Latihan Jasmani pada pasien hemodialisis regular

Salli Roseffi Nasution Pendahuluan Mengapa Latihan jasmani diperlukan pada pasien hemodialisis regular. Latihan jasmani atau regular physical activity memberikan beberapa manfaat pada pasien-pasien ESRD (End Stage Renal Disease), diantaranya adalah menurunkan resiko mortalitas kardiovaskular, pada pasien hipertensi akan mempermudah kontrol tekanan darah, pada pasien diabetes akan memperbaiki kadar gula darah, dan juga memperbaiki kwalitas hidup karena adanya perbaikan kondisi kejiwaan dan fungsi fisik (1-2). Di Amerika serikat diketahui bahwa penyebab kematian terbanyak pada pasien ESRD adalah kematian sehubungan dengan kardiovaskular dan hampir 80 % pasien ESRD mempunyai riwayat hipertensi (3), karenanya latihan jasmani sangat potensial menurunkan mortalitas pada populasi ini. Belakangan ini dikenal pula suatu fenomena “ reverse epidemiology” suatu hipotesis medis yang menyatakan adanya hubungan terbalik antara faktor resiko dan manifestasi klinis (clinical outcomes)(4-8), dimana hubungan yang abnormal ini adakalanya dramatik dan terjadi pada populasi tertentu. Faktor resiko yang mempunyai hubungan terbalik ini sering ditemui pada pasien ESRD yang menjalani dialisis regular (9).Beberapa faktor resiko yang berhubungan terbalik dengan morbiditas dan mortalitas pada pasien dialisis regular dapat dilihat pada tabel 1.

Weight-for-height ( BMI) Serum total cholesterol Serum LDL cholesterol Systolic blood pressure Diastolic blood pressure Serum homocysteine Serum creatinine Serum parathyroid hormone Metabolic acidemia Tabel 1 : Faktor resiko yang memperlihatkan hubungan terbalik (reversed relations) pada pasien-pasien hemodialisis regular

Sebagai contoh, adanya hubungan terbalik antara faktor resiko berat badan dan mortalitas, dimana pada populasi umum mortalitas akan menurun sejalan dengan menurunnya BMI (13-16).

Sebaliknya tidak ditemui ada hubungan terbalik antara aktifitas fisik dengan masalah nutrisi dan inflamasi atau penyakit penyerta. dimana mortalitas meningkat ketika BMI menurun dibawah 19-22 kg/m2(13.14). tekanan darah dan sering disertai penyakit lain yang berujung kepada morbiditas dan mortalitas yang meningkat. Sedang pada pasien regular hemodialisis. kemungkinan besar mempunyai faktor resiko tradisional yang rendah seperti BMI.Suatu curva “J” atau “U” telah dikenal dari beberapa penelitian pada populasi normal. kolesterol. Pasien-pasien dialisis dengan protein-energy malnutrisi atau dengan inflamasi. dimana BMI mencapai > 45 kg/m2 (18). . keadaan ini berlawanan dengan penelitian diatas dan hubungan yang terbalik ini juga dilaporkan dari beberapa penelitian epidemiologi lain (15). Ada kecendrungan survival makin besar dengan meningkatnya BMI pada pasien regular hemodialisis hingga ketingkat level obesitas.

kurangnya ketrampilan dalam mencontohkan latihan. Latihan yang kurang. diantaranya keterbatasan waktu untuk konsultasi. prevalensinya sangat tinggi pada pasien-pasien ESRD dan potensial dapat diperbaiki dengan latihan jasmani. dan nefrologist jarang sekali memperhatikan aktivitas fisik pasien-pasien atau mengkonsultasikannya agar aktifitasnya meningkat (12). kemampuan kerja fisik dan fungsi yang lemah. oxidatif stres dan disfungsi endotel dan memberi gambaran area dimana latihan jasmani jelas bermanfaat pada populasi umum(10). latihan jasmani berpotensi untuk memperbaiki kerja fisik dan kwalitas hidup. Kurangnya perhatian terhadap latihan jasmani banyak faktor yang mempengaruhinya. tetapi pasien dialisis ternyata sangat tidak aktif (pemalas) (11). Meskipun begitu banyak manfaat latihan jasmani.Gambar diatas. atrofi otot. . dan kekhawatiran terhadap efek buruk dari latihan itu sendiri(10). Sebagai tambahan terhadap kemungkinan perbaikan cardiovaskular. memperlihatkan hubungan yang paralel dari sedantary behavior dan ESRD dengan faktor resiko kardiovaskular lain dan dengan inflamasi.

Beberapa manfaat latihan jasmani regular aerobik : • • • • • • • Menguatkan otot-otot pernafasan. glikogen dipecah menjadi glikosa. memfasilitasi transport oksigen Memperbaiki kesehatan mental. dikenal sebagai aerobic conditioning. Memperbaiki sirkulasi dan menurunkan tekanan darah Meningkatkan jumlah sel darah merah. . Dua type latihan jasmani dibedakan berdasarkan durasi dan intensitas kontraksi dari otot yang terlibat. tetapi sprint bukan latihan aerobik. pada fase awal latihan glikogen atau gula digunakan tanpa oksigen dan merupakan proses yang tidak efisien. Menguatkan seluruh otot tubuh. Dalam hal karbohidrat berkurang. Pada awal melakukan latihan aerobik. Menguatkan dan memperbesar otot jantung. lemak menjadi penggantinya. yang kemudian bereaksi dengan oksigen (Kreb cycle) menghasilkan karbon dioksida dan air serta melepaskan energi. termasuk mengurangi stress dan menurunkan insiden depresi. dan juga atas dasar darimana energi otot berasal. Umumnya latihan aerobik dilakukan dengan intensitas sedang dalam waktu yang relatif panjang seperti berlari dalam jarak jauh. memperbaiki efisiensi pompa jantung dan menurunkan denyut jantung saat istirahat. mempermudah aliran udara masuk dan keluar dari paru-paru.Aerobic versus anaerobic exercise Formula Fox and Haskell memperlihatkan batasan antara aerobic (orange muda) and anaerobic (orange tua) exercise dan denyut jantung. Latihan jasmani Anaerobik berbeda. Mengurangi resiko diabetes.

dan pergerakan lebih mudah. • Jika pasien merasa sehat. bernafas dalam dan perlahan ketika peregangan dilakukan. Beberapa contoh exercise flexibility. meskipun menjalani terapi pengganti ginjal Konsultasi dengan Physical therapist adakalanya diperlukan. Dapat juga dilakukan sebagai bagian pemanasan sebelum kardiovaskular exercise. • Jika pasien mempunyai masalah dengan jantungnya. lalu keluarkan nafas perlahan saat menahan pada posisi tersebut. Latihan dimulai dari kepala . . Gb: 1. Dapat bergabung dengan cardiac rehabilitation program • Jika pasien sulit berjalan atau tidak dapat berjalan Physical therapist akan membantu memilih apa yang dapat dilakukan dan bagaimana melakukannya. Peregangan leher Keterangan gambar 1 • Duduk atau berdiri tegak. dan menahannya hingga 10 – 20 detik. Pasien yang dapat melakukan latihan jasmani Hampir setiap orang yang menjalani dialisis dapat melakukan latihan. dapat dilakukan setiap hari dengan melakukan peregangan otot dengan gerakan yang lambat. Flexibility excercise Latihan ini membuat kerja sendi menjadi lebih baik. menghemat glikogen intramuskular. Latihan ini dilakukan dengan meregangkan otot-otot hingga terasa tegangan yang ringan. pandangan lurus kedepan. leher dan kebawah menuju kaki.• • Menurunkan resiko osteoporosis Memperbaiki kemampuan sel otot untuk menggunakan lemak ketika latihan jasmani. Jenis Latihan jasmani yang dibutuhkan Ada 3 jenis latihan untuk pasien hemodialisis regular(19). Pengulangan sedikitnya dilakukan sebanyak 3 kali.

Tegakkan kembali dagu hingga pandangan lurus kedepan. Peregangan lengan dan tangan. Putar kepala kearah belakang dan dekatkan telinga kiri kebahu kiri. Dekatkan dagu kedada dan putar perlahan dagu kearah sepanjang dada Sehingga telinga kiri menyentuh bahu kiri. • lalu jatuhkan lengan sebelah kanan dan rasakan tarikan. Keterangan gambar 2 • Duduk atau berdiri tegak. lalu tegak kembali • lakukan yang sama pada lengan kiri . • Luruskan lengan kedepan setinggi bahu. • Berdiri atau duduk tegak • letakkan lengan diatas kepala. Gb : 2 . • Regangkan seluruh jari lalu buat kepalan tangan dan lepaskan lagi • Lengan tetap lurus kedepan lalu buat putaran dipergelangan tangan pertama searah jarum jam kemudian berlawanan arah dgn jarum jam Gb: 3 Peregangan pinggang Keterangan gambar 3.• • • Perlahan dekatkan telinga kanan kearah bahu kanan.

lakukan semampu anda dan tahan • Turunkan kembali lutut kiri dan lakukan ulang pada lutut kanan . • lengkungkan badan raih lutut kiri dgn kedua tangan dan tarik menuju dada • Letakkan ujung dagu kearah dada dan cobalah menyentuhkan kening ke lutut. • Berdiri atau duduk tegak • letakkan tangan dibahu dengan siku diluar • Buat lingkaran dgn siku . • Duduk tegak .Gb : 4 Peregangan dada dan punggung belakang Keterangan gambar 4.pertama kedepan lalu kebelakang • Stop membuat lingkaran lalu buat siku berdekatan didepan dada • Buka kembali siku dan lalu regangkan rasakan tekanan didada Gb : 5 Peregangan paha belakang Keterangan gambar 5.

• Duduk tegak dengan kaki dilantai. lalu gerakkan kedepan dan kebelakang • Gerakkan tumit memutar pertama kekanan lalu kekiri. . Gb : 7 Peregangan betis Keterangan gambar 7. berpegangan pada kursi • Perlahan angkat kaki kanan sampai lurus didepan • Dan kemudian perhatikan jempol kaki.Gb : 6 Peregangan kaki Keterangan gambar 6. • Letakkan tangan pada sandaran kursi dan berdiri tegak lurus • Mundurkan kaki kanan selangkah dan tekan tumit kanan dilantai • Lengkungkan kaki kiri dan rasakan tarikan pada betis kanan • Lengkungkan lutut kanan dan rasakan tarikan pada tumit kanan dan tahan. • Letakkan kaki kanan kelantai dan lakukan juga pada kaki kiri.

Gb 1. • Duduk tegak dikursi • Lipat lengan atas pada siku. Penguatan otot lengan depan Keterangan gambar 1. karet elastik atau berat tubuh sendiri. dekatkan ke telinga • Tarik elastik band kearah depan diatas kepala • Kembalikan lipatan lengan pada siku turunkan lengan kebelakang bahu . Selalu diawali pemanasan dengan aktifitas ringan dan banyak istirahat agar otot relax. Latihan dimulai dengan perlahan.Strengthening Excercise Latihan ini membuat otot lebih kuat. dilakukan bertahap. Menarik nafas ketika melakukan gerakan dan mengeluarkan nafas ketika relax. bisa menggunakan berat beban. hal ini dapat mencegah meningginya tekanan darah berlebihan. • Berdiri atau duduk tegak dikursi • Dekatkan siku kesisi badan dan lipat lengan pada siku • Angkat lengan keatas dan buat kepalan • Perlahan angkat kepalan menuju bahu dan turunkan Gb: 2 Penguatan otot lengan belakang Keterangan gambar 2. dengan melawan gaya resistensi. membuat otot bekerja lebih keras. beban terlalu berat membuat otot kram dan terluka.

• Bersandar pada kursi dgn kaki diletakkan pada sandaran kaki. Penguatan otot paha Keterangan gambar 4. Penguatan otot paha Keterangan gambar 3.angkat satu kaki dan luruskan serta tahan. • Duduk tegak dengan kaki diatas lantai. • Berpegangan pada lengan kursi dan perlahan angkat kaki tanpa menekuk lutut tahan hitung sampai lima • Turunkan kembali secara perlahan . • Lipat lutut dan turunkan kaki perlahan kearah lantai Gb 4.Gb 3. • Berpegangan pada pinggir kursi.

• Pertahankan punggung tegak angkat satu kaki kebelakang dan sentuhkan jempol. • Berbaring pada kursi dan letakkan kaki pada sandaran kaki . • Letakkan lengan pada kursi • Tekuk lutut dan perlahan gerakan kearah dada seperti bersepeda. • Berdiri tegak dan berpegangan pada sandaran kursi. Gb 6. Penguatan otot paha Keterangan gambar 5.Gb 5. Penguatan otot paha belakang Keterangan gambar 6.ketika mengangkat kaki • Pertahankan posisi tubuh tegak tahan dan perlahan turunkan kaki .

• Berbaring dengan lutut ditekuk dan kaki dilantai • Silangkan tangan didada dan angkat dagu kearah dada • Perlahan angkat kepala dan bahu sampai bahu terangkat dari lantai. turunkan Perlahan keposisi semula . tahan dan turunkan perlahan Gb 8. • Angkat kaki sebelah atas tahan dan turunkan perlahan Gb 9. • Angkat tumit dan berdiri pada jari kaki. Penguatan otot betis Keterangan gambar 7. • Berdiri tegak dan berpegangan pada sandaran kursi . • Berbaring kesamping gunakan lengan bawah melindungi kepala • Letakkan lengan lain di depan agar balans lalu luruskan kedua kaki.Gb 7. Penguatan otot perut Keterangan gambar 9. Penguatan otot paha samping Keterangan gambar 8.

tujuan gerakan ini adalah memperbaiki ketahanan ( endurance) .dorongkan tubuh dengan lengan keposisi semula. • Berdiri menghadap kursi dan letakkan kedua tangan pada lengan kursi . paru-paru dan sirkulasi bekerja lebih efisien. • Berdiri menghadap dinding. tetap dari lengan ataupun kaki.l Gb 10. membuat jantung. Penguatan otot lengan atas Keterangan gambar 10. Juga disebut aerobik excercise. Penguatan otot lengan atas Keterangan gambar 11.pastikan kursi tidak akan bergerak. • Turunkan tubuh kearah kursi dengan menekuk siku. • Dorong kembali menjauhi dinding dengan lengan sampai berdiri tegak kembali Gb 11. • Letakkan kedua telapak tangan kedinding setinggi bahu • Gerakkan kedepan sampai hidung hampir menyentuh dinding. Dilakukan dengan gerakan ritmik. Cardiovascular excercise. turunkan tubuh sejauh mungkin • Jaga punggung dan lutut lurus.

Am J Clin Nutr 80: 324–332. Sato Y. Latihan yang aman bila kondisi kesehatan pasien stabil . tekanan darah terkontrol. 2005 7. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Stenvinkel P. Kilpatrick RD. Chertow GM: Association of body size with outcomes among patients beginning dialysis. Kidney Int 63: 793–808. Greenland S. Vonesh EF. Kalantar-Zadeh K. Kalantar-Zadeh K. Pasien dengan diabetes harus dengan kadar gula darah terkontrol. Bethesda. • Komitment. Qureshi AR. 2007 8. Lindholm B: The reverse epidemiology of plasma total homocysteine as a mortality risk factor is related to the impact of wasting and inflammation. Kaysen GA.National Institutes of Health. Exp Biol Med (Maywood) 228 : 1208 –1212. Harapan yang realistik. Kopple JD:Reverse epidemiology of cardiovascular risk factors in maintenance dialysis patients. 2003 2. 2003 2. Adalah bermanfaat bila menganggap latihan jasmani merupakan terapi terhadap penyakit ginjal. Kalantar-Zadeh K. Willey KA. McAllister CJ. Barany P. 2005 6. Suliman M. harus ditekadkan hasil yang diperoleh minimal setelah 3 bulan. Hypertension 45: 811–817. 2003 5.Memulai latihan jasmani. Fushimi T: Physical exercise improves glucose metabolism in lifestyle-related diseases. buat target yang ingin dicapai dan kapan. Heimburger O. Program. pastikan dialisis adekuat. Kopple JD: Reverse epidemiology of hypertension and cardiovascular death in the hemodialysis population: The 58th annual fall conference and scientific sessions. Johansen KL. Lowrie EG. Nagasaki M. Singh MA: Battling insulin resistance in elderly obese people with type 2 diabetes: Bring on the heavy weights. Nakai N. Apa yang dibutuhkan agar latihan berhasil. Nephrol Dial Transplant 22: 209–217. Young B. Diabetes Care 26 : 1580 –1588. hanya latihan yang teratur untuk waktu tertentu yang akan memberi hasil. Block G. Lew NL: Death risk in hemodialysis patients: The . bebas dari infeksi dan penyakit lain yang membutuhkan pengobatan. Keberhasilan membutuhkan waktu Otot akan merasa lelah jika tidak terbiasa dengan latihan regular • • Kepustakaan : 1. 2006 4. US Renal Data System: USRDS 2006 Annual Data Report: Atlas of End-Stage Renal Disease in the United States. Humphreys MH.

J Chronic Dis. 16. Petrelli JM. Kilpatrick RD. 1999 Kalantar-Zadeh K. 2000 Johansen KL. Dudley RA: Exercise counseling practices among nephrologists caring for patients on dialysis. Ashby VB. predictive value of commonly measured variables and an evaluation of death rate differences between facilities. Nutr Rev. http://www. adults.000 men and women.51:127–36. Doyle J. Thun MJ. Chertow GM. Am J Kidney Dis 15: 458–482. Body weight and mortality among women.13:1061– 6.9. N Engl J Med. Ng AV. Dialysis dose and body mass index are strongly associated with survival in hemodialysis patients. 17. Am J Kidney Dis 41: 171–178. Body mass index and mortality in a prospective cohort of U. et al. J Am Soc Nephrol. A Guide for the people on dialysis. Variations in mortality by weight among 750. 1979 Kushner RF. Mulligan K.32:563–5. Kidney Int 57: 2564–2570. Carey S. Garfinkel L. Timedependent association between body mass index and cardiovascular mortality in hemodialysis patients.2002 Manson JE. 10. 13. Stampfer MJ. 18.lifeoptions. the life options rehabilitation advisory council .15:126 2004 Painter P. Body weight and mortality. et al. 2005 Johansen KL: Exercise in the End-Stage Renal Disease Population J Am Soc Nephrol 18: 1845–1854. Sakkas GK. Kent-Braun JA:Physical activity levels in patients on emodialysis and healthy sedentary controls.341:1097– 105.org/catalog/pdfs/booklets/exercise. J Am Soc Nephrol. 19. N Engl J Med. Shubert T. 1993 Port FK. et al. 1995 Calle EE. 37th annual conference of the American Society of Nephrology.333:677– 85. 1990 Kopple JD: The phenomenon of altered risk factor patterns or reverse epidemiology in persons with advanced chronic kidney failure.pdf. Dhingra RK. 15.S. McAllister CJ. 14. et al. Schoenfeld PY. Am J Clin Nutr 81: 1257–1266. 2007 Johansen KL. 2003 Lew EA.15-09-10 . Willett WC. 11. 12.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful