Skenario 4 Ikterus

di 04:57

Aloha teman-teman..Besok pas tutorial kita bakal liat video yah?hmmmm. tapi Untungnya udah ada bocoran di modul,heheheh,,jeng..jeng skenario kali ini membahas tentang IKTERUS. Silahkan di baca dan semoga bermanfaat..^0^,, semangat..:DD Definisi

Ikterus adalah warna kuning pada kulit, konjungtiva dan selaput akibat penumpukan bilirubin. Sedangkan hiperbilirubinemia adalah ikterus dengan konsentrasi bilirubin serum yang menjurus ke arah terjadinya kernikterus atau ensefalopati bilirubin bila kadar bilirubin yang tidak dikendalikan. Atau bisa juga Ikterus adalah akumulasi abnormal pigmen bilirubin dalarn darah yang menyebabkan air seni berwarna gelap, warna tinja menjadi pucat dan perubahan warna kulit menjadi kekuningan. Icterus merupakan kondisi berubahnya jaringan menjadi berwarna kuning akibat deposisi bilirubin. Ikterus paling mudah dilihat pada, sklera mata karena elastin pada sklera mengikat bilirubin. Ikterus harus dibedakan dengan karotenemia yaitu warna kulit kekuningan yang disebabkan asupan berlebihan buah-buahan berwarna kuning yang mengandung pigmen lipokrom, misalnya wortel, pepaya dan jeruk. Pada karotemia warna kuning terutama tampak pada telapak tangan dan kaki disamping kulit lainnya. Sklere pada karotemia tidak kuning. Istilah ikterus dapat dikacaukan dengan kolestasis yang umumnya disertai ikterus. Definisi kolestasis adalah hambatan aliran empedu normal normal untuk mencapai duodenum. Kolestatasis ini dulu sering dinamakan jaundice obstruktif. Normalnya, bilirubin total <1> Ikterus yang ringan dapat dilihat paling awal pada sklera mata, dan kalau ini terjadi kadar bilirubin sudah berkisar antara 2-2,5 mg/dL (34 sampai 43 uniol/L). Jika ikterus sudah jelas dapat dilihat dengan nyata maka bilirubin mungkin sebenamya sudah mencapai angka 7 mg%. Ikterus (jaundice) didefinisikan sebagai menguningnya warna kulit dan sklera akibat akumulasi pigmen bilirubin dalam darah dan jaringan. Kadar bilirubin harus mencapai 35-40 mmol/l sebelum ikterus menimbulkan manifestasi klinik. (3)

sklera. Larva nematoda yang melewati hati dapat menyebabkan inflamasi dan hepatocellular necrosis (nekrosa sel hati). Bekas infeksi ini kemudian diganti dengan jaringan ikat fibrosa (jaringan parut) yang sering terjadi pada kapsula hati. Bilirubin terkonjugasi bersifat larut di dalam air. ikterus dapat dibedakan menjadi 3. Gangguan konjugasi bilirubin dapat disebabkan karena defisiensi enzim glukoronil transferase sebagai katalisator (Price dan Wilson 2002). Menurut Price dan Wilson (2002).Jaundice (berasal dari bahasa Perancis „jaune‟ artinya kuning) atau ikterus (bahasa Latin untuk jaundice) adalah pewarnaan kuning pada kulit. Ikterus pre-hepatik Ikterus jenis ini terjadi karena adanya kerusakan RBC atau intravaskular hemolisis. misalnya pada kasus anemia hemolitik menyebabkan terjadinya pembentukan bilirubin yang berlebih. Parametorchis complexus. 2. hepatitis akut atau kronis dan pemakaian obat yang berpengaruh terhadap pengambilan bilirubin oleh sel hati. dan membran mukosa oleh deposit bilirubin (pigmen empedu kuning-oranye) pada jaringan tersebut. Methorcis conjunctus. Faktor penyebab gangguan sekresi bilirubin dapat berupa faktor fungsional maupun obstruksi duktus choledocus yang disebabkan oleh cholelithiasis. terutama pada jaringan tubuh yang banyak mengandung serabut elastin sperti aorta dan sklera (Maclachlan dan Cullen di dalam Carlton dan McGavin 1995). Cacing yang telah dewasa berpindah pada duktus empedu dan menyebabkan cholangitis atau cholangiohepatitis yang akan berdampak pada penyumbatan/obstruksi duktus empedu. Ikterus 3. dan lain-lain (Maclachlan dan Cullen di dalam Carlton dan McGavin 1995). sehingga diekskresikan ke dalam urin (bilirubinuria) melalui ginjal. Hemolisis dapat disebabkan oleh parasit darah. M. tumor hati. Adanya ikterus yang mengenai hampir seluruh organ tubuh menunjukkan terjadinya gangguan sekresi bilirubin. infestasi parasit. yaitu: 1. contoh: Babesia sp. dan Anaplasma sp. Pseudamphistomum truncatum. Warna kuning ini disebabkan adanya akumulasi bilirubin pada proses (hiperbilirubinemia). Ikterus Post-Hepatik Mekanisme terjadinya ikterus post hepatik adalah terjadinya penurunan sekresi bilirubin terkonjugasi sehinga mengakibatkan hiperbilirubinemia terkonjugasi. bilirubin yang tidak terkonjugasi bersifat tidak larut dalam air sehingga tidak diekskresikan dalam urin dan tidak terjadi bilirubinuria tetapi terjadi peningkatan urobilinogen. albidus. Etiologi ikterus Ikterus merupakan suatu keadaan dimana terjadi penimbunan pigmen empedu pada tubuh menyebabkan perubahan warna jaringan menjadi kuning. Berdasarkan penyebabnya. Hal ini menyebabkan warna urin dan feses menjadi gelap. tetapi urobilinogen menjadi berkurang sehingga warna feses terlihat pucat. Ikterus hepatik Ikterus jenis ini terjadi di dalam hati karena penurunan pengambilan dan konjugasi oleh hepatosit sehingga gagal membentuk bilirubin terkonjugasi. Ophisthorcis tenuicollis. Ikterus yang disebabkan oleh hiperbilirubinemia tak terkonjugasi bersifat ringan dan berwarna kuning pucat. Contoh nematoda yang menyerang hati anjing adalah Capillaria hepatica. dan inflamasi yang mengakibatkan fibrosis. Migrasi larva cacing melewati hati umum terjadi pada hewan domestik. Cacing trematoda yang berhabitat di duktus empedu anjing meliputi Dicrocoelium dendriticum. Cacing cestoda yang berhabitat pada sistem hepatobiliary anjing antara lain Taenia hydatigena dan Echinococcus granulosus. Contoh kasus pada anjing adalah kejadian Leptospirosis oleh infeksi Leptospira grippotyphosa. Kegagalan tersebut disebabkan rusaknya sel-sel hepatosit.. .

Ikterus pasca hepatik (obstruktif) : Adanya bendungan dalam saluran empedu (kolistasis) yang mengakibatkan peninggian konjugasi bilirubin yang larut dalam air yang terbagi menjadi : a. Intrahepatik : bila penyumbatan terjadi antara hati dengan ductus koleductus.Macam – Macam Ikterus 1. b Kadar bilirubin indirek tidak melebihi 10 mg% pada neonatus cukup bulan dan 12. Ikterus klinis terjadi pada 24 jam pertama kehidupan 2. Tidak terbukti mempunyai hubungan dengan keadaan patologik. Kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak melebihi 5 mg% perhari. b. Peningkatan kadar bilirubin serum sebanyak 5mg/dL atau lebih setiap 24 jam 3. 2. hipoksia. Peningkatan bilirubin lebih dari 5 mg% perhari. e. defisiensi G6PD. Ikterus Fisiologis a. Ikterus yang disertai oleh: o Berat lahir <2000 gram o Masa gestasi 36 minggu o Asfiksia. e. 2. lues dan kadang bakteri) • Kadang oleh defisiensi G-6-PO 5. 4. sindrom gawat napas pada neonates (SGNN) o Infeksi o Trauma lahir pada kepala o Hipoglikemia. c. Ikterus yang timbul pada 24 jam pertama dengan penyebab : • Inkomtabilitas darah Rh.5 mg% untuk neonatus lebih bulan. Ikterus yang disertai proses hemolisis (inkompatabilitas darah. Ikterus Patologik a. d.Ada beberapa keadaan ikterus yang cenderung menjadi patologik: 1. Ikterus terjadi dalam 24 jam pertama. Menurut IKA. Ikterus yang timbul 24 – 72 jam setelah lahir dengan penyebab: • Biasanya ikteruk fisiologis . Timbul pada hari ke dua dan ketiga. Ikterus pra hepatic : Terjadi akibat produksi bilirubin yang mengikat yang terjadi pada hemolisis sel darah merah. c. 2002 penyebab ikterus terbagi atas : 1. Ikterus hepatoseluler (hepatik) : Kerusakan sel hati yang menyebabkan konjugasi blirubin terganggu. b. 3. Mempunyai hubungan dengan proses hemolitik. d. ABO atau golongan lain • Infeksi intra uterin (oleh virus. Ekstrahepatik : bila penyumbatan terjadi pada ductus koleductus. toksoplasma. f. Ikterus menetap sesudah 2 minggu pertama. Kadar bilirubin melebihi 10 mg% pada neonatus cukup bulan atau melebihi 12. atau sepsis) 4. Ikterus menghilang pada 10 hari pertama. Kadar bilirubin direk melebihi 1 mg%.5 mg% pada neonatus kurang bulan. Ikterus klinis yang menetap setelah bayi berusia >8 hari (pada NCB) atau >14 hari (pada NKB) A. hiperkarbia o Hiperosmolaritas darah 5.

tidak ada koordinasi otot.2001) Jenis-jenis Ikterus Menurut Waktu Terjadinya 1.perdarahan hepar. Kernikterus. nucleus merah didasar ventrikel IV.• Masih ada kemungkinan inkompatibitas darah ABO atau Rh atau golongan lain. Terjadi kernikterus. Ikterus yang timbul pada akhir minggu pertama dan selanjutnya dengan penyebab : • biasanya karena obstruksi • hipotiroidime • hipo breast milk jaundice • infeksi • neonatal hepatitis • galaktosemia 1. cerebral palsy. 2. dan tangisan yang melengking. • Policitemia • Hemolisis perdarahan tertutup *(perdarahan subaponerosis. kerusakan neurologis. Ikterus yang timbul 24-72 jam sesudah lahir • Biasanya ikterus fisiologis • Masih ada kemungkinan inkompatibilitas darah Rh. sindroma Gilbert 4. Ikterus yang timbul pada akhir minggu pertama dan selanjutnya • Ikterus obtruktive • Hipotiroidisme . thalamus. atau golongan lain • Infeksiintra uterine • Kadang-kadang karena defisiensi enzim G-6-PD 2. nucleus subtalamus hipokampus. yaitu kerusakan pada otak akibat perlengketan bilirubin indirek pada otak terutama pada korpus striatum. ABO atau golongan lain • Defisiensi enzim G-6-PD atau enzim eritrosit lain juga masih mungkin. Iktersua yang timbul sesudah 72 jam pertama sampai akhir minggu pertama • Sepsis • Dehidrasi dan asidosis Defisiensi G-6-PD • Pegaruh obat-obatan • Sindroma Criggler-Najjar . hyperaktif. perdarahan hepar sub kapsuler dan lain-lain) • Dehidrasis asidosis • Defisiensi enzim eritrosis lainnya 6. Ikterus yang timbul pada 24 jam pertama • Ikterus yang terjadi pada 24 jam pertama sebagian besar disebabkan oleh : • Inkompatibilitas darah Rh. 1997)(Suriadi. bicara lambat.ABO. RM. misalnya melebihi 5 mg%/24 jam • Polisitemia • Hemolisis perdarahan tertutup (perdarahan sub oiponeurosis. sub capsula dll) 3. Ikterus yang timbul sesudah 72 jam pertama sampai minggu pertama dengan penyebab • Biasanya karena infeksi (sepsis) • Dehidrasi asidosis • Defisiensi enzim G-6-PD • Pengaruh obat • Sindrom gilber 7. (Ngastiyah. Hal ini diduga kalau peningkatan kadar bilirubin cepat.

Gejalanyaantara lain: mata yang berputar.1 Pola ikterus fisiologis ini bervariasi sesuai prematuritas. Pada umur yang lebih lanjut. dan puncaknya pada hari ke 3-5. sindrom gangguan pernafasan § Infeksi § Trauma lahir pada kepala § Hipoglikemi (kadar gula terlalu rendah). Bayi ras Cina cenderung untuk memiliki kadar puncak bilirubin maksimum pada hari ke-4 dan 5 setelah lahir. dan 12. namun kurang 12 mg/dL pada hari ketiga hidupnya dipertimbangkan sebagai ikterus fisiologis. Peningkatan konsentrasi bilirubin darah lebih dari 5 mg% atau lebih setiap 24 jam 3. Penelitian di RSCM Jakarta menunjukkan bahwa dianggap hiperbilirubinemia bila: 1. 1. dan akhirnya kejang. Kernikterus adalah suatu kerusakan otak akibat perlengketan bilirubin indirek pada otak. bila bayi ini bertahan hidup dapat terjadi spasme (kekakuan) otot. Konsentrasi bilirubin darah 10 mg% pada neonatus (bayi baru lahir) kurang bulan. leher kaku. kesadaran menurun. kadang sampai beberapa minggu. Ikterus terjadi pada 24 jam pertama 2. Ikterus yang disertai proses hemolisis (pemecahan darah yang berlebihan) pada inkompatibilitas darah (darah ibu berlawanan rhesus dengan bayinya). ketegangan otot. konjungtiva dan mukosa. kekurangan enzim G6-PD. Gejala dan tanda klinis Gejala utamanya adalah kuning di kulit. Faktor yang berperan pada munculnya ikterus fisiologis pada bayi baru lahir meliputi peningkatan bilirubin karena polisitemia relatif. gangguan bicara dan keterbelakangan mental. Kadang dapat muncul peningkatan kadar bilirubin sampai 12 mg/dL dengan bilirubin terkonyugasi < 2 mg/dL. hipoksia (kekurangan oksigen). hipercarbia (kelebihan carbondioksida) Yang sangat berbahaya pada ikterus ini adalah keadaan yang disebut “Kernikterus”. Sebagai contoh. dan faktor-faktor lain. Setelah itu perlahan-lahan akan menurun mendekati nilai normal dalam beberapa minggu. proses ambilan dan konyugasi di hepar yang belum matur dan peningkatan sirkulasi enterohepatik. pemendekan masa hidup eritrosit (pada bayi 80 hari dibandingkan dewasa 120 hari). Bilirubin mulai meningkat secara normal setelah 24 jam. ras. bayi prematur akan memiliki puncak bilirubin maksimum yang lebih tinggi pada hari ke-6 kehidupan dan berlangsung lebih lama. Ikterus yang disertai dengan keadaan-keadaan sebagai berikut: § Berat lahir kurang dari 2 kg § Masa kehamilan kurang dari 36 minggu § Asfiksia.• Breast milk jaundice • Infeksi • Hepatitis neonatal • Galaktosemia B. tak mau minum atau menghisap. setiap neonatus mengalami peningkatan konsentrasi bilirubin serum. kejang. kemudian menurun kembali dalam minggu pertama setelah lahir. PATOFISIOLOGI Bilirubin pada neonatus meningkat akibat terjadinya pemecahan eritrosit. dan sepsis) 5. Ikterus fisiologis Secara umum.5 mg% pada neonatus cukup bulan 4. Pola ikterus fisiologis pada bayi baru lahir sebagai berikut: kadar bilirubin serum total biasanya mencapai puncak pada hari ke 3-5 kehidupan dengan kadar 5-6 mg/dL. tuli. Disamping itu dapat pula .

konjungtiva dan mukosa. Feses dempul disertai urin warna coklat . Letargik dan gejala sepsis lainnya 6. 3. Omfalitis (peradangan umbilikus) 10. rhesus.disertai dengan gejala-gejala: 1. yang dapat disebabkan oleh keterlambatan memotong tali pusat. sefalhematom (peradarahn kepala). Trauma lahir * Bruising. Petekiae (bintik merah di kulit) o Sering dikaitkan dengan infeksi congenital. Letargik dan gejala sepsis lainnya 6. 4. Ketidakcocokan golongan darah ABO. defisiensi G6PD) atau kehilangan darah ekstravaskular. Hepatosplenomegali (pembesaran hati dan limpa) 9. Mikrosefali (ukuran kepala lebih kecil dari normal) * Sering berkaitan dengan anemia hemolitik. 4. perdarahan tertutup lainnya. Hipotiroidisme (defisiensi aktivitas tiroid) 11. perdarahan tertutup lainnya. penyakit hati 8. Gejala utamanya adalah kuning di kulit. Hepatosplenomegali (pembesaran hati dan limpa) 9. bayi KMK 5. defisiensi G6PD) atau kehilangan darah ekstravaskular. selanjutnya konsultasikan ke bagian hepatologi. sepsis atau eritroblastosis 7. 3. Pucat o Sering berkaitan dengan anemia hemolitik (mis. Petekiae (bintik merah di kulit) * Sering dikaitkan dengan infeksi congenital. sepsis atau eritroblastosis 7. Pletorik (penumpukan darah) * Polisitemia. Feses dempul disertai urin warna coklat * Pikirkan ke arah ikterus obstruktif. Pucat * Sering berkaitan dengan anemia hemolitik (mis. yang dapat disebabkan oleh keterlambatan memotong tali pusat. Trauma lahir o Bruising. Massa abdominal kanan (sering berkaitan dengan duktus koledokus) 12. sefalhematom (peradarahn kepala). bayi KMK 5. Mikrosefali (ukuran kepala lebih kecil dari normal) o Sering berkaitan dengan anemia hemolitik. Hipotiroidisme (defisiensi aktivitas tiroid) 11. muntah-muntah) 2. infeksi kongenital. Disamping itu dapat pula disertai dengan gejala-gejala: 1. Dehidrasi * Asupan kalori tidak adekuat (misalnya: kurang minum. Omfalitis (peradangan umbilikus) 10. Pletorik (penumpukan darah) o Polisitemia. rhesus. Massa abdominal kanan (sering berkaitan dengan duktus koledokus) 12. muntah-muntah) 2. Ketidakcocokan golongan darah ABO. infeksi kongenital. penyakit hati 8. Dehidrasi o Asupan kalori tidak adekuat (misalnya: kurang minum.

kanalikuli empedu. 10-20% direabsorbsi kedalam sirkulasi portal. dan evaluasi serta manajemen pasien jaundice merupakan permasalahan yang sering dihadapi oleh ahli bedah. retroduodenal.3 mg/dL. mengalir secara tangensial melalui lapisan submukosa 1-2 cm. Duktus biliaris komunis kemudian memasuki dinding medial duodenum. tangkainya menjadi duktus sistikus. Unit sekresi hati (hepatosit dan sel epitel bilier.o Pikirkan ke arah ikterus obstruktif.8 cm. duktus sistikus.4-0. termasuk kelenjar peribilier). dan duktus biliaris intrahepatik membentuk saluran intrahepatik dimana duktus biliaris ekstrahepatik (kanan dan kiri).5 – 1. adanya bilirubin terkonjugasi pada urin merupakan satu dari perubahan awal yang terlihat pada tubuh pasien. Bagian distal duktus dikelilingi oleh otot polos yang membentuk sfingter Oddi. selanjutnya konsultasikan ke bagian hepatologi. ketika levelnya meluas menjadi 2. jalur intra-hepatik dan ekstrahepatik. Duktus biliaris dapat dibagi menjadi tiga segmen anatomi: supraduodenal. Serum bilirubin normal berkisar antara 0. Sebagai akibat perubahan posisi duodenum. kandung empedu. Pada ileum terminal dan kolon. Sebagai tambahan. (4) Duktus sistikus dan hepatikus komunis bergabung membentuk duktus biliaris. dan hubungannya dengan pembuluh darah penting untuk kinerja pembedahan hepatobilier karena biasanya terdapat variasi anatomi yang luas. dan intrapankreatik. Bilirubin ditransportasikan melewati membran sinusoid hepatosit kedalam sitoplasma. Bilirubin terkonjugasi kemudian secara aktif disekresikan kedalam kanalikulus empedu. nantinya membentuk duktus biliaris. duktulus empedu (kanal Hearing). Bagian ini terbagi menjadi dua bagian sebagaimana bagian tersebut tumbuh diantara lapisan mesenterik ventral: bagian kranial lebih besar (pars hepatika) merupakan asal mula hati/hepar. Urobilinogen ini diekskresikan kembali kedalam empedu atau diekskresikan oleh ginjal didalam urin. duktus hepatikus komunis. pewarnaan jaringan bilirubin menjadi terlihat secara klinis sebagai jaundice. dan percabangan bilier muncul dari tunas ventral (divertikulum hepatikum) dari bagian paling kaudal foregut diawal minggu keempat kehidupan. dan bagian kaudal yang lebih kecil (pars sistika) meluas membentuk kandung empedu. dan memotong papila mayor pada bagian kedua duodenum.0 mg/dL. Manifestasi ikterus Jaundice merupakan manifestasi yang sering pada gangguan traktus biliaris. yang disebut ampula Vater. Duktus biliaris komunis dapat masuk ke duodenum secara langsung (25%) atau bergabung bersama duktus pankreatikus (75%) untuk membentuk kanal biasa. (2) Bilirubin merupakan produk pemecahan hemoglobin normal yang dihasilkan dari sel darah merah tua oleh sistem retikuloendotelial. jalan masuk duktus biliaris berada disekitar aspek dorsal duodenum. Hubungan awal antara divertikulum hepatikum dan penyempitan foregut. Deskripsi anatomi klasik pada traktus biliaris hanya muncul pada 58% populasi. kandung empedu. bilirubin dirubah menjadi urobilinogen. Duktus biliaris komunis kira-kira panjangnya 8-10 cm dan diameter 0. (4) Hepar. (4) . ANATOMI SISTEM HEPATOBILIER Pengetahuan yang akurat akan anatomi hati dan traktus biliaris. bilirubin monoglucuronide dan bilirubin diglucuronide. Bilirubin tak terkonjugasi yang tidak larut ditransportasikan ke hati terikat dengan albumin. Enzim uridine diphosphate–glucuronyl transferase mengkonjugasikan bilirubin tak-terkonjugasi yang tidak larut dengan asam glukoronat untuk membentuk bentuk terkonjugasi yang larut-air. dan duktus biliaris komunis merupakan komponen ekstrahepatik percabangan biliaris. (4) Sistem biliaris secara luas dibagi menjadi dua komponen.

kelainan bawaan (atresia bilier). Bentuk ini akibat defek hepatosit (jaundice hepatik) atau sebuah kondisi pre-hepatik. Bilirubin ini dikombinasikan dengan albumin membentuk kompleks protein-pigmen dan ditransportasikan ke dalam sel hati. batu pada kandung empedu dsb. Peninggian kadar bilirubin tak larut dalam darah tidak terdeteksi didalam urine sehingga disebut juga dengan ikterus acholuria. hepatik dan posthepatik. dimana aktivitas glukoronosiltransferase . Biliverdin berubah menjadi bilirubin yang berwarna kuning. Jaundice obstruktif selalu ditunjuk sebagai post-hepatik sejak defeknya terletak pada jalur metabolisme bilirubin melewati hepatosit. bayi yang baru lahir (ikterus fisiologik) dsb. dikarenakan haemolisis cepat dalam proses penggantian hemoglobin fetal ke hemoglobin dewasa dan juga oleh karena hepar belum matur. (1) Ikterus hemolitik. tidak larut dalam air dan tidak dikeluarkan melalui urin. Hati mempunyai kapasitas mengkonjugasikan dan mengekskresikan lebih dari 3000 mg bilirubin perharinya sedangkan produksi normal bilirubin hanya 300 mg perhari. Bentuk bilirubin ini sebagai bilirubin yang belum dikonjugasi atau bilirubin indirek berdasar reaksi diazo dari Van den Berg. ikterus yang terjadi akibat kerusakan atau peradangan jaringan hati. cincin heme setelah dibebaskan dari besi dan globin diubah menjadi biliverdin yang berwarna hijau. ikterus yang timbul akibat adanya bendungan yang mengganggu aliran empedu. kekurangmampuan sel hati untuk melakukan konjugasi akibat penyakit hati. ikterus yang timbul karena meningkatnya penghancuran sel darah merah. Pada neonatus terutama yang lahir premature peningkatan bilirubin tak larut terjadi biasanya fisiologis dan sementara. (4) METABOLISME NORMAL BILIRUBIN Bilirubin berasal dari hasil pemecahan hemoglobin oleh sel retikuloendotelial. Didalam sel inti hati albumin dipisahkan. hati masih akan mampu meningkatkan konjugasi dan ekskresi bilirubin larut. Pada reaksi diazo Van den Berg memberikan reaksi langsung sehingga disebut bilirubin direk. KLASIFIKASI Gambar 3 berisi daftar skema bagi klasifikasi umum jaundice: pre-hepatik. misal pada penyakit hepatitis. Akan tetapi lisisnya eritrosit secara massive misalnya anemia hemolitik pada kasus sickle cell anemia ataupun malaria akan menyebabkan produksi bilirubin lebih cepat dari kemampuan hati mengkonjugasinya sehingga akan terdapat peningkatan bilirubin tak larut didalam darah (indirek). Pembuluh aferen pleksus ini berasal dari cabang arteri hepatika. (3) Ikterus obstruktif. Gejala kuning pada yang dikenal sebagai ikterus dibagi 3 golongan berdasarkan penyebab kuningnya tersebut. ketidak cocokan gol darah ibu dengan golongan darah bayi. (2) Ikterus parenkimatosa. Bentuk lain jaundice ditunjuk sebagai jaundice non-obstruktif. Keadaan ini disebut hiperbilirubinemia dengan manifestasi klinis berupa ikterus. Misal pada tumor. Hiperbilirubinemia sendiri dikelompokkan dalam dua bentuk berdasarkan penyebabnya yaitu hiperbilirubinemia retensi yang disebabkan oleh produksi yang berlebih (bilirubin indirek meningkat) dan hiperbilirubinemia regurgitasi yang disebabkan refluks bilirubin kedalam darah karena adanya obstruksi bilier (bilirubin direknya juga meningkat dan produksi sterkobilinogen menurun). bilirubin dikonjugasikan dengan asam glukoronik yang larut dalam air dan dikeluarkan ke saluran empedu.Traktus biliaris dialiri vaskular kompleks pembuluh darah disebut pleksus vaskular peribilier. Hiperbilirubinemia retensi dapat terjadi pada kasus-kasus haemolisis berat dan gangguan konjugasi. Hal ini menunjukkan kapasitas hati yang sangat besar dimana bila pemecahan heme meningkat. Misal pada keadaan infeksi (sepsis). dan pleksus ini mengalir kedalam sistem vena porta atau langsung kedalam sinusoid hepatikum. terjadinya refluks bilirubin direk dari saluran empedu ke dalam darah karena adanya hambatan aliran empedu menyebabkan tingginya kadar bilirubin didalam darah. (5) Bilirubin indirek yang berlebihan akibat pemecahan sel darah merah yang terlalu banyak.

dimana didapati konsentrasi bilirubin mencapai lebih dari 20 mg/dl. Jadi pada ikterus obstruktif ini perlu dibuktikan dengan pemeriksaan kadar bilirubin serum. proses peradangan dan sikatrik. karena kerusakan pada isoform glukoronil transferase II. USG. dengan gambaran histologi hati normal. Secara evidence pemeriksaan metode visual tidak direkomendasikan. Syndroma Crigler Najjar II. namun apabila terdapat keterbatasan alat masih boleh digunakan untuk tujuan skrining dan bayi dengan skrining positif segera dirujuk untuk diagnostik dan tata laksana lebih lanjut. Kelainan ini sering terjadi bersama dengan terdapatnya obstruksi. terjadi karena adanya defek pada sekresi bilirubin terkonjugasi dan estrogen ke sistem empedu yang penyebab pastinya belum diketahui. darah rutin. Apabila peningkatan bilirubin tak larut ini melampaui kemampuan albumin mengikat kuat. bilirubin indirek. Karena terjadinya akibat sumbatan pada saluran empedu disebut juga sebagai ikterus kolestatik. Hiperbilirubinemia toksik adalah gangguan fungsi hati karena toksin seperti chloroform. karena besarnya bias penilaian. bilirubin indirek. Beberapa kelainan lain yang menyebabkan hiperbilirubinemia regurgitasi adalah Syndroma Dubin Johnson. Jika ada dugaan ikterus hemolitik perlu dipastikan dengan pemeriksaan kadar bilirubin total. Sumbatan pada duktus hepatikus dan duktus koledokus akan menghalangi masuknya bilirubin keusus dan peninggian konsentrasinya pada hati menyebabkan refluks bilirubin larut ke vena hepatika dan pembuluh limfe. Hiperbilirubinemia regurgitasi paling sering terjadi karena terdapatnya obstruksi saluran empedu. bilirubin urin. arsfenamin. asetaminofen.masih rendah. Penegakan Diagnosis 1. terjadi karena adanya defek pada transport anion an organik termasuk bilirubin. Syndroma Gilbert. misalnya karena tumor caput pankreas (ditandai Couvisier‟s Law). urobilin urin. serologi virus hepatitis. jamur dan juga akibat cirhosis. merupakan kasus yang lebih ringan dari tipe I. carbon tetrachlorida. Pada kasus ini didapatkan peningkatan bilirubin direk. virus. Syndroma Rotor. Beberapa kelainan penyebab hiperbilirubinemia retensi diantaranya seperti Syndroma Crigler Najjar I yang merupakan gangguan konjugasi karena glukoronil transferase tidak aktif. penyebab pastinya juga belum dapat diketahui. . zat yang larut dalam empedu serta batu empedu. Visual Metode visual memiliki angka kesalahan yang tinggi. Pemeriksaan ini sulit diterapkan pada neonatus kulit berwarna. diturunkan secara autosomal resesif. Terapi phenobarbital dapat menginduksi proses konjugasi dan ekskresi bilirubin dan menjadi preparat yang menolong pada kasus ikterik neonatus tapi tidak pada sindroma Crigler najjar. merupakan kasus yang jarang. didapati bilirubin monoglukoronida terdapat dalam getah empedu. E. bilirubin akan berdiffusi ke basal ganglia pada otak dan menyebabkan ensephalopaty toksik yang disebut sebagai kern ikterus (ikterus neonatorum pathologis yang ditandai peningkatan bilirubin direk dan pemecahan eritrosit). Gangguan konjugasi muncul besama dengan gangguan ekskresi bilirubin dan menyebabkan peningkatan kedua jenis bilirubin baik yang larut maupun yang tidak larut. namun masih dapat digunakan apabila tidak ada alat. terjadi karena haemolisis bersama dengan penurunan uptake bilirubin oleh hepatosit dan penurunan aktivitas enzym konjugasi dan diturunkan secara autosomal dominan. diturunkan secara autosomal resesif. Bentuknya yang larut menyebabkan bilirubin ini dapat terdeteksi dalam urine dan disebut sebagai ikterus choluria. batu. alkali fosfatase.

4 mg/dL (249 umol/l). Tentukan keparahan ikterus berdasarkan umur bayi dan bagian tubuh yang tampak kuning. r=0. (2004) menyatakan bahwa pemeriksaan bilirubin serum ataupun transkutan secara rutin sebagai tindakan skrining sebelum bayi dipulangkan tidak efektif dari segi biaya dalam mencegah terjadinya ensefalopati . Briscoe dkk. Sampel serum harus dilindungi dari cahaya (dengan aluminium foil) Beberapa senter menyarankan pemeriksaan bilirubin direk.76. 3. melibatkan 303 bayi baru lahir dengan usia gestasi >34 minggu. Pada penelitian ini hiperbilirubinemia dibatasi pada konsentrasi bilirubin serum >14. sebagai berikut:    Pemeriksaan dilakukan dengan pencahayaan yang cukup (di siang hari dengan cahaya matahari) karena ikterus bisa terlihat lebih parah bila dilihat dengan pencahayaan buatan dan bisa tidak terlihat pada pencahayaan yang kurang. Dari penelitian ini didapatkan bahwa pemeriksaan TcB dan Total Serum Bilirubin (TSB) memiliki korelasi yang bermakna (n=303. namun interval prediksi cukup besar. Bilirubin Serum Pemeriksaan bilirubin serum merupakan baku emas penegakan diagnosis ikterus neonatorum serta untuk menentukan perlunya intervensi lebih lanjut. Hasil analisis biaya yang dilakukan oleh Suresh dkk. Cahaya yang dipantulkan merupakan representasi warna kulit neonatus yang sedang diperiksa. (2002) melakukan sebuah studi observasional prospektif untuk mengetahui akurasi pemeriksaan bilirubin transkutan (JM 102) dibandingkan dengan pemeriksaan bilirubin serum (metode standar diazo). Tekan kulit bayi dengan lembut dengan jari untuk mengetahui warna di bawah kulit dan jaringan subkutan. Bilirubinometer Transkutan Bilirubinometer adalah instrumen spektrofotometrik yang bekerja dengan prinsip memanfaatkan bilirubin yang menyerap cahaya dengan panjang gelombang 450 nm. p<0. Namun disebutkan pula bahwa hasil pemeriksaan TcB dapat digunakan untuk menentukan perlu tidaknya dilakukan pemeriksaan TSB. Pemeriksaan bilirubin transkutan (TcB) dahulu menggunakan alat yang amat dipengaruhi pigmen kulit. (tabel 1) 2. bukan untuk diagnosis. Penelitian ini dilakukan di Inggris.0001). bila kadar bilirubin total > 20 mg/dL atau usia bayi > 2 minggu. Umumnya yang diperiksa adalah bilirubin total. alat yang dipakai menggunakan multiwavelength spectral reflectance yang tidak terpengaruh pigmen. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan pemeriksaan serum bilirubin adalah tindakan ini merupakan tindakan invasif yang dianggap dapat meningkatkan morbiditas neonatus. sehingga TcB tidak dapat digunakan untuk mengukur TSB. Saat ini. Umumnya pemeriksaan TcB dilakukan sebelum bayi pulang untuk tujuan skrining. Pemeriksaan bilirubin transkutan dilakukan untuk tujuan skrining.WHO dalam panduannya menerangkan cara menentukan ikterus secara visual.

Bilirubin menjadi substansi tidak berwarna. Hal ini menerangkan mengapa ensefalopati bilirubin dapat terjadi pada konsentrasi bilirubin serum yang rendah. Kolelitiasis selalu berhubungan dengan nyeri kuadran atas kanan dan gangguan pencernaan. Penyebab umum kegagalan ekskresi termasuk hepatitis viral atau alkoholik. kolestasis induksi-obat. penyebab dapatan hemolisis termasuk sepsis. 4. adanya kontak dengan pasien ikterus lain. dan ada penyakit yang menyebabkan jaundice „surgical‟ melalui kegagalan transpor bilirubin kedalam usus. warna urin dan feses. anamnesis menyeluruh. atau ekskresi yang biasanya diatur secara medis dari obstruksi bilier ekstrahepatik. atau kolangitis sklerosing primer. (2) Ketika mendiagnosa jaundice. Kegagalan ekskresi bilirubin menyebabkan kolestasis intrahepatik dan hiperbilirubinemia terkonjugasi. Seperti telah diketahui bahwa pada pemecahan heme dihasilkan bilirubin dan gas CO dalam jumlah yang ekuivalen. obat-obatan. pekerjaan. dan reaksi transfusi. (5) Anamnesis ditujukan pada riwayat timbulnya ikterus. sepsis dan akibat hepatitis virus. keluhan saluran cerna. dokter harus mampu membedakan antara kerusakan pada ambilan bilirubin. suntikan atau tindakan pembedahan. Salah satunya dengan metode oksidase-peroksidase. tes laboratorium rutin dan pencitraan radiologis non-invasif membedakan obstruksi bilier ekstrahepatik dari penyebab jaundice lainnya. luka bakar. Obstruksi bilier ekstrahepatik dapat disebabkan oleh beragam gangguan termasuk koledokolitiasis. Prinsip cara ini berdasarkan kecepatan reaksi oksidasi peroksidasi terhadap bilirubin. (5) Diagnosa banding jaundice sejalan dengan metabolisme bilirubin (Tabel 1). tangan dan kaki pada hari kedua. Tidak perlu menunggu hasil pemeriksaan kadar bilirubin serum untuk memulai terapi sinar. Ambilan dan konjugasi bilirubin dapat dipengaruhi oleh obat-obatan. riwayat transfusi.hiperbilirubin. pemeriksaan fisik yang teliti serta pemeriksaan faal hati. maka pengukuran konsentrasi CO yang dikeluarkan melalui pernapasan dapat digunakan sebagai indeks produksi bilirubin. atau ahli endoskopi. menurunnya transpor atau konjugasi hepatosit. rasa gatal. nafsu makan berkurang. Perkiraan Klinis Tingkat Keparahan Ikterus Usia Kuning terlihat pada Tingkat keparahan ikterus Hari 1 Bagian tubuh manapun Berat Hari 2 Tengan dan tungkai * Hari 3 Tangan dan kaki * Bila kuning terlihat pada bagian tubuh manapun pada hari pertama dan terlihat pada lengan. tungkai. Pada kebanyakan kasus. pemeriksaan fisik. ahli radiologi intervensional. sirosis. konjugasi. Dengan pendekatan bilirubin bebas. yang biasanya ditangani oleh ahli bedah. nyeri perut. DIAGNOSIS Langkah pertama pendekatan diagnosis pasien dengan ikterus ialah melalui anamnesis. Tabel 1. kanker periampular. Jaundice dari batu duktus biliaris umum . tata laksana ikterus neonatorum akan lebih terarah. kolangiokarsinoma. maka digolongkan sebagai ikterus sangat berat dan memerlukan terapi sinar secepatnya. atau kegagalan ekskresi bilirubin. Penyebab umum meningkatnya produksi bilirubin termasuk anemia hemolitik. alkoholisme. Penyakit yang menyebabkan jaundice dapat dibagi menjadi penyakit yang menyebabkan jaundice „medis‟ seperti peningkatan produksi. Beberapa metode digunakan untuk mencoba mengukur kadar bilirubin bebas. Pemeriksaan bilirubin bebas dan CO Bilirubin bebas secara difusi dapat melewati sawar darah otak. striktur bilier benigna. Berdasarkan hal ini.

batu kandung empedu menetap atau cedera kandung empedu harus diperkirakan. Hal ini biasanya menunjukkan adanya striktur neoplastik tumor (tumor pankreas. tanda-tanda asites. Elevasi tertinggi pada bilirubin serum biasanya ditemukan pada pasien dengan obstruksi maligna. (2) Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik meliputi perabaan hati. Bilirubin direk meningkat lebih tinggi dari bilirubin indirek lebih mungkin disebabkan oleh sumbatan saluran empedu dibanding bila bilirubin indirek yang jelas meningkat. pada mereka yang levelnya meluas sampai 15 mg/dL yang diamati. adanya batu atau massa tumor. mencari tanda-tanda stigmata sirosis hepatis. Kegagalan pada ekskresi bilirubin (kolestasis intrahepatik) atau obstruksi bilier ekstrahepatik menyebabkan hiperbilirubinemia (direk) terkonjugasi mendominasi. Pada keadaan normal bilirubin tidak dijumpai di dalam urin. alkali fosfatase. Kandung empedu yang membesar menunjukkan adanya sumbatan pada saluran empedu bagian distal yang lebih sering disebabkan oleh tumor (dikenal hukum Courvoisier). kandung empedu. sedangkan pelebaran saluran empedu memperkuat diagnosis ikterus obstruktif. Jika jaundice terjadi setelah kolesistektomi. ampula. Dengan sonografi dapat ditentukan kelainan parenkim hati.(2) . CBD). striktur pankreatitis kronis. Karena itu adanya bilirubin lebih mungkin disebabkan akibat hambatan aliran empedu daripada kerusakan sel-sel hati. pelebaran saluran empedu dan massa tumor tinggi sekali. (2) Pemeriksaan Penunjang USG Pemeriksaan pencitraan pada masa kini dengan sonografi sangat membantu dalam menegakkan diagnosis dan dianjurkan merupakan pemeriksaan penunjang pencitraan yang pertama dilakukan sebelum pemeriksaan pencitraan lainnya.biasanya sementara dan berhubungan dengan nyeri dan demam (kolangitis). Alkali fosfatase merupakan penanda yang lebih sensitif pada obstruksi bilier dan mungkin meningkat terlebih dahulu pada pasien dengan obstruksi bilier parsial. Anemi dan limpa yang membesar dapat dijumpai pada pasien dengan anemia hemolitik. Hiperbilirubinemia (indirek) tak terkonjugasi terjadi ketika ada peningkatan produksi bilirubin atau menurunnya ambilan dan konjugasi hepatosit. (5) Hukum Courvoisier “Kandung empedu yang teraba pada ikterus tidak mungkin disebabkan oleh batu kandung empedu”. Bilirubin indirek tidak dapat diekskresikan melalui ginjal sedangkan bilirubin yang telah dikonjugasikan dapat keluar melalui urin. atau limfadenopati portal. seperti spider naevi. Tidak ditemukannya tanda-tanda pelebaran saluran empedu dapat diperkirakan penyebab ikterus bukan oleh sumbatan saluran empedu. duktus yang melebar. eritema palmaris. Batu kandung empedu umumnya biasanya berhubungan dengan peningkatan lebih menengah pada bilirubin serum (4 – 8 mg/dL). dan hitung sel darah lengkap. duodenum. Serangan jaundice tak-nyeri bertingkat sehubungan dengan hilangnya berat badan diduga sebuah keganasan/malignansi. amilase. bekas garukan di kulit karena pruritus. Pemeriksaan feses yang menunjukkan adanya perubahan warna feses menjadi akolis menunjukkan terhambatnya aliran empedu masuk ke dalam lumen usus (pigmen tidak dapat mencapai usus). pembesaran kandung empedu. (3) Pemeriksaan Laboratorium Tes laboratorium harus dilakukan pada semua pasien jaundice termasuk serum bilirubin direk dan indirek. limpa. (2) Pemeriksaan faal hati dapat menentukan apakah ikterus yang timbul disebabkan oleh gangguan pada sel-sell hati atau disebabkan adanya hambatan pada saluran empedu. Ketepatan diagnosis pemeriksaan sonografi pada sistem hepatobilier untuk deteksi batu empedu. transaminase.

Penggunaan fenobarbital pada ibu 1-2 hari sebelum partus e. Computed Tomography (CT) adalah pemeriksaan radiologi yang dapat memperlihatkan serial irisan-irisan hati. (5) Pemeriksaan endoskopi yang banyak manfaat diagnostiknya saat ini adalah pemeriksaan ERCP (Endoscopic Retrograde Cholangio Pancre atography). Pemberian makanan yang dini f. (5) Untuk diagnosis kelainan primer dari hati dan kepastian adanya keganasan dilakukan biopsi jarum untuk pemeriksaan histopatologi. yang dieksresikan dalam hati kemudian ke empedu. misalnya sulfa furazole. • Dapat dilakukan pada sebelum atau sesudah transfusi tukar. Menghindari obat-obatan yang dapat meningkatkan ikterus pada masa kehamilan dan kelahiran. gambaran saluran proksimalnya dapat divisualisasikan dengan pemeriksaan Percutaneus Transhepatic Cholangiography (PTC).Keuntungan lain yang diperoleh pada penggunaan sonografi ialah sekaligus kita dapat menilai kelainan organ yang berdekatan dengan sistem hepatobilier antara lain pankreas dan ginjal. (2) Pemeriksaan Radiologi Pemeriksaan foto polos abdomen kurang memberi manfaat karena sebagian besar batu empedu radiolusen. Produk akhir adalah reversibel dan dieksresikan ke dalam empedu tanpa perlu konjugasi. Pemeriksaan ini dilakukan dengan penyuntikan kontras melalui jarum yang ditusukkan ke arah hilus hati dan sisi kanan pasien. Pencegahan Hiperbilirubin dapat dicegah dan dihentikan peningkatannta dengan cara : a. Biopsi jarum tidak dianjurkan bila ada tanda-tanda obstruksi saluran empedu karena dapat menimbulkan penyulit kebocoran saluran empedu. Dengan bantuan endoskopi melalui muara papila Vater kontras dimasukkan kedalam saluran empedu dan saluran pankreas. . • Jarak bayi dan lampu antara 40–50cm. Penanganan a. Keterbatasan yang mungkin timbul pada pemeriksaan ini ialah bila muara papila tidak dapat dimasuki kanul. kadar bilirubin dipecah sehingga mudah larut dalam air dan tidak toksik. dan posisi bayi diubah setiap 1-6 jam. Cahaya menyebabkan reaksi foto kimia dalam kulit yang mengubah bilirubin tak terkonjugasi kedalam fotobilirubin. tumor misalnya atau adanya penyempitan. Adanya kelainan hati dapat diperlihatkan lokasinya dengan tepat. Foto terapi Fototerapi. menggunakan cahaya Fluorescent (biru atau putih). Pengawasan antenatal yang baik b. posisi berbaring tanpa pakaian. Aman dan tidak invasif merupakan keuntungan lain dari sonografi. Pencegahan pengobatan hipoksin dapa janin dan neonatus d . Kolesistografi tidak dapat digunakan pada pasien ikterus karena zat kontras tidak diekskresikan oleh sel hati yang sakit. • Mekanisme : menimbulkan dekomposisi bilirubin. Keuntungan lain pada pemeriksaan ini ialah sekaligus dapat menilai apakah ada kelainan pada muara papila Vater. c. Pencegahan infeksi 2. PENATALAKSANAAN 1. dsb. oksitosin. daerah mata dan alat kelamin ditutup dengan bahan yang dapat memantulkan cahaya (contoh : karbon). dilakukan apabila telah ditegakkan hiperbilirubin patologis yang berfungsi untuk menurunkan bilirubin dalam kulit melalui tinja dan urine dengan oksidasi foto pada bilirubin dari biliverdin. (5) Adanya sumbatan di saluran empedu bagian distal. Kontras disuntikkan bila ujung jarum sudah diyakini berada di dalam saluran empedu. yang dikeluarkan melalui urine (urobilinogen) dan feses (sterkobilin). lama penyinaran tidak lebih dari 100 jam. • Terdiri dari 8-10 buah lampu yang tersusun pararel 160-200 watt.

Jadi jika ada tanda-tanda kern ikterus selama evaluasi atau pengobatan. d. Bila teridentifikasi. dan jika tidak berhasil. transfusi tukar dilakukan untuk mempertahankan kadar maksimum bilirubin total dalam serum di bawah kadar yang ditunjukkan pada tabel 1 (untuk preterm) dan tabel 2 (untuk bayi cukup bulan).Melakukan pemeriksaan kadar bilirubin pada semua bayi baru lahir sebelum meninggalkan Rumah Sakit. Transfusi Tukar • Tujuan : menurunkan kadar bilirubun dan mengganti darah yang terhemolisis. jika fototerapi tidak berhasil mengurangi kadar bilirubin maksimum. . Karena fototerapi mungkin memerlukan 6-12 jam untuk mempunyai pengaruh yang dapat diukur. anemia berat pada neonatus dengan gejala gagal jantung. tujuan terapi adalah mencegah kadar yang memungkinkan terjadinya neurotoksikosis.3 -1 mgz/jam. atau bayi dengan kadar Hb tali pusat 14 mgz dan uji coombs direk positif. Bayi dengan kadar bilirubin tinggi diobati dengan menggunakan fototerapi. Tabel 1. maka fototerapi ini harus dimulai saat kadar bilirubun masih berada di bawah kadar yang diindikasi untuk transfusi darah.Kontrol bayi baru lahir ke dokter dalam jangka waktu 24-48 jam setelah meninggalkan Rumah Sakit.Penanganan bayi ikterus. kemoterapi. kenaikan biirubin yang cepat yaitu 0. c. Fototerapi biasanya dimulai pada 50-70 % dari kadar maksimum bilirubin indirek. bahkan dengan transfusi tukar. Kadar bilirubin serum indirek maksimum yang disarankan pada bayi preterm. Belum ada persetujuan yang umum mengenai kriteria untuk memulai fototerapi. Fenobarbital Fenobarbital : dapat mengeksresi bilirubin dalam hati dan memperbesar konjugasi.b. pada kadar bilirubin berapapun. Pada setiap bayi. Berat Badan Lahir Tidak Ada Komplikasi Ada Komplikasi* (gram) (g/dL) (g/dL) <> 12-13 10-12 1000-1250 12-14 10-12 1251-1499 14-16 12-14 1500-1999 16-20 15-17 . maka transfusi tukar darurat harus dilakukan2. Kini terdapat obat baru yaitu Stanate yang dalam ujicoba terbukti dapat memblokade produksi bilirubin sehingga dapat mencegah kern ikterus.Meningkatkan pengetahuan orang tua tentang ikterus5. transfusi tukar. fototerapi. penyebab dasar dasar ikterus harus diobati. Tanpa memandang etiologi. hingga sekarang obat ini masih terus dikembangkan4. dianjurkan agar fototerapi. • Indikasi : pada keadaan kadar bilirubin indirek ³ 20 mg/dL atau bila sudah tidak dapat ditangani dengan fototerapi. . transfusi tukar merupakan indikasi. . Meningkatkan sintesis hepatik glukoronil tranferase yang meningkatkan bilirubin konjugasi dan clearance hepatik pada pigmen empedu. resiko jejas bilirubin terhadap sistem saraf pusat harus dipertimbangkan dengan resiko yang ditimbulkan oleh pengobatan. sintesis protein dimana dapat meningkatkan albumin untuk mengikat bilirubin. . Jika nilai sangat melebihi kadar ini. misalnya antibiotik untuk septikemia.Segera menurunkan kadar bilirubin indirek. Faktor-faktor fisiologis yag menambah resiko cedera neurologis harus diobati juga (misalnya koreksi terhadap asidosis)2. Antibiotik : diberikan bila terkait dengan adanya infeksi Pencegahan . atau jika ada tanda-tanda kern ikterus.

com/doc/21373244/Penatalaksanaan-Kelainan-Penyebab-Ikterus Carlton WW dan MD. Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Anak FKUP/RSHS. 17th edition. Saunders. *** Ikterus mendadak muncul pada umur 2 minggu atau berlanjut sesudah umur 2 minggu dengan kadar hiperbilirubinemia yang berarti. Perinatologi. Kliegman. Inc. hipoalbuminemia.scribd. Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Anak FKUP/RSHS. hipotyiroidisme. meningitis. dkk.ama-assn. hipoglikemia. Behrman. PIV.cdc. Textbook of Pediatrics.org/cgi/content/full/286/3/299 http://www. . Ikterus Neonatorum. fototerapi yang intensif harus dimulai dan persiapan untuk transfusi tukar dilakukan.asp?issn=0019-5456. Srategi pengobatan terhadap hiperbilirubinemia indirek pada bayi cukup bulan yang sehat tanpa hemolisis. Thomson’s Special Veterinary Pathology.htm http://www. asidosis. 64-84. hipotermia. 2. Bandung. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak. 2002.year=2005 http://jama. Edisi kedua. 97103 http://www. atau hepatitis neonatus. Jenson. untuk membenarkan pemberian terapi maka harus diamati secara rinci. 2004. ** Ikterus pada umur 24 jam tidak tampak pada bayi sehat. ReferensiAbdurachman Sukadi. Garna Herry. hipoksia. McGavin. Tabel 2. mulailah transfusi tukar. 2000. hemolisis. galaktosemia. 596-598. Umur Fototerapi Fototerapi & Transfusi Tukar (Jam) (g/dL) Persiapan Jika Fototerapi Transfusi Tukar* Gagal (g/dL) (g/dL) <> ** ** ** 24-48 15-18 25 20 49-72 18-20 30 25 > 72 20 30 25 > 2 minggu *** *** *** * Jika bilirubin awal yang terpresentasi tinggi. Ikterus Neonatorum.2000-2500 20-22 18-20 *Komplikasi meliputi asfiksia perinatal.org/article. 1995.ijppediatricsindia. Mosby-Year Book. 2.gov/ncbddd/dd/kernicterus. Ed. Jika fototerapi gagal mengurangi kadar bilirubuin sampai ke kadar yang tercatat pada kolom sebelah kanan. atau tanda-tanda kern ikterus. Kernicteru. karena ikterus ini paling mungkin disebabkan etiologi yang sudah ada seperti atresia biliaris. Syarief Hidayat Efendi. New Yorkl. 3. 1. Ali Usman.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful