BAB I KASUS

IDENTITAS PASIEN

Nama Umur Pekerjaan Tgl MRS No. RMK

: Ny. Siti Fatimah : 31 tahun : Ibu Rumah Tangga : 03-04-2013 jam: 23.45 : 00 69 51 71

Dokter yang merawat : dr. Aranda T Sp.OG

ANAMNESIS

Keluhan Utama Ibu dengan G2 P1(sc) A0 mengeluh keluar darah dari jalan lahir sejak pukul 22.00 Riwayat penyakit Sekarang Ibu dengan G2 P1(sc) A0, mengatakan usia kehamilan kurang lebih 37 minggu mengeluhkan keluar darah dari jalan lahir sejak pukul 22.00, darah berwarna seperti warna darah haid, keluhan disertai nyeri perut dan keluar lendir. Riwayat Pemeriksaan kehamilan Ibu mengaku ANC bersama dr.Aranda sejak tgl 02-01-2013, ANC teratur, ANC terakhir tanggal 01-04-2013 Riwayat Penyakit Dahulu • Hipertensi  disangkal • Diabetes Mellitus  disangkal • Asma  disangkal Riwayat Penyakit Keluarga • Asma  disangkal • Hipertensi  disangkal • Diabetes mellitus  disangkal

Riwayat Pengobatan Ibu mengaku hanya mengkonsumsi obat hystolan 2 x ½ Riwayat Perkawinan Pernikahan 1, masih nikah, lama pernikahan 7 tahun Riwayat Haid • Haid Pertama • Haid • HPHT : 14 tahun : Teratur, sakit kadang-kadang, lama haid 7 hari, siklus 28 hari : lupa

• Taksiran Persalinan : Riwayat Persalinan No. Tempat Bersalin 1 RS padang dokter 2006 aterm Penolong Thn Aterm Jns Persalinan SC KPD, gagal induksi 2 Hamil ini Penyulit JK BB PB Laki- BB: laki 3500gr PB:49cm Hidup Keadaan

Riwayat Alergi • Alergi makanan  disangkal • Alergi obat-obatan  disangkal • Alergi debu (-), udara dingin (-) Riwayat Operasi Ibu mengaku pernah operasi apendisitis pada tahun 2011 dan operasi SC pada tahun 2006 Riwayat Kebiasaan • Minum Jamu (-) • Merokok (-) • Alkohol (-)

ronki (-/-).3°C : 81x/menit. edema (-). Bawah: Akral hangat . deviasi septum nasi (-). : tidak ada pembesaran kelenjar getah bening dan kelenjar  Tenggorokan Jantung : BJ I dan II reguler normal. teratur. gallop (-) Ekstremitas `Ekstr. faring hiperemis (-) : sianosis (-). edema (-). RCT< 2 detik. sianosis (-) Ekstr. teratur. RCT< 2 detik. kuat angkat : 110/80 mmHg : Kg : cm Status Generalis  Kepala  Mata  Hidung  Mulut  Leher tiroid  Thorax Paru : Vesikuler (+/+).PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum Kesadaran : Baik : Compos Mentis Tanda Vital Pernafasan Suhu HR Tekanan darah BB TB : 20x/menit. wheezing (-/-) : normocephal : konjungtiva anemis (-/-). murmur (-). sekret/lendir (-) : tonsil T1 – T1. normal : 36. sklera ikterik (-/-) : bentuk normal. bibir pecah-pecah (+). Atas : Akral hangat . sianosis (-) STATUS OBSTETRI (Tidak dilakukan) Pemeriksaan abdomen Inspeksi Palpasi : terdapat jaringan parut bekas SC di perut bagian bawah : .

kepala Rencana Tindakan : Prognosis  Ibu : diharapkan baik Cek lab lengkap Injeksi kalmethason 1 amp/ 6 jam (4x) Rencana USG 04 – 04 -2013 Infus + 2 amp duvadilan 20 tpm Profenid sup  Bayi : diharapkan baik Hasil lab tgl 4/4/2013 pukul 06. selama 10 detik.17 GDS HbsAg (kualitatif) : 82 mg/dl : (-) . kwalita ringan : tidak dilakukan DIAGNOSIS  Ibu : G2 P1(sc) A0 Hamil 37 minggu dengan Plasenta Previa Totalis  Bayi : janin tunggal hidup intrauterin pres.Leopold I Leopold II Leopold III Leopold IV DJJ TFU TBJ His Pd : teraba bulat lunak (bokong) : punggung kanan : teraba bulat keras (kepala) : bagian terbawah janin belum masuk PAP : : 29 cm : 2790 : 10 kali/menit.

16 ribu/µL (3.60-11.00) : 360 ribu/µL : 35 Hasil USG tgl 4/4/2013 Kesimpulan : Plasenta Previa Totalis (PPT) operasi SCTPP dilakukan pada tanggal 5/4/2013 pukul 15.45  Diagnosa prabedah  Diagnosa Pascabedah  Jenis pembedahan Laporan pembedahan Pasien dinarkose spinal Asepsis dan antisepsis.5) : 13.40 JK: laki-laki AS: 9/10 BBL: 2550 gram PBL: 46 cm : G2 P1(sc) A0 Hamil 37 minggu dengan Plasenta Janin tunggal hidup intrauterin BPD : 92 mm.30 menit : 4. ditutup dengan doek steril Insisi pfininstiel SBR Air ketuban jernih Bayi lahir meluksir kepala jam 15.Masa Perdarahan Masa Pembekuan Hb Leukosit Trombosit Hematoktrit : 2.1 g/dl (11.30 menit : 11. AC : 309 mm (Hamil Aterm) TBJ : 2800 gram Kelainan kongenital (-) Plasenta di SBR bawah meluas menutupi OUI Air ketuban normal Previa Totalis dan Bekas SC : P2 (sc) A0 Plasenta Previa Totalis : SCTPP .20-16.7-15.

5 minggu dengan amp/ 6 jam (4x) Plasenta Previa Totalis Infus + 2 amp duvadilan tpm 20 .00 jam Masih S keluar TD O : A P 90/70 G2 P1(sc) A0 Cek lab lengkap N: 68 Hamil 37 Injeksi kalmethason 1 darah sedikit mmHg RR: 18 S: 36.42.00 jam - TD : 100/60 G2 P1(sc) A0 Injeksi N: 75 Hamil 37 kalmethason 1 mmHg RR: 18 S: 36. plasenta implantasi di SBR belakang meluas kedepan menutupi OUI - SBR di jahit Reperitonialisasi. 18. insersio marginalis. kedua adneksa dan ovarium normal Dinding perut dijahit lapis demi lapis Hitung alat lengkap Perdarahan 500cc SC selesai 16. N: 54.6 minggu dengan Plasenta Previa Totalis amp/ 6 jam (4x) Rencana USG 04 – 04 -2013 Infus + 2 amp duvadilan tpm Profenid sup 20 4/4/2013.- Plasenta lahir lengkap jam 15. TFU: 2 jari dibawah pusat Tabel follow up pasien tanggal dan jam 4/4/2013. 06.45 KU post partum : baik TD: 95/56.

2 .5 7/4/2013.vitamin C mmHg RR: 18 S: 36.Profenid sup Rencana SC 5/4/2013.7 7/4/2013.30 N: 80 Hamil 37 mmHg RR: 18 S: 36.00 jam Mual .00 jam Nyeri jahitan pada TD : 100/60 Post SC N: 68 Zinnat 2 x 1 Asam mefenamat 3 x 1 Biosanbe 1x 1 Injeksi ceftraixone Inj.5 6/4/2013.5 7/4/2013.00 jam Nyeri bekas SC TD : 100/60 Post SC H2 N: 78 mmHg RR: 20 S: 36.00 jam TD : 100/60 G2 P1(sc) A0 SC jam 14. 06. 19. 20.5 minggu dengan Plasenta Previa Totalis 5/4/2013. 06. TD : 100/60 Post SC H 1 N: 76 BAB 2 kali mmHg RR: 20 S: 36.00 jam Nyeri bekas SC TD : 100/70 Post SC H2 N: 90 mmHg RR: 20 S: 36. 18. 06.00 jam Mulas.00 jam Nyeri bekas SC TD : 100/60 Post SC H2 N: 90 mmHg RR: 20 S: 36. 14.5 6/4/2013.mulas. nyeri TD : 100/60 Post SC H 1 N: 80 perut bekas SC mmHg RR: 20 S: 36.

jam 20.5 Pasien pulang tanggal 8 april 2013.5 8/4/2013.00 jam Nyeri bekas SC TD : 110/70 Post SC H3 N: 80 Rencana GV Rencana pulang mmHg RR: 20 S: 36. 20.00 jam TD : 100/70 Post SC H3 N: 80 pulang mmHg RR: 20 S: 36. 06.00 Diresepkan obat : Zinnat 2 x 1 Asam Mefenamat 3 x 1 Biosante 1 x 1 Kontrol kembali hari jumat tanggal 12 april 2013 di poli kebidanan jam 09.00 .8/4/2013.

dinding belakang rahim. atau daerah fundus uteri. dan jika tidak mendapat penanganan yang cepat bisa mendatangkan syok yang fatal. Klasifikasi Kita membagi plasenta previa dalam 3 tingkat sebagai berikut: 1.. Implantasi plasenta yang normal ialah pada dinding depan. Plasenta previa lateralis: hanya sebagian dari ostium tertutup oleh plasenta 3. Plasenta previa totalis: Seluruh ostium internum oleh plasenta 2. terhadap ostium uteri internum. keadaan ini perlu diantisipasi seawal-awalnya selagi perdarahan belum sampai ke tahap yang membahayakan ibu dan janinnya.tanpa trauma. vias=jalan). Antisipasi dalam perawatan prenatal sangat mungkin oleh karena pada umumnya penyakit ini berlangsung perlahan diawali gejala dini berupa perdarahan berulang yang mulanya tidak banyak tanpa disertai rasa nyeri dan terjadi pada waktu yang tidak tertentu. 2. . Salah satu sebabnya adalah plasenta previa. Perempuan hamil yang ditengarai menderita plasenta previa harus segera dirujuk dan diangkut ke rumah sakit terdekat tanpa melakukan periksa dalam karena perbuatan tersebut memprovokasi perdarahan berlangsung semakin deras dengan cepat. Plasenta previa marginalis: hanya pada pinddir ostium terdapat jaringa plasenta Kadang-kadang dipergunakan istilah plasenta previa sentralis.tetapi masih mengambang diatas pintu atas panggul.2 DEFINISI Adalah plasenta yang berimplantasi rendah sehingga menutupi sebagian/seluruh ostium uteri internum (Prae=di depan. dan istilah yang dimaksud ialah plasenta yang terletak sentral.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Sering disertai sering kelainan letak janin atau pada kehamilan lanjut bagian bawah janin tidak masuk kedalam panggul. Oleh sebab itu.1 PENDAHULUAN Perdarahan obstetrik yang yang terjadi pada kehamilan trimester ketiga dan yang terjadi setelah anak atau plasenta lahir pada umumnya adalah perdarahan yang berat.

misalnya plasenta previa lateralis pada pembukaan 5cm.Penentuan macamnya plasenta previa bergantung pada besarnya pembukaan. tetapi tidak sampai ke ostium uteri internum. Bila plasenta previa sentralis ditegakkan secara ultrasonografi pada trimester terakhir kehamilan. 2. misalnya plasenta previa marginalis pada pembukaan 2 cm dapat menjadi plasenta previa lateralis pada pembukaan 5cm. Plasenta letak rendah  plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim demikian rupa sehingga tepi bawahnya berada pada jarak lebih kurang 2 cm dari ostium uteri internum. Plasenta previa parsialis  plasenta yang menutupi sebagian dari ostium uteri internum. Pada beberapa RSU pemerintah di laporkan insidennya berkisar 1. Dengan kemajuan diagnostiK. 2. penentuan macamnya plasenta previa harus disertai dengan keterangan mengenai besarnya pembukaan. .4 INSIDEN     Plasenta previa lebih banyak pada kehamilan dengan paritas tinggi dan usia diatas 30 tahun. 3. Lebih sering pada kehamilan ganda dari pada kehamilan tunggal. Plasenta previa totalis (komplit)  plasenta yang menutupi seluruh ostium uteri internum. 2.7% sampai dengan 2.9%. kita tida perlu lagi melakukan pemeriksaan klinis di kamar operasi dan operasi dapat segera dilakukan.3 KLASIFIKASI 1. dapat menjadi lateralis pada permukaan 6cm. Plasenta previa marginalis  plasenta yang tepinya berada pada pinggir ostium uteri internum. plasenta previa dapat dibedakan dengan jelas dari plasenta letak rendah. Uterus tercatat ikut memprtinggi angka kejadiannya. yaitu plasenta letak rendah-plasenta yang implantasinya rendah. 4. Jarak yang lebih dari 2 cm di anggap plasenta letak normal. Terdapat satu kelompok yang tidak dimasukkan ke dalam plasenta previa. Begitu pula plasenta previa totalis pada pembukaan 3cm. Oleh karena itu.

Oleh karena telah mulai terbentuknya SBR. usia lanjut. 2. cacat rahim misalnya bekas SC. Paritas tinggi. dan sebagainnya berperan dalam proses peradangan dan kejadian atrofi di endometrium yang semuanya dapat dipandang sebagai factor risiko bagi terjadinya plasenta previa. Teori lain mengemukakan sebagai salah satu penyebabnya adalah vaskularisasi desidua yang tidak memadai mungkin sebagai akibat dari proses radang atau atrofi. tapak plasenta akan mengalami pelepasan. Demikian pula pada waktu serviks mendatar .5 ETIOLOGI Penyebab blastokista berimplantasi pada segmen bawah rahim belumlah diketahui dengan pasti. Dengan melebarnya isthmus uteri menjadi segmen bawah rahim. Sebagaimana diketahui tapak plasenta terbentuk dari jaringan maternal yaitu bagian desidua basalis yang bertumbuh menjadi bagian dari uri. Dengan meluasnya penggunaan USG dalam obstetric yang memungkinkan deteksi dini. insiden plasenta previa bisa lebih tinggi.7 PATOFISIOLOGI Pada usia kehamilan yang lanjut. miomektomi .6 FAKTOR RESIKO        Riwayat plasenta previa (4-8%) Kehamilan pertama setelah sectio caesar Multiparitas ( 5% kejadian pada grandemultipara) Usia ibu “tua” Kehamilan kembar Riwayat kuretase abortus Merokok 2. Mungkin secara kebetulan saja blastokista menimpa desidua di daerah SBR tanpa latar belakang lain yang mungkin. 2. kuretase. maka plasenta yang berimplantasi disitu sedikit banyak akan mengalami laserasi akibat pelepasan pada desidua sebagai tapak plasenta.umumnya pada trimester ketiga dan mungkin juga lebih awal.  Dinegara maju insidenya lebih rendah yaitu kurang dari 1% mungkin disebabkan berkurangnya perempuan hamil paritas tinggi.

Oleh karena pembentukan SBR itu akan berlangsung progresif dan bertahap.pada plasenta previa parsialis atau letak rendah. karena elemen otot yang dimilikinya sangat minimal. jadi berulang. Perdarahan diperhebat berhubung segmen bawah rahim tidak mampu berkontraksi sekuat segmen atas rahim. Pada plasenta yang menutupi seluruh OUI perdarahan terjadi lebih awal dalam kehamilan oleh karena SBR terbentuk lebih dahulu pada bagian terbawah yaitu OUI.perdarahan baru terjadi pada waktu mendekati atau mulai persalinan.8 GAMBARAN KLINIK Ciri yang menonjol pada plasenta previa adalah perdarahan uterus keluar melalui vagina tanpa rasa nyeri. Pada Plasenta Letak Rendah perdarahan baru terjadi pada waktu mulai persalinan : perdarahan bisa sedikit sampai banyak mirip pada Solusio Plsenta.(effacement) dan membuka (dilatation) ada bagian tapak plasenta yang terlepas. Perdarahan biasanya terjadi pada akhir trimester kedua ke atas. Dengan demikian perdarahan. perdarahan bisa berlangsung sampai pasca persalinan. Perdarahan bisa juga bertambah disebabkan serviks dan SBR pada Plasenta Previa lebih rapuh dan mudah mengalami robekan. Oleh karena fenomena pembentukan SBR itu perdarahan pada plasenta previa betapapun pasti akan terjadi (unavoidable bleeding). Demikianlah perdarahan akan berulang tanpa sesuatu sebab lain (causeless). 2. Perdarahan pertama biasanya sedikit tetapi cenderung lebih banyak pada perdarahan berikutnya. Perdarahan kembali tanpa sesuatu sebab yang jelas setelah beberapa waktu kemudian. Sebaliknya. maka laserasi baru akan mengulang kejadian perdarahan. Perdarahan pertama berlangsung tidak banyak dan berhenti sendiri. Darah yang akan keluar berwarna merah segar tanpa rasa nyeri. Robekan lebih mudah . Perdarahan akan berhenti karena terjadi pembekuan. kecuali jika ada laserasi mengenai sinus yang besar dari plasenta pada mana perdarahan akan berlangsung lebih banyak dan lebih lama. Pada setiap pengulangan terjadi perdarahan yang lebih banyak bahkan seperti mengalir. Perdarahan di tempat itu relative dipermudah dan diperbanyak oleh karena SBR dan serviks tidak mampu berkontraksi dengan kuat. Pada tempat laserasi itu akan terjadi perdarahan yang berasal dari sirkulasi maternal yaitu dari ruangan intervillus dari plasenta. dengan akibat pembuluh darah pada tempat itu tidak akan tertutup dengan sempurna.

yaitu: 1. Kematian Bahaya untuk anak. Bahaya untuk ibu pada plasenta previa. tida boleh dilakukan pemerksaan dalam karena pemeriksaan dalam ini dapat menimbulkan perdarahan yang membahayakan . ca). . Anemi 3. Syok hipovolemik 2. dokter atau bidan harus segera mengirim pasien tersebut selekas mungkin ke rumah sakit besar tanpa terlebih dulu melakukan pemeriksaan dalam atau pemasangan tampon. Kematian 2. Kelainan koagulopati sampai syok 5. Emboli udara (jarang). Bila ditemukan. Berhubung plasenta terletak pada bagian bawah. 4. Sebelum tersedia darah dan kamar operasi siap. Hipoksia 2. erosi. Pada plasenta previa akan terlihat darah yang keluar dari ostium uteri eksternum. Palpasi abdomen tidak membuat ibu hamil merasa nyeri dan perut tidak tegang.terjadi pada upaya pengeluaran plasenta dengan tangan misalnya pada Retensio Plasenta sebagai komplikasi Plasenta akreta. maka pada palpasi abdomen sering ditemui bagian terbawah janin masih tinggi diatas simfisis dengan letak janin tidak dalam letak memanjang.9 BAHAYA-BAHAYA PEMERIKSAAN Perdarahan yang terjadi pada seorang wanita hamil trimester ketiga harus dipikirkan penyebabnya. di rumah sakit dilakukan pemeriksaan in speculo terlebih dulu untuk menyingkirkan kemungkinan ini. Kedua tindakan ini hanya akan menambah perdarahan dan kemungkinan infeksi Karena perdarahan pada wanita hamil kadang-kadang disebabkan oleh varises yang pecah dan kelainan serviks (polip. Infeksi-sepsis 3. yaitu: plasenta previa atau solusio plasenta. yaitu: 1.

Dewasa ini Double Set-Up examination pada banyak RS sudah jarang dilakukan berhubung telah tersedia alat USG. pasien dipersipakan dikamar bedah demikian rupa segala sesuatunya termasuk staf dan perlengkapan anastesi semua siap untuk tindakan bedah sesar. Perlu diketahui tindakan periksa dalam tidak boleh/kontraindikasi dilakukan diluar persiapan Double Set-up Examination. Jika Plasenta Lateralis atau Marginalis dilanjutkan dengan amniotomi dan diberi oksitosin drip untuk mempercepat persalinan jika tidak terjadi perdarahan banyak untuk kemudian pasien dikembalikan dikamar bersalin.10 DIAGNOSIS Perempuan hamil yang mengalami perdarahan dalam kehamilan lanjut biasanya menderita Plasenta Previa atau Solusio Plasenta. kemungkinan plasenta previa kecil. kemungkinan plasenta previa besar sekali. Persiapan yang demikian disebut dengan Double Set Up Examination. jika antara jarijar kita dan kepala teraba bantalan luna (jarngan plasenta). Transabdominal USG dalam keadaan . Jika terjadi perdarahan banyak atau ternyata Plasenta Previa Totalis. Peralahan jari-jari digerakkan menuju pembukaan serviks untuk meraba jaringan plasenta. Periksa dalam sekalipun yang dilakukan dengan sangat lembut dan hatihati tidak menjamin tidak akan menyebabkan perdarahan yang banyak. Sebaliknya. Persiapan yang demikian dilakukan bila ada indikasi penyelesaian persalinan. Pemeriksaan ini hanya dapat dilakukan pada presentasi kepala karena pada letak sungsang bagian terendahnya luna (bokong) hingga sukar memberdakannya dar jareinga lunak plasenta 2. Jika tulang kepala dapat teraba dengan mudah. Dengan pasien dalam posisi litotomi diatas meja operasi dilakukan periksa dalam (Vaginal Toucher) dalam lingkungan disinfeksi tingkat tinggi (DTT) secara hati-hati dengan dua jari telunjuk dan jari tengah meraba forniks posterior untuk mendapat kesan ada atau tidak ada bantalan antara jari dengan bagian tebawah janin. Gambaran klinik yang klasik sangat menolong membedakan antara keduanya. Kemudian jari-jari digerakkan mngikuti seluruh pembukaan untuk mengetahui derajat atas klasifikasi plasenta. Dahulu untuk kepastian diagnosis pada kasus dengan perdarahan banyak.Dapat juga dilakukan pemeriksaan fornises dengan hait-hati. Jika terjadi perdarahan banyak diluar persiapan akan berdampak pada prognosis yang lebih buruk bahkan bisa fatal. langsung dilanjutkan dengan Seksio sesarea.

2. USG transperineal dapat mendeteksi OUI dan segmen rahim. MRI juga dapat dipergunakan untuk mendeteksi kelainan pada plasenta termasuk plasenta previa. Oleh karena pembentukan SBR terjadi secara ritmik. Komplikasi ini lebih sering terjadi pada uterus yang pernah seksio sesarea.dan perdarahan yang terjadi itu tidak dapat dicegah sehingga penderita menjadi anemia bahkan syok. MRI kalah praktis dengan jika di bandingkan dengan USG. 2. Oleh karena itu . maka pelepasan plasenta dari tempat melekatnya uterus dapat berulang dan semakin banyak. Walaupun lebih superior jarang diperlukan USG Transvaginal untuk mendeteksi keadaan Ostium Uteri Internum.dan tehnik ini dilaporkan 90% positive predictive value dan 100% negative predictive value dalam diagnosis plasenta previa. diantaranya ada yang bisa menimbulkan perdarahan yang cukup banyak dan fatal.harus sangat berhati hati pada semua tindakan manual di tempat ini misalnya pada waktu . Serviks dan SBR yang rapuh kaya pembuluh darah sangat potensial untuk robek disertai oleh perdarahan yang banyak. Walaupun biasanya tidak seluruh permukaan maternal plasenta mengalami akerta atau inkerta akan tetapi dengan demikian terjadi retensio plasenta dan pada bagian plasenta yang sudah terlepas timbullah perdarahan dalam kala tiga.kandung kemih yang dikosongkan akan memberi kepastian diagnosis Plasenta Previa dengan ketepatan tinggi sampai 96-98 %. terlebih dalam suasana yang mendesak. Oleh karena plasenta yang berimplantasi pada SBR dan sifat segmen ini yang tipis mudahlah jaringan trofoblas dengan kemampuan invasinya menerobos ke dalam miometrium bahkan sampai ke perimetrium dan menjadi sebab dari kejadian plasenta inkerta dan bahkan plasenta perkreta.11 KOMPLIKASI Ada beberapa yang komplikasi utama yang bisa terjadi pada ibu hamil yang menderita plasenta previa. 1. Di tangan yang ahli USG transvaginal dapat di capai 98% positif predictive value dan 100% negative predictive value pada upaya diagnosis plasenta previa. 3. Ditangan yang tidak ahli pemakaian USG transvaginal bisa memprovokasi perdarahan lebih banyak. Paling ringan adalah plasenta akreta yang perlekatanya lebih kuat tetapi villinya msih belum masuk kedalam miometrium.

Memperlihatkan ada migrasi plasenta menjauhi Ostium Uteri Internum. Hal ini memaksa lebih sering diambil tindakan operasi dengan segala konsekuensinya. Pada kehamilan 24 minggu sampai 34 minggu di berikan steroid dalam perawatan antenatal untuk pematangan paru janin. Kelainan letak anak pada plasenta previa lebih sering terjadi. 2. pasien tersebut mungkin telah mengalami perdarahan yang cukup berat.12 PENANGANAN • • • • • Setiap perempuan hamil yang mengalami perdarahan dalam trimester 2 dan 3 harus di rawat di rumah sakit. • • • Dianjurkan minimal setelah 4 minggu. Pada kehamilan < 37 minggu dapat dilakukan amniosentesis untuk mengetahui kematangan paru janin dan pemberian kortikosteroid untuk mempercepat kematangan paru janin sebagai upaya antisipasi. lebih berat dari pada penampakkannya secara klinis. .mengeluarkan anak melalui insisi pada SBR ataupun waktu mengeluarkan plasenta dengan tangan pada retensio plasenta. Perdarahan dalam trimester 3 perlu pengawasan lebih ketat dengan istirahat baring yang lama dalam rumah sakit dan dalam keadaan serius cukup alasan untuk merawatnya sampai melahirkan. • Pada keadaan yg kelihatan stabil dalam perawatan di luar rumah sakit hubungan suami istri dan kerja rumah tangga dihindari kecuali jika setelah pemeriksaan USG ulang. 5. Kelahiran premature dan gawat janin sering tidak terhindarkan sebagai oleh karena tindakan terminasi kehamilan yang terpaksa di lakukan dalam kehamilan belum aterm. Transfusi darah yang banyak perlu segera diberikan. Jika ada gejala hipovolemia seperti hipotensi dan takikardia. Pasien di minta istirahat baring dan di lakukan pemeriksaan darah lengkap termasuk golongan darah dan faktor Rh. 4. Jika perdarahan terjadi dalam trimester 2 perlu diwanti-wanti karena perdarahan ulangan lebih banyak.

7) Apabila ada tanda-tanda plasenta previa tergantung keadaan pasien ditunggu sampai kehamilan 37 minggu selanjutnya penanganan secara aktif 2.Keadaan umum ibu dan janin baik.Plasenta previa lateralis anterior dengan anak letak kepala .Plasenta letak rendah .Perdarahan sedikit . BB janin >/ = 2500 gram • Perdarahan banyak 500 cc atau lebih • Ada tanda-tanda persalinan • Keadaan umum pasien tidak baik ibu anemis Hb < 8 gr% Untuk menentukan tindakan selanjutnya SC atau partus pervaginam. nadi dan denyut jantung janin.• • Jika pada waktu masuk terjadi perdarahan yang banyak perlu segera dilakukan terminasi bila keadaan janin sudah viable.Plasenta previa marginalis . tekanan darah. 1. dilakukan pemeriksaan dalam kamar operasi. golongan darah 5) Pemeriksaan USG 6) Awasi perdarahan terus-menerus. Penanganan aktif Kriteria : • Umur kehamilan >/ = 37 minggu. kadar Hb 8 gr% atau lebih Rencana Penanganan : 1) Istirahat baring mutlak 2) Infus D 5% dan elektrolit 3) Tokolitik (jika ada kontraksi) 4) Periksa Hb. Partus per vaginam : Cara ini bermaksud untuk memberi penekanan pada plasenta yang dengan demikian menutup pembuluh-pembuluh darah yang terbuka (tamponade pada plasenta) dilakukan pada: . HCT.Umur kehamilan kurang dari 37 minggu .Belum ada tanda-tanda persalinan (His) . infusi transfusi darah terpasang. Seksio sesarea juga dilakukan apabila ada perdarahan banyak yang mengkhawatirkan. Penanganan Ekspektif Kriteria : . COT.

Cunam Willet Gauss 4. Tindakan versi Braxton-Hicks dengan pemberat untuk menghentikan perdarahan (kompresi atau tamponade bokong dan kepala janin terhadap plasenta) hanya dilakukan pada keadaan darurat.1. • Sebagian besar OUI ditutupi plasenta. Dilakukan pada : . diberikan oksitosin drips 2. Seksio sesaria juga mencegah terjadinya robekan serviks yang merupakan komplikasi serius persalian pervaginam pada plasenta previa totalis dan lateralis.Setelah pemecahan ketuban.Plasenta previa dengan perdarahan banyak Plasenta previa totalis Plasenta previa lateralis di posterior Plasenta letak rendah dengan letak sungsang atau lintang Plasenta previa pada primigravida Plasenta previa lateralis jika : • Pembukaan masih kecil dan perdarahan banyak. anak masih kecil atau sudah mati. • Plasenta terletak di sebelah belakang (posterior) . uterus mengadakan retraksi hingga kepala akan menekan pada plasenta . ketuban dipecah (amniotomi) Cara ini dapat menghentikan perdarahan karena: . Jika pembukaan serviks sudah agak besar (4-5 cm).Plasenta tidak tertahan lagi oleh ketuban dan dapat mengikuti gerakan dinding rahim hingga tidak terjadi pergeseran antara plasenta dan dinding rahim jika his lemah. Jika perdarahan masih berlangsung dilakukan SC Cara 2 dan 3 sekarang hampir tidak pernah dilakukan lagi Persalian per abdominam (SC) Cara ini bermaksud untuk mengkosongkan rahim hingga rahim dapat berkontraksi dan menghentikan perdarahan. dan tidak ada fasilitas untuk melakukan operasi 3.

Plasenta previa primi .Prolaps tali pusat His mulai Persalinan : .Anemia .Fetal distress Prematur : .Tatalaksana (Menurut Prof.Fetal distress Amniotomi Seksio Sesaria : Langsung SC : .Perdarahan .Perdarahan .Indikasi 2.Pervaginam . kematian perinatal berangsur-angsur dapat diperbaiki.OG) Plasenta Previa Totalis Parsial Aterm Prematur konsevatif Aterm Prematur konsevatif Prematur :: .Febris . Sejak diperkenalkannya penanganan pasif pada tahun 1945.Fetal distress . Ida Bagus Manuaba Sp.13 PROGNOSIS Prognosis ibu dan anak pada plasenta previa dewasa ini lebih baik dari pada masa lalu. hingga kini kematian perinatal yang disebabkan prematuritas tetap memegang peranan utama. .Kelainan letak Fetal distress : . Hal ini berkat diagnosis yang lebih dini dan tidak invasive dengan USG di samping ketersediaan transfusi darah dan infuse cairan telah ada di hampir semua rumah sakit kabupaten. Walaupun demikian. Dengan penanggulangan yang baik seharusnya kematian ibu karana plasenta previa rendah sekali atau tak ada sama sekali.Perdarahan .Perdarahan banyak .

Pada dasarnya penanganan yang sistematis dan segera merupakan cara diagnosis yang paling efektif pada kasus ini sehingga prognosis pada pasien pun cenderung bersifat baik. pada kasus ini terapi yang dilakukan yaitu terminasi kehamilan dengan tindakan operatif berupa sectio saesarea. . Pada pemeriksaan USG di temukan posisi plasenta berada di segmen bawah rahim meluas menutupi.BAB III PENUTUP KESIMPULAN Pada kasus ini ibu G1 P2 (sc) A0 hamil 37 minggu di diagnosis dengan Plasenta Previa Totalis. tetapi perlu juga tindakan rehabilitatif pasca operasi sehingga penanganan pasien ini bisa tuntas dan menyeluruh. hal ini di karenakan pasien datang dengan keluhan adanya perdarahan dari jalan lahir dan disertai adanya nyeri perut. hal ini didasarkan pada posisi pasenta yang secara teori tidak bisa dilakukan persalinan pervaginam. Data tersebut menjadi penguat diagnosis kasus Plasenta Previa Totalis sehingga pada penatalaksanaannya pun perlu di tindaklanjuti secara sistematis.

. P. Semarang: Balai penerbit UNDIP. 25-9. 8:21-3. 1-4. Castillo MS. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran UNPAD Bandung. diterjemahkan oleh Mochaznad Martoprawiro dan Adji Dharma. Kompedium Patologi Kebidanan. Kedaruratan dalam kebidanaan karena perdarahan. Simposium Kemajuan Obstetri II. Sinopsis Obstetri 1. Ilmu Kebidanan Edisi ke-4 Cetakan 3. 1990. Cunningham. Bandung: Daya Praza Press. Semarang : Badan Penerbit UNDIP. 913. Gant. 2010. Morbiditas maternal dan perinatal. 419-39. Penatalalcsanaan Perdarahan Antepartum. Obstetri Williams. Philadelphia: WB Saunders Co. MacDonald. 296322. Prawirohardjo. Hayashi RH. Mochtar BA. Gawat Darurat Ginekologi dan Obstetri. 1997. ..DAFTAR PUSTAKA Soejoenoes A. 1982. 1986. Rambulangi J. Drukker JA.G.C. Bandung: Elstar offset. 1994. High risk pregnancy. N. Obstetri Patologi. Heller L. Martohusodo S.F. 110-27. Dexamedia1995. 1988. Bleeding in Pregnancy. Sarwono. 29-43. In : Knuppel RA. Edisi 18. Praptohardjo U. Jakrta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. 1991. Pelatihan Gawat Darurat Perinatal. F. Emergencies in Gynaecology and Obstetrics. Edisi Ill. 1995: 833-846 Mochtar R. Jakarta : PT. Bina Pustaka.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful