P. 1
anastesi

anastesi

|Views: 54|Likes:
Published by Dewangga Leonita

More info:

Published by: Dewangga Leonita on Aug 26, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/12/2013

pdf

text

original

LAPORAN KASUS

A. ANAMNESIS I. Identitas Pasien  Nama  Jenis Kelamin  Umur  Alamat  Agama  Pekerjaan  No.RM  Tanggal Operasi : Tn. H : Laki-laki : 53 tahun : Sukoharjo : Islam : Petani : 228xxx : 14 Agustus 2013

II.

Keluhan Utama Terdapat benjolan di lipatan paha kanan

III.

Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang ke RSUD Sukoharjo pada tanggal 12 Agustus 2013 dengan keluhan benjolan di lipatan paha kanan. keluhan ini dirasakan sejak 5 tahun yang lalu, awalnya benjolan kecil dan bisa dimasukan dengan menggunakan tangan. Biasanya benjolan muncul saat bekerja/ saat angkat-angkat barang berat. Saat benjolan muncul terassa nyeri “cengring-cengring” dan nyeri terasa berkurang saat istirahat/berbaring. Benjolan semakin lama, semakin membesar tetapi masih dapat dimasukkan.Sejak 4 hari yang lalu benjolan semakin sering keluar disertai dengan nyeri “cengkring-cengkring”. Pasien tidak mengeluhkan adanya gangguan makan, kemih, BAB serta tidak demam.

IV.

Riwayat Penyakit Dahulu  Riwayat darah tinggi : disangkal  Riwayat kencing manis : disangkal  Riwayat asma  Riwayatalergi : disangkal  Riwayat penyakit jantung : disangkal : disangkal  Riwayat penyakit hati : disangkal  Riwayat penyakit ginjal : disangkal  Riwayat operasi : disangkal

V. Riwayat Penyakit keluarga  Riwayat darah tinggi  Riwayat kencing manis  Riwayat asma  Riwayatalergi  Riwayat penyakit hati  Riwayat penyakit ginjal : disangkal : disangkal : disangkal

 Riwayat penyakit jantung : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal

VI.

Riwayat Obat-obatan yang pernah atau sedang digunakan  Obat Kortikosteroid  Obat antihipertensi  Obat antidiabetik  Obat antibiotk : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal

VII. Kebiasaaan sehari-hari  Minum jamu  Merokok  Konsumsi alkohol : disangkal : disangkal : disangkal

Status Generalis  Keadaan umum  Gizi  Kesadaran  Berat badan 2. PEMERIKSAAN FISIK 1.4 ºC : sedang : kesan cukup : compos mentis : 56 kg o Refleks cahaya : (+/+) normal . beruban : 130/60 mmHg : 94 x/menit : 24 x/menit : 36. isokor : normocephal : hitam.VIII. Vital sign  TD  N  RR  S 3. Anamnesis Sistem  Sistem serebrospinal : kadang pusing  Sistem respirasi  Sistem digestivus  Sistem urogenital  Sistem integumentum : tidak batuk. tidaksesak nafas  Sistem kardiovaskuler : nyeri dada tidak ada : tidak mual. BAB normal : BAK lancar  Sistem muskuloskeletal: tidak ada hambatan dalam bergerak : suhu raba hangat B. Status Lokalis a) Kepala  Bentuk  Rambut  Mata o Palpebra o Konjungtiva o Sklera o Pupil : edema -/: anemis -/: ikterik -/: bulat. tidak muntah. tidak pilek. distribusi merata.

simetris  Auskultasi : bising usus (+) normal : massa (-). ketinggalan gerak (-). Mulut o Gigi palsu o Gigi tonggos o Trismus : tidak ditemukan : tidak ditemukan : tidak ditemukan o Rahang bawah maju : tidak ditemukan b) Leher  KGB  Kelenjar thyroid c) Thoraks  Paru o Inspeksi : simetris. hepar dan lien tidak : iktus kordis tidak terlihat : iktus kordis tidak teraba : batas jantung dalam batas normal : bunyi jantung I-II regular. lebih rendah dari dada. murmur (-) : tidak ada pembesaran : tidak ada pembesaran . deformitas (-) o Palpasi : fremitus taktil kanan sama dengan kiri o Perkusi : sonor di seluruh lapangan paru o Auskultasi : suara nafas vesikuler. supel. ronkhi (-). NT (+). wheezing (-)  Jantung o Inspeksi o Palpasi o Perkusi o Auskultasi d) Abdomen  Inspeksi  Palpasi teraba  Perkusi e) Ekstremitas  Akral  Sianosis : hangat : (-) : timpani : tampak cekung.

1 Mg/dl UI UI Mg/dl Mg/dl % % 20 – 40 2–8 Negative 70 – 120 0-25 0-29 10-50 0. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan Hb Eritrosit Hematokrit Indeks Eritrosit MCV MCH MCHC Lekosit Trombosit Gol darah Hitung jenis leukosit Limfosit Monosit HbSAg Gula darah sewaktu SGOT SGPT Ureum Creatinin 8 4 Negative 56 50 29 36. C.0 37.72 1.0 – 14.6 5.1 91 30 34 9. Tidak nyeri tekan.0 4.4.69 52 Satuan Gr/dl 10 uL % 6 Nilai Normal 12. Pemeriksaan EKG Dalam batas normal D.0 150 – 400 b. benjolan masih dapat dimasukkan.43 82 – 92 27 – 31 32 – 36 5. DIAGNOSIS Hernia Inguinalis Lateralis Dextra .0 – 5. PEMERIKSAAN TAMBAHAN a.6-1.6 158 O Pf Pg % 10 uL 10 uL 3 3 Hasil 14.0 – 10. Benjolan sebesar 6x5x4 cm. StatusLokalis Regio Inguinalis Dextra Terdapat benjolan saat pasien berdiri di inguinal dextra.

00C. nadi. TINDAKAN ANESTESI 1.   Dilakukan visite preop dan dilakukan pemeriksaan vital sign : TD 130/80 mmHg. diukur kembali tekanan darah.45 : Pasien masuk ke ruang operasi. PENATALAKSANAAN Terapi operatif G.00 wib. Dilakukan pemeriksaan fisik dan status mental pasien untuk menentukan ASA dan rencana obat-obatan dan teknik anestesi yang akan dilakukan. Melengkapi pemeriksaan penunjang (laboratorium. F. mulai puasa jam 23. diposisikan di atas meja operasi. . KESIMPULAN Berdasarkan status fisik pasien preanestesia. memberi tahu pasien tentang prosedur yang akan dilakukan dan kemungkinan resiko yang akan terjadi.    Pasien diberi tahu untuk puasa (makan dan minum) lebih 6 jam pada malam sebelum pelaksanaan operasi. S 36. Preloading cairan:     Cairan yang digunakan: Ringer Laktat 20 tpm. pengganti cairan puasa: 625 ml/8jam : Herniotomy 2. Kebutuhan cairan 24 jam dewasa = 30-35 ml/ kgBB/ 24jam = 30 ml x 50 kg = 1500ml/24jam. ASA II. EKG dll). dan saturasi O2. N88x/menit. Pasien puasa 8 jam. Pre-operatif  Informed Consent/persetujuan tindakan anestesi dan operasi. Peri-operatif Pukul 8. ACC operasi dengan anestesi spinal.E. RR 24x/menit. pasien tersebut diklasifikasikan dalam ASA II (pasien dengan penyakit sistemik ringansedang dan tidak mengganggu aktivitas sehari-hari). respirasi rate. pada pasien ini di rencanakan general anestesi dengan intubasi.

Jarum yang digunakan adalah jarum spinal no.TD = 130/ 80 mmHg. respirasi rate. nadi. Pukul 09. tekanan darah.58) 5 menit (pukul 09.  Induksi 08.15) 20 menit (pukul 09. Dilakukan anestesi spinal.20) 25 menit 115/ 76 96 26 99 116/ 75 96 26 98 117/ 73 103 26 99 118/ 72 98 26 99 118/ 70 109 26 99 100 26 99 130/ 80 Nadi (x/ menit) 90 Respirasi rate (x/ menit) 24 SpO2 (%) 99 .10) 15 menit (pukul 09. dan saturasi O2 senantiasa dikontrol setiap 5 menit.05) 10 menit (pukul 09. Setelah LCS keluar dari jarum selanjutnya diinjeksi Lidodex 100 mg dan Catapres 75 mg. RR = 24x/ menit.  Maintenance Selama tindakan anestesi berlangsung.58 : Pasien duduk sedikit membungkuk dengan posisi kepala fleksi.25 dan selanjutnya anestesi spinal dilakukan pada sub aracnoid kanalis spinalis antara lumbal 3-4. SpO2 = 99%. Pasien dimaintenance dengan O2 2 liter/ menit Waktu Tekanan darah (mmHg) Preoperasi (pukul 08. Selanjutnya dilakukan tindakan aseptic pada daerah yang akan di injeksi. HR = 90x/ menit.05: Operasi dilakukan.45) Setelah induksi 130/ 76 (pukul 08.

05 : pasien diinjeksi Ondancentron 1 amp (4mg) Operasi berlangsung 30 menit Pukul 09. Post-operatif Selesai operasi pasien dipindahkan ke recovery room. dan saturasi O2   Resusitasicairanperioperatif : Stresoperasisedang= 6 ml/ kgBB/ jam = 6 ml x 50 kg = 300 ml/ jam. tidak perlu dilakukan transfusi. sehinggaperdarahan yang terjadisebanyak± 200 ml. Selamaoperasiberlangsung.       Pukul 09. respirasi rate.33 : operasi selesai 3.tanda kelemahan pada pangkal paha dalam posisi supine) = 4 Keterangan: Bromage Score ≥3 boleh dipindahkan ke bangsal dari recovery room. Monitoring keadaan umumpasien dengan Bromage score: Fleksi penuh tungkai (ada tanda. . dapatterlihatdaribanyaknyakassa terjadiperdarahan yang yang digunakan.05 : pasien diinjeksi Ketorolac 1 amp (30mg) Pukul 09.30) 35 menit (pukul 09.25) 30 menit (pukul 09. cukup diganti dengan cairan kristaloid.33) 116/73 94 26 99 117/72 98 26 99 Tabel perubahan tekanan darah. Perdarahan perioperatif < 20%.(pukul 09. padaoperasiiniterlihat 20 kassa yang tidakpenuhdengandarah (1 kasa ± 10 ml).

003. Anestetik lokal dengan berat jenis lebih kecil dari LCS disebut hipobarik. dengan hambat impuls syaraf sensorik. Berbagai usaha dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan memperpanjang durasi anestesi spinal. Salah satunya dengan menambahkan . Konsentrasi bupivakain 0. Selain lidokain juga sering digunakan.5% bersifat hiperbarik dengan berat jenis 1.TINJAUAN PUSTAKA A. mulai kerja yang cepat. yaitu 4-7 kali dosis yang dapat menyebabkan kejang tonik klonik. Anestesi lokal dengan berat jenis sama dengan LCS disebut isobaric Anestetik lokal dengan berat jenis lebih besar dari LCS disebut hiperbarik.5% hiperbarik adalah obat anestesi lokal yang banyak digunakan untuk anestesi spinal. tidak neurotoksik dan pemulihan blockade motorik yang cepat pascaoperasi sehingga mobilisasi lebih cepat dapat dilakukan dan resiko toksisitas sistemik yang rendah. dosisnya 20-50 mg (1-2m1). Anestetik lokal yang sering digunakan adalah jenis hiperbarik diperoleh dengan mencampur anestetik lokal dengan dekstrosa.jenis LCS pada suhu 370C adalah 1. Fungsi motorik dapat terpengaruh sebagian/seluruhnya. Sedangkan kejadian kardiotoksisitas membutuhkan konsentrasi yang lebih tinggi didalam plasma. Obat-obat anestesi lokal yang digunakan pada pembedahan harus memenuhi syarat-syarat yaitu blockade sensorik dan motorik yang adekuat. Manifestasi yang pertama kali muncul adalah toksisitas terhadap sistem saraf pusat seperti kejang tonik klonik. Obat anestetik yang sering digunakan adalah lidokain 5% dalam dekstrosa 7. Bupivakain dapat menyebabkan toksisitas sistemik karena kecelakaan penyuntikan intravena anestetika lokal atau absorbsi sistemik dari rongga epidural pada teknik anestesi epidural. Berat.008. Anestesi Regional Anestesi regional adalah hambatan impuls nyeri suatu bagian tubuh sementara.003-1. bupivakain adalah anestesi lokal golongan amino amida yang telah lama dan banyak digunakan untuk anestesi regional.

intradural. ketamin. 1. nausea dan vomitus. Anestesi Spinal Anestesi spinal (intratekal. Chlor ethyl)  Intravenous Regional Anesthesia : Injeksi obat anestesi lokal intravena ke ekstremitas atas / bawah lalu dilakukan isolasi bagian tersebut dengan torniquet (BIER BLOCK) 2. yang terpenting diantaranya yaitu pruritu. subdural. klonidin dan neostigmin dari anestesi sering spinal. retensio urin. depresi pernapasan.Tempat penusukan : L2-3 atau L3-4 3. Anestesi spinal/ subaraknoid juga disebut sebagai analgesi/blok spinal intradural atau blok intratekal.obat-obat adjuvan pada anestesi lokal. Walaupun demikian. penggunaannya masih terbatas karena dijumpainya berbagai efek samping. ditambahkan Penambahan untuk opioid memperpanjang durasi memperpanjang lama kerja anestesi spinal tanpa menunda pulih kembali. gangguan hemodinamik. dan klonidin meningkatkan kualitas analgesia dan mengurangi kebutuhan obat analgesik postoperasi. subaraknoid) adalah anestesi regional dengan tindakan penyuntikan obat anestetik lokal ke dalam ruang subaraknoid. nistagmus. Ketinggian dermatom anestesi regional sesuai pembedahan  Tungakai bawah : thorax 12  Pelvis : thorax 10  Uterus-vagina : thorax 10  Prostat : thorax 10  Hernia : thorax 4 . Klasifikasi Regional Anestesi  Infiltrasi lokal : Injeksi obat anestesi lokal langsung ke tempat lesi  Neroaxial Block : Spinal dan Epidural  Field Block : Membentuk dinding analegesi di sekitar lapangan operasi  Surface Analgesia : Obat dioleskan atau disemprotkan (EMLA. Adjuvant intratekal seperti opioid.

Faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya dermatom  Tempat penyuntikan  Volume obat anestesi  Kecepatan injeksi  Barbotase (penarikan jarum spinal) 5. Komplikasi kardiovaskular Insiden terjadi hipotensi akibat anestesi spinal adalah 1040%. syok  Koagulapatia atau mendapat terapi koagulan  Tekanan intrakranial meningkat  Infeksi sistemik  Kelainan neurologis  Kelainan psikis  Bedah lama  Penyakit jantung  Nyeri punggung kronik 7. akibat blok simpatis yang menyebabkan terjadi penurunan tekanan arteriola sistemik dan vena. Efek Neuroaxial Block a. . Kontra indikasi anestesi spinal  Alergi terhadap obat anestesi  Pasien menolak  Infeksi pada tempat suntikan  Hipovolemia berat. Indikasi anestesi spinal  Bedah ekstremitas bawah  Bedah panggul  Bedah obstetric-ginekologi  Bedah urologi  Bedah abdomen bawah 6. Hipotensi terjadi karena vasodilatasi. Intarabdomen: thorax 4 4.

Bradikardia dapat terjadi karena aliran darah balik berkurang atau karena blok simpatis. Mulai terasa pada 24-48 jam pasca pungsi lumbal. Komplikasi gastrointestinal Nausea dan vomitus karena hipotensi. dapat diatasi dengan sulfas atropine 1/8-1/4 mg IV. Bila dengan cairan infuse cepat tersebut masih terjadi hipotensi harus diobati dengan vasopressor seperti efedrin intravena sebanyak 19mg diulang setiap 3-4 menit sampai mencapai tekanan darah yang dikehendaki. Hipotensi yang signifikan harus diobati dengan pemberian cairan intravena yang sesuai dan penggunaan obat vasoaktif seperti efedrin atau fenilefedrin. c. Kondisi ini akan menyebabkan tarikan pada struktur intrakranial yang sangat peka terhadap nyeri yaitu pembuluh darah. Pencegahan hipotensi dilakukan dengan memberikan infus cairan kristaloid (NaC1. Bisa juga terjadi blok pada nervus phrenicus sehingga mengganggu gerakan diafragma dan otot perut yang dibutuhkan untuk inspirasi dan ekspirasi. . dengan intensitas yang bervariasi. aktvitas parasimpatis yang berlebihan. Pada orang tua lebih jarang dan pada kehamilan meningkat. . PDPH (Post Dural Pungcture Headache) Disebabkan adanya kebocoran cairan serebrospinal (LCS) akibat tindakan penusukan jaringan spinal yang menyebabkan penurunan tekanan LCS.makin tinggi blok makin berat hipotensi. Ringer laktat) secara cepat sebanyak 1015m1/kgbb dalam 10 menit segera setelah penyuntikan anestesi spinal. b. hipoksia. d. Cardiac output akan berkurang akibat dari penurunan venous return. Komplikasi respirasi Hipoperfusi dari pusat nafas di batang otak dapat terjadi respiratory arrest. penggunaan obat narkotik. serta komplikasi jangka panjang berupa pusing pasca pungsi lumbal merupakan ciri khas dan terasa lebih berat pada perubahan posisi dari tidur ke posisi tegak.

perubahan pengosongan kandung kemih dan usus besar.saraf. e. mobilisasi seawal mungkin. Penyebab utamanya adalah trauma dan toksisitas. gunakan jarum sekecil mungkin. Retentio urine / Disfungsi kandung kemih Blokade sakral menyebabkan atonia vesika urinaria sehingga volume urine di vaesika urinaria menjadi lebih banyak. Sindrom cauda equina Terjadi ketika cauda equina terluka atau tertekan. dan gunakan pendekatan paramedian. Tanda-tanda meliputi disfungsi otonomis. diplopia.ulang. perubahan ini sangat tampak pada pasien . kontrol temperatur yang tidak normal dan kelemahan motorik. dan sering disertai dengan tanda meningismus. pengeluaran keringat yang abnormal.48 jam postanestesi. hindari penusukan jarum yang berulang. Penggunaan obat. falk serebri dan meninges. muntah dan penurunan tekanan darah. Spinal anestesi menurunkan 5. Pencegahan dan penanganan: hidrasi dengan cairan yang adekuat. f.obat lokal anestesi yang tidak neurotoksik terhadap cauda equina merupakan salah satu pencegahan terhadap sindroma tersebut selain menghindari trauma pada cauda equina waktu melakukan penusukan jamm spinal. Blokade simpatik eferen (T5-L1) menyebabkan kenaikan tonus sfingter yang menghasilkan retensi urine. dimana nyeri akan timbul setelah kehilangan LCS sekitar 20m1. PPDH ditandai dengan nyeri kepala yang berdenyut biasanya muncul di area oksipital dan menjalar ke retro orbital.10% filtrasi glomerulus. disertai parestesi atau kesemutan yang dapat berlangsung hingga 24. tusukan jarum dengan bevel sejajar serabut longitudinal durameter. Hat ini banyak dihubungkan dengan penggunaan injeksi lidokain 5% hiperbarik dosis tinggi pada subarachnoid yang memberi efek neurotoksik. g. Transient Radicular iritation (transient neurologic symptom) Kondisi ini ditandai dengan nyeri pada kedua tungkai yang menjalar dari tulang belakang. mual.

tanda kelemahan pada pangkal paha dalam posisi supine) 5. 8. Farmakodinamik . Mampu menggerakkan tungkai Keterangan: pasien dapat dipindahkan ke bangsal jika skor bromage >3 B. Hanya mampu menggerakkan kaki saja Hanya mampu menggerakkan tungkai saja Fleksi penuh tungkai (ada tanda. 4. Bromage skore SKOR 1. Tidak ada tanda-tanda kelemahan pada pangkal paha dalam posisi supine 6. h.hipovolemi. Retensi post spinal anestesi mungkin secara moderat diperpanjang karena S2 dan S3 berisi serabut-serabut otonomik kecil dan paralisisnya lebih lama daripada serabut-serabut yang lebih besar. Kateter urin harus dipasang bila anestesi atau analgesia dilakukan dalam waktu yang lama. KRITERIA Tidak mampu menggerakkan tungkai dan kaki (blokade penuh) 2. Lidodex a. Meningitis Munculnya bakteri pada ruang subarachnoid tidak mungkin terjadi jika penaganan klinis dilakukan dengan baik. Farmakologi obat anestesi 1. menggunakan jarum spinal sekali pakai dan bila terjadi meningitis dilakukan pengobatan dengan pemberian antibiotika yang spesifik. Pencegahan terhadap meningitis dapat dilakukan dengan menggunakan alat-alat dan obat-obatan yang betul-betul steril. 3. Meningitis aseptik mungkin berhubungan dengan injeksi iritan kimiawi telah dideskripsikan tetapi jarang terjadi dengan peralatan sekali pakai dan jumlah larutan anestesi murni lokal yang memadai.

tetapi kecepatan absorbsin dan toksisitasnya bertambah dan masa kerjanya pendek. blokade saraf. dosisnya 50-100 mg (1-2m1).000). pembedahan abdominal dengan spinal anestesi 75-100 mg. sediaan lidodek adalah lidokain 5% dalam dekstrosa 7.5% 5% dengan atau tanpa epinefrin (1:50. Kadarnya dalam plasma fetus mencapai 60% kadar dalam darah ibu. lebih kuat. lebih lama dan lebih ekstensif daripada yang ditimbulkan oleh prokain. Lidokain adalah anestetik lokal lokal yang kuat digunkan secara luas dengan pemberian topical dan suntikan.5% (Lidodex) bersifat hiperbarik dengan berat jenis 1. Pada larutan 0.5% digunakan untuk anestesi infiltrasi. b. anestesi epidural maupun anestesi selaput lendir. Larutan lidokain 0. sedangkan larutan 1-2% untuk anestesi blok dan topikal. Dosis dalam obstetric dengan spinal anestesi 50 mg. Farmakokinetik Lidokain mudah diserap dari tempat suntikan melalui sawar darah otak.Lidodek diindikasikan untuk anestesi spinal. section caesaria 75mg. . Anestesi ini efektif bila digunakan tanpa vaokonstriktor. Kedua metabolit monoetil glisin xilidid maupun glisin xilidid ternyata masih memiliki efek anestesi lokal. Lidokain merupakan aminietilamid. tetapi pada larutan 2 % lebih toksik daripada prokain.000 sampai 1:200. Indikasinya dapat juga digunakan secara suntiakan untuk anestesi infiltrasi. Di dalam hati.5 % toksisitasnya sama. Anestesi terjadi lebih cepat. Lidokain dapat menimbulkan kantuk pada sediaan berupa larutan 0. 4 hidroksi-2-6 dimetil-anilin. lidokain mengalami deakilasi oleh enzim oksidase fungsi ganda membentuk monoetilglisin xilidid dan glisin xilidid. Lidokain merupakan obat terpilih bagi mereka yang hipersensitif terhadap prokain dan juga epinefrin. Pada manusia 75% dari xilidid akan disekresi bersama urin dalam bentuk metabolit akhir.003.

Efek samping pada susunan saraf pusat berupa sakit kepala. b. nyeri gastrointestinal. mengantuk dan berkeringat. . resistensi vaskular renal. penurunan resistensi perifer. Efek samping Efek samping kesaluran cerna berupa diare. dyspepsia. b. menghasilkan penurunan aliran simpatetik dari SSP. denyut jantung dan tekanan darah.Ketorolac secara parenteral dianjurkan diberikan segera setelah operasi. Interaksi dengan obat lain Anestesi lokal: klonidin dapat memperpanjang blokade sensori dan motorik anestesi lokal. sehingga mengaktivasi penghambatan neuron. Indikasi Keterolac diindikasikan untuk penatalaksanaan jangka pendek terhadap nyeri akut sedang sampai berat setelah prosedur bedah. 3. pusing. Dosis harian total tidak boleh lebih dari 90 mg. Penggunaan klonidin epidural ditujukan untuk mengurangi nyeri dengan mencegah transmisi singnal nyeri. resistensi vaskuler.2. Dosis Dosis awal ketorolac yang dianjurkan adalah 10 mg diikuti dengan 10-30 mg tiap 4 sampai 6 jam bila diperlukan. Ketorolac a. Mekanisme kerja Menstimulasi adrenoreseptor alfa-2 stem otak. Catapres a. Ketorolac tidak dianjurkan untuk digunakan sebagai obat prabedah obstetric karena mempunyai efek menghambat biosintesis prostaglandin atau kontraksi rahim dan sirkulasi fetus. Durasi total ketorolac tidak boleh lebih dari lima hari. Harus diberikan dosis efektif terendah. c. nausea. Analgesik narkotik akan mempotensiasi efek hipotensif klonidin.

Efedrin a. Peningkatan tekanan darah ini sebagian disebabkan oleh vasokonstriksi. Mekanisme kerja Efedrin bekerja pada reseptor α. .4. tetapi terutama oleh stimulasi jantung yang meningkatkan kekuatan konstraksi jantung dan curah jantung. Efek kardiovaskuler Tekanan sistolik dan diastolik meningkat sehingga tekanan nadi membesar. b. Efek perifer efedrin melalui kerja langsung dan melalui pelepasan NE endogen. β1 dan β2.

Kokain dan Anestetik Lokal Sintetik. Suryadi KA. Jan-Mar 2002. L. Complications of Spinal and Epidural Anesthesia. 6.261-264. 2010. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Dobridnjov. Clonidine Combined With Small-Dose Bupivacaine During Spinal Anesthesia For Inguinal Herniorrhaphy: A Randomized Double-Blind Study. . 107-112. 2000. Jakarta. The Mountsinai Journal of Medicine. Arif. dkk. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 2009. Mansjoer. Complications of Spinal Anesthesia. Gaya Baru.259-272. Anesth Analg 2003. Et al. 4. Syarif. Anestesi spinal. 5. 3. etc. 2007. Aidinis SJ.96:1496-1503 2. Amir.DAFTAR PUS'TAKA 1. Dalam: Kapita Selekta Kedokteran edisi III ha1. Hyderally H. Dalam: Farmakologi dan Terapi edisi 5 ha1. 62:1219-1222. Jakarta. Latief SA. J Bone Joint SurgAm. Katz J.

LAPORAN KASUS ANESTESI SPINAL PADA TINDAKAN HERNIOTOMY TERHADAP PASIEN HERNIA INGUINALIS LATERALIS DEXTRA Pembimbing : Dr. Dewangga Leonita Budi Iswanto J 500 080 019 J 500 080 098 KEPANITERAAN KLINIK ANESTESIOLOGI DAN REANIMASI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2013 . An. E. Cendra Pramana Widyanaputra. Sp.

LAMPIRAN .

....) (....... Sp......................... S........Ked Budi Iswanto... Sp........... MM.... An......: Dipresentasikan di hadapan Nama : dr..LEMBAR PENGESAHAN ANESTESI SPINAL PADA TINDAKAN HERNIOTOMY TERHADAP PASIEN HERNIA INGUINALIS LATERALIS DEXTRA Yang Diajukan Oleh: Dewangga Leonita......... Cendra Pramana Widyanaputra.. Cendra Pramana Widyanaputra.. S..: Disahkan oleh Nama : dr. Yuni Prasetyo K.....) KEPANITERAAN KLINIK ILMU ANESTESI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SUKOHARJO FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2013 .. Pada hari tanggal Pembimbing Nama : dr......Ked (J500080016) (J500080098) Telah disetujui dan disahkan oleh Bagian Program Pendidikan Profesi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta... An....... E.. E...Kes : (...) (.

.: Dipresentasikan di hadapan Nama : dr..... S.Ked Budi Iswanto........... E....... An........ Yuni Prasetyo K....... MM............... Pada hari tanggal Pembimbing Nama : dr....) (...... An... Sp............ E......Ked (J500080016) (J500080098) Telah disetujui dan disahkan oleh Bagian Program Pendidikan Profesi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta.Kes : (....) KEPANITERAAN KLINIK ILMU ANESTESI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SUKOHARJO FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2013 ...... Cendra Pramana Widyanaputra.: Disahkan oleh Nama : dr.. Sp... Cendra Pramana Widyanaputra. S.LEMBAR PENGESAHAN Ketamin/propofol versus fentany/propofol for sedating obese patients undergoing endoscopic retrograde cholangiopancreatography (ERCP) Yang Diajukan Oleh: Dewangga Leonita...........) (..

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->