P. 1
pedoman-awaspupuknew

pedoman-awaspupuknew

|Views: 2,087|Likes:
Published by net_surfer

More info:

Published by: net_surfer on Jun 13, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2014

pdf

text

original

I.

PENDAHULUAN

Program pembangunan pertanian, khususnya perkebunan saat ini telah menunjukkan hasil dalam peningkatan pendapatan nasional dan kesejahteraan masyarakat, meskipun pelaksanaan berbagai kegiatan program pembangunan sering berbenturan dengan keterbatasan daya dukung lingkungan sehingga berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat dan lingkungan hidup. Salah satu dampak negatif yang harus dihindari adalah tersebarnya banyak jenis bahan pencemar lingkungan baik di dalam tanah, air, maupun udara, menyebabkan kualitas lingkungan hidup semakin menurun. Apabila kegiatan pembangunan semacam ini dibiarkan tidak terkendali, maka akan merugikan generasi mendatang atau bahkan dapat mendatangkan kemiskinan dan kesengsaraan. Salah satu bahan pencemar lingkungan hidup adalah pupuk dan pestisida (an-organik) apabila digunakan secara tidak bijaksana, termasuk bahan pencemar yang berbahaya bagi kesehatan masyarakat karena residu yang ditinggalkan baik pada hasil perkebunan maupun du lingkungan.

1

Berdasarkan hasil monitoring Perguruan Tinggi, Balai dan Pusat Penelitian serta dinasdinas pemerintah bahwa pada saat ini residu pupuk dan pestisida telah banyak mencemari tanah, sungai, air minum, air sumur, dan yang lebih berbahaya lagi adalah mencemari makanan. Di lain pihak, pekebun dan masyarakat sebagai pelaku pembangunan perkebunan mengeluarkan dana yang tidak sedikit dalam upaya memelihara tanaman dan meningkatkan hasil panennya, apabila terbeli agroinput antara lain pupuk dan pestisida dengan mutu rendah/palsu/kadaluarsa, maka upaya yang dilakukan akan menjadi sia-sia. Prinsip 6 tepat ((tepat jenis, jumlah, waktu, mutu, harga, dan lokasi) sangat penting dalam menggunakan pupuk dan pestisida secara bijaksana. Mutu pupuk dan pestisida yang tidak terjamin, pencemaran lingkungan dan residu pestisida pada makanan yang ditemukan masih belum membahayakan bagi kesehatan manusia menurut ukuran baku WHO, namun hal-hal tersebut merupakan indikasi bahwa fungsi pengawasan pupuk dan pestisida masih lemah, sehingga peran pengawas pupuk dan pestisida perlu lebih ditingkatkan dan diberdayakan pada segala tingkatan. Melalui pengawasan pengendalian pengadaan, peredaran dan penggunaan pupuk dan pestisida, diharapkan (a) pupuk dan pestisida tersedia sampai di tingkat petani secara tepat waktu, jumlah, jenis dan tempat dengan mutu yang terjamin dan harga yang terjangkau; (b) melindungi kesehatan dan keselamatan manusia serta kelestarian alam 2

dan lingkungan hidup; (c) menjamin mutu dan efektifitas pestisida dan (e) memberikan perlindungan kepada prosuden, pengedar dan pengguna pestisida. Berkaitan dengan upaya peningkatan pengawasan pengendalian pengadaan, peredaran dan penggunaan pupuk dan pestisida dimaksud maka dipandang perlu disusun suatu Pedoman Pengawasan Pupuk dan Pestisida yang akan dijadikan sebagai acuan bagi petugas provinsi dan kabupaten/kota pada setiap kegiatan pengembangan perkebunan di wilayah masing-masing.

II. a.

KEBIJAKSANAAN PUPUK DAN PESTISIDA DI BIDANG PERKEBUNAN Kebijakan Umum

“ Mendorong penyediaan dan penerapan pupuk dan pestisida dalam upaya mewujudkan agribisnis perkebunan yang efisien, berdaya saing, berkelanjutan dan kesejahteraan petani “
Ketersediaan pupuk dan pestisida di lapangan perlu diatur agar sesuai 6 tepat (tepat jenis, jumlah, waktu, mutu, harga, dan lokasi). Disamping itu, pupuk dan pestisida merupakan sarana produksi yang peka terutama mengenai kebijakan subsidi terhadap pupuk terkait ketersediaan gas selain terhadap faktor lingkungan dan sosial ekonomi 3

masyarakat, sehingga peraturan yang terkait sering mengalami penyempurnaan. Deregulasi yang dilakukan pemerintah di bidang pupuk dan pestisida dimaksudkan untuk : 1. Menjamin ketersediaan dan pemenuhan kebutuhan pupuk dan pestisida sesuai standar dan dosis yang ditetapkan. 2. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas penggunaan pupuk dan pestisida. 3. Mendorong penerapan pupuk organik, pupuk majemuk dan pemupukan berimbang serta penerapan pengendalian hama terpadu (PHT). 4. Melindungi masyarakat dan lingkungan dari pengaruh yang membahayakan sebagai akibat penggunaan pupuk dan pestisida secara tidak bijaksana. b. Ketentuan Peraturan Perundangan

2.2.1. Ketentuan peraturan perundangan yang terkait dengan pengawasan pupuk, adalah : a. Undang-Undang No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman. Pupuk yang diedarkan di Indonesia harus memenuhi ketentuan seperti yang diatur dalam pasal 37 sebagai berikut : • Pupuk yang beredar di dalam wilayah negara Republik Indonesia wajib memenuhi standar mutu dan terjamin efektivitasnya serta diberi label. • Pemerintah menetapkan standar mutu pupuk serta jenis pupuk yang boleh diimpor. 4

• •

Pemerintah mengawasi pengadaan dan peredaran pupuk. Ketentuan mengenai tata cara pengawasan pengadaan, peredaran dan penggunaan pupuk sebagaimana dimaksud ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

Selanjutnya pelanggaran terhadap pasal 37 ayat (1) akan diberikan sanksi seperti yang tercantum dalam pasal 60 sebagai berikut : 1). Barangsiapa dengan sengaja ; Mengedarkan pupuk yang tidak sesuai dengan label sebagaimana dimaksud dalam pasal 37 ayat (1); dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 250.000.000,- (dua ratus lima puluh juta rupiah). 2) Barangsiapa karena kelalaiannya ; Mengedarkan pupuk yang tidak sesuai dengan label sebagaimana dimaksud dalam pasal 37 ayat (1); dipidana kurungan paling lama 12 (dua belas) bulan atau denda paling banyak Rp 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah). b. Undang-Undang No. 8 Tahun 1992 tentang Pupuk dalam Pengawasan. Pupuk bersubsidi ditetapkan sebagai barang dalam pengawasan.

5

c.

Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen Undang-Undang ini menekankan bahwa semua barang termasuk pupuk yang dipasarkan harus terjamin mutunya, sebagaimana spesifikasi produk yang dicantumkan pada label. Setiap pelaku usaha diwajibkan untuk memberikan informasi yang benar kepada konsumen atas barang yang diperdagangkan. Apabila pelaku usaha melanggar ketentuan, dapat dikenakan sanksi sebagaimana tercantum pada pasal 62 ayat (1) yang dengan tegas menyatakan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp 2 Milyar.

d. Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 2001 tentang Pupuk Budidaya Tanaman Ruang lingkup pengaturan dalam perpu ini meliputi pengadaan, peredaran, penggunaan dan pengawasan pupuk an-organik serta sanksi administrasi. Untuk menerapkan Perpu ini, perlu ditetapkan peraturan-peraturan teknis oleh Menteri Pertanian, Menteri Terkait dan Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya. e. Peraturan Presiden RI No. 77 Tahun 2005 tentang Penetapan Pupuk Bersubsidi Sebagai Barang Dalam Pengawasan Pupuk subsidi seperti pada pasal 1 ayat (1) adalah pupuk yang pengadaan dan penyalurannya mendapat subsidi dari pemerintah untuk kebutuhan petani yang dilaksanakan atas dasar program pemerintah di sektor pertanian. Pada pasal 2 ayat (1) menyebutkan bahwa pupuk 6

subsidi ditetapkan sebagai barang dalam pengawasan seperti dimaksud dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1962 tentang Perdagangan Barang-Barang dalam Pengawasan. Pupuk bersubsidi seperti pada ayat (2) terdiri dari Urea, SP 36, ZA dan NPK. Pengawasan yang dilakukan seperti pada ayat (3) mencakup pengadaan dan penyaluran, termasuk jenis, jumlah, mutu, wilayah pemasaran dan harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi, serta waktu pengadaan dan penyaluran. PP ini telah ditindaklanjuti dengan MOU Menteri Perdagangan, Menteri Perindustrian, Menteri Pertanian dan Menteri BUMN dengan Kepolisian dan Kejasaan Agung pada tanggal 18 April 2006 tentang pelaksanaan pengawasan pengadaan dan penyaluran pupuk bersubsidi. f. g. h. i. Keputusan Menteri Pertanian No. 237/Kpts/Ot.210/4/2003 tentang Pedoman Pengawasan Pengadaan, Peredaran dan Penggunaan Pupuk An-organik. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 140/MPP/Kep/3/2002 Tentang Penerapan Secara Wajib SNI Pupuk. Keputusan Menteri Pertanian No. 238/Kpts/OT.210/4/2003 Tentang Pengawasan Formula Pupuk An-Organik. Keputusan Menteri Pertanian No. 09/Kpts/TP.260/1/2003 Tentang Syarat dan Tatacara Pendaftaran Pupuk An-Organik. Nomor Pendaftaran Pupuk diberikan kepada produsen/distributor yang telah memenuhi persyaratan.

7

j.

k. l.

Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan R.I. Nomor 356/MPP/Kep/5/2004 tentang Perubahan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI. Nomor 70/MPP/Kep/2/2003 tentang Pengadaan dan Penyaluran Pupuk Bersubsidi untuk Sektor Pertanian sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan R.I. Nomor 306/MPP/Kep/4/2003. Keputusan Menteri Pertanian Nomor 465/Kpts/OT.160/7/2007 tentang Pembentukan Tim Pengawasan Pupuk Bersubsidi tingkat Pusat. Peraturan Menteri Perdagangan No. 03/M-DAG/PER/2/2006 pasal 16 ayat 2 bahwa pengawasan atas pengadaan, penyaluran pupuk bersubsidi dilakukan secara berjenjang, di tingkat Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota. - Di tingkat Pusat dilakukan oleh Tim Pengawas Pupuk dan Pestisida yang dibentuk oleh Menteri Pertanian; - Di tingkat Provinsi dilakukan oleh Komisi Pengawas Pupuk dan Pestisida (KPP) yang dibentuk oleh Gubernur; - Di tingkat Kabupaten/Kota dilakukan oleh Komisi Pengawas Pupuk dan Pestisida (KPP) yang dibentuk oleh Bupati/Walikota. Di samping itu, akan ditempatkan Tenaga Pendampingan Masyarakat (TPM) di setiap Kabupaten/Kota, yang bertugas membantu KPP Kabupaten dalam mengawasi penyaluran pupuk bersubsidi.

8

m.

n. o. p.

Peraturan Menteri Pertanian Nomor 17/Permentan/SR.130/5/2006 tentang Perubahan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 505/Kpts/SR.130/12/2005 tentang Kebutuhan dan HET Pupuk Bersubsidi Untuk Sektor Pertanian Tahun 2006 dan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 04/Pert/SR.130/2/2006 dan peraturan Menteri Pertanian Nomor 5/Kpts/SR.130/12/2005. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 02/Pert/HK.060/2/2006 tentang Pupuk Organik dan Pembenah Tanah. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 03/M-DAG/PER/2/2006 tentang Pengadaan dan Penyaluran Pupuk Bersubsidi Untuk Sektor Pertanian. Nomor Pendaftaran Pupuk dari Departemen Pertanian terdiri dari kode bentuk pupuk, nomor urut pendaftaran, kode nama institusi, kode bulan dan tahun pendaftaran. Inisial bentuk pupuk terdiri dari G (Granul) untuk pupuk bentuk butiran, T (Tablet) untuk pupuk bentuk tablet, P (Powder) untuk pupuk bentuk tepung, L (Liquid) untuk pupuk bentuk cairan dan Plt (Pellet) untuk pupuk bentuk pellet. Sebagai contoh, pupuk dengan nomor pendaftaran G. 003/DEPTAN-PPI/XI/2005 berarti pupuk tersebut berbentuk butiran yang didaftar dengan nomor 003 pada bulan November 2005 dan akan habis izin pendaftarannya pada bulan November 2010.

9

2.2.2. Penggunaan Pupuk Berwawasan Lingkungan a. Seiring dengan penggunaan varietas unggul, ketergantungan petani terhadap penggunaan pupuk kimia (an organik) cenderung sangat tinggi. b. Alternatif mengatasi masalah di atas dapat dilakukan dengan menyesuaikan dosis penggunaan pupuk an organik yang dikombinasikan dengan penggunaan pupuk/bahan organik. c. Pengembangan penggunaan pupuk/bahan organik/pembenah tanah tersebut dimaksudkan juga untuk meningkatkan kesuburan lahan pertanian, yang saat ini cenderung semakin menurun mutunya akibat penggunaan pupuk an organik yang intensif dalam kurun waktu yang lama. 2.2.3. Ketentuan peraturan perundangan yang terkait dengan pengawasan pestisida, adalah : a. Undang-Undang No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman. Bab IV pasal 38 s.d 42 menegaskan bahwa : pestisida yang akan diedarkan di dalam wilayah negara RI wajib terdaftar, memenuhi standar mutu, terjamin efektifitasnya, aman bagi manusia dan lingkungan hidup, serta diberi label. b. UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. 10

c. UU No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen d. Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1973 tentang Pengawasan Atas Peredaran, Penyimpanan dan Penggunaan Pestisida. e. Peraturan Pemerintah ini menyebutkan bahwa setiap pestisida yang akan diedarkan, disimpan dan digunakan harus terlebih dahulu terdaftar dan atau memperoleh izin dari Menteri Pertanian. f. Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman g. Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1999 tentang Bahan Berbahaya h. Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pusat dan Daerah i. Keputusan Menteri Pertanian No. 434.1/Kpts/TP-270/07/2001 tentang Syarat dan tatacara Pendaftaran Pestisida j. Keputusan Menteri Pertanian No. 517/Kpts/TP-270/9/2002 tentang Pengawasan Pestisida. Sesuai Keputusan Mentan pasal 3 menyebutkan bahwa : pengawasan pestisida dilakukan terhadap pestisida yang diproduksi dalam negeri maupun yang berasal dari luar negeri; mulai tahap pengadaan, peredaran, penggunaan dan pemusnahan pestisida baik pestisida untuk pertanian dan kehutanan maupun pestisida hygiene lingkungan. k. Peraturan Menteri Kesehatan No. 258/MENKES/PER/XI/19922 tentang Persyaratan Kesehatan Pengelolaan Pestisida. 11

l. Surat Keputusan Bersama Menteri Pertanian dan Menteri Kesehatan Nomor SKB/Menkes/SKBVIII/1996/771/Kpts/TP.270/8/96 Tentang Batas Maksium Residu. m. Kep. Menteri Nomor 411/Kpts/TT.120/6/95 tentang Pemasukan Agens Hayati ke dalam Wilayah Negara R.I. 2.2.4. Penggunaan Pestisida Berwawasan Lingkungan a. Seiring dengan pembangunagn perkebunan, ketergantungan petani terhadap penggunaan pestisida kimia (an organik) cenderung sangat tinggi. b. Alternatif mengatasi masalah di atas dapat dilakukan dengan penerapan PHT. c. Pengembangan penggunaan pestisida organik (nabati)/agens hayati du dalam PHT dimaksudkan untuk mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) secara biologi dan juga melindungi keanekaragaman hayati, yang saat ini cenderung semakin menurun akibat penggunaan pestisida an organik yang intensif dalam kurun waktu yang lama. 2.3. Perizinan Pupuk dan Pestisida Pendaftaran dan pemberian izin pupuk dan pestisida dalam setiap Peraturan Menteri Pertanian senantiasa menetapkan persyaratan mutu pupuk dan pestisida yang wajib dijamin oleh masing-masing pemegang pendaftaran. Salah satu kriteria penting yang 12

ditetapkan untuk mutu pupuk adalah komposisi kandungan bahan dan kadarnya, sedangkan pestisida adalah kadar bahan aktif yang dinyatakan dengan angka, sesuai dengan yang dinyatakan oleh pemohon pendaftaran dalam daftar isian permohonan pendaftaran yang diperoleh dari Pusat Perizinan dan Investasi (PPI) Dep. Pertanian.

III. RUANG LINGKUP PENGAWASAN Ruang lingkup pengawasan pupuk dan pestisida, antara lain : 3.1. Pelaksana Pengawasan pupuk dan pestisida dilakukan oleh unsur-unsur : a. Tim Pengawas Pupuk Bersubsidi Tingkat Pusat b. Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KPP) Provinsi dan Kabupaten/Kota c. Petugas Pengawas Pupuk dan Pestisida d. PPNS e. Masyarakat

13

3.2. Petugas Pengawas Perkebunan Sesuai dengan Keputusan Menteri Pertanian No. 517/Kpts/ TP.270/9/2002 pasal 7 ayat (1) menyatakan bahwa penunjukan petugas pengawas pestisida dilakukan sebagai berikut : a. Pengawas Pestisida Pusat ditunjuk oleh Menteri Pertanian berdasarkan usul dari pimpinan instansi Pertanian, Perindustrian dan Perdagangan, Kesehatan, Pengawas Obat dan Makanan (POM), Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kelautan dan Perikanan, Kehutanan, Lingkungan Hidup serta Instansi lain terkait; b. Pengawas Pupuk dan Pestisida Propinsi ditunjuk oleh Gubernur atas usul dari pimpinan instansi terkait di propinsi; c. Pengawas Pupuk dan Pestisida Kabupaten/Kota ditunjuk oleh Bupati/Walikota atas usul dari pimpinan instansi terkait di kabupaten; d. Penunjukan Pengawas Pupuk dan Pestisida berlaku untuk jangka waktu 4 (empat) tahun dan dapat ditunjuk kembali atas usul pimpinan instansi terkait. Jumlah Pengawas Pupuk dan atau Pestisida ditetapkan oleh Menteri Pertanian di tingkat Pusat, Gubernur di tingkat Provinsi dan Bupati/Walikota di tingkat Kabupaten/Kota, dengan memperhatikan; • Luas wilayah dan tingkat kesulitan pengawasan; • Jumlah dan jenis pupuk dan pestisida yang beredar di wilayahnya;

14

• Jumlah pelaku usaha di bidang pupuk dan pestisida (produsen, importir, distributor, penyalur, dan atau pengecer) yang terdapat di wilayahnya. 3.3. Persyaratan Ketentuan mengenai syarat Pengawas Pupuk dan Pestisida diatur lebih lanjut oleh Gubernur di tingkat provinsi dan Bupati/Walikota setempat di tingkat kabupaten/kota, dengan persyaratan minimal sebagai berikut : a. Pegawai Negeri Sipil sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun di lingkungan instansi Pertanian, Perindustrian dan Perdagangan, Kesehatan, Pengawas Obat dan Makanan (POM), Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kelautan dan Perikanan, Kehutanan, Lingkungan Hidup serta Instansi lain terkait; b. Memiliki pendidikan formal atau pelatihan atau pengetahuan di bidang pupuk dan pestisida yang sesuai dengan tugas-tugas pengawasan pupuk dan pestisida; c. Diutamakan bagi yang telah berpengalaman menangani pekerjaan yang berkaitan dengan pestisida atau memiliki sertifikat pelatihan yang sesuai dengan tugas pengawasan pupuk dan pestisida; d. Kepada anggota tim yang telah ditunjuk tetapi belum memiliki spesifikasi seperti pada butir tersebut di atas, dapat diusulkan/prioritaskan mengikuti pelatihan yang berkaitan dengan pengawasan pupuk dan pestisida; e. Tidak berafiliasi atau mempunyai konflik kepentingan dengan usaha di bidang pupuk dan pestisida. 15

3.4. Tugas dan Wewenang Pengawas a. Tugas Pengawas Pupuk dan Pestisida Tugas Pengawas Pupuk dan Pestisida adalah melakukan pengawasan pengadaan, peredaran dan penggunaan pupuk dan pestisida. b. Wewenang Pengawas Pupuk dan Pestisida Pengawas Pupuk dan Pestisida mempunyai wewenang melakukan pemeriksaan terhadap : • Proses produksi pupuk dan pestisida; • Sarana, tempat penyimpanan pupuk dan pestisida dan cara pengemasannya; • Nomor pendaftaran pupuk dan pestisida yang dimiliki oleh perusahaan; • Pencantuman label; • Pemenuhan persyaratan perizinan pengadaan dan atau peredaran pupuk dan pestisida; • Pencemaran/dampak negatif proses produksi pada lingkungan. 3.5. Obyek Pengawasan Obyek pengawasan pengadaan, peredaran dan penggunaan pupuk dan pestisida terdiri dari : a. Pengawasan jumlah dan jenis pupuk dan pestisida meliputi pupuk dan pestisida yang diproduksi/diimpor, diedarkan dan digunakan petani.

16

b. Pengawasan mutu pupuk (termasuk pupuk organik/pembenah tanah) dan pestisida (termasuk pestisida nabati/agens hayati) meliputi pemeriksaan terhadap kondisi fisik pupuk dan pestisida (bentuk, warna dan bau); masa kadaluarsa; kemasan; wadah pembungkus pupuk dan pestisida maupun pemeriksaan kandungan hara pupuk dan bahan aktif pestisida. c. Untuk pupuk bersubsidi, meliputi pengawasan harga eceran terendah (HET) pupuk subsidi dan jenis-jenis pupuk antara lain Urea, SP-36, ZA dan NPK 15-15-15. d. Pengawasan legalitas pupuk dan pestisida meliputi kelengkapan perizinan, nomor pendaftaran dan pelabelan. e. Laboratorium acuan yang digunakan untuk analisa kandungan hara pupuk dan kandungan bahan aktif pestisida adalah laboratorium yang dapat melakukan uji mutu pupuk dan laboratorium analisa pestisida (LAP), yang diakui pemerintah berdasarkan metoda analisa standard (baku). f. Evaluasi mutu pupuk dan pestisida mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI) dan bagi jenis-jenis pupuk yang belum ada SNI, mengacu pada spesifikasi pupuk dan pestisida yang didaftarkan dan dicantumkan pada label kemasan. g. Pengawasan terhadap mutu pupuk dan pestisida dilakukan terutama pada tahap pengadaan, peredaran dan penggunaan, dengan tahap dan obyek pengawasan sebagai berikut : • Tahap pengadaan (produksi dan atau pewadahan kembali/repacking) : kualitas dan kuantitas produk pupuk dan pestisida, melalui pengawasan mutu dan jumlah bahan

17

teknis, formulasi, kemasan, pembungkus dan label pupuk dan pestisida pada lokasi pengadaan pestisida; Tahap peredaran : kualitas produk pupuk dan pestisida/pengawasan mutu, melalui pengambilan sampel dan analisa sampel pupuk dan pestisida di laboratorium uji mutu pupuk dan pestisida. Tahap penggunaan : kualitas/mutu pupuk diarahkan kepada kandungan haranya dan pestisida kimiawi diarahkan pada residu pestisida pada produk pertanian dan media lingkungan. Untuk bio pestisida (agens hayati) yang perlu diawasi adalah jumlah spora, viabilitas dan umur biakan, sebagai berikut : Kriteria Jumlah spora Viabilitas Umur biakan Baik ≥107 86-100% 10-15 hari Sedang 106 75-85% Kurang ≤106 <75% < 10 hari

No. 1 2 3 •

Dampak lingkungan, dilakukan dengan menguji validitas dampak lingkungan selama masa registrasi, serta pencemaran yang timbul akibat penggunaan produk pupuk dan pestisida; Kecelakaan dan kesehatan kerja, dilakukan dengan mengawasi/memonitor kecelakaan kerja akibat proses produksi, peredaran, penyimpanan, pengangkutan dan penggunaan serta pemusnahan pupuk dan pestisida; 18

• • • • •

Efikasi dan resistensi pestisida, dilakukan dengan mengawasi efikasi dan resistensi akibat penggunaan pestisida; Dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat, kondisi tumbuhan, hewan dan satwa liar, dilakukan melalui pemantauan terhadap korban; Perijinan dan dokumen lainnya, dilakukan melalui pemeriksaan perijinan dan dokumen lainnya; Publikasi pada media cetak, dilakukan melalui pengamatan dan pemantauan iklan, label dan brosur; Sarana dan peralatan antara lain dilakukan melalui pemeriksaan terhadap gedung, gudang, pengolah limbah, mesin dan peralatan untuk memproduksi, menyimpan, mengangkat dan menggunakan pupuk dan pestisida.

IV.

PELAKSANAAN PENGAWASAN PUPUK DAN PESTISIDA

Pelaksanaan pengawasan pupuk dan pestisida dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu : 4.1. Mekanisme Pengawasan mutu pupuk dan pestisida diarahkan pada kegiatan : a. Pemantauan secara rutin di setiap rantai pemasaran dengan mengamati pupuk dan pestisida secara visual dimulai dengan pemeriksaan terhadap label yang melekat pada 19

b.

c. d. e.

f.

kemasan serta informasi lainnya yang dicantumkan pada brosur/leaflet yang menyertai dalam kemasan pupuk dan pestisida. Perubahan fisik pupuk dan pestisida baik bentuk maupun warna, seperti pada pupuk adanya endapan pada pupuk cair sekaligus perubahan warna cairan dapat mengindikasikan adanya degradasi mutu pupuk, demikian juga pestisida. Apabila secara visual ditemukan adanya perubahan fisik baik dalam jumlah besar maupun kecil, maka perlu dilakukan pengambilan sampel untuk dilakukan analisa mutunya. Apabila hasil analisa mutu ternyata tidak memenuhi standar mutu yang ditentukan, maka perlu ditarik dari peredaran dan pelanggaran tersebut agar diproses secara hukum. Bila dari hasil pengamatan secara visual diindikasikan adanya pupuk dan pestisida yang mencurigakan agar segera dilaporkan kepada Tim Interdep atau Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida yang ada di provinsi, kabupaten/kota, untuk penanganan lebih lanjut diantaranya penghentian sementara peredaran pupuk dan pestisida tersebut. Apabila hasil analisa mutu pupuk dan pestisida menunjukkan penyimpangan atau pemalsuan agar segera dilaporkan ke Dinas Perkebunan atau yang mebidangi Perkebunan di tingkat provinsi dan Kabupaten/Kota, dan selanjutnya dilaporkan ke Departemen Pertanian di tingkat Pusat. Penyimpangan atau pemalsuan pupuk dan pestisida yang terjadi segera ditindaklanjuti diantaranya melalui penyidikan yang dilakukan oleh PPNS perkebunan dan atau POLRI, sedangkan penerapan sanksi administratif (penarikan dari peredaran dan penghentian produksi atau impor) serta penerapan sanksi pidana oleh pengadilan setempat. 20

Kegiatan pengawasan pupuk dan pestisida hanya dapat dilakukan oleh petugas pengawas yang telah memiliki kartu legitimasi, di tingkat provinsi dikeluarkan oleh Gubernur dan di tingkat kabupaten/kota dikeluarkan oleh Bupati. Menurut ketentuan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1973, pengawasan pestisida dilakukan terhadap pestisida itu sendiri dan masyarakat dalam mengedarkan, menyimpan dan menggunakan pestisida. 4.2. Periode Pengawasan Kegiatan pengawasan pupuk dan pestisida dilakukan secara berkala atau sewaktu-waktu dengan mengunjungi tempat pengadaan pupuk dan pestisida, gudang penyalur toko/kios sarana produksi dan pemakai pupuk dan pestisida. 4.3. Metode Pengambilan Contoh Dalam Rangka Pengawasan Tahapan pengambilan contoh untuk pupuk dan pestisida, adalah : a. Teknik Pengambilan Contoh Pupuk/Pestisida • Contoh pupuk diambil sebanyak 1 (satu) karung oleh petugas pengawas di pabrik serta di setiap rantai pemasaran (penyalur, pengecer, pengguna), sedangkan contoh pestisida sebanyak 50 ml formulasi pestisida. Pengambilan contoh pupuk/pestisida dirantai

21

pemasaran diutamakan di daerah-daerah sentra produksi perkebunan dimana penggunaan/peredaran pupuk/pestisida di daerah tersebut sangat banyak. Untuk mendapatkan contoh pupuk yang mewakili (representatif) contoh pupuk/pestisida diambil dengan cara-cara yang ditetapkan.

b. Pengiriman Contoh ke Laboratorium • Contoh-contoh pupuk/pestisida yang telah diberi label dan segel, dipak dalam pembungkus yang lebih besar untuk dikirim ke Dinas yang membidangi Perkebunan di tingkat Propinsi/Kabupaten/Kota. • Semua contoh pupuk/pestisida selanjutnya dikirim ke laboratorium yang mampu melakukan analisa mutu pupuk (PT. Sucofindo di daerah atau Balai Besar Industri Kimia atau Balai Penelitian Pertanian atau Perguruan Tinggi/ Fakultas Pertanian). Untuk menghindari perbedaan mutu maka contoh-contoh harus sesegera mungkin dikirim untuk dianalisa paling lambat 3 hari setelah pengambilan contoh. c. Analisa Kimia Contoh Pupuk/Pestisida

22

Analisa contoh-contoh pupuk secara kimia dilakukan terhadap : Urea : Kadar N, Biuret dan kadar air TS P/SP-36 : Kadar P2O5 (total available dan yang larut dalam asam sitrat 2%) dan kadar air NPK : Kadar N, P2O5 dan K2O ZA : Kadar N, kadar S dan kadar air KCl : Kadar K sebagai kadar K2O serta kadar air Pupuk mikro : Seluruh komposisi dan kadar hara seperti yang tertera pada label

Prinsip analisa berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI). Sumber : Ditjen Bina Sarana dan Prasarana, Deptan, 2002. d. Informasi Keadaan Tempat Pengambilan Contoh Pupuk/Pestisida Setiap tempat penyalur, pengecer dan pengguna yang telah diambil contohnya perlu dicatat keterangan selengkapnya mengenai beberapa hal yang ada hubungannya dengan pengawasan mutu pupuk/pestisida. e. Pengamanan Mutu Pupuk/Pestisida Untuk dapat menjaga mutu pupuk/Pestisida agar sesuai dengan persyaratan yang ada sebagaimana spesifikasi, maka perlu diperhatikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi mutu, diantaranya dengan melakukan penanganan pupuk/pestisida yang 23

benar (misalnya penghapusan label atau penggantian kantong), baik meliputi cara penyimpanan maupun penjualan pupuk/pestisida terutama di rantai pemasaran lini IV (tingkat penyalur/pengecer). Pengawasan terhadap kualitas pupuk/pestisida dilakukan dengan cara pemeriksaan secara fisik/visual maupun secara kimia/laboratorium. a. Pengawasan secara fisik/visual Pengawasan secara fisik/visual dilakukan dengan pemeriksaan terhadap wadah/kemasan, pembungkus dan label. Sesuai dengan Keputusan Menteri Pertanian No. 434.1/Kpts/TP.270/7/2001 ditetapkan bahwa setiap wadah pupuk/pestisida harus diberi label dengan menggunakan bahasa Indonesia, mudah dibaca atau dilihat, tahan terhadap pestisida di dalam wadah, tidak mudah terhapus, tidak mudah robek atau rusak dan tertempel kuat atau dicetak pada wadah. c. Pengawasan secara kimia/laboratorium Pengawasan lebih lanjut dari pengawasan secara fisik yang dicurigai kebenaran mutunya adalah pengawasan secara kimia. Pengawasan ini dilakukan dengan melalui pengambilan contoh secara representatif (mewakili) dan analisa kandungan bahan aktif dalam bahan teknis atau formulasi di laboratorium uji mutu pestisida yang ditunjuk sesuai dengan Kep. Mentan No. 434.1/Kpts/TP.270/7/2001 tentang syarat dan tatacara pendaftaran pestisida dan laboratorium pestisida yang representatif di masing-masing wilayah, serta

24

evaluasi mutu pestisida yang dilakukan dengan membandingkan hasil analisa dengan spesifikasi mutu pestisida yang didaftarkan atau yang dicantumkan pada label. Sesuai dengan Lampiran II Keputusan Menteri Pertanian No. 517/Kpts/TP.270/9/2002 tentang Pengawasan Pestisida bahwa batas toleransi kandungan bahan aktif dalam bahan teknis atau formulasi adalah sbb:

Kadar bahan aktif dalam formulasi (%) > 50 25 - < 50 10 - < 25 2,5 - < 10 0 - < 2,5

Batas toleransi (%) ± 2,5 unit ±5 ±6 ± 10 ± 15

Kadar bahan aktif dalam formulasi (g/l) > 500 250 - < 500 100 - < 250 25 - < 100 0 - < 25

Batas toleransi (g/l) ± 25 unit ±5 ±6 ± 10 ± 15

25

4.4. Tindak Lanjut Hasil Pengawasan Pengawasan terhadap pengadaan, peredaran dan penggunaan pupuk/pestisida merupakan kewenangan Kabupaten/Kota. Untuk itu hasil-hasil pengawasan pupuk yang dilakukan tiap-tiap daerah agar diselesaikan oleh Bupati/Walikota. Namun apabila dampak permasalahan pupuk telah meluas lintas Kabupaten/Kota, maka perlu diselesaikan oleh Gubernur. Selanjutnya apabila dampaknya berada` dilintas Propinsi, maka perlu diselesaikan oleh Menteri Pertanian dan Menteri Perdagangan. Tindak lanjut hasil pengawasan pupuk oleh Bupati/Walikota sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Menteri Pertanian Nomor 237/Kpts/OT.210/4/2003. 4.5. Koordinasi Pengawasan Pengawasan pupuk/pestisida dilaksanakan secara terkoordinasi baik lintas sektor maupun antara kabupaten/kota dengan propinsi dan dengan pusat, mengingat pengawasan pupuk dilakukan oleh berbagai instansi teknis terkait dan peredaran pupuk sepenuhnya mengikuti mekanisme pasar bebas, sehingga tidak lagi mengenal batas wilayah. Untuk itu sangat diperlukan adanya Komisi/Tim Pengawas Pupuk dan Pestisida, sebagai wadah koordinasi dan sinkronisasi dalam kegiatan pengawasan pupuk dan pestisida, serta bertugas membantu pimpinan daerah dalam pengaturan pengadaan, peredaran dan pembinaan di tingkat pengguna pupuk dan pestisida di masing-masing wilayah.

26

Koordinasi pengawasan di daerah dilakukan secara berjenjang, yaitu Bupati/Walikota melakukan koordinasi pengawasan pengadaan, peredaran dan penggunaan pupuk dan pestisida di tingkat kabupaten/kota serta melaporkan hasil koordinasi tersebut kepada Menteri Pertanian dan khususnya untuk pupuk juga berkordinasi dengan Menteri Perdagangan secara berkala atau sewaktu-waktu apabila terjadi kelangkaan pupuk, gejolak harga, ditemukannya pupuk yang tidak layak pakai dan pupuk palsu atau pupuk yang kandungan haranya tidak sesuai dengan spesifikasi mutu pupuk yang didaftarkan. Dinas yang membidangi Perkebunan dapat juga melakukan pengawasan pupuk dan pestisida sesuai dengan tugas pokok dan fungsi, namun masih tetap berkoordinasi dengan Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida di Provinsi/Kabupaten/Kota. Koordinasi pengawasan dimaksud adalah sebagai berikut: a. Koordinasi di tingkat pusat dilakukan oleh Komisi Pupuk dan Pestisida sebagaimana telah dibentuk dengan Keputusan Menteri Pertanian yang keanggotaannya terdiri dari instansi terkait di pusat yang berwenang di bidang pestisida; b. Koordinasi di tingkat propinsi dilakukan oleh Komisi Pengawasan dan atau Tim pengawasan yang dibentuk dengan Keputusan Gubernur yang keanggotaannya terdiri dari instansi terkait di propinsi yang berwenang di bidang pupuk dan pestisida;

27

c.

Koordinasi di tingkat kabupaten/kota dilakukan oleh Komisi Pengawasan dan atau Tim pengawasan yang dibentuk dengan keputusan Bupati/Walikota yang keanggotaannya terdiri dari instansi terkait di bidang pupuk dan pestisida.

Hal-hal yang dibahas dalam rapat koordinasi adalah menyangkut antara lain : a. Rencana kerja yang sudah merupakan rencana kerja tahunan yang sudah disusun oleh pengawas pupuk dan pestisida yang baik yang telah disetujui maupun berupa usulan rencana kerja oleh petugas pengawas pupuk dan pestisida yang bersangkutan; Hasil pengawasan yang telah dilakukan oleh petugas pengawas pupuk dan pestisida; Tindak lanjut hasil pengawasan yang akan disampaikan kepada komisi/tim pengawasan pupuk dan pestisida propinsi dan kabupaten/kota.

b. c.

4.6. Pembinaan dan Pengawalan Petugas pengawasan pupuk dan pestisida di daerah berkewajiban melaksanakan bimbingan kepada pengecer dan pengguna pupuk dan pestisida, agar pengadaan peredaran, dan penggunaan pupuk dan pestisida sesuai dengan peraturan dan rekomendasi yang ada. Bimbingan dan pembinaan dilakukan dalam bentuk pelatihan, penggunaannya. sosialisasi dan praktek

28

4.7. Pelaporan Laporan hasil-hasil pengawasan pupuk dan pestisida berdasarkan obyek pengawasan dilakukan secara berkala (3 bulan) maupun sewaktu-waktu apabila terjadi permasalahan yang harus segera ditindaklanjuti. Laporan tetap harus disampaikan oleh Kabupaten/Kota ke Provinsi dan oleh Provinsi ke Pusat. Laporan yang harus dilakukan secara berkala setiap 3 bulan adalah laporan penyediaan, kebutuhan, penyerapan dan harga. Sedangkan laporan yang bersifat sewaktu-waktu adalah laporan terjadinya kasus/permasalahan yang terjadi di lapangan yang sebaiknya dilakukan setiap awal musim tanam. Laporan hasil pengawasan pupuk dan pestisida dilakukan secara berjenjang dari Bupati/Walikota/Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida Tingkat Kabupaten/Kota kepada Gubernur/Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida Tingkat Propinsi, dan selanjutnya dari Gubernur/Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida Tingkat Propinsi kepada Menteri Pertanian dan Menteri Perdagangan/Pokja Kebijakan Pupuk. Materi laporan hasil pengawasan di tingkat Kabupaten/Kota, Propinsi dan Pusat adalah sebagai berikut :

29

a.

b.

c.

Kabupaten/Kota sekurang-kurangnya mencakup jumlah, jenis dan mutu pestisida yang beredar, dampak penggunaannya di tingkat petani serta permasalahan lain yang timbul di lapangan; Propinsi sekurang-kurangnya mencakup situasi penyaluran/peredaran pestisida di Kabupaten/Kota, dampak penggunaannya serta permasalahan lain yang timbul di seluruh Kabupaten/Kota dalam satu propinsi; Pusat sekurang-kurangnya mencakup produksi pestisida, ekspor-impor bahan aktif dan formulasi dan pestisida, perkembangan ijin/nomor pendaftaran, hasil evaluasi pengawasan di daerah serta permasalahan yang timbul di seluruh wilayah Indonesia.

Mekanisme pelaporan untuk pupuk dan pestisida secara periodik sesuai Permentan No. 505/2005 (pasal 8) sebagai berikut : a. Komisi Pupuk dan Pestisida (KPP) Kabupaten/Kota melakukan pemantauan dan pengawasan serta membuat laporan kepada Bupati/Walikota dan selanjutnya Bupati/Walikota menyampaikan laporan tersebut kepada Gubernur; b. KPP Propinsi melakukan pemantauan dan pengawasan serta membuat laporan kepada Gubernur dan selanjutnya Gubernur menyampaikan laporan tersebut kepada Menteri; c. Tim Pengawasan Pupuk dan Pestisida Pusat melakukan pemantauan secara sampling dan memproses laporan dari Gubernur serta menyiapkan bahan kepada Menteri terkait (Pertanian, Perdagangan, Perindustrian, Keuangan dan Menneg. BUMN).

30

V. 5.1.

KETENTUAN UNTUK PUPUK BERSUBSIDI DAN PESTISIDA TERBATAS

PUPUK BERSUBSIDI a. Alokasi dan Harga Eceran Tertinggi (HET) Jumlah pupuk subsidi yang dialokasikan dan harga eceran tertinggi (HET) setiap tahun diatur oleh Menteri Pertanian yang dituangkan dalam peraturan Menteri Pertanian. HET adalah harga jual tertinggi pupuk bersubsidi dalam kemaan 50 kg (per zak) di Lini IV (petani) untuk Urea, SP 36, ZA dan atau kemasan 20 kg untuk pupuk NPK Phonska 15 : 15 : yang dibeli petani secara tunai di kios pengecer resmi/kios yang ditunjuk distributor untuk menyalurkan pupuk bersubsidi di Lini IV. Contoh HET pupuk bersubsidi tahun 2006 ditetapkan sebagai berikut: a. Pupuk Urea b. Pupuk SP – 36 c. Pupuk ZA = Rp. 60.000/zax = Rp. 77.500/zax = Rp. 52.500/zak atau Rp 1.200/kg atau Rp. 1.550/kg atau Rp. 1.050/kg 31

d. Pupuk NPK

= Rp. 35.000/zak atau Rp. 1.750/kg

Untuk menghindari aliran pupuk bersubsidi diluar peruntukannya, maka pada kemasan/kantong pupuk bersubsidi ditulis ”Pupuk Bersubsidi Pemerintah”. b. Sistem Distribusi Pupuk Bersubsidi Distribusi pupuk bersubsidi dilakukan dengan mengacu kepada Keputusan Menteri Perdagangan Nomor : 03/M-DAG/PER/2/2006 tentang Pengadaan dan Penyaluran Pupuk Bersubsidi untuk Sektor Pertanian. Beberapa hal penting yang diatur dalam keputusan tersebut antara lain : 1) Tanggung jawab / Kewajiban Produsen • Produsen menetapkan wilayah tanggung jawab pengadaan dan penyaluran pupuk bersubsidi maing-maing Distributor yang dicantumkan dalam Surat Perjanjian Jual Beli (SPJB)/Kontrak. • Produsen wajib menjamin kelancaran arus barang melalui penyederhanaan prosedur penebusan pupuk, dalam rangka mendukung kelancaran pengadaan dan penyaluran pupuk bersubsidi. • Produsen wajib memiliki dan/atau menguasai gudang di Lini III pada wilayah tanggung jawabnya. 32

• •

• •

Bilamana Produsen yang belum memiliki gudang di Lini III pada Kabupaten/Kota tertentu, dapat melayani Distributornya dari gudang di Lini III Kabupaten/Kota terdekat, sepanjang memenuhi kapasitas dan mempunyai kemampuan pendistribusiannya dan selanjutnya harus mempunyai gudang sendiri pada kabupaten/kota lokasi wilayah kerjanya. Produsen yang lokasi pabriknya atau gudang di Lini II-nya berada di wilayah Kabupaten/Kota yang menjadi tanggung jawabnya dapat menetapkan sebagai gudang Lini II sebagai gudang Lini III. Penyaluran pupuk bersubsidi dilakukan dengan memperhatikan HET. Produsen wajib menyampaikan daftar Distributor dan pengecer di wilayah tanggung jawabnya kepada Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri c/q Direktur Bina Pasar dan Distribusi, Departemen Perdagangan, dengan tembusan kepada Kepala Dinas Propinsi setempat yang membidangi Perdagangan dan Pertanian. Tugas dan tanggung jawab serta kewajiban Produsen sebagaimana ditetapkan pada Permendag Nomor 03/M-DAG/PER/2/2006. Daftar Produsen Penanggung Jawab dan Wilayah Tanggung Jawab Pengadaan dan Penyaluran Pupuk Bersubsidi seperti tertera pada tabel berikut ini :

33

TABEL WILAYAH TANGGUNG JAWAB PRODUSEN PUPUK No 1 A 1 2 PRODUSEN PUPUK 2 PUPUK UREA PT. Pupuk Iskandar Muda PT. Pupuk Sriwijaya WILAYAH TANGGUNG JAWAB (SELURUH KABUPATEN/KOTA)DI PROPINSI 3 1. Nangro Aceh Darussalam 1. Sumatera Utara 2. Sumatera Barat 3. Riau 4. Kepulauan Riau 5. Jambi 6. Sumatera Selatan 7. Bangka Belitung 8. Bengkulu 9. Lampung 10. Banten 11. DKI. Jakarta 12. Jawa Barat a)

34

1

2 13. Jawa Tengah I b) 14. D.I. Yogyakarta 15. Kalimantan Barat

3

3 4

PT. Pupuk Kujang PT. Pupuk Kalimantan Timur

1. Jawa Barat II c) 1. Jawa Tengah II d) 2. Jawa Timur II e) 3. Kalimantan Tengah 4. Kalimantan Selatan 5. Kalimantan Timur 6. Bali 7. Nusa Tenggara Barat 8. Nusa Tenggara Timur 9. Sulawesi Utara 10. Sulawesi Tengah 11. Sulawesi Selatan 12. Sulawesi Tenggara 13. Gorontalo 14. Sulawesi Barat

35

1

2 15. Maluku 16. Maluku Utara 17. Papua 18. Irian Jaya Barat 1. Jawa Timur I f) Seluruh Indonesia

3

5 B 1

PT. Petrokimia Gresik PUPUK ZA, SP-36,NPK PT. Petrokimia Gresik

Keterangan : a) Wilayah Jawa Barat I : Kabupaten Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Kuningan, Kota Cirebon, Kota Tasikmalaya dan Banjar. b) Wilayah Jawa Tengah I : Kabupaten Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen, Purworejo, Wonosobo, Magelang, Semarang, Temanggung, Kendal, Batang, Pekalongan, Semarang dan Salatiga.

36

c) Wilayah Jawa Barat II: Kabupaten Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung, Majalengka, Sumedang, Indramayu, Subang, Purwakarta, Karawang, Bekasi, Kota Bogor, Sukabumi, Bandung, Bekasi, Depok dan Cimahi. d) Wilayah Jawa Tengah II: Kabupaten Botolali, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Karanganyar, Sragen, Grobogan, Blora, Rembang, Kudus, Pati, Jepara, Demak dan Kota Surakarta, • Wilayah Jawa Timur II: Kabupaten Trenggalek, Tulung Agumg, Blitar, Kediri, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep, Kota Kediri, Blitar, Malang, Probolinggo, Pasuruan, Mojokertp, Surabaya dan Batu. • Wilayah Jawa Timur I : Kabupaten Pacitan, Ponorogo, Madiun, Magetan, Ngawi, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik dan Kota Madiun.

37

2) Tanggung Jawab/Kewajiban Distributor • Distributor wajib melaksanakan pengadaan dan penyaluran pupuk bersubsidi sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh Produsen berdasarkan prinsip 6 (enam) tepat yaitu tepat jenis, jumlah, harga, tempat, waktu dan mutu mulai dari Lini III sampai dengan Lini IV pada wilayah tanggung jawabnya. • Distributor wajib menyampaikan daftar pengecer di wilayah tanggung jawabnya kepada Produsen yang menunjuknya dengan tembusan kepada Komisi Pengawas Pupuk dan Pestisida Kabupaten/Kota setempat. Dinas Kabupaten/Kota setempat yang membidangi Perdagangan dan Pertanian. • Tugas dan tanggung jawab serta kewajiban Distributor sebagaimana ditetapkan pada Permendag Nomor 03/M-DAG/PER/2/2006. 3) Tanggung Jawab/Kewajiban Pengecer • Pengecer wajib melaksanakan pengadaan penyaluran pupuk bersubsidi sesuai dengan ketentuan Distributor berdasarkan prinsip 6 (enam) tepat yaitu tepat jenis, jumlah, harga, tempat, waktu dan mutu di Lini IV kepada petani dan/atau kelompoktani. • Pengecer hanya dapat melakukan penebusan pupuk bersubsidi dari 1(satu) Distributor yang menunjuknya. • Tugas dan tanggung jawab serta kewajiban pengecer sebagaimana ditetapkan pada Pemendag Nomor 03/M-DAG/PER/2/2006. 38

c. Pelaksanaan Pengawasan Pupuk Bersubsidi Pengawasan pupuk bersubsidi dilaksanakan oleh Tim Pengawas Pupuk di Tingkat Pusat serta Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida di Tingkat Propinsi dan Kabupaten/Kota Pengawasan terhadap penyediaan dan penyaluran serta harga pupuk bersubsidi Tingkat Kabupaten/Kota Kecamatan dan Desa dilakukan oleh Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida di Kabupaten/Kota dengan dibantu oleh Tenaga Pendampingan Masyarakat (TPM). Untuk kelancaran pelaksanaan pengawasan di lapangan maka telah dilakukan penandatanganan MOU antara Departemen Perdagangan, Departemen Perindustrian, Departemen Pertanian dan Kementrian Negara BUMN dengan Kepolisian Negara dan Kejaksaan Agung. d. Tugas dan Wewenang Pengawas Pupuk 1. Tingkat Pusat Tim Pengawas Pupuk Bersubsidi Tingkat Pusat yang keanggotaannya terdiri dari instansi terkait yang ditetapkan oleh Menteri Pertanian. Tugas Tim Pengawas Pupuk Bersubsidi Tingkat Pusat • Melakukan pengawasan secara langsung terhadap penyaluran pupuk dan Lini I sampai dengan Lini IV. 39

Melakukan pengawasan secara tidak langsung melalui evaluasi terhadap laporan hasil pengawasan dari daerah (propinsi, kabupaten/kota).

Kewajiban Tim Pengawas Pupuk Bersubsidi Tingkat Pusat • Melakukan koordinai dengan pengawas dari instansi terkait dalam rangka peningkatan pengawasan pupuk brsubsidi. • Melaporkn hasil kegiatan pengawasan pupuk kepada pimpinan satuan administrasi maing-masing, dengan tembusan ke Direktorat Jenderal Perkebunan. • Menyiapkan bahan laporan kepada Mentri Pertanian, Menteri Perdagangan, Menteri Perindfustrian, Menteri Keuangan, Meneg BUMN berdasarkan hasil-hasil pengawasan yang dilakukan oleh Tim/Komisi Pengawasan Daerah. 2. Tingkat Propinsi Pengawasan pupuk bersubsidi di tingkat propinsi dilaksanakan oleh Tim/Komisi Pengawasan Pupuk yang ditetapkan oleh Gubernur. Tugas Tim/Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida Propinsi • Melakukan pengawasan secara langsung melalui pemantauan terhadap penyediaan dan penyaluran pupuk dari Lini II sampai dengan Lini III • Melakukan pengawasan secara tidak langsung melalui evaluasi terhadap laporan hasil pengawasan yang diterima dari kabupaten/kota. 40

Kewajiban Pengawas Pupuk Propinsi • Melakukan koordinasi dengan pengawas dan instansi terkait dan coordinator TPM di propinsi dalam rangka peningkatan pengawas pupuk bersubsidi. • Melaporkan hasil kegiatan pengawasan pupuk bersubsidi secara berkala kepada Departemen Pertanian cq Direktorat Jenderal Tanaman Pangan/Direktorat Sarana Produksi Jln. Raya Ragunan No. 15 Pasar Minggu, Jakarta Selatan dan pimpinan satuan administrasi masing-masing, dengan tembusan ke Direktorat Jenderal Perkebunan. • Menyiapkan bahan laporan kepada Gubernur berdasarkan hail-hasil pengawasan yang dilakukan Tim/Komisi Pengawas Pupuk Propinsi maupun Kabupaten/Kota. 3. Tingkat Kabupaten/Kota Pengawasan pupuk bersubsidi di Kabupaten/Kota dilaksanakan oleh Tim/Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida yang ditetapkan oleh Bupati/Walikota. Untuk memperkuat pengawasan di lapangan, akan ditempatkan Tenaga Pendampingan Masyarakat (TPM) di tiap-tiap kabupaten/kota.

41

Tugas Tim/Kpmisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida Kabupaten/Kota • Melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap penyediaan dan penyaluran pupuk di Lini III dan Lini IV serta penggunaan pupuk bersubsidi di tingkat petani. • Melakukan pengawasan mutu pupuk • Melakukan evaluasi terhadap laporan hasil pengawasan Kewajiban Tim/Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida Kabupaten/Kota • Melakukan koordinasi dengan pengawas dari instansi terkait dan TPM dalam rangka peningkatan pengawasan pupuk bersubsidi. • Melaporkan hasil kegiatan pengawasan pupuk kepada pimpinan satuan administrasi pangkal masing-masing. • Menyiapkan bahan laporan kepada Bupati/Walikota berdasarkan hasil-hasil pengawasan yang dilakukan oleh Tim/Komisi Pengawasan Pupuk Kabupaten/Kota. e. Obyek Pengawasan Obyek pengawasan pupuk bersubsidi terdiri dari : Penyediaan Pupuk Lini I • Produksi pupuk di Pabrik/Pelabuhan • Stok pupuk di Pabrik 42

Penyediaan dan Penyaluran pupuk diLini II • Pengadaan di Gudang Lini II • Stok pupuk di gudang Lini II • Jumlah dan jenis pupuk yang disalurkan ke gudang Lini III • Permasalahan yang dihadapi produsen pupuk Penyedian dan Penyaluran di Lini III • Pengadaan di Gudang Produsen pupuk di Lini III • Jumlah dan jenis pupuk yang disalurkan kepada distributor • Harga penebusan pupuk di Gudang Produsen oleh distributor • Stok pupuk di Gudang Distributor di Lini III • Jumlah dan jenis pupuk yang disalurkan ke pengecer • Harga penjualan pupuk dari Distributor kepada pengecer • Mutu pupuk di Gudang Distributor Lini III • Permasalahan yang dihadapi Penyediaan dan Penyaluran pupuk di Lini IV • Stok pupuk di Gedung Kios Pengecer (Lini IV) • Harga penebusan pupuk oleh pengecer • Jumlah dan jenis pupuk yang disalurkan/dijual kepada petani per bulan 43

• • •

Mutu pupuk di Gudang Pengecer (Lini IV) Daerah kecamatan/desa yang dilayani oleh pengecer Permaasalahan yang dihadapi pengecer

Penggunaan Pupuk di Tingkat Petani • Harga pembelian pupuk oleh petani • Sistim pembelian pupuk oleh petani (cash/kredit) • Mutu pupuk ditingkat petani • Jumlah dan jenis pupuk yang digunakan petani • Permasalahan yang dihadapi petani f. Mekanisme Pengawasan Pengawasan pupuk bersubsidi dilakukan sebagai berikut : 1. Tingkat Kabupaten/Kota • Pengawasan oleh Tim/komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida dilakukan secara periodik (bulanan) dan sewaktu-waktu apabila diperlakukan, sedangkan Pengawasan oleh TPM dilakukan secara harian. • Rapat koordinasi pembahasan perencanaan kebutuhan, penyediaan, penyaluran dan penggunaan pupuk bersubsidi serta pertemuan teknis penerapan pupuk berimbang dilaksanakan secara reguler / bulanan. 44

Semua hasil kegiatan pemantauan dan rapat koordinasi oleh Tim/Komisi Pengawasan Pupuk wajib dilaporkan kepada Bupati/Walikota setiap akhir bulan. Selanjutnya Bupati/Walikota menyampaikan laporan Pengawasan Pupuk Bersubsidi tersebut kepada Gubernur paling lambat tanggal 5 bulan berikutnya.

2. Tingkat Propinsi • Pengawasan oleh Tuim Propinsi dilaksanakan secara langsung melalui pemantauan penyediaan dan penyaluran pupuk di Lini II dan Lini III serta pengawasan tidak langsung melalui pelaporan yang diterima dari Kabupaten/Kota. • Rapat koordinasi pembahasan perencanaan kebutuhan, penyediaan, penyaluran dan penggunaan pupuk bersubsidi yang dihadiri oleh seluruh instansi terkait di Propinsi dan perwakilan Tim/Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida dari seluruh kabupaten serta Koordinator TPM dilaksanakan secara periodik. • Semua hasil kegiatan pemantauan dan rapat koordinasi serta evaluasi hasil laporan pemantauan dari seluruh kabupaten oleh Tim/Komisi Pengawasan Pupuk Propinsi wajib dilaporkan kepada Gubernur per bulan paling lambat tanggal 15 pada bulan yang sedang berjalan. 3. Tingkat Pusat • Pengawasan pupuk bersubsidi oleh Tim Pusat dilaksanakan secara langsug melalui pemantauan ke Lini I sampai dengan Lini IV maupun pengawasan secara tidak 45

langsung melalui pelaporan yang diterima dari daerah (Propinsi dan Kabupate/Kota) Rapat koordinasi perencanaan kebutuhan pembahasan kebijakan pupuk bersubsidi secara periodik yang dihadiri oleh semua instansi terkait di Pusat serta perwakilan Tim/Komisi Pengawasan Pupuk dari seluruh propinsi. Semua hasil kegiatan pemantauan dan rapat koordinasi serta evaluasi hasil laporan dari seluruh propinsi oleh Tim Pengawas Pupuk Pusat wajib dilaporkan kepada Menteri Pertanian, Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan, serta Menteri Negara BUMN.

g. Kotak Pos Pelayanan Masyarakat Dalam rangka peningkatan pengawasan pupuk bersubsidi telah disediakan layanan melalui Direktorat Sarana Produksi, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Jln. Raya Ragunan Nomor. 15 Pasar Minggu Jakarta Selatan, Nomor telpon. 021-7806090; 78839038; Faximele 021-7883231 yang dimaksudkan untuk menampung pengaduan masyarakat mengenai penyimpangan didalam penyaluran pupuk bersubsidi ataupun saran-saran penyempurnaan pelaksanaan kebijakan subsidi pupuk. Selain itu, produsen pupuk juga menyediakan layanan bebas pulsa: PT. Pusri : 0800 100 0007 PT. Petrokimia Gersik : 0800 163 6363; 0800 188 8777 46

PT Pupuk Kaltim PT. Pupuk Kujang

: 0800 100 6789; 0800 140 2816 : 0800 100 3001

h. Pelaporan Hasil pelaksanaan pengawasan pupuk bersubsidi dilaporkan sebagai berikut: a. Tim/Komisi Pengawasan Pupuk di Kabupaten/kota wajib menyampaikan laporan pemantauan dan pengawasan pupuk bersubsidi di wilayah kerjanya kepada Bupati/Walikota dan tembusannya disampaikan ke Direktorat Jenderal Tanaman Pangan cq Direktorat Sarana Produksi , Jln. Raya Ragunan No. 15 Pasar Minggu, Jakarta Selatan, tembusan kepada Direktorat Jenderal Perkebunan. b. Bupati/Walikota menyampaikan laporan hasil pemantauan dan pengawasan pupuk bersubsidi tersebut kepada Gubernur . c. Gubernur menyampakan laporan hasil pemantauan dan pengawasan pupuk bersubsidi dari Bupati/Walikota dan Tim/Komisi Pengawasan Pupuk di Propinsi kepada Menteri Pertanian dan Tim Pengawasan Pupuk Bersubsidi Tingkat Pusat. d. Tim Pengawas Pupuk Bersubsidi Tingkat Pusat melakukan pemantauan secara sampling, menyiapkan bahan laporan kepada Menteri Pertanian, Menteri Keuangan, Menteri Perdagangan, Menteri Perindustrian dan Meneg BUMN. e. Laporan Pemantauan Pupuk Bersubsidi menginformasikan hal-hal sebagai berikur: • Realisasi penyaluran pupuk bersubsidi

47

• • • •

Kondisi stok di Lini III dan Lini IV dilengkapi dengan rencana kebutuhan selama 2 minggu. Kondisi harga di Lini IV Rencana pengadaan (kedatangan pupuk selanjutnya) Permasalahan dan Upaya Pemecahan Masalah.

5.2. Pestisida Terbatas Pestisida terbatas adalah pestisida yang penggunaannya dibatasi pada pengguna yang telah memiliki izin secara khusus. Dalam buku pestisida untuk pertanian, pestisida terbatas ditandai dengan tanda bintang, sedangkan label pestisida terbatas berwarna jingga. Katagori pestisida terbatas adalah bertanda bintang (*) yang berarti mempunyai resiko bahaya yang tinggi. Sebelum menggunakan pestisida terbatas, pengguna (Perkebunan Rakyat/PR, Perkebunan Besar Swasta/PBS, Perkebunan Besar Negara/PBN) harus mendapat pelatihan untuk mendapatkan izin penggunaan pestisida (sertifikat). Formulator berkewajiban menyelenggarakan pelatihan bekerjasama dengan instansi teknis terkait (Dinas Perkebunan atau yang membidangi Perkebunan). Selanjutnya instansi teknis terkait mengusulkan peserta pelatihan yang telah lulus untuk mendapatkan sertifikat

48

izin penggunaan pestisida terbatas yang dikeluarkan oleh Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida tingkat provinsi. Aspek-aspek pestisida terbatas yang perlu diawasi adalah distribusi, penyimpanan, penggunaan dan pemusnahan. Distributor pestisida terbatas secara resmi ditunjuk oleh formulator pestisida yang tertuang dalam Surat Keputusan yang dikeluarkan oleh Formulator, yang telah memiliki beberapa kriteria tertentu antara lain mempunyai jaringan yang luas, gudang penyimpanan yang memadai, dan kesediaan untuk tidak mengganti kemasan. Mekanisme, ruang lingkup dan metode pengambilan sampel seperti pestisida biasa. Form-form laporan dan petunjuk pengambilan sampel terlampir.

49

VI. PENUTUP

Melalui Pedoman Pengawasan Pupuk dan Pestisida ini, diharapkan pelaksanaan pengawasan mutu pupuk dan pestisida dapat berjalan sesuai dengan peraturan yang ada sehingga pupuk dan pestisida yang beredar dan digunakan petani dapat dipertanggungjawabkan, terjamin mutu dan efektivitasnya.

50

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->