You are on page 1of 22

Antipsikotika Sekilas tentang antipsikotika Antipsikotika adalah obat obat yang dapat menekan fungsi-fungsi psikis tertentu

tanpa mempengaruhi fungsi-fungsi umum (berpikir dan kelakuan normal). Antipsikotika dapat meredam agresi maupun emosi serta dapat pula menghilangkan atau mengurangi gangguan jiwa, seperti impian dan pikiran khayal serta menormalkan perilaku tidak normal. Oleh karena itu umumnya antipsikotika digunakan pada psikosis (penyakit jiwa yang hebat yang sulit sembuh pada pasien) misalnya seperti pada penyakit schizophrenia dan psikosis mania-depresif. Obat-obatan antipsikosis yang dapat meredakan gejala-gejala schizophrenia adalah chlorpromazine (thorazine) dan fluphenazine decanoate (prolixin). Antipsikotika juga dikenal dengan sebutan neuroleptika atau major tranquillizers. Gangguan-gangguan Jiwa Sebelum melangkah ke pengertian selanjutnya dibawah ini ada sedikit ringkasan beberapa gangguan jiwa terpenting yang berkaitan dengan psikose (seperti yang kami kutip dari sumber buku Obat-Obat Penting dari Drs. Tan Hoan Tjay & Drs. Kirana Rahardja dan sumber lain padahttp://ikasatyani.blogspot.com/2008_09_01_archive.html) diantaranya: 1. Psikose: Sebagai gangguan jiwa yang sangat merusak akal budi dan pengertian (insight), timbulnya pandangan tidak realities atau bizar (aneh), mempengaruhi kepribadian dan mengurangi berfungsinya si penderita. Gejala psikotis yang muncul mencakup waham/ pikiran khayal, halusinasi dan gangguan berpikir formil/ tak dapat berpikir riil. Ini seringkali disebabkan oleh schizophrenia dan dapat diobati dengan antipsikotika. 2. Neurose: ini termasuk gangguan jiwa tanpa gejla psikotis. Kepribadian pasien relatif kurang dirusak dan kontak dengan realitas tidak terganggu. Gejalanya dapat disebut kegelisahan, cemas, murung, mudah tersinggung, dan berbagai perasaan tidak enak di

tubuh. Penyakit ini dapat diatasidengan tranquillizers. 3. Sindrome Borderline (BPD): dimana gejalanya terletak diperbatasan antara neurose dan psikose. Gejalanya banyak sekali yang utama antara lain: impulsivitas, instabilitas emosional dengan perubahan suasana jiwa secara mendadak, percobaan bunuh diri, kesulitan membuat kontak karena segala sesuatu dianggap sebagai hitam putih. Pengobatan dilakukan poliklinis dengan kombinasi dari suatu bentuk kombinasi psikoterapi khusus dan psikofarmaka (antipsikotika, antidepresiva, atau obat-obat yang meregulasi suasana, seperti litium). 4. Mania: kecenderungan patologis untuk suatu aktifitas tertentu, yang tidak dapat dikendalikan, misalnya mengutil (kleptomania). Penanganan mania dapat dilakukan dengan antipsikotika, khususnya klorporazin, haloperidol, dan pimozida. 5. Scizofrenia: merupakan gangguan jiwa yang pada kebanyakan kasus bersifat sangat serius, berkelanjutan, dan dapat menyebabkan kendala sosial, emosional dan kognitif . Akan tetapi banyak varian lain yang kurang serius. Scizofrenia adalah penyebab terpenting gangguan psikotis, dimana periode psikotis diselingi periode normalsaat pasien bisa berfungsi baik. Mulainya penyakit sering kali secara menyelinap. Pada pria biasanya timbul antara usia 15-25 tahun, jarang diatas 30 tahun, sedangkan pada wanita antara 25-35 tahun. Catatan lain dari scizofrenia merupakan gangguan mental klasifikasi berat dan kronik (psikotik) yang menjadi beban utama pelayanan kesehatan jiwa di Indonesia sejak jaman pemerintahan Hindia Belanda sampai sekarang. Obatobatan antipsikosis yang dapat meredakan gejala-gejala schizophrenia adalah chlorpromazine (thorazine) dan fluphenazine decanoate (prolixin). Kedua obat tersebut termasuk kelompok obat phenothiazines, reserpine (serpasil), dan haloperidol (haldol). Obat ini disebut obet penenang utama. Obat tersebut dapat menimbulkan rasa kantuk dan kelesuan, tetapi tidak mengakibatkan tidur yang lelap, sekalipun dalam dosis yang sangat tinggi (orang tersebut dapat dengan mudah terbangun). Obat ini tampaknya mengakibatkan sikap acuh pada stimulus. luar. Obat ini cukup tepat bagi penderita schizophrenia yang tampaknya tidak dapat menyaring stimulus yang tidak relevan). Bukti menunjukkan bahwa obat antipsikotik ini bekerja pada bagian batang otak, yaitu sistem retikulernya, yang selalu mengendalikan masukan berita dari alat indera pada cortex cerebral .

Dan dibagi dalam dua kelompok kimiawi sebagai berikut: • Derivat fonotiazin: klorpromazin. yang praktis kebal terhadap obat-obat klasik. trifluoperazin (stemetil).Penggolongan Antipsikotika Antipsikotika dibagi dalam dua kelompok besar yaitu: 1. sedangkan dosis yang lebih rendah (25 . dan thietilperazin (torecan) • Derivat thioxanthen: klorprotixen (truxal) dan zuklopentixol (cisordinol). Antipsikotika klasik/ typis. dan quietiapin (seroquel)bekerja efektif melawan simtom-simtom negatif. yang digunakan dalam terapi. dan droperidol. dosis yang lebih tinggi diambil (300 mg – 900 mg) untuk digunakan sebagai antipsikotik. khususnya gangguan ekstrapiramidal dan dyskinesia tarda. olanzapin. tapi bahaya neurologis dan efek samping kognitif membuat obat-obatan ini merupakan pilihan yang buruk untuk mengobati insomnia. • Derivat butilpiperadin: pimozida. klaus mayer. difenilbutilpiperadin mewakili secara khas neuroleptika. dan penfluridol. tanpa merugikan secara nyawa kesadaran (walter schunack. klozapin. Dosis rendah antipsikotik atipikal tertentu seperti quetiapine. manfred haake: Senyawa Obat) 2. • Derivat butirofenon: haloperidol. Senyawa ini memperlihatkan sifat neuroleptik lama dengan komponen kerja antidepresan yang nyata. bromperidol. Yang bekerja meredam di daerah afektif. olanzapine dan risperidone juga diresepkan untuk efek penenang mereka. levomepromazin dan triflupromaz in (siquil)-thioridazin dan periciazin-dan flufenazin-perazin (taxilan). Sulpirid merupakanpsikofarmakon pertama dari golongan obat sulfamoilbenzami. fluspirilen. Dan. pipamperon. Antipsikotika Atypis: obat-obat atypis ini Sulprida. Senyawa fenotiazin dan tioksanten maupun butirofenon. Dan ini efek sampingnya lebih ringan. risperidon. ini efektif mengatasi simtom positif.

Selain itu untuk menangani gangguan perilaku seriuspada pasien demensia dan gangguan rohani. depresi psikotis dan depresipsikotis. karena bekerja sebagai obat penenang terutama pada dosis rendah http://en. Indikasi Fisiologi dan penggunaan Antipsikotika memiliki beberapa indikasi fisiologis diantaranya: Antipsikotis: obat-obat ini digunakan untuk gangguan jiwa dengan gejala psikotis. Obat yang lain adalah klorpromazin. thioridazin) kurang efektif. Oleh karena itu kadang obat ini digunakan dalam dosis rendah sebagi minor transquillizers pada kasus-kasus besar dimana benzodiazepin (pimozida. Obat ini adalah proklorperazin dan thietilperazin. Analgetis: ini diantaranya. Antiemetis: sering digunakan untuk melawan mual dan muntah yang hebat.mg – 200 mg) yang ditandai memiliki efek penenang. haloperidol. sedangkan pada mabuk jalan tidak efektif. perfenazin. Berhubung efek sampingnya penggunaan antipsikotika dalam dosis rendah sebagai axiolitika tidak dianjurkan. flufenazin. seperti pada terapi sitostatika. akan membuat pasien merasa lebih terbius daripada 300 mg.wikipedia. ia akan lebih diuntungkan dari efek antipsikotik obat. mania. mengapa? Karena dapat memperkuat efek analgetika dengan jalan meningkatkan ambang nyeri. haloperidol (dalam dosis rendah). takut. metoklopramida.org/wiki/Insomnia. Kecuali droperidol obat tersebut jarang digunaka sebagai antinyeri. kegelisahan dan agresi yang hebat. tetapi jika dosis diturunkan ke 100 mg. dan droperidol. Seperti scizofrenia. triflupromazin. Aaxiolitis: meniadakan rasa bimbang. . juga untuk keaadan gelisah akut dan penyakit lata. misalnya jika seorang pasien membutuhkan 300 mg. levomepromazin. digunakan untuk terapi gangguan psikiatrik. Mekanisme Kerja Psikofarmaka pada umumnya yang bekerja secara selektif pada susunan saraf pusat (SSP) dan mempunyai efek efek utama terhadap aktifitas mental dan perilaku.

glutamat. dan gamma-butyric acid. Sebenarnya blokade-D2 saja tidak cukup. Mungkin masa latensi ini menyebabkan sistem reseptor-dopamin menjadi kurang peka. tardive dyskinesia. haloperidol dan pimozide . begitu pula efeknya pada keadaan gelisah. perlu mempengaruhi neurohormon lainnya seperti serotonin (5HT2). halusinasi. tetapi setidaknya ada petunjuk kuat bahwa mekanisme ini behubungan erat dengan kadar neurotransmitter di otak atau antar keseimbanganya (Obat-Obat Penting. α1 (dan α2)-adrenerg. serotonin. Antipsikotika atypis memiliki afinitas lebih besar untuk reseptor-D1 dan D2 sehingga lebih efektif daripada obat-obat klasik untuk melawan simtom negatif. hal:424) Antipsikotika bekerja menghambat agak kuat reseptor dopamin (D2) di sistem limbis otak dan disamping itu juga menghambat reseptor D1/D4. Tan Hoan Tjay & Kirana H. gangguan pikiran) baru terlihat setelah beberapa minggu . nigostriatal dan tuberoinfundibular sehingga dengan cepat menurunkan gejala positif tetapi pemakaian lama dapat memberikan efek samping berupa : gangguan ekstrapiramidal. peningkatan kadar prolaktin yang akan menyebabkan disfungsi seksual / peningkatan berat badan dan memperberat gejala negatif maupun kognitif. Obat antipsikotik yang beredar dipasaran dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu antipsikotik generasi pertama (APG I)/ Antipsikotik Klasik/ Typis dan antipsikotik generasi ke dua (APG ll)/ Serotonin Dopamin Antagonis (SDA)/ Antipsikotik Atipikal. APG I dapat dibagi lagi menjadi potensi tinggi bila dosis yang digunakan kurang atau sama dengan 10 mg diantaranya adalah trifluoperazine. defekasi dan hipotensi. Obat-obat ini digunakan untuk . fluphenazine. Sebalinya kerjanya terhadap gejala psikose lain (waham. Saat awal kerjanya blokade-D2 cepat. muskarin. Selain itu APG I menimbulkan efek samping antikolinergik seperti mulut kering pandangan kabur gangguaniniksi. Walaupun mekanisme kerjanya pada tarf biokimiawi belum diketahui dengan pasti.Semua psikofarmaka bersifat lipofil dan mudah masuk ke dalam cairan cerebrospinal. APG I bekerja dengan memblok reseptor D2 di mesolimbik. dan histamin. Tetapi pada pasien yang kebal terhadap obat-obat klasik ditemukan pula blokade tuntas dari reseptor D2 tersebut. serta antipsikotika atypis lebih jarang menimbulkan gejala ekstrapiramidal dan dyskinesia tarda. mesokortikal.

menarik diri. seperti adanya perasaan cemas. Obat yang tersedia untuk golongan ini adalah clozapine. Reaksi distonia: kontraksi otot singkat atau bisa juga lama Tanda-tanda: muka menyeringai. Terdapat trias gejala parkonsonisme: Tremor: paling jelas pada saat istirahat Bradikinesia: muka seperti topeng.. langkah bolak-balik dan gerakan mengguncang pada saat duduk. Bekerja melalui interaksi serotonin dan dopamin pada ke empat jalur dopamin di otak yang menyebabkan rendahnya efek samping extrapiramidal dan sangat efektif mengatasi gejala negatif. tapi bahaya neurologis dan efek samping kognitif membuat obat-obatan ini merupakan pilihan yang buruk untuk mengobati insomnia. olanzapine dan ri speridone juga diresepkan untuk efek penenang mereka. Potensi rendah bila dosisnya lebih dan 50 mg diantaranya adalah Chlorpromazine dan thiondazine digunakan pada penderita dengan gejala dominan gaduh gelisah. berkurang gerakan reiprokal pada saat berjalan Rigiditas: gangguan tonus otot (kaku) 2). gugup. tidak mampu santai.3 minggu pemberian obat. quetiapine dan rispendon. APG II sering disebut sebagai serotonin dopamin antagonis (SDA) atau antipsikotik atipikal. Akathisia Ditandai oleh perasaan subyektif dan obyektif dari kegelisahan. hiperaktif dan sulit tidur. Efek Samping Psikotika Efek samping pada sistem saraf (extrapyramidal side efect/EPSE) 1). waham dan halusinasi . Dosis rendah antipsikotik atipikal tertentu seperti quetiapine. . Parkinsonisme Efek samping ini muncul setelah 1 . olanzapine. gerakan tubuh dan anggota tubuh tidak terkontrol 3). hipoaktif.mengatasi sindrom psikosis dengan gejala dominan apatis.

Tardive dyskinesia Merupakan efek samping yang timbulnya lambat. yang akan dianggap merupakan bagian integral dari penyakitnya sendiri oleh dokter (dan pasien TENANG/ tidak gaduh). kecuali yang memang dibuat dengan extended duration . Yang termasuk efek samping anti kolinergik adalah: • Mulut kering • Konstipasi • Pandangan kabur: akibat midriasis pupil dan sikloplegia (pariese otot-otot siliaris) menyebabkan presbiopia • Hipotensi orthostatik. Hal ini merupakan masalah karena perlu pemberian kronis. Hal ini sering terlihat. apakah harus diberi pagi atau malam hari. anggota gerak seperti jari dan ibu jari. Bila terdapat tipe manik-depresi. b. dan justru dianggap ‘berhasil’ pengobatannya. yang mempunyai efek sedasi kuat sekali diberikan malam hari saja. Efek samping pada sistem saraf perifer atau anti cholinergic side efect Terjadi karena penghambatan pada reseptor asetilkolin. Pada pagi harinya dapat diberikan obat lain yang tidak sedatif seperti sulpiride (bila . dan gerakan tersebut hilang pada waktu tidur. Karena itu ritme diurnal harus diperhitungkan.mulut/rahang.Ketiga efek samping di atas bersifat akur dan bersifat reversible (bisa ilang/kembali normal). terjadi setelah pengobatan jangka panjang bersifat irreversible (susah hilang/menetap). wajah. 4). akibat penghambatan reseptor adrenergic • Kongesti/sumbatan nasal Interaksi Obat anti-psikotik rata2 mempunyai lama kerja efektif yang pendek (1-2 hari). sebaiknya obat seperti haloperidol dan sertraline. berupa gerakan involunter yang berulang pada lidah. Pengalaman menunjukkan bahwa bila obat yg menimbulkan ngantuk/sedasi diberi pagi hari maka penderita tidur terus sewaktu siang hari.

ANTIDEPRESI NO CONTOH OBAT GOLONGAN ANTIDEPRESI NAMA PATEN KOMPOSISI 1 Klomipramin Hidroklorida Anafranil Klomipramin Hidroklorida 2 Fluoksetin Hidroklorida Andep Fluoksetin Hidroklorida 3 Amoksapin Asendin Amoksapin 4 Sertralin Antipres Sertralin 5 Fluoksetin Hidroklorida Antiprestin Fluoksetin Hidroklorida 6 Moklobemida p-kloroN Benzamid Aurorik Moklobemida p-kloroN Benzamid 7 Fluoksetin Courage Fluoksetin 8 Buspiron Hidroklorida Buspar Buspiron Hidroklorida 9 Setralin Hidroklorida Deptral Setralin Hidroklorida 10 Sulpirida Dogmatil Sulpirida 11 Fluoksitin HCl Elizac 20 Fluoksitin HCl 12 Fluoksitin Hidroklorida Foransi Fluoksitin Hidroklorida 13 Sertralin Hidroklorida Fridep Sertralin Hidroklorida 14 Litium Karbonat Frimania Litium Karbonat 15 Serttraline Hidroklorida Iglodep Serttraline Hidroklorida 16 Fluoksitin Hidroklorida Kalxetin Fluoksitin Hidroklorida . Dengan tindakan sederhana ini keadaan penderita akan jauh lebih baik Contoh Obat-Obat Antipsikotika dan Antidepresi 1.diperlukan).

17 Baklofen Liorezal Baklofen 18 Flukosetin Lodep Flukosetin 19 Maprotilin Hidroklorida Ludiomil Maprotilin Hidroklorida 20 Maprotilin Hidroklorida Ludios Maprotilin Hidroklorida 21 Fluvoksamin Maleat Luvox Fluvoksamin Maleat 22 Perphenazine Mutabon-D Perphenazine 23 Fluoxetine Nopres Fluoxetine 24 Levomepromaszin Nozinan Levomepromaszin 25 Sertralin Nudep Sertralin 26 Fluoksitin Hidroklorida Oxipres Fluoksitin Hidroklorida 27 Fluoksitin Hidroklorida Prestin Fluoksitin Hidroklorida 28 Fluoksitin Hidroklorida Prozac Fluoksitin Hidroklorida 29 Mirtazapin Remeron Mirtazapin 30 Maprotilin Hidroklorida Sandepril Maprotilin Hidroklorida 31 Sertraline Hidroklorida Serlof Sertraline Hidroklorida 32 Paroksetin Hidroklorida Seroxat Paroksetin Hidroklorida 33 Amineptin Hidroklorida Survector Amineptin Hidroklorida 34 Maprotilin Hidroklorida Tilsan Maprotilin Hidroklorida 35 Imipramin Hidroklorida Tofranil Imipramin Hidroklorida 36 Mianserin Hidroklorida Tolvon Mianserin Hidroklorida 37 Buspiron Hidroklorida Tran-Q Buspiron Hidroklorida .

ANTIPSIKOSIS NO CONTOH OBAT GOLONGAN ANTIPSIKOSIS NAMA PATEN KOMPOSISI 1 Flufenazin Hidroklorida Anatensol Flufenazin Hidroklorida 2 Klorpromazin Hidroklorida Cepezet Klorpromazin Hidroklorida 3 Klozapin Clorilex Klozapin 4 Klozapin Clozaril Klozapin 5 Haloperidol Dores Haloperidol 6 Haloperidol Govotil Haloperidol 7 Klorpromazin Hidroklorida Largactil Klorpromazin Hidroklorida 8 Haloperidol Lodomer Haloperidol 9 Zotepine Lodopin Zotepine 10 Tioridazin Hidroklorida Mellerril Tioridazin Hidroklorida 11 Klorpromazin Hidroklorida Meprosetil Klorpromazin Hidroklorida 12 Flufenazin Dekanoat Modecate Flufenazin Dekanoat .38 Trazodon Hidroklorida Trazone Trazodon Hidroklorida 39 Amitiptilin Hidroklorida Trilin Amitiptilin Hidroklorida 40 Buspiron Xiety Buspiron 41 Fluoxetine Zac Fluoxetine 42 Fluoxetine Hidroklorida Zactin Fluoxetine Hidroklorida 43 Sertralin Zerlin Sertralin 44 Sertralin Zoloft Sertralin 2.

13 Flufenazin Hidroklorida Motival Flufenazin Hidroklorida 14 Perphenazine Mutabon-M Perphenazine 15 Risperidon Neripros Risperidon 16 Risperidon Noprenia Risperidon 17 Pimozide Orap forte Pimozide 18 Risperidon Persidal Risperidon 19 Klorpromazin Hidroklorida Promactil Klorpromazin Hidroklorida 20 Risperidone Risperdal Risperidone 21 Risperidone Risperdal Const Risperidone 22 Risperidone Rizodal Risperidone 23 Haloperidol Seradol Haloperidol 24 Haloperidol Serenace Haloperidol Kuetiapin Fumarat Seroquel Kuetiapin Fumarat 25 Klozapin Sizoril Klozapin 26 Trifluoperazin Stelazine Trifluoperazin 27 Prokloperazin Stemetil Prokloperazin 28 Trifluoperazin Trizine Trifluoperazin 29 Risperidol Zofredal Risperidol 30 Olanzapine Zyprexa Olanzapine .

com/ourproducts/prescriptionproducts/) Tiap tablet salut selaput mengandung: Risperidone 1 mg RISPERIDONE 2 mg Tiap tablet salut selaput mengandung: Risperidone 2 mg RISPERIDONE 3 mg Tiap tablet salut selaput mengandung: Risperidone 3 mg FARMAKOLOGI Cara kerja obat Risperidone termasuk antipsikotik turunan benzisoxazole. Risperione tidak memiliki afinitas terhadap reseptor kolinergik. dimana dapat memperbaiki gejala positif skizofrenia. hal tersebut menyebabkan berkurangnya depresi aktivitas motorik dan induksi katalepsi dibanding neuroleptik klasik.Contoh Obat Antipsikotik RISPERIDONE 1 mg (http://www. Meskipun risperidone merupakan antagonis D2 kuat. . Risperidone berikatan dengan reseptor α1-adrenergik. dia memperluas aktivitas terapeutik terhadap gejala negatif dan afektif dari skizofrenia. Antagonisme serotonin dan dopamin sentral yang seimbang dapat mengurangi kecenderungan timbulnya efek samping ekstrapiramidal. Risperidone merupakan antagonis monoaminergik selektif dengan afinitas tinggi terhadap reseptor serotonergik 5-HT2 dan dopaminergik D2.dexa-medica.

INDIKASI Terapi pada skizofrenia akut dan kronik serta pada kondisi psikosis yang lain. Konsentrasi plasma tetap normal pada pasien dengan gangguan fungsi hati. blunted affect. depresi. Waktu paruh (T½) eliminasi dari fraksi antipsikotik yang aktif adalah 24 jam. Hidroksilasi merupakan jalur metabolisme terpenting yang mengubah risperidone menjadi 9hidroxyl-risperidone yang aktif. halusinasi. Studi risperidone dosis tunggal menunjukkan konsentrasi zat aktif dalam plasma yang lebih tinggi dan eliminasi yang lebih lambat pada lanjut usia dan pada pasien dengan gangguan ginjal. 1-2 x sehari Hari ke-2 : 4 mg/hari. gangguan pola pikir. DOSIS Dosis umum Hari ke-1 : 2 mg/hari. menarik diri dari lingkungan sosial dan emosional.Farmakokinetik Risperidone diabsorpsi sempurna setelah pemberian oral. Absorpsi risperidone tidak dipengaruhi oleh makanan. sulit berbicara). perasaan bersalah dan cemas) yang berhubungan dengan skizofrenia. KONTRAINDIKASI • Hipersensitif terhadap risperidone. delusi. 1-2 x sehari (titrasi lebih rendah dilakukan pada beberapa pasien) . kecurigaan dan rasa permusuhan) dan atau dengan gejala-gejala negatif yang terlihat nyata (seperti. Juga mengurangi gejala afektif (seperti. konsentrasi plasma puncak dicapai setelah 1-2 jam. dengan gejala-gejala tambahan (seperti.

Jangan melebihi dosis yang dianjurkan. 2 x sehari Dosis dapat disesuaikan secara individual dengan penambahan 0. 2 x sehari (hingga mencapai 1-2 mg. terutama pada pemberian awal.Hari ke-3 : 6 mg/hari. terutama pada lidah dan/atau wajah. Bila diperlukan efek sedasi yang lebih. Penggunaan pada penderita geriatrik. 2 x sehari) Penggunaan pada anak: Pengalaman penggunaan pada anak-anak usia di bawah 15 tahun belum cukup. Dosis di atas 10 mg/hari dapat digunakan hanya pada pasien tertentu dimana manfaat yang diperoleh lebih besar dibanding dengan risikonya. 1-2 x sehari Dosis umum 4-8 mg per hari Dosis di atas 10 mg/hari tidak lebih efektif dari dosis yang lebih rendah dan bahkan mungkin dapat meningkatkan gejala ekstrapiramidal. • Dapat menyebabkan hipotensi ortostatik. Risperidone diberikan secara hati-hati pada penderita kardiovaskular. pemberian obat seperti benzodiazepin lebih baik dibanding menaikkan dosis risperidone. Dilaporkan bahwa munculnya gejala ekstrapiramidal merupakan faktor risiko terjadinya tardive dyskinesia. ditandai dengan pergerakan berulang yang tidak terkendali. Dosis di atas 16 mg/hari belum dievaluasi keamanannya sehingga tidak boleh digunakan. Jika tanda dan gejala tardive dyskinesia muncul. PERINGATAN DAN PERHATIAN • Anak-anak usia < 15 tahun tidak dianjurkan. • Penggunaan dosis di atas 5 mg. 2x sehari tidak lebih efektif dari dosis yang lebih rendah d an bahkan mungkin dapat meningkatkan gejala ekstrapiramidal.5 mg. • Obat antagonis reseptor dopamin berhubungan dengan induksi tardive dyskinesia. pertimbangkan untuk menghentikan penggunaan . Pengurangan dosis harus dipertimbangkan bila terjadi hipotensi. juga penderita gangguan fungsi ginjal dan hati: Dosis awal: 0.5 mg.

rigiditas otot. konsentrasi terganggu. hentikan segera penggunaan. • Pemberian risperidone pada pasien Parkinson secara teori dapat menyebabkan penyakit memburuk. disfungsi ereksi. sakit kepala. • Penggunaan risperidone juga dapat menimbulkan hiperprolaktinemia (karena risperidone dapat meningkatkan kadar prolaktin sehingga kemungkinan efek karsinogenitasnya meningkat). pasien disarankan tidak menyetir atau menjalankan mesin hingga diketahui kerentanan individualnya. pusing. • Penggunaan risperidone pada penderita geriatrik serta penderita gangguan fungsi hati dan ginjal: Dosis awal dan dosis tambahan perlu dikurangi sampai separuh dosis normal. mual/muntah. ruam dan reaksi alergi lain. perubahan status mental dan gangguan denyut nadi. inkontinensia urin. serta gagal ginjal akut. konstipasi. Manifestasi lainnya dapat berupa: peningkatan kreatinin fosfatase. aritmia.semua obat antipsikotik. . • Pasien diberitahu bahwa berat badannya dapat meningkat. tekanan darah. EFEK SAMPING • Yang umum terjadi: insomnia. gangguan penglihatan. rinitis. • Pemberian pada wanita hamil dan menyusui jika keuntungannya lebih besar dari risiko. • Risperidone dapat mengganggu aktivitas yang memerlukan konsentrasi mental. • Hati-hati penggunaan pada pasien epilepsi. agitasi. dispepsia. disfungsi orgasme. takikardia dan diaforesis. • Penggunaan risperidone dapat menimbulkan Neuroleptic Malignant Syndrome (NMS) yang manifestasi klinisnya adalah: Hiperpireksia. nyeri abdomin al. kelelahan. • Efek samping lain: somnolen. disfungsi ejakulasi. mioglobinemia. Bila timbul gejala NMS. priapismus. rasa cemas.

gejala ini biasanya ringan dan akan hilang dengan pengurangan dosis dan/atau dengan pemberian obat antiparkinson bila diperlukan. hipersalivasi. rigi ditas otot.• Beberapa kasus gejala ekstrapiramidal mungkin terjadi (namun insiden dan keparahannya jauh lebih rin gan bila dibandingkan dengan haloperidol). gangguan siklus menstruasi dan amenorrhoea. • Sedikit penurunan jumlah neutrofil dan trombosit pernah terjadi. • Risperidone mempunyai efek antagonis dengan levodopa atau agonis dopamin lainnya. hipotensi termasuk ortostatik. takikardia termasuk takikardia reflek dan hipertensi. tardive dyskinesia. seperti: tremor. dapat berupa galactorrhoea. ketidakstabilan otonom. ditandai dengan hipertermia. edema dan peningkatan kadar enzim hati kadang-kadang terjadi. penggunaan obat antipsikotik termasuk risperidone harus dihentikan. • Risperidone dapat menyebabkan kenaikan konsentrasi prolaktin plasma yang bersifat dose-dependent. • Pernah dilaporkan namun jarang terjadi. • Clozapine dapat menurunkan bersihan risperidone. INTERAKSI OBAT • Hati-hati pada penggunaan kombinasi dengan obat-obat yang bekerja pada SSP dan alkohol. disebabkan oleh poli dipsia atau sindrom gangguan sekresi hormon antidiuretik (ADH). distonia akut. dapat terjadi neuroleptic malignant syndrome (namun jarang). pada pasien skizofrenik: intoksikasi air dengan hiponatraemia. • Karbamazepin dapat menurunkan kadar plasma risperidone. • Kenaikan berat badan. Bila hal ini terjadi. gynaecomastia. • Kadang-kadang terjadi orthostatic dizziness. Jika bersifat akut. tidak teraturnya suhu tubuh dan terjadinya serangan. . • Seperti neuroleptik lainnya. bradikinesia. dilaporkan pernah terjadi. akathisia. rigiditas. • Fluoksetin dapat meningkatkan konsentrasi plasma dari fraksi antipsikotik (risperidone dan 9 -hydroxy-risperidone) dengan meningkatkan konsentrasi risperidone. kesadaran berubah dan kenaikan kadar CPK.

=19783 • Schunack. Senyawa Obat. 5 blister @ 10 tablet salut selaput.=detail&detail.html) • www. mayer.KEMASAN RISPERIDONE 1 mg : Kotak.co.com/2008_09_01_archive. OBAT-OBAT PENTING. Reg: GKL0505038917C1 Daftar Pustaka • http://en. No. No.walter. 5 blister @ 10 tablet salut selaput.org/wiki/ • http://ikasatyani. Reg: GKL0505038917B1 RISPERIDONE 3 mg : Kotak. 5 blister @ 10 tablet salut selaput. 1990 • Tan Hoan. 2002 • MIMS ed 2007 • http://www. No.blogspot. Klaus. Reg: GKL0505038917A1 RISPERIDONE 2 mg : Kotak.dexa-medica. Tjay & Rahardja.kalbe. Jakarta.wikipedia. Gramedi. Manfred.php?id=46&idc%3B=8 View Original Post · Share .id/?mn=news&tipe.com/ourproducts/prescriptionproducts/detail. Kirana. Gadjah Mada University Press. Hake.

bingung/linglung . Namun.pingsan . motivasi. ada satu kelompok lebih lanjut dari gejala yang sering terjadi pada psikosis fungsional. dorongan. GEJALA Sebagian besar penderita mengalami: .penglihatan kabur (pada saat bangkit dari tempat tidur secara tiba-tiba atau ketika berdiri setelah duduk dalam waktu yang lama). Kelelahan. insting.pusing . seperti rigiditas dalam penyakit Parkinson. .kepala terasa melayang/berputar . Asal gejala motilitas mungkin menjadi kelainan ganglia basal fungsional(bukan morfologis). Perilaku motorik (konasi) merupakan aspek psikis yang mencakup impuls. Gejala dan tanda motorik dapat disebabkan oleh gangguan neurologis yang menyebabkan sindroma organik otak.DEFINISI Hipotensi Ortostatik (Orthostatic Hypotension) adalah penurunan tekanan darah yang berlebihan ketika seseorang sedang berdiri. latihan. keinginan. . Sebuah klasifikasi lebih lanjut dari gangguan motilitas membedakan psikomotorik hiperfenomena (misalnya gangguan tik). dan hasrat yang ditunjukkan melalui aktivitas motorik atau perilaku seseorang. yang menyebabkan berkurangnya aliran darah ke otak dan pingsan. Gejala-gejala ini tidak tegas pada neurologis atau psikogenik dan disebut gangguan motilitas. alkohol atau makanan berat bisa memperburuk gejala. atau mungkin berhubungan dengan kondisi emosional seperti gelisah atau tremor dalam kecemasan . Penurunan aliran darah ke otak juga dapat menyebabkan penderita jatuh pingsan dan bahkan kejang.

1 Stupor katatonik yaitu aktivitas motorik yang melambat secara nyata. atau objek (misalnya pakaian) yang tampaknya memiliki makna tertentu. Katatonia dan abnormalitas postur ditemukan pada skizofrenia katatonik dan beberapa kasus penyakit otak. seringkali hingga mencapai suatu titik imobilitas dan tampak tak sadar akan sekitar. Katalepsi merupakan istilah umum untuk posisi tidak bergerak yang dipertahankan secara konstan.1.1 Hal ini terjadi paling sering pada skizofrenia. adalah ekspresi mencolok dengan isyarat. seperti yang terdapat pada imobilitas ekstrim pada penderita skizofrenia katatonik.2 Atau mungkin mucul sebagai aktivitas motorik yang berlebihan (eksitasi katatonik). dan jarang pada kondisi medis umum dan depresi berat. Katatonia dapat berbentuk hipomobilitas atau imobilitas. Beberapa kondisi. seperti tumor otak.1 Manerisme merupakan gerakan involunter yang menjadi kebiasaan dan mendarah daging. Stupor adalah keadaan di mana pasien tidak berkomunikasi. perlambatan secara nyata pada proses pikir. dan dalam kasus yang ekstrim mengarah ke stupor katatonik. seperti pada gangguan ekstrapiramidal. dan gangguan endokrin dan metabolisme. walaupun jarang.hipofenomena (misalnya pingsan). tidak dipengaruhi oleh stimulus eksternal. bicara.1 Eksitasi katatonik adalah aktivitas motorik yang tak bertujuan dan teragitasi. meskipun ia waspada. dan parafenomena (misalnya manerisme). ensefalitis. yaitu tidak berbicara (mutisme) atau bergerak (akinesia). Manerisme. Sedangkan diskinesia merupakan kesulitan melakukan gerakan volunter. sebagian besar delusi. Gangguan tik adalah gerakan cepat tidak teratur melibatkan kelompok otot-otot wajah atau anggota badan. Seorang pemeriksa . seperti ensefalitis. juga dapat terjadi akibat efek simpang ekstrapiramidal dari pengobatan antipsikotik. seperti pada retardasi psikomotor. sebuah keadaan ekstrim yang mungkin berbahaya bagi pasien dan orang lain.2 Sebuah gejala penting dari katatonia adalah katalepsia. ucapan.2 Sebuah gangguan yang ditandai dengan motilitas terganggu disebut katatonia. dan gerakan. Mutisme yaitu bisu tanpa abnormalitas struktural.2 Akinesia yaitu tidak adanya gerakan fisik. Bedanya dengan hipoaktivitas (hipokinesis) adalah berupa penurunan aktivitas motorik dan kognitif. di mana postur tidak nyaman dan aneh dipertahankan melawan gravitasi atau gaya lainnya. dapat menimbulkan gejala-gejala katatonik.

a. b. menggigit lidah. biasanya bersifat nonproduktif dan merupakan respons terhadap ketegangan dari dalam. sering disebabkan oleh sejumlah patologi otak yang . ditemui pada epilepsi dan dapat diinduksi oleh zat.mencoba untuk memindahkan secara pasif tubuh dgn katalepsia akan terlihat ‘fleksibilitas lilin’. yang sangat berbeda dari kek akuan (rigiditas katatonik) atau kekejangan. dan gelisah. 2. hilang kesadaran. Agitasi psikomotor: overaktivitas motorik dan kognitif yang berlebihan. disebut juga kejang grand mal dan kejang psikomotor. agresif. b. ketika pemeriksa menggerakkan anggota gerak orang tersebut. Kejang tonik-klonik menyeluruh: awitan gerakan tonik-klonik pada ekstremitas yang menyeluruh. Fleksibilitas serea (fleksibilitas lilin) adalah keadaan sese-orang yang dapat dibentuk menjadi posisi tertentu kemudian dipertahankan. serta gangguan psikis atau sensorik. Kejang parsial kompleks: awitan kejang iktal dengan gangguan kesadaran. dan inkontinensia dan diikuti oleh pemulihan kesadaran dan kognisi secara lambat bertahap. Hiperaktivitas (hiperkinesis): aktivitas yang merusak. Kejang parsial sederhana: awitan kejang iktal tanpa gangguan kesadaran. a. biasanya dipertahankan dalam jangka waktu lama. Rigiditas katatonik adalah keadaan mempertahankan suatu postur rigid secara volunter. meski telah dilakukan semua usaha untuk menggerakkannya. Sedangkan istilah lainnya1. Sedangkan Postur katatonik: mempertahankan suatu postur aneh dan tidak pada tempatnya secara volunter. anggota gerak itu terasa seperti terbuat dari lilin.2 yang merupakan tanda dan gejala psikomotor adalah: 1. Ekopraksia adalah peniruan gerakan seseorang oleh orang lain secara patologis. Overaktivitas. Kejang: serangan atau awitan gejala tertentu yang mendadak. Ekofenomena dapat terjadi ketika pasien berinteraksi dengan orang lain dan muncul sebagai ekolalia (imitasi pembicaraan orang lain) atau ekopraxia (imitasi tindakan orang lain). contohnya konvulsi. c.

f. h. ditemui pada skizofrenia. Khorea: gerakan acak. Trikotilomania: kompulsi untuk menarik rambut. iii. v. Satiriasis: keinginan kompulsif dan berlebih untuk melakukan koitus pada pria. 5. bersifat kompulsif. ii. 6. Katapleksi: hilangnya tonus otot dan kelemahan sementara yang dipicu oleh berbagai keadaan emosional. biasanya lebih cepat dari satu ketukan per detik. biasanya pakaian atau seprai. Tik: gerakan motorik spasmodik yang involunter. yang dapat mengakibatkan kegelisahan. Dipsomania: kompulsi untuk minum alkohol. iregularitas kerja otot. i. involunter dan tak bertujuan. Ataksia: kegagalan koordinasi otot.mendasari. Ritual: aktivitas otomatis. e. vi. Berjalan dalam tidur (somnabulisme): aktivitas motorik saat tidur. berjalan mondar-mandir. Kleptomania: kompulsi untuk mencuri. Nimfomania: keinginan kompulsif dan berlebih untuk melakukan koitus pada wanita. . Bradikinesia: kelambanan aktivitas motorik disertai penurunan gerakan spontan normal. c. duduk-berdiri berulang kali. biasanya. Akatisia: perasaan subjektif berupa rasa tegang pada otot sekunder akibat antipsikotika atau obat lain. dapat disalahartikan sebagai agitasi psikotik. cepat. 3. iv. j. Floksilasi: gerakan mencabuti yang tidak bertujuan. Kompulsi: impuls tak terkendali untuk melakukan suatu tindakan secara repetitif. Polifagia: makan berlebihan yang patologis. 4. Rigiditas otot: keadaan ketika otot tetap tak dapat digerakkan. sering terlihat pada delirium. menyentak. Tremor: perubahan gerakan secara ritmis. bertujuan untuk mengurangi ansietas. i. d. g. tremor berkurang selama periode relaksasi dan tidur serta meningkat pada periode kemarahan dan peningkatan ketegangan.

Anergia: tidak berenergi (anergi). . 12. lawan motorik dari afek gusar. 17. Otomatisme: tindakan dilakukan secara otomatis yang biasanya melambangkan aktivitas simbolik bawah sadar.7. b. Stereotipi: pola tindakan fisik atau berbicara yang tetap dan berulang. Konvulsi tonik: konvulsi berupa kontraksi otot yang tertahan. 14. Konvulsi klonik: konvulsi berupa otot yang berkontraksi dan berelaksasi secara bergantian. meski gerakan tungkai normal dapat dilakukan pada posisi duduk atau berbaring. 8. Aminia: ketidakmampuan untuk membuat gerakan isyarat atau memahami gerakan isyarat yang dilakukan oleh orang lain. a. Cara berjalannya aneh dan tidak mengarah ke suatu lesi organik spesifik. akibat sikap tidak peduli akan konsekuensi dari tindakannya. 18. Konvulsi: kontraksi atau spasme otot yang hebat dan involunter. Distonia: kontraksi badan atau ekstremitas yang lambat dan tertahan. Abulia: penurunan rangsang untuk bertindak dan berpikir. dapat ditemui pada distonia akibat obat 9. 11. Agresi: tindakan penuh tenaga dan bertujuan yang dapat bersifat verbal maupun fisik. Negativisme: tahanan tanpa motif terhadap semua usaha untuk menggerakkan atau terhadap semua instruksi. 16. terdapat pada gangguan konversi. marah atau benci. 15. Astasia abasia: ketidakmampuan untuk berdiri atau berjalan secara normal. 13. Otomatisme perintah: secara otomatis mengikuti saran (juga disebut kepatuhan otomatis). 10. Mimikri: aktivitas motorik imitatif sederhana pada masa kanak-kanak. akibat defisit neurologis.