Desain Beton II

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Prinsip Perencanaan Perencaaan adalah suatu proses untuk menghasilkan penyelesaian yang optimum.Dalam suatu perencanaan harus ditetapkan criteria untuk menilai tercapai tidak nya penyelesaian yang optimum.Peraturan yang dipakai dalam perencanaan adalah peraturan berdasarkan SK SNI 2002. Kriteria yang umum untuk struktur dapat berupa:  Harga yang minimum  Berat minimum  Waktu konstruksi minimum  Tenaga kerja minimum  Biaya produksi minimum bagi pemilik  Efisien dan kualitas

1.2 Prosedur Perencanaan Prosedur perencanaan terbagi dari dua bagian:  Perencanaan Fungsional Yaitu perencanaan untuk mencapai tujuan yang dikehendaki.  Perencanaan Kerangka Struktural Pemilihan tata letak dan elemen structural sehingga beban kerja dapat dipikul dengan aman. Garis besar prosedur perencanaan adalah sebagai berikut: o Perencanaan Dimensi Balok o Perencanaan Dimensi Kolom o Perencanaan plat lantai o Perencanaan struktur tangga o Perhitungan dimensi pondasi

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II
1.3 Dasar Teori 1.3.1 Beton Beton sangat banyak dipakai secara luas sebagai bahan bangunan.Bahan tersebut diperoleh dengan cara mencampurkan bahan-bahan agregat halus dan kasar yaitu pasir , batu tanah pecah atau bahan semacam lainnya, dan bahan kimia tambahan , sertat sampai bahan buangan non – kimia pada bandingan tertentu.Campuran tersebut bilamana dituang dalam cetakan kemudian dibiarkan maka akan mengeras seperti batuan.Penherasan itu terjadi oleh peristiwa reaksi kimia antara air dan semen dan hal ini berjalan selama waktu yang panjang dan akibatnya batu tersebut bertambah keras.Beton yang sudah keras dengan rongga-rongga antara butiran yang besar(agregat kasar,kerikil atau batu pecah) diisi oleh butiran yang lebih kecil(agregat halus,pasir) dan pori- pori antara agregat halus ini diisi oleh semen dan air ( pasta semen)dapat dianggap sebagai batu tiruan. Nilai kekuatan serta daya tahan (durability) beton merupakan fungsi dari banyak faktor ,diantaranya adalah nilai bandingan campuran dan mutu bahan susun.Metode pelaksanaan finishing, temperatur , dan kondisi relative tinggi dibandingkan dengan kuat tariknya.Dan beton merupakan bahan bersifat getas. Nilai kuat tariknya hanya berkisar 9% -15% saja dari kuat tekannya. Pada penggunaan sebagai bahan yang dapat bekerja sama dan mampu membantu kelemahannya terutama pada bahan yang menahan gaya tarik. 1.3.2 Peraturan dan Standar Perencanaan Struktur Beton Bertulang Peraturan dan standar persyaratan struktur bangunan pada hakikatnya ditujukan untuk kesejahteraan umat manusia, untuk mencegah korban manusia.Oleh karena itu , peraturan struktur bangunan harus menetapkan syarat minimum yang berhubungan dengan segi keamana Diindonesia Pembahuruan . , peraturan atau pedoman standar yang mengatur perencanaan beton bertulang telah berapa kali mengalami perubahan dan

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II

Peraturan yang terakhir yaitu SK SNI 2002 . Pembaharuan tersebut tiada lain ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dalam upaya mengimbangi pesat laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya yang berhubungan dengan beton dan beton bertulang.

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II
BAB II PRELIMINARY DESIGN

Gambar 1 Rangka Struktur Bangunan 4 lantai

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II
Gambar 2 Tampak Atas

2.1 Perencanaan Dimensi Balok  Syarat dimensi balok, menurut SKSNI 2002 Tabel 8, untuk fy = 400Mpa nilai-nilai pada tabel tidak dikalikan dengan fy / 700 karena fy = 400Mpa.   Untuk kondisi ’dua tumpuan’, tebal minimum balok (h) = L/16 Untuk kondisi ’satu ujung menerus’, h = L/18,5

 Untuk kondisi ’kedua ujung menerusa’, h = L/21  Untuk kondisi ’kantilever’, h = L/8  Perhitungan : L = bentang terpanjang = 4.75 m = 475 cm • h min = L/18,5 (satu ujung menerus) = 475/18,5 = 25.676 cm Maka dipakai dimensi 26 cm • Lebar balok(bw) bw = h/2 = 26/2 = 13 cm Maka dipakai bw = 18 cm dan bw =2h/3 = (2x26)/3 =17.33 cm Syarat untuk lebar balok, bw = h/2 s/d 2h/3

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II
Profil dimensi balok : hw = 26 cm Bw = 18 cm

2.2 Perencanaan dimensi kolom Direncanakan kolom berbentuk empat persegi panjang dengan b =2/3.h atau h/2 dan untuk tiap lantai digunakan dimensi yang sama.

Tebal plat rencana, hf : 12 cm Tinggi balok, hw Lebar balok, bw Bentang balok , L Bf = bw + 2b1    Titik berat Y1 = hw + ½.hf = 26 + ½(12) = 32 cm Titik berat Y2 = hw/2 = 26/2 = 13 cm Perencanaan lebar efektif flens (bf) Menurut Sni 2002 Bf < ¼.L dimana balok , bf = lebar pelat efektif yang bekerja sebagai flens.  Lebar efektif flens yang membentang pada tiap sisi badan balok tidak boleh melebihi : • 8hf : 26 cm : 18 cm : 475 cm

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II
• ½ Ln, dimana Ln = jarak bersih dari badan balok yang bersebelahan.

Maka :
bf ≤ 1/ 4 L

bf ≤1 / 4( 475)
bf ≤118,75 cm

b1 ≤ 8hf

b1 ≤8(12)
b1 ≤96cm

b1 ≤ 1 / 2 Ln

b1 ≤1 / 2 (( L − 2(1 / 2bw)) b1 ≤1 / 2 ( L −bw) b1 ≤1 / 2.( 475 −18)
b1 ≤228.5cm

Dipakai b1 = 96 cm, maka bf = 26 + 2(96) = 218 cm lebih besar dari 150 cm, maka dipakai bf ≤ 150 cm.  Penentuan titik berat (Yb)
Yb = ( A1 y1) +( A2 y 2) ( A1 + A2)

(bf . hf . y1) +(bw . hw . y 2) Yb = (bf . hf ) +(bw . hw) (150 .12 . 32) +(18. 26 .13) Yb = (150 .12) +(18 . 26)
Yb =28,079 cm

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II

Bf = 150 cm

hf = 12 cm

D1 = y1-yb =4 cm

D2 = yb-y2 = 15,079 cm y1 = 32 cm hw = 26 cm y2 = 13 cm

Bw = 18 cm

 Ib1

Menghitung Inersia = (1/12. bf .hf3) + (A1 d12) = (1/12 x 150 x (12)3) + (150 x 13x (4)2) = 52800 cm4 Ib2 = (1/12 bw hw3) + (A2 d22) = (1/12 x 18 x (26)3) + (18 x 26 x (15,079)2) = 132776,08 cm4 Ib total = Ib1 + Ib2 = 52800+ 132776,08 = 185576,08 cm4 Kekakuan = K = Ib / L =
185576,08 475

= 390,686 cm3

Dengan Ib = Inersia balok – plat (balok T)  Diketahui : Menghitung dimensi kolom - Tinggi kolom, T = 4,25m = 425cm Momen inersia kolom = Ik = 1/12 b.h2, b=h ; 1/12b4 Kekakuan kolom, K kolom = Ik / T

K kolom ≥ K balok Ik / T ≥ 390,686
(1 / 12 b 4 ) ≥ 390,686 425

b4 ≥ 390,686 x 425 x 12 b

4

1992498,6

JULINDRA AIDI (0807121076)

b

≥ 37,571cm

Desain Beton II

Jadi digunakan kolom dengan ukuran (40 x 40cm).

2.3 Perencanaan dimensi plat Perencanaan tebal plat menurut SKSNI-2002 adalah tebal plat yang menghubungkan tumpuan pada semua sisinya harus memenuhi : 
h= Ln (0,8 + fy / 1500) 36 +5β (αm − 0,12 (1 +1 / β) (pasal 16 SKSNI 2002)

Tidak boleh lebih dari: 
h= Ln (0,8 + ( fy / 1500)) 36 + 9 β

(pasal 17 SKSNI 2002)

Dan tidak boleh lebih dari 
h= Ln (0,8 + fy / 1500) 36

Tebal plat minimum tidak boleh kurang dari: ⇒ ⇒ Dengan; h Ln
β

α m ≤ 2,0, hmin = 120mm Untuk α m ≥ 2,0, hmin = 90mm
Untuk = tebal plat = bentang bersih dari sisi terpanjang = Perbandingan bentang antara bentang bersih sisi terpanjang dengan bersih sisi terpendek.

α m = harga rata-rata dari semua α pada tepi plat.

α

= Ecs ×Is

Ecb × Ib

αm =

α1 +α2 +α3 +α4
4

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II
h rencana = 12cm Panjang bentang bersih sisi terpanjang ,Ln = L-bw = 475-18 = 457 cm Panjang bentang bersih sisi terpendek, Ln = 475-18 = 457 cm Perbandingan bentang terpanjang dengan bentang terpendek adalah:
β

= 457/457 = 1 = 40x40 cm = 400Mpa

Kolom Fy

Menentukan

α

1

Berdasarkan peraturan SKSNI 2002 tentang panjang efektif yang membentang pada balok yang mempunyai pelat hanya pada satu sisi (bf) adalah: o Bf ≤ 1/12L o Bf ≤ 6hf o Bf ≤ ½ (L-bw) Digunakan Bf = 39,583cm Y=
( A1 y1) +( A2 y 2) (bf . hf . y1) +(bw . hw . y 2) = ( A1 + A2) (bf . hf ) +(bw . hw)

Bf < 1/12 x 475 Bf < 39,583 cm Bf < 6x12 Bf ≤ 72 cm Bf ≤ ½ (475 – 18) Bf ≤ 228,5 cm

=

(39,583 x 12 x 32) +(18 x 26 x13) (39,583 x 12) +(18 x 26)

= 22,57 cm

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II

bf = 39,583 cm

hf = 12 cm

D1 = y1-yb = 4 cm

D2 = yb-y2 = 15,079 cm y1 = 32 cm hw = 26 cm y2 = 13 cm

bw = 18 cm

Ib1 = (1/12 . bf . hf3) + (A1 . d12)

= (1/12x 39,583 x (12)3) + ((39,58x 12) (4)2) = 13299,89 cm

Ib2 = (1/12 . bw . hw3) + (A1 . d22) = (1/12 x 18 x (26)3) + ((26 x 18) (15,079)2) = 132776,081 cm Ib total = Ib1 + Ib2 = 13299,89 + 132776,081 = 146075,9708 cm Is = 1/12 bf . hf3 = 1/12 x 39,583 x (12)3 = 5699,952 cm

α 1 =lb/ls
α1 =
132776,081 5699,952

α1 =23,29
Menentukan  Bf ≤ 1/12L

α

2

Bf < 1/12 x 475 Bf < 39,583 cm

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II
 Bf ≤ 6hf  Bf ≤ ½ (L-bw) Digunakan Bf = 39,583cm Y=
( A1 y1) +( A2 y 2) (bf . hf . y1) +(bw . hw . y 2) = ( A1 + A2) (bf . hf ) +(bw . hw)

Bf < 6x12 Bf ≤ 72 cm Bf ≤ ½ (475 – 18) Bf ≤ 228,5 cm

=

(39,583 x 12 x 32) +(18 x 26 x13) (39,583 x 12) +(18 x 26)

= 22,57 cm

bf = 39,583 cm

hf = 12 cm

D1 = y1-yb = 4 cm

D2 = yb-y2 = 15,079 cm y1 = 32 cm hw = 26 cm y2 = 13 cm

bw = 18 cm

Ib1 = (1/12 . bf . hf3) + (A1 . d12)

= (1/12x 39,583 x (12)3) + ((39,58x 12) (4)2) = 13299,89 cm

Ib2 = (1/12 . bw . hw3) + (A1 . d22) = (1/12 x 18 x (26)3) + ((26 x 18) (15,079)2) = 132776,081 cm Ib total = Ib1 + Ib2 = 13299,89 + 132776,081 = 146075,9708 cm Is = 1/12 bf . hf3 = 1/12 x 39,583 x (12)3 = 5699,952 cm

α 2 =lb/ls
α2 =
132776,081 5699,952

α2 =23,29

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II
 Menentukan  Bf ≤ 1/12L  Bf ≤ 6hf  Bf ≤ ½ (L-bw) Digunakan Bf = 39,583cm Y=
( A1 y1) +( A2 y 2) (bf . hf . y1) +(bw . hw . y 2) = ( A1 + A2) (bf . hf ) +(bw . hw)

α

3

Bf < 1/12 x 475 Bf < 39,583 cm Bf < 6x12 Bf ≤ 72 cm Bf ≤ ½ (475 – 18) Bf ≤ 228,5 cm

=

(39,583 x 12 x 32) +(18 x 26 x13) (39,583 x 12) +(18 x 26)

= 22,57 cm

bf = 39,583 cm

hf = 12 cm

D1 = y1-yb = 4 cm

D2 = yb-y2 = 15,079 cm y1 = 32 cm hw = 26 cm y2 = 13 cm

bw = 18 cm

Ib1 = (1/12 . bf . hf3) + (A1 . d12)

= (1/12x 39,583 x (12)3) + ((39,58x 12) (4)2) = 13299,89 cm

Ib2 = (1/12 . bw . hw3) + (A1 . d22) = (1/12 x 18 x (26)3) + ((26 x 18) (15,079)2) = 132776,081 cm Ib total = Ib1 + Ib2 = 13299,89 + 132776,081 = 146075,9708 cm Is = 1/12 bf . hf3 = 1/12 x 39,583 x (12)3 = 5699,952 cm

JULINDRA AIDI (0807121076)

α3 =lb/ls
α3=
132776,081 5699,952

Desain Beton II

α3 =23,29

Menentukan  Bf ≤ 1/12L  Bf ≤ 6hf

α

4

Bf < 1/12 x 475 Bf < 39,583 cm Bf < 6x12 Bf ≤ 72 cm Bf ≤ ½ (475 – 18) Bf ≤ 228,5 cm

 Bf ≤ ½ (L-bw) Digunakan Bf = 39,583cm Y=

( A1 y1) +( A2 y 2) (bf . hf . y1) +(bw . hw . y 2) = ( A1 + A2) (bf . hf ) +(bw . hw)

=

(39,583 x 12 x 32) +(18 x 26 x13) (39,583 x 12) +(18 x 26)

= 22,57 cm

bf = 39,583 cm

hf = 12 cm

D1 = y1-yb = 4 cm

D2 = yb-y2 = 15,079 cm y1 = 32 cm hw = 26 cm y2 = 13 cm

bw = 18 cm

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II
Ib1 = (1/12 . bf . hf ) + (A1 . d12)
3

= (1/12x 39,583 x (12)3) + ((39,58x 12) (4)2) = 13299,89 cm

Ib2 = (1/12 . bw . hw3) + (A1 . d22) = (1/12 x 18 x (26)3) + ((26 x 18) (15,079)2) = 132776,081 cm Ib total = Ib1 + Ib2 = 13299,89 + 132776,081 = 146075,9708 cm Is = 1/12 bf . hf3 = 1/12 x 39,583 x (12)3 = 5699,952 cm

α4 =lb/ls
α4 =
132776,081 5699,952

α4 =23,29
Jadi α = =
α1 +α2 +α3 + α 4
4

23,29 + 23,29 + 23,29 + 23,29 4

= 23,29
2, maka h min = 90 mm Karena α>

Kontrol ketebalan plat
h= Ln (0,8 + fy / 1500) 36 +9 β

h =

(475 −18) (0,8 +400 / 1500) 36 +9(1)

h =10,83cm

Jadi tebal plat yang digunakan 12 cm

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II

BAB III ANALISA PEMBEBANAN Analisa pembebanan pada tulangan kolom menggunakan beban-beban berdasarkan Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung (PPIUG-1983) dan SNI 03-1727-1989. Untuk menghitung kebutuhan tulangan kolom dibutuhkan data-data sebagai berikut : a. f’c (K-300) b. fy c. Tebal pelat atap/ pelat lantai d. Berat sendiri beton bertulang e. Berat spesi f. Berat beban hidup g. Berat plafond + eternit h. i. j. k. l. Tebal spesi (adukan) Tebal Keramik BJ keramik Berat pekerja Berat dinding pas. bata merah Perhitungan Beban Perhitungan beban pada perencanaan kebutuhan tulangan meliputi beban gravitasi (beban mati, beban hidup, dan beban dinding) dan beban gempa. a) Beban Gravitasi 1. Beban Mati (Dead Load, DL) Untuk Pelat: Tebal Pelat = 14 cm = 21 MPa = 400 MPa = 12 cm = 2400 kg/m3 = 21 kg/m2/cm = 100 kg/m2 = 18,5 kg/m2 = 1 cm cm = 0,5 = =

= 2400 kg/m2 100 kg/m2 250 kg/m2

3.3.1

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II
Tebal spesi Tebal keramik Bj. Spesi Bj. Keramik Berat sendiri pelat = T.plat x Bj.beton Berat plafond + eternit Berat spesi= T.spesi x Bj. spesi Berat keramik = T.keramik x Bj. keramik DL 2. Beban Hidup (Live Load, LL) a. Untuk Atap Berdasarkan Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung dapat dicapai dan dibebani oleh manusia, harus diambil minimal sebesar : Beban hidup atap , qh Beban angin Beban air hujan Klinik kesehatan Beban hidup atap = kr . q.h Tabel 3.1 Beban Hidup Atap No 1 2 3 Beban yang bekerja Berat pekerja Beban Angin Beban Air Hujan Total b. Untuk Pelat Lantai Berdasarkan PPIUG 1983 , beban hidup pada lantai klinik kesehatan adalah : Beban hidup pelat lantai , qh Koefisien reduksi (kr) untuk perencanaan Klinik kesehatan = 0,75 = 250 kg/m2 Satuan kg/m2 kg/m2 kg/m2 kg/m2 Nilai 100 25 20 145 = 25 kg/m2 = 20 kg/m2 = 0,75 = 0,75 x 145 LL = 108,75 kg/m2 = 100 kg/m2 (PPIUG – 1983) beban hidup pada atap atau bagian atap serta struktur tudung (canopy) yang = = = = = = = = 1 cm 1 cm 21 kg/m2/cm 24 kg/m2/cm 336 18 21 24 kg/m2 kg/m2 kg/m2

kg/m2 + = 399 kg/m2

Koefisien reduksi (kr) untuk perencanaan

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II
Beban hidup pelat lantai = kr . qh = 250 x 0,75 LL = 187,5 kg/m2

Tabel 3.2 Beban hidup pada lantai gedung No Beban Hidup pada Lantai Gedung A Lantai dan rumah tinggal, kecuali yang disebut dalam a Lantai dan tangga rumah tinggal sederhanan dan gudang B – gudang tidak penting yang bukan untuk toko, pabrik atau bengkel Lantai sekolah, ruang kuliah, kantor, toko, toserba, restoran hotel, asrama dan rumah sakit Lantai ruang olah raga Lantai ruang dansa Lantai dan balkon dalam dari ruang – ruang untuk pertemuan yang lain dari pada yang disebut dalam a s/d e, seperti mesjid, gereja, ruang pagelaran, ruang rapat, bioskop dan panggung penonton dengan tempat duduk G H I J Panggung penonton dengan tempat duduk tidak tetap atau untuk penonton yang berdiri Tangga, bordes tangga dan gang dari yang disebut dalam c Tangga, bordes tangga dan gang dari yang disebut dalam d, e, f dan g Lantai ruang pelengkap dari yang disebut dalam c, d, e, f dan g Lantai untuk pabrik, bengkel, gudang, perpustakaan, K ruang arsip, toko buku, toko besi, ruang alat – alat dan ruang mesin, harus direncanakan terhadap beban hidup yang ditentukan tersendiri, dengan mínimum Lantai gedung parkir bertingkat : L - Untuk lantai bawah - Untuk lantai tingkat lainnya Balkon – balkon yang menjorok bebas keluar harus M direncanakan terhadap beban hidup dari lantai ruang yang berbatasan, dengan mínimum kg/m2 kg/m2 kg/m2 800 400 300 kg/m2 kg/m2 kg/m2 kg/m2 500 300 500 250 kg/m2 400 Satuan kg/m2 kg/m2 Nilai 200 125

C D E

kg/m2 kg/m2 kg/m2

250 400 500

F

kg/m2

400

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II

Tabel 3.3 Koefisien reduksi beban hidup untuk perencanaan balok induk dan portal No 1 Penggunaan Gedung Perumahan/Penghunian : Rumah tinggal, asrama, hotel, rumah sakit 2 3 Pendidikan ; Sekolah, ruang kuliah Pertemuan Umum : Mesjid, gereja, bioskop, restoran, ruang dansa, ruang pagelaran 4 5 6 7 Kantor : Kantor, bank Perdagangan : Toko, toserba, pasar Penyimpanan : Gedung, perpustakaan, ruang arsip Industri : Pabrik, bengkel 8 9 Tempat kendaraan : Garasi, gedung parkir Gang dan Tangga : - Perumahan/penghunian - Pendidikan, kantor - Pertemuan umum, perdagangan penyimpanan, industri, tempat kendaraan 0,75 0,75 0,90 0,90 0,60 0,80 0,80 1,00 0,90 0,90 Koefisien Reduksi 0,75

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II

Gambar 3.1 Distribusi beban dinding pada struktur Gedung (tampak samping)

Gambar 3.2 Pendistribusian Beban Gravitasi pada Pelat lantai 1,2,3 dan dak

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II
A) Perhitungan beban gravitasi berdasarkan distribusi beban pada pelat lantai adalah sebagai berikut : LANTAI 1 a) Potongan A-A

Beban mati DL1 = 399 kg/m 2 x 1,5 m = 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 = 187,5 kg/m 2 x 1,5 m = 281,25 kg/m

b) Potongan B-B

Beban mati DL1 = 399 kg/m 2 x 1,5 m = 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 = 187,5 kg/m 2 x 1,5 m = 281,25 kg/m

c) Potongan C-C

Beban mati DL1
d)

= 399 kg/m 2 x 1,5 m

= 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 = 187,5 kg/m 2 x 1,5 m = 281,25 kg/m

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II
d) Potongan D-D

Beban mati DL1
e)

= 399 kg/m 2 x 1,5 m

= 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 = 187,5 kg/m 2 x 1,5 m = 281,25 kg/m

e) Potongan E-E

Beban mati DL1 = 399 kg/m 2 x 1,5 m = 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 f) = 187,5 kg/m 2 x 1,5 m Potongan 1 = 281,25 kg/m

Beban mati DL1 = 399 kg/m 2 x 1,5 m = 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 = 187,5 kg/m 2 x 1,5 m = 281,25 kg/m

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II
g) Potongan 2

Beban mati DL1
h)

= 399 kg/m 2 x 1,5 m

= 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 = 187,5 kg/m 2 x 1,5 m = 281,25 kg/m

h) Potongan 3

Beban mati DL1
i)

= 399 kg/m 2 x 1,5 m

= 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 i) = 187,5 kg/m 2 x 1,5 m = 281,25 kg/m

Potongan 4

Beban mati DL1
j)

= 399 kg/m 2 x 1,5 m

= 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 = 187,5 kg/m 2 x 1,5 m = 281,25 kg/m

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II
j) Potongan 5

Beban mati DL1
k)

= 399 kg/m 2 x 1,5 m

= 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 = 187,5 kg/m 2 x 1,5 m = 281,25 kg/m

LANTAI 2 a) Potongan A-A

Beban mati DL1 = 399 kg/m 2 x 1,5 m = 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 = 187,5 kg/m 2 x 1,5 m = 281,25 kg/m

b) Potongan B-B

Beban mati DL1 = 399 kg/m 2 x 1,5 m = 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 = 187,5 kg/m 2 x 1,5 m = 281,25 kg/m

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II
c) Potongan C-C

Beban mati DL1
d)

= 399 kg/m 2 x 1,5 m

= 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 = 187,5 kg/m 2 x 1,5 m = 281,25 kg/m

d) Potongan D-D

Beban mati DL1
e)

= 399 kg/m 2 x 1,5 m

= 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 = 187,5 kg/m 2 x 1,5 m = 281,25 kg/m

e) Potongan E-E

Beban mati DL1 = 399 kg/m 2 x 1,5 m = 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 = 187,5 kg/m 2 x 1,5 m = 281,25 kg/m

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II
f) Potongan 1

Beban mati DL1 = 399 kg/m 2 x 1,5 m = 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 = 187,5 kg/m 2 x 1,5 m = 281,25 kg/m

g) Potongan 2

Beban mati DL1
h)

= 399 kg/m 2 x 1,5 m

= 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 = 187,5 kg/m 2 x 1,5 m = 281,25 kg/m

h) Potongan 3

Beban mati DL1
i)

= 399 kg/m 2 x 1,5 m

= 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 = 187,5 kg/m 2 x 1,5 m = 281,25 kg/m

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II
i) Potongan 4

Beban mati DL1
j)

= 399 kg/m 2 x 1,5 m

= 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 = 187,5 kg/m 2 x 1,5 m = 281,25 kg/m

j) Potongan 5

Beban mati DL1
k)

= 399 kg/m 2 x 1,5 m

= 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 = 187,5 kg/m 2 x 1,5 m = 281,25 kg/m

LANTAI 3 a) Potongan A-A

Beban mati DL1 = 399 kg/m 2 x 1,5 m = 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 = 187,5 kg/m 2 x 1,5 m = 281,25 kg/m

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II
b) Potongan B-B

Beban mati DL1 = 399 kg/m 2 x 1,5 m = 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 = 187,5 kg/m 2 x 1,5 m = 281,25 kg/m

c) Potongan C-C

Beban mati DL1
d)

= 399 kg/m 2 x 1,5 m

= 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 = 187,5 kg/m 2 x 1,5 m = 281,25 kg/m

d) Potongan D-D

Beban mati DL1
e)

= 399 kg/m 2 x 1,5 m

= 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 = 187,5 kg/m 2 x 1,5 m = 281,25 kg/m

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II
e) Potongan E-E

Beban mati DL1 = 399 kg/m 2 x 1,5 m = 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 f) = 187,5 kg/m 2 x 1,5 m Potongan 1 = 281,25 kg/m

Beban mati DL1 = 399 kg/m 2 x 1,5 m = 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 = 187,5 kg/m 2 x 1,5 m = 281,25 kg/m

g) Potongan 2

Beban mati DL1
h)

= 399 kg/m 2 x 1,5 m

= 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 = 187,5 kg/m 2 x 1,5 m = 281,25 kg/m

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II
h) Potongan 3

Beban mati DL1
i)

= 399 kg/m 2 x 1,5 m

= 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 = 187,5 kg/m 2 x 1,5 m = 281,25 kg/m

i) Potongan 4

Beban mati DL1
j)

= 399 kg/m 2 x 1,5 m

= 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 = 187,5 kg/m 2 x 1,5 m = 281,25 kg/m

j) Potongan 5

Beban mati DL1
k)

= 399 kg/m 2 x 1,5 m

= 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 = 187,5 kg/m 2 x 1,5 m = 281,25 kg/m

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II
LANTAI DAK a) Potongan A-A

Beban mati DL1 = 399 kg/m 2 x 1,5 m = 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 = 108,75 kg/m 2 x 1,5 m = 163,125 kg/m

b) Potongan B-B

Beban mati DL1 = 399 kg/m 2 x 1,5 m = 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 = 108,75 kg/m 2 x 1,5 m = 163,125 kg/m

c) Potongan C-C

Beban mati DL1
d)

= 399 kg/m 2 x 1,5 m

= 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 = 108,75 kg/m 2 x 1,5 m = 163,125 kg/m

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II
d) Potongan D-D

Beban mati DL1
e)

= 399 kg/m 2 x 1,5 m

= 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 = 108,75 kg/m 2 x 1,5 m = 163,125 kg/m

e) Potongan E-E

Beban mati DL1 = 399 kg/m 2 x 1,5 m = 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 = 108,75 kg/m 2 x 1,5 m = 163,125 kg/m

f) Potongan 1

Beban mati DL1 = 399 kg/m 2 x 1,5 m = 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 = 108,75 kg/m 2 x 1,5 m = 163,125 kg/m

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II
g) Potongan 2

Beban mati DL1
h)

= 399 kg/m 2 x 1,5 m

= 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 = 108,75 kg/m 2 x 1,5 m = 163,125 kg/m

h) Potongan 3

Beban mati DL1
i)

= 399 kg/m 2 x 1,5 m

= 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 i) = 108,75 kg/m 2 x 1,5 m Potongan 4 = 163,125 kg/m

Beban mati DL1
j)

= 399 kg/m 2 x 1,5 m

= 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 = 108,75 kg/m 2 x 1,5 m = 163,125 kg/m

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II
j) Potongan 5

Beban mati DL1
k)

= 399 kg/m 2 x 1,5 m

= 228,475 kg/m

Beban hidup LL1 = 108,75 kg/m 2 x 1,5 m = 163,125 kg/m

B) Beban Gempa 1) Perhitungan berat beban dak Tabel 3.4. Beban mati atap (DL) No 1 2 Beban yang bekerja Satuan Berat plafond & eternity kg/m2 Berat Sendiri beton kg/m2 Total kg/m2 Berat total beban mati atap (WD) = 42 x 576 = 24192 kg Tabel 3.5. Beban hidup atap (LL) No 1 2 3 Berat pekerja Beban Angin Beban Air Hujan Total Beban yang bekerja = 0,75x 145 = 108,75 kg/m2 Total beban hidup atap (WL)= 108,75 kg/ m2 x 576 m2 = 62640 kg Total beban pada atap (W atap) = WD + WL = 24192 + 62640 = 86832 kg Beban yang bekerja Satuan Nilai kg/m2 kg/m kg/m kg/m
2 2 2

Nilai 18 24 42

100 25 20 145

Koef. Reduksi (kr) untuk balok & portal pasar = 0,75

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II
2) Perhitungan beban mati Beban mati (DL) Pelat lantai 3 = Tebal pelat x Bj.Beton x Luas pelat lantai = 0,14 x 2400 x 576 = 193536 kg Pelat lantai 2 = Tebal pelat x Bj.Beton x Luas pelat lantai = 0,14 x 2400 x 576 = 193536 kg - Plafond lantai 3 = Berat plafond x Luas pelat lantai = 18 x 576 = 10368 kg - Plafond lantai 2 = Berat plafond x Luas pelat lantai = 18 x 576 = 10368 kg - Plafond lantai 1 = Berat plafond x Luas pelat lantai = 18 x 576 = 10368 kg - Balok lantai 3 = volume balok x Bj beton = ( Luas penampang balok x Panjang balok ) x Bj beton = 17,424 x 2400 = 41817,6 kg - Balok lantai 2 = volume balok x Bj beton = ( Luas penampang balok x Panjang balok ) x Bj beton = 17,424 x 2400 = 41817,6 kg

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II
- Ring Balok = volume balok x Bj beton = ( Luas penampang balok x Panjang balok ) x Bj beton = 10,8 x 2400 = 25920 kg - Kolom Lt.3 = volume kolom x Bj Beton = (Luas penampang kolom x ½ t. kolom) x Bj Beton = 16,45313 x 2400 = 39487,512 kg - Kolom Lt.2 = volume kolom x Bj Beton = (Luas penampang kolom x ½ t. kolom) x Bj Beton = 16,45313 x 2400 = 39487,512 kg - Kolom Lt.1 = volume kolom x Bj Beton = (Luas penampang kolom x ½ t. kolom) x Bj Beton = 16,45313 x 2400 = 39487,512 kg - Dinding Lt.3 = Berat sendiri dinding x Panjang dinding = 250 x 312 = 78000 kg - Dinding Lt.2 = Berat sendiri dinding x Panjang dinding = 250 x 312 = 78000 kg - Dinding Lt.1 = Berat sendiri dinding x Panjang dinding = 250 x 312 = 78000 kg Berat total beban mati pelat atap (WD) = 880193,736 kg

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II
3) Perhitungan beban hidup Beban hidup (LL) Berdasarkan PPIUG 1983 , beban hidup pada lantai gedung klinik kesehatan adalah : kr =0,75 Total beban hidup pelat lantai (WL) = kr x qh x L.pelat lantai 1,2,3 = 0,75 x 250 x 1728 = 324000 kg Total beban pada pelat lantai (W lantai) = WD + WL = 880193,736 + 324000 = 1204193,736 kg Jadi, berat total pada yang dipikul oleh struktur adalah : W total = W atap + W lantai = 86832 + 1204193,736 = 1291025,736 kg 4) Perhitungan Vn • Tample h = 14 m = 0,0731 x 143/4 = 0,5291 • • • • Categori Ocupancy (I) = 1,125 W total = 1291025,736 kg / 1291,025736 ton = 0,25-0,3 g (diambil 0,3) = Ct x h3/4 Beban hidup pelat lantai , qh = 250 kg/m2 Koefisien reduksi (kr) untuk perencanaan adalah

Ct = 0,0731 Tample

Menentukan Ss (dari peta)

Menentukan S1 (dari peta)= 0,15-0,2 g (diambil 0,2)

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II
• Klasifikasi situs (dari tabel)

Menentukan SDs dan SD1 SDs SD1 = Fa x Ss = 1 x 0,3 = 0,3 = Fv x S1 = 1 x 0,2 = 0,2

Menghitung koefisien respon gempa (Cs)
Cs = SDs 0,3 = = 1,955 ×10 −4 ( R / I ) 1726 1,125 SD1 0,2 = = 1,3035 ×10 −4 ( R / I )T (1726 1,125) ×1

Cs (max) = Cs (min) =

0,5S1 0,5 × 0,2 = = 6,5179 ×10 −5 ( R / I ) 1726 1,125

10 −4 Cs > Cs (max) >Cs (min) dipakai Cs (max) = 1,3035 ×

Menentukan Vn total Vn
10 −4 × 1291025,736 kg = 168,285 kg = 1,3035 ×

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II
• Menentukan Vn tiap lantai Lantai 1 sumbu x Lantai 1 sumbu y Lantai 2 sumbu x Lantai 2 sumbu y Lantai 3 sumbu x Lantai 3 sumbu y Lantai dak sumbu x Lantai dak sumbu y
10 −4 × 363176,0644 kg = 47,34 kg = 1,3035 ×

= 30% × 47,3 = 14.202 kg
10 −4 × 363176,0644 kg = 47,34 kg = 1,3035 ×

= 30% × 47,3 = 14.202 kg
10 −4 × 363176,0644 kg = 47,34 kg = 1,3035 ×

= 30% × 47,3 = 14.202 kg
10 −4 × 219485,9992 kg = 28,61 kg = 1,3035 ×

= 30% × 28,61= 8,583 kg

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II
BAB IV PERENCANAAN TANGGA 5.1 Perencanaan Dimensi Tangga  Sketsa Perencanaan Tangga

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II
Sketsa Perencanaan Tangga

Ukuran tangga ideal L+2t L T L+2t L = 60 cm sampai 62 cm ( diktat kolom konstruksi bangunan gedung ITB ). = lebar anak tangga = tinggi anak tangga t= 25 cm = 62 cm = 62 – 2 ( 25 ) Keterangan :

Direncanakan

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II
Direncanakan tangga : • 162,5 cm • 25 cm • • • • • • • • Tinggi injakan anak tangga Lebar tangga Panjang ruangan tangga Tinggi ruangan Lebar bordes Jumlah injakan (250/25) Jumlah Langkah naik ( 162,5/25 ) Tebal plat tangga = 25 cm = 115 cm = 250 cm = 325 cm = 100 cm = 10 buah = 7 buah = 14 cm Lebar injakan anak tangga = Tinggi lantai bordes =

5.2 Pembebanan pada tangga Berdasarkan PPIUG 1983 • • • • • a. 1. o o Beban hidup untuk klinik kesehatan Tebal spesi dan keramik BJ beton Bj keramik BJ spesi Pada tangga Beban mati Berat anak tangga = jumlah anak tangga permeter x berat satu anak tangga Jumlah anak tangga = 100/25 = 4 buah = 250 kg/m2 = 2 cm = 2400 kg/m3 = 2400 kg/m3 = 2100 kg/m3

1 anak tangga = ½. X 0,25 x 0,25 x 1,15 x 2400 = 86,25 kg. Berat anak tangga = 4 x 86,25 = 345 kg/m Nilai sudut ( o

α ) untuk tangga α)

α = arc tg 162,5/250 = 33,024o
Berat plat tangga = (tebal plat x lebar x bj beton )/ ( cos

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II
=
0,14 x1,15 x 2400 = 386,938 kg/m cos 33,024

o o

Berat spesi = jumlah anak tangga permeter x berat spesi 1 anak tangga Berat spesi 1 anak tangga = 0,02 x ( 0,25 + 0,25 ) x 1,15 x 2100 = 24,15 kg Berat Spesi Permeter = 4 x 24,15 = 96,6 kg/m

o o

Berat keramik = jumlah anak tangga permeter x berat keramik 1 anak tangga Berat keramik 1 anak tangga = 0,02 x ( 0,25 + 0,25 ) x 1,15 x 2400 = 27,6 kg Berat keramik permeter = 4 x 27,6 = 110,4 Kg/m Wd total = berat anak tangga + berat plat + berat spesi + berat keramik Wd total = 345+386,938+96,6+110,4 = 938,938 kg/m

2.

Beban hidup Wl = beban hidup x lebar tangga = 250 x 1,20 = 300 kg/m

Beban hidup = 250 kg/m2 ( PPIUG 1983)

b. 1. o

Pada Bordes Beban mati Berat sendiri bordes = tebal plat x lebar x bj beton = 0,14 x 1 x 2400 = 336 kg/m

o

Berat spesi = 48,3 kg/m

= tebal spesi x lebar x bj spesi = 0,02 x 1,15 x 2100

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II
o Berat keramik = 55,2 kg/m Wd total = 336 + 48,3 + 55,2 = 439,5 kg/m = tebal keramik x lebar x bj keramik = 0,02 x 1,15 x 2400

2.

Beban hidup Beban hidup ( wl ) = beban hidup x lebar bordes = 250 x 1 = 250 kg/m

5.3

Analisa Struktur Tangga Untuk perhitungan gaya dalam yang terjadi pada tangga dilakukan dengan menggunakan program SAP2000.

5.4

Penulangan Tangga Tahap – tahap perhitungan tulangan tangga sama dengan perhitungan penulangan pada plat. Perhitungan - Plat tangga ( Tulangan tumpuan ) Fy = 400 Mpa Fc’= 21 Mpa

ρmin = 1,4/fy = 0,0035
m= fy 0,85 x fc ' 400 = 0,85 x 21 = 22,41

Tebal plat = 140 mm Tebal selimut = 20 mm Diameter tulangan dipakai = 12 mm (asumsi awal) d = h – p – ½ θD = 140 – 20 – ½ (12)

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II
= 114 mm Mu = 1,99 kgm = 19,9 Nmm (momen tumpuan) Mn = Mu/ θ = 19,9/0,8 = 24,87 Nmm Rn = Mn/bd2 =
24,87 = 1,4 x10 −6 (1150)(124) 2

2 x m x Rn 0, 5 ) ) fy ρ= m 2 x 17,11 x 1,4 x10 −6 0 , 5 (1 −(1 − ) ) 400 = 17,11 = 2,02 (1 −(1 −

As = ρ x b x d = 2,02 x 1150 x 124 = 288052 mm2
S≤ 1 / 4π (12) 2 x 1150 288052 ≤ 0,045

Diambil S = 150mm Jadi, dipakai tulangan θ 12 - 150 Sesuai SKSNI -2847-2002 pasal 9.21 sub butir 2.1 tulangan ulir yang digunakan sebagai tulangan susut harus disediakan tulangan pembagi (untuk tulangan susut dan suhu). - Tulangan susut harus memiliki rasio luas tulangan terhadap luas bruto penampang beton sebagai berikut tetapi tidak kurang dari 0,0014. - As’ = 0,25 bh/100 = untuk fy = 250Mpa - As’ = 0,18 bh/100 = untuk fy = 400Mpa ( yang dihgunakan ) - As’ = (0,0018)400/fy = untuk fy > 400Mpa As’ = 0,18 x 1150 x 200 = 414 mm2 dipakai 200 mm digunakan θ 12 – 200 mm

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II

BAB V PERENCANAAN TULANGAN BALOK KOLOM 5.1 Perhitungan Tulangan Utama Kolom Ukuran 450 mm x 450 mm

Perhitungan tulangan kolom ini dengan menggunakan perhitungan desain penampang dalam kondisi regangan setimbang. Diketahui : Penyelesaian : Cc = 0,85.f’c.a.b = 0,85.21.0,85c.450 = 6827,625c Cs = As’.Fy Ts = As.Fy Syarat Kondisi Balance : Ukuran kolom 450 x 450 mm f’c = 21 MPa ; fy = 400 MPa

∑H = 0
Φ Pb = Φ [Cc + Cs – Ts] Φ Pb = Φ [6827,625c + As’.Fy – As.Fy]
As’ = As

Φ Pb = Φ 6827,625c
c = φ6827,625 = 0,65 ×6827,625 = 4437,956
φPb
Pu Pu

∑M = 0
Φ Mn
= Φ [Cc (½h-½a) + Cs (½h – d’) + Ts (½h – ds)] = Φ [6827,625c (½.450-½.0,85c) + As’.fy (½.450 – 25) + As.fy (½.450 – 25)] = Φ [6827,625c 4437,956 (225-0,425 4437,956 ) + As’80000 +
Pu Pu

As.80000]

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II
Dengan As’ = As , sehingga : Mu = Φ [1,5385 Pu (225 - (6.1354.10-5Pu)) + 160000As] Keterangan satuan : Mu f’c.fy = Nmm = Mpa b,h,ds,d,d’,c = mm Pu, Cs, Cc, Ts = N

Dari SAP 2000 Tabel Elemen Force Frame dengan tinggi kolom 3,25m, diperoleh: Mu Mu Pu = 13,8055 kNm = 13.805.500Nmm = 3.5695 kN = 3.569,5 N = Φ [1,5385 Pu (225 – (6.1354.10-5Pu)) + 160.000As] + 160.000As] As = 125,03 mm2
125,03 = 0.44 283.385

13.805.500 = 0,65 [1,5385 x 3.569,5 (225 – (6.1354.10-5 x 3.569,5)

Luas D12 = ¼ x (22/7)x 192 = 283.385 mm2 Maka banyak tulangan yang digunakan =

4 buah tulangan

Sehingga pada kolom ini digunakan tulangan 4D19 5.2 bw d f’c Ag f’c Mu Vub Perhitungan Tulangan Geser Kolom Ukuran 450 mm x 450 mm = 13,8055 kNm = 13.805.500Nmm = 17,116 kN = 17.116 N

Dari data SAP 2000 di dapat:

= lebar kolom = 450 mm = h – selimut beton = 450 – 25 = 425 mm = 21 MPa = Luas tampang kolom = 450 mm x 450 mm= 202.500 mm2 = 21 MPa

 Mu  f ' c Vc =  1 + 14 ×Ag   6 ×bw ×d  

13.805.500  21  Vc = 1 + × 450 × 425  14 × 202500  6 

= 857.379,6061 N = 857,3796 kN ½Vc = ½ x 857,3796 = 428,6898 kN

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II
Vs Vs =
Vub

φ

- ½Vc =

17.116 - 428,6898 0,6

= 28,0979 kN = 28097.976 N
Av. fy.d ; Vs
78,54 mm 2 × 400 Mpa × 425 mm 28097,976 N

Dipilih sengkang dengan diameter 10 mm, Av = 78,54 mm2 s≤ s≤

s ≤ 475,1872 mm  s < 475 mm, oleh karena itu dipakai jarak sengkang minimum Jarak sengkang yang digunakan adalah 475 mm 5.3. L=6m Menghitung vu, periksa apakah vu < φ vc V = 17.116 kN = 17116 N Vub terpakai = = Menghitung Tulangan Lentur dan Geser Pada Balok 220 x 330 mm

Balok yang ditinjau adalah

[ ( 0,5 × L ) − d ] ⋅ V
(0,5 × L)

u ,b

[ ( 0,5 × 6) − 0,305] ×17116 = 15,3758 kN ( 0,5 × 6)

Vub yang terpakai = 15,3758 KN =15375,8 N Hitung kebutuhan sengkang:
Vc = f' c 21 xbxd= x 220 x 305 = 51248,4715 N = 51,2485 kN 6 6

Vc yang digunakan =
Vs =
Vs =

1 1 Vc = x 51,2485 = 25,624kN 2 2

Vub − Vc, dimana Φ = 0,6 Φ
15,3758 − 25,624 = 0 0,6

Direncanakan sengkang diameter 10 mm Jarak antar sengkang (S)
S= S= Av ×fy ×d Vs
2 2  Av = 2 × π.d = 2 × ×π ×10 = 157,08 mm

1 4

1 4

157,08 × 400 × 475 =0 0

JULINDRA AIDI (0807121076)

Desain Beton II
Untuk daerah sepanjang d dari muka kolom berlaku S < maka dipakai jarak tulangan sengkang D10-100
d 4

Kebutuhan sengkang minimum Direncanakan diameter sengkang 10 mm Jarak antar sengkang (S)
S= Av ×fy ×d Vc

Av =2 x (¼
S=

π d2 )= 2 x (¼ π 102) = 157,08 mm

157,08 × 400 ×305 = 373,9382 mm 51248,4715

Untuk daerah diluar d dari muka kolom berlaku S > Jadi dipakai jarak tulangan sengkang D10-370

d 2

JULINDRA AIDI (0807121076)

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful