You are on page 1of 28

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Perkembangan bioteknologi saat ini maju dengan sangat pesat, hal ini sejalan dengan berkembangnya industri-industri yang memanfaatkan produk bioteknologi. Salah satu kajian dalam bidang enzimologi yang menarik untuk pengembangan bioteknologi adalah pemanfaatan molekul enzim sebagai katalis, baik dalam industri pangan maupun industri non pangan. Penggunaan enzim dalam bidang industri di Indonesia sebagian besar diimpor dari negara luar. Hal tersebut tidak menguntungkan dari segi devisa dan pengembangan bioteknologi di Indonesia oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk produksi enzim sehingga kebutuhan dalam negeri dapat terpenuhi. Enzim dihasilkan oleh semua makhluk hidup untuk mengkatalisis reaksi biokimia dalam tubuh makhluk hidup tersebut sehingga reaksi-reaksi itu dapat berlangsung lebih cepat (Sianturi, 2008). Menurut Sutiamiharja (2008)

kemampuan enzim yang unik dalam melaksanakan transformasi kimianya yang khas ketika telah meningkatkan penggunaan enzim dalam berbagai proses industri.Salah satu enzim yang sangat dibutuhkan dalam industri adalah amilase (α-amilase, β-amilase, dan γ-amilase atau glukoamilase). Enzim β-amilase terdapat pada tumbuhan dan dinamakan eksoamilase sebab memecah dua unit glukosa yang terdapat pada ujung molekul amilum secara berurutan sehingga pada akhirnya terbentuk maltosa (Poedjiadi,

1

1994).Menurut Oktiarni (2008), β-amilase (E.C 3.2.1.2) merupakan enzim yang banyak ditemukan dalam tanaman dan bakteri. Enzim β-amilaseini banyak digunakan karena kemampuannya mengkatalisis reaksi pengubahan pati menjadi maltosa dari ujung gugus pereduksi rantai polisakarida, menghasilkan β-maltosa dan β-limit dekstrin. β-amilase banyak ditemukan pada tanaman tingkat tinggi seperti ubi jalar. Seperti sifat enzim pada umumnya, aktivitas amilase sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dimana enzim itu bekerja.Enzim amilase dihasilkan oleh berbagai jenis organisme hidup, mulai dari tumbuhan, hewan, manusia bahkan pada mikroorganisme seperti bakteri dan fungi (Sianturi, 2008). Enzim amilase memiliki aplikasi untuk skala yang sangat luas mulai dari industri tekstil, konversi pati untuk gula sirup, produksi Cyclodextrins untuk industri farmasi (Aiyer, 2005). Kebutuhan amilase di dunia industri sangat tinggi, pada tahun 2004 saja sudah mencapai penjualan sekitar US $2 milyar, sedangkan amilase yang digunakan untuk industri makanan dan minuman pada tahun 2004 bernilai sekitar US $11 juta (Sivaramakrishnan dkk., 2006). Seiring dengan meningkatnya penggunaan enzim amilase, maka perlu dicari sumber enzim amilase dari bahan baku yang mudah didapatkan. Salah satu bahan yang memiliki potensi untuk dieksplorasi sebagai sumber enzim amilase adalah tumbuhan Alang-alang (Imperata cylindrica). Hasil penelitian terkait enzim amilase dari tanaman sudah banyak dilakukan seperti: 1. Enzim amilase dari temulawak oleh Rinawati dkk., (2009) 2. Enzim β-amilase dari Akar Tunggang Alfalfa (Medicago sativa L.) oleh Gana dkk., (1998)

2

. senyawa K. dapat berpenetrasi 15-40 cm. akar vertikal ke dalam sekitar 60-150 cm. citric acid. simiarenol (Nana dkk. 2012).8580%).Hasil penelusuran pustaka.) Alang-alang dengan nama ilmiah Imperata cylindrica menarik untuk dieksplorasi karena di Indonesia Alang-alang tumbuh liar di hutan. Beberapa tumbuhan telah diketahui mengandung enzim amilase pada akarnya baik itu akar rimpangnya maupun akar tunggangnya. malic acid.00714%).3072%).) LAM) 4. (2009) dan Alfalfa (Medicago sativa L. lapangan rumput. karbohidrat ( 6. beruas pendek dengan cabang lateral membentuk jaring-jaring yang menyatu dalam tanah (Rachmawaty. sukulen. 2006). daun agak tegak. Diantaranya adalah enzim amilase dari temulawak oleh Rinawati dkk. (2012) berhasil mengisolasi enzim amilase dari kecambah biji jagung ketan (Zea mays ceratina L. menurut 3 . akar alang-alang mengandung air (81. (1998). arundoin. monitol. Rhizoma berwarna putih. pelepah daun lembut. Selain itu. ladang. Suarni dan Patong (2003) telah berhasil membuat ekstrak enzim amilase dari kecambah kacang hijau 5.) oleh Gana dkk. 2007). cyllindrin. dengan sistem rhizoik yang meluas serta tinggi batang mencapai 60-100 cm. ligula pendek.. fernenol. daun atas lebih pendek dari pada daun sebelah bawah.serat (5. glukosa. tulang daun utama keputihan. Oktiarni (2008) berhasil mengisolasi enzim β-amilase dari ubi jalar (Ipomoea batatas (L. dan tepi jalan daerah kering yang mendapat sinar matahari. Berdasarkan hal tersebut maka diduga dalam akar rimpang alang-alang juga mengandung enzim amilase. Bahri dkk. juga bisa ditemukan pada ketinggian 1-2700 meter di atas permukaan laut (Dalimarta. abu (1. sakarosa. terasa manis.Alang-alang merupakan gulma perennial.1301%).3.. Rhizoma bersifat regeneratif yang kuat.

isolasi dan pengujian aktivitas ekstrak enzim amilase dan penentuan kadar protein.Tahap ketiga. dkk (1999) dalam Suarni dan Patong (2007). maka perlu dikaji lebih lanjut tentang eksplorasi enzim amilase dari tumbuhan alang-alang sehingga menjadi bahan baku alternatif penghasil enzim amilase. Berapa persentase kandungan enzim amilase dalam akar rimpang alangalang? 4 .Hanafiah dkk. karakterisasi enzim amilase hasil dialisis. sehingga mengekstraknya relatif mudah. Tahap pertama. Setiap tahap merupakan tindak lanjut dari tahap sebelumnya.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan diatas maka dapatdiambil suatu rumusan masalah sebagai berikut: a. enzim amilase termasuk ekstraseluler. 1. enzim amilase juga berasal dari eksudat akar tanaman atau dari aktivitas mikrobia di dalam tanah. bahan dan cara ekstraksi yang dipergunakan serta pengertian sifat-sifat enzim tersebut. (2005). Mengingat adanya enzim amilase dalam kandungan akar rimpang alangalang serta penggunaan enzim sangat dibutuhkan dalam industri. keberhasilan isolasi dan pengujian aktivitas enzim sangat tergantung pada berbagai kondisi: sumber enzim. hal ini juga menguatkan dugaan adanya enzim amilase dalam akar rimpang alang-alang.. Tahap kedua. Menurut Rahayu (1988) dan Richana.pemurnian ekstrak enzim emilase berupa fraksionasi dengan amonium sulfat dan dialisis dengan membran selofan. letak enzim. Eksplorasi enzim amilase dari akar rimpang tumbuhan alang-alang dirancang dalam tiga tahap penelitian yang saling terkait. kecermatan kerja.

5 .3 Maksud dan Tujuan Penelitian 1.b.3.2 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah: a. Mengetahui potensi aktivitas enzim amilase dari akar rimpang tumbuhan alang-alang c.4 Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah tentang akar rimpang tumbuhan alang-alang berpotensi sebagai penghasil enzim amilase dan sebagai aset penting dalam upaya pengelolaan sumber daya hayati di Indonesia. Mengisolasi enzim amilase dari akar rimpang tumbuhan alang-alang b. Berapa potensi aktivitas enzim amilase dari akar rimpang alang-alang? c.1 Maksud Penelitian Untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi enzim amilase yang dihasilkan oleh akar rimpang tumbuhan alang-alang. Bagaimana karakteristik sifat biokimia enzim amilase yang dihasilkan oleh akar rimpang alang-alang? 1.3. 1. Mengkarakterisasi sifat biokimia enzim amilase dari akar rimpang alangalang 1.

daun atas lebih pendek dari pada daun sebelah bawah. karena dari akar rimpangnya akan tumbuh tunas baru. 6 . pelepah daun lembut. Rhizome berwarna putih.1 Tumbuhan Alang-alang Alang-alang adalah rumput tahunan (Mac Donald dkk. dengan sistem rhizoik yang meluas serta tinggi batang mencapai 60-100 cm. Alang-alang merupakan gulma perennial. bagian yang ada di atas permukaan tanah mudah terbakar. tulang daun utama keputihan. 2008) berakar rimpang yang tumbuh menyebar mendatar di bawah permukaan tanah. terasa manis. Mudah beradaptasi pada keadaan cuaca yang beragam terutama pada tanah terbuka. beruas pendek dengan cabang lateral membentuk jaring-jaring yang menyatu dalam tanah. antara lain : a. Rhizome bersifat regeneratif yang kuat. sukulen. ligula pendek. Mudah beradaptasi pada berbagai jenis tanah mulai dari ringan kering sampai berat basah. 2002dalam Pudjiharta dkk... hal ini karena adanya sifat yang dimiliki. b. daun agak tegak. akar vertikal ke dalam sekitar 60-150 cm. tanah asam sampai basa. Alang-alang dapat tersebar luas dan dapat tumbuh pada tanah terbuka yang belum maupun yang sudah diolah. Walaupun berulang kali terbakar. Pada tempat terlindung dan suhu pada kisaran -8°C alang-alang sulit untuk hidup. Menurut Rachmawaty (2007).BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. alang-alang tidak musnah. dapat berpenetrasi 15-40 cm.

meskipun bagian atas tanah habis terbakar (Rachmawaty. karena masih mempunyai rhizome dalam tanah. sehingga dapat dinyatakansebagaipelindung tanah terhadap erosi (Rachmawaty. Di seluruh kawasan Asia Tenggara. Biji alangalang mudah tersebar pada wilayah yang sangat luas karena ditiup angin. atau kebakaran. 2007). 2012) Berdasarkan laju pertumbuhannya. seringkali alang-alang menggantikannya. Ketika hutan dirusak karena adanya penebangan kayu. penyangga terhadap hujan.c. Gambar 1. hutan merupakan vegetasi klimaks yang asli dan alami. perladangan berpindah. alang-alang mempunyai fungsisebagai penutup tanah. pada tanah yang subur atau tandus sekalipun (Irwanto. dan mampu tumbuh pada tempat yang basah maupun kering. 7 . Tahan terhadap api. Adapun bentuk tumbuhan alang-alang dapat dilihat pada gambar 1. Tumbuhan alang-alang (Anonim. tetapi alang-alang pada saat ini sudah menyebar di manamana. 2006). 2007).

sebab ketela pohon tersebut selain dapat digunakan 8 . Pati merupakan sumber utama karbohidrat dalam pangan. Polisakarida terdapat banyak di alam.2 Pati (Amilum) Pati merupakan zat makanan yang sangat penting bagi tubuh. Batang pohon sagu mengandung pati yang setelah dikeluarkan dapat dijadikan bahan makanan rakyat di daerah Maluku. 2012 sebagai berikut: Kingdom Subkingdom Super Divisi Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae (Tumbuhan) : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) : Spermatophyta (Menghasilkan biji) : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) : Liliopsida (berkeping satu / monokotil) : Commelinidae : Poales : Poaceae (suku rumput-rumputan) : Imperata : Imperata cylindrica 2. batang dan biji-bijian. 2009). Amilum atau dalam bahasa sehari-hari disebut pati terdapat pada umbi. yaitu pada sebagian besar tumbuhan.. berupa granula dalam kloroplas daun serta dalam amiloplas pada biji dan umbi (Sajilata dkk. Pati adalah bentuk penting polisakarida yang tersimpan dalam jaringan tanaman. daun.Klasifikasi ilmiah dari tumbuhan alang-alang menurut Anonim.. 2006 dalam Budiyati dkk. Umbi yang terdapat pada ubi jalar atau akar pada ketela pohon atau singkong mengandung pati yang cukup banyak.

6-glikosidik ini menyebabkan terjadinya cabang. juga digunakan sebagai bahan baku dalam pabrik tapioka (Poedjiadi.4-glikosidik dan sebagian lagi ikatan α 1. Gambar 2.sebagai bahan makanan sumber karbohidrat. jadi molekulnya merupakan rantai terbuka (Poedjiadi. 1994). Amilosa terdiri atas 250-300 unit D-glukosa yang terikat dengan ikatan α 1. yaitu amilosa (kira-kira 20-28%) dan sisanya amilopektin. Daya cerna pati adalah tingkat kemudahan suatu jenis pati untuk dapat dihidrolisis oleh enzim pemecah pati menjadi unit-unit yang lebih sederhana. 1994). Pati murni diasumsikan dapat dicerna dengan sempurna dalam saluran pencernaan (Budiyati dkk. 1994). 2009). 9 .. Struktur amilosa (Anonim.6-glikosidik. Daya cerna pati dihitung sebagai persentase relatif terhadap pati murni (soluble starch). Amilum terdiri atas dua macam polisakarida yang kedua-duanya adalah polimer dari glukosa.4glikosidik. 2009) Amilopektin juga terdiri atas molekul D-glukosa yang sebagian besar mempunyai ikatan α 1. sehingga molekul amilopektin berbentuk rantai terbuka dan bercabang. Molekul amilopektin lebihbesar daripada molekul amilosa karena terdiri atas lebih dari 1000 unit glukosa (Poedjiadi. Adanya ikatan α 1.

hidrolase. Jadi enzim dapat berfungsi sebagai katalis yang sangat efisien. Enam golongan tersebut ialah oksidoreduktase. Fungsisuatu enzim ialah sebagai katalis untuk proses biokimia yang terjadi dalam sel maupun luar sel. Reaksi kimia ada yang membutuhkan energi (reaksi endorgonik) dan ada pula yang menghasilkan energi atau mengeluarkan energi (eksergonik). sehingga meskipun jumlah enzim ribuan dalam sel dan substratpun sangat banyak tidak akan terjadi kekeliruan (Sutiamiharja. Suatu enzim dapat mempercepat reaksi 108 sampai 1011 kali lebih cepat daripada apabila reaksi tersebut dilakukan tanpa katalis. maka enzim dapat menurunkan energi aktivitas suatu reaksi kimia. enzim dibagi dalam enam golongan besar. Dalam mengkatalisis reaksi tersebut enzim bersifat sangat spesifik. Seperti juga katalis lainnya. dan ligase. liase. 2009) 2. transferase. di samping itu mempunyai derajat kekhasan yang tinggi. isomerase.3 Enzim Enzim adalah suatu katalisator protein yang dapat mempercepat reaksi kimia yang terjadi pada makhluk hidup dalam sistem biologi. Menurut Poedjiadi (1994). Misalkan pembentukan ikatan 10 . 2008).Gambar 3. Struktur amilopektin (Anonim.

Amilase (alfa. serta konsentrasi substrat dan konsentrasi enzim. Untuk pembentukan AB aktif ini dibutuhkan energi sebesar a. (2009) diperoleh aktivitas enzim optimum pada suhu 35 oC. 017. aktivator dan inhibitor enzim. Dengan adanya katalis atau enzim. penguraian senyawa AB menjadi A dan B mengeluarkan energi sebesar p pula. Penelitian enzim amilase dari tanaman telah banyak dilakukan seperti enzim amilase dari temulawak oleh Rinawati dkk. beta dan glukoamilase) merupakan enzim yang penting dalam bidang pangan dan bioteknologi.. Faktor-faktor yang mempengaruhi kerja enzim adalah suhu. pH 6. 2003). yang disebut energi aktivasi. tetapi harus terbentuk lebih dahulu senyawa AB aktif. 1994).dan glukosasebagai unit terkecil (Reddy dkk. 2. Terjadinya senyawa AB dari A dan B membutuhkan energi sebesar p. pH dari lingkungan tempat enzim bekerja. dengan demikian akan dapat memudahkan atau mempercepat terjadinya suatu reaksi (Poedjiadi. Amilase dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti tanaman.antara senyawa A dengan senyawa B menjadi senyawa AB akan mengeluarkan energi. makin sukar terjadinya suatu reaksi.844 unit/mg protein dengan tingkat kemurnian 14. Makin besar harga a..1 dan aktivitas spesifik 14. Terurainya senyawa AB tidak dapat berjalan dengan sendirinya. harga energi aktivasi diperkecil atau diturunkan. saat ini sejumlah enzim amilase telah diproduksi secara komersial.4 Enzim Amilase Amilase adalah kelompok enzim yang memiliki kemampuan untuk memutuskan ikatanglikosida yang terdapat pada molekulpati untuk memberikan produk yang beragam termasuk dekstrin. Oktiarni (2008) berhasil 11 . binatang dan mikroorganisme. Sebaliknya. yaitu selisih energi antara A dan B dengan AB.

2010). 2008 dalam Heryanto. seperti uji klinis dan medis (Pandey dkk. Enzim amilase dapat memecah ikatan pada amilum hingga terbentuk maltosa. Namun berdasarkan kemampuannya dalam menghidrolisis pati dan berbagai keuntungan dari aplikasi yang dapat diberikannya maka enzim amilase tersebut harus diketahui aktivitasnya. Enzim amilase memiliki aplikasi untuk skala yang sangat luas mulai dari industri tekstil. konversi pati untuk gula sirup. Bahri dkk. karena enzim sangat sensitif terhadap perubahan suhu (Illaneus. serta aktivitas enzim optimum pada suhu 70 oC.09 Unit/mL dan aktivitas spesifik 1.0557 detik -1. Selain penggunaannya dalamsaccaharification pati.45. 2012).) LAM) dengan aktivitas enzim optimum pada suhu 70 oC. produksi Cyclodextrins untuk industri farmasi (Aiyer. aktivitas spesifik 12.) dengan waktu perkecambahan 36 jam adalah waktu yang terbaik dengan aktivitas 0. dan industri kertas..mengisolasienzim β-amilase dari ubi jalar (Ipomoea batatas (L. pH 9.52 .01. spektrum dari aplikasi amilase telah diperluas ke bidang-bidang lainnya. enzim ini juga berpotensi dalam aplikasi sejumlah proses industri seperti makanan. kue. Suarni dan Patong (2003) telah berhasil membuat ekstrak enzim amilase dari kecambah kacang hijau. Suhu memiliki hubungan yang kuat antara aktivitas dan stabilitas enzim. pH 5. 2000 dalam Heryanto.73 Unit/mg protein. pembuatan bir. dengan aktivitas optimum pada suhu 30 oC. Munculnya batas baru dalam bioteknology.18 unit/mg protein.6. BM 26 kDa. yaitu: 12 . tekstil. detergen. Faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim diantaranya adalah suhu dan pH. aktivitas enzim 4. pH 5. (2012) berhasil mengisolasi enzim amilase dari kecambah biji jagung ketan (Zea mays ceratina L. Ada tiga macam enzim amilase menurut Poedjiadi (1994). 2005).

Degradasi ini terjadi sangatcepat dan diikuti dengan menurunnyaviskositas degan cepat pul. biasanya daripenurunan kadar pati yang larut atau dari kadaramilosa bereaksi dengan iodium akan berwarnacoklat.1. relatifsangat lambat yaitu pembentukan glukosa danmaltosa sebagai hasil akhir yang terjadi secaratidak acak.1). Enzim ini memecah ikatan 1-4 yang terdapat dalam amilum dan disebut endo amilase sebab enzim ini memecah bagian dalam atau bagian tengah molekul amilum. Jenis α-limit dextrin yaitu oligosakarida yang terdiridari 4 atau lebih residu gula yang mengandungikatan α-1. dan α-limit dextrin. Asam giberilik adalah suatu senyawa organik yang sangat penting dalam proses perkecambahan suatu biji karena bersifat sebagai pengontrolperkecambahan tersebut. α amilase (EC 3. Sedangkan cara kerja α-amilasepada molekul amilopektin akan menghasilkanglukosa. Selain itu keaktivan α-amilase dapatdinyatakan dengan cara pengukuran viskositasdan jumlah pereduksi yang terbentuk. degradasiamilosa menjadi maltosa dan maltotriosa yangterjadi secara acak.4-glukanglukanohidrolase.6. enzim ini sangat berperan dalam industri pembuatan roti dan sirup. Enzim α-amilase dalam biji dibentuk pada waktu awal perkecambahan oleh asam giberilik.2.a. Aktivitas α-amilase ditentukan denganmengukur hasil degradasi pati.1) Enzim α amilase terdapat dalam saliva (ludah) dan pankreas adalah α amilase.2. Yang kedua.1. (EC3. Menurut Suarni dan Patong (2003) enzim α-amilase (α-1.Sedangkan hidrolisis amilosa akan lebihcepat dari pada hidrolisis rantai yangbercabang seperti 13 . Cara kerja α-amilase pada molekulamilosa terjadi 2 tahap pertama. Enzim α-amilase banyak terdapat pada kecambah kacang-kacangan. maltosa.

Enzim β-amilase memecah ikatan glukosidaβ-1.1. dan kacang kedelai. Menurut Oktiarni (2008). aktivitas amilase sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dimana enzim itu bekerja. enzim β-amilase (β-1.amilopektin atau glikogen. menghasilkan β-maltosa dan β-limit dekstrin. Pemanfaatan enzim amilase pada skala industri lebih dititikberatkan pada peningkatan produksi dan efisiensi prosesnya. ubi jalar. Seperti sifat enzim pada umumnya. sebagai contoh α-amilase termolabil dapat digunakan pada proses sakarifikasi pati.4 glukanmaltohidrolase) dapat diisolasi dari kecambahbarley. dan laju hidrolisis akan lebih cepat pada rantai lurus (Risnoyatiningsih. Menurut Risnoyatiningsih (2011). Enzim β-amilase banyak ditemukan pada tanaman tingkat tinggi seperti ubi jalar. 2012).Laju hidrolisis akan meningkat bila tingkatpolimerisasi menurun. 14 .4 padapati dan glikogen dengan membalikkankonfigurasi karbon anomeri (C1) glukosa dari αmenjadi β. β amilase (EC 3. α-amilase termostabil dipandang lebih penting dalam aplikasinya dibidang industri dibandingkan jenis α-amilase yang tidak tahan suhu tinggi. sedangkan α-amilase termostabil lebih sesuai digunakan dalam likuifikasi pati (Purwandani. b. enzim ini banyak digunakan karena kemampuannya mengkatalisis reaksi pengubahan pati menjadi maltosa dari ujung gugus pereduksi rantai polisakarida. Termostabilitas α-amilase biasanya disesuaikan dengan pemanfaatannya. 2011).2) Enzim β amilase terdapat pada tumbuhan dan dinamakan eksoamilase sebab memecah dua unit glukosa yang terdapat pada ujung molekul amilum secara berurutan sehingga pada akhirnya terbentuk maltosa.2.

2. Enzim β-amilase aktif pada pH 5-6. kecuali apabila mikroorganisme terdapat dalam saluran pencernaannya (Purwandani.3 dan α-1. Dengan pengaruh enzim glukoamilaseposisi glukosa α dapat diubah menjadi βdengan pH optimalnya 4-5 dan suhuoptimalnya 50°C-60°C.Cara hidrolisis ikatan α-1.sehingga dapat di bedakan dengan α-amilasedan βamilase. enzim Glukoamilase diproduksi dariAspergillus dan Rhizopus.5Isolasi Enzim Isolasi enzim bertujuan untuk memisahkan enzim yang diinginkan dari senyawa lain yang tidak dikehendaki.maka di sebut β-amilase. 1989). hasil isolasi enzim tidak diperlukan dalam jumlah banyak.1. Enzim glukoamilasememecah pati dari luar dengan mengeluarkanunit-unit glukosa dari ujung bukan pereduksipolimer pati.disebut Eksiamilase. 2012).Menurut Risnoyatiningsih (2011). tetapi mempunyai tingkat kemurnian yang tinggi. Pada jaringan hewan tidak memiliki β-amilase. c.3) Enzim γ amilase terdapat dalam hati. 15 .4. Enzim ini dapat memecah ikatan 1-4 dan 1-6 pada glikogen dan menghasilkan glukosa.Isolasinya memerlukan teknologi isolasi enzim yang mempunyai sifat dan aktivitas maksimum (Suhartono.4 oleh β-amilase terjadi dengan memotong 2 unitglukosa dan secara bertahap pemotongan dariujung rantai gula yang bukan pereduksi. Hasil reaksinya hanya glukosa. γ amilase (EC 3.2. dapat memecahikatan α-1. Untuk keperluan penelitian dan analisis. Sejumlah mikroorganisme juga menghasilkan amilase untuk mendegradasi pati ekstraseluler.

Pada saat kesetimbangan tercapai. maka pada saat itulah terjadi pengendapan(Suhartono. 2. Pemurnian enzim pada dasarnya bergantung pada beberapa variabel diantaranya: pH. Dalam hal ini partikel-partikel mula-mula yang terdistribusi secara merata di dalam larutan. berdasarkan atas kelarutan protein yang merupakan interaksi antara gugus polar dengan air. dimana zat terlarut dapat dipisahkan dengan cepat menuju pusat medan sentrifugal. Cara ini terutama digunakan untuk memisahkan endapan yang sukar disaring dengan saringan biasa (filter).1 Sentrifugasi Sentrifugasi merupakan suatu cara pemisahan yang berdasarkan kepada perbedaan kecepatan sedimentasi dari partikel-partikel molekul yang disebabkan oleh adanya gaya sentrifrugal. 1989). Sebaliknya partikelpartikel yang memiliki berat jenis lebih kecil dari pelarutnya. muatan dan bentuknya). dimana konsentrasi zat terlarut di bagian atas lebih kecil dari pada konsentrasi bagian bawahnya.5.Fraksinasi protein dengan menggunakan garam.5.2. interaksi ionik dengan garam dan daya tolak menolak protein yang bermuatan sama. komposisi pelarut dan sifat dari protein itu sendiri (ukuran. (2012) hasil sentrifugasi diperoleh suatu larutan enzim kasar. maka akan memisah dan terjadi pengendapan. akan terapung di permukaan. pada suatu kecepatan perputaran tertentu akan bergerak meninggalkan larutan induknya dan bila partikel-partikel terlarut tersebut lebih besar dari partikel pelarut.2 Fraksinasi dengan ammonium sulfat Menurut Dali dkk. Dalam hal ini fenomena kelarutan protein ada dua macam yaitu salting in dan salting out. kelarutan.. Salting in adalah peristiwa dimana dengan penambahan garam konsentrasi rendah pada larutan 16 . selanjutnya dilakukan metode pemurnian. suhu.

akan menurunkan koefisien aktivitas sehingga kelarutan protein akan bertambah. (3) bahkan pada larutan jenuhnya (4. Bila dalam suatu larutan protein ditambahkan garam. Efek salting out disebabkan garam dengan konsentrasi tinggi dapat menghidrasi air dari permukaan molekul protein sehingga protein terendapkan. yang tidak cukup besar mengganggu sedimentasi sebagian besar protein yang mengendap karena sentrifugasi. Amonium sulfat adalah salah satu jenis garam yang paling banyak digunakan untuk mengendapkan protein enzim. (4) larutan amonium sulfat yang pekat mencegah atau membatasi pertumbuhan bakteri. Proses fraksinasi bertujuan untuk memekatkan atau menjenuhkan larutan sehingga diperoleh larutan pekat yang mengandung endapan protein. sehingga panas yang dihasilkannya mudah hilang. akibatnya protein akan terpisah sebagai endapan. daya larut protein akan berkurang. Keuntungannya adalah (1) dalam keadaan jenuh molaritasnya cukup tinggi sehingga dapat mengendapkan sebagian besar protein.protein dalam air. hal ini akan menyebabkan interaksi antara protein dengan air menurun. Penambahan amonium sulfat dalam proses fraksinasi dilakukan sedikit demi sedikit sambil diaduk di atas magnetic stirrer dengan kecepatan konstan.04 M pada 20 0C) memiliki kerapatan sekitar 1.235 gram per cm3. 2012). Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya denaturasi protein (Sari. dan (5) dalam larutan amonium sulfat sebagian besar protein terlindungi 17 . (2) panas pelarutannya rendah. Bila konsentrasi garam dinaikkan sehingga kekuatan ion bertambah besar. maka interaksi ion dari garam dengan air akan bertambah. Peristiwa pemisahan protein ini disebut salting out. Proses ini disebut salting out.

18 . Secara umum dikatakan bahwa kecepatan dialisis maksimal jika menggunakan akuades. Dalam proses ini digunakan membran semipermeabel untuk menahan molekul-molekul protein. Proses dialisis yang menyebabkan masuknya air ke kantong membran adalah tekanan osmotik. seringkali protein murni disimpan sebagai suspensi dalam larutan amonium sulfat pekat (Englard dan Seiffer. 2012). Pada hal suatu larutan ditentukan oleh pH dan kekuatan ionisasi zat terlarut yang diperlukan untuk menstabilisasikan kondisi biomolekul dalam larutan tersebut. Sebaliknya dapat terjadi. misalnya jika biomolekul yang keluar meninggalkan kantong selofan lebih cepat. sedangkan molekul yang lebih kecil seperti garam dan air dapat melewati membran tersebut. Berdasarkan keuntungan terakhir ini. Pada penelitian.dari denaturasi. (2012) Permeabilitas suatu kantong selofan tergantung pada ukuran dan juga pada praperlakuan yang dilakukan. tidak mengalami kerusakan akibat tekanan osmotik. Permeabilitas suatu kantong membran tidak tergantung pada lamanya dialisis. sehingga kantong selofan menjadi kempes. membran semipermeabel yang digunakan adalah selofan (Sari. Kondisi lain yang perlu diperhatikan dalam melakukan dialisis adalah pelarut. Jika suatu molekul tidak dapat melalui selaput maka selamanya ia tidak akan lewat walaupun waktu dialisisnya diperpanjang. oleh karena itu selalu diusahakan supaya volume kantong selofan setelah tercapai kesetimbangan masih normal..5.3 Dialisis dengan membran selofan Proses dialisis berguna untuk membebaskan protein dalam larutan dari partikel-partikel penggangu lainnya. 2. 1990). Menurut Dali dkk.

glukosa anhidrat. CuSO4. dan alat gelas umum yang digunakan di laboratorium. NaOH. 3. (NH4)2SO4.5H2O. NaHCO3. 3. BSA (Bovin serum Albumin). freeze dryer. sentrifuge. pereaksi folinclocalteau. EDTA. autoklaf (Yamato). Na2HPO4. Na2CO3. spektronik 20 D+. Natium kalium tartrat. amilum (soluble starch). Selanjutnya dilakukan isolasi dan karakterisasi di Laboratorium BiokimiaJurusan Kimia FMIPA-UNHAS. inkubator (Memmert). dan I2. Pengambilan sampel di bagian barat kota Makassar. NaH2PO4. oven (Gallenkamp).3 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dimulai Mei 2013. pereaksi Nelson-somogyi. 19 . pereaksi arsenomolibdat.1 Bahan Penelitian Bahan utama yang akandigunakan pada penelitian ini adalah akar rimpang alang-alang dari bagian barat kota Makassar.BAB III METODE PENELITIAN 3. timbangan analitik (Ohaus). magnetic stirer.2 Alat Penelitian Peralatan utama yang akandigunakan adalah pH meter (Hanna Instrument). membran selofan (Sigma D 0655).

30.5 mL larutan enzim lalu diinkubasi pada suhu 35 oC (Rinawati dkk.. Pengamatan aktivitas amilase didasarkan terjadinya perubahan warna biru menjadi bening setelah ditambahkan iodin 1%.4 Cara Kerja 3. supernatan yang dihasilkan merupakan enzim amilase kasar (ekstrak enzim amilase). Substrat yang akan digunakan larutan pati 2%. dan 60 menit. 2009). 50.masing diinkubasi selama 10.2 M pH 6. 40. 20. b. setelah itu didinginkan dan ditambahkan 2 tetes larutan iodin 1%. masing. fraksinasi danpenentuan kadar protein. Melarutkan 2 g soluble starch (Merck) ke dalam 100 mL akuades. diukur volumenya dan ditempatkan ke dalam wadah untuk uji aktivitas. kemudian disaring dengan penyaring nilon.0 secukupnya kemudian dihancurkan dengan menggunakan blender pada kondisi dingin. 3. diaduk dan dipanaskan hingga larutan kelihatan jernih dan bercampur.4.4.2 Uji aktivitas enzim amilase secara kualitatif menggunakan larutan I2 a. 20 .1 Isolasi enzim amilase dari akar rimpang alang-alang Sebanyak 250 g akar rimpang alang-alang yang sudah yang sudah dipotong-potong kecil ditambahkan buffer fosfat 0. Residu dibuang dan filtrat diambil kemudian diukur volumenya selanjutnya disentrifugasi dengan keceptan 6000 rpm selama 30 menit pada suhu 4 oC.3. setelah hancur dibiarkan selama ± 30 menit sambil kadang kala diaduk. Sebanyak 6 tabung reaksi masing-masing diisi 1 mL substrat ditambahkan 0.

21 . Dinginkan. diinkubasi pada suhu 35oC selama waktu optimum.3 Uji aktivitas amilase secara kuantitatif Prinsip uji aktivitas enzim amilase didasarkan pada perhitungan gula pereduksi dari hasil hidrolisis pati dengan metode Nelson-Somogyi.3. Kemudian dididihkan selama 5 menit. setelah itu dinonaktifkan pada suhu 100 oC selama 5-10 menit.0 ditambahkan 1 mL larutan ekstrak amilase. Perhitungan aktivitas enzim dilakukan dengan mensubtitusikan absorbansi larutan yang diperoleh pada pengujian aktivitas enzim ke dalam persamaan regresi kurva kalibrasi larutan standar glukosa. Selanjutnya didinginkan dalam air es hingga suhu larutan sama dengan suhu kamar. Absorbansi larutan diukur dengan spektronik 20 D+ pada λmax. Setelah dingin ditambahkan 1 mL reagen arsenomolibdat dan 7 mL air suling lalu dikocok hingga bercampur rata. Selanjutnya ditentukan kadar glukosanya dengan metode Nelson-Somogyi yakni ke dalam tabung reaksi dimasukkan 1 mL campuran enzim tersebut kemudian ditambahkan 1 mL reagen Nelson-Somogyi. 0. 0. 0.008. Aktivitas enzim amilase = C x 1/T x 1 unit/1µmol dimana: C = Konsentrasi glukosa per mL ekstrak enzim (µmol/mL) T = Waktu inkubasi (menit) 1 unit enzim amilase = besarnya aktivitas enzim yang dibutuhkan untuk membebaskan 1 µmol glukosa per menit per mL enzim. Untuk mengetahui kadar glukosa hasil hidrolisis pati oleh enzim dihitung dengan menggunakan kurva kalibrasi larutan standar glukosa pada berbagai konsentrasi 0.004.006.4. lakukan pengenceran apabila diperlukan (catat faktor pengenceran). Sebanyak 1 mL larutan pati 2% dan 1 mL buffer fosfat 0.010 mg/mL.002.2 M pH 6. 0.

kemudian dibiarkan selama 10 menit selanjutnya ditambahkan 1 mL pereaksi Lowry A dan dikocok sampai bercampur dengan baik.4. 0. Absorbansi diukur pada λmax. Ke dalam tabung reaksi dimasukkan 1 mL larutan ekstrak enzim. 0. lalu dibiarkan selama 30 menit agar reaksi berjalan sempurna. Absorbansi diukur pada panjang gelombang maksimum.08. lalu ditambahkan 5 mL pereaksi Lowry B dan dikocok segera agar bercampur rata. kemudian dibiarkan selama 10 menit selanjutnya ditambahkan 1 mL pereaksi Lowry A dan dikocok sampai bercampur dengan baik.3. kemudian ditambahkan 3 mL akuades.5H2O 1% dan 1 mL natrium kalium tartrat 2% 3. kemudian diencerkan hingga konsentrasi diinginkan).10 mg/mL (1 gram Bovin Serum Albumin dilarutkan ke dalam akuades tepat 100 mL.06.5 Perhitungan kadar protein enzim Kadar protein enzim dihitung dengan menggunakan kurva kalibrasi larutan standar protein dengan berbagai konsentrasi.4. ditambahkan 5 mL pereaksi Lowry B dan dihomogenkan. 0. Lowry A : Folin cioucalteu : H2O = 1: 1 Lowry B : 100 mL Na2CO3 2% dalam NaOH 0.4 Penentuan kadar protein enzim amilase dari akar rimpang alang-alang Penentuan kadar protein ditentukan berdasarkan metode Lowry dalam Sudarmaji dkk. Jumlah protein dalam enzim ditentukan dengan cara mensubtitusi absorban larutan contoh ke dalam persamaan regresi dari kurva standar protein.02. lalu dibiarkan selama 30 menit agar reaksi berjalan sempurna kemudian ditambahkan 3 mL akuades. Perhitungan kadar protein enzim dilakukan 22 . (1984). 0.04. Ke dalam tabung reaksi dimasukkan 1 mL larutan standar protein dengan konsentrasi 0.1 N ditambahkan dengan 1 mL CuSO4.

40-60%.000 rpm. 2040%. Filtrat enzim dipisahkan dengan sentrifugasi 10.0 kemudian diuji aktivitasnya seperti pada uji aktivitas enzim kasar.Dalam perlakuan ini ekstrak enzim kasar ditambahkan amonium sulfat pada beberapa tingkat kejenuhan sambil diaduk dengan magnetic stirer sampai larut sempurna dan dibiarkan semalam pada suhu dingin. Sebelum dilakukan dialisis.4.80%) yaitu : 0-20%. 2010.mensubtitusikan absorbansi larutan yang diperoleh pada penentuan kadar protein enzim ke dalam persamaan regresi kurva kalibrasi larutan standar protein. Kadar protein enzim yang diperoleh dari kurva tersebut. membran selofan 23 . dengan menggunakan tabel pada lampiran 2.7 Dialisis dalam membran selofan Dialisis dilakukan menggunakan membran selofan (Sigma D 0655) dengan diameter 21 mm. selanjutnya digunakan untuk menentukan aktivitas spesifik enzim dengan menggunakan rumus sebagai berikut: x unit/mg protein Keterangan: As = Aktivitas spesifik dalam mg protein [P] = Kadar enzim total dalam mg/mL [Ti] = Waktu inkubasi dinyatakan dalam jam 3. 20 menit suhu 4 oC. berdasarkan metode Bollag and Edelstein (1991) dalam Natsir. 60-80%.6 Fraksinasi dengan amonium sulfat Ekstrak enzim kasar hasil isolasi dari akar alang-alang difraksinasi dengan amonium sulfat pada beberapa tingkat kejenuhan (0% . 3. endapan yang diperoleh setiap fraksi dilarutkan dalam buffer fosfat 0.1 M pH 6.4.

Setiap 3 jam buffernya diganti dan setelah dialisis dilakukan pengujian aktivitas amilase dan penentuan kadar protein. 2. Sebelum digunakan bagian dalam dan luar dicuci kembali dengan akuades atau buffernya. Menurut Plummer (1979).8.0 mg/mL. membran disimpan dalam akuades atau larutan buffer yang akan digunakan pada suhu 4 oC. 3.0. Larutan diganti dengan akuades dan kembali direbus selama 10 menit (diulang 2-3 kali).2 M pH 6. Cara pengujian aktivitas enzim amilase yakni mencampurkan enzim. substrat.4.0.5. dengan menvariasikan konsentrasi substrat berturut-turut yaitu: 1.0 (secukupnya).5 dan 4. 2.05 M. Larutan dimasukkan ke dalam kantong selofan kemudian didialisis dengan buffer fosfat.dipreparasi dengan cara sebagai berikut: 10 cm membran selofan direbus dalam larutan 2. dan buffer kemudian diinkubasi pada beberapa variasi perlakuan seperti diuraikan dalam tahapan kerja karakterisasi berikut: 3. Hasil fraksinasi dengan aktivitas tertinggi selanjutnya dilarutkan ke dalam larutan buffer fosfat 0.1(Rinawati dkk.2003).. 24 .8 Karakterisasi enzim amilase hasil dialisis Enzim amilase hasil dialisis dikarakterisasi pada kondisi: suhu dan pH optimum.4.5. dan konsentrasi substrat optimum enzim amilase. 3. diaduk dengan pengaduk magnetik stirer pada suhu 5 oC.1 Konsentrasi substrat Penentuan konsentrasi substrat dari enzim amilase dilakukan sesuai dengan prosedur aktivitas enzim amilase pada suhu inkubasi optimum 35 oC danpH optimum 6.0 mM selama 10 menit. konsentrasi 0. 3.0% b/v Na-bikarbonat dan EDTA 1.

4.6. 5.2. 35. 30. dan suhu optimum enzim maka dilakukan pengujian aktivitas menggunakan kondisi tersebut.1. Setelah didapatkan data-data tersebut.8 dan7.4.3 pH optimum Penentuan pH optimum kerja enzim amilase dilakukan sesuai dengan prosedur penentuan aktivitas enzim amilase. 6. 5.4. 6.2 M yaitu: pH 5. 6.3. 3. 6. Dengan menggunakan konsentrasi substrat optimum dan pH optimum 6.2 Suhu optimum Penentuan suhu optimum kerja enzim amilase dilakukan sesuai dengan prosedur penentuan aktivitas enzim amilase.6.8.0. mulai dari penentuan konsentrasi substrat. 5.2. dan 45 oC. pH.4.8.0. Denganmenggunakan suhu optimum yang didapatkan pada penentuan suhu optimum dan konsentrasi substrat optimum yang didapatkan pada penentuan substrat optimum.8. 25 . dengan menvariasikan pH menggunakan buffer fosfat 0. 6. 40. dengan menvariasikan suhu yaitu: 25.

Medan. S..blogspot. dan Pirman. R. 2012. N. Dalimarta. S. Karbohidrat. PT. Englard.P. Alang-Alang. (http://kimia. Jurnal Natural Science.upi.+Budiyati+2009.A. S.. A.5. P.V.4 (13) 1525-1529. (Deutscher. dan Mariska. Gana. N. (Online).edu/utama/bahanajar/ kuliah_web/2009/0606811/polisakarida. Hanafiah. 2012b.Plant Physiology..com/index.M.. Amylases and their applications. 2012a. diakses 16 januari 2013). S.google.E. Anonim.. San Diego. Cunningham. eds).. Jalaluddin. Kalengamaliro. S. (http://www. 26 .. dan Pengukuran Kadar Pati Resisten.DayaPati. Jakarta..html. K. S.6. S. Disertasi diterbitkan. Jakarta. Afiandi. Santana.com/Lap. 2009. 2008.Expression of β-Amylase from Alfalfa Taproots.). Tesis diterbitkan.. Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. Pengukuran Daya Cerna Pati secara In Vitro.com diakses 16 januari 2013).. Isolasi Bakteri dan Uji Aktivitas Amilase Termofilik Kasar dari Sumber Air Panas Penen Sibirubiru Sumatera Utara. Academic Press.4. (Online).docx+Pati+merupakan+zat+makanan+yang+sangat+penting+bagi+tubu h.. dan Volenec. P. N. 2009. diakses 16 januari 2013). RajaGrafindo Persada. A. Budiyati. A.A. Napoleon. Puspaswara. 2005. and Seiffer.Prakt. 1998. diakses 16 januari 2013). (Online). Klasifikasi ilmiah tumbuhan alang-alang. D. M..PatiResist en.N.118(4) 1495-1506. African Journal of Biotechnology. (https://docs. Karakterisasi Enzim Amilase Dari Kecambah Biji Jagung Ketan (Zea mays ceratina L. Optimasi Produksi Enzim Lipase dari Isolat Aspergillus Oryzae pada Kopra Berjamur. Bahri. plantamor. J.. Pengukuran Kadar Serat Pangan Metode Enzimatik-Gravimetrik. 2005. 2012. 2006. Inc.php?plant=705. M. 1 (1) 132-143.. Patong. dan Hasan.Sianturi. Mirzan. Biologi Tanah.C.P.SeratPangan... (Online). M. Anonim.. J. M. Atlas Tumbuhan Obat IndonesiaJilid 4.J. Precipitation TechniquesIn Guide to Protein Purification. Aiyer.R. Makassar.DAFTAR PUSTAKA Anonim. Dali. 1990. (http://flora-faunaindonesia. dan Ghofar. Jurusan Kimia FMIPA Universitas Hasanuddin..

Penggunaan Tanaman Actinorhizal Casuarina Equisetifolia L Pada Rehabilitasi Lahan Alang-Alang dengan Sistem Agroforestri. H. Pemurnian dan Karakterisasi β-amilase Ubi Jalar (Ipomoea batatas (L.R. Widyati..php/content/download/ info/957. Purwandani.id/gdl. (Online). New Delhi. Beauv). 2012. Malang. danSyafruddin H. 2003. Disertasi tidak diterbitkan. Isolasi. Oktiarni.E. Plummer. D. (http:// naturehealthy. dan Juliana..F. Kajian Teknik Rehabilitasi Lahan Alang-Alang (Imperata cylindrica L. 2010.. 1979. diakses 16 januari 2013).php? Mod=browse&op =read&id=jbptitbpp-gdl-dwitaoktia-29965. D. Rachmawaty. and Rao. T. Second Edition. Penentuan Aktivitas Amilase Kasar Termofil Bacillus subtilis Isolat Gunung Darajat Garut..Jurusan Biologi Universitas Negeri Medan. A.R.S.K. Pengaruh Ekstrak Beberapa Jenis Gulma terhadap Perkecambahan Biji Kedelai (Glycine max (L. PKM diterbitkan. Tata Mc. 2006. (http:// www. Skripsi diterbitkan. (http://digilib.itb. 2007. Skripsi diterbitkan. Nimmagadda. Poedjiadi. K.T. D. 2011. A. E.org/index. Natsir. 2 (12) 645-648..S. 27 . A.. Jakarta.forda-mof.Karakterisasi dan Aplikasi dalam Hidrolisi Kitin. (Online). Universitas Indonesia..pdf. S.. diakses 16 januari 2013). Skripsi diterbitkan. An Introduction to Practical Biochemistry. diakses 16 januari 2013). Nana.. A. Medan.) Merril) Varietas Wilis.. Pudjiharta. 2008. Adalina. Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas islam negeri..ac. Y.. Graw Hill Publishing Company Ltd.webs. Makassar.) LAM). (Online).Pelatihan Pemanfaatan Akar Alang Alang menjadi Produk Olahan Sirup dan Bahan Campuran Pembuatan Kertas Daur Ulang di Desa Bandar Khalifah.S.Heryanto. African Journal of Biotechnology. Jawa Barat. Isolasi dan Uji Aktivitas Enzim Amilase dari Isolat Bakteri Termofilik Amilolitik Pasca Erupsi Merapi pada berbagai Variasi Suhu dan pH. Kajian Enzim Kitinase Termostabil dari Bakteri Termofil: Pemurnian. W. Irwanto.. Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta. Reddy. 2008.com/actinorhizal_casuarina. L. Afwandi. Program Pascasarjana FMIPA Universitas Hasanuddin. Universitas Pendidikan Indonesia.. Dasar-dasar Biokimia. An Overview of The Microbial α-amylase Family. 2012. 1994. N. Yogyakarta.

..R. 2011. 2008.. A.C. S. Lipase Isolat Lokal pada Sintesis Biodiesel. Hidrolisis Pati Ubi Jalar Kuning menjadi Glukosa secara Enzimatis. Isolasi Bakteri dan Uji Aktivitas Amilase Kasar dari Sumber Air Panas Gurukinayan Karo Sumatera Utara. Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. Isolasi Bakteri danUji Aktivitas Amilase Termofil Kasar dari Sumber Air Panas Penen Sibirubiru Sumatera Utara. α-Amylases from Microbial Sources.. Tesis diterbitkan. Food Technol. Rahmanto. C. Gangadharan. Bambang.. dan Suhardji. 2012. diakses 16 januari 2013). Suhartono.. 332-336. Institut Pertanian Bogor. 2006. Suarni dan Patong. 28 . 1984.M. M. Wasino. Medan. Enzim dan Bioteknologi.. D.id/195/3/makalah_DiahkartikaUnsri. S.). J. M. R. Biotechnol.. Prosedur Analisa untuk Bahan Makanan dan Pertanian. Sivaramakrishnan. (http://eprints. 7 (3). Sutiamiharja. 2007. Sari.T. Yogyakarta. K. Risnoyatiningsih.. Penerbit Liberty. Tesis diterbitkan. S. Indo.ac. Medan. D.K.Rinawati. 2007.undip.id/2923/. Pipit.. and Pandey.unsri. 2009. Potensi Kecambah Kacang Hijau sebagai Sumber Enzim α-Amilase.. Wuryanti. Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. Sudarmadji. Jurnal Teknik Kimia.5 (2) 417-424... 44(2) 173–184. 1989. Karakterisasi dan Amobilisasi Enzim Amilase dari Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb. Sianturi. (Online). Nampoothiri. N. D.pdf. Isolasi. Soccol. (http://eprints. (Online). Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Antar Universitas Bioteknologi. H. diakses 16 januari 2013). Chem.ac.