Astronomi, yang secara etimologi berarti “ilmu bintang” (dari Yunani: άστρο, + νόμος), adalah ilmu yang melibatkan

pengamatan dan penjelasan kejadian yang terjadi di luar Bumi dan atmosfernya. Ilmu ini mempelajari asal-usul, evolusi, sifat fisik dan kimiawi benda-benda yang bisa dilihat di langit (dan di luar Bumi), juga proses yang melibatkan mereka.

Selama ini kita mengenal ilmu astronomi secara universal, antara lain untuk sistem navigasi, pertanian, iklim, cuaca, bahkan zodiak yang sering kita baca di majalah itu. Tapi tahukah kalian bahwa masyarakat indonesia sudah lama mengenal ilmu astronomi itu?
Seperti kebudayaan-kebudayaan lain di dunia, masyarakat asli Indonesia sudah sejak lama menaruh perhatian pada langit. Mereka mengamati langit dan menerapkan apa yang mereka dapatkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu contohnya digunakan dalam pelayaran. Nenek moyang kita yang terkenal di bidang pelayaran itu menerapkan sistem navigasi berdasarkan astronomi tradisional.

Zaman dahulu, nenek moyang kita menggunakan astronomi tradisional ini dalam sistem pertanian. Dalam masyarakat Jawa misalnya dikenal pranatamangsa, yaitu peramalan musim berdasarkan gejala-gejala alam, dan umumnya berhubungan dengan tata letak bintang di langit.

Lintang Waluku adalah sebutan masyarakat Jawa tradisional untuk menyebut tiga bintang dalam sabuk Orion dan digunakan sebagai pertanda dimulainya masa tanam. Gubuk Penceng adalah nama lain untuk rasi Salib Selatan dan digunakan oleh para nelayan Jawa tradisional dalam menentukan arah selatanJoko Belek adalah sebutan untuk Planet Mars, sementara lintang kemukus adalah sebutan untuk komet. Sebuah bentangan nebula raksasa dengan fitur gelap di tengahnya disebut sebagai Bimasakti. Nama-nama asli daerah yang digunakan membuktikan bahwa nenek moyang kita sudah mengenal astronomi sejak lama.

Ada pula Tak hanya di bidang pertanian dan pelayaran, nenek moyang kita juga menggunakan astronomi tradisional dalam sistem per-tanggalan. Kearifan tradisional ini banyak tersebar di pelosok nusantara,

pakem-nya berupa kalender tradisional yang bersifat fenologis yaitu dikaitkan dengan perubahan perilaku tanaman, binatang, dan gejala alam lainnya. Contoh beberapa kalender tradisional nusantara antara lain Kala Sunda (Jawa Barat),Pranata Mangsa (Jawa Tengah), Tike Lime (Lombok), Dayak Ngaju (KalimantanTengah), Lamaholot (Flores), Tetemasa (Madura), Katiko(Minangkabau), Keunong (Aceh), Wariga (Bali), Pananrang (Makassar), dan masih banyak lagi. Mirisnya, kearifan budaya tradisional ini telah banyak dilupakan oleh masyarakat Indonesia.

Masyarakat modern yang berpaham instan menganggap bahwa kearifan tradisional adalah sesuatu yang dianggapnya sudah kuno, tidak cocok lagi dengan situasi dan kondisi sekarang, tidak ilmiah, dan pantas ditinggalkan karena telah mengarah kepada mitos dan primbon. Padahal tak semua sistem astronomi tradisional itu tidak bisa lagi dipakai sekarang. Bedanya adalah karena pengaruh perubahan iklim yang terjadi di dunia saat ini.

Musim hujan akan membawa berkah. Perubahan iklim. Dengan kearifan tradisional. karena temperatur menghangat dan kelembaban udara cukup moderat. global warming. musim hujan belum juga datang. malah sawah-sawah sedang mengalami kekeringan dan puso. . atau apapun itu akan bisa teratasi jika kita tetap menjaga lingkungan dan melestarikan budaya nenek moyang kita dalam menjaga alam. Saat ini ketika bintang Waluku dan Guru Tani menampakkan diri di langit. Contohnya daun-daun yang berguguran dan pohon meranggas sebagai pertanda berakhirnya musim hujan. akan banyak hal yang dapat kita perbaiki. Padahal pada masa nenek moyang kita dengan hanya melihat bintang-bintang ini kita akan tahu masa panen yang cocok. dan musim kemarau pun akan membawa berkah. Salah satunya adalah dengan cara pembuktian ilmiah terhadap kearifan tradisional kepada masyarakat awam. Ketika bintang Kelapa Doyong dan Gubuk Penceng terlihat di langit. Telur cengkerik atau jangkrik (Gryllus assimilis) menetas di awal musim kemarau. Oleh karena itu kita membutuhkan beberapa langkah untuk tetap melestarikan budaya yang diturunkan nenek moyang ini. karena curah hujan lebih kecil dari penguapan atau evapotranspirasi.Contohnya yaitu dalam sistem pertanian yang menggunakan astronomi tradisional. Tentunya masih banyak lagi pengetahuan modern yang bisa digabungkan dengan kearifan tradisional sebagai terobosan dalam rangka sosialisasi adaptasi dan mitigasi menghadapi dampak perubahan iklim.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful