Pandangan Dunia Mempengaruhi Interaksi Komunikasi Antarbudaya Lusiana Andriani Lubis Program Studi Magister Ilmu Komunikasi FISIP

USU Jln. DR.Sofyan No.1 Kampus USU Medan HP. 08126469794, email : Lus1ana_andr1an1@yahoo.com Abstract The objective of this study was to identify whether or not the world views such as religion/beliefs, values and behaviour, social organization such as family, education and government policies, as well as language, do influence the perceptions of the Chinese and the natives in intercultural communication.This case study used the descriptive qualitative method employing phenomenology to describing and summarising various situations, settings or social realitases that exist within the Chinese or the native societies in Medan. The sampling technique used was snowball sampling, in order to seek informants” narative. Besides, observations and archival research was also employed. The data analysis was written in the form of inductive narrative, that is, case by case based on the categories formulated. The findings of this study are as follows; 1)Religion/beliefs are the rights of the people and cannot be imposed on them. However within a certain period, world view could be influenced and shaped by continuous intercultural communication that will enhance understanding and improve religious tolerance in Medan. 2) Cultural values are inclined to change the world view through continuous intercultural communication through the sharing of cultural experiences. 3) When intercultural communication occurs continuously, their world views are likely to be changed and this communication is inclined to change an individual‟s behaviour from the negative to the positive in making opinions of others. Abstrak Tujuan penelitian untuk mengetahui pandangan dunia seperti agama/kepercayaan, nilainilai dan perilaku mempengaruhi pandangan dunia etnis Tionghoa dan pribumi dalam interaksi komunikasi antara budaya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui pendekatan fenomenologi yang bertujuan melihat berbagai situasi atau realitas sosial yang berlaku terhadap etnis Tionghoa dan pribumi di kota Medan. Penelitian dibuat dalam bentuk kajian kasus dengan teknik persampelan „bola salju‟ karena mampu mewawancarai para informan secara mendalam. Selain itu, peneliti mengadakan pemerhatian dan analisis kepustakaan yang berhubungan dengan penelitian ini. Analisis data ditulis dalam bentuk naratif induktif yaitu kasus per kasus berdasarkan kategori yang telah dirumuskan. Hasil penting penelitian: 1) Agama/kepercayaan merupakan satu yang hak dan tidak dapat dipaksa. Namun dalam satu waktu melalui interaksi komunikasi antara budaya yang berterusan antara etnis akan meningkatkan pandangan dunia dan kualitas beragama di Medan. 2) Nilai-nilai budaya mengubah pandangan dunia melalui interaksi komunikasi antara budaya yang berkelanjutan dengan berbagi pengalaman budaya setiap etnis. 3) Apabila komunikasi antara budaya dilakukan secara terus-menerus antara etnis maka ia mendorong perilaku individu menjadi positif dan sekaligus pandangan dunia terhadap individu lain juga positif.

Pendahuluan Indonesia terdiri dari berbagai etnis dengan pengalaman budaya yang

melatarbelakanginya. Dalam aktivitas berkomunikasi, setiap orang apakah etnis Tionghoa atau pribumi yang berinteraksi turut serta membawa latar belakang budayanya dan mempunyai persepsi budaya yang berbeda-beda terhadap etnis lain karena pandangan dunia yang telah terbentuk sebelumnya. Banyak referensi, seperti buku, majalah maupun surat kabar di Indonesia dan di luar negara merekamkan bahwa sejak masyarakat Tionghoa berada di Indonesia pada abad ke-7 hingga abad ke-15, antara etnis Tionghoa dengan pribumi hidup bersama dengan harmonis dan tidak ada prasangka ras (Siauw Tiong, 1998: 9). Komunitas dan masyarakat tempatan yang mayoritas dan dominan menekankan penggunaan prinsip “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung” sebagai sesuatu yang harus dijadikan pedoman oleh para pendatang. Etnis Tionghoa yang telah dan terus datang selama berabad-abad ke berbagai destinasi di Indonesia dikelompokkan sebagai tetamu. Pada waktu itu juga konflik budaya antara etnis tempatan

(pribumi) dengan etnis Tionghoa tidak pernah terjadi dan hubungan perkawinan juga turut mengubah status tetamu menjadi kerabat. Hal ini memungkinkan keturunan tersebut juga mempunyai hak terhadap tanah daripada kelompok kerabat setempat. Keadaan ini dapat dilihat di kawasan Singkawang Kalimantan Barat, mereka merupakan komunitas yang berdikari berdasarkan peretnisan dan daerah asal mereka di Cina. Mereka menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat sekeliling, kesultanan Sambas dan masyarakat Dayak. Namun awal dari penjajahan Belanda dan perjalanan waktu dengan peraturan

kewarganegaraan yang ditetapkan terhadap etnis Tionghoa, juga berlaku di Singkawang yang

sekarang sehingga kelompok Tionghoa seperti tetamu di wilayah orang Melayu dan Dayak (Suparlan, 2003: 27-28 ; Siauw Tiong, 1998: 9). Berawal dengan kemasukan Belanda pada abad ke-16 dan penjajahan yang berlangsung selama 350 tahun, etnis Tionghoa dijadikan /kambing hitam dalam menghadapi kemarahan rakyat (pribumi) di seluruh Indonesia. Secara ringkas, sebagai dampak daripada tindakan

Belanda tersebut, terdapat ratusan daerah pemukiman kelompok etnis Tionghoa yang disebut „ kawasan Pecinan‟. Hal ini menjadi suatu tanda bahwa hadirnya kawasan tersebut bukanlah semata-mata kehendak daripada masyarakat etnis Tionghoa melainkan dampak daripada sistem penjajah. Masyarakat Indonesia menjadi berkelompok dan etnis Tionghoa dipisahkan dari pribumi. Status undang-undangnya dan juga sekolah-sekolah dibedakan. Kemiskinan rakyat Indonesia sebagai efek daripada sistem penjajahan disalahkan pada etnis Tionghoa. Sebagai lanjutan daripada fenomena di atas, antara etnis Tionghoa dengan pribumi saling dihasut untuk dibenci dan membenci sehingga memunculkan benih-benih ketidaksukaan dalam kedua-dua etnis tersebut. Hal ini kelihatan pada waktu revolusi 1945-1949, Belanda selalu menggunakan masyarakat Tionghoa sebagai alat untuk memecahbelahkan (politik belah bambu) masyarakat dan sebagai alasan untuk merusakkan martabat Republik Indonesia yang masih muda pada mata dunia (Siauw Tiong, 1998: 8-15). Singkatnya, pengamalan sistem kebijakan pemerintahan Indonesia yang berlangsung dari masa ke masa (berawal pada zaman penjajahan kolonial Belanda sehingga bertukar beberapa orang Presiden), dengan sengaja atau tanpa disengajakan menyebabkan diskriminasi sosial, politik, undang-undang dan ekonomi berlaku kepada masyarakat Indonesia, terutama golongan minoritas seperti etnis Tionghoa. Kesan daripada itu, masyarakat berbagai etnis yang kuat dari segi sosialnya menjadi rapuh. Hal ini dapat dilihat dari perlakuan sosial, politik dan ekonomi

Sumatera Utara. Pada akhirnya menjalar kepada persoalan etnis. Fenomena ini menjadi suatu isu yang menarik pada penulis untuk diteliti dalam sorotan komunikasi antar budaya. Sumatera Utara menunjukkan bahwa populasi masyarakat kota Medan yang berjumlah 2. 2004). Hal hasil pada bulan Mei 1998. Keadaan ini juga telah menimbulkan prasangka sosial yang bersifat negatif dan jarak sosial yang menghambat interaksi komunikasi antarbudaya yaitu antara masyarakat etnis Tionghoa dengan pribumi Indonesia seperti halnya yang berlaku di bandar Medan. tidak dapat dihentikan gerakan massa yang mengamuk dengan sasaran masyarakat etnis Tionghoa karena dianggap sebagai pendatang lebih sejahtera berbanding pribumi sebagai penduduk asli.oleh masyarakat pribumi terhadap berbagai etnis. ras dan antara Gologan (SARA) yang memandang bahwa golongan atau kebudayaan etnis sendiri lebih unggul daripada golongan atau kebudayaan etnis lain terutamanya pribumi yang terdiri daripada berbagai etnis (Suryadinata. agama. Selain itu. meskipun etnis Tionghoa sudah menjadi warganegara Indonesia tetapi masih juga didiskriminasikan secara undang-undang dan secara sosiobudaya masyarakat tempatan (Suryadinata. berlakunya kasus diskriminasi dan pertentangan antara etnis itu berawal daripada persoalan perbedaan pandangan atau cara mentafsirkan pesan yang menyebabkan prasangka sosial dan juga diperkeruh lagi dengan kondisi ekonomi yang semakin buruk. Seperti halnya ideologi Tionghoa adalah „asing‟ lebih dominan dibandingkan dengan kenyataan bahwa etnis Tionghoa telah menjadi warganegara Indonesia.152 . Menurut pandangan beberapa pakar. 2003: 1-11). 2003. Apalagi setelah melihat data Balai Pusat Statistik (BPS-2010). Ia merupakan tindakan-tindakan diskriminasi daripada yang paling ringan (seperti pribumi tetapi tidak pribumi asli) hingga kepada yang paling berat (seperti orang Tionghoa yang digolongkan sebagai asing). Walhal.083. Tan. ideologi masyarakat secara sadar ataupun tidak sadar menjadi dasar kegiatan dalam sistem nasional.

orang dengan keluasan daerah 265. Ciri-ciri nyata ialah adanya kecenderungan yang kuat daripada setiap etnis untuk mempertahankan identitasnya . Meskipun masyarakat etnis Tionghoa tidak juga dominan. Selain itu. masyarakat etnis Tionghoa menduduki posisi ketiga terbesar dengan jumlah penduduk 202. untuk menyatukan ideologi berbagai budaya di Indonesia adalah tidak mudah. Hal ini disebabkan setiap individu/masyarakat manapun memiliki persepsi budaya berbeda yang diamalkannya. ada kecenderungan interaksi komunikasi antarbudaya dalam etnis yang berbeda budaya mengalami hambatan dan kemungkinan yang berkembang adalah komunikasi antara sesama kelompok masing-masing. tetapi mereka mampu membentuk budaya yang signifikan pengaruhnya bagi masyarakat kota Medan.blogspot. referensi bacaan yang menguatkan penelitian ini dilakukan adalah seperti yang ditulis oleh Subanindyo (2006:26) yang berjudul “Konflik Etnik di Indonesia: Penelitian Kasus di Kota Medan” mendapati : “Tidak terdapat dominasi etnis dan budaya tertentu dan fenomena berbagai budaya di Medan Sumatera Utara merupakan suatu hal yang unik. Penulis sadar bahwa secara sengaja ataupun tidak sengaja etnis Tionghoa merupakan subjek ketidakadilan. Interaksi antara etnis Tionghoa dengan pribumi masih sukar berlangsung hingga kini di Medan. Budaya asli seperti Melayu dan Batak Karo berkecenderungan menghilang. diskriminasi dan lain sebagainya. Komunitas etnis Tionghoa dan/atau keturunannya sebenarnya terbentuk kemudian.com: Jarak Sosial Antara Tionghoa dengan Pribumi).10 km dan jumlah kepadatan penduduk 7. Penulis mengakui bahwa untuk mengubah pandangan dunia terhadap etnis Tionghoa yang sudah tertanam terasa sukar sebab stereotip yang terbentuk sudah buruk sehingga belum apa-apa sudah berprasangka yang tidak baik. Bahkan ada satu kawasan hampir 100% dihuni oleh etnis Tionghoa yaitu di kelurahan Sukaramai II Kecamatan Medan Area (Sumber: Observasi penulis pada Januari 2007). Dampaknya menyebabkan adanya jarak sosial dan menghindari untuk berkomunikasi dengan etnis Tionghoa (www.839 orang (25% dari jumlah populasi). Apabila hal ini tidak diperhatikan mulai sekarang.15meh. Namun secara prakteknya.860 orang per km.

Adapun masalah yang mau diteliti adalah bagaimana pandangan dunia etnis Tionghoa dan Pribumi dalam kelangsungan komunikasi antarbudaya yang harmonis di bandar Medan. Peranan etnis memang tidak menonjol. Setiap etnis tetap mempertahankan norma dan nilai-nilai etnisnya. bahasa Jawa. sebagaimana halnya dengan bahasa Minang. mengatakan bahwa: “Ketiadaan dominasi budaya pada kelompok etnis tertentu di Medan. Sesama etnis Tionghoa yang bertempat tinggal di berbagai kawasan lain di Indonesia memberi julukan kepada etnis Tionghoa di Medan dengan sebutan Cina Medan (dalam Subanindyo. Oleh karenanya. Suwardi Lubis (2001) . masing-masing etnis berkecenderungan memandang norma dan nilai-nilai kelompok budayanya (organisasi sosialnya) sebagai sesuatu yang mutlak dan dapat digunakan sebagai acuan untuk mengukur dan bertindak terhadap kelompok kebudayaan lain. Dengan alasan untuk mengubah cara pandang masyarakat etnis Tionghoa maupun pribumi yang sudah lama berakar dari generasi ke generasi menjadi sebuah pandangan agama atau kepercayaan. penulis semakin berkeinginan untuk melakukan penelitian ini dalam sorotan komunikasi antarbudaya. 2006: 4-5)”. Berdasarkan uraian-uraian di atas.seperti dalam penggunaan bahasa daerah apabila berjumpa dengan kelompok etnisnya. bahasa Aceh dan lain-lain yang disengaja maupun tanpa disadari oleh pribumi turut membuka peluang untuk menggunakan bahasa daerahnya dalam kelompoknya. tetapi secara terbuka juga mau menerima norma dan nilai positif daripada etnis lain. nilai-nilai budaya perilaku sehari-hari bukanlah suatu hal yang mudah di Medan. Bainus (2001). 2007: 47)”. bahasa Batak. merasa etnisnya lebih baik berbanding etnis lain. sesekali Mandarin) dirasakan sebagai hak. dalam bukunya yang berjudul “Ancaman Desintegrasi Bangsa dan Pelaksanaan Otonomi Daerah di Indonesia” . menyebabkan seperti penggunaan bahasa Tionghoa (Hokkien. dan terlihat dalam . stereotip dan adanya jarak sosial. mengatakan bahwa: “Integrasi sosial antara etnis di kota Medan masih diwarnai adanya unsur-unsur prasangka sosial. namun „rasa aku‟ yang menganggap superior daripada „rasa awak‟ yang lainnya (dalam Agustrisno.

Oleh karena dalam mempelajari komunikasi antarbudaya kita harus mengangggap orang yang berbeda budaya yang terlibat dalam komunikasi sebagai orang yang aktif. Pelajar asal Sudan yang beragama Islam telah memberi simbol rakyat .apa yang kita anggap baik. perasaan. Pandangan dunia yang terbentuk antara manusia tidak selalunya sama dalam menilai sesuatu hal yang dipelajarinya melalui agama atau kepercayaan. Bahkan dalam berkomunikasi dengan orang yang berbeda budaya. begitu juga dengan nilai-nilai yang terbentuk/dipedomani dan prilakunya. Indonesia. agama dan cara hidup. kita harus membuat pertimbangan yang sewajarnya tentang nilai atau keputusan sementara karena apa. bahkan boleh jadi menghasilkan satu pandangan yang lain. Antara lain: Penelitian Latifah Pawanteh (2000:55-62) berjudul “Away from Home and Still At Home: The Intercultural Adaptation of International Student in Malaysia”. mempunyai nilai. menegaskan bahwa: “Pengalaman beberapa kelompok pelajar antarabangsa yaitu pelajar yang berasal dari Jepang. lebih besar perasaan penerimaan. indah atau tidak baik belum tentu ditafsirkan sama dalam budaya yang lain. Sudan dan Jordania yang belajar di Malaysia dalam menelaha bentuk-bentuk penyesuaian antara budaya yang dapat mereka lakukan sepanjang berada di Malaysia mempunyai pengalaman budaya yang tidak sama. Sebagaimana beberapa kajian dari berbagai peneliti yang memberi perhatian kepada komunikasi antarbudaya dan pandangan budaya coba penulis rekamkan di bawah ini sebagai penguat dasar pemikiran dalam menjalankan penelitian. Kalau hal ini tidak difahami oleh individu-individu yang berinteraksi dengan latar belakang budaya yang berbeda akan menimbulkan hambatan dalam berkomunikasi dalam arti kata komunikasi akan berjalan tidak harmonis.Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan data dari para informan mengenai ketiga-tiganya faktor-faktor di atas . sikap positif dan hubungan yang erat. Misalnya saja dengan pelajar asal Indonesia terdapat persamaan antara Malaysia dan Indonesia dari segi bahasa. bahasa merupakan masalah meskipun mereka dapat berkomunikasi dalam bahasa Inggris. harapan. sopan. keperluan dan lain-lain sebagaimana diri kita sendiri. Pada pelajar asal Jordania. minat. Didapati bahwa lebih banyak persamaan antara budaya tuan rumah dengan budaya asli.

Lain hal dengan pelajar Jepang yang menyatakan bahwa tidak sulit dalam menyesuaikan diri di Malaysia terutamanya dengan etnis Cina yang lebih terbuka berbanding etnis Melayu dan India yang lebih berpikiran konservatif”. Membuat simbol pada diri orang lain sangat mempengaruhi dan menguasai diri kita dalam berhadapan dengan orang tersebut. Hal ini disebabkan setiap individu tidak mengetahui sejauhmana bentuk. stereotip. pengetahuan tentang budaya etnis. Juga penelitian yang dilakukan Arifah Armi Lubis (2010:222) dengan judul “Identitas Etnis dan Komunikasi Antarbudaya: Studi Kasus Peran Etnis dalam Komunikasi Antarbudaya pada Mahasiswa Asal Malaysia di Fakultas Kedokteran USU”. Seterusnya Yohanna (2008:37-38). menemukan bahwa: “Identitas etnis yang muncul pada kebanyakan informan adalah perasaan in-group. bahwa: “Perbedaan antara dua atau lebih orientasi budaya sering menimbulkan konflik budaya. kepercayaan dan sikap”.Malaysia sebagai tidak ramah dalam bergaul dengan orang asing dan berlaku kurang berimbang‟ terhadap orang-orang Afrika. Suraya (2003:132-133) juga menemukan bahwa: “Setiap orang yang berkomunikasi dalam konteks antara budaya setidaknya bersikap terbuka terhadap perbedaan nilai. 2008:38)”. Sama halnya oleh Tarrant. jenis. serta menghindari sikap etnosentrisme dan streotip yang berlebihan. rasa kepemilikan serta evaluasi positif pada kelompok etnis. Hal inilah yang menjadi satu alasan mengapa begitu banyak hubungan dengan orang luar tidak begitu terjadi dengan akrab (dalam Yohanna. Menempatkan diri pada posisi lawan bicara yang berasal dari budaya yang berbeda. Para informan berupaya mempertahankan identitas etnis dengan menjaga nilai Melayu yang difahami. Di . tetap percaya diri dan tenang dalam setiap situasi. Membuat simbol dapat menyesatkan dan berbahaya jika kita melakukan perkiraan yang dangkal dan terlalu mudah mengenai orang yang tidak begitu kita kenal baik. Prasangka dan sterotip sangat mempengaruhi setiap kegiatan interaksi sehari-hari”. menganggap berkomunikasi setara. mengkomunikasikan secara positif. bersikap spontan dan deskriptif. tingkat harapan terhadap suatu nilai tertentu sehingga komunikasi antarbudaya etnis Tionghoa dengan individu lainnya tidak dapat mesra. Feinberg dan Tanafsky (1994:204-205) : “Kita cenderung memberi simbol orang lain walaupun baru pada pertemuan awal. sikap etnosentrisme.

Ketika fenomenologi mulai menjalaskan bagaimana fenomena tersebut tersusun. Selain itu. faham fenomenologis berusaha memahami budaya melalui pandangan pemilik budaya atau pelakunya. Metode Penelitian Metode penulisan bersifat deskriptif kualitatif.segi lain. yang menggunakan sudut pandang faham fenomenologis. ini berarti masih fenomenologi murni. pada masa menemukan adanya perbedaan nilai dan pola perilaku budaya yang sangat jauh”. Secara alamiah penulis budaya akan menanyakan persepsi subjek budaya (informan) terhadap apa yang dialaminya. Kesadaran identitas etnis akan tinggi pada masa etnosentrisme. prasangka dan streotip muncul. meringkaskan berbagai situasi. dan pernyataan penulis mengenai kasus . Dalam studi kasus setiap analisis mengandung makna berdasarkan wawancara secara mendalam. melainkan telah melalui penafsiran yang dilakukan oleh partisipan (informan) maupun penulis ketika memberikan umpan balik sehingga terjadi sebuah pemahaman yang lebih baik. mencoba untuk mengadakan peleburan dengan mahasiswa pribumi dengan berusaha agar dapat berbahasa Indonesia. Ilmu bukanlah bebas nilai dari apapun melainkan memiliki hubungan dengan nilai. pengamatan. Intinya adalah fenomena budaya tidak lagi dijelaskan sebagaimana adanya. Dari interaksi subjek budaya tersebut. baik kesadaran subjek sebagai kesadaran makna dan fungsi dari suatu fenomena itu merupakan dasar terjadinya penafsiran. situasi ataupun fenomena tertentu. penulis juga berikhtiar menarik realitas sosial itu ke permukaan sebagai suatu ciri/karakter atau gambaran tentang keadaan. Pada pandangan Edmund Husserl (1970: 2-12). berbagai keadaan atau fenomena realitas sosial yang ada dalam masyarakat antara etnis Tionghoa dengan pribumi di kota Medan yang menjadi objektif penulisan. Format penulisan dalam bentuk penelitian kasus. analisis pustaka. Metode deskriptif kualitatif bertujuan untuk menggambarkan.

940 orang dan perempuan 1. 4) informan merupakan keluarga (suami. Populasi berjumlah 2.707 Kepala Keluarga.860 orang per km (Sumber: Data Kependudukan Kota Medan. Penulis akan melakukannya dengan cara: a. baik secara Kecamatan maupun Kelurahan. 2) memiliki KTP (Kartu Tanda Penduduk). Penulis berpedoman pada kriteria-kriteria tertentu dalam menelusuri informan penelitian.10 km dan kepadatan penduduk kisaran 7.370. Dengan demikian tujuan penelitian kasus ini ialah meningkatkan pengetahuan mengenai peristiwa-peristiwa komunikasi yang nyata dalam berbagai konteks atau kategori. 3) hidup menetap di kawasan tersebut lebih dari tiga tahun karena diperkirakan sudah saling mengenal dan berinteraksi sesama masyarakat. Studi kasus menyediakan peluang untuk melaksanakan perinsip umum terhadap situasisituasi khusus atau contoh-contoh (Kriyantono. 2006:66). Berusaha memahaminya dari sudut pandang orang-orang yang diwawancara. berasal dari 21 kecamatan yang ada di kota Medan dengan luas daerah 265. pengajar . c. 2007: 162). d. Desember 2010).395 orang yang terdiri laki-laki sebanyak 1. isteri ataupun anak yang telah dewasa yang bisa bertanggungjawab terhadap jawaban yang diberikan). Mencatatkan segala peristiwa yang terjadi. Pada hakikatnya penulis sedang mencoba menghidupkan nuansa komunikasi dengan menguraikan kenyataan. Dengan demikian.tersebut. unit analisis tidak terfokus atau terkonsentrasi pada suatu kawasan tertentu saja.455 orang atau 641. Melakukan analisis terperinci mengenai kasus dan situasi tertentu. b. tokoh masyarakat.770. Memberikan perhatian pada faktor-faktor yang berhubungan satu sama lain (Daymon. yaitu : 1) penduduk Tionghoa dengan Pribumi yang merupakan warganegara Indonesia.399.

penulis tidak begitu sukar untuk menjumpainya dan melaksanakan wawancara. Dengan teknik ini. Harahap. Dari beberapa nama yang beliau berikan ternyata hanya ada empat orang Tionghoa yang bersedia diwawancarai yaitu Hadayani/Sun Chong. Mereka adalah Eka. Dengan berpedoman kepada pendapat Spradley (1980: 3) melalui wawancara mendalam penulis melakukan learning by people (belajar dari masyarakat) dan bukan study of people (mengkaji masyarakat). Teknik bola salju ini menarik untuk digunakan karena bermanfaat dalam mewawancarai para informan dengan mendalam (Moleong. Jumlah informan Tionghoa keseluruhan ada sepuluh orang (10 orang).A. pegawai negeri atau pegawai swasta. M. Penulis diarahkan pada satu nama yaitu Ibu Nuraini yang merupakan Bendahara Himpunan Peleburan Muslim Tionghoa Indonesia (HPMTI-SUMUT). maka pemilihan informan berikutnya bergantung kepada keperluan penulisan. Seterusnya dari keempat orang tersebut didapat lagi beberapa orang informan Tionghoa yaitu Harry Yaputra. Berbekalkan panduan tersebut. dari mana atau dari siapa ia dimulakan tidak menjadi permasalahan. Gunawan. Adapun teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik snowball sampling (teknik bola salju). Vebie Arica. Tetapi apabila penulisan sudah berlangsung. 2007: Bungin .(dosen/guru). Sementara itu. pertama sekali penulis bergerak ke Perkumpulan Tionghoa Medan untuk mendapatkan informasi tokoh kunci (key informan). Dari ibu Nuraini sebagai tokoh kunci banyak informasi yang penulis dapatkan dan juga beberapa nama untuk dijumpai untuk keperluan wawancara. Keragaman ini diperlukan untuk melihat komunikasi antarbudaya dan pandangan dunia informan. mereka kurang bersahabat sebab ada rasa kuatir penelitian ini ada kaitannya dengan politik. untuk informan Pribumi. Sofyan Tan dan Vincent Wijaya dan J.Anto. Cristina. 2000: Kriyantono. mahasiswa/pelajar. Muhammad Fendi Leong dan Alim. Karen. 2008). Dedi . 2006: Mulyana. Namun di lapangan tidak semudah yang penulis harapkan.

Mukti Sitompul. Berbeda halnya dengan etnis pribumi yang pada umunya beragama Islam atau Kristen. Lamanya waktu di lapangan disebabkan beberapa hal . Dengan demikian keseluruhan informan penelitian ada sebanyak tujuh belas orang (17 orang). 2000: 178-179). menjelaskan hubungan-hubungan antara kategori. dan membangun atau menjelaskan teori melalui teknik triangulasi untuk memperoleh hasil yang boleh diandalkan (dalam Moleong. Pengumpulan data wawancara di lapangan berlangsung lebih kurang empat bulan yaitu mulai tanggal 2 Februari hingga 30 Mei 2009.Sianturi. adalah sebagai berikut : Hadayani (Sun Chong/40 tahun/Jualan Gorengan) mengatakan: Penemuan data mengenai kepercayaan/agama dari informan . tidak punya waktu. Hasil Penelitian dan Pembahasan Agama /kepercayaan Agama/kepercayaan merupakan suatu yang hak bagi setiap manusia.Analisis data disajikan dalam bentuk naratif induktif yaitu dengan cara : mengumpulkan keseluruhan data mentah dan menyusunnya berdasarkan kategori-kategori. Lia Dahlia dan Rum Abu Huzaifah sebagai informan terakhir. rasa takut dan cemas. serta (DPR. Pada masyarakat etnis Tionghoa di kota Medan banyak di antaranya masih menganut kepercayaan Sinkretisme yang telah diwariskan turun temurun.DPRD TK I dan II serta DPD RI) kampanye pemilihan anggota legislatif pada bulan Maret hingga 9 April 2009 yang menyebabkan kegiatan wawancara dihentikan karena suasana tidak mengizinkan ditambah lagi untuk menghindari dari isu-isu politik. Setelah pemilu berlangsung maka mulai tanggal 23 April wawancara dilanjutkan dan berakhir pada 30 Mei 2009. ada beberapa informan Tionghoa yang tidak bersedia diwawancarai dengan alasan sibuk. .

“Pada permulaan masuk Islam untuk kegiatan keagamaan (belajar agama Islam) selalu dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. mentaatinya dan menjalankannya sebagaimana yang seharusnya. Encik Alim (45 tahun/Tionghoa/pedagang) mengatakan: “Meskipun sudah memilih Islam sebagai agama. . Sebelumnya dengan beragama Buddha. ditambah lagi dibuang dalam keluarga besar lebih dari dua tahun. Selanjutnya melakukan sembahyang untuk arwah keluarga dan leluhur lengkap dengan berbagai sajian. dijalankannya dan diamatinya dari realitas sosial yang ada yang harus diakui dan 1 Cheng Beng = Qing Ming. Masing-masing mempunyai ideologi atau keyakinan yang harus dipadukan. Gunawan (49 tahun /Tionghoa/ Pengusaha dan Dosen) mengatakan: “Memeluk Islam karena kasusadaran dan juga faktor pergaulan dengan pribumi yang beragama Islam. Begitu juga dalam ziarah kubur sewaktu Cheng Beng1 masih sering mengikutinya demi menghormati keluarga besar”. memakan makanan yang diharamkan (babi dan anjing) berbohong dan berjudi”. tetap saja saya dikelompokkan pada masyarakat kelas dua. yang berarti bersih dan terang. jujur memperakui bahwa: Sepuluh tahun yang lalu. terlihat adanya variasi yang menggambarkan karakter budaya masing-masing pengalaman informan dengan hal yang dirasakannya. Hal ini tidak membuatkan saya takut sebab pilihan agama Islam adalah suatu yang hak” Hasil penelitian menunjukkan bahwa agama/kepercayaan yang membentuk pandangan dunia seseorang. Muhammad Fendi Leong (36 tahun/Pengusaha). Pada perayaan Cheng Beng dalam tradisi Tionghoa. takut diketahui. tetap saja perilaku buruk sukar untuk ditinggalkan seperti berjudi. Dari wawancara dan pengamatan peserta. Dalam Islam diatur secara jelas batasan-batasan yang boleh dan tidak boleh (halal dan haram) seperti tidak boleh meminum minuman keras. terlihat tidak jauh berbeda antara etnis yang ada di Medan. Segala peluang perniagaan diambil alih oleh keluarga (orang tua). Masuk Islam karena kesadaran akan kebenaran Islam melalui proses yang panjang dan didukung dengan lingkungan perumahan dan kerabat yang Muslim”. seawal memasuki agama Islam merupakan suatu hal yang berat. Dengan beragama Islam semakin mudah diterima dalam masyarakat yang majoriti beragama Islam. para anggota keluarga melakukan ziarah kubur dan pembersihan kubur.

Oleh itu. “Selama berabad-abad bangsa Tionghoa mempunyai pandangan dunia bahwa individu adalah sebagian dari keluarga. keluarga sebagian dari suku dan suku sebagian dari bangsa. sehingga kedua-duanya mempercayai bahwa sekolah Islam untuk mendidik anak-anaknya agar pembentukan pengetahuan keagamaan anak-anaknya lebih baik. Seperti yang dirasakan Hadayani dan M. serta yang boleh dan tidak boleh dilakukan menurut agama dan kepercayaannya.A Harahap. jelas bahwa keluarga dengan pasangan yang berbeda agama akan memiliki kemungkinan yang lebih besar dalam menghadapi perbedaan kepercayaan dan kebiasaan-kebiasaan dalam peranannya sebagai orang tua berbanding pasangan yang berasal dari satu agama/kepercayaan. Bahkan kesan yang lebih lagi adalah pengamatan penulis pada etnis Tionghoa yang mualaf dimana hubungan perdagangan terhenti karena perdagangan tersebut umumnya tumbuh dan berkembang dari hubungan perdagangan keluarga. Seterusnya. Terutama sekali tentangan yang lebih besar dihadapi dalam menyesuaikan perbedaan dan cara mengasuh anak. dapat difahami dalam perdagangan pengusaha Tionghoa selalu bermitra dengan anggota keluarga dan sahabatnya” . Untuk kasus keluarga dengan pasangannya mualaf. Sebagaimana dikutipkan Widyahartono (1989: 84).dihormati. penemuan data wawancara mendapati bahwa etnis Tionghoa mualaf telah dipinggirkan dari keluarga inti maupun keluarga besar karena dianggap sial dan bahkan ada yang tidak dianggap anak lagi setelah bertukar ke agama Islam dan menikah dengan satu etnis pribumi (kasus Muhammad Fendy Leong dan Hadayani). halal dan haram. Namun untuk etnis Tionghoa yang menikah dengan pribumi dan beralih ke agama Kristen ataupun Buddha tidak mempunyai masalah atau hambatan yang serius seperti Tionghoa . Agama/kepercayaannya dan nilai-nilai yang harus dipadukan tentang baik dan buruk.

Oleh itu.mualaf (kasus J Anto dan Sofyan Tan dan Vincen Wijaya). Oleh sebab itu. ibu Hadayani dan isteri bapak MA Harahap). Mereka dianggap sebagai keluarga baru yang harus diterima dengan baik. Melting Pot atau disebut juga asimilasi total. penulis bersetuju dengan penelitian yang dilakukan Glammer tentang etnis Tionghoa Baba di Melaka (Afif. . Secara otomatis proses pembauran akan lebih cepat jika agamanya sudah sama” (dalam Tan. dipelopori oleh K. 2006: 93). Dengan demikian. Artinya keyakinan terhadap agama Islam merupakan bentuk kesadaran kehidupan keagamaan melalui proses yang panjang. 2004: 11). seperti penemuan Susiyanto dengan Tionghoa mualaf di Bengkulu bahwa perpindahan kepada Islam mensyaratkan khitan. Oleh Junus Jahya dalam bukunya „Muslim Tionghoa‟ mengatakan “ bertukar ke agama Islam dilihat sebagai tindakan atau penyempurnaan terakhir dari proses integrasi. Sindhunata yang berpandangan bahwa masyarakat Tionghoa harus melebur dengan warga masyarakat tempat mereka tinggal (dalam Tan. Bahkan pada tingkat yang lebih luas. pantang memakan makanan yang diharamkan (seperti daging babi) dan pantang meminum minuman keras (beralkohol). berbohong dan berjudi (Susiyanto. proses pembauran budaya (melting pot) pada masyarakat yang berpindah ke agama Islam jauh lebih cepat. 2004: 11). dapat diterima kebenarannya bahwa warga Tionghoa mualaf disambut dengan sangat baik dan sukacita oleh keluarga (dalam kelompok) dan kelompok masyarakat dan lingkungannya. Namun mengenai perpindahan kepercayaan/agama kepada Islam sangat berbeda. tidak hanya di tengah-tengah keluarga tapi juga di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas Islam (kasus bapak Gunawan. tidak hanya sekadar menyatakan perpindahan kepercayaan/agama tetapi mencakupi perubahan identitas budaya. 1999: 1) bahwa pada masyarakat Tionghoa yang menganut agama Buddha dan Kristen tidak menemukan hambatan untuk tetap melaksanakan ajaran-ajaran leluhur yang telah diyakininya. melacur.

Dimulai dari kelompok masyarakat yang luas sehingga terdapat kelompok masyarakat dalam jumlah yang lebih kecil. Jepang. 1989: 119). (2006: 32-38) mengatakan bahwa kasus negara-negara Timur dan Asia Tenggara seperti Korea. Bahkan Satoshi Ishii. Pada masyarakat Batak .2008). Dengan demikian. Mereka saling mengenal dalam pergaulan dan saling bekerjasama dalam kelompok sehingga tujuan individu menjadi tujuan dalam kelompok (Zastrow. memeluk agama merupakan tradisi yang menunjukkan keharmonisan tertinggi sebagai makluk ciptaan Tuhan. Nilai-nilai budaya yang terbentuk dalam masyarakat Tionghoa maupun pribumi dapat dilihat dari kelompok primer (dalam kelompok) terutama dalam keluarga besar atau suku. Cina. Pengelompokkan tersebut disebabkan adanya faktor-faktor kepentingan dan tujuan tertentu dalam kelompok. agama dapat menjadi penghubung perbedaan sub budaya etnis ke arah integrasi nasional (sebagaimana hasil penemuan Pelly (1995).et al. norma susila (nilai-nilai sosial) dan berbagai peraturan yang dapat membentuk suatu sistem kehidupan bersama yang saling mengadakan penyesuaian. 2001: 157-158). Sepertimana pada masyarakat Minangkabau. ada suatu peristilahan yaitu “Tali Tiga Sepelin” yang bermakna Adat-Agama-Undang-undang. mereka telah menikah dengan pribumi dan menghilangkan identitas budaya leluhurnya (Gatra. Ketiga-tiganya berkaitan dan menjadikan sebuah norma atau nilai-nilai yang harus dipatuhi (Amir. Nilai-nilai Semua kelompok budaya mengakui bahwa pola interaksi dalam masyarakat dipengaruhi adat istiadat.Bahkan Ali mengatakan bahwa Tionghoa Muslim Jakarta sukar direkam jejaknya karena telah melebur.com. India dan yang lainnya.

Ilyas (45 tahun/ Melayu/Bengkel). berbeda dengan nilai-nilai yang ada pada pribumi yang suka bermalas-malasan kalau sudah ada (banyak) uang”. Sebaliknya nilai-nilai yang kurang baik dari orang Cina (tidak semua) adalah memandang pribumi itu sial.Harahap (48 tahun/Mandailing/Supir Taksi). Dari sisi yang lain Mukti Sitompul (60 tahun/ Batak/Dosen USU). 1999). untuk kasus kota Medan peranan etnis tidak menonjol karena tidak adanya etnis yang dominan/majoritas di sini. tetapi secara terbuka juga mau menerima nilai-nilai positif dari etnis lainnya. bahwa: “Rata-rata sifat orang Tionghoa itu baik.A. M. Pada masyarakat Tionghoa dengan “Hubungan Segitiga” yang bermakna hubungan antara ajaran Konfusius-Keluarga-Kerja (Lubis. Saya benci dengan „rasa aku‟ yang mereka miliki dan suka berkuasa di provinsi ini. Sepertimana dikatakan Dedi Sianturi (33 tahun/Batak Toba/Pedagang sayur) dan M . mengatakan: “Saya sudah 56 tahun mempunyai rakan Tionghoa. Maksudnya adalah dengan orang-orang yang dianggap tidak penting mereka memisahkan diri dan tidak terlalu banyak bergaul. Setiap etnis mempertahankan norma/nilai-nilainya. mengatakan: “Meskipun isteri saya asalnya Tionghoa. contohnya isteri saya yang mualaf. Akhirnya kedua-duanya sukar melebur karena penilaian-penilaian yang sudah terbentuk sebelumnya”. pemalas dan tidak menghargai waktu. mampu melebur dengan masyarakat pribumi dan banyak orang yang tidak menyangka dia adalah Tionghoa”. Memang tidak semuanya seperti itu. nilai-nilai yang kurang baik saya lihat dari pribumi (tidak semua) adalah suka menekan dan memalak Cina serta memandang Cina sebagai ATM (mesin cetak uang). Namun demikian. mau menang sendiri dan menganggap rendah pribumi.dengan sebutan “Dalian Natolu”. . tetapi kebaikannya tergantung kepada keadaannya. Orang Tionghoa memiliki nilai-nilai yang kukuh sebagai pekerja keras dan tidak mudah putus asa. Kalaupun mau bergaul karena ada kepentingannya saja. namun saya benci pada orang Tionghoa. penonjolan “rasa aku” yang menganggap superior dari “rasa kau” pada etnis lainnya. Berdasarkan wawancara mendalam dengan informan penelitian dan juga pengamatan penulis .

Hal ini juga sama dengan orang Tionghoa yang juga masih menjunjung tinggi budaya leluhur Tiongkok. Pemikiran orang pribumi itu kadang-kadang sempit yang menilai bahwa orang Tionghoa semua kaya. . menyambut perayaan hari-hari nasional seperti HUT Kemerdekaan RI semua masyarakat terlibat tanpa terkecuali. Cristina (21 tahun/ Tionghoa/Mahasiswi USU) mengatakan: “Menurut saya pribumi itu secara umum baik-baik. Selain wawancara dengan informan. tidak mau bergaul dengan pribumi dan tidak cinta kepada Indonesia”. Bahkan dua orang dari saudara saya berkahwin dengan pribumi dan beragama Kristian dan diberi marga Batak Karo sebagaimana pribumi lainnya yang ada di Sidikalang yang majoriti berketurunan Batak Karo”. Sementara itu yang terjadi di kawasan perumahan Cemara Asri dan Setia Budi Indah adalah masing-masing keluarga bersikap individualistik. lebih berkecenderungan eksklusif dan berkomunikasi perkara yang perlu saja. pengamatan penulis terhadap dua kawasan perumahan yang berbeda yaitu flat di kawasan Sukaramai II (antara warga Tionghoa dengan pribumi dengan tingkat pendapatan rendah/keluarga bawah) dan kawasan Cemara Asri dan Setia Budi Indah (tingkat pendapatan tinggi/keluarga atasan).Harry Yaputra ( 45 tahun/ Tionghoa/Pedagang) mengatakan: “Pada pandangan saya nilai-nilai yang diamalkan orang pribumi masih sangat kuat dalam menjunjung tinggi adat budaya. menolong jiran yang terkena musibah. Wajar sekali terciptanya jarak sosial antara jiran bahkan kurang dan cenderung tidak saling mengenal secara rapat (akrab). membersihkan persekitaran perumahan. Saya selesa berkawan dengan masyarakat pribumi karena hal ini sudah dibiasakan orang tua saya semenjak kecil pada anak-anaknya. Jelas kelihatan bahwa untuk kawasan perumahan flat Sukaramai II antara etnisTionghoa dengan pribumi mampu hidup berdampingan dan bekerjasama seperti menjaga keamanan persekitaran perumahan. hidup semata-mata demi uang. Saya dalam berhubungan tidak banyak masalah dan memiliki rakan pribumi dari berbagai etnis.

Meskipun tanpa disengajakan etnosentrisme tersebut kadang-kadang muncul dengan memandang atau menilai kebudayaankebudayaan etnis lain yang diukur dengan nilai yang diamalkan dalam kebudayaannya sendiri. Faktor internal dalam kelompok yaitu dengan adanya ikatan emosional berdasarkan rasa kekeluargaan. Berbeda dengan keluarga elit/ keluarga atasan terkesan adanya jarak sosial seperti pemilikan rumah yang eksklusif dan bercakap apabila perlu saja.Penemuan data mengenai nilai-nilai budaya. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh para informan. penilaian-penilaian tersendiri terhadap etnis yang berlainan (out group). Artinya ialah adanya kecenderungan memandang orang lain dengan menggunakan kelompok kita sendiri dan kebiasaan kita sendiri sebagai kriteria untuk segala penilaian. Kedua-duanya faktor internal dan eksternal tersebut akan menjadi baik apabila komunikasi antarbudaya aktif dilakukan secara berterusan sehingga membentuk kebersamaan sosial yang kukuh antara etnis Tionghoa dengan pribumi di Medan. penulis juga menjumpai hubungan-hubungan yang terbentuk pada tanpa disadari membentuk masyarakat etnis Tionghoa dengan pribumi di kota Medan. penyatuan dan kasih sayang khususnya pada keluarga bawahan/biasa. Bahkan menurut . 2008. Jika ditelusuri. 2001 : 175-176). stereotip dan jarak sosial (Lubis. Pada masyarakat keluarga bawahan/biasa terkesan adanya usaha kedua-dua belah pihak untuk tetap menjaga komunikasi antarbudaya yang harmonis. Sebaliknya akan terjadi sekatan komunikasi antarbudaya apabila penilaian-penilaian dilakukan secara negatif sehingga membentuk prasangka. Liliweri. menurut penulis sebagai subjek. Sedangkan faktor eksternal luar kelompok yaitu masyarakat yang berada di dalam satu kawasan tertentu yang saling berdekatan. Pada umumnya kedua-duanya coba untuk tidak mengembangkan etnosentrisme masing-masing. adanya semangat komunitas antara etnis Tionghoa dengan pribumi dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal.

jimat (berkecenderungan dipersepsikan sebagai pelit oleh pribumi) dan pantang menyerah. (2007) mengatakan nilai-nilai budaya berhubungan dengan pandangan dunia yang dibentuk dan wujud dalam perilaku. Sementara etnis pribuminya tidak ada atau kurang mampu untuk mengolah sumber alam. giat. yang cepat atau lambat akan menggalakkan munculnya prasangka sosial yang berkecenderungan negatif. beliau mengatakan bahwa: “Semangat hidup yang tinggi disebabkan kerja keras untuk menjaga kelangsungan hidup atau meningkatkan usaha. seorang yang telah berhasil di Indonesia. Oleh itu. 1994: 68-69). hal ini disebabkan di daerah-daerah tertentu mereka memang memiliki peluang. Menurut penelitian Agustrisno (2007: 14) hal ini mengandung nilai perinsip “So” pada etnis Tionghoa yang melahirkan sikap rajin. Seterusnya. Sepertimana yang dikatakan oleh Djohan (1981: 61): . dalam pandangan penulis.etnis Tionghoa hubungan yang paling kuat hanya dapat dibangun atas asas „guanxi‟ (hubungan kekerabatan dekat. penulis menemukan bahwa terbentuknya nilai-nilai budaya pada etos kerja warga Tionghoa yaitu rajin. Saya rasa itulah yang menjadi satu kejayaan (dalam Agustrisno. gigih. jimat dan pantang menyerah. Bahkan dalam teori persepsi budaya Samovar. giat. Selain itu. 2007: 98)”. Berikut menurut Djoenaedi Joesoef (1996: 25). Hal ini karena sebagai perantau maka tumbuh semangat hidup tinggi dan mau bekerja keras (gigih). Faktor perantauan yang mendorong dan mendasari kerja keras agar kemandirian dan bukan ditentukan oleh budaya Tionghoa seperti yang dikatakan banyak orang bahwa itulah yang menjadi faktor utama. et al. gigih. satu kelompok etnis) dan „shin yung‟ (hubungan saling percaya) sesama kelompok Tionghoa (Mazali. sependapat dengan Zastrow (1989) yang mengatakan bahwa penilaian ini pada satu sudut akan menimbulkan watak egosentrisme (keakuan) dan pemikiran sempit. kesuksesan orang Tionghoa dalam bidang ekonomi berbanding pribumi. Sesuatu hal yang berbeda dengan masyarakat pribumi secara umumnya. analisis pustaka dan wawancara.

“Sikap mental yang kurang giat untuk perjuangan dilakukan oleh penduduk pribumi (orang Melayu). Penulis juga menyedari bahwa nilai-nilai budaya yang berbeda dan tidak dapat difahami oleh berbagai kelompok akan menyebabkan konflik. Berbeda halnya dengan etnis Minangkabau. perilaku anarki dan lain-lain.“.. penemuan data juga menunjukkan bahwa keluarga berperanan dalam menanamkan nilai-nilai budaya. bahwa sebelumnya pandangan dunia penulis terhadap etnis Tionghoa buruk seperti etnis Tionghoa mau untung sendiri. sehingga kedatangan orang-orang Tionghoa ke daerah Sumatera Timur (termasuk Medan) merupakan kasusempatan yang baik untuk menyaingi penduduk setempat. Selain itu. memudahkan bagi orang asing termasuk Tionghoa untuk mendapatkan peluang”. bahwa keluarga sangat berperanan dalam memberikan nilai-nilai dasar terhadap seorang anak. dan lain sebagainya.. yang berakhir dengan kekerasan. Seterusnya Lubis (1999: 152-153) mengakui bahwa penanaman moral/nilai-nilai pertama sekali terjadi dalam keluarga. Batak dan Aceh (selain di ibukotanya) penduduk pribuminya terkenal maju dalam perdagangan” . Batak dan Aceh. orang-orang Tionghoa kurang berperanan dalam perdagangan di daerah seperti Minangkabau. sebagaimana yang dikatakan oleh Tan (1981: 52-56). Oleh yang demikian. Kasus-kasus yang terjadi di Indonesia . Penulis sependapat dengan temuan penelitian Galvin dan Brommel (1991) dan Lubis (1999). tidak mau berinteraksi dengan pribumi. Kerja rutin yang dilakukan orang Melayu sebagai bakti untuk mendapatkan belas kasih raja adalah merupakan penjelmaan dari undang-undang adat yang mereka taati. perang saudara/perang antara etnis. lambat laun berkurangan karena didikan dari keluarga tentang nilai-nilai yang harus menghormati satu dengan lainnya meskipun lain etnis dan agama. Sebagaimana yang penulis rasakan sendiri. Penelitian Galvin dan Brommel (1991: 3-20) menyoroti keluarga sebagai tempat mengajarkan anak-anak untuk mengenal dunia dan nilai-nilai budaya kelompoknya dan budaya kelompok lain. Apabila di dalam keluarga wujud hubungan yang selesa dan harmonis maka masyarakat dunia akan tartib dan damai.

Gerakan Aceh Merdeka dan Gerakan Anti Tionghoa merupakan suatu refleksi waktu hadapan. Oleh itu. Suraya (2003:10) . 2000. Juga penelitian lepas lainnya yang berhubung kait dengan hal ini. 2000.masing etnis dalam berinteraksi dengan sesama etnisnya.seperti peristiwa Malari. Antara lain adalah . Rene Pattiradjawane . tepat sekiranya yang dikatakan oleh Prosser (1973) bahwa ada empat syarat yang harus diperhatikan dalam berkomunikasi antarbudaya dengan perbedaan budaya (antaranya nilai budaya) yaitu:1)Menghormati anggota budaya lain sebagai manusia. . kekejaman Mei 1998. 2)Menghormati budaya lain seadanya dan bukan sebagaimana yang kita kehendaki. 3) Menghormati hak anggota budaya lain untuk bartindak berbeda dari cara yang kita kehendaki . yang tidak hanya mengambil korban etnis Tionghoa terutama atas perkosaan etnis perempuan Tionghoa yang sangat kejam. seperti penelitian Latifah Pawanteh (2000). juga mengambil korban pribumi (lihat tulisan Ariel Heryanto. 2001). 2004). dan Parsudi Suparlan. Sampit. Poso. Terutama sekali kekejaman Mei 1998 yang merupakan satu peristiwa penting yang perlu diambil kira. dan 4) Penyampai antara budaya yang berkemampuan harus belajar menyenangi hidup bersama dengan orang dari budaya yang berbeda (dalam Mulyana. konflik di Ambon. Sangauledo. Data seterusnya adalah mengenai perilaku budaya masing. Perilaku Faktor perilaku merupakan penjelmahan dari nilai-nilai yang dikukuhkan oleh masingmasing kelompok budaya. maupun di luar kelompok etnis. Perilaku budaya suatu etnis merupakan suatu kecenderungan yang diperolehi dengan cara belajar untuk merespon suatu objek secara konsisten. Yohanna (2008:37-38) dan Arifah Armi Lubis (2010:222).

termasuk kepada saya (kpelitnya melihat keadaan). . Lain halnya dengan Mukti Sitompul (60 tahun/Batak Mandailing). berkecenderungan memilih sekolah swasta untuk anak-anaknya agar tidak timbul permasalahan dengan anak-anak pribumi dan guru di sekolah negeri (pemerintah)”. pribumi mengetepikan Tionghoa dan Tionghoa pun membentuk kelompok-kelompok yang eksklusif. Lia Dahmalia (43 tahun/ Sunda). tetapi di Medan terkesan mereka mendominasi (tidak seperti di Padang. “ Tidak semua orang Tionghoa itu jelek. setahun kemudian mulai baik kepada saya. bekerja sebagai wirausaha. Umumnya mereka individualis dan tidak mau berinteraksi dengan pribumi dan lebih memilih tempat perumahan sesama kelompoknya. bekerja sebagai pembantu rumah kepada etnis Tionghoa lebih dari tiga tahun. pelit dengan uang dan informasi. Mendiskriminasikan jenis pekerjaan yang lebih mudah untuk Tionghoa berbanding pribumi. Pengalamannya bekerjasama dalam berdagang dengan etnis Tionghoa adalah: “Kepada pribumi orang Tionghoa selalu berkata kasar kepada bawahannya. beliau lebih memilih hidup berkelompok dengan sesama orang Tionghoa di kompleks perumahan agar tidak terganggu dan lebih nyaman katanya. Begitu pula dalam hal pemilihan sekolah anak. sebagai ibu rumah tangga dan berjiran dengan etnis Tionghoa di kompleks Setia Budi Indah lebih dari sepuluh tahun. Dia mengatakan: “Pada awal saya bekerja sebagai pembantu rumah kepada etnis Tionghoa. kerja sedikit uang mau banyak. sangat terbelenggu (berpihak pada etnisnya) dan acuh tak acuh terhadap lingkungannya. suka memerintah dan tidak mau menolong. Makasar dan Bandung mereka melebur) sehingga terkesan ada jarak sosial antara Tionghoa dengan pribumi. Maka beliau suka pelitt kepada pribumi. menganggap pribumi itu bodoh dan tidak tahu apa-apa. Majikan saya memandang pribumi (tidak semuanya) sebagai pemalas. selalu curiga pada pribumi.Eka (35 tahun/Jawa). Dalam perilaku bermasyarakat. juga kalaupun jenis pekerjaannya sama namun upah yang lebih tinggi diberikan kepada Tionghoa berbanding pribumi (selalu diberikan sembunyi-sembunyi dalam menambah upah)”. Begitupun mereka dapat dipercayai untuk urusan perdagangan”. Dosen USU dan mempunyai pengalaman berkawan karib dengan seorang Tionghoa selama 50 tahun. Seterusnya. Rum Abu Huzaifah (30 tahun/Jawa). saya diperlakukan secara kasar. dia berkata: “Diskriminasi pada etnis Tionghoa dengan pribumi ada.

persepsi saya sudah banyak berubah dalam memandang pribumi. Seiring dengan waktu dan pergaulan saya dengan pribumi. Saya tidak kecil hati dan mengatakan tidak semua Tionghoa mengelompokkan dirinya (eksklusif). Pengalaman antara budaya harus diperluas dengan pemikiran-pemikiran yang positif seperti melalui pendidikan. Hal yang saya fikirkan adalah stereotip itu terbentuk bergantung lama atau tidaknya seseorang bergaul dan mau bersikap terbuka dengan etnis lain. jiran dan pembantu rumah yang bekerja di rumahnya cukup baik. Demikian pula dengan apa yang diperkatakan oleh Karen (22 tahun/ Tionghoa). Seperti perilaku etnis Tionghoa harus diubah jangan memandang pribumi itu semuanya pemalas. yang utama adalah harus pandai membawakan diri dimanapun anda berada”. Begitu juga jangan memandang stereotip secara berlebihan karena kita sama-sama warganegara Indonesia. mahasiswi USU: “Pada mulanya saya mempersepsikan pribumi (tidak semuanya) berperilaku kasar. kurang mau bersahabat dengan Tionghoa. kami suka diejek dengan kata „Cina Luh‟. Hal ini diperlukan untuk melandasi hubungan-hubungan antara peribadi. pemeras. Banyak antaranya berperilaku ramah dan sopan serta saling menghargai. pergaulan sehari-hari dan organisasi sosial”. pemarah. Contohnya saya dan orang tua. Dengan pribumi juga boleh selama kawasan perumahan tersebut aman dan nyaman serta etnis pribumi mau berkawan dengan saya. Sebaliknya perilaku pribumi juga harus diubah jangan suka menekan dan memanfaatkan Tionghoa untuk kepentingan peribadi dan kelompok. . tidak mau memeras dan menipu. mahasiswi USU mengatakan: “Hubungannya dengan pribumi seperti rekan-rekan di sekolah dan universitas. tidak menghargai waktu dan sial berkawan dengan pribumi. dalam memilih tempat tinggal tidak mesti harus sesama etnis Tionghoa. Sekarang ini saya mempunyai rekan yang majoritasnya etnis pribumi selain keluarga inti.Sebaliknya Tionghoa juga berperilaku yang sama sehingga pribumi merasa direndahkan. saling menghargai dan menghormati dan bersikap seadanya. Juga jangan menganggap semua Tionghoa itu kaya (banyak uang) karena ada di antara etnis Tionghoa yang miskin dan berpendapatan cukup makan saja seperti rekan saya ini yang bekerja sebagai penanam sayur. diperas dan diperlakukan tidak adil. Kalaupun ada pendiskriminasian sudah semakin kecil. Oleh sebab itu. diperlukan pembentukan kepercayaankepercayaan melalui hubungan-hubungan antara peribadi. Diskriminasi dan stereotip itu muncul karena kurangnya interaksi dan komunikasi dengan etnis yang lain”. Saya merasakan diskriminasi itu ada dengan menganggap orang Tionghoa itu asing. Vebie Arica (20 tahun/Tionghoa).

seperti yang diungkapkan oleh Wenny. Pada hal tidak semua warga Tionghoa di Medan ini kaya. sebagai tokoh masyarakat dan politik . etnis masing-masing antara satu dengan yang lainnya masih memandang miring sesuai dengan stereotip yang telah terbentuk sebelumnya sehingga masih saja adanya prasangka dan jarak antara warga Tionghoa dengan pribumi di Medan. utamanya yang kaya memilih tempat perumahan yang eksklusif. sebagai dosen dan wirausaha mengatakan: . diakui bahwa perlakuan diskriminatif masih tetap berlangsung sehingga sekarang. baik pada warga Tionghoa maupun pribumi. Manakala dengan luar kelompok komunikasi hanya terbatas membahaskan hal-hal yang penting saja. Andri dan Gunawan: “ . Mereka selalu diperlakukan secara berbeda dengan pribumi. Manakala biaya untuk warga Tionghoa lebih mahal berbanding pribumi karena dianggap orang kaya dan banyak uang. etnis Tionghoa kurang mendapat tempat dalam bidang politik atau dalam birokrasi. menambahkan: “Perilaku pribumi tersebut berlaku untuk segala urusan hingga ke parkir kereta warga Tionghoa di Medan dianggap sebagai mesin ATM yang setiap waktu boleh mengeluarkan uang jika diperlukan. Urusan pribumi yang selalu didahulukan dan warga Tionghoa kemudian. rumah berpagar tinggi dan dinding berlapis dengan tujuan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Komunikasi berlaku secara aktif sesama dalam kelompok... banyak juga yang miskin”. Sofyan Tan (50 tahun/ Tionghoa). Meskipun kadangkala merugikan individu Tionghoa itu sendiri andai saja terjadi kebakaran karena tiada satu pun yang dapat diselamatkan termasuk manusia yang ada di dalamnya akan hangus terbakar”. dalam pengurusan Kartu Tanda Penduduk (KTP) warga Tionghoa diberi simbol 02 sedangkan pribumi 01. Selain itu juga.Data yang dihimpun dari para informan dan pengamatan penulis. Menurutnya wajar saja apabila warga Tionghoa di Medan. Meskipun demikian. Penemuan data juga menunjukkan etnis Tionghoa menempati posisi penting dalam penguasaan ekonomi di Medan dan Indonesia secara umum. Gunawan (39 tahun/Tionghoa) .

warga Tionghoa dijadikan alat percobaan untuk segala sesuatu yang berhubungan dengan perdagangan seperti penentuan harga barang/jasa. Shio Ular. Terutamanya etnis Tionghoa yang menjadi sasaran berbagai ketidakharmonisan tersebut . warga Tionghoa dianggap dapat ditunggangi. menurut penulis hal tersebut tidak terlepas dari peristiwa budaya dan struktural (Tan. pendidikan dan status sosial di masyarakat. Permasalahannya adalah pada sistem. 2003. yang menandakan warga Tionghoa menjadi perasan pribumi (tidak semua) dalam segala hal. Kekejaman Mei 1998 merupakan suatu bentuk ketidakharmonisan dampak pribumi yang tidak sejahtera sehingga mengganggu antara satu etnis dengan etnis yang lain. Satu-satunya dengan politik pengasingan yaitu dengan membagi penduduk Hindia Belanda (Indonesia) menjadi tiga . Seperti yang diketahui bersama bahwa sejarah pada era kolonial telah mampu menciptakan keretakan hubungan antara pribumi dan etnis Tionghoa. warga Tionghoa setiap waktu siap untuk dijadikan santapan/dipotong layaknya seperti ayam yang dipotong”. pada umumnya masyarakat pribumi tidak dapat dipersalahkan. Shio Kuda.“Ada juga stereotip yang dilekatkan pada warga Tionghoa sesuai dengan kalender Tionghoa yaitu 12 Shio. tokoh masyarakat Tionghoa ini dalam pengamatannya jauh ke belakang terhadap sejarah/peristiwa struktural. Menurut pengamatan dan apa yang saya rasakan. yaitu pemerintah harus mampu membangkitkan ekonomi masyarakat agar masyarakat sejahtera. Jika disimak perilaku diskriminasi. stereotip dan jarak sosial yang dikatakan oleh para informan. 2004.” Dari penemuan data di atas. Shio Lembu. Yang terakhir Shio Ayam. Beliau mengatakan: “Apa yang berlaku dengan masyarakat Tionghoa. yaitu Shio Kambing. Berbeda dengan Vincent Wijaya (50 tahun/Tionghoa). ada lima Shio yang merupakan simbol ketidakadilan (perilaku anarki) atas perilaku pribumi kepada etnis Tionghoa. wawancara berlangsung dari berbagai latar belakang jenis pekerjaan. warga Tionghoa selalu dijadikan kambing hitam apabila terjadinya kekacauan di Indonesia seperti ekonomi Indonesia yang kacau-bilau yang dituduh penyebabnya adalah Tionghoa. Mereka melakukan tindakan anarki tersebut disebabkan kemiskinan dan kebodohan serta kecemburuan sosial terhadap etnis Tionghoa yang secara ekonomi dapat hidup sejahtera bahkan berkecukupan (kaya raya). Suryadinata. 1994 & 2003). Coppel. tidak miskin dan dapat bersekolah. seperti uang keamanan.

Yang paling merasai kerugiannya adalah pribumi. Dampak pembatasan gerakan tersebut muncullah bentuk-bentuk ekslusifisme seperti jaringan perdagangan yang tertutup. menurut penulis semenjak pemerintahan Orde Baru praktis berkuasa. Bahkan perilaku-perilaku yang anarki munculan seperti etnis Tionghoa dijadikan kambing hitam (Shio Kambing) apabila terjadi rusuhan sosial. Kemudian pandangan yang menganggap keahlian berdagang sebagai satu karakteristik yang berhubungan dengan gen dan budaya warga Tionghoa. seperti perusahaan dan pabrik. Manakala Handoko (1996: 51-62) mengakui bahwa pada umumnya perilaku perdagangan orang-orang Tionghoa. paling tidak terdapat tiga nilai sebagai penentu kejayaan perdagangan. polisi/ABRI dan juga pemerintahan. Vreemde Oostrelingen (Timur Asing seperti Tionghoa menjadi warga kelas II) dan Inlanders (Pribumi sebagai warga kelas III). sekolah Tionghoa yang eksklusif. perumahan etnis Tionghoa yang berkelompok dan lain-lain. Pemasalahan ini membawa kepada pandangan berat sebelah bahwa etnis Tionghoa “economic animal” yang pekerjaan ini meluas dalam bidang-bidang ekonomi yang lain. Tidak hanya di situ. Walaupun Thung Ju Lan (1999a) mengatakan bahwa suatu kategori yang dilekatkan dengan jenis pekerjaan yang umumnya diambil etnis Tionghoa sejak semula berkecenderungan ke arah perdagangan. dan hampir tidak ada yang berperanan dalam bidang politik.golongan besar yaitu bangsa Eropah (Belanda warga kelas I). Etnis Tionghoa dikehendaki untuk berdagang namun sesungguhnya etnis Tionghoa tidak pernah diposisikan untuk menjadi pengusaha yang tabah melainkan secara sengaja ataupun tidak disengajakan sebagai orang suruhan (Shio Lembu). yang memiliki tanah air Indonesia menjadi tidak punya hak kesan dari penjajahan. . etnis Tionghoa dalam bidang perdagangan/ekonomi. Dampaknya terjadinya sekatan komunikasi kepada kelas-kelas tertentu.

bahwa sikap eksklusif tersebut dapat saja disebabkan kebersamaan etnis atau dampak perbedaan kelas. afektif atau penilaian serta kekerapan atau komponen harapan. 2007: 69).yaitu hopeng. et al. Analisis penulis tersebut jika dikaitkan dengan pandangan Samovar. Walhal .. . Sebagaimana yang dikatakan oleh Samovar. Ketiga-tiganya merupakan nilai. Sebagaimana dikatakan Thung Ju Lan (1999b). Ketiga-tiga inilah yang biasanya mewarnai keberanian berspekulasi dalam menjalankan perdagangan. Sehingga suatu hal yang dapat diterima bahwa perilaku diskriminatif. Sebaliknya. 2007) dan Sarbaugh (1988) ada kebenarannya yaitu perilaku terbentuk merupakan sebuah proses belajar dari kebudayaan yang melibatkan tiga komponen yaitu kognitif.. Ketiga-tiganya membentuk perilaku sebagai wujud objektif terhadap hal yang ada di persekitaran. (2006. kebiasaan-kebiasaan (resam) berbagai etnis merupakan sesuatu kekuatan kebudayaan yang mempengaruhi bentuk perilaku manusia termasuk perilaku komunikasinya”. dan di majalah Dictum. Hal tersebut juga penulis rekamkan dalam bentuk penulisan di surat kabar Waspada 31 Maret 2008 dengan judul “Menjembatani Sekat-sekat Komunikasi di antara Etnis Tionghoa dan Pribumi”. Agustus 2008 dengan judul “Komunikasi Budaya yang Harmonis antara Etnis ionghoa dan Pribumi”. kepercayaan dan juga mitos untuk menjalankan perdagangan(dalam Agustrisno. amat perlu komunikasi antarbudaya dilakukan secara berterusan agar terbinanya hubungan yang selesa. feng shui atau hong shui dan hokie. Oleh itu.. hal inilah yang kurang dimiliki oleh etnis pribumi. stereotip dan jarak sosial adalah sebagai cerminan adanya perbedaan komunikasi antarbudaya etnis Tionghoa dengan warga etnis pribumi maupun sebaliknya. adanya sikap eksklusif etnis Tionghoa yang mempunyai jaringan perdagangan lebih tertutup sampai kepada pemilikan tempat perumahan yang cenderung berkelompok di Medan diperakukan kebenarannya. (2007: 17-19) bahwa: “ . et al.

apabila komunikasi antarbudaya dilakukan secara terus-menerus antara etnis maka ia mendorong perilaku individu menjadi positif dan sekaligus pandangan dunia terhadap individu lain juga positif. Dalam konteks tersebut agama yang berperanan adalah agama Islam.Simpulan Faktor agama sebagai satu aspek budaya telah turut berperanan dalam mengubah cara pandang antara etnis di kota Medan sehingga mendorong interaksi sosial dan komunikasi antarbudaya serta rasa kebersamaan hidup dalam masyarakat. Maknanya adalah faktor nilai-nilai budaya mengubah pandangan dunia melalui interaksi komunikasi antara budaya yang berkelanjutan dengan berbagi pengalaman budaya setiap etnis. Interaksi komunikasi antarbudaya yang berkelanjutan dan pemahaman terhadap nilainilai budaya yang dimiliki masing-masing etnis mampu mengubah cara pandang yang semula „miring‟ menjadi lebih baik sehingga sekat-sekat komunikasi antarbudaya berkurangan. Protestan dan Katolik sebab ketiga-tiga agama tersebut sebagai agama rakyat (folk religion) oleh masyarakat pribumi di Sumatera Utara dan di kota Medan khususnya. Dengan demikian. Oleh karena cara pandang yang telah terbentuk dari generasi sebelumnya tidaklah mudah untuk mengubahnya. agama/kepercayaan merupakan satu yang hak dan tidak dapat dipaksa namun dalam satu waktu melalui interaksi komunikasi antarbudaya yang berterusan antara etnis akan meningkatkan pandangan dunia dan kualitas beragama di Medan. pemerintah dan perkawinan antar etnis. Faktor perilaku sosial apabila tidak dikontrol secara baik melalui interaksi komunikasi antarbudaya yang berterusan di antara berbagai etnis akan berdampak kepada konflik budaya. kepentingan-kepentingan dan menciptakan jarak sosial dengan kemajemukan etnis yang ada di kota Medan. pendidikan. diperlukan usaha dan upaya yang saling berkesinambungan melalui semua aspek seperti peranan keluarga. . Dengan demikian.

Alo.48-66. Coppel. Christine dan Immy Holloway. Charles A. Medan dalam Angka. dan Bernard J Brommel (1991). Tesis (Master). . ms. Imigran Cina Di Sumatera Timur Pada Pertengahan Abad ke-19 Sampai Perempatan Awal Abad ke-20 (Suatu Studi Perkembangan Ekonomi Mereka dan Pengaruhnya Bagi Orang Melayu). (1981). Burhan.XXVII.Daftar Pustaka Afif. BPS Kota Medan dan Kependudukan Kota Medan. (2000). (2006). Yogyakarta: Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Tionghoa Indonesia Dalam Krisis. (2003). Rachmat. Charles A. No. Jurnal Antropologi. Mei. (2007). ms. Volume 29 No. (2007). Kathleen M. New York: Harper Collins. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. (1999). Family Communication: Cohesion and Change. Liliweri. Etnik Cina dalam Kehidupan Sosial Masyarakat Majemuk. Th. Azhar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Jakarta: Kencana.ed. Communicating with Strangers. (2001). Gatra-Gatra Komunikasi Antara budaya. Bungin. M. 13-22. Medan Universitas Sumatera Utara: Pasca Sarjana USU. Journal World Communication. (2001). Respons Kultural dan Struktural Masyarakat Tionghoa Terhadap Pembangunan di Kota Medan. Mutiara Sumber Widya.Graw Hill Companies. Kriyantono. Djohan. Amir. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang.S. Metodologi Penelitian Kuantitatif: Komunikasi.71. (2010). Galvin. Adat Minangkabau.Ogos. Agustrisno. BPS. Kendala-kendala Sejarah dalam Penerimaan Etnis Cina di Indonesia yang Multikultural. Daymon. 2nd. 3. New York: Mc. Away from Home and Still at Home : Intercultural Adaptation of International Students in Malaysia. (2008). (1994). Latifah Pawanteh. Ekonomi dan Dasar Publik serta Ilmu-Ilmu Sosial lain. Jakarta: PT. Coppel.

Malaysia: Jabatan Antropologi dan Sosiologi.8. Etnis Tionghoa. Konflik Etnik di Indonesia: Kajian Kes di Bandaraya Medan. Disertasi (PhD). Siauw. Majalah Prisma. Komunikasi Efektif.N. 6th Edition.USA: Mila Citation.Porter & Edwin R.A. Richard E. Universiti Malaya. (2007). Universiti Sains Malaysia.McDaniel. Bandung: Remaja Rosdakarya. Sarbaugh. Intercultural Communication. (2007).Samovar. Participant Observations.J. Subanindyo Hadiluwih. ms.Lubis.(2011). Skripsi (S1).E. 68-69. Spradley. Persepsi Sukubangsa Tionghoa dan Peribumi Terhadap Interaksi Komunikasi Antara Budaya Di Sumatera Utara: Satu Kajian Kasus di Bandar Medan. New Brunswick. Tiong Djin.. James P.Porter & Edwin R. Lubis.. Bandung: Remaja Rosdakarya. (2006). Larry. New York: Rinehart and Winston. Jakarta: INTI. Suwardi. Belmont California: Thomson and Wadsworth Publishing Company. Medan: FISIP USU. (2010). (2006). ms. (1999). (1994). Komunikasi Antara Budaya: Kajian Kasus Etnik Batak Toba dan Etnik Tionghoa di Sumatera Utara. Belmont California: Thomson and Wadsworth Publishing Company. (1988). Richard E. Deddy dan Jalaluddin Rakhmat. Medan: USU Press. Deddy dan Solatun. Disertasi (PhD). Donald Kloff and Peggy Cooke.Porter & Edwin R. Komunitas Tionghoa Turut Berperan di Dalam Sejarah Indonesia. (2006). McDaniel. Identitasas Etnis dan Komunikasi Antarbudaya: Studi Kasus Peran Etnis dalam Komunikasi Antarbudaya pada Mahasiswa Asal Malaysia di Fakultas Kedokteran USU. (1998). Communication between Cultures Company. No. 32-38. In Intercultural Communication (A Reader) By Larry A. L. Mulyana. Our Locus in The Universe : World View and Intercultural Communication. (2004). Mulyana. Lubis. Mazali. Satoshi Ishii. Arifah Armi. Kaedah Penelitian Komunikasi: Contoh-contoh Penelitian Kualitatif dengan Pendekatan Praktis. Fakulti Sastera dan Sains Sosial. McDaniel. Samovar. Belmont California: Thomson and Wadsworth Publishing .Intercultural Communication (A Reader). Ogos.A. (1980). Lusiana Andriani. Larry. Richard E. Samovar. 11th (ed).

(1989). . Jurnal Antropologi. Jakarta: Gramedia. Kongsi & Spekulasi Jaringan Kerja Bisnis Cina. Edisi Khusus. (2008).Ogos. Peranan Komunikasi Dalam Penyatuan Budaya. Susiyanto.No. Thung. Jurnal Universitas Paramadina.Suraya. 1-12. (1926). September 2003. Golongan kaum Tionghoa di Indonesia: Suatu Masalah Pembinaan Kesatuan Bangsa. Thung. Mei. (2006).Jilid 23 No. Tinjauan Kepustakaan Tentang Kaum Cina di Indonesia. dalam I. (2003). Kongsi & Spekulasi Jaringan Kerja Bisnis Cina. Vleming Jr. Medan: KIPPAS. (1999a). Terjemahan dari: Het Chineeshce Zakenleven in Nederlandsch Indie. Latihan Ilmiah. Zastrow. Leo. Ju Lan. (1926). Solidaritas Sosial Cina Muslim dan Non Muslim dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya: Studi di Kota Bengkulu. Chicago: Nelson Hall Publishers. Jalan Menuju Masyarakat Anti Diskriminasi. Sofyan. (1999b). Volume 3. Understanding Human Behavior and The Social Environment. (1981). Jakarta: Gramedia. Tan. By .Wibowo (Ed). 84-98. (2003). Jun. Tan.ms. Mely G. ms. Yohanna.1. Representase Etnis Tionghoa dalam Novel Dinsum Terakhir oleh Clara Ng: Studi Analisis Wacana. (2004).71. Bob (1989). Widyahartono. ms. Widyahartono. Medan Universitas Sumatera Utara: FISIP USU. Jurnal Penelitian Humaniora. Vleming Jr. 21 – 35. Terjemahan dari: Het Chineeshce Zakenleven in Nederlandsch Indie.124-135. Suryadinata. No.XXVII. Petropeksi dan Rekontektualisasi Masalah Cina. Th. Bob (1989). Jurnal Antropologi Indonesia. Ju Lan. Charles. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. Kebijakan Negara Indonesia Terhadap etnik Tionghoa: dari Asimilasi ke Multikulturalisme. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. Masalah Cina: Konflik kaum yang Tidak Kunjung Padam. By .58.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful