Cerpen Kocak

Hari ini, Kito harus pergi ke sekolah naik sepeda karena mobil ayahnya mogok. Di jalan, ia menemukan beberapa lembar kertas. “Hah, apa ini? Kok banyak kertas berserakan. Wow! Ini kan cerpen. Ya, ampun! T’rimakasih Tuhan! Engkau memang Maha Pemurah. Kebetulan aku menemukan cerpen ini. Hari ini kan aku harus mengumpulkan cerpen tapi aku belum membuatnya. Tapi cerpen ini punya siapa, ya? Ah, aku nggak peduli cerpen ini punya siapa. Yang penting kan aku mengumpulkan cerpen dan cerpen ini yang akan aku kumpulkan.” Cerpen itu adalah cerpen kocak. Cerpen yang menceritakan hal-hal yang lucu. Rupanya, cerpen ini membuat Kito bergembira dua kali lipat. Karena selain bisa mengumpulkan cerpen, cerpen yang ia temukan itu sangat bagus dan kocak. Ia yakin pasti cerpennya yang terbaik. “Selamat pagi anak-anak!” Sapa Ibu Guru. “Selamat pagi, Bu!” Sahut anak-anak. “Anak-anak, kumpulkan cerpen kalian di meja guru! Nilainya akan Ibu masukkan ke dalam nilai ulangan harian.” “Baik, Bu!” Semua anak mengumpulkan cerpennya masing-masing. Demikian juga dengan Kito. Namun, Kito tampaknya sangat bangga dengan cerpennya karena ia yakin pasti akan mendapat nilai paling bagus. Ia juga yakin ibu guru pasti akan memujinya dan mengira bahwa Kito sudah berubah. Sebab selama ini Kito jarang mengumpulkan tugas. “Wah, kamu mengumpulkan tugas juga, Kito? Kamu sudah berubah, ya?” Tanya Ibu Guru. “Ah, iya Bu! Saya nggak mau menjadi murid yang paling malas di sekolah ini selamanya. Saya kan malu, Bu!” Jawab Kito. “Syukurlah kalau kamu sudah sadar, Nak!” Beberapa saat kemudian, giliran cerpen Kito yang diperiksa oleh ibu guru. “Kito, kemari sebentar!” Panggil Ibu Guru. “Ada apa, Bu? Cerpen saya bagus ya, Bu!” Puji Kito kepada diriny sendiri. “”Iya, cerpen kamu memang bagus. Tapi, cerpen ini bukan karya kamu kan?” “Ibu kok tahu, sih?”

Bu?” “Barangkali. cerpen ini difoto copy oleh seseorang. Cerpen ini kan sudah pernah dimuat di sebuah majalah anak-anak. Lagipula.” “Hah. nggak mungkin Bu? Saya menemukan cerpen ini di tengah jalan kok. Saat membawa pulang.“Ya jelas Ibu tahu. Cerpen ini sangat terkenal kocaknya. mengapa kamu tidak membuat cerpen?” “Ya ampun! Dasar cerpen sialan!” . cerpen ini terjatuh di tengah jalan lalu kamu temukan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful