You are on page 1of 25

Kristal secara sederhana dapat didefinisikan sebagai zat padat yang mempunyai

susunan atom atau molekul yang teratur. Keteraturannya tercermin dalam


permukaan kristal yang berupa bidang-bidang datar dan rata yang mengikuti pola-
pola tertentu. Bidang-bidang datar ini disebut sebagai bidang muka kristal. Sudut
antara bidang-bidang muka kristal yang saling berpotongan besarnya selalu tetap
pada suatu kristal. Bidang muka kristal itu baik letak maupun arahnya ditentukan
oleh perpotongannya dengan sumbu-sumbu kristal. Dalam sebuah kristal, sumbu
kristal berupa garis bayangan yang lurus yang menembus kristal melalui pusat
kristal. Sumbu kristal tersebut mempunyai satuan panjang yang disebut sebagai
parameter.
Daya Ikat dalam Kristal
Daya yang mengikat atom (atau ion, atau grup ion) dari zat pada kristalin
adalah bersifat listrik di alam. Tipe dan intensitasnya sangat berkaitan
dengansifat-sifat fisik dan kimia dari mineral. Kekerasan, belahan, daya
lebur, kelistrikan dan konduktivitas termal, dan koefisien ekspansi termal
berhubungan secara langsung terhadap daya ikat
Secara umum, ikatan kuat memiliki kekerasan yang lebih tinggi, titik leleh
yang lebih tinggi dan koefisien ekspansi termal yang lebih rendah. Ikatan
kimia dari suatu kristal dapat dibagi menjadi 4 macam, yaitu: ionik,
kovalen, logam dan van der Waals.
simetri kristal Unsur-unsur
Dari tujuh sistem kristal masing-masing sistem kristal dapat dibagi lebih
lanjut menjadi klas-klas kristal yang jumlahnya 32 klas.. Sistem isometrik
terdiri dari lima kelas, sistem tetragonal mempunyai tujuh kelas, rombis
memiliki tiga kelas, heksagonal memiliki tujuh kelas, dan trigonal lima
kelas. Selanjutnya sistem monoklin memiliki tiga kelas tiap kelas kristal
mempunyai singkatan yang disebut simbol. Penentuan klas-klas kristal
tergantung dari banyaknya unsur-unsur simetri yang terkandung di
dalamnya Unsur-unsur simetri tersebut meliputi :
1. Bidang simetri
2. Sumbu simetri
3. Pusat simetri
Bidang simetri
Bidang simetri adalah bidang bayangan yang dapat
membelah kristal menjadi dua bagian yang sama, dimana
bagian yang satu merupakan pencerminan dari yang lain.
Bidang simetri ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu
bidang simetri aksial dan bidang simetri menengah. Bidang
simetri aksial bila bidang tersebut membagi kristal melalui
dua sumbu utama (sumbu kristal). Bidang simetri aksial ini
dibedakan menjadi dua, yaitu bidang simetri vertikal, yang
melalui sumbu vertikal dan bidang simetri horisontal, yang
berada tegak lurus terhadap sumbu c. Bidang simetri
menengah adalah bidang simetri yang hanya melalui satu
sumbu kristal. Bidang simetri ini sering pula dikatakan
sebagai bidang siemetri diagonal.

Sumbu simetri
Sumbu simetri adalah garis bayangan yang dibuat menembus pusat
kristal, dan bila kristal diputar dengan poros sumbu tersebut sejauh
satu putaran penuh akan didapatkan beberapa kali kenampakan
yang sama. Sumbu simetri dibedakan menjadi tiga, yaitu gire,
giroide dan sumbu inversi putar. Ketiganya dibedakan berdasarkan
cara mendapatkan nilai simetrinya. Gire, atau sumbu simetri biasa,
cara mendapatkan nilai simetrinya adalah dengan memutar kristal
pada porosnya dalam satu putaran penuh. Bila terdapat dua kali
kenampakan yang sama dinamakan digire, bila tiga trigire (3),
empat tetragire (4), heksagire (7) dan seterusnya. Giroide adalah
sumbu simetri yang cara mendapatkan nilai simetrinya dengan
memutar kristal pada porosnya dan memproyeksikannya pada
bidang horisontal. Dalam gambar, nilai simetri giroide disingkat
tetragiroide (4) dan heksagiroide (7). Sumbu inversi putar adalah
sumbu simetri yang cara mendapatkan nilai simetrinya dengan
memutar kristal pada porosnya dan mencerminkannya melalui
pusat kristal. Penulisan nilai simetrinya dengan cara menambahkan
bar pada angka simetri itu. Bila tiga tribar (3), empat tetrabar (4),
heksabar (7), dan seterusnya.
Pusat simetri
Suatu kristal dikatakan mempunyai pusat simetri bila kita
dapat membuat garis bayangan tiap-tiap titik pada
permukaan kristal menembus pusat kristal dan akan
menjumpai titik yang lain pada permukaan di sisi yang lain
dengan jarak yang sama terhadap pusat kristal pada garis
bayangan tersebut. Atau dengan kata lain, kristal
mempunyai pusat simetri bila tiap bidang muka kristal
tersebut mempunyai pasangan dengan kriteria bahwa
bidang yang berpasangan tersebut berjarak sama dari pusat
kristal, dan bidang yang satu merupakan hasil inversi
melalui pusat kristal dari bidang pasangannya

Pada ke tujuh macam sistem kristal terdapat unsur-unsur yang membentuknya.


Unsur-unsur pada sistem kristal adalah segala sesuatu yang terdapat atau
menyusun suatu sistem kristal. Unsur-unsur pembentuk sistem kristal tersebut
adalah:
a. rusuk kristal
b. bidang kristal
c. sudut kristal
Rusuk Kristal
Rusuk adalah suatu garis lurus yang dibentuk antara dua bidang pada kristal
yang berdekatan. Menurut aturan yang berlaku, pada kristal terdapat beberapa
bentuk perusukan. Rusuk-rusuk tersebut adalah rusuk vertikal, rusuk
horisontal yang mengarah ke utara-selatan atau timur-barat atau ke arah lain,
dan rusuk dengan arah serong atau miring yang tidak vertikal maupun
horisontal.
Bidang Kristal
Bidang pada kristal terbentuk dari rusuk-rusuk yang terangkai secara teratur.
Bidang-bidang yang tersusun secara paralel disebut dengan daerah (daerah
kristalografi) pada suatu kristal. Kita dapat menggambar secara paralel suatu
garis khayal yang terletak di dalam daerah. Garis tersebut disebut dengan
sumbu dan daerah yang dilewatinya disebut daerah sumbu. Semakin banyak
daerah pada suatu kristal, maka semakin banyak pula daerah sumbunya. Setiap
daerah sumbu mengindikasikan daerah pada kristal, seperti daerah vertikal
dengan sumbu horisontal, daerah horisontal dengan daerah sumbu vertikal,
dan daerah yang miring.
Misalkan pada gambar 1 bidang a, b, c, h, dan lainnya, tergabung menjadi
suatu daerah dengan daerah sumbu C. Bidang a, g, e, n, dan lainnya
membentuk daerah juga dengan daerah sumbu B. Bidang c, d, e, dan lainnya
membentuk daerah dengan daerah sumbu A. Bidang c, f, g, k membentuk
daerah dengan daerah sumbu D dan bidang c, m, n, p dan lainnya membentuk
suatu daerah dengan dearah sumbu E, dan lain sebagainya.
Setiap bidang pada suatu daerah selalu paralel dengan daerah sumbu. Garis
normal yang digambar dari suatu titik pada suatu daerah sumbu akan tegak
lurus dengan daerah sumbu tersebut dan oleh sebab itu terletak pada suatu
bidang datar melewati titik awal dari garis normal pada daerah sumbu (gambar
3). Bidang datar tersebut disebut dengan daerah bidang datar. Suatu lingkaran
yang digambar dari zona bidang datar dengan titik awal berada di tengah
lingkaran disebut sebagai suatu daerah lingkaran. Lingkaran tersebut terbagi
menjadi beberapa busur. Busur tersebut diukur dari garis normal yang saling
berdekatan. Sudut yang menghasilkan busur tersebut tercipta dari dua garis
normal yang saling berdekatan dan sudut tersebut disebut sebagai sudut
antarbidang kristal di antara dua permukaan kristal (Gambar 2).
Sudut Kristal
Sudut kristal adalah sudut yang terbentuk antara bidang-bidang muka kristal
yang saling berpotongan di satu titik yang besarnya selalu tetap. Besar sudut
tersebut selalu tetap karena sifat fisik kristal bergantung pada susunan
atomnya dan besar kecilnya kristal tidak mempengaruhi sifat fisik kristal
tersebut. Sudut kristal berfungsi untuk menentukan wujud kristal sehingga kita
bisa mengklasifikasikan kristal tersebut lebih lanjut.
System Kristal
Hingga saat ini baru terdapat 7 macam sistem kristal. Dasar penggolongan
sistem kristal tersebut ada tiga hal, yaitu: jumlah sumbu kristal, letak
sumbu kristal yang satu dengan yang lain, parameter yang digunakan
untuk masing-masing sumbu kristal.
Adapun ke tujuh sistem kristal tersebut adalah
1. Sistem ini juga disebut sistem reguler bahkan sering
dikenal sebagai sistem kubus atau kubik. Jumlah sumbu
kristalnya tiga dan saling tegak lurus satu dengan yang
lainnya. Masing-masing sumbu sama panjang.

Sistem kubus ini terbagi menjadi lima kelas, yaitu :


1. kelas hexoctahedral
2. kelas hextetrahedral
3. kelas gyroidal
4. kelas diploidal
5. kelas tetartoidal
Kelas Hexoctahedral
 Kelas : ke-32
 Simetri : 4/m 3bar 2/m
 Elemen Simetri : merupakan klas yang paling simetri
untuk bidang tiga dimensi dengan 4 sumbu putar tiga, 3
sumbu putar dua, dan sumbu putar dua. Dengan 9 bidang
utama dan 1 pusat.
 Garis Sumbu Kristal : tiga garis yang sama disimbolkan
dengan a1, a2, dan a3
 Sudut : ketiga-tiganya 90o
 Bentuk Umum : kubik, bidang delapan, bidang duabelas,
dan trapezium. Dan kadang-kadang trisoktahedron,
tetraheksahedron, dan heksotahedron.
 Mineral yang Umum : flurit, galena, intan, tembaga, besi,
timah, platina, perak, emas, halit, bromargyrit,
kllorargirit, murdosit, piroklor, kelompok garnet, sebagian
besar kelompok spinel, uraninit dan lain-lain.

Kelas Hextetrahedral
 Kelas : ke-31
 Simetri : 4bar 3 m
 Elemen Simetri : ada 4 sumbu putar tiga, 3 sumbu putaempat, dan 6
bidang kaca.
 Sumbu Kristal : tiga sumbu sama panjang yang disebut a1, a2, dan a3.
Sudut : ketiga sudutnya = 90o
Bentuk Umum : empatsisi, tristetrahedron, deltoidal dodecahedron,
dan hekstetrahedron serta yang jarang kubik, rhombik
dodecahedron dan tetraheksahedron.
Mineral yang Umum : sodalit, sphalerit, domeykit, hauyne, lazurit,
rhodizit, dan lain-lain.
Kelas Giroid
 Kelas : ke-30
 Simetri : 4 3 2
 Elemen Simetri : terdapat 3 sumbu putar empat, 4
sumbu putar tiga, dan 6 sumbu putar dua
 Garis Sumbu Kristal : tiga garis yang sama disimbolkan
dengan a1, a2, dan a3
 Sudut : ketiga-tiganya 90o
 Bentuk Umum : kubik, octahedron, dodecahedron, dan
trapezohedron, serta yang jarang trisoctahedron dan
tetraheksahedron.
 Mineral yang Umum : cuprit, voltait, dan sal amoniak.

Kelas Diploidal
 Kelas : ke-29
 Simetri : 2/m 3bar
 Elemen Simetri : ada 4 sumbu putar tiga, 3 sumbu putar
dua, 3 bidang kaca dan satu pusat.
 Garis Sumbu Kristal : tiga garis yang sama disimbolkan
dengan a1, a2, dan a3
 Sudut : ketiga-tiganya 90o
 Bentuk Umum : diploid dan pyritohedron dan juga kubik,
octahedron, rhombik dodecahedron, trapezohedron dan
yang jarang trisoctahedron.
 Mineral yang Umum : pyrite, kobaltit, kliffordit, haurit,
penrosit, tychit, laurit, dan lain-lain

Kelas Tetartoidal
 Kelas : ke-28
 Simetri : 2 3
 Elemen Simetri : terdapat 4 sumbu putar tiga dan tiga
sumbu putar dua.
 Garis Sumbu Kristal : tiga garis yang sama disimbolkan
dengan a1, a2, dan a3
 Sudut : ketiga-tiganya 90o
 Bentuk Umum : tetartoidal yang unik, serta pyritohedron,
kubik, deltoidal dodecahedron, pentagonal dodecahedron,
rhombik dodecahedron, dan tetrahedron.
 Mineral yang Umum : changcengit, korderoit, gersdorffit,
langbeinit, maghemit, micherenit, pharmacosiderit,
ullmanit, dan lain-lain.

Sistem Tetragonal
Sama dengan sistem isometrik, sistem ini mempunyai 3 sumbu
kristal yang masing-masing saling tegak lurus (Gambar 1.3.2).
Sumbu a dan b mempunyai satuan panjang yang sama. Sedangkan
sumbu c berlainan, dapat lebih panjang atau lebih pendek
(umumnya lebih panjang).
Sistem kristal tetragonal dapat dibagi menjadi tujuh kelas, yaitu :
1. Kelas Ditetragonal Dipyramidal
2. Kelas Tetragonal Trapezohedral
3. Kelas Ditetragonal Pyramidal
4. Kelas Tetragonal Scalahedral
5. Kelas Tetragonal Dipyramidal
6. Kelas Tetragonal Disphenoidal
7. Kelas Tetragonal Pyramidal
Kelas Ditetragonal Dipyramidal
Kelas : ke-27
 Simetri : 4/m 2/m 2/m
 Elemen Simetri : terdapat 1 sumbu putar empat, 4 sumbu putar dua, 5
sumbu simetri.
Sumbu Kristal : dua sumbu a dan a’ keduanya sama, dengan satu
sumbu (sumbu c ) bisa lebih panjang atau pendek dari kedua
sumbu lainnya.
 Sudut : semuanya memiliki sudut 90o.
 Bentuk Umum : ditetragonal dipiramid, tetragonal dipiramid,
ditetragonal prism, tetragonal prism, dan basal pinakoid.
 Mineral yang Umum : apophylit, autunit, meta-autunit, torbernit,
meta-torbernit, xenotime, carletonit, plattnerit, zircon, hausmannit,
pyrolusit, thorite, anatase, rilit, dan casiterit dan lain-lain.
Kelas Tetragonal Trapezohedral
Kelas : ke-26
Simetri : 4 2 2
Elemen Simetri : terdapat 1 sumbu putar empat, 2 sumbu putar dua,
semuanya berpotongan tegak lurus ke sumbu putar lain.
Sumbu Kristal : dua sumbu a dan a’ keduanya sama, dengan satu
sumbu (sumbu c ) bisa lebih panjang atau pendek dari kedua
sumbu lainnya.
Sudut : semuanya memiliki sudut 90o.
Bentuk Umum : tetragonal trapezohedron, ditetragonal prism,
tetragonal prism, tetragonal dipyramid, dan basal pinakoid.
Mineral yang Umum : wardit dan kristobalit.
Kelas Ditetragonal Pyramidal
Kelas : ke-25
Simetri : 4 m m
Elemen Simetri : terdapat 1 sumbu putar empat dan 4 bidang simetri.
Sumbu Kristal : dua sumbu a dan a’ keduanya sama, dengan satu
sumbu (sumbu c ) bisa lebih panjang atau pendek dari kedua sumbu
lainnya.
Sudut : semuanya memiliki sudut 90o.
Bentuk Umum : ditetragonal pyramid, ditetragonal prism, tetragonal
prism, tetragonal pyramid, dan pedion.
Mineral yang Umum : diaboleit, diomignit, fresnoit, hematophanit,
dan routhierit.
Kelas Tetragonal Scalahedral
Kelas : ke-24
Simetri : 4bar 2 m
Elemen Simetri : terdapat 1 sumbu putar empat, 2 sumbu putar dua,
dan 2 bidang simetri.
Sumbu Kristal : dua sumbu a dan a’ keduanya sama, dengan satu
sumbu (sumbu c ) bisa lebih panjang atau pendek dari kedua
sumbu lainnya.
Sudut : semuanya memiliki sudut 90o.
Bentuk Umum : tetragonal scalahedron, disphenoid, ditetragonal
prism, tetragonal prism, tetragonal dipyramid, dan pinakoid.
Mineral yang Umum : kalkopirit dan stannit termasuk akermanit,
hardistonit, melilit, urea, luzonit, pirquitasit, renierit, dan
tetranatrolit..
Kelas Tetragonal Dipyramidal
Kelas : ke-23
Simetri : 4/m
Elemen Simetri : terdapat 1 sumbu putar empat dan 1 bidang simetri.
Sumbu Kristal : dua sumbu a dan a’ keduanya sama, dengan satu
sumbu (sumbu c ) bisa lebih panjang atau pendek dari kedua
sumbu lainnya.
Sudut : semuanya memiliki sudut 90o.
Bentuk Umum : tetragonal dipiramid, tetragonal prism, dan pinakoid.
Mineral yang Umum : scapolit, wulfenite, vesuvianit, powellit,
narsarsukit, meta-zeunerit, leucit, fergusonit, dan scheelit.
Kelas Tetragonal Disphenoidal
 Kelas : ke-22
 Simetri : 4bar
 Elemen Simetri : terdapat 1 sumbu putar empat.
 Sumbu Kristal : dua sumbu a dan a’ keduanya sama, dengan satu
sumbu (sumbu c ) bisa lebih panjang atau pendek dari kedua
sumbu lainnya.
 Sudut : semsuanya memiliki sudut 90o.
 Bentuk Umum : tetragonal disphenoidal, tetragonal prism, dan
pinakoid.
 Mineral yang Umum : cahnit, minium, nagyagit, tugtupit, dan
beberapa yang jarang seperti krookesit, meliphanit, schreibersit,
dan vincentit
Kelas Tetragonal Pyramidal
 Kelas : ke-21
 Simetri : 4
 Elemen Simetri : terdapat 1 sumbu putar empat.
 Sumbu Kristal : dua sumbu a dan a’ keduanya sama, dengan satu
sumbu (sumbu c ) bisa lebih panjang atau pendek dari kedua sumbu
lainnya.
 Sudut : semuanya memiliki sudut 90o.
 Bentuk Umum : tetragonal piramid, tetragonal prisma, dan pedion.
Mineral yang Umum : wulfenit (diragukan), pinnoit, piypit, richelit,
dan stenhuggarit.

Sistem Orthorombis
Sistem ini disebut juga orthorombis (Gambar 1.3.3) dan
mempunyai 3 sumbu kristal yang saling tegak lurus satu dengan
yang lain. Ketiga sumbu kristal tersebut mempunyai panjang yang
berbeda.

Sistem orthorombik dibagi menjadi tiga kelas simetri, yaitu :


1. Kelas orthorombik dipiramidal
2. Kelas orthorombik disphenoidal
3. Kelas orthorombik piramidal
Kelas Orthorombik Dipiramidal
 Kelas : ke-8
 Simetri : 2/m 2/m 2/m
 Elemen Simetri : ada 3 sumbu putar dua dengan sebuah
bidang simetri yang berpotongan tegak lurus dengan
ketiga sumbu dan sebuah pusat.
 Sumbu : semuanya tidak sama panjang.
 Sudut : sudut antara ketiganya = 90o.
 Bentuk Umum : orthorombik dipiramid, prisma, dan
pinakoid silang.
 Mineral yang Umum : kelompok barit, termasuk belerang,
olivine, staurolit, andalusit, kelompaok aragonite,
marcasit, topas, brookit, enstatit, anthrophilit, sillimanit,
zoisit, adamit, dan burit, kordierit, wavilit, dan lain-lain.

Kelas Orthorombik Disphenoidal


 Kelas : ke-7
 Simetri : 2 2 2
 Elemen Simetri : ada 3 sumbu putar.
 Sumbu : semuanya tidak sama panjang.
 Sudut : sudut antara ketiganya = 90o.
 Bentuk Umum : orthorombik disphenoid, orthorombik
prisma, dan pinakoid silang.
 Mineral yang Umum : epsomit
Kelas Orthorombik Piramidal
 Kelas : ke-6
 Simetri : 2 m
 Elemen Simetri : ada 1 sumbu putar dua dan 2 bidang.
 Sumbu : semuanya tidak sama panjang.
 Sudut : sudut antara ketiganya = 90o.
 Bentuk Umum : piramid, prisma, kubah, dan pedion.
 Mineral yang Umum : hemimorfit, bertrandit, enargit,
natrolit, dan prehnit.

Sistem Hexagonal
Sistem ini mempunyai empat sumbu kristal, dimana sumbu c tegak
lurus terhadap ketiga sumbu yang lain. Sumbu a, b, dan d masing-
masing saling membentuk sudut 120 satu terhadap yang lain
(Gambar 1.3.4). Sumbu a, b, dan d mempunyai panjang yang sama.
Sedangkan panjang c berbeda, dapat lebih panjang atau lebih
pendek (umumnya lebih panjang)

Bagaimanapun sistem heksagonal dan sistem trigonal tak serupa dengan lima
sistem kristal yang lain dalam hubungan antar perpotongan sumbu kristalnya.
Sementara sistem yang lain menggunakan tiga sumbu perpotongan kristal, sistem
heksagonal dan trigonal menggunakan empat sumbu berpotongan. Dengan enam
sudut pada bidangnya dan satu sumbu vertikalnya. Ketiga sumbunya memotong
tegak lurus terhadap sumbu utama kristal yang membujur vertical dan disebut a1,
a2, dan a3. Perpotongannya simetri membentuk sudut 120o antar bagian positif tiap
sumbu. Pada sistem ini tidak ada perbedaan antara sumbu positif dan negatifuntuk
setiap sumbu a membuat sebuah sudut 60o antara perpotongan. Bagaimanapun
juga, bila ada perbedaan sumbu maka akan membentuk sistem trigonal, sebagai
pembeda dengan heksagonal.
Terdapat tujuh kelas dalam sistem ini, yaitu ;
1. Kelas Dihexagonal Dipyramidal
2. Kelas Hexagonal Trapezohedral
3. Kelas Dihexagonal Pyramidal
4. Kelas Ditrigonal Dipyramidal
5. Kelas Hexagonal Dipyramidal
6. Kelas Trigonal Dipyramidal
7. Kelas Hexagonal Pyramidal
Kelas Dihexagonal Dipyramidal
 Kelas : ke-20
 Simetri : 6/m 2/m 2/m
 Elemen Simetri : terdapat 1 sumbu putar enam, 6 sumbu
putar dua, 7 bidang simetri masing-masing berpotongan
tegak lurus terhadap salah satu sumbu rotasi dan satu
pusat.
 Sumbu Kristal : terdapat tiga sumbu dalam satu bidang,
disebut a1, a2, dan a3 sama panjang satu sama lain,
sumbu a bisa lebih panjang atau pendek dari sumbu c.
 Sudut : sumua sudut antar sumbu positif a sebesar 120o.
Sudut antara semua sumbu a dan sumbu c sebesar 90o.
 Bentuk Umum : diheksagonal piramida, heksagonal
dipiramid, diheksagonal prisma, heksagonal prisma dan
dasar pinakoid.
 Mineral yang Umum : beryl, molibdenit, pyrhotit, nikelin,
grafit kakohenit, seng, fluoserit dan lain-lain.

Kelas Hexagonal Trapezohedral


 Kelas : ke-19
 Simetri : 6 2 2
 Elemen Simetri : terdapat 1 sumbu putar enam, 6 sumbu
putar dua
 Sumbu Kristal : terdapat tiga sumbu dalam satu bidang,
disebut a1, a2, dan a3 sama panjang satu sama lain,
sumbu a bisa lebih panjang atau pendek dari sumbu c.
 Sudut : sumua sudut antar sumbu positif a sebesar 120o.
Sudut antara semua sumbu a dan sumbu c sebesar 90o.
 Bentuk Umum : heksagonal trapesohedron, heksagonal
dipiramid, diheksagonal prism, heksagonal prism, dan
pinakoid.
 Mineral yang Umum :rhapdopane, quetzalcoatlit,
quintinit-2H, dan beta-kuarsa.
Kelas Dihexagonal Pyramidal
 Kelas : ke-18
 Simetri : 6 m m
 Elemen Simetri : terdapat 1 sumbu putar enam, 6 bidang
simetri.
 Sumbu Kristal : terdapat tiga sumbu dalam satu bidang,
disebut a1, a2, dan a3 sama panjang satu sama lain,
sumbu a bisa lebih panjang atau pendek dari sumbu c.
 Sudut : sumua sudut antar sumbu positif a sebesar 120o.
Sudut antara semua sumbu a dan sumbu c sebesar 90o.
 Bentuk Umum : diheksagonal piramida, heksagonal
pyramid, diheksagonal prism, heksagonal prism dan
pedion.
 Mineral yang Umum : zincit, moissanit, taafeit,
greenockit, dan wurtzit.
Kelas Ditrigonal Dipyramidal
 Kelas : ke-17
 Simetri : 6bar 2m
 Elemen Simetri : terdapat 1 sumbu putar enam, 3 sumbu
putar dua, dan 4 bidang simetri.
 Sumbu Kristal : terdapat tiga sumbu dalam satu bidang,
disebut a1, a2, dan a3 sama panjang satu sama lain,
sumbu a bisa lebih panjang atau pendek dari sumbu c.
 Sudut : sumua sudut antar sumbu positif a sebesar 120o.
Sudut antara semua sumbu a dan sumbu c sebesar 90o.
 Bentuk Umum : diheksagonal piramida, heksagonal
pyramid, diheksagonal prism, heksagonal prism dan
pedion.
 Mineral yang Umum : benitoit, belkovit, konnelit,
baringerit, basnasit, hidroksil basnasit, ofretit dan lain-
lain.
Kelas Hexagonal Dipyramidal
 Kelas : ke-16
 Simetri : 6/m
 Elemen Simetri : terdapat 1 sumbu putar enam, 1 bidang
simetri.
 Sumbu Kristal : terdapat tiga sumbu dalam satu bidang,
disebut a1, a2, dan a3 sama panjang satu sama lain,
sumbu a bisa lebih panjang atau pendek dari sumbu c.
 Sudut : sumua sudut antar sumbu positif a sebesar 120o.
Sudut antara semua sumbu a dan sumbu c sebesar 90o.
 Bentuk Umum : heksagonal dipyramid, heksagonal
prisma, dan basal pinakoid.
 Mineral yang Umum : agardit, hangsit, hedyphane, mixit
thaumasit, dan kelompok apatit (apatit, mimetit,
vanadinit, dan pyromorpit).
Kelas Trigonal Dipyramidal
 Kelas : ke-15
 Simetri : 6bar (ekuivalen dengan 6/m)
 Elemen Simetri : terdapat 1 sumbu putar enam, 1 bidang
simetri.
 Sumbu Kristal : terdapat tiga sumbu dalam satu bidang,
disebut a1, a2, dan a3 sama panjang satu sama lain,
sumbu a bisa lebih panjang atau pendek dari sumbu c.
 Sudut : sumua sudut antar sumbu positif a sebesar 120o.
Sudut antara semua sumbu a dan sumbu c sebesar 90o.
 Bentuk Umum : trigonal dipiramid, trigonal prism, dan
basal pinakoid.
 Mineral yang Umum : hanya mineral-mineral jarang
laurelit, liotit, dan reederit-(Y).
Kelas Hexagonal Pyramidal
 Kelas : ke-14
 Simetri : 6
 Elemen Simetri : hanya terdapat 1 sumbu putar enam.
 Sumbu Kristal : terdapat tiga sumbu dalam satu bidang,
disebut a1, a2, dan a3 sama panjang satu sama lain,
sumbu a bisa lebih panjang atau pendek dari sumbu c.
 Sudut : sumua sudut antar sumbu positif a sebesar 120o.
Sudut antara semua sumbu a dan sumbu c sebesar 90o.
 Bentuk Umum : hexagonal pyramid, heksagonal prism,
dan pedion.
 Mineral yang Umum : nephelin, kankrinit, erionit,
berthierit, dan gyrolit.
Sistem Trigonal
Beberapa ahli memasukkan sistem ini ke dalam sistem heksagonal
demikian pula cara penggambarannya juga sama. Perbedaannya
bila pada trigonal setelah terbentuk bidang dasar, yang berbentuk
segienam kemudian dibuat segitiga degnan menghubungkan dua
titik sudut yang melewati satu titik sudutnya.

Sistem trigonal terbagi menjadi lima kelas sistem, yaitu :


1. Kelas Hexagonal Scalenohedral
2. Kelas Trigonal Trapezohedral
3. Kelas Ditrigonal Pyramidal
4. Kelas Rhombohedral
5. Kelas Trigonal Pyramidal
Kelas Hexagonal Scalenohedral
 Kelas : ke-13
 Simetri : 3bar 2/m
 Elemen Simetri : ada 1 bidang putar tiga, 3 bidang putar
dua, 3 bidang simetri
 Sumbu Kristal : tiga sumbu, semua dalam satu bidang
disebut a1, a2, dan a3 sama satu sama lain, tapi sumbu-
sumbu tersebut dapat lebih pendek ata lebih panjang dari
sumbu c.
 Sudut : semua sudut antara dasar sumbu a = 120o.
Sudut antara sumbu a dan sumbu c = 90o.
 Bentuk umum : scalenohedron, rhombohedron,
diheksagonal prisma, hexagonal prisma, hexagonal
dipiramid, dan basal pinakoid.
 Mineral yang Umum : anggota kelompok kalsit, termasuk
korondum, hematit, bismuth, antimon, sturmanit, brusit,
arsenic, soda niter, chabazit, dan millerit.
Kelas Trigonal Trapezohedral
 Kelas : ke-12
 Simetri : 3 2
 Elemen Simetri : ada 1 sumbu putar tiga, 3 sumbu putar
dua.
 Sumbu Kristal : tiga sumbu, semua dalam satu bidang
disebut a1, a2, dan a3 sama satu sama lain, tapi sumbu-
sumbu tersebut dapat lebih pendek ata lebih panjang dari
sumbu c.
 Sudut : semua sudut antara dasar sumbu a = 120o.
Sudut antara sumbu a dan sumbu c = 90o.
 Bentuk umum : trigonal trapezohedron, rhombohedron,
trigonal prism, ditrigonal prism, trigonal dipiramid, dan
basal pinakoid.
 Mineral yang Umum : kuarsa, tellurium berlinit, dan
cinnabar.

Kelas Ditrigonal Pyramidal


 Kelas : ke-11
 Simetri : 3m
 Elemen Simetri : ada 1 sumbu putar tiga dan 3 bidang
simetri
 Sumbu Kristal : tiga sumbu, semua dalam satu bidang
disebut a1, a2, dan a3 sama satu sama lain, tapi sumbu-
sumbu tersebut dapat lebih pendek ata lebih panjang dari
sumbu c.
 Sudut : semua sudut antara dasar sumbu a = 120o.
Sudut antara sumbu a dan sumbu c = 90o.
 Bentuk umum : ditrigonal pyramid, heksagonal prism,
heksagonal pyramid, trigonal prism, ditrigonal prism, dan
pedion.
 Mineral yang Umum : anggota kelompok tourmalin,
termasuk didalamnya pyrargyrit, jarosit, natrojarosit,
alunit, dan proustit.
Kelas Rhombohedral
 Kelas : ke-10
 Simetri : 3bar
 Elemen Simetri : ada 1 sumbu putar tiga dan sebuah
pusat
 Sumbu Kristal : tiga sumbu, semua dalam satu bidang
disebut a1, a2, dan a3 sama satu sama lain, tapi sumbu-
sumbu tersebut dapat lebih pendek ata lebih panjang dari
sumbu c.
 Sudut : semua sudut antara dasar sumbu a = 120o.
Sudut antara sumbu a dan sumbu c = 90o.
 Bentuk umum : rhombohedron, heksagonal prism, dan
basal pinakoid.
 Mineral yang Umum : anggota kelompok dolomit,
termasuk ankerit, ilmenit, dioptase, willemit, dan
phenakit.

Kelas Trigonal Pyramidal


 Kelas : ke-9
 Simetri : 3
 Elemen Simetri : ada 1 sumbu putar tiga
 Sumbu Kristal : tiga sumbu, semua dalam satu bidang
disebut a1, a2, dan a3 sama satu sama lain, tapi sumbu-
sumbu tersebut dapat lebih pendek ata lebih panjang dari
sumbu c.
 Sudut : semua sudut antara dasar sumbu a = 120o.
Sudut antara sumbu a dan sumbu c = 90o.
 Bentuk umum : trigonal pyramid, trigonal prism, dan
pedion.
 Mineral yang Umum : gratonit hanya satu-satunya yang
dikenal dalam kelas ini.

Sistem Monoklin
Monoklin artinya hanya mempunyai satu sumbu yang miring dari
tiga sumbu yang dimilikinya. Sumbu a tegak lurus terhadap sumbu
b; b tegak lurus terhadap c, tetapi sumbu c tidak tegak lurus
terhadap sumbu a. Ketiga sumbu tersebut mempunyai panjang
yang tidak sama, umumnya sumbu c yang paling panjang dan
sumbu b yang paling pendek.

Sistem monoklin dibagi menjadi tiga kelas, aitu :


1. Kelas prismatic
2. Kelas sphenoidal
3. Kelas domatik
Kelas Prismatic
 Kelas : ke-5
 Simetri : 2/m
 Elemen Simetri : 1 sumbu putar dua dengan sebuah
bidang simetri yang berpotongan tegak lurus.
 Sumbu : tidak ada yang sama panjang.
 Sudut : a dan b = 90˚, tapi a dan c tidak saling tegak
lurus.
 Bentuk Umum : monoklin prisma dan pinakoid.
 Mineral yang Umum : akanthit, aktinolit, aegirin, azurite,
allamit, annabergit, arsenopyrit, biotit, borak,
boulangerit, brazilianit, brochantit, butlerit, calaverit,
carnotit, catapleit, caledonit, celsian, klinoklas, kriolit,
datolit, diopside, gypsum, manganit, olivenit, psilomelan,
rosasit, talc, wolframit, titanit, dan lain-lain.

Kelas Sphenoidal
 Kelas : ke-4
 Simetri : 2
 Elemen Simetri : 1 sumbu putar.
 Sumbu : tidak ada yang sama panjang.
 Sudut : a dan b = 90o, tapi a dan c tidak saling tegak
lurus.
 Bentuk Umum : sphenoid, pedion, dan pinakoid.
 Mineral yang Umum : boltwoodit, halotrichit,
franklinfurnaceit, goosekrecit, mesolit, rinkit, wollastonit-
2M dan lain-lain.
Kelas Domatik
 Kelas : ke-3
 Simetri : m
 Elemen Simetri : 1 bidang simetri.
 Sumbu : tidak ada yang sama panjang.
 Sudut : a dan b = 90o, tapi a dan c tidak saling tegak
lurus.
 Bentuk Umum : kubah, pedion, dan pinakoid.
 Mineral yang Umum : alamosit, antigorit (serpentin),
klinohedrit, natron, neptunit, skolosit, dan lain-lain.

Sistem Triklin
Sistem ini mempunyai tiga sumbu yang satu dengan lainnya tidak saling tegak
lurus. Demikian juga panjang masing-masing sumbu tidak sama. Sumbu tersebut
dinamai seperti pada sistem orthorombik yaitu a, brachyaxis; b, makroaxis; dan c,
vertical axis. Sumbu c membujur vertical, sumbu b melintang dari kiri ke kanan,
dan sumbu a melintang menuju pengamat.

Sistem triklin terbagi menjadi dua kelas, yaitu :


1. Kelas pinakoid
2. Kelas pedial
Kelas Pinakoid
 Kelas : ke-2
 Simetri : 1bar
 Elemen Simetri : hanya sebuah pusat.
 Sumbu Kristal : tiga sumbu tak sama panjang.
 Sudut : tak ada satupun yang tegak lurus.
 Bentuk Umum : pinakoid.
 Mineral yang Umum : albit, ambligonit, anapait, andesine,
babingtonit, bustamit, colinsit, inesit, jamesit, labradorit,
rhodonit, dan lain-lain.
Kelas Pedial
 Kelas : ke-1
 Simetri : 1
 Elemen Simetri : hanya sebuah pusat.
 Sumbu Kristal : tiga sumbu tak sama panjang.
 Sudut : tak ada satupun yang tegak lurus.
 Bentuk Umum : pedion.
 Mineral yang Umum : axinit, amesit, tundrit, kaolinit,
epistolit, dan lain-lain.

Contoh kasus
Perubahan Struktur Kristal dari Barium Titanat (BaTiO3)
Barium titanat mempunyai 5 struktur kristal yang berbeda yaitu hexagonal, kubik,
tetragonal, orthorhombik dan rhombohedral. Struktur kristal hexagonal dan
struktur kristal kubik dari barium titanat mempunyai sifat paraelektrik, sedangkan
pada struktur kristal tetragonal, orthorhombik dan rhombohedral dari barium
titanat mempunyai sifat sebagai material ferroelektrik.

Gambar Perubahan struktur kristal dari Barium Titanat


Pada temperatur diatas 1460 oC barium titanat mempunyai struktur kristal
hexagonal. Pada saat terjadi pendinginan pada suhu 1460 oC, terjadi perubahan
struktur kristal dari hexagonal menjadi kubik. Keadaan yang sangat penting
terjadi pada temperatur 120 oC karena pada temperatur ini, barium titanat
bertransformasi secara spontan dari paraelektrik menjadi ferroelektrik. Struktur
kubik akan terpolarisasi sehingga kisi kristal akan berubah sekitar 1% dan
akibatnya struktur kristal berubah menjadi tetragonal. Pada keadaan ini, atom
titanium akan bergeser keatas sebesar 0,006 nm, sehingga bagian atas akan
bermuatan positif dan bagian bawah akan bermuatan negatif. Akibatnya, struktur
kristal barium titanat akan berubah dari kubik menjadi tetragonal. Hal ini sangat
penting untuk dapat menjelaskan proses dielektrik material.

Gambar Struktur Tetragonal dari BaTiO3 (a) posisi atom dalam 3 dimensi (b)
posisi atom dalam 2 dimensi.
Sifat dielektrik dari single crystal barium titanat pertama kali diteliti oleh Merz.
Pada struktur kristal kubik hanya ada satu konstanta dielekrik, sedangkan pada
struktur kristal tetragonal terdapat dua yaitu κa dan κc. Kedua konstanta ini dapat
diukur pada satu kristal tunggal. Pada struktur kristal orthorhombik dan
rhombohedral sangat sulit menjelaskan konstanta dielektriknya. Pada gambar
menunjukkan konstanta dielektrik terhadap fungsi dari temperatur. Pada gambar
ini, hanya harga konstnta dielektrik pada struktur kristal tetragonal yang
mempunyai arti yang jelas. Harga konstanta dielektrik mencapai harga yang
terbesar pada saat temperatur pada barium titanat terletak pada titik temperatur
curie. Pada saat temperatur 120 oC konstanta dielektrik dari barium titanat
mempunyai harga sebesar 10000. Seperti dijelaskan sebelumnya, pada temperatur
ini, barium titanat terjadi polarisasi spontan dari paraelektrik menjadi
ferroelektrik. Kristal barium titanat menjadi metastabil sehingga terjadi perubahan
fasa antara kubik menjadi tetragonal. Akibatnya harga dari konstanta dielektrik
dari barium titanat mempunyai harga yang tinggi[4].

Gambar Konstanta dielektrik dari Barium Titanat (BaTiO3) terhadap fungsi


temperatur
Barium titanat mempunyai keuntungan yaitu temperatur curie (Tc) yang
mendekati temperatur kamar dibandingkan material ferroelektrik lainnya. Tabel
menunjukkan perbandingan temperatur curie barium titanat.
Tabel Temperatur curie material ferrolektrik

Material Ferroelektrik Tc (oC)

Barium Titanate, BaTiO3 120


Potassium niobate, KNbO3 434
Potassium dihydrogen phosphate, KDP, KH2PO4 -150
Lead Titanate, PbTiO3 490
Lithium Niobate, LiNbO3 1210
Bismuth Titanate, Bi4Ti3O12 675

Gambar menunjukan skema orientasi polarisasi kristal barium titanat yang


menjelaskan bahwa terdapat harga konstanta dielektrik yang berlainan. κa adalah
konstanta dielektrik pada keadaan vektor polarisasi sejajar dan κ c konstanta
dielektrik pada keaadan vektor polarisasi tegak lurus. Hal ini menunjukkan bahwa
arah orientasi polarisasi dapat menentukan harga dari konstanta dielektrik itu
sendiri.