Feasibility Study (Studi Kelayakan) Pembangunan Pabrik Komoditi Perkebunan Karet Kabupaten Lingga  

BAB IV

PRODUKSI PERKEBUNAN KARET

4.1 Umum Tanaman karet berasal dari bahasa latin yang bernama Hevea braziliensis. Tanaman karet mula-mula ditemukan di lembah-lembah sungai Amazone (Brazil). Ketika Christophel Columbus menemukan benua Amerika pada tahun 1476, dia tercengang melihat penduduk setempat (suku Indian) bermain bola dengan menggunakan suatu bahan yang dapat memantul bila dijatuhkan ke tanah. Bola tersebut terbuat dari campuran akar, kayu, rumput, dan bahan (lateks) yang kemudian dipanaskan diatas api dan dibulatkan menjadi bola. Jauh sebelum tanaman karet ini populer, penduduk asli diberbagai tempat seperti Amerika Serikat, Asia dan Afrika Selatan menggunakan pohon lain yang juga menghasilkan getah. Getah ini dihasilkan dari tanaman Castillaelastica (family moraceae). Tanaman tersebut tidak

dimanfaatkan lagi karena kalah tenar dibandingkan tanaman karet. Di Indonesia sendiri tanaman karet dicoba dibudidayakan pada tahun 1876 di ditanam pertama kali di Kebun Raya Bogor.

Gambar 4.1

Pohon Tanaman Karet

Tanaman karet dapat tumbuh tinggi dan berbatang cukup besar. Tinggi pohon dewasa bisa mencapai 15 - 25 meter. Batangnya biasanya tumbuh lurus dan memiliki
  lV ‐1   

Ukuran biji besar dan memiliki kulit yang keras. Akar ini mampu menopang batang tanaman yang tumbuh tinggi dan besar. Secara lengkap. Anak daun berbentuk eliptis.000 mm/tahun  Bulan kering kurang dari 3 bulan  Kecepatan angin maksimum kurang atau sama dengan 30 km/jam  Kemiringan tanah kurang dari 10%  Tekstur tanah terdiri dari lempung berpasir dan liat berpasir  Batuan di permukaan maupun di dalam tanah maksimum 15%  pH tanah berkisar 4. Daun ini akan tumbuh kembali pada awal musim hujan.6 buah sesuai dengan jumlah ruang. Tanaman karet adalah tanaman dengan sifat dikotil sehingga akar tanaman ini merupakan akar tunggang. Warnanya coklat kehitaman dengan bercakbercak berpola yang khas. Daun karet terdiri dari tangkai daun utama dan tangkai anak daun.20 cm.Feasibility Study (Studi Kelayakan) Pembangunan Pabrik Komoditi Perkebunan Karet Kabupaten Lingga   percabangan diatas.0 (kondisi asam )  Drainase tanah sedang   lV ‐2    . Panjang tangkai anak daun 3 .5. struktur botani tanaman karet tersusun sebagi berikut :        Sub Divisi : Angiospermae Kelas Divisi Ordo Famili Genus Spesies : Dicotyledonae : Spermatophyta : Euphorbiales : Euphobiaceae : Hevea : Hevea braziliensis Tanaman karet memiliki sifat gugur daun sebagai respon terhadap kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan (kekurangan air/kemarau). Biji karet terdapat dalam setiap ruang buah.200 meter diatas permukaan laut  Curah hujan 1. tepinya rata dan gundul.3 . Panjang tangkai anak daun utama 3 .3.500 . Budidaya tanaman karet memerlukan persyaratan tumbuh sebagai berikut:  Tinggi tempat 0 .10 cm dan pada ujungnya terdapat kelenjar. Jumlah biji biasanya ada 3 . memanjang dengan ujung meruncing.

Kecamatan Singkep. Produksi karet dari perkebunan yang dihasilkan berpengaruh pada bagaimana pengolahan yang akan dilakukan.95 Ha (data statistic Kabupaten Lingga 2012) . sekitar 25 % luas perkebunan karet yaitu 10. rencana pengolahan akan dilakukan dengan melakukan pengelolahan sendiri dengan merencanakan pembangunan pabrik karet sendiri di Kabupaten Lingga. 4. dari luas seluruh perkebunan Kabupaten Lingga . yang pada umumnya terdapat pada daerah lahan kering beriklim basah. Potensi yang ada untuk perkebunan karet cukup besar. Produksi Perkebunan Karet Dari perkembangan karet sebagai komoditi ekspor yang menjanjikan terlihat peningkatan produksi karet di Indonesia. dengan rata-rata produksi 849. yaitu:  Dapat tumbuh pada berbagai kondisi dan jenis lahan. Begitu juga Kabupaten Lingga yang terus mengikuti perkembangan bisnis karet Indonesia. material karet yang tahan banting. sehingga karet cukup baik untuk menanggulangi lahan kritis. Produksi Perkebunan Karet adalah berupa getah pohon karet (Hevea brasiliensis) yang disebut lateks kebun. pengembangan perkebunan karet difokuskan pada beberapa daerah yaitu Lingga utara.24 Kg /ha . kemudian lateks tersebut diolah dengan beberapa tahap pengolahan sehingga akan dihasilkan lateks kebun yang bersih sebagai bahan baku barang-barang seperti sol sepatu.Feasibility Study (Studi Kelayakan) Pembangunan Pabrik Komoditi Perkebunan Karet Kabupaten Lingga   Tanaman karet memiliki keunggulan bila dibandingkan dengan komoditas lainnya.216. Kabupaten Lingga yang mempunyai potensi perkebunan karet yang cukup luas dengan mempunyai data hasil produksi pohon Karet berdasarkan daerah perkebunan karet di Kabupaten Lingga seperti di bawah ini :   lV ‐3    . Prospek harganya juga cukup baik walaupun sering berfluktuasi/tidak stabil. Singkep Barat dan Senayang. serta masih mampu dipanen hasilnya meskipun tanah tidak subur  Mampu membentuk ekologi hutan.2.  Dapat memberikan pendapatan harian bagi petani yang mengusahakan.

2 Perkebunan Karet di Jagoh Singkep Perkebunan Karet di Marok Tua lebih banyak dari pada di Dearah Jagoh.01 ton.22 1898.58 105. Perkebunan Karet di Marok Tua   lV ‐4    .14 Senayang Dari tabel diatas terlihat daerah produksi karet terbanyak adalan Kecamatan Singkep dengan jumlah prodiksi sebesar 1898. Berdasarkan pengamatan di lapangan bahwa daerah Singkep mempunya luas area perkebunan karet cukup besar yaitu 8277.45 Singkep Lingga Lingga Utara 147. Gambar 4. Gambar 4. Marok Tua memang diperuntukan untuk perkebunan Karet. sehingga masyarakat ini lebih banyak yang mempunya mata pencaharian sebagai petani Karet.1 Data hasil Produksi Karet Kabupaten Lingga berdasarkan daerah Perkebunan tahun 2010 Kecamatan Singkep Barat Produksi Karet (ton) 1439. berdasarkan peta tata ruang Wilayah Kabupaten Lingga .o1 481.Feasibility Study (Studi Kelayakan) Pembangunan Pabrik Komoditi Perkebunan Karet Kabupaten Lingga   Tabe 4.3.32 Hektar tersebar di Jagoh dan Marok Tua.

maksudnya untuk menahan lump yang terjadi karena prakoagulasi 2. musim -kemarau keadaan lateks tidak stabil). Untuk menjaga kualitas dan kontinuitas bahan baku. adalah sebagai berikut :  Faktor dari kebun (jenis klon. s e d a n g k a n untuk prosesor yang tidak memiliki kebun harus berusaha u n t u k mendapatkan bahan baku dari perkebunan karet rakyat. Spesifikasi Hasil Perkebunan Sistem produksi karet Kabupaten Lingga dilakukan dengan cara pengumpulan lateks dikebun (TPH) oleh para petani yang kemudian akan dikumpulkan pada Tengkulak yang kemudian di jual ke pabrik.   lV ‐5    . Bahan baku lateks akan tersedia setiap hari karena penyadapan selalu dilakukan setiap hari. Pada perkebunan besar hal ini tidak b e g i t u me n j a d i ma s a l a h . sistem sadap.3. kebersihan pohon. Dari hasil penyadapan. Lateks sebagai bahan baku berbagai hasil karet. maka harus dilakukan pengawasan pada tiap penyadap. baik melalui pembelian langsung ataupun melalui lelang yang diadakan pada waktu-waktu tertentu. Bobot atau isi lateks Penyadap Menuangkan lateks dari ember-ember pengumpul ke dalam ember-ember takaran melalui sebuah saringan kasar dengan ukuran lubang-lubang 2mm .  Iklim (musim hujan mendorong terjadinya prakoagulasi.Feasibility Study (Studi Kelayakan) Pembangunan Pabrik Komoditi Perkebunan Karet Kabupaten Lingga   4. dan lain-lain). Kadar Karet Kering (KKK) Penentuan kadar karet kering (KKK) sangat penting dalam usaha mencegah terjadinya kecurangan para penyadap. dapat ditentukan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas lateks di Kabupaten Lingga . harus memiliki kualitas yang baik. B a h a n baku yang berasal dari perkebunan karet rakyat yang biasanya s a n g a t b e r v a r i a s i k u a l i t a s n y a . bahan baku yang dihasilkan (lateks) biasanya langsung diolah di pabrik sendiri atau dikirim ke pabrik yang s e i n d u k . 1. S u m b e r b a h a n b a k u industri karet berasal dari perkebunan karet baik Perkebunan Rakyat.

28 4. Mikroorganisme Lateks segar merupakan media yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme.  Pengangkutan (goncangan.  Bahan-bahan kimia yang digunakan.65 2.34 59.04 0. Penambahan asam Penambahan asam organik ataupun anorganik mengakibatkan turunya Ph lateks sehingga lateks kebun membeku.  Kualitas air dalam pengolahan. keadaan tangki.84 1.03 0. Suhu udara yang tinggi akan lebih mengaktifkan kegiatan bakteri   lV ‐6    .84 0. Tabel 4. Mikroorganisme ini menghasilkan asam-asam yang menurunkan pH .Feasibility Study (Studi Kelayakan) Pembangunan Pabrik Komoditi Perkebunan Karet Kabupaten Lingga    Alat-alat yang digunakan dalam pengumpulan dan pengangkutan (yang baik terbuat dari aluminium atau baja tahan karat). Untuk mengetahui susunan bahan-bahan yang terkandung dalam lateks dapat dilihat pada table 4. Penyebab terjadinya prakoagulasi antara lain sebagai berikut: 1.62 1. serta Menimbulkan bau karena terbentuknya asam-asam yang mudah menguap .10 5. Bila Banyak Organisme maka senyawa asam yang dihasilkan akan banyak pula. jangka waktu).70 0.2 Kandungan Lateks Segar yang dikeringkan Bahan Kandungan Karet Resin Protein Abu Zat gula Air Lateks segar (%) 35.00 Sumber: Hasil Laboraorium tahun 2010 Pada saat mulai keluar dari pohon hingga beberapa jam lateks masih berupa cairan.tetapi setelah kira-kira 8 jam lateks mulai mengental dan selanjutnya membentuk gumpalan karet atau yang lebih dikenal dengan istilah prakoagulasi.  Komposisi lateks.2.62 Lateks yang dikeringkan 88. Mikroorganisme banyak terdapat di lingkungan perkebunan karet. 2. jarak.

Lateks yang baru disadap juga mudah menggumpal jika terkena sinar matahari yang terik karena kestbilan koloidnya rusak oleh panas yang terjadi. Pengangkutan Pengangkutan yang terlambat ataupun jarak yang jauh menyebabkan lateks baru tiba ditempat pengolahan pada siang hari dan sempat terkena matahari sehingga m e n g g a n g g u k e s t a b i l a n l a t e k s . terutama air yang mengandung logam atau elektrolit. Zat ini akan mengkatalisis terjadinya prakoagulasi.   lV ‐7    . 4.Feasibility Study (Studi Kelayakan) Pembangunan Pabrik Komoditi Perkebunan Karet Kabupaten Lingga   sehingga dalam penyadapan ataupun pengangkutan diusahakan pada suhu rendah atau pagi. Kotoran atau bahan-bahan lain yang ikut tercampur.guncang mengakibatkan lateks yang terangkut terkocok-kocok secara kuat sehingga merusak kestabilan koloid. Prakoagulasi juga sering terjadi karena tercampurnya kotoran atau bahan lain yang mengandung kapur atau asam. 5. J a l a n y a n g b u r u k a t a u a n g k u t a n y a n g t e r g u n c a n g . Iklim Air hujan akan membawa zat kotoran dan garam yang larut dari kulit batang. 3. Lateks akan mengalami prakoagulasi bila dicampur dengan air kotor.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful