BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Derajat kesehatan yang tinggi dalam pembangunan ditujukan untuk mewujudkan manusia yang sehat, cerdas, dan produktif. Salah satu unsur penting dari kesehatan adalah masalah gizi. Gizi sangat penting bagi kehidupan. Kekurangan gizi pada anak dapat menimbulkan beberapa efek negatif seperti lambatnya pertumbuhan badan, rawan terhadap penyakit, menurunnya tingkat kecerdasan, dan terganggunya mental anak. Kekurangan gizi yang serius dapat menyebabkan kematian anak (Suwiji, 2006). Gizi buruk merupakan salah satu masalah gizi dari empat masalah gizi utama di Indonesia. Gizi buruk dikategorikan sebagai masalah gizi makro, sedangkan masalah kurang vitamin A, anemia, dan gangguan akibat kekurangan yodium diklasifikasikan sebagai masalah gizi mikro. Masalah gizi buruk adalah kompleks sifatnya, maka penanganannya juga harus bersifat lintas sektor. Disini dibutuhkan peran penting dukungan sosial. Sukungan sosial dibutuhkan karena masalah gizi buruk disebabkan oleh banyak faktor baik itu faktor internal maupun eksternal. Agar upaya pembinaan suasana dalam upaya pencegahan dan penanggulangan gizi buruk berhasil dengan baik maka advokasi kesehatan juga perlu dilakukan. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa sekitar 11 juta anak meninggal setiap tahun sebelum mencapai umur 5 tahun atau tiap 20 menit perhari terjadi kematian 30.000 anak. Hampir 4 juta kematian tersebut terjadi pada umur 28 hari setelah melahirkan. WHO melaporkan bahwa dari jumlah kematian tersebut, masalah gizi buruk berkontribusi sekitar 54%. Distribusi atau penyebaran kasus gizi buruk yang dilaporkan oleh WHO adalah 70% berada di Asia, 26% di afrika dan 4% berada di Amerika Latin.

prevalensi gizi buruk dengan indikator BB/TB pada tahun 2009 adalah 0. dengan rujukan (standar) yang telah ditetapkan .5 persen (Bappenas.10 %. Kasus gizi buruk yang ada di Kota padang ditemukan dari kegiatan Posyandu setiap bulan. Anak balita sehat atau kurang gizi secara sederhana dapat diketahui dengan membandingkan antara berat badan menurut umurnya. Sedangkan kasus gizi buruk dan kurang (BB/ U) sebanyak 518 kasus yang ditemukan dari kegiatan posyandu yang ada di Kota Padang. Apabila berat badan menurut umur sesuai dengan standar (-2 SD s/d +2 SD) . Kalau sedikit di bawah standar ( -3 SD s/d -2 SD ) disebut gizi kurang.Prevalensi balita gizi buruk merupakan indikator Millenium Development Goals (MDGs) yang harus dicapai disuatu daerah (kabupaten/kota) pada tahun 2015. Berdasarkan hasil pemantauan status gizi (PSG).6 persen atau kekurangan gizi pada anak balita menjadi 15. anak disebut gizi baik. yaitu terjadinya penurunan prevalensi balita gizi buruk menjadi 3.74 % dan tahun 2010 jumlahnya meningkat yaitu 2. dan 10% kasus dalam keadaan tetap atau tidak ada perubahan. pada tahun 2011 ini menurun menjadi 0. . Namun. Dari jumlah tersebut 90% kasus membaik.2 %. 2010). Selama tahun 2011 jumlah kasus gizi buruk kurus sekali (BB/TB) yang ditemukan sebanyak 64 kasus dengan kasus dirawat sebanyak 8 kasus serta meninggal sebanyak 3 kasus. Apabila jauh di bawah standar dikatakan gizi buruk( < -3 SD ).

dan adanya penyakit infeksi yang diderita bayi atau balita yang mendasari gizi buruk. Agar gizi buruk dapat terdeteksi perlu dilakukan penilaian status gizi dengan pemantauan data SKDN. dan pada bulan januari sampai april tahun 2013 telah ditemukan lima kasus gizi buruk. Pencatatan dan pelaporan data SKDN untuk melihat cakupan kegiatan penimbangan (K/S). Marasmus. Tiap tipe memiliki ciri khas masingmasing dan pengelolaannya pun juga berbeda. kesinambungan kegiatan penimbangan . dan Marasmus-Kwashiorkor.Prevalensi Gizi Buruk di Kota Padang 2009-2011 Berdasarkan wawancara dan diskusi dengan Pimpinan Puskesmas dan Petugas gizi serta observasi di lapangan bahwa wilayah kerja Puskesmas Andalas sebagai salah satu wilayah yang masih terdapatnya angka gizi buruk dengan adanya enam kasus gizi buruk dan salah satunya meninggal dunia yang ditemukan di wilayah kerja Puskesmas Andalas dalam tahun 2012. Kwashiorkor. Banyak hal yang menyebabkan masalah gizi kurang antara lain hal ketersediaan pangan dalam rumah tangga. asuhan gizi keluarga. maka sangat perlu dilakukan upaya penangulangan kasus gizi buruk di wilayah kerja Puskesmas Andalas. Adapun tipe-tipe dari gizi buruk antara lain adalah KEP. akses keluarga terhadap pelayanan kesehatan.

kecenderungan status gizi (N/D). Upaya penanggulangan ini dilakukan melalui Lima Langkah Pengelolaan Program Gizi Puskesmas di Puskesmas.3 Tujuan Penulisan 1. sebenarnya telah diatur oleh program gizi ditingkat Kabupaten (Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota).2 Rumusan Masalah 1. pemantauan dan evaluasi. Bagaimana upaya dalam penanggulangan kasus gizi buruk pada bayi dan balita di wilayah kerja Puskesmas Andalas? 1. menentukan kegiatan perbaikan gizi. Mengidentifikasi masalah gizi yang ada di wilayah kerja Puskesmas Andalas . namun demikian agar program perbaikan gizi di Kecamatan dapat langsung memberikan dampak pada tingkat kabupaten.posyandu (D/K).3. analisis masalah. sebaiknya harus di kelola dengan baik.2 Tujuan Khusus a. tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan (D/S). Langkah – langkah tersebut adalah identifikasi masalah.3. efektifitas kegiatan (N/S). melaksanakan program perbaikan gizi. Apa faktor penyebab tingginya angka kejadian gizi buruk pada bayi dan balita di wilayah kerja Puskesmas Andalas? 2. Oleh karena hal tersebut penulis merasa perlu untuk membantu mencari solusi terhadap pemecahan masalah ini dengan mengangkat makalah ini dengan judul Upaya Penurunan Angka Gizi Buruk Bayi dan Balita Melalui Pemberian Menu Sehat Ekonomis di Kelurahan Ganting Parak Gadang Wilayah Kerja Puskesmas Andalas.1 Tujuan Umum Menentukan Plan of Action dalam upaya menurunkan angka gizi buruk di Kelurahan Ganting Parak Gadang sebagai salah satu wilayah kerja Puskesmas Andalas 1. 1.

Mengoptimalkan pengelolaan masalah gizi buruk di wilayah kerja Puskesmas Andalas 1. .b.4 Manfaat Penulisan Dengan penulisan plan of action ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada pihak puskesmas dalam penangulangan kasus gizi buruk bayi dan balita di wilayah kerja Puskesmas Andalas. Menganalisis penyebab masih tingginya angka gizi buruk di wilayah kerja Puskesmas Andalas c. Mengoptimalkan pemantauan status gizi bayi dan balita yang berada di wilayah kerja Puskesmas Andalas e. Menentukan alternatif pemecahan masalah masih tingginya angka gizi buruk di wilayah kerja Puskesmas Andalas d.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful