BAB 1 PEMERIKSAAN FISIK DAN PENGKAJIAN PADA SISTEM PERSYARAFAN 1.

1 Pengertian Pemeriksaan Fisik Persyarafan Tubuh manusia akan berada dalam kondisi sehat jika mampu berespon dengan tepat terhadap perubahan-perubahan lingkungan secara terkoordinasi. Tubuh memerlukan koordinasi yang baik. Salah satu sistem komunikasi dalam tubuh adalah sistem saraf. Pengkajian system persarafan merupakan salah satu aspek yang sangat penting untuk dilakukan dalam rangka menentukan diagnosa keperawatan tepat dan melakukan tindakan perawatan yang sesuai. Pada akhirnya perawat dapat mempertahankan dan meningkatkan status kesehatan klien. Pemeriksaan persarafan terdiri dari dua tahapan penting yaitu pengkajian yang berupa wawancara yang berhubungan dengan riwayat kesehatan klien yang berhubungan dengan system persarafan seperti riwayat hipertensi, stroke, radang otak, atau selaput otak, penggunaan obat-obatan dan alcohol, dan penggunaan obat yang diminum secara teratur. Tahapan selanjutnya adalah pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan status mental, pemeriksaan saraf cranial, pemeriksaan motorik, pemeriksaan sensorik, dan pemeriksaan reflex. Dalam melakukan pemeriksaan fisik diperhatikan prinsip-prinsip head to toe, chepalocaudal dan proximodistal. Harus pula diperhatikan keamanan klien dan privacy klien. 1.2 Tujuan Pemeriksaan Fisik Persyarafan Pada pemeriksaan fisik klien dengan gangguan sistem persarafan secara umum biasanya menggunakan teknik pengkajian persistem sama seperti pemeriksaan medikal bedah lainnya. Pemeriksaan fisik ini dilakukan sebagaimana pemeriksaan fisik lainnya dan bertujuan untuk mengevaluasi keadaan fisik klien secara umum dan juga menilai apakah ada indikasi penyakit lainnya selain kelainan neurologis. Dalam melakukan pemeriksaan fisik sistem persyarafan seorang perawat memerlukan pengetahuan tentang anatomi, fisiologi, dan patofisiologi dari sistem persyarafan. Pengalaman dan keterampilan perawat diperlukan dalam pengkajian dasar kemampuan fungsional sampai manuver pemeriksaan diagnostik cangih yang dapat menegakkan diagnosis kelainan pada sistem persyarafan.

1

1.3 Persiapan Alat Pemeriksaan Fisik Persyarafan 1.3.1 Siapkan peralatan yang diperlukan 1. Refleks hammer 2. Garputala 3. Kapas dan lidi 4. Penlight atau senter kecil 5. Opthalmoskop 6. Jarum steril 7. Spatel tongue 8. 2 tabung berisi air hangat dan air dingin 9. Objek yang dapat disentuh seperti peniti atau uang receh 10. Bahan-bahan beraroma tajam seperti kopi, vanilla atau parfum 11. Bahan-bahan yang berasa asin, manis atau asam seperti garam, gula, atau cuka 12. Baju periksa 13. Sarung tangan 1.3.2 Untuk Pemeriksa Cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan, sesuaikan urutan pemeriksaan dengan keadaan umum klien, mulailah pemeriksaan fisik sejak awal kontak dengan klien dan gunakan general precaution, metode yang digunakan cepalo kadral atau distal ke proksimal. 1.4 Prosedur Pemeriksaan Fisik Persyarafan Atur posisi klien, mintalah klien untuk duduk disisi tempat tidur. Amati cara berpakaian klien, postur tubuh klien, ekspresi wajah dan kemampuan bicara, intonasi, keras lembut, pemilihan kata dan kemudahan berespon terhadap pertanyaan. Nilai kesadara dengan menggunakan patokan Glasgow Coma Scale (GCS). Tanyakan waktu, tanggal, tempat dan alasan berkunjung, kaji kemampuan klien dalam berhitung dan mulailah dengan perhitungan yang sederhana. Kaji kemampuan klien untuk berfikir abstrak. 1.4.1 Saraf Kranial 1. Fungsi saraf kranial I (N Olvaktorius) Pastikan rongga hidung tidak tersumbat oleh apapun dan cukup bersih. Lakukan pemeriksaan dengan menutup sebelah lubang hidung klien dan dekatkan bau-bauan

2

seperti kopi dengan mata tertutup klien diminta menebak bau tersebut. Lakukan untuk lubang hidung yang satunya. 2. Fungsi saraf kranial II (N. Optikus) a. Catat kelainan pada mata seperti katarak dan infeksi sebelum pemeriksaan. Periksa ketajaman dengan membaca, perhatikan jarak baca atau menggunakan snellenchart untuk jarak jauh. b. Periksa lapang pandang: Klien berhadapan dengan pemeriksa 60-100 cm, minta untuk menutup sebelah mata dan pemeriksa juga menutup sebelah mata dengan mata yang berlawanan dengan mata klien. Gunakan benda yang berasal dari arah luar klien dank lien diminta , mengucapkan ya bila pertama melihat benda tersebut. Ulangi pemeriksaan yang sama dengan mata yang sebelahnya. Ukur berapa derajat kemampuan klien saat pertama kali melihat objek. Gunakan opthalmoskop untuk melihat fundus dan optic disk (warna dan bentuk) 3. Fungsi saraf kranial III, IV, VI (N. Okulomotoris, Troklear dan Abdusen) a. Pada mata diobservasi apakah ada odema palpebra, hiperemi konjungtiva, dan ptosis kelopak mata b. Pada pupil diperiksa reaksi terhadap cahaya, ukuran pupil, dan adanya perdarahan pupil c. Pada gerakan bola mata diperiksa enam lapang pandang (enam posisi cardinal) yaitu lateral, lateral ke atas, medial atas, medial bawah lateral bawah. Minta klien mengikuti arah telunjuk pemeriksa dengan bolamatanya 4. Fungsi saraf kranial V (N. Trigeminus) a. Fungsi sensorik diperiksa dengan menyentuh kilit wajah daerah maxilla, mandibula dan frontal dengan mengguanakan kapas. Minta klien mengucapkan ya bila merasakan sentuhan, lakukan kanan dan kiri. b. Dengan menggunakan sensori nyeri menggunakan ujung jarum atau peniti di ketiga area wajah tadi dan minta membedakan benda tajam dan tumpul. c. Dengan mengguanakan suhu panas dan dingin juag dapat dilakukan diketiga area wajah tersebut. Minta klien menyebabkanutkan area mana yang merasakan sentuhan. Jangan lupa mata klien ditutup sebelum pemeriksaan. d. Dengan rasa getar dapat pukla dilakukan dengan menggunakan garputala yang digetarkan dan disentuhkan ke ketiga daerah wajah tadi dan minta klien mengatakan getaran tersebut terasa atau tidak 3

an air sedikit. Periksa aktifitas motorik faring dengan meminta klien menel. lalu observasi adanya ayunan tubuh. Fungsi sensorik dengan mencelupkan lidi kapas ke air garam dan sentuhkan ke ujung lidah. kedua lengan disisi tubuh. bersiul. dekatkan gulungan kapas kecil dari samping kea rah mata dan lihat refleks menutup mata. Pemerikasaan corneal dapat dilakukan dengan meminta klien melihat lurus ke depan. Cabang choclear dengan rombreng test dengan cara meminta klien berdiri tegak. Periksa kekuatan otot bagian atas dan bawah. Periksa gag refleks dengan menyentuh bagian dinding belakang faring menggunakan aplikator dan observasi gerakan faring. 8. Glosovaringeus dan Vagus) a. Periksa getaran pita suara saat klien berbicara. c. observasi gerakan meelan dan kesulitan menelan. Minta klien mengucapkan aa lihat gerakan ovula dan palatum. normal bila uvula terletak di tengan dan palatum sedikit terangkat. Fungsi saraf kranial VII (N. menggembungkan pipi. Fungsi saraf kranial VIII (N. Pemeriksaan motorik dengan mengatupkan rahang dan merapatkan gigi periksa otot maseter dan temporalis kiri dan kanan periksa kekuatan ototnya. Asesoris) a. Fungsi saraf kranial XI(N.is berbarengan. Vestibulokoklear) a. minta klien memejampan mata kuat-kuat dan coba untuk membukanya. lihat apakah klien dapat mempertahankan posisi 7. 6. kedua kaki rapat. b. minta pula klien utnuk menggembungkan pipi dan tekan dengan kedua jari. Fungsi motorik dengan meminta klien tersenyum. minta klien melakukan gerakan mengunyah dan lihat kesimetrisan gerakan mandibula. cabang vestibulo dengan menggunakan test pendengaran mengguanakan weber test dan rhinne test b. 5. minta klien menutup mata tanpa mengubah posisi. 4 . minta klien mengidentifikasi rasa ulangi untuk gula dan asam b. Fungsi saraf kranial IX dan X (N.e. Fasialis) a. Periksa fungsi trapezius dengan meminta klien menggerakkan kedua bahu secara bersamaan dan observasi kesimetrisan gerakan. mengangkat kedua al. Lihat kesimetrisan kanan dan kiri. f.

perhatikan kekuatan daya dorong 9. b.4. dorong kedua pipi dengan kedua jari. Massa otot : hypertropi. Suatu kondisi dimana kekuatan otot tidak tetap tapi bergelombang dalam melakukan fleksi dan ekstensi extremitas klien. Normal. impuls berjalan ke kapsula interna. ulangi pemeriksaan sisi yang lain 1. observasi kekuatan lidah. lakukan test untuk menguji tahanan terhadap fleksi pasif sendi siku. 5 . sendi lutut dan sendi pergelangan tangan. Fugsi saraf kranial XII (N. Pada tiap gerakan pasif dinamakan kekuatan spastis. normal dan atropi 2. c. Periksa kekuatan otot sternocleidomastoideus dengan meminta klien untuk menoleh kesatu sisi melawan tahanan telapak tangan pemeriksa. Periksa kekuatan lidah dengan meminta klien mendorong salah satu pipi dengan ujung lidah. terhadap tahanan pasif yang ringan / minimal dan halus.b. melainkan tetap sama. 1. observasi kesimetrisan gerakan lidah b. minta klien mendekatkan telinga ke bahu kanan dan kiri bergantian tanpa mengangkat bahu lalu observasi rentang pergerakan sendi c. Bila tenaga itu terasa jelas maka tonus otot adalah tinggi. Periksa pergerakan lidah. Bila tangan / tungkai klien ditekuk secara berganti-ganti dan berulang dapat dirasakan oleh pemeriksa suatu tenaga yang agak menahan pergerakan pasif sehingga tenaga itu mencerminkan tonus otot. bersilangan di batang traktus pyramidal medulla spinalis dan bersinaps dengan lower motor neuron. perhatikan kekuatan daya dorong. Tonus otot : Dapat dikaji dengan jalan menggerakkan anggota gerak pada berbagai persendian secara pasif. berasal dari daerah motorik di corteks cerebri. d. Hipoglosus) a. menggerakkan lidah kekiri dan ke kanan. Periksa fungsi otot sternocleidomastoideus dengan meminta klien menoleh ke kanan dan ke kiri. a. Keadaan otot disebut kaku.2 Fungsi Motorik Sistem motorik sangat kompleks. dorong bagian luar pipi dengan ujung lidah. Pemeriksaan motorik dilakukan dengan cara observasi dan pemeriksaan kekuatan. Bila kekuatan otot klien tidak dapat berubah. Periksa kekuatanotottrapezius dengan menahan kedua bahu klien dengan kedua telapak tangan danminta klien mendorong telapak tangan pemeriksa sekuat-kuatnya ke atas. Sementara penderita dalam keadaan rileks.

rasa terbakar/panas (burning). karena sangat subyektif sekali. 2 = kemampuan untuk bergerak. 1. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengevaluasi respon klien terhadap beberapa stimulus. twitching / kedutan. Kekuatan otot : Aturlah posisi klien agar tercapai fungsi optimal yang diuji. Bahkan tidak jarang keluhan motorik (kelemahan otot. miotonia. untuk rasa suhu. 6 . untuk rasa getar. untuk rasa nyeri superfisial.4. Jangka. cramp dan sebagainya) disajikan oleh klien sebagai keluhan sensorik. 5 = kekuatan kontraksi yang penuh. 3. Bahan yang dipakai untuk pemeriksaan sensorik meliputi: 1. Lain-lain (untuk pemeriksaan fungsi sensorik diskriminatif) seperti : a. Pemeriksaan harus selalu menanyakan kepada klien jenis stimulus. Gunakan penentuan singkat kekuatan otot dengan skala Lovett’s (memiliki nilai 0 – 5) 0 = tidak ada kontraksi sama sekali. Klien secara aktif menahan tenaga yang ditemukan oleh sipemeriksa. 1 = gerakan kontraksi. 2. untuk 2 (two) point tactile dyscrimination.3 Fungsi Sensorik Pemeriksaan sensorik adalah pemeriksaan yang paling sulit diantara pemeriksaan sistem persarafan yang lain. Garpu tala. Oleh sebab itu sebaiknya dilakukan paling akhir dan perlu diulang pada kesempatan yang lain (tetapi ada yang menganjurkan dilakukan pada permulaan pemeriksaan karena pasien belum lelah dan masih bisa konsentrasi dengan baik). Gejala paresthesia (keluhan sensorik) oleh klien digambarkan sebagai perasaan geli (tingling). 3 = cukup kuat untuk mengatasi gravitasi. Jarum yang ujungnya tajam dan tumpul (jarum bundel atau jarum pada perlengkapan refleks hammer). Otot yang diuji biasanya dapat dilihat dan diraba. 5. 4. rasa dingin (coldness) atau perasaan-perasaan abnormal yang lain. mati rasa (numbless). tetapi tidak kuat kalau melawan tahanan atau gravitasi.3. Kapas untuk rasa raba. Botol berisi air hangat / panas dan air dingin. 4 = cukup kuat tetapi bukan kekuatan penuh.

tendon triceps diketok dengan refleks hammer (tendon triceps berada pada jarak 1-2 cm diatas olekranon).4 Fungsi Refleks Pemeriksaan aktifitas refleks dengan ketukan pada tendon menggunakan refleks hammer. uang logam. sedikit meningkat bila terjadi fleksi sebagian dan gerakan pronasi. dan sebagainya). Skala untuk peringkat refleks yaitu : 0 = tidak ada respon 1 = hypoactive / penurunan respon. tidak perlu dianggap abnormal (+++) 4 = hyperaktif. Refleks triceps Lengan ditopang dan difleksikan pada sudut 900 . dengan klonus (++++) Refleks-refleks yang diperiksa adalah : 1. kemudian dipukul dengan refleks hammer. Refleks biceps Lengan difleksikan terhadap siku dengan sudut 900 . 3. Respon yang normal adalah kontraksi otot triceps. Bila hyperaktif maka akan terjadi penyebaran gerakan fleksi pada lengan dan jari-jari atau sendi bahu. untuk pemeriksaan stereognosis c. 4.b. sedikit meningkat bila ekstensi ringan dan hyperaktif bila ekstensi siku tersebut menyebabkanar keatas sampai otototot bahu atau mungkin ada klonus yang sementara. kelemahan (+) 2 = normal (++) 3 = lebih cepat dari rata-rata. botol. Refleks patella Pasien berbaring terlentang. untuk graphesthesia. supinasi dan lengan bawah ditopang pada alas tertentu (meja periksa). Tendon patella (ditengah-tengah patella dan tuberositas tibiae) dipukul dengan refleks hammer. 2. 1. biceps (diatas lipatan siku). Jari pemeriksa ditempatkan pada tendon m. Normal jika timbul kontraksi otot biceps. 7 .4. Benda-benda berbentuk (kunci. untuk memudahkan pemeriksaan refleks ini kaki yang diperiksa bisa diletakkan / disilangkan diatas tungkai bawah kontralateral. Refleks achilles Posisi kaki adalah dorsofleksi. Respon berupa kontraksi otot quadriceps femoris yaitu ekstensi dari lutut. Pen / pensil. lutut diangkat ke atas sampai fleksi kurang lebih 300.

Brudzinski I positif (+) bila kedua tungkai bawah akan fleksi pada sendi panggul dan sendi lutut. 6. Refleks Babinski Merupakan refleks yang paling penting . sehingga dagu tidak dapat menempel pada dada. bila tungkai bawah membentuk sudut 1350 terhadap tungkai atas. Kernig (+) bila ekstensi lutut pasif akan menyebabkan rasa sakit terhadap hambatan. 5. kaku kuduk positif (+). Ia hanya dijumpai pada penyakit traktus kortikospinal. Respon yang normal adalah fleksi plantar semua jari kaki. Normal. 5. Tanda Brudzinski II Tanda Brudzinski II positif (+) bila fleksi tungkai klien pada sendi panggul secara pasif akan diikuti oleh fleksi tungkai lainnya pada sendi panggul dan lutut. goreslah kuat-kuat bagian lateral telapak kaki dari tumit kearah jari kelingking dan kemudian melintasi bagian jantung kaki. Test Laseque Fleksi sendi paha dengan sendi lutut yang lurus akan menimbulkan nyeri sepanjang m. Kaku kuduk Bila leher ditekuk secara pasif terdapat tahanan. Refleks abdominal Dilakukan dengan menggores abdomen diatas dan dibawah umbilikus. respon normal berupa gerakan plantar fleksi kaki. lalu dicoba meluruskan tungkai bawah pada sendi lutut. Tanda Kernig Fleksi tungkai atas tegak lurus. umbilikus akan bergerak keatas dan kearah daerah yang digores. ischiadicus. 4. Tanda Brudzinski I Letakkan satu tangan pemeriksa dibawah kepala klien dan tangan lain didada klien untuk mencegah badan tidak terangkat. 2. Untuk melakukan test ini. untuk mengetahui rangsangan selaput otak (misalnya pada meningitis) dilakukan pemeriksaan : 1. Respon Babinski timbul jika ibu jari kaki melakukan dorsifleksi dan jari-jari lainnya tersebar. Pemeriksaan khusus sistem persarafan. Kemudian kepala klien difleksikan kedada secara pasif.Tendon achilles dipukul dengan refleks hammer. Kalau digores seperti itu. 3. Mengkaji abnormal postur dengan mengobservasi : 8 .

dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya. kadang berhayal. namun kesadaran dapat pulih bila dirangsang (mudah dibangunkan) tetapi jatuh tertidur lagi. terjadi jika ada lesi pada midbrain. 5. Apatis. respon psikomotor yang lambat. kekurangan oksigen karena berkurangnya aliran darah ke otak. yaitu tidak bisa dibangunkan. yaitu gelisah. ekstensi dan menutup kesamping. tempat. Stupor (soporo koma). sadar sepenuhnya. tidak ada respon terhadap rangsangan apapun (tidak ada respon kornea maupun reflek muntah. Delirium. terjadi jika ada lesi pada traktus corticospinal. 4. Adanya defisit tingkat kesadaran memberi kesan adanya hemiparese serebral atau sistem aktivitas reticular mengalami injuri. 2.5 Indikasi Pemeriksaan GCS dan Refleks Tingkat kesadaran adalah ukuran dari kesadaran dan respon seseorang terhadap rangsangan dari lingkungan.6 Tujuan Pemeriksaan GCS dan Refleks Pemeriksaan GCS dan Refleks ini bisa dijadikan salah satu bagian dari vital sign. mudah tertidur. 1. yaitu kesadaran menurun. 2.1.. yaitu keadaan seperti tertidur lelap. yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan sekitarnya. Perubahan tingkat kesadaran dapat diakibatkan dari berbagai faktor. Letargi). pons atau diencephalon. memberontak. Compos Mentis (conscious). 6. berhalusinasi. kedua siku. waktu). tingkat kesadaran dibedakan menjadi : 1. sikapnya acuh tak acuh. Nampak kedua lengan atas menutup kesamping. tetapi ada respon terhadap nyeri. Penurunan tingkat kesadaran berhubungan dengan peningkatan angka morbiditas (kecacatan) dan mortalitas (kematian). mampu memberi jawaban verbal. Decerebrate posturing. Somnolen (Obtundasi. dengan rahang mengepal. disorientasi (orang. 1. kedua lengan pronasi. dan tekanan berlebihan di dalam rongga tulang kepala. kedua pergelangan tangan dan jari fleksi. termasuk perubahan dalam lingkungan kimia otak seperti keracunan. 9 . mungkin juga tidak ada respon pupil terhadap cahaya). kedua kaki lurus keluar dan kaki plantar fleksi. berteriakteriak. Leher ekstensi. Decorticate posturing. Coma (comatose). kedua kaki ekstensi dengan memutar kedalam dan kaki plantar fleksi. 3. yaitu kesadaran normal.

Tahap Orientasi a. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada keluarga/pasien c.2 Mengukur Tingkat Kesadaran Salah satu cara untuk mengukur tingkat kesadaran dengan hasil seobjektif mungkin adalah menggunakan GCS (Glasgow Coma Scale). hanya berespon jika dirangsang nyeri (pain). dimana pasien diperiksa apakah sadar baik (alert).1 Penyebab Penurunan Kesadaran Penurunan tingkat kesadaran mengindikasikan difisit fungsi otak. dan tidak ada respon (unresponsiveness). keracunan: hipertermia. Tingkat kesadaran dapat menurun ketika otak mengalami kekurangan oksigen (hipoksia). Reflek membuka mata. Melakukan verifikasi data sebelumnya bila ada b.6. yang menunjukan adanya penurunan kesadaran. pada keadaan hipo atau hipernatremia . Menempatkan alat di dekat pasien dengan benar 2.6.7 Persiapan Alat Pemeriksaan GCS dan Refleks 1. kekurangan aliran darah (seperti pada keadaan syok). Mencuci tangan c. pengaruh obat-obatan. Menanyakan kesiapan klien sebelum kegiatan dilakukan d.1. GCS dipakai untuk menentukan derajat cidera kepala. makan dikatakan seseorang mengalami cidera kepala. hipotermia. alkohol. pasien diperiksa kesadarannya apakah baik (alertness). stroke. Tahap Kerja e. penyakit metabolic seperti diabetes mellitus (koma ketoasidosis) . 1. epilepsi. yaitu skala ACDU. bingung / kacau (confusion). mudah tertidur (drowsiness). Metoda lain adalah menggunakan sistem AVPU. respon verbal. tomor otak). atau pasien tidak sadar sehingga tidak berespon baik verbal maupun diberi rangsang nyeri (unresponsive). infeksi (encephalitis). Memberikan salam sebagai pendekatan terapeutik b. Tahap Pra Interaksi a. Ada metoda lain yang lebih sederhana dan lebih mudah dari GCS dengan hasil yang kurang lebih sama akuratnya. alkalosis. peningkatan tekanan intrakranial (karena perdarahan. dan motorik diukur dan hasil pengukuran dijumlahkan jika kurang dari 13. 1. Mengatur posisi pasien: supinasi 10 . asidosis. berespon dengan kata-kata (verbal). dehidrasi.

5. bicara dan motorik. 3. Spontan Terhadap stimulus verbal Terhadap stimulus nyeri Tidak ada respon Verbal Orientasi waktu. (apakah pasien dalam kondisi koma atau tidak) dengan menilai respon pasien terhadap rangsangan yang diberikan. Menilai hasil pemeriksaan 3. GCS (Glasgow Coma Scale) h. bila mungkin g. Membereskan alat-alat d. Total pengkajian bernilai 15. Berpamitan dengan klien c. Memeriksa reflex motorik dengan benar k. 2. respon motorik dan respon verbal. Menempatkan diri di sebelah kanan pasien. 1. tempat. 4.8 Prosedur Pemeriksaan GCS GCS (Glasgow Coma Scale) yaitu skala yang digunakan untuk menilai tingkat kesadaran pasien. 4. Hasil pemeriksaan dinyatakan dalam derajat (score) dengan rentang angka 1 – 6 tergantung responnya. Memeriksa reflex verbal dengan benar j. Mencuci tangan e. kondisi koma apabila bernilai kurang dari 7 Kriteria Eye 1. Melakukan evaluasi tindakan b. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan perawatan 1. Tahap Terminasi a.f. 2. rea pengkajian meliputi : respon mata. Pengkajian tingkat kesadaran dengan menggunakan GCS. Memeriksa reflex membuka mata dengan benar i. dan orang baik Berbicara dengan bingung Berkata-kata dengan tidak jelas Bergumam Tidak ada respon Motorik Nilai 4 3 2 1 5 4 3 2 1 11 . Respon pasien yang perlu diperhatikan mencakup 3 hal yaitu reaksi membuka mata. 3.

2. fleksi pergelangan tangan dan tinju mengepal 6. ekstensi lengan bawah. bahu abduksi dan Rotasi interna. bahu abduksi dan Rotasi interna. fleksi pergelangan Tangan dan tinju mengepal 5. 4. 3.1. Mengikuti perintah Dapat melokalisasi nyeri Fleksi (menarik) Postur dekortikasi. Postur deserabrasi. Tidak berespon 6 5 4 3 2 1 12 .

Menimbulkan hemoraghi dari hidung. Fraktur os calvaria berbentuk garis (linier): impresi dan non impresi 2. Sel-sel cerebral membutuhkan suplai darah terus menerus untuk regenerasi. tengkorak dan otak. avulsi.3 Fraktur Tulang Tengkorak Tulang tengkorak terdiri dari Os calvaria dan Os basis cranii. laserasi. Waspada pemasangan NGT. Fraktur terbuka : mengakibatkan kerusakan duramater. 2. dan hemoragi otak. Cedera trauma dapat disebabkan: 13 otak akibat . Fraktur basis cranii : fraktur di sinus paranasalis pada Tulang frontal dan atau lokasi tengah telinga di Tulang temporal.2 Cedera Kepala Yaitu trauma yang meliputi kulit kepala. Otak tidak dapat menyimpan nutrisi (Glukosa dan O2). faring atau telinga dan perdarahan dibawah konjungtiva. Fraktur basis cranii dicurigai saat CSS keluar dari telinga ( otorea cerebrospinalis) dan hidung (rhinorea cerebrospinalis) 2. Cedera otak dapat terjadi setelah mengalami trauma yang menimbulkan kontusio. Trauma akan menyebabkan abrasi. laserasi. tutup luka.4 Cedera Otak Cedera minor dapat menyebabkan kerusaan bermakna. penderita tidak sadar (obstruksi jalan nafas). cedera otak serius dapat terjadi dengan atau tanpa fraktur tengkorak.BAB 2 KEPERAWATAN KLIEN DENGAN KEGAWATAN SISTEM PERSYARAFAN 2. Bila mengalami trauma kecil saja akan mengeluarkan darah. dapat terjadi dengan atau tanpa kerusakan otak 1. kontusio. Kerusakan otak bersifat ireversibel. keluarkan benda asing. heacting. Fraktur Tulang tengkorak adalah rusaknya kontinuitas Tulang tengkorak diseb oleh trauma. mengakibatkan penyakit neurologik yang serius 2. harus lgsg dilakukan pembedahan 3.1 Cedera Kulit Kepala Kulit kepala mengandung banyak vaskularisasi/pembuluh darah. Penanganan: irigasi.

kelemahan salah satu sisi tubuh. memiliki prognosis yang lebih buruk.6 Kontusio Cerebri Merupakan cedera kepala berat dimana otak mengalami memar bahkan dimungkinkan terjadi hemoraghi. peningkatan TIK. Pengaruh CO2 sangat penting pada trauma capitis. fungsi motorik abnormal. Jika trauma melibatkan lobus frontal dan temporal pasien akan menunjukkan perilaku irasional yang aneh. pemulihan lambat 14 . kulit dingin dan pucat. meliputi periode tidak sadarkan diri selama beberapa detik-menit atau komplet sewaktu (< 15 menit). Intervensi: beri penjelasan. kembali ke RS 2. ansietas (sindroma pasca komosio) 2. sering tdapat defekasi dan miksi tanpa disadari. peka rangsang. Hipovolemia : aliran darah ke otak berkurang. muntah. sukar bicara. laserasi cerebri. lakukan aktivitas fisik dengan lmbt 3. amnesia atau disorientasi 1. Kehilangan kesadaran lebih lama. Umumnya mengalami cedera luas. Sukar bangun. Observasi adanya sakit kepala. yang dapat menyebabkan iskemik otak bahkan infark otak b. CO2 dapat menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah otak. Tanda gejala: penurunan kesadaran. iskemia dan infark sebaliknya jika CO 2 menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah otak. pernapasan dangkal. dikenal dengan DAI (difuse axonal injury). Keluarga dianjurkan untuk mengobservasi adanya.5 Komosio Cerebri Komosio cerebri setelah cedera kepala adalah hilangnya fungsi neurologik sementara tanpa kerusakan struktur. nadi lemah. Cedera tidak langsung (sekunder) Cedera sekunder dapat disebabkan oleh: a. informasi dan dukungan sehingga dapat mengurangi syndroma pasca komosio. sakit kepala berat.1. Hiperkarbia dan hipokarbia. pusing. Hipoksia c. perdarahan karena terputisnya pembuluh darah 2. Cedera langsung (primer): kontusio cerebri. yang akan menyebabkan edema cerebri Normal kadar CO2 darah pada trauma capitis 26-32mmHg 2. konfusi.

dilakukan dengan penilaian GCS. d. Airway dan breathing.2. Anisokor . Gangguan kesadaran b. perbaiki hipovolemia. Epidural hematom (perdarahan terletak diantara tengkorak dan duramater) b. Gangguan kesadaran dalam dan menetap 2. Disability. Gangguan pergerakan k. Kejang otot 3. traksi ringan pada kepala dengan neck collar/colar cervical b. 2. pupil dan tanda lateralisasi. Klasifikasi : a. Disfungsi sensori g. Tanda lateralisasi n. hipoksia dan hiperkarbia. Syok hipovolumik m. Manifestasi klinis a.patau ketat terhadap PTIK (oksigenasi adekuat.7 Hemoragi Intrakranial (Perdarahan di Dalam Otak) 1. pemberian manitol untuk mengurangi edema cerebral dan dehidrasi osmotik. Semua trauma capitis dapat menyebabkan gangguan ventilasi. Kejang l. Vertigo j. Motorik lateralisasi 4. Abnormalitas pupil d. Reflek pathologis unilateral 15 h. Defisit neurologik e. Sakit kepala i. Kontrol hemorhagi. Intracerebral hematom (perdarahan didalam jaringan otak) 2. Penatalaksanaan a. Cedera kepala pasti menyebabkan gangguan perfusi darah ke otak. Perub tanda vital f. Selalu waspada terhadap adanya fraktur cervical. Subdural hematom (perdarahan diantara duramater dan dasar otak) c. Semua terapi adalah untukmempertahankan homeostasis otak dan mencegah kerusakan otak sekunder. c. Circulation.1 Gangguan Kesadaran Neurologis 1.8 Penurunan tingkat kesadaran 2. Gerakan bola mata fixed 3.8. Penurunan GCS > 1sgera konsultasi Dr SpBs. Konfusi c. peningkatan kepala tt).

Cyto lab  gula darah. Berikan tiamin 100 mg iv. Gangguan kesadaran delirium dan berubah(-)ubah 2. b. Gerakan bola mata bergerak terus 3. Tidurkan pasien dengan posisi lateral dekubitus dengan leher sedikit ekstensi bila tidak ada kontraindikasi seperti fraktur servikal dan tekanan intrakranial yang meningkat. c. Pasang mag slang 2. Umum a. lakukan bilas lambung jika diduga ada intoksikasi. pengobatan dilakukan bersamaan dalam saat pemeriksaan.8. Perjalanan penyakit perlahan(-)lahan 2. pasang infus sesuai dengan kebutuhan bersamaan dengan sampel darah. keluarkan isi cairan lambung untuk mencegah aspirasi. berikan destrosan 100 mg/kgbb. Pasang monitoring jantung jika tersedia bersamaan dengan melakukan elektrokardiogram (EKG). Pengobatan meliputi dua komponen utama yaitu umum dan khusus. Posisi trendelenburg baik sekali untuk mengeluarkan cairan trakeobronkhial. Lakukan imobilisasi jika diduga ada trauma servikal. d.4 Tatalaksana Penurunan Kesadaran Prinsip pengobatan kesadaran dilakukan dengan cepat. Pasang nasogastric tube. N. e. ginjal paru dan febris 3. Perhatikan T. kreatinin 4.5.8. 16 . Perjalanan penyakit mendadak 2. Riwayat penyakit dahulu seperti DM. Reflek pathologis bilateral 5. Pasang infus 5. ureum (–).8. 1. keluarkan gigi palsu jika ada. RR 2. Jika dicurigai adanya overdosis opium/ morfin. pastikan jalan nafas lapang. Motorik simetris 4. tepat dan akurat.2 Gangguan Kesadaran Non Neurologis 1. lakukan suction di daerah nasofaring jika diduga ada cairan. Pasang kateter 6.3 Yang perlu diperhatikan gangguan kesadaran 1.

2. hipomagnesemia f. 25-0. Ketidakseimbangan elektrolit seperti hipoglikemi. Epilepsi Jaringan parut/scar (sekunder akibat stroke sebelumnya atau trauma kepala) c.9 Kejang / Seizures 2. 5 gr/kgbb atau 25 gr setiap 6 jam. Khusus a. Tanya riwayat medikasi bila pasien telah diketahui memiliki epilepsy 17 . 3) Edema serebri karena tumor atau abses dapat diberikan deksametason 10 mg iv lanjutkan 4-6 mg setiap 6 jam. Jika LP positif adanya perdarahan terapi sesuai dengan pengobatan perdarahan subarakhnoid. torsades de pointes) h. b.berikan nalokson 0. Jika LP positif adanya infeksi berikan antibiotik yang sesuai. Selama 10-20 menit kemudian dilanjutkan 0. Riwayat yang didapat dari saksi sangat penting untuk diagnosa 3. Pada herniasi 1) Pasang ventilator lakukan hiperventilasi dengan target PCO2: 25. 4) Jika pada CT scan kepala ditemukan adanya CT yang operabel seperti epidural hematom. lanjutkan dengan pemeriksaan pungsi lumbal (LP). Obat-obatan atau alcohol g. konsul bedah saraf untuk operasi dekompresi. Kejang demam (pada anak kecil usia 6 bulan sampai 5 tahun) 2.1 Caveats 1. 01 mg/kgbb setiap 5-10 menit sampai kesadaran pulih (maksimal 2 mg). 2. hipokalemi.9.30 mmHg. Pengobatan khusus tanpa herniasi 1) Ulang pemeriksaan neurologi yang lebih teliti. 2) Jika pada CT scan tak ditemukan kelainan. Penyebab umum kejang : a. 2) Berikan manitol 20% dengan dosis 1-2 gr/ kgbb atau 100 gr iv. Tumor otak (primer atau sekunder) e. Meningitis atau ensefalitis d. Epilepsi idiopatik b. Convulsive syncope karena disritmia jantung (ventricular fibrilasi/takikardi.

9. Penempatan : Observasi di ED selama 2-3 jam. a. 4) Jika dosis maksimum telah tercapai. dan tidak ada abnormalitas pada hasil laboratorium. Isolated Seizure pada sebuah keadaan Epileptik a. KRS bila sudah tidak ada kejang. Jika pasien baik. ion kalsium.2. magnesium 3) Penempatan : a) Meningitis b) Ensefalitis c) Abses serebral d) Subarachnoid hemorrhage b. 3) Jika keadaan pasien telah compliance terhadap obat. Ambil darah untuk mengetahui kadar antikonvulsan 1) Jika rendah. b) Tidak perlu untuk memulai pemberian antiepilepsi 18 . 2. Rujuk ke klinik neurology. KRS-kan pasien untuk control ke poli neurology. magnesium 3) EKG pada pasien tua untuk mencari tanda iskemik atau disritmia 4) Pertimbangkan foto polos kepala jika terdapat riwayat trauma 5) Penempatan : a) Observasi pada ED selama 2-3 jam. ion kalsium. Kejang pertama pada pasien yang tidak diketahui memiliki riwayat epilepsy Catatan : kejang dengan tidak adanya pulsasi utama harus diasumsikan disebabkan karena ventricular fibrilasi sampai terbukti bukan.2 Manajemen 1. b. Dengan demam 1) Periksa GDA 2) Lab: FBC/urea/elektrolit/kreatinin. maka konsul neurologist untuk pemeberian antikonvulsan yang lain. maka tingkatkan dosis jika dosis maksimum belum tercapai. berikan obat dengan dosis dua kali lipat 2) Jika pasien ‘non-compliance. maka buat keadaan menjadi ‘compliance’. Tanpa demam : eksklusi penyebab yang mungkin: 1) Cek GDA 2) Lab : urea/elektrolit/kreatinin.

c) Peringatkan pasien agar tidak mengemudi. shunts.v adalah perlahanlahan dalam 2-3 menit dan apabila sebelum obat habis penderita sudah sadar kembali maka suntikan dihentikan. 2) Antara kedua rahang diletakkan karet agar lidah jangan tergigit.5 mg/kg BB.m. minimal 2. 3. contoh : factor resiko positif untuk abnormalitas intra cranial seperti trauma. dilakukan suntikan ketiga dengan dosis yang sama i.m. Karena masa kerja diazepam singkat. 3) Baju yang ketat harus dilonggarkan 4) Penderita ditempatkan sedemikian agar jangan terjadi cedera. bisa bersifat umum atau fokal. berenang atau kegiatan memanjat. Status epileptikus Didefinisikan sebagai kejang ≥ 2 kali tanpa pemulihan kesadaran diantara serangan atau kejang yang terus-menerus ≥ 30 menit.v.5 mg Berat badan 10 – 20 kg : 0. alkoholisme. 19 .5 mg Berat badan lebih dari 20 kg : 0. mengendarai sepeda. minimal 7. malignansi. Status epileptikus merupakan keadaan darurat dan memerlukan tindakan segera sebab bila berlangsung lama akan menyebabkan kerusakan neuron dan dapat berakibat kematian. maka perlu diberi obat anti konvulsan lain. Bila dalam 20 menit setelah suntikan kedua masih kejang. Membrantas kejang secepatnya 1) Diberi diazepam (valium) i. HIV positif. atau (4) pasien atau keluarga pasien memaksa untuk dirawat. Status epileptikus ialah suatu bangkitan kejang yang berlangsung cukup lama atau berulang dengan antara cukup pendek.75mg/kg BB. b. Penatalaksanaan pada anak-anak a.5 – 0.5 mg/kg BB. CVA lama. (3) pasien tidak bisa melakukan control untuk follow up. penyuntikan diazepam i. d) MRS jika (1) penyebab ditemukan. Perawatan 1) Jalan nafas harus dijaga supaya tetap bebas. misalnya fenobarbital (Luminal) i. (2) ada abnormalitas neurologik. perlahan-lahan dengan dosis: Berat badan sampai 10 kg : 0. minum alcohol. tanpa diselingi keadaan sadar.

2) Terhadap infeksi diberi antibiotik yang sesuai.v dengan dosis 3 mg dan diatas 1 tahun diberi 50 mg. Sebaiknya dengan monitoring dari elektrolit darah. misalnya dexametason ½ . sedikitnya selama masih ada kenaikan suhu. Penatalaksanaan pada orang dewasa : Prinsip penatalaksaan adalah sama pada anak. Pengobatan tambahan 1) Terhadap penderita dengan kesadaran menurun. atau difenilhidantoin dengan dosis 5-10mg/kg/BB/hari i. sebaiknya glukokortikoid.m atau i.m. d. Obatobatan untuk hibernasi ialah prometazin 4-6 mg/kg BB/hari. hanya ada perbedaan dosis obat. oral.v dengan dosis 5 mg/kg BB atau dibawah 1 tahun diberi 50mg dan diatas 1 tahun diberi 75 mg. Pemberian obat antikonvulsan secara suntikan sampai keadaan anak membaik dan anak bisa makan per oral.1 ampul setiap 6 jam sampai keadaan membaik. yaitu : Neonatus 1 bulan-1 tahun Diatas 1 tahun : 30 mg : 50 mg : 75 mg Selanjutnya fenobarbital diberikan sebagai dosis penunjang yaitu untuk hari pertama dan kedua 8-10 mg / BB/tamhari yang terbagi dalam 2 dosis. Diazepam diberikan 10-20 mg i. bila dalam 15 menit setelah pemberian tersebut kejang tidak dapat berhenti dapat diulang lagi i.Fenobarbital diberikan langsung setelah kejang berhenti i. perlahan-lahan. Bila kejang masih timbul. Kortison dapat juga diberikan dengan dosis 20-30 mg/kg/BB/hari yang terbagi dalam 3 dosis. Pengobatan penunjang diteruskan. 2) Bila tidak ada diazepam dapat diberikan fenobarbitali. diberikan cairan intravena yaitu 2A-KCl dalam kebutuhan penunjang sesuai dengan prinsip-prinsip rehidrasi.. dosis tersebut dapat diulang sampai 3 kali setelah 30-60 menit suntikan 20 .m/i.m. c.m / i.v. 4) Bila suhu meninggi dilakukan hibernasi dengan kompres es atau alkohol.v. 3) Untuk mencegah terjadinya odem otak diberikan kortikostreroid./oral. Harus diperhatikan apakah ada depresi dari fungsi vital. dengan dosis awal. yaitu : a. Pengobatan penunjang Fenobarbital dengan dosis 3-5 mg/kg BB/hari i.

10 Stroke 2. RR b. Penatalaksanaan a. atau perinfus sebagai LyticCoctail (50mg Largactil 75mg pethidin dan 40mg phenergan) dalam larutan glukosa 5% sebanyak 500cc. Kejang (–) e. 45 %) 15 tetes/menit c. Na Cl 0. 2. Bila tidak ada diazepam.m i. Tekanan darah meningkat/ menurun/ normal g. Nicholin 2 x 250 mg iv d. Perhatikan T. gagal jantung g.v. Tekanan darah sistole > 200 mm Hg baru bisa diturunkan sampai sistole 180 – 200 mm Hg f. awas kontra indikasi pemberian manitol yaitu gangguan fungsi ginjal.sebelumnya.. Cara Pemberian Manitol 20 % 1) Diguyur 200 cc  stop tunggu 6 jam 2) Diguyur 150 cc  stop tunggu 6 jam 3) Diguyur 150 cc  stop tunggu 6 jam 4) Diguyur 200 cc  stop tunggu 6 jam dan seterusnya 21 . N. Trental drips 2 x 300 mg  30 tetes/ menit e. Infus larutan 2 A (dekstrosa 2.10. 5 % . Muntah (–) d.m. b. Sakit kepala (–) c. Tanda dan gejala a. Untuk hibernasi diberi klorpromazin (Largactil) dengan dosis 50-100 mg i. dapat diberikan dapat diberikan fenobarbital i. Aktivitas pasif 2. Lateralisasi (+) h. Bila ada tanda/ gejala herniasi otak berikan manitol 20 %. Gangguan kesadaran (-)/ sedikit menurun b. Kaku kuduk (–) f. sebanyak 100mg dan dapat diulang 2-3 kali.1 Infark cerebri 1.

Lateraliasi (–) h. Infus larutan 2 A 15 tetes/ menit c. Kejang (+) e. Bila ada tanda dan gejala herniasi otak berikan manitol 20 % 2. RR b. Tekanan darah meningkat/ menurun/ normal g. Mefenamic acid 3 x 500 mg peros d. Tanda dan gejala a. Tekanan darah normal g. Aktivitas aktif 2. Sakit kepala (+) c. Kaku kuduk (+) f. Lasik 1x1 ampul iv d. Muntah (+) d.2. Penatalaksanaan a. Kejang (+) e. Nimotop drip b. Perhatikan T. Cyclocapron 3 x 500 mg iv f. Codein 2 x 20 mg peros 22 . Lateralisasi h. N. 5 cc/ jam g. Vitamin K 1 x 2 ampul im e. Tanda dan gejala a. Penatalaksanaan a.10. Gangguan kesadaran (+) b. Kaku kuduk (+) f. Aktivitas aktif 2. Muntah (+)/(-) d. Cyclocapron 3 x 500 mg iv c.3 Perdarahan Sub Arachnoid 1.2 Perdarahan Intraserebral 1. Sakit kepala (+) c. Nimotop drips dengan nimotop pump 2.10. Gangguan kesadaran (+) b.

11 Akut Polineuropathy (Gulian Bare Syndrome) Adalah tetraparese flaksid / LMN (lower motor neuron) . Perhatikan komplikasi yang fatal yaitu : takikardi dengan denyut nadi lebih 120 kali/ menit. perut papan. Berdasarkan gejala klinik tersebut. misalnya luka tusuk.1 Definisi 23 . Kekakuan otot skelet dapat berupa trismus. Stadium yang tinggi 2. otitis media akut. Paralise otot pernafasan  pasang respirator 2. patah tulang terbuka. Takikardi  inderal 2 x 10 mg 6. luka tali pusat. yaitu : 2. Laxadin 3 x c 2. Kenaikan suhu yang tinggi 5. tetanus dibagi menjadi beberapa stadium. Alinamin F 1x 1 ampul 5. Usia neonatus dan usia lanjut 4. dekompensasi jantung. 2. Didahului infeksi viral 1(-)2 hari 2.12 Tetanus Tetanus merupakan penyakit akut yang disebabkan oleh eksotoksin kuman clostridium tetani yang sifatnya neurotropik. pneumoni. kaku kuduk. Setiap defek tubuh yang dapat menimbulkan keadaan anerobik akan menjadi tempat masuknya kuman. miokarditis. Kalmethason 4 x 1 ampul IV 4.2 Gejala Dan Tanda Gejala khas yaitu kejang tanpa disertai penurunan kesadaran dan kekakuan otot skelet. Pengobatan yang lambat 6.12. Adanya komplikasi : status konvulsivus. Masa tunas yang pendek 3.e. paralise otot pernafasan 3. Faktor-faktor yang memperburuk prognosa ialah : 1. Sensorik subyektif rasa baal (Kurang merasa/ rasa tebal/ numbness) pada tangan dan kaki 1. opistotonus. Terdapat kejang rangsang maupun kejang spontan yang sifatnya tonik dan umum. risus sardonikus.12. luka bakar.

24 .3 Penatalaksanaan 1. maka cara besredka tidak perlu diulang.1 ml serum dalam 1 ml cairan garam fisiologik secara subkutan. d. Stadium I 2. f. b. Bila perlu berikan oksigen. penyuntikan serum harus menurut cara Besredka.m. Tunggu ½ jam. Eye test : 1 tetes cairan serum diatas diteteskan pada mata. Stadium I 2. Pengobatan a. Stadium II 3. Jadi bila hari berikutnya setelah penyuntikan diatas masih juga dibutuhkan. tempatkan karet atau tongue spatel yang dibungkus kasa diantara kedua rahang untuk mencegah tergigitnya lidah. Stadium IV: kejang spontan 2. Tunggu 15 menit. Cara Besredka berarti desensitisasi yang bertahan 2-3 minggu. Kemudian sisa serum disuntikkan secara i. Pemberian makanan disesuaikan dengan hebatnya trismus. c. Perawatan a. kemudian dibersihkan larutan H2O2 dan kompres juga dengan H2O2 2. Posisi kepala sebaiknya miring untuk menghindari aspirasi c. Bila penderita kejang-kejang terus. pernafasan buatan atau trakeostomi. Skin test : suntikan 0. Stadium II : trismus (3cm) tanpa adanya kejang rangsang ataupun kejang spontan : trismus (3cm lebih) dengan kejang tonik umum bila dirangsang : trismus dengan kejang tonik umum spontan : trismus : opistotonus Pada orang dewasa : 3. b. Tunggu 15 menit. Bila skin dan / atau eye test positif. Reaksi positif bila terjadi infiltrat dengan diameter lebih dari 10 mm. Isolasi pada ruang tenang dengan mengurangi sebanyak mungkin rangsang cahaya. yaitu 0. Reaksi positif bila mata menjadi merah dan bengkak.Pada anak-anak : 1. Pada luka dilakukan eksisi dengan anastesi local. e. suara dan tindakan. Bila perlu pemberian sonde atau perinfus. Stadium III 1. Hati-hati pada pemberian personde karena dapat merupakan rangsangan timbulnya kejang. d. Stadium III: kejang rangsang 4.12.1ml cairan serum 1/10 intrakutan.

13. Gangguan motorik berupa kelumpuhan perifer satu atau kedua tungkai. dan selanjutnya untuk tiap sesi di korpus vertebra dibawahnya diberi tambahan beban 2 kg. sebab dapat memperberat trauma pada sumsum tulang belakang.1 Daerah servikal keadaan dimana kepala tiba-tiba bergerak ke belakang. diusahakan agar tidak banyak dilakukan gerakan. 2. 2.3 Daerah Lumbosakral Fraktur di daerah lumbosakral biasanya terjadi akibat jatuh dari tempat yang tinggi. Foto Ro daerah servikal dibuat antero posterior dan lateral. Penatalaksanaan dengan istirahat ditempat tidur dalam sikap hiperekstensi selama +/. dipasang gipskraag atau kerah kapur tahu untuk fiksasi. Usahakan supaya kepala tidak berputar dan dipertahankan dalam posisi lurus terhadap tulang belakang atau lebih baik penderita dibaringkan telungkup diusungan. pengobatan untuk mengurangi edem dengan menggunakan kortikosteroid. Penderita dibaringkan pada alas yang datar dan keras. Terhadap fraktur yang perlu reposisi. Timbul nyeri di daerah tengkuk. 2. Penatalaksanaan : 1.13. Gejala dan tanda dapat timbul paraplegia. Pada kerusakan cauda equina dijumpai gejala-gejala kerusakan saraf spinal segmen lumbal I ke bawah. 3.2 Daerah Torakal Fraktur di daerah torakal biasanya terjadi dalam sikap penderita membungkuk kedepan sehingga bagian vetebra kopus vertebra diatas dan dibawahnya. 4. 25 . Pada saat mengangkat atau memindahkan penderita. terhadap fraktur yang tidak memerlukan reposisi. Gejala dan Tanda : 1. kenudian fleksi ke depan ataupun sebaliknya.13. dilakukan traksi pada kepala mulai dengan beban 5kg bila lesi pada atas. foto lateral untuk melihat adanya kompresi korpus vertebra. Hal serupa dilakukan pula pada saat dibuat foto Ro. yaitu kelumpuhan kedua tungkai.13 Fraktur Dan Dislokasi Tulang Belakang Ttrauma di daerah servikal biasanya merupakan trauma ekstensi-fleksi yaitu 2.8 minggu. 2. Dapat disertai tatraplegi yaitu kelumpuhan keempat anggota gerak.2.

Jika terdapat fraktur di daerah lumbal dipasang korset gips. mungkin pula terdapat gangguan ereksi penis. Gejala-gejala pada tungkai biasanya tidak setangkup. 26 . Timbul vesika urinaria otonom (outonomik bladder) yaitu keadaan dimana urine menetes keluar tetapi tidak dapat keluar secara keseluruhan. Pada kerusakan konus medularis dijumpai gejala-gejala kerusakan segmen sacral kebawah. Penatalaksanaan dengan berbaring lurus di tempat tidur yang datar.Gangguan sensorik berupa daerah hipestesi atau anastesi sesuai dengan distribusi saraf yang terganggu. Juga terdapat anastesi di daerah sekitar anus dan paha bagian dalam.

Untuk memahami patofisiologi peninggian tekanan intrakranial.1. akan terjadi pergeseran jaringan otak besar kedalam hiatus ini hingga akan menekan batang otak yang merupakan pusat dari fungsi vital. Terdapat satu lubang utama yaitu foramen magnum. hingga bila terjadi peingkatan tekanan intrakranial jaringan otak akan mencari jalan keluar melalui lubang ini. Didalamnya berisi jaringan otak. Peninggian tekanan intrakranial menyebabkan iskemia otak dan sebaliknya. sehingga apabila terjadi peninggian tekanan intrakranial pada daerah otak besar. Volumenya sekitar 100-150 ml. cairan serebrospinal serta darah yang masing-masing tidak dapat diperas.BAB 3 KEPERAWATAN KLIEN DENGAN KEGAWATANDARURATAN BEDAH SISTEM SARAF PUSAT 3.1 Pengertian Peninggian tekanan intrakranial merupakan penyebab kematian tersering pasien bedah saraf. hingga setiap penambahan massa didalamnya akan berakibat peningkatan tekanan intrakranial bila kemampuan kompensasi sudah terlampaui. Arteriola sangat reaktif terhadap perubahan CO2 dimana setiap peninggian 1 mmHg PCO2 berakibat peningkatan aliran darah sebesar 2-4% yang berakibat bertambahnya 27 . Volume darah otak : Paling labil disaat peninggian tekanan intrakranial.2 Patofisiologi Kranium merupakan kompartemen yang kaku kecuali pada bayi. 3. Produksinya (sekitar 500 ml sehari) sebanding dengan resorbsinya. 2. Iskemia otak bisa juga sebagai kelainan primer seperti pada pada trombosis pembuluh darah otak. Volume bertambah pada dilatasi arteria atau pada obstruksi vena. Pada hipotermia terjadi vasokonstriksi hingga menurunkan tekanan intrakranial. Produksinya berkurang pada peninggian tekanan intrakranial. Sirkulasi cairan serebrospinal : CSS bersirkulasi pada sistema ventrikel dan ruang subarakhnoid.1 Peninggian Tekanan Intrakranial dan Iskemi Otak 3. Volumenya sekitar 100 ml dan 70% merupakan darah vena. harus difahami perubahan yang terjadi pada : 1.1. Disamping itu pada tentorium yang memisahkan otak besar dan otak kecil terdapat lubang yang disebut hiatus yang mana disana terletak batang otak.

1400 gram. Sawar darah otak : Berbeda dengan kapiler dibagian lain tubuh. TIK normal sekitar 10 mmHg (130 mmH2O) dan dikatakan meningkat bila > 20 mmHg. Akibat lain 28 . 2. Disamping itu adanya massa pada satu bagian otak akan berakibat bergesernya daerah tsb. Volume otak : Berat otak sekitar 2% berat badan. Dengan sendirinya bila aliran darah terganggu.volume darah otak. Na / K / air memerlukan ATP-ase untuk bisa menembus kapiler. Sawar ini dapat dirusak atau dibuka secara mekanik dan oleh zat-zat hipertonik. sedangkan zat yang larut air sangat terbatas. maka akan terjadi peninggian tekanan intrakranial kecuali bila pada saat yang bersamaan terjadi reduksi sejumlah yang sama dari komponen lainnya. kearah jaringan yang tekanannya lebih rendah dengan segala akibat yang ditimbulkannya seperti penekanan jaringan tertentu atau putusnya pembuluh darah. 4. 5. darah + V. CSS + V. Untuk memahami patologi peninggian tekanan intrakranial harus difahami : 1. Hubungan Volume dan tekanan otak : Bila salah satu komponen dalam rongga tengkorak bertambah volumenya. 3. Asam amino dan gula memerlukan zat pembawa untuk bisa melewati kapiler. massa = Konstan (TIK normal). dan 70-80% merupakan air. Hubungan TIK dengan aliran darah otak : Adanya daerah dengan TIK tinggi akibat adanya massa akan menyebabkan penekanan terhadap arteri atau vena hingga akan merusak daerah yang bersangkutan. Hubungan TIK dengan kegagalan fungsi otak : TIK akan mempengaruhi aliran darah keotak. dan meningkat berat bila > 40 mmHg. dimana zat larut lemak lebih bebas melalui kapiler. 3. Auto regulasi : Gunanya mempertahankan aliran darah otak konstan bila sistol diantara 50-160 mmHg (pada orang yang normotensif). Doktrin Monro-Kellie : Pada tahap terkompensasi : V. kapiler dijaringan otak sangat selektif dalam pertukaran zat dan cairan. otak + V. fungsi otakpun akan terganggu. 4. Karenanya keadaan hipertensi dan syok harus dicegah. Sebaliknya aliran darah akan bertambah pada pengurangan PaO 2 (<50 mmHg).

tekanan sinus sagittal dan tahanan serebrovaskuler. Edema papil tidak dijumpai pada usia ekstrim sangat muda atau sangat tua. Tonsiler. Akumulasi air menyebabkan tahanan serebrovaskuler meningkat dengan akibat penurunan aliran darah otak regional. Ingat bahwa jaringan otak yang hanya 2% dari berat tubuh mengambil 15% dari curah jantung dan 20% dari kebutuhan gula tubuh. 3. 7. 5.adalah peregangan atau perobekan arteria atau vena batang otak yang berakibat mematikan. nyeri kepala dan muntah. Hubungan perbedaan tekanan dengan herniasi : Dalam keadaan normal. Transtentorial lateral. Hubungan TIK dengan pergeseran / herniasi otak : a. dengan gejala midriasis pupil ipsilateral. dengan gejala serupa dengan yang lateral. Transtentorial sentral. Subfalsin. stimulasi metabolik serta adanya distorsi atau kompresi pembuluh darah oleh massa atau herniasi jaringan otak. hemiparesis kontra lateral dan gangguan lapang pandang. Biasanya tahap akhir dari proses pada otak besar atau karena adanya massa pada otak kecil d.3 Gambaran klinis Trias edema papil. tapi bilateral disertai gangguan melirik keatas dan ptosis bilateral.1. c. Edema otak : Iskemia menyebabkan terjadinya edema otak. Efek massanya sendiri berakibat penambahan distorsi atau pergeseran jaringan. Sebaliknya edema otak menyebabkan iskemia. Bila ada bagian yang tersumbat. TIK. b. Jarang berdiri sendiri. akan terjadi perbedaan tekanan antar kompartemen sehingga terjadi herniasi. 8. dengan gejala kelumpuhan ekstremitas kontralateral. sedang sisanya hanya memiliki 2 gejala. Gangguan pada aliran darah tentu akan mempengaruhi tingkat perfusi jaringan otak. Total aliran darah otak adalah konstan 40 ml/100 gr jaringan otak dan tergantung tekanan arterial sistemik. autoregulasi. Ketiga hal ini hanya dijumpai pada 2/3 penderita. CSS bebas sehingga tekanan ekual pada semua tempat. dengan gejala gangguan respirasi mendahului penurunan kesadaran. 6. 29 . Hubungan aliran darah dan metabolisme otak : Aliran darah otak tergantung tekanan darah arterial sistemik.

normotermia serta pembunuh nyeri. abses dll. 3. 30 . Steroid tidak diberikan pada trauma kecuali mungkin metil prednisolon yang masih dalam penelitian. Terjadi pada pagi hari. Barbiturat diberikan untuk mengurangi tingkat metabolisme jaringan otak hingga secara tidak langsung mengurangi aliran darah otak hingga tekanan intrakranial berkurang. mencegah konstriksi leher. peningkatan volume darah otak. Efeknya akan berakhir dalam 8-20 jam.1. 3. Berikan oksigen atau respirator bila ada indikasi. diberikan bersama dengan furosemid. Gangguan kesadaran dinilai dengan GCS. hipertensi dan gangguan respirasi. Pada fase akut cedera kepala dan stroke. Muntah merupakan gejala yang timbul lambat kecuali pada anak-anak dengan tumor sekitar pusat saraf vagus.4 Pengendalian TIK yang tinggi Bila dilakukan dini. Jaga tekanan darah normotensif kecuali pada kasus hipertensi jangan tergesa-gesa menurunkan tekanan darah. Bila diberikan setelah manitol akan memperbaiki sodium serum dan volume darah.). Manitol 20% hanya diberikan dalam usaha mengulur waktu saat mempersiapkan tindakan operasi. dapat mencegah peninggian tekanan intrakranial yang tidak terkontrol pada peninggian tekanan intrakranial sedang.1. Tindakan primer bila telah atau akan terjadi peninggian tekanan intrakranial adalah dengan meninggikan kepala 20-30° dengan mencegah teganggunya perfusi.5 Pengelolaan TIK tinggi Mulai bila simptomatik atau bila TIK 25 mmHg. Gejala lain yang khas adalah bradikardia. Hiperventilasi dengan menjaga PCO2 tidak kurang dari 25 mmHg. Tindakan aktif bila diperkirakan adanya lessi massa (perdarahan. tumor. Hindari tindakan yang meninggikan TIK dan gunakan barbiturat aksi pendek secara berulang bila akan melakukan tindakan yang akan meninggikan TIK. mengurangi tekanan intrakranial tanpa diuresis. harus dianggap peninggian tekanan intrakranial sampai terbukti tidak. edema otak serta bertambahnya CSS. Drainase CSS dilakukan pada daerah yang tidak dengan ancaman pergeseran garis tengah.Nyeri kepala sifatnya tumpul dan tidak terlalu parah dan diperberat oleh kegiatan yang meninggikan TIK. 5 mmol/ml. disamping efek vasokonstriksinya yang juga akan mengurangi volume darah otak sehingga tekanan intrakranial juga berkurang. Periksa jalan nafas dan posisi kepala. Juga terjadi saat bangun tidur pagi. Hati-hati efek hipotensi dan gagal nafas yang bisa ditimbulkannya. Salin hioertonik.

3. PO2 : Pertahankan > 80 mmHg. 5. Cegah / atasi peninggian TIK : a. Bersihkan jalan nafas. Kontrol cairan : NaCl 0. manitol dan furosemid saat mempersiapkan operasi. PaCO2 : 26 . Ukuran. c. periksa gas darah arterial dan pikirkan CT ulang. drainase CSS. 2. 3. 3. Induksi hipokapnia : Hiperventilasi hingga PCO2 = 26 -28 mmHg.2. Tingkat kesadaran cara AVPU / GCS : A = alert.9%. V = respon terhadap rangsangan verbal. Reaksi cahaya. Intubasi bila GCS 8 atau kurang. Kontrol respirator bila GCS 8 atau kurang. Terapi jalur pertama : Hiperventilasi.2 Resusitasi 1. Tekanan darah sistemik sesuai kasus. Oksigen ± 10 L/menit melalui masker O2. Diuretik : Pasang kateter urin. b. 4. 1gr/kgBB/IV guyur. Terapi jalur kedua : Hiperventilasi manual.1 Survei primer sistem saraf D = Disability : Penilaian neurologis cepat : 1. barbiturat. U = tidak ada respon. Furosemid 40 -80 mg/IV 31 . Berikan saat persiapan operasi : Manitol 20%. d. Pasang kanul naso / orofaring. Kontrol tekanan vena sentral. P = respon terhadap rangsangan nyeri. b.1. Pemeliharaan kebutuhan metabolik otak : a. Cegah overhidrasi. salin hipertonik.2. Kontrol tekanan darah / perfusi. 2. Pupil : a. Atur posisi kepala / rahang sambil mengontrol posisi tulang belakang leher. Hb b. Monitor EKG. 2.2 Cedera Kepala 3. c.28 mmHg.

Bila kesadaran memburuk. segera nilai lagi : a.d. labetalol iv. Hipertensif : Sistol 160 mmHg pada pasien sadar. 5. 3. 3.2. Kelainan koagulasi bawaan / didapat : koreksi. 180 mmHg pada pasien tidak sadar. Awasi tekanan darah. Pemeriksaan neurologis : GCS. 2.3 Survei Sekunder 1. Oksigenisasi. hidralazin iv. 32 . 4.2. Pemeriksaan khusus : a. 3. Ventrikulostomi bila GCS ≤ 8 : Drainase CSS.3. 3. CT semua kasus tersangka atau GCS ≤ 13 atau disertai komplikasi.3 Perdarahan Intraserebral Nontraumatika (Stroke Hemorrhagic) 3. Ventilasi. 6. 3. Effek massa dari hematoma mengancam jiwa. Lab. dll. c. b. 2.3. Tentukan jenis CVD / cedera kepala dll. nitroprusid iv.1 Protokol gawat darurat 1. Perfusi / hipotensi relatif. b.2 Cegah perdarahan ulang 1. Tentukan etiologi. c. foto torax.4 Tindakan Definitif atau Rujukan Filosofi pengelolaan pasien PIS pertama harus ditujukan pada tindakan medik gawat-darurat dan diikuti kemudian dengan keputusan apakah hematoma atau massa akan dirawat konservatif atau akan dibuang secara bedah. (dewasa). 4. Tentukan jenis spesifik CVD / cedera kepala dll. 3. pupil. motorik. Ganti volume urin. Nifedipin sl. Angiografi cerebral bila CT negatif pada PSA. 2. Ambil riwayat. Dua hal utama yang menentukan bahwa operasi akan bermanfaat bagi pasien : 1. 2. Kelainan vaskuler : angiografi. Kehidupan jaringan sekeliling massa dapat dipertahankan. Ruptur aneurisma : Sistol 10-20% diatas normotensif. 5.

Retriksi cairan : 75% rumatan. 4. LP bila CT negatif. 5. Operasi dalam 24 jam.4 Perburukan neurologis sekunder 1. Karbamazepin : 3-4 X 200 mg PO. Perburukan neurologis.4 Perdarahan Subarakhnoid. Fenitoin : 1 gr IV (50 mg /). Ventrikulostomi bila hidrosefalus atau perdarahan ventrikuler. Tekanan perfusi minimal : 70 mmHg. 2. LALU 300 mg/HARI / b. Nekrosis iskemik jaringan sekitar. Bila vasospasme. Tentukan indikasi operasi. 3. 3.3. elektro. kecuali perdarahan berasal dari tumor disertai edema berat. Fenobarbital : 2 X 60 mg PO / c. 2. paru-paru. 4. ginjal. kecuali terbatas talamus atau ganglia basal. Perawatan umum 1. Status cairan.5 Indikasi operasi 1. Edema jaringan sekitar. Hidrosefalus. 33 . Pergeseran garis tengah ≥ 5 mm.4. tunda 10-12 hari. Hidrosefalus akut : Ventrikulostomi segera. Dopamin atau fenilefrin.3. Koloid bila perlu. 3. 5. 3. 3. Anti kejang :perdarahan otak besar. Nimodipin (?) hanya pada perdarahan aneurismal (?) : 1-2 mg/jam/ infus atau 60 mg/4 jam/po. Angiografi 4 pembuluh. a. 2. 3.3 Kurangi efek massa / TIK = Protokol 1. 2. Sistole ±150 : Nitropruida 1-6/kg/menit.1 Protokol gawat darurat 1. nutrisi.3. 3.3. 3. Diameter massa ≥ 3 cm. 4. Terapi fisik dan bidai dini. 3. Deksametason tidak dianjurkan. 2.it.

4 Vasospasme Terapi triple ‘H’ : 1. 3. atau Embolektomi. Serebral Medial : Pintas A. Obat-obat protektif serebral : a.I. 5.45%. 2.5 Kelainan Serebrovaskuler Oklusif (Stroke Trombo-Embolik) 1. Dopler transkranial. 2. 34 . 3. 3. 4 X 250 ml. Karotis : Endarterektomi Karotid. 3. Hipertensi : Sistol 170 .4. b. Tekanan vena sentral. PICA/AICA/SCA/PCA : Pintas A. Tekanan darah. b. Pemantauan klinis. ALBUMIN 5%.3. T.2 Perawatan intensif Perawatan intensif pada SAH berperan lebih penting dibanding semua kelainan bedah saraf lain. Oksipital. 2. c. : Bila ventrikulostomi terpasang.K.4. 3.220 mmHg. 1. d. PCWP 15 mmHg. Ketamin. 3. 5. Euvolemik : Hidrasi dengan NaCl 0. Aliran darah serebral. Gagal : Angioplasti transluminal. Ekspansi volume : Albumin 5%.37 %.3 Pemantauan fisiologis 1.9 / 0. Tindakan bedah : Sebelum 4-6 jam sejak serangan : a. 4. b. A. Dilantin 1000 mg. Nimodipin (?) 1-2 mg/jam/infus atau 60 mg / PO / 4jam. 2. Nimodipin dan pembersih radikal bebas lain. 4.4. Lanjutkan 300 mg / hari. CVP 10 mmHg. Arteria lain : tPA : 10mg/2'-30mg/60'-40mg/120' IV. Hipervolemi : a. Hemodilusi : HT 33 . 4x250 ml. Temporal superfisial. 3. Pemantauan fisiologis.

Massa intrakranial dengan pergeseran garis tengah 5 mm. Bila gagal : Fenobarbital atau anestetik.6. c.6. 2.3 3. 3. b.5 Perawatan luka 1. 1. Fraktura depress tertutup > 1 tabula/1 cm. ban elastik. ligasi. Fraktura depress terbuka. Inspeksi luka : a. Jangan angkat fragmen tulang.6. 35 . 3.6. Massa ekstra aksial 5 mm. Irigasi debris. Massa lobus temporal 30 ml. Herniasi Unkal (pupil / motor tidak ekual). Dosis anak-anak sesuaikan.6. Bila kejang lagi. Tidak boleh eksplorasi dengan alat atau jari. 7.4 Hipertermia Luka skalp Menggigil : berikan Klorpromazine. 2. Interval lucid (Bila CT tak tersedia segera). ulang satu kali.2 Gelisah 1. Penglihatan langsung. 2.25 mg/IV.6. Fenitoin diberikan sesegera mungkin : 1 gr/IV (50 mg/menit) dengan monitor tekanan darah dan EKG. 3. Cari CSF. 2. Klorpromazin 10 . Diazepam 10 mg/bolus/IV. Kejang lama atau berulang : a. 2. Perdarahan : Hemostat. 5. Saat atau segera post trauma : tanpa terapi. c. uni / bilateral.3. Awasi hipotensi. d.6 Pengelolaan Gawat Darurat Cedera Kepala 3.6 Tindakan bedah definitif Tidak berlaku bila mati batang otak 1. b. 6. 3. 4. 3. Cari dan atasi hipoksia dan sumber nyeri.1 Kejang 1.

Operasi dekompresi gawat darurat. Tentukan jenis cedera : a. 2. X-ray tulang belakang : AP/lateral. motorik. Hati-hati ekspansi cairan bila syok spinal. 2. 5. defisit neurologis (-).2 hari). Bila indikasi operasi : Myelografi AP/lateral atau CT-MM. 4. 3. Immobilisasi fraktur tidak stabil. b. Selanjutnya intermitten. defisit neurologis (-). Hipotensi atasi dengan : Dopamin atau nimodipin 3. Sesuai protokol trauma. b.1 Survei Primer dan Resusitasi 1. Kateter indwelling hanya sampai sirkulasi stabil (1 .3.7. Cedera tulang stabil. 3. refleks.7. d. sacral sparing.7. 3. Cedera tulang stabil. Pemeriksaan khusus pada level cedera : a. Tentukan level cedera kord spinal. defisit neurologis (+).7 Cedera Medulla Spinal dan Tulang Belakang 3.2 Survei Sekunder 1. pupil. 4. Cedera tulang tidak stabil. sensorik. defisit neurologis (+). Distraksi foramina intervertebral pada kompressi radikuler. 3. Cedera tulang tidak stabil.4 Indikasi pemasangan kaliper pada cedera tulang leher 1.3 Tindakan 1. Semua kasus dengan defisit neurologis : Berikan Metilprednisolon : 30 mg/kg dalam 15 menit. Mengurangi nyeri akibat cedera jaringan lunak leher. leher. c. 3. Kaliper Gardner-Wells/Crutchfields untuk cedera tulang belakang 3. Reduksi dislokasi atau subluksasi.4 mg/kg/jam untuk 23 jam selanjutnya. 2. Pemeriksaan : CS. 4. 45 menit kemudian : 5. 2. 36 . Ambil riwayat trauma.7. 4.

37 . Cedera kord spinal (defisit neurologis) tidak total.3. Defisit neurologis progresif. 2.5 Indikasi operasi dekompresi gawat darurat Mielografi atau CT-MM : Kompressi kord spinal oleh sebab apapun dan pada level manapun disertai : 1.7.

Pemantauan Pasien Kritis. Bina Rupa Aksara. L. Jakarta : Erlangga. Edisi : 2. Kejang Pada Anak. Oen.T. dkk.B.Jakarta : Yayasan Dharma Graha. A. S. 2000. Kedaruratan Medik. Jevon Philip. Jakarta. 1976. & Ismael.S. dkk. Simposium Ilmu Kedokteran Darurat.K. Saifuddin.H. 2008. Konsep Baru Mengenai Gangguan Serebrovaskular.FKUI.DAFTAR PUSTAKA Hendarto. & Hudono. 38 . 1979. Jakarta : KPPIK-IX . S. Surabaya : Bina Pustaka Purwanto Agus. 1978.