You are on page 1of 22

Antipsikotika Sekilas tentang antipsikotika Antipsikotika adalah obat obat yang dapat menekan fungsi-fungsi psikis tertentu tanpa

mempengaruhi fungsi-fungsi umum (berpikir dan kelakuan normal). Antipsikotika dapat meredam agresi maupun emosi serta dapat pula menghilangkan atau mengurangi gangguan jiwa, seperti impian dan pikiran khayal serta menormalkan perilaku tidak normal. Oleh karena itu umumnya antipsikotika digunakan pada psikosis (penyakit jiwa yang hebat yang sulit sembuh pada pasien) misalnya seperti pada penyakit schizophrenia dan psikosis mania-depresif. Obat-obatan antipsikosis yang dapat meredakan gejala-gejala schizophrenia adalah chlorpromazine (thorazine) dan fluphenazine decanoate (prolixin). Antipsikotika juga dikenal dengan sebutan neuroleptika atau major tranquillizers. Gangguan-gangguan Jiwa Sebelum melangkah ke pengertian selanjutnya dibawah ini ada sedikit ringkasan beberapa gangguan jiwa terpenting yang berkaitan dengan psikose (seperti yang kami kutip dari sumber buku Obat-Obat Penting dari Drs. Tan Hoan Tjay & Drs. Kirana Rahardja dan sumber lain padahttp://ikasatyani.blogspot.com/2008_09_01_archive.html) diantaranya: 1. Psikose: Sebagai gangguan jiwa yang sangat merusak akal budi dan pengertian (insight), timbulnya pandangan tidak realities atau bizar (aneh), mempengaruhi kepribadian dan mengurangi berfungsinya si penderita. Gejala psikotis yang muncul mencakup waham/ pikiran khayal, halusinasi dan gangguan berpikir formil/ tak dapat berpikir riil. Ini seringkali disebabkan oleh schizophrenia dan dapat diobati dengan antipsikotika. 2. Neurose: ini termasuk gangguan jiwa tanpa gejla psikotis. Kepribadian pasien relatif kurang dirusak dan kontak dengan realitas tidak terganggu. Gejalanya dapat disebut kegelisahan, cemas, murung, mudah tersinggung, dan berbagai perasaan tidak enak di

tubuh. Penyakit ini dapat diatasidengan tranquillizers. 3. Sindrome Borderline (BPD): dimana gejalanya terletak diperbatasan antara neurose dan psikose. Gejalanya banyak sekali yang utama antara lain: impulsivitas, instabilitas emosional dengan perubahan suasana jiwa secara mendadak, percobaan bunuh diri, kesulitan membuat kontak karena segala sesuatu dianggap sebagai hitam putih. Pengobatan dilakukan poliklinis dengan kombinasi dari suatu bentuk kombinasi psikoterapi khusus dan psikofarmaka (antipsikotika, antidepresiva, atau obat-obat yang meregulasi suasana, seperti litium). 4. Mania: kecenderungan patologis untuk suatu aktifitas tertentu, yang tidak dapat dikendalikan, misalnya mengutil (kleptomania). Penanganan mania dapat dilakukan dengan antipsikotika, khususnya klorporazin, haloperidol, dan pimozida. 5. Scizofrenia: merupakan gangguan jiwa yang pada kebanyakan kasus bersifat sangat serius, berkelanjutan, dan dapat menyebabkan kendala sosial, emosional dan kognitif . Akan tetapi banyak varian lain yang kurang serius. Scizofrenia adalah penyebab terpenting gangguan psikotis, dimana periode psikotis diselingi periode normalsaat pasien bisa berfungsi baik. Mulainya penyakit sering kali secara menyelinap. Pada pria biasanya timbul antara usia 15-25 tahun, jarang diatas 30 tahun, sedangkan pada wanita antara 25-35 tahun. Catatan lain dari scizofrenia merupakan gangguan mental klasifikasi berat dan kronik (psikotik) yang menjadi beban utama pelayanan kesehatan jiwa di Indonesia sejak jaman pemerintahan Hindia Belanda sampai sekarang. Obatobatan antipsikosis yang dapat meredakan gejala-gejala schizophrenia adalah chlorpromazine (thorazine) dan fluphenazine decanoate (prolixin). Kedua obat tersebut termasuk kelompok obat phenothiazines, reserpine (serpasil), dan haloperidol (haldol). Obat ini disebut obet penenang utama. Obat tersebut dapat menimbulkan rasa kantuk dan kelesuan, tetapi tidak mengakibatkan tidur yang lelap, sekalipun dalam dosis yang sangat tinggi (orang tersebut dapat dengan mudah terbangun). Obat ini tampaknya mengakibatkan sikap acuh pada stimulus. luar. Obat ini cukup tepat bagi penderita schizophrenia yang tampaknya tidak dapat menyaring stimulus yang tidak relevan). Bukti menunjukkan bahwa obat antipsikotik ini bekerja pada bagian batang otak, yaitu sistem retikulernya, yang selalu mengendalikan masukan berita dari alat indera pada cortex cerebral .

Penggolongan Antipsikotika Antipsikotika dibagi dalam dua kelompok besar yaitu: 1. Antipsikotika klasik/ typis, ini efektif mengatasi simtom positif. Dan dibagi dalam dua kelompok kimiawi sebagai berikut: Derivat fonotiazin: klorpromazin, levomepromazin dan triflupromaz in (siquil)-thioridazin dan periciazin-dan flufenazin-perazin (taxilan), trifluoperazin (stemetil), dan thietilperazin (torecan) Derivat thioxanthen: klorprotixen (truxal) dan zuklopentixol (cisordinol). Derivat butirofenon: haloperidol, bromperidol, pipamperon, dan droperidol. Derivat butilpiperadin: pimozida, fluspirilen, dan penfluridol. Senyawa fenotiazin dan tioksanten maupun butirofenon, difenilbutilpiperadin mewakili secara khas neuroleptika. Yang bekerja meredam di daerah afektif, tanpa merugikan secara nyawa kesadaran (walter schunack, klaus mayer, manfred haake: Senyawa Obat) 2. Antipsikotika Atypis: obat-obat atypis ini Sulprida, klozapin, risperidon, olanzapin, dan quietiapin (seroquel)bekerja efektif melawan simtom-simtom negatif, yang praktis kebal terhadap obat-obat klasik. Dan ini efek sampingnya lebih ringan, khususnya gangguan ekstrapiramidal dan dyskinesia tarda. Sulpirid merupakanpsikofarmakon pertama dari golongan obat sulfamoilbenzami, yang digunakan dalam terapi. Senyawa ini memperlihatkan sifat neuroleptik lama dengan komponen kerja antidepresan yang nyata. Dosis rendah antipsikotik atipikal tertentu seperti quetiapine, olanzapine dan risperidone juga diresepkan untuk efek penenang mereka, tapi bahaya neurologis dan efek samping kognitif membuat obat-obatan ini merupakan pilihan yang buruk untuk mengobati insomnia. Dan, dosis yang lebih tinggi diambil (300 mg 900 mg) untuk digunakan sebagai antipsikotik, sedangkan dosis yang lebih rendah (25

mg 200 mg) yang ditandai memiliki efek penenang, misalnya jika seorang pasien membutuhkan 300 mg, ia akan lebih diuntungkan dari efek antipsikotik obat, tetapi jika dosis diturunkan ke 100 mg, akan membuat pasien merasa lebih terbius daripada 300 mg, karena bekerja sebagai obat penenang terutama pada dosis rendah http://en.wikipedia.org/wiki/Insomnia.

Indikasi Fisiologi dan penggunaan Antipsikotika memiliki beberapa indikasi fisiologis diantaranya: Antipsikotis: obat-obat ini digunakan untuk gangguan jiwa dengan gejala psikotis. Seperti scizofrenia, mania, depresi psikotis dan depresipsikotis. Selain itu untuk menangani gangguan perilaku seriuspada pasien demensia dan gangguan rohani, juga untuk keaadan gelisah akut dan penyakit lata. Aaxiolitis: meniadakan rasa bimbang, takut, kegelisahan dan agresi yang hebat. Oleh karena itu kadang obat ini digunakan dalam dosis rendah sebagi minor transquillizers pada kasus-kasus besar dimana benzodiazepin (pimozida, thioridazin) kurang efektif. Berhubung efek sampingnya penggunaan antipsikotika dalam dosis rendah sebagai axiolitika tidak dianjurkan. Antiemetis: sering digunakan untuk melawan mual dan muntah yang hebat, seperti pada terapi sitostatika, sedangkan pada mabuk jalan tidak efektif. Obat ini adalah proklorperazin dan thietilperazin. Obat yang lain adalah klorpromazin, perfenazin, triflupromazin, flufenazin, haloperidol (dalam dosis rendah), metoklopramida. Analgetis: ini diantaranya, levomepromazin, haloperidol, dan droperidol. Kecuali droperidol obat tersebut jarang digunaka sebagai antinyeri, mengapa? Karena dapat memperkuat efek analgetika dengan jalan meningkatkan ambang nyeri.

Mekanisme Kerja Psikofarmaka pada umumnya yang bekerja secara selektif pada susunan saraf pusat (SSP) dan mempunyai efek efek utama terhadap aktifitas mental dan perilaku, digunakan untuk terapi gangguan psikiatrik.

Semua psikofarmaka bersifat lipofil dan mudah masuk ke dalam cairan cerebrospinal. Walaupun mekanisme kerjanya pada tarf biokimiawi belum diketahui dengan pasti, tetapi setidaknya ada petunjuk kuat bahwa mekanisme ini behubungan erat dengan kadar neurotransmitter di otak atau antar keseimbanganya (Obat-Obat Penting, Tan Hoan Tjay & Kirana H, hal:424) Antipsikotika bekerja menghambat agak kuat reseptor dopamin (D2) di sistem limbis otak dan disamping itu juga menghambat reseptor D1/D4, 1 (dan 2)-adrenerg, serotonin, muskarin, dan histamin. Tetapi pada pasien yang kebal terhadap obat-obat klasik ditemukan pula blokade tuntas dari reseptor D2 tersebut. Sebenarnya blokade-D2 saja tidak cukup, perlu mempengaruhi neurohormon lainnya seperti serotonin (5HT2), glutamat, dan gamma-butyric acid. Saat awal kerjanya blokade-D2 cepat, begitu pula efeknya pada keadaan gelisah. Sebalinya kerjanya terhadap gejala psikose lain (waham, halusinasi, gangguan pikiran) baru terlihat setelah beberapa minggu . Mungkin masa latensi ini menyebabkan sistem reseptor-dopamin menjadi kurang peka. Antipsikotika atypis memiliki afinitas lebih besar untuk reseptor-D1 dan D2 sehingga lebih efektif daripada obat-obat klasik untuk melawan simtom negatif, serta antipsikotika atypis lebih jarang menimbulkan gejala ekstrapiramidal dan dyskinesia tarda.

Obat antipsikotik yang beredar dipasaran dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu antipsikotik generasi pertama (APG I)/ Antipsikotik Klasik/ Typis dan antipsikotik generasi ke dua (APG ll)/ Serotonin Dopamin Antagonis (SDA)/ Antipsikotik Atipikal. APG I bekerja dengan memblok reseptor D2 di mesolimbik, mesokortikal, nigostriatal dan tuberoinfundibular sehingga dengan cepat menurunkan gejala positif tetapi pemakaian lama dapat memberikan efek samping berupa : gangguan ekstrapiramidal, tardive dyskinesia, peningkatan kadar prolaktin yang akan menyebabkan disfungsi seksual / peningkatan berat badan dan memperberat gejala negatif maupun kognitif. Selain itu APG I menimbulkan efek samping antikolinergik seperti mulut kering pandangan kabur gangguaniniksi, defekasi dan hipotensi. APG I dapat dibagi lagi menjadi potensi tinggi bila dosis yang digunakan kurang atau sama dengan 10 mg diantaranya adalah trifluoperazine, fluphenazine, haloperidol dan pimozide . Obat-obat ini digunakan untuk

mengatasi sindrom psikosis dengan gejala dominan apatis, menarik diri, hipoaktif, waham dan halusinasi . Potensi rendah bila dosisnya lebih dan 50 mg diantaranya adalah Chlorpromazine dan thiondazine digunakan pada penderita dengan gejala dominan gaduh gelisah, hiperaktif dan sulit tidur. APG II sering disebut sebagai serotonin dopamin antagonis (SDA) atau antipsikotik atipikal. Bekerja melalui interaksi serotonin dan dopamin pada ke empat jalur dopamin di otak yang menyebabkan rendahnya efek samping extrapiramidal dan sangat efektif mengatasi gejala negatif. Obat yang tersedia untuk golongan ini adalah clozapine, olanzapine, quetiapine dan rispendon. Dosis rendah antipsikotik atipikal tertentu seperti quetiapine, olanzapine dan ri speridone juga diresepkan untuk efek penenang mereka, tapi bahaya neurologis dan efek samping kognitif membuat obat-obatan ini merupakan pilihan yang buruk untuk mengobati insomnia.. Efek Samping Psikotika Efek samping pada sistem saraf (extrapyramidal side efect/EPSE) 1). Parkinsonisme Efek samping ini muncul setelah 1 - 3 minggu pemberian obat. Terdapat trias gejala parkonsonisme: Tremor: paling jelas pada saat istirahat Bradikinesia: muka seperti topeng, berkurang gerakan reiprokal pada saat berjalan Rigiditas: gangguan tonus otot (kaku) 2). Reaksi distonia: kontraksi otot singkat atau bisa juga lama Tanda-tanda: muka menyeringai, gerakan tubuh dan anggota tubuh tidak terkontrol 3). Akathisia Ditandai oleh perasaan subyektif dan obyektif dari kegelisahan, seperti adanya perasaan cemas, tidak mampu santai, gugup, langkah bolak-balik dan gerakan mengguncang pada saat duduk.

Ketiga efek samping di atas bersifat akur dan bersifat reversible (bisa ilang/kembali normal). 4). Tardive dyskinesia Merupakan efek samping yang timbulnya lambat, terjadi setelah pengobatan jangka panjang bersifat irreversible (susah hilang/menetap), berupa gerakan involunter yang berulang pada lidah, wajah,mulut/rahang, anggota gerak seperti jari dan ibu jari, dan gerakan tersebut hilang pada waktu tidur. b. Efek samping pada sistem saraf perifer atau anti cholinergic side efect Terjadi karena penghambatan pada reseptor asetilkolin. Yang termasuk efek samping anti kolinergik adalah: Mulut kering Konstipasi Pandangan kabur: akibat midriasis pupil dan sikloplegia (pariese otot-otot siliaris) menyebabkan presbiopia Hipotensi orthostatik, akibat penghambatan reseptor adrenergic Kongesti/sumbatan nasal

Interaksi Obat anti-psikotik rata2 mempunyai lama kerja efektif yang pendek (1-2 hari), kecuali yang memang dibuat dengan extended duration . Hal ini merupakan masalah karena perlu pemberian kronis. Karena itu ritme diurnal harus diperhitungkan, apakah harus diberi pagi atau malam hari. Pengalaman menunjukkan bahwa bila obat yg menimbulkan ngantuk/sedasi diberi pagi hari maka penderita tidur terus sewaktu siang hari, yang akan dianggap merupakan bagian integral dari penyakitnya sendiri oleh dokter (dan pasien TENANG/ tidak gaduh). Hal ini sering terlihat; dan justru dianggap berhasil pengobatannya. Bila terdapat tipe manik-depresi, sebaiknya obat seperti haloperidol dan sertraline, yang mempunyai efek sedasi kuat sekali diberikan malam hari saja. Pada pagi harinya dapat diberikan obat lain yang tidak sedatif seperti sulpiride (bila

diperlukan). Dengan tindakan sederhana ini keadaan penderita akan jauh lebih baik

Contoh Obat-Obat Antipsikotika dan Antidepresi 1. ANTIDEPRESI NO CONTOH OBAT GOLONGAN ANTIDEPRESI NAMA PATEN KOMPOSISI 1 Klomipramin Hidroklorida Anafranil Klomipramin Hidroklorida 2 Fluoksetin Hidroklorida Andep Fluoksetin Hidroklorida 3 Amoksapin Asendin Amoksapin 4 Sertralin Antipres Sertralin 5 Fluoksetin Hidroklorida Antiprestin Fluoksetin Hidroklorida 6 Moklobemida p-kloroN Benzamid Aurorik Moklobemida p-kloroN Benzamid 7 Fluoksetin Courage Fluoksetin 8 Buspiron Hidroklorida Buspar Buspiron Hidroklorida 9 Setralin Hidroklorida Deptral Setralin Hidroklorida 10 Sulpirida Dogmatil Sulpirida 11 Fluoksitin HCl Elizac 20 Fluoksitin HCl 12 Fluoksitin Hidroklorida Foransi Fluoksitin Hidroklorida 13 Sertralin Hidroklorida Fridep Sertralin Hidroklorida 14 Litium Karbonat Frimania Litium Karbonat 15 Serttraline Hidroklorida Iglodep Serttraline Hidroklorida 16 Fluoksitin Hidroklorida Kalxetin Fluoksitin Hidroklorida

17 Baklofen Liorezal Baklofen 18 Flukosetin Lodep Flukosetin 19 Maprotilin Hidroklorida Ludiomil Maprotilin Hidroklorida 20 Maprotilin Hidroklorida Ludios Maprotilin Hidroklorida 21 Fluvoksamin Maleat Luvox Fluvoksamin Maleat 22 Perphenazine Mutabon-D Perphenazine 23 Fluoxetine Nopres Fluoxetine 24 Levomepromaszin Nozinan Levomepromaszin 25 Sertralin Nudep Sertralin 26 Fluoksitin Hidroklorida Oxipres Fluoksitin Hidroklorida 27 Fluoksitin Hidroklorida Prestin Fluoksitin Hidroklorida 28 Fluoksitin Hidroklorida Prozac Fluoksitin Hidroklorida 29 Mirtazapin Remeron Mirtazapin 30 Maprotilin Hidroklorida Sandepril Maprotilin Hidroklorida 31 Sertraline Hidroklorida Serlof Sertraline Hidroklorida 32 Paroksetin Hidroklorida Seroxat Paroksetin Hidroklorida 33 Amineptin Hidroklorida Survector Amineptin Hidroklorida 34 Maprotilin Hidroklorida Tilsan Maprotilin Hidroklorida 35 Imipramin Hidroklorida Tofranil Imipramin Hidroklorida 36 Mianserin Hidroklorida Tolvon Mianserin Hidroklorida 37 Buspiron Hidroklorida Tran-Q Buspiron Hidroklorida

38 Trazodon Hidroklorida Trazone Trazodon Hidroklorida 39 Amitiptilin Hidroklorida Trilin Amitiptilin Hidroklorida 40 Buspiron Xiety Buspiron 41 Fluoxetine Zac Fluoxetine 42 Fluoxetine Hidroklorida Zactin Fluoxetine Hidroklorida 43 Sertralin Zerlin Sertralin 44 Sertralin Zoloft Sertralin 2. ANTIPSIKOSIS NO CONTOH OBAT GOLONGAN ANTIPSIKOSIS NAMA PATEN KOMPOSISI 1 Flufenazin Hidroklorida Anatensol Flufenazin Hidroklorida 2 Klorpromazin Hidroklorida Cepezet Klorpromazin Hidroklorida 3 Klozapin Clorilex Klozapin 4 Klozapin Clozaril Klozapin 5 Haloperidol Dores Haloperidol 6 Haloperidol Govotil Haloperidol 7 Klorpromazin Hidroklorida Largactil Klorpromazin Hidroklorida 8 Haloperidol Lodomer Haloperidol 9 Zotepine Lodopin Zotepine 10 Tioridazin Hidroklorida Mellerril Tioridazin Hidroklorida 11 Klorpromazin Hidroklorida Meprosetil Klorpromazin Hidroklorida 12 Flufenazin Dekanoat Modecate Flufenazin Dekanoat

13 Flufenazin Hidroklorida Motival Flufenazin Hidroklorida 14 Perphenazine Mutabon-M Perphenazine 15 Risperidon Neripros Risperidon 16 Risperidon Noprenia Risperidon 17 Pimozide Orap forte Pimozide 18 Risperidon Persidal Risperidon 19 Klorpromazin Hidroklorida Promactil Klorpromazin Hidroklorida 20 Risperidone Risperdal Risperidone 21 Risperidone Risperdal Const Risperidone 22 Risperidone Rizodal Risperidone 23 Haloperidol Seradol Haloperidol 24 Haloperidol Serenace Haloperidol Kuetiapin Fumarat Seroquel Kuetiapin Fumarat 25 Klozapin Sizoril Klozapin 26 Trifluoperazin Stelazine Trifluoperazin 27 Prokloperazin Stemetil Prokloperazin 28 Trifluoperazin Trizine Trifluoperazin 29 Risperidol Zofredal Risperidol 30 Olanzapine Zyprexa Olanzapine

Contoh Obat Antipsikotik RISPERIDONE 1 mg (http://www.dexa-medica.com/ourproducts/prescriptionproducts/) Tiap tablet salut selaput mengandung: Risperidone 1 mg RISPERIDONE 2 mg Tiap tablet salut selaput mengandung: Risperidone 2 mg RISPERIDONE 3 mg Tiap tablet salut selaput mengandung: Risperidone 3 mg

FARMAKOLOGI Cara kerja obat Risperidone termasuk antipsikotik turunan benzisoxazole. Risperidone merupakan antagonis monoaminergik selektif dengan afinitas tinggi terhadap reseptor serotonergik 5-HT2 dan dopaminergik D2. Risperidone berikatan dengan reseptor 1-adrenergik. Risperione tidak memiliki afinitas terhadap reseptor kolinergik. Meskipun risperidone merupakan antagonis D2 kuat, dimana dapat memperbaiki gejala positif skizofrenia, hal tersebut menyebabkan berkurangnya depresi aktivitas motorik dan induksi katalepsi dibanding neuroleptik klasik. Antagonisme serotonin dan dopamin sentral yang seimbang dapat mengurangi kecenderungan timbulnya efek samping ekstrapiramidal, dia memperluas aktivitas terapeutik terhadap gejala negatif dan afektif dari skizofrenia.

Farmakokinetik Risperidone diabsorpsi sempurna setelah pemberian oral, konsentrasi plasma puncak dicapai setelah 1-2 jam. Absorpsi risperidone tidak dipengaruhi oleh makanan. Hidroksilasi merupakan jalur metabolisme terpenting yang mengubah risperidone menjadi 9hidroxyl-risperidone yang aktif. Waktu paruh (T) eliminasi dari fraksi antipsikotik yang aktif adalah 24 jam. Studi risperidone dosis tunggal menunjukkan konsentrasi zat aktif dalam plasma yang lebih tinggi dan eliminasi yang lebih lambat pada lanjut usia dan pada pasien dengan gangguan ginjal. Konsentrasi plasma tetap normal pada pasien dengan gangguan fungsi hati.

INDIKASI Terapi pada skizofrenia akut dan kronik serta pada kondisi psikosis yang lain, dengan gejala-gejala tambahan (seperti; halusinasi, delusi, gangguan pola pikir, kecurigaan dan rasa permusuhan) dan atau dengan gejala-gejala negatif yang terlihat nyata (seperti; blunted affect, menarik diri dari lingkungan sosial dan emosional, sulit berbicara). Juga mengurangi gejala afektif (seperti; depresi, perasaan bersalah dan cemas) yang berhubungan dengan skizofrenia.

KONTRAINDIKASI Hipersensitif terhadap risperidone.

DOSIS Dosis umum Hari ke-1 : 2 mg/hari, 1-2 x sehari Hari ke-2 : 4 mg/hari, 1-2 x sehari (titrasi lebih rendah dilakukan pada beberapa pasien)

Hari ke-3 : 6 mg/hari, 1-2 x sehari Dosis umum 4-8 mg per hari Dosis di atas 10 mg/hari tidak lebih efektif dari dosis yang lebih rendah dan bahkan mungkin dapat meningkatkan gejala ekstrapiramidal. Dosis di atas 10 mg/hari dapat digunakan hanya pada pasien tertentu dimana manfaat yang diperoleh lebih besar dibanding dengan risikonya. Dosis di atas 16 mg/hari belum dievaluasi keamanannya sehingga tidak boleh digunakan. Penggunaan pada penderita geriatrik, juga penderita gangguan fungsi ginjal dan hati: Dosis awal: 0,5 mg, 2 x sehari Dosis dapat disesuaikan secara individual dengan penambahan 0,5 mg, 2 x sehari (hingga mencapai 1-2 mg, 2 x sehari) Penggunaan pada anak: Pengalaman penggunaan pada anak-anak usia di bawah 15 tahun belum cukup.

PERINGATAN DAN PERHATIAN Anak-anak usia < 15 tahun tidak dianjurkan. Dapat menyebabkan hipotensi ortostatik, terutama pada pemberian awal. Risperidone diberikan secara hati-hati pada penderita kardiovaskular. Pengurangan dosis harus dipertimbangkan bila terjadi hipotensi. Penggunaan dosis di atas 5 mg, 2x sehari tidak lebih efektif dari dosis yang lebih rendah d an bahkan mungkin dapat meningkatkan gejala ekstrapiramidal. Jangan melebihi dosis yang dianjurkan. Bila diperlukan efek sedasi yang lebih, pemberian obat seperti benzodiazepin lebih baik dibanding menaikkan dosis risperidone. Obat antagonis reseptor dopamin berhubungan dengan induksi tardive dyskinesia, ditandai dengan pergerakan berulang yang tidak terkendali, terutama pada lidah dan/atau wajah. Dilaporkan bahwa munculnya gejala ekstrapiramidal merupakan faktor risiko terjadinya tardive dyskinesia. Jika tanda dan gejala tardive dyskinesia muncul, pertimbangkan untuk menghentikan penggunaan

semua obat antipsikotik. Pemberian risperidone pada pasien Parkinson secara teori dapat menyebabkan penyakit memburuk. Hati-hati penggunaan pada pasien epilepsi. Pasien diberitahu bahwa berat badannya dapat meningkat. Risperidone dapat mengganggu aktivitas yang memerlukan konsentrasi mental, pasien disarankan tidak menyetir atau menjalankan mesin hingga diketahui kerentanan individualnya. Pemberian pada wanita hamil dan menyusui jika keuntungannya lebih besar dari risiko. Penggunaan risperidone dapat menimbulkan Neuroleptic Malignant Syndrome (NMS) yang manifestasi klinisnya adalah: Hiperpireksia, rigiditas otot, perubahan status mental dan gangguan denyut nadi, tekanan darah, aritmia, takikardia dan diaforesis. Manifestasi lainnya dapat berupa: peningkatan kreatinin fosfatase, mioglobinemia, serta gagal ginjal akut. Bila timbul gejala NMS, hentikan segera penggunaan. Penggunaan risperidone juga dapat menimbulkan hiperprolaktinemia (karena risperidone dapat meningkatkan kadar prolaktin sehingga kemungkinan efek karsinogenitasnya meningkat). Penggunaan risperidone pada penderita geriatrik serta penderita gangguan fungsi hati dan ginjal: Dosis awal dan dosis tambahan perlu dikurangi sampai separuh dosis normal.

EFEK SAMPING Yang umum terjadi: insomnia, agitasi, rasa cemas, sakit kepala. Efek samping lain: somnolen, kelelahan, pusing, konsentrasi terganggu, konstipasi, dispepsia, mual/muntah, nyeri abdomin al, gangguan penglihatan, priapismus, disfungsi ereksi, disfungsi ejakulasi, disfungsi orgasme, inkontinensia urin, rinitis, ruam dan reaksi alergi lain.

Beberapa kasus gejala ekstrapiramidal mungkin terjadi (namun insiden dan keparahannya jauh lebih rin gan bila dibandingkan dengan haloperidol), seperti: tremor, rigiditas, hipersalivasi, bradikinesia, akathisia, distonia akut. Jika bersifat akut, gejala ini biasanya ringan dan akan hilang dengan pengurangan dosis dan/atau dengan pemberian obat antiparkinson bila diperlukan. Seperti neuroleptik lainnya, dapat terjadi neuroleptic malignant syndrome (namun jarang), ditandai dengan hipertermia, rigi ditas otot, ketidakstabilan otonom, kesadaran berubah dan kenaikan kadar CPK, dilaporkan pernah terjadi. Bila hal ini terjadi, penggunaan obat antipsikotik termasuk risperidone harus dihentikan. Kadang-kadang terjadi orthostatic dizziness, hipotensi termasuk ortostatik, takikardia termasuk takikardia reflek dan hipertensi. Risperidone dapat menyebabkan kenaikan konsentrasi prolaktin plasma yang bersifat dose-dependent, dapat berupa galactorrhoea, gynaecomastia, gangguan siklus menstruasi dan amenorrhoea. Kenaikan berat badan, edema dan peningkatan kadar enzim hati kadang-kadang terjadi. Sedikit penurunan jumlah neutrofil dan trombosit pernah terjadi. Pernah dilaporkan namun jarang terjadi, pada pasien skizofrenik: intoksikasi air dengan hiponatraemia, disebabkan oleh poli dipsia atau sindrom gangguan sekresi hormon antidiuretik (ADH); tardive dyskinesia, tidak teraturnya suhu tubuh dan terjadinya serangan.

INTERAKSI OBAT Hati-hati pada penggunaan kombinasi dengan obat-obat yang bekerja pada SSP dan alkohol. Risperidone mempunyai efek antagonis dengan levodopa atau agonis dopamin lainnya. Karbamazepin dapat menurunkan kadar plasma risperidone. Clozapine dapat menurunkan bersihan risperidone. Fluoksetin dapat meningkatkan konsentrasi plasma dari fraksi antipsikotik (risperidone dan 9 -hydroxy-risperidone) dengan meningkatkan konsentrasi risperidone.

KEMASAN RISPERIDONE 1 mg : Kotak, 5 blister @ 10 tablet salut selaput, No. Reg: GKL0505038917A1 RISPERIDONE 2 mg : Kotak, 5 blister @ 10 tablet salut selaput, No. Reg: GKL0505038917B1 RISPERIDONE 3 mg : Kotak, 5 blister @ 10 tablet salut selaput, No. Reg: GKL0505038917C1

Daftar Pustaka http://en.wikipedia.org/wiki/ http://ikasatyani.blogspot.com/2008_09_01_archive.html) www.kalbe.co.id/?mn=news&tipe;=detail&detail;=19783 Schunack,walter; mayer, Klaus; Hake, Manfred, Senyawa Obat, Gadjah Mada University Press, 1990 Tan Hoan, Tjay & Rahardja, Kirana, OBAT-OBAT PENTING, Gramedi, Jakarta, 2002 MIMS ed 2007 http://www.dexa-medica.com/ourproducts/prescriptionproducts/detail.php?id=46&idc%3B=8 View Original Post Share

DEFINISI Hipotensi Ortostatik (Orthostatic Hypotension) adalah penurunan tekanan darah yang berlebihan ketika seseorang sedang berdiri, yang menyebabkan berkurangnya aliran darah ke otak dan pingsan. GEJALA Sebagian besar penderita mengalami: - pingsan - kepala terasa melayang/berputar - pusing - bingung/linglung - penglihatan kabur (pada saat bangkit dari tempat tidur secara tiba-tiba atau ketika berdiri setelah duduk dalam waktu yang lama).

Kelelahan, latihan, alkohol atau makanan berat bisa memperburuk gejala. Penurunan aliran darah ke otak juga dapat menyebabkan penderita jatuh pingsan dan bahkan kejang.

Perilaku motorik (konasi) merupakan aspek psikis yang mencakup impuls, motivasi, keinginan, dorongan, insting, dan hasrat yang ditunjukkan melalui aktivitas motorik atau perilaku seseorang. , Gejala dan tanda motorik dapat disebabkan oleh gangguan neurologis yang menyebabkan sindroma organik otak, seperti rigiditas dalam penyakit Parkinson, atau mungkin berhubungan dengan kondisi emosional seperti gelisah atau tremor dalam kecemasan . Namun, ada satu kelompok lebih lanjut dari gejala yang sering terjadi pada psikosis fungsional. Gejala-gejala ini tidak tegas pada neurologis atau psikogenik dan disebut gangguan motilitas. Asal gejala motilitas mungkin menjadi kelainan ganglia basal fungsional(bukan morfologis). Sebuah klasifikasi lebih lanjut dari gangguan motilitas membedakan psikomotorik hiperfenomena (misalnya gangguan tik),

hipofenomena (misalnya pingsan), dan parafenomena (misalnya manerisme). Gangguan tik adalah gerakan cepat tidak teratur melibatkan kelompok otot-otot wajah atau anggota badan. Stupor adalah keadaan di mana pasien tidak berkomunikasi, yaitu tidak berbicara (mutisme) atau bergerak (akinesia), meskipun ia waspada. Mutisme yaitu bisu tanpa abnormalitas struktural.2 Akinesia yaitu tidak adanya gerakan fisik, seperti yang terdapat pada imobilitas ekstrim pada penderita skizofrenia katatonik; juga dapat terjadi akibat efek simpang ekstrapiramidal dari pengobatan antipsikotik. Sedangkan diskinesia merupakan kesulitan melakukan gerakan volunter, seperti pada gangguan ekstrapiramidal. Bedanya dengan hipoaktivitas (hipokinesis) adalah berupa penurunan aktivitas motorik dan kognitif, seperti pada retardasi psikomotor; perlambatan secara nyata pada proses pikir, bicara, dan gerakan. Manerisme, walaupun jarang, adalah ekspresi mencolok dengan isyarat, ucapan, atau objek (misalnya pakaian) yang tampaknya memiliki makna tertentu, sebagian besar delusi.1 Manerisme merupakan gerakan involunter yang menjadi kebiasaan dan mendarah daging.2 Sebuah gangguan yang ditandai dengan motilitas terganggu disebut katatonia.1 Hal ini terjadi paling sering pada skizofrenia, dan jarang pada kondisi medis umum dan depresi berat. Beberapa kondisi, seperti tumor otak, ensefalitis, dan gangguan endokrin dan metabolisme, dapat menimbulkan gejala-gejala katatonik.1, Katatonia dapat berbentuk hipomobilitas atau imobilitas, dan dalam kasus yang ekstrim mengarah ke stupor katatonik. 1 Stupor katatonik yaitu aktivitas motorik yang melambat secara nyata, seringkali hingga mencapai suatu titik imobilitas dan tampak tak sadar akan sekitar.2 Atau mungkin mucul sebagai aktivitas motorik yang berlebihan (eksitasi katatonik), sebuah keadaan ekstrim yang mungkin berbahaya bagi pasien dan orang lain.1 Eksitasi katatonik adalah aktivitas motorik yang tak bertujuan dan teragitasi, tidak dipengaruhi oleh stimulus eksternal.2 Sebuah gejala penting dari katatonia adalah katalepsia, di mana postur tidak nyaman dan aneh dipertahankan melawan gravitasi atau gaya lainnya. Katalepsi merupakan istilah umum untuk posisi tidak bergerak yang dipertahankan secara konstan. Katatonia dan abnormalitas postur ditemukan pada skizofrenia katatonik dan beberapa kasus penyakit otak, seperti ensefalitis. Seorang pemeriksa

mencoba untuk memindahkan secara pasif tubuh dgn katalepsia akan terlihat fleksibilitas lilin, yang sangat berbeda dari kek akuan (rigiditas katatonik) atau kekejangan. Fleksibilitas serea (fleksibilitas lilin) adalah keadaan sese-orang yang dapat dibentuk menjadi posisi tertentu kemudian dipertahankan; ketika pemeriksa menggerakkan anggota gerak orang tersebut, anggota gerak itu terasa seperti terbuat dari lilin. Rigiditas katatonik adalah keadaan mempertahankan suatu postur rigid secara volunter, meski telah dilakukan semua usaha untuk menggerakkannya. Sedangkan Postur katatonik: mempertahankan suatu postur aneh dan tidak pada tempatnya secara volunter, biasanya dipertahankan dalam jangka waktu lama. Ekofenomena dapat terjadi ketika pasien berinteraksi dengan orang lain dan muncul sebagai ekolalia (imitasi pembicaraan orang lain) atau ekopraxia (imitasi tindakan orang lain). Ekopraksia adalah peniruan gerakan seseorang oleh orang lain secara patologis. Sedangkan istilah lainnya1,2 yang merupakan tanda dan gejala psikomotor adalah: 1. Kejang: serangan atau awitan gejala tertentu yang mendadak, contohnya konvulsi, hilang kesadaran, serta gangguan psikis atau sensorik; ditemui pada epilepsi dan dapat diinduksi oleh zat. a. Kejang tonik-klonik menyeluruh: awitan gerakan tonik-klonik pada ekstremitas yang menyeluruh, menggigit lidah, dan inkontinensia dan diikuti oleh pemulihan kesadaran dan kognisi secara lambat bertahap; disebut juga kejang grand mal dan kejang psikomotor. b. Kejang parsial sederhana: awitan kejang iktal tanpa gangguan kesadaran. c. Kejang parsial kompleks: awitan kejang iktal dengan gangguan kesadaran. 2. Overaktivitas. a. Agitasi psikomotor: overaktivitas motorik dan kognitif yang berlebihan, biasanya bersifat nonproduktif dan merupakan respons terhadap ketegangan dari dalam. b. Hiperaktivitas (hiperkinesis): aktivitas yang merusak, agresif, dan gelisah, sering disebabkan oleh sejumlah patologi otak yang

mendasari. c. Tik: gerakan motorik spasmodik yang involunter. d. Berjalan dalam tidur (somnabulisme): aktivitas motorik saat tidur. e. Akatisia: perasaan subjektif berupa rasa tegang pada otot sekunder akibat antipsikotika atau obat lain, yang dapat mengakibatkan kegelisahan, berjalan mondar-mandir, duduk-berdiri berulang kali; dapat disalahartikan sebagai agitasi psikotik. f. Kompulsi: impuls tak terkendali untuk melakukan suatu tindakan secara repetitif. i. Dipsomania: kompulsi untuk minum alkohol. ii. Kleptomania: kompulsi untuk mencuri. iii. Nimfomania: keinginan kompulsif dan berlebih untuk melakukan koitus pada wanita. iv. Satiriasis: keinginan kompulsif dan berlebih untuk melakukan koitus pada pria. v. Trikotilomania: kompulsi untuk menarik rambut. vi. Ritual: aktivitas otomatis, bersifat kompulsif, bertujuan untuk mengurangi ansietas. g. Ataksia: kegagalan koordinasi otot; iregularitas kerja otot. h. Polifagia: makan berlebihan yang patologis. i. Tremor: perubahan gerakan secara ritmis, biasanya lebih cepat dari satu ketukan per detik; biasanya, tremor berkurang selama periode relaksasi dan tidur serta meningkat pada periode kemarahan dan peningkatan ketegangan. j. Floksilasi: gerakan mencabuti yang tidak bertujuan, biasanya pakaian atau seprai, sering terlihat pada delirium. 3. Katapleksi: hilangnya tonus otot dan kelemahan sementara yang dipicu oleh berbagai keadaan emosional. 4. Rigiditas otot: keadaan ketika otot tetap tak dapat digerakkan; ditemui pada skizofrenia. 5. Bradikinesia: kelambanan aktivitas motorik disertai penurunan gerakan spontan normal. 6. Khorea: gerakan acak, menyentak, cepat, involunter dan tak bertujuan.

7. Konvulsi: kontraksi atau spasme otot yang hebat dan involunter. a. Konvulsi klonik: konvulsi berupa otot yang berkontraksi dan berelaksasi secara bergantian. b. Konvulsi tonik: konvulsi berupa kontraksi otot yang tertahan. 8. Distonia: kontraksi badan atau ekstremitas yang lambat dan tertahan; dapat ditemui pada distonia akibat obat 9. Stereotipi: pola tindakan fisik atau berbicara yang tetap dan berulang. 10. Negativisme: tahanan tanpa motif terhadap semua usaha untuk menggerakkan atau terhadap semua instruksi. 11. Otomatisme: tindakan dilakukan secara otomatis yang biasanya melambangkan aktivitas simbolik bawah sadar. 12. Otomatisme perintah: secara otomatis mengikuti saran (juga disebut kepatuhan otomatis). 13. Mimikri: aktivitas motorik imitatif sederhana pada masa kanak-kanak. 14. Agresi: tindakan penuh tenaga dan bertujuan yang dapat bersifat verbal maupun fisik; lawan motorik dari afek gusar, marah atau benci. 15. Abulia: penurunan rangsang untuk bertindak dan berpikir, akibat sikap tidak peduli akan konsekuensi dari tindakannya; akibat defisit neurologis. 16. Anergia: tidak berenergi (anergi). 17. Astasia abasia: ketidakmampuan untuk berdiri atau berjalan secara normal, meski gerakan tungkai normal dapat dilakukan pada posisi duduk atau berbaring. Cara berjalannya aneh dan tidak mengarah ke suatu lesi organik spesifik; terdapat pada gangguan konversi. 18. Aminia: ketidakmampuan untuk membuat gerakan isyarat atau memahami gerakan isyarat yang dilakukan oleh orang lain.