Inilah Jalanku

Cinta itu WALAUPUN, bukan KARENA • Beranda • About Me
• • • • • •

Daftar Isi E-Book Guestbook Links Arsip Tulisan

Beranda > Tulisan Orang > KEPEMIMPINAN DALAM MASYARAKAT ISLAM

KEPEMIMPINAN DALAM MASYARAKAT ISLAM
Juli 28, 2007 ressay Tinggalkan Komentar Go to comments KEPEMIMPINAN DALAM MASYARAKAT ISLAM OLEH: IQBAL TAWAKKAL P *) KATA PENGANTAR Bismilahirrohmanirrohim Assalamu’alaikum Wr. Wb Dewasa ini Islam memiliki banyak pandangan atau pendapat mengenai Kepemimpinan. Wacana kepemimpinan yang berkembang ini, di awali setelah Rasulullah SAW wafat. Masyarakat Islam telah terbagi-bagi kedalam banyak kelompok atau golongan. Kelompok-kelompok Islam ini terkadang satu sama lain saling menyalahkan atau bahkan mengkafirkan.. Kondisi seperti ini sangatlah tidak sehat bagi perkembangan Islam. Permasalahan perbedaan argumentasi harusnya dapat di selesaikan dengan mekanisme diskusi dengan menggunakan

logika. Dengan menggunakan logika kita dapat menilai suatu argumentasi absah dan benar. Janganlah sampai suatu kebenaran harus disingkirkan hanya karena ego kita. Kebenaran haruslah dijunjung tinggi. Karena kebenaran adalah sesuainya pernyataan dengan kenyataan. Kenyataan (realitas) tidaklah mungkin menipu, akan tetapi pahaman kitalah yang bisa jadi belum sampai pada realitas tersebut. Atau pahaman kita sebenarnya telah sampai pada realitas (kenyataan), namun egoisme kitalah yang menyuruh untuk menolaknya. Mudah-mudahan kita bukanlah bagian dari orang-orang yang memiliki rasa egois, dan juga bukan bagian dari orang-orang yang menolak suatu kebenaran. Insya Allah. BAB I PENDAHULUAN Perihal mengenai kepemimpinan dalam Islam merupakan suatu wacana yang selalu menarik untuk didiskusikan. Wacana kepemimpinan dalam Islam ini sudah ada dan berkembang, tepatnya pasca Rasulullah SAW wafat. Wacana kepemimpinan ini timbul karena sudah tidak ada lagi Rasul atau nabi setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Dalam firman Allah SWT dikatakan bahwa Al-qur’an itu sudah bersifat final dan tidak dapat diubah-ubah lagi. Sehingga Rasulullah SAW adalah pembawa risalah terakhir dan penyempurna dari risalah-risalah sebelumnya. “ Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-qur’an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya.”(Q.S Al-An’am:115). Tidaklah mungkin akan ada seorang nabi baru setelah Rasulullah SAW. Karena ketika ada seorang nabi baru setelah Rasulullah SAW maka akan ada suatu risalah baru sebagai penyempurna dari risalah sebelumnya, sehingga artinya Al-qur’an tidaklah sempurna dan Allah menjadi tidak konsisten terhadap pernyataannya yang ia sebutkan dalam ayat di atas. Ketika Rasulullah SAW wafat, berdasarkan fakta sejarah dalam Islam, Umat Islam terpecah belah akibat perdebatan mengenai kepemimpinan dalam Islam, khususnya mengenai proses pemilihan pemimpin dalam Islam dan siapa yang berhak atas kepemimpinan Islam. Sejarah mencatat bahwa kepemimpinan Islam setelah Rasulullah SAW wafat dipimpin oleh Abu Bakar, Umar Bin Khattab, Utsman Bin Affan, Ali Bin Abi Thalib, Muawiyah, dan Bani Abbas. Setelah dinasti Abbasyiah kepemimpinan Islam terpecah pecah ke dalam kesultan-kesultanan kecil. Permasalahan kepemimpinan ini membuat Islam menjadi terfragmentasi dalam kelompokkelompok, diantaranya yang terbesar adalah adanya kelompok Sunni dan Syiah. Kedua kelompok besar ini memiliki konsep dan pahaman kepemimpinan yang sangat jauh berbeda. Kedua kelompok ini memiliki dalil dan argumentasi yang sama-sama menggunakan sumber Islam yaitu Al-qur’an dan Sunnah.

Kedua kelompok ini terkadang saling berseteru satu sama lain, dan juga ada yang sampai mengkafirkan satu sama lain. Kondisi ini sangatlah tidak sehat bagi perkembangan kaum muslimin, harusnya mereka dapat berargumentasi secara rasional dan logis. Sehingga kaum muslim dapat melihat dan menilai apakah proposisi-proposisi yang dikeluarkan merupakan suatu kebenaran atau tidak. Pada dasarnya sejarah tak bersih dari peristiwa kelam. Sejarah setiap bangsa, dan pada dasarnya sejarah umat manusia, merupakan himpunan peristiwa menyenangkan dan tidak menyenangkan. Pasti begitu. Allah menciptakan manusia sedemikian sehingga manusia tidak bebas dari dosa. Perbedaan yang terjadi pada sejarah berbagai bangsa, komunitas dan agama terletak pada proporsi peristiwa menyenangkan dan tidak menyenangkan, bukan pada fakta bahwa mereka, hanya memiliki peristiwa menyenangkan saja atau tidak menyenangkan saja.[1] Proses memahami sejarah tidak boleh berlandaskan suka atau tidak suka, dan juga harus siap menerima segala konsekuensi yang timbul setelah kita menelaah sejarah tersebut. Dalam makalah ini penulis berusaha untuk berhenti pada konsep-konsep kepemimpinan tetapi juga membahas sejarah 4 khilafah setelah Rasulullah SAW, serta menyinggung Dinasti Muawiyah dan Abbasyiah. penulis mencoba untuk menarik nilai-nilai apa yang bisa didapat untuk membentuk konsep-konsep kepemimpinan dalam Islam. Ada beberapa pertanyaan yang dapat saya ajukan seputar pembahasan makalah kepemimpinan dalam Islam ini, yaitu: 1. Apa yang dimaksud dengan pemimpin dan kepemimpinan serta kenapa kepemimpinan dalam Islam di perlukan? 2. Bagaimana syarat-syarat kepemimpinan dalam Islam? BAB II KEPEMIMPINAN DALAM MASYARAKAT ISLAMA. Pemimpin, Kepemimpinan, dan Signifikansinya dalam Islam Ketika ingin memulai suatu pembahasan ada baiknya kita melakukan suatu pendefinisian atas pokok bahasan kita. Pendefinisian ini membantu kita untuk memahami dan mensistematiskan alur pembahasan. Kepemimpinan berasal dari kata pemimpin, yang artinya adalah orang yang berada di depan dan memiliki pengikut, baik orang tersebut menyesatkan atau tidak. Ketika berbicara kepemimpinan maka ia akan berbicara mengenai prihal pemimpin, orang yang memimpin baik itu cara dan konsep, mekanisme pemilihan pemimpin, dan lain sebagainya. Terdapat ragam istilah mengenai Kepemimpin ini, adanya yang menyebutkan Imamah dan ada Khilafah. Masing–masing kelompok Islam memiliki pendefinisian berbeda satu sama lain, namun ada juga yang menyamakan arti Khilafah dan Imamah. Seorang ulama bernama Syekh Abu Zahra dari kelompok Sunni menyamakan arti Khilafah dan Imamah. Ia berkata, ”Imamah itu disebut juga sebagai Khilafah. Sebab orang yang menjadi khilafah adalah penguasa tertinggi bagi umat Islam yang menggantikan Rasul SAW. Khalifah itu

Imamah didefinisikan sebagai kepemimpinan masyarakat umum. Sedangkan Imamah melingkupi seluruh ranah kehidupan manusia baik itu agama dan politik. kelompok ini cenderung pada pemikiran konsep kepemimpinan barat. yakni Sunni dan Syi’ah terdapat konsep kepemimpinan yang signifikan berbeda. Menurut Ali Syari’ati.[3] Bagi kelompok Syi’ah sikap seorang Imam haruslah mulia sehingga menjadi panutan para pengikutnya. yakni seseorang yang mengurusi persoalan agama dan dunia sebagai wakil dari Rasulullah SAW.juga disebut sebagai Imam (pemimpin) yang wajib ditaati. Umar Bin Khattab. maka seorang yang paham akan realitas masyarakatlah yang pantas mengemban amanah kepemimpinan tersebut.. Namun sebelum Ali menjadi pemimpin mereka membedakan pengertian Imam dan Khilafah. Manusia berjalan di belakangnya. Bahkan di kalangan umat Islam yang mengklaim dirinya bukanlah bagian dari suatu kelompok besar tersebut juga memiliki pandangan berbeda. tidak melingkupi ranah spiritual keagamaan.”[2] Kelompok Syiah dalam hal kepemimpinan membedakan pengertian antara khilafah dan Imamah. Kelompok ini sering disebut sebagai kalangan umat Islam yang sekuler. Suatu masyarakat tidaklah mungkin dipisahakan dari sebuah kepemimpinan. dan insan kamil. Syari’ati berkeyakinan bahwa ketiadaan kepemimpinan menjadi sumber munculnya problem-problem masyarakat. Terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara kelompok Islam sekuler dengan kelompok Islam yang tidak memisahkan kehidupan beragama dengan kehidupan berpolitik. tanpa pemimpin umat manusia akan mengalami disorientasi dan alienasi. idola. Menurut Syari’ati pemimpin adalah pahlawan. Watak manusia yang bermasyarakat ini merupakan kelanjutan dari karakter individu yang menginginkan perkembangan dirinya menuju pada kesempurnaan yang lebih. Pemimpin tersebut harus dapat membawa masyarakat menuju kesempurnaan yang sesungguhnya. Khalifah Rasulullah SAW yang memelihara agama dan menjaga kemuliaan umat dan wajib di patuhi serta diikuti. Abu Bakar.[5] Ketika suatu masyarakat membutuhkan seorang pemimpin. namun mereka bukanlah Imam. dan Utsman adalah Khalifah. secara sosiologis masyarakat dan kepemimpinan merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan. sebagaimana manusia shalat di belakang imam. Kelompok Islam Sekuler menyatakan bahwa kaum ulama tidaklah wajib untuk berkecimpung didalam . bahkan masalah kemanusiaan secara umum. Imam mengandung makna lebih sakral dari pada khalifah. Wacana mengenai kepemimpinan di kalangan umat Islam memiliki ragam pendapat.[4] Secara implisit kaum Syi’ah meyakini bahwa khalifah hanya melingkupi ranah jabatan politik saja. Pada golongan besar umat Islam. Akan tetapi ketiga kelompok Islam di atas memiliki kesepahaman bahwa suatu masyarakat haruslah memiliki seorang pemimpin. Hal ini dapat dilihat berdasarkan fakta sejarah kepemimpinan dalam Islam setelah Rasulullah SAW wafat. Kelompok Syiah sepakat bahwa pengertian Imam dan Khilafah itu sama ketika Ali Bin Abi Thalib diangkat menjadi pemimpin. Banyak ragam pendapat mengenai kepemimpinan dalam Islam.

” Ya Rasul. . Alam semesta dan manusia memiliki dimensi materi dan imateri. Para ulama yang menduduki jabatan politik haruslah dapat melepaskan manusia dari belenggubelenggu dunia yang menyesatkan. Ulama harus dapat membimbing manusia tidak hanya menuju pada kebaikan yang bersifat dunia. Pendapat yang tidak rasional dari kedua kelompok di atas adalah kelompok Islam sekuler. yaitu Imam Khomaini dalam konteks pemerintahan ia menggunakan kata Fuqaha untuk mengganti istilah ulama. ulama hanya selalu menjadi subordinasi dan/atau alat legitimasi pemimpin politik dari masyarakat. alasan yang teologis berupa riwayat dari Nabi Muhammad SAW.adalah ”Fuqaha adalah pemegang amanat rasul. Jika mereka melakukannya maka khawatirkanlah (keselamatan) agama kalian dan menjauhlah kalian dari mereka. Sedangkan kelompok anti sekuler yang meyakini bahwa kehidupan beragama dan dunia tidak dapat dipisahkan khususnya dunia politik. kemudian seseorang bertanya. akan tetapi kalau dicerna lebih lanjut maka ini sebenarnya menguntungkan.dunia politik. Dalam kondisi seperti ini maka ulama tidaklah mungkin menjadi pemimpin dari suatu masyarakat. Ummat dalam hal ini haruslah juga bersikap kritis terhadap ulamanya untuk menguji kwalitas dari seorang ulama tersebut. Bagi Khomeini kepemimpinan seorang Fuqaha (ulama) adalah suatu kemestian. apa maksud dari perkataan mereka tidak masuk ke dunia. Ketika kehidupan beragama dipisahkan dari aktivitas politik. Manusia cukup mentaati dan menerapkan hukum Allah tersebut. jangan mengurusi kehidupan dunia politik. akan tetapi juga hal-hal yang menuju pada kesempurnaan spiritual.”[6] Kedua. Ia memiliki 2 alasan. yaitu alim artinya adalah orang yang mengetahui atau orang pandai. tidak ada hubungannya dengan dunia politik (publik). Manusia dalam hal ini seolah-olah tidak berdaya. ” mengikuti penguasa. Sehingga peran ulama hanya terbatas pada ritual-ritual keagamaan semata. Pandangan ini didasarkan pada pandangan bahwa kehidupan agama merupakan urusan pribadi masing-masing individu (privat). Jabatan ulama bukanlah jabatan struktur akan tetapi ia merupakan suatu pengakuan dari ummatnya. Seorang pemimpin revolusi Iran. Kelompok Islam sekuler hanya memahani Islam secara parsial . maka seolah-olah Islam tidak mengatur bagaimana kehidupan berpolitik dan bermasyarakat.atau bisa jadi mereka ditugaskan oleh kelompok pembenci Islam untuk mendistorsi pahaman umat Islam akan agamanya. Islam merupakan agama yang sempurna dimana pengaturannya meliputi seluruh alam semesta ini. Ulama berasal dari kata bahasa arab dan semula ia berbentuk jamak. karena ada kerja Ilahi yang mengantarkan manusia pada kesempurnaan. Justru terkadang manusia memiliki pengetahuan yang terbatas terhadap realitas alam semesta ini. Sehingga manusia dapat saja berbuat kekeliruan dalam bertindak dan memutus suatu perkara. selama mereka tidak masuk keduania”. alasan Rasional bahwa tidaklah adil sekiranya Tuhan membiarkan ummatnya bingung karena ketidakmampuan mereka menafsirkan maksud Tuhan dalam konteks zamannya. Kelompok ini mendukung dan meyakini bahwa ulama haruslah memimpin. yaitu : Pertama. Lalu Rasul menjawab.

Sunni sepakat bahwa kepemimpinan tersebut dipilih secara musyawarah oleh ummat Islam.” (Shahih Muslim.S Asy-Syura :38 : ”…. Bahkan kelompok Syi’ah ini memasukkan kepemimpinan ini ke dalam pokok-pokok agama (Ushuluddin). 122) Hadits Ghadir Khum : Nabi saw bersabda. “Ali ini adalah pemimpin (penguasa) orang yang menjadikan aku sebagai pemimpin (penguasa)-nya.” (Q. dan dirikanlah shalat. dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu.”. para imam. hal. Pendapat mereka ini berlandaskan pada : (Q. Jilid VII. Kalangan Syi’ah memiliki alasan yang juga dilandasi Al-qur’an dan Sunnah untuk mendukung argumentasinya diantaranya adalah.” Kemudian Nabi saw membuat deklarasi. Sebelum masuk ke dalam kriteria kepemimpinan terdapat perbedaan pandangan antara kelompok Sunni dan Syi’ah mengenai pola pemilihan kepemimpinan. sedang urusan mereka dengan musyawarah antara mereka…. hai Ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.Hanya manusia-manusia yang dibimbing oleh Tuhanlah yang dapat memahami realitas alam semesta.”) dan juga pidato Umar Bin Khattab mengenai pertemuan di Saqifah yang mengharuskan ummat Islam bermusyawarah dalam menetapkan pemimpin. “Aku tinggalkan kepada kalian dua amanat. “Bukankah aku lebih berwenang atas diri kalian dibanding kalian sendiri?” Semua yang hadir mengatakan. yaitu Ali Bin Abi Thalib beserta keturunannya dari Fathimah Az-Zahra. Selain itu diangkatnya seseorang menjadi pemimpin (nabi. Manusia yang memahami agama Islam secara komprehensif baik dimensi materi ataupun imateri yang dapat membawa suatu masyarakat menuju arah kesempurnaan dan kebahagiaan hakiki. maka Allah SWT melalui Rasul-Nya telah menetapakan pemimpin setelah Rasul SAW. Sedangkan kalangan Syi’ah sepakat bahwa urusan kepemimpinan setelah Rasulullah SAW wafat. yaitu QS Al-Ahzab : 33. atau ulama/fuqaha) juga berdasarkan gerak dan kebijaksanaan yang diraih oleh orang tersebut dalam perjalanan spiritualnya.S Al-Ahzab :33) Hadits Tsalaqain : Nabi saw bersabda.” . yaitu Kitab Allah dan keturunanku. Baik itu golongan Islam Sunni atau pun Syi’ah sepakat bahwa ulama harus memimpin segala bidang baik itu spiritual maupun politik dalam kehidupan bermasyarakat. Ya Rasulullah. ” Dan tetaplah kamu di rumahmu. Dalam hal ini terdapat faktor dari dari manusia itu sendiri yang kemudian dijaga dan diridhoi Allah SWT. “Betul. Hadits Tsalaqain dan Hadits Ghadir Khum.)dan (Ali-Imran :159 : ” Bermusyawarah dengan mereka dalam sesuatu urursan. tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu. Kepemimpinan dalam Islam haruslah seorang tokoh ulama yang benar-benar bertanggung jawab penuh atas kemaslahatan dan keselamatan ummatnya.

[7] Dari permasalahan di atas dapat dilihat adanya dua pokok pemikiran yang cukup tajam perbedaaannya. hati. dimana masing-masing manusia cenderung untuk menyatu dengan keseluruhan. maka manusia memerlukan imam (pemimpin).[8] Sedangkan kelompok Syi’ah percaya bahwa kepemimpinan setelah Rasul merupakan hak Allah SWT. cukuplah Al-qur’an dan Sunnah Rasul sebagai pegangannya. manusia bermasyarakat karena kemampuannya berpikir dan memperhitungkan (faktor intelektual). Tidak ada peran manusia dalam menentukan pemimpin setelah Rasulullah SAW wafat. Ali As-Salus dalam bukunya Imamah dan Khilafah dalam Tinjauan Syar’i menyatakan bahwa kepemimpinan (Imamah) itu bukanlah ditetapkan dengan dengan nash atau penunjukan. ketika manusia memasuki zaman ketiadaan nabi. sama dengan dalil bahwa manusia membutuhkan seorang Nabi. Nabi saw mendeklarasikan bahwa keturunannya sama dengan Al-Qur’an. kefitrahan manusia sebagai unsur yang paling yang membentuk masyarkat Pertama. Dalam bagian akhir hadis ini. Kelompok Sunni percaya bahwa setelah Rasulullah SAW wafat maka kepemimpinan itu diserahkan kepada ummat Islam melalui musyawarah. Kelompok Syi’ah percaya bahwa Allah SWT menentukan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah pemimpin ummat Islam setelah Rasulullah SAW. misalkan kehidupan suami istri.” Jadi persoalannya adalah persoalan mengikuti (berpegang).Sesungguhnya yang dimaksud Nabi adalah bahwa Nabi akan meninggalkan dua otoritas yang menjadi tempat bertanya tentang semua masalah keagamaan dan sosial. Manusia pastilah makhluk berakal. akan tetapi terkadang ada manusia yang selalu menggunakan perasaan atau hawa nafsu saja. Dr. kalian tidak akan sesat. Tidak dapat disangkal bahwa manusia adalah makhluk hidup berjenis hewan. Manusia tidak dapat melepaskan fitrah kesosialannya. Seorang Ulama Sunni. Kedua. Menurut muthahari dalam tiga teori pembentukan masyarakat. kehidupan bermasyarakat manusia itu merupakan suatu fitrah. . Ketiga. Hal ini karena ada beberapa manusia yang memiliki akal namun ia tidak menggunakan hukumhukum akal. Alasannya bahwa kedua kelompok tersebut merupakan manusia yang memiliki akal. Nabi sendiri mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah tsaqal besar. Akan tetapi manusia bukanlah makhluk yang berlogika. “Selama kalian berpegang pada keduanya. dan nafsu yang ghalibnya juga adalah mahluk sosial. Logika merupakan suatu ilmu pengetahuan mengenai hukum-hukum akal yang dapat membantu manusia mengetahui benar dan salah. akan tetapi ia belum tentu makhluk yang berlogika. misalkan manusia berkerja sama dalam membangun suatu perusahaan yang memberi keuntungan besar bagi manusia tersebut. Manusia pasti memiliki akal karena itu merupakan suatu fitrah.[9] Mengenai diskursus kedua pendapat ini. Nabi bersabda. misalkan manusia membentuk masyarakat karena untuk mempertahankan dirinya dari serangan musuh manusia lain. yang mana ia memiliki akal. penulis mencoba untuk menarik pokok permasalahan lebih kepada argumentasi rasional dan filosofis. sedang keturunannya adalah tsaqal kecil. Kelompok Sunni secara otomatis juga meyakini bahwa tidak ada pemimpin yang ditentukan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya dalam hal memimpin ummat manusia di muka bumi ini. Kelompok Syi’ah menyatakan kebutuhan manusia akan Imam (Pemimpin). kehidupan bermasyarakat manusia merupakan dorongan dari luar diri manusia.

dan kekuatan yang ada didalam dirinya itu adalah petunjuk Allah. Hal ini di karenakan bahwa seluruh umat manusia pada dasarnya memiliki fitrah yang baik dan sama. dsb. dan tidaklah pernah tercipta apa yang dinamakan masyarakat. tidaklah mungkin ia bersifat heterogen. Sang Pemberi petunjuk dengan sifat Keadilan-Nya pastilah menciptakan suatu hukum yang adil untuk mengatur alam semesta ini. Namun dari individu-individu tersebut terdapat kesamaan yang dapat menyatukannya menjadi masyarakat. akan tetapi bentuk kebahagiaan tersebut pastilah beragam. Manusia memiliki pengetahuan yang terbatas. Yang kemudian masyarakat tersebut memiliki tujuan yang dominan pada kehidupan duniawi yang bersifat hewani. Wahyu tersebut memiliki tingkatan-tingkatan. tingkatannya beragam sesuai dengan tingkatan kwalitas evolusi tiap-tiap sesuatu. Artinya dalam membentuk masyarakat terdapat tujuan bersama yang harus disepakati terlebih dahulu. Karena masyarakat yang bersifat heterogen. misalkan dilegalkannya oleh suatu masyarakat kehidupan seks bebas. minuman keras dijual bebas.Dengan adanya kondisi ini maka manusia dapat dikatakan merupakan makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Misalkan manusia menjadi bahagia ketika ia mendapatkan pekerjaan yang halal dan ia dambakan. maka ia akan menjadi masyarakat yang tidak memiliki tujuan bersama. Dan terkadang hawa nafsu duniawi tersebut justru menjadi berlebihan dan kemudian merusak akal dan hati manusia. Ketika tidak memiliki tujuan bersama maka ia bukanlah masyarakat. Kita tahu bahwa manusia tadi memiliki yang namanya akal. Akan tetapi dalam proses kehidupannya manusia banyak mendapatkan tantangan dan hambatan. Petunjuk tersebut kemudian kita sebut sebagai wahyu. hati dan nafsu terhadap duniawi. namun setiap manusia memiliki potensi yang sama dalam hal mencapai pengetahuan yang hakiki. Dengan adanya kecenderungan manusia dan masyarakat yang seperti ini. Dengan petujuk tuhan inilah manusia dan masyarakat dapat melangkah . dan bisnis prostitusi menjadi legal. Wahyu menurut Al-qur’an tidak hanya untuk manusia saja. maka hawa nafsu hewani manusia tersebut berubah jiwa masyarakat. yang di dalamnya terdapat pengaturan mengenai petunjuk hidup bagi manusia dan masyarakat. namun ada juga yang terjerumus pada kenikmatan dunia yang menyesatkan dan semu. Ketika membentuk suatu masyarakat maka dimensi individu kemanusiaan tersebut masih tetap ada. Dunia kita ini merupakan suatu dunia yang penuh dengan tujuan. Dalam proses ini manusia ada yang mampu mendapatkan pengetahuan yang hakiki. Kondisi ini akan dapat membuat chaos hubungan kehidupan manusia. Ragam bentuk tersebut tidaklah bertentangan satu sama lain. Penyayang dan Sang Pemberi petunjuk pastilah tidak akan membiarkan hambaNya tersesat dan kehilangan jati diri kemanusiaan. Wahyu yang derajatnya lebih tinggi diberikan kepada nabi. Kondisi manusia seperti ini akan dapat merusak yang namanya tatanan masyarakat. maka Allah SWT sebagai Sang Pengasih. akan tetapi hanya kumpulan manusia-manusia yang memiliki ragam tujuan yang berbeda satu sama lain. Tiap-tiap sesuatu diarahkan untuk menuju ke tujuan evolusionernya oleh kekuatan yang ada didalam dirinya. bahkan lebih parah lagi dari hewan. ada manusia lain bahagia ketika ia mendapatkan rumah dan mobil dengan cara yang halal. akan tetapi untuk seluruh ciptaan-Nya. Masyarakat ketika ingin mencapai tujuan bersama tersebut maka masyarakat haruslah bersifat homogen. misalkan bahwa manusia itu ingin selalu bahagia. Dan bahkan bila kondisi ini menyebar pada manusia yang lain.

Berbeda dengan orang Surakarta. Karena orang Surakarta pastilah memiliki hubungan dan berada dalam realitas kota Surakarta. akan tetapi terdapat tingkatan-tingkatan wahyu yang diterima oleh manusia tersebut. Manusia yang dapat memahami makna sesungguh (reailtasnya) adalah manusia yang sudah memiliki hubungan dengan realitas wujud dari dalam diri mereka sendiri. Pernyataan Maha Sempurna ini tidak lah dapat menunjukkan Realitas Allah SWT yang sebenarnya. Teks-teks dalam Al-qur’an tidak sembarang orang dapat mengetahui makna sesunggunya. Pahaman saya ini bisa jadi belum sempurna.menuju suatu tujuan. yang kemudian Ia lah yang menetukan orang tersebut pantas atau tidak mengemban tugas-tugas Kerasulan. Wahyu juga memenuhi kebutuhan manusia dalam kehidupan sosialnya. Al-qur’an merupakan wahyu Allah SWT yang sudah berbentuk kata-kata. Manusia yang Allah tunjuk bukanlah sembarang manusia. Tujuan ini berada diluar alam material yang kasat mata ini. akan tetapi ia haruslah terbebas dari segala macam dosa dan tinngkah lakunya harus mencerminkan sifat-sifat Allah. Tiap-tiap manusia memiliki tingkat-tingkat pengetahuan yang berbeda-beda. Manusia ini telah teruji kualitas spiritualnya. Tingkatan ini disesuaikan dengan kualitas spiritual manusia tersebut. Hanya manusia-manusia yang mampu dan memiliki sifat-sifat dan tingkah laku seperti rasul saja yang dapat memahami makna sesungguhnya. Hanya Allah SWT yang tahu kwalitas spiritual manusia tersebut. Mereka tidak akan mungkin melakukan kekeliruan karena mereka sudah berada dalam konteks realitas. suatu kehidupan yang membutuhkan suatu hukum yang di ridhai oleh Allah SWT. karena saya tidak berada pada realitas kota Surakarta tersebut. . Misalkan kalimat Allah SWT memiliki Dzat dan Sifat yang Maha Sempurna. agar dapat dicerna oleh manusia. pengetahuan saya akan kota Surakarta adalah orangnya lembut dan memiliki memiliki bangunan tua. Sehingga hal ini mengakibatkan manusia memiliki pengetahuan akan ayat-ayat Allah SWT tersebut dapat berbeda-beda sesuai dengan tingkat pengetahuan yang dimiliki manusia tersebut. maka Ia menunjuk seorang nabi yang berwujud manusia. Akan tetapi kata-kata tersebut tidaklah dapat menunjukkan makna yang sesungguhnya. Rasulullah SAW dapat dikatakan sebagai Al-qur’an dalam wujud manusia. Wahyu yang paling sempurna tingkat kebenarannya ada pada Rasulullah.. pahamannya akan kota Surakarta pastilah lebih baik dari saya yang bukan orang Surakarta. Kenapa tidak semua manusia saja yang diberikan wahyu oleh Allah SWT? Pada prinsipnya setiap manusia pastilah mendapatkan wahyu dari Allah SWT. Realitas sesungguhnya telah tereduksi ketika kita menggunakan sesuatu kata untuk menunjukkan suatu realitas. Manusia dan masyarakat harus menuju pada tujuan ini. Karena Rasul tersebut telah sampai pada kebenaranNya.[10] Ketika Allah SWT menurunkan wahyu. adalah bebas dari kekeliruan. berada dalam konteks alur realitas dan juga dihubungkan dengan asal muasal wujud.[11] Manusia-manusia yang dikarenakan kesadaran mereka. Yang menjadi masalah sekarang adalah manusia mana yang pahaman yang mendekati atau sesuai dengan realitasnya/kenyataan (cakupannya).[12] Misalkan saya akan pergi ke Surakarta. Bahkan wahyu yang sempurna tersebut telah menyatu pada diri Rasul sehingga hal itu termanifestasi pada tingkah laku dan pola hidup Rasul Tidak sembarang orang yang tahu akan makna hakiki dari wahyu yang sempurna tersebut. Akan tetapi bukan berarti manusia tidak dapat mengetahui makna dari ayat-ayat Al-qur’an tersebut.

juga masih adanya manusia yang belum mengetahui makna dari ayat-ayat Allah SWT. namun masih di butuhkan orang yang dapat menjaga risalah Islam dan membuat ummat Islam mudah untuk mencapai tujuannya. Ia juga diperintahkan agar membimbing dan mengantarkan serta memberikan sarana pada umat untuk melintasi jalan yang menuju pada tujuan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. mengawasi. Terdapat perbedaan antara seorang pemimpin dan nabi. maka Rasulullah SAW atas perintah Allah SWT pastilah memilih seorang dari ummat Islam untuk menjadi pemimpin. Karena tingkat kwalitas pengetahuan manusia yang berbeda-beda. pembimbing. panduan dan sarana untuk ummat Islam dalam mencapai tujuannya haruslah tetap terjaga kesuciannya. Bagaimana ketika Rasulullah SAW wafat. Dengan adanya argumentasi ini. Islam telah menjadi agama yang sempurna. Nabi itu bertugas sebagai pemandu. dan juga pemimpin tersebut harus bebas dari segala bentuk dosa kecil apalagi besar (ma’sum). Akan tetapi ia bukanlah menjadi seorang nabi. ukuran tingkat atau kualitas pengetahuan serta spiritual seseorang hanya Allah SWT yang tahu. Wahyu Allah ini kemudian disampaikan Rasul kepada ummatnya.[13] Ada kalanya seseorang tersebut menjadi nabi sekaligus pemimpin. Setelah Rasulullah SAW wafat. memimpin. seperti yang terjadi pada diri Rasulullah SAW. memahami tujuan hidupnya. Ketika ada manusia yang tidak sampai pada pengetahuan hakiki dari wahyu Allah tersebut. yang kemudian ini . akan tetapi ia harus diangkat oleh Rasulullah SAW atas perintah Allah SWT. Tugas seorang pemimpin ini adalah mengawasi. begitu juga dengan ayat-ayat Allah SWT. memimpin. dan memperhatikan ummat Islam. apakah seluruh umat Islam sudah mengetahui makna sesungguhnya dari wahyu Allah SWT? Dan apakah ada orang yang mampu memiliki tingkat pengetahuan yang mendekati atau sama dengan Rasulullah SAW? Dan apakah manusia sudah mengetahui dan memahami apa yang menjadi tujuannya di dunia ini dan hendak kemanakah tujuan hidupnya tesebut ? Ketika Rasulullah SAW wafat. karena tidak ada risalah baru yang disampaikan. Pemimpin tersebut harus memiliki tingkat pengetahuan yang sama dengan Rasulullah SAW. maka tidaklah mungkin beliau meninggalkan umatnya tanpa seorang pemimpin.Rasulullah SAW merupakan manusia yang sudah memiliki hubungan dengan seluruh alam semesta ini. yang mana telah beliau didik untuk sampai pada pengetahuan akan realitas alam semesta ini. Untuk itu ia pastilah mengetahui akan makna yang sesungguhnya dari ayat-ayat Allah SWT tersebut. Hal ini dikarenakan. Untuk itu dibutuhkan seorang pemimpin yang diangkat oleh Rasulullah SAW berdasarkan atas perintah Allah SWT. maka Rasulullah SAW bertugas menerangkan makna dari wahyu tersebut sesuai dengan tingkat kwalitas pengetahuan manusia tersebut. Sedangkan pemimpin adalah orang yang membuat pengikutnya mudah untuk mencapai tujuan. dan juga masih ada manusia yang belum mengetahui. serta juga memberikan sarana untuk melintasi jalan dalam mencapai tujuan. Pemimpin tersebut bukanlah dipilih atas kehendak ummat Islam. dan juga realitas dari ayat-ayat Allah SWT. dan memperhatikan ummat Islam. maka pemimpin dalam Islam setelah Rasul wafat haruslah ada.

”[15] Imam Ali Bin Abi Thalib mendefiniskan keadilan sebagai menempatkan sesuatu pada tempatnya yang layak. Ia suatu jalan raya yang melayani semua orang dan setiap orang. Keuntungannya bersifat universal dan serba mencakup. Semakin kuat iman dan kesadaran mereka akan akibat dosa. maka kemungkinan melakukan dosa pada diri yang bersangkutan akan menjadi nol. terbebas dari segala bentuk dosa. politik. Karena pemimpin merupakan patokan atau rujukan umat Islam dalam beribadah setelah Rasul. umat manusia berbeda dalam hal keimanan dan kesadaran mereka akan akibat dari perbuatan dosa. Rasulullah SAW pernah berkata bahwa. sehingga manusia mampu menghayati persamaan antara orang melakukan dosa dengan melemparkan diri dari puncak gunung atau meminum racun. Dengan adanya kondisi telah merasakan cita rasa realitas spiritual. Misalkan tidak ada diskriminasi dengan memberikan hak ekonomi (berdagang) pada yang beragama Islam.[16] Penerapan sifat keadilan oleh seorang pemimpin ini dapat dilihat dari cara ia membagi ruang-ruang ekonomi. Ketika pemimpin tersebut mengetahui realitas dari seluruh alam.[14] Saya memahami apa yang dikatakan Muthahhari derajat keimanan telah mencapai intuitif dan pandangan bathin ini adalah sebagai telah merasakan cita rasa realitas spiritual. Ketika pemimpin memiliki kualitas spiritual yang sama dengan rasul maka pastilah ia terbebas dari segala bentuk dosa. Kondisi ini juga akan berkonsekuensi pada pengetahuannya yang sesuai dengan realitas dari wujud atau pun suatu maujud. Manusia tersebut adalah Imam Ali Bin Abi Thalib. Kemudian seorang pemimpin haruslah juga memiliki sifat adil. Keadilan bak hukum umum yang dapat diterapkan kepada manajemen dari semua urusan masyarakat. . sementara yang beragama kristen tidak diberikan hak ekonomi. Menurut Murtadha Muthahhari. ”Karena keadilanlah. maka pastilah ia tahu akan kualitas dari dunia ini yang sering menjebak manusia. budaya. Oleh sebab itu ia haruslah mengetahui cita rasa spritual yang sesuai dengan realitasnya. Syarat-syarat kepemimpinan dalam Islam Kepemimpinan setelah Rasulullah SAW ini.disampaikan kepada Rasulullah SAW. Pemimpin setelah Rasul harus memiliki kualitas spiritual yang sama dengan Rasul. maka pastilah Rasulullah SAW dan Imam Ali Bin Abi Thalib beserta keturunannya tadi terbebas dari segala bentuk dosa. serta harus memiliki sifat adil. B. tidak terjebak dan menjauhi kenikmatan dunia. memiliki pengetahuan yang sesuai dengan realitas. maka seluruh langit dan bumi ini ada. Untuk menjadi pemimpin. semakin kurang mereka untuk berbuat dosa. dsb pada rakyat yang dipimpinnya. yang kemudian diteruskan oleh keturunannya yang memiliki pengetahuan luas dan suci dari segala dosa. manusia tersebut pastilah harus melewati proses pendidikan oleh Rasulullah SAW. agar ketika menyampaikan sesuatu pesan maka ia paham betul akan makna yang sesungguhnya dari realitas (cakupan) spiritual tersebut. merupakan pemimpin yang memiliki kualitas spiritual yang sama dengan Rasul. Jika derajat keimanan telah mencapai intuitif (pengetahuan yang didapat tanpa melalui proses penalaran) dan pandangan bathin. disamping ia juga memiliki potensi fitrah yang di berikan oleh Allah SWT.

dan ghaibah kubra. maka datanglah zaman Imam. Sistem hidup yang bersumber pada sistem ini disebut sistem Islam. pemegang kedaulatan. pemberi hukum. ada 4 dasar falsafi kepemimpinan kelompok dalam Islam (syi’ah). yang disebut sebagai Imam akhir zaman. Setelah lewat zaman Nabi. Akan tetapi sekarang ini. Supaya hukum dapat menjamin kebahagiaan dan kebaikan manusia. Hanya ada dua pilihan kepemimpinan Allah atau kepemimpinan Thagut. diperlukan pelaksana. Keempat. . filsafat Politik Islam. Jalaluddin Rakhmat dalam buku Yamani yang berjudul. Faqahah. sedangkan sistem yang tidak bersumber pada kepemimpinan Ilahiyah disebut kepemimpinan Jahiliyah. pertama adalah Imam Ali Bin Abi Thalin. Kepemimpinan Islam berdasarkan atas hukum Allah. mencapai derajat mujtahid mutlak yang sanggup melakukan istinbath hukum dari sumber-sumbernya. para faqih diberikan beban menjadi khalifah. Kedua. Allah adalah Malik al-Nas. Manusia harus dipimpin oleh kepemimpinan Ilahiyah. garis Imamah melanjutkan garis Nubuwwah dalam memimpin ummat.” menurut Khomeini. yaitu setelah Ali Ibn Muhammad wafat. kepemimpinan ummat dilanjutkan oleh para imam yang diwasiatkan oleh Rasulullah SAW dan Ahlul Baitnya. yakni ketika dia bersembunyi didunia fisik. dan yang terakhir adalah Muhammad ibn Al-Hasan Al Mahdi Al Muntazhar. ”Seperangkat hukum saja tidak cukup untuk memperbaiki masyarakat. Oleh karena seorang faqih haruslah orang yang lebih tahu tentang hukum Illahi. yang sekarang dalam keadaan gaib. yaitu[17] : Pertama. Setelah zaman Nabi berakhir dengan wafatnya Rasulullah SAW. menyebutkan bahwa secara terperinci seorang faqih harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : a. tetapi juga pelaksana qanun itu sendiri. Nabi telah menegakkan pemerintahan Islam dan Imamah keagamaan sekaligus. Imam Mahdi mengalami dua ghaibah. Allah adalah hakim mutlak seluruh alam semesta dan segala isinya. yakni Imam Ali Bin Abi Thalib. Dimanakah Imam Mahdi tersebut? dan siapakah yang memimpin umat Islam di zaman ini? Untuk menjawab pertanyaan ini. Pada ghaibah kubra inilah kepemimpinan dilanjutkan oleh para faqih. hingga akhir zaman tiba. kepemimpinan manusia yang mewujudkan hakimiah Allah dibumi adalah Nubuwwah. maka ummat Islam sebenarnya memiliki seorang pemimpin. Jumlah Imam ini ada 12 (dua belas). pemilik kekuasaan. ini berlaku bagi agama apapun.. Para Nabi diutus untuk menegakkan keadilan. menyelamatkan masyarakat manusia dari penindasan. Kemudian dilanjutkan oleh beberapa keturunannya. Ketiga.karena alasan agama. Nabi tidak saja menyampaikan Al-qanun Al-Ilahi dalam bentuk kitabullah. Terkecuali memang dalam berdagang orang tersebut melakukan kecurangan maka ia diberikan hukuman. sampai kedatangannya kembali pada akhir zaman. Dengan demikian jelas bahwa setelah Rasulullah SAW wafat. yang mana akhir dari kepemimpinan tersebut adalah Imam Mahdi. dan mewakilkan kepemimpinannya kepada Nawab al-Imam (wakil Imam).

BAB III PENUTUPHukum-hukum Allah adalah suatu keniscayaan yang mengatur ummat manusia. Mudah-mudahan kita selalu mendapatkan bimbingan dan hidayah-Nya. Pustaka Hidayah. Skripsi pada Fakultas Ushuluddin Jurusan Perbandingan Agama UNISBA.[20] Sebelum akhir zaman tiba. mengetahui ilmu yang berkaitan dengan pengaturan masyarakat. Jakarta 2005 · Murtadha Muthahhari. Imamh dan Khilafah dalam Tinjauan Syar’i. maka di butuhkan seorang pemimpin yang memiliki pengetahuan luas tentang hukum Allah dan keadilan. cerdas. maka kepemimpinan Islam haruslah di pegang oleh seorang ulama (faqih) yang memenuhi syarat-syarat. dan memiliki pola hidup yang sederhana. Gema Insani Press. Hukum-hukum Allah ditegakkan agar keadilan dan kebenaran dapat terjamah oleh orang-orang yang tertindas dan terdzalimi. Bandung. Para Pemimpin Teladan.2002 . matang secara kejiwaan dan ruhani. Kafa’ah : memiliki kemampuan untuk memimpin ummat. Seorang fuqaha sebenarnya adalah wujud dari hukum Islam itu sendiri. yang membantu manusia dalam mencapai realitas kebahagiaan. Jakarta. Jakarta. 2003 · Ibrahim Amini. akhlak yang mulia. Al-huda. Manusia harus melewati proses-proses pengujian baik secara intelektual maupun spiritual. Hal ini ditunjukkan dengan sifat istiqamah. DAFTAR PUSTAKA · Andi Anas. Konsep Wilayah Al-Faqih menurut Imam Khomeini. kemampuan mengatur (mengorganisasi). Bandung. ’adalah : memperlihatkan ketinggian kepribadian. matang secara kejiwaan dan ruhani.Sekarang ini untuk terjaganya hukum-hukum Illahiah yang mengatur kehidupan umat manusia dan masyarakat.b. Suatu Tinjauan Sosiologis. al shalah. Intinya pemimpin haruslah wujud dari hukum Islam itu. Ummah dan Imamah.[19] Dengan ini terlihat bahwa seorang fuqaha itu tidaklah boleh untuk berbuat salah. Tidak sembarang manusia dapat menjadi faqih (ulama). Lentera. 1989 · Jalaluddin Rakhmat dalam Yamani. ada dua syarat mendasar lainnya bagi seorang fuqaha yaitu pengetahuan akan hukum dan keadilan. selain persyaratan umum seperti kecerdasan dan kemampuan mengatur (mengorganisasi).1997 · Haidar Bagir dalam Ali Syari’ati. Filsafat politik Islam antara Al-Farabi dan Khomeini.[18] Menurut Khomeini. 2006 · Dr Ali As-Salus. c. dan bersih dari watak buruk. dan tadayyun. Mizan. Manusia dan Alam Semesta. Insya Allah.

Manusia dan Alam Semesta. 2002.2002. Ahsin Muhammad. Lentera. hal 90.· Murtadha Muthahhari. Sistem Pemerintahan Islam. Al-huda. terj. [12] Ibid [13] Murtadha Muthahhari. hlm 21 [10] Murtadha Muthahhari. Pustaka Hidayah 1991 · Murtadha Muthahhari. Pustaka Zahra. hlm 34. hlm 432-433. hlm16. Bandung. .hlm 181-182. Jakarta. hlm 116. Ummah dan Imamah. Jakarta 2005. Jakarta 2005. hlm 18 [4] Ibid.Balaghah. Jakarta 1997. [5] Haidar Bagir dalam Ali Syari’ati. Konsep Wilayah Al-Faqih menurut Imam Khomeini.Balaghah. Para Pemimpin Teladan. jilid 1 hal 58 kitab Fadhlu al ilm. Manusia dan Alam Semesta. Pustaka Hidayah 1991. Jakarta. Gema Insani Press. Imamh dan Khilafah dalam Tinjauan Syar’i. [7] Murtadha Muthahhari. [9] Ibrahim Amini. bab al-musta ‘kilubi ilmihi wal mubahy bihi.. Al-Huda. Jakarta. Bandung. Al-huda. Imamah dan Khilafah Dalam Tinjauan Syar’i. Jakarta. Lentera. 2006. Jakarta.2002 · Imam Khomeini. Tema-tema pokok Nahj al. Falsafah Kenabian. Ali As-Salus. [14] Murtadha Muthahhari. Jakarta. Manusia dan Alam Semesta. Al-Huda. Skripsi pada Fakultas Ushuluddin Jurusan Perbandingan Agama UNISBA. Hlm 16-17. Bandung. Para Pemimpin Teladan. [3] Ibrahim Amini. hlm 423 [2] Al-Milal wan-Nihal I/24 atau lihat Dr Ali As-Salus. hlm 467 [8] Dr. Suatu Tinjauan Sosiologis.hlm 106-107. Manusia dan Alam Semesta. Konsep Wilayah Al-Faqih menurut Imam Khomeini. Sistem Pemerintahan Islam. Falsafah Kenabian. Lentera. Jakarta. 2006. [6] Ushul Kafi. Tema-tema pokok Nahj al. Jakarta. 1989. terj. Pustaka Hidayah. Lentera. [11] Andi Anas.Gema Insani Press. hlm12 [15] Andi Anas. hlm 29 [16] Murtadha Muthahhari. hadis 5. Skripsi pada Fakultas Ushuluddin Jurusan Perbandingan Agama UNISBA. Ahsin Muhammad. lihat Imam Khomeini. [1] Murtadha Muthahhari.

Categories: Tulisan Orang Komentar (69) Lacak Balik (0) Tinggalkan Komentar Lacak balik 1. Bandung. hlm 40-41 [18] Jalaluddin Rakhmat dalam Yamani. Filsafat politik Islam antara Al-Farabi dan Khomeini. [19] Imam Khomeini.[17] Andi Anas. 2006. hlm 17. 2002. Pustaka Zahra. hlm 4 *) Penulis adalah MAHASISWA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG Rate this: 2 Votes Share this post: • • • • • • Facebook28 Twitter Surat elektronik Digg Cetak Like this: Suka Be the first to like this post. Konsep Wilayah Al-Faqih menurut Imam Khomeini. Jakarta. Skripsi pada Fakultas Ushuluddin Jurusan Perbandingan Agama UNISBA. Konsep Wilayah Al-Faqih menurut Imam Khomeini. 2006. Mizan. Skripsi pada Fakultas Ushuluddin Jurusan Perbandingan Agama UNISBA. oday . hlm 63 [20] Andi Anas. 2003. Sistem Pemerintahan Islam.

2010 pada 4:53 am | #2 Balas | Kutipan ana setuju bangeeeet ma ente. seorang pemimpin di zaman sekarang kudu wajib memiliki sifat-sifat seperti yang telah dicantumkan dalam Al-quran. habibah (bhoel) Februari 13.jangan sifat duniawi aja x.Oktober 13. 2009 pada 7:26 pm | #1 Balas | Kutipan asslmkm mas numpang ngopy terimaksih wasalam 0 0 Rate This 2. 0 0 Rate This .

2010 pada 4:00 am | #3 Balas | Kutipan subhanallah. Gettar..Djuanda – Bogor 1 0 ... GETTAR CRISTA PRAHARA April 21. 2010 pada 2:45 am | #4 Balas | Kutipan Bung. sepakat. chrysanthee Maret 25.. Buat Diskusi … !!! Thk...3. 0 0 Rate This 4. Fisip : Univ. ana Minta ya Tulisan Ente… ntar ana Print N ana Bagi Dosen n Teman2 ….

thanks 0 0 Rate This 6. sulipan Juni 7. mohon ijin saya ngopi ya. 2010 pada 7:15 am | #5 Balas | Kutipan Tulisannya bagus.Rate This 5. aku copy yah untuk bahan tesis…. 0 0 . 2010 pada 11:47 am | #6 Balas | Kutipan makasih materinya. Ana Mei 15.

metty mustika sari Juli 21.Rate This 7. ridho Juli 12. 2010 pada 5:22 am | #8 Balas | Kutipan ASLAMUALAIKUM…MAS MTA IZNX ANA COPY TULISANX JZKH KHAIR 1 0 . 2010 pada 9:16 am | #7 Balas | Kutipan tulisannya bagus kanda 0 0 Rate This 8.

abuanjeli Agustus 4. 0 0 Rate This 9.Rate This o ressay Juli 21. Makasih. 2010 pada 9:27 am | #10 Balas | Kutipan Assalamu alaikum. 0 0 . Artikel yang menarik… permisi ikut ngopy yaa. 2010 pada 10:50 am | #9 Balas | Kutipan Silakan asal tidak plagiat.

izin ngopy ya mas 0 0 . 2010 pada 12:54 pm | #12 Balas | Kutipan artkelnya bagus nd cocok banget nih dengan kebutuhan ceramah saya. 2010 pada 11:20 am | #11 Balas | Kutipan silakan… 0 0 Rate This 10. Cece Oktober 22.Rate This o ressay Agustus 4.

izin copy tulisannya untuk tugas. 2010 pada 7:20 pm | #13 Balas | Kutipan Silakan saja. 2010 pada 7:28 pm | #14 Balas | Kutipan Assalamualaikum.Rate This o ressay Oktober 26. Terima kasih. 0 0 . Selena Oktober 23. 0 0 Rate This 11.

utk referensi tugas mata kuliah agama. he he he 0 . 0 0 Rate This 12. 2010 pada 7:24 pm | #15 Balas | Kutipan Silakan dicopy. makasih. 2010 pada 8:55 am | #16 Balas | Kutipan wah numpang ngopy y mas.Rate This o ressay Oktober 26.. s4lm4n f4r1s November 20.

. 2011 pada 6:17 am | #17 Balas | Kutipan wow. 2011 pada 5:27 pm | #18 Balas | Kutipan silakan saja mbak.0 Rate This 13. bagusss tulisannya… ijin ngopi ya mas buat diskusi mata kuliah agama. terima kasi. 0 .. 0 0 Rate This o ressay Januari 9. Nanana Januari 8.

andre September 18. aq minta y! Aq ngopi artikelx. halim Juli 9. 2011 pada 6:43 am | #19 Balas | Kutipan TERIMAKASIH MAKALAH ANDA SANGAN BAGUS MOGA BERMANFAAT 0 0 Rate This 15. Mkch 0 .0 Rate This 14. 2011 pada 1:46 am | #20 Balas | Kutipan MAs.

2011 pada 1:40 pm | #21 Balas | Kutipan mas boleh minta data pdfnya gak tentang konsep wilayatul faqih….co. indonesia. adin Oktober 5.com 0 0 Rate This 17.id . arab tidak apa-apa tlong kirim ke alamat adin. arsyastudioarchhttp://ressay.inggris.0 Rate This 16. b.com/2007/07/28/kepemimpinan-dalammasyarakat-islam/#comment-form-load-service:Facebook Oktober 25.mujtaba461@gmail.wordpress. 2011 pada 2:07 pm | #22 Balas | Kutipan mas boelh minta data tentang kepemimpinan dlm masryakat multikultural klo boleh kirim ya ronny_ykctp@yahoo.

qurotunn Januari 27. 2012 pada 3:54 am | #24 Balas | Kutipan thanks sangat membantuuu . 0 0 Rate This 19..0 0 Rate This 18.. 2012 pada 3:12 am | #23 Balas | Kutipan ijin ngopy mass. puput Februari 10.

Guru Besar Muslimin Era Modern umpan RSS • • • • • • • • Twitter Kupersembahkan kepada: Yang menciptakanku Yang memberi hidayahku Yang memberi makananku Yang memberi minumanku Yang menyembuhkan penyakitku Yang mematikanku Yang kuharap akan memaafkan kesalahanku pada hari pembalasan (QS.0 0 Rate This Comment pages « Sebelumnya 1 2 3 Tinggalkan Balasan Enter your comment here...26:78-82) . Imam Ali as dan Kekuasaan anti-Kemewahan Muthahhari.

Sejauh Manakah? Jaminan Kebebasan Beragama Tegas Dalam Konstitusi Fakta Persatuan Sunni Syi’ah di Irak .Kompetisi Kategori Tulisan • • • • • • • • • • • • Antivirus Aplikasi HP Doa Gambar Hikmah Lagu News Nyante Tanggapan Tips dan Trik Tulisan Orang Tulisanku Tulisan Terbaru • • • • Pengakuan Terhadap 6 Agama Resmi adalah Inkonstitusional Kebebasan Beragama Dapat Dibatasi.

• • • • • • • • • • • Menelisik Syiah Agama dan Kekerasan Busya Syafii: Kebenaran Bukanlah Milik Individu PBNU Serukan Pegang Teguh Nilai Keberagaman E-Money Dalam Kacamata Plus-Minus 10 Tahun Kok Roboh? Indonesia vs Malaysia. Tak Hanya Sekedar Pertandingan Final Belajar Pengorbanan dan Kesabaran Survei LSI Bantah Dikotomi Tua Muda Harian The Independent Sebut Makkah Hanya untuk Orang Kaya dan ‘Mirip Vegas’ Jangan Biarkan Pencurian Pulsa Komentar Terbaru aswin on E-Money Dalam Kacamata Pl… idhe novian on Guestbook Fikri on EraMuslim…Aneh… MURIDLO.I / PE… on VIDEO EKSEKUSI SADDAM HUS… aswin faisal on Syahadat Syi’ah Tiga… Mesin Cutting Sticke… on Pengakuan Terhadap 6 Agama Res… Sepatu Kulit on Pengakuan Terhadap 6 Agama Res… cenlaid on Pengakuan Terhadap 6 Agama Res… ijabi on Seputar “Kesalahan Jalal… kangkung on Seputar “Kesalahan Jalal… Sandal Kulit on Pengakuan Terhadap 6 Agama Res… ressay on Catatan Kecil untuk Republika:… . M.Pd.

. ATAU: Hubungi Saya Email Ressay: cut_yasser@yahoo.com YM ID: cut_yasser Tambahkan aku sebagai teman Facebook mu. Tambahkan Plurk ku sebagai temanmu..irsan on Catatan Kecil untuk Republika:… Cecep Romli on Pengantar pada Studi Komparati… Dipo on Pengakuan Terhadap 6 Agama Res… Langganan Update Tulisan Klik disini untuk berlangganan tulisan terbaru via email. Gratis.. Follow me at Tweeter ..

Jurnalis AS Diskors Islam Muhammadi • Sebuah galat telah terjadi. Kajian Timur Tengah • • • Undangan: Tadarusan Buku di Museum Konferensi Asia Afrika Kata-Kata Bijak yang Koplak (Dian Jatikusuma) Gaga dan Logika Gagap Islam Protes – Islam Proletar • • • Topeng Agama Siti Fadilah Supari Kecipratan Popularitas Ahmadinejad? Wawancara dengan Lady Gagah East Lam • • • Sekilas tntg Sistem Pendidikan di Timur Tengah Dialog Imam Ja’far Shadiq dan Ateis Empat Jenis Hubungan Pasutri Gencar Ahlulbait Nusantara • • • • • Menara Sufyani di Jantung Mekah! (Part 2) Menara Sufyani di Jantung Mekah! (Part 1) Khadafi Tewas Tragis dan Sempat Memohon Agar Tidak Ditembak! Saat Ini Mekah Lebih Mirip Las Vegas! Pangeran Terkaya di Saudi Dituduh Memperkosa Model Spanyol! Menjawab Tuduhan Salafi Wahabi • • Ahlu Sunnah Versus Ahli Bid’ah! Syi’ah Dan Abdullah ibn Saba’ (Bagian 7) .Blog Berita Alternatif • • • Revolusi "Jilid II" di Mesir Buat Pusing Obama dan Erdogan Yerusalem. umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti. Antara Mitos dan Fakta Kritis kepada Pangeran Saudi.

010.• Syi’ah Dan Abdullah ibn Saba’ (Bagian 6) Analisis Pencari Kebenaran • • • Daftar Kedunguan Troll Yang Pendengki Takhrij Hadis Kisa’ Dengan Lafaz “Balaa Insyaa Allah” Apakah Jahjah Al Ghifariy Termasuk Sahabat Nabi? Arsip User Online Visitor • 1.981 hits Prestasi Komunitas .

. Ikuti Follow “Inilah Jalanku” Get every new post delivered to your Inbox.com Puncak WordPress Blog pada WordPress. Tema: INove oleh NeoEase.Login Admin • • • • • Daftar Masuk log RSS Entri RSS Komentar WordPress.com. Bergabunglah dengan 80 pengikut lainnya.

com .Enter your Powered by WordPress.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful