100

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan Dari hasil pengumpulan data dan pembahasan, maka dari penelitian tersebut dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Papua Barat telah melakukan pola kerja sesuai dengan tugas pokoknya, yaitu: melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah di bidang perencanaan pembangunan dan penelitian dan

pengembangan daerah dan tugas-tugas lainnya yang diberikan oleh Gubernur. 2. Pola kerja yang dilakukan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Papua Barat masih sebatas normatif sesuai tugas pokok dan fungsi seperti melaksanakan Renstra, PraMusrenbangda, Musrenbangda yang berorientasi kepada

perencanaan yang mengutamaan pelaksanaan pelayanan dasar, seperti pendidikan, kesehatan dan ekonomi kerakyatan. Namun dalam tataran implementasi menggunakan strategi skala prioritas menyesuaikan besaran APBD dengan rencana program

pembangunan daerah. 3. Dalam melakukan procedural perencanaan belum melibatkan masyarakat adat, baru melibatkan para pejabat strultural birokratis

101

saja, sehingga masih banyak pihak masyarakat adat yang merasa tidak diakomodir kepentingannya, selain itu juga pengusaha lokal pribumi juga masih perlu perhatian khusus agar dapat lebih banyak berperan serta dalam menumbuhkan ekonomi berbasis lokal. 4. Factor-faktor yang paling berpengaruh terhadap proses kerja Bappeda Papua barat antara lain: tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, belum lengkapnya regulasi, keterbatasan sumber daya manusia, masih rancunya pola kerja dari lembagalembaga yang dianggap representasi aspirasi masyarakat. B. Kendala 1. Dalam melakukan penelitian ini penulis mendapatkan kendala tidak bisa mendapatkan informasi dari pihak Bappeda secara luas, karena data-data statistic yang didapatkan sangat terbatas dan data yang berbentuk hasil wawancara verbal juga sangat terbatas, mengingat sumber daya yang dimiliki oleh Provinsi Papua Barat memang sangat terbatas terutama dari segi sumber daya manusianya yang masih perlu ditingkatkan. 2. Hasil penelitian ini hanya dapat dipahami dan diimplementasi di provinsi Papua Barat saja, tidak dapat digeneralisasikan untuk wilayah/model lain. Karena tiap-tiap model/wilayah mempunyai karakteristik maupun kebijakan yang berbeda-beda sesuai dengan pola kerja yang menyesuaikan kebijakan lokal.

102

C. Implementasi Kebijakan

1. Masalah utama dalam pola kerja Bappeda Papua Barat adalah ketiadaan aturan yang menjadi dasar hukum bagaimana teknis pengelolaan kerja Bappeda tersebut seharusnya dilakukan. Ketiadaan aturan pelaksanaan (Perdasus) tersebut dise-babkan karena lembaga yang bertugas mengeluarkan aturan tersebut yakni MRP sampai saat ini belum menghasilkan satu Perdasus pun yang dianggap merupakan representasi masyarakat adat. Hal ini sangat penting karena Provinsi Papua Barat tidak sama dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia, sehingga Bappeda perlu mempunyai dasar hukum yang mendasar dalam pelaksanaan tugas kerjanya. 2. Perlunya regulasi, khususnya tentang keterlibatan masyarakat adat dari mulai proses perencanaan sampai dengan pengawasan, belum ada sehingga aksesibilitas masyarakat adat selama ini menjadikan semakin besarnya ketidak sesuaian antara perencanaan

pembangunan yang dilakukan oleh Bappeda dengan penerapan program kerjanya. Tidak adanya akses sama sekali yang diberikan pemerintah daerah kepada masyarakat adat ini menjadikan pelaksanaan program-program pemerintah dilaksanakan dengan persepsi satu pihak saja, yakni pemerintah dae-rah. Padahal esensi perencanaan pembangunan Papua Barat adalah harapan bagi peningkatan kesejahteraan rakyat Papua Barat.

103

3. Guna legalitas dan dalam rangka proses akuntabilitas public, perlu segera ditetapkan Peraturan Daerah Khusus (Perdasus) oleh Majelis Rakyat Papua (MRP) terkait teknis pengelolaan anggaran yang lebih transparan. Perdasus tersebut secara spesifik dapat mengatur tentang rencana pembagian alokasi dana untuk tiap kabupaten/ kota, mekanisme pengelolaan dan pengawasan, keterlibatan elemen masyarakat adat, serta keberpihakan pada pengusaha asli Papua untuk survive sebagai tuan di negerinya sendiri. Selain itu Perdasus yang berkaitan dengan rencana anggaran perlu mencantumkan besaran dana yang dialokasikan pada masing-masing daerah dan sektor sebagaimana yang dilakukan di Aceh melalui Qanun Aceh No. 2 Tahun 2008.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.