You are on page 1of 76

X

“ISU LINGKUNGAN
GLOBAL DAN NASIONAL”
X

“ISU LINGKUNGAN GLOBAL DAN
NASIONAL”
 PENDAHULUAN
 TINJAUAN PUSTAKA
 PEMBAHASAN
Home X

PENDAHULUAN

 Latar Belakang Masalah
 Rumusan Masalah
 Pembatasan Masalah
 Tujuan Penulisan
Home X

Latar Belakang Masalah
 factor-faktor apa yang melandasi signifikansi dan urgensi dari masalah
lingkungan dalam hubungan internasional?
 bagaimana kaitan antara isu lingkungan dengan pola interaksi
hubungan internasional yang ada?
 sejauh mana isu lingkungan telah menghidupkan kembali konflik
structural Utara - Selatan ? apakah yang menjadi inti permasalahan
sesunguhnya?
Menurut Michael Jacobs (1997:1) benang merah yang menghubungkan
keragaman persoalan lingkungan ini adalah bahwa kesemuanya berkenaan
dengan masalah tentang hubungan antara human society dan the natural world.
Akan. Akan tetapi dalam beberapa hal ada perbedaan dalam hal “motivasi” di
belakang isu-isu lingkungan tersebut. Misalnya isu tentang pemanasan global
atau kelangkaan cadangan ikan di laut, lebih didorong oleh masalah
keberlangsungan (sustainability) system ekonomi yang ada. kemudian masalah
food safety, chemical pollution, urban traffic congestion dimotivasi oleh isu
kesehatan dan amenity.
Home X

Rumusan Masalah
 Seberapa besar dampak dari adanya pemanasan global terhadap
lingkungan secara global?
 Apa saja dampak dari terjadinya pemanasan global?
 Bagainama cara penanggulangannya?
Home X

Pembatasan Masalah
Dari perumusan masalah diatas maka penulis membuat
pembatasan masalah yang secara umum membahas permasalahan
tentang pemanasan global saja.
Home X

Tujuan Penulisan
Tujuan penelitian ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah
Ilmu Alamiah Dasar. Selain itu, tujuan penulisan ini adalah untuk
memberikan informasi tentang isu lingkungan global yang sedang
terjadi pada saat ini. Semua gejala alam yang sedang terjadi di muka
bumi.
Home X

TINJAUAN PUSTAKA

 Atmosfer
 Hujan Asam
 Pemanasan Global
 Fenomena El Nino dan La Nina
 Tsunami
X

Atmosfer
Atmosfer adalah lapisan gas yang melingkupi sebuah
planet, termasuk bumi, dari permukaan planet tersebut sampai
jauh di luar angkasa. Di bumi, atmosfer terdapat dari ketinggian
0 km di atas permukaan tanah, sampai dengan sekitar 560 km
dari atas permukaan bumi. Atmosfer tersusun atas beberapa
lapisan, yang dinamai menurut fenomena yang terjadi di lapisan
tersebut. Transisi antara lapisan yang satu dengan yang lain
berlangsung bertahap. Studi tentang atmosfer mula-mula
dilakukan untuk memecahkan masalah cuaca, fenomena
pembiasan sinar matahari saat terbit dan tenggelam, serta
kelap-kelipnya bintang. Dengan peralatan yang sensitif yang
dipasang di wahana luar angkasa, kita dapat memperoleh
pemahaman yang lebih baik tentang atmosfer berikut fenomena-
fenomena yang terjadi di dalamnya.
X

Hujan Asam
Hujan asam didefinisikan sebagai segala macam hujan dengan pH
di bawah 5,6. Hujan secara alami bersifat asam (pH sedikit di bawah 6)
karena karbondioksida (CO2) di udara yang larut dengan air hujan
memiliki bentuk sebagai asam lemah. Jenis asam dalam hujan ini
sangat bermanfaat karena membantu melarutkan mineral dalam tanah
yang dibutuhkan oleh tumbuhan dan binatang.

Hujan asam disebabkan oleh belerang (sulfur) yang merupakan
pengotor dalam bahan bakar fosil serta nitrogen di udara yang bereaksi
dengan oksigen membentuk sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Zat-zat
ini berdifusi ke atmosfer dan bereaksi dengan air untuk membentuk
asam sulfat dan asam nitrat yang mudah larut sehingga jatuh bersama
air hujan. Air hujan yang asam tersebut akan meningkatkan kadar
keasaman tanah dan air permukaan yang terbukti berbahaya bagi
kehidupan ikan dan tanaman. Usaha untuk mengatasi hal ini saat ini
sedang gencar dilaksanakan.
X

Pemanasan Global
 Pemanasan global adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata
atmosfer, laut, dandaratan Bumi. Suhu rata-rata global pada permukaan
Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus
tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC)
menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan suhu rata-rata
global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan
oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas
manusia"[1] melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah
dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk
semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi,
masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa
kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.
 Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-
perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya
intensitas fenomena cuaca yang ekstrim, serta perubahan jumlah dan
pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah
terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya
berbagai jenis hewan.
X

Fenomena El Nino dan La
Nina
El-Nino, menurut sejarahnya adalah sebuah fenomena yang
teramati oleh para penduduk atau nelayan Peru dan Ekuador yang
tinggal di pantai sekitar Samudera Pasifik bagian timur menjelang hari
natal (Desember). Fenomena yang teramati adalah meningkatnya suhu
permukaan laut yang biasanya dingin. Fenomena ini mengakibatkan
perairan yang tadinya subur dan kaya akan ikan (akibat adanya
upwelling atau arus naik permukaan yang membawa banyak nutrien
dari dasar) menjadi sebaliknya. Pemberian nama El-Nino pada
fenomena ini disebabkan oleh karena kejadian ini seringkali terjadi pada
bulan Desember. El-Nino (bahasa Spanyol) sendiri dapat diartikan
sebagai “anak lelaki”. Di kemudian hari para ahli juga menemukan
bahwa selain fenomena menghangatnya suhu permukaan laut, terjadi
pula fenomena sebaliknya yaitu mendinginnya suhu permukaan laut
akibat menguatnya upwelling. Kebalikan dari fenomena ini selanjutnya
diberi nama La-Nina (juga bahasa Spanyol) yang berarti “anak
X

Tsunami
 Tsunami (bahasa Jepang: secara harafiah berarti "ombak besar di
pelabuhan") adalah sebuah ombak yang terjadi setelah sebuah
gempa bumi, gempa laut, gunung berapi meletus, atau hantaman
meteor di laut. Tenaga setiap tsunami adalah tetap terhadap fungsi
ketinggian dan kelajuannya. Dengan itu, apabila gelombang
menghampiri pantai, ketinggiannya meningkat sementara kelajuannya
menurun. Gelombang tersebut bergerak pada kelajuan tinggi, hampir
tidak dapat dirasakan efeknya oleh kapal laut (misalnya) saat melintasi
di laut dalam, tetapi meningkat ketinggian hingga mencapai 30 meter
atau lebih di daerah pantai. Tsunami bisa menyebabkan kerusakan
erosi dan korban jiwa pada kawasan pesisir pantai dan kepulauan.
 Dampak negatif yang diakibatkan tsunami adalah merusak apa saja
yang dilaluinya. Bangunan, tumbuh-tumbuhan, dan mengakibatkan
korban jiwa manusia serta menyebabkan genangan, pencemaran air
asin lahan pertanian, tanah, dan air bersih.
Home X

PEMBAHASAN
Isu Lingkungan Global
ISU LINGKUNGAN NASIONAL
X

Isu Lingkungan Global

 Atmosfer Bumi
 Hujan Asam
 Pemanasan global
 Fenomena El Nino dan la Nina
 Tsunami

X

Atmosfer Bumi

Lapisan-lapisan atmosfer bumi terdiri dari :
 Troposfer
 Stratosfer
 Mesosfer
 Termosfer
 Eksosfer

X

Atmosfer adalah lapisan gas yang melingkupi sebuah planet, termasuk bumi,
dari permukaan planet tersebut sampai jauh di luar angkasa. Di bumi, atmosfer terdapat
dari ketinggian 0 km di atas permukaan tanah, sampai dengan sekitar 560 km dari atas
permukaan bumi. Atmosfer tersusun atas beberapa lapisan, yang dinamai menurut
fenomena yang terjadi di lapisan tersebut. Transisi antara lapisan yang satu dengan
yang lain berlangsung bertahap. Studi tentang atmosfer mula-mula dilakukan untuk
memecahkan masalah cuaca, fenomena pembiasan sinar matahari saat terbit dan
tenggelam, serta kelap-kelipnya bintang. Dengan peralatan yang sensitif yang dipasang
di wahana luar angkasa, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang
atmosfer berikut fenomena-fenomena yang terjadi di dalamnya.
Atmosfer Bumi terdiri atas nitrogen (78.17%) dan oksigen (20.97%), dengan
sedikit argon (0.9%), karbondioksida (variabel, tetapi sekitar 0.0357%), uap air, dan gas
lainnya. Atmosfer melindungi kehidupan di bumi dengan menyerap radiasi sinar
ultraviolet dari matahari dan mengurangi suhu ekstrem di antara siang dan malam. 75%
dari atmosfer ada dalam 11 km dari permukaan planet.
Atmosfer tidak mempunyai batas mendadak, tetapi agak menipis lambat laun dengan
menambah ketinggian, tidak ada batas pasti antara atmosfer dan angkasa luar.
Kandungan dalam lapisan atmosfir bumi.
- Nitrogen 78,17%
- Oksigen 20,97
- Argon 0,98%
- Karbon dioksida 0,04%
Sisanya adalah zat lain seperti kripton, neon, xenon, helium, higrom dan ozon

X

Troposfer

Lapisan ini berada pada level yang paling rendah, di mana campuran
gas-gasnya adalah yang paling ideal untuk menopang kehidupan di bumi.
Di lapisan ini kehidupan juga terlindung dari sengatan radiasi yang
dipancarkan oleh benda-benda langit lain. Dibandingkan dengan lapisan
atmosfer yang lain, lapisan ini adalah yang paling tipis (kurang lebih 15
kilometer dari permukaan tanah). Di dalam lapisan ini, hampir semua jenis
cuaca, perubahan suhu yang mendadak, angin tekanan dan kelembaban
yang kita rasakan sehari-hari terjadi.
Ketinggian yang paling rendah adalah bagian yang paling hangat dari
troposfer, karena permukaan bumi menyerap radiasi panas dari matahari
dan menyalurkan panasnya ke udara. Biasanya, jika ketinggian bertambah,
maka suhu udara akan berkurang secara tunak (steady), dari sekitar 17-52
derajad celcius. Namun topografi di permukaan bumi, seperti pegunungan
dan plato (dataran tinggi) dapat menyebabkan anomali terhadap gradien
suhu tersebut.
Diantara stratosfer dan troposfer terdapat lapisan yang biasanya
dilewati/digunakan pesawat Komersil mengudara yang disebut lapisan
Tropopouse.

X

Stratosfer

Perubahan secara bertahap dari troposfer ke stratosfer
dimulai dari ketinggian sekitar 11 km. Suhu di lapisan stratosfer
yang paling bawah relatif stabil dan sangat dingin yaitu atau
sekitar . Pada lapisan ini angin yang sangat kencang terjadi
dengan pola aliran yang tertentu. Awan tinggi jenis cirrus
kadang-kadang terjadi di lapisan paling bawah, namun tidak ada
pola cuaca yang signifikan yang terjadi pada lapisan ini.
Dari bagian tengah stratosfer keatas, pola suhunya berubah
menjadi semakin bertambah semakin naik, karena
bertambahnya lapisan dengan konsentrasi ozon yang
bertambah. Lapisan ozon ini menyerap radiasi sinar ultra ungu.
Suhu pada lapisan ini bisa mencapai sekitar pada ketinggian
sekitar 40 km. Lapisan stratopause memisahkan stratosfer
dengan lapisan berikutnya.

X

Mesosfer

Kurang lebih 25 mil atau 40km diatas permukaan bumi
terdapat lapisan transisi menuju lapisan mesosfer. Pada lapisan
ini, suhu kembali turun ketika ketinggian bertambah, sampai
menjadi sekitar di dekat bagian atas dari lapisan ini, yaitu kurang
lebih 81 km diatas permukaan bumi. Suhu serendah ini
memungkinkan terjadi awan noctilucent, yang terbentuk dari
kristal es.

X

Termosfer

Transisi dari mesosfer ke termosfer dimulai
pada ketinggian sekitar 81 km. Dinamai termosfer
karena terjadi kenaikan temperatur yang cukup
tinggi pada lapisan ini yaitu sekitar . Perubahan ini
terjadi karena serapan radiasi sinar ultra ungu.
Radiasi ini menyebabkan reaksi kimia sehingga
membentuk lapisan bermuatan listrik yang dikenal
dengan nama ionosfer, yang dapat memantulkan
gelombang radio. Sebelum munculnya era satelit,
lapisan ini berguna untuk membantu memancarkan
gelombang radio jarak jauh.
Fenomena aurora yang dikenal juga dengan
cahaya utara atau cahaya selatan terjadi disini.

X

Eksosfer

Adanya refleksi cahaya matahari yang dipantulkan oleh
partikel debu meteoritik. Cahaya matahari yang dipantulkan
tersebut juga disebut sebagai cahaya Zodiakal

X

Hujan Asam
Hujan asam didefinisikan sebagai segala macam hujan dengan pH di bawah
5,6. Hujan secara alami bersifat asam (pH sedikit di bawah 6) karena karbondioksida
(CO2) di udara yang larut dengan air hujan memiliki bentuk sebagai asam lemah.
Jenis asam dalam hujan ini sangat bermanfaat karena membantu melarutkan mineral
dalam tanah yang dibutuhkan oleh tumbuhan dan binatang.
Hujan asam disebabkan oleh belerang (sulfur) yang merupakan pengotor
dalam bahan bakar fosil serta nitrogen di udara yang bereaksi dengan oksigen
membentuk sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Zat-zat ini berdifusi ke atmosfer dan
bereaksi dengan air untuk membentuk asam sulfat dan asam nitrat yang mudah larut
sehingga jatuh bersama air hujan. Air hujan yang asam tersebut akan meningkatkan
kadar keasaman tanah dan air permukaan yang terbukti berbahaya bagi kehidupan
ikan dan tanaman. Usaha untuk mengatasi hal ini saat ini sedang gencar
dilaksanakan.

 Sumber
 Pembentukan hujan asam
 Sejarah
 Metode Pencegahan

Movie

X

Sumber

Secara alami hujan asam dapat terjadi akibat semburan dari
gunung berapi dan dari proses biologis di tanah, rawa, dan laut. Akan
tetapi, mayoritas hujan asam disebabkan oleh aktivitas manusia seperti
industri, pembangkit tenaga listrik, kendaraan bermotor dan pabrik
pengolahan pertanian (terutama amonia). Gas-gas yang dihasilkan oleh
proses ini dapat terbawa angin hingga ratusan kilometer di atmosfer
sebelum berubah menjadi asam dan terdeposit ke tanah.
Hujan asam karena proses industri telah menjadi masalah yang
penting di Republik Rakyat Cina, Eropa Barat, Rusia dan daerah-daerah
di arahan anginnya. Hujan asam dari pembangkit tenaga listrik di
Amerika Serikat bagian Barat telah merusak hutan-hutan di New York
dan New England. Pembangkit tenaga listrik ini umumnya
menggunakan batu bara sebagai bahan bakarnya.
Proses yang terlibat dalam pemecahan Asam ( catatan: bahwa
hanya SO2 dan NOX memegang peran penting dalam hujan asam).

X

X

Pembentukan hujan asam
Secara sedehana, reaksi pembentukan hujan asam sebagai berikut:

Bukti terjadinya peningkatan hujan asam diperoleh dari analisa es
kutub. Terlihat turunnya kadar pH sejak dimulainya Revolusi Industri dari 6
menjadi 4,5 atau 4. Informasi lain diperoleh dari organisme yang dikenal
sebagai diatom yang menghuni kolam-kolam. Setelah bertahun-tahun,
organisme-organisme yang mati akan mengendap dalam lapisan-lapisan
sedimen di dasar kolam. Pertumbuhan diatom akan meningkat pada pH
tertentu, sehingga jumlah diatom yang ditemukan di dasar kolam akan
memperlihatkan perubahan pH secara tahunan bila kita melihat ke masing-
masing lapisan tersebut.
Sejak dimulainya Revolusi Industri, jumlah emisi sulfur dioksida dan
nitrogen oksida ke atmosfer turut meningkat. Industri yang menggunakan
bahan bakar fosil, terutama batu bara, merupakan sumber utama
meningkatnya oksida belerang ini. Pembacaan pH di area industri terkadang
tercatat hingga 2,4 (tingkat keasaman cuka). Sumber-sumber ini, ditambah
oleh transportasi, merupakan penyumbang-penyumbang utama hujan asam.
Masalah hujan asam tidak hanya meningkat sejalan dengan
pertumbuhan populasi dan industri tetapi telah berkembang menjadi lebih
luas. Penggunaan cerobong asap yang tinggi untuk mengurangi polusi lokal
berkontribusi dalam penyebaran hujan asam, karena emisi gas yang
dikeluarkannya akan masuk ke sirkulasi udara regional yang memiliki
jangkauan lebih luas. Sering sekali, hujan asam terjadi di daerah yang jauh
dari lokasi sumbernya, di mana daerah pegunungan cenderung memperoleh
lebih banyak karena tingginya curah hujan di sini.

X

Sejarah

Hujan asam dilaporkan pertama kali di Manchester, Inggris,
yang menjadi kota penting dalam Revolusi Industri. Pada tahun
1852, Robert Angus Smith menemukan hubungan antara hujan
asam dengan polusi udara. Istilah hujan asam tersebut mulai
digunakannya pada tahun 1872. Ia mengamati bahwa hujan
asam dapat mengarah pada kehancuran alam.
Walaupun hujan asam ditemukan di tahun 1852, baru pada
tahun 1970-an para ilmuwan mulai mengadakan banyak
melakukan penelitian mengenai fenomena ini. Kesadaran
masyarakat akan hujan asam di Amerika Serikat meningkat di
tahun 1990-an setelah di New York Times memuat laporan dari
Hubbard Brook Experimental Forest di New Hampshire tentang
of the banyaknya kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh
hujan asam.

X

Metode Pencegahan
Di Amerika Serikat, banyak pembangkit tenaga listrik
tenaga batu bara menggunakan Flue gas desulfurization (FGD)
untuk menghilangkan gas yang mengandung belerang dari
cerobong mereka. Sebagai contoh FGD adalah wet scrubber
yang umum digunakan di Amerika Serikat dan negara-negara
lainnya. Wet scrubber pada dasarnya adalah tower yang
dilengkapi dengan kipas yang mengambil gas asap dari
cerobong ke tower tersebut. Kapur atau batu kapur dalam bentuk
bubur juga diinjeksikan ke ke dalam tower sehingga bercampur
dengan gas cerobong serta bereaksi dengan sulfur , dioksida
yang ada, Kalsium karbonat dalam batu kapur menghasilkan
kalsium sulfat ber pH netral yang secara fisik dapat dikeluarkan
dari scrubber. Oleh karena itu, scrubber mengubah polusi
menjadi sulfat industri.
Di beberapa area, sulfat tersebut dijual ke pabrik kimia
sebagai gipsum bila kadar kalsium sulfatnya tinggi. Di tempat
lain, sulfat tersebut ditempatkan di land-fill.

X

Pemanasan global
 Penyebab pemanasan
global
 Dampak pemanasan
global

Movie

X

Pemanasan global
Pemanasan global adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer
, laut, dan daratan Bumi. Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah
meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir.
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa,
"sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20
kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah
kaca akibat aktivitas manusia"[1] melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini
telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk
semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih
terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang
dikemukakan IPCC tersebut.
Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu
permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara
tahun 1990 dan 2100. Perbedaan angka perkiraan itu dikarenakan oleh
penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca di
masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun
sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan
kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu
tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil. Ini mencerminkan
besarnya kapasitas panas dari lautan.
Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-
perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas
fenomena cuaca yang ekstrim, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi.
Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian,
hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.

X

Penyebab pemanasan global

 Efek rumah kaca
 Efek umpan balik
 Variasi Matahari
 Mengukur pemanasan global
 Model iklim

X

Efek rumah kaca
Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian
besar energi tersebut dalam bentuk radiasi gelombang pendek, termasuk
cahaya tampak. Ketika energi ini mengenai permukaan Bumi, ia berubah dari
cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan
menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari
panas ini sebagai radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar.
Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat
menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbon dioksida,
dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini
menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan
Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Hal
tersebut terjadi berulang-ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata tahunan
bumi terus meningkat.

Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana kaca dalam rumah kaca.
Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin
banyak panas yang terperangkap di bawahnya.

Sebenarnya, efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala
makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi
sangat dingin. Dengan temperatur rata-rata sebesar 15 °C (59 °F), bumi
sebenarnya telah lebih panas 33 °C (59 °F) dengan efek rumah kaca
(tanpanya suhu bumi hanya -18 °C sehingga es akan menutupi seluruh
permukaan Bumi). Akan tetapi sebaliknya, akibat jumlah gas-gas tersebut
telah berlebih di atmosfer, pemanasan global menjadi akibatnya.

X

Efek umpan balik
Efek-efek dari agen penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang
dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-
gas rumah kaca seperti CO2, pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap
ke atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah
jumlah uap air di udara hingga tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang
dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri. (Walaupun umpan balik ini
meningkatkan kandungan air absolut di udara, kelembaban relatif udara hampir konstan atau bahkan agak
menurun karena udara menjadi menghangat).[3] Umpan balik ini hanya dapat dibalikkan secara perlahan-lahan
karena CO2 memiliki usia yang panjang di atmosfer. Efek-efek umpan balik karena pengaruh awan sedang
menjadi objek penelitian saat ini. Bila dilihat dari bawah, awan akan

memantulkan radiasi infra merah balik ke permukaan, sehingga akan meningkatkan efek pemanasan.
Sebaliknya bila dilihat dari atas, awan tersebut akan memantulkan sinar Matahari dan radiasi infra merah ke
angkasa, sehingga meningkatkan efek pendinginan. Apakah efek netto-nya pemanasan atau pendinginan
tergantung pada beberapa detail-detail tertentu seperti tipe dan ketinggian awan tersebut. Detail-detail ini sulit
direpresentasikan dalam model iklim, antara lain karena awan sangat kecil bila dibandingkan dengan jarak antara
batas-batas komputasional dalam model iklim (sekitar 125 hingga 500 km untuk model yang digunakan dalam
Laporan Pandangan IPCC ke Empat). Walaupun demikian, umpan balik awan berada pada peringkat dua bila
dibandingkan dengan umpan balik uap air dan dianggap positif (menambah pemanasan) dalam semua model
yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat.[3]

Umpan balik positif akibat terlepasnya CO2 dan CH4 dari melunaknya tanah beku (permafrost) adalah
mekanisme lainnya yang berkontribusi terhadap pemanasan. Selain itu, es yang meleleh juga akan melepas CH4
yang juga menimbulkan umpan balik positif.

Kemampuan lautan untuk menyerap karbon juga akan berkurang bila ia menghangat, hal ini diakibatkan oleh
menurunya tingkat nutrien pada zona mesopelagic sehingga membatasi pertumbuhan diatom daripada
fitoplankton yang merupakan penyerap karbon yang rendah.

X

Variasi Matahari
Terdapat hipotesa yang menyatakan bahwa variasi dari Matahari, dengan kemungkinan
diperkuat oleh umpan balik dari awan, dapat memberi kontribusi dalam pemanasan saat ini.[6]
Perbedaan antara mekanisme ini dengan pemanasan akibat efek rumah kaca adalah meningkatnya
aktivitas Matahari akan memanaskan stratosfer sebaliknya efek rumah kaca akan mendinginkan
stratosfer. Pendinginan stratosfer bagian bawah paling tidak telah diamati sejak tahun 1960, yang
tidak akan terjadi bila aktivitas Matahari menjadi kontributor utama pemanasan saat ini. (Penipisan
lapisan ozon juga dapat memberikan efek pendinginan tersebut tetapi penipisan tersebut terjadi
mulai akhir tahun 1970-an.) Fenomena variasi Matahari dikombinasikan dengan aktivitas gunung
berapi mungkin telah memberikan efek pemanasan dari masa pra-industri hingga tahun 1950, serta
efek pendinginan sejak tahun 1950.

Ada beberapa hasil penelitian yang menyatakan bahwa kontribusi Matahari mungkin telah
diabaikan dalam pemanasan global. Dua ilmuan dari Duke University mengestimasikan bahwa
Matahari mungkin telah berkontribusi terhadap 45-50% peningkatan temperatur rata-rata global
selama periode 1900-2000, dan sekitar 25-35% antara tahun 1980 dan 2000. Stott dan rekannya
mengemukakan bahwa model iklim yang dijadikan pedoman saat ini membuat estimasi berlebihan
terhadap efek gas-gas rumah kaca dibandingkan dengan pengaruh Matahari; mereka juga
mengemukakan bahwa efek pendinginan dari debu vulkanik dan aerosol sulfat juga telah dipandang
remeh. Walaupun demikian, mereka menyimpulkan bahwa bahkan dengan meningkatkan
sensitivitas iklim terhadap pengaruh Matahari sekalipun, sebagian besar pemanasan yang terjadi
pada dekade-dekade terakhir ini disebabkan oleh gas-gas rumah kaca.

Pada tahun 2006, sebuah tim ilmuan dari Amerika Serikat, Jerman dan Swiss menyatakan
bahwa mereka tidak menemukan adanya peningkatan tingkat "keterangan" dari Matahari pada
seribu tahun terakhir ini. Siklus Matahari hanya memberi peningkatan kecil sekitar 0,07% dalam
tingkat "keterangannya" selama 30 tahun terakhir. Efek ini terlalu kecil untuk berkontribusi terhadap
pemansan global. Sebuah penelitian oleh Lockwood dan Fröhlich menemukan bahwa tidak ada
hubungan antara pemanasan global dengan variasi Matahari sejak tahun 1985, baik melalui variasi
dari output Matahari maupun variasi dalam sinar kosmis.

X

Mengukur pemanasan global
Pada awal 1896, para ilmuan beranggapan bahwa membakar bahan bakar fosil akan mengubah komposisi
atmosfer dan dapat meningkatkan temperatur rata-rata global. Hipotesis ini dikonfirmasi tahun 1957 ketika para
peneliti yang bekerja pada program penelitian global yaitu International Geophysical Year, mengambil sampel
atmosfer dari puncak gunung Mauna Loa di Hawai. Hasil pengukurannya menunjukkan terjadi peningkatan
konsentrasi karbon dioksida di atmosfer. Setelah itu, komposisi dari atmosfer terus diukur dengan cermat. Data-
data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa memang terjadi peningkatan konsentrasi dari gas-gas rumah kaca di
atmosfer.
Para ilmuan juga telah lama menduga bahwa iklim global semakin menghangat, tetapi mereka tidak
mampu memberikan bukti-bukti yang tepat. Temperatur terus bervariasi dari waktu ke waktu dan dari lokasi yang
satu ke lokasi lainnya. Perlu bertahun-tahun pengamatan iklim untuk memperoleh data-data yang menunjukkan
suatu kecenderungan (trend) yang jelas. Catatan pada akhir 1980-an agak memperlihatkan kecenderungan
penghangatan ini, akan tetapi data statistik ini hanya sedikit dan tidak dapat dipercaya. Stasiun cuaca pada
awalnya, terletak dekat dengan daerah perkotaan sehingga pengukuran temperatur akan dipengaruhi oleh panas
yang dipancarkan oleh bangunan dan kendaraan dan juga panas yang disimpan oleh material bangunan dan jalan.
Sejak 1957, data-data diperoleh dari stasiun cuaca yang terpercaya (terletak jauh dari perkotaan), serta dari satelit.
Data-data ini memberikan pengukuran yang lebih akurat, terutama pada 70 persen permukaan planet yang tertutup
lautan. Data-data yang lebih akurat ini menunjukkan bahwa kecenderungan menghangatnya permukaan Bumi
benar-benar terjadi. Jika dilihat pada akhir abad ke-20, tercatat bahwa sepuluh tahun terhangat selama seratus
tahun terakhir terjadi setelah tahun 1980, dan tiga tahun terpanas terjadi setelah tahun 1990, dengan 1998 menjadi
yang paling panas. Dalam laporan yang dikeluarkannya tahun 2001, Intergovernmental Panel on Climate Change
(IPCC) menyimpulkan bahwa temperatur udara global telah meningkat 0,6 derajat Celsius (1 derajat Fahrenheit)
sejak 1861. Panel setuju bahwa pemanasan tersebut terutama disebabkan oleh aktifitas manusia yang menambah
gas-gas rumah kaca ke atmosfer. IPCC memprediksi peningkatan temperatur rata-rata global akan meningkat 1.1
hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.

X

Model iklim
Prakiraan peningkatan temperature terhadap beberapa skenario. kestabilan (pita berwarna) berdasarkan
Laporan Pandangan IPCC ke Empat. Garis hitam menunjukkan prakiraan terbaik; garis merah dan biru
menunjukkan batas-batas kemungkinan yang dapat terjadi. Perhitungan pemanasan global pada tahun 2001 dari
beberapa model iklim berdasarkan scenario SRES A2, yang mengasumsikan tidak ada tindakan yang dilakukan
untuk mengurangi emisi.

Para ilmuan telah mempelajari pemanasan global berdasarkan model-model computer berdasarkan
prinsip-prinsip dasar dinamikan fluida, transfer radiasi, dan proses-proses lainya, dengan beberapa
penyederhanaan disebabkan keterbatasan kemampuan komputer. Model-model ini memprediksikan bahwa
penambahan gas-gas rumah kaca berefek pada iklim yang lebih hangat. Walaupun digunakan asumsi-asumsi
yang sama terhadap konsentrasi gas rumah kaca di masa depan, sensitivitas iklimnya masih akan berada pada
suatu rentang tertentu. Dengan memasukkan unsur-unsur ketidakpastian terhadap konsentrasi gas rumah kaca
dan pemodelan iklim, IPCC memperkirakan pemanasan sekitar 1.1 °C hingga 6.4 °C (2.0 °F hingga 11.5 °F)
antara tahun 1990 dan 2100.[1] Model-model iklim juga digunakan untuk menyelidiki penyebab-penyebab
perubahan iklim yang terjadi saat ini dengan membandingkan perubahan yang teramati dengan hasil prediksi
model terhadap berbagai penyebab, baik alami maupun aktivitas manusia.
Model iklim saat ini menghasilkan kemiripan yang cukup baik dengan perubahan temperature global hasil
pengamatan selama seratus tahun terakhir, tetapi tidak mensimulasi semua aspek dari iklim. Model-model ini
tidak secara pasti menyatakan bahwa pemanasan yang terjadi antara tahun 1910 hingga 1945 disebabkan oleh
proses alami atau aktivitas manusia; akan tetapi; mereka menunjukkan bahwa pemanasan sejak tahun 1975
didominasi oleh emisi gas-gas yang dihasilkan manusia.
Sebagian besar model-model iklim, ketika menghitung iklim di masa depan, dilakukan berdasarkan
skenario-skenario gas rumah kaca, biasanya dari Laporan Khusus terhadap Skenario Emisi (
Special Report on Emissions Scenarios / SRES) IPCC. Yang jarang dilakukan, model menghitung dengan
menambahkan simulasi terhadap siklus karbon; yang biasanya menghasilkan umpan balik yang positif, walaupun
responnya masih belum pasti (untuk skenario A2 SRES, respon bervariasi antara penambahan 20 dan 200 ppm
CO2). Beberapa studi-studi juga menunjukkan beberapa umpan balik positif.
Pengaruh awan juga merupakan salah satu sumber yang menimbulkan ketidakpastian terhadap model-
model yang dihasilkan saat ini, walaupun sekarang telah ada kemajuan dalam menyelesaikan masalah ini. Saat
ini juga terjadi diskusi-diskusi yang masih berlanjut mengenai apakah model-model iklim mengesampingkan
efek-efek umpan balik dan tak langsung dari variasi Matahari.

X

Dampak pemanasan global
Para ilmuan menggunakan model komputer dari
temperatur, pola presipitasi, dan sirkulasi atmosfer untuk
mempelajari pemanasan global. Berdasarkan model tersebut,
para ilmuan telah membuat beberapa prakiraan mengenai
dampak
pemanasan global terhadap cuaca, tinggi permukaan air
laut, pantai, pertanian, kehidupan hewan liar dan kesehatan
manusia.

 Iklim Mulai Tidak Stabil
 Peningkatan Permukaan Laut
 Suhu Global Cenderung Meningkat
 Gangguan Ekologis
 Dampak Sosial Dan Politik

X

Iklim Mulai Tidak Stabil
Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian
Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-
daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan
mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut. Daerah-daerah
yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada
pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta
akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur
pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat.
Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap
dari lautan. Para ilmuan belum begitu yakin apakah kelembaban tersebut malah akan
meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi. Hal ini disebabkan
karena uap air merupakan gas rumah kaca, sehingga keberadaannya akan meningkatkan
efek insulasi pada atmosfer. Akan tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk
awan yang lebih banyak, sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke
angkasa luar, di mana hal ini akan menurunkan proses pemanasan (lihat siklus air).
Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara rata-rata, sekitar 1
persen untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan. (Curah hujan di seluruh dunia telah
meningkat sebesar 1 persen dalam seratus tahun terakhir ini). Badai akan menjadi lebih
sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya beberapa daerah
akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin
dengan pola yang berbeda.
Topan badai (hurricane) yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan
menjadi lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang
sangat dingin mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim.

X

Peningkatan Permukaan
Laut
Perubahan tinggi rata-rata muka laut diukur dari daerah dengan lingkungan
yang stabil secara geologi. Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan
juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi
permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama
sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di
seluruh dunia telah meningkat 10 - 25 cm (4 - 10 inchi) selama abad ke-20, dan
para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 - 88 cm (4 - 35 inchi)
pada abad ke-21.
Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah
pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan menenggelamkan 6 persen daerah
Belanda, 17,5 persen daerah Bangladesh, dan banyak pulau-pulau. Erosi dari
tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan mencapai muara
sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan. Negara-negara kaya
akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya,
sedangkan negara-negara miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi dari
daerah pantai.
Bahkan sedikit kenaikan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi
ekosistem pantai. Kenaikan 50 cm (20 inchi) akan menenggelamkan separuh dari
rawa-rawa pantai di Amerika Serikat. Rawa-rawa baru juga akan terbentuk, tetapi
tidak di area perkotaan dan daerah yang sudah dibangun. Kenaikan muka laut ini
akan menutupi sebagian besar dari Florida Everglades.

X

Suhu Global Cenderung
Meningkat
Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat
akan menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya,
tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat. Bagian
Selatan Kanada, sebagai contoh, mungkin akan mendapat
keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya
masa tanam.
Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa
bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian
gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang
jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim
dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair
sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan
dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit
yang lebih hebat.

X

Gangguan Ekologis

Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit
menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar
lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan
cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas
pegunungan.
Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari
daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat.
Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi
perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau
selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan
pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak
mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga
akan musnah.

X

Dampak Sosial Dan Politik
Perubahan cuaca dan lautan dapat mengakibatkan munculnya penyakit-penyakit yang
berhubungan dengan panas (heat stroke) dan kematian. Temperatur yang panas juga dapat
menyebabkan gagal panen sehingga akan muncul kelaparan dan malnutrisi. Perubahan cuaca yang
ekstrem dan peningkatan permukaan air laut akibat mencairnya es di kutub utara dapat menyebabkan
penyakit-penyakit yang berhubungan dengan bencana alam (banjir, badai dan kebakaran) dan kematian
akibat trauma. Timbulnya bencana alam biasanya disertai dengan perpindahan penduduk ke tempat-
tempat pengungsian dimana sering muncul penyakit, seperti: diare, malnutrisi, defisiensi mikronutrien,
trauma psikologis, penyakit kulit, dan lain-lain.

Pergeseran ekosistem dapat memberi dampak pada penyebaran penyakit melalui air (
Waterborne diseases) maupun penyebaran penyakit melalui vektor (vector-borne diseases). Seperti
meningkatnya kejadian Demam Berdarah karena munculnya ruang (ekosistem) baru untuk nyamuk ini
berkembang biak. Dengan adamya perubahan iklim ini maka ada beberapa spesies vektor penyakit (eq
Aedes Agipty),

Virus, bakteri, plasmodium menjadi lebih resisten terhadap obat tertentu yang target nya adala
organisme tersebut. Selain itu bisa diprediksi kan bahwa ada beberapa spesies yang secara alamiah
akan terseleksi ataupun punah dikarenakan perbuhan ekosistem yang ekstreem ini. hal ini juga akan
berdampak perubahan iklim (Climat change)yang bis berdampak kepada peningkatan kasus penyakit
tertentu seperti ISPA (kemarau panjang / kebakaran hutan, DBD Kaitan dengan musim hujan tidak
menentu)

Gradasi Lingkungan yang disebabkan oleh pencemaran limbah pada sungai juga berkontribusi
pada waterborne diseases dan vector-borne disease. Ditambah pula dengan polusi udara hasil emisi
gas-gas pabrik yang tidak terkontrol selanjutnya akan berkontribusi terhadap penyakit-penyakit saluran
pernafasan seperti asma, alergi, coccidiodomycosis, penyakit jantung dan paru kronis, dan lain-lain.

X

Fenomena El Nino dan la Nina

X

Fenomena El Nino dan la
Nina
 La Nina
 El Nino

X

La Nina
La Nina berasal dari Bahasa Spanyol (Amerika Selatan) yang
berarti si gadis kecil.

La Nina ditandai dengan menurunnya temperatur permukaan
laut di wilayah Pasifik ekuator atau tropis hingga di bawah
normal yang diikuti dengan munculnya tiupan angin pasat yang
kencang di kawasan itu. La Nina ini bersifat basah.
Peristiwa ini terjadi ketika angin pasat berhembus dengan
keras dan terus menerus melintasi Samudera Pasifik ke arah
Australia. Angin tersebut mendorong lebih banyak air hangat ke
arah Australia sebelah utara dibandingkan biasanya.
Akibatnya, semakin banyaklah awan yang terkonsentrasi
dalam keadaan seperti ini, dan menyebabkan turunnya hujan
lebih banyak di Australia, di Pasifik sebelah barat dan di
Indonesia.
Angin kencang yang diikuti hujan lebat serta pasang naik
demikian memang dalam penjelasan prakiraan disebut-sebut
sebagai tanda-tanda La Nina. Selama kurun 78 tahun telah
terjadi 15 kali La Nina.

X

El Nino
El Nino berasal dari Bahasa Spanyol yang berarti anak laki-laki kecil, disebut demikian
karena biasanya ia muncul sebagai "anak natal" menjelang akhir tahun di Peru dan
Ekuador.

Gejala alam global ini merupakan sebuah anomali (menyimpang dari kebiasaan) yang
dihasilkan oleh interaksi antara kondisi permukaan samudera dan atmosfer di kawasan
Pasifik sekitar garis khatulistiwa (tropis). Interaksi ini menghasilkan tekanan tinggi di
Pasifik bagian Timur yang menimbulkan aliran massa udara yang berhembus ke barat.
Hembusan angin tersebut membawa air di depannya sehingga permukaan laut di
sekitar Indonesia dan Australia terangkat kira-kira setengah meter lebih tinggi daripada
air di lepas pantai Peru.

Ketika tekanan turun dan pertukaran angin berkurang, air bergerak kembali menuju
timur. Aliran ke arah timur ini merupakan pusat kegiatan fisik yang mengendalikan El
Nino. Pengadukan ini mendorong terbentuknya gelombang sepanjang samudera, mirip
riak di permukaan kolam. Gelombang ini menekan thermocline, suatu lapisan air yang
merupakan batas antara massa air yang lebih hangat di bawah permukaan laut dengan
air lebih dingin di bawahnya. Ketika thermocline ini masuk lebih dalam, suhu permukaan
air laut meningkat dan El Nino pun berlangsung. Karena itulah El Nino disebut fase
panas. Udara tropis yang lembab tidak terpusat di dekat Benua Australia. Alih-alih
udara lembab tersebut terpusat di Samudera Pasifik tengah dan meluas ke timur ke
arah Amerika Selatan. Hal ini menyebabkan turunnya hujan di Samudera Pasifik, dan
hujan di Australia serta di Indonesia menjadi berkurang dari biasanya. Akibatnya timbul
kekeringan di Australia dan di beberapa daerah di Indonesia. Kekeringan ini sering
disertai dengan kebakaran rumput dan hutan. Selama peristiwa El Nino pada tahun
1994 dan 1997, baik Indonesia maupun Australia, mengalami kebakaran hutan.

X

Tsunami

X

Tsunami

 Sebab-sebab Terjadinya Tsunami
 Karakteristik Tsunami
 Megatsunami dan Seiche

X

Tsunami
Istilah tsunami berasal dari bahasa Jepang. Tsu berarti "pelabuhan", dan nami berarti
"gelombang", sehingga tsunami dapat diartikan sebagai "gelombang pelabuhan".

Istilah ini pertama kali muncul di kalangan nelayan Jepang. Karena panjang gelombang
tsunami sangat besar, pada saat berada di tengah laut, para nelayan tidak merasakan
adanya gelombang ini. Namun setibanya kembali ke pelabuhan, mereka mendapati
wilayah di sekitar pelabuhan tersebut rusak parah. Karena itulah mereka menyimpulkan
bahwa gelombang tsunami hanya timbul di wilayah sekitar pelabuhan, dan tidak di
tengah lautan yang dalam.

Tsunami adalah gelombang air yang sangat besar yang dibangkitkan oleh macam-
macam gangguan di dasar samudra. Gangguan ini dapat berupa gempa bumi,
pergeseran lempeng, atau gunung meletus. Tsunami tidak kelihatan saat masih berada
jauh di tengah lautan, namun begitu mencapai wilayah dangkal, gelombangnya yang
bergerak cepat ini akan semakin membesar. Tsunami juga sering disangka sebagai
gelombang air pasang. Ini karena saat mencapai daratan, gelombang ini memang lebih
menyerupai air pasang yang tinggi daripada menyerupai ombak biasa yang mencapai
pantai secara alami oleh tiupan angin. Namun sebenarnya gelombang tsunami sama
sekali tidak berkaitan dengan peristiwa pasang surut air laut. Karena itu untuk
menghindari pemahaman yang salah, para ahli oseanografi sering menggunakan istilah
gelombang laut seismik (seismic sea wave) untuk menyebut tsunami, yang secara
ilmiah lebih akurat.

X

Sebab-sebab Terjadinya
Tsunami Tsunami dapat dipicu oleh bermacam-macam gangguan (disturbance) berskala besar terhadap
air laut, misalnya gempa bumi, pergeseran lempeng, meletusnya gunung berapi di bawah laut, atau
tumbukan benda langit. Tsunami dapat terjadi apabila dasar laut bergerak secara tiba-tiba dan
mengalami perpindahan vertikal.
 Longsoran Lempeng Bawah Laut (Undersea landslides)
Gerakan yang besar pada kerak bumi biasanya terjadi di perbatasan antar lempeng tektonik. Celah
retakan antara kedua lempeng tektonik ini disebut dengan sesar (fault). Sebagai contoh, di sekeliling
tepian Samudra Pasifik yang biasa disebut dengan Lingkaran Api (Ring of Fire), lempeng samudra yang
lebih padat menunjam masuk ke bawah lempeng benua. Proses ini dinamakan dengan penunjaman
(subduction). Gempa subduksi sangat efektif membangkitkan gelombang tsunami.
 Gempabumi Bawah Laut (Undersea Earthquake)
Gempa tektonik merupakan salah satu gempa yang diakibatkan oleh pergerakan lempeng bumi. Jika
gempa semacam ini terjadi di bawah laut, air di atas wilayah lempeng yang bergerak tersebut berpindah
dari posisi ekuilibriumnya. Gelombang muncul ketika air ini bergerak oleh pengaruh gravitasi kembali ke
posisi ekuilibriumnya. Bila wilayah yang luas pada dasar laut bergerak naik ataupun turun, tsunami dapat
terjadi.
 Aktivitas Vulkanik (Volcanic Activities)
Pergeseran lempeng di dasar laut, selain dapat mengakibatkan gempa juga seringkali menyebabkan
peningkatan aktivitas vulkanik pada gunung berapi. Kedua hal ini dapat menggoncangkan air laut di atas
lempeng tersebut. Demikian pula, meletusnya gunung berapi yang terletak di dasar samudra juga dapat
menaikkan air dan membangkitkan gelombang tsunami.
 Tumbukan Benda Luar Angkasa (Cosmic-body Impacts)
Tumbukan dari benda luar angkasa seperti meteor merupakan gangguan terhadap air laut yang datang
dari arah permukaan. Boleh dibilang tsunami yang timbul karena sebab ini umumnya terjadi sangat cepat
dan jarang mempengaruhi wilayah pesisir yang jauh dari sumber gelombang. Sekalipun begitu, bila
pergerakan lempeng dan tabrakan benda angkasa luar cukup dahsyat, kedua peristiwa ini dapat
menciptakan megatsunami.

X

Karakteristik Tsunami
Perilaku gelombang tsunami sangat berbeda dari ombak laut biasa. Gelombang
tsunami bergerak dengan kecepatan tinggi dan dapat merambat lintas-samudra dengan
sedikit energi berkurang. Tsunami dapat menerjang wilayah yang berjarak ribuan kilometer
dari sumbernya, sehingga mungkin ada selisih waktu beberapa jam antara terciptanya
gelombang ini dengan bencana yang ditimbulkannya di pantai. Waktu perambatan
gelombang tsunami lebih lama dari waktu yang diperlukan oleh gelombang seismik untuk
mencapai tempat yang sama.
Periode tsunami cukup bervariasi, mulai dari 2 menit hingga lebih dari 1 jam. Panjang
gelombangnya sangat besar, antara 100-200 km. Bandingkan dengan ombak laut biasa di
pantai selancar (surfing) yang mungkin hanya memiliki periode 10 detik dan panjang
gelombang 150 meter. Karena itulah pada saat masih di tengah laut, gelombang tsunami
hampir tidak nampak dan hanya terasa seperti ayunan air saja.

Perbandingan Gelombang Tsunami dan Ombak Laut Biasa

Parameter Gelombang Tsunami Ombak Biasa

Periode gelombang 2 menit — > 1 jam ± 10 detik

Panjang gelombang 100 — 200 km 150 m

X

 Bila lempeng samudra pada sesar bergerak
naik (raising), terjadi air pasang di wilayah
pantai hingga wilayah tersebut akan mengalami
banjir sebelum kemudian gelombang air yang
lebih tinggi datang menerjang.
 Bila lempeng samudra bergerak naik, wilayah
pantai akan mengalami banjir air pasang
sebelum datangnya tsunami.
 Bila lempeng samudra pada sesar bergerak
turun (sinking), kurang lebih pada separuh
waktu sebelum gelombang tsunami sampai di
pantai, air laut di pantai tersebut surut. Pada
pantai yang landai, surutnya air bisa mencapai
lebih dari 800 meter menjauhi pantai.
Masyarakat yang tidak sadar akan datangnya
bahaya mungkin akan tetap tinggal di pantai
karena ingin tahu apa yang sedang terjadi. Atau
bagi para nelayan mereka justru memanfaatkan
momen saat air laut surut tersebut untuk
mengumpulkan ikan-ikan yang banyak
bertebaran.

X

 Bila lempeng samudra bergerak turun, di wilayah pantai air
laut akan surut sebelum datangnya tsunami.
 Pada suatu gelombang, bila rasio antara kedalaman air dan
panjang gelombang menjadi sangat kecil, gelombang
tersebut dinamakan gelombang air-dangkal. Karena
gelombang tsunami memiliki panjang gelombang yang
sangat besar, gelombang tsunami berperan sebagai
gelombang air-dangkal, bahkan di samudra yang
dalam.Gelombang air-dangkal bergerak dengan kecepatan
yang setara dengan akar kuadrat hasil perkalian antara
percepatan gravitasi (9,8 m/s2) dan kedalaman air laut.
v = velocity (kecepatan)
g = gravitation (9,8 m/s2)
d = depth (kedalaman)
 Sebagai contoh, di Samudra Pasifik, dimana kedalaman air
rata-rata adalah 4000 meter, gelombang tsunami merambat
dengan kecepatan ± 200 m/s (kira-kira 712 km/jam) dengan
hanya sedikit energi yang hilang, bahkan untuk jarak yang
jauh. Sementara pada kedalaman 40 meter, kecepatannya
mencapai ± 20 m/s (sekitar 71 km/jam), lebih lambat namun
tetap sulit dilampaui.
 Energi dari gelombang tsunami merupakan fungsi perkalian
antara tinggi gelombang dan kecepatannya. Nilai energi ini
selalu konstan, yang berarti tinggi gelombang berbanding
terbalik dengan kecepatan merambat gelombang. Oleh
sebab itu, ketika gelombang mencapai daratan, tingginya
meningkat sementara kecepatannya menurun.

X
 Saat memasuki wilayah dangkal, kecepatan gelombang tsunami menurun sedangkan
tingginya meningkat, menciptakan gelombang mengerikan yang sangat merusak.

Kedalaman Kecepatan Panjang Gelombang
(m) (mph) (km)

7000 586 282

4000 443 213

2000 313 151

200 99 48

50 49 23

10 22 10.6

 Selagi orang-orang yang berada di tengah laut bahkan tidak menyadari adanya tsunami,
gelombang tsunami dapat mencapai ketinggian hingga 30 meter atau lebih ketika mencapai
wilayah pantai dan daerah padat. Tsunami dapat menimbulkan kerusakan yang sangat parah
di wilayah yang jauh dari sumber pembangkitan gelombang, meskipun peristiwa
pembangkitan gelombang itu sendiri mungkin tidak dapat dirasakan tanpa alat bantu.
 Tsunami bergerak maju ke satu arah dari sumbernya, sehingga wilayah yang berada di
daerah "bayangan" relatif dalam kondisi aman. Namun demikian, gelombang tsunami dapat
saja berbelok di sekitar daratan. Gelombang ini juga bisa saja tidak simetris. Gelombang ke
satu arah mungkin lebih kuat dibanding gelombang ke arah lainnya, tergantung dari peristiwa
alam yang memicunya dan kondisi geografis wilayah sekitarnya.

X

Megatsunami dan Seiche

 Bukti-bukti menunjukkan bahwa megatsunami, yaitu tsunami
yang mencapai ketinggian hingga 100 meter, memang mungkin
terjadi. Peristiwa yang langka ini biasanya disebabkan oleh
sebuah pulau yang cukup besar amblas ke dasar samudra.
Megatsunami juga bisa disebabkan oleh sebongkah besar es
yang jatuh ke air dari ketinggian ratusan meter. Gelombang ini
dapat
 menyebabkan kerusakan yang sangat dahsyat pada cakupan
wilayah pantai yang sangat luas.
 Satu hal yang berkaitan dengan tsunami antara lain adalah
seiche, yaitu fluktuasi atau pengalunan permukaan danau atau
badan air yang kecil yang disebabkan oleh gempa-bumi kecil,
angin, atau oleh keragaman tekanan udara. Seringkali gempa
yang besar menyebabkan tsunami dan seiche sekaligus, atau
sebagian seiche justru terjadi karena tsunami.
X

ISU LINGKUNGAN NASIO
X

ISU LINGKUNGAN
NASIONAL
 Kenaikan permukaan laut
 Pencemaran Lingkungan

X

Kenaikan permukaan laut

 Perubahan jangka pendek dan periodik
 Perubahan jangka panjang
 Glasier dan tutupan es

X

Kenaikan permukaan laut

Kenaikan permukaan laut (Bahasa Inggris: sea level rise) adalah
fenomena naiknya permukaan laut yang disebabkan oleh
banyak faktor yang kompleks.

X

Perubahan jangka pendek
dan periodik
 Ada beberapa faktor yang dapat menghasilkan perubahan
jangka pendek permukaaan air laut (dari orde beberapa menit
hingga 14 bulan).

open

X

Perubahan jangka panjang
 Bermacam-macam faktor mempengaruhi volume dan
massa lautan yang mengakibatkan perubahan muka
laut eustatik dalam jangka panjang. Dua pengaruh
paling utama adalah temperatur (karena volume air
bergantung pada temperatur), dan massa air yang
tersimpan di darat dan laut sebagai air segar (fresh
water) di sungai, danau, glasier, tutupan es di kutub,
dan es di lautan. Pada skala waktu yang panjang
(skala geologis), perubahan bentuk samudera dan
distribsi daratan/lautan akan mempengaruhi tinggi
muka laut.

X

Glasier dan tutupan es
 Setiap tahun sekitar 8 mm air dari seluruh permukaan
laut mengalir ke lempengan es Antartika dan
Greenland sebagai hujan salju. Jika tidak ada dari es
itu yang kembali ke laut, maka muka laut akan turun 8
mm setiap tahunnya. Meskipun air dalam jumlah yang
hampir sama kembali ke laut dalam gunung es dan
dari melelehnya es di tepinya, para ilmuwan tidak tahu
mana yang lebih besar - es yang masuk atau es yang
keluar. Perbedaan antara input dan output es disebut
sebagai kesetimbangan massa (mass balance).
Kesetimbangan ini sangat penting karena
menyebabkan perubahan muka laut global.

X

Pencemaran Lingkungan

 Pencemaran Air
 Pencemaran udara
 Pencemaran suara
 Pencemaran tanah

X

Pencemaran Air
 Pelaksanakan penilaian terhadap kualitas air, yaitu
membandingkan beberapa ukuran/parameter kunci
dengan bakumutu yang ditetapkan.
Jenis ukuran pencemaran air antara lain :
 Kebutuhan oksigen untuk proses biologi (BOD)
 Kebutuhan Oksigen Kimiawi
 Lemak dan Minyak
 Nitrogen
 Suspended Solids (SS)
 Total Disolved Solid (TDS)

X

Pencemaran Air
 Air merupakan salah satu sumber kekayaan alam yang dibutuhkan oleh
makhluk hidup untuk menopang kelangsungan hidupnya. Selain itu air
dibutuhkan untuk kelangsungan proses industri, kegiatan perikanan,
pertanian
 dan peternakan. Oleh karena itu apabila air tidak dikelola dengan baik
dan keliru akan menimbulkan kerusakan maupun kehancuran bagi
makhluk hidup.
 Secara alami sumber air merupakan kekayaan alam yang dapat
diperbaharui dan yang mempunyai daya regenerasi mengikuti suatu
daur ulang yang disebut daur hydrologi (Suryani, 1987). Air yang sangat
terbatas ini pada umumnya oleh manusia dipergunakan untuk
kebutuhan domestik, industri, pembangkit tenaga listrik, pertanian,
perikanan, rekreasi.
 Word Health Organization (WHO) dalam pernyataannya yang berkaitan
dengan air “The Best of All Thing is Water” menunjukan bahwa air itu
sangat penting bagi seluruh kehidupan dan selalu dipandang sebagai
barang yang sangat berharga sehingga perlu dijaga, dilindungi dan
dilestarikan.

X

Pencemaran udara

 Sumber
 Jenis-jenis pencemar
 Dampak

X

Pencemaran udara
 Pencemaran udara adalah kehadiran satu atau lebih
substansi fisik, kimia, atau biologi di atmosfer dalam
jumlah yang dapat membahayakan kesehatan
manusia, hewan, dan tumbuhan, mengganggu
estetika dan kenyamanan, atau merusak properti.
 Pencemaran udara dapat ditimbulkan oleh sumber-
sumber alami maupun kegiatan manusia. Beberapa
definisi gangguan fisik seperti polusi suara, panas,
radiasi atau polusi cahaya dianggap sebagai polusi
udara. Sifat alami udara mengakibatkan dampak
pencemaran udara dapat bersifat langsung dan lokal,
regional, maupun global.

X

Sumber

 Kegiatan manusia
 Sumber alami
 Sumber-sumber lain

X

Jenis-jenis pencemar
 Karbon monoksida
 Oksida nitrogen
 Oksida sulfur
 CFC
 Hidrokarbon
 Ozon
 Volatile Organic Compounds
 Partikulat

X

Dampak
 Dampak kesehatan
 Dampak kesehatan yang paling umum dijumpai
adalah ISPA (infeksi saluran pernapasan akut),
termasuk di antaranya, asma, bronkitis, dan gangguan
pernapasan lainnya. Beberapa zat pencemar
dikategorikan sebagai toksik dan karsinogenik.
 Dampak terhadap tanaman
 Tanaman yang tumbuh di daerah dengan tingkat
pencemaran udara tinggi dapat terganggu
pertumbuhannya dan rawan penyakit, antara lain
 klorosis, nekrosis, dan bintik hitam. Partikulat yang
terdeposisi di permukaan tanaman dapat
menghambat proses fotosintesis.

X

Pencemaran suara
 Pencemaran suara adalah gangguan pada lingkungan yang
diakibatkan oleh bunyi atau suara yang mengakibatkan
ketidaktentraman makhluk hidup di sekitarnya.
Pencemaran suara diakibatkan suara-suara bervolume tinggi
yang membuat daerah sekitarnya menjadi bising dan tidak
menyenangkan.
 Efek negatif
 Suara bising yang terus-menerus dengan tingkat kebisingan
yang relatif tinggi dapat mengakibatkan dampak yang
merugikan kesehatan manusia. Ini dapat berarti gangguan
secara fisik maupun psikologis.
 Secara langsung, polusi suara seperti ini dapat menyebabkan
ketulian secara fisik dan tekanan psikologis. Lebih jauh,
tekanan psikis akan menyebabkan penyakit-penyakit lainnya
muncul pada manusia.

X

Pencemaran tanah

 Dampak
 Penanganan

X

Pencemaran tanah
 Pencemaran tanah adalah keadaan di mana bahan
kimia buatan manusia masuk dan merubah lingkungan
tanah alami. Pencemaran ini biasanya terjadi karena:
kebocoran limbah cair atau bahan kimia industri atau
fasilitas komersial; penggunaan pestisida; masuknya
air permukaan tanah tercemar ke dalam lapisan sub-
permukaan; kecelakaan kendaraaan pengangkut
minyak, zat kimia, atau limbah; air limbah dari
tempat penimbunan sampah serta limbah industri
yang langsung dibuang ke tanah secara tidak
memenuhi syarat (illegal dumping).

X

Dampak

 Dampak pencemaran tanah terhadap
kesehatan tergantung pada tipe polutan, jalur
masuk ke dalam tubuh dan kerentanan
populasi yang terkena. Kromium, berbagai
macam pestisida dan herbisida merupakan
bahan karsinogenik untuk semua populasi.
Timbal sangat berbahaya pada anak-anak,
karena dapat menyebabkan kerusakan otak,
serta kerusakan ginjal pada seluruh populasi.

X

Penanganan
 Remediasi
 Remediasi adalah kegiatan untuk membersihkan permukaan

tanah yang tercemar. Ada dua jenis remediasi tanah, yaitu in-situ
(atau on-site) dan ex-situ (atau off-site). Pembersihan on-site
adalah pembersihan di lokasi. Pembersihan ini lebih murah dan
lebih mudah, terdiri dari pembersihan, venting (injeksi), dan
bioremediasi.
 Bioremediasi
 Bioremediasi adalah proses pembersihan pencemaran tanah

dengan menggunakan mikroorganisme (jamur, bakteri).
Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mendegradasi zat
pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak
beracun (karbon dioksida dan air).
X

Sekian……
Terima
Kasih