BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Osteomyelitis merupakan inflamasi pada tulang yang disebabkan infeksi piogenik atau non-piogenik seperti Micobacterium tuberkulosa atau Staphylococcus aureus. Infeksi dapat terbatas pada sebagian kecil tempat pada tulang atau melibatkan beberapa daerah seperti sum-sum, perioesteum, dan jaringan lunak disekitar tulang (King, 2011). Pada dasarnya, semua jenis organisme, termasuk virus, parasit, jamur, dan bakteri, dapat menghasilkan osteomielitis, tetapi paling sering disebabkan oleh bakteri piogenik tertentu dan mikobakteri. Penyebab osteomielitis pyogenik adalah kuman Staphylococcus aureus (89-90%), Escherichia coli, Pseudomonas, dan Klebsiella. Pada periode neonatal, Haemophilus influenzae dan kelompok

B streptokokus seringkali bersifat patogen. (Robbins 2007) Infeksi dapat mencapai tulang dengan melakukan perjalanan melalui aliran darah atau menyebar dari jaringan di dekatnya. Osteomielitis juga dapat terjadi langsung pada tulang itu sendiri jika terjadi cedera yang mengekspos tulang, sehingga kuman dapat langsung masuk melalui luka tersebut. (King, 2011). Osteomielitis sering ditemukan pada usia dekade I-II; tetapi dapat pula ditemukan pada bayi dan ‘infant’. Anak laki-laki lebih sering dibanding anak perempuan (4:1). Lokasi yang tersering ialah tulang-tulang panjang seperti femur, tibia, radius, humerus, ulna, dan fibula. (Yuliani 2010). 1

Prevalensi keseluruhan adalah 1 kasus per 5.000 anak. Prevalensi neonatal adalah sekitar 1 kasus per1.000. Kejadian tahunan pada pasien dengan anemia sel sabit adalah sekitar 0,36%. Insiden osteomielitis vertebral adalah sekitar 2,4 kasus

per 100.000 penduduk. Kejadian tertinggi pada Negara berkembang. Tingkat mortalitas osteomielitis adalah rendah, kecuali jika sudah terdapat sepsis atau kondisi medis berat yang mendasari. (King, 2011)

2

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Anatomi dan Fisiologi Tulang Pertumbuhan tulang selengkapnya terbentuk pada umur lebih kurang 30 tahun. Setelah itu ada juga perubahan yang disebut remodelling. Tulang merupakan reservoir terbesar dari kalsium dan phosphate. 99% kalsium terdapat di tulang (1000 gram) dari jumlah kalsium tubuh, sedangkan phosphate dalam tulang mencapai 90% dari phosphate dalam tubuh (Wikipedia, 2011)

Gambar 1. Anatomi Tulang Panjang

Dari segi bentuk, tulang dapat dibagi menjadi: tulang pipa (seperti tulang hasta dan tibia), tulang pipih (seperti tulang rusuk, tulang dada), dan tulang pendek (tulang-tulang telapak tangan, pergelangan tangan).Menurut letaknya tulang dibagi dua, yaitu: Tengkorak (bagian kepala), dan rangka badan (Wikipedia, 2011)

3

Tulang membentuk tangka panjang dan pelindung bagi tubuh dan tempat untuk melekatnya otot-otot yang menggerakkan kerangka tubuh. Ruang di tengah tulang-tulang tertentu berisi jaringan hemopoietik yang membentuk berbagai sel darah. Tulang juga merupakan tempat primer menyimpan dan mengatur kalsium dan fosfat (Sylvia, 2002) Komponen-komponen non seluler utama dari jaringan tulang adalah mineralmineral dan matriks organic (kolagen dan proteoglikan). Kalsium dan fosfat membentuk garam Kristal (hidroksiapatit) yang tertimbun pada matriks kolagen dan proteoglikan. Mineral-mineral ini memampatkan kekuatan tulang. Matriks organic tulang disebut juga sebagai suatu osteoid. Sekitar 70% dari osteoid adalah kolagen tipe 1 yang kaku dan memberikan daya rentang tinggi pada tulang. Materi organic lain yang juga menyusun tulang berupa proteoglikan seperti asam hyaluronat (Sylvia, 2002). Tulang adalah suatu jaringan dinamis yang tersusun dari tiga jenis sel : osteoblas, osteosit dan osteoklas. Osteoblas membangun tulang dengan membentuk kolagen tipe 1 dan proteoglikan sebagai matriks tulang atau jaringan osteoid melalui suatu proses yang disebut osifikasi. Ketika sedang aktif menghasilkan jaringan osteoid, osteoblas mensekresikan sejumlah besar fosfatase alkali, yang memegang peranan penting dalam mengendapkan kalsium dan fosfat kedalam matriks tulang. (Sylvia, 2002). Osteosit adalah sel-sel tulang dewasa yang bertindak sebagai suatu lintasan untuk pertukaran kimiawi melalui tulang yang padat. Osteoklas adalah sel-sel besar

4

1994). dan kronik. 5 . Akan tetapi batas waktu untuk tiap klasifikasi masih belum tegas. subakut.2011). dan jaringan lunak disekitar tulang (King. Osteomyelitis merupakan inflamasi pada tulang yang disebabkan infeksi piogenik atau non-piogenik seperti Micobacterium tuberkulosa atau Staphylococcus aureus. 2. osteoklas mengikis tulang (Sylvia. Mekanisme infeksi dapat exogenous dan hematogenous.2 Definisi Osteomyelitis Osteomyelitis adalah proses inflamasi akut atau kronik pada tulang dan struktur sekundernya karena infeksi oleh bakteri piogenik (Wim de jong. perioesteum. Osteomyelitis exogenous disebabkan oleh fraktur terbuka. Osteomyelitis berdasarkan durasi penyakit dapat diklasifikasi menjadi akut.3 Klasifikasi dan etiologi osteomyelitis Klasifikasi osteomyelitis berdasar dari beberapa kriteria seperti durasi dan mekanisme infeksi dan jenis respon host terhadap infeksi.berinti banyak yang memungkinkan mineral dan matriks tulang dapat diabsorbsi. operasi (iatrogenik). 2011). Infeksi dapat terbatas pada sebagian kecil tempat pada tulang atau melibatkan beberapa daerah seperti sum-sum. pada bayi sering oleh kuman streptococcus dimana “port de entry” sering melalui furunkel atau infeksi pada saluran nafas bagian atas (PDT. 2.. (King. 2001). Batasan Osteomyelitis akut hematogen ialah infeksi akut pada tulang (metafisis) dengan kuman penyebab 90% adalah Staphylococcus. 2002). atau penyebaran infeksi dari jaringan lunak lokal. Tidak seperti osteoblas dan osteosit. Jenis hematogenous terjadi akibat bakteremia.

pembagian tersebut adalah osteomyelitis pyogenik dan nonpyogenik. Sistem klasifikasi yang lebih banyak digunakan adalah berdasarkan durasi (akut. Staphylococcus epidermidis merupakan penyebab utama osteomielitis kronik pada operasi-operasi ortopedi yang menggunakan (King. 2011). Cierny dan Mader mengajukan sistem klasifikasi untuk osteomyelitis kronis berdasarkan kriteria faktor host dan anatomis. osteomielitis juga dapat disebabkan oleh infeksi bakteri granulomatosa seperti tuberkulosis dan siphilis melalui proses spesifik. Selain itu juga dapat disebabkan oleh virus. Salmonella typhi dan Escherichia coli (1-2%). Selain disebabkan bakteri piogenik. dan kronis) dan berdasarkan mekanisme infeksi (exogenous dan hematogenous) (King. Staphylococcus aureus terlibat pada kebanyakan pasien dengan osteomielitis hematogenous akut dan bertangguang jawab atas 90% kasus pada anak-anak yang sehat. (King. Streptococcus (4-7%). 2011).Osteomyelitis juga dapat dibagi berdasarkan respon host terhadap penyakit ini. atau Escherichia coli. subakut. Penyebab osteomielitis pada anak-anak ialah Staphylococcus aureus (89-90%). oleh jamur seperti aktinomikosis yang pada awalnya seringkali bersifat kronik. 2011). 6 . Haemophillus influenza (2-4%). Organisme spesifik yang diisolasi dari osteomielitis seringkali dihubungkan dengan usia pasien atau keadaan-keadaan tertentu yang menyertainya (trauma atau riwayat operasi). Bakteri penyebab osteomielitis kronik terutama Staphylococcus aureus (75%). Proteus atau Pseudomonas aeruginosa.

decubitus ulcers Salmonella species or Streptococcus pneumoniae Bartonella henselae Pasteurella multocida or Eikenella corrodens Aspergillus species. diabetic foot lesions. aureus 7 . Mycobacterium avium-intracellulare or Candida albicans Mycobacterium tuberculosis Brucella species. aureus Streptococcus pyogenes Haemophilus influenzae Adults (>16 years) Staphylococcus epidermidis S. Coxiella burnetii (cause of chronic Q fever) or other fungi found in specific geographic areas Sickle cell disease Human immunodeficiency virus infection Human or animal bites Immunocompromised patients Populations in which tuberculosis is prevalent Population in which these pathogens are endemic Organisms Commonly Isolated in Osteomyelitis Based on Patient Age Infants (<1 year) Group B streptococci Staphylococcus aureus Escherichia coli Children (1 to 16 years) S.Organism Staphylococcus aureus Coagulase-negative staphylococci or Propionibacterium species Enterobacteriaceae species or Pseudomonas aeruginosa Streptococci or anaerobic bacteria Comments Organism most often isolated in all types of osteomyelitis Foreign-bodyassociated infection Common in nosocomial infections Associated with bites. fist injuries caused by contact with another person's mouth.

Penyebab osteomielitis pyogenik adalah kuman Staphylococcus aureus (89-90%). dan sistem imun yang inadekuat. penyakit kronik. tetapi paling sering disebabkan oleh bakteri piogenik tertentu dan mikobakteri. Penyebab terjadinya Osteomyelitis hematogenous akut ini adalah bakteremia. Pada beberapa kasus. termasuk virus. dan bakteri. semua jenis organisme. Haemophilus influenzae dan kelompok B streptokokus seringkali bersifat patogen. Osteomyelitis. jamur. Infeksi 8 . penyebab pasti dari penyakit ini tidak dapat ditentukan (King. dapat menghasilkan osteomielitis. (Robbins 2007). Almekinders LC. dimana keadaan ini umum ditemukan pada anak.45:29-43. Common causes and treatment recommendations. malnutrisi. daya tahan tubuh. parasit. Pada periode neonatal. dan Klebsiella. Escherichia coli.3.1 Osteomyelitis Hematogen Akut Osteomyelitis hematogenous akut merupakan tipe infeksi tulang yang paling sering terjadi dan seringkali ditemukan pada anak. Infeksi ini lebih sering ditemukan pada laki-laki dibanding dengan wanita di segala kelompok usia. coli Adapted with permission from Dirschl DR. Pada dasarnya. Pseudomonas. 2.Pseudomonas aeruginosa Serratia marcescens E. Drugs 1993. 2011) Patologi yang terjadi pada osteomyelitis hematogen akut bergantung pada umur. lokasi infeksi serta virulensi kuman. Pertumbuhan bakteriologis dalam tulang pada umumnya terkait dengan beberapa keadaan yaitu trauma.

pembentukan tulang baru yang ekstensif terjadi pada bagian dalam perosteum sepanjang diafisis (terutama pada anak-anak) sehingga terbentuk suatu lingkungan tulang seperti peti mayat yang disebut involucrum dengan jaringan sekuestrum di dalamnya. Peninggian tekanan dalam tulang mengakibatkan terganggunya sirkulasi dan timbul trombosis pada pembuluh daragh tulang yang akhirnya menyebabkan nekrosis tulang. 9 . Invasi bakteri mengakibatkan reaksi radang yang dapat menyebabkan nekrosis iskemik lokal pada tulang dan pembentukan abses. Infeksi ini pada umumnya melibatkan metaphyse dari tulang panjang yang sedang berkembang terutama pada pasien pediatrik. maka terjadi pengaliran pus dari involucrum kelual melalui lubang yang disebut kloaka atau melalui sinus pada jaringan lunak dan kulit (Wim de jong.terjadi melalui aliran darah dari fokus ke tempat yang lain dalam tubuh pada fase bakteremia dan dapat menimbulkan septikemia. Embolus infeksi kemudian masuk ke dalam luksta epifisis pada daerah metafisis tulang panjang. Pada daerah tulang kanselosa. infeksi dapat terlokalisir serta diliputi oleh jaringan fibrosa yang membentuk abses tulang kronik yang disebut abses Brodi. Apabila pus menembus tulang. 2011). 2002) Tahap selanjutnya. (King. 2011) Terbentuknya pus dalam tulang dimana jaringan tulang tidak dapat berekspansi akan menyebabkan tekanan dalam tulang bertambah. penyakit dapat berkembang menjadi osteomyelitis kronis. Proses selanjutnya terjadi hiperemi dan edema di daerah metafisis disertai pembentukan pus (King. Di samping proses yang disebabkan diatas.

Karena alasan ini. Physis berperan sebagai barrier yang mencegah penyebaran langsung abses dari metaphyse ke epiphyse.Semakin abses membesar maka tekanan intramedullare semakin meningkat dan mengakibatkan iskemia kortikal. Diaphyse sangat jarang terkena dan sekuestrasi jarang terjadi kecuali pada kasus-kasus yang berat. (Wim de jong. karena korteks metaphyse pada anak yang lebih tua semakin tebal. Efek ostemyelitis hematogenous akut pada anak tergantung pada suplai darah dan struktur anatomis tulang. Jika dibiarkan tanpa penanganan proses ini akan mengakibatkan pembentukan sequestra yang luas dan osteomyelitis kronik (King. 2002). bagian diaphyse memiliki resiko yang lebih besar untuk terkena infeksi. balita cenderung mengalami deformitas atau pemendekan tungkai jika physis dan epiphyse rusak akibat infeksi tersebut. Anak yang lebih muda dari 2 tahun memiliki beberapa pembuluh darah yang melintasi physis dan memudahkan tersebarnya infeksi pada epiphyse. Abses subperiosteal pun terjadi. (Wim de jong. 2002). Akan tetapi. suplai darah pada endosteal 10 . Anak dengan usia diatas 2 tahun memiliki physe yang secara efektif menjadi barrier terhadap penyebaran abses metaphyse. Abses yang terbentuk akan merusak korteks metaphyse yang tipis dan membentuk abses subperiosteal. keadaan ini menyebabkan infeksi lebih sering terjadi pada daerah ini. 2011). yang kemudian mengakibatkan materi purulen keluar dari korteks masuk kedalam ruang subperiosteal. Metaphyse memiliki sel fagosit yang relatif rendah dibanding physe dan diaphyse. Jika infeksi mengenai diaphyse.

Walaupun infeksi ini dapat terjadi pada tulang mana saja ditubuh. melalui korteks metaphysis. sel-sel inflamasi akan menghasilkan purulen (Wim de jong. 2002). kearah diaphysis. selanjutnya terbentuk pus subperiosteal. atau disekitar korteks. anak yang lebih muda ( kurang dari 1 tahun) dengan pembuluh darah transphyseal yang intak akan menunjukkan penyebaran epiphyseal dengan membentuk abses epiphyseal (Wim de jong. (Wim de jong. abses menyebar secara perlahan. 2002). (Wim de jong. 11 . Walaupun hal ini merupakan rute yang biasanya terjadi. Jika destruksi lokal pada tulang kortikal terjadi. Osteomyelitis paling sering terjadi pada anak dibawah 3 tahun. Penyebaran bakteri secara hematogenous di tulang pada orang dewasa hanya ditemukan pada keadaan imun yang buruk. Pada pasien ini. suplai darah periosteal akan rusak dan mengakibatkan penyebaran yang lebih luas dan osteomyelitis kronis jika tidak ditangani dengan tepat. dan sekuestrasi yang luas jarang terjadi. Infeksi akan menyebabkan terkumpulnya sel-sel inflamasi dan jika tidak diterapi. pada umumnya corpus vertebra yang terkena. Dengan adanya abses periosteal. maka akan menyebabkan fraktur patologis.000 orang. osteomyelitis hematogenous akut lebih jarang terjadi.dipertaruhkan. 2002). Setelah physis menutup. Purulen ini cenderung untuk mencari jalan yang minimal resistensinya. Dari penelitian yang dilakukan Riise et al total insiden tahunan terjadinya osteomyelitis pada anak adalah 13 dari 100. 2002). Pus ini akan menyebar melaui tiga jalan : melalui physis.

Penyebaran infeksi pada sendi juga dipengaruhi oleh usia seseorang. dan fibula distal berada intraartikuler dan infeksi pada daerah ini dapat mengakibatkan arthritis septik. kolum radius. (Wim de jong. Pada dasarnya penyebaran agen bakteri ini memiliki dua cara yaitu penyebaran umum dan penyebaran lokal. (Wim de jong. akan tetapi. Pada anak dengan usia dibawah 2 tahun. Staphylococcus aureus merupakan organisme yang paling sering menginfeksi anak yang lebih tua dan orang dewasa dengan osteomyelitis. Sendi panggul yang paling sering terkena pada pasien usia muda. Pada anak dengan usia yang lebih tua. memudahkan penyebaran abses metaphyse pada epiphyse dan pada akhirnya pada sendi. 2002). infeksi dapat menyebar secara langsung dari metaphyse ke epiphyse dan kemudian melibatkan persendian. Penyebaran umum yaitu melalui sirkulasi darah akibat bakteremia dan septikemia dan melalui embolus infeksi yang menyebabkan infeksi multifokal pada daerah-daerah lain. Pada bayi dengan ostemyelitis akut hematogenous. Staphylococcus aureus paling sering ditemukan. akan tetapi. suplai darah metaphyse dan epiphyse melintasi physis. Bakteri gram negatif telah diketahui menjadi penyebab infeksi corpus vertebra pada orang dewasa. Setelah physe menutup. physe humerus proximal. Penyebaran lokal dengan adanya subperiosteal abses akibat penerobosan abses melalui 12 . kelompok streptokokkus dan koliform gram negatif juga sering didapati. 2002). sirkulasi seperti ini tidak ditemukan lagi dan arthritis septik jarang terjadi.

dan dalam 20% kultur tidak ditemukan. 2. abses Brodie ini pada umumnya menyerupai lesi litik dengan lapisan tulang sklerotik akan tetapi dapat pula memiliki beragam jenis bentuk. osteomyelitis subakut ini didapatkan pula pada daerah metaphyse – epiphyse.2 Osteomyelitis Hematogen Subakut Dibandingkan dengan oseomyelitis hematogenous akut. 2011). 2011). (Wim de jong.periosteum. penyebaran ke dalam sendi sehingga terjadi arthritis septik. sehingga membuat diagnosis menjadi sulit. Keadaan ini sering membutuhkan biopsi 13 . osteomyelitis subakut memiliki onset yang lebih mendadak dan kurang memiliki gejala yang jelas. 2002). Sebelum penutupan epiphyseal. Pada gambaran radiologi polos. Osteomyelitis subakut ini cukup sering ditemukan. Staphylococcus aureus ditemukan pada 50% kultur pasien. .. Abses Brodie Abses Brodie merupakan bentuk terlokalisir osteomyelitis subakut yang terjadi paling sering pada ekstremitas bawah dari seorang dewasa muda. Jones et al melaporkan bahwa 35% pasien mereka dengan infeksi tulang memiliki osteomyelitis subakut (King. Lesi ini diperkirakan disebabkan akibat organisme dengan virulensi yang rendah. dan penyebaran ke medulla tulang sekitar. metaphysis paling sering terkena. Pemeriksaan secara saksama pada foto polos sangat penting dilakukan karena abses Brodie sering menyerupai gambaran tumor pada tulang (King. selulitis akibat abses subperiosteal menembus sampai di bawah kulit. Pada orang dewasa.3.

Tanda penting adanya osteomyelitis kronik adalah adanya tulang yang mati akibat infeksi di dalam pembungkus jaringan lunak.4 Prevalensi 14 . Gejala sistemik mungkin dapat meringan. Beragam jenis bakteri dapat tumbuh dari kultur yang diambil dari sinus-sinus dan dari biopsi terbuka pada jaringan lunak sekitar dan tulang (Wim de jong.3.3 Osteomyelitis Kronik Osteomyelitis kronik sulit ditangani dengan sempurna. 2011). yang dibungkus oleh periosteum yang menebal dan jaringan parut otot dan subkutan. Eksaserbasi akut intermitten dapat terjadi dalam beberapa tahun dan seringkali membaik setelah beristirahat dan pemberian antibiotik. Fokus infeksi didalam tulang dikelilingi oleh tulang yang relatif avaskuler dan sklerotik.terbuka dengan kuretase untuk menegakkan diagnosis. Luka sebaiknya ditutup dengan longgar dan menggunakan drain. 2002). (King. 2. jaringan granulasi yang telah terinfeksi. Pembungkus avaskuler jaringan parut ini dapat menyebabkan pemberian antibiotik menjadi tidak efektif (King. atau sequestrum. akan tetapi satu atau lebih fokus infeksi pada tulang memiliki material purulenta. (King. 2011) Pada osteomyelitis kronik. infeksi sekunder sering terjadi dan kultur sinus biasanya tidak berkorelasi secara langsung dengan biopsi tulang. 2011). 2.

Penyebab Osteomyelitis pada anak-anak adalah kuman Staphylococcus aureus (89-90%). Lokasi yabg tersering ialah tulang-tulang panjang seperti femur. Haemophylus influenza (2-4%). Etiologi dan Prevalensi Osteomyelitis 2.5. humerus. Salmonella typhii dan Eschericia Coli (1-2 %). Anak laki-laki lebih sering disbanding anak perempuan (4:1).1 Osteomyelitis Hematogen Akut 15 . Streptococcus (4-7%).5 Patofisiologi 2. Gambar 2. radius. tibia.Osteomyelitis sering ditemukan pada usia decade I-II. ulna dan fibula. tetapi dapat pula ditemukan pada bayi dan “infant”.

Patofisiologi Osteomyelitis A. Karena tulang bukan jaringan yang bisa berekspansi maka tekanan dalam tulang ini menyebabkan nyeri lokal yang sangat hebat. tulang itu sendiri akan mengalami nekrosis lokal dan akan menjadi tempat berkembang biaknya bakteri. Pembuluh darah yang membelok dengan sudut yang tajam pada distal metaphysis membuat aliran darah melambat dan menimbulkan endapan dan trombus. Kondisi ini biasanya terjadi pada anak-anak.infeksi disebabkan bakteri melalui darah. Mula-mula terdapat fokus infeksi didaerah metafisis. (Wim de jong. infeksi akut pada tulang disebabkan bekteri yang berasal dari sumber infeksi lain. 2002). udem periost mungkin dengan eksudat radang pada subperiost (2) hidrops sendi asimptomatik 16 . Bagian yang sering terkena infeksi adalah bagian yang sedang bertumbuh pesat dan bagian yang kaya akan vaskularisasi dari metaphysis. Gambar 3. Acute hematogenous osteomyelitis. lalu terjadi hiperemia dan udem. Sarang primer di metafisis : Sarang primer (1).

kulit tembus membentuk fistel (2). Patofisologi Osteomyelitis Infeksi dapat pecah ke subperiost. Periost akan membentuk tulang baru yang menyelubungi tulang baru yang disebut involukrum (pembungkus). Infeksi juga dapat pecah kebagian tulang diafisis melalui kanalis medularis (Wim de jong. Tulang yang sering terkena 17 . sehingga menyebabkan nekrosis tulang yang disebut sekuester. abses subperiost (2). Sarang Primer meluas : Sarang primer (1). kemudian menembus subkutis dan menyebar menjadi selulitis atau menjalar melalui rongga subperiost ke diafisis. perluasan ke daerah diafisis Gambar 4.B. metafisis menjadi sekuester karena nekrosis (3). 2002). hidrops genu sumptomatik C. Proses berfistel : Periost tembus (1). Penjalaran subperiostal kearah diafisis akan merusak pembuluh darah yang kearah diafisis.

AIDS. penggunaan steroid yang berkepanjangan. Pemakaian prosthetic adalah salah satu faktor resiko. Rasio antara pria dan wanita 2 :1. Osteomyelitis sering menyertai penyakit lain seperti diabetes melitus. Manisfestasinya terlokalisasi dari pada hematogenous osteomyelitis (King.adalah tulang panjang yaitu tulang femur. humerus . dan fibula (King. 2011). Penyebaran Osteomyelitis 18 . 2. ulna. Gambar 5. 2011). biasa terjadi karena trauma terbuka dan tindakan pembedahan. diikuti oleh tibia.6. IV drug abuse.radius . alkoholism. Kategori tambahan lainnya adalah chronic osteomyelitis dan osteomyelitis sekunder yang disebabkan oleh penyakit vaskular perifer.1 Direct or contigous inoculation osteomyelitis Disebabkan kontak langsung antara jaringan tulang dengan bakteri. immunosuppresan dan penyakit sendi yang kronik. sickel cell disease. begitu juga dengan pembedahan ortopedi dan fraktur terbuka.

Stadium supurasi 2. Lanjut . Ada 3 stadium yaitu (PDT. dll 2. Lekositosis.Kontraktur sendi . misalnya abses otak. pemeriksaan fisik. Stadium pembentukan tulang baru Sebelum era antibiotika. 1994) : 1. Dini . 25 % penderita oseomyelitis meninggal oleh septisemia dan dengan antibiotika angka kematian menurun tetapi osteomyelitid kronis semakin bertambah. paru-paru. hepar.7 Diagnosis Diagnosis dari osteomielitis pada awalnya didasarkan pada penemuan klinik. 1994) : 1.2. dan pemeriksaan laboratorium memberikan data dimana respon terapi dapat diukur. Stadium nekrosis tulang 3. peningkatan laju 19 .Osteomyelitis kronis .Abses di tempat lain oleh karena penyebaran infeksi.6 Gejala Osteomyelitis Gejala-gejala dari Osteomyelitis dapat bervariaso sangat besar. Pada anakanak. osteomyelitis paling sering terjadi lebih cepat.Gangguan pertumbuhan 2. Komplikasi yang terjadi adalah (PDT.Mati oleh karena septisemia . Mereka mengembangkan nyeri atau kepekaan tulang yang terpengaruh. melalui data dari riwayat penyakit.

(Wim de joun. maka evaluasi mikrobiologi dan histologi langsung dilakukan untuk mengkonfirmasi terdapatnya osteomielitis. Kultur darah akan positif pada setengah dari anak-anak dengan osteomielitis akut. setelah itu pengobatannya. (Lew Daniel 2000) 20 .endap darah. dan C-reaktif protein harus diperhatikan. 2005) Jika tulang teraba. Pemeriksaan penunjang lainnya tidak diperlukan lagi.

dikenal dengan brodie’s abscess akan terlihat sebagai daerah lusen yang dikelilingi area sklerotik. dan disebut rarefikasi. Pus meluas di daerah periost dan pada tempattempat tertentu membentuk fokus skunder. 2005) Kuman biasanya bersarang dlam spongiosa metafisis dan membentuk pus sehingga timbul abses. (Rasad. Nekrosis tulang yang timbul dapat luas dan terbentuk sekuester.Radiografi Dalam osteomielitis pada ekstremitas. yang dikenal sebagai reaksi periosteal. foto radiografi polos dan scintigrafi tulang adalah alat pemeriksaan utama. sehingga tulang terlihat lebih opak dan dikenal sebagai sklerosis. yang disebut kloaka. Periost yang terangkat oleh pus kemudian akan membentuk tulang di bawahnya. Bukti radiograf dari osteomielitis tidak akan muncul sampai kira-kira dua minggu setelah onset dari infeksi. (Rasad. Juga di dalam tulang itu sendiri dibentuk tulang baru. baik pada trabekula dan korteks.2000) Seringkali reaksi periosteal yang terlihat lebih dahulu. Pus menjalar ke arah diafisis dan korteks. Kadang-kadang suatu abses. Dalam tulang yang terinfeksi akan terdapat sekuestra dan area destruksi. 2000) Pada osteomielitis kronik tulang akan menjadi tebal dan sklerotik dengan gambaran hilangnya batas antara korteks dan medula. Tulang yang dibentuk di bawah periost ini membentuk bungkus bagi tulang yang lama dan disebut involukrum. (Rasad 2000) 21 . Involukrum ini pada berbagai tempat terdapat lubang tempat pus keluar. mengangkat periost dan kadang-kadang menembusnya. baru kemudian terlihat daerah-daerah yang berdensitas lebih rendah pada tulang yang menunjukkan adanya dekstruksi tulang. (Wim de joung. .

Scintigrafi tulang Untuk pencitraan nuclir. CT scan dan scintigrafi tulang MRI memiliki 90-100% dalam mendeteksi sensitifitas 22 . (Wim de joun. Sensitivitas pemeriksaan ini terbatas pada minggu pertama dan sama sekali tidak spesifik. 2005) MRI (Magnetic resonance imaging) Magnetic resonance imaging (MRI) sangat membantu dalam mendeteksi osteomielitis. MRI lebih unggul jika dibandingkan dengan radiografi. Technetium Tc-99m metilen difosfonat adalah agen pilihan utama.

Kultur dari sediaan sinus tidak dapat dipercaya sepenuhnya untuk mengidentifikasi etiologi dari osteomielitis. Tapi. 2008) CT scan dapat menggambarkan kalsifikasi abnormal. USG tidak digunakan untuk mengevaluasi cortex tulang. USG dapat menunjukkan perubahan timbulnya sedini gejala. 2000) USG juga dapat digunakan untuk menuntun dalam melakukan aspirasi.osteomielitis. MRI juga memberikan gambaran resolusi ruang anatomi dari perluasan infeksi. CT scan juga lebih unggul dalam area dengan anatomi yang kompleks. (King. ( King. . mungkin USG 1-2 dapat hari setelah menunjukkan ketidakabnormalan termasuk abses jaringan lunak atau penumpukan cairan (seperti abses) dan elevasi periosteal. sehingga biopsi merupakan anjuran untuk menentukan etiologi dari osteomielitis. sternum. Namun keakuratan 23 . CT scan mungkin dapat membantu dalam mengevaluasi lesi pada tulang vetebra.2008) Ultrasonografi dan CT (computed tomographic) scan Pemeriksaan ultrasonografi dan CT (computed tomographic) scan dapat membantu menegakkan diagnosa osteomielitis. dan calcaneus. 2008) Pemeriksaan histopatologi dan mikrobiologi Pemeriksaan histopatologi dan mikrobiologi merupakan gold standard dalam mendiagnosa osteomielitis. (Rasad. contohnya pelvis. ( King. osifikasi dan ketidaknormalan intrakortikal.

namun kadangkala gejala ini juga tidak dirasakan. (Reksoprojo. 1995) 24 . 2. lansia. Gejala dan tanda dapat sangat beragam.7. Infection 1984.12(2):75-9. A comparative study of osteomyelitis and purulent arthritis with special reference to aetiology and recovery. gambaran klinis minimal. dan pasien dengan imunitas buruk. (King. Information from Peltola H. Vahvanen V. Demam dan malaise dapat ditemukan pada stadium awal penyakit. Adanya pembengkakan menandakan keadaan yang signifikan dimana sindrom kompartmen sering dilaporkan terjadi pada anak akibat osteomyelitis.1 Diagnosis Osteomyelitis Hematogen Akut Evaluasi ostemyelitis hematogenous akut sebaiknya dimulai dengan anamnesis dan pemeriksaan fisis. Pada bayi.biopsi seringkali terbatas oleh kurangnya pengumpulan spesimen yang sama dan penggunaan antibiotik sebelumnya.2008) Diagnosis of Acute Osteomyelitis* -Pus on aspiration -Positive bacterial culture from bone or blood -Presence of classic signs and symptoms of acute osteomyelitis -Radiographic changes typical of osteomyelitis *--Two of the listed findings must be present for establishment of the diagnosis.

akan tetapi nilai sedimentasi eritrosit (ESR) dan C-reactive protein (CRP) biasanya meningkat. 2008) Pada penelitian yang dilakukan oleh Orimolade et al pada pasien Osteomyelitis akut di Nigeria. ditemukan bahwa pasien osteomyelitis lebih cenderung mengalami anemia dibanding kelompok kontrol. Gambaran radiologi polos biasanya tidak menunjukkan kelainan namun dapat ditemukan pembengkakan jaringan lunak. Gangguan pergerakan sendi juga dapat disebabkan oleh efusi sendi atau septicsendi. ( King.Pada pemeriksaan fisik biasa ditemukan adanya nyeri tekan pada palpasi daerah yang terinfeksi dan gangguan pergerakan sendi oleh karena pembengkakan sendi dan gangguan akan bertambah berat jika terjadi spasme lokal. CRP merupakan pengukuran respon fase akut dan berguna dalam mengawasi proses penyembuhan dari osteomyelitis akut karena nilainya kembali ke normal lebih cepat dibanding dengan ESR. 1995) Organisme penyebab dapat ditentukan pada sekitar 50% penderita melalui kultur darah. Aspirasi tulang biasanya memberikan diagnosis bakteriologis yang akurat dan sebaiknya dilakukan dengan abocath nomor 16 25 . Perubahan skelet seperti reaksi periosteal atau destruksi tulang biasanya tidak ditemukan pada foto polos hingga hari ke 10 dan 12 infeksi. Jumlah sel darah putih biasanya normal. MRI dapat memperlihatkan adanya perubahan akibat proses radang pada sum-sum tulang dan jaringan lunak (Reksoprojo. Pemindaian tulang dengan menggunkan Technetium 99m dapat mengkonfirmasi diagnosis dalam 24 hingga 48 jam setelah terjadinya onset pada 90% hingga 95% pasien.

Jika tidak didapatkan cairan atau material purulent. atau pemberian antibiotik sebelum onset gejala penyakit muncul. jarum diposisikan lebih dalam lagi untuk mengambil aspirat sum-sum tulang.atau 18 pada tempat terjadinya pembengkakan dan nyeri yang maksimal. Sel darah putih biasanya normal.2 Diagnosis Osteomyelitis Hematogen Subakut Karena perjalanan penyakit yang samar dari osteomyelitis. diagnosis biasanya ditegakkan setelah 2 minggu. Nyeri dengan derajat ringan sedang merupakan tanda yang konsisten mengarahkan diagnosis. dan tes sensitivitas antibiotic (Wim de jong. Tanda dan gejala sistemik minimal. Pemindaian tulang dan foto radiologi polos pada umumnya positif. Lambatnya perjalanan penyakit pada osteomyelitis subakut ini kemungkinan diakibatkan oleh peningkatan resistensi host. ESR meningkat hanya pada 50% pasien dan kultur darah biasanya negative (King. 2002). kultur. Akan tetapi. penurunan virulensi bakteri. Suhu tubuh hanya sedikit naik atau tidak sama sekali. Sampel yang diambil dikirim untuk dilakukan pewarnaan gram. organisme patogen hanya ditemukan pada 60% pemeriksaan. Ruang subperiosteal sebaiknya diaspirasi pertama kali dengan memasukkan jarum pada korteks bagian luar. 2011) Bahkan dengan biopsi atau aspirat tulang yang sudah adekuat.7. Berkembang spekulasi bahwa kombinasi dari dua organisme dengan virulensi yang rendah disertai dengan daya tahan tubuh yang kuat mengakibatkan adanya peradangan pada tulang tanpa adanya tanda dan gejala yang bermakna. biasanya pada metaphyse tulang panjang. diagnosis 26 . 2.

yang merupakan karakteristik dari osteomuelitis subakut. biopsi tidak direkomendasikan.yang akurat sangat bergantung dari kecurigaan klinis dan penemuan radiologis. Untuk lesi yang terlihat seperti abses ringan pada epiphysis dan metaphysis. Pada tahun 1996. 2002). Ross dan Cole merekomendasikan biopsi dan kuretase diikuti dengan penanganan antibiotik untuk semua lesi yang terlihat agresif. Diagnosis seringkali harus ditegakkan dengan biopsi terbuka dan kultur. Wim de jong. (King. Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis adalah organisme yang dominan ditemukan pada osteomyelitis subakut (Wim de jong. 2002). Hamdy et al meneliti 44 pasien dengan osteomyelitis subakut dan menemukan tidak ada perbedaan pada outcome antara penanganan konservatif dan operatif pada lesi yang tampak jinak. Material purulen tidak selalu diambil pada biopsi. Lesi seperti ini. Membedakan lesi ini dari tumor tulang primer kadang sulit dilakukan. sebaiknya ditangani dengan antibiotik intravena dalam 48 jam pertama dilanjutkan dengan pemberian antibiotik oral selama 6 minggu. jaringan granulasi yang paling sering ditemukan.2011) Ross dan Cole memiliki angka kesuksesan sebesar 87% dengan regimen penanganan ini. Klasifikasi radiologik dari osteomyelitis hematogenous subakut dideskripsikan oleh Gledhill dan dimodifikasi oleh Robert et al. Mereka menyarankan biopsi terbuka dan kuretase hanya pada lesi yang tampak 27 .

7. dan evaluasi status neurovaskuler tungkai. (King.3 Diagnosis Osteomyelitis kronik Diagnosis osteomyelitis berdasar pada penemuan klinis. akan tetapi.agressif atau untuk yang tidak berespon terhadap pemberian antibotik. Pemeriksaan fisik sebaiknya berfokus pada integritas dari kulit dan jaringan lunak. stabilitas abses tulang. 2011). ESR dan CRP meningkat pada kebanyakan pasien. 2011). akan tetapi WBC hanya meningkat pada 35% pasien. tidak ada teknik satupun yang dapat mengkonfirmasi atau menyingkirkan diagnosis osteomyelitis. Tomography 28 . Tanda dari destruksi kortikal dan reaksi periosteal sangat mengarahkan diagnosis pada osteomyelitis. Pemeriksaan laboratorium biasanya kurang spesifik dan tidak memberikan petunjuk mengenai derajat infeksi. Gold standar adalah dengan melakukan biopsi pada tulang yang terinfeksi untuk analisa histologis dan mikrobateriologis (King. laboratorium. menentukan daerah yang mengalami nyeri. Radiologi polos dapat memberikan informasi berharga dalam menegakkan diagnosis osteomyelitis kronik dan sebaiknya merupakan pemeriksaan yang pertama dilakukan. (King. Pemeriksaan radiologik sebaiknya dilakukan untuk membantu konfirmasi diagnosis dan untuk sebagai persiapan penanganan operatif (King.2011) 2. dan radiologi.2011) Terdapat banyak pemeriksaan radiologik yang dapat dilakukan untuk mengevaluasi osteomyelitis kronik.

Sinography dapat dilakukan jika didapatkan jejak infeksi pada sinus. Pemindaian tulang techentium 99m. Akan tetapi.2011) Pemindaian tulang dengan isotop lebih berguna pada osteomyelitis akut dibanding dengan bentuk kronik. MRI memperlihatkan daerah edema tulang dengan baik. (King. Seperti yang sebelumnya dijelaskan. MRI dapat menunjukkan suatu lingkaran hiperintens yang mengelilingi fokus infeksi (rim sign). Akan tetapi pemeriksaan ini. gold standard dari diagnosis osteomyelitis adalah biopsi dengan kultur atau sensitivitas. cenderung memiliki spesifitas yang kurang. Suatu biopsi tidak hanya 29 . yang memperlihatkan pengambilan yang meningkat pada daerah dengan peningkatan aliran darah atau aktivitas osteoblastik.polos dapat berguna untuk mendeteksi sequestra. memiliki nilai prediktif yang tinggi untuk hasil yang negatif. Pemindaian leukosit dengan Indium 111 lebih sensitif dibanding dengan technetium atau gallium dan terutama digunakan untuk membedakan osteomyelitis kronik dari arthropathypadakakidiabetik. Infeksi sinus dan sellulitis tampak sebagai area hiperintens pada gambaran T2-weighted. Pada osteomyelitis kronik. 1995) Pemindaian dengan Gallium memperlihatkan peningkatan pengambilan pada area dimana leukosit atau bakteria berakumulasi. walaupun negatif palsu telah dilaporkan. CT scan memberikan gambaran yang sempurna dari tulang kortikal dan penilaian yang cukup baik untuk jaringan lunak sekitar dan terutama berguna dalam identifikasi sequestra. (Reksoprojo. MRI lebih berguna dibanding CT scan dalam hal penilaian jaringan lunak.

2002) 30 .2008) Gambar 6. foto CT Scantampak sagital (a) dan axial (b) memperlihatkan fraktur pada tulang metatarsal dan sesamoid. 2. dengan pemberian antibiotik saja dapat menyembuhkan penyakit tersebut.1 Penatalaksanaa Osteomyelitis Hematogen Akut Penatalaksanaan yang tepat segera setelah onset osteomyelitis hematogenous akut dapat memperkecil morbiditas. Osteomyelitis pada pria berusia 84 tahun. dan pertimbangan sosioekonomi.8 Penatalaksanaan 2. Pemilihan antibiotik berdasar pada aktivitas bakteriosidal yang terkuat.8. Telah lama diketahui bahwa abses yang meluas membutuhkan drainase operatif. Operasi dan penanganan antibiotik merupakan penatalaksanaan terpenting dan pada beberapa pasien. daerah peradangan ringan tanpa pembentukan abses dapat ditangani hanya dengan antibiotic (wim de jong. akan tetapi juga berguna menentukan regimen antibiotik yang akan digunakan. Selain itu terdapat reaksi periosteal dan erosi pada caput metatarsal yang mengindikasikan adanya osteomyelitis. (King.bermanfaat dalam menegakkan diagnosis. Akan tetapi. toksisitas yang paling rendah.

. dan penempatan tungkai atau ekstremitas yang terkena yang nyaman. (2) antibiotik tidak dapat mensterilkan jaringan yang tidak memiliki vaskularisasi atau abses dan daerah tersebut membutuhkan penanganan operatif. Antibiotik dengan spektrum yang sempit khusus untuk bakteri penyebab sebaiknya diberikan jika pewarnaan gram negatif. 2002) Kadar CRP serum sebaiknya diperiksa 2 – 3 hari setelah pemberian awal antibiotik. dan keadaan pasien tetap dimonitor (Sabiston. (5) antibiotik sebaiknya tetap diberikan setelah infeksi (Wim de jong. maka pemberian antibiotik intravena berdasarkan pewarnaan gram diberikan.Pada tahun 1983 Nade menjelaskan mengenai lima prinsip dasar penanganan osteomyelitis hematogenous akut yang masih dapat diterapkan hingga saat ini: (1) Pemberian antibiotik yang tepat akan efektif sebelum pembentukan pus. maka abses yang tak terlihat sebaiknya dicari dan drainase operatif dipertimbangkan. tidak ada respon klinis yang bermakna terhadap pemberian antibiotik. 2002). Terdapat dua indikasi 31 . Jika abses yang membutuhkan drainase operatif tidak ditemukan dengan aspirasi sum-sum tulang atau subperiosteal. analgetik yang tepat. (3) Jika operasi berhasil.Pasien dengan osteomyelitis hematogenous akut sebaiknya mendapatkan perawatan supportif standar termasuk pemberian cairan intravena. maka antibiotik sebaiknya diberikan untuk mencegah pembentukan ulang dan jahitan luka primer harus terjamin aman. (4) operasi sebaiknya tidak merusak tulang atau jaringan lunak yang iskemik. Jika dalam waktu 24 hingga 48 jam. Pemeriksaan berkala yang rutin sebaiknya dilakukan.

splint tungkai posterior panjang diberikan pada tungkai dalam posisi anatomis. Antibiotik intraavena sebaiknya diberikan setelah operasi. Hal ini sebaiknya ditentukan berdasar pada kebutuhan tiap individu dan dengan konsultasi dari ahli penyakit infeksi. Ketika abses subperiosteal ditemukan pada bayi. Jika pus intrameduller ditemukan. (King 2011) Tujuan dari operasi adalah untuk drainase rongga abses dan membuang seluruh jaringan nekrotik. diikuti dengan antibiotik oral dan pengawasan kadar antibiotik serum. tumit dengan posisi 90 derajat dan jika pada 32 . Kulit kemudian ditutup dengan longgar dan pada tungkai diberikan splint. bila mencurigakan adanya perubahan ke arah keganasan (karsinoma epidermoid). rasa sakit yang hebat. maka sedikit bagian dari tulang diangkat.utama untuk operasi pada osteomyelitis hematogenous akut yaitu (1) keberadaan abses yang membutuhkan drainase dan (2) keadaan pasien tidak membaik walaupun telah diberikan antibiotik yang tepat (King.Saat yang terbaik untuk melakukan tindakan pembedahan adalah bila involukrum telah cukup kuat untuk mencegah terjadinya fraktur pasca pembedahan. saat ini cenderung mengarah pada terapi antibiotik yang semakin pendek. akan tetapi. Durasi dari terapi antibiotik kontroversial. 2002). beberapa lubang kecil sebaiknya dibuka melalui korteks hingga mencapai kanal meduller. Indikasi untuk melakukan tindakan pembedahan ialah : adanya abses. 2011). Tungkai tersebut dijaga selama beberapa minggu agar terhindar dari fraktur patologis (Wim de jong. Setelah operasi dilakukan. adanya sekuester.

2011). 2011) 2. sehingga pada pasien Osteomyelitis subakut dibutuhkan follow-up yang cukup lama (King.8. Operasi untuk osteomyeritis termasuk sequestrektomi dan reseksi tulang dan jaringan lunak yang terinfeksi. splint dilepas dan pasien diminta menggunakan tongkat bantu.3 Penatalaksanaa Osteomyelitis Kronis Osteomyelitis kronik pada umumnya tidak dapat dieradikasi tanpa operasi. Setelah luka telah sembuh. Apabila diagnosis meragukan maka dapat dilakukan biopsi dan kuretase.siku dengan fleksi 20 derajat. Debridement radikal dapat dilakukan untuk mencapai tujuan ini. 2. 2011). Debridement adekuat seringkali meninggalkan ruang kosong besar yang harus ditangani untuk mencegah rekurensi dan kerusakan tulang 33 .8. Debridement yang kurang cukup dapat menjadi alasan tingginya angka rekurensi pada osteomyelitis kronik dan kejadian abses otak pada osteomyelitis tulang tengkorak (King. Pasien di follow up selama 1 tahun dengan pemeriksaan radiologik.2 Penatalaksanaa Osteomyelitis Hematogen Subakut Pengobatan yang dilakukan dapat berupa pemberian antibiotik yang adekuat selama 6 minggu. Tujuan dari operasi adalah menyingkirkan infeksi dengan membentuk lingkungan tulang yang viable dan bervaskuler. Walaupun gejala pasien dapat berkurang dengan pemberian antibiotik. penyembuhan radiologis tergolong lama yaitu selama 12 minggu. (King.

2011). CT dan MRI.begitu pula identifikasi menyeluruh dari bakteri penginfeksi dan terapi antibiotik yang tepat. Pada umumnya. flap muskuler dan myocutaneus. 2002). sinography. Kultur dari materi yang didebridement sebaiknya dilakukan sebelum memulai terapi antibiotik. 34 . (King. Semua jaringan nekrotik harus dibuang untuk mencegah residu bakteri yang dapat menginfeksi ulang. Rekonstruksi yang tepat baik untuk defek jaringan lunak maupun tulang perlu dilakukan. Durasi pemberian antibiotik post-operasi masih kontroversi. Prosedur ini sebaiknya dilakukan dengan konsultasi ahli infeksi dan untuk fase rekonstruksi. Irrigasi berkelanjutan perlu dilakukan untuk mencegah nekrosis tulang karena bur. diperlukan konsultasi ahli bedah plastik mengenai skin graft. (King.bermakna yang dapat mengakibatkan instabilitas tulang. pemberian antibiotik intravena selama 6 minggu dilakukan setelah debridement osteomyelitis kronik. Pengangkatan semua jaringan parut yang melekat dan skin graft sebaiknya dilakukan. Sebagai tambahan dapat digunakan bur kecepatan tinggi untuk membersihkan untuk mendebridemen tepi kortikal tulang sampai titik titik perdarahan didapatkan. Swiontkowski et al melaporkan angka kesuksesan sebesar 91% dengan hanya 1 minggu pemberian antibiotik intravena dilanjutkan dengan terapi antibiotik oral selama 6 minggu (Wim de jong. Rekonstruksi sebaiknya dilakukan setelah perencanaan yang baik dan identifikasi sequestra dan abses intraosseus dengan radiography polos. 2011).

a. Buka daerah tulang yang terinfeksi dan eksisi seluruh sinus sekitar. (King. 2011). Gunakan bor untuk memberi jendela kortikal pada lokasi yang tepat dan 35 . hingga luka cukupbersih untuk penutupan jaringan lunak. Infeksi sinus diberikan metilen blue 24 jam sebelum operasi untuk memudahkan lokalisasi dan eksisi. 2011).5 cm pada tiap sisi. Sequestrektomi dan Kuretase untuk Osteomyeltis Kronik Sekuestrektomi dan kuretase membutuhkan lebih banyak waktu dan menyebabkan lebih banyak kehilangan darah pada pasien yang biasanya tidak dapat diantisipasi oleh ahli bedah yang kurang berpengalaman. Autograft kortikal dan cancellous dengan transfer tulang yang bervaskularisasi biasanya perlu dilakukan. Untuk melakukan teknik ini maka diperlukan torniket pneumatik. tetapi sering kali membutuhkan transposisi lokal jaringan muskuler atau transfer jaringan bebas yang tervaskularisasi untuk menutup segment tulang yang didebridemen secara efektif Muscle flaps ini memberikan vascularisasi jaringan yang baru untuk membantu penyembuhan tulang dan distribusi antibiotik.3 hingga 2. Walaupun secara tehnis dibutuhkan bone graft tervaskularisasi memberikan sumber aliran darah baru pada daerah tulang yang sebelumnya tidak memiliki vaskularisasi (King.Pasien membutuhkan beberapa kali debridement. Pada akhirnya stabilitas tulang harus di capai dengan bone graft untuk menutup gaps osseus. Soft tissue dibentuk kembali dengan simpel skin graft. Insisi periosteum yang indurasi dan naikkan 1. persiapan yang tepat sebaiknya dilakukan sebelum operasi.

36 . Bor berkecepatan tinggi akan membantu melokalisir perbatasan antara tulang iskemik dan sehat. dan jaringan parut dan nekrotik. Buang seluruh sequestra. Setelah penanganan. Jika memungkinkan. buka kanal tersebut pada kedua arah untuk memberikan tempat bagi pembuluh darah untuk tumbuh didalam kavitas. Jika penutupan kulit tidak memungkinkan. tutup luka dengan renggang atau berikan antibiotik dan rencanakan untuk penutupan kulit atau skin graft di masa yang akan datang. Jika tulang yang sklerotik membentuk kavitas didalam kanal meduller. Pemberian antibiotik dilanjutkan dalam periode yang panjang dan dimonitor dengan ketat (King. 2011). maka flap muskuler lokal atau transfer jaringan bebas dapat dilakukan untuk mengisi ruang kosong tersebut. Setelah membuang jaringan yang mencurigakan. tungkai dipasangkan splint sampai luka sembuh dan kemudian dilindungi untuk mencegah fraktur patologis.angkat dengan menggunakan osteotome. Jika kavitas tidak dapat diisi dengan jaringan lunak sekitar. eksisi tepi tulang yang menggantung secara hati-hati dan hindari membuat rongga kosong atau kavitas. materi purulenta. tutupi kulit dengan renggang dan pastikan tidak ada tekanan kulit yang berlebihan.

myokutaneus. Semua material yang terinfeksi dibuang. dan 5. 4. B. Luka dapat dibungkus terbuka atau ditutup dengan longgar dan memakai drain Defek jaringan lunak dan tulang harus diisi untuk mereduksi kemungkinan infeksi lanjutan dan kerusakan fungsi. Penggunaan prosedur ini berdasarkan prinsip sebagai berikut : 37 . A. Transfer mikrovaskuler flap muskuler. Daerah tulang yang terinfeksi dibuka dan sequestrum dibuang. C.Bone graft dengan penutupan primer dan sekunder. Flap muskuler lokal dan skin graft dengan atau tanpa bone graft.Gambar 6. dan osteocutaneous. (King. Beberapa teknik telah dideskripsikan untuk penanganan defek tersebut dan terbukti berhasil jika dilakukan dengan benar. b. Graft Tulang Terbuka Papineau et al menggunakan teknik graft tulang terbuka untuk penatalaksanaan osteomyelitis kronik. 2011). Metode untuk mengeliminasikan ruang kosong tersebut adalah sebagai berikut : 1. 2. Teknik sekuestrektomi dan kuretase. Penggunaan transport tulang (Illizarof technique). 3. Penggunaan antibiotik polymethylsmethacrylate (PMMA) sebagai saringan temporer sebelum rekonstruksi. osseous.

Immobilisasi yang adekuat. 5. (King. 3. (2) cancellous autografting. c. 2011).1. Rasionalisasi untuk penatalaksanaan ini adalah untuk memberikan antibiotik kadar tinggi secara lokal dengan konsentrasi yang melampaui konsentrasi inhibitorik minimal. Panda et al melaporkan angka kesuksesan dengan menggunakan teknik Papineau untuk penatalaksanaan 41 pasien dengan osteomyelitis kronik. dan (3) penutupan kulit. (King. Penatalaksanaan ini memiliki keunggulan dalam hal memperoleh antibiotik dengan konsentrasi sangat tinggi sementara menjaga 38 . Graft tulang cancellous autogenous sangat cepat tervaskularisasi dan mencegah terjadinya infeksi. Operasi tersebut dibagi menjadi tiga tahap yaitu sebagai berikut. Antibiotik Rantai Plymethylmethacrylate (PMMA) Klemm dan investigator lainnya melaporkan hasil yang cukup baik dengan penggunaan antibiotik PMMA untuk penatalaksanaan osteomyelitis kronik. 6. 2. 2011). Daerah terinfeksi dieksisi dengan sempurna. Jaringan granulasi dapat mencegah infeksi. Antibiotik diberikan dalam jangka panjang. Drainase yang adekuat. (1) eksisi jaringan terinfeksi dengan atau tanpa stabilisasi dengan menggunakan fixator eksternal atau intramedullari rod. 4. Penelitian farmakokinetik telah menunjukkan bahwa konsentrasi antibiotik lokal yang diperoleh mencapai 200 kali lebih tinggi dibandingkan pemberian antibiotik sistemik.

kadar toksisitas dalam serum dan sistemik tetap rendah. Henry et al melaporkan hasil yang bagus pada 17 pasien dengan implantasi permanen antibiotik PMMA bead. (King. semua jaringan terinfeksi dan nekrotik telah di debridement dengan adekuat sebelumnya dan semua benda asing dibuang. atau permanen dapat dilakukan. maka butir PPMA akan dianggap benda asing dan merupakan tempat yang sesuai untuk kolonisasi bakteri 39 . Konsentrasi antibiotik yang sangat tinggi hanya dapat dicapai dengan penutupan luka primer. dan clindamisin terlarut dengan baik paad PMMA bead. Antibiotik berasal dari PMMA bead ke dalam luka hematoma post operasi dan sekresi. Implantasi antibiotik PMMA jangka pendek. polymixin B dirusak selama proses exothermik pada pengerasan PMMA bead sehingga jenis antibiotik tersebut tidak dapat digunakan. jika penutupan seperti demikian tidak dapat dilakukan maka luka dapat ditutup dengan perban kedap air. Kadar bakteriosidal dari antibiotik ini hanya bertahan selama 2-4 minggu setelah impantasi dan setelah seluruh isi antibiotik keluar. Sebelum PMMA bead diimplantasi. 2011). Antibiotik seperti fluoroquinolon. PMMA bead dibuang dalam 10 hari pertama. Golongan aminoglikosida merupakan jenis antibiotik yang digunakan bersama PMMA bead. jangka panjang. yang berfungsi sebagai media tranport. vancomysin kurang terlarut dengan baik. Drain isap tidak direkomendasikan karena konsentrasi antibiotik dapat berkurang (King. cephalosporin. tetrasiklin. Pada implantasi jangka pendek. Rasionalisasi pembuangan PMMA ini dipertimbangkan atas beragam faktor. dan pada implantasi jangka panjang PMMA bead ini diberikan hingga 80 hari. Penisilin. 2011).

PMMA juga terbukti menghambat respon imun lokal dengan mengganggu beberapa jenis sel imun yang fagositik. dan otot soleus digunakan untuk defek sekitar 1/3 medial tibia. Setelah pemberian antibiotik PMMA ini maka kantong bead perlu diganti dalam interval 72 jam dengan debridement berulang dan irigasi hingga luka siap ditutup.pembentuk glykocalyx. d. osseous. Transfer jaringan lunak bebas dengan mikrovaskuler dibutuhkan untuk defek sekitar 1/3 distal tibia. (King. Kebanyakan flap muskuler lokal digunakan untuk penanganan (King.2011). osteomyelitis kronik pada tibia. 2011). Jaringan mikrovaskuler dapat mengandung otot yang menutupi skin graft atau flap myokutaneous. Transfer Jaringan Lunak (Soft Tissue Transfer) Transfer jaringan lunak untuk mengisi ruang kosong yang tertinggal setelah operasi debridement luas dapat mencakupi flap muskuler terlokalisir pada pedikel vaskuler hingga transfer jaringan lunak dengan mikrovaskuler. Angka keberhasilan untuk teknik ini dilaporkan oleh literatur adalah sebesar 66% hingga 100%. begitupula untuk pengangkutan antibiotik dan penyembuhan osseus dan jaringan lunak. dan osteocutaneous. Transfer jaringan otot bervaskularisasi memperbaiki lingkungan biologis lokal dengan membawa suplai darah yang penting bagi mekanisme daya tahan tubuh. (King. Debridement 40 . Beberapa penliti melaporkan angka keberhasilan yang tinggi pada penanganaan osteomyelitis kronik dengan penggunaan transfer jaringan bebas mikrovaskuler. 2011). Otot gastrocnemius digunakan untuk defek sekitar 1/3 proximal tibia.

2011). 2011) 2. Kortikotomi dimulai dari proximal jaringan tulang normal dan distal daerah yang terinfeksi. dan semua pergerakan sendi terbatas karena adanya spasme otot. Pada demam reumatik.9. (King. Pada selulitis. e. Pseudo-osteitis dapat timbul dengan manifestasi klinis yang sangat mirip dengan osteomielitis. nyeri cenderung berpindah dari satu sendi ke sendi lainnya.awal yang adekuat pada daerah yang terkena membantu meningkatkan angka keberhasilan teknik ini. Diagnosa Banding Diagnosis banding pada masa akut adalah demam reumatik dan selulitis. Arthritis supuratif akut dibedakan dari osteomielitis hematogen akut berdasarkan adanya nyeri yang difus . Teknik ini dilakukan dengan reseksi radikal pada tulang yang terinfeksi. Bisa terdapat carditis. terjadi limfangitis. Teknik Lizarof Teknik lizarof telah terbukti bermanfaat untuk penatalaksanaan osteomyelitis kronik dan nonunion yang terinfeksi. (King. (King. Diagnosis ditegakkan terutama dengan adanya pambesaran hati dan lien. atau erythema marginatum. Kekurangan teknik ini yaitu waktu yang digunakan hingga terjadi union solid dan insiden komplikasi yang terkait Dendrinos et al melaporkan diperlukan rata-rata 6 bulan hingga terbentuknya union dengan beberapa komplikasi pada tiap pasien. Tulang kemudian dipindahkan hingga union dicapai. nodul-nodul rematik. terdapat kemerahan superfisial yang melebar. Akan tetapi walaupun dengan kekurangan tersebut Prosedur Lizarof menguntungkan pasien yang membutuhkan reseksi luas dari tulang dan rekonstruksi untuk tercapainya stabilitas (King. 2008) Pada Gaucher’s Disease. 2008) 41 .

dijumpai juga pada osteosarkoma dan Ewing sarkoma. 2002).0 Pencegahan Osteomyelitis hematogenous akut dapat dihindari dengan mencegah pembibitan bakteri pada tulang dari jaringan yang jauh. tampak destruksi tulang yang bersifat infiltratif. pembentukan tulang baru. Juga pada osteosarkoma ditemukan segitiga Codman. Ewing Sarkoma biasanya mengenai diafisis. kemungkinan untuk membedakan lebih besar karena pada osteosarkoma biasanya ditemukan pembentukan tulang yang lebih banyak serta adanya infiltrasi tumor yang disertai penulangan patologik ke dalam jaringan lunak. Osteomyelitis inokulasi langsung dapat dicegah dengan perawatan luka yang baik. reaksi periosteal yang kadang-kadang menyerupai kulit bawang yang berlapis-lapis dan massa jaringan lunak yang besar. seperti halnya osteomielitis. Destruksi tulang. biasanya mengenai metafisis tulang panjang sehingga pada stadium dini sangat sukar dibedakan dengan osteomielitis. reaksi periosteal. (King.Gambaran Radiologik osteomielitis dapat menyerupai gambaran penyakitpenyakit lain pada tulang. 2008) Osteosarkoma. pembersihan daerah yang mengekspos tulang dengan lingkungan luar 42 . Pada stadium yang lebih lanjut. (Rasad. Hal ini dapat dilakukan dengan penentuan diagnosis yang tepat dan dini serta penatalaksanaan dari fokus infeksi bakteri primer (Wim de jong. (Rasad.2000) 3.2000) Pada tulang panjang. diantaranya yang terpenting adalah tumor ganas primer tulang. dan pembengkakan jaringan lunak.

dan pemberian antibiotik profilaksis yang agresif dan tepat pada saat terjadinya cedera (Wim de jong. 2002).yang sempurna. 43 .

Osteomyelitis hematogenous akut dapat dihindari dengan mencegah pembibitan bakteri pada tulang dari jaringan yang jauh. dan jaringan lunak disekitar tulang.1 Kesimpulan Osteomyelitis adalah proses inflamasi akut atau kronik pada tulang dan struktur sekundernya karena infeksi oleh bakteri piogenik. dan pemberian antibiotik profilaksis yang agresif dan tepat pada saat terjadinya cedera. perioesteum. Hal ini dapat dilakukan dengan penentuan diagnosis yang tepat dan dini serta penatalaksanaan dari fokus infeksi bakteri primer. Infeksi dapat terbatas pada sebagian kecil tempat pada tulang atau melibatkan beberapa daerah seperti sum-sum. Osteomyelitis merupakan inflamasi pada tulang yang disebabkan infeksi piogenik atau nonpiogenik seperti Micobacterium tuberkulosa atau Staphylococcus aureus. Osteomyelitis inokulasi langsung dapat dicegah dengan perawatan luka yang baik. pembersihan daerah yang mengekspos tulang dengan lingkungan luar yang sempurna.BAB 3 PENUTUP 3. DAFTAR PUSTAKA 44 .

Penerbit EGC.com. Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit.1995.EU. 2011. Editor. Last updated: Nov 4. Sabiston. Bagian Radilogi FKUI. Jakarta : EGC Pedoman diagnosis dan Terapi lab/upf ilmu bedah RSUD dr. Osteomyelitis. Kartono. 1995 Editor.. Ekayuda I. Buku Ajar Ilmu Bedah. Sumardi. Radiologi diagnostik. Reksoprojo. Francis A. Johnson D.AD. Randall W King. 2002 W.. Cotrans. Cetakan Pertama.R De Jong. Pathologic Basis of Disease 7th Edition.M. Sylvia Anderson dkk. Infeksi Tulang dan Sendi.emedicine. Ramli. Waldvogel. 2000. eMedicine. Jakarta. Edisi Revisi. Rachmat. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Pusponegoro. Jakarta. 2002. 2000 alih bahasa: Andrianto. 45 .S.Soetoo Tahun 1994 Rasad S. Penerbit EGC. Hal: 62-72.M. 2007 Price. www. Inc di acces tanggal 16 juni 2013 Robin. DC.P. 1058-1064. Penerbit Bagian Ilmu Bedah FKUI/RSCM. Osteomyelitis. Sjamsuhidajat. Daniel P. Jakarta. 2000. Dachlan.com.C. KB. 2008 Lew.D. The New England Journal of Medicine di acces tanggal 16 juni 2013 Luthfia. Hutagalung. Jakarta.R. Osteomyelitis. Editor Ronardy DH.King R. Kartoleksono S. Buku Ajar Bedah Bagian 2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful