OBSESI

I. PENDAHULUAN Obsesi adalah gagasan, khayalan, atau dorongan yang berulang, tidak diinginkan dan mengganggu, yang tampaknya konyol, aneh, atau menakutkan. Obsesi juga merupakan isi pikiran yang timbul secara “persistent” atau kukuh, walaupun tidak dikehendakinya dan diketahui bahwa hal itu tidak wajar. Obsesi dapat menyebabkan kompulsi, contohnya: obsesi bahwa barang kesayangannya hilang, menimbulkan kompulsi berupa tindakan selalu membuka lemari untuk melihat kalau barangnya masih ada di dalamnya. Istilah obsesi menunjuk pada suatu ide yang mendesak ke dalam pikiran. Istilah kompulsi menunjuk pada dorongan atau impuls yang tidak dapat ditahan untuk melakukan sesuatu. Kompulsi adalah desakan atau paksaan untuk melakukan sesuatu yang akan meringankan rasa tidak nyaman akibat obsesi.1,2 Seseorang dengan ganguan obsesif – kompulsif merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan adanya pengulangan pikiran obsesif atau kompulsif, dimana membutuhkan banyak waktu (lebih dari satu jam perhari) dan dapat menyebabkan penderitaan. Gangguan ini prevalensinya diperkirakan 2 – 3% dari populasi.1 Gangguan obsesif – kompulsif menduduki peringkat keempat dari gangguan jiwa setelah fobia, gangguan penyalahgunaan zat dan gangguan depresi berat. Kebanyakan pasien dengan gangguan obsesif – kompulsif datang ke beberapa dokter sebelum mereka ke psikiater dan umumnya 9 tahun mendapat terapi, baru kemudian mendapat diagnosis yang benar. Hal ini menunjukkan bahwa dokter selain psikiater penting untuk mendapat diagnosis yang benar. II. DEFINISI Suatu obsesi adalah pikiran, perasaan, ide, atau sensasi yang mengganggu (intrusif). Obsesi adalah ketekunan yang patologis dari suatu pikiran atau perasaan yang tidak dapat ditentang yang tidak dapat dihilangkan dari kesadaran oleh usaha logika, yang disertai dengan kecemasan. Sedangkan suatu kompulsi adalah pikiran atau perilaku yang disadari, dibakukan, dan rekuren, seperti menghitung, memeriksa atau menghindari. Kompulsi adalah kebutuhan yang patologis untuk melakukan suatu impuls yang jika ditahan menyebabkan kecemasan. Obsesi 1

Angka tersebut menyebabkan gangguan obsesif-kompulsif sebagai diagnosis psikiatrik tersering keempat setelah fobia. Pada sepertiga pasien obsesif – kompulsif. Prevalensi seumur hidup untuk gangguan depresif berat pada pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif adalah kira-kira 67% dan untuk fobia sosial adalah kira-kira 25%. Genetik juga diduga berpengaruh untuk terjadinya 2 . onset gangguan ini adalah sekitar usia 20 tahun. III. sedangkan melakukan kompulsi menurunkan kecemasan seseorang.3. tetapi serotonin sebagai penyebab gangguan obsesif kompulsif masih belum jelas. ETIOLOGI a. pada pria sekitar 19 tahun dan pada wanita sekitar 22 tahun. gangguan panik. akan tetapi remaja laki – laki lebih mudah terkena daripada remaja perempuan.1 IV. Faktor Biologis Banyak penelitian yang mendukung adanya hipotesis bahwa disregulasi serotonin berpengaruh pada pembentukan gejala gangguan obsesif – kompulsif. Diagnosis psikiatrik komorbid lainnya pada pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif adalah gangguan penggunaan alkohol. EPIDEMIOLOGI Prevalensi dari gangguan obsesif – kompulsif pada populasi umum adalah 2 -3%.5 Pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif umumnya dipengaruhi oleh gangguan mental lain.1. fobia spesifik.4. aktifitas sosial yang biasanya. Orang yang hidup sendirian lebih banyak terkena gangguan obsesif-kompulsif dibandingkan orang yang menikah. fungsi pekerjaan.meningkatkan kecemasan seseorang. atau hubungan dengan teman dan anggota keluarga. Perbandingan yang sama dijumpai pada laki-laki dan perempuan dewasa. dimana membutuhkan banyak waktu (lebih dari satu jam perhari) dan dapat menyebabkan penderitaan (distress) karena obsesi dapat menghabiskan waktu dan dapat mengganggu secara bermakna pada rutinitas normal seseorang.1 Gangguan obsesif – kompulsif merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan adanya pengulangan pikiran obsesif atau kompulsif. dan gangguan makan. gangguan yang berhubungan dengan zat. dan gangguan depresif berat. Beberapa peneliti memperkirakan bahwa gangguan obsesif-kompulsif ditemukan pada sebanyak 10% pasien rawat jalan di klinik psikiatrik.

Faktor Tingkah Laku Menurut teori.1 b.1 V. GEJALA KLINIS Umumnya obsesi dan kompulsi mempunyai gambaran tertentu seperti4: 1.gangguan obsesif – kompulsif dimana ditemukan perbedaan yang bermakna antara kembar monozigot dan dizigot. Obsesi dan kompulsi yang ia alami sebagai asing bagi pengalaman seseorang tentang dirinya sendiri sebagai makhluk psikologis (ego-alien) 4. Adanya ide atau impuls yang terus menerus menekan kedalam kesadaran individu 2. Ketika seseorang menyadari bahwa perbuatan tertentu dapat mengurangi kecemasan akibat obsesif. karena efikasinya dalam mengurangi kecemasan.1 c. Individu yang menderita obsesi kompulsi merasa adanya keinginan kuat untuk melawan 3 . Sebuah stimulus yang relatif netral diasosiasikan dengan rasa takut atau cemas melalui proses pengkondisian responden yaitu dengan dihubungkan dengan peristiwa – peristiwa yang menimbulkan rasa cemas atau tidak nyaman. Faktor Psikososial Menurut Sigmund Frued. Mekanisme pertahanan psikologis mungkin memegang peranan pada beberapa manifestasi gangguan obsesif – kompulsi. Pasien mengenali obsesi dan kompulsi merupakan sesuatu yang abstrak dan irasional 5. Secara perlahan. Represi perasaan marah terhadap seseorang mungkin menjadi alas an timbulnya pikiran berulang untuk menyakiti orang tersebut. strategi penghindaran ini menjadi suatu pola tetap dalam kompulsi. gangguan obsesif – kompulsif bisa disebabkan karena regresi dari fase anal dalam fase perkembangannya. Perasaan cemas / takut akan ide atau impuls yang aneh 3. Kompulsi terjadi dengan cara yang berbeda. orang tersebut mengembangkan suatu strategi penghindaran aktif dalam bentuk kompulsi atau ritual untuk mengendalikan kecemasan tersebut. obsesi adalah stimulus yang terkondisi.

debu. Pemikiran yang Mengganggu Obsesi ini biasanya meliputi pikiran berulang tentang tindakan agresif atau seksual yang salah oleh pasien.1 Beberapa gejala yang berhubungan dengan gangguan obsesif – kompulsif adalah sebagai berikut5 : Perhatian OBSESI terhadap kebersihan Ritual KOMPULSI mandi. atau kuman. Objek yang ditakuti biasanya sulit untuk dihindari. misalnya feces. urine) Obsesi religius membuat inventaris peralatan tubuh Ritual menghindari kontak dengan sekret tubuh. 2. urine. menghindari sentuhan Ritual keagamaan yang berlebihan (berdoa sepanjang hari) Obsesi seksual (nafsu terlarang atau Ritual berhubungan seksual yang kaku tindakan seksual yang agresif) Obsesi terhadap kesehatan (sesuatu Rituall berulang (pemeriksaan tanda 4 . feces. kuman. kontaminasi) membersihkan yang berlebihan Perhatian terhadap ketepatan Ritual mengatur posisi berulang – ulang Perhatian terhadap peralatan rumah Memeriksa berulang – ulang dan tangga (piring. yaitu : 1. Simetri Kebutuhan untuk simetri atau ketepatan akan menimbulkan kompulsi kelambanan. Pasien membutuhkan waktu berjam – jam untuk menghabiskan makanan atau bercukur. sendok) Perhatian terhadap sekresi (ludah. mencuci dan (kotoran.Gejala pasien gangguan obsesif – kompulsif mungkin berubah sewaktu – waktu tetapi gangguan ini mempunyai empat pola gejala yang paling sering ditemui. 3. Keraguan Patologis Obsesi ini biasanya diikuti oleh kompulsi pemeriksaan berulang. 4. Pasien memiliki keraguan obsesif dan merasa selalu merasa bersalah tentang melupakan sesuatu atau melakukan sesuatu. Kontaminasi Obsesi akan kontaminasi biasanya diikuti oleh pembersihan atau kompulsi menghindar dari objek yang dirasa terkontaminasi.

atau bayangan-bayangan tidak semata-mata kekhawatiran yang berlebihan tentang masalah kehidupan yang nyata. kata – kata atau musik memainkan alat musik dengan suatu ritual yang beragam VI. pada suatu saat dimana selama gangguan. sebagai intrusif dan tidak sesuai. mengulangi kata-kata dalam hati) yang berulang yang dirasakannya mendorong untuk melakukannya sebagai respon terhadap suatu obsesi. Kompulsi seperti yang didefinisikan sebagai berikut: Perilaku (misalnya. atau menurut dengan aturan yang harus dipatuhi secara kaku. Pikiran. atau bayangan-bayangan obsesional adalah keluar dari pikirannya sendiri( tidak disebabkan dari luar seperti penyisipan pikiran). impuls. memeriksa) atau tindakan mental (misalnya berdoa. mencuci tangan. menulis. DIAGNOSIS Kriteria diagnostik untuk gangguan obsesif-kompulsif menurut DSM IV: 1. Orang berusaha untuk mengabaikan atau menekan pikiran. atau bayangan-bayangan tersebut untuk mentralkannya dengan pikiran atau tindakan lain. kompor. impuls. Perilaku atau tindakan mental ditujukan untuk mencegah atau menurunkan penderitaan atau mencegah suatu kejadian atau situasi yang menakutkan. diet yang terbatas. mencari informasi tentang kesehatan dan kematian diri Pemeriksaan pintu. impuls. atau bayangan-bayangan yang rekuren dan persisten yang dialami. Menghitung. mengurutkan. menghitung. Orang menyadari bahwa pikiran. tetapi perilaku atau tindakan mental tersebut tidak dihubungkan dengan 5 . Salah satu obsesi atau kompulsi Obsesi seperti yang didefinisikan sebagai berikut: Pikiran.yang buruk akan terjadi dan vital berulang. gembok menimbulkan kematian) Obsesi ketakutan (menyakiti sendiri atau orang lain) dan rem darurat berulang – ulang Pemikiran mengganggu tentang suara. impuls. dan menyebabkan kecemasan dan penderitaan yang jelas. berbicara.

fungsi pekerjaan (atau akademik). gejala-gejala obsesif atau tindakan kompulsif. 6 . preokupasi dengan menderita suatu penyakit serius jika terdapat hipokondriasis. orang telah menyadari bahwa obsesi atau kompulsi adalah berlebihan atau tidak beralasan. 5. isi obsesi atau kompulsi tidak terbatas padanya (misalnya preokupasi dengan makanan jika terdapat gangguan makan. atau aktifitas atau hubungan sosial yang biasanya. Pada suatu waktu selama perjalanan gangguan.1 Pedoman diagnosis menurut PPDGJ III: • Untuk menegakkan diagnosis pasti. Gejala-gejala obsesif harus mencakup hal-hal berikut: Harus disadari sebagai pikiran atau impuls diri sendiri. orang tidak menyadari bahwa obsesi dan kompulsi adalah berlebihan atau tidak beralasan. permasalahan pada penampilan jika terdapat gangguan dismorfik tubuh. atau kedua-duanya. Tidak disebabkan oleh efek langsung suatu zat (misalnya obat yang disalahgunakan. Jika terdapat gangguan aksis I lainnya. preokupasi dengan obat jika terdapat suatu gangguan penggunaan zat. Sebutkan jika: Dengan tilikan buruk:jika selama sebagian besar waktu selama episode terakhir. atau secara bermakna mengganggu rutinitas normal orang. atau jelas berlebihan. meskipun ada lainnya yang tidak lagi dilawan oleh penderita. 2. Catatan: ini tidak berlaku bagi anak-anak 3. menarik rambut jika terdapat trikotilomania.cara yang realistik dengan apa mereka dianggap untuk menetralkan atau mencegah. harus ada hampir setiap hari selama sedikitnya dua minggu berturut-turut. menghabiskan waktu (menghabiskan lebih dari satu jam sehari). • • Hal tersebut merupakan sumber penderitaan (distress) atau mengganggu aktivitas penderita. atau perenungan bersalah jika terdapat gangguan depresif berat). Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang tidak berhasil dilawan. preokupasi dengan dorongan atau fanatasi seksual jika terdapat parafilia. Obsesi atau kompulsi menyebabkan penderitaan yang jelas. medikasi) atau kondisi medis umum. 4.

yang sifatnya mengganggu (ego alien) Meskipun isi pikiran tersebut berbeda-beda. maka diagnosis diutamakan dari gejala-gejala yang timbul lebih dahulu. bayangan pikiran. Pada gangguan menahun. harus dianggap sebagai bagian dari kondisi tersebut. maka prioritas diberikan pada gejala yang paling bertahan saat gejala yang lain menghilang. Diagnosis gangguan obsesif kompulsif ditegakkan hanya bila tidak ada gangguan depresif pada saat gejalobsesif kompulsif tersebut timbul. penderita gangguan obsesif kompulsif seringkali juga menunjukkan gejala depresif. • Gagasan. • Gejala obsesif ”sekunder” yang terjadi pada gangguan skizofrenia. Dalam berbagai situasi dari kedua hal tersebut. umumnya hampir selalu menyebabkan penderitaan (distress)5 F42. atau gangguan mental organk. dan sebaliknya penderita gangguan depresi berulang dapat menunjukkan pikiran-pikiran obsesif selama episode depresifnya. meningkat atau menurunnya gejala depresif umumnya dibarengi secara paralel dengan perubahan gejala obsesif. atau impuls ( dorongan perbuatan). terutama pikiran obsesif. dengan depresi.- Pikiran untuk melakukan tindakan tersebut di atas bukan merupakan hal yang memberi kepuasan atau kesenangan (sekedar perasaan lega dari ketegangan atau anxietas. sindrom Tourette. atau impuls tersebut harus merupakan pengulangan yang tidak menyenangkan (unpleasantly repetitive) Ada kaitan erat antara gejala obsesif. Bila dari keduanya tidak adayang menonjol. 5 F42.0 Predominan Pikiran Obsesif atau Pengulangan Pedoman Diagnostik • • Keadaan ini dapat berupa gagasan. maka baik menganggap depresi sebagai diagnosis yang primer. Bila terjadi episode akut dari gangguan tersebut.1 Predominan Tindakan Kompulsif ( obsesional ritual) Pedoman Diagnostik 7 . tidak dianggap sebagai kesenangan seperti dimaksud di atas. bayangan pikiran.

Hal tersebut dilatarbelakangi perasaan takut terhadap bahaya yang mengancam dirinya atau bersumber dari dirinya.5 F42.9 Gangguan Obsesif Kompulsif YTT5 VII. dapat digunakan dalam rentang dosis yang biasanya. dan tindakan ritual tersebut merupakan ikhtiar simbolik dan tidak efektif untuk menghindari bahaya tersebut. yang umumnya memang demikian.8 Gangguan Obsesif Kompulsif Lainnya5 F42. • Apabila salah satu memang jelas lebih dominan.5 F42. PENATALAKSANAAN • Farmakoterapi Data yang tersedia menyatakan bahwa semua obat yang digunakan untuk mengobati gangguan depresif atau gangguan mental lain.0 atau F42. memeriksa berulang untuk meyakinkan bahwa suatu situasi yang dianggap berpotensi bahaya terjadi. atau masalah kerapian dan keteraturan. Diagnosis ini digunakan bialmana kedua hal tersebut sama-sama menonjol. Walaupun pengobatan dengan obat antidepresan adalah masih kontroversial. • Tindakan ritual kompulsif tersebut menyita banyak waktu sampai beberapa jam dalam sehari dan kadang-kadang berkaitan dengan ketidakmampuan mengambil keputusan dan kelambanan.2 Campuran Pikiran dan Tindakan Obsesif Pedoman Diagnostik • Kebanyakn dari penderita obsesif kompulsif memperlihatkan pikiran obsesif serta tindakan kompulsif. Efek awal biasanya terlihat setelah empat sampai enam minggu pengobatan. Tindakan kompulsif lebih respondif terhadap terapi perilaku.• Umumnya tindakan kompulsif berkaitan dengan kebersihan (khususnya mencuci tangan).sebaiknya dinyatakan dalam diagnosis F42.1. walaupun biasanya diperlukan waktu delapan sampai enam belas minggu untuk mendapatkan manfaat terapeutik yang maksimum. hal ini berkaitan dengan respon yang berbeda terhadap pengobatan. sebagian pasien dengan gangguan 8 .

Fluoxetine. nyeri kepala.1.g. SSRI dapat ditoleransi dengan lebih baik daripada obat trisiklik. Namun demikian. disfungsi seksual dan efek samping antikolinergik. Walaupun SSRI mempunyai efek seperti overstimulasi. Fluvoxamine.6 SSRI. Pengobatan standar adalah memulai dengan obat spesifik-serotonin. Citalopram.g. Penelitian tentang Fluoxetine dalam gangguan obsesifkompulsif menggunakan dosis sampai 80 mg setiap hari untuk mencapai manfaat terapeutik. perlu disertai dengan terapi perilaku (behavior therapy)7 Clomipramine. hipotensi. banyak ahli terapi menambahkan lithium (Eskalith). Sertraline.6 Jika pengobatan dengan Clomipramine atau SSRI tidak berhasil. seperti Fluoxetine (Prozac). Paroxetine. Obat lain yang dapat digunakan dalam pengobatan gangguan obsesif kompulsif adalah inhibitor 9 . insomnia. Obat Anti-obsesif kompulsif TRISIKLIK e. sampai dosis maksimum 250 mg sehari atau tampak efek samping yang membatasi dosis. Untuk mendapatkan hasil pengobatan yang lebih baik. Karena Clopramine adalah suatu obat trisiklik. Clomipramine 2.6 Penggolongan 1. kegelisahan. dan kebanyakan masih menunjukkan gejala secara menahun. contohnya clomipramine (Anafranil) atau inhibitor ambilan kembali spesifik serotonin (SSRI-serotonin specific reuptake inhibitor). kadang-kadang SSRI digunakan sebagai obat lini pertama dalam pengobatan gangguan obsesif kompulsif. obat ini disertai dengan efek samping berupa sedasi. seperti mulut kering. Obat Anti-obsesif kompulsif SSRI(Serotonin Reuptake Inhibitors) e. dan efek samping gastrointestinal.1. mual.7 Respon penderita gangguan obsesif kompulsif terhadap farmakoterapi seringkali hanya mencapai pengurangan gejala sekitar 30%-60%. Dengan demikian.1.obsesif-kompulsif yang berespon terhadap pengobatan dengan antidepresan tampaknya mengalami relaps jika terapi obat dihentikan. Clomipramine biasanya dimulai dengan dosis 25 sampai 50 mg sebelum tidur dan dapat ditingkatkan dengan peningkatan 25 mg sehari setiap dua sampai tiga hari. umumnya penderita sudah merasa sangat tertolong.

1 10 . terapi perilaku sama efektifnya dengan farmakoterapi pada gangguan obsesif-kompulsif. tanpa hal tersebut gejalanya akan menyebabkna gangguan.monoamin oksidase (MAOI. Terapi perilaku dapat dilakukan pada situasi rawat inap maupun rawat jalan. Dalam terapi perilaku pasien harus benar-benar menjalankannya untuk mendapatkan perbaikan. pembanjiran. khususnya untuk pasien gangguan obsesif-kompulsif. menghentikan pikiran. monoamine oxidase inhibitor). perlu untuk merawat pasien di rumah sakit sampai tempat penampungan institusi dan menghilangkan stres lingkungan eksternal menurunkan gejala sampai tingkat yang dapat ditoleransi. walaupun gejalanya memiliki berbagai derajat keparahan. Dengan kontak yang kontinu dan teratur dengan tenaga yang profesional. dan pembiasaan tegas juga telah digunakan pada pasien gangguan obsesif kompulsif.1 • Psikoterapi Psikoterapi suportif jelas memiliki bagiannya. Desensitisasi. Pendekatan perilaku utama pada gangguan obsesif-kompulsif adalah pemaparan dan pencegahan respon. Dengan demikian.6 • Terapi perilaku Walaupun beberapa perbandinga telah dilakukan. khususnya Phenelzine (Nardil). Kadang-kadang jika ritual dan kecemasan obsesional mencapai intensitas yang tidak dapat ditoleraansi. banyak klinisi mempertimbangkan terapi perilaku sebagai terapi terpilih untuk gangguan obsesif-kompulsif. pasien mungkin mampu untuk berfungsi berdasarkan bantuan tersebut.1 Terapi tingkah laku ini dimulai dengan pasien membuat daftar tentang obsesinya kemudian diatur sesuai hierarki mulai dari yang kurang membuat cemas sampai yang paling membuat cemas. Dengan melakukan paparan berulang terhadap stimulus diharapkan akan menghasilkan kecemasan yang minimal karena adanya habituasi. dan mendorong.1. adalah mampu untuk bekerja dan membuat penyesuaian sosial. simpatik. terapi implosi.

dan membangun ikatan terapi dengan anggota keluarga untuk kebaikan pasien. yang hampir selalu dikendalikan dengan pengobatan Phenytoin (Dilantin). beberapa befluktuasi namun ada pula yang konstan. dan sifat gejala episodik. Prosedur bedah psiko yang paling sering dilakukan untuk gangguan obsesif kompulsif adalah singulotomi. adanya gagasan yang terlalu dipegang. Untuk pasien yang sangat kebal terhadap pengobatan. Perjalanan penyakit biasanya lama dan bervariasi. Prognosis baik ditandai oleh penyesuaian sosial dan pekerjaan yang baik. gangguan depresi berat yang menyertai. yang berhasil dalam mengobati 25 sampai 30 persen pasien yang tidak responsif terhadap pengobatan lain. penjelasan dan nasihat tentang bagaimana menangani dan berespons terhadap pasien.Anggota keluarga pasien seringkali menjadi putus asa karena perilaku pasien. membantu menurunkan percekcokan perkawinan yang disebabkan gangguan.8 11 . Terapi kelompok berguna sebagai sistem pendukung bagi beberapa pasien. kepercayaan waham. Prognosis buruk bila pasien mengalah pada kompulsi. ECT tidak seefektif bedah psiko tetapi kemungkinan harus dicoba sebelum pembedahan. dan adanya gangguan kepribadian. seperti kehamilan. Beberapa pasien yang tidak respon dengan bedah psiko saja dan dengan farmakoterapi atau terapi perilaku sebelum operasi menjadi respon terhadap farmakoterapi atau terapi perilaku setelah bedah psiko. Komplikasi yang paling sering dari bedah psiko adalah perkembangan kejang.1 VIII. perlu perawatan di RS. Tiap usaha psikoterapik harus termasuk perhatian pada anggota keluarga melalui dukungan emosional. terapi elektrokonvulsif (ECT) dan bedah psiko (psychosurgery) harus dipertimbangkan. berawal pada masa anak-anak. penentraman. kompulsi yang aneh. PROGNOSIS Sebagian besar gejala muncul secara tiba-tiba.1 • Terapi lain Terapi keluarga seringkali berguna dalam mendukung keluarga. masalah seksual. adanya peristiwa pencetus. atau kematian seorang sanak saudara. terutama setelah suatu peristiwa yang menyebabkan stres.

dan faktor psikososial. adanya peristiwa pencetus. Beberapa faktor berperan dalam terbentuknya gangguan obsesif-kompulsif diantaranya adalah faktor biologis. memeriksa atau menghindari. gejala-gejala obsesif atau tindakan kompulsif. Hal tersebut merupakan sumber penderitaan (distress) atau mengganggu aktivitas penderita. Kompulsi adalah kebutuhan yang patologis untuk melakukan suatu impuls yang jika ditahan menyebabkan kecemasan. faktor tingkah laku. Sedangkan suatu kompulsi adalah pikiran atau perilaku yang disadari. sedangkan melakukan kompulsi menurunkan kecemasan seseorang. dan sifat gejala episodik. Obsesi meningkatkan kecemasan seseorang.1 Umumnya obsesi dan kompulsi mempunyai gambaran tertentu seperti adanya ide atau impuls yang terus menerus menekan kedalam kesadaran individu. dibakukan. Gangguan ini prevalensinya diperkirakan 2 – 3% dari populasi. ide. Untuk menegakkan diagnosis pasti. Prognosis pasien dinyatakan baik apabila kehidupan sosial dan pekerjaan baik. yaitu : kontaminasi. yang disertai dengan kecemasan. atau sensasi yang mengganggu (intrusif). perasaan. dan sebagainya. harus ada hampir setiap hari selama sedikitnya dua minggu berturut-turut. perasaan cemas / takut akan ide atau impuls yang aneh. Obsesi adalah ketekunan yang patologis dari suatu pikiran atau perasaan yang tidak dapat ditentang yang tidak dapat dihilangkan dari kesadaran oleh usaha logika. Ada beberapa terapi yang bisa dilakukan untuk penatalaksanaan antara lain terapi farmakologi (farmakoterapi) dan terapi perilaku. KESIMPULAN Suatu obsesi adalah pikiran. keraguan patologis. Gejala pasien mungkin berubah sewaktu – waktu tetapi gangguan ini mempunyai empat pola gejala yang paling sering ditemui. pemikiran yang mengganggu. dan rekuren.IX. dan simetri. dan psikoterapi. 12 . atau kedua-duanya. seperti menghitung.

Stern TA. 1997. Gangguan Kepribadian Obsesif Kompulsif. 2003. Maramis WF. Kaplan HI. In: Wiguna IM. 8. Sadock BJ. 2010. United States of America: McGrawHill. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya. Maslim R. Arif M. 4. Obsessive Compulsive Disorder. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2005. Elvira SD. 2007. Jakarta: Media Aesculapius. 5. 2 nd ed. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya. 2004. 3 ed. Nerosa Obsesif-Kompulsif. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Gangguan Obsesif Kompulsif. Kapita Selekta Kedokteran. 7. 3 ed. Gangguan Obsesif-Kompulsif. Rujukan Ringkas dari PPDGJ – III. Massachusetts General Hospital Psychiatry Update and Board Preparation.medscape. Greenberg W. 13 . Dalam : Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa.com/article/1934139-overview#showall. 6. 2. Maslim R. Grebb JA. [30 Mei 2013] 3. 2005. Available from: http://emedicine. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik.DAFTAR PUSTAKA 1. Jakarta: Binarupa Aksara.M. Sinopsis Psikiatri. editor. Personality Disorders. 7 ed. Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga: Airlangga University Press. Herman JB.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful