EPIDEMIOLOGI Herpes zoster terjadi secara sporadik sepanjang tahun tanpa dipengaruhi oleh perubahan musim.

Kejadian herpes zoster tidak dipengaruhi oleh prevalensi varisela karena tidak ada bukti yang mendukung bahwa herpes zoster terjadi akibat kontak dengan penderita varisela atau herpes zoster. Insidens herpes zoster ditentukan oleh beberapa faktor yang mempengaruhi hubungan antara host dan virus. Salah satu faktor risiko utama adalah usia lanjut. Insidens umum herpes zoster sekitar 1,5-3 kasus per 1.000 populasi, sedangkan insidens meningkat menjadi sekitar 7-11 kasus per 1.000 populasi pada kelompok usia di atas 60 tahun. Diperkirakan lebh dari 1 juta kasus baru herpes zoster yang terjadi di Amerika Serikat sepanjang tahun di mana lebih dari separuh kasus terjadi pada kelompok usia di atas 60 tahun. Faktor risiko lain yang dapat meningkatkan risiko herpes zoster adalah jenis kelamin perempuan, trauma fisik pada dermatom yang terkena, polimorfisme gen interleukin-10, dan ras kulit hitam. Faktor risiko utama lainnya adalah disfungsi sistem imunitas seluler. Pasien yang mengalami supresi imun memiliki risiko menderita herpes zoster 20-100 kali lebih besar dibandingkan populasi normal. Kondisi imunosupresif yang berkaitan dengan tingginya risiko herpes zoster adalah infeksi human immunodeficiency virus (HIV), transplantasi sumsum tulang, leukemia dan limfoma, kemoterapi kanker, dan penggunaan kortikosteroid. Herpes zoster merupakan infeksi oportunistik penanda awal defisiensi imun yang sering ditemui pada pasien HIV. ETIOLOGI Virus herpes zoster merupakan anggota dari famili herpes virus yang bersifat pathogen terhadap manusia. Virus ini dapat menyebabkan infeksi laten dan menetap seumur hidup. Virus herpes zoster hanya memiliki satu serotipe. Genom virus herpes zoster mengkode sekitar 70 gen spesifik. Kebanyakan gen memiliki sekuens DNA dan homologi fungsional yang serupa dengan famili herpes virus lainnya. Produk gen awal meregulasi replikasi virus herpes zoster, produk gen lain, seperti timidin kinase virus spesifik dan polimerasi DNA virus menunjang replikasi virus, dan produk gen akhir mengkode struktur protein virus yang merupakan target antibody dan respons imunitas seluler. Patogenesis Herpes Zoster Selama perjalanan penyakit varisela, virus herpes zoster berpindah dari lesi kulit dan permukaan mukosa ke ujung saraf sensoris yang berdekatan dan menetap ke ganglia sensoris melalui serat saraf sensoris secara sentripetal. Dalam ganglia sensoris, virus menetap menjadi infeksi laten. Herpes zoster paling sering terjadi pada dermatom yang memiliki lesi kulit varisela dengan densitas tertinggi, yaitu dermatom yang diinervasi oleh cabang pertama nervus trigeminus (n. oftalmika) dan ganglia sensori spinal dari T1-L2. Walaupun virus laten di ganglia sensoris memiliki potensi reaktivasi penuh, reaktivasi jarang terjadi dan bersifat sporadik. Virus yang menular tidak muncul saat infeksi laten. Mekanisme yang menyebabkan reaktivasi virus laten herpes zoster masih belum diketahui dengan jelas, tetapi reaktivasi virus dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kondisi supresi imun, stress emosional, radiasi pada kolumna spinalis, tumor di sekitar medula spinalis, akar dorsal ganglion atau

Virus memperbanyak diri dan menyebar dalam ganglion dan menyebabkan nekrosis neuronal dan inflamasi hebat yang sering disertai dengan neuralgia berat. kolesistitis (calon lesi di dada kanan). reaktivasi virus tidak dapat dicegah. Walaupun lesi herpes zoster dan varisela sulit dibedakan. sedangkan . atau glaucoma sehingga sering kali salah diagnosis. trauma lokal. faktor yang terpenting adalah penurunan imunitas seluler spesifik terhadap virus herpes zoster seiring dengan pertambahan usia. kolik renal atau bilier. Gejala prodromal ini bervariasi mulai dari gatal superfisial.struktur di sekitarnya. Perbedaan ini menunjukkan bahwa penyebaran virus terjadi secara intraneural ke kulit pada herpes zoster. Nyeri prodromal jarang dijumpai pada individu imunokompeten yang berusia kurang dari 30 tahun. dan myelitis segmental. Kondisi ini dikenal sebagai zoster sine herpete. Infeksi yang mengenai motor neuron dan inflamasi pada akar ventral saraf spinalis dapat menyebabkan kelumpuhan lokal yang disertai erupsi kutaneus. Area yang dipersarafi nervus trigeminus. sensasi kesemutan atau terbakar hingga nyeri dalam seperti ditusuk-tusuk dan sering disertai dengan nyeri tekan dan hiperestesia pada kulit di mana dermatom terlibat. pleositosis cairan serebrospinal. Nyeri praerupsi pada herpes zoster sering kali menyerupai nyeri pada pleuritis. namun sering terjadi pada kebanyakan pasien herpes zoster yang berusia lebih dari 60 tahun. Virus herpes zoster dapat mengalami reaktivasi tanpa menimbulkan penyakit yang khas karena antigen virus dalam jumlah kecil dilepaskan selama reaktivasi diduga sudah dapat memicu dan memperpanjang imunitas pasien terhadap virus herpes zoster. Virus herpes zoster lalu menyebar turun mengikuti saraf sensoris ke kulit/mukosa dan menghasikan vesikel berkelompok (zosteriformis) yang karakteristik. Beberapa pasien dapat mengalami neuralgia segmental akut tanpa diikuti erupsi kutaneus. terutama nervus oftalmika dan batang tubuh dari T3-L2 paling sering terkena di mana regio toraks terkena pada lebih dari setengah dari seluruh kasus yang dilaporkan. ulkus duodenum. Perluasan infeksi ke sistem saraf pusat dapat menyebabkan komplikasi serius. Lesi Kulit Karakteristik spesifik lesi kulit herpes zoster adalah terlokalisasi dan distribusi lesi yang unilateral dan umumnya terbatas pada area kulit yang diinervasi oleh satu ganglion sensoris. Namun. hernia nukleus pulposus. Ketika sistem imunitas seluler spesifik terhadap virus herpes zoster turun di bawah batas kritis. dan sinusitis frontal (yang dapat memicu zoster oftalmik). Lesi jarang terjadi pada daerah distal siku atau lutut. seperti meningoensefalitis dan mielitis transversal. infark miokard (calon lesi di dada kiri). MANIFESTASI KLINIS Gejala Prodormal Nyeri dan parastesia pada dermatom yang terlibat sering kali mendahului erupsi yang terjadi beberapa hari selanjutnya. apendisitis (calon lesi di abdomen kanan bawah). Penyebaran infeksi secara proksimal melalui akar dorsal saraf menuju meningens dan medulla spinalis menyebabkan leptomeningitis. manipulasi pembedahan medulla spinlais. lesi herpes zoster cenderung berkembang lebih lambat dan biasanya terdiri atas vesikel berkelompok yang berdekatan di atas basis eritem sementara vesikel pada variselle cenderung menyebar dan terdistribusi secara acak.

puncak dan sisi samping hidung. herpes zoster dapat mempengaruhi struktur intraokuler. Oleh karena itu. komplikasi serius lain. ditikam. Lesi kulit umumnya lebih berat dan bertahan lama pada manula. Herpes Zoster pada Individu Immunocompromised Selain neuralgia postherpetik. sakit hebat. namun umumnya hanya meluas hingga pertengahan dahi. perhatian khusus perlu diberikan terhadap kondisi mata pasien. distress emosional. dan tuli) akibat keterlibatan saraf fasial dan auditori. nyeri merupakan masalah utama yang dijumpai pada pasien herpes zoster. Pada beberapa pasien. dibor. dan penurunan fungsi sosial. Pada individu normal. teling. gatal. Sekitar 30-40% kasus zoster oftalmik melibatkan mata. Ketika hanya cabang supratroklear dan supraorbital yang terlibat. Namun. ketika lesi melibatkan cabang nasosiliaris yang menginervasi mata. hati. Sekitar 10-15% kasus herpes zoster yang dilaporkan melibatkan cabang oftalmik dari nervus trigeminus. terutama di kalangan usia lanjut. dan diseminasi kutaneus dapat terjadi pada 25-50% individu immunocompromised. atau seperti ditusuk-tusuk. pembentukan jaringan parut. terutama paru-paru. Pasien yang terinfeksi HIV memiliki tendensi mengalami rekurensi multipel herpes zoster seiring dengan progresivitas penyakitnya. Nyeri akut herpes zoster berhubungan dengan penurunan fungsi fisik.penyebaran viremik terjadi pada varisela. faring atau laring. Krusta umumnya menetap selama 2-3 minggu. Vesikel muncul dalam 12-24 jam pertama dan berkembang menjadi pustula pada hari ketiga. Lesi awal herpes zoster berupa makula dan papul eritem yang pertama kali muncul pada kulit di mana cabang superfisial saraf sensoris yang terkena diinervasi. Pasien mendeskripsikan nyeri atau ketidaknyamanan sebagai sensasi terbakar. Sekitar 10% pasien dengan diseminasi kutaneus dapat mengalami diseminasi organ dalam. sedangkan pada anak-anak. dan dicakar. lesi baru dapat muncul pada hari pertama hingga hari keempat (kadang-kadang dapat memanjang hingga hari ketujuh). lesi kulit umumnya ringan dan memiliki durasi yang lebih pendek. Lesi kulit pada zoster oftalmik dapat meluas dari mata hingga ke verteks tulang tengkorak. seperti nekrosis kulit. Herpes zoster dapat menyebabkan sindrom Ramsay Hunt (kelumpuhan wajah yang melibatkan telinga luar atau membran timpani dengan atau tanpa gejala tinnitus. ketika zoster oftalmik melibatkan puncak dan sisi samping hidung. mata umumnya tidak terkena. Nyeri Selain lesi kulit. Herpes zoster dapat melibatkan cabang kedua dan cabang ketiga nervus trigeminus dan menghasilkan gejala dan lesi di mulut. Pustula ini mengering dan membentuk krusta pada hari ketujuh hingga hari kesepuluh. intensitas nyeri mencapai level horrible atau excruciating. Kebanyakan pasien mengalami nyeri atau ketidaknyaman dermatomal selama fase akut (30 hari dari onset lesi kulit) yang bervariasi dari ringan hingga berat. dan otak yang berdampak fatal. Refleks kornea umumnya terganggu dan dapat menyebabkan kerattis neurotropik dan ulkus kornea bila gangguan berat terjadi. vertigo. Herpes zoster dapat terjadi pada dermatom yang sama atau berbeda dan dermatom yang berdekatan atau dermatom yang berjauhan. kesemutan. Herpes zoster pada pasien AIDS umumnya berat dengan .

Sekelompok vesikel. Riwayat rekurensi multipel pada tempat yang sama umumnya terjadi pada herpes simpleks. Pasien dengan AIDS dapat mengalami lesi kutaneus eritem. lesi kulit karakteristik dan dermatomal disertai dengan nyeri atau ketidaknyamanan dermatomal membuat diagnosis lebih jelas. verukosa atau hiperkeratotik yang disebabkan oleh virus herpes zoster resisten asiklovir.diseminasi kutaneus dan organ dalam. Herpes simpleks zosteriformis dapat dibedakan dengan herpes zoster berdasarkan riwayat klinis penyakit. namun harus dibedakan dengan vesikel pada infeksi virus herpes simpleks rekuren. DIAGNOSIS BANDING Pada stadium praerupsi. Ketika lesi kulit muncul. terutama di dekat mulut atau genitalia dapat merupakan tanda herpes zoster. Tabel Diagnosis Banding Herpes Zoster . nyeri prodromal herpes zoster sering kali membingungkan dan mirip dengan nyeri terlokalisasi dengan penyebab lain.