Buktinya banyak cewek yang ngejar-ngejar dia!"

202

Chapter Twenty
Friend’s Fictions And Testimonials (Karya-Karya Yang Dipengaruhi Oleh atau Didedikasikan Untuk Niskala dan Novel EPISODE IV) Catatan Editor Wilayah hiper-realitas ternyata mempunyai lawan yang cukup tangguh, meski tidak populer, wilayah itu kunamakan hiper-imajiner. Imajinasi, seperti juga realitas, bisa mengalami penumpukan-penumpukan, penyalipan-penyalipan bahkan juga bisa merasuk ke dalam realitas atau imajinasi seseorang. Dalam hal ini dunia fiksi sahabat-sahabat Niskala, bahkan merasuk ke

203

dalam realitasnya juga untuk beberapa sahabat, sehingga terjadi sebuah irisan atau pertautan dua buah fiksi lantas menjadi dunia baru yang eksis dalam kepala kami (mungkin nanti anda). Dunia fiksi dalam novel Episode IV ini terus berkembang ketika ada banyak karya-karya dari banyak orang dan orang-orang ini memiliki hak-hak absolut untuk cerita, bentuk dan tokoh-tokoh yang mereka buat. Bahkan sah apabila ada klaim bahwa novel ini pada akhirnya milik bersama. Kalau Tolkien menciptakan dunia fiksi Lord of The Rings sendirian dengan kepalanya sendiri, maka dunia fiksi Episode IV tercipta oleh banyak orang dengan banyak kepala, meski pada awalnya diciptakan oleh Niskala sendiri. Novel ini menjadi terurai dan cair dengan karya-karya tribute-nya. Ini adalah sebuah perayaan fiksi yang layak kita rayakan bersama. Fiksi ini milik kita semua! Terima kasih untuk Gateauxlotjo yang telah membantu saya meng-edit karya-karya ini dan telah mengenalkanku pada Borges dan Tlon, Uqbar, Orbis Tertius. *Bersulang… Regards

EVA IFANYA

Tentang Sangkuriang Dan Beberapa Hal Yang Selama Ini Kusimpan; PADAM!
Oleh : Heaven Allirrun Bagian Pertama: Sangkuriang, Glossolalia Lelaki Tua dan Selinting Bako Mole Sebagai informasi yang cukup penting, lelaki tua yang akan saya ceritakan dibawah ini sebenarnya adalah seorang tokoh sejarah yang sangat berpengaruh dalam perkembangan penemuan manuskrip-manuskrip sejarah sunda. Penemuannya itu masih terus dipakai sebagai bahan rujukan di beberapa jurusan sejarah di kampus-kampus, baik di Indonesia maupun di luar negeri,

204

terutama Belanda dan Perancis. Meski beberapa puluh tahun kemudian, banyak teorinya yang dibantahnya sendiri melalui penelitian-penelitian barunya. Penelitian barunya ini terkesan emosional tapi menurut saya malah lebih akurat dibanding teori-teori sebelumnya. Gara-gara kesan emosional ini, kaum akademisi pada akhirnya tidak terlalu menganggap teori-teori barunya. Mereka menganggap bahwa Si Tua ini sudah pikun dan mulai “merengek-rengek seperti anak kecil”. Hingga akhirnya Si Tua ini tidak lagi diketahui rimbanya di dunia akademis dan beberapa desas-desus mengatakan Lelaki Tua ini berkeliaran di jalan dengan hanya memakai celana dalam dan baju rombeng. Meski hanya rumor, seorang teman yang sangat tertarik dengan sejarah sunda mencoba melacak kebenaran ini dan katanya dia berhasil menemuinya. Niskala, nama teman saya itu, menceritakan pertemuannya dengan Lelaki Tua ini lengkap dengan semua detil percakapan mereka pada saya beberapa waktu yang lalu. Berikut ini adalah saduran saya dari pertemuan dan percakapan mereka dengan efek dramatis yang saya ciptakan, tentu saja dalam bentuk narasi agar bisa lebih dinikmati sebagai sebuah karya fiksi. Tokoh “aku” dalam cerita dibawah ini adalah Niskala. Saya sengaja mengubah subjek menjadi tokoh aku karena saya mencoba memakai sudut pandang Niskala dalam penggambaran ceritanya. Selama ini saya memang selalu terkagum pada sudut pandangnya dalam melihat sebuah kejadian. Provokatif. Misterius. Sinting! :D Seorang lelaki tua, meski tidak berkarat, kau bisa melihat ketuaannya melalui mata mapannya, tajam, bijak dan sedikit merengek khas orang tua, menghembuskan asap bako mole berlintingkan daun kawung berbau 5 dekade lalu yang membawanya pada sebuah pelaminan sakral tanpa teksteks terjemahan, yang membawaku pada saat-saat kota Bandung masih memiliki ribuan pohon rindang dan kereta kuda berlalu lalang, sejumput memori, kematian Daendels, berderet-deret heritage, pakaian vintage dan sebuah kata baru yang begitu halus dari majalah Poesaka Soenda. Ia mengerutkan keningnya yang terbangun oleh sejarah dan bentuk-bentuk huruf Kawi yang dimulai oleh ha dan diakhiri oleh ngha. Sejarah yang begitu
205

disesalinya. Begitu tidak inginnya dia mengingat itu seperti kau tidak ingin mengingat seorang wanita yang kau pikir begitu mencintaimu tapi kau pernah memergokinya bercinta dengan lelaki lain dan lantas saat itu kau memberikan apologi atas tingkahnya itu meski sebenarnya kau sangat ingin membunuh keduanya saat itu juga tapi kau tidak melakukannya karena kau mencintainya, yang ada dalam pikiranmu adalah menyodomi laki-laki itu hingga laki-laki itu menyesal pernah lahir ke dunia. Kira-kira seperti itulah yang ingin dilakukannya pada Belanda yang pernah bercinta dengan leluhurnya yang dia pikir sangat mencintainya tapi dia memergoki percintaan itu dengan telak dan lantas saat itu dia memberikan apologi atas tingkah leluhurnya itu meski sebenarnya dia sangat ingin membunuh keduanya saat itu juga tapi dia tidak melakukannya karena dia mencintai leluhurnya dan seluruh peradabannya yang sudah terperkosa itu, yang ada dalam pikirannya adalah menyodomi Belanda hingga Belanda menyesal pernah menginjakan kaki di tanah Sunda yang begitu dicintainya. Belanda mengubah seluruh sejarah leluhurnya (yang sudah ribuan tahun dibangun melalui tradisi lisan) menjadi teks-teks tanpa ruh menggelayuti berbagai kaitan makna dan kata, semewujud kehambaran itu sendiri, sehambar keheningan artifisial yang diciptakan oleh kejemuan yang memadat hingga nyaris mati, menyebalkan sekaligus memuakkan, membuatnya serasa ingin muntah seperti minum berbotolbotol wine padahal yang diminumnya hanyalah segelas lemon squash dingin dengan kadar soda dan tingkat keasaman yang masih tinggi, seharusnya membuat otaknya justru menyegar saat itu tetapi tidak karena rasa asam dan soda malah terinterpretasi dalam kepalanya sebagai berbotol-botol wine. Cerita-cerita seperti Sangkuriang, Kabayan, dan Dalem Boncel mengalami perubahan pada setiap generasi akibat kecenderungan improvisasi yang sewajarnya dilakukan oleh kepala dan lidah berubah menjadi baku karena tulisan (teks dan konteks) yang dipaksakan agar -seolah akan- abadi. Padahal yang terjadi malah membusuk dan abadi dalam keterbusukannya, terus melusuh seperti bukubuku tua di perpustakaan penuh debu, tak terawat, berbau kematian para penulis. Kering improvisasi, kering reduksi, kering diksi. Ia, menurut ceritanya, tidak pernah mengenal huruf-huruf dalam tradisi leluhur Sunda. Meskipun banyak ahli 206

yang sok tahu mengatakan bahwa Sunda memiliki tradisi tulisan dengan hurufhuruf sanskrit. BullShit! Saat itu segala hal mengalir, pengetahuan mengalir dari satu mulut ke mulut lain tanpa pernah menjadi baku. Bahasa bagaikan air, mengalir dan luwes mengikuti tempatnya berpijak. Kata-kata seperti angin, menghembus… dia menyulut lintingan barunya yang tersusun rapi dalam sebuah kain bersablonkan 345 dengan garis plesetan dari kertas rokok Dji Sam Soe, berbau sapi betina yang baru diperah susunya, menguik… Huruf-huruf itu dijejalkan kedalam otaknya seperti sampah busuk,

memprovokasinya, meracuninya, menggilasnya menjadi serpih-serpih tinja, dan mengotori seluruh bagian sejarah yang pernah dielu-elukannya bersama temantemannya waktu kecil dulu. Di sebuah leuwi, berenang telanjang sambil menceritakan kekonyolan Si Kabayan. Selalu memiliki versi yang berbeda untuk satu judul yang sama seperti ending yang berbeda pada Si Kabayan Ngala Kadu. Ending yang dia dengar waktu umur 7 tahun dengan ending yang dia dengar ketika SMA sangat berbeda. Tapi meskipun begitu masih tetap lucu dengan bagian penekanan lucu di wilayah yang berbeda-beda, dia menikmatinya waktu itu. Sekarang, Si Kabayan sudah menjadi buku dan laris, lalu satu kali dibaca, selesai, lantas ditumpukan dalam tumpukan-tumpukan kertas yang lain yang menggelora untuk menggeliat melepaskan diri dari keterpurukan stigma jenuh yang dibangun oleh huruf-huruf itu sendiri… lantas menguning disana, rapuh, renta, tua … Saya, katanya, lebih suka menyebutnya “teks-teks sekarat”. Setelah 10 menit berlalu dari kontemplasinya, dia melanjutkan ceritanya: Tumpukan mayat kertas itu sebenarnya nyaris kubakar, sebab sebenarnya itulah yang mereka minta, itulah yang kertas-kertas itu inginkan. Agar lidah masih tetap berfungsi sebagai pencerita dan kepala berfungsi memberikan ruh-ruh reduksi dan improvisasi setiap kali ada pengulangan cerita dari satu orang ke orang lainnya. Total pada saat itu aku sudah mendengar 1.347 cerita Sangkuriang dalam versi yang berbeda. Tapi sekarang akibat benda rapuh yang kita sebut tulisan itu,
207

paling banyak aku hanya mendapatkan 15 versi dan salah satu diantaranya berupa gambar bergerak (Dalam film ini Sangkuriang menjadi Indo menjelma Cliff Sangra dan Dayang Sumbi menjadi Indo pula menjelma Suzanna) yang diterjemahkan dari kertas berisi tulisan versi ke 8 yang ditemukan oleh salah seorang sejarawan Sunda berkebangsaan Belanda 3 abad lalu. Tulisan itu berhuruf Pallawa dengan bahasa Sanskrit ditemukan di salah satu pulau kecil di utara Lombok. Sungguh menggelikan… dan orang-orang malah percaya (dipaksa untuk percaya/dipropaganda sehingga akhirnya percaya) bahwa kisah dalam manuskrip versi ke-8 itulah yang paling benar. Ada beberapa hal/bukti mengapa masyarakat percaya pada manuskrip versi ke-8 itu. Yaitu; Ukurannya kira-kira 3 kali lebih tebal dari yang paling tebal dari ke-13 manuskrip yang pernah ditemukan. Memiliki judul yang paling sesuai untuk cerita yang diungkapkan. Tidak ada satupun dari ke-13 manuskrip itu yang berjudul “Sangkuriang” beberapa diantaranya berjudul sama yaitu, dosa pertama. Dan yang lainnya hampir rata2 berjudul buruk, tidak langsung mengacu pada tokoh yang diceritakan. Kebiasaan sastrawan pada masa itu selalu memberikan judul pada kisahnya langsung memakai nama tokoh utama dalam cerita tersebut. Judul untuk manuskrip ke-8 ini adalah Dayang Sumbi dan anak laki-lakinya. Meskipun ditemukan dalam urutan ke-8, melalui hasil test karbon, manuskrip ini adalah yang paling tua. Tak ada satupun dari ke-13 manuskrip itu yang memberikan keterangan waktu. Waktu selalu ditunjukan dengan memakai simbol2 penanda waktu alamiah. Seperti matahari, menstruasi, posisi bintang dan kulit pohon. Sepertinya matematika memang diciptakan hanya untuk orang-orang Yunani. Kisah dalam manuskrip yang ke-8 ini adalah kisah yang paling tidak masuk akal. Dengan anggapan bahwa pada masa itu hal-hal yang tersebut wajar terjadi. Hanya inilah satu-satunya manuskrip yang mengaitkan tokoh utama laki-laki dengan Gunung Tangkuban Perahu. Meski justru hanya manuskrip ini yang tidak menamai tokoh utama laki-lakinya, sementara ke-12 manuskrip lainnya justru 208

memberikan nama pada tokoh utama laki-lakinya yaitu SANGKURIANG. Tangkuban Parahu memang harus menjadi bagian dari unsur cerita sebab ada sebuah tradisi yang memberikan asal-usul pada sebuah bentuk morfologis permukaan bumi, atau artefak artefak, yang dianggap ganjil. Atau disugestikan ganjil. Seperti kebanyakan cerita rakyat di Indonesia, selalu menghubungkan cerita-cerita tersebut dengan sebuah fenomena alam atau sebuah obyek alam yang ganjil dan dianggap sakral. Runutan cerita lebih terpola. Narasinya lebih utuh dan bentuk-bentuk hurufnya lebih konstan dibanding dengan manuskrip yang lain. Dan ini yang paling penting: kisah dan alur dalam manuskrip ke-8 adalah yang paling mirip dengan cerita lisan versi terakhir yang sudah menjadi pengetahuan umum pada masa itu saat manuskrip ini ditemukan. Lelah… lelaki tua itu menghirup kopi tubruknya yang mulai mendingin dibuai angin. Sebenarnya sudah lama sekali lelaki tua ini ingin membuang jauh-jauh gelar Doktor dalam bidang Sosio-Historisnya. Memuakkan, gelar itu menyebabkan saya ingin muntah setiap kali mengingat masa-masa saya membuat desertasi tentang cerita sejarah mengenai kondisi masyarakat agrikultur Sunda pada abad ke-6. Huruf Pallawa itu, semua orang juga tahu, berasal dari India dan hanya mengintervensi Jawa dan, tolong tekankan, BUKAN SUNDA. Kalaupun memang Orang Sunda sudah mengenal tulisan maka bentuk hurufnya adalah lebih menyerupai huruf paku dan bukan Pallawa. Dan itupun bisa saya pastikan, hurufhuruf itu hanya dipakai untuk perdagangan dan kegiatan-kegitan formal kerajaan, deklarasi, perjanjian, dan undang-undang. Bukan sastra. Ingat! BUKAN SASTRA. Mengerikan… bagaimana ketika semua orang mempercayai Belanda bahkan hingga kini… hingga saat Belanda sudah hengkang puluhan tahun lalu… Kembali aku memandanginya, memandangi kerut-kerut dimukanya, daki yang sudah menempel puluhan tahun dimukanya, racauan schizophrenic-nya yang
209

berulang-ulang, rambutnya yang menggimbal, bau tubuhnya yang seindah tumpukan sampah sore hari di pasar-pasar. Dia terus meracau di sini, di jembatan ini, di sebelahku, dengan mata tajam dan liar, dan selalu terus menerus memandangi Gunung Tangkuban Parahu yang menjulang di utara dan seolah ikut menangis bersama tokoh legendanya (yang dia yakini sebagai leluhurnya), di sore hari penuh debu. Lantas dia mengucapkan kalimat terakhirnya sebelum dia pergi, karena berdiri sambil membenahi tubuhnya dan tas karung terigunya yang entah berisi apa, sambil menyodorkan selinting bako mole yang baru dibuatnya (sepertinya memang sengaja dibuat untukku) padaku, dan ini kali pertama dia memandangku, hangat tetapi tajam; Aku selalu bertanya, anak muda! Apa benar Gunung itu, dia menunjuk Tangkuban Parahu, adalah monumen keputus-asaan, kekecewaan, dan kemarahan Sangkuriang yang sengaja diciptakan agar kesakitannya diingat oleh orang-orang di masa depan? Itu PR buatmu, Anak Muda! Sebab sebentar lagi aku akan mati. Aku tidak bisa menjawab. Seribu kebijaksanaan tiba-tiba menyeruak dalam tubuhku dalam diam yang panjang, membisu, menatap mata lelaki tua itu yang sedang mentransfer energinya berupa aura yang bertubi-tubi menyerbu tubuhku dan kepalaku, sebuah aura yang menyadarkanku akan kesimpangsiuran sejarah. Sejarah yang mana yang harus kupercayai? Lantas aku menyaksikannya pergi melangkah menuju Dago Utara dengan baju rombengnya yang berkibar-kibar tertiup angin berbau bako mole dan asap knalpot bis kota. *** Bagian Kedua; Dayang Sumbi, Gateauxlotjo, dan Beberapa Simulasi Masa Lalu Seluruh kejadian dalam bagian kedua ini terjadi dalam sebuah auditorium berbentuk kubus dengan dinding dan langit-langit serta lantai berwarna hitam kira-kira seukuran lapangan Futsal. Dan akan diawali dengan pengenalan salah satu tokoh sentralnya yaitu Gateaux-lotjo. Tapi kali ini saya akan menceritakannya dari sudut pandang saya sendiri, sebab saya ada di tempat 210

kejadian dan mengenal dekat para tokoh yang ada dalam cerita ini. : DIA selalu begitu; memicingkan mata, menggertak dengan kata-kata sinis seperti, “Aku tak suka cantikmu yang mengerikan itu!”, tersenyum, berkedip lalu pergi. Dia, lelaki yang selalu memperkenalkan diri dengan nama Gateauxlotjo itu, selalu begitu; mengejan, mengerang, menyembunyikan sebagian wajahnya, berteriak santun: “Aku berharap semua tidak baik-baik saja!”, lalu turun dari “tugu sialan!” itu. Dia sendiri yang selalu menjuluki singgasananya dengan “tugu sialan!”, selalu memakai tanda seru. Ada lambang hegemoni dan birokrasi di tugu itu, dia sangat tidak menyukai kedua hal itu. Akan tetapi hanya tugu itulah yang paling tinggi yang bisa ia naiki untuk lantas berteriak dan dilihat semua orang dari berbagai arah. Dia sangat membenci angin. Angin adalah bentuk manifestasi kekurang ajaran semesta. Meraba-raba tubuh kita tanpa permisi, diizinkan ataupun tidak, tak bersyarat, bebas absolut, dengan tanpa gairah sekalipun. Angin akan datang tibatiba, meski tidak terlalu kencang, tapi tetap akan menyusup ke dalam kulitmu, membuatmu merinding, membuatmu kedinginan, kadang membuatmu mendapatkan kenyamanan bersyarat. Dia sangat suka berdebat, apalagi perdebatan tentang Cinta, Agama dan Filsafat. Inilah satu-satunya kelebihan yang dia punyai. Bila Kundera pernah berkata: perjuangan terbesar manusia adalah untuk menguasai telinga orang lain. Maka dia sudah mencapai puncak kekuasaannya bila dia berdebat atau monolog dengan siapapun. “Namaku Gateauxlotjo!” Suatu kali dalam sebuah kelembapan cuaca yang sangat dipengaruhi oleh bekas luka para hujan yang tercurah sederhana dari gelembung awan-awan lebat. Tentu, dia mengatakannya dalam kesungguhan yang dibuat-buat sambil menengadah ke langit dan menepis beberapa angin. Menengadah ke arah para hujan tadi yang cukup membuatnya kuyup. “Aku bukan lelaki, sebab aku yakin penisku bisa hidup sendiri tanpa harus diperintah oleh otakku dan diberi nutrisi oleh pacu jantungku. Dia bahkan bisa berdetak lebih kencang dari
211

jantungku pada saat-saat yang seharusnya tenang. Penis punya organ tubuh sendiri yang diperintah oleh otaknya sendiri...” Setelah itu dia menyusun dirinya dalam kesendirian genit yang mengundang cinta dan kebebasan untuk segera datang padanya, bersujud dan memohon untuk dilibatkan dalam semua orasinya. RAHMAYANTI, seorang art performer yang sangat dikenal sebagai aktivis feminis dengan menyuarakan ideologinya lewat performance art, yang memakai kebaya modern dengan potongan lahak di punggung dan dada di depan 300 orang lebih penonton, membuka kebayanya dengan menyisakan sarung, stagen dan bra tetap melekat di tubuhnya. Lantas dia meminta penonton untuk memperlakukan tubuhnya sekehendak penonton dengan memberikan tiga sepidol besar. Satu-persatu penonton maju ke depan, menuliskan apapun yang ada di benak mereka ke tubuh setengah telanjang Rahmayanti. Ada yang menggambar bayi di perut Rahmayanti, ada yang menuliskan “Apakah ini perempuan, bukankah ini wanita?” di punggungnya. Dan banyak lagi yang lebih provokatif dari itu. Hingga seluruh tubuh dan wajah Rahmayanti dipenuhi coretan seperti dinding toilet di sekolah-sekolah atau kampus-kampus yang dipenuhi caci maki para hooligan hingga pernyataan cinta antar gay dan bahasa-bahasa kotor lainnya. Ketika pertunjukan masih berlangsung, tiba-tiba Gateauxlotjo yang memakai baju bengkel terusan berwarna biru dengan topi bulu khas orang-orang Kozak di Rusia yang menutupi telinga untuk melindunginya dari terpaan angin dingin –hal ini membuat profilnya jadi mirip anjing bulldog– menggonggong, meneriaki penonton dengan gonggongan keras dan lari seperti anjing ke arah Rahmayanti berdiri. Dia mencoba menggigit siapapun yang mencoba mendekati Rahmayanti. Gateauxlotjo secara tidak sadar sedang menyusun dirinya menjadi Si Tumang, atau bahkan mungkin terasuki roh Si Tumang dan mencoba melindungi istrinya, Dayang Sumbi, dari gangguan orang-orang dan tentu saja target utamanya adalah Sangkuriang, kalau memang saat ini Sangkuriang ada disini, sebagai salah satu manifestasi balas dendamnya gara-gara dipanah di masa lalu.

212

Sangkuriang, sang tokoh atau yang selama ini menjadi status quo sebagai tokoh sentral dalam ceritanya sendiri, sedang dicaci maki dan diprotes habis-habisan oleh Rahmayanti sebagai bentuk perlawanan atas hegemoni laki-laki pada perempuan yang selalu diteriakan dalam setiap pertunjukannya. Sangkuriang sebagaimana cerita feodal lainnya adalah bentuk manifestasi kekuasaan lelaki yang dicoba-masukan kedalam benak setiap orang selama berabad-abad melalui Ideological State Aparathus masa lalu untuk melanggengkan kekuasaan laki-laki atas perempuan. Rahmayanti mencoba untuk menentang terhadap status quo ini tentu saja. Tanpa perlu kuratorial yang rumit, judul pertunjukannya sudah menjelaskan hal itu. Tentu saja bila Sangkuriang hadir saat ini dia akan ke atas panggung pertunjukan mencoba untuk menghentikan ibunya yang menjelma Rahmayanti tersebut, sekalian untuk melampiaskan dendamnya karena ditipu di masa lalu sehingga dia tidak jadi menikahinya dan menendang perahu yang dengan susah payah dia bangun. Perahu rumah tangga yang gagal. Sebagian dari diriku tidak pernah menyalahkan Sangkuriang saat ingin menikahi ibunya. Bagaimana tidak, saat itu konon Dayang Sumbi meminum ramuan awet muda sehingga dia masih tampak muda saat bertemu kembali dengan Sangkuriang. Dan tentu sangat wajar bila Sangkuriang tidak percaya bahwa dia adalah ibunya, apalagi dengan adanya fakta bahwa Sangkuriang diusir oleh ibunya waktu kecil dengan cara dipukul kepalanya hingga mengalami amnesia. Mana Sangkuriang ingat siapa ibunya kalau begitu! Yah, wajarlah bila di kemudian hari Sangkuriang masih merasa dendam terhadap Dayang Sumbi yang mengkhianatinya. Hal inilah yang menyebabkan si tumang yang menjelma Gateauxlotjo maju ke atas panggung untuk melindungi istrinya dari serangan orang-orang yang mungkin salah satunya adalah jelmaan Sangkuriang. Terjadi kepanikan luarbiasa saat itu. Hal yang diluar dugaan itu membuat suasana menjadi tegang, karena Gateauxlotjo mengamuk seperti anjing terkena Rabies. Hingga datanglah seorang lelaki muda bernama Niskala mencoba menenangkan anjing itu. Tapi Gateuxlotjo terus menggonggong dan menyerang Niskala dan
213

nyaris menggigit Niskala. Penonton panik dan sebagian berhamburan keluar. Rahmayanti diam memaku dan pucat pasi. Tak ada satu orangpun yang berani menenangkan Gateuxlotjo lagi setelah itu. Tiba-tiba Niskala meniru gerakan arjuna, seperti seolah sedang mencabut anak panah di punggungnya dan mengarahkan busurnya pada Gateauxlotjo. Saat inilah gonggongannya terhenti, melangkah mundur sambil menguik. Niskala masih mengarahkan busur-purapura-nya pada Gateuxlotjo dan lantas anak panah terlepas menancap tepat di jantung Gateauxlotjo. Gateauxlotjo pingsan seketika. Penonton mulai tenang. Suasana perlahan kembali normal. Pembukaan pameran dilanjutkan setelah Gateauxlotjo diamankan ke belakang panggung bersama Niskala. Panitia pameran menyangka bahwa kejadian tersebut adalah ulah kedua orang itu untuk mencuri adegan yang memang seringkali terjadi di Bandung. Biasanya panitia tidak pernah menghentikan apabila ada kejadian seperti itu, tapi kali ini memang berubah menjadi kekacauan. Bahkan Rahmayanti, yang menjadi bintang tamu saat itu, sempat mengalami shock dan menjerit-jerit sambil berusaha menahan bra-nya karena ada sekelompok orang yang ingin memanfaatkan suasana dengan menarik-narik pengait bra-nya. Serta ada seorang seniman muda yang mencoba mencuri artefak perfomance itu, yaitu kebaya Rahmayanti, tapi keburu ketahuan oleh salah seorang panitia pembukaan pameran, dengan malu-malu, seniman muda itu menyerahkan kembali kebaya Rahmayanti itu. Di belakang beberapa orang sempat terbawa emosi dan hampir memukuli biang keonaran ini, Gateauxlotjo dan Niskala, karena beberapa diantara mereka tahu bahwa kejadian tadi bukan bagian dari performance yang ingin dipertunjukan Rahmayanti. MC terus berteriak-teriak berusaha menenangkan kepanikan ini, meskipun sebenarnya sebagian besar dari penonton malah tenang-tenang saja dan banyak diantaranya malah tertawa-tawa dan menganggap bahwa ini adalah pertunjukan yang paling lucu beberapa tahun terakhir ini dalam sebuah Performance Art setelah muntahnya seorang seniman performance pada saat mencoba menelan Bendera Merah Putih dalam Festival Perfomance Art Internasional beberapa tahun lalu di Bandung.

214

Di backstage, Niskala tertawa sambil mencoba membangunkan Gateaux-lotjo. Setelah ini terjadi sebuah percakapan serius dan mistis diantara kedua orang ini mengenai kejadian tadi. ESOKNYA Gateauxlotjo kembali ke galeri itu. Memandangi patung Dayang Sumbi yang sedang menitikan air mata. Dan dia mulai bermonolog dengan patung itu Istriku...kau masih mengingatku? Tadi malam ketika kau diganggu puluhan manusia biadab, termasuk anak kita, sungguh...aku benar-benar naik pitam. Aku tak bisa menahan emosi ketika kau diperlakukan sedemikian kejamnya. Maafkan aku istriku, aku lupa kalau hal itu hanyalah simulasi sederhana atas kesakitan masa lalu mu. Patung ini, menurut senimannya adalah patung replika pertama untuk patung batu Dayang Sumbi yang ditemukan tujuh tahun lalu di sebuah gua, terkubur ratusan tahun di daerah Dago Utara dalam sebuah penggalian untuk proyek perumahan. Patung Dayang Sumbi itu, yang sudah banyak cacat di sana-sini diperkirakan dibuat pada abad ke 12 pada zaman pemerintahan. Ada pahatan Dayang Sumbi dengan huruf paku pada kakinya. Profile muka dan bentuk tubuhnnya mendekati kecantikan ideal perempuan sunda. Sekarang patung tersebut menjadi milik pemerintah dan masih diteliti oleh para ahli sejarah di Museum Geologi di JL. Diponegoro. Herra, atas izin pemerintah, membuat replikanya dengan melakukan penyempurnaan pada bagian yang cacat dan mempercantiknya dengan sentuhan-sentuhan yang lebih halus dan menurutnya ini lebih mudah sebab dia membuat replikanya dalam media kayu mahoni yang sudah direndam selama satu tahun dalam cairan kimia khusus untuk membuatnya lebih lunak dan pada tahap finishing dia menyemprotnya dengan cairan lain yang membuatnya lebih kuat dan awet hingga hampir bisa mendekati karakter batu. Pameran ini dimaksudkan untuk lebih mendekatkan masyarakat pada cerita rakyat tersebut dangan bantuan dana yang besar dari pemerintah. Ini adalah pameran
215

pertama Herra yang mendukung propaganda pemerintah tentang cerita sejarah. Sungguh ironis, sebab tadi malam performance Rahmayanti dalam rangka pembukaan pameran ini justru menyerang pemerintah dengan kritik feminisnya. Meskipun sempat terjadi insiden, tetapi begitulah kebiasaan Performance Art di bandung, akan banyak sekali orang yang ingin tampil dan mencuri adegan apabila performance tersebut melibatkan interaksi audiens. Saat ini ruangan sedang sepi, hanya ada gateuxlotjo, artefak performance art tadi malam dan patung replika Dayang Sumbi. Dialog mereka terjadi selama hampir dua jam hingga satpam yang tadi malam mengamankan mereka datang dan mengenali Gateauxlotjo lantas mengusirnya untuk segera keluar dari ruangan itu. Entah kenapa, dengan patuh Gateauxlotjo keluar nyaris tanpa perlawanan. Sementara itu di tempat lain, Niskala sedang berada di sebuah ruang kecil gelap dan pengap dalam keadaan tangan terikat sebuah tambang dan mulut tersumpal kain lap bau. Sudah sekitar 5 jam dia disitu semenjak tadi pagi saat dia baru saja satu langkah dari pintu kamarnya, tiba-tiba empat orang tak dikenal mengurungnya dan melumpuhkannya dengan sebuah suntikan yang menancap di punggungnya. Saat sadar dia sudah berada di tempat itu. Di waktu yang sama di Museum Geologi Bandung, para polisi sedang benar-benar kebingungan atas hilangnya patung Dayang Sumbi yang asli yang sedang disimpan dan diteliti. Di tempat lainnya lagi, Rahmayanti terpukul oleh sebuah berita yang mengatakan bahwa dirinya terkait dengan beberapa hal yang menjadi rumors di kalangan seniman akhir-akhir ini, rumors miring yang sangat mistikal. Di wilayah lain, Herra tersenyum menyaksikan betapa sempurnanya patung buatannya, dan betapa sempurnanya patung buatan kakek buyutnya... Bagian Ketiga; Sebuah Rekonstruksi dan Sekelompok Pemuda Yang Tak Mau Disebutkan Identitasnya

216

Pencurian itu dilakukan dengan penuh perencanaan yang matang. Ketika semua orang mendatangi pembukaan pameran patung di CCF, patung aslinya yang masih disimpan di museum geologi tidak terlalu dijaga ketat malam itu. Dia, menurut pengakuannya sendiri pada saya beberapa hari setelah kejadian ini, bersama beberapa teman yang sudah merencanakan ini berbulan-bulan yang lalu, mengendap-endap mendekati ruangan museum. Cerita ini asalnya tidak akan saya ceritakan dalam bagian fiksi ini, sebab ada semacam sebuah perjanjian antara saya dan para pelaku dalam kejadian ini untuk merahasiakan seluruh kejadian. Tapi dengan niat yang tulus akhirnya saya minta izin kepada mereka untuk menuliskan kejadian spektakuler ini dengan alasan sangat sayang apabila hanya terkubur dalam sebuah rahasia yang tidak perlu. Dengan berat dan penuh ancaman akhirnya mereka mengizinkan asal tidak menyebutkan nama ataupun inisial mereka serta tempat dimana patung itu akhirnya disembunyikan. Saya menyetujuinya, dan sesuai perjanjian tadi saya hanya akan menceritakan proses pencurian itu hingga akhirnya mereka berhasil mendapatkan (kembali) patung itu. Dan menyimpannya di tempat yang menurut mereka adalah “tempat seharusnya”. Setelah berpikir berkali-kali tentang bagaimana cara saya menceritakan kejadian ini akhirnya saya memutuskan untuk menyusunnya dalam sebuah kronologi menjadi semacam bahan untuk rekonstruksi:

21.30 Tiga orang pemuda berkumpul di sebuah warung makan yang tak jauh dari museum geologi Bandung. 21.45 Empat pemuda lainnya menyusul dengan menyamar memakai baju pegawai negeri. Mereka mengobrol di warung tersebut dan seperti seolah antara kelompok pemuda pertama saling tidak mengenal kelompok pemuda yang kedua. 22.00 Seorang wanita memakai rok pendek dengan atasan blazzer turun dari sebuah mobil BMW dan mendatangi kelompok pemuda yang pertama 22.10 Empat pemuda yang memakai setelan pegawai negeri menyeberang dan memasuki pagar kompleks museum geologi.

217

22.20 Salah

satunya

terlihat

mendatangi

satpam

dan

seperti

sedang

membicarakan sesuatu. Satpam meraih rokok yang ditawarkan pemuda itu 22.25 Satpam pertama pingsan, terkena zat yang ada dalam rokok itu. Satpam kedua yang baru datang dari toilet mencoba menolong temannya, tapi dengan cekatan sekelompok pemuda tadi memukul belakang kepala satpam kedua. 22.30 Ternyata satpam kedua tidak langsung pingsan, dia malah melawan... 22.40 Kelompok pemuda pertama, tiga orang yang berkumpul di warung makan, memasuki halaman gedung museum geologi setelah kedua satpam dibekuk empat pemuda yang memakai sergam pegawai negeri. 22.50 Wanita yang memakai blazzer mengikuti kelompok pemuda yang pertama, memasuki pintu gedung utama yang sudah dibuka oleh pemuda yang memakai kupluk dari kelompok pemuda pertama. 23.15 Kelompok pemuda pertama mengikuti wanita yang memakai blazzer keluar dari pintu masuk utama, menggotong sebuah peti. 23.16 Sebuah mobil bak tertutup memasuki halaman gedung dan berhenti di depan pintu masuk utama. Kelompok pemuda kedua membantu kelompok pemuda pertama menaikkan peti kedalam bak mobil. Wanita yang memakai blazzer masuk pintu depan mobil, duduk di sebelah driver sambil menginstruksikan sesuatu. 23.20 Kedua kelompok pemuda memasuki bak mobil dan menutupnya dengan rapat. Mobil melaju kencang. Bagian Ke-empat; Tentang Pertemuan Dengan Sejarah Yang luntur Niskala tiba-tiba merasakan ruangan itu bergerak dengan diawali bunyi start mobil, dan dalam kegelapan dia merasakan sesuatu menggencet sisi kiri tubuhnya, sepertinya sebuah peti. 218

Setelah entah berapa jam mobil pick up tempat Niskala disekap berhenti. Terdengar bunyi pintu mobil di tutup dan tak lama kemudian pintu pick-up dibuka. Cahaya menyilaukan mata Niskala seketika, membutakannya beberapa saat. Lalu hal yang pertama kali dia lihat di depannya adalah seorang wanita memakai blazer dan rok berwarna merah. Dyah? “Maafkan kami Nis, harus membawamu dengan cara seperti ini.” Lalu dua laki-laki di belakang perempuan itu menarik dan menggotong Niskala. Mereka membawanya ke sebuah rumah kayu di lembah sebuah pegunungan yang tidak dikenal Niskala. Rumah itu terletak di sebuah punggungan yang dikelilingi perbukitan sehingga sangat tepat untuk sebuah persembunyian. Aku melihatnya digotong masuk ke rumah ini, lalu didudukan di sebuah kursi yang berhadapan dengan seorang lelaki tua yang sedang duduk di depannya. Lelaki tua gila yang meracau di sebuah jembatan di Jalan Dago. Ternyata kita bertemu lagi anak muda? Kau tentu sudah mengenal Dyah? Ingatan Niskala sejenak terbang pada sebuah kejadian beberapa tahun lalu: Di sebuah hari yang muram. Dyah, nama wanita itu, membereskan pakaiannya yang berserakan di kamar hotel itu. Memandang benci pada seorang lelaki yang tergolek penuh senyuman, tertidur setelah malamnya menguras energi wanita itu. Sialan! Dyah memasuki kamar mandi dan menyalakan kran bagian kanan. Agar dingin sekali. Meski dingin sekali. Dyah perlu kesegaran, membersihkan setiap bibit penyakit yang mungkin sudah menempel di tubuhnya, penyakit durjana yang dia sadari betul keberadaannya. Lelaki sialan itu membayarnya dengan mahal untuk satu malam itu. Tapi, Ya Tuhan, badannya bau sekali. Dyah berpikir mana bisa seorang lelaki tua dan bau sekali bisa menjadi direktur di sebuah perusahaan yang sangat besar di negeri ini. Dyah merinding membayangkan kejadian tadi malam itu. Cepat-cepat menggosok
219

seluruh badannya, setiap senti. Keluar kamar mandi dengan kesegaran baru, dingin sekali. Umurnya sudah 30 saat ini. Tak ada niatannya untuk cepat-cepat menikah semenjak dulu, atau dia berpikir, tidak akan menikah sampai kapanpun. Dia tidak pernah menikmati profesinya ini. Sama sekali! Ia lantas pulang setelah mengambil dua lembar seratus ribuan diatas meja sebelah lampu tidur, dengan kesegaran aneh yang terpintal bersama kedukaannya menjadi tali penolong untuk menariknya kembali ke kamar kecil kumuh kontrakan 75 ribu sebulan di gang sempit sebuah kerajaan prostitusi ber-NGP rendah. Gang sebelahnya adalah sebuah kerajaan pesantren yang sengaja di proklamirkan disana sebagai sebuah pengejawantahan wacana post-kolonial untuk mengintimidasi secara budaya terhadap sebuah persepsi kenikmatan purba. Kerajaan tersebut berNGP tinggi sebab banyak sekali investor untuk menghancurkan persepsi kenikmatan purba. Dia membeli 2 bala-bala, 1 gehu dan 1 pisang goreng yang hampir dingin sebelum mencapai kamarnya untuk pengganti sarapan yang selalu hilang. Aku lebih suka menyebutnya makan malam (supper). Memanaskan air dengan teko heater yang hampir rusak dan kabel yang sedikit melepuh sebab panasnya yang tidak stabil, seringkali terjadi konsleting gara-gara itu. Menyeduh kopi pahit, sangat pahit, untuk melengkapi kepahitan mimpi-mimpinya. Menyalakan sebatang rokok yang asapnya langsung memenuhi kamarnya yang sempit berdinding triplex bercat putih lusuh seperti capek tidak tidur selama dua hari, dengan kelupasan dimanamana, menjadi satu ornamen baru seperti memberikan instrumen untuk semua nyanyian histeris di kamar itu. Sebuah poster kecil Ayat Qursyi menempel di pintu kamarnya, untuk menangkal setan kata temannya. Dia merebahkan tubuhnya diatas kasur yang tidak beranjang, lapuk, kepalanya disenderkan di atas bantal yang ditumpuknya.

220

Menyalakan 14 inch konka-nya, channel berpindah-pindah hingga, Mtv, sebuah videoklip dari salah satu band yang kemudian akan merubah drastis seluruh hidupnya. Lelaki itu, lelaki yang selalu membawanya ke masa lalu, lelaki yang selalu membuatnya terus-menerus merasakan deja vu yang berkepanjangan, lelaki yang selalu dilihatnya sedang meneriakan sabda dalam videoklip itu, pernah tidur dengannya, lantas menghilang, meninggalkan kenangan aneh bahkan Dyah sama sekali belum mengetahui namanya. Sekarang dia melihatnya dalam sebuah frame 14’ di dalam kamarnya. Aku harus melacaknya. Aku harus bertemu dengannya lagi...! Sebenarnya sebelum ini, namanya bukan Dyah, setelah berkali-kali berganti nama, menurutnya, nama Dyah-lah yang terakhir kali akan dia sandang. Alasannya sederhana: capek! Meskipun pada akhirnya ada alasan yang lebih filosofis dan historis kenapa namanya berakhir di Dyah. Saudara kandungku itu bernama Dyah. Kami dipertemukan oleh sebuah kecelakaan yang membenturkan bagian hidupnya dengan hidupku. Saat itu sebuah mobil menyerempetnya saat dia sedang menyeberang. Aku waktu itu baru keluar dari Circle-K, sebab cuma CK (terkadang aku dan temanku menyebutnya lingkaran kecil) yang masih buka jam segitu untuk membeli keperluan gilaku. Saat itu Dyah baru diturunkan dari sebuah mobil. Sebuah mobil BMW 2 pintu keluaran tahun 2000 yang dikendarai oleh seorang anak berusia awal dua puluhan – yang menjadi pertanyaanku adalah; bapaknya anak itu korupsi di BUMN yang mana? Dyah turun dengan wajah lelah yang melekat begitu erat, tampak seperti bekas
221

lem aibon yang merekat di jari-jari tangan yang tak sempat kau bersihkan setelah merekatkan sepatumu yang sudah menganga. Dia memakai rok yang – tidak saja begitu pendek tetapi membuat singkayo-nya nyaris kelihatan kemana-mana. (Di masa depan singkayo itulah yang selalu membuatnya selalu seksi dan membuatku selalu terangsang). Saat dia menyeberang (saat itu aku sedang minum sekaleng green sands sambil melihat bagian bawah tubuhnya yang – tentu saja di saat shubuh begini, di pelataran parkir CK Dago, sepi, dingin, sambil terduduk, melamunkan hal seperti ini dari tadi – konak-able atau kalau boleh kupinjam istilah Baskoro; libidinal) menuju CK, ada sebuah mobil yang sepertinya begitu mabuk hingga menyerempet pantat Dyah yang tadi bergoyang begitu mantap. Sebenarnya laju mobil itu tidak terlalu cepat tapi karena memang sepatu Dyah terlalu tinggi membuatnya hilang keseimbangan. Gara-gara itulah lantas mobil itu menambah laju mobilnya. Lantas dengan refleks, akibat naluri heroik-ku yang begitu tinggi sekaligus juga kubenci, aku berlari menuju tempat Dyah yang saat itu sudah terkapar sambil meringis nyaris pingsan. Tak ada orang selain aku dan dia saat itu. Saat berada tepat didepannya aku ragu untuk meraihnya, karena posisinya yang membuat jantungku sesaat tertegun. Saat itu singkayo dan GString-nya mengkilap menyapu mata dan selangkanganku. Hingga akhirnya aku sadar - astaga! – bahwa darah keluar dari kepalanya. Ternyata tadi kepalanya membentur trotoar pembatas jalur jalan. Setelah itu tentu kau bisa menebak ke arah mana bagian fiksi ini akan berjalan. Di kamar kost-nya: Kamar kecil kumuh kontrakan 75 ribu sebulan di gang sempit sebuah kerajaan prostitusi ber-NGP rendah. Gang sebelahnya adalah sebuah kerajaan pesantren yang sengaja di proklamirkan disana sebagai sebuah pengejawantahan wacana post-kolonial untuk mengintimidasi secara budaya terhadap sebuah persepsi kenikmatan purba. Kerajaan tersebut ber-NGP tinggi sebab banyak sekali investor untuk menghancurkan persepsi kenikmatan purba. Kamarnya sempit berdinding triplex bercat putih lusuh seperti capek tidak tidur selama dua hari, dengan kelupasan dimana-mana, menjadi satu ornamen baru seperti memberikan instrumen untuk semua nyanyian histeris di kamar itu. Sebuah poster kecil Ayat Qursyi menempel di pintu kamarnya, “Untuk menangkal setan!”, kata temannya. Dia kurebahkan tubuhnya diatas kasur yang tidak beranjang, lapuk, kepalanya 222

disenderkan di atas bantal yang menumpuk. Tadi kami naik taksi untuk bisa kesini. Dyah masih setengah sadar, darah dari kepalanya menetesi sweater wol peninggalan nenekku. Orang-orang yang baru keluar dari masjid memandangi kami dengan beribu pertanyaan yang takkan berani mereka ungkap. Setelah sampai dikamarnya barulah kau baca lagi deskripsinya dalam tanda kurung diatas! Kalau sudah selesai kau boleh lanjutkan ke baris-baris berikut di bawah ini: Aku mencari lap bersih di lemari pakaiannya yang terbuat dari plastik usang itu. Lantas aku mencari toilet di luar kamar untuk mengambil air. Kuseka darah dikepalanya. (Aku harus berlari dulu keluar mencari warung untuk membeli obat merah dan kapas). Setelah bersih barulah kuteteskan obat merah+antibiotik itu di luka kecil yang menggurat di kening halusnya. Menutupinya dengan kapas dan dia tersenyum… “Ya saya sudah mengenalnya.” “Kau tahu siapa dia sebenarnya?” “Dia… bekerja di saritem?” “Ya, tapi ada fakta yang lebih penting yang harus kau tahu, DIA KAKAK KANDUNGMU!” Dunia tiba-tiba bergoncang… “Ah mana mungkin!” “Saya ayahnya. Dulu saya menikah dengan ibumu, melahirkan Dyah. Saat itu saya sedang meneliti sebuah bukti sejarah yang bisa menghenyakkan banyak sekali ahli sejarah dan membuka tabir konspirasi yang sudah dibangun ribuan tahun lalu. Kami diteror sekelompok orang agar menghentikan penelitian kami, oh ya, ibumu seorang arkeolog, mungkin hal itu perlu kau tahu. Dia membantuku meneliti penemuan-penemuan hebat ini. Para Teroris itu tahu kami masih melanjutkan penelitian. Kami ditangkap, disiksa, dicuci otak. Ibumu tak bisa diselamatkan, dia dibuang ke Cianjur. Dan saya hampir dibunuh andai saja pemuda bernama Heaven tidak menyelamatkan saya. Bertahun-tahun saya mencari ibumu, dengan menyamar menjadi orang gila, dengan harapan bisa bertemu dengan komunitasnya. Hingga kita berdua bertemu, dan saat itu saya langsung tahu bahwa kamu adalah Niskala yang diceritakan Dyah dan seorang suster tua di sebuah
223

rumah sakit jiwa di Bogor pada saya.” Hanya itu yang terakhir saya dengar dari percakapan mereka. Saya keluar rumah lewat belakang untuk menghirup udara segar. Sepertinya, setidaknya, ada beberapa puzzle yang sudah terpasang di tempat yang tepat.

Tentang Gateuxlotjo, 2 Lelaki di Sebuah Taman, dan Chapter Fourteen yang hilang itu…
(Sebuah Draft Skenario Yang Belum Selesai) Oleh: Alvin Respati Chapter Fourteen (masih) Dalam Mesin Labirin Langit sepertinya masih hijau. Belum menunjukan kebijaksanaan apapun, bahkanpun seandainya beberapa bintang yang membentuk sebuah rasi mulai jelas terlihat. Dua lelaki itu masih duduk menunggui malam, masih di taman itu. Taman yang berbau dupa, tidak begitu menyengat, tapi cukup membuat bulu kuduk berdiri satu-persatu apabila dihirup dengan semua kegagalan fantasi yang menyeruak

224

menggambarkan wajah seram sundel bolong saat kau berumur 4-12 tahun.

Dua lelaki itu sedang menghitung berapa banyak keindahan yang terlewatkan sore itu bila mereka membicarakan beberapa tema sekaligus dalam hitungan kesepuluh. Misalnya ketika seorang gadis bersepatu kaca melewati tepat di depan hidung mereka sementara bau dupa terus menghantui fantasi mereka. Ada keindahan yang terlewatkan tentu. Atau ketika ada gadis lain melirik mereka dan mencoba duduk di kursi besi yang lain yang tak jauh dari kursi besi yang mereka duduki sekarang sementara suara mobil yang entah berapa puluh mengaum di kejauhan di jalan sebelah taman itu. Sementara mereka terus membicarakan teme-tema yang sejak tadi melingkupi obrolan mereka. Ada keindahan yang terlewatkan tentu. Atau ketika ada seorang anak kecil melemparkan batu pertamanya ke kolam yang tak jauh dari tempat duduk mereka dan ibunya tersenyum memperlihatkan sebuah kebanggaan yang tak dapat dilukiskan Basuki Abdullah sekalipun. Senyum yang menarik, seharusnya menarik kedua lelaki itu. Ada keindahan yang terlewatkan tentu. Ada memang banyak keindahan yang terlewatkan. Puluhan paragraf. Tapi tidak, ada keindahan lain yang mereka rasakan saat langit berubah dari hijau ke kelabu padat. Yang hanya dirasakan mereka berdua. Tidak dirasakan orang-orang yang sedang menikmati sore di taman itu. Hanya mereka berdua. Dua lelaki itu sebenarnya tidak pernah merindui malam, tidak seperti para kalong yang menggantung di sudut-sudut kolong jembatan dan dahan-dahan pohon. Tidak pernah merindui malam sama seperti tidak pernah merindui siang. Lelaki pertama berwajah lembut, kekanakan, kewanitaan. Seperti akan membiarkan orang menampar pipi kirinya apabila sebelumnya orang itu menampar pipi kanannya. Tidak akan membunuh seekor nyamukpun meski dia

225

hidup di musim kemarau dalam sebuah tempat penuh genangan air dan puluhan baju bergantungan di capstock dan lemari yang terbuka. Sepertinya dia rentan akan berbagai penyakit yang dekat dengannya. Berwajah arab campuran cina. Wajah yang jarang sekali ditemukan, wajah yang dipertemukan oleh dua kebudayaan yang amat berbeda, amat bertolak belakang. Dan sepertinya leluhurnya pernah bermasalah terhadap keluarga besarnya. Kakeknya diusir dari rumah karena menikahi seorang cina. Neneknya diusir dari rumah karena menikahi seorang arab. Ayahnya lahir dan menikahi seorang sunda-belanda saat beranjak dewasa. Cukup tampan kalau begitu. Lumayan tinggi dan tegap, tidak terlalu kurus meski sepertinya olahraga bukan kebiasaannya dari semenjak lahir hingga sekarang. Kulitnya berwarna macammacam, sepertinya seluruh warna siang, sore, malam dan pagi menempel sekaligus dan sabar di tubuhnya. Lelaki kedua berbadan kurus tapi tidak kering, cukup basah dalam beberapa hal, misalnya apabila dia menawarkan seorang gadis untuk bersetubuh dengannya dan menjilati seluruh tubuh gadis itu seperti induk kucing menjilati anaknya setubuhtubuh. Cukup basah saat merokok, sebab ujung rokok yang terselip di bibirnya memang tidak pernah kering, sepertinya dia tidak pernah berhenti menjilati rokoknya yang berasa sedikit manis itu seperti tidak akan pernah bisa menikmati rokok putih yang ujung filternya tidak berasa atau bahkan sedikit pahit. Wajahnya tirus, memendam tangis, sedikit merah apabila mendengar beberapa hal yang emosional, marah, sedih, tertawa, malu, gatal bahkan birahi. Wajahnya cukup menarik kalau begitu. Berwarna dua, merah dan putih oriental standar. Tangannya selalu mengepal seperti mempunyai wajah yang kuat dan berbadan gempal. Tangannya selalu mengepal seperti menandakan bahwa dia selalu siaga apabila ada orang yang tiba-tiba datang membawa segudang adrenalin dan menimpakan beberapa balok paving block ke muka, kepala dan tubuhnya. Tetapi lelaki itu berperilaku santai, hanya tangannya selalu mengepal, entah kenapa. 226

Seekor kucing bercorak putih kuning tiba-tiba mengeong dengan nyaring dengan mata menyorot langsung dan tajam ke mata lelaki pertama. Seolah akan memperingatkan tentang sesuatu padanya. Dan bukan saja seolah. Agak lama mereka terpaku terkesima hingga kucing itu pergi sambil menggerutu dengan eongan- eongan kecil hingga tak terlihat tertutup salah satu pohon di taman itu dan beberapa belukar tapi eongan nya masih terdengar. "Astaga! Aku benar-benar harus menjadi Sulaiman. Aku yakin sekali kucing itu ingin memberi tahu aku tentang apa yang sedang kupikirkan sekarang." Lelaki pertama berujar sambil memandang penuh rasa ingin tahu ke arah kucing itu menghilang. "Apakah yang kau pikirkan sekarang sama dengan yang kupikirkan sekarang?" lelaki kedua menanggapi sambil menatap tajam ke arah mata lelaki pertama. "Ya, aku pikir sama! Episode IV bukan?" "Episode IV! Si Brengsek itu benar-benar menggangguku dengan menghilangkan Chapter XIV." "Kau yakin dia menghilangkannya? Bukankah lebih mungkin dia memang tidak pernah membuatnya? Dia hanya ingin membuat sensasi atau membuat kita penasaran misalnya." "Aku yakin tidak sesederhana itu. Pasti ada sesuatu. Soalnya aku pikir dia tidak membuat hal baru dalam novel itu. Pasti ada alasan tertentu kenapa dia tidak mencantumkan Chapter XIV. Alasan yang cukup kuat." "Mungkin! Dia bisa saja mereka-reka alasan andai saja dia sekarang masih hidup. Ya, dia benar-benar menyengaja melakukan hal itu." "Aku juga melihat ada benang merah yang hilang antara Chapter XIII dengan chapter XV. Kau melihatnya?"
227

"Itulah, aku tidak melihat itu. Aku bisa mengatakan karya itu cukup utuh tanpa Chapter XIV. Dan atau dengan atau tanpa Chapter XIV pun karya itu tidak cukup utuh. Aku membacanya dengan subjektifitasku tentu!" "Aku merasa akan utuh dengan Chapter XIV. Lebih tidak cukup utuh tepatnya, tanpa Chapter XIV." "Dia memang sengaja tidak mengutuhkannya. Sepertinya hilangnya Chapter XIV sebagai sebuah simbol ketidakutuhan novel itu." "Kita harus melihat karya itu dari karakter si penulisnya. Apakah dia orang introvert atau obsesius atau apapun. Mungkin dengan hal itu kita akan mengetahui rahasia dibalik hilangnya Chapter XIV." "Energi kita masih dibutuhkan untuk hal yang lebih keren, kawan, ketimbang harus meneliti pribadi seseorang yang sudah mati. Sebaiknya malah, kenapa kita tidak menulis saja Chapter XIV versi kita. Bukankah akan lebih asyik?" "Wah, ide yang cukup lucu! Tapi sebaiknya bukan kita, tapi kita masing masing. Kau bikin versimu dengan semua subyetifitasmu. Akupun begitu. Tak usah terlalu serius, tapi mengalir saja. Nanti kalau sudah jadi kita compare dan lalu kita diskusikan." "Asyik juga ya kalau begitu! Kebetulan aku juga lagi tidak punya ide untuk bikin karya. Kenapa tidak bermain-main seperti itu. Ok deh, kapan kita mulai?" "Terserahlah, aku bisa saja memulainya sekarang. Kau bisa kapan saja." "Baiklah! Aku juga sepertinya akan mulai berkontemplasi dari sekarang. Tidak terlalu serius." "Ya, tidak usah terlalu serius."

228

CUT TO. 1. INT. SEBUAH KAMAR - MALAM. Camera Close Up. Wajah lelaki pertama yang sedang berkontemplasi. Camera Move. Bagian-bagian kamar. Tumpukan buku. Sebuah novel tergeletak di atas meja di depan lelaki pertama, terbuka. Sebuah halaman kosong antara chapter 13 dan chapter 15. Camera Pan. Background poster-poster iklan acara-acara kesenian dan sebuah poster Radiohead Besar. Kontemplasi lelaki pertama dengan bersila di depan meja. Sebuah kontemplasi yang mengobrak-abrik beberapa ingatannya tentang seberapa jauh Si Brengsek penulis novel itu akan merunut beberapa bagian yang hilang dalam novelnya. Atau memang beberapa bagian yang sengaja tidak ia buat. Penulis itu ia pikir telah sangat tidak bertanggung jawab terhadap karya yang sudah dia lemparkan ke publik. Dia melemparkannya begitu saja lantas setelah itu Penulis Brengsek itu meninggal dunia. Karya yang dia buat bukanlah kode-kode yang sudah dia mengerti. Tapi kode-kode pribadinya, meski dia sudah membuat pembelaan yang dia ungkap di Epilog Temporer Episode IV yang seolah-olah ditulis oleh If fiksinya. Benang merah… benang merah… ataupun benang yang berwarna-warni, hijau kuning, biru putih, kelabu, ungu, nila atau apapun. BLUR TO. Scene 1.2
229

EXT. LAPANGAN LUAS PUTIH - SIANG/MALAM Kita melihat seseorang (penulis novel Episode IV) sedang berjalan. Melemparlemparkan kertas. Menyobek-nyobek. Membakar. Hingga membakar dirinya sendiri. DISOLVE TO. Scene 1.3 ANIMASI. Benang merah yang bergerak-gerak hingga kusut dan berubah-ubah warna. Berakhir dengan warna putih terang. CUT TO. 2. INT. SEBUAH KAMAR - MALAM Lelaki kedua sepertinya sudah akan memulai menulis… Menulis entah tentang sesuatu yang mulai mengalir deras dalam benaknya. Menulis tentang orang-orang yang lain. Orang-orang yang peradabannya lebih tinggi. Orang-orang yang lebih tinggi tingkat manusianya. Orang-orang yang tidak bernama. Orang-orang yang hanya disimbolkan dengan inisial. Orangorang yang benar-benar baru. Orang-orang yang mengejutkan. Orang-orang dengan kebiasaan-kebiasaan absurd. Aku tak perlu benang merah. Untuk apa benang merah. Mengapa harus ada benang merah. Ini tidak serius. Ini hanyalah permainan. Permainan kata-kata. Permainan fantasi. Permainan fiksi. Permainan absurd! Camera Extreme Close Up. Wajah lelaki kedua. Urat-uratnya kelihatan. Camera Move To. Sebuah bolpen yang dipegang oleh tangan lelaki kedua terdiam diatas sebuah kertas.

230

DISOLVE TO. Scene 2.1. EXT. KEBUN BELAKANG RUMAH - SORE. Lelaki kedua sedang memainkan sebuah lagu ciptaannya. Wajahnya terlihat puas dan senang. CUT TO. Scene 2.2. INT. SEBUAH CAFÉ - SORE. Kita melihat orang-orang sedang riuh berbicara tentang segala macam hal. Dengan suara musik yang mengalun merdu. Camera Move To. (Long Shot to Medium Close Up) Sekelompok pemuda sedang serius berbicara. 6 laki-laki. 1 wanita. Dan ada seseorang yang sepertinya tidak terlibat dengan obrolan mereka sedang menulis sesuatu sambil memandang sekelompok pemuda itu. Jelas dia sedang menyimak di sebelah meja sekelompok pemuda itu. DISOLVE TO. 3. EXT. SEBUAH TAMAN - SORE. Lelaki pertama dan lelaki kedua sedang mengobrol di sebuah kursi berwarna mencolok menarik perhatian. LELAKI PERTAMA (menyalakan rokoknya sambil tergesa.) "Bagaimana, kau sudah selesai dengannya?"

LELAKI KEDUA (mengepalkan tangannya.) "Gila! Aku menemukan orang-orang lain. Orang-orang yang tak pernah diceritakan oleh si brengsek itu."
231

LELAKI PERTAMA "Maksudmu?" LELAKI KEDUA "Kau bacalah sendiri!" Lelaki kedua menyerahkan beberapa lembar kertas dan menyerahkannya ke lelaki pertama. Eongan kecil dari seekor kucing mengalun di udara yang semakin mendingin, memalam. Suara hawar-hawar mobil melintas-lintas seperti kapal terbang yang melintas di atas awan dan hanya terlihat lampunya saja yang berkelap-kelip. Sebuah pasangan manusia saling menggelayut mempresentasikan kerinduan purba di depan kedua lelaki itu. Lelaki pertama membaca lembar demi lembar Chapter XIV versi temannya itu. Serius, sesekali merenggut, sesekali tertawa. Lelaki kedua menunggu dengan urat nadi yang menggeletar dan tapi masih tetap kelihatan santai seperti pembawaannya yang biasa, seperti ketika dia menghadapi dua orang gadis cantik yang centil melintas dihadapannya dan terjatuh dengan telak akibat kecentilannya itu. Tetap dengan tangan mengepal, dengan ekspresi muka santai yang biasa. Selesai sudah! Suara air mengguyur dari sebuah ember yang tumpah oleh anak jalanan kecil yang disuruh ibunya untuk minum mereka sehari-hari seperti menggemuruh. Lelaki pertama memandang mata lelaki kedua. Sebuah pandangan misterius. Sebuah pandangan yang akan membuat kau melonjak ingin segera menerkamnya, mencabik-cabiknya agar kau segera tahu maksud dari pandangan itu. Lelaki kedua menunggu dengan denyut nadi yang semakin menderas, tak sabar, dengan beribu kemungkinan terjemahan dari pandangan mata temannya, dikepalanya. Tiba-tiba lelaki pertama tertawa tergelak. LELAKI PERTAMA (Sambil menunjuk-nunjuk lelaki kedua) "Kau memang gila! Hahaha…". 232

LELAKI KEDUA (Sebentar terhenyak, lantas ikut tertawa.) "Hihihi… entahlah. Itu mengalir begitu saja." (agak mendekat ke lelaki pertama, lantas meneruskan,) "Aku menemukan pola, pola berpikir si brengsek itu suatu malam. Saat aku sedang menolak mentah-mentah konsep benang merah yang kau ungkapkan sebelumnya. Kupikir, dia tak mungkin membuat runutan yang jelas tentang apa yang dia tulis. Jadi akhirnya aku tak berpikir lagi. Dia sangat terpengaruh kundera. ya, tapi dia bukan kundera. Dia membaca kundera dengan kasar, termasuk membaca essai kundera tentang novel trilogi the sleepwalkers-nya hermann broch dalam l'art du romance. Dia belum membaca broch. Dia tahu broch dari kundera. Lantas membuat berbagai poliponi absurd, memainkan komposisi, seperti para pemusik kontemporer. Kita berdua pernah membahas musik Radiohead dan Bjork kan? Nah, kurang lebih seperti mereka dalam versi sastra. Termasuk, kupikir, yang akan dia tulis di Chapter XIV. Chapter XIV haruslah yang paling absurd, dengan gaya menulis yang paling berbeda dari pola menulisnya sebelumnya. Akupun belum membaca broch. Aku juga tahu broch dari kundera. Hanya berupa review subjektif dari kundera. Tapi hal itu cukup memberi jawaban atas pertanyaanku tentang Chapter XIV. Maka aku berempati menjadi dia. Membayangkan apa yang akan ditulisnya untuk Chapter XIV apabila dia menginginkan Chapter itu ada. Yang aku lakukan berikutnya hanyalah menulis menggunakan kekuatan intuisiku dan beberapa analisaku atas pola berpikirnya. Kesimpulanku adalah, dia tak mungkin membuat sebuah runutan atas beberapa Chapter yang sudah dia tulis. Seperti yang kukatakan tadi, dia akan membuat Chapter XIV adalah chapter yang paling absurd dari yang pernah dia tulis sebelumnya. Seperti bila tiba-tiba Radiohead memainkan musik keroncong dengan komposisi musik digital dan permainan efek mereka yang khas. Kemungkinan lain dari tak di tulisnya Chapter XIV olehnya adalah ketidak selesaiannya membaca buku-buku referensi, mungkin karena dia cukup dengan pengalamannya yang sepertinya mengalahkan buku-buku, akhirnya dia ragu. Aku sangat yakin bahwa dia sudah berusaha keras mencari The Sleepwalkers, tapi tak ditemukannya hingga deadline menguasai tulisannya. Bahkan hingga dia meninggal dunia. Dia hanya perlu pembanding, kukira. Seperti aku sekarang. Tapi
233

kupikir cukup untuk takut pada hal itu sekarang. Aku hanya perlu memberanikan diri untuk menyelesaikan Chapter XIV dengan mengandalkan kekuatan intuisiku dan beberapa meditasi saat mengalami stuck. Sekarang aku hanya bisa pasrah, bersiap untuk kau serang."

LELAKI PERTAMA "Gila! Kau membuat seolah Si Brengsek itu tak berdaya andai dia masih hidup." LELAKI KEDUA "Sebentar, kawan! Tapi, kupikir, karya seperti yang kutulis ini sudah tidak baru lagi. Konsep seperti itu sudah pernah dibuat oleh banyak penulis." LELAKI PERTAMA "Aku tahu, aku tidak bilang ini baru. Tapi kau tidak usah pesimis. Memangnya apa sih yang masih baru? Radiohead dan Bjork pun tak baru. Seperti kau bilang, mereka hanya bereksperimen dengan komposisi. Semua hal sudah pernah terjadi. Kita hanyalah kutipan-kutipan. Menurutku gaya penulisanmu sangat OK!" FADE OUT. FADE IN. Scene 4.1. EXT. TAMAN YANG SAMA - BERGERAK PERLAHAN MENUJU MALAM LELAKI KEDUA "Tulisanmu sendiri bagaimana?" LELAKI PERTAMA (Mendengar pertanyaan lelaki kedua itu, lelaki pertama langsung merenggut. Air mukanya berubah. Dia mendesah sebentar sambil menyenderkan tubuhnya ke kursi.) "Mh… Aku sebenarnya mulai frustasi…"

234

Lelaki kedua melirikan mukanya dengan nada "kenapa?" LELAKI PETAMA (OS) "Aku terjebak dalam labirin yang kubuat sendiri." LELAKI KEDUA "Labirin?" LELAKI PERTAMA "Ya, labirin. Aku mulai bermain dadu dalam labirinku sendiri. Dan aku tahu, hal itu nggak bagus buat kulit. Hihihi…" Lelaki pertama tersenyum miris untuk leluconnya sendiri. Lantas meneruskan. "Aku butuh bantuanmu. Aku butuh kau untuk merangkai labirin yang menyesatkanku ini. Aku butuh bantuan kau untuk melempar dadu. Kebetulan kau sudah selesai dengan hal ini, aku harap kau masih punya energi yang bisa ditransformasikan padaku. Minimal sisa-sisanya, pls!" CUT TO. 5. INT. SEBUAH KAMAR - MALAM. Kedua lelaki itu membayangkan tokoh-tokoh dalam novel itu hidup (Secara real. Secara virtual. Atau apa sajalah). Sebab pengarangnya sudah mati, terkubur di sebuah pekuburan multi religius di sebuah kota kecil. Kedua lelaki itu terhenyak! Camera move to. Sebuah kertas dipegang sebuah tangan dengan tulisan yang ditulis oleh mereka. DISOLVE TO. Scene 4.1. EXT/INT. SEBUAH POTONGAN2 KLIP. Sebuah rangkaian kejadian dan klip-klip yang menyimbolkan tentang
235

pertentangan paradigma. Kotradiktif. Dilema. Diisi juga dengan beberapa Video Art. LELAKI PERTAMA (OS) Pertama; terjadi polemik tak diduga antara tokoh-tokoh dalam novel itu. Polemik luar biasa hebat Chaos! LELAKI KEDUA (OS) Kedua; ada protes terlontar dari salah seorang tokoh yang merasa hanya jadi figuran di novel itu. Si Pengarang pernah berkata bahwa dia tidak suka dengan pengklasifikasian tokoh. Nyatanya dia hanya jadi peran pembantu bahkan figuran. Paradoks! LELAKI PERTAMA DAN KEDUA BERGANTIAN (OS) Ketiga; ada protes juga dari tokoh lain yang merasa tidak mempunyai ending dalam kisahnya. Dia menginginkan ending apapun untuk dirinya. Dia merasa sangat menggantung, seperti menggantung antara langit dan bumi. Seperti ketika Venus dihukum Apollo. Schrodinger! Pada titik ini mereka mulai terjebak dalam labirin berikutnya. Tersesat. Padahal labirin sebelumnya pun belum berhasil mereka pecahkan. Rumit! FADE TO BLACK. FADE IN. 1. EXT. TAMAN YANG SAMA(BLACK/WHITE) - SORE. BLUR TO. Scene 6.1. EXT. TAMAN YANG SAMA - SORE. Kedua lelaki itu terkaget dengan kedatangan Gateauxlotjo yang mendadak. Lantas keduanya berdiri dan menyalami Gateauxlotjo dengan hangat. Baik tokoh-tokoh yang masih hidup ataupun tokoh yang digambarkan sudah mati.

236

LELAKI PERTAMA "Kau Sulaiman?" GATEAUXLOTJO “Bukan aku Gateauxlotjo.” LELAKI KEDUA "Gateauxlotjo? Oh, hai, kami pikir Sulaiman. Kami memang sedang menunggunya akhir-akhir ini" GATEAUXLOTJO “Oh, ya? Mengapa?” LELAKI PERTAMA “Nanti lah kami ceritakan. Ngomong-ngomong ada apa nih? Tumben!” GATEAUXLOTJO "Oh, ya ada kabar baru buat kalian. Mengenai Chapter XIV yang hilang itu. Seminggu yang lalu aku datang ke rumahnya. Aku meminta pada keluarganya untuk membuka-buka arsipnya. Aku menjelaskan pada mereka bahwa betapa pentingnya bila Chapter XIV ditemukan. Minimal draft atau catatan-catatan kecilnya." LELAKI PERTAMA "Lantas?" GATEAUXLOTJO "Mereka mengijinkan. Mereka juga tidak tahu menahu tentang hal itu. Katanya dia sangat tertutup untuk novelnya. Bahkan pada mereka, keluarganya, sekalipun. "Lalu aku mencoba memulainya dengan memeriksa file-file dalam komputernya. Aku tak menemukan apa-apa. Sepertinya dia sudah menghapus semua file-nya sebelum kecelakaan itu terjadi. "Lalu aku mulai memeriksa arsip-arsip di lacinya. Aku menemukan beberapa cerpen dan puisi yang masih tulisan tangan. Hingga akhirnya aku terkaget ketika
237

menemukan sebuah tulisan yang masih banyak coretan dalam selembar kertas. Ya, Tuhan! Aku sangat yakin betul kalau tulisan itu asalnya direncanakan untuk menjadi Chapter XIV. Aku menemukan sesuatu yang selama ini masih kabur di novel itu." Kedua lelaki itu terhenyak dan sedikit tak bisa bernafas. CUT TO. Scene 6.3. INT. KAMAR LELAKI PERTAMA - MALAM. Kedua lelaki itu bersama Gateauxlotjo di sebuah kamar sedang mempelajari tulisan diatas selembar kertas A4 itu. Serius! INSERT. Sebuah tulisan berbunyi: “Sepertinya aku akan memulainya dari Termina. Pada saatnya nanti aku akan memaksakan Termina untuk menjadi kakak kandungnya si misterius Truly. Agar semakin berbelit. Karna, misalnya pernah berpacaran dengan Truly. Ketika datang ke rumah Truly, disanalah Karna bertemu dengan Termina. Saat itu Termina sedang bermasalah dengan Cerio. Berawal dari sebuah obrolan ringan berlanjut menjadi sebuah pengkhianatan yang amat rapi. Hingga akhirnya Truly tahu. Lantas setelah itu Truly mati entah bagaimana. Keluarganya merahasiakannya dan langsung menguburkannya. Hal ini menyebabkan terciptanya sebuah labirin misterius dan akan menjadi sebuah novel misteri yang terpisah berjudul: “Misteri Dadu Yang Hilang Dalam Labirinnya Sendiri.” Semacam dipaksakan menjadi sebentuk segitiga setan. Kejadian itu bisa mungkin menjadi penyebab utama pertengkaran hebat antara Karna dengan Termina seperti pada Chapter XV. Harus dipaksakan seperti ini untuk menggambarkan kompleksitas permasalahan dalam hidup seorang rockstar.” LELAKI PERTAMA “Sialan, dugaanku benar. Kontemplasiku tak sia-sia. Si Brengsek itu pasti

238

membutuhkan benang merah. Tepat seperti yang kita tulis, Kawan! (Melirik ke arah lelaki kedua) Dan benar juga seperti kataku bahwa tulisanmu membuat Si Brengsek itu tak berdaya. Hahaha… GATEAUXLOTJO “Memangnya kalian menulis apa?” LELAKI KEDUA "Kau tahu, sebenarnya kami berdua sudah membuat Chapter XIV versi kami berdua bahkan hingga tersesat-sesat dalam labirin yang kami buat sendiri. Sebab kami memang merasa sangat terganggu dengan hilangnya Chapter ini." LELAKI PERTAMA (menambahkan, sambil menunjuk lelaki kedua) “Dan sebelumnya dia menulis sendiri Chapter XIV versinya. Dan sangat Kundera bahkan mungkin Borges. Cool!” LELAKI KEDUA “Tapi dugaanku meleset. Kupikir si Brengsek itu tidak akan memperdulikan benang merah. Kupikir dia seorang Borgesian. Ah, tapi mungkin dia membaca Borges dari sudut yang lain. Sepertinya dia lebih condong ke Kundera. Meski tidak se-literer mereka, dia cukup sanggup mengimbangi keduanya. Tapi kupikir pantas saja Borges bisa sehebat itu sebab dari kecil dia sudah diwarisi sebuah perpustakaan besar oleh kakeknya. Menyebalkan! Membuatiku iri. Eh, sorry jadi ngelantur! Ya… ya… Si Brengsek itu mampu bikin karya se-absurd itu hanya dengan referensi dan literatur seadanya. Itu yang membuatku salut padanya.” GATEAUXLOTJO (tertegun. Lama. Hingga seperti tiba-tiba ada lampu menyala di kepalanya.) Insert: Lampu kota yang menyala secara serentak. "Ah, aku punya rencana hebat, kalau begitu. Bagaimana kalau Chapter XIV versi kalian ini digabung dengan temuanku kita terbitkan terbatas untuk orang-orang
239

yang mempunyai ketertarikan sama seperti kita. Kita beri judul yang sama seperti yang dia rencanakan, kalau memang isinya mirip." FADE TO BLACK.

Para Plagiat Jenius
Oleh: Melvin Ayodya Coba perhatikan ketiga fiksi yang saling memplagiat satu sama lain ini; 1. Kurasa baru kali ini mengatakan bahwa aku masih hidup. Berawal dari kokok ayam jantan yang terdengar aneh di sore hari. Suara mobil dan klakson meraungraung ditimpa suara-suara burung yang mengaum. Aku sebenarnya tak mengindahkan itu semua. Pikiranku hanya tertuju pada sebuah nama: Kelam! Kelam adalah – kelak aku menamainya cukup dengan satu kata ini – gelap total! Kelam dari sebuah kemampatan berpikir, akankah kulanjutkan hidup ini? Akankah aku akan menemui esok pagi seperti aku menemui pagi ini dengan mata

240

terbuka dan bersujud penuh di hadapan matahari yang begitu hangat mnyelinap kedalam setiap inchi pori di sekujur tubuhku? Hidup seperti yang kutahu dan selama ini kujalani adalah derita... derita... derita... Tapi benarkah hanya derita yang selama ini kukenal? Atau itu mungkin hanyalah sebuah pengalihan perhatian dari ketidak mampuanku menghadapi hidup yang sebenarnya..., aku tidak menderita! Terus-menerus aku mengulang kata itu, aku tidak menderita! Kelam ini kupelihara seperti kura-kura yang tidak mengetahui apapun yang ada diatas tempurungnya. Lumut atau debu atau bangkai ikan kecil? Kura-kura itu terus membawa-bawa rumahnya kemanapun dia pergi berenang. Dia tidak pernah benar-benar mengenal tempurungnya. Seperti aku? Ya..., aku tidak mengenal hidup seperti halnya aku tidak tahu sama sekali tentang mati, semuanya kelam! Kelam ini kuhadiahkan pada Tuhan sebagai persembahan tambahan dari persembahan-persembahanku sebelumnya. Aku mengalah pada Tuhan dalam hal ini. Padahal sebelumnya – sumpah! – aku tidak pernah mau mengalah pada Tuhan. Biasanya aku menepiskan kata Tuhan seperti seekor kutu buku yang begitu saja menelan kata itu di lembaran-lembaran kertas dalam buku-buku tebal bernama Kitab Suci. Ah, tapi benar-benar kelam, kelam sekali! 2. Kurasa baru kali ini mengatakan bahwa aku masih hidup, padahal sebenarnya aku tidak tahu seperti apa kematian itu. Seorang temanku pernah berkata bahwa apabila hidup itu berbau pasir panas terguyur hujan maka kematian berbau pasir lembab terpanggang matahari. Berawal dari suara kuku yang menggurat-gurat kaca jendela yang terdengar aneh di sore hari. Dilanjutkan oleh suara mesin tik yang meraung-raung ditimpa suara-suara hentakan dari kaki seorang sufi yang mengaum. Aku sebenarnya tak mengindahkan itu semua sebab apa peduliku bila itu semua hanyalah masuk kedalam telingaku dan bukannya keluar dari mulutku. Keanehan ini kupelihara seperti jamur yang menyerang kulit coklat terbakar panas matahari. Menutupi bagian-bagian dari hidupku yang tidak seorangpun mampu menebak bahkan bagian terluarnya sekalipun. Padahal seperti sudah
241

kubilang tadi bahwa aku tidak mengenal hidup seperti halnya aku tidak tahu sama sekali tentang mati, semuanya gelap total! Hal ini kuhadiahkan pada Tuhan sebagai persembahan tambahan dari persembahan-persembahanku sebelumnya. Aku mengalah pada Tuhan dalam hal ini. Tapi terus terang, saat ini adalah momentum paling aneh dalam hidupku. Apalagi bila aku menggunakan momentum ini sebagai pijakan untuk memulai hidup baruku yang baru saja kupertanyakan. 3. Kurasa baru kali ini mengatakan bahwa aku masih hidup. Berawal dari kokok ayam jantan yang terdengar aneh di sore hari. Suara mobil dan klakson meraungraung ditimpa suara-suara burung yang mengaum. Aku sebenarnya tak mengindahkan itu semua. Pikiranku hanya tertuju pada sebuah nama: Kelam! Kelam dari sebuah kemampatan berpikir, akankah kulanjutkan hidup ini? Ya, harus kulanjutkan sebab tiada hidup yang pernah kujalani selain derita... derita... derita... Atau itu mungkin hanyalah sebuah pengalihan perhatian dari ketidak mampuanku menghadapi hidup yang sebenarnya..., aku tidak menderita! Kelam ini kupelihara seperti jamur yang menyerang kulit coklat terbakar panas matahari. menutupi seluruh gelap hidupku. Ya..., aku tidak mengenal hidup seperti halnya aku tidak tahu sama sekali tentang mati, semuanya kelam! Kelam dalam kenyataan sekarang adalah tidak adanya bintang atau bulan sebab masih sore. Tiada matahari sebab awan-awan gelap menyelubungi sore dan hanya lampu-lampu jalan yang meremang menjadi sedikit penerang. Kulihat jam tanganku, 16.30. Kelam ini kuhadiahkan pada Tuhan sebagai persembahan tambahan dari persembahan-persembahanku sebelumnya. Aku mengalah pada Tuhan dalam hal ini. Tapi benar-benar kelam, kelam sekali! Ketiga penulis fiksi itu memang menyengaja untuk saling memplagiat dan mencoba untuk saling menonjol dengan memberikan penekanan pada wilayahwilayah yang berbeda untuk menampilkan image yang berbeda satu sama lain. Sebenarnya ketiga penulis itu tidak saling mengenal satu sama lain sebelumnya. Mereka hanya pernah bertemu di Cybersastra dalam kolom forum diskusi. 242

Penulis pertama menampilkan plagiasi pertamanya dengan mengambil salah satu bagian dari novel Episode IV tanpa sedikitpun merubah kata-katanya dan mengkalim bahwa itu adalah karyanya. Penulis kedua merespon dengan plagiasi yang sudah memberikan perubahanperubahan pada beberapa bagian. Dan penulis ketiga melakukan hal yang sama seperti penulis kedua. Mereka semua sudah membaca novel itu. Episode IV. Fiksi inilah yang pada awalnya mempertemukan mereka. Kali ini aku akan menamai kedua lelaki yang sebelumnya hanya berinisial lelaki pertama dan lelaki kedua di sebuah taman itu dengan nama-nama aslinya. Seperti yang sudah kau ketahui, penulis pertama bernama Gateauxlotjo. Penulis kedua (lelaki pertama) bernama Alvin Respati dan penulis ketiga (lelaki kedua) bernama Melvin Ayodya, saya sendiri. Pertanyaan yang kemudian muncul dalam benak saya adalah, apa benar mereka (kami) saling memplagiat? Bisa jadi hanya saling mensimulasi. Atau imitasi atas satu sama lain. Alvin bahkan merombak sebuah bagian dalam novel Episode IV: Sepuluh pas. I’ve just want to be this over, so get your knees up. Kekalauan kembali memeras solar plexus-ku saat sebuah kaset yang ditemukan oleh seorang spg di sebuah meja kosong itu kembali ku-rewind dan kuputar… “Ibuku seorang gila yang katanya diperkosa 5 orang anak-anak berandal yang sedang mabuk. Katanya lagi, ibuku menikmatinya! Berarti ayahku 5 orang. Kedengarannya lucu memang tapi padahal memang sangat lucu! Aku dibesarkan di rumah sakit jiwa hingga berumur 5 tahun. Karena susu ibu adalah segalanya dan ibuku, meskipun gila, masih sanggup memelihara seorang anak seperti naluri singa betina yang ingin memelihara dan melindungi anaknya.” Wanita spg itu mengeluh tak bisa tidur saat setiap kali memutar kaset ini…
243

“Kami dipisahkan dengan paksa, dengan air mata hingga menyebabkan ibuku bertambah gila, mengamuk, mencederai 5 orang perawat dan lalu ibuku bunuh diri. Saat itu aku menganggapnya sebagai sebuah film kartun yang nyata. Aku tertawa! Selebihnya aku hidup dalam sebuah panti asuhan yang sudah tak sanggup lagi mengurus kenakalanku.” Itulah mengapa dia memberikan kaset itu padaku. Itulah mengapa kaset itu ada padaku. Itulah mengapa aku sering me-rewind dan memutarnya. Itulah mengapa solar plexus-ku sering terjeramah oleh kegalauan. Dan, itulah mengapa aku harus membuang kaset ini… “Pada umur 6 tahun, sebuah keluarga kaya mengadopsiku dengan alasan aku anak lelaki yang sangat tampan dan lucu. Meski mereka mempunyai anak, tapi perempuan semua. Meski mereka masih sanggup membuat anak-anak baru, tapi mereka tetap mengadopsiku dengan alasan sama, aku anak lelaki tampan! Ya..., tampan, bahkan sangat tampan untuk menjadi seorang gigolo. Ayah angkatku pergi kerja tiap pagi sekali dan pulang seminggu kemudian, malam sekali. Saudara angkatku wanita semua dan yang lahir kemudianpun wanita juga. Ibu angkatku memperkosaku setiap malam semenjak aku menginjak remaja. Hingga aku sadar bahwa alasan satu-satunya adalah kemaluanku cukup besar untuk ukuran orang sini. Saudara angkatku secara bergiliran mengikuti kelakuan ibunya. Hingga aku ketagihan dan kuperkosa adik angkatku yang sedang beranjak remaja. Cukup!” Sepuluh lebih satu. I’ve just want to be this over, so get your knees up. Temanku Marsha, sering meneriakkan ‘bunuh dan penggal kemaluan pengidap pedophilia’ pada setiap waria yang sedang bertugas di lalu lintas. Dan dari setiap waria yang dia teriakkan ‘bunuh dan penggal kemaluan pengidap pedophilia’ itu, enam puluh lima persen marah dan memukul dada Marsha tapi kemudian menciumnya, tiga puluh persen waria lainnya tersenyum dan memeluknya, tapi kemudian malah menyuruh-ancam Marsha untuk mencopot semua pakaiannya, dan lima persen sisanya kabur saat teriakkan itu termuntahkan di wajah mereka. ‘bunuh dan penggal kemaluan pengidap pedophilia’. “Aku seorang biseksual. Ayah angkatku sudah mengajariku sejak dulu, dia 244

seorang pengidap pedophilia. Sekarang kelam menyeruak dalam benakku. Tapi lengkap sudah, ayahku enam; lima pemabuk dan pemerkosa, satu pengidap penyakit aneh. Ibuku dua; satu seorang gila, karena perceraian dan bunuh diri dengan alasan Singa Betina! satu seorang maniak seks.” Sebenarnya, peristiwa akibat teriakkan ‘bunuh dan penggal kemaluan pengidap pedophilia’ itu takkan pernah ada kalau saja Marsha tidak menerima kiriman paket gelap yang disangkanya adalah kokain tapi ternyata hanya sebuah kaset. Kaset itu masih misterius identitasnya. Bahkan sampai ditanganku. Dan aku sering memutarnya… “Saudaraku banyak; orang-orang gila, pemabuk, maniak seks dan anak dari ibuku yang pertama sebelum gila; seorang wanita yang sekarang serumah denganku, bermain seks denganku dan dia juga seorang pelacur. Aku sekarang sudah beranjak dewasa. Beberapa tahun yang lalu aku diusir ayah angkatku sebab ketahuan sedang bercinta dengan istrinya. Aku bertemu kakak kandungku. Sebelumnya kami berpacaran dan bercinta setiap hari. Hingga beberapa hari yang lalu seseorang mengatakan bahwa kami mempunyai wajah yang mirip. Orang itu yang memberitahu kami bahwa kami kakak beradik. Orang itu adalah ayahnya. Bukan ayahku sebab ayahku lima sedang ayahnya satu, tapi ibu kami sama.” Suatu saat, Marsha pernah meminta kembali kaset itu. Katanya ada seseorang yang juga mengenali kaset itu dan menginginkan kaset itu kembali berapa pun bayarannya. Tapi sayangnya, aku takkan pernah memberikan kaset itu kepada siapa pun, berapa pun dia mau bayar, karena sekarang -aku terlanjur mencintai suara dari kaset itu- kaset itu hilang. Itulah yang terjadi, peristiwa kehilangan yang sempat membuatku ingin mati saja. Dan sampai sekarangpun desahan cerita dari suara itu masih tersimpan dalam ingatanku… “Keringanan kakiku melangkah seiring loncatnya keanggunan seekor keringat malam yang mengandung peradaban. Terkenang bagaikan kicau jalak-jalak yang terapung memecah liuk gelombang samudera. Ha...ha...ha...” Ha...ha...ha...
245

Dan lihat apa yang dilakukan Gateauxlotjo dan bersama Niskala atas Karya Borges yang satu ini: Borges dan Mereka Fakta-Fiksi 1: 1. Penemuan Naskah Tua karangan Borges berjudul Borges dan Aku di sebuah perpustakaan tua peninggalan Belanda di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat dalam huruf Wingdings. 2. Ditranskrip oleh Gateauxlotjo ke dalam huruf latin 3. Kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dibantu Niskala Ruhlelana berjudul Borges dan Diri Saya. 4. Karya terjemahan Hasif Amini pernah dimuat dalam Newsletter Ajaib, Yogyakarta, pada tahun 2001, dengan tambahan sebuah surat dari Baskoro Budhi Darmawan. Fakta-Fiksi 2: 1. Penemuan karya yang mirip di internet berbahasa Spanyol karangan Jorge Luis Borges berjudul Borges y yo 2. Dan terjemahannya dalam Bahasa Inggris oleh Alastair Reid berjudul Borges and I 3. Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dari versi berbahasa Inggris oleh Ariyantri berjudul Borges dan Aku. Dimuat pada Majalah Hill, Bandung, Edisi Pertama. Fakta Tambahan: 1. Terjemahan Versi lain dari karya Borges diterbitkan oleh LKiS 1999 dalam sebuah buku kumpulan fiksi berjudul Labirin Impian oleh Jorge Luis Borges, diterjemahkan oleh Hasif Amini berjudul Borges dan Aku 2. Diterjemahkan berdasarkan tiga versi masing-masing: Borges and I, Norman 246

Thomas Di Giovanni dalam Borges A Reader. Borges and I, Alastair Reid dalam jurnal Antaeus (1994) dan Borges and Myself, Norman Thomas Di Giovanni & Jorge Luis Borges dalam The Aleph and Other Stories. Berikut ini adalah versi terjemahan Gateauxlotjo dan Niskala Ruhlelana: Borges dan Diri Saya Ada dia yang lain yang saya namakan Borges mengalami semua kejadian itu. Saya berjalan-jalan di beberapa bilangan di Buenos Aires lalu berhenti beberapa kejap mata hingga terbiasa untuk melihat jeruji besi pada gerbang masuk; saya mengenal Borges dari surat-suratnya, dan namanya tercantum dalam daftar profesor atau dalam ensiklopedi tokoh. Saya suka melihat pasir-pasir lembut dalam kaca menjadi penanda waktu, peta, bentuk-bentuk huruf pada abad 18, aroma kopi, dan karya Stevenson; dia berbagi kesukaan itu dengan saya, tapi dia terlalu hiperbolik dalam berkata-kata sehingga kesukaan itu menjadi seperti kebohongan belaka. Akan menjadi berlebih kalau dibilang kami bertentangan satu sama lain; saya hidup, dan dengan ikhlas tetap hidup, maka dari itu Borges masih bisa dan terus menulis, dan karyanya itulah penyebab keberadaan saya. Tidak begitu susah untuk saya menerima kenyataan bahwa dia telah mencapai puncak pada karya-karyanya, tapi saya tidak lantas diselamatkan oleh karya itu, bisa jadi karena sesuatu yang benar tidak dimiliki siapa-siapa, bahkan dia sendiri pun tidak, akan tetapi oleh tradisi dan bahasa. Dan lagipula saya sudah pasti hancur dan hilang, dan hanya sebagian dari diri saya yang bisa tetap bersisa pada saat ini. Lambat laun, saya memberikan segala-galanya pada dia, meskipun saya harus cukup berhati-hati dengan sikapnya yang absurd ketika menjadi terlalu hiperbolik dan semakin keliru dalam memandang sebuah masalah. Spinoza sudah tahu sejak awal bahwa apapun akan serius mempertahankan adanya dalam keberadaannya dalam waktu yang lama; batu akan tetap batu dan macan-macan loreng. Saya akan terus berada dalam Borges, bukan dalam diri saya (kalau memang saya adalah seseorang), tapi saya cukup mengenal diri saya melalui beberapa karyanya, apalagi dalam petikan gitar yang sinting atau bukubuku yang lain. Dulu sekali saya pernah mencoba keluar dan lari darinya, dari
247

mulai legenda kota-kota pinggiran, bermain-main dengan waktu, hingga ketakhinggaan ruang semesta. Tapi semua permainan ini sekarang kepunyaan Borges dan saya mau tidak mau harus memikirkan hal-hal lainnya. Itulah kenapa hidup saya adalah sebuah petualangan dan saya kehilangan semuanya dan semua itu dipunyai oleh alam bawah sadar, atau olehnya. Saya benar-benar tak tahu lagi siapa diantara kami berdua yang sudah menggoreskan tinta pada halaman ini. Saya juga sudah tidak tahu lagi siapa diantara mereka semua yang benar-benar menulis kisah ini.

Tentang Ditemukannya Dua Mayat Lelaki Di Sebuah Taman
Oleh: Gateauxlotjo Kalau Kau Membaca Berita Tentang Ditemukannya Dua Mayat Lelaki Yang Tercincang Di Sebuah Taman (maka harus kau baca kisah ini dari awal!) Langit sepertinya masih hijau. Belum menunjukan kebijaksanaan apapun, bahkanpun seandainya beberapa bintang yang membentuk sebuah rasi mulai jelas terlihat. Dua lelaki itu masih duduk menunggui malam, masih di taman itu. Taman yang berbau dupa, tidak begitu menyengat, tapi cukup membuat bulu kuduk berdiri satu-persatu apabila dihirup dengan semua kegagalan fantasi yang menyeruak menggambarkan wajah seram Sundel Bolong saat kau berumur 4-12 tahun. Dua lelaki itu sedang menghitung berapa banyak keindahan yang terlewatkan sore

248

itu bila mereka membicarakan beberapa tema sekaligus dalam hitungan kesepuluh. Misalnya ketika seorang gadis bersepatu kaca berjalan tepat di depan hidung sementara bau dupa terus menghantui fantasi mereka. Ada keindahan yang terlewatkan tentu. Atau ketika ada gadis lain melirik mereka dan mencoba duduk di kursi besi yang lain yang tak jauh dari kursi besi yang mereka duduki sekarang sementara suara mobil yang entah berapa puluh mengaum di kejauhan di jalan sebelah taman itu. Sementara mereka terus membicarakan tema-tema yang sejak tadi melingkupi obrolan mereka. Ada keindahan yang terlewatkan tentu. Atau ketika ada seorang anak kecil melemparkan batu pertamanya ke kolam yang tak jauh dari tempat duduk mereka dan ibunya tersenyum memperlihatkan sebuah kebanggaan yang tak dapat dilukiskan pelukis naturalis rajin setelah menghisap satu gram metamphetamine sekalipun. Senyum yang menarik, seharusnya menarik kedua lelaki itu. Tapi tidak. Ada keindahan yang terlewatkan tentu. Ada memang banyak keindahan yang terlewatkan. Puluhan paragraf. Tapi tidak, ada keindahan lain yang mereka rasakan saat langit berubah dari hijau ke kelabu padat. Yang hanya dirasakan mereka berdua. Tidak dirasakan orang-orang yang sedang menikmati sore di taman itu. Hanya mereka berdua. Dua lelaki itu sebenarnya tidak pernah merindui malam, tidak seperti para kampret yang menggantung di sudut-sudut kolong jembatan dan dahan-dahan pohon. Tidak pernah merindui malam sama seperti tidak pernah merindui siang. Lelaki pertama berbadan kurus tapi tidak kering, cukup basah dalam beberapa hal, misalnya apabila dia menawarkan seorang gadis untuk bersetubuh dengannya dan menjilati seluruh tubuh gadis itu seperti induk kucing menjilati anaknya setubuhtubuh. Cukup basah saat merokok, sebab ujung rokok yang terselip di bibirnya memang tidak pernah kering, sepertinya dia tidak pernah berhenti menjilati rokoknya yang berasa sedikit manis itu seperti tidak akan pernah bisa menikmati rokok putih yang ujung filternya tidak berasa atau bahkan sedikit pahit. Wajahnya tirus, memendam tangis, sedikit merah apabila mendengar beberapa hal yang emosional, marah, sedih, tertawa, malu, gatal bahkan birahi. Wajahnya cukup menarik kalau begitu, berwarna dua, merah dan putih oriental standar. Tangannya selalu mengepal seperti mempunyai wajah yang kuat dan berbadan gempal. Tangannya selalu mengepal seperti menandakan bahwa dia selalu siaga apabila ada orang yang tiba-tiba datang membawa segudang adrenalin dan
249

menimpakan beberapa balok paving block ke muka, kepala dan tubuhnya. Tetapi lelaki itu berperilaku santai, hanya tangannya selalu mengepal, entah kenapa. Dia, seperti juga yang sering ia katakan, adalah keindahan yang terbunuh oleh takdir. Dengan kata-kata itu ia membesarkan diri. Lelaki kedua berwajah lembut, kekanakan, kewanitaan. Seperti akan membiarkan orang menampar pipi kirinya apabila sebelumnya orang itu menampar pipi kanannya. Tidak akan membunuh seekor nyamukpun meski dia hidup di musim kemarau dalam sebuah tempat penuh genangan air dan puluhan baju bergantungan di capstock dan lemari yang terbuka. Sepertinya dia rentan akan berbagai penyakit yang dekat dengannya. Berwajah Arab campuran Cina. Wajah yang jarang sekali ditemukan, wajah yang dipertemukan oleh dua kebudayaan yang amat berbeda, amat bertolak belakang. Dan sepertinya leluhurnya pernah bermasalah terhadap keluarga besarnya. Kakeknya diusir dari rumah karena menikahi seorang Cina. Neneknya diusir dari rumah karena menikahi seorang Arab. Ayahnya lahir dan menikahi seorang sunda-belanda saat beranjak dewasa. Cukup tampan kalau begitu. Lumayan tinggi dan tegap, tidak terlalu kurus meski sepertinya olahraga bukan kebiasaannya dari semenjak lahir hingga sekarang. Kulitnya berwarna macammacam, sepertinya seluruh warna siang, sore, malam dan pagi menempel sekaligus dan sabar di tubuhnya. Dia, seperti juga yang sering ia katakan, adalah takdir yang indah. Dengan katakata itu ia membesarkan hati. Taman yang mereka duduki sebenarnya taman yang sudah lama mati, tak pernah lagi dikunjungi, hanya dihuni beberapa gelandangan dan menjadi tempat nongkrong anak-anak Punk yang mencoba meninggalkan rumah lantas setelah benar-benar kelaparan mereka baru pulang lagi ke pangkuan orang tua mereka. Taman itu mulai menjadi hidup kembali setelah beberapa demonstran lingkungan hidup dari sebuah LSM pencari perhatian menekan pemerintah kota untuk merenovasi fasilitas-fasilitas taman itu, seperti misalnya WC umum, kursi-kursi, tempat bermain anak-anak, air mancur dan kolam-kolam yang sudah menyerupai bekas peternakan babi. Sebuah gedung kembar simbol hegemoni ekonomi meledak beberapa saat setelah kejadian di bawah ini. 250

Seekor kucing bercorak putih kuning tiba-tiba mengeong dengan nyaring dengan mata menyorot langsung dan tajam ke mata lelaki pertama. Seolah akan memperingatkan tentang sesuatu padanya, dan bukan saja seolah. Agak lama mereka terpaku terkesima hingga kucing itu pergi sambil menggerutu dengan eongan-eongan kecil hingga tak terlihat, tertutup salah satu pohon di taman itu dan beberapa belukar akan tapi eongan nya masih terdengar. Lelaki pertama tersontak kaget, melirik ke arah lelaki kedua yang juga memandanginya dengan nada pertanyaan yang sama dalam air mukanya. Sebuah pertanda! lelaki pertama menyentakan suaranya tepat di ujung pusaran pikiran lelaki kedua. Aku tahu, tapi pertanda apa, aku tak tahu. Runutannya terlalu cepat. Menurutmu? lelaki kedua mencoba mengurai pertanyaan-pertanyaan yang terlontar secara diam dari lelaki pertama. Kupikir alangkah sebaiknya kita menjadi Sulaiman dahulu sebelum menerkanerka apa yang ingin disampaikan kucing itu pada kita. Kenapa harus Sulaiman! Bukankah setiap manusia bisa menerjemahkan bahasa buana seperti itu? Buktinya kita tidak bisa! Apa kau pikir bisa semudah itu menerjemahkan bahasa buana? Meditasi, Kawan! Coba kita sedikit bermeditasi dan menyatukan energi kita berdua. Seperti yang pernah kita lakukan waktu itu saat kita berdua sering dikunjungi hantu-hantu berkerudung. Bukankah saat itu akhirnya kita berdua dapat berkomunikasi dengan mereka? Ah, ya… Kalau begitu, ayo! Lelaki pertama meraih tangan lembut lelaki kedua. Mereka berpegangan erat, saling menyilang. Kanan dengan kanan. Kiri dengan kiri. (Alasan kenapa menyilang adalah agar tidak ada perebutan energi. Sebab tangan kanan bermuatan positif dan apabila bertemu tangan kanan lagi akan terjadi penolakan sehingga energi akan tetap berputar di tubuh masing-masing. Pada saat seperti itu mereka menggunakan kesempatan untuk menyedot energi dari semesta. Berkomunikasi dengan semesta.) Malam semakin larut. Orang-orang benar-benar hanya tinggal para pengemis dan pengamen yang sudah terlelap dalam dusnya masing-masing di sudut taman. Kedua lelaki itu masih berhadapan, berpegangan erat seperti seolah tidak akan
251

dilepaskan andai saja tidak ada guntur yang menggelegar. Dari arah utara, tiba-tiba, datang seorang tua membawa sebuah kendi berisi air bening. Seorang tua bersorban putih, berbaju putih, berkumis putih, bersarung putih, dan bermata putih. Orang tua itu buta! Tapi dia bisa berjalan sangat tepat dan cepat seperti seolah akan mengalahkan manusia bermata normal dalam kecepatan berjalan seperti itu, dalam kegelapan malam seperti itu. Orang tua itu mencoba mendekati dua lelaki di taman itu. Berkata dengan suara lirih, Hai dua lelaki yang perih hati! Aku datang kemari untuk membawa dua buah jawaban atas pertanyaan kalian yang tadi kalian lontarkan. Aku adalah Sulaiman. Dua lelaki itu tersontak kaget. Terbangun dari meditasinya. Hari hampir pagi. Memandang lurus setajam katana ke arah lelaki tua berputih itu. Kau Sulaiman? Dengan bersamaan, seolah terucap dari mulut kedua lelaki itu. Ya, seharusnya para malaikat yang diutus dini hari ini untuk menjawab pertanyaan kalian. Tapi aku meminta pada Tuhan untuk menggantikan para malaikat itu sebab tadi malam kalian menyebut-nyebut namaku. Pesan apa yang kau bawa dari Tuhan untuk kami, Paduka? Lelaki pertama bertanya diiringi sedikit menekukan tubuh tanda hormat pada Sulaiman. Jawaban pertama, meditasi kalian akan meruntuhkan beberapa hegemoni yang ditanamkan sebuah negara adi daya. Meditasi kalian akan menimbulkan teror yang hebat untuk dunia. Sebuah teror yang akan luar biasa mengejutkan dunia. Teror? Lelaki kedua menyambut dengan pertanyaan lagi. Sang Sulaiman terdiam sejenak sambil memandang kosong dengan mata butanya tepat kejantung mata lelaki kedua. Kenapa terdiam? Lelaki kedua mencoba membuka kembali percakapan. Sang Sulaiman menghirup nafas panjang. Aku hanya membawa dua buah jawaban. Yang pertama sudah kulontarkan. Tak ada jawaban lebih lanjut dari jawaban pertama. Yang kedua akan segera kulontarkan. Kalian harus bersiap sebab jawaban yang kedua akan terlontar menjadi suara terakhir di dunia yang akan kalian dengar. Maksudmu? Lelaki kedua. Maksudmu? Lelaki pertama tergagap, seolah dia sudah tahu apa yang akan dilontarkan lelaki tua itu. 252

Dunia akan berada di ujung tanduk seekor kerbau seperti dongeng leluhur kalian yang sering kalian dengar setiap malam sebelum kalian tidur. Kerbau itu berdiri di atas ikan Nun. Ikan Nun itu hidup di Samudera Hindia yang berombak ganas. Kalian akan tersenyum, hidup di dunia seperti itu. Kalian adalah penyebab semua itu, tersenyum bukan? Selain aku mewakili Jibril saat ini, aku juga mewakili… Lelaki itu terdiam sejenak, menatap kedua lelaki itu, kembali menekankan kesiapan kedua lelaki itu untuk mendengar berita ini. Sebentar, lelaki pertama tiba-tiba berdiri, kau Malaikat Maut? Hendak meregang nyawa kami? Mencabut nyawa kami sebab kami tak akan siap menghadapi apa yang akan terjadi siang ini? Benarkah wahai Paduka? Lelaki pertama menghentakan kakinya, juga tiba-tiba berdiri. Kalian adalah orang-orang pilihan. Sudah cukup tugas kalian di bumi. Keindahan yang kalian ciptakan, keindahan yang kalian tatap kemudian kalian bicarakan sudah cukup mapan untuk berdiri sendiri. Tetapi sebelum itu, Tuhan merencanakan untuk segera mencabut keindahan itu. Ya, aku mewakili Sang Maut! Aku mewakili Izrail! Dari arah selatan beberapa orang berpakaian seragam hitam-hitam, sekitar sepuluh orang dengan masing-masing membawa golok menyerbu masuk ke dalam taman. Berteriak-teriak menggaung. Bunuh mereka…, bunuh…! Dua lelaki itu terkaget. Sulaiman sudah menghilang menjadi sebentuk bayangan. Mengangkat kedua lelaki itu. Orang-orang berpakaian hitam itu mencincang tubuh kedua lelaki itu menjadi sebentuk onggokan darah, daging dan tulang. Dua lelaki itu melayang diangkat Sulaiman yang mengerjakan tugas Izrail sambil menoktahkan air mata.

253

Obituari Untuk Niskala
Oleh: Minus Orbit I. Aku punya seorang teman. Namanya Niskala. Rumahnya di kota cianjur. Selama hidupnya di cianjur hanya berpindah rumah 2 kali. Pertama ke BTN Joglo. Yang kedua hanya menyebrang. Kemudian dia bersekolah, sekelas denganku waktu SMA. Dia aneh, jarang ada yang mau menemani dia, kecuali aku, soalnya aku juga sering dibilang aneh oleh teman-temanku, karena aku sumbing. Niskala sering meledek aku. Menirukan orang sumbing kalau bicara. Tapi aku tak pernah sakit hati karena aku tahu Niskala hanya bercanda. Aku selalu merasa nyaman kalau dekat Niskala soalnya dia tak pernah peduli aku sumbing atau tidak. Dia sering meledek orang-orang. Mungkin salah satunya gara-

254

gara itu dia jarang ditemani orang-orang. Tapi gara-gara itu pula aku merasa diperlakukan seperti orang biasa olehnya. Meledek adalah kebiasaanya, dan dia tak pernah segan meledek orang secara fisik, seperti padaku dengan meniru gaya orang sumbing bicara. Aku malah jadi tertawa dibuatnya. Bahkan lama-lama akhirnya aku juga malah meladeninya, dan lama sekali kami bicara dengan bahasa sumbing dan saling mengerti satu sama lain, meski ucapan Niskala dengan gaya sumbing kadang suka tidak jelas, tapi yang penting kami tertawa…hingga terbahak-bahak soalnya kami tertawa dengan gaya orang sumbing. Mungkin garagara itu pula pada akhirnya aku mencintainya… II. Namaku Minus. Aku gay. Dan aku sumbing. Sumbing bawaan sejak lahir. Mungkin karena itu orang tuaku menamaiku minus. Karena aku memang manusia minus. Manusia minus kesempurnaan. Seperti Niskala. Aku mencintainya, meski aku tahu kelakuannya minus. Dia juga manusia minus. Manusia minus keinginan. Jadinya lebih menderita daripada aku. Manusia tanpa kesempurnaan itu wajar. Tapi manusia tanpa keinginan sepertinya hampa. Pernah suatu kali kutanyakan padanya tentang hal ini, mengapa dia tidak pernah berkeinginan, meski sedikit. Terus dia jawab: Pernah liat malaikat? Tentu belum kan? Karena emang gak ada, maksudku wujudnya, malaikat hanyalah konsep. Dan aku memilih salah satu konsep tentang malaikat itu untuk dicobakan pada kehidupanku sehari-hari. Kemudian akan kulihat apakah dengan cara itu akhirnya bisa ditemukan cara untuk mewujudkan malaikat menjadi terlihat kalau memang ada, atau menjadi ada secara fisika dengan mengkalkulasikan seluruh konsep-konsep yang berhubungan dengan wacana malaikat itu dari berbagai sudut pandang. Hasilnya? Aku tak pernah tahu. Hanya kemudian aku berpikir bahwa konsep malaikat adalah sebuah konsep pencapaian. Dan aku sedang melakukan proses pencapaian itu. Aku bingung. Mengerjap sebentar lalu memikirkan jawaban Niskala tadi. Aku tidak mengerti bahkan hingga sekarang pun tak pernah. Apa hubungannya keinginan dengan malaikat?

255

III. Suatu ketika Niskala bertanya padaku sambil tertawa: Darimana kamu tahu bahwa kamu gay, padahal kamu tidak pernah sekalipun pacaran, baik sama cewek ataupun sama cowok, karena kamu udah pasrah juga kan dari kecil bahwa kamu bakal gak laku? Aku diam. Serius. Tak bisa menjawab pertanyaan itu. Aku tidak mau Niskala tahu aku mencintainya. Aku takut kehilangan dia. IV. Kompleksitas pada kehidupan selalu bermula dari sebuah pertanyaan tentang cinta. Beribu kisah ditulis untuk menjawab pertanyaan itu, beribu film, beribu buku, beribu korban, dan beribu pertanyaan ulang, beribu pertanyaan tentang detail, tentang segala macam hal yang berhubungan atau hanya saling terkait dengan itu, menjadi puisi, menjadi musik, menjadi hening atau bunuh diri. Aku tidak tertarik mempertanyakannya. Aku sudah tahu. Dan aku cukup tahu diri mengakui bahwa cinta yang kumiliki ini berjenis kelamin hening. Meski Niskala riang dan aku begitu mencintainya, keheningan ini sepertinya sudah terdiam permanent dalam hatiku, jauh sebelum rasa cinta pada Niskala muncul. Sejak kecil aku sudah ditolak oleh dunia, dan ditakdirkan untuk menerima penolakan ini dengan baik. Kemudian diajarkan bagaimana menolak balik semua dunia yang mungkin datang tanpa melalui proses rumit bernama kematian. Hanya Niskala-lah satu-satu nya dunia yang tak pernah kutolak. Selamat Jalan, Nis… Semoga menemukan keabadian yang kamu cari-cari itu…!

256

Auto-Epitaph
Oleh: Eva Ifanya Kurasa sudah saatnya aku menambah beberapa impian dalam kegagalan otak sadarku untuk berpikir ketika aku bangun. Lihatlah, betapa angkuhnya kelemahan sarafku hingga tak dapat lagi aku melihat dunia dengan dua mata! Entahlah! Tapi aku terus memandangi photomu, dan selalu kulihat watak yang berbeda dari penerjemahan kerlingan matamu dalam lampu bohlam di kamarku yang dapat kuatur cahayanya. Ketika terang engkau seperti ingin mengatakan bahwa hatimu kelaparan akan keindahan yang tak dapat lagi kau dapatkan hanya dengan selembar uang lima puluh ribu atau bahkan berkoper-koper. Tapi justru ketika lampu kuredupkan wajahmu semakin berseri dan kau seolah berkata padaku, “Sayang, jangan terlalu kau khawatirkan aku! Aku sudah terlalu lama hidup di dunia, aku bosan dengan keindahan yang hanya seperti itu dan terus seperti itu.

257

Aku bosan dengan suara deru kendaraan. Langit yang selalu biru di siang hari, selalu hitam di malam hari. Tanah kuburan seakan memberikan promosi yang sangat sugestif pada diriku, hingga aku melakukannya. Yah…, tapi aku menikmatinya.” Truly, kenapa begitu cepat. Kamu masih terlalu muda dan bahkan televisi Jhonson di rumahkupun lebih tua dari umurmu. Aku masih begitu sayang padamu, hingga aku takut berpisah dan membayangkan perpisahan itupun terasa amat sakit seperti kangen yang begitu lama kupendam. Lidahku terasa begitu pahit padahal tak sebutir obatpun kuminum. Aku sakit. Aku lumpuh. Aku buta. Dan tertawa tampak tidak lucu pada saat ini, maka aku tidak tertawa. Aku menangis! Truly, bukankah kau pernah mengatakan padaku bahwa hiduplah dengan mudah dan tersenyumlah dengan lepas agar jiwamu ringan dan kau bisa melayang kemana saja, tanpa beban! Ingatkah kau? Lantas kalau kau ingat, kenapa pada saat aku harus mengatakan hal yang sama padamu, kamu pergi begitu saja? Dan tak kau beritahukan sedikitpun kesakitanmu padaku. Padahal aku sangat ingin merasakan beban yang menjadikan kamu begitu mudah menelan pil-pil tidur itu. Aku kembali menangis, aku tak sanggup membayangkan rona merah di wajahmu yang selalu menghias pagi hari di depan gang ketika kau akan berangkat kuliah. Tapi sekarang rona merah itu menjadi putih pucat tanpa sedikitpun aura yang biasanya mengelilingi sekujur tubuhmu. Kenapa kau lakukan itu. Ah! Truly, aku benci kamu. Kau tinggalkan aku sendiri, hampa. Aku rindu... Aku gila! * Hingga malam, kudentangkan gitar dengan nada-nada fals seperti hidupku. Kunyanyikan lagu-lagu cinta seperti seolah tiada lagi yang lebih berarti dalam hidup ketimbang cinta. Tiba-tiba datang Niskala. Dia bercerita padaku tentang hubungan cintanya yang kandas gara-gara hal kecil yang sebenarnya masih bisa diselesaikan. Cinta lagi! Apa tidak ada kisah lain yang lain selain kisah cinta? Selalu cinta… selalu tentang cinta. Aku muak, sambil menghembuskan asap rokok ke mukanya. “Sebentar, Kawan! Bukan hubungan cinta dengan wanita, tapi dengan Tuhan. Gue lagi berantem berat ama Dia.” 258

Aku tak peduli. Lalu aku tinggalkan dia. Aku keluar kamar kost-ku. Kulangkahkan kakiku mengikuti ibu jari yang entah berapa lama tak kupotong kukunya. Semerbak harum getah-getah pohon flamboyant mengiringi langkah dan lamunanku. Dingin malam tak terasa. Tiba di pinggir jalanan sepi, aku berjongkok dan mataku menerawang ke arah langit yang malam ini enggan menampakan bintang-bintangnya. Sepertinya enggan untuk memberiku keindahan. Disitulah aku sepanjang malam itu hingga tertidur. Pagi hari, lebih tepatnya menjelang tengah hari aku dibangunkan oleh suara klakson bis kota yang mengangkut para mahasiswa dan pedagang-pedagang pasar yang baru pulang. Aku menggeliat dan menoleh ke sekelilingku. Begitu riuh. Aku berdiri dengan sisa kantuk yang masih menyerang sarafku. Sambil sempoyongan berjalan menuju kamar kost-ku yang tak jauh dari sana. Sesampai disana kutemui Niskala masih tertidur. Dan seorang gadis sedang membaca majalah. “Hai!” sapaku. Dia terkejut dan menoleh ke arahku. “Karna, dari mana saja?” kata If. “Sejak kapan disini?” Dia tak menjawab. Dia hanya memelukku sambil mencium pipiku dan menarikku kedalam kamar. Lalu dia menuangkan segelas air putih dari botol dan memberikannya padaku. “Minum dulu! Berantakan sekali kamu. Dari mana sih? Tertimpa gunung batu ya? Aku kangen.” Katanya. Aku hanya terdiam setelah menenggak habis air di gelas itu. Aku terus terdiam sambil tertunduk. Dia pun terdiam sambil memperhatikanku. Sepetinya tidak menunggu jawabanku. Dia mengerti bahwa ini bukan saatnya aku memberikan jawaban. Dia sepertinya tahu bahwa aku sedang menghadapi sesuatu yang berat. Selanjutnya, aku berteriak-teriak. Dia keheranan dan mencoba menenangkanku. Aku terus berteriak dan mengamuk hingga Niskala terbangun dan langsung membantu If menenangkanku. Hingga aku menangis dalam pelukan If. “Aku ingin mati saja, aku ingin mati!” ratapku. If menepuk-nepuk punggungku dan membelai-belai rambutku dengan lembut. “Sudahlah, Sayang! Tenangkan dulu, baru setelah itu ceritakan apa yang terjadi! Mungkin aku bisa membantu.”
259

Aku terisak-isak dan lalu tak sadarkan diri. * Solo, 9 Agustus 2000 summer disini... aku lari kesini dengan hampa tanpa daya dan kehancuran aku tak lagi bisa membuka kelopak mataku keningku bersimbah keangkuhan tanpa cinta tanpa air mata aku mengering di musim semi ini haruskah aku kembali...? Jogja, 12 Agustus 2000 juga summer... ternyata aku masih mengering dalam bus travel ber-AC yang kurasa sangat menyesakan setiap hirupan nafasku Kawali, 20 Agustus 2000 di kota kuno ini aku dapatkan pencerahan kucoba membunuh diriku tapi tak berhasil... aku dipulangkan! Jakarta, 25 Agustus 2000 sedang musim kemarau... aku menangis betapa rindunya aku dengan musim kemarau meski aku jadi semakin mengering 260

Bandung, 27 Agustus 2000 hari pertamaku kuhabiskan dengan meminum dua gelas kopi tubruk dan sebungkus rokok kretek dengan memandangi lalu lalang peradaban di hadapanku bersama seorang anak kecil lusuh yang berjuang dengan bahagia membagi masa kecilnya dengan sepiring duka yang tertawa seperti aku...? aku yang terduduk kaku? Cianjur, 29 Agustus 2000 disini, di kota asalku di pangkuan ibuku aku menghembuskan nafas terakhirku (kurasa...) dalam kekeringan yang amat panjang aku rindu Truly… * Kusangka aku telah mati bersama segala perih hati tetapi selimut putih itu mulai membuka lagi tak lagi menutupi sekujur tubuhku ah... betapa sejuk disini! surgakah ini? * Pertemuan kami sebenarnya biasa-biasa saja. Pada tempat yang biasa, moment
261

yang biasa, suasana yang biasa dan bukan hari yang istimewa. “Namaku Karna!” “Truly!” Katanya sambil memegang erat tanganku. Dalam benakku, cantik, sepi atau single? Sebenarnya wajahnya biasa saja, sederhana dan terbantu oleh penampilan yang cerdas. Rambut yang selalu terurai, mata yang selalu terang di siang hari dan cerah di malam hari. Wajah khas dengan karakter kuat yang mungkin mempunyai garis ras yang asli tanpa terlalu banyak campuran. Aku memikirkannya hingga pulang ke rumah, hingga malam, ketika makan, ketika mandi, hingga aku tak bisa tidur. Cantik? Sepi? Single? Entahlah! Hanya kedalaman jiwanya yang dapat kurasa. Entahlah! Nyatanya aku tertidur nyenyak sekali. * Dulu… Bukankah sering dikatakan Truly bahwa ia masih gadis, ia masih gadis! Truly masih gadis? Mana mungkin! Beberapa hari yang lalu ia kulihat sedang telanjang bersama entah siapa di kamarnya, ketika aku ke rumahnya. Aku tak percaya kalau ia masih gadis. Meski aku belum pernah bercinta dengannya. Belum mencobanya. “Aku masih gadis!” katanya selalu. “Aku tidak percaya!” kataku dalam hati. Itulah awalnya aku bermain bahasa jiwa dengannya. “Selama ini orang berpacaran dengan ikatan emosi, kau tahu!” kataku “Maksudnya?” “Ya, saling mencintai, menyayangi atau apalah… Bukankah itu emosi dan bukannya pikiran?” “Ya, benar. Lantas…?” “Lantas kenapa kita tidak mencoba melakukan suatu hubungan dengan ikatan pikiran dan emosi yang seimbang.” “Untuk apa, apa bedanya?” 262

Aku tak menjawab. Biarlah dia mengerti sendiri jawabannya. Itulah awalnya aku mengajak Trully menjalin suatu hubungan. Truly, sebuah nama yang anggun dan berani. Aku tahu sebab aku adalah Eros dan Truly adalah Anteros. Kebencian? Entahlah! Dia yang selalu mengatakan bahwa dia mempunyai perasaan khusus untukku. Perasaan khusus, dia tak pernah tegas menyatakan dengan kata cinta. Hingga akhirnya aku mencintainya. Untukku cinta terlalu dalam. Hingga disini aku memang mencintainya. “Kau sungguh-sungguh mencintaiku?” tanyanya suatu ketika. “Aku tak tahu.” jawabku. “Kamu tak tahu? Aneh!” “Ya, memang aneh, sebab memang aneh…” “Aneh!” katanya sambil lalu. Aku juga aneh. Kenapa aku tidak berani mengatakannya. * Suatu ketika… “Katakan padaku tentang cinta!” Truly berkata. “Cinta…, cinta…?” kata si lelaki yang berambut potongan penyanyi british, seperti memakai wig ditarik sedikit kedepan, “menurutmu sendiri?” tanyanya. “Aku merasakannya, tapi tak bisa mendefinisikannya.” “Jadi kaupun merasakannya?” Kau mengatakannya! Hatinya ikut terkejut. Terpancar dari wajahnya yang entah tampan entah cantik. Mungkin ketika Tuhan membuatnya terlalu banyak campuran ras hingga terlalu kompleks dan tak ada karakter khas yang kuat. Semuanya resesif. “Entahlah, aku bingung!” Truly mengakhiri dan lalu pergi. * “Sedang mencari sesuatu ya, Dik?” Itu yang pertama kudengar ketika pertama. “Namaku Karna!” Itu yang pertama kudengar ketika kedua.
263

“Truly, jangan tinggalkan aku, please!” Itu yang terakhir. Namaku Truly. Lengkapnya Truly Madly Deeply. You know, Ha! Truly Geovanny Permata. Aku tinggal dalam keluarga yang sangat berantakan. Lucu! Tapi itulah, aku jadi cuek banget hidup. Cerita diatas adalah khayalan terakhirku sebelum aku mati. Dan lalu aku teguk sebotol pil tidur yang berdesakan dalam kerongkonganku. Aku pusing, limbung, jatuh. Semuanya menjadi gelap. Karna, aku cinta kamu! * Kutemukan secarik kertas dipangkuanku, secarik kertas yang penuh dengan coretan pena, yang ribuan kali sudah kubaca. Dan selalu baru setiap kali aku membacanya, meski lusuh, meski hampir menjadi seonggok debu tak berarti. Tapi bagiku, meski begitu, akan tetap berarti dan akan terus terngiang di benakku. Secarik kertas berisi puisi tanpa judul yang diberikan Truly seolah seperti ribuan tahun yang lalu, ketika surga masih kupijak, masih kurasakan keindahannya! aku dan engkau adalah satu dan dicerminkan dari cinta Tuhan kita adalah satu jiwa yang terbelah dan takkan menyatu kembali sebab Tuhan telah cukup membuat kita merasa menjadi diri-Nya... seperti yang sudah kita bicarakan kita akan bertemu lagi di dunia berikutnya, sayangku... * Aku bangun dari tidurku dan kulihat udara mendung, sepi sekali! Kulihat jam yang tergantung miring di dinding lusuhku. Jam 8. Ha! Cinta tak lagi indah bila semua begitu lambat dan aku tak sadar bahwa ciuman pertama itulah yang membuatku jatuh cinta. Tetapi telah kukatakan salam terakhir 264

untuknya. “Selamat tinggal, Karna!” “Truly, jangan tinggalkan aku, please!” Terlambat! Aku menarik pelatuk revolverku tepat ke otakku. Semuanya gelap. Aku palsu... * Namaku Suicide, akulah kepalsuan Truly. Aku benda sedang Truly wanita. Jadi bunuh diri adalah kata terakhir yang bagus sebab tak pernah bisa kurasakan bagaimana menjadi wanita. * Namaku Karna. Aku yang menulis semua kisah ini dalam buku harianku. Ini nyata dan kualami. * Akulah buku harian. Sebab setiap hari Karna menulis dalam tubuhku, akulah yang paling tahu tentang dia. Setiap kali Karna menulis, kurasakan percumbuan dahsyat dengannya. Dan aku selalu orgasme berkali-kali. Mungkin aku buku multiorgasme. Karna memang lelaki perkasa. Tapi tidak setelah Truly mati. Dia menjadi lemah. Tapi kau mesti tahu! Itu cara mati yang paling indah. * Namaku Truly. Aku single. Tapi ada tanda “Dilarang masuk!” pada dadaku. karena itu, aku bukan perawan lagi. Aku selalu melarang setiap lelaki menjamah dadaku. Tapi selalu membiarkan mereka masuk kedalam rahimku karena dengan hal itu aku selalu merasa dilahirkan kembali. Dan setiap kali aku lahir kembali, aku berharap lahir dalam keluarga yang berbeda. Tapi harapanku tak pernah terjawab karena aku orgasme. Selalu kenikmatan orgasme jawabannya.
265

* Liar. Namaku Liar. Ya, pembohong! Ya, liar! * Kutipan. Namaku Kutipan. Seperti yang kau tahu aku adalah kutipan. Tidak seperti plagiat melainkan aku lebih tepat merupakan kutipan. Mengakulah! * Namaku Kau-Tahu-Siapa-Aku. Aku adalah sebatang rokok. Sepertinya sebatang rokok benar-benar sebuah kenyataan, ketika ayahku selalu berkata bahwa istrinya adalah botol-botol berisi Vodka. Jangan biarkan botol selalu terisi, jangan biarkan sloki selalu kosong, begitu katanya setiap kali. Aku tak tahu, aku adalah sebatang rokok. Ibuku selalu mengajariku membedakan dada kiri dan dada kanan. Inilah dada kiri, bila kau sentuh itu, kau akan menjadi pahlawan di mata wanita. Dan ini adalah dada kanan, bila kau meremasnya, wanita akan tergila-gila padamu. Begitu kata ibuku sambil dia membuka seluruh pakaiannya dan bermasturbasi di depanku, merangsangku dan mengajakku bermain cinta. Aku mulai terangsang! Aku hanyalah sebatang rokok. Kuperkosa otakku dengan buku-buku dan filsafat-filsafat. Aku menjadi abu dan asap. Tidak terbang aku malah tersenyum sendiri. Menyaksikan konyolnya penciptaan-penciptaan yang diawali dari sebuah ketidak puasan dan lalu mencobamencoba. Aku memang sebatang rokok. Sebatang rokok yang menjadi budak paradigma sebuah cermin dari siluet api-api kejantanan. Padahalkah aku betina? Awan-awan yang menggumpal dalam neuronneuron di otakku telah memadamkan api-api itu. Akankah aku sebatang rokok? Sebab malam hari ini tak ada sebatangpun rokok di kamarku. Sedang insomnia 266

telah sukses menyerang anak mataku. Kelopak indah di mataku telah hilang seperti seorang biksu yang memotongnya dan lalu melemparkannya ke tanah, menjadi sebuah tanaman. Aku adalah sebatang rokok. Dengan segelas teh manis menemaniku. Aku menjadi seorang pemimpi. Selalu mimpi diangkat dari sebuah peti mati. Bukankah mimpi indah telah sekian lama membuaiku dalam ketidak mampuan? Jadi keluar dari peti mati akan lebih indah daripada masuk kedalamnya. Akulah sebatang rokok. Ketika Robert Jhonson memainkan slide gitarnya mengiringi teriakan Dylan dalam sebuah pertunjukan mimpi-mimpi keabadian. Iskandar duduk di kursi VIP bersama keanggunan seekor Cleopatra. Venus melayang memperhatikan pantat seksinya padaku, telanjang. Payudaranya begitu indah! Oh, Tuhan! Aku telah menjadi sebatang rokok. Rokok kretek atau rokok putih. Dengan atau tanpa filter. Light atau bukan. Aku tetap sebatang rokok. Yang akan segera mati dalam penantian dan dada tak tenang. Ketika itu tubuhku telanjang. Dicumbu para pelacur dan mati ketika ejakulasi. Aku sebatang rokok. Dalam puncak; Kematian dan Orgasmus. * Bandung, Waktu: A Aku akhiri cerita ini... Aku bunuh diri dalam kenikmatan yang tak terlukis. Indah! Dengan tulisan yang kuukir sendiri disebelah photo terakhirku: My Beloved MySelf... Selamat tinggal...! ***

267

Dendam, Drugs Overdose dan Samantha (Dalam 5 Fiksi)
Oleh: Ana Leluhrn ivr E Pengantar Author Di sebuah malam yang cukup redup, malam yang cukup tenang, malam yang libidinal, malam yang cukup sakral, malam di sebuah lobby hotel yang penuh kemenangan, penuh ilusi, penuh lenggok padat wanita-wanita anorexia, dengan secangkir coklat panas, secangkir adrenalin panas, secangkir hiper-aktivitas jari menekan keyboard laptop dengan Microsoft Word menjadi major pada saat ini, secangkir hutan lebat dalam kepala, secangkir cinta yang masih mengepulkan asap abu-abu tipis dan berbau teratai. Seorang gadis dengan muka mannequin menyorotkan matanya tajam ke ujung terdalam jantungku, menyorotkan detak hormon estrogen terbaiknya, dan pheromone yang begitu deras menyertainya, memukul bagian terjauh kesadaranku. Aku berdegup jantan (meledak-ledak dengan androgen yang begitu dominan dengan sedikit tambahan dophamine dan serotonin)… serta beberapa aphorisma dari Rumi, diiringi ketukan nadi janin di

268

rahim gadis itu dalam tempo 90 seperti pada Fruity Loop’s Tempo dengan design angka digital klasik yang muncul pertama kali sebagai simbol untuk bentukbentuk angka digital . BOOM…!!! Terjadilah maka terjadilah…(kun-fayakun...) Fiksi.-Fiksi. dibawah ini: Fiksi. Pertama. Hanya beberapa bagiannya yang kutahu, matanya, sudut-sudut terlancipnya, dagu belahnya, dan sebentuk tanda lahir 3 senti di bawah pusarnya yang sedang membulat, membalon, serta puluhan gurat singkayo yang begitu mempesonakan persepsi terindahku. Coba perhatikan ini…

Samantha Story
BABAK I. EPISODE I. Samantha berteriak "Joey…, Joey…, tunggu aku!" Joey membalas berteriak "Samantha? Kau bukan Samantha! Aku tidak kenal kau" Samantha bernyanyi La… la… la… Joey berkeras "Kau bukan Samantha minimal, bukan Samantha yang kukenal." Kira-kira puisi itu yang akan membawaku pada ingatan tentang gadis itu...lantas siapa kau? Wanita bernama Samantha yang diberikan Niskala dalam rangkaian 5 babak puisi kisah berjudul Samantha Story, lalu kubawa kabur ke kota ini...

269

Kemudian kuketahui bahwa kehilangan puisi ini sangatlah menyakitkannya...tapi aku memang sangat perlu untuk melakukan ini, membawa puisi ini kabur. Ya, dan kemudian terjadilah Episode IV, bukankah itu bagus buatnya. Tapi ini hanya baru spekulasi, teori konspirasi, hipotesis, sebab aku pun mendengarnya dari racauan schizophrenic-nya saat-saat dia berada di panggung kebesarannya...aku sangat menikmatinya saat itu, ah Niskala... Namaku Cyan... Fiksi. Kedua. Gadis itu, memandangku dengan muka misterius, seperti senyum padahal jutek, mendatangiku...((dengan sorot mata yang seperti gadis di hotel tadi,-auth.) baca bagian pengantar author,-ed.) "Mau tidur? Murah kok, 200 ribu short time." Shock!!! "Ok...dimana?" "Diatas, lantai 3. ikuti aku!" Karpet-karpet, Elevator, 1-2-3, suara ting…, 315…, suara kunci dibuka, ranjang, duduk… "Siapa namamu?" Please, jangan katakan namanya sama… "Samantha lah, apa lagi! Kenapa emangnya, penting ya?" Astaga, kenapa selalu harus sama sih?… "Sorry, terkadang aku butuh basa-basi, butuh foreplay…!" "Tapi aku capek banget malam ini…ngantuk!" "Terus, kenapa kamu menawariku?" Sinting! 270

"Maksudku, aku terlalu lelah untuk Foreplay. Dan ada sesuatu dalam diri kamu yang aku belum tahu apa itu..." "Ya udah gak usah kalo gitu, kita ngobrol aja…Aku fine kok!" Yeah...Right! "Jangan lah, ini udah resiko pekerjaanku. Aku Ok, asal To The Point." Lantas dia tiduran diatas kasur empuk berbau lelaki yang melayang sebelumku. "Emang udah berapa tamu yang kamu layani hari ini?" tanyaku sambil menyalakan sebatang Marlboro. "Udah 8, dari tadi siang." Fuck, dengan tubuh selayu ini, kuat ngelayanin ampe 8 kontol sehari??? Setan! "Oh.. pantesan. BTW, ini kali pertama lho aku kesini." "Ngewe?" "Bukan, "jajan" begini." Alaaah...kamana atuh “jajan” He.He.! "Ah, yang bener?" "Swear!" Kecuali memek-memek gratisan di jalan…Catteeettt!!!... "Terus biasanya gimana?" "Ya ama cewek, cuman gratisan…" dalam tanda kurung, khusus memeknya… "Emang hari gini masih ada yang gratisan?" "Banyak lah, aku kan ganteng. Malah pernah suatu ketika aku yang dibayar." Yuuuk… "Tapi biasanya kebanyakan aku sama pacarku, kok." Yuuuuuuukkkk…

271

"Pacarmu? Kau punya pacar?" "Entahlah, tapi sebenarnya aku mencintainya, dan dia tidak pernah mempercayai itu..." Oh, Chartreuse…kamu dah denger lagu Trust nya The Cure gak sih??? "Seperti lagu Trust, The cure??!" Anjing, dia tahu aja!!! Siapa sih nih cewek! "Yah, mirip2 seperti itu, kau suka The Cure?" "Hehehe... iya... mengingatkanku akan seorang teman, berdandan seperti Robert Smith." "Aku juga memiliki teman seperti itu." Niskala..I miss You, Much!. Dia memandangku, lekat, langsung ke mataku… "Mau sekarang?" katanya sambil merebah dan membuka satu persatu pakaiannya, hingga tinggal BH dan celana dalam saja yang melekat di tubuhnya. "Santai aja dulu…Sebatang rokok lagi." Jawabku sambil menyalakan batang kedua Marlboro di kamar ini. Gw tegang nih, perasaan dan kontol. … "See, aku gak bisa turn on kalo pake kondom?" Abis gak kerasa sih... "Ya udah, buka aja, tapi keluarin diluar ya!!!" "Ok!" Terus kenapa tadi maksa nyuruh-nyuruh gw pake kondom, dasar pecun bego... "Tapi asal kamu tahu, ini kali pertama aku membolehkan tamu tidak memakai kondom." 272

"Terus kenapa kamu membolehkan aku?" Tuh, kaaaan..... "Aku percaya sama kamu, disamping aku masih penasaran dengan sesuatu di dalam diri kamu." "Apa itu? Sudah ketemu?" Ngomong apa sih dia!?!? "Belum, nanti juga ketemu. Sekarang mending kita mulai lagi aja." … "Ah… lemes banget…" Pengalaman pertama yang aneh "Aku juga… Eh lihat handphonemu dong…ada kameranya gak?" katanya sambil mengambil mobilephone ku diatas meja disudut kamar. "Emang kamu mau difoto telanjang?" WOW, stock gratisan nih!!! "Mau…fotoin dong!" "Sini…!" Aku meraih HP ku dari tangannya dengan semangat yang aku sendiri belum bisa menerjemahkannya hingga sekarang, kuaktifkan kameranya... Klik… mukanya… klik… buah dadanya… klik… setengah tubuh telanjangnya… klik… seluruh tubuhnya 3 kali… klik… memory full… "Yah…aku kan masih pengen di foto." "Iya nih, memorynya habis, kuisi dengan lagu-lagu dan puisi temanku. Kamu gak takut kalo nanti aku sebarin photo ini di Internet?" Goblok, kenapa gw nanyain hal ini... "Justru itu tujuannya, agar kamu sebarin di internet, lumayan publikasi gratis,
273

naikin harga pula. Eh, denger dong puisi-puisi temen kamu itu…! Aku suka lho puisi…" "Ok!" Pecun yang aneh... "Cara nge aktifin loud speakernya gimana?" "Tombol sebelah kiri…" Aku menarik nafas panjang setiap kali puisi ini dikumandangkan, ah Niskala, maafkan aku, aku sangat perlu melakukan ini??? (OS) segala yang terurai menjadi lahir untukku menjadi mati untukmu tatkala aku jadi seribu aku seribu sperma yang merindukan sejuta lelehan lendir panas iblis betina aku adalah sperma yang menjadi janin dan menggonggong menjadi anjing dalam rahimmu rahim para dewi yang bersimpuh di lantai kahyangan yang menjilati setiap keringat birahi para sesuci aku adalah sperma terasing yang akan menjilati setiap dinding-dinding rahim mencari sel telur telanjang untuk kuperkosa gairah kemenjandaannya, bergiliran aku adalah sperma terbuang menjadi kecoak dalam got-got di setiap sudut matamu yang akan menyakiti setiap mili keangkuhan detak jantungmu yang akan membuat vaginamu mengeluarkan lendir busuk peradaban aku adalah sperma masokis yang mencari rahim untuk kurasuki ruh kemarahanku 274

agar mati agar mati agar jeruji segera menghantam kebebasan bercintamu aku adalah batara kala sperma dewa yang terbuang yang menjadi raksasa yang akan segera membinasakan kesuburan rerumputan berharum diantara selangkangan para bidadari matilah! matilah! aku tidak peduli! "Aku sangat familiar dengan puisi ini, tapi aku lupa kapan mendengarnya..." "Memang, dia Vokalis-nya SID." “Oh, Ya??? Niskala.” “Kamu tahu?” “Tentu, aku sangat mengenalnya, dulu dia sering kemari,...katanya..., karena namaku sama dengan wanita pujaannya. Dia langganan setiaku. Pantesan aku seperti sangat familiar dengan puisi ini. Saat itu, suatu malam saat dia singgah di kamar ini, setelah satu putaran permainan seks, yang begitu dahsyat, dia tiba-tiba berteriak-teiak membacakan sebuah puisi yang sepertinya sudah dia hafal, kupikir puisi yang ada di memori ponselmu....” dia menarik nafas sebentar.. “kayaknya dia dendam banget ya ama wanita?" sambil membetulkan rambut panjangnya. "Gak juga sih, entahlah, aku juga dah lama gak ketemu dia. Puisi ini dia kirimin lewat E-Mail, terus ku download ke HP ku. Aku seneng denger suaranya." "Dia sahabat kamu ya?”
275

"Yup, deket banget, temen waktu di panti asuhan dulu. Aku diadopsi duluan oleh keluarga diplomat gitu deh, jadinya aku bisa keliling2 dunia. Semenjak itu aku jarang banget ketemu dia. Pernah sekali dua kali waktu dia manggung di Jakarta. Aku gak pernah mau ke Bandung lagi. Trauma…" … "Udah yuk…?" "Ok…" "Oh ya…bayarnya setengah aja, aku gak bagus tadi ngelayanin kamunya. Nanti kamu kesini lagi aja. Tadi dah ku save nomor HP ku di HP mu." "Bener nih? Gapapa?" "Ya udah, gapapa, lagian aku gak prof banget tadi, capek banget. Aku mau tidur dulu ya…" "Ok, thank’s ya… Bye Sam…!" "Bye Cyan! See ya’…" Lho, kok dia tahu namaku?? Fiksi Ketiga. Apakah aku salah, apakah aku salah berdoa untuk mati hanya karena rindu bercumbu dengan Tuhan??? Suara Niskala Ruhlelana menggelegar di telinganya, terbangun, mengumpulkan nyawa… Ah… dimana aku? Sebuah ruangan berbentuk persegi, 4x5 meter persegi, kosong, 276

dinding-dinding putih terkelupas, hanya ada sebuah ranjang butut di sudut ruangan tempat dia berbaring, sebuah tape compo berumur jutaan tahun, tanpa casing, dan dari sana masih menggelegar suara Niskala Ruhlelana menyanyikan Aloerotisme dengan iringan personil band Samantha Impossible Dream (SID) yang masih utuh, Ervi pada Gitar dan Background Vocal, Erva pada Biola, Yane pada Keyboard, Karna pada Gitar, Niskala pada Loop Program dan Lead Vocal, Suram! Dimana aku? Gadis itu belum juga menemukan dimana dirinya. Nyawanya belum juga sukses terkumpul… memorinya terus berputar seperti putaran CD menggesek lensa CD-ROM komputernya. NGE-HANG! Perlahan, sangat perlahan, puzzle-puzzle ingatannya mulai terkumpul… Gadis itu terbangun dan guprak!!! Tubuhnya terjatuh dari ranjang butut itu, puzzle-puzzle ingatannya membuyar lagi, berantakan, dengan lelah, pusing dan sakit di pinggangnya akibat benturan tadi, gadis itu mencoba mengumpulkan dan menyusun kembali puzzle-puzzle ingatannya. Lagu Aloerotisme berganti menjadi Lagu Keranda Mimpi. Tiba-tiba secercah ingatan menyala terang dalam kepalanya. Ya, ya… aku ingat, lagu ini… lagu ini… tapi apa ya…? Kenapa tiba-tiba lagu ini menyalakan sesuatu dalam kepalaku. Satu puzzle mulai tersusun di tempat yang tepat… awal yang baik. Tapi… tapi… tiba-tiba bayangan mengerikan menyeruak dalam benaknya. Sesuatu yang gelap menyelubungi isi kepalanya. Sebuah bentrokan yang aneh, lagu itu menyalakan ingatannya, tapi ingatan tentang sesuatu yang gelap. Suara Niskala kembali merasuk pelan kedalam telinganya: jeritan suaramu itu, menyentak tidur panjangku… pada bagian lirik yang itu dia mulai menangis. Tapi kenapa aku menangis dengan lirik ini? Sebuah nama terlintas dalam kepalanya. Nama itu melaju fade in seperti screen
277

saver dengan background gelap dan muncul huruf satu persatu… C… Y… A… N… C Y A N…! Dia tiba-tiba menjerit, wajah putih mulusnya memerah, menangis terisak-isak… sebuah suara seorang teman menyeruak dalam ingatannya, Chartreuse, sorry aku menyampaikan kabar ini... Aaaaaaaaaaaaa……!!! Dia menjerit lagi, semakin menjadi. Suara itu kembali menggelegar, Cyan, Chart! Cyan meninggal… Chartreuse tidak bisa menahan jeritannya. Ingatannya membanjir, menghanyutkan semua puzzle ingatan yang tadi dia kumpulkan. Dia sudah tak butuh lagi puzzlepuzzle itu. Sekarang semuanya sudah jelas. Dia sedang berada di kamar Cyan, kekasihnya, yang begitu mencintai SID, bahkan sangat fanatik. Semua yang dilakukan Niskala nyaris diikuti Cyan. Album Labirynth of Dream #1 (feat. Borges :) sudah meracuni hidupnya. Semenjak mendengar album itu Cyan mulai kecanduan heroin. AAAAAAAAA…!!! Tiga hari yang lalu Chartreuse mendapat kabar itu. Chartreuse menjerit, tak sadarkan diri, terbangun dan menjerit lagi, terus begitu… Cyan ditemukan meninggal dalam kamar kost-nya dengan jarum suntik masih menancap di urat nadi tangan kirinya. Dan Lagu Keranda Mimpi masih menggelegar. Chartreuse sudah tahu dari awal bahwa Cyan sudah tidak bisa disembuhkan. Bukan hanya darahnya yang diracuni zat-zat kimia sialan itu, tapi juga pikirannya yang diracuni lirik dan gaya hidup Niskala. Pengaruh itu sudah tersimpan permanen dalam setiap sel darahnya. Bahkan semenjak itu Chartreuse sering gak digubris sama Cyan. Dia hanyalah pacar ketiga Cyan. Pacar pertamanya SID, 278

pacar keduanya Heroin. Sebenarnya air mata Chartreuse sudah kering untuk Cyan. Tiga hari yang lalu setelah mendapat kabar itu, setelah penguburan jasad Cyan, setelah semua prosesi itu selesai, Chartreuse pergi menuju bekas kamar kost Cyan, dia punya kunci cadangannya. Kamar itu sudah kosong, hanya tinggal tape compo butut dan ranjang yang lebih butut yang masih teronggok di kamar itu, selebihnya sudah ludes digadai Cyan untuk memenuhi kebutuhan kimianya. Sesampai di kamar itu Chartreuse membaringkan dirinya di ranjang butut itu, ranjang yang dipenuhi ribuan kenangan dia dan Cyan. Ranjang tempat pertama kali ia dibuai Cyan dengan janji-janjinya, diperawani Cyan dengan lembut bahkan tanpa tangisan. Ranjang tempat ia tidur terlelap dipeluk Cyan. Tempat ia curhat dengan Cyan tentang keluarganya. Tempat Cyan menonton video klip SID dan beberapa film dokumenter tentang Niskala saat Cyan masih memiliki TV besar dengan DVD Player dan seperangkat Dolby yang canggih, tempat Cyan terbaring sambil mendengar suara Niskala pujaannya. Tempat Cyan pertama kali menyuntikkan racun sialan itu. Tempat Cyan menjerit-jerit sakaw. Tempat Chartreuse menangis dan Cyan meracau, addicted. Chartreuse mendekati tape sialan itu, menekan tombol play, Sekali lagi kukatakan bahwa dosa telah tiada…Sekali lagi kukatakan bahwa dosa telah tiada… Chartreuse membaringkan lagi dirinya di ranjang butut itu, kelelahan, galau, dihunjam kesakitan yang amat dalam, kesedihan tanpa air mata, lalu tak sadarkan diri… Dan aku bukanlah apa-apa… Fiksi Keempat. Samantha menghadiri penguburan itu dengan berbagai alasan;
279

- Semenjak kematian Joey, kuburan sudah seperti sarapan pagi, makan siang dan cemilan malam baginya… - Mengenang Niskala… - Mencoba kembali melecutkan vaginannya diatas pusara, apa masih sedahsyat dulu… Kematian baginya jelas merupakan suatu hal yang sangat biasa, banyak sekali orang-orang mati ketika bersentuhan dengannya, termasuk Cyan. Hanya dia memang yang tahu persis penyebab kematian Cyan. Tepat seperti yang dilakukannya pada Joey. Coba perhatikan ini:

Samantha Story
Babak I Episode II Samantha Teriak Samantha kembali berteriak "Joey, aku ingin mati." Joey balas berteriak "Matilah! Aku tidak peduli." Samantha bergumam "Baiklah, aku akan mati tapi indah dan kau ikut." Joey balas bergumam "Samantha, aku tidak kenal kau yang sekarang. Lantas, siapa kau?" Joey mendekat Samantha merangkul bayangan Joey

280

Samantha berteriak di telinga Joey "Aku Ruh Kematianmu! " Joey meninggal dunia dalam rangkulan cinta Samantha Joey mati muda Samantha teriak "Joey, jangan mati!" Rumors bahwa kematian Cyan disebabkan oleh Heroin dan Niskala tentu saja tidak benar, menurutnya. Dialah yang membunuh Cyan. Keinginan kuat Samantha untuk matilah yang menyebabkan energi kematian itu berpindah pada Cyan. Samantha pertama kali melihat Chartreuse pada saat prosesi penguburan jenazah Cyan. Samantha memperkenalkan diri, "Namaku Samantha…akulah yang membunuh Cyan. Maafkan aku!" Fiksi Kelima. Kenyataan itu tidak pernah diakui Chartreuse. Ingatannya tentang Samantha hanyalah pada wilayah dendam. Dendam yang mungkin membangkitkan gairahnya untuk membunuh atau bunuh diri. Tapi meski begitu, kedua hal itu tidak akan pernah terjadi, meski dia selalu melakukan percobaan atas hal itu. Lama sekali dia memikirkan hal itu, hingga segala emosinya benar-benar datar. Saat ini dia sudah meninggikan logika diatas segalanya. Logika berpikirnya untuk membunuh Samantha, perencanaan matang yang tak dapat diduga sekalipun, bahkan mungkin ada beberapa yang dia sendiri sama tidak tahunya seperti kita. Tapi saat itu dia yakin banget bahwa ruh Cyan membimbingnya pada jalan itu.

281

Psikedelia Untuk Niskala
Oleh: Erva S.I.D. Dogma, Domba dan Dongeng coba tak kukatakan coba tak kujawab dan berteriak sahut menyahut merintih perih mengembik terkikik kik...kik...kik... hi...hi...hi...! dalam sekali

282

kacamatamu menembus telinga ruang dan kucoba raih egosentrismu itu-itu-itu lalu kulit durimu terkelupas satu-satu dan aku melangkah dua-dua berjingkrak loncat-loncat-loncat seiring lagu rolling stone dan ditimpa the cure dengan friday i’m in love seperti air seperti dongeng menjadi dogma menjadi siang menjadi domba mengembik mengerjap lelah tulis lagi satu terkesinambung dengan mata-mata-mata tua-tua melintasi ruang otak dan mengakali jati-sejati diri aku rindu aku rindu seringai lembutmu aku kangen sekangen mata tua sang kakek pada tubuh bugil perawan istri muda khayalannya paris jadi batu bangkok jadi tanah seattle jadi bangkai bandung jadi indah, plaza ya..ya..! di plaza itu aku mengembik aku merintih aku jadi dogma keseharian jadi domba jadi dongeng tak berkesudahan
283

dan dongeng dan dongeng dan sahut dan menyahut jadi domba berubah dogma berupa dongeng parodi waktu hingga plesetan ruang aku tembus aku terhempas aku jorok aku terangsang dan kugantung aku onani aku teringat kamu jadi angan jadi asa jadi rasa jadi diri jadi ego jadi lelaki berubah kelamin jadi domba betina jadi betis-betis mulus dan bra-bra menonjol jadi menantang ah...! libidoku memuncak jadi sexist jadi dokter penyakitan seperti dongeng jadi domba jadi dogma dan kain-kain wol, polyester, atau katun sekalipun takkan sanggup menembus kehampaan yang dongeng yang dogma yang aku yang aku-aku yang aku-aku-aku yang domba yang dongeng tak terselesaikan kugantung lagi di lipatan jemari matahari yang menyengat alis mataku kuraih plato jadi jenius kuraih gump jadi idiot kuraih dalli jadi gila jadi gila jadi hantu jadi dogma jadi dongeng jadi domba jadi domba-domba jadi domba-domba-domba logika omong kosong filsafat para filsuf sok filosofis coba tak kukatakan tapi terus terucap meluncur seperti terjun dan kau tersenyum jadi seringai lembut aku muak jadi harapan jadi tragedi jadi jiwa-jiwa kotor pemusnah raga pemusnah indera-indera malam jingga 284

ah...! aku orgasme jadi domba terus dogma hingga dongeng tak berkelanjutan seperti putus sepertinya domba padahal dogma sepertinya dogma padahal dongeng sepertinya dongeng padahal domba sepertinya domba padahal dongeng sepertinya dongeng padahal dogma sepertinya dogma padahal domba terus menerus siklikal tak tentu tapi siklikal tapi tak tentu tapi siklikal tapi tak tentu tapi siklikal tapi tak tentu...

285

SchizophreniaNiskala
Oleh: Erva & Ervi telah kukatakan bahwa aku telah tiada, pada awalnya semua tertawa hingga jin-jin dalam botol terkencing-kencing seorang gadis terkekeh hingga mati satirkah ini aku tak tahu celanaku ketinggalan dalam kuburku dan senandung robert johnson mengiringi langkah terakhirku aku menari dalam gelap yang membayangi hentakan kakiku sehingga puncak mahameru menyemburkan apinya tanda hyang syiwaboja sedang kesal dengan tarianku bukankah para bidadari selalu menunjukan wajah terangsang

286

bercintalah dengan mereka semburkan apimu ke dalam rahim mereka hingga tercipta zygotes kemarahan di hari selasa sampai terjadi bayi dan mereka terus mengobarkan amarahku atau terus memarahiku aku akan peduli, pura-pura pada akhirnya, aku tak peduli inilah keselarasan, sahabatku bukan kesempurnaan sepi itu keabadian, bukan sepi ini keabadian cepat-cepat kubuka mata hatiku pandang jiwaku pada arti kemarahan aku tidak marah, aku meralat tapi hanya emosi yang tak terkirakan kuakui bahwa tinta abadi telah terkubur hingga kertas-kertas melajang pena-pena membujang seputih kapas selembut salju (maaf, tidak pernah ada salju disini) aku hanya termenung tolol dalam mata, dalam delik berita sebuah harta pada sebotol aqua ini bukan satir tapi kejujuran menerjemahkan arti sorot mata angin terbelah hujan terpecah hari semakin gerah aku terangkan sebagian rasaku pada kulit-kulit pohon yang mengelupas aku tidak sendiri lagi aku tidak sendiri lagi siapa yang akan mendengar kali ini aku peduli, tetap pura-pura pada akhirnya, aku tak peduli tapi iya sebagian yang lain mengancam minta ditutupi maka aku memandang dengan sebelah mata
287

aku bukan kuasa sebab aku tidak bertanduk tapi bergading yang telah patah sayapku terluka aku oleng hingga aku jatuh kembali tapi tidak jadi sebab aku tidak peduli, ini bukan pura-pura memang dalam sekali aku pernah katakan bahwa keabadian telah terlepas menabuh terbunyi genderang kematian aku sengaja tidak mendengar sebab aku masih tidak ingin mati lama-lama aku sesak dalam kubur ini semakin menyempit sebatang rokok pun tak mampu menyala meski rokok putih aku telah kosong dengan rangka yang menjadi debu tertiup angin terus ke timur menjauhi mentari yang tenggelam di balik gunung aku sembunyi ketika kepala raksasa cinta menyembul di atas permukaan laut inilah ketakutan akan rasa yang selalu menguliti dinding jantung menyayat dinding lambung setelah terbebas darinya tiba-tiba sebuah anak panah menancap di keningku aku tertawa sebab sang pemanah bukan arjuna, bukan cupid, dan juga bukan robin hood tapi alunan lagu seorang dara berbaju tinta ia telah bangkit dari kubur kuambil kertas 288

kuambil pena aku hidup kembali dalam kematian yang semakin lama jelas aku mati akan lama aku mati lama-lama aku tak peduli akankah aku ikut berperang atau tetap bercinta dengan selimut duka aku kembali mati dan terkubur tetapi aku tetap tidak peduli sebab aku masih hidup aku menangis, lucu sekali…

Diari Mimpi Dan Beberapa Ingatan Bersama Niskala
Oleh : Dix The Psoriasis Seperti shubuh, ruh-ruh menabuh beduk, mendera genderang dengan gairah-gairah sisa semalam yang tenggelam dalam abad-abad kegelapan, tertinggal disana. Aku terbangun, menggeliat, menikmati sensasi-sensasi purba ketika ingatan terkumpul satu-persatu dan kembali menyatu utuhmenjadi ingatanku, mutlak! Aku mutlak milikku sendiri, seperti ingatan ini, yang tersebar berantakan dalam kepalaku, adalah mutlak milik ingatan-ingatan itu, dan ingatan-ingatan itu adalah mutlak milikku sendiri,

289

meski aku tak lagi mengingat setiap hal seperti mereka mengingat hal-hal itu, tapi tak apalah, aku toh tinggal bertanya pada mereka ketika ada satu atau beberapa hal yang ingin kuingat kembali. bessy bilang: amnesiaamnesia lalu kubilang: ignatiaignatia ya, itu memang jauh lebih baik: amnesiaamnesia atau ignatiaignatia lalu aku post di blog ku beberapa photo (ETERNAL SUNSHINE OF THE SPOTLESS MIND) agar suatu ketika amnesia ku sembuh, ada jejak yang bisa kutelusuri. saat itu di seminyak hingga kuta sambil menunggu bessy menyelesaikan pekerjaannya. Camera's eye, nama kamera itu, kepunyaan Joanna, kutenteng sendirian di sepanjang garis pantai seminyak - double six - kuta, dan kata-kata itu meluncur begitu saja, menggores diatas pasir, menjadi visual dalam frame setiap pejalan kemudian menjadi jejak bagi para pejalan kaki berikutnya tentang hal yang sedang kurasakan saat itu. begitu. kemudian seperti pagi, kusaksikan para peri menarikan ingatan-ingatan pada beberapa ketukan suara embun yang bergeser di atas daun,

290

pelan sekali hingga sampai pada sebuah ledakan ketika embun itu jatuh ke tanah. para peri lalu menarikan sunyi pada lembabnya tanah yang terjatuhi tetes embun, setiap sunyi pagi,

lalu laba-laba bunuh diri orgasme, jaringnya mendung, satu terkait daun tempat sebutir embun menetes, bergetar setiap pagi, mati di vagina istrinya, menanam benih saat tahu nyawanya akan meregang. lalu pagi terdiam lagi menunggu tarian-tarian itu bergerak pada koreografi ingatan, kembali seperti tadi memekarkan bunga-bunga, menyambut matahari yang tak lagi sepi seperti seolah Apollo sedang memainkan lyra dibaliknya Abracadabra! Patung itu muncul begitu saja di tengah-tengah taman depan rumah. Sebuah patung emas manusia berkepala kambing memegang selinting mariyuana dan sebotol anggur. Menyeringai! Patung itu menyeringai, kemudian aku bergidik...seringainya aneh, seperti telah mendengar sesuatu yang buruk dan diungkapkan dengan cara yang aneh. (hingga sekarang aku belum bisa menjelaskan dengan detil keanehannya seperti
291

apa) Jibril, aku memang mencurigainya sejak awal. Isrofil berkata sambil menunjuk padaku. manusia disebelahnya bernama Jibril dulu matanya menyorot tajam, membisikiku dengan sesuatu yang tak berwaktu seperti saat ini lebih aneh ketimbang keanehan seringai yang dimunculkan patung manusia kambing itu lantas kupanggil Jibril, berharap dia bisa menjawab keanehan yang ini Abracadabra! Jibril seketika muncul dihadapanku, pada dulu itu dengan sebuah letupan kecil asap yang membumbung bau bunga melati dan lotus yang berkepanjangan cahaya menyilau lalu redup kembali dan disanalah Jibril berdiri memandang sunyi padaku dan dinding-dinding kamar dibelakangku tampaknya dia heran sebab interior kamarku berubah total dari semenjak terakhir kali dia berkunjung kesini apa kabar, sahabatku sapanya dengan suara berat khasnya, yang seperti perempuan dan seperti laki-laki padahal Jibril bukan keduanya baik jawabku apakabarmu aku membetulkan posisiku dan menyilahkannya duduk kami bersila saling berhadapan

292

melepas kangen dengan: mendiskusikan beberapa buku yang dulu langka tapi sekarang sudah diterjemahkan dan beberapa film pendek yang didistribusikan bersamaan serta album-album uncover dari band-band 70'an yang mulai menyebar di cd-cd MP3bajakan di kota kembang dan glodok lalu seperti siang, belum lagi aku bertanya pada Jibril tentang keanehan seringai patung itu genderang pedang berkumandang entah dari mana datangnya, puluhan suara golok Tjibatu dan katana palsu menggesek linu pada aspal jalan, percik api kobaran bara dalam kepala seperti dua gank akan berperang dan jalan Dago akan dipenuhi guratan-guratan putih bekas gesekan logam-logam tajam serta suara puluhan motor yang menggerung-gerung teriakan-teriakan adrenalin senjata beradu darah sirine polisi bubar terang menebas karang membelahnya jadi dua sebagian kering sebagian hitam murka
293

tapi tak apa sebab gelap belum menjelang tapi Isrofil menjelma angin meraba-raba tubuhku tanpa permisi menekanku pada tingkat paling rendah lalu nyaris membunuhku andai saja satu hal tak datang... senja... para dewa merangkai durja, menenun gerhana, meminta puja anti bencana, menggelar badai lupa, lalu tak berupa tapi minimal tak jadi mati, begitu kamu bilang setiap kali, dan kata-kata itu selalu menyelamatkanku setiap kali kamu memeluk aku pada ketinggian 2000 meter dari atas permukaan laut lalu mengecup pipiku saat matahari dipeluk cakrawala yang melingkar sempurna seperti cincin pernikahan kita dan kita berada di puncak... angin kecil menerbangkan serpih-serpih bunga edelweiss ada serpih mahkota, ada benang sari dan perkawinannya dengan putik pilihan angin lalu melahirkan bayi-bayi bunga abadi kita melambaikan tangan pada bulan yang menyembul pucat seperti ketika kau kepergok sedang berduaan dengan lelaki lain di kamar pernikahan kita... setiap kali...aku menangis... senja...

294

apakabar? lama sekali gak bertemu, aku ingat (meski hanya borges dan bessy yang berhak menggunakan kata ini) terakhir kali kita ketemu, ada air mata di sudut matamu, bahkan beberapa di sudut bibirmu, pasti rasanya asin ya? gak sepahit dugaan kita sebelumnnya. aku masih ingat air mata itu menjatuhi pipiku dan saat kucium bibirmu aku ingat, kita berbagi rasa asin air matamu. aku ingat kamu terbaring sendu di sebelahku saat bibirku menciumnya apa kamu masih ingat? kuharap kamu masih ingat sebab aku akan meminta maaf untuk itu maafkan aku senja... saat itu astrologiku tisyu pasti hancur terkena air dan kamu aquarius februari yang menakjubkan menyentuhku lalu aku hancur sempurna menghanyutkanku pada 300 meter dibawah permukaan selat sunda, menyatu dengan artefak Atlantis, terbaring disebelah kubur Adam... duh! tapi senja... aku sudah memaafkanmu... mari menikah lagi... lalu terjadilah malam... alam menyulam dendam menganyam kelam mereguk salam sekali hantam...

295

Abracadabra! jadilah, maka terjadilah...

dan kita tercipta pada dua sisi aku di angka kamu di gambar dan Dia melempar koinnya... ...ANGKA...

selamat malam! selamat datang nirwana pada tengah malam... dan jadilah semuanya... sabda sinis...hantu-hantu...distorsi...dan sekepal rayuan yang membuai...

lalu sepi s e k a l i dan Abracadabra! jadilah fiksi ini...

296

Niskala & Sekala (Heaven & Earth)
Oleh Zahrana Kumayl Niskala tak menyerah pada angin yang terus memburunya semenjak dia meninggalkan Sekala suatu ketika di sebuah jembatan cahaya. Heaven seharusnya nonton Band-nya Bayu ama Surya kemaren malem. Tapi ada urusan yang penting banget yang gak bisa dia tinggalin. Dia harus nemuin Earth di rumahnya, di Bekasi. Bayu dan Surya gak mau ngerti hal itu. Mereka kecewa ama Heaven yang mengorbankan pertemanan demi kekasih. Mereka juga agak kesel ama Earth. Soalnya Earth juga gak nonton mereka manggung. Padahal mereka selalu nonton Earth And The Wonder Brothers manggung. Tapi pada akhirnya Niskala menghadapi Angin dan mencoba berkomunikasi dengannya. Ternyata dia hanya mendengar sebuah bisikan kecil dari angin: Temui Sekala di Vallhalland, sekarang! Lantas angin kembali berhembus menjauhi Niskala, meninggalkan lambaian tangan dan seutas senyum.

297

Sekala, sudah sekian lama akhirnya pesan darimu kuterima, kupikir angin bukan membawa pesanmu, maafkan aku! Bayu nemuin Heaven di kamar kontrakannya. Heaven lagi serius di depan computer, nulis Cerpen, Dead line nih… duduk…duduk…kalo mau minum ambil aja sendiri ya…Heaven langsung menyambut Bayu, tapi mata tetep melotot ke arah monitor komputernya, tampak Microsoft Word dengan huruf Verdana menjejali halaman-halamannya. Loe demen banget ya ama Verdana. Gw lebih suka Arial Narrow, ramping… Hahaha…dasar Anorexia! Verdana tuh hurufnya gede-gede dan tegas tapi luwes. Tapi arial narrow tuh simple tapi artistik, gak kayak Verdana yang menurut Gw terlalu luwes, geli, kayak cacing. Tapi gendutgendut… loe aja kali yang terlalu obsessive dengan kegendutan… Hahaha… gak gitu juga kali… kadang-kadang aku suka dengan hal-hal yang ramping, tapi kalo udah artificial jadi gak asik lagi, real Fonts don’t diet, remember? Wuahahahaha….. itu yangselalu dilakukan temen-temen kita… BTW, lagi nulis apaan? Ini, Cerpen pesenan dari penerbit gw yang lama. Katanya dia lagi mau nerbitin kompilasi cerpen dari cerpenis-cerpenis dari tiga kota, Bandung, Jakarta dan yogyakarta. Oh, jadi gara-gara itu loe gak nonton konser band gw tadi malem? Niskala melayangkan matanya pada lembah-lembah di bawah kakinya yang seperti menancap pada bukit di atas lembah. Mencari-cari Sekala yang biasa datang membiaskan warna coklat pada udara. Sekala…sekala… Sekarang sudah waktunya, meski aku tak berwaktu, tapi aku tahu kamu berwaktu… Kamu dimana? Niskala tak bertemu Sekala. Vallhalland sepi sekali. Satu titik hangat

298

melumeri pipinya. Sekala... maafkan aku! Heaven menyudut kamar, kehabisan Earth di kepalanya, entah kenapa. Writer's Block menyerang, Headache menghabisinya, Earth menyempurnakannya. Earth... maafkan aku!
Heaven: One Night in Lucid Dreaming A lucid dream, also known as a conscious dream, is a dream in which the person is aware that he or she is dreaming while the dream is in progress. During lucid dreams, it is possible to exert conscious control over the dream characters and environment, as well as to perform otherwise physically impossible feats. Lucid dreams can be extremely real and vivid depending on a person's level of self-awareness during the lucid dream.[1] A lucid dream can begin in one of two ways. A dream-initiated lucid dream (DILD) starts as a normal dream, and the dreamer eventually concludes that he or she is dreaming, while a wake-initiated lucid dream (WILD) occurs when the dreamer goes from a normal waking state directly into a dream state with no apparent lapse in consciousness. Lucid dreaming has been researched scientifically, and its existence is well

established.[2][3] Scientists such as Allan Hobson, with his neurophysiological approach to dream research, have helped to push the understanding of lucid dreaming into a less speculative realm. wikipedia Before Sleeping: saya melakukan hal dibawah ini secara bersamaan - Saya mengaktifkan audio software Atmophere Deluxe dengan atmosfir Storm dengan volume 60 % di PC saya - Saya mengaktifkan audio softaware I-Doser dengan dosis Lucid dengan volume 30% di PC saya - Saya memutar video Scotch Mist Radiohead dengan volume 90% di PC saya dengan kondisi repeat playlist di Windows Media Player di Screen 1 dan Visualisation di Screen 2 dengan tema Ambient - Saya menghisap selinting tembakau tampang dilinting dengan daun kawung dengan campuran hashish yang saya produksi sendiri dan sedikit tambahan Apel Jin yang saya beli di pasar tradisional

299

- Lampu kamar saya gelapkan - Saya minum sebotol Beer Organic Storm Gold yang dikirim seorang teman dari Bali - Saya makan sebatang coklat Cadbury Black Forest - Saya membayangkan adegan-adegan di novel saya yang baru yang sudah selesai 50% berjudul Fiksi-fiksi Bohlam dan Beberapanya Padam - Hingga saya ketiduran Lucid Dreaming: Adegan pertama saya berada di dalam sebuah kereta kencana, yang saat itu sudah tidak asing lagi buat saya, di atas laut yang tidak berombak, kereta itu tidak melayang, saya tahu, tapi saya tidak tahu bagaimana kereta itu berjalan, apakah menyentuh air atau tidak, keretanya tidak berkuda. langit mendung, tapi matahari, bulan dan bintang datang bersamaan. Saya ditemani seorang perempuan yang saat itu saya rasa sebagai Istri saya, tapi saya tidak pernah melihat perempuan ini di dunia nyata. dia memakai mahkota, saya lupa bentuk mahkotanya, tapi yang pasti bertabur berlian, karena saya bisa melihatnya gemerlapan tertimpa cahaya matahari yang muncul dari sun roof kereta kencana itu. hingga adegan ini saya belum tahu bahwa saya sedang bermimpi dan terasa sangat nyata. di adegan ini saya hanya jadi penonton pasif, semua diarahkan oleh skenario mimpi dengan sutradara entah siapa. Adegan kedua, saya mengetahui bahwa itu mimpi, kemudian saya mencoba untuk bangun, karena entah kenapa suasananya terasa horor, mungkin karena pandangan perempuan itu yang begitu dingin. saya mendengar lamat-lamat suara-suara dari PC saya, dan melihat gemerlapan visual dari screen 2. anehnya saya tidak berada di kamar saya ketika terbangun itu. lalu saya bangkit dan mencoba keluar dari kamar itu, ternyata pintunya langsung ke luar rumah, saya melihat sebuah lapangan luas, saya tidak tahu masih mimpi. di lapangan itu berjejer jutaan manusia, telanjang, tapi tidak mendengar sedikitpun suara manusia, hanya sebuah lagu yang berasal dari sebuah panggung concert yang megah dan saya melihat radiohead sedang concert membawakan lagu Nude, tapi volumenya kecil sekali. saya sangat girang dan mencoba mendekati panggung, ingin melihat radiohead lebih dekat. saya melewati manusiamanusia telanjang itu, dan kaget ketika melihat pandangan mereka kosong seperti mayat, terarah lurus ke arah panggung yang gemerlap. ketika sudah berada tepat di depan panggung, volume lagu dari sound-sound besar itu tetap sekecil tadi, saya heran, dan baru sadar bahwa saya masih berada di dalam mimpi, tapi kali ini saya menolak bangun, karena sangat ingin bertemu Radiohead di belakang panggung, lalu

300

saya menuju kesana, menunggu mereka selesai manggung. tiba-tiba guntur dan halilintar bersahutan ditimpa suara noise panjang dan hujan yang lebat. saya mencoba berteduh di sebuah tenda putih, dan melihat semua personil Radiohead berada disana. saya kaget, ekspresi mereka sama kosongnya seperti orang-orang yang di luar. saya bertanya kenapa pada thom yorke, dia menjawab tergagap, dan tiba-tiba mereka malah memainkan musik di tenda itu dengan lagu Weird Fish Carpegie masih dengan ekspresi muka yang kosong. bulu kuduk saya merinding, saya keluar tenda. di luar suasana sudah berubah, menjadi di pinggir pantai, sangat mendung, berkabut dan saya melihat sebuah laut tanpa ombak dan tanpa akhir. tak ada apa-apa. saya benarbenar berada di atas air. ketika sadar hal itu, saya tercebur dan lantas tenggelam karena tiba-tiba saya tak bisa bernang. lalu ada sesuatu yang menarik kaki saya, entah apa...saya meronta, terus meronta dan terbangun dalam keadaan banjir keringat, basah, jauh dari tempat tidur. Adegan ketiga diawali dengan hal itu, banjir keringat, basah, jauh dari tempat tidur, tapi saya berada di kamar saya. anehnya, kali ini kamar saya terang benderang dengan empat lampu halogen di tiap sudut kamar, dan kamar saya kosong, kecuali seseorang yang terbujur kaku dangan erangan minta tolong di salah satu sudut kamar, seorang perempuan, badannya belepotan darah, tapi saya tidak melihat luka sedikitpun di tubuhnya, dan saat itu saya baru sadar bahwa darah itu berasal dari luka-luka di sekujur tubuh saya, juga baru sadar bahwa saya bukan basah oleh keringat, tapi oleh darah, saya menjerit kaget, meski bukan karena rasa sakit, karena tidak terasa sakit sedikitpun, jeritan saya ternyata tidak mengeluarkan suara sedikitpun. saya berlari keluar kamar. diluar sepi, tak ada orang, hening mencekam. matahari bulan dan bintang berada bersamaan di arah barat dalam cuaca mendung, tapi saya bisa melihat jelas mereka. kesadaran saya tiba2 mengatakan bahwa kiamat tinggal tiga hari lagi, dan bumi akan gelap selama tiga hari ke depan. lalu ponsel saya berdering, sekali, dua kali, tiga kali. baru saya mengangkatnya. halo? halo? dan ponselnya masih berdering, tapi ada suara menjawab di ear phone-nya. ervin, katanya, saya tuhan... semuanya tiba-tiba berputar dengan iringan dering ponsel... dan saya benar-benar terbangun...dengan jantung berdegup kencang...seseorang menelepon saya...saya mengambil ponsel...melihat nomornya 0818160*** saya mengangkatnya, halo? di luar hari sudah siang, PC saya sudah mati, dimatikan adik saya, suara di seberang menjawab, halo, heaven? suara wanita yang tak asing di telingaku ya, jawabku. aku kangen kamu, katanya dengan terisak... saat itu saya langsung tahu bahwa saya masih mimpi...dan langsung mengendalikan

301

semuanya...menjawab isakannya...ya, aku juga kangen kamu...tiba-tiba perasaan bahagia menyeruak dalam diri saya...dan saya ingin mimpi itu berlanjut terus, menolak bangun... dan saya benar-benar tidak pernah bangun lagi...terjebak dalam kebahagiaan itu, dalam mimpi itu... :') Last Scene: EPILOGUE - The King of The Lizard's Graveyard, Outdoor - Night No Tears, No Beers, No Cheers just more pasts and away a little "logical" talks and another "really-goodbye" ...and i no longer refuse to wake up... this is the time to finish the dream WAKE UP! WAKE UP! WAKE UP! the phone rang three times i picked it up... "hello?" "hello, Heaven, its GOD, again!" a hard-deep voice said, a voice from nowhere "oh, hi god... what's up?" i said "i know what's happened. so... what can i do for you?" god said "umh... its ok GOD, I'm fine, really! Her-The Earth-fades out to the rainbow, the rainbow-rainbow, OUR RAINBOW!" i said, loudly... "which rainbow?" He asked, with the excited tone, curious "the rainbow i told you… THE MOST BEAUTIFULL GREY!" i said, over loud

302

then he said, fastly, seduced-ly, "Oh wow… where is it? I feel up to look at…" "...over there, beside your “great-falls”." i cut, gayfully "awesome! faster-and-better…", he said and then with the diferent tone, "so it's your turn I think." "yeah..., thought so..." i said, I walked trough the door, opened it, fresh air flooded my lungs... "where up to?" he asked "jump off to the west I think, get dark and get the darkness, cool it off. re-set the sun down." "good... the west is always the best… but just be silent, ok! dont make another fur fly! no more babble out!" he warned "I won't. trust me!" i said, seriously "ok... good luck then!" "so do you." "i'll see you again, Heav!" he added "cool! faster-and-better. PLAY SAFE !!!!" I said, laughed he laughed too and click i put the phone, looked up to the sky, and got the shower... awh...cold water... it's real! i really wake up, i feel the cold water bites my skin, the tooth paste bites my teeth, the soap bubbles bite my eyes, and Chairil's knife bites my heart... and it hurts... the dream is finally over

303

=== the end ===

Labirin Hitam Di Bawah Matanya
Oleh Ervi S.I.D. Para penata gaya, seperti tukang cukur, fashion designer, pekerja salon, beauty consultant dan manikuris adalah sebagian dari sekian banyak orang yang paling memenuhi kategori sebagai manusia-manusia yang dimaksudkan Nietszche dalam ungkapannya tentang “memberikan gaya” pada karakter seseorang adalah sebuah seni agung dan langka. Meski kemudian Nietszche menulis lebih kepada wacana penokohan baik dalam seni peran maupun psikologi manusia. Perkembangan mode yang begitu pesat jelas telah melahirkan banyak penata gaya dengan beribu terobosan baru, dari mulai make-up yang mendampingi mode pakaian hingga perombakan pada tubuh manusia itu sendiri seperti implantasi yang tidak ditujukan untuk penyembuhan dan kesehatan melainkan hanya untuk 304

fashion belaka, bahkan juga merasuk kedalam wilayah fantasi futuristik, misal: wacana post-human, film The Matrix, dan model-model anime dari Jepang. Menata gaya adalah sebuah seni yang agung dan langka, ya, seperti yang pernah saya ketahui ketika menatap mata seorang wanita begitu dalam, saya pikir juga itu sebuah seni agung dan langka. Disana ada keindahan, spekulasi, imajinasi dan dosa pertama. Suatu ketika saya bertemu dengan seorang beauty consultant sebuah merk alat kecantikan dalam sebuah pertunjukan fashion. Saat itu saya diajak oleh seorang teman yang kuliah di Jurusan Tata Busana untuk menjadi model gratisan dalam pertunjukan fashion yang memperagakan karya-karya tugas akhirnya. Sebuah perusahaan make-up yang cukup terkenal selalu tak mau ketinggalan menjadi sponsor untuk acara-acara seperti ini. Kompensasinya biasanya berupa alat-alat make up dan beberapa perias mereka untuk merias para model. Dan mereka mendapat keuntungan dari promosi berupa pamflet, leaflet dan spanduk yang mencantumkan logo perusahaan mereka di sudut kanan bawah dengan ukuran 4 x 4 cm. Kali ini mereka mengirimkan 3 orang perias dengan jabatan Beauty Consultant (BC) 2 orang dan Coordinator Beauty Consultant (CoBC) seorang. Di ruang rias, setelah mengantri dengan puluhan model gratisan lainnya yang tentu saja tidak secantik dan se-pede model-model professional, akhirnya saya mendapat giliran untuk didandani. Ada empat kursi rias didepan meja rias panjang dan sebuah cermin besar di ruang rias gedung pertunjukan tersebut. Satu kursi rias ditangani oleh seorang perias. Saya mendapat kursi yang ditangani CoBC. Ada beberapa kebiasaan beberapa orang ketika sedang didandani yaitu mengobrol. Saya adalah salah satu dari beberapa orang yang memang sangat suka bicara, bahkan ada seorang teman yang menyangka saya mempunyai sindrom asperger, dan tentu saja mengobrol adalah bagian dari suka bicara itu.

305

Terus terang, CoBC itu, yang kemudian saya mengenalnya dengan nama Illana (bukan nama sebenarnya), sangat cantik, dan saya berpikir saat itu ia lebih cocok sebagai model ketimbang Penata Rias. Dan tentu saja kecantikannya mengundang saya untuk bertanya dengan serbuan basa-basi yang biasanya berhasil menarik perhatian wanita manapun. Keindahan : Keindahan itu menyeruak menubruk perutku hingga terasa

desakan agak mual di ulu hati. Mata itu, ya mata itu, mata yang sering kali kupandangi setiap sore di ujung musim kemarau. Mata yang menggerakan kepalaku untu selalu mengikuti gerakannya kemanapun dia bergerak di kamar hotel itu malam itu. Spekulasi Imajinasi Dosa Pertama : (?) : (?) : (?)

(isi sendiri alasanmu) “Sudah punya anak berapa, Mbak?” tanya saya sambil memandang lekat wajahnya yang saat itu hanya berjarak beberapa senti karena dia, dengan sangat detil, sedang mengulaskan kuasnya di kelopak mata saya yang saya minta agar dibuat hitam berkesan gotik. Dia tertawa dan memandang anak buahnya yang berada di sebelahnya sedang mendandani model-model lainnya. Setelah itu dia menjawab pertanyaan saya dengan mengalihkannya pada anak buahnya, seolah-olah saya tidak ada disana. “Rien, aku barusan ditanya sudah punya anak berapa? Haha… emang aku kelihatan begitu tua ya?” katanya pada BC yang kemudian kuketahui bernama Vina (juga bukan nama sebenarnya). “Ya ampun, masa sih, Bu? Aku aja dulu menyangka Ibu umurnya dibawah saya.” 306

Jawab Vina yang wajahnya justru tampak seperti anak kecil. Saya hanya memandangi mereka yang meneruskan obrolan diseputar wajah mereka. Tampaknya setelah itu saya tidak digubrisnya lagi. Setelah selesai mendandani saya, wanita itu memanggil model selanjutnya. Lantas sambil lalu saya bertanya padanya dengan nekad. “Boleh saya tanya lagi? Mbak sudah punya anak berapa? Kok saya dicuekin terus?” Sambil tetap tertawa seperti tadi dia menjawab, “Penting ya untuk saya jawab?” “Penting sekali, sebab jawaban Mbak akan menentukan apakah saya akan minta nomor telepon Mbak atau tidak.” Jawab saya sambil mendekat lagi padanya. Model cewek yang akan dirias selanjutnya memandangku dengan pandangan males. “Temui saya setelah pertunjukan disini, sekarang sebaiknya kamu show dulu, entar dimarahin koreografer.” Katanya dengan nada sok misterius. Terus melirik anak buahnya dengan seolah ada kedipan sebelah mata disana. Saya menyadari, ada begitu banyak hal yang menarik ketika dia mendandani saya, atau kalau boleh kupinjam istilahnya, melukis di atas kanvas muka kamu. Saat ini saya sudah menjadi mantan suaminya, kejadian tadi berlangsung kira-kira dua setengah tahun yang lalu, dan itu adalah sebuah momen yang tidak mungkin saya lupakan. Hal-hal menarik itulah yang kemudian membawa saya terbuai kedalam semua hal yang berkaitan dengan dirinya, profesinya, kepalanya, bentuk tubuhnya, payudaranya, tertawanya dan tentu saja vaginanya yang saya masuki saat kencan pertama kami di sebuah hotel berbintang yang mendadak kami masuki sebab ada sesuatu yang mendesak yang kami enggan untuk mengatakannya satu sama lain, memang begitu kejadian aslinya, ini fakta. Tapi maaf bila saya menyamarkan namanya dan semua orang yang nanti saya akan ceritakan. Sebab ini bukanlah karya jurnalistik, saya tetap akan menyebutnya sebuah karya fiksi yang diangkat dari kejadian nyata, tapi sama sekali bukan adaptasi, detil-detil yang saya sebutkan memang benar-benar ada dan terjadi. Saya
307

juga tidak akan mengatakan ini sebuah cerita pendek, sebab cerita ini akan lebih rumit daripada hanya sekedar cerita pendek yang memiliki pakem-pakem dan aturan-aturan yang ketat, hal ini berlaku terutama untuk cerpen-cerpen koran atau atau beberapa kelas sastra kertas, tentu saja gerakan sastra independent yang membuat media kertas tidak termasuk di dalamnya. Saat itu, saat didandani saya menemukan sebuah perasaan yang sama sekali baru bagi saya, saya tahu bagaimana rasa cinta, tapi ini lain, mungkin lebih pada rasa kagum dan penasaran yang digabungkan menjadi bentuk obsesi yang sama sekali beda dengan obsesiku ingin tidur dengan BCL. Saya terus saja memandangnya lekat ketika dia bercakap-cakap dengan anak buahnya. Saya memandangi matanya yang tampak profesional memberikan polesan pada seluruh wajah saya, tangannya yang begitu terampil melukis wajah saya, gerak tubuhnya yang menurut saya waktu itu sangat libidinal, seolah ingin diajak tidur malam ini juga, wajahnya yang cantik keibuan, parfumnya yang mungkin adalah jatah dari kantornya. Harum tapi bisu, menurut saya, sebab dia tetap menganggap saya seolah tak ada, seolah benar-benar sebuah kanvas yang tak hidup. Sesekali dia bersenandung. Dan entah kenapa saya benar-benar tidak bicara setelah pertanyaan tadi, tidak seperti biasanya, saya juga heran. Saya terus membisu sambil terus memandang lekat wajah dan pekerjaannya. Proses melukis itu kira-kira menghabiskan waktu 10 menit, padahal cowok-cowok yang lain hanya memakan waktu 4-6 menit. Mungkin karena saya meminta agak berbeda, agak lebih dandan ketimbang yang lain. Ketika pertunjukan fashion dimulai, jelas saya tidak menemukan wajahnya ditengah kerumunan penonton yang bersorak-sorai karena saya pikir dia masih di ruang rias bergosip dengan anak buahnya. Saya mengalunkan kaki yang sejak seminggu lalu dilatih keras oleh koreografer sebab sekali lagi saya bilang bahwa saya bukan model profesional. Bahkan saya sempat menolak baju yang akan dipamerkan untuk saya pakai sebab saya pikir itu tidak sesuai dengan jiwa saya. 308

Jelas bahwa seorang model profesional tidak akan melakukan hal itu. Ada semacam aturan bahwa seorang model profesional tidak boleh menolak pakaian model apapun yang ditawarkan oleh perancang bajunya. Sempat ada perdebatan sengit antara saya dengan sang perancang baju, teman saya itu, hingga akhirnya dia menyerah dan membebaskan saya memilih baju. Kebetulan saya waktu itu sedang menyukai wilayah musik yang gotik-androgin, saya mencari pakaian model rok terusan dengan dominasi warna hitam dan perak, anehnya saya menemukannya. Teman saya, perancang baju itu, awalnya tertawa karena baju itu dirancang untuk wanita. “Masa sih loe mau pake baju itu? Dasar orang gila!” katanya. Tapi saya cuek dan bilang pada dia bahwa ini sesuai dengan jiwa saya. Bahwa laki-laki juga diciptakan untuk menjadi indah seperti wanita. Pokoknya setelah itu dia males untuk mendebat saya lagi. “Terserah loe deh...!” katanya sambil menggelengkan kepala dan berlalu untuk memberikan instruksi pada model-model yang lain. Serangan berikutnya muncul dari mister koreografer Ernie (jelas bukan nama sebenarnya, dan bukan pula nama bancinya) yang jelas-jelas lebih menyukai model-model cowok yang macho ketimbang model kurus dan androgin seperti saya. Pandangan benci-bancinya terarah straight ke muka saya ketika saya memakai baju itu. “Yey tu gila deh bo...itu kan baju banci nek, ntar yey jalannya mau gimana dengan model baju kayak gitu, dasar lekong bencong...” katanya. Saya malah tertawa. Dan dia makin benci sambil mikir tujuh keliling untuk menemukan koreografi yang tepat untuk saya. Tapi yang pasti akhirnya Ernie menemukannya. Dan saya jelas menolaknya keras-keras. “Gak, loe pikir gue banci, gaya androgin kayak gini itu lebih tepat kalo jalan gue
309

justru cowok banget. Loe pernah liat Placebo gak kalo manggung. Dasar banci tampil!” kata saya. Dia jelas kaget saya memarahinya seperti itu. Tapi dia tetap akhirnya melatih saya dengan koreografi yang saya tawarkan. Jadilah saat ini, saat pertunjukan ini dimulai. Saat semua penonton bertepuk tangan bengong melihat penampilan saya. Setelah pertunjukan selesai, Illana sudah tidak ada di backstage, kata salah seorang BC-nya dia sudah pulang duluan, ada urusan keluarga. Tapi dia menitipkan no ponselnya. Seminggu setelah itu saya menelponnya, entah kenapa saya begitu lambat hingga memerlukan waktu seminggu untuk menelpon dia, saya lupa. Pertemuan saya berikutnya dengan Illana adalah setelah saya menelpon dia dan dia ternyata masih mengingat saya. Untunglah! Kami akhirnya berhubungan sex untuk pertama kalinya di pertemuan pertama itu. Di sebuah Hotel Bintang empat di Jalan Dago. Kamar no. 314. Tak akan pernah saya lupakan. Kami berpisah setelah dua tahun kami menjalani bahtera perkawinan yang segala ritualnya saya buat sendiri, tidak memakai ritual agama manapun, tapi ritual saya sendiri di Hotel itu saat pertemuan pertama kami. Entahlah, tapi sepertinya dia percaya dengan ajaran saya. Tapi dua tahun kemudian dia meminta cerai, dengan alasan dia harus kembali ke realitas. Pekerjaannya menuntut dia untuk tetap berada dalam realitas. Menjadi penata gaya dalam sebuah perusahaan besar menuntut realitas lebih banyak ketimbang romantisme, begitu menurutnya. Tapi menurutku kami bercerai karena dia menggugurkan bayi pertama kami tanpa memberitahu saya, dan hal ini pun baru saya ketahui dua bulan setelah perceraian kami saat sebuah surat undangan dia serahkan pada saya langsung. Undangan pernikahan dia dengan seorang model cover sebuah majalah wanita dewasa. Saat itu dia meminta saya bertemu di sebuah cafe di Jalan Dago. Dan dia menceritakan semuanya, semua tentang proses pengguguran itu. Saya marah. Dia langsung pergi pada saat kemarahan saya meledak. Dia tidak tahu bahwa setelah 310

itu saya menangis. Saya menangis dan saya mulai mendandani diri saya sendiri, mengimitasi semua gayanya saat dia mendandani saya pertama kali. Benar-benar berdandan. Saya tidak tahu saat itu untuk apa saya berdandan, mengimitasi semua gayanya saat mendandani saya pertama kali, tapi hal itu cukup membuat saya tenang dan mengiris seluruh kenangan dengannya. Itu saja! Sebab beberapa hari kemudian saya mulai mengencani seorang wanita 35 tahun, stylist sebuah salon di Jalan Dago. Bercinta. Orgasme. Pulang. Besoknya saya mengencani seorang fashion designer sebuah perusahaan baju di Jalan Dago. Makan malam. Bercinta. Orgasme. Pulang. Esoknya lagi saya berkencan dengan seorang jurnalis fashion sebuah majalah fashion indie di Jalan Dago. Belanja. Meliput sebuah acara fashion. Makan malam. Tidur di kost-annya. Bercinta sampai kami benar-benar kehabisan tenaga. Tidur nyenyak. Dia membangunkanku dengan sebuah ciuman. Menyatakan sebuah perasaan cinta dengan halus. Saya enyah saat itu juga. Pulang ke rumah. Tidur. Dua hari kemudian saya berkenalan dengan seorang AE sebuah katalog fashion di dekat jalan Dago. Malamnya langsung 5C. Check In, Crat, Cret, Crot, Check Out. Dan terus-menerus seperti itu. Entah kenapa tiba-tiba saya jadi sangat terobsesi untuk bercinta dengan para penata gaya, setiap malam, setiap saat, dan mendepak mereka secepat keluarnya sperma dari tabung keheningan saya. Tabung kebencian saya. Tabung kerinduan saya akan seorang anak. Seorang anak yang setiap gayanya selalu ditata oleh kedua orang tuanya. Anak yang digugurkan Illana. Saya tentu saja datang ke pernikahan Illana. Sebuah gedung di Jalan Dago. Tampak sepi untuk sebuah pernikahan, kursi pelaminan kosong, ada beberapa tamu yang tampaknya juga bingung dan bertanya-tanya seperti saya. Seorang penjaga gedung itu mengatakan bahwa pernikahannya batal. Pengantin wanitanya kabur dengan mobil saat akad nikah akan dimulai.

311

Beberapa menit kemudian telepon selular saya menjerit dengan nada tangisan bayi. “Halo, Niskala?” suara Illana, menangis. “Ya?” “Kamu dimana?” “Di nyaris pesta pernikahanmu.” “Temui aku, segera, cafe ohlala, please!” “Ok, aku segera kesana!” Setengah berlari, menuju angkot, 15 menit, Illana dengan pakaian lengkap pernikahan adat Sunda, berlapis air mata, make up yang luntur membentuk aliran berwarna hitam di bawah matanya. Totally Sadly Runaway Bride! Saya memeluknya. Illana menangis tersengguk-sengguk di bahu saya. Tenang...tenang...sayang...! nyaris berbisik di telinganya. “Niskala, aku masih sangat mencintai kamu! What the fuck dengan segala macam realitas, aku bahagia di sisi kamu! Kamu lah realitas aku.” Saya mengelu-elus punggungnya, aku tahu...aku tahu...sayang! “Anak kita, tidak aku gugurkan, aku meminta cerai setelah aku tahu aku mengandung. Aku takut, Nis, aku takut. Aku takut kalo kamu tidak menginginkan anak itu. Sungguh, aku tidak tahu harus bagaimana waktu itu. Aku sebenarnya tidak ingin membesarkannya sendirian. Tapi aku tidak tahu bagaimana aku harus memberitahumu. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Aku takut kamu tidak mencintai aku lagi. Aku benar-benar bingung. Bingung, Nis! Aku masih sangat mencintai kamu! Sampai Dion datang dan iba lantas melamarku. Dan aku 312

mau sebab aku tidak tahu bagaimana membesarkan anak sendirian.” Lajur hitam seperti labirin di bawah matanya mengarahkan harus kemana air matanya menetes saat itu. Hanya itu! Labirin Yang Hilang Di Bawah Matanya, Digantikan Perih Dalam keadaan mabuk parah, William S. Burough mengulang-ulang rekaman pembukaan konser The Doors secara diam-diam tapi agresif. Lalu memasukan musik sesuka dia. Hasilnya; “Is everybody in?” dihentak diulang-ulang oleh iringan lagu-lagu The Doors oleh suara William yang berat dan ketukan bayonet pada ulu hatinya. Ribuan kilometer dari situ, bertahun-tahun kemudian, Illana yang sudah dibekali mantra oleh guru spiritualnya, mantra untuk mencapai ekstase tanpa harus dibantu oleh model pengobatan daun-daunan dari Aceh atau Thailand apalagi perang kimia buatan dari jenis Amphetamine ataupun Metamphetamine, sedang mendengarkan hasil dari proses psikedelisasi antara William S. Burough dengan The Doors itu di depan komputer di kamarnya pada piringan CD yang berputar pada sekian radian per detik. Illana terhentak saat sabda Jim melalui salah satu rasulnya, William, yang berulang-ulang itu berhasil diterjemahkannya. Jantungnya berdetak kencang, tertusuk-tusuk pertanyaan itu, terbangun dari tidur panjangnya tanpa geliat yang biasanya mengiringi keindahan erangan pagi saat sebuah ciuman mendarat pada bibirnya, sekarang setidaknya dia menghalusinasikan itu… “Is everybody in?” “Ya, barusan aku disini.” Jawab Illana pada layar komputer yang menayangkan ribuan warna yang menggeliat-geliat diterpa gerakan frekwensi dari ketukan nada pada 10 titik, (dimulai dari 60 Hertz, 170 H, 310 H, 600 H, 1 kH, 3 kH, 6 kH, 12kH, 14 kH, sampai 16 kH) serta wilayah mabuk parahnya William S. Burough pada Visualisations Winamp-nya yang diset secara random dengan pergantian tema setiap 15 detik sekali.
313

“Sekarang kamu dimana?” Tanya bayangan matanya yang masih mengalirkan air mata semenjak pertemuan terakhirnya dengan Niskala. “Aku… aku… ada di… ada di… dihentak kesakitan, dihentak kesakitan pada pertemuan terakhir dengannya dan dengan-Nya…” Jawab Illana dengan tergagap dan nyaris berbisik, tersudut. “Aku tadi bertanya, kau ada dimana?” Tanya bayangan matanya lagi di layar komputer yang masih menggeliatkan warna-warna itu, kali ini pertanyaan itu lebih dikuatkan oleh teriakan-teriakan Jim dan wilayah liar William. “Aku… aku pikir… aku layak menerima kesakitan itu… dan… dan… kesakitan ini…” Jawabnya, masih menghindar dan tergagap, dan air mata masih terus menderas… pada bayangan itu malah lebih tampak membanjir. “Kamu tidak menjawab pertanyaanku, tapi sudahlah, mungkin itu gak penting. Kesakitan itu dan kesakitan ini, maksudmu?” Kali ini bayangannya menyerah tapi masih terasa sedikit cerewet dalam ingatan Illana. Illana tiba-tiba menekan tombol power komputernya, dengan cepat dan serentak seluruh software serta hardware didalam CPU nya dipaksa untuk menghentikan seluruh aktifitasnya. Monitor menggeliat sebentar, kemudian mati, warna-warna mengikutinya, memudar dan mati. Jim berhenti berteriak dengan terpaksa, padahal moodnya lagi bagus untuk baca puisi. William S. Burough black out, lalu tepar dengan posisi tidur seperti saat Jim terjatuh pada lagu Unknown Soldier. Bayangan matanya, yang masih berada dalam monitor, hanya lebih tersamar, terkaget dengan gerakan tiba-tiba Illana itu, lantas serius bungkam dengan membekap mulutnya. Dengingan kipas komputer, yang berhenti paling akhir, menyisakan euforia iangan panjang yang meredam suara apapun dalam sesaat hingga dengan fade in pelan suara degup jantung Illana bisa terdengar lagi, tapi agak melambat, tidak 314

sekencang tadi. Pengaruh mantra lambat laun memudar. Memutar kembali rekaman-rekaman percakapan terakhirnya dengan Niskala di Café Ohlala siang itu… Air matanya tak jadi berhenti mengalir karena itu… Isak, seribu isak sudah terbuang semenjak siang itu hingga kini… Labirin-Labirin Merah Yang Sangat Terpaksa Harus Dilupakan Aku bergidik mendengar suara jengkerik krik…krik…krik… tadi malam saat aku padam di tengah gemerlap kegelapan memori dalam satu folder - terkunci dan sengaja kulupakan passwordnya - berjudul Bitch And The Bastard Project Chapter One. Kudukku meremang dalam keremangan di jauh sana tanpa suara dan sama sekali tak ada suara. Ada apa…? Pagi ini segar dan tak diantar… Baguslah kalau begitu. Tapi nanti? Mungkin diantar tapi belum tentu segar. Agak tidak bagus kalau begitu. Bukankah selalu begitu? Tentu… tapi kupikir sudah saatnya kau berhenti bermain kata-kata yang sering kau lantunkan itu. Tak ada lagi permintaan maaf… enough is enough! Aku muak… Tapi…sebentar…please…jangan dulu ditutup…sayang…plea…ss… ah…GOD!!damn it!
315

Saat itu aku masih terang benderang seperti siang, seperti karang, tegak menantang menyulut pedang. Tapi tadi malam ada beberapa hal yang menginterupsi kegagahanku, kesombonganku, dalam bentuk surat balasan yang ditujukan pada alamat elektronik-ku yang selalu kuingat passwordnya dan tak ada satu orang-pun yang mungkin mengetahui passwordnya. Surat itu berjudul Re: I LOVE YOU !!! (I don’t, sorry!) Surat itu hanya berisi kjahsdfvgjsh. Artinya tak ada apa-apa…dia hanya mengetik sembarang untuk memenuhi syarat pengiriman surat elektronik agar mengisi halamannya. Dia perlu mengetik sembarang agar aku tahu bahwa isi surat itu semua sudah dikandung pada judulnya Re: I LOVE YOU !!! (I don’t, sorry!) Ini adalah surat balasan dari suratku sebelumnya untuk dia berjudul I LOVE YOU !!! . See what I mean??? Dan suratku itu berisi sebuah narasi tentang alasan-alasan kenapa aku begitu mencintainya sebanyak sepuluh halaman A4, arial narrow 10, satu setengah sepasi. :’-(hiks!) Beberapa saat yang lalu itu adalah sebuah film, dimana segala hal dalam hidup hanya ditampilkan pada bagian menarik saja. Maka begitupun kemudian film itu berjalan dan berdurasi hanya kira-kira dua jam. Dan selama dua jam itulah segala hal ini dimulai. Dia datang di saat-saat terakhirku memutuskan untuk hidup atau terus mati. Ya, aku layak disebut mayat hidup, tanpa kartu pengenal, tanpa tempat tinggal, tanpa tujuan, tanpa pasangan, kasihan… lalu tiba-tiba dia datang, dan mengisi sisi menarik hidupku selama dua jam ke depan. Selamat menyaksikan…

316

Tittle : The Projects Of A Bitch and A Bastard Credit Tittles Chapter One. Scene I Kita melihat sebuah rumah berwarna putih, mata kita menelusuri setiap bagian rumah, arsitektur victorian, cat putih kotor mengelupas dimana-mana, bangunan yang besar dan megah, pintu tinggi besar seolah seorang raksasa pernah tinggal di rumah ini. Rumah ini kosong, bahkan tak ada satupun furniture atau hiasan dinding tersisa. Dan hening. Gadis itu duduk di pojok ruang tamu, memandang kosong jendela kayu di depannya. Satu desahan nafas pelan keluar dari mulutnya, terdengar keras sebab suasana benar-benar hening. Sepertinya bila hatimu menjerit maka jeritan itu akan terdengar meski sayup saking heningnya. Hingga aku menjuluki bangunan itu Super-Infrasonic House… Tiba-tiba, mungkin sekali dalam seratus tahun kejadian ini terjadi di bangunan itu…sedesir angin berkelebat melewati pundak kiri gadis itu dan terdengar ditelinganya seperti sebuah ledakan bom, sukses mengejutkannya, lamunannya dihancur-leburkan bom audiosonic dari angin itu, banyak sekali korban, dan dia menjerit-jerit, keras sekali, gaungnya berputar mengelilinginya, membentur-bentur dinding ruang tamu itu, debu-debu dari pecahan bata beterbangan karena dinding terus bergetar dan hampir tiba pada batas akhir kekuatan keduanya, kekokohan bangunan tua dan jeritan gadis itu. Lalu keduanya berhenti, gadis itu berhenti menjerit, bangunan tua itu terhenti pada tahap nyaris rubuh… Sebegitu detil… ya, sebegitu detil aku menampakannya pada setiap narasiku tentangnya dan selalu untuknya. Scene II Desahan itulah sebenarnya yang menyebabkan angin itu berdesir melewati
317

pundaknya, kita melihat secara detil kaitan antara desahan nafasnya dan desiran angin kecil yang melewati pundaknya…desahan itu keluar membawa sebuah hembusan kecil angin yang melaju menembus udara-udara beku disekitarnya, menabrak dinding tembok sekitarnya, mengalami beberapa pantulan seperti echo pada gelombang suara, lalu pada satu ketika angin itu menjadi lebih besar dan berhembus kembali melewati pundak kirinya, membawa getaran yang lebih besar dari desahannya tadi, lantas membomnya dengan bom audio-sonic. Sebenarnya hal itu benar-benar amat hiperbolik sebab telinganya tidak benarbenar terganggu secara fisik, apalagi sampai berdarah, tidak mungkin sedesir angin mampu melakukan hal itu, dan jeritannya pun tidak benar-benar keluar dari mulutnya, tapi hanya ada di hatinya, dan hanya kepalanya yang bisa mendengar, efek mentalnya begitu dahsyat, mengganggunya secara fisik, membuat kepalanya berdenyut pusing, hingga dia berhalusinasi…dan semua detil itulah halusinasinya…dan ada beberapa detil lainnya yang kemudian akan diceritakan pada beberapa narasi berikut ini: Scene III Desahan nafas yang sama seperti yang dimiliki seorang gadis dalam sebuah kamar. Kita melihat sebuah kamar agak berantakan dengan seorang gadis duduk diatas kasur pegas sambil memegang sebuah buku foto kopi-an berjudul Episode IV. Desahan itu kemudian menggaung mengembalikan kita pada gaung desahan di ruang tamu rumah kosong tempat gadis itu terduduk di pojok, masih seperti itu. Dan kita berada tepat di hadapan gadis itu, close-up. Matanya sembab, tak ada air mata. Sepertinya semalaman dia menangis disitu hingga tak ada lagi air mata yang tersisa. Kita melihat waktu berputar balik pada semalam yang lalu, dan gadis itu datang kemudian duduk di sudut sambil memandang jendela di depannya. Dimulailah tangisan itu. Pilu semalaman hingga pagi. Dan pagi ini kita berada disini, tepat dihadapannya, close-up. Jangan takut, meski kita bisa melihat dia dari dekat, dia tidak mungkin bisa melihat kita, jangan lupa bahwa kita sedang menonton film yang di capture dari halusinasi gadis itu.

318

Scene IV Seorang pemuda menyalami gadis yang sama beberapa bulan yang lalu di sebuah kantin kampus. Nama pemuda itu Niskala. Nama Gadis itu Illana. Kita tahu sebab kita bisa mendengar mereka meski kita melihatnya dari jarak agak jauh, medium shot, kira-kira beberapa meja dari meja mereka. Kemudian kita tak bisa lagi mendengar obrolan mereka sebab serombongan keluarga menempati salah satu meja antara kita dengan mereka berdua, terlalu bising, tapi kita masih bisa melihat mereka dan bisa kesimpulan bahwa mereka tampak saling mengagumi. Scene V Kita melihat sebuah pintu kamar hotel, kita mencoba masuk tapi tak bisa, pasangan baru itu keburu menutup pintunya. Kita tak tahu apa yang terjadi, tapi tentu kita bisa menebak. Tapi kita betul-betul tidak akan pernah menyangka seindah apa momen yang terjadi di dalam kamar hotel itu. Kali ini layar serius gelap, kita hanya mendengar suara obrolan sayup serta desahan yang samar. Scene VI Kita melihat mereka berbicara di ponsel, keduanya berada di kamar masingmasing, stoned dengan selinting ganja masih di pegang oleh kedua-duanya. Mereka saling membacakan puisi di laptop masing-masing di hadapan mereka. Kali ini kita bisa mendengar mereka. Split Screen, Illana di kanan, Niskala di kiri Ervin membaca puisi Kita melihat Illana mendengarkan serius sambil sesekali menarik nafas. Kemudian dia menyatakan kekagumannya pada puisi itu dengan ekspresi muka yang kuat. Kemudian Illana membaca puisi Kita melihat Niskala mendengar serius sambil menghirup pelan selinting ganja. Scene VII Kita melihat pertengkaran...saat sebelum tidur setelah senggama hampir semalaman…
319

Scene VIII Kita melihat pertengkaran...di sebuah kafe malam hari setelah pesta perjamuan seorang teman mereka… Scene IX Kita melihat pertengkaran...split screen, keduanya memegang ponsel, di kamar masing-masing, extreme close-up… ada setitik air mata dari sudut mata Niskala, ada tangisan meraung dari layar sebelahnya. Maafin aku, sayang!!! Scene X Niskala pergi dalam siluet hitam putih abu yang bergerak-gerak. Illana menangis di pojok ruang tamu rumah kosong itu. End of Chapter One

Bayi Illana dan Dosa-Dosa Sekali lagi kukatakan bahwa dosa telah tiada Sekali lagi kukatakan bahwa dosa telah tiada Sekali lagi kukatakan bahwa dosa telah tiada Bayi Illana berteriak-teriak Membombardir telinga dan air mata ibunya Ibunya tak lagi kering Selalu ada basah air mata disana Meski terhapus tisyu saat bayi Illana memergokinya Illana terlonjak Mendongakan dagu indahnya pada suara bayi yang mendenging-denging Membuat sibuk keheningan birunya Siapa itu? 320

Illana memandang bayinya tak percaya Kau yang membisikan itu? Bayi Illana tersenyum manja Menahan sebutir air mata ibunya Terbendung nyaris pecah di sudut kiri matanya Untitled 1. Dua juta kata lebih telah terlahir, menelikung membentuk bayi-bayi purba, mengingatkan Illana pada bayi yang ditelannya kembali, dibesarkan dalam lambungnya, menjerit-jerit menggetarkan jantungnya. Penyakit maag Illana kambuh, asam klorida hampir membunuh bayinya, Illana limbung, muntah-muntah, lalu pingsan. Bayinya merayap-rayap diantara cairan muntahan berwarna kuning berbau asam, meraih Illana dengan dua tangan mungilnya; Bangunlah Ibu! Sudah saatnya Ayah tahu.

Gelegak Untuk Illana Janji-janji palsu Dihadapan kepala-kepala bermata sepuluh Kau pikir aku gila??? Memanjakan jutaan metafora menjadi rangkaian kalimat menjadi tanda tak ada dua… Ah, kau memang pikir aku gila… Kau memang pikir aku gila… Dari tadi sorot mata itu yang menghunjam jilatan pada makna yang mewarnai jiwa-jiwa itu… Kau memang pikir aku gila… Lantas apa kau memang salahsatunya???
321

Ini tanya yang mengundang bara, kau tahu? Ini memang tanya yang mengundang bara-bara dalam kepala yang kau sembulkan setiap kali kau merasa harus meminangku dua kali diatas api Kau memang pikir aku gila… Menyusun mimpi dalam sebuah kendi yang setitik pun kau tak pernah merasakan sebening dan sedingin apa air didalamnya Aku seperti dupa, harum, mengalun dan habis saat upacara selesai Tapi kau memang pikir aku gila Maka sudahlah!! Lebih baik kau sembuhkan saja pikiran itu Atau kau buang kedalam saluran got dibelakang dinding-dinding rahimmu… Aku memang palsu Dan kau memang mesti tahu SENJA ILLANA DAN DOADOA senja mengurai doa menjadi tanda melumpuhkan seribu kata diatas dupa yang meluncur begitu saja diantara serpih-serpih murka seperti surga yang diusung diatas mahkota Illana terpuruk di sudut matanya yang meneteskan gurat-gurat masa lalu membentuk labirin yang menyesatkan makhluk-makhluk berkepala semesta menuju tiang-tiang tempat para rahib dipancangkan gerah... gerah... gerah...

322

kudatangi Illana dengan tergesa menyambut lelehan dukanya kukatakan padanya tentang senja senja yang mengurai doa menjadi tanda yang melumpuhkan seribu kata diatas dupa yang meluncur begitu saja diantara serpih-serpih murka seperti surga yang diusung diatas mahkota lalu Illana menengadah menerjemahkan tanda menjadi kata kata menjadi doa lantas terbang diatas dupa hingga dia padam dengan seribu malam Dekonstruksi Kekekalan Umur wanita itu enam puluh, barang kali juga enam puluh lima. Kupandangi ia dari kursi panjang, sambil berselonjor menghadap ke kolam renang klub kebugaran di tingkat teratas sebu¬ah bangunan modern, di mana—melalui dinding kaca yang luar biasa—seluruh penjuru Bandung terpampang.

Aku ingat saat umurnya dua puluh. Dia adalah wanita tercantik di kota ini, menurutku. Setiap lelaki selalu berpikir berkali-kali saat akan mendekatinya. Ternyata hingga sekarang pun kecantikan itu masih melekat dalam wajah tuanya. Kerutan-kerutan agak kasar tidak mengganggu kecantikannya. Dia menoleh kepadaku, melambai, menyuruh duduk di sebelahnya. Sudah tiga tahun terakhir hal ini adalah kebiasaan kami setelah tidak sengaja bertemu di supermarket ketika baru tiga hari aku menginjakkan kaki lagi di Kota Bandung. Aku masih mengingat wajahnya, meski dalam versi yang jauh lebih tua,
323

aku tetap mengenali kekhasan wajahnya. Awalnya dia hanya lewat begitu saja saat kusapa, mungkin dia tidak mendengar. Lalu kuraih tangannya, dengan terkaget dia menoleh. Sebentar mengerutkan keningnya. Dengan cepat kubilang, masih ingat aku? Keningnya semakin berkerut. Sambil tersenyum aku menyebut namaku. Setengah tidak percaya, dia melonjak dan sedikit menjerit, Oh My God, NISKALA... I CAN’T BELIEVE IT...jesus...sejak kapan kamu di bandung? Akhirnya, dengan tidak tahan dia merangkulku juga, erat sekali. Aku membalas rangkulannya, aku tahu momen ini lambat laun pasti terjadi juga, tapi sama sekali aku tidak pernah berpikir akan ketemu dia secepat ini, meski aku pernah berharap seperti itu. Illana. Nama itu tidak pernah lepas dari ingatanku. Dari semenjak aku meninggalkannya sendirian di Ohlala, hingga saat ini. Saat kerutan-kerutan tua di wajahnya malah memperindah wajahnya. Saat itu baru kuketahui darinya bahwa Dion meninggal dunia 5 tahun lalu. Aku turut berbela sungkawa untuknya. Setelah selesai dengan semua percakapan basa-basi, sambil tidak melewatkan kesempatan ini, kami memilih makan siang bareng di salah satu fastfood terdekat di supermarket itu. Dan bagian paling penting pun dimulai: Anakku yang tak pernah kutemui. Aku berani bertanya padanya setelah dia memberi tahuku tentang meninggalnya Dion. Dia menunduk, air mata bergulir di wajahnya. Dia di luar negeri sekarang, kerja, sambil ngambil S3. Dia mirip sekali dengan kamu waktu itu, waktu pertama kali kau melihatnya, pertemuan terakhirku denganmu. Dan kamu sudah punya satu cucu, Nis. Katanya sambil mengeringkan air matanya dengan tisyu, menoleh ke arahku. Ingatanku melayang pada duapuluh tahun lalu...aku bertemu dengannya di Jakarta, tidak sengaja disebuah supermarket... bagian ini adalah bagian cerita yang 324

selalu kusembunyikan dari siapapun, tak pernah seorang pun mengetahuinya. Ah, intinya begitu, kami bertemu, aku tak perlu lebih detil lagi, kau sudah mengerti apa yang terjadi.

NARASI-NARASI POST-LIBIDO
Tentang Para Kekasih Niskala Yang Tak Pernah Disebut-sebut Oleh Yanne S.I.D. Di sebuah panggung pertunjukan, minggu lalu, aku melihat ribuan sabda sinis dimubadzirkan begitu rupa, terbuang, berserakan bersama hantu-hantu diiringi ribuan distorsi dan wanita yang mengantarkan sekepal rayuan yang membuai. Tapi dalam kenyataannya aku-lah yang mengantarkan sekepal rayuan padanya. Kuhentikan semua sabda sinis itu, fade out. Kubunuh hantu-hantu itu, fade to black. Tapi distorsinya kutambah menjadi h + 1, memperkuat frekuensinya, pekak. Lantas aku berdiri di atas panggung pertunjukan itu mengantarkan bahkan sejuta rayuan untuknya, hanya untuk dia, wanita itu. Wanita

325

yang kukagumi sejuta kali lebih besar ketimbang Marie Antoinette. Ah… Kekasih A. Awalnya aku melihat dia tanpa busana, menyeringai, mengantarkan lelehan lendir panas yang keluar dari sudut langit-langit benaknya, lelehan lendir panas yang kemudian merasuki seluruh penciumanku. Semakin lama pakaiannya semakin utuh, memenuhi seluruh ruang galeri tempat kepribadiannya dipamerkan menjadi sebentuk pameran seni rupa kontemporer. Terus menumpuk, membesar seperti tiba-tiba akan meledak, dan merubuhkan gedung itu dengan tangisan ribuan bayi yang menyembur dari rahim di langit-langit benaknya. Dalam setiap pembukaan pameran seni rupa di galeri-galeri yang sering kukunjungi, seringkali terjadi sebuah komunikasi imajiner antara aku dengan dia, wanita itu. Seperti saat ini, ada pesan personal yang ingin disampaikannya padaku, teramat intim bahkan. Meski suasana di gedung pertunjukan ini teramat sepi, tak ada satupun orang yang mendengar bisikan personal yang ingin disampaikannya padaku. Dia benar-benar berhati-hati agar hanya aku yang mendengarnya. “Merayu adalah hipnotisme yang dilakukan dengan kesadaran penuh dan menciptakan sebuah kesadaran yang penuh pula. Dan merayumu seperti menghipnotis seorang kaya lantas aku mengambil semua kekayaannya, bedanya kau akan ikhlas menyerahkan bibirmu untuk kuciumi dengan teori bernama “Lolly Pop” yang baru saja kubuat sebelum menciumimu.” “Kau sedang merayuku?” tanyaku dalam hati padanya. “Tidak kau yang sedang merayuku, kau menghipnotisku hingga tubuhku seperti seolah mengantarkan sejatu rayuan padamu.” Jawabnya sambil mengibaskan beberapa pakaian yang menyembur dari tubuhnya. “Maaf, aku tidak sadar.” Kataku, masih dalam hati. “Kau tahu, ada sebuah teori, aku menyebutnya teori lolly pop. Bunyinya begini: Dua orang yang saling mencintai adalah seperti anak-anak kecil yang melihat anak-anak kecil lainnya memakan lolly pop, dan mereka ingin saling mencoba rasa lolly pop yang ada di tangan anak kecil lainnya. Sebab lolly pop orang lain akan tampak lebih nikmat ketimbang lolly pop nya sendiri.” “Kau yang menciptakan teori itu?” tanyaku. “Tidak, aku mendengarnya dari seorang teman.” Setelah itu dia disibukan oleh alur pertunjukannya yang mengharuskan dia 326

membuka lembar terakhir dari pakaiannya. Suasana tiba-tiba semakin hening dan penuh dengan nafas tertahan. Keheningan yang mecurigakan. Semua penonton berharap dia benar-benar membuka seluruh pakaiannya. Kecuali aku sebab aku sudah melihat ketelanjangannya dari tadi, semenjak dia meneriakan kata-kata yang kujadikan judul fiksi ini. Lucu…sebab bibirnya tampak lebih indah dalam benakku ketimbang bibir yang selama ini pernah kujilati di tubuh wanita-wanita lain. Aku ingin menjilatinya, dengan bibirku tentu. Aku selalu gak habis pikir ketika dia bilang dirinya masih perawan. Bukankah sudah ribuan kali dirinya kuperawani melalui komunikasi imajiner yang selama ini kujalin dengannya. Pengertian perawan dalam kepalaku mungkin terlalu absurd untuknya. Suatu ketika ketika dalam sebuah pembukaan pameran lukisan, wanita itu datang agak terlambat, memakai gaun terusan yang sudah entah keseberapakalinya dipertunjukan dalam panggung-panggung fashion show di kepalanya, begitu anggun dengan polesan makeup sederhana tetapi mahal yang cukup untuk membuat dirinya disebut sebagai suatu kecantikan yang alami, seperti baru dipetik langsung dari pohonnya, segar, ranum dan bergairah. Seperti dulu, kecerdasan tubuh adalah bagian penting dari wanita ini. Hal yang pertama kulihat darinya adalah bekas luka sepanjang 10 cm di betisnya, sexy, begitu kataku saat pertama kali bertemu dengannya. Setelah itu kita berkenalan. Dia asalnya enggan menyodorkan tangannya, ragu, hingga akhirnya dengan terpaksa dia menyodorkan tangannya juga padaku setelah 15 menit aku menunggunya. Puas? Katanya setelah itu. Aku hanya terdiam, memandang mata judesnya lekat-lekat. Rese’ banget sih loe! Katanya lagi. Cukup! Aku enyah dari hadapannya dengan perasaan benci. Padahal sebenarnya aku tidak mungkin dan tidak akan pernah membencinya. Sial! Hari ini dan hari-hari selanjutnya dia tidak akan pernah datang lagi ke galeri ini selama dia yakin bahwa aku akan datang. Aku memang selalu datang dengan harapan bisa bertemu lagi dengannya. Wanita dengan bekas luka memanjang 10 cm di betis kanannya. Saat itu aku tidak tahu dan tidak sempat menanyakan padanya darimana dia mendapatkan luka itu. Sebuah bekas luka yang suatu saat akan sangat mengubah drastis hidupku dan tentu saja dirinya. Ya, kita dipersatukan oleh bekas luka itu.
327

Beberapa bulan kemudian, kami berpisah dengan amat sederhana. Hanya sebuah SMS darinya yang mengatakan bahwa dia ingin mengakhiri hubungan denganku. Aku membalasnya dengan dua huruf “OK” sama sekali tanpa tanda baca. Dia tidak pernah membalasnya lagi. Setiap bulan purnama aku memandangi wajahnya yang tercermin dalam terangnya cahaya bulan. Aku tidak pernah merasa kehilangan dirinya, sebab mungkin dia memang tidak pernah benar-benar hadir dalam hidupku. Itu saja! Kekasih B. aku, begitu selalu aku menyebutkan panggilanku pada orang kedua yang sudah dua tahun menemaniku dalam setiap jenuh ataupun padam, sebenarnya aku sudah muak dengan senyum panjangnya yang menggeliat seperti tawa Suzanna saat memerankan sundel bolong beberapa dekade yang lalu. senyum panjangnya itu seringkali mengantarkan aku pada sebuah mimpi buruk diatas kuburan tua dan dikelilingi puluhan hantu-hantu berkerudung berwajah suzanna. aku memang sangat takut dengan wajah suzanna atau sejenisnya dari sejak dulu saat jadi sundel bolong ataupun bukan. bahkan dengan photonya yang sedang memakai baju pengantin dengan seorang pemuda yang jauh lebih muda darinya bernama cliff sangra, aku tetap ketakutan. untunglah wajah orang kedua yang kusebutkan tadi tidak seperti suzanna. orang kedua ini seorang perempuan muda berumur satu tahun dibawahku, seorang sarjana dan sangat kucintai pada awalnya. dia juga salah satu perempuan yang menginterupsi masturbasi sepiku dikamar mandi yang sudah bertahun-tahun menjadi ritual pembebasan sperma ku menuju got busuk di bawah kamar mandiku. dia datang dengan membawa hidangan segumpal vagina yang masih mengepul dan pencuci mulut berupa ciuman panas yang dituangkan dalam sebuah gelas kristal besar warisan dari neneknya. neneknya konon adalah salah satu perempuan madura yang masih mengingat dengan jelas resep-resep ramuan rahasia turun-temurun dari leluhurnya. ramuan-ramuan inilah yang kemudian sangat terkenal di dunia bahkan seorang sutradara film biru dari perusahaan vivid membeli resep ini dari salah satu keluarganya seharga ribuan dolar. perempuan yang kusebut orang kedua ini sangat kuyakini sudah mewarisi setengah ilmu dari neneknya. sebab katanya setengahnya lagi dicuri oleh seorang perempuan jawa yang kemudian membuka sebuah aquarium gairah di pinggiran sebuah kota di pesisir utara. 328

tidak hanya menginterupsi, perempuan yang kusebut orang kedua ini kemudian malah menetap permanen di ujung penisku setiap kali aku meluangkan waktu untuk memikirkan teknik masturbasi yang baru. seperti misalnya ketika aku sedang mengembangkan teknik yang kusebut "mencabut jantung ditengah galau". teknik ini sangat memanfaatkan gesekan tangan dan gerakan pantat. tanganmu kau simpan diatas pinggiran kamar mandi dengan dilumuri sabun cussons cair berwarna hijau. kau tak usah menggerakan tanganmu. cukup mengepal dan merangkum penismu lalu kau turunkan sedikit kakimu dan lantas gerakan pantat mu kedepan dan kebelakang sambil menyanyikan lagu paling merangsang yang kau ingat. sebaiknya kau membayangkan seorang perempuan selebritis yang memiliki pantat dan payudara yang besar. saat itu dia tiba-tiba datang dan mengagumi kesendirianku dengan caranya, awalnya dia hanya membuka bajunya, tapi lama-lama aku aku melihatnya telanjang dan menggosok-gosok vaginanya dengan tempat sabun kecil berujung halus berwarna hijau. singkat kata kita orgasme pada waktu yang bersamaan. saat itulah aku mendengar tawa yang menakutkan meluncur dari bibirnya. ngeri! tapi saat itu juga aku menganggapnya seksi. sejak saat itulah dia menetap permanen di kepalaku.

Kekasih C. dia terkadang mengenalkan dirinya sebagai putri dari seorang kaya yang pernah hidup ribuan tahun lalu dan suka memandangi sebuah repro lukisan Salvador Dalli. dia adalah penganut faham feminisme. dia suka sekali dengan rasa dedak kopi yang akan menghambat kerongkongannya dari makanan-makanan lain yang akan masuk. saat terbaiknya adalah seminggu sebelum masa menstruasi. saat itulah, sama seperti wanita lainnya, adalah saat-saat paling emosional. perbedaannya adalah saat emosional lah saat tubuhnya benar-benar berada pada titik paling sexy. ok, saat itulah dia mulai bangga dalam dirinya ketika dia diperebutkan oleh beberapa lelaki, bukankah itu yang dimimpikan oleh banyak wanita? salah satu lelaki yang berkelahi demi dirinya adalah aku. meskipun saat itu aku berkelahi bukan karena dia tapi karena kelelakianku yang berpikir bahwa harga diri lebih penting dari segalanya. masa aku harus kalah oleh lelaki yang lain
329

itu!!! Hingga akhirnya aku tidak pernah memenangkannya. Meski dia seringkali meng-SMSku dengan ucapan I miss u... aku tidak pernah membalasnya, awalnya karena aku gak punya pulsa, tapi lama-lama meski aku punya pulsa, aku tak pernah ingin membalas ucapan I miss u... itu, meski sebenarnya aku merasakan hal yang sama dengannya. Tapi seorang FEMINIS?!?! please deh... Kekasih D. badannya kecil kurus tapi terawat. wajah oriental dengan dahi agak lebar seperti dahi topeng supraba dalam wayang topeng. dan lebih jelas lagi dia memang mirip topeng supraba dalam wayang topeng. kulitnya halus, kuning, dan benar-benar mulus tanpa cacat. mengidap anorexia. tidak menyukai perokok yang menghembuskan asapnya dengan deras, dia menyukai perokok yang benar-benar menghisap asapnya, lebih hebat lagi apabila hanya sedikit asap yang keluar lagi dari paru-parunya. satu tahi lalat kecil tapi tampak jelas terlihat karena kulit kuningnya bertengger tepat di antara hidungnya, menyelip dalam celah seperti kepala rahwana yang menyembul diantara dua gunung. itulah kenapa dia mencintaiku, aku perokok berat. Masalah terbesar dalam hubungan kami adalah aku tidak pernah benarbenar mencintainya. Ada satu hal yang selalu menggangguku yang ada dalam dirinya hingga aku harus benar-benar berpikir untuk mencintainya, suara dan cara bicaranya sangat tidak enak didengar. Satu-satunya harapanku adalah dia menjadi bisu, dan itu tidak pernah terjadi. Maka dengan pelan-pelan kuhindari dia hingga suatu ketika aku melihatnya sedang jalan dengan lelaki lain di sebuah mall, berpegangan tangan. Saat itulah aku berpikir bahwa aku mencitainya. Dan sejal itu pula mulai muncul masalah yang menyebalkan dan berlarut-larut. Dia menyangkal keberadaanku dalam hidupnya. Setahun kemudian aku membuat penyangkalan yang sama untuknya. Kekasih E. anggun, seperti tahi yang mengalun pelan di selokan belakang rumahku, jelas bau dan tidak menyenangkan untuk dilihat, meski seperti kubilang tadi, anggun. berwibawa, nyaris tidak ada orang yang berani menatapnya, seperti tahi 330

yang terombang-ambing di selokan belakang rumahku. dadanya besar, tidak proporsional dengan ukuran tubuhnya yang mungil, seperti tahi yang keluar dari duburku saat aku kecil. saat aku kecil makanku banyak, jadi tahiku gede-gede, dan badanku tetap kurus seperti sekarang. jarinya lentik, seperti tahi seorang model yang keluar sedikit dan malumalu lalu mengalir di selokan belakang rumahku. sekarang dia sudah mati tertabrak truk karena supir truk itu menyangka dia adalah tahi yang teronggok di tengah jalan. hanya aku yang tidak pernah menganggapnya tahi, tapi dia tidak percaya denganku. dia merasa pandangan mataku padanya seperti pandangan seseorang saat melihat tahi. yah, ada benarnya, tapi haruskah aku mengakui bahwa aku juga menganggapnya tahi sebab disamping itu aku juga mencintainya. Aku datang ke uapacara penguburannya, sampai akhir. Aku menunggu semua orang pergi. Aku ingin sendirian dengannya pada moment terakhir. Setelah semua orang pergi, aku mendekati onggokan tanah merah tempat dia berbaring 6 kaki dibawahnya. Aku mengelus nisan kayu dengan tulisan namanya yang masih basah sambil meyakinkannya bahwa aku tidak pernah menganggapnya tahi. Sepertinya dia mengangguk dan mengatakan terimakasih padaku. Lalu aku bilang cinta padanya dan lantas pergi dengan perasaan antara tangis dan senyum. Kekasih F. make-up gadis ini terlalu tebal di wajahnya, dan dia melakukannya tiap hari. ongkos hidupnya untuk beli bedak melebihi penghasilan ibunya yang menjadi guru sebuah taman kanak-kanak. tapi bila dia tidak dandan maka kecantikannya luntur bersama dandanannya itu. dia tidak tahu sebenarnya saat yang paling kusukai darinya adalah saat dia baru bangun tidur, aku suka menciumnya saat itu, dan ciumanku saat itulah yang paling tulus dibanding yang lainnya. tapi dia tidak tahu. Suatu ketika, saat make-upnya benar2 tebal, dia menciumku. Tak kubalas dengan hangat, sebab seperti kubilang tadi, aku tak suka make-up nya yang mengerikan itu. Lalu kusarankan dia untuk menghapus make-upnya. Dia bertanya kenapa. Aku bilang aku tidak suka wajahnya saat sedang memakai make-up. Lalu dia benar-benar menghapusnya saat itu, di kamarku. Lalu kuputuskan dia, sebab
331

aku juga tidak suka sama sifatnya yang terlalu penurut padaku, benar2 tidak ada tantangannya. Lantas dia menangis sambil memandangi wajahnya di cermin yang tergantung di kamarku. Aku hanya terdiam, aku gak tega juga melihatnya depresi seperti itu. Semenit kemudian dia melemparkan asbak ke cermin hingga pecah. Dia tidak menjerit histeris seperti seharusnya. Dia benar-benar bungkam dengan roman benci, padaku dan pada dirinya sendiri. Aku merangkulnya erat setelah itu, mencoba menenangkannya, sebab dia benar-benar mengininginkan cermin itu remuk, hingga dia tak usah lagi melihat wajahnya sendiri. Lalu kucium bibirnya, agar dia tenang, terasa asin air mata yang menetes tanpa henti dari tadi. Saat itu aku baru sadar bahwa dia memang menangis. Dan entah kenapa, akupun menangis. Kekasih G. rambutnya panjang terurai tak pernah diikat, selalu mudah berantakan bila terkena angin tapi langsung rapih lagi saat disisir dengan jarinya, saking halusnya. perutnya agak gendut tapi badannya ramping. dia pernah menggugurkan kandungannya hasil dari sebuah persenggamaan tak sengaja dengan seseorang yang mengantarnya pulang saat mabuk berat di sebuah acara dugem bulanan di sebuah bar berbentuk oval. aku masih ingat moment itu, mement ketika dia datang ke sebuah dokter kandungan dengan wajah pucat dan mata sembab. saat itu aku sedang mengantarkan istri temanku untuk memeriksa kandungannya. saat itulah aku berkenalan dengannya. dan semenjak saaitu kami jadi sering berkomunikasi. dia mencintaiku tapi anehnya aku tidak pernah mencintainya. kita jalan selama 3 bulan karena aku tidak bisa terus-terusan berbohong padanya.

Kekasih H. ada saat-saat dia tidak merasa nyaman menjalani hidup. saat-saat itu ialah saat yang jarang sekali ia temui. saat-saat ketika ia harus memimpikan seorang anak. masalah terbesarnya saat ini adalah karena ia seorang guru TK yang tentu 332

saja setiap hari harus melihat anak kecil. dia asalnya ragu untuk menerima tawaran kerja menjadi guru TK tersebut. Terlalu mengerikan! SMS terakhir yang kuterima darinya berbunyi: "Sayangku,aku sudah tidak akan lama lagi...terlalu mengerikan bila tiap hari aku harus melihat anak kecil, bermain bersama mereka,terlalu menghenyak perasaanku..." tiga tahun yang lalu dia menggugurkan kandungannya sebab tidak akan tahan menghadapi keluarganya yang sangat kolot. perlu dicatat, pacarnya siap bertanggung jawab dan pacarnya saat itu bukan aku. itu saja. mayatnya ditemukan di kamar kost-nya dengan mulut penuh busa...aku menangis. Sebelumnya dia sering bercerita padaku bahwa nyaris tiap malam dia bermimpi didatangi anak kecil yang memanggilnya mama dari balik air terjun yang deras. Kekasih I. Matanya selalu memancarkan sesuatu yang seolah mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja... Padahal seperti yang kuketahui dan juga diketahuinya, dia tidak baik-baik saja, selalu tidak baik-baik saja. Semacam kutukan yang menimpa dirinya bahwa dia harus selalu tidak baik-baik saja. Awalnya adalah ketika dia lahir. Saat itu cuaca sangat mendung. Halilintar bergemuruh memenuhi seluruh ruang persalinan ibunya. Ibunya mengerang kesakitan. Sudah dua jam, bayinya tak kunjung keluar juga, padahal tidak sungsang. Dukun beranak yang menyertainya sudah tidak habis pikir. Akhirnya dukun itu teringat hal yang sama yang terjadi sepuluh tahun yang lalu yang menimpa seorang ibu yang lain yang mengalami proses persalinan yang sama dan cuaca yang sama.

333

Umbai Cacing (Dead End)
Tentang 6 Pintu Labirin Yang Terabaikan Oleh: A Peng Liong Pintu Labirin 1 Truly menghempaskan badannya di sofa merah itu. melemparkan tas sekolahnya. meraih remote control. menyalakan tv keras-keras. memindah-mindahkan channel. Mtv. sudut kiri bawah: samantha impossible dream. Many Things Are Ultrasonic. labyrinth of dream #1 (feat. borges:-) samantha school production Terlihat wajah niskala, wajah karna, dalam video klip mereka. ada dirinya yang

334

merah jambu. dia jadi bintang video klip buat lagu itu. lagu yang katanya tak bisa didengar manusia. "Many Things Are Ultrasonic" berkali-kali terhempas saat ada adegan karna memeluknya. dia memeluk karna. dengan wajah tak curiga sedikitpun. tulus. dia tak akan pernah curiga seandainya dia tidak melihat semuanya. dalam klip itu, semua ingatan terurai. ingatan yang itu-itu lagi. siang tadi sekitar jam sepuluhan, saat istirahat. dia mabal dari sekolah , pergi ke mall bersama teman-temannya, cewek-cewek cukup badung, model, seleb lokal. di mall, dia melihat semuanya. bsm memang besar, tapi proses kebetulan menjadikan dunia seluas apapun jadi sempit. dia sudah melihat semuanya. semua pertanyaan yang selama ini coba dia enyahkan. pertanyaan terjahat yang pernah terlintas dalam kepalanya. pertanyaan dengan jawaban paling tidak mungkin. dia telah melihat segalanya mungkin. truly berlari kencang berharap pertanyaan itu tak pernah ada. melewati jalan gatot soebroto. tak mengindahkan teman-temannya yang khawatir. terus berlari hingga kelelahan di perempatan binong. terjatuh, mencoba menahan tangis. dian yang saat itu sudah dapat mengejar truly menolongnya, membopong menghindari tatapan orang-orang yang saat itu sedang menunggui angkot. dian meng-UTS (Under Three Second) rachel agar membawa mobilnya keperempatan. cepet! truly pingsan. Sesampai dirumah setelah rumah sakit menyatakan dia tak apa-apa, truly merebah di Sofa, menyalakan TV. Pintu Labirin 2 termina tersedot dalam ruangan yang semakin panas menyelubungi seluruh tubuhnya dengan hentakan-hentakan musik trance dengan segumpal marijuana dengan visualisasi winamp, justin-superscope love. semakin tersedot, semakin dalam... semakin dalam... suara-suara instrumen dan manusia robot berteriak; this is the sign... truly menghempaskan tubuhnya di sofa. melemparkan tas sekolahnya ke sebelah meja, meraih remote control, menyalakan 31 inch di depannya, mtv... tubuhnya sedang menggeliat diiringi lagu "Many Things Are Ultrasonic" single kedua dari sid. dia jadi bintang videoklipnya. dirangkul karna.

335

hanya dia yang tahu, siapa karna, siapa niskala. siapapun tidak tahu. terminapun tidak tahu. semuanya tidak tahu. hanya dia yang tahu. ya, dia tahu, semenjak kejadian sore itu di mal... siang tadi bersama teman-temannya, truly jalan-jalan di mall. Dia melihat semuanya...dan semuanya menjadi jelas. Truly ingin sekali berlari, ingin sekali marah, ingin sekali berteriak. Truly pingsan, koma... Truly dirawat di rumah sakit... Pintu Labirin 3 flower in my mind bersama iringan penari dalam semua bilangan-bilangan absurd seperti akar dua. menyuruhku untuk menghentikan segala keperluan-keperluan fantasi. seperti misalnya kau mencoba merengkuhku dengan segala panas yang selama ini tidak pernah kau tunjukan padaku. tapi aku tak pernah memprotes segala yang pernah kau lakukan itu padaku. sore itu di mall... truly sedang mengalihkan perhatiannya terhadap baju-baju yang merangsangnya untuk segera disikapi menjadi sebentuk pameran model baru itu di depan temantemannya pada saat itu dia melihat semuanya dia melihat semuanya... dibalik etalase transparan, di dekat sebuah toko aksesoris indian, dengan latar belakang poster-poster film yang akan di putar di 21. dia melihat semuanya, semua tabir yang selama ini menghantuinya dalam beribu pertanyaan. tabir yang menggetarkan sel-sel kelabunya untuk segera dipastikan menjadi hitam atau putih. dia melihat semuanya... sebuah eureka atas pengendapan-pengendapan yang selama ini selalu mengendap tak jelas, hanya menjadi sebentuk lumpur, odorless, tasteless. ah, dia melihat semuanya... semua jawabannya sekarang terpampang jelas dihadapannya seperti ribuan gajah dihunjamkan langsung ke pelupuk mata menghentak, menghenyak dan lalu truly berlari...

336

berlari sejauh mungkin berlari dari bayangannya akan memamerkan model baru yang ada dihadapannya berlari dari teman-temannya berlari dari jawaban-jawaban itu berlari keluar mall ke pinggir jalan ke perempatan berlari... dan lalu tak sadarkan diri. memeluk lantai trotoar dalam hening yang sangat panjang. Truly tidak pernah bangun lagi. Pintu Labirin 4 truly menghempaskan badannya di atas sofa. beberapa kejadian mulai terurai lagi dalam memori panjangnya. meraih remote control. mtv segelas juice jeruk datang. makasih! mtv, menyanyikan sebuah lagu dalam videoklipnya. dia menjadi bintang video klipnya saat itu. karna mencoba memeluknya. tapi dia lebih bisa dipeluk niskala saat itu sebab niskala lah yang paling dekat dengannya. sekarang dia menjadi tahu, siapa karna, siapa niskala. keduanya teramat dekat satu sama lain dan satu sama lain teramat dekat dengannya. ah andai kemarin sore dia tidak melihat semuanya. sekarang hanya dialah yang mengetahui semuanya. hanya dia, tiada yang lain. kesakitan lantas menyeruak lagi di sekujur tubuhnya. Truly lantas mengamuk, menghancurkan TV, menghancurkan semua barang di ruang tengah rumahnya. Psikiater memberitahu bahwa truly mengalami gangguan jiwa serius dan harus dirawat di sanatorium. Pintu Labirin 5 ah...

337

trully merebahkan badannya di sofa. sungguh hari yang sangat melelahkan. dia melihat semua hal yang paling tidak ingin dilihatnya. paling tidak ingin dilihatnya setelah dia curiga dengan beberapa hal akhir-akhir ini. paling tidak ingin dilihatnya setelah dia bertanya-tanya tentang beberapa hal yang berbeda yang mulai dicurigainya akhir-akhir ini. paling tidak ingin dilihatnya setelah dia mencium bau busuk yang seperti ingin ditutup rapat rapat sehingga tidak terjangkau penciumannya. paling tidak ingin dilihatnya setelah beberapa burung suit incuing terus menerus berkicau diatas atap gentengnya akhir-akhir ini. mencium bau kematian. bau busuk pengkhianatan. hari ini semua terbukti sudah. dia melihat hal yang paling tidak ingin dilihatnya. tanda-tanda itu sudah merebak menjadi sebuah kenyataan kuat. kenyataan yang paling tidak ingin dialaminya. dia meraih remote control. menghidupkan tv. memindah-mindakan channel. mtv. sid. many things are ultrasonic. labirynth of dream #1 (feat. borges:) karna memeluknya dalam videoklip itu. sebuah kenangan. hanya dia yang tahu kenangan apa yang seharusnya terkenang. Truly termenung dalam diam yang panjang, bahkan terlalu panjang. Truly menjadi sangat introvert...mencintai kesunyian...tak punya teman...menciptakan teman-teman khayalan...hidup dalam dunia khayalan...

Pintu Labirin 6 truly dan rachel melangkahkan kakinya menuju siang hari yang terik. setidaknya rachel saat itu menjadi saksi mata selain dian, bahwa truly memang benar-benar keluar sekolah bersamanya sebelum jam belajar usai. hari memang teramat terik, sehingga rachel mengajak truly untuk mencari tempat ber-ac yang cukup dingin. tempat ber-ac yang cukup dingin terletak di bsm tentu saja. lalu rachel menelepon dian yang sedang berada di kelas. dengan diam-diam tak ketahuan guru dian mengangkat telepon dan menerima sinyal dari rachel untuk segera meninggalkan kelas. rachel dan dian tidak sekelas. dian tahu bahwa truly semenjak istirahat tadi seperti mengelami masalah yang besar. dia perlu jalan-jalan. dian mengambil kunci mobil dari tasnya, dan meminta izin ke toilet kepada gurunya.

338

dengan sedikit berlari dian menyusul rachel dan truly di luar gerbang sekolah. mengedipkan sebelah matanya yang menggoda kepada pak satpam. pak satpam cukup paham terhadap kelompok anak itu. beberapa bungkus rokok dan berlembar puluhan ribu akan segera dia terima sekembalinya mereka dari mabal. mereka lantas meninggalkan sekolah itu. dian menghidupkan ac mobilnya. kemana kita sekarang. bsm. andai saja dia tidak ke bsm siang itu. andai saja mencari tempat ber-ac lain semisal atm atau kafe di sepanjang dago misalnya. andai saja dia menahan pusingnya di kelas tanpa harus mabal. mungkin dia tidak akan menambah pusingnya dengan pemandangan yang dia lihat di dekat bioskop itu. mungkin dia tidak akan sepingsan sekarang. sepusing sekarang. sekarang dia sudah tahu semuanya. semuanya yang selama ini hanya menjadi segumpal pertanyaan abu-abu. segumpal tanda tanya yang menyeruak dalam setiap geraknya, jalannya, makannya dan lain-lainnya. Truly memilih pergi jauh...kuliah di luar negeri...meninggalkan semuanya, masa lalu...wanita sukses...karir...tetapi menjadi putri es...

Wajahmu Yang Hampir Menato Permanen
Oleh: Karna S.I.D. Mimpi Terang bulan Pecahan entah keseberapa ratus menghunjamkan catatan Andras Aradi yang dituangkan Billie Holliday dalam rupa youtube dengan slide show foto-foto sephia pada pertengahan abad ke-20 Mobil vintage dan bunga diatas topi Deru redam serangan swastika terbalik pada anarkisme cinta di balik restoran sapi gulung Grand Piano dan tangan-tangan matematis

339

Serta sebuah surat dalam amplop coklat berisi domba-domba putih mengembikan seribu jerawat di muka kamu Seperti muka terakhirmu yang kulihat di cerminan bulan purnama mei Saat aku melolong di atas puncak bukit tempat para hyang berkomunikasi dengan agen-agennya Saat kita tidak tahu lagi seberapa ranjang pernah kita jajaki kemuramannya Saat denging ribuan cahaya di telinga kita melemparkanku pada percakapanpercakapan terakhir kita Percakapan-percakapan tentang daftar panjang para penjinak buaya atau percakapan tentang model rambut kita yang terjebak pada kejayaan 1999 Atau percakapan tentang 7 hari yang diteriakan Robert Smith seperti yang telah diteriakan para nabi fantasi dari negeri kubus Dan kamu ingat lighter zippo kita yang mereplica bangunan para dewa? Kamu ingat lagu itu yang tiba-tiba aku nyanyikan tanpa sadar meski aku tak suka komposernya… Ayo, sayang… nyalakan apiku! Lalu jarimu memetik dawai zippo, terbunyi denting khas, lalu kamu menggasak pemantik, lalu api, lalu kamu membakarku, setiap kali, selalu seperti itu, aku hangus dan hidup kembali dalam tubuh baru, bayi baru… seperti phoenix dan kamu adalah tuhan para phoenix Ah kamu… Sarkas kita di bulan purnama itu Melejitkan tubuhmu seperti ujung-ujung api Terlepas memadam Dan aku begitu batu Terboyak banal Lalu jeritan-jeritan teredam yang memecahkan salah satu asset bersama kita di kamar terakhir itu, cermin ajaib pemberian Borges yang bisa menggandakan kita berdua sehingga kita selalu punya penggaris untuk mengetahui jarak kita, dan kamu selalu akurat menebak itu

340

Ah kamu… Gergaji angin membadai di kepalaku Surup tubuhmu pada tubuhnya Dia yang datang pada purnama sams Wajahmu menato permanentdi kurva-kurva nini anteh Lalu tiba-tiba itu semua tercetak di mukanya Membentuk senyumnya Menyempurnakan wajahnya menjadi tidak simetris Mengalunkan suaranya, dalam frekwensi tertentu ada kamu di situ… Ah kamu…

CERMIN TUA BAU RAHASIA
Oleh : Karna S.I.D. Bau rahasia di balik tanda-tanda Cermin tua memantulkan siang… Pada malam berbau tajam Di padang jadi terang berbintang… Asap dupa menagih lupa Mantra-mantra membisik angin Gemerisik menguak lupa Gemericik membuka mata

341

Hutan beribu tahun Tempat tuhan mencipta hantu Hantu-hantu berbisik Hantu-hantu bersisik Hantu-hantu bertindik Hantu-hantu berintrik Rintik-rintik Suara jengkerik dan angin barat Suara hujan dan kikik pelan

Serigalalia Fullumoniak Distortif
Oleh: Karna S.I.D murka menerka tawa tua gila berantakan bertato pulau mayat di selatan bencana dan utara pulau mengambang bunga wijayakusumah meledakan katup selangkangannya menebar ribuan serpih benang sari seperti nafas pada setiap erangan purbanya ribuan benang sari itu menyublim menjadi cahaya pada tubuh-tubuh yang mendekatinya lalu terang bulan menabrak gumpalan awan hitam bulan juli di atas kubur batu bermerk purba bertatah lumut-lumut tua setua beringin raksasa memayungi batu-

342

batu lalu kami saling memandang dari puncak-puncak menara mercusuar bermata vertikal berbau kenanga dan kenangan-kenangan busuk abad-abad lalu lalu sepi memilin pelan menggelapkan mata-mata vertikal kami menjadi lebih merah, menjadi lebih luas, menjadi lebih kabut, menjadi kekasih sunyi pada malam-malam berkarat, menjadi tua mencekik udara dengan lolonganlolongan panjang penghambaan pada terang bulan dan jutaan adrenalin yang terangkat ke kepala di setiap bagian permohonan lalu dia bangun dari mimpi panjangnya lalu teleponnya berdering lalu dia mengangkatnya lalu gangguan satelit merusak lolonganku menjadi kata-kata ditelinganya, samar, merobot, semirip dengan, “sayang, aku rindu kamu!” tapi sejak itu, aku tak pernah lagi menyalahkan satelit, sebab dia sudah menutup teleponnya…

PARA PEMUJA LUPA
Oleh : Arogan Muridan

Dua diantara sepuluh kemungkinannya untuk lupa adalah; CEPAT & KELUAR. Akan kuterangkan padamu dua hal itu dari perspektifnya… CEPAT: terbang menembus ingatan dan tak mengingatnya lagi. KELUAR: mengenyahkan semua yang pernah diingat dan berlalu dari waktu. CEPAT & KELUAR… apakah dua kata ini mengingatkanmu pada sesuatu?

343

Sebuah moment tertentu mungkin? Niskala, setahuku, adalah salah seorang dari sembilan orang yang memuja lupa, menjadikan lupa adalah Tuhan mereka. Menyembahnya seperti layaknya kau shalat, ke gereja, ke vihara atau yang lainnya. Pernahkah kau mendengar sebuah kalimat dari seseorang “Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah seperti ingatan melawan lupa.” Itu berarti manusia adalah ingatan dan lupa adalah kekuasaan. Mengerti kan apa yang kumaksud. Siapa satu-satunya hal yang mempunyai kekuasaan, bahkan mutlak? Tuhan. Maka lupa adalah Tuhan. Silogisma Aristoteles, Isn’t it? Dan ingatan adalah manusia. Dengan alasan lain, bukankah manusia selalu mengingat? Dan satu-satunya saat manusia tidak mengingat adalah saat manusia merasakan moment-moment ketuhanan, seperti misalnya ekstasi, orgasme dan banyak lagi. Ini berarti perumpamaan ini mendukung teori diatas bahwa lupa adalah Tuhan. Dan keseluruhan teori inilah yang menyebabkan mereka memuja lupa. Ritual yang paling disukainya dari Agama Lupa ini adalah, mereka menyebutnya, mekanisme penyusunan diri dalam skizoprenia. Ini berarti ingatan benar-benar dihilangkan. Dan kita semua tahu bagaimana orang-orang menyebut hal ini sebagai Lupa Ingatan dengan kata lain GILA. Ada beberapa tahap untuk mencapai level tertinggi dari mekanisme penyusunan diri dalam skizoprenia ini: - Tahap pertama; Migrain. Ini adalah saat kepalamu terbelah. Ini adalah saat kau bisa memisahkan diri dari ingatan. Kau di satu belahan kepala dan ingatan di belahan kepala yang lain. Ini adalah saat dimana kau bisa melihat ingatan dari luar ingatan itu sendiri. Saat inilah dimana kau bisa mengenali ingatanmu dari sudut pandang luar dan mempelajarinya, mengerti kelemahannya untuk kemudian… - Tahap kedua; menyerang ing atan. Menyerang dengan keseluruhan energi dan pengetahuanmu mengenai kelemahannya. Lalu…

344

- Tahap ketiga; kalahkan. Ambil semua yang ada disana. Item-itemnya, file-filenya termasuk file-file yang tersembunyi. Setelah itu - Tahap keempat; hapus dan penjarakan. Hapus semua file yang bisa dihapus dan penjarakan di relung terdalam kepalamu semua file-file Read-Only dan file-file sistem yang tidak bisa dihapus. - Tahap kelima; kuasai tubuhmu dengan apa yang disebut oleh para psikolog sebagai personality disorder ini. Saat inilah sesuatu yang bernama Intuisi muncul. Dan intuisi ini yang kemudian memandu seluruh hidupmu, gerakmu serta keinginanmu. Intuisi inilah yang disebut sebagai level tertinggi dari mekanisme penyusunan diri dalam skizoprenia. Ritual-ritual lainnya sangat bermacam-macam…. Tapi kali ini aku akan menjelaskan mengenai dua dari sepuluh hal yang mungkin membuatnya lupa tadi; CEPAT & KELUAR. Dan saat ini aku akan menjelaskannya dari perspektif seksualitas. I mean berhubungan seks. Seks yang cepat dan keluar. Proses yang cepat lalu keluar. Karena itu adalah inti dari seks. Maka kau juga akan melupakannya setelah itu. Seperti yang terjadi pada binatang, inti dari seks hanyalah untuk meneruskan keturunan bukan? Seperti itu jugalah yang harus dilakukan oleh manusia. Cepat dan keluar, sebuah metode yang menentang kenikmatan. Sebab mereka pikir kenikmatan sex hanya akan mereka nikmati di surga. Meskipun kepercayaan mereka terhadap surga hanyalah setengah karena setengahnya lagi mereka percaya bahwa ketika kau lupa segalanya, kau akan hidup abadi. Ketika kau lupa segalanya, untuk apa ada surga. Mereka tidak membutuhkan kenikmatan apapun, sebab pencapaian tertinggi seorang manusia menurut mereka adalah melupakan segalanya. Lupa ingatan. Gila! Manusia seharusnya hanya melakukan apapun yang mereka butuhkan, bukan inginkan. Hal itu akan menjadi sangat berat ketika ingatan masih bersarang dalam kepala manusia.

345

Sebut saja seorang lagi, namanya Ingkar, seorang lelaki berumur seperempat abad, tidak pernah tumbuh janggut lebat di dagunya, meskipun dia sangat menginginkan janggut lebat, hal ini saya tidak tahu kenapa, tetapi mungkin hanya hal inilah yang dia inginkan, selebihnya dia tidak pernah berkeinginan apapun. Mungkin memang karena dia tahu bahwa memiliki janggut tidak mungkin dia dapatkan, makanya dia berani menginginkan itu, hanya sekedar untuk hiburan saja. Ingkar menemuiku saat ada semacam serangan batin yang melanda diriku dua tahun yang lalu. Ingkar adalah sobatku semenjak SD, dan setahu saya sejak dulu Ingkar sangat jago menyembuhkan luka-luka batin semacam itu. Bayangkan, dari semenjak SD. Ada yang bilang dia sakti karena keturunan dari kakeknya, seorang dukun di daerah Cianjur Selatan, yang terkenal dengan orang-orang yang sakti dan jago ilmu-ilmu mistis semacam itu. Kami memang lama sekali tidak bertemu, kira-kira sepuluh tahun. Dan dia tiba-tiba saja datang, tanpa aku tahu darimana dia tahu sekarang aku tinggal. Dia hanya bilang bahwa tidak sulit menemukanku. Dari sanalah Ingkar bercerita tentang agama lupa yang dia anut itu. Sebenarnya dia adalah salah satu tokoh pembaharu agama lupa itu. Bersama Niskala dia mencoba mengkonversikan agama itu ke dalam media digital yang mereka sebut EPISODE IV MACHINE. Agama ini adalah agama desas-desus selama ratusan tahun, tidak pernah terdeteksi dimana sebenarnya para pengikutnya, dan ternyata agama ini adalah agama leluhur Ingkar. Untuk mengidentifikasi agama lupa dengan lebih lanjut, kita tidak bisa melepaskannya dari sebuah agama desas-desus lain yang juga menjadi pembicaraan banyak orang. Agama desas-desus lain itu sering dibilang bernama Agama Ular dan Pohon, dan para penganutnya sering dijuluki para pemuja ingatan. Setahuku mereka berperang sejak beribu-ribu tahun lalu, sebuah perang rahasia yang sangat besar, perang yang melibatkan hampir seluruh manusia di bumi, tapi hanya mereka yang menyadari peperengan itu. 346

Saya juga mendengar desas desus bahwa Sangkuriang, seorang tokoh legenda sunda, adalah pembuat ajaran agama lupa ini. Kemudian ada cerita lain yang berhubungan dengan perburuan besar-besar gua-gua ular tempat pemujaan para pemuja ingatan. Seorang lainnya lagi dari kesepuluh orang itu mempunyai julukan pendekar tongkat bengkok dari gunung gede. Hidupnya dihabiskan dalam perjalanan menyusuri situs-situs prasejarah dan makam-makam leluhurnya, mencoba membongkar segala hal yang selalu menjadi pertanyaan besar dalam kepalanya. Pertanyaan itu harus terjawab, secepatnya, agar dia bisa cepat-cepat mencapai tingkat tertinggi dari kelupaan: GILA. Pendekar Tongkat Bengkok dari Gunung Gede adalah julukan yang diberikan pada seorang pemuda yang berasal dari sebuah kampung kecil di lembah pegunungan Gede-Pangrango di sebelah barat kota Cianjur. "Dari kampungku, kamu akan melihat kota Cianjur di malam hari seolah danau yang memantulkan bintang yang cerah di atasnya, yang menghampar, sehamparan kota cianjur dan pegunungan selatan. berkelap-kelip. bintang-bintang secara aneh dipantulkan oleh kota cianjur menjadi lebih teratur, berwarna-warni, datar dan luas..." dia bercerita suatu ketika... Dia adalah legenda bagi para petualang. Tiga orang diantara sembilan dari mereka mempunyai julukan para pemakan daging cerdas. Begini cerita tentang mereka; Bangunan dari kayu itu sudah hampir rubuh sejak lama, renta, beruban dan basah kuyup terkena hujan sebulan terakhir ini. Hujan memang deras sekali, menjauhkan matahari dari jangkauan semua penghuni bangunan kayu itu. Begini, sebenarnya tidak melulu kayu melainkan malah di dominasi bambu yang sudah dianyam menjadi bilik-bilik dan dibentuk kubus dengan menambahkan atap rumbia diatasnya, jadilah sebentuk rumah...itu kira-kira delapan puluh tahun yang lalu. Sekarang lebih sebenarnya lagi malah menyerupai gubuk, tapi aku lebih suka
347

menyebutnya bangunan kayu. Untunglah kualitas kayu jaman dulu sangat bagus, direndamnya aja bisa berbulan-bulan bahkan tahun, kuat banget kan jadinya! Penghuninya bermacam-macam; seorang perampok, seorang tabib dan seorang pendongeng keliling. Ketiganya laki-laki disekitaran 25-27. Umur yang produktif untuk profesi masing-masing bukan? Profesi ini tidak mereka pilih melainkan lebih karena keputusan yang tergesa saat itu, saat mereka disekitaran 20-22. Keputus-asaan? Aku lebih menyukai kata yang pertama, keputusan yang tergesa ketimbang keputus-asaan, meski kemudian mereka menyebutnya takdir yang harus mereka jalani. Selain mereka adalah teman satu SMA dulu, kesamaan yang lainnya adalah mereka bertiga menyukai daging rusa atau ayam hutan atau babi hutan hasil buruannya sendiri. Mereka tidak pernah beternak, lebih suka berburu, lebih suka menjadi golongan teratas dalam rantai makanan di hutan itu. Keputusan tinggal di tengah hutan dibuat saat keputusan tergesa itu muncul. Alasan awalnya memang karena gairah berburu mereka tadi, agar lebih dekat dengan buruannya. Alasan berburu juga bukan hanya karena superioritas akan golongan teratas dalam rantai makanan, tapi mereka tahu bahwa daging-daging yang tumbuh di hutan adalah daging-daging cerdas yang berkembang biak secara natural dan tidak diikutcampuri manusia dengan tetek bengek peternakan dan segala macam bisnis didalamnya serta zat kimia buatan berdalih biokimia yang selalu terlibat dalam semua proses itu, bule-bule di Ubud bilangnya ORGANIC. Itupun, berburu, hanya mereka lakukan sekali dalam sebulan, selebihnya mereka vegetarian yang taat, bahkan mereka tidak makan telur, susu atau daging putih, lebih seperti vegan. Makan daging itu kebutuhan, kebutuhan akan gairah omnivora yang masih bersarang dalam tubuh kasar mereka, lebih ke wilayah spiritualitasnya ketimbang kebutuhan jasmani, meski mereka tidak pernah menyangkal bahwa daging rusa, babi hutan atau ayam hutan memiliki protein yang tinggi yang sesekali memicu adrenalin mereka untuk menggairahkan nalurinaluri jasmaniah yang sering mereka abaikan, itulah salah satunya kenapa mereka lebih senang berburu. Daging bikin otak jadi panas, sesekali boleh kan memanaskannya dengan sesuatu yang cerdas, daging yang cerdas. Disamping 348

kebutuhan berada di rantai teratas rantai makanan. Pertama; Syiv (dibaca; SYU), si perampok. Kedua; Brahm (dibaca; BRAM), si tabib. Ketiga; Vishn (dibaca; WIS), si pendongeng keliling. Ini memang bukan nama asli mereka, nama-nama ini mereka ciptakan saat keputusan tergesa itu dibuat untuk kemudian melupakan nama asli masing-masing untuk selamanya. Syiv, sesuai dengan profesinya badannya tinggi besar putih dan ganteng berkarakter dengan rahang yang kuat seolah bisa mengunyah paku seperti mengunyah daging, tipikal para perampok pahlawan ciptaan orang-orang inggris atau legenda-legenda Jawa di jaman kerajaan. Syiv berambut sebahu, bergelombang, tanpa kumis dan janggut, selalu di cukur habis setiap tiga hari sekali. Pakaiannya grungy abis, jeans belel robek-robek di lutut dan di pantat, robek dengan sendirinya sebab dia tidak punya celana lain semenjak keputusan tergesa itu dibuat, sepatu converse all stars putih low cut dan robek-robek juga, lem sepatunya tak pernah copot, tipikal converse all stars buatan luar, karena dia beli waktu itu dari temennya yang lagi sakaw, bisa dipastikan bukan produk tanggerang yang lemnya mudah copot, kaos oblong yang cuma ada dua pilihan warna, hitam dan putih, bersablonkan wajah-wajah para pembesar musik yang dulu saat di Bandung lagunya sering nangkring di list win amp komputernya, Pearl Jam, The Doors, Smashing Pumpkins, Radiohead, Sound Garden, Joy Division dan Sonic Youth. Brahm, berbadan agak gemuk, tinggi juga,kulitnya sawo matang, kepalan tangannya mantap, pertanda bahwa dari tangannya dia bisa mengubah apapun menjadi bentuk yang dia inginkan, selain tabib, Brahm juga punya hobby main tanah liat, wajahnya lembut kekanakan, tapi ada ribuan kebijakan timbul dari sana, seperti Vin Diesel, kokoh tapi lembut, gahar tapi kekanakan, mata Brahm seperti kucing saat merayu kita meminta makan siang. Kepalanya plontos, seperti seorang Budhis, tapi Brahm tidak menganut agama apapun, agama bukan lembaga katanya, agama itu personal. Setelannya sederhana tapi menyentuh, pas dengan karakternya, celana kain yang bahannya jatuh, kemeja berlengan pendek dengan sablonan distro bikinannya dulu di dada kanannya, berkalung tasbih dari kayu cendana yang selalu memancarkan harum. Memakai gelang rajutan yang
349

dibikinnya sendiri, dia belajar membuat ini saat sering nongkrong di emperan BIP di akhir 90-an. Belajar dari anak-anak pedagang lapak emperan BIP. Vishn, kurus, agak hitam seperti tak terurus padahal terbakar sinar matahari, kulit dasarnya sebenarnya putih, lihat aja bagian tubuhnya yang selalu tertutup pakaian, tingginya 5 senti di bawah Syiv, mukanya penuh kerutan di jidat, wajahnya manismanis sunda, rambut 5 senti lebih panjang dari Syiv selalu dibiarkan terurai, ada janggut panjang dengan kumis tipis melintang di bibirnya, matanya selalu bercahaya meski sayu, meski sedang sedih, ide-ide brilian selalu muncul di kepala dan mulutnya, Vishn memang sangat suka bicara, mendongeng, dan terus mendongeng, dongeng apapun yang melintas dikepalanya saat itu. Vishn bersetelan Hippie, kemeja halus putih tua dari katun yang lusuh, celana jeans belel tapi gak robek-robek, sendal jepit dari bekas ban luar mobil, jubah panjang tanpa kancing berwarna coklat selalu melekat di badannya, berkibar ke belakang kalau terkena angin, akan mirip seorang penyihir kalau dia memegang tongkat panjang berlekuk dari batang kayu kaboa yang dia dapatkan dari seorang musafir beberapa tahun lalu di sebuah makam kuno di Panjalu Ciamis dalam sebuah obrolan panjang tentang sejarah spiritualitas raja-raja Sunda. Bangunan kayu yang mereka tinggali sebenarnya dulu dimiliki oleh seorang anggota gerilyawan DI yang dibantai TNI pada jaman Soekarno, tak pernah ditempati lagi karena dianggap angker oleh penduduk di desa yang jaraknya sekitar dua bukit dari sana, maklumlah, gerilyawan DI itu di bantai di rumahnya sendiri, kabar tersiar mayatnya beserta beberapa gerilyawan yang lain gak pernah dikubur, ditelantarkan begitu saja disebelah rumah itu, gak ada yang berani menyentuh mayat mereka, semenjak itu pula jalan setapak menuju hutan jadi berubah, kalau ada penduduk yang ingin mencari kayu bakar harus setengah berkeliling berjalan sejauh mungkin dari area itu, hingga ahirnya jalan lama tertutup ilalang dan tercipta jalan setapak baru yang juga akan menghubungkan dengan desa-desa lain di sekitar pinggiran hutan itu. Suatu keuntungan bagi ketiga lelaki itu ketika tak satupun penduduk desa yang berani menembus jantung hutan itu, tempat mereka berada, jadi mereka santai dan keberadaan mereka tak terdeteksi, gak crowded, tempat yang tepat untuk sebuah persembunyian sakral yang mereka jalani. Persembunyian untuk segera mendapatkan pencapaian 350

tertinggi dari agama yang mereka anut. Dion adalah salah satunya juga. Dia mendapat julukan si morning sickness. Morning Sickness kerap terjadi pada peminum alcohol pemula. pola istirahat jadi tidak beres, itulah kenapa aku bilang pemula, sebab yang sudah alkoholik tubuhnya sudah membuat semacam pengkebalan pada syaraf-syaraf di kepala terhadap tingginya kadar alkohol dalam darah. Penyebab pasti datangnya morning sickness biasanya karena tidur terlalu larut gadang semalaman bersama temanteman lantas bangun terlalu pagi karena kebutuhan buang hajat atau terbangun karena lapar. Lapar ini disebabkan oleh energi yang terlalu banyak keluar, entah kenapa pengaruh alkohol menguras energi lebih banyak ketimbang saat tidak mengkonsumsinya. Setelah itu biasanya susah tidur lagi, bila tidak langsung mendapat nutrisi, sakit kepala akan mulai menyerang. Sakit kepala ini akan hilang sebenarnya bila langsung makan dan lantas tidur lagi, pasti akan ngantuk lagi kok setelah makan. Nah, tapi ada beberapa yang tiba-tiba kehilangan percaya dirinya akan kesembuhan dengan hanya istirahat dan makan yang cukup. Mereka biasanya menghancurkan hatinya, dalam arti sebenarnya, dengan obat sakit kepala. Tidak menggubris peringatan pada bungkus obat sakit kepala itu. Orang-orang ini, para peminum obat sakit kepala, atau pain killer user (selanjutnya akan disebut dengan PKU), pasti mengenal wajahnya. Wajahnya pasti sudah dilihat oleh jutaan orang, terkenal? Ya. Populer? Tidak. Dia memiliki wajah yang terpampang pada bungkus obat sakit kepala paling terkenal di negeri ini, Tetramex. Meski para PKU tidak tahu siapa dia, siapa namanya, seperti apa hidupnya, orang juga banyak yang gak peduli atau gak ngeh sama sekali bahwa cover boy obat sakit kepala itu punya kehidupan. Tidak hanya sekedar foto orang dengan lingkaran-lingakaran bertumpuk di kepalanya. Sekarang, untuk yang ingin tahu, PKU atau bukan, akan kukenalkan dia pada kalian. Namanya Dion, peminum berat, dan seperti kebanyakan cover boy atau selebritis lain, gaya hidupnya sangat glamour. Tapi karena dia hanya seorang
351

cover boy bungkus obat, meski saat itu seleksinya sangat ketat dan dibayar sangat mahal, Dion tidak terkenal, tidak seterkenal cover boy majalah-majalah dewasa. Mana ada wartawan infotainment yang peduli dan ngeh sama dia, cover boy bungkus obat? Please deh... kecuali Dion tiba-tiba menghamili seorang penyanyi cewek yang baru beranjak gede. Dion terpilih sebagai cover boy bungkus obat itu dalam sebuah seleksi yang sangat ketat. Kategorinya adalah wajah itu harus mewakili semua wajah yang sedang mengalami sakit kepala. Wajah tampan tapi ada penderitaan besar disana, dimatanya. Sebagai sebuah catatan, produk obat sakit kepala ini sudah muncul selama 30 tahun lebih, dan setiap 5 tahun sekali mereka mengganti cover boy bungkusnya. Dan selalu dengan wajah yang itu, agak gemuk, baju berkerah simbol pekerja, karena targetnya memang kelas menengah, kelas pekerja, sekarang, karena perusahaan advertising yang mendapatkan order untuk mendesign covernya beganti pemilik, anak-anak muda dengan kreativitas yang lebih fresh dan mencoba meningkatkan target segmentnya, bukan hanya para kelas pekerja tapi juga anak-anak muda yang mulai mengalami trend stress dini karena semakin hari negeri ini semakin sakit, anak-anak muda yang seharusnya ceria menikmati hidup sekarang mulai tergantung dengan pain killer, begitulah lantas secara inisiatif produk ini mulai menambah target segmentnya, memanfaatkan kondisi sakitnya jaman, tahun 2000an...executive muda... Satu lainnya lagi dari sembilan orang itu adalah seorang lelaki botak dengan sedikit tonjolan di atas kepala bagian kirinya. Pernah menjalani pesantren selama tiga tahun akibat tuduhan dari orang tuanya bahwa ia pemakai putaw(heroin). Saat itu dia sering kali berteriak-teriak kesakitan tanpa sebab di kamarnya, mengamuk dan akhirnya ia dikurung oleh orangtuanya di kamarnya untuk jangka waktu yang lama. Semakin lama teriakannya semakin memilukan. Semakin menyakitkan dan semakin membuat orangtuanya yakin bahwa hal itu disebabkan oleh sakaw(sakit karena putaw). Sebuah kekeliruan yang kemudian akan sangat disesali orang tuanya.

352

Selama 3 bulan lelaki itu dikurung dikamarnya, dan tidak pernah sekalipun orangtuanya memanggil dokter karena malu. teriakannya yang khas selama tiga bulan selalu seperti menggumamkan nama seseorang yang diyakini oleh orangtuanya sebagai pacar lelaki itu yang juga pemakai putaw. MARIAM! Akhirnya setelah tiga bulan itu orang tuanya menyerah. Lelaki itu dikirim ke pesantren di tasikmalaya, dan dikemas dalam sebuah peti dengan diikat sekujur tubuhnya seperti seekor singa yang akan dipindahkan dari kebun binatang yang satu ke binatang yang lain. Alasannya masih sama, malu. mulutnya dibungkam dengan plester, tetapi gumaman tentang seorang wanita bernama Mariam itu terus terucap di ujung lidahnya. MARIAMARIAMARIA…!!!! Lelaki itu bernama Jasad, sebuah nama yang mengerikan menurutku. Karena ketika manusia diidentikan dengan hanya bernama jasad, ada kesan mayat dibalik itu. Dan hal ini jelas mendukung pendapatku ketika lelaki bernama Jasad ini memang benar-benar mirip mayat, kurus, pucat dan bermata nyalang, tak ada ekspresi yang tegas disitu. Tak pernah sekalipun aku bisa membedakan apa yang dia rasakan dengan hanya melihat ekpsresi mukanya. Sedih, getir, tragis dan diam dia ungkapkan dengan cara yang sama. Bahkan sedikit senang, karena kupikir dia tidak pernah benar-benar senang, juga dia ungkapakan dengan cara yang sama, muka lurus, nyalang dan tak berkehidupan. Sepertinya, kalau aku tidak pernah berbicara dengannya aku tidak pernah tahu dan akan juga berpikiran sama bahwa tuhan tidak benar-benar pernah memberikan nyawa padanya. Hanya Jasad! Saat itu jasad bercerita padaku tentang sebuah lampu jalan yang cahayanya mengerjap-ngerjap, membuyarkan kepalanya, mendenyarkan matanya. Silau dan sangat percaya bahwa itulah awal munculnya teriakan-teriakan di belakang kepalanya tentang seorang wanita bernama Maria. Mariam lahir dari cahaya. Mariam lahir sendirian kedalam kepalanya. Menyuruhnya meneriakan namanya. Sebenarnya memang bernama Maria, tapi karena diucap berulang-ulang, jadi
353

terdengar Mariam. Maria adalah seorang putri dari salah satu kerajaan rahasia para pemuja ingatan tapi jatuh cinta pada salah seorang pemuja lupa. Dia melarikan diri dari kerajaan, dan semenjak itu dia diburu oleh para pemuja ingatan untuk dibunuh. Dia diterima menjadi yang ke-sembilan dalam kelompok itu. Sejak awal aku curiga dia Maria yang ada dalam artikel ini:

Aroel (StereoMantic) berkolaborasi dengan Maria, penyanyi era 80an Saat itu umurku baru menjelang 7 tahun ketika pertama kali mendengar suaranya di tape deck kuno rakitan pamanku. Beberapa bulan kemudian, vocal group di kampungku menyanyikannya dalam panggung 17 agustusan. Tidak seterkenal Vina Panduwinata memang, tapi albumnya, satusatunya albumnya yang keluar, cukup meledak di telinga banyak orang di tahun itu, 1986. Sebuah tahun ketika musik dekadens banyak merambah kampungkampung di kota kecil. Agak susah menjadi laku karena ada beberapa lagunya yang berbahasa Inggris. Terlalu aneh di telinga orang Indonesia saat itu mendengar orang Indonesia menyanyikan lagu berbahasa Inggris. Maria, nama penyanyi itu, sangat lembut suaranya, seperti permen kunyah. Tidak seberat Iga Mawarni atau seserak Vina Panduwinata, juga hampir tidak sesempurna Sheila Madjid, namun bisa jadi kualitasnya sehebat mereka dan punya karakter sendiri, ya itu tadi, lembut seperti permen kunyah.. Sebab pamanku saat itu hampir memutarnya tiap hari, hingga kasetnya menggulung gak keruan, putus, dan suaranya yang lembut menjadi sedikit fals, dan rebek, dan lalu gak ada suaranya sama sekali, pitanya terlipat-lipat hingga akhirnya rusak dan nenekku tak sengaja membuangnya di tong sampah belakang rumah sebelah kebun kersen. Setelah itu sudah, aku tak pernah lagi mendengar suaranya, bahkan tak pernah lagi melihatnya dalam acara Safari yang di pandu Eddy Soed di TVRI. Namanya menguap seiring munculnya lagu-lagu break dance, dan pamanku sibuk latihan break dance setelah itu. Tak ada satu orang pun yang tahu kemana perginya penyanyi Maria setelah kejatuhannya, sama seperti penyanyi-penyanyi lainnya yang menghilang begitu saja setelah kejatuhan pop 80an. Maria benar-benar 354

dilupakan begitu saja. Apalagi pada dekade 90an yang memiliki kecenderungan mengangkat lagi musik-musik dan fashion 70an. Break dance ditinggalkan tak lama setelah itu, musik Hard Rock dan Metal merajai telinga anak muda. G ‘n R, Metallica, Iron Maiden, Halloween serta Slayer. Mr Big sangat disukai pamanku yang beberapa hari lagi akan menikah. Music 80an benar-benar akan musnah digantikan musik-musik 90an. Music alternative datang membawa angin segar diikuti meledaknya seattle sound serta rock dan pop dari inggris. Dekade ini memang dekade paling sibuk dalam sejarah perkembangan musik. Sebuah dekade ketika orang benar-benar mewujudkan idealismenya, dan uang benar-benar dibicarakan belakangan. Industri dan idealisme bisa berjalan beriringan. Indonesia melahirkan legenda-legenda baru, Slank, Dewa 19, serta Super Band lain yang benar-benar memiliki Fans, bukan hanya konsumen. Music Indie, satu kecenderungan anak muda di Indonesia di akhir tahun 90an melahirkan legenda-legenda baru pula. Ada The Upstair yang memiliki fans setia setiap kali panggungnya berdentang. Atau The S.I.G.I.T. yang nama bandnya aja udah aneh. Kecenderungan ini muncul seiring dengan kebangkitan kembali era 80an. Ada Club 80s yang mencoba memulai itu, atau sebut saja Laluna yang menggeliat dari Bandung, band-band major label ini berawal dari gerakan indie akhir 90an. Kemudian di awal 2000an, 80an mendapat tempat lagi, meski aku tak pernah habis pikir, kenapa fashion teraneh sepanjang zaman bisa ngetrend lagi, aku selalu bergidik ngeliat setelan anak2 80s…model rambutnya kayak model rambut calo angkot..hehe Aroel, salah seorang musisi indie yang namanya sedang berangkat menanjak di top ten radio-radio di kota-kota besar bersama bandnya, Stereomantic, sepertinya senasib denganku, seumur denganku, dengan masa kecil diliputi kebesaran era 80an, memiliki paman yang ngefans sama penyanyipenyanyi pop di era itu, tapi bedanya denganku, kayaknya paman-paman Aroel cukup rajin merawat koleksi-koleksi kasetnya, hingga masih bisa di nikmati Aroel sekarang. Beruntung banget dia. Entah kenapa Aroel memilih Maria dan bukannya penyanyipenyanyi 80an lainnya, untuk berkolaborasi dengannya. Kemudian memilih satusatunya album Maria, Ayo Berdisko dan membuat Re-Mix untuk album itu dengan khas StereoMantic. Ajaib, ramuannya benar-benar memukau, Maria seolah
355

kembali lagi ditengah-tengah perdaban musik Indonesia dengan karakter yang lebih matang, meski Aroel benar-benar mengambil dari kaset aslinya dirubah kedalam format digital dan diramu sedemikian rupa dengan beberapa sentuhan disco 80an dan suara-suara dari alat digital yang lebih canggih sehingga menimbulkan kesan futuris-konservatif. Mereka benar-benar mengajak kita untuk berdisko. Let’s Disco! (demikian nama album itu sekarang) (berdisko sangat berbeda dengan menari, joget ataupun dansa)… Setelah membaca artikel ini saya langsung mencoba menghubungi Aroel dan berhasil mewawancarainya: Kenapa Maria? Karena pamanku, dia ngefans banget sama Maria, bahkan dia punya koleksi kasetnya. Koleksi kasetnya? Bukannya Maria hanya memiliki satu album saja? Iya, tapi pamanku memiliki beberapa album kompilasi yang ada Maria nya, ada sekitar 6 kaset, tapi dari kesemua kompilasi itu gak ada satupun memakai Maria sebagai Hits Single, makanya Maria seperti gak kedenger lagi kiprahnya. Terus lagu-lagu cover Maria yang dibawakan, beberapa, oleh penyanyi-penyanyi 90an, kayak Yuni Shara atau Reza, tapi gak jadi single hits, cuma biar tracknya banyak aja… terus pamanku juga punya koleksi kaset-kaset Maria yang dia beli dari kota-kota yang berbeda. Kaset yang sama? Ayo Berdisko? Ya.. Wow… sebegitu ngefans nya ya? Oh kalo yang ini nggak, bukan karena ngefans, tapi karena pamanku dulu kerja di Recording Company yang mengeluarkan album Maria. Dan kerjaannya keliling Indonesia, ngecek pemasaran kaset-kaset, dan membeli kaset-kaset keluaran recording company itu sebagai bukti bahwa kaset mereka sudah masuk ke kota itu. Dan Pamanmu menyimpan semua bukti kaset itu? Yup! Tapi Cuma Maria dan beberapa lainnya, soalnya yang lain di simpen di gudang kantor untuk dijadikan stok penjualan Oh, jadi dijual lagi? 356

Ya iya lah, mereka kan gak mau rugi… Seneng banget ya punya Paman yang kerja di Pabrik Kaset…terus, bagaimana bisa bertemu Maria? Wah, aku belum pernah bertemu Maria, semua sampling suara Maria aku ambil dari kasetnya…. Kami bahkan belum berkomunikasi sama sekali, dia gak kenal aku. Hak cipta dipegang label, terus mereka udah gak ada ikatan royalty lagi, semuanya dah dibayarin ke Maria. Dan mereka juga gak pernah mencetak ulang Album-albumnya. Labelku sama dengan Maria, itulah kenapa aku gak perlu repot urusan-urusan Hak Cipta. I see… tapi kok kontraknya aneh sih? Jaman itu, produsernya jahat-jahat… liat aja sekarang, kita bakal susah banget dapet ijin recycle lagu-lagu 80an… bakal dihargain mahal banget… sial, itulah kenapa orang lebih banyak nge recycle lagu-lagu 60-70an Kamu tahu Maria dimana? Gak. Terakhir gw denger tahun 90an katanya dia pernah bikin band, dan dah sempet ngeluarin album, tapi saat itu gak ada yang Notice kalo itu Maria penyanyi 80an. Nama Band nya Clarinet. Terus konsermu nanti siapa yang nyanyi? Oh, aku gak akan konser… Cuma bikin album doang… Promosinya? Media… TV, Radio, Internet Pembuktian? Kupikir jaman sekarang dah gak perlu melakukan pembuktian melalui konser kok, toh tanpa itu kaset bisa tetep laku. Tapi kan berarti gak dapet tambahan uang? Album ini kan cuma side project… aku sih kalo manggung tetep ama Stereomantic. Kapan Stereomantic ngeluarin album baru? Kayaknya belum kepikiran deh, soalnya kan aku masih-sibuk-sibuknya ngurusin promosi album Let’s Disco! Paling entaran dipikirinnya… Ok, Roel… Thank’s ya… Sip!

357

Ya, sekarang aku yakin memang Maria yang ini yang aku maksud. Ya, menurut gossip Maria akhirnya mati dan menjadi hantu penghuni toilet di depan sebuah rumah tua di Jalan Dago. Sejak itulah dia dijuluki GLOOMY KUNTI.

*(sebuah fragmen dari cerita yang lebih luas

EPILOG
SUARA-SUARA Sebagian besar dari hidupnya dia habiskan dalam terjaga. Tidak seperti layaknya kebanyakan manusia, teriakannya terengah pendek-pendek, bahkan lebih tepat disebut erangan. Billboard besar terang menerpa wajahnya saat erangan itu muncul, darah menetes diujung bibirnya, matanya bengkak biru, bekas pukulan keras, membabat keriangan yang terkadang muncul tiba-tiba dan bersinar dari sana. Sunyi. Bibirnya merah, lipstick. Matanya dipenuhi eye shadow, sembab, air mata,

358

mengalir membentuk garis hitam dari aliran yang melewati eye liner menuju pipi, dagu, menetes. Tidur hanya 2 jam dalam sehari. Keterlaluan! Dia belum berhasil mengusir bising itu dari telinganya. Menutup telinga, terdengar gemuruh, suara api neraka, itu selalu dibilang oleh para ulama. Noise dari speaker, kabel tape yang buruk, digerogoti tikus, jeritan anak tikus, kucing tiga warna, darah tikus di taringnya. Suara loop yang begitu lambat, mendetak, jantung sekarat. Real drum kits, hentakan gitar pada nada E minor terus-menerus dengan tempo yang sama seperti loop itu, pada 65. Vokal pada lirik: Aku telah keliru memuja dupa sehingga lupa. Aku telah keliru memuja siang sebagai harap. Suara nafas, dihembuskan kuat dari paru-paru, asap rokok. Detak jantung, degup, masih pada tempo 65. Lagi-lagi real drum kits, lengkap, bass drum, snare, hi-hat, simbal. Menceracas, menggelegar. Reverb full pada bass drum, reverse di beberapa bagiannya. Hujan menetes pada atap seng. Paruh ayam mematuk pada beras-beras di atas seng. Masih pada tempo 65. Adzan shubuh. Pulas. Mantra-mantra. Doa-doa. Rintihan-rintihan. Suara jilatan. Mencekik. Sabda sinis. Hantu-hantu. Melingkarkan senja pada terbenamnya matahari pucat. Hentakan kaki pada sepatu yang tengah berlari. Air wudlu meluncur deras dari kran toilet masjid. Beribu malaikat mendekat, berkelebatan, mencabut nyawa, suara kepak ribuan sayap. Gemuruh angin. GAMBAR-GAMBAR Jutaan pixel visual, membentuk ribuan frame, dengan 24 frame setiap detik dalam waktu tak terhingga, menyerbu mataku beramai-ramai, seperti kerubutan burung pipit yang sedang bermigrasi ke timur untuk mejalani pernikahan massal di
359

sebuah gua suci tempat para rahibnya bersemedi. Lantas dengan sebuah kenekadan luar biasa, keberanian luar biasa, kekuatan luar biasa, aku meraih remote control di atas buffet, terengah, merayap, terengah, (jutaan pixel visual terus mengerubuti mataku, kepalaku, memenuhi semua ruang di langit-langit benakku), tercabik sebuah paku yang mencuat di atas lantai kayu kamarku, terengah, merayap, meraih, tercabik… tapi dengan semangat seorang sufi mencapai ekstase, delirium, tubuhku berdarah-darah, delirium… Nis… tunggu… niska… tunggu… niskala…! Tunggu… ha.ha. aku sudah paham betul dengan rajukannya yang seperti itu… rajukan bernada E minor, sedikit merengek, distorsi dan sekepal rayuan yang membuai seribu dusta diatas surga. Dasar mata-mata… pernah suatu kali aku berkata padanya, seperti kata-kata Joey untuk Samantha saat Joey sedang memasuki bidang putih terang dengan gemuruh air terjun yang menderas, menderacas… Coba perhatikan ini: Samantha Story Babak I. Episode I. Samantha Samantha berteriak “Joey…, Joey…, tunggu aku!” Joey membalas berteriak “Samantha? Kau bukan Samantha! Aku tidak kenal kau” Samantha bernyanyi La… la… la… Joey berkeras “Kau bukan Samantha minimal, bukan Samantha yang kukenal.” Nah… mirip, mirip seperti itu… Nis… tunggu… niska… tunggu… niskala…! 360

Lalu kubalas: “Karna…? Kau bukan Karna! Aku tidak kenal kau!” Lalu dia memainkan gitarnya, memetik melodi lagu pertama kami… cras… cras… cras… (Seperti suara golok menebas leher) Dasar bodoh… aku tetap berkeras, kujawab: “Kau bukan Karna, minimal (paling tidak), bukan Karna yang kukenal!” Lantas kutinggalkan dia dibalik cermin… dan aku mulai berjalan memasuki bidang putih. Setelah aku berada didalamnya, aku bersama ribuan cahaya lainnya didalam tabung televisi 14’ ini menyerbu matanya, mengerubuti matanya, kepalanya, memenuhi semua ruang di langit-langit benaknya… Maka terjadilah… Ya… aku berada didalam kepalanya, menjadi matanya, menjelma tangannya, menggelitik telinganya, membuai rongsokan hatinya… menjadi dirinya… siapa? Lalu kudekati cermin… sebab kupikir Karna sudah pergi menemui If yang sedang berduka… kudekati lebih dekat lagi cermin… cermin… ah aku melihat wajahnya… ah… aku kenal sekali dengan wajah ini… bahkan sangat kenal… sangat dekat… dia adalah… *** Akhirnya aku mendapatkan remote ini. Dengan cepat kutekan tombol power. Televisi mati. Jutaan pixel visual dan ribuan frame memudar, berputar cepat lalu menciut dan mati…Lalu aku merasakan sakit yang hebat di langit-langit tempurung kepalaku, seperti dipukuli palu godam berkali-kali… sakit sekali… dan entah kenapa aku tiba-tiba berjalan, tanpa kusadari, menuju cermin dan melihat wajahku sendiri, masih dengan sakit kepala yang hebat, tapi… tapi… ini bukan mataku…mata ini… mata ini sering sekali kupandangi, (saat itu aku selalu memandangi matanya hanya berjarak 2 cm), ah… Niskala… Maha Guru Niskala… akhirnya kau datang. Terima kasih, aku begitu tersanjung engkau mampir ke dalam tubuhku, langit-langit tempurung kepalaku, mataku, tanganku. Well… selamat datang Niskala… selamat datang di tubuhku, langit-langit tempurung kepalaku, mataku, tanganku. Pantaslah begitu sakit, sakit kepala hebat yang kurasakan seperti saat aku sedang bercinta denganmu… masih ingatkah kau Niskala… saat-saat itu… saat kau harus memacu orgasme-mu lebih cepat agar aku
361

tidak terus menjerit, tidak merasakan lagi sakit hebat ketika kau sedang berada didalam vaginaku. Lalu kau belai aku dengan aroma kuat spermamu yang muncul dari tangan lembutmu untuk membelai aku. OH NISKALA… SILENTIUM Mengurai debu pada sebuah kartu pos bergambar sebuah jembatan yang menjadi visual pada kekeringan musim di tenggara dan suara-suara pada frekwensi keheningan yang mencekam membersihkan debu pada kartu pos itu bahkan menghapus gambarnya menekan tombol mute dan mencabut karet tombolnya secara permanen dengan menyebut nama chairil dan rasa dengan menyebut nama willy dan balada dengan menyebut nama soetardjie dan mantra-mantra dengan menyebut nama afrizal dan coca-cola dengan menyebut nama kriapur dan solilokui dengan menyebut nama dj p0p dan schizophrenia dengan menyebut nama mgv dan magnesia dengan menyebut nama niskala dan psikedelia dalam sebuah glossolalia panjang tak beraturan dengan berkaca pada cermin warisan borges dalam sebuah kereta kundera dan seribu derida serta roda-roda kafka dan ensiklopedia sehening persenggamaan tuhan dan rabiah dan asap dupa untuk para penyihir bijaksana dan noktah-noktah rindu rumi dan syam HILANGLAH TANDA SERU

362

(selesai…?)

363

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful